Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
يَوۡمَ
pada hari
يَجۡمَعُ
mengumpulkan
ٱللَّهُ
Allah
ٱلرُّسُلَ
Rasul-Rasul
فَيَقُولُ
lalu Dia berkata/bertanya
مَاذَآ
bagaimanakah
أُجِبۡتُمۡۖ
kamu dijawab
قَالُواْ
mereka berkata
لَا
tidak ada
عِلۡمَ
pengetahuan
لَنَآۖ
bagi kami
إِنَّكَ
sesungguhnya Engkau
أَنتَ
Engkau
عَلَّـٰمُ
Maha Mengetahui
ٱلۡغُيُوبِ
perkara-perkara gaib
يَوۡمَ
pada hari
يَجۡمَعُ
mengumpulkan
ٱللَّهُ
Allah
ٱلرُّسُلَ
Rasul-Rasul
فَيَقُولُ
lalu Dia berkata/bertanya
مَاذَآ
bagaimanakah
أُجِبۡتُمۡۖ
kamu dijawab
قَالُواْ
mereka berkata
لَا
tidak ada
عِلۡمَ
pengetahuan
لَنَآۖ
bagi kami
إِنَّكَ
sesungguhnya Engkau
أَنتَ
Engkau
عَلَّـٰمُ
Maha Mengetahui
ٱلۡغُيُوبِ
perkara-perkara gaib
Terjemahan
(Ingatlah), pada hari ketika Allah mengumpulkan para rasul, lalu Dia bertanya (kepada mereka), "Apa jawaban (kaummu) terhadap (seruan)mu?" Mereka (para rasul) menjawab, "Kami tidak tahu (tentang itu). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib."
Tafsir
Ingatlah! (hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul) yaitu pada hari kiamat (lalu Allah bertanya) kepada mereka dengan nada mencela yang ditujukan kepada kaum mereka (Apa) yang (jawaban kaummu terhadap seruanmu?) tatkala kamu mengajak mereka kepada ketauhidan (Para rasul menjawab, "Tidak ada pengetahuan kami) tentang hal itu (sesungguhnya Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib.") apa-apa yang tidak bisa dijangkau oleh pengetahuan hamba-hamba-Nya dan gaib di mata mereka oleh sebab kengerian yang mereka hadapi pada saat hari kiamat yang membuat mereka kaget. Kemudian para rasul itu menjadi saksi terhadap umat mereka masing-masing tatkala umat mereka diam seribu bahasa.
Tafsir Surat Al-Ma'idah: 109
(Ingatlah) hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul, lalu Allah bertanya (kepada mereka), "Apa jawaban kaum kalian terhadap (seruan) kalian? Para rasul menjawab, "Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu), sesungguhnya Engkaulah Yang mengetahui perkara yang gaib.”
Ayat ini mengandung berita tentang khitab Allah kepada para rasulNya kelak di hari kiamat mengenai jawaban yang mereka terima dari umatnya masing-masing yang mereka diutus kepadanya oleh Allah ﷻ. Seperti halnya makna yang terdapat di dalam ayat lain:
“Maka sungguh Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka, dan sungguh Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami).” (Al-A'raf: 6)
“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (Al-Hijr: 92-93)
Ucapan para rasul yang disitir oleh firman-Nya: “Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu).” (Al-Maidah: 109)
Mujahid, Al-Hasan Al-Basri, dan As-Suddi mengatakan, "Sesungguhnya mereka (para rasul) mengatakan demikian karena pengaruh kengerian hari tersebut yakni hari kiamat.”
Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ats-Tsauri, dari Al-A'masy, dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: “(Ingatlah) hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul, lalu Allah bertanya (kepada mereka), ‘Apa jawaban kaum kalian terhadap (seruan) kalian?’ (Al-Maidah: 109) Maka para rasul merasa terkejut, lalu mereka menjawab: ‘Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu).’ (Al-Maidah: 109). Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Hakkam, telah menceritakan kepada kami Anbasah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar seorang syekh berkata bahwa ia pernah mendengar Al-Hasan Al-Basri berkata sehubungan dengan makna firman-Nya: “(Ingatlah) hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul” (Al-Maidah: 109) hingga akhir ayat. Bahwa hal ini terjadi di hari yang sangat mengerikan lagi sangat menakutkan, yaitu hari kiamat.
Asbat telah meriwayatkan dari As-Suddi sehubungan dengan firman Allah ﷻ: “(Ingatlah) hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul lalu Allah bertanya (kepada mereka), ‘Apa jawaban kaum kalian terhadap (seruan) kalian?’ Para rasul menjawab, ‘Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu)’." (Al-Maidah: 109) Demikian itu karena mereka berada di suatu tempat yang membuat akal mereka bingung dan terkejut. Karena itulah ketika mereka ditanya, maka mereka menjawab: “Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu).” (Al-Maidah: 109) Setelah itu mereka menempati tempat yang lain, lalu mereka mengemukakan kesaksiannya terhadap kaumnya masing-masing. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.
Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepada kami Al-Hajjaj, dari Ibnu Juraij sehubungan dengan firman-Nya: “(Ingatlah) hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul, lalu Allah bertanya (kepada mereka), ‘Apa jawaban kaum kalian terhadap (seruan) kalian’?” (Al-Maidah: 109) Yakni "Apakah yang dikerjakan mereka sesudah kalian, dan apakah yang mereka buat-buat sepeninggal kalian?" Mereka (para rasul) menjawab: “Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkaulah Yang mengetahui perkara yang gaib.” (Al-Maidah: 109)
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: “(Ingatlah) hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul, lalu Allah bertanya (kepada mereka), ‘Apa jawaban kaum kalian terhadap (seruan) kalian?’ Para rasul menjawab, ‘Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkaulah Yang mengetahui perkara yang gaib’.” (Al-Maidah: 109) Mereka (para rasul) berkata kepada Tuhannya, "Tidak ada pengetahuan bagi kami kecuali pengetahuan yang Engkau lebih mengetahuinya daripada kami." Demikian menurut riwayat Ibnu Jarir, kemudian ia memilih penafsiran ini di antara ketiga penafsiran yang ada mengenainya.
Tidak diragukan lagi pendapat yang terakhir ini merupakan pendapat yang baik, mengingat penafsirannya mengandung makna yang etis (sopan) terhadap Allah ﷻ. Dengan kata lain, tiada pengetahuan bagi kami bila dibandingkan dengan pengetahuan-Mu yang meliputi segala sesuatu, sekalipun kami menjawab dan mengetahui siapa yang memenuhi seruan kami. Tetapi di antara mereka terdapat orang-orang yang kami hanya dapat mengetahui lahiriahnya saja, sedangkan mengenai batiniahnya tiada pengetahuan bagi kami. Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu lagi Maha Teliti terhadap segala sesuatu. Ilmu kami bila dibandingkan dengan ilmu-Mu sama dengan tidak berilmu. “Sesungguhnya Engkaulah Yang mengetahui perkara yang gaib.” (Al-Maidah: 109)
Ingatlah suatu peristiwa penting pada hari kiamat, ketika Allah mengumpulkan para rasul, sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad, lalu Dia bertanya kepada mereka, Apa jawaban atau tanggapan umat terhadap misi dakwah kamu sekalian' Apakah mereka menanggapinya dengan iman atau dengan kufur' Apakah dengan iman yang taat atau iman yang fasik' Mereka, para rasul, menjawab, saat itu umat hadir guna menyaksikan tanya jawab ini, Kami tidak tahu tentang itu setelah kami wafat. Sesungguhnya Engkaulah sendiri Yang Maha Mengetahui segala yang gaib, karena pengetahuan-Mu meliputi segala sesuatu.
