Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
أَمۡ
ataukah/apakah
حَسِبَ
mengira
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
ٱجۡتَرَحُواْ
mereka berbuat
ٱلسَّيِّـَٔاتِ
kejahatan
أَن
bahwa
نَّجۡعَلَهُمۡ
Kami menjadikan mereka
كَٱلَّذِينَ
seperti orang-orang yang
ءَامَنُواْ
beriman
وَعَمِلُواْ
dan berbuat
ٱلصَّـٰلِحَٰتِ
kebaikan
سَوَآءٗ
sama
مَّحۡيَاهُمۡ
kehidupan mereka
وَمَمَاتُهُمۡۚ
dan kematian mereka
سَآءَ
amat buruk
مَا
apa yang
يَحۡكُمُونَ
mereka putuskan
أَمۡ
ataukah/apakah
حَسِبَ
mengira
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
ٱجۡتَرَحُواْ
mereka berbuat
ٱلسَّيِّـَٔاتِ
kejahatan
أَن
bahwa
نَّجۡعَلَهُمۡ
Kami menjadikan mereka
كَٱلَّذِينَ
seperti orang-orang yang
ءَامَنُواْ
beriman
وَعَمِلُواْ
dan berbuat
ٱلصَّـٰلِحَٰتِ
kebaikan
سَوَآءٗ
sama
مَّحۡيَاهُمۡ
kehidupan mereka
وَمَمَاتُهُمۡۚ
dan kematian mereka
سَآءَ
amat buruk
مَا
apa yang
يَحۡكُمُونَ
mereka putuskan
Terjemahan
Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu.
Tafsir
(Apakah) lafal Am di sini maknanya sama dengan Hamzah yang menunjukkan makna ingkar (berprasangka orang-orang yang mengerjakan) orang-orang yang melakukan (kejahatan) kekafiran dan kemaksiatan (bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama) lafal ﷺaa-an ini menjadi Khabar (antara kehidupan dan kematian mereka?) menjadi Mubtada dan Ma'thuf, sedangkan Jumlah kalimat ini menjadi Badal dari huruf Kaf yang ada pada lafal Kalladziina, dan kedua Dhamirnya kembali kepada orang-orang kafir. Makna ayat, apakah mereka berprasangka bahwasanya Kami menjadikan mereka di akhirat sama dengan orang-orang mukmin, yaitu mereka hidup dalam kesejahteraan yang sama dengan kehidupan mereka sewaktu di dunia. Karena mereka telah mengatakan kepada orang-orang mukmin: "Sungguh jika kami dibangkitkan hidup kembali, niscaya kami akan diberi kebaikan seperti apa yang diberikan kepada kalian." Lalu Allah berfirman menyangkal dugaan mereka sesuai dengan pengertian ingkar yang terkandung di dalam permulaan ayat. (Amat buruklah apa yang mereka sangka itu) maksudnya, perkara yang sebenarnya tidaklah demikian, karena sesungguhnya mereka di akhirat berada di dalam azab, berbeda dengan keadaan kehidupan mereka sewaktu di dunia. Sedangkan orang-orang mukmin di akhirat, mereka mendapatkan pahala yang berlimpah disebabkan amal perbuatan mereka sewaktu di dunia, yaitu berupa amal salat, amal zakat, amal puasa dan amal-amal lainnya. Huruf Maa pada ayat ini adalah Mashdariyah, yakni, seburuk-buruknya keputusan adalah keputusan mereka itu.
Tafsir Surat Al-Jathiyah: 21-23
Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Allah ﷻ berfirman, bahwa tidak sama antara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir itu. Seperti yang diungkapkan oleh firman-Nya: Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orangyang beruntung. (Al-Hasyr: 20) Adapun firman Allah ﷻ: Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? (Al-Jatsiyah: 21) Yakni Kami samakan di antara sesama mereka dalam kehidupan di dunia dan akhirat? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. (Al-Jatsiyah: 21) Betapa buruknya dugaan mereka terhadap Kami, padahal mustahil Kami menyamakan di antara orang-orang yang bertakwa dengan orang-orang yang pendurhaka dalam kehidupan di negeri akhirat nanti dan juga dalam kehidupan di dunia ini.
Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mu'ammal ibnu Ihab, telah menceritakan kepada kami Bukair ibnu Usman At-Tanukhi, telah menceritakan kepada kami Al-Wadin ibnu Ata, dari Yazid ibnu Marsad Al-Baji, dari Abu Zar r.a. yang mengatakan bahwa Allah membangun agama-Nya di atas empat pilar. Maka barang siapa yang berpaling darinya dan tidak mengamalkannya, ia akan menghadap kepada Allah dalam keadaan sebagai orang yang fasik (durhaka). Ketika ditanyakan, "Apa saja yang keempat pilar itu, hai Abu Zar?" Abu Zar r.a. menjawab, "Hendaklah seseorang menerima apa yang dihalalkan oleh Allah karena Allah, dan menolak apa yang diharamkan oleh Allah karena Allah, dan menerima perintah Allah karena Allah, dan menjauhi larangan Allah karena Allah; tiada yang dipercayai olehnya terhadap keempat perkara itu selain dari Allah ﷻ Abul Qasim yakni Nabi ﷺ telah bersabda, 'Sebagaimana tidak dapat dipetik dari pohon yang berduri buah anggur, demikian pula halnya orang-orang durhaka, mereka tidak akan memperoleh kedudukan orang-orang yang bertakwa'." Hadis ini gharib bila ditinjau dari segi jalurnya.
Muhammad ibnu lshaq menyebutkan di dalam kitab Sirah-nya bahwa mereka telah menemukan sebuah prasasti yang ada di Mekah, tepatnya di pondasi Ka'bah. Disebutkan padanya, "Kamu berbuat keburukan dan kamu harapkan kebaikan, perihalnya sama dengan orang yang memetik buah anggur dari pohon yang berduri," yakni mustahil mendapatkannya karena pohon yang berduri tidak dapat membuahkan anggur. Imam Tabrani telah meriwayatkan melalui hadis Syu'bah, dari Amr ibnu Murrah, dari Abud Duha, dari Masruq, bahwa Tamim Ad-Dari salat di suatu malam hingga pagi hari seraya mengulang-ngulang bacaan ayat berikut yaitu firman-Nya: Apakah orang-orangyang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. (Al-Jatsiyah: 21) Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya: Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. (Al-Jatsiyah: 21) Adapun firman Allah ﷻ: Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar. (Al-Jatsiyah: 22) Yakni dengan adil.
dan agar dibatasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan. (Al-Jatsiyah: 22) Kemudian Allah ﷻ berfirman. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. (Al-Jatsiyah: 23) Yakni sesungguhnya dia hanya diperintahkan oleh hawa nafsunya. Maka apa saja yang dipandang baik oleh hawa nafsunya, dia kerjakan; dan apa saja yang dipandang buruk oleh hawa nafsunya, dia tinggalkan. Ayat ini dapat juga dijadikan sebagai dalil untuk membantah golongan Mu'tazilah yang menjadikan nilai buruk dan baik berdasarkan kriteria rasio mereka.
Menurut apa yang diriwayatkan dari Malik sehubungan dengan tafsir ayat ini, orang tersebut tidak sekali-kali menyukai sesuatu melainkan dia mengabdinya. Firman Allah ﷻ: dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya. (Al-Jatsiyah: 23) Makna ayat ini mengandung dua takwil. Pertama ialah Allah menyesatkan orang tersebut karena Allah mengetahui bahwa dia berhak untuk memperoleh kesesatan. Kedua ialah Allah menjadikannya sesat sesudah sampai kepadanya pengetahuan dan sesudah hujah ditegakkan terhadapnya.
Pendapat yang kedua mengharuskan adanya pendapat yang pertama, tetapi tidak kebalikannya. dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan pada penglihatannya? (Al-Jatsiyah: 23) karenanya dia tidak dapat mendengar apa yang bermanfaat bagi dirinya dan tidak memahami sesuatu yang dapat dijadikannya sebagai petunjuk, dan tidak dapat melihat bukti yang jelas yang dapat dijadikan sebagai penerang hatinya. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya: Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).
Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Al-Jatsiyah: 23) Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: Barang siapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. (Al-A'raf: 186)".
Allah kemudian mempertanyakan sikap orang-orang kafir Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu di dunia ini mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka di akhirat kelak sama seperti orang-orang yang ber iman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka' Tentulah tidak sama. Alangkah buruknya penilaian mereka itu. 22. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar, yakni penuh hikmah dan aturan untuk menunjukkan ke-Esaan dan kekuasaan-Nya, dan agar setiap jiwa, yakni manusia, diberi balasan sesuai dengan apa, yakni amal yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan di rugikan dalam menerima balasan amalnya itu.
