Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
قُلِ
katakanlah
ٱللَّهُ
Allah
يُحۡيِيكُمۡ
Dia menghidupkan kalian
ثُمَّ
kemudian
يُمِيتُكُمۡ
Dia mematikan kalian
ثُمَّ
kemudian
يَجۡمَعُكُمۡ
Dia mengumpulkan kamu
إِلَىٰ
pada
يَوۡمِ
hari
ٱلۡقِيَٰمَةِ
kiamat
لَا
tidak ada
رَيۡبَ
keraguan
فِيهِ
didalamnya
وَلَٰكِنَّ
akan tetapi
أَكۡثَرَ
kebanyakan
ٱلنَّاسِ
manusia
لَا
tidak
يَعۡلَمُونَ
mereka mengetahui
قُلِ
katakanlah
ٱللَّهُ
Allah
يُحۡيِيكُمۡ
Dia menghidupkan kalian
ثُمَّ
kemudian
يُمِيتُكُمۡ
Dia mematikan kalian
ثُمَّ
kemudian
يَجۡمَعُكُمۡ
Dia mengumpulkan kamu
إِلَىٰ
pada
يَوۡمِ
hari
ٱلۡقِيَٰمَةِ
kiamat
لَا
tidak ada
رَيۡبَ
keraguan
فِيهِ
didalamnya
وَلَٰكِنَّ
akan tetapi
أَكۡثَرَ
kebanyakan
ٱلنَّاسِ
manusia
لَا
tidak
يَعۡلَمُونَ
mereka mengetahui
Terjemahan
Katakanlah, "Allah yang menghidupkan kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak diragukan lagi; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
Tafsir
(Katakanlah, "Allahlah yang menghidupkan kalian) sewaktu kalian masih dalam bentuk air mani (kemudian mematikan kalian, setelah itu mengumpulkan kalian) dalam keadaan hidup (pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya) tidak diragukan lagi kedatangannya (akan tetapi kebanyakan manusia) yang dimaksud adalah mereka yang telah mengatakan apa yang telah disebutkan tadi (tidak mengetahui.").
Tafsir Surat Al-Jathiyah: 24-26
Dan mereka berkata.Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa. dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain dari mengatakan, Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar.Katakanlah, "Allah yang menghidupkan kamu.
kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Allah ﷻ menceritakan tentang perkataan aliran Dahriyyah dari kalangan orang-orang kafir dan orang-orang yang sependapat dengan mereka dari kalangan orang-orang musyrik Arab yang ingkar kepada hari kemudian. Dan mereka berkata, "kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup. (Al-Jatsiyah: 24) Yakni tiada kehidupan kecuali kehidupan di dunia ini; suatu kaum mati, sedangkan yang lainnya hidup; dan tiada hari kemudian serta tiada pula yang namanya hari kiamat.
Hal ini dikatakan oleh orang-orang musyrik Arab yang ingkar kepada hari berbangkit, dan dikatakan pula oleh sebagian para filosuf ateis; mereka mengingkari adanya permulaan kejadian dan hari kembali. Dan dikatakan pula oleh para filosuf aliran Dahriyyah yang ingkar kepada adanya pencipta, yang meyakini bahwa setiap tiga puluh enam ribu tahun segala sesuatu akan kembali seperti semula.
Dan mereka menduga bahwa hal ini telah terjadi berulang-ulang tanpa batas. Mereka membesarkan akal dan mendustakan dalil manqul, karena itulah mereka mengatakan seperti yang disitir oleh firman-Nya: dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa. (Al-Jatsiyah: 24) Adapun firman Allah ﷻ: dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (Al-Jatsiyah: 24) Mereka mengatakan demikian hanya semata-mata berdasarkan dugaan dan ilusi mereka sendiri.