Pada ayat yang lalu telah dijelaskan bahwa Allah mengajukan pertanyaan kepada para rasul pada umumnya, bagaimana tanggapan umat terhadap misi kerasulan mereka. Pada ayat ini Allah berbicara di Padang Mahsyar dengan Nabi Isa. Ingatlah ketika Allah mengumpulkan para rasul pada hari kiamat, ketika itu Allah berfirman kepada Nabi Isa, Wahai Isa putra Maryam! Ingatlah nikmat-Ku, yang telah dianugerahkan kepadamu dan kepada ibumu di dunia, sewaktu Aku menguatkanmu, ketika ibumu mengandungmu, dengan kehadiran Ruhulkudus, Malaikat Jibril yang meniupkan roh ke dalam rahim ibumu; juga ketika menguatkan engkau sehingga engkau dapat berbicara dengan manusia pada waktu masih dalam buaian, di luar adat kebiasaan; dan setelah dewasa sewaktu menyampaikan misi kerasulan, setelah Jibril menyampaikan wahyu kepada kamu. Dan ingatlah ketika Aku, melalui Jibril, mengajarkan menulis kepadamu, juga mengajarkan Hikmah, kearifan, Taurat, yang diturunkan kepada Nabi Musa, dan Injil yang berisi ajaran tidak ada tuhan selain Allah dan tidak ada ibadah kecuali kepada-Nya. Dan ingatlah mukjizat yang diberikan kepadamu, ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung dengan seizin-Ku, karena engkau tidak memiliki daya dan kekuatan kecuali daya dan kekuatan-Ku; kemudian engkau meniupnya, sehingga burung itu benar-benar hidup, lalu menjadi seekor burung yang sebenarnya, juga dengan seizin-Ku. Dan ingatlah, mukjizat yang lain, ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir yang secara lahiriah tidak mungkin sembuh; dan engkau juga dapat menyembuhkan orang yang berpenyakit kusta, yang pada umumnya sulit disembuhkan, dengan seizin-Ku. Dan ingatlah, kenikmatan-Ku kepadamu, ketika engkau mengeluarkan orang mati dari sebuah kuburan tua yang sudah bertahuntahun mati menjadi hidup kembali, juga dengan seizin-Ku. Dan ingatlah, kenikmatan yang sangat berharga, ketika Aku menghalangi Bani Israil dari rencana mereka untuk membunuhmu, sewaktu engkau menyampaikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, berdasarkan wahyu tentang bukti-bukti kerasulan dengan beberapa mukjizat, lalu orangorang kafir di antara mereka berkata, dengan sombong, Ini tidak lain, semua keanehan yang diperlihatkan Isa kepada kita, hanyalah sihir yang nyata, bukan mukjizat atau bukti kebenaran.
Ayat ini menjelaskan bahwa pada hari Kiamat, Allah akan mengumpulkan para rasul dan umatnya masing-masing. Hari terjadinya peristiwa itu disebut "Yaumul Mahsyar". Ketika itu Allah akan mengajukan pertanyaan kepada para rasul, "Apakah jawaban yang mereka terima dari umat-umat mereka setelah mereka menyeru kepada agama-Nya."
Para rasul tentu saja mengetahui jawaban apa yang telah mereka terima dari umatnya masing-masing, dan bagaimana tanggapan mereka terhadap seruan yang telah disampaikan kepada mereka, meskipun tidak seluruhnya mereka ketahui. Tetapi, para rasul adalah orang yang sangat tinggi budi pekertinya dan amat rendah hati di hadapan Allah Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui segala sesuatu. Oleh sebab itu, dengan penuh rasa kehambaannya kepada Allah, mereka menjawab, "Bahwa mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Mengetahui hal-hal yang gaib."
Allah menanyakan kepada para rasul, jawaban apa yang mereka terima dari umat yang telah mereka seru kepada agama-Nya. Allah tidak menanyakan kepada para rasul apakah mereka sudah menyampaikan risalah yang ditugaskan kepada mereka, atau belum? Hal ini menunjukkan bahwa para rasul itu benar-benar telah menunaikan tugas mereka dengan baik, yaitu menyampaikan agama Allah kepada umat mereka. Akan tetapi sebagian dari umat itulah yang tidak menerima ajakan dan seruan dengan sebaik-baiknya.
Hal lain yang dapat kita pahami dari ayat ini ialah bahwa Allah tidak langsung menyampaikan pertanyaan kepada umat-umat dari pada rasul itu, misalnya: "Hai manusia jawaban apakah yang telah kamu berikan kepada rasul-rasul-Ku ketika mereka menyampaikan risalah-Ku kepada kamu sekalian?" Sebaliknya, Allah menyampaikan pertanyaan-Nya kepada para rasul-Nya, bukan kepada umat mereka. Hal ini menunjukkan kemurkaan Allah kepada umat-umat yang mengabaikan seruan dan peringatan-peringatan yang telah disampaikan para rasul itu kepada mereka. Maka pertanyaan itu adalah untuk menghardik umat-umat yang durhaka.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Wahai orang-orang yang beriman! Kesaksian di antara kamu apabila seorang di antara kamu hampir akan mati, waktu berwasiat, ialah dua orang yang adil di antara kamu."
(pangkal ayat 106)
Artinya kalau diri sudah merasa sakit dan merasa bahwa ini adalah panggilan maut, hendaklah segera mengadakan wasiat. Dan hendaklah wasiat itu disaksikan oleh dua orang saksi yang adil di antara kamu, artinya ialah yang sama-sama orang beriman, sama-sama beragama Islam, yang diketahui si washi bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang jujur. Kemudian, sampaikanlah kepada kedua orang itu catatan-catatan harta yang akan diwasiatkan, yang tidak akan merugikan kepada waris yang berhak menerima pusaka. Saksi-saksi yang berdua yang adil inilah kelak yang akan memberikan keterangannyaeketika harta-pusaka akan dibagi.
Dan karena pada zaman sekarang alat tulis-menulis sudah lebih sempurna dan telah ada pula jabatan notaris, niscaya lebih baik lagi kedua saksi itu menurunkan kesaksian dan tanda-tangannya di hadapan notaris. Itu adalah lebih baik."Atau dua orang yang bukan dari kamu, jika kamu di dalam perjalanan di bumi lalu bahaya maut menimpa kamu." Artinya, hendaklah cara wasiat ini dilakukan juga seketika dalam perjalanan, sedang pergi ke negeri lain, sedang merantau. Tiba-tiba jatuh sakit, yaitu sakit yang sudah dirasakan sebagai panggilan maut. Lekaslah adakan dua saksi. Jika perjalanan itu ke negeri jauh, dan saksi yang beragama Islam tidak ada, bolehlah kamu cari dua saksi yang adi! juga, walaupun mereka bukan dari golongan Islam. Kedua saksi itu, dua saksi Islam atau dua saksi bukan Islam itu, hendaklah menyerahkan harta-harta wasiat si mati itu kepada keluarganya dengan sepenuh-penuh amanah dan tidak berlaku curang."Kamu tahan keduanya sesudah shalat lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu-ragu" Artinya, jika kamu merasa ragu-ragu atas kesaksian orang yang ber-dua itu, baik dua saksi Islam atau dua saksi yang bukan Islam, panggillah mereka untuk memberikan keterangan lengkap tentang wasiat yang telah mereka terima itu.
Pertemuan untuk mendengarkan keterangan kedua saksi itu, hendaklah sesudah shalat. Setelah selesai shalat, hendaklah kedua saksi itu diminta keterangan mereka atas kesaksian mereka dengan didahului semacam pengakuan yang berupa sumpah, demikian bunyinya: “Kami tidak menjual dia dengan harta, walaupun dia keluarga yang dekat dan kami tidak akan menyembunyikan kesaksian Allah." Artinya, kami akan memberikan keterangan yang jujur dan kejujuran kami itu tidak akan kami jua. Kami takkan terpengaruh, walaupun dibayar dengan harta benda berapa saja untuk menyembunyikan kesaksian kami ini. Karena ini adalah suatu kesaksian yang bertalian dengan tanggung jawab kami di hadapan Allah. Adapun harta benda yang diwasiatkan oleh si fulan yang meninggal di perantauan itu adalah ini, ini, dan ini. Dan sebagai penutup dan penguatkan dari kesaksian mereka itu, mereka lanjutkan lagi, “,Karena kalau begitu," yaitu kalau kami tidak memberikan keterangan yang jujur,
“Sesungguhnnya adalah kami daripada orang-orang yang berdosa."
(ujung ayat 106)
Kalau kami tidak memberikan keterangan yang sebenarnya sepanjang yang kami saksikan, niscaya berdosalah kami.
“Tetapi, apabila didapati bahwa keduanya ternyata berbuat dosa."
(pangkal ayat 107)
Artinya ialah setelah harta benda yang ditumpangkan oleh si washi yang mati dalam perjalanan itu bahwa harta yang diterima dengan perantaraan dua saksi itu ternyata ada kekurangan, ada yang tidak bertemu, ada yang hilang atau tidak cukup sehingga mereka yang jadi saksi itu pantas dicemburui telah berbuat dosa, yaitu kecurangan penyaksian."Maka hendaklah ada dua orang yang lain yang lebih hampir, dari orang-orang yang diperbuat dosa atasnya itu, akan menggantikan mereka berdua tadi." Artinya, setelah terbukti bahwa kedua saksi itu telah berdosa, tidak jujur, mungkin ada barang wasiat yang mereka gelapkan, hendaklah tampil ke muka dua orang keluarga yang dekat dari si washi yang telah dikhianati atau yang telah mati itu. sehabis kedua orang saksi yang disangka tidak jujur itu berdiri memberikan kesaksian, dengan sumpah seperti tersebut tadi, naiklah kedua orang keluarga si washi yang dekat itu, tegak berdiri menggantikan tempat berdiri kedua saksi tadi untuk membantah kesaksian mereka dengan bukti."Lalu bersumpah dengan nama Allah, ‘Bahwa kesaksian kami lebih patut (diterima) daripada kesaksian mereka yang berdua itu dan kami tidaklah melampaui batas.'" Kemudian, mereka mengemukakan bukti-bukti bahwa kedua saksi itu curang adanya. Karena mereka dapat mengemukakan bukti-bukti yang lengkap, itulah sebab mereka dapat mengatakan bahwa kesaksian merekalah yang lebih patut diterima daripada kesaksian kedua saksi itu. Dan sebagai penutup, mereka pun menguatkan kata lagi, “Karena kalau begitu"artinya, kalau kami melampaui batas dan tidak dapat mengeluarkan bukti yang cukup,
“Niscayatah kami termasuk orang-orang yang aniaya"
(ujung ayat 107)
Memang, tentu saja kalau mereka mengemukakan bantahan dengan tidak cukup alasan, niscaya mereka telah aniaya, yaitu melunturkan kepercayaan orang terhadap dua orang saksi yang dipercaya kesaksiannya oleh si washi yang telah meninggal. Dengan demikian, kalau dakwaan mereka itu ternyata tidak lengkap, mereka pulalah yang disalahkan.
