ٱلشُّورَىٰ ١٧
- ٱللَّهُ Allah
- ٱلَّذِيٓ yang
- أَنزَلَ menurunkan
- ٱلۡكِتَٰبَ kitab
- بِٱلۡحَقِّ dengan kebenaran
- وَٱلۡمِيزَانَۗ dan neraca
- وَمَا dan tidaklah
- يُدۡرِيكَ kamu mengetahui
- لَعَلَّ barangkali
- ٱلسَّاعَةَ kiamat
- قَرِيبٞ dekat
Allah yang menurunkan kitab (Al-Qur`an) dengan (membawa) kebenaran dan neraca (keadilan). Dan tahukah kamu, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat?
(Allahlah yang menurunkan Kitab) Al-Qur'an (dengan membawa kebenaran) lafal Bil Haqqi berta'alluq kepada lafal Anzala (dan neraca), keadilan. (Dan tahukah kamu) apakah kamu tahu (boleh jadi kiamat itu) yakni kedatangannya (sudah dekat?) lafal La'alla amalnya di-ta'alluq-kan kepada Fi'il dan lafal-lafal sesudahnya berkedudukan sebagai dua Maf'ul.
Tafsir Surat Asy-Syura: 16-18
[[Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima, maka bantahan mereka itu sia-sia saja di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka azab yang keras. Allah-lah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat? orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan yakin bahwa kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesaatan yang jauh.]] (Asy-Syura: 16-18)
Allah subhanahu wa ta’ala mengancam orang-orang yang menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah. Untuk itu Dia berfirman: [[Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima.]] (Asy-Syura: 16) Yakni mereka membantah orang-orang mukmin yang memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya, dengan tujuan untuk menghalang-halangi mereka dari jalan hidayah yang ditempuhnya.
[[Maka bantahan mereka itu sia-sia saja di sisi Tuhan mereka.]] (Asy-Syura: 16) Yaitu batil di sisi Allah.
[[… mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka azab yang keras.]] (Asy-Syura: 16) Yakni kelak di hari kiamat. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan Mujahid mengatakan bahwa mereka mendebat kaum mukmin sesudah kaum mukmin memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya, untuk menghalang-halangi mereka dari jalan petunjuk dan menginginkan agar orang-orang mukmin itu kembali ke jalan Jahiliah sama dengan mereka.
Qatadah mengatakan, yang dimaksud dengan mereka adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Mereka mengatakan kepada orang-orang mukmin, "Agama kami lebih baik daripada agamamu, dan nabi kami ada sebelum nabi kamu. Maka kami lebih baik daripada kamu dan lebih diutamakan oleh Allah daripada kamu." Padahal mereka dusta dalam pengakuannya itu.
Dalam firman berikutnya disebutkan: [[Allah-lah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran.]] (Asy-Syura: 17) Yaitu kitab-kitab yang diturunkan dari sisi-Nya kepada nabi-nabi-Nya.
[[… dan (menurunkan) neraca (keadilan).]] (Asy-Syura: 17) Menurut Mujahid dan Qatadah, makna yang dimaksud ialah keadilan dan sikap pertengahan.
Ayat ini semakna dengan firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (Al-Hadid: 25) Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (Ar-Rahman: 7-9)
Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala: [[Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat?]] (Asy-Syura: 17) Di dalam ayat ini terkandung anjuran yang memacu untuk beramal guna menyambut kedatangannya, sekaligus mengandung peringatan yang mendorong agar takut terhadapnya dan berzuhud terhadap duniawi.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: [[Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan.]] (Asy-Syura: 18) Mereka mengatakan, "Bilakah janji hari kiamat itu? Jika kamu memang orang-orang yang benar." (Saba: 29) Dan sesungguhnya mereka mengatakan seperti ini hanyalah semata-mata karena mendustakannya, menganggap mustahil kejadiannya, kafir, dan ingkar terhadapnya.
[[Dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya.]] (Asy-Syura: 18) Yakni khawatir dan takut terhadap kejadiannya.
[[… dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar.]] (Asy-Syura: 18) akan terjadi dan pasti, karenanya mereka bersiap-siap untuk menyambut nya dengan melakukan amal saleh sebagai bekalnya.