Adapun mengenai sebuah hadis yang diketengahkan oleh pemilik kedua kitab sahih (Imam Bukhari dan Imam Muslim) serta Abu Daud dan Imam Nasai melalui Sufyan ibnu Uyaynah, dari Az-Zuhri, dari Sa'id ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Allah ﷻ telah berfirman, "Anak Adam menyakiti-Ku, dia mencaci masa, padahal Akulah (yang menciptakan) masa; di tangan kekuasaan-Ku urusan itu, Akulah Yang menggilirkan malam dan siang harinya. Yang menurut riwayat lain disebutkan pula: Janganlah kamu mencaci masa, karena sesungguhnya Allah-lah (yang menciptakan) masa itu. Ibnu Jarir telah mengetengahkan hadis ini dengan konteks yang sangat gharib (aneh). Dia mengatakan: telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Az-Zuhri, dari Sa'id ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi ﷺ yang bersabda: bahwa dahulu orang-orang Jahiliah mengatakan, "Sesungguhnya yang membinasakan kami adalah malam dan siang hari, masalah yang membinasakan, mematikan, dan menghidupkan kami." Maka Allah ﷻ menurunkan firman-Nya: Dan mereka berkata, "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa. (Al-Jatsiyah: 24) Mereka mencaci maki masa (zaman), maka Allah ﷻ berfirman, "Anak Adam menyakiti-Ku; dia mencaci masa, padahal Akulah (yang menciptakan) masa.
Di tangan kekuasaan-Kulah urusan itu, Akulah yang menggilirkan malam dan siang hari." Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari Ahmad ibnu Mansur, dari Syuraih An-Nu'man, dari Ibnu Uyaynah. Selanjutnya Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Yunus, dari Ibnu Wahb, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: ". Allah ﷻ berfirman.Anak Adam mencaci masa, padahal Akulah (yang menciptakan) masa, di (tangan kekuasaan)-Kulah (perputaran) malam dan siang hari. Pemilik kitab Sahihain dan Imam Nasai telah mengetengahkan hadis ini melalui Yunus ibnu Yazid dengan sanad yang sama. Muhammad ibnu lshaq telah meriwayatkan dari Al-A'la ibnu Abdur Rahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a, bahwa rasulullah ﷺ pernah bersabda: Allah ﷻ berfirman, "Aku meminjam kepada hamba-Ku, tetapi dia tidak memberi-Ku; dan hamba-Ku mencaci-Ku seraya mengatakan, "Celakalah masa ini" Padahal Akulah (yang menciptakan) masa. Imam Syafii dan Abu Ubaidah serta selain keduanya dari kalangan para imam mengatakan sehubungan dengan makna sabda Rasulullah ﷺ yang mengatakan: Janganlah kamu mencaci masa, karena sesungguhnya Allah-lah (yang menciptakan) masa itu.
Bahwa dahulu orang-orang Arab di masa Jahiliahnya apabila tertimpa paceklik atau malapetaka atau musibah, mereka selalu mengatakan, "Celakalah masa ini." Mereka menyandarkan kejadian tersebut kepada masa dan mencaci makinya. Padahal sesungguhnya yang melakukan hal tersebut hanyalah Allah ﷻ Seakan-akan secara tidak langsung mereka mencaci maki Allah ﷻ Seakan-akan secara tidak langsung mereka mencaci maki Allah ﷻ karena sesungguhnya Dialah yang melakukannya secara hakiki. Oleh karena itulah maka Nabi ﷺ melarang masa dicaci berdasarkan pertimbangan ini. Sebab pada hakikatnya Allah-lah (yang menciptakan) masa itu yang mereka caci maki dan mereka sandarkan kepadanya kejadian-kejadian tersebut. Ini merupakan pendapat yang terbaik dari apa yang dikemukakan sehubungan dengan tafsir pengertian ini, dan pendapat inilah yang paling mirip dengan makna yang dimaksud, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Ibnu Hazm dan orang-orang yang mengikuti metodenya dari kalangan aliran Zahiriyah telah keliru karena mereka menganggap Ad-Dahr adalah salah satu dari Asmaul Husna, karena berdasarkan hadis ini. Firman Allah ﷻ: Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas. (Al-Jatsiyah: 25) Yaitu apabila dibuktikan terhadap mereka dan dijelaskan kepada mereka bahwa Allah Mahakuasa untuk menghidupkan kembali tubuh-tubuh yang telah mati sesudah mereka tiada dan bertebaran di mana-mana.