Lalu, berkatalah lanjutan ayat,
“Yang demikian itulah cara yang lebih dekat."
(pangkal ayat 108)
Yang lebih dekat kepada keadilan dan kebenaran sehingga yang kusut dapat diselesaikan dan yang keruh dapat dijernihkan, tidak terjadi tuduh-menuduh di antara kedua saksi dengan kedua keluarga si mati."Supaya orang-orang mendatangkan kesaksian menurut semestinya/' Yaitu supaya dua orang yang telah dipercaya oleh si wasiii sebagai orang-orang yang adil, dipercayainya pada waktu dia dalam kesulitan, hampir mati, menjagalah akan kepercayaan itu bahwa kalau tidak setia memegang amanah, terbuka rahasia mereka di muka orang banyak, dalam satu majelis sehabis shalat."Atau supaya mereka takut akan dikembalikan sumpah-sumpah mereka sesudah mereka bersumpah." Mereka telah bersumpah, memberikan kesaksian dengan menyebut nama Allah, padahal cukup bukti menunjukkan bahwa mereka curang, mereka berdusta, yaitu bersumpah palsu. Karena menurut kaidah hukum, sumpah dapat dipatahkan oleh bukti. Niscaya mereka mendapat malu dan dapat dihukum oleh hakim sebagai pemberi keterangan yang tidak benar. Ringannya disuruh mengganti kerugian, lebih kerasnya dapat pula dituduh mencuri."Dan bertakwalah kepada Allah dan dengarkanlah." Bertakwalah kepada Allah, artinya peliharalah baik-baik imanmu dan ‘uqud perjanjian, amanah, dan kepercayaan orang, jangan sampai disia-sia-kan supaya jangan berdosa dan dengarkanlah baik-baik segala peraturan yang telah ditentukan oleh Allah.
“Karena Allah tidaklah akan menunjuki kaum yang fasik."
(ujung ayat 108)
Orang fasik, durhaka, dan curang, tidaklah akan ditunjuki Allah. Suatu waktu, kecu-rangannya pasti terbukti.
Peringatan bertakwa dan supaya patuh mendengarkan peraturan Allah ini dihadapkan kepada ‘sekalian orang mukallaf, baik masyarakat setempat maupun orang yang dianjurkan supaya berwasiat agar mencari dua saksi yang benar-benar adil. Tidak mengapa dua saksi itu bukan orang Islam, kalau memang mereka dipercayai keadilannya. Dan peringatan pula kepada keluarga yang dekat tadi bahwa kalau hendak membantah kesaksian kedua saksi itu hendaklah dengan bukti yang lengkap dan dakwaan yang jitu. Sebab, bukanlah perkara yang kecil menjatuhkan nama orang dalam satu majelis.
Pertemuan kesaksian ini hendaklah diadakan sesudah shalat. Menurut keterangan dari ulama-ulama, yang sebaik-baiknya ialah sesudah shalat Ashar, di masjid, dihadiri oleh orang banyak. Kemudian, kedua saksi yang akan dimintai keterangannya tadi dan kedua keluarga dekat yang hendak membantah kesaksiannya itu telah shalat terlebih dahulu sebelum mereka tampil ke muka dengan keterangannya masing-masing. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan pengaruh yang curang dari kedua belah pihak. Adapun jika kedua saksi tadi bukan beragama Islam maka hendaklah mereka diminta shalat pula terlebih dahulu menurut agama mereka masing-masing, sebelum dimintai keterangan. Dengan demikian, terbukalah mata kita sekarang betapa luasnya kebolehan hubungan manusia sesama manusia di dalam Islam, urusan kemasyarakatan (civil right) seperti demikian. Bahkan orang yang bukan Islam pun boleh diambil jadi saksi karena berpegang pada kejujuran mereka. Dari hadits tersebut kita tahu, ternyata pada zaman Rasulullah ﷺ sendiri hubungan kemasyarakatan dengan orang lain agama itu berjalan biasa dan lancar.
Asbabun nuzul atau sebab turunnya ayat memberikan penjelasan kepada kita bagaimana awal mula timbulnya perkara ini. Kita kumpulkan dan simpulkan beberapa riwayat tentang kejadian ini, mulai dari hadits yang dirawikan oleh Bukhari, Tirmidzi, al-Baihaqi, ath-Thabrani, dan lain-lain bahwa sejak zaman jahiliyyah ada dua orang saudagar beragama Nasrani, yang seorang namanya Tamim ad-Dari dan seorang lagi namanya Adiy bin Badaa' Mereka berniaga di antara Syam dengan Hejaz. Mulanya perniagaan mereka lebih banyak dibawa ke Mekah, tetapi setelah Rasulullah ﷺ pindah ke Madiriah, kegiatan mereka pun dibelokkan ke Madiriah. Hubungan dan pergaulan mereka dengan kaum Muslimin amat baik. Dan kalau ada orang-orang Islam yang berniaga ke Syam, mereka berjalan dengan satu kafilah dengan kedua orang Nasrani itu. Dalam satu kali perniagaan ke Syam, pernahlah turut dalam rombongan kedua orang itu seorang bernama Budail bin Abu Maryam dari Kabilah Bani Sahm. Malang nasib Budail, di dalam perjalanan itu dia ditimpa sakit keras. Ketika meninggal dunia, dia mewasiatkan harta benda perniagaannya itu kepada kedua orang Nasrani tadi, minta disampaikan kepada keluarganya di Madiriah. Setelah kedua orang Nasrani itu sampai ke Madiriah, disampaikanlah harta itu semuanya. Namun, mereka tidak mengetahui bahwa di dalam satu bungkusan kecil ada sepucuk surat yang di dalamnya ada daftar harta itu. Dan pada harta yang dibagikan tidak ditemukan sebuah peti kecil perak bersalutkan emas, (kata satu riwayat, sebuah piala perak). Keluarga Budail pun menuntut barang yang tidak bertemu itu, tetapi kedua saksi orang Nasrani itu mungkir. Kemudian, keluarga tersebut mengadu kepada Rasulullah ﷺ dan meminta penyelesaian. Disuruhlah kedua pihak berkumpul ke masjid sehabis shalat Ashar. Sebab sehabis shalat Ashar itulah biasanya Rasulullah dan para sahabat berkumpul untuk menyelesaikan per-kara-perkara sebab semua orang telah pulang dari urusan masing-masing sebelum Ashar dan sehabis Ashar biasanya tidak pergi ke mana-mana lagi. Akan tetapi, ketika memberi keterangan di hadapan umum sehabis shalat Ashar itu, kedua saksi Nasrani itu mungkir. Mereka mengatakan bahwa yang mereka terima hanyalah apa yang telah mereka serahkan itu. Adapun kotak perak bersalutkan emas itu mereka tidak tahu-menahu. Terpendam sajalah perkara itu beberapa lamanya. Namun kemudian, kelihatanlah peti perak itu pada salah seorang penduduk di Mekah. Ketika ditanyakan dari mana dia mendapatkannya, orang itu menjawab bahwa peti itu dibelinya dari saudagar Tamim dan Adi. Barang itu diambil keluarga Budail kembali dan mereka meneruskan hal itu kepada Rasulullah ﷺ Setelah ditanyai kembali Tamim dan Adi, mereka mengakui bahwa memang barang itu dari mereka, tetapi itu bukan barang wasiat yang mereka gelapkan. Barang itu telah mereka beli dari Budail kala dia masih hidup, lalu mereka menjualnya di Mekah. Oleh sebab itu, tidak jugalah cukup alasan untuk menuduh kedua Nasrani itu.