Telah diriwayatkan pula melalui berbagai jalur yang cukup banyak hingga mencapai derajat mutawatir di dalam hadis-hadis shahih dan hasan, dalam sunan dan musnad, yang menurut salah satu teksnya menyebutkan bahwa pernah ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah ﷺ dengan suara yang keras di saat beliau berada di dalam suatu perjalanannya. Lelaki itu menyeru Nabi ﷺ seraya berkata, "Hai Muhammad." Maka Rasulullah ﷺ menjawab dengan suara yang sama, "Ya!" Lelaki itu bertanya, "Kapankah hari kiamat itu?"
Rasulullah ﷺ balik bertanya, "Duhai kamu, sesungguhnya hari kiamat itu pasti terjadi, lalu apakah yang telah engkau persiapkan untuk menyambutnya?" Maka lelaki itu menjawab, "Kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Engkau (akan dihimpunkan bersama dengan) orang yang engkau cintai.”
Juga sabda Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis: “Seseorang itu (akan dihimpunkan bersama dengan) orang yang disukainya.” Hadis ini mutawatir tanpa diragukan lagi.
Dalam hadis ini Rasulullah ﷺ tidak menjawabnya dengan jawaban tentang waktunya, melainkan memerintahkan kepada lelaki itu agar membuat persiapan untuk menyambut kedatangan hari kiamat itu.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: [[Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah pentang terjadinya kiamat itu …]] (Asy-Syura: 18) Mereka membantah tentang keberadaannya dan menganggap mustahil akan kejadiannya.
[[… benar-benar dalam kesesatan yang jauh.]] (Asy-Syura: 18) Yakni berada di dalam kebodohan yang nyata, karena sesungguhnya Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi mampu menghidupkan kembali orang-orang mati dan itu lebih mudah bagi-Nya. Sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya: Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikannya (menghidupkannya) kembali, dan menghidupkan kembali itu lebih mudah bagi-Nya. (Ar-Rum: 27)".
Bantahan-bantahan yang dilakukan orang-orang kafir, seperti yang digambarkan di dalam ayat sebelumnya, didasarkan pada pemikiran mereka. Ayat ini menjelaskan bahwa ajaran Ilahi didasarkan pada kitab suci yang hak. Allah menegaskan bahwa Allah yang telah menurunkan Kitab suci Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad, dan kitab-kitab suci yang lain kepada para rasul sebelum beliau dengan membawa kebenaran yang bersumber dari Yang Mahabenar dan kitab suci itu juga menjadi neraca keadilan untuk menetapkan hukum di antara manusia. Dan tahukah kamu, wahai manusia, tentang waktu kedatangan hari Kiamat, dan bersiap-siaplah untuk menghadapinya karena boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat waktu kedatangannya'18. Orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari Kiamat meminta de-ngan mengolok-olok agar hari itu segera terjadi jika memang betul ada dan akan datang, sedangkan orang-orang yang beriman kepada keniscayaan adanya hari akhir itu merasa takut kepadanya karena aneka ragam siksanya dan mereka yakin bahwa Kiamat itu adalah akan terjadi dan kedatangannya merupakan satu hal yang pasti. Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya Kiamat itu dan meragukan kedatangannya benar-benar telah tersesat jauh dari kebenaran.
Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia telah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada nabi-nabi-Nya, yang memuat kebenaran yang tak diragukan, jauh dari kebatilan dan semuanya mengandung kebaikan. Dia memberikan perintah untuk berbuat adil untuk menjadi acuan menentukan hukuman dalam mengadili orang-orang yang dituduh bersalah dan menghukum mereka dengan hukuman yang telah ditetapkan di dalam Kitab-Nya. Firman Allah:
Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. (al-hadid/57: 25)
Penutup ayat ini mendorong kita berbuat baik dan adil untuk kebahagiaan ukhrawi dan menjauhi godaan duniawi. Karena tidak diketahui kapan dunia ini kiamat, maka tentunya kita harus patuh dan taat mengikuti petunjuk Al- Qur'an, selalu berbuat adil di antara sesama manusia, mengamalkan apa-apa yang diperintahkan, selalu waspada terhadap kemungkinan panggilan Allah yang datang dengan tiba-tiba, lalu tidak ada lagi kesempatan untuk berbuat baik, merugilah dia, dan di hari Kiamat nanti dia akan menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk beramal baik. Sabda Nabi ﷺ:
Rasulullah ﷺ bersabda,"Tidak seorang pun yang meninggal dunia melainkan ia menyesal."Para sahabat bertanya, Apakah penyesalan mereka wahai Rasulullah?" Nabi menjawab,"Jika ia seorang yang berbuat baik maka ia menyesal karena kebaikannya tidak bertambah lagi. Jika ia seorang yang tidak baik maka ia menyesal karena tidak sempat melepaskan dirinya dari kejahatan itu. (Riwayat at-Tirmidhi).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
KESATUAN AGAMA
“Dia telah gariskan bagi kamu perihal agama, sebagai apa yang telah diwajibkan-Nya kepada Nuh."