tidak ada bantahan mereka selain mengatakan, "Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar. (Al-Jatsiyah: 25) Yakni hidupkanlah mereka kembali jika apa yang kamu katakan itu benar. Maka dijawab oleh firman-Nya: Katakanlah, "Allah-lah yang menghidupkan kemudian mematikanmu." (Al-Jatsiyah: 26) sebagaimana yang kamu saksikan sendiri, Dia telah mengeluarkan kamu dari tiada menjadi ada di alam wujud ini. Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kamu dikembalikan kepada-Nya. (Al-Baqarah: 28) Yakni Tuhan Yang mampu menciptakan dari semula mampu pula untuk mengembalikan penciptaan itu dikesempatan yang lain dalam penciptaan yang baru, dan penciptaan yang kedua kalinya itu jauh lebih mudah bagi-Nya, sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya: Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan) nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. (Ar-Rum: 27) Adapun firman Allah ﷻ: setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. (Al-Jatsiyah: 26) Artinya sesungguhnya Dia hanya menghimpunkan kalian kelak di hari kiamat dan tidak akan menghidupkan kalian di dunia ini.
Maka tidaklah pantas bila kalian mengatakan: Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar. (Al-Jatsiyah: 25) Allah ﷻ telah berfirman: (Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab). (At-Taghabun: 9) . (Niscaya dikatakan kepada mereka), "Sampai hari apakah ditangguhkan (mengazab orang-orang kafir itu)? Sampai hari keputusan. (Al-Mursalat: 12-13) Dan firman Allah ﷻ: Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai -waktu yang tertentu. (Hud: 104) Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya: setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. (Al-Jatsiyah: 26) Yakni tidak diragukan lagi kejadiannya. tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Al-Jatsiyah: 26) Karena itulah maka mereka mengingkari adanya hari kemudian dan menganggap mustahil tubuh-tubuh ini akan dihidupkan kembali. Allah ﷻ telah berfirman: Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu (hari kiamat) jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi). (Al-Ma'arij:6-7) Mereka menganggap mustahil hal itu terjadi, sedangkan orang-orang mukmin menganggap bahwa hal itu mudah (bagi Allah) dan (hari kiamat itu) sudah dekat masanya.".
Keingkaran mereka terhadap kebangkitan ini dibantah oleh Allah, Wahai Nabi Muhammad, Katakanlah kepada mereka yang mengingkari kebangkitan itu, 'Allah yang Mahakuasa yang menciptakan dan menghidupkan kamu padahal kamu sebelumnya tidak ada, kemudian Dia pulalah yang mematikan kamu pada saat ajalmu datang, setelah itu Dia mengumpulkan kamu untuk dihisab pada hari Kiamat yang tidak diragukan lagi, pasti akan terjadi; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui kekuasaan Allah untuk membangkitkan mereka. '27. Dan hanya milik Allah, bukan miliki siapa-siapa, kerajaan langit dan bumi, Dialah yang menciptakan dan mengatur wujud seluruh alam. Dan pada hari terjadinya Kiamat, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan, yakni perbuatan dosa.
Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menjelaskan kepada orang-orang musyrik Mekah, bahwa Allah-lah yang berkuasa menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya. Dahulu mereka belum ada dan merupakan benda mati, sesudah itu atas kuasa Allah mereka dijadikan makhluk hidup di dunia untuk jangka waktu yang ditentukan. Apabila telah sampai waktu yang ditentukan itu, mereka pun dimatikan. Kemudian mereka dibangkitkan kembali pada hari Kiamat untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia.
Allah menegaskan bahwa terjadinya hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang pasti, tidak ada keraguan sedikit pun. Jika Allah kuasa menghidupkan dan mematikan, tentu Dia kuasa pula menghidupkan dan menghimpun kembali bagian-bagian tubuh mereka yang telah hancur berserakan menjadi tanah. Mengulang kembali suatu perbuatan adalah lebih mudah daripada menciptakannya untuk pertama kali. Dan bagi Allah, tidak ada suatu perbuatan pun yang sukar.