Allah memerintahkan Rasul-Nya agar menanyakan kepada orang-orang kafir Mekah tentang persengketaan mereka dengan maksud menyangkal dugaan mereka. Mereka menduga bahwa Allah akan memperlakukan dan akan memberikan balasan yang sama kepada mereka seperti yang diberikan kepada orang-orang yang beriman. Apakah Allah akan mempersamakan orang yang beriman kepada-Nya tetapi tidak melaksanakan syariat-Nya dengan orang yang beriman yang melakukan syariat-Nya. Jawabannya tentu, tidak, sekali-kali tidak, sebagaimana firman Allah:
Tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. (al-hasyr/59: 20)
Dalam ayat-ayat lain, diterangkan bahwa tidaklah sama orang-orang yang beriman yang melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhkan larangan-larangan-Nya dengan orang-orang fasik, yaitu orang yang beriman dan mengakui adanya perintah-perintah dan adanya larangan Allah, tetapi tidak melaksanakannya, Allah berfirman:
Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik (kafir)? Mereka tidak sama. (as-Sajdah/32: 18)
Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa semua dugaan dan sangkaan orang-orang kafir itu adalah dugaan dan sangkaan yang tidak benar dan mustahil terjadi. Karena itu, hendaklah kaum Muslimin waspada terhadap sangkaan itu sehingga tidak terpengaruh olehnya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman."
(pangkal ayat 14)
Demikian firman Allah kepada Rasul-Nya,"Supaya mereka maafkan orang-orang yang tidak mengharapkan hari-hari Allah itu."
Lebih baik orang-orang yang telah menyatakan beriman kepada Allah dan Rasul bersikap tenang, jangan marah. Lebih baik memberi maaf saja kalau ada orang-orang musyrikin itu yang menyatakan terus terang bahwa mereka tidak percaya atau tidak mengharapkan, tidak menunggu hari-hari Allah itu, yaitu Hari Kiamat. Lebih baik orang-orang Mukmin bersabar hati.
“Karena Dia akan membalas atas suatu kaum menunut apa yang mereka usahakan jua"
(ujung ayat 14)
Ingatlah ayat ini, turun di Mekah!
Kalau kaum yang beriman mendengar perkataan-perkataan kaum musyrikin yang selalu menyatakan tidak mau percaya akan hari Kiamat itu, terus dibantah, yang akan terjadi hanya pertengkaran. Pertengkaran kalau sudah sama-sama marah, hanyalah akan membawa perkelahian yang tidak diingini. Orang-orang yang beriman tidaklah takut kalau berkelahi. Kalau mati syahid bukan? Tetapi ini belum diizinkan Allah. Kedudukan kaum musyrikin masih sangat kuat. Kaum yang beriman di bawah Rasul ﷺ mesti sanggup menahan hati. Maafkan saja; nanti Allah yang akan menyelesaikan. Diberi saja pedoman oleh Allah dengan ayat selanjutnya,
“Barangsiapa yang beriamal saleh maka adalah itu untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapayang beribuat jahat maka kecelakaan untuk dirinya jua. Kemudian itu kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan"
(ayat 15)
Dengan ayat-ayat ini, kaum yang telah beriman disuruh memperteguh pribadi ma
sing-masing dengan iman dan amal saleh dan memperkuat ukhuwah sesama Mukmin di bawah pimpinan Rasul ﷺ
Selain dari musyrikin Quraisy itu, Allah menjelaskan ada lagi penentang lain yang akan beliau hadapi, yaitu Bani Israil yang memeluk agama Yahudi itu. Lalu Allah berfirman,
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil kitab."
(pangkal ayat 16)
Kitab Taurat."Dan hukum," selepas mereka selamat keluar dari Mesir. Selain dari Hukum Sepuluh yang dipahatkan Allah pada batu itu, dituruni pula dengan hukum-hukum dan undang-undang mengatur masyarakat mereka, misalnya hukum rajam bagi yang berzina, utang nyawa bayar nyawa, mata bayar mata, gigi bayar gigi dan sebagainya. Sebab mereka semasa di Mesir dahulu hanya mematuhi hukum Fir'aun maka setelah mereka bermasyarakat sendiri, diaturlah hukumnya, dan nubuwwah.
Yaitu berturut-turut tidak putus-putus Allah membangkitkan nabi-nabi di kalangan Bani Israil itu. Sejak Yusuf sampai Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Ilyasa', Dzulkifli, Zakaria, Yahya, dan Isa (shalawat dan salam Allah atas mereka semua). Dan banyak lagi nabi-nabi yang lain."Dan telah Kami beri rezeki mereka dari yang baik-baik." Diberi kehidupan yang layak, banyak yang menjadi kaya.
“Dan telah Kami lebihkan mereka atas seluruh manusia."
(ujung ayat 16)
Mereka dilebihkan dari seluruh manusia pada waktu itu karena merekalah kaum yang dipimpin turun-temurun sejak dari nenek moyang mereka dalam ajaran tauhid, tidak putus-putus ada Nabi, sejak Nabi Yusuf sampai Nabi Isa. Itulah keutamaan dan kelebihan mereka daripada kaum-kaum yang lain. Tetapi karena kelebihan itu, timbullah rasa kesombongan bangsa pada mereka. Mereka pandang rendahlah seluruh manusia yang bukan Yahudi di dalam dunia ini.