(pangkal ayat 13)
Nabi Muhammad adalah Nabi penutup, sedang Nabi Nuh adalah Rasul yang mula-mula menerima syari'at. Jarak antara Nuh dan Muhammad kira-kira 8.000 tahun. Namun inti sari yang digariskan kepada Muhammad adalah yang diwajibkan kepada Nuh itu juga."Danyang Kami telah wajibkan kepada engkau dan apa yang telah Kami wajibkan dia kepada Ibrahim dan Musa dan Isa." Di sini bertambah jelas bahwa Musa, Isa, dan Muhammad pun hanya diberi satu macam tugas kewajiban meskipun masanya berbeda.
Apakah tugas yang sama atau satu itu? “(Yaitu): bahwa kamu tegakkan agama dan jangan kamu bercerai-beraipadanya." Agama itu hanya satu, yaitu mengakui keesaan Allah dan sesudah diakui keesaan-Nya itu lalu beribadah kepada-Nya, berbakti, taat! Untuk mengajarkan inilah sekalian rasul-rasul itu diutus. Di dalam ayat ini disebut lima rasul yang inti, yang disebut “Ulul azmi min ar-rusuli" (rasul-rasul yang mempunyai tugas istimewa). Yaitu: Nuh, Ibrahim, Musa, Isa al-Masih, dan Muhammad (shalawat dan salam Allah buat mereka semua).
Lantaran dimaksud dengan ad-din, yang kita artikan agama itu hanya satu, yaitu kebaktian kepada Allah. Dengan sendirinya maka hakikat agama di dalam dunia hanya satu. Itulah yang diperingatkan Allah bahwa kamu tegakkan agama dan jangan bercerai-berai padanya.
“Amat berat atas orang musyrikin apa yang engkau ajak mereka kepadanya" Mengapa mereka merasa amat berat? Sebab ini adalah menanam suatu cita-cita besar, yang di zaman modern disebut ideologi. Menanam kesatuan tujuan yaitu Allah dan menanam kesatuan kepercayaan dan pegangan yang amat jauh tujuan, tahan buat berabad-abad, dan kalau pendirian itu dipegang, bukan saja berhala yang mesti runtuh, bahkan kesukuan-kesukuan, mementingkan kabilah, harus dikesampingkan. Yang ada hanya ukhuwah dalam agama, ini adalah soal tauhid, menanam keyakinan satu Tuhan.
Satu agama, satu keyakinan hidup. Padahal mereka musyrik; banyak Tuhan dan banyak kabilah, banyak keyakinan, sebanyak kepala penganutnya, inilah yang membuat mereka keberatan. Tetapi Allah telah memberikan harapan.
“Allah, Dia memilih buat itu siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan diberi-Nya petunjuk siapa yang kembali kepada-Nya “
(ujung ayat 13)
Allah sendiri yang akan memilih, siapa yang bersedia buat agama itu. Lantaran itu maka Islam tidak membeda nabi. Semua nabi, adalah nabi-Nya. Tidak membeda kitab, semua kitab-kitab-Nya. Yahudi dan Nasrani dalam pandangan Islam adalah hanya perbedaan cara melakukan beberapa peraturan, tetapi tidak tentang pokok. Sebab itu mereka dihormati, disebut Ahlu! Kitab, orang yang keturunan kitab. Tidak sekali-kali disamakan anggapan kepada mereka dengan kepada musyrik. Nabi-nabi yang terdahulu itu pun mengatakan bahwa sepeninggal mereka akan datang seorang Nabi besar, yang syari'atnya akan menyempurnakan pekerjaan mereka. Sebab itu maka orang Yahudi menunggu kedatangannya dan Nasrani pun demikian pula. Di dalam kitab-kitab orang Yahudi disebut Messias. Di dalam kitab Injiinya orang Nasrani disebut Paraclet. Orang Yahudi yang berdiam di Yatsrib (Madinah), bila mereka bercakap-cakap dengan orang Arab penduduk negeri itu selalu mereka mengatakan juga bahwa Nabi itu akan datang, sehingga perkataan orang Yahudi itulah salah satu pendorong yang menyebabkan Kabilah Aus dan Khazraj mau percaya atas seruan Nabi Muhammad ﷺ,. Inilah rupanya Nabi yang selalu dikatakan orang Yahudi itu.