Namun, datanglah sambungan riwayat lain bahwa kemudian Tamim dan Adi masuk Islam. Menurut ahli sejarah, mereka masuk Islam pada tahun ke-9 sesudah penaklukan Mekah. Mereka menjadi seorang Islam yang baik. Setelah masuk Islam itu, Tarnia mengatakan terus terang kepada Rasulullah ﷺ, “Allah dan Rasul-Nya adalah benar! Peti kecil perak yang bersalut emas itu memang aku ambil dan kami jual 1.000 dirham dan uangnya kami bagi dua." Kemudian, Tamim menyerahkan 500 dirham kepada keluarga Budail dengan perantaraan Amr bin Ash, diminta pula yang 500 dirham lagi dari Adi.
Inilah kesimpulan cerita tentang asal mula turunnya ayat.
Niscaya sebelum bersumpah pada waktu sehabis shalat itu, Tamim dan Adi disuruh shalat terlebih dahulu menurut agama mereka.
Cerita lain sebagai sambungan tentang Tamim ad-Dari. Dia adalah seorang Muslim yang baik, sampai mendapat surat kepercayaan dari Rasulullah bahwa dia boleh tinggal di Betlehem, Palestina, negeri kelahiran Nabi Isa pada hari tuanya, dan banyak juga beliau meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah ﷺ pada hari tuanya. Beliau tinggal di suatu desa bernama Ainun, di dekat Betlehem, dan bertemu dengan Sayyidiria Umar bin Khaththab ketika beliau datang ke Palestina menerima ketundukan penduduk Palestina dan diperlihatkannya surat Rasulullah ﷺ itu.
Meskipun ini soal kejadiannya, perihal kesaksian dan wasiat ini telah menjadi pedoman kita. Dengan demikian, di beberapa negeri memang dilakukan pengambilan sumpah di masjid dengan secara khidmat. Malahan di beberapa negeri memakai Al-Qur'an, sebagai tambahan bid'ah. Di kampung penulis tafsir ini, terkenallah sebuah Al-Qur'an tulisan tangan, disimpan di sebuah surau di ﷺah Laweh Tanjung Sani. (Entah di mana Al-Qur'an itu sekarang, tidak ada yang tahu. Bahkan penulis pun hanya mendengar cerita orang-orang tua belaka). Kalau orang-orang dahulu bersumpah, pergilah mereka ke Surau ﷺah Laweh itu, bersumpah sehabis shalat Ashar dengan disaksikan Al-Qur'an tulisan tangan itu.
(109) Pada hari Allah akan mengumpulkan rasul-rasul, lalu Dia akan bertanya, “Bagaimanakah kamu disambut?" Mereka menjawab, “Tidaklah ada pengetahuan bagi kami. Sesungguhnya Engkaulah yang lebih mengetahui akan hal-hal yang gaib-gaib."
(110) (Ingatlah) tatkala berkata Allah kepada Isa anak Maryam, “Ingatlah oleh engkau akan nikmatku atas engkau dan ke atas ibu engkau, tatkala Aku menyokong engkau dengan Ruhu!-Qudus engkau berkata-kata dengan manusia dalam ayunan dan di kala dewasa. Dan (ingatlah) tatkala Aku ajarkan kepada engkau tulisan dan hikmah, Taurat, dan Injil, dan (ingatlah) tatkala engkau menjadikan dari tanah seperti bentuk burung dengan izin-Ku lalu engkau embuskan padanya maka jadilah dia burung dengan izin-Ku, dan engkau sembuhkan orang buta dan penyakit sopak dengan izin-Ku. Dan (ingatlah) tatkala engkau menghidupkan orang yang sudah mati dengan izin-Ku. Dan (ingatlah) tatkala Aku menghambat Bani israil dari engkau, tatkala engkau datang kepada mereka dengan keterangan-keterangan, lantas berkatalah orang-orang yang kafir di antara mereka" ‘Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.'"
(111) Dan (ingatlah) tatkala Aku memberikan ilham kepada Hawariyin, supaya mereka itu beriman kepada engkau dan kepada Rasul-Ku, mereka pun berkata, “Kami telah beriman! Dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami ini adalah orang-orang yang telah berserah diri!"
Pada penutup ayat 108, setelah menerangkan perkara wasiat, kesaksian, dan sumpah. Allah berfirman bahwasanya Allah tidak akan memberikan pimpinan-Nyakepada orang yang fasik. Apabila pimpinan Allah tidak ada lagi karena fasik, niscaya sengsaralah di akhirat. Kemudian, terbayanglah soal hidup pada hari akhirat, ketika akan memperhitungkan dosa dan pahala, kejujuran, dan kecurangan. Semua insan akan berkumpul waktu itu di hadapan Allah bahkan rasul-rasul pun akan berkumpul.
“Pada hati yang Allah akan mengumpulkan rasul-rasul."
(pangkal ayat 109)
Semua rasul akan berkumpul di hadapan Allah mulai dari Adam, Nuh, sampai dengan Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, dan lain-lain."Lalu Dia akan bertanya," kepada rasul-rasul itu, “bagaimanakah kamu disambut?" Allah bertanya kepada rasul-rasul bagaimana beliau-beliau itu disambut oleh umat mereka, adakah pengajaran mereka diterima baik? Apakah ditolak? Banyakkah yang percaya atau banyakkah yang tidak mau percaya?
“Mereka menjawab, Tidaklah ada pengetahuan bagi kami. Sesungguhnya, Engkaulah yang lebih mengetahui akan hal-hal yang gaib-gaib."
(ujung ayat 109)
Mengapa begini jawaban para rasul? Padahal mereka semua tahu siapa yang beriman dari umat mereka dan siapa yang kafir? Menurut penafsiran Ibnu Abbas, memang jawaban yang begitulah yang akan diberikan oleh rasul-rasul. Karena bagaimanapun luasnya pengetahuan mereka, tetapi sampai pada yang gaib-gaib tidaklah pengetahuan mereka sampai seluas pengetahuan Allah. Yang mereka lihat hanyalah kenyataan semasa mereka masih hidup.
Ada yang percaya dan ada yang menolak. Namun, sebab-sebab menolak atau percaya itu, pengetahuan rasul-rasul pun hanyalah sedikit. Kewajiban mereka hanyalah sekadar menyampaikan. Yang berhak memberikan petunjuk dan hidayah kepada manusia dan yang mengawasi batin manusia, tidak lain hanyalah
Allah. Namun menurut tafsir dari al-Hasan, Mujahid, dan as-Suddi, rasul-rasul menjawab demikian adalah karena hebat dahsyatnya hari itu sehingga mereka menyerah saja kepada Allah karena datangnya pertanyaan demikian sangat mengejutkan mereka. Datangnya ayat ini adalah untuk menjadi i'tibar bagi kita umat, untuk mengenang bagaimana hebatnya hari itu supaya kita lebih bertakwa dan lebih mendengar akan segala perintah yang disampaikan rasul, yang telah diperingatkan pada ayat 108.
“(Ingatlah) tatkala berkata Allah kepada … anak Maryam."
(pangkal ayat 110)
Dan pada hari Kiamat itu kelak Isa al-Masih a.s. pun akan memperoleh pertanyaan peringatan dari Allah, “Ingatlah oleh engkau akan nikmat-Ku atas engkau dan atas ibu engkau tatkala Aku menyokong engkau dengan Ruhul-Qudus, engkau berkata-kata dengan manusia di dalam ayunan, dan di kala dewasa “
Pada hari Kiamat itu kelak yang terhadap Isa khusus Allah mengingat nikmat-Nya kepadanya, bagaimana besar nikmat Allah kepadanya dan kepada ibunya. Karena orang-orang Yahudi menuduh Isa lahir ke dunia karena ibunya mengandung dari hubungan yang jahat dengan seorang laki-laki. Seperti yang tersebut dalam surah Maryam dan Aali ‘Imraan, dengan pertolongan Allah ﷻ, datang sokongan Allah dengan Ruhul Qudus kepada Isa al-Masih yang masih dalam ayunan ibunya sehingga ketika orang bertanya kepadanya, apa sebab engkau telah menggendong anak kecil, padahal engkau belum kawin. Kemudian, Maryam mengisyaratkan surah Maryam ayat 29, supaya menanyai anak itu saja, Mula-mula mereka tidak mau meneri-manya bahwa anak kecil dalam ayunan akan cakap berbicara. Tiba-tiba bercakaplah al-Masih membersihkan ibunya dari tuduhan, padahal dia masih berumur beberapa hari karena sokongan Ruhul Qudus sehingga bersihlah ibunya dari tuduhan yang rendah itu. Itulah nikmat Allah kepadanya dan ibunya. Dan demikian setelah beliau dewasa, beliau terus bercakap menyampaikan wahyu dengan sokongan Ruhul Qudus juga, yaitu Ruh Suci, nama sebutan dari malaikat yang membawa wahyu kepada rasul-rasul, yaitu Malaikat Jibril."Dan (ingatlah) tatkala Aku ajarkan kepada engkau tulisan dan hikmah, Taurat, dan Injil." Inilah keistimewaan tingkat kedua yang diberikan Allah kepada al-Masih, sebagai lanjutan dia dapat bercakap dalam ayunan itu. Yaitu, untuk mengisi kewajibannya menyampaikan syari'at Ilahi kepada Bani Israil, empat pengajaran diberikan kepada beliau. Pertama beliau diajarkan tulisan, lancar menulis di samping lancar pula membaca, ditambah lagi dengan pengajaran-pengajaran tersembunyi yang didapat dan kecerdasan akal.