“Dan telah Kami betikan kepada mereka keterangan-keterangan dari perkara itu."
(pangkal ayat 17)
Di dalam kitab-kitab wahyu yang mereka pegang, yaitu Taurat dan Shuhuf, yang diterima oleh nabi-nabi mereka, selalu diterangkan bahwa kelak akan datang nabi penutup, yang akan menggenapkan, mencukupkan syari'at nabi-nabi yang dahulu itu dan menutup. Hal itu telah diterangkan di dalam wahyu yang disampaikan oleh nabi-nabi mereka dan mereka percaya dan menunggu kedatangannya."Maka tidaklah mereka berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian di antara mereka." Artinya, segala yang diajarkan nabi-nabi yang dahulu itu sudah menjadi kenyataan, nabi itu sudah datang, yaitu Nabi Muhammad ﷺ, tanda-tandanya sudah bertemu, sesuai dengan yang dikatakan nabi-nabi dahulu itu dan sesuai dengan pengetahuan yang mereka terima. Tetapi mereka jadi berselisih; hanya beberapa orang saja yang mengatakan iman kepada beliau. Yang selebihnya tidak mau. Sebab timbul kedengkian di antara mereka. Mereka berpendirian karena dengki bahwa tidak ada dari kaum atau umat apa pun yang layak menjadi nabi ataupun rasul, kecuali yang berdarah Bani Israil. Maka ayat ini ditutup Allah dengan firman-Nya,
“Sesungguhnya Tuhan engkau akan memutuskan di antara mereka di hati Kiamat tentang apa-apa yang telah mereka perselisihkan padanya itu."
(ujung ayat 17)
Dan terhadap keyakinan agama, tidaklah ada paksaan. Sebab semuanya sudah jelas. Untuk menghadapi kenyataan dari pihak Bani Israil ini, kaum yang beriman teruslah hendaknya berpegang kepada perintah Allah di ayat 15 tadi, memperteguh iman, memperbanyak amalan yang saleh, dan memperteguh ukhuwah,
sehingga pribadi Mukmin itu bertambah kuat dan teguh.
“Kemudian telah Kami jadikan engkau menurut syani'at (ganis) dari penkana itu maka ikutilah dia dan jangan engkau ikuti hawa nafsu dari orang-orang yang tidak mengetahui."
(ayat 18)
Dengan ayat ini Allah memerintahkan Rasul-Nya mengukuhkan pendirian lagi. Di sini dapat dengan jelas kita tinjau bahwa inti sari ajaran segala rasul, hanya satu. Yaitu mengakui keesaan Allah. Tetapi syari'at, kita artikan garis yang dilalui dalam cara menuju Allah yang Esa itu berubah-ubah. Yang mengubah itu adalah Allah sendiri, yang cocok dengan suasana rasul yang diutus-Nya itu.
Allah memerintahkan Rasul-Nya mengikuti terus sepanjang yang disyari'atkan kepadanya dan jangan dipedulikan hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Pimpinan sekali-kali tidak boleh lepas dari tangan, walau sesaat. Sebab yang beliau jalankan ini adalah wahyu dan yang menentangnya ialah hawa nafsu dari orang-orang yang tidak berpengetahuan.
Jika Allah memerintah Nabi-Nya supaya bersikap teguh demikian terhadap orang-orang yang berpedoman kepada hawa nafsunya karena tidak ada pengetahuan itu, sikap Allah kepada Nabi-Nya juga tegas. Sedikit saja pun dia kendur karena tenggang-menenggang dengan hawa nafsu mereka, Rasul itu pun akan kena bahaya. Ini dijelaskan pada ayat berikutnya.
“Sesungguhnya mereka tidak akan dapat melepaskan engkau dari Allah sedikit jua pun."
(pangkal ayat 19) Yaitu orang-orang yang pertimbangan mereka hanya sekadar menurutkan hawa nafsu itu, kalau dituruti oleh Nabi, mereka pun tidak akan dapat melepaskan Nabi dari kemurkaan Allah. Sebab bukan kehendak mereka yang mesti dipertimbangkan tetapi wahyu llahi-lah yang mesti dijalankan."Dan orang-orang yang aniaya itu, yang sebagian adalah pelindung dari yang sebagian." Dalam kedurhakaan dan keingkaran, mereka bantu-membantu.
“Dan Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang bertakwa."