Tetapi bagaimana kenyataannya setelah Nabi Muhammad ﷺ datang?
“Dan tidaklah mereka bercerai-berai melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan; lantaran kedengkian di antara mereka."
(pangkal ayat 14)
Apakah pengetahuan itu? Yaitu Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur'an, itulah pengetahuan itu. Sudah jelas sekarang bahwa Nabi yang ditunggu-tunggu kedatangannya itu bukan dari Bani Israil, tetapi dari Bani Isma'il. Al-Qur'an bukan lagi bahasa Ibrani, tetapi bahasa Arab. Orang Arab yang selama ini diejek dan diolok karena tidak bernabi, sekarang akan naik. Maka timbullah dengki. Lalu mereka sesama mereka jadi pecah. Hanya beberapa orang saja yang sudi mengakui kenabian Muhammad, yang lain mendustakan.
“Dan kalau bukanlah kalimat yang telah terdahulu dari Tuhan engkau, sampai suatu waktu yang telah ditentukan, niscaya telah dihukum di antara mereka. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwarisi kitab sesudah mereka itu adalah di dalam keragu-raguan daripadanya, lagi bimbang."
(ujung ayat 14)
Kalimat yang telah tersurat terlebih dahulu di dalam al-Lauh al-Mahfuzh, rupanya telah menentukan bahwa perjuangan menegakkan kalimat tauhid yang sejati itu tidak akan berhenti dengan kemenangan Nabi ﷺ saja. Akan panjang lagi ujungnya di belakang, untuk berabad-abad. Sedang hukuman bagi yang kufur akan diberikan kelak di suatu waktu yang telah ditentukan, yaitu di akhirat. Adapun di dunia ini, kemenangan cita akan ditentukan oleh perjuangan yang tidak boleh berhenti. Karena orang yang keturunan kitab sesudah mereka akan masih tetap raga-ragu dan bimbang. Sebab itu maka revolusi jiwa untuk mencapai tauhid tidak akan selesai sampai hari Kiamat. Kemudian Allah memesankan kepada rasul-Nya,
“Karena demikian maka ajaklah dan bendirilah teguh sebagaimana yang diperintahkan kepadamu dan jangan engkau ikuti hawa nafsu mereka."
(pangkal ayat 15)
Dengan ayat ini Rasulullah ﷺ sudah diberi dua perintah yang pokok. Pertama, dakwah teruskan, ajakan dan seruan tidak boleh berhenti. Kedua, pendirian teguhkan. Tegak lurus dengan keyakinan kepada Allah; istiqamah. Karena suatu dakwah tidak akan jaya, kalau yang berdakwah tidak mempunyai istiqamah dan sebagai lanjutannya jangan diikuti, jangan dipedulikan hawa nafsu mereka yang hendak membawa kepada pertengkaran yang sangat menghabiskan tenaga dan hen-daklah dijelaskan pendirian. Pendirian yang tidak digoyahkan oleh gelora hawa nafsu lawan. Pendirian itu ialah
“Dan katakanlah, ‘Aku percaya kepada apa yang ditrnunkan Allah dari al-Kitab dan aku diperintah supaya berlaku adil di antara kamu. Allah adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu Bagi kami amalan-amalan kami dan bagi kamu amalan-amalan kamu Tidak ada pertengkaran di antara kami dengan kamu. Allah akan mengumpulkan di antara kita dan kepada-Nyalah tempat kembali."
(ujung ayat 15)
Demikianlah sikap yang diperintahkan Allah kepada Rasui-Nya ﷺ ketika di Mekah. Sebab orang-orang Yahudi dari Yatsrib atau Nasrani dari Najran, banyak juga berulang ke sana. Nabi Muhammad ﷺ menutup segala pertengkaran yang mungkin timbul, sebab bila dibanding dengan musyrik-musyrik penyembah berhala yang masih berurat berakar di tanah Arab di Mekah khususnya, maka tidaklah layak ditimbulkan pertikaian Islam dengan Ahlul Kitab. Sebab pokok agama itu hanya satu pada hakikatnya. Beramallah kamu menurut keyakinanmu, kami pun beramal menurut keyakinan kami. Tidak usah ada pertengkaran di antara kita dan saya akan tetap memperlakukan kamu dengan adil. Tentang perbedaan paham di antara kita, nanti di hadapan Allah kita minta penyelesaian-Nya. Sebab kita semua akan kembali kepada-Nya dan berkumpul di hadapan-Nya.