Dan ketiga, diajarkan kepada beliau Taurat Musa, sebab beliau diutus akan menyambung syari'at Musa dan keempat ialah Injil, yaitu wahyu yang khusus buat beliau sendiri, berisi hikmah dan ajaran, kasih, dan cinta sesama manusia dan berita selamat datang akan datangnya nabi akhir zaman, Peraclit, Ruh Kebenaran, yaitu Muhammad ﷺ, “Dan (ingatlah) tatkala engkau menjadikan dari tanah seperti bentuk burung dengan izin-Ku lalu engkau embuskan kepadanya maka jadilah dia burung dengan izin-Ku," Artinya, jika Allah mengizinkan semasa beliau masih hidup, dapatlah beliau membentuk tanah menyerupai burung kemudian dengan izin Allah pula beliau embus atau beliau tiup, tanah itu dapat menjelma menjadi burung yang bisa terbang. Dengan izin Allah. Inilah satu nikmat lagi, keajaiban yang diizinkan Allah atas diri beliau.
Menurut setengah ahli tafsir, ayat ini hanya menjelaskan kemungkinan yang diberikan Allah sebagai karunia kepada al-Masih, tetapi tidak pasti bahwa kesempatan yang diberikan Allah itu beliau pakai. Dalam tafsir-tafsir yang sah dari ahli-ahli tafsir yang besar seumpama Ibnu Abbas dan Ibnu Jarir tidak terdapat riwayat bahwa kesempatan itu sampai dipakai oleh al-Masih. Cuma bertemu satu tafsir yang lemah, mengatakan waktu beliau bermain-main pada masa kecilnya dengan anak-anak yang lain, pernah beliau mengepal-ngepal tanah lalu ditiupnya, langsung terbang menjadi burung. Akan tetapi, ahli tafsir yang suka menyelidik (kritis) tidak mau menerima penafsiran itu. Sebab, mukjizat bukanlah permainan anak kecil. Dan di dalam kitab-kitab orang Kristen pun tidak ada cerita tentang itu."Dan engkau sembuhkan orang buta dan penyakit sopak dengan izin-Ku." dalam ayat ini, orang buta disebut akmaha, yang berarti buta sejak lahir ke dunia. Dengan izin Allah, dia dapat disembuhkan oleh al-Masih. Demikian pula penyakit sopak, canggu, atau kusta yang kejam itu, yang amat menular di kalangan banyak orang pada masa beliau hidup. Dengan izin Allah pula, dapat beliau sembuhkan."Dan (ingatlah) tatkala engkau menghidupkan orang yang sudah mati dengan izin-Ku."
Pada kitab-kitab Perjanjian Baru tersebut beliau telah menyembuhkan orang buta dan orang berpenyakit kusta, demikian juga menghidupkan orang mati. Di dalam Injil karangan Lukas, pasal 7: 11-17 tersebut bahwa ketika Nabi Isa al-Masih masuk ke dalam sebuah negeri bernama Nain, ketika akan masuk pintu negeri itu, beliau bertemu jenazah diusung orang, yaitu anak tunggal dari seorang perempuan janda yang dengan menangis mengiringkan mayat putranya ke kubur. Mayat yang di dalam keranda itu beliau suruh bangkit dan dia pun bangkit, duduk, berdiri, dan kembali kepada ibunya.
Tersebut pada ayat 16, “Maka ketakutanlah sekalian orang lalu memuliakan Allah. Katanya, ‘Seorang Nabi yang besar telah terbit di antara kita dan Allah telah melawat kaumnya.'"
Yang kedua: dalam Injil karangan Matius, pasal 9:18-26. Pengulu datang kepada al-Masih mengatakan anak perempuannya baru mati, memohon Yesus menghidupkannya kembali. Setelah beliau datang ke rumah Pengulu itu dan melihat keadaannya dan beliau berkata bahwa anak perempuan itu bukan mati, hanya tidur (ayat 24). Setelah orang banyak keluar, anak itu beliau suruh bangun maka dia pun bangun.
Yang ketiga: menurut Injil karangan Yohannes, pasal 11, ialah menghidupkan kembali Lazarus yang telah empat hari mati dan telah dikuburkan dalam sebuah gua. Lazarus adalah saudari dari Martha dan Maryam dan perempuan murid al-Masih yang disayanginya. Meninggalnya Lazarus, sangatlah menyedihkan hati mereka berdua, untuk membujuk hati Martha dan Maryam, al-Masih telah pergi ke pintu kubur itu dan memohon kepada Allah agar doanya dikabulkan dan Lazarus dihidupkan kembali, “Supaya mereka itu sekalian percaya bahwa Engkaulah yang menyuruhkan aku." (Yohannes pasal 11: 42). Kemudian, dengan suara nyaring beliau memanggil Lazarus, “Hai, Lazarus marilah keluar!" (ayat 43). Kemudian keluarlah orang yang sudah mati itu terikat kaki tangannya dengan kain kafan dan mukanya pun terbalut dengan sapu tangan." (ayat 44).
Jika kita membaca ketiga kisah ini dari ketiga Injil itu langsung, kita mendapat kesan pula, yang amat penting bagi mengetahui ajaran asli al-Masih.
Pada kisah yang pertama, Lukas menceritakan bahwa setelah anak laki-laki tunggal itu beliau suruh bangkit dari usungannya, semua orang yang melihat pun percaya bahwa beliau memang seorang nabi besar. Tegasnya, bukanlah mereka mengatakan Allah.
Kisah yang kedua, al-Masih sendiri yang mengatakan bahwa anak perempuan itu tidak mati, tetapi tidur saja atau pingsan yang disangka oleh ayahnya telah mati. Demikianlah penjelasan dari Matius.
Dan dalam kisah Lazaruslah kita melihat mukjizat besar itu! Lazarus yang telah dikubur empat hari sehingga mayatnya sudah hendak busuk, al-Masih berdoa kepada Allah agar dia (Lazarus) dihidupkan kembali. Permohonan al-Masih dikabulkan Allah, Lazarus pun hidup. Ini sesuai dengan yang dikatakan Al-Qur'an: Dengan izin Allah! Jadi bukah al-Masih yang menghidupkan itu dengan kehendaknya melainkan dengan kehendak Allah!
Semua ini diperingatkan Allah kepada al-Masih bahwa keganjilan-keganjilan yang telah berlaku itu bukanlah dari daya upayanya sendiri dan bukan dari sebab dia yang berkuasa, melainkan dengan izin Allah-lah semua baru bisa terjadi.
“Dan (ingatlah) tatkala Aku menghambat Bani Israil dari engkau, tatkala engkau datang kepada mereka dengan keterangan-keterangan lantas berkatalah orang-orang yang kafir di antara mereka, ‘Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata."
(ujung ayat 110)
Di sini, Allah meneruskan memberi ingat kepada al-Masih bahwa setelah segala mukjizat itu beliau perlihatkan, yang terjadi dengan izin Allah maka orang-orang kafir yang tidak mau percaya dari Bani Israil, dari orang-orang Yahudi itu, tidaklah mau menerima bahwa semuanya itu adalah mukjizat. Mereka menuduh saja bahwa semuanya itu hanyalah sihir yang nyata; jelas sihirnya. Lantaran itu, bukan saja mereka telah mengingkari kelahiran al-Masih ke dunia sebagai pernyataan kekuasaan Allah melahirkan seorang manusia tidak menurut jalan biasa, bahkan sampai setelah beliau dewasa, menjadi rasul, mukjizat yang beliau kemukakan dengan sokongan Allah pun mereka tuduh sihir. Karena mereka menuduh beliau seorang tukang sihir yang besar, hendak mereka bunuhlah beliau. Namun, usaha mereka itu dihambat oleh Allah. Isa al-Masih diselamatkan oleh Allah, sebagaimana yang telah disebutkan pada surah Aali ‘Imraan dan surah an-Nisaa'.
“Dan (ingatlah) tatkala Aku membelikan ilham kepada Hamniyin supaya mereka itu beriman kepada engkau dan kepada Rasul-Ku."