(ujung ayat 19)
Sebab itu, orang-orang yang bertakwa janganlah khawatir, sebab pelindungnya ialah Allah sendiri. Pada ayat ini kita insafi betapa beratnya tanggung jawab seorang rasul Allah. Mereka lebih keras bertanggung jawab di hadapan Alah. Keteledoran sedikit saja pun mendapat teguran. Ingat Nabi Sulaiman yang terlalai sedikit ketika menonton kuda-kudanya yang indah (surah Shaad). Demikian juga terkejut sedikit saja Nabi Dawud ketika musuh-musuhnya naik dari dinding mahrab (surah Shaad). Demikian juga Yunus yang terpaksa me-ringkuk di perut ikan (surah ash-Shaffaat) dan demikian juga Nabi Zakariya yang ketika gergaji sampai di kepalanya ketika dia akan dibunuh, dia mengeluh,"Aduh!" karena merasa sakit, jibril datang memberi ingat,"Jangan merintih karena engkau adalah Nabi, jika merintih sekali lagi, namamu dicoret sebagai Nabi." Ibrahim a.s. diuji dengan disuruh menyembelih anak. Isma'il a.s. diuji dengan kesediaan disembelih (surah ash-Shaaffaat). Kepada Nuh a.s. dikatakan bahwa anak kandungnya bukan ahlinya karena anaknya tidak saleh. Musa a.s. pingsan dan meminta ampun karena berani meminta hendak melihat Allah (surah al-A'raaf). Isa al-Masih a.s. diminta pertanggungjawabannya mengapa orang menuhankannya (surah al-Maa'idah: 116).
Kemudian dijelaskan tentang Al-Qur'an yang di permulaan surah telah diterangkan bahwa dia diturunkan langsung dari Yang Maha-gagah dan Mahabijaksana.
“Ini adalah undang-undang bagi manusia dan petunjuk senta rahmat untuk kaum yang yakin"
(ayat 20)
Undang-undang untuk kehidupan menganjurkan hidup yang bahagia, melarang menempuh bahaya. Sehingga orang yang memegang teguh undang-undang ini, terjamin tidak akan melanggar undang-undang negara, yang melarang kejahatan, sebab tempat takutnya ialah Allah. Undang-undang kita ambil arti Bashaa'ir, yang berarti menjauhi berbuat jahat karena pandangan batin yang insaf.
Dan dia pun petunjuk, bimbingan dan pimpinan untuk mencapai kemuliaan budi. Sebab itu dia pun menjadi rahmat yang kekal abadi. Tetapi semuanya itu hanya dapat dirasakan oleh orang yang yakin. Adapun yang tidak yakin walaupun berulang-ulang dibaca dan dikhatamkannya Al-Qur'an tiap hari, tidaklah dia akan mengecap rahmat Al-Qur'an itu. Sebab itu maka kelanjutan ayat berbunyi,
“Ataukah owng-orang yang beribuat kejahatan menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka sama sebagai orang-orang yang beriiman dan beriamal yang saleh? Sama semasa hidup mereka dan mati mereka? Buruklah apa yang mereka tetapkan itu."
(ayat 21)
Pertanyaan cara demikian namanya ialah"Pertanyaan berisi bantahan" (istiftiam inkari), artinya tidaklah sama, baik di kala hidup apatah lagi sesudah mati, di antara orang-orang yang berbuat jahat dengan orang yang beriman, dan beramal saleh.
Jika orang yang berbuat jahat itu gelap, hidupnya tiada pegangan. Jiwanya miskin meskipun hartanya banyak. Hatinya risau selalu karena tekanan dosa, meskipun wajahnya di-paksa-paksanya buat tersenyum. Di akhirat nanti, siksaanlah yang akan dirasainya. Orang yang beriman dan beramal saleh, ruhnya diliputi terang; Nur. Bertambah tinggi imannya bertambah memancar sinar atau Nur itu. Ketinggian imannya dibuktikan oleh banyak amal kebaikannya. Kalimat Laa Ilaha lliallah, itulah yang menghidupkan sinar itu. Dan itulah dinamonya. Maka ada sinar orang yang masih lilin, ada yang laksana lampu listrik 15 watt, 25, 100 sampai 1.000 watt, sampai tidak ada batas. Sinar yang pada nabi-nabi adalah laksana matahari. Sinar itu tak cerai lagi sampai hari akhirat. Sedang orang-orang yang jahat gelap semata-mata.
Dan untuk meyakinkan perbedaan itu, perhatikanlah kembali kejadian langit dan bumi. Hubungan di antara keduanya rapat sekali.
“Dan telah menjadikan Allah akan semua langit dan bumi dengan kebenaran."