“Dan orang-orang yang membantah kepada Allah sesudah diperkenankan baginya, bantahan mereka tidak ada gunanya di sisi Tuhan mereka. Dan ke atas mereka kemurkaan dan bagi mereka adzab yang sangat."
(ayat 16)
Bantahan-bantahan itu nyata tidak ada harganya sama sekali. Tidak ada kebenaran melainkan satu, yaitu dari Allah. Bantahan atas kebenaran Allah, hanyalah hawa nafsu maka kemurkaan dan adzablah yang akan jadi jawabnya.
Turunnya ayat ini karena Yahudi-Yahudi disokong oleh musyrikin mengemukakan beberapa bantahan dan pertanyaan-pertanyaan yang maksudnya semata-mata membangga bahwa ajaran Yahudi lebih tua.
Tetapi tiap-tiap bantahan itu saat dipatahkan oleh Nabi ﷺ Akhirnya turunlah ayat ini buat memukul jatuh mereka.
Apa bantahan lagi, padahal: “Allah-lah yang menurunkan kitab itu."
(pangkal ayat 17)
Bukan ia semata kata-kata Muhammad. Dia hanya penyaluT wahyu, “dengan kebenaran dan neraca." Kebenaran yang tak saat dibantah oleh jiwa murni dan neraca pertimbangan yang adil, yang tidak saat berpaling lagi.
“Dan engkau tidak tahu, barangkali Sa'at itu sudah dekat."
(ujung ayat 17)
Bagaimana sambutan mereka tentang berita bahwa Sa'at, atau Kiamat itu pasti datang?
“Meminta cepat kedatangannya orang-orang yang tidak beriman kepadanya."
(pangkal ayat 18)
Karena mereka menerimanya dengan olok-olok. Sebab tiap-tiap berbicara soal agama Nabi Muhammad ﷺ selalu menyebut Kiamat mesti datang. Tetapi tidak juga datang. Sebagai juga rasa kekufuran manusia di zaman kita ini. Kata mereka: sudah 14 abad, 14 kali 100 tahun Muhammad mengatakan dunia akan Kiamat, sekarang belum juga! “Dan orang-orang yang beriman merasa takut daripadanya dan mereka tahu bahwasanya dia itu sebenarnya." Mereka merasa takut kalau-kalau Kiamat datang sedang amalan mereka masih sangat berkurang-kurang.
“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang Sa'at itu adalah di dalam kesesatan yang jauh."
(ujung ayat 18)
Ingatlah orang yang tidak percaya akan hari Kiamat itu sejauh-jauhnya karena yang dipikirkannya hanya semata-mata dunia. Dia tidak takut berbuat aniaya di bumi, sebab tidak yakin akan ada pembalasan.
“Allah amat lemah lembut kepada hamba-hamba-Nya, diberi-Nya rezeki barangsiapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dia adalah Yang Mahakuat dan Yang Mahagagah."
(ayat 19)
Apabila setiap hari ini kita memakan dan meminum rezeki yang diberikan-Nya, hidup senang, harta ada, pangkat, kebesaran dan lain-lain, terasalah betapa lemah lembut-Nya Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Kita girang, kita tertawa. Tetapi Dia Mahakuat karena apabila nikmat itu hendak dicabut-Nya, sedikit pun kita tidak dapat bertahan. Umur berjalan terus, dari muda kita terus tua, dan akhirnya mati. Badan mulanya kuat, akhirnya dengan tidak disadari, tenaga itu kian susut dan surut, dan mati. Dihitung-hitung masa yang dilalui, rupanya hanya sebentar saja. Kita rasakan kejadian dua puluh tahun yang lalu, baru rasa kemarin. Sedang yang akan ditempuh masih lama rasanya. Sebelum merasa kepuasan, air kehidupan pun habis. Kita hidup di antara sifat ilahi. Al-Lathif dengan al-Qawi dan al-Aziz. Di antara karunia lemah lembut-Nya dengan kuat gagah-Nya. Kita akan terombang-ambing dalam hidup kalau kita lupa al-Qawi dan al-Aziz karena menikmati al-Lathif. Moga-moga dapatlah kita mencamkannya dalam hati, setiap hari.