(pangkal ayat 111)
Dan ingatlah, sementara sebagian besar daripada Ban» Israil itu menolak keteranganmu, menuduh engkau anak yang lahir di luar nikah, menuduh pula mukjizat yang engkau bawakan itu hanya sihir semata-mata. Aku memberikan ilham kepada Hawariymu sekalian, supaya mereka pun beriman kepada Rasul-Ku yang kelak akan datang menyempurnakan syari'at yang telah engkau bawa. Lantaran ilham Allah itu, “Mereka pun berkata, ‘Kami telah beriman!"‘ Kami percaya al-Masih itu bukan tukang sihir, bukan lahir dengan jalan salah, melainkan benar-benar seorang rasul Allah,
Dan kami pun percaya bahwa kelak kemudian hari akan datang rasul yang terakhir, Peraclit,
Ruh Kebenaran, menggenapi Injil dan Taurat, menyambung risalah Musa dan Isa.
“Dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami ini adalah orang-orang yang telah berserah diri"
(ujung ayat 111)
The Messengers Will be Asked About Their Nations
Allah says;
يَوْمَ يَجْمَعُ اللّهُ الرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَا أُجِبْتُمْ
قَالُواْ لَا عِلْمَ لَنَا إِنَّكَ أَنتَ عَلَّمُ الْغُيُوبِ
On the Day when Allah will gather the Messengers together and say to them:What was the response you received (from men to your teaching)! They will say:We have no knowledge, verily, only You are the Knower of all that is hidden.
Allah states that on the Day of Resurrection, He will ask the Messengers about how their nations, to whom He sent them, answered and responded to their teachings.
Allah said in other Ayat,
فَلَنَسْـَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْـَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ
Then surely, We shall question those (people) to whom it (the Book) was sent and verily, We shall question the Messengers. (7:6)
and,
فَوَرَبِّكَ لَنَسْـَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينََمَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
So, by your Lord, We shall certainly call all of them to account. For all that they used to do. (15:92-93)
According to Mujahid, Al-Hasan Al-Basri and As-Suddi, The statement of the Messengers here,
لَا عِلْمَ لَنَا
(We have no knowledge),
is the result of the horror of that Day.
Abdur-Razzaq narrated that Ath-Thawri said that Al-A`mash said that Mujahid said about the Ayah,
يَوْمَ يَجْمَعُ اللّهُ الرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَا أُجِبْتُمْ
(On the Day when Allah will gather the Messengers together and say to them:What was the response you received)!
They will become afraid and reply,
لَا عِلْمَ لَنَا
(We have no knowledge),
Ibn Jarir and Ibn Abi Hatim also recorded this explanation.
Ali bin Abi Talhah said that Ibn Abbas commented on the Ayah,
They will say to the Lord, Most Honored, `We have no knowledge beyond what we know, and even that, You have more knowledge of them than us.
This response is out of respect before the Lord, Most Honored, and it means, we have no knowledge compared to Your encompassing knowledge. Therefore, our knowledge only grasped the visible behavior of these people, not the secrets of their hearts. You are the Knower of everything, Who has encompassing knowledge of all things, and our knowledge compared to Your knowledge is similar to not having any knowledge at all, for
أَنتَ عَلَّمُ الْغُيُوبِ
(only You are the Knower of all that is hidden).
Reminding `Isa of the Favors that Allah Granted him
Allah
إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسى ابْنَ مَرْيَمَ
(Remember) when Allah will say (on the Day of Resurrection):O `Isa, son of Maryam!
Allah mentions how He blessed His servant and Messenger, `Isa, son of Maryam, and the miracles and extraordinary acts He granted him.
Allah said,
اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ
Remember My favor to you,
when I created you from your mother, without male intervention, and made you a sign and clear proof of My perfect power over all things.
وَعَلَى وَالِدَتِكَ
And to your mother,
when I made you testify to her chastity and you thus absolved her from the sin that the unjust, ignorant liars accused her of.
إِذْ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ
when I supported you with Ruh-il-Qudus,
the angel Jibril, and made you a Prophet, calling to Allah in the cradle and manhood. I made you speak in the cradle, and you testified that your mother was free from any immoral behavior, and you proclaimed that you worship Me. You also conveyed the news of My Message and invited them to worship Me.
تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلً
so that you spoke to the people in the cradle and in maturity;
Meaning you called the people to Allah in childhood and in maturity.
And the word Tukallim means invited, because his speaking to people while a child is nothing strange by itself.
Allah's statement,
وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
(And when I taught you the Book and the Hikmah,) the power of writing and understanding,
وَالتَّوْرَاةَ وَالاِنجِيلَ
(and the Tawrah,) which was revealed to Musa, son of `Imran, who spoke to Allah directly.
Allah's statement,
وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْيَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي
and when you made out of the clay, as it were, the figure of a bird, by My permission,
means:`you shaped it in the figure of a bird by My permission, and it became a bird with My permission,
فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي
and you breathed into it, and it became a bird by My permission,
after you blew into it'. Then, it became a flying bird with a soul by Allah's permission.
Allah said;
وَتُبْرِىءُ الَاكْمَهَ وَالَابْرَصَ بِإِذْنِي
and you healed those born blind, and the lepers by My permission,
This was explained before in Surah Al Imran and we do not need to repeat it here.
Allah's statement,
وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوتَى بِإِذْنِي
And when you brought forth the dead by My permission,
meaning, you called them and they rose from their graves by Allah's leave, power, intent and will. Allah said next,
وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَايِيلَ عَنكَ إِذْ جِيْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْهُمْ إِنْ هَـذَا إِلاَّ سِحْرٌ مُّبِينٌ
and when I restrained the Children of Israel from you since you came unto them with clear proofs, and the disbelievers among them said:This is nothing but evident magic.
Meaning:`remember My favor, when I stopped the Children of Israel from harming you, when you brought them the clear proofs and evidence, testifying to your Prophethood and Message from Me to them. They rejected you and accused you of being a magician and tried to kill you by crucifixion, but I saved you, raised you to Me, purified you from their vulgarity and protected you from their harm.' The wording of this Ayah indicates that `Isa will be reminded of these favors on the Day of Resurrection.
Allah used the past tense in these Ayat indicating that it is a forgone matter that will certainly occur.
This Ayah also contains some of the secrets of the Unseen that Allah revealed to His Messenger Muhammad.
Allah said
وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ امِنُواْ بِي وَبِرَسُولِي
And when I (Allah) Awhaytu Al-Hawariyyin to believe in Me and My Messenger.
This is also a reminder of Allah's favor on `Isa, by making disciples and companions for him.
It is also said that Awhaytu in the Ayah means, `inspired', just as in another Ayah, Allah said;
وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ
And We inspired the mother of Musa (saying):Suckle him... (28:7)
Allah said in other Ayat,
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِى مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ الثَّمَرَتِ فَاسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلً
And your Lord Awha (inspired) the bee, saying:Take habitations in the mountains and in the trees and in what they erect. Then, eat of all fruits, and follow the ways of your Lord made easy (for you). (16:68-69)
Al-Hasan Al-Basri commented about the Hawariyyun,
Allah inspired them,
As-Suddi said,
`He put in their hearts,
and the Hawariyyun said,
قَالُوَاْ امَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ
they said:`We believe. And bear witness that we are Muslims.
Sending Down the Ma'idah
This is the story of the Ma'idah, the name of which this Surah bears, Surah Al-Ma'idah.
This is also among the favors that Allah granted His servant and Messenger, `Isa, accepting his request to send the Ma'idah down, and doing so as clear proof and unequivocal evidence.
Allah said,
إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ
(Remember) when Al-Hawaryun said...
the disciples of `Isa said,
يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَأيِدَةً مِّنَ السَّمَاء
O `Isa, son of Maryam! Can your Lord send down to us a Ma'idah from heaven!
The Ma'idah is the table that has food on it.
Some scholars said that;
the disciples requested this table because they were poor and deprived. So they asked `Isa to supplicate to Allah to send a table of food down to them that they could eat from every day and thus be more able to perform the acts of worship.
قَالَ اتَّقُواْ اللّهَ إِن كُنتُم مُّوْمِنِينَ
`Isa said:Have Taqwa of Allah, if you are indeed believers.
`Isa answered them by saying, `Have Taqwa of Allah! And do not ask for this, for it may become a trial for you, but trust in Allah for your provisions, if you are truly believers.
قَالُواْ نُرِيدُ أَن نَّأْكُلَ مِنْهَا
They said:We wish to eat thereof.
we need to eat from it,
وَتَطْمَيِنَّ قُلُوبُنَا
and to be stronger in faith,
when we witness it descending from heaven as sustenance for us.
وَنَعْلَمَ أَن قَدْ صَدَقْتَنَا
and to know that you have indeed told us the truth,
of your Message and our faith in you increases and also our knowledge.