Pada akhir ayat ini, Allah menyayangkan mengapa kebanyakan orang-orang musyrik tidak meyakini kebenaran adanya hari kebangkitan dan tetap mengingkarinya dengan alasan bahwa orang yang telah mati, yang tubuhnya telah hancur lebur bersama tanah, tulang-tulangnya telah berserakan tidak mungkin hidup kembali. Allah berfirman:
Dan sungguh, (hari) Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur. (al-hajj/22: 7).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
BERTUHANKAN HAWA NAFSU
“Maka sudahkah engkau lihat orang yang mengambil hawa nafsunya menjadi Tuhannya? Dan disesatkan dia oleh Allah padahal dia mengetahui dan dicap-Nya atas pendenganannya dan hatinya dan dijadikan-Nya atas matanya satu penutup. Maka siapakah yang akan membelinya petunjuk selain Allah. Maka tidakkah mereka ingat?"
(ayat 23)
Asal arti hawa ialah udara. Memang dalam bahasa kita pun telah kita pindahkan kalimat itu, hawa bagi kita berarti udara juga. Manusia itu pun mempunyai hawa, sebagai gejala dari keadaan batinnya. Marah, berici, dendam, sayang, sedih, semuanya itu adalah gejala atau hawa, atau udara dari diri. Dia bisa berubah-ubah, tetapi diri kita tetap diri kita. Satu kali kita marah-marah, muka kita berubah jadi merah, sebab darah naik ke muka. Tepat ungkapan orang mengatakan, “Dia itu naik darah." Nanti marah itu mereda, darah pun turun kembali dan wajah pun berubah seperti biasa. Lantaran itu kalau orang menerjemahkan hawa ke dalam bahasa Indonesia, selalu dikatakannya hawa nafsu. Sebab hawa itu memang gejala dari nafsu. Kalau hawa itu sedang naik, jika nafsu asli kita terbawa oleh pengaruh hawa itu, pertimbangan akal tidak ada lagi atau kalah. Dan ketika gejala hawa sudah menurun, timbullah berangsur-angsur pemeriksaan atau koreksi akal kita atas sikap kita ketika hawa tadi naik. Lalu timbul penyesalan atau menertawakan diri sendiri.
Bahasa asing"sentimen" telah kita pakai pula untuk mengartikan hawa itu, meskipun agaknya maksud hawa lebih luas dari sentimen.
Maka di dalam ayat ini digambarkan bahwa ada orang yang dari sangat meluap-luap hawa nafsunya itu, sampai entah disadarinya entah tidak, hawanya-telah dipertuhannya. Sebab perintah Allah sendiri yang telah bersemi di dalam akal budinya, tidak dipedulikannya lagi, atau dengan sengaja dilanggarnya. Dalam ayat ini dengan jitu tersebut gejala-gejala orang yang mempertuhan hawa nafsu itu.
“Dan disesatkan dia oleh Allah, padahal dia mengetahui" Misalnya orang yang membunuh dirinya sendiri karena dorongan hawa nafsu (sentimen) hati iba. Dia tahu perbuatannya itu sesat, tetapi karena yang dipertuhannya waktu hawa iba hati, dia pun mati sesat.
“Dan dicap-Nya atas pendengarannya dan hatinya." Apabila hawa nafsu sudah naik, ditakdirkan Allah-lah, tidak dapat tidak bahwa pendengaran dan hatinya kena materai, kena segel sehingga kebenaran tidak dapat lagi dimasukkan ke dalam."Dan dijadikan-Nya atas matanya satu penutup," tidak mau tahu dia lagi menilai mana yang baik dan buruk yang ada di sekelilingnya. (Ungkapan Indonesianya ialah gelap mata.)
Kalau hawa itu hanya bergejala seberitar, misalnya marah lalu membanting-banting barang-barang hingga rusak, lalu menyesal, belumlah termasuk payah. Tetapi bagaimana kalau mempertuhan hawa telah menjadi sikap jiwa? Pada orang yang tidak mau lagi menerima kebenaran karena kebenaran itu keluar dari mulut orang yang dibericinya. Ada orang berkata tidak mau mengakui kesalahannya karena malu akan dikatakan orang telah turun gengsinya. Padahal, akal budinya yang murni mengakui memang dia salah dan teguran orang itu benar.