(pangkal ayat 22)
Cobalah perhatikan kejadian langit dan bumi itu dengan saksama niscaya engkau akan kagum dengan kebenaran dan keadilannya. Adakah engkau lihat yang kacau? Yang tidak teratur? Adakah yang janggal? Yang tiada pada tempatnya? Semua dengan perimbangan dan pertimbangan. Sehingga bertambah tinggi jiwa manusia, bertambah terpujilah dia kalau dia dapat mencontoh meneladan cara Allah menjadikan dan mengatur langit dan bumi itu. Kalau hal ini sudah engkau pikirkan dengan mendalam engkau akan sampai kepada kesimpulan bahwa dalam perkara manusia berbuat baik dan berbuat jahat itu pun pasti berlaku kebenaran dan keadilan Allah. Itu sebabnya maka ujung ayat berbunyi,"Dan untuk dibalasi tiap-tiap diri menurut apa yang telah diusahakannya." Dan ditegaskan lagi pada akhirnya,
“Dan mereka tidaklah dianiaya"
(ujung ayat 22)
Tak usah khawatir Allah akan menganiaya. Cuma manusia juga yang kerap menganiaya karena perberituran di antara kepentingan dan kekuasaan di antara yang merasa kuat dengan yang lemah. Sedang kekuatan Allah mutlak, sedang makhluk-Nya sama lemahnya semua di hadapan-Nya. Allah tidak berkepentingan dengan menganiaya. Bagi-Nya hanya kebenaran. Dan kebenaran itu ialah keadilan.
The Life and the Death of the Believers and the Disbelievers are not Equal
Allah the Exalted states here that the believers and the disbelievers are never equal. Allah said in another Ayah,
لَا يَسْتَوِى أَصْحَـبُ النَّارِ وَأَصْحَـبُ الْجَنَّةِ أَصْحَـبُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَأيِزُونَ
Not equal are the dwellers of the Fire and the dwellers of the Paradise. It is the dwellers of Paradise that will be successful. (59:20)
Allah said here,
أًمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّيَاتِ
Or do those who earn evil deeds think,
those who commit and practice evil,
أّن نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ امَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
سَوَاء مَّحْيَاهُم وَمَمَاتُهُمْ
that We shall hold them equal with those who believe and do righteous good deeds, in their life and their death,
i.e. treat them equally in the present life of the world and in the Hereafter
سَاء مَا يَحْكُمُونَ
Worst is the judgement that they make.
`worst is the thought that they have about Us and about Our justice, thinking that We will ever make the pious and the wicked equal in the Hereafter or this life.'
At-Tabarani recorded that Shubah said that Amr bin Murrah narrated that Abu Ad-Duha said that Masruq said that;
Tamim Ad-Dari once stood in voluntary prayer through the night until the morning only reciting this Ayah,
أًمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّيَاتِ
أّن نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ امَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
Or do those who earn evil deeds think that We shall hold them equal with those who believe and do righteous good deeds...
Allah said in reply:
سَاء مَا يَحْكُمُونَ
(Worst is the judgement that they make.)
Allah said
وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضَ بِالْحَقِّ
And Allah has created the heavens and the earth with truth,
meaning, in justice,
وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ
وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
in order that each person may be recompensed what he has earned, and they will not be wronged.
Allah the Exalted said
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ
Have you seen him who takes his own lust as his god,
who abides by his lust, and whatever his lust portrays as good he implements it, and whatever his lust portrays as evil, he abandons it!
Allah's statement,
وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ
And Allah left him astray with knowledge,
has two meanings.
- One of them is that Allah knew that this person deserves to be misguided, so He left him astray.
- The second meaning is that Allah led this person astray after knowledge reached him and the proof was established before him.
The second meaning includes the first meaning, but not the opposite.
Allah said,
وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ
غِشَاوَةً
and sealed his hearing and his heart, and put a cover on his sight.
so he does not hear what benefits him, understands not what would lead him to the guidance and sees not the evidence with which he can be enlightened.
This is why Allah said,
فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَ تَذَكَّرُونَ
Who then will guide him after Allah? Will you not then remember?
Allah said in a similar Ayah,
مَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَ هَادِيَ لَهُ وَيَذَرُهُمْ فِى طُغْيَـنِهِمْ يَعْمَهُونَ
Whomsoever Allah sends astray, none can guide him; and He lets them wander blindly in their transgressions. (7:186)
The Conviction of the Disbelievers, Their Argument and the Refutation of it
Allah mentions here the creed of Ad-Dahriyyah and the Arab idolators who embraced their creed, denying Resurrection,
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلاَّ حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا
And they say:There is nothing but our life of this world, we die and we live....
They say that there is only this life, some people die while others are born to life, without Resurrection or Judgement.
This was the creed of Arab idolators who used to deny Resurrection, in addition to, the creed of the atheist philosophers among them who denied the creation and Resurrection.