“Barangsiapa yang menginginkan kebun akhirat, akan Kami tambah untuknya perkebunannya. Dan barangsiapa yang menginginkan kebun dunia, akan Kami berikan kepadanya sebagian daripadanya; tetapi tidaklah ada baginya di akhirat pembagian apa-apa."
(ayat 20)
Sebab itu maka ayat ini menganjurkan kita membuka kebun akhirat sedang dalam dunia mi. Sebab hidup Muslim adalah satu jua, yaitu hidup yang berpangkal di dunia dan berujung di akhirat. Untuk mencapai akhirat tidak ada jalan lain melainkan melalui, ataupun melintasi dunia. Apabila hidup itu hendak kita potong, yaitu tidak mengingat akhirat, yang kita capai hanya dunia sajalah. Itu pun dapatnya hanya laksana mimpi belaka. Sedang mencoba-coba dia sudah habis atau laksana memakan limau kesumba (jeruk), ketika memakannya terasa manisnya. Setelah jeruk habis maka bekas pahitnya tinggallah di kerongkongan dan di lidah. Dan setelah mati maka yang akan d-dapati di akhirat tidak ada apa-apa. Setelah mati tertutup yang penghabisan dan cerita kehidupan sudah tamat, barulah terbuka hal yang sebenarnya, bahwa kehidupan yang sudah kita lalui itu tidaklah apa-apa.
A Warning to Those Who dispute concerning Matters of Religion
Here Allah warns those who try to hinder those who believe in Allah, from following His path.
وَالَّذِينَ يُحَاجُّونَ فِي اللَّهِ مِن بَعْدِ مَا اسْتُجِيبَ لَهُ
And those who dispute concerning Allah, after it has been accepted,
means, those who dispute with the believers who have responded to Allah and His Messenger, and try to stop them from following the path of guidance.
حُجَّتُهُمْ دَاحِضَةٌ عِندَ رَبِّهِمْ
no use is their dispute before their Lord,
means, it is futile before Allah.
وَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ
and on them is wrath, (means, from Him).
وَلَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ
and for them will be a severe torment.
means, on the Day of Resurrection.
Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, and Mujahid said,
They disputed with the believers after they responded to Allah and His Messenger, and tried to prevent them from following the path of guidance, hoping that they would return to Jahiliyyah.
Qatadah said,
These were the Jews and Christians who said to them, `Our religion is better than your religion, our Prophet came before your Prophet, and we are better than you and closer to Allah than you.'
This was nothing but lies.
Then Allah says
اللَّهُ الَّذِي أَنزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ
It is Allah Who has sent down the Book in truth,
referring to all the Books which were revealed from Him to His Prophets.
وَالْمِيزَانَ
and the Balance.
means, justice and fairness.
This was the view of Mujahid and Qatadah.
This is like the Ayat:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَـتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَـبَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ
Indeed We have sent Our Messengers with clear proofs, and revealed with them the Scripture and the Balance that mankind may keep up justice. (57:25)
وَالسَّمَأءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ
أَلاَّ تَطْغَوْاْ فِى الْمِيزَانِ
وَأَقِيمُواْ الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُواْ الْمِيزَانَ
And the heaven He has raised high, and He has set up the Balance. In order that you may not transgress (due) balance. And observe the weight with equity and do not make the balance deficient. (55:7-9)
وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيبٌ
And what can make you know that perhaps the Hour is close at hand?
This is encouragement (to strive) for its sake, a terrifying warning, and advice to think little of this world
يَسْتَعْجِلُ بِهَا الَّذِينَ لَا يُوْمِنُونَ بِهَا
Those who believe not therein seek to hasten it,
means, they say, `when will this promise be fulfilled, if you are telling the truth' But they say this by way of disbelief and stubbornness, thinking that it is unlikely to happen.
وَالَّذِينَ امَنُوا مُشْفِقُونَ مِنْهَا
while those who believe are fearful of it,
means, they are afraid of it happening.
وَيَعْلَمُونَ أَنَّهَا الْحَقُّ
and know that it is the very truth.
means, that it will undoubtedly come to pass, so they prepare themselves for it and strive for its sake.