Maka kafir-kafir Quraisy tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ kebanyakan ialah karena mempertuhan hawa pantang merendah. Dan Bani Israil atau Yahudi tidak mau memercayai Muhammad ﷺ karena hawa kedengkian. Maka pengaruh hawa yang sudah sangat mendalam ini,"Siapakah yang akan memberinya petunjuk selain Allah?" Memang manusia sendiri tidak akan dapat menginsafkan orang yang demikian kalau tidak Allah yang menolong. Sebab itu diberi peringatanlah manusia akan bahayanya sebagai tersebut di ujung ayat,"Maka tidakkah mereka ingat?"
Di dalam ayat yang lain Allah berfirman,
“Dan mencegah diri daripada hawa, maka sesungguhnya surgalah dia tempat kediamannya." (an-Naazi'aat: 40-41)
Sebab itu, ahli-ahli taﷺuf seumpama Ibnul Qayyim di dalam kitabnya, Zadul Ma'ad, membagi jihad manusia itu kepada melawan empat tingkat musuh. Pertama jihad melawan hawa, kedua melawan nafsu, ketiga melawan setan, dan keempat melawan rayuan dunia. Musuh yang paling besar ialah hawa dan nafsu karena keduanya adalah di dalam diri kita sendiri. Dalam kita menghadapi musuh yang dari luar itu keduanya ini selalu ditentang lebih dahulu. Dan ada dua musuh besar lagi yang tampak kata beliau, yaitu kaum munafik dan kafir yang hendak merusak Islam. Itu pun dapat dihadapi asal kita tetap waspada dari musuh empat yang bermula.
“Dan mereka berikata, Tidak ada hidup melainkan kehidupan dunia kita ini. Mulanya kita tak ada sesudah itu kita hidup dan tidak ada yang membirasakan kita melainkan masa.' Dan tidaklah ada bagi mereka dalam hal yang demikian satu pengetahuan pun. Tidak lain, mereka hanyalah menyangka-nyangka."
(ayat 24)
Mereka tidak percaya bahwa di belakang hidup yang sekarang akan ada hidup lagi. Kata mereka: mulanya kita laksana mati, sebab belum ada, setelah itu mati. Apa sebab mati? Sebab masanya sudah datang buat mati. Masanya sudah datang bahwa darah kita yang dalam tubuh kita tidak mengalir lagi menjalani tubuh, habis gerak badan, sebab itu matilah kita, habis
perkara. Yang ada adalah masa. Tidak ada Tuhan. Pengetahuan adalah berida yang nyata ini saja, terhadap ada apa-apa yang di balik berida, tidak ada pengakuan mereka sedikit pun, atau mereka tidak mau tahu. Lantaran itu dalam soal-soal hakikat hidup dan hakikat mati, mereka hanya menyangka-nyangka. Sangka-sangka itulah yang mereka katakan pengetahuan.
“Dan apabila dibacakan kepada mereka itu ayat-ayat Kami yang jelas nyata, tidaklah ada hujjah (alasan) mereka melainkan bahwa mereka katakan, ‘Bawakanlah bapak-bapak kami jika kamu orang-orang yang beriman.
(ayat 25)
Untuk menolak keterangan Al-Qur'an bahwa nanti manusia akan dihidupkan kembali, mereka berkata: cobalah hidupkan kembali sekarang juga bapak-bapak kami yang telah mati. Maka kalau sekarang kamu tidak bisa menghidupkan mereka, apatah lagi nanti. Nantinya itu kapan?
Tadi Allah katakan mereka hanya menyangka-nyangka. Artinya, di dalam pendirian yang demikian mereka pun masih ragu-ragu dalam hati kecil mereka kepada pendirian sendiri. Karena, kalau benar-benar hidup itu hanya dibawa masa, mengapa tidak serupa saja manusia dengan binatang? Mengapa manusia mempunyai akal, pikiran, kehendak, cita-cita, ingatan? Mengapa manusia ada keinginan kepada yang lebih baik? Mengapa jika seseorang telah berhenti napasnya turun dan naik, masih ada saja jasa baik jejak hidupnya yang dikenangkan oleh yang tinggal. Tidakkah itu menunjukkan bahwa ada lagi sesuatu selain napas itu? Hal yang demikian susah mereka untuk menjawabnya. Sebab itu mereka keluarkan saja hujjah yang kata mereka sudah kuat,"Coba hidupkan kembali bapak-bapak kami sekarang juga." Padahal di dalam hati kecilnya, mereka tidak dapat menyelesaikan soal-soal yang ditimbulkan oleh diri mereka sendiri.