This was also the statement of atheist philosophers who deny the Creator and think that the world will return to its original form once every thirty--six thousand years, when everything will restart its life--cycle again! They claim that this cycle was repeated for infinity, thus contradicting the sound reason and the divine revelation.
They said,
وَمَا يُهْلِكُنَا إِلاَّ الدَّهْرُ
and nothing destroys us except Ad-Dahr (time).
Allah the Exalted said in reply,
وَمَا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلاَّ يَظُنُّونَ
And they have no knowledge of it, they only presume.
they speculate and guess!
As for the Hadith recorded by the two collectors of the Sahih, and Abu Dawud and An-Nasa'i, from Abu Hurayrah that the Messenger of Allah said,
يَقُولُ تَعَالَى
يُوْذِينِي ابْنُ ادَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ بِيَدِيَ الاَْمْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَه
Allah the Exalted says,
The Son of `Adam annoys Me when he curses Ad-Dahr (time), while I am Ad-Dahr. In My Hand are all matters; I cause the alternation of his days and nights.
In another narration;
لَاا تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى هُوَ الدَّهْر
Do not curse Ad-Dahr (time), for Allah is Ad-Dahr.
Ash-Shafi`i, Abu Ubaydah and several other Imams of Tafsir explained the meaning of the Prophet's statement,
لَاا تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى هُوَ الدَّهْر
(Do not abuse Ad-Dahr (time), for Allah is Ad-Dahr.) They said,
During the time of Jahiliyyah, when an affliction, a calamity or a disaster struck them, the Arabs used to say,
`Woe to Ad-Dahr (time)!'
So they used to blame such incidents on Ad-Dahr, cursing Ad-Dahr in the process. Surely, it is Allah the Exalted and Most Honored Who causes these (and all) things to happen. This is why when they cursed Ad-Dahr, it was as if they were cursing Allah Himself, since truthfully, He causes all incidents to happen. Therefore, abusing Ad-Dahr was prohibited due to this consideration, for it was Allah Whom they meant by abusing Ad-Dahr, which -- as we said-- they accused of causing (distressful) incidents.
This is the best explanation for this subject, and it is the desired meaning. Allah knows best.
We should mention that Ibn Hazm and those of the Zahiriyyah like him made an error when they used this Hadith to include Ad-Dahr among Allah's most beautiful Names.
Allah's statement
وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ ايَاتُنَا بَيِّنَاتٍ
And when Our Clear Ayat are recited to them,
means, when the truth is made plain to them and used as evidence against them, asserting that Allah is able to resurrect the bodies after they have perished and disintegrated,
مَّا كَانَ حُجَّتَهُمْ إِلاَّا أَن قَالُوا
ايْتُوا بِأبَايِنَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
their argument is no other than that they say:Bring back our fathers, if you are truthful!
`bring them back to life, if what you say is true.'
Allah the Exalted said
قُلِ اللَّهُ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ
Say (to them):
Allah gives you life and then causes you to die...
`for you are witnesses that He brings you (or new life) to existence after non--existence,'
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَتًا فَأَحْيَـكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ
How can you disbelieve in Allah? Seeing that you were dead and He gave you life. Then He will give you death, then again will bring you to life. (2:28)
Therefore, He Who is able to initiate creation, is able to restart it, as well and more obviously,
وَهُوَ الَّذِى يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ
And He it is Who originates the creation, then He will repeat it; and this is easier for Him. (30:27)
Allah said next,
ثُمَّ يَجْمَعُكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيبَ فِيهِ
then He will assemble you on the Day of Resurrection about which there is no doubt.
`when He resurrects you, it will be on and for the Day of Resurrection, not in this life. Therefore, your statement is groundless,'
ايْتُوا بِأبَايِنَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
(Bring back our (dead) fathers, if you are truthful!) Allah said,
يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ
The Day when He will gather you (all) on the Day of Gathering. (64:9),
لاأَيِّ يَوْمٍ أُجِّلَتْ
لِيَوْمِ الْفَصْلِ
For what Day are these signs postponed? For the Day of sorting out. (77:12-13),
and,
وَمَا نُوَخِّرُهُ إِلاَّ لاًّجَلٍ مَّعْدُودٍ
And We delay it only for a term (already) fixed. (11:104)
Allah said here,
ثُمَّ يَجْمَعُكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيبَ فِيهِ
(then He will assemble you on the Day of Resurrection about which there is no doubt.) there is no doubt that it will come,
وَلَكِنَّ أَكَثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
But most of mankind know not.
and this is why they deny Resurrection and discount the fact that the bodies will be brought back to life.
Allah the Exalted said,
إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيداً
وَنَرَاهُ قَرِيباً
Verily, they see it afar off. But We see it (quite) near. (70:6),
they discount the possibility that Resurrection will ever come, while the believers believe that its occurrence is easy and imminent.