وَنَكُونَ عَلَيْهَا مِنَ الشَّاهِدِينَ
and that we ourselves be its witnesses.
testifying that it is a sign from Allah, as proof and evidence that you are a Prophet, and attesting to the truth of what you brought us
قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنزِلْ عَلَيْنَا مَأيِدَةً مِّنَ السَّمَاء تَكُونُ لَنَا عِيداً لاَِّوَّلِنَا وَاخِرِنَا
`Isa, son of Maryam, said:O Allah, our Lord! Send us from heaven a table spread (with food) that there may be for us -- for the first and the last of us -- a festival...
As-Suddi commented that the Ayah means,
We will take that day on which the table was sent down as a day of celebration, that we and those who come after us would consider sacred.
Sufyan Ath-Thawri said that it means,
A day of prayer.
وَايَةً مِّنكَ
and a sign from You.
proving that You are able to do all things and to accept my supplication, so that they accept what I convey to them from You.
وَارْزُقْنَا
and provide us sustenance,
a delicious food from You that does not require any effort or hardship.
وَأَنتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
for You are the Best of sustainers.
قَالَ اللّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ فَمَن يَكْفُرْ بَعْدُ مِنكُمْ
Allah said:I am going to send it down unto you, but if any of you after that disbelieves...
by denying this sign and defying its implication, O `Isa,
فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لاَّ أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِّنَ الْعَالَمِينَ
then I will punish him with a torment such as I have not inflicted on anyone among the Alamin.
among the people of your time.
Allah said in similar Ayat,
وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُواْ ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
And on the Day when the Hour will be established (it will be said to the angels):Cause Fir`awn's people to enter the severest torment! (40:46)
and,
إِنَّ الْمُنَـفِقِينَ فِى الدَّرْكِ الاٌّسْفَلِ مِنَ النَّارِ
Verily, the hypocrites will be in the lowest depths of the Fire. (4:145)
Ibn Jarir said that Abdullah bin `Amr said,
Those who will receive the severest torment on the Day of Resurrection are three:
The hypocrites,
those from the people of Al-Ma'idah who disbelieved in it, and
the people of Fir`awn.
Ibn Abi Hatim recorded that Ibn Abbas said,
They said to `Isa, son of Maryam, `Supplicate to Allah to send down to us from heaven, a table spread with food.'
He also said, `So the angels brought the table down containing seven fish and seven pieces of bread and placed it before them. So the last group of people ate as the first group did.
Ibn Jarir recorded that Ishaq bin Abdullah said that;
the table was sent down to `Isa son of Maryam having seven pieces of bread and seven fish, and they ate from it as much as they wished. But when some of them stole food from it, saying, It might not come down tomorrow, the table ascended.
These statements testify that the table was sent down to the Children of Israel during the time of `Isa, son of Maryam, as a result of Allah's accepting his supplication to Him. The apparent wording of this Ayah also states so,
قَالَ اللّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ
(Allah said:I am going to send it down unto you...)
`Isa Rejects Shirk and Affirms Tawhid
Allah says;
وَإِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ
And (remember) when Allah will say (on the Day of Resurrection):
Allah will also speak to His servant and Messenger, `Isa son of Maryam, peace be upon him, saying to him on the Day of Resurrection in the presence of those who worshipped `Isa and his mother as gods besides Allah,
يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ
O `Isa, son of Maryam! Did you say unto men:`Worship me and my mother as two gods besides Allah!'
This is a threat and a warning to Christians, chastising them in public, as Qatadah and others said, and Qatadah mentioned this Ayah as evidence,
هَذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ
This is a Day on which the truthful will profit from their truth. (5:119)
Allah's statement,
قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ
He will say:Glory be to You! It was not for me to say what I had no right (to say)...
contains Allah's direction for `Isa to utter the perfect answer.
Ibn Abi Hatim recorded that Abu Hurayrah said,
`Isa will be taught his argument in reply to what Allah will ask him,
وَإِذْ قَالَ اللّهُ
يَاعِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ
(And (remember) when Allah will say (on the Day of Resurrection):O `Isa, son of Maryam! Did you say unto men:`Worship me and my mother as two gods besides Allah!').
Abu Hurayrah then narrated that the Prophet said that Allah taught `Isa to say,
سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ
Glory be to You! It was not for me to say what I had no right (to say)...
Ath-Thawri narrated this Hadith from Ma`mar from Ibn Tawus from Tawus.
`Isa's statement,
إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ
Had I said such a thing, You would surely have known it.
means, had I said it, You, my Lord, would have known it, for nothing escapes Your knowledge. Rather, I have not said these words nor did the thought even cross my mind, this why he said,
تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّمُ الْغُيُوبِ
مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلاَّ مَا أَمَرْتَنِي بِهِ
You know what is in my inner self though I do not know what is in Yours, truly, You, only You, are the Knower of all that is hidden and unseen. Never did I say to them ought except what You (Allah) did command me to say... (and convey).
أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ
Worship Allah, my Lord and your Lord.
I only called them to what You sent me with and commanded me to convey to them,
أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ
(Worship Allah, my Lord and your Lord) and this is what I conveyed to them,
.
وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ
And I was a witness over them while I dwelled amongst them,
I was a witness over what they did when I was amongst them.
فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
but when You took me (up), You were the Watcher over them, and You are a Witness to all things.
Abu Dawud At-Tayalisi recorded that Ibn Abbas said,
The Messenger of Allah stood up once and gave us a speech in which he said,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلا
O people! You will be gathered to Allah while barefooted, naked and uncircumcised;
كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ
As We began the first creation, We shall repeat it. (21:104)
وَإِنَّ أَوَّلَ الْخَلَإيِقِ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ أَلَاإ وَإِنَّهُ يُجَاءُ بِرِجَالٍ مِنْ أُمَّتِي فَيُوْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِّمَالِ فَأَقُولُ أَصْحَابِي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَاإ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِح
The first among the creation who will be covered with clothes will be Ibrahim. Some men from my Ummah will be brought and taken to the left (to the Fire) and I will yell, `They are my followers!' It will be said, `You do not know what they innovated after you (in religion).' So I will say just as the righteous servant (`Isa) said,
مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلاَّ مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
And I was a witness over them while I dwelled amongst them, but when You took me (up), You were the Watcher over them, and You are a Witness to all things. If You punish them, they are Your servants, and if You forgive them, verily You, only You are the Almighty, the All-Wise.
فَيُقَالُ إِنَّ هوُلَاءِ لَمْ يَزَالُوا مُرْتَدِّينَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُم
It will further be said, `These people kept reverting back on their heels after you left them.'
Al-Bukhari also recorded this Hadith in the explanation of this Ayah.
Allah said;
إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
If You punish them, they are Your servants, and if You forgive them, verily You, only You are the Almighty, the All-Wise.
All matters refer back to Allah, for He does what He Wills and none can question Him about what He does, while He will question them.
This Ayah also shows the crime of the Christians who invented a lie against Allah and His Messenger, thus making a rival, wife and son for Allah. Allah is glorified in that He is far above what they attribute to Him. So this Ayah has tremendous value and delivers unique news.
Only Truth will be of Benefit on the Day of Resurrection
Allah says;
قَالَ اللّهُ
Allah will say:
Allah answers His servant and Messenger `Isa, son of Maryam, after he disowns the disbelieving Christians who lied about Allah and His Messenger, and when `Isa refers their end to the will of his Lord.
هَذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ
This is a Day on which the truthful will profit from their truth.
Ad-Dahhak said that Ibn Abbas commented,
This is the Day when Tawhid will benefit those who believed in it.
لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الَانْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
Theirs are Gardens under which rivers flow (in Paradise) -- they shall abide therein forever.
and they will never be removed from it.
رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ
Allah is pleased with them and they with Him.
وَرِضْوَنٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ
But the greatest bliss is the good pleasure of Allah. (9:72)
We will mention the Hadiths about this Ayah (9:72) later on.
Allah's statement,
ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
That is the great success.
means, this is the great success, other than which there is no greater success.
Allah said in another Ayat,
لِمِثْلِ هَـذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَـمِلُونَ
For the like of this let the workers work. (37:61)
and,
وَفِى ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَـفِسُونَ
And for this let (all) those strive who want to strive. (83:26)
Allah's statement,
لِلّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالَارْضِ وَمَا فِيهِنَّ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
To Allah belongs the dominion of the heavens and the earth and all that is therein, and He is able to do all things.
means, He created everything, owns everything, controls the affairs of everything and is able to do all things. Therefore, everything and everyone are in His domain and under His power and will. There is none like Him, nor is there rival, ancestor, son, or wife for Him, nor a lord or god besides Him.
Ibn Wahb said that he heard Huyay bin Abdullah saying that Abu Abdur-Rahman Al-Habli said that Abdullah bin `Amr said,
The last revealed Surah was Surah Al-Ma'idah.
This is the end of the Tafsir of Surah Al-Ma'idah. To Allah be praise and blessings.