Inilah yang oleh Al-Qur'an dinamai Kaum Dahri. Kaum yang hanya percaya kepada masa.
Dinamai juga Kaum Maddi (materialis) hanya percaya kepada berida. Atau Kaum Thabi'i (naturalis), hanya percaya kepada alam ini saja. Bahwa alam ini adalah terjadi sendirinya. Dia qadim dan dia kekal selama-lamanya. Allah tidak ada. Manusia hidup ke dunia atas kehendak alam, sampai masanya dia pun mati. Sesudah mati habis perkara. Mereka tidak mau membicarakan bahwa sesuatu yang terjadi demikian tersusun rapi di dalam alam, adakah pusat pengaturnya? Mereka tidak mau membicarakan bahwa banyak manusia berbuat baik di dunia ini, namun dia masih dianiaya oleh yang kuat! Sebelum ada pembelaan dia pun mati. Karena cerdiknya, kejahatannya dimaafkan orang saja. Kalau hidup itu hanya hingga ini saja apalah artinya akal yang selalu bercita-cita mencapai yang benar dan yang adil? Kalau sekiranya adalah alat buat menopang hati nurani orang yang mengingkari hari akhirat itu, adakah agaknya kepuasannya di dalam hidupnya sebagai manusia? Tidakkah dia merasa berbahagia kalau dia misalnya jadi korban saja? Tak usah berpikir?
Memanglah suatu ayat atau tanda dari kekuasaan Allah bahwa manusia yang tidak percaya kepada yang di balik alam nyata (metafisika) itu selalu saja ada. Tetapi seorang filsuf bernama Olswald Spengler berpendapat pasti seperti yang dikatakan Af-Qur'an itu, yaitu penganut paham yang demikian dalam hati nuraninya pun tidak juga sempurna yakin akan pendiriannya. Kadang-kadang hal yang demikian adalah sebagai dirumuskan oleh penyair filsuf Iqbal. Ketika beliau membicarakan krisis jiwa filsuf Jerman Nietzsche (baca: Nitsyeh), “Beriman hatinya, kafir otaknya."
Negeri-negeri penjajah Barat yang menjajah negeri-negeri Islam, ketika melihat negeri-negeri itu masih kuat saja Islamnya, yang berarti akhirnya mesti memberontak juga kepada penjajahnya untuk merusak kekuatan Islam itu, memakai juga salah satu cara, yaitu menyebarkan'paham materialisme (serba benda), naturalisme (serba alam) atau ateisme (tidak ada Tuhan) ke negeri-negeri yang dijajahnya, sehingga kadang-kadang menjadi satu kebanggaan dan lagak bagi pemuda-pemuda anak orang Islam yang telah dirusakkan moralnya itu.
Inilah yang diberantas oleh Sayyid Jama-luddin al-Afghari dengan bukunya, Ar-Raddu Wad Dahriyin (Pembantah Paham-Paham Serba Masa), ketika dia datang ke India yang kedua kali pada penggal abad ke-19 (abad ke-13 Hijriyah). Sebab, Inggris pernah menyebarkan pula racun itu ke negeri itu, untuk merusak semangat Islam pada angkatan mudanya.
Untuk menghilangkan pengaruh racun Dahri itu, Allah menyuruhkan kepada Rasul-Nya Muhammad ﷺ,
“Katakanlah, ‘Allah yang menghidupkan kamu dan mematikan kamu> kemudian akan mengumpulkan kamu pada hari Kiamat, tidak ada keraguan padanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
(ayat 26)
Memang, kalau ditanyakan kepada manusia, lebih banyaklah yang tidak mengetahui soal itu. Memang, sebab manusia tidak ada yang pergi ke sana, menyelidiki dan kembali. Filsuf-filsuf yang besar pun tidak akan sama jawabannya. Sebab itu hal itu jangan ditanyakan kepada manusia. Tanyakan saja kepada Allah. Allah telah menjawab: Kiamat pasti datang. Keraguanmu hilang, hatimu pun tenteram.