Or (am has the significance of the [rhetorical] hamza of denial) do those who have perpetrated evil acts, [such as] disbelief and disobedience, suppose that We shall treat them as those who believe and perform righteous deeds, equally (ﷺaa'an is the predicate) in their life and in their death? (mahyaahum wamamaatuhum, [this clause] constitutes the subject and a supplement; the sentence [itself] is a substitution for the kaaf [of ka'lladheena, 'as those'], and both [suffixed] pronouns [-hum] refer to the disbelievers). The meaning is: do they suppose that in the Hereafter We will assign them [a] good [fate] like believers, [that they will enjoy] a life of plenty, one equal to their life in this world, as when they said to the believers: 'Surely if we were to be resurrected, we will be given the same good things that you will be given!' God, exalted be He, says, in accordance with His denial [implicit] in the [rhetorical interrogative] hamza: How evil is that judgement which they make! In other words, it will not be so, for in the Hereafter they will be [suffering] in the chastisement, in contrast to their lives in this world; the believers, on the other hand, will be [delighting] in the Reward in the Hereafter because of their righteous deeds in this world, such as [their observance of] prayers, [their] alms-giving, fasting and otherwise (the maa, 'that . which', relates to the verbal action, that is to say, ba'isa hukman hukmuhum haadhaa, 'awful as a judgement is this judgement of theirs').
Commentary
The Hereafter: Divine Requital is Rationally Necessary
Of the two verses mentioned, the first one argues rationally that Divine reward and punishment are necessary. Every person is a witness to the fact that no one receives his full measure of reward or punishment for the good or bad deeds he does in this world. Generally, the unbelievers and evil-doers wallow in wealth and lead a life of luxury. The obedient servants of Allah, on the other hand, live in poverty, hardship and misery. In the first place, the crimes of the wicked criminals are often not detected. Even if they are detected, more often than not, they are not apprehended. If they are apprehended, they swear oaths - lawfully or unlawfully, truthfully or falsely - and try to find loopholes to escape punishment. In this way, one in a million might be punished and that too not fully. As a result, the rebels, who follow their selfish and base desires, move about in high spirits and without any hindrance, enjoying full powers in this world. The believers, on the other hand, who follow the Shari'ah strictly, do not touch many kinds of wealth and give up many pleasures because they treat them as unlawful. They only adopt the lawful ways of gaining anything in order to avoid calamities and afflictions. Thus they are deprived of many a comfort and pleasure in this world. Since this is the state of affairs where people are not rewarded or punished in this world in commensurate with their actions, it follows necessarily that there must be another world - the Hereafter and life after death - where people will be recompensed fully for their deeds. Otherwise, it would be absurd to refer to stealing, robbery, adultery, fornication, murder and so on as crimes, in this world. These people often lead a very successful life in this world. A thief or a robber acquires so much of wealth in a night that a university graduate might not be able to acquire it in years of employment and hard work. If there is no such world as the Hereafter and accountability, then the thief or the robber would be thought to be better than the respectable university graduate. No reasonable person would ever accept this position. If it be pointed out that every government in the world has legislated severe punishments for criminals, then we would respond that experience shows that only the foolish criminals get caught. The clever habitual criminals always find loopholes, and ways and means of escaping punishment. For instance, the escape-door of bribery is always open for them and that is sufficient for them.
In short, the need for the Day of Requital may be denied only when it is conceded that there is no such thing as good and bad; or that whatever one acquires, by fair means or foul, it is absolutely rewardable. But no one accepts this position. Similarly it is absurd to believe that there is distinction between good and evil, but the consequences are equal, rather the criminal should have a more comfortable life than the righteous and innocent ones. There could be no greater degree of wrong than this. It is to this absurd judgment that the Qur'an refers in سَوَاءً مَّحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ...so as their life and death becomes equal? Evil is what they judge... 45:21) ". It is a very unreasonable and unjustifiable position that evil-doers should be placed on the same pedestal as the righteous persons. Since the reward and punishment in this world are not given in full measure, then it necessarily follows that there should be life after death in the Hereafter where reward and punishment will be paid in full measure. Thus the second verse in the set complements the same subject –وَلِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ ...and so that everybody is recompensed for what he (or she) earned. And they will not be wronged. - 45:22). In other words, the Day of Requital is necessary in order to wipe out wrong and injustice. As for the question, why the people are not requited or recompensed for the good or bad deeds in this world, we would respond that this is not in keeping with the Divine wisdom of creation: He made this world the ` domain of deeds and test-n-trial', not the ` domain of requital'. Allah knows best!