Mention, the day when God shall gather the messengers, which is the Day of Resurrection, and He will say, to them, as a rebuke for their peoples: 'What answer were you given?', when you summoned [them] to proclaim God's Oneness; they shall say, 'We have no knowledge, of this; You, only You, are the Knower of things unseen', those things which are hidden from [God's] servants and that which they [the messengers] have forgotten all knowledge of on account of the great terror of the Day of Resurrection and their fright; but when they have calmed down, they [proceed to] bear witness against their communities.
The Linkage of Verses
Earlier, mention was made of various injunctions. In between came inducements to put these in practice along with warnings against opposing them. Now it is to reemphasize the approach that people are reminded of the frightening happenings of the Day of Qiyamah so that obedience is promoted and antagonism is checked. This is the prevailing style of the Holy Qur'an. Then, towards the closing stages of the Surah, there is that dialogue with the people of the Book which has also appeared earlier through several verses where the purpose is to acquaint the people of the Book with facts about Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) facts which affirm his being a servant of Allah and negate the erroneous ascribing of godhood to him (though, the actual locale of this address will be the Last Day of Qiyamah).
Commentary
The First Question Asked of Prophets (علیہم السلام) on the Last Day
Verse 109 opens with the statement: يَوْمَ يَجْمَعُ اللَّـهُ الرُّسُلَ `(Remember) the day Allah will assemble the messengers' which is ominous. Though, the day of Qiyamah will be the Day of Doom when all human beings born from the beginning to the end shall be standing on open grounds. Human beings, no matter what their region, country or time, shall all be present on those grounds and there will come that hour of ultimate reckoning for a whole lifetime of deeds. But, in the statement quoted above, mentioned particularly are the blessed prophets whom Allah will assemble on that day of reckoning. The sense is that, as for assembling, the whole world will be assembled, but the first question asked will be from the prophets, may peace be upon them all - so that the whole creation of Allah may see that, on that day, no one is exempted from reckoning. Then, the question asked of the prophets will be: مَاذَا أُجِبْتُمْ (How were you responded to?). It means when you invited your communities towards Allah and His true religion, how did they react to your call. Did they act as they were commanded to? Or, did they say no to the call and opposed it?
Though the question will be addressed to the prophets, but it would really be beamed at their communities. In other words, the prophets will be the first ones to testify about the good or bad deeds done by their communities. And for them this would be a trying time, for, on their part, they would be hoping for the intercession of their prophets to rescue them from this nerve shattering experience, while, on the other hand, there would come this question addressed to their prophets themselves requiring them to explain the conduct of their communities. Under such circumstances, it is obvious that prophets would never say anything but the truth, so the criminals and sinners will have apprehensions that the prophets themselves will become witnesses to their wrong-doings. Who, then, they would wonder, was now left to intercede on their behalf?
The answer that the prophets will give will be: قَالُوا لَا عِلْمَ لَنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (We have no knowledge. Surely You have the full knowledge of all that is unseen).
The Removal of a Doubt
As for the people of every community who were born after passing away of their prophets from this world, this answer given by the prophets (علیہم السلام) correct and clear in that they are unaware of the actual state of their faith and deeds - because no one has the knowledge of the unseen except Allah. But, the question arises with regard to the great majority of people within the community, who professed belief at the hands of their prophet as a result of his work among them, and proved that they kept following before their eyes what they were asked to follow. Similarly, there were disbelievers who did not listen to the prophets, even treated them with hostility. How would it be correct to say about them that ` we have no knowledge of their faith and deeds.'? It appears in Tafsir Al-Bahr Al-Muhit that Imam Razi has answered this doubt by saying: There are two separate things here. One is عِلم ` Ilm which means perfect certitude, while the other is ظَن Zann which means conjecture or weighty likelihood. And it is obvious that if a person can, despite his being sitting next to the other person, testify about his faith and deed, then, it will be on no other basis but that of ظَن Zann or conjecture or likelihood. Otherwise, real faith ('Iman) is a secret of the heart which no one can find out with any certitude without a Divine revelation. Every religious community had their groups of hypocrites who obviously did profess faith and did follow what they were commanded to follow. But, their hearts had no faith in them nor they had the real feeling and drive for carrying out those commands. All they had was hypocricy. , But, like all laws, religious laws too were applied on what was visible from the outside. Anyone who called himself a believer, followed Divinely ordained laws, and no word or deed from him or her stood proved against faith and belief, was a good believer in the sight of the prophets and their believing communities. Whether some-one was a true believer at heart, or simply a hypocrite, it did not count for they had no choice in the matter. Therefore, it was said by the Holy Prophet: ﷺ
نَحنُ نَحکُمُ بِالظَّوَاھِرِ اَاللہُ مُتَوَلِّی السَّرَای (علیہ السلام) ر .
We judge on the basis of outward deeds while Allah is (Himself) the custodian of the secrets (of the hearts).
Under this rule, the noble prophets, their deputies and the learned could confirm, at least in the mortal world, that someone was a true believer as based on their favourable opinion deduced from his out-ward deeds. But, that mortal world where everything revolved round opinions and conjectures is all gone. This is the Yowm al-Hashr, the fateful day of Resurrection when the dead shall rise and where things will be sorted out and realities will be unfolded. Criminals will stand on trial. People will witness against them. If they do not confess, other witnesses will be brought in, very special, and very official witness-es. With mouths and tongues silenced, the wrong-doer's hands and legs and the skin will be asked to testify. They will tell everything الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴿65﴾ (That Day We shall set a seal on their mouths while their hands will speak to Us, and their feet bear witness, to all that they did -36:65). Human beings will then surely find out that parts of their own body could also act as secret service agents when summoned to do so by the Lord of the universes. After such disarming testimony no denial will remain possible.
In short, that would be a state of being in which no judgment will be based on opinion, estimate and conjecture. Instead, certitude will be the order of the day. And as we have just seen that no one has the real knowledge about anyone's faith and belief except Allah, therefore, when the prophets will be asked on the day of Resurrection: مَاذَا أُجِبْتُمْ (How were you responded to?), they would recognize the reality behind the question, that the question is not being asked in the world of our experience where it could be answered by conjecture, instead, that question was being asked in the horrendous scenario of the Day of Resurrection where nothing other than certitude was going to work. Therefore, their answer: ` We have no knowledge' about it, that is, they do not have that certain knowledge needed to answer the question, is right and correct.
The Answer Shows the Affection Prophets have for People
We now know that the prophets did have some opinion about the acceptance or rejection of their call by their communities and knew facts about their obedience or disobedience. On that basis, they could have at least mentioned their apparent attitude as part of their an-swer to the question - and could have referred the certainty in knowledge to the sole domain of Almighty Allah. But, what we see here is that the prophets said nothing about what they knew, nor did they mention any events which had passed before them. They simply re-signed these to the Divine knowledge and chose to remain silent.
This was a great demonstration of consideration. Prophets are very affectionate to their people, and to the creation of Allah in general. They would not elect to say something as an adverse comment against their community on their own, lest their people are in trouble. If they had to say so, they would. But, here they had the excuse of not having certain knowledge. Using this legitimate excuse to their advantage, they could have avoided saying anything against their communities - and so they did.
Five Questions on the Day of Resurrection
Opened through this verse is a window to Qiyamah, the fateful Day of Doom. Stationed there on the grandstands of reckoning are the highest and the dearest of Allah, His noble messengers and prophets, all in awe and reverence. Think of them and think of what would be happening to others. Therefore, we should start worrying about that Day right from this day. This little time of our life is a blessing in our hands and should be devoted to getting ready for the ultimate accounting. In a Hadith of Tirmidhi, the Holy Prophet ﷺ is reported to have said:
لَا تَزولُ قدمَا ابنِ اٰدم یَومَ القِیامَۃِ حَتَّی یُسٔلَ عن خَمسِ : عن عُمرِہِ فیمَا اَفنَاہُ وعَن شَبَانِہِ فِیمَا اَبلَاہۃ وعَن مَالِہِ مِن اٰنَ اَنفَقَہ و مَاذَا عَمِلَ بِمَا عَلِمَ
No son of Adam will move a step on the Day of Qiyamah until he is asked five questions: (1) About his age: In what did he use it up? (2) And about his youth: In what did he spend it? (3) And about his wealth: From where did he earn it? (4) And where did he spend it? (5) And what was it that he did following that which he knew?
Great is the mercy and affection of Allah Ta` ala. He puts us to a test and He Himself tells His people about the questions asked during the test. The task was done by the Holy Prophet ﷺ who told his Ummah how to appear in this test. Now, for them, there is nothing left to do but to resolve these questions, find their answers and solutions and keep that preserved (for the day of trial). So, if someone still fails, even after being told what will be in the test, fairly in advance, who else could be more deprived than him?