The Life and the Death of the Believers and the Disbelievers are not Equal
Allah the Exalted states here that the believers and the disbelievers are never equal. Allah said in another Ayah,
لَا يَسْتَوِى أَصْحَـبُ النَّارِ وَأَصْحَـبُ الْجَنَّةِ أَصْحَـبُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَأيِزُونَ
Not equal are the dwellers of the Fire and the dwellers of the Paradise. It is the dwellers of Paradise that will be successful. (59:20)
Allah said here,
أًمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّيَاتِ
Or do those who earn evil deeds think,
those who commit and practice evil,
أّن نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ امَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
سَوَاء مَّحْيَاهُم وَمَمَاتُهُمْ
that We shall hold them equal with those who believe and do righteous good deeds, in their life and their death,
i.e. treat them equally in the present life of the world and in the Hereafter
سَاء مَا يَحْكُمُونَ
Worst is the judgement that they make.
`worst is the thought that they have about Us and about Our justice, thinking that We will ever make the pious and the wicked equal in the Hereafter or this life.'
At-Tabarani recorded that Shubah said that Amr bin Murrah narrated that Abu Ad-Duha said that Masruq said that;
Tamim Ad-Dari once stood in voluntary prayer through the night until the morning only reciting this Ayah,
أًمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّيَاتِ
أّن نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ امَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
Or do those who earn evil deeds think that We shall hold them equal with those who believe and do righteous good deeds...
Allah said in reply:
سَاء مَا يَحْكُمُونَ
(Worst is the judgement that they make.)
Allah said
وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضَ بِالْحَقِّ
And Allah has created the heavens and the earth with truth,
meaning, in justice,
وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ
وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
in order that each person may be recompensed what he has earned, and they will not be wronged.
Allah the Exalted said
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ
Have you seen him who takes his own lust as his god,
who abides by his lust, and whatever his lust portrays as good he implements it, and whatever his lust portrays as evil, he abandons it!
Allah's statement,
وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ
And Allah left him astray with knowledge,
has two meanings.
- One of them is that Allah knew that this person deserves to be misguided, so He left him astray.
- The second meaning is that Allah led this person astray after knowledge reached him and the proof was established before him.
The second meaning includes the first meaning, but not the opposite.
Allah said,
وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ
غِشَاوَةً
and sealed his hearing and his heart, and put a cover on his sight.
so he does not hear what benefits him, understands not what would lead him to the guidance and sees not the evidence with which he can be enlightened.
This is why Allah said,
فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَ تَذَكَّرُونَ
Who then will guide him after Allah? Will you not then remember?
Allah said in a similar Ayah,
مَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَ هَادِيَ لَهُ وَيَذَرُهُمْ فِى طُغْيَـنِهِمْ يَعْمَهُونَ
Whomsoever Allah sends astray, none can guide him; and He lets them wander blindly in their transgressions. (7:186)
The Conviction of the Disbelievers, Their Argument and the Refutation of it
Allah mentions here the creed of Ad-Dahriyyah and the Arab idolators who embraced their creed, denying Resurrection,
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلاَّ حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا
And they say:There is nothing but our life of this world, we die and we live....
They say that there is only this life, some people die while others are born to life, without Resurrection or Judgement.
This was the creed of Arab idolators who used to deny Resurrection, in addition to, the creed of the atheist philosophers among them who denied the creation and Resurrection.
This was also the statement of atheist philosophers who deny the Creator and think that the world will return to its original form once every thirty--six thousand years, when everything will restart its life--cycle again! They claim that this cycle was repeated for infinity, thus contradicting the sound reason and the divine revelation.
They said,
وَمَا يُهْلِكُنَا إِلاَّ الدَّهْرُ
and nothing destroys us except Ad-Dahr (time).
Allah the Exalted said in reply,
وَمَا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلاَّ يَظُنُّونَ
And they have no knowledge of it, they only presume.
they speculate and guess!
As for the Hadith recorded by the two collectors of the Sahih, and Abu Dawud and An-Nasa'i, from Abu Hurayrah that the Messenger of Allah said,
يَقُولُ تَعَالَى
يُوْذِينِي ابْنُ ادَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ بِيَدِيَ الاَْمْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَه
Allah the Exalted says,
The Son of `Adam annoys Me when he curses Ad-Dahr (time), while I am Ad-Dahr. In My Hand are all matters; I cause the alternation of his days and nights.
In another narration;
لَاا تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى هُوَ الدَّهْر
Do not curse Ad-Dahr (time), for Allah is Ad-Dahr.
Ash-Shafi`i, Abu Ubaydah and several other Imams of Tafsir explained the meaning of the Prophet's statement,
لَاا تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى هُوَ الدَّهْر
(Do not abuse Ad-Dahr (time), for Allah is Ad-Dahr.) They said,
During the time of Jahiliyyah, when an affliction, a calamity or a disaster struck them, the Arabs used to say,
`Woe to Ad-Dahr (time)!'
So they used to blame such incidents on Ad-Dahr, cursing Ad-Dahr in the process. Surely, it is Allah the Exalted and Most Honored Who causes these (and all) things to happen. This is why when they cursed Ad-Dahr, it was as if they were cursing Allah Himself, since truthfully, He causes all incidents to happen. Therefore, abusing Ad-Dahr was prohibited due to this consideration, for it was Allah Whom they meant by abusing Ad-Dahr, which -- as we said-- they accused of causing (distressful) incidents.
This is the best explanation for this subject, and it is the desired meaning. Allah knows best.
We should mention that Ibn Hazm and those of the Zahiriyyah like him made an error when they used this Hadith to include Ad-Dahr among Allah's most beautiful Names.
Allah's statement
وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ ايَاتُنَا بَيِّنَاتٍ
And when Our Clear Ayat are recited to them,
means, when the truth is made plain to them and used as evidence against them, asserting that Allah is able to resurrect the bodies after they have perished and disintegrated,
مَّا كَانَ حُجَّتَهُمْ إِلاَّا أَن قَالُوا
ايْتُوا بِأبَايِنَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
their argument is no other than that they say:Bring back our fathers, if you are truthful!
`bring them back to life, if what you say is true.'
Allah the Exalted said
قُلِ اللَّهُ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ
Say (to them):
Allah gives you life and then causes you to die...
`for you are witnesses that He brings you (or new life) to existence after non--existence,'
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَتًا فَأَحْيَـكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ
How can you disbelieve in Allah? Seeing that you were dead and He gave you life. Then He will give you death, then again will bring you to life. (2:28)
Therefore, He Who is able to initiate creation, is able to restart it, as well and more obviously,
وَهُوَ الَّذِى يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ
And He it is Who originates the creation, then He will repeat it; and this is easier for Him. (30:27)
Allah said next,
ثُمَّ يَجْمَعُكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيبَ فِيهِ
then He will assemble you on the Day of Resurrection about which there is no doubt.
`when He resurrects you, it will be on and for the Day of Resurrection, not in this life. Therefore, your statement is groundless,'
ايْتُوا بِأبَايِنَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
(Bring back our (dead) fathers, if you are truthful!) Allah said,
يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ
The Day when He will gather you (all) on the Day of Gathering. (64:9),
لاأَيِّ يَوْمٍ أُجِّلَتْ
لِيَوْمِ الْفَصْلِ
For what Day are these signs postponed? For the Day of sorting out. (77:12-13),
and,
وَمَا نُوَخِّرُهُ إِلاَّ لاًّجَلٍ مَّعْدُودٍ
And We delay it only for a term (already) fixed. (11:104)
Allah said here,
ثُمَّ يَجْمَعُكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيبَ فِيهِ
(then He will assemble you on the Day of Resurrection about which there is no doubt.) there is no doubt that it will come,
وَلَكِنَّ أَكَثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
But most of mankind know not.
and this is why they deny Resurrection and discount the fact that the bodies will be brought back to life.
Allah the Exalted said,
إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيداً
وَنَرَاهُ قَرِيباً
Verily, they see it afar off. But We see it (quite) near. (70:6),
they discount the possibility that Resurrection will ever come, while the believers believe that its occurrence is easy and imminent.
Say: 'God [is the One Who] gives you life, when you are sperm-drops, then makes you die, then gathers you, alive, to the Day of Resurrection, in which there is no doubt; but most people, and these are the one who say the above-mentioned, do not know'.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.