It was reported through various chains of narration, a number reaching the level of being Mutawatir, in Sahih and Hasan narrations, in the Books of Sunan and Musnad.
According to some versions, a man addressed the Messenger of Allah in a loud voice, when he was on one of his journeys,
calling out to him, O Muhammad!
The Messenger of Allah replied in a similar manner, Here I am!
The man said, When will the Hour come?
The Messenger of Allah said,
وَيْحَكَ إِنَّهَا كَايِنَةٌ فَمَا أَعْدَدْتَ لَهَا
Woe to you! It will most certainly come. What have you done to prepare for it?
He said, Love for Allah and His Messenger.
He said:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْت
You will be with those whom you love.
According to another Hadith:
الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَب
A man will be with those whom he loves.
This is Mutawatir beyond a doubt. The point is that he did not answer his question about when the Hour would happen, but he commanded him to prepare for it.
أَلَا إِنَّ الَّذِينَ يُمَارُونَ فِي السَّاعَةِ
Verily, those who dispute concerning the Hour,
means, who dispute whether it will happen and think it is unlikely ever to come,
لَفِي ضَلَلٍ بَعِيدٍ
are certainly in error far away.
means, they are clearly ignorant, because the One Who created the heavens and the earth is even more able to give life to the dead, as Allah says:
وَهُوَ الَّذِى يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ
And He it is Who originates the creation, then He will repeat it; and this is easier for Him. (30:27)
The Provision of Allah in this World and the Hereafter
Allah says:
اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ
Allah is very Gracious and Kind to His servants.
Here Allah speaks of His kindness towards His creation, in that He provides for every last one of them and does not forget anyone. When it comes to His provision, the righteous and the sinner are alike.
Allah says:
وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الاٌّرْضِ إِلاَّ عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِى كِتَابٍ مُّبِينٍ
And no moving creature is there on the earth but its provision is due from Allah. And He knows its dwelling place and its deposit. All is in a Clear Book. (11:6)
And there are many similar Ayat.
يَرْزُقُ مَن يَشَاء
He gives provisions to whom He wills.
means, He gives generously to whomsoever He wills.
وَهُوَ الْقَوِيُّ العَزِيزُ
And He is the All-Strong, the Almighty.
means, there is nothing that can overpower Him.
Then Allah says
مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الاْخِرَةِ
Whosoever desires the reward of the Hereafter,
means, whoever does things for the sake of the Hereafter,
نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ
We give him increase in his reward,
meaning, `We will give him strength and help him to do what he wants to do, and We will increase it for him. So for every good, We will multiply it and give him between ten and seven hundred good rewards,' as much as Allah wills.
وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُوتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الاْخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
and whosoever desires the reward of this world, We give him thereof, and he has no portion in the Hereafter.
means, whoever strives for the purpose of worldly gains, and never pays any heed to the Hereafter at all, Allah will deny him the Hereafter; and in this world, if He wills He will give to him and if He does not will, he will gain neither. So the one who strives with this intention in mind will have the worst deal in this world and in the Hereafter. The evidence for that is the fact that this Ayah is reinforced by the passage in Surah Al-Isra' in which Allah says:
مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَـجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَأءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَـهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا
وَمَنْ أَرَادَ الاٌّخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُوْمِنٌ فَأُولَـيِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا
كُلًّ نُّمِدُّ هَـوُلاءِ وَهَـوُلاءِ مِنْ عَطَأءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَأءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا
انظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَلَلٌّخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَـتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلً
Whoever desires the quick-passing, We readily grant him what We will for whom We like. Then, afterwards, We have appointed for him Hell; he will (enter) burn therein disgraced and rejected.
And whoever desires the Hereafter and strives for it, with the necessary effort due for it while he is a believer -- then such are the ones whose striving shall be appreciated.
On each -- these as well as those -- We bestow from the bounties of your Lord. And the bounties of your Lord can never be forbidden.
See how We prefer one above another (in this world), and verily, the Hereafter will be greater in degrees and greater in preferment. (17:18-21)
It was reported that Ubayy bin Ka`b, may Allah be pleased with him, said,
The Messenger of Allah said:
بَشِّرْ هذِهِ الاُْمَّةَ بِالسَّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ وَالنَّصْرِ وَالتَّمْكِينِ فِي الاَْرْضِ فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ الاْخِرَةِ لِلدُّنْيَا لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي الاْخِرَةِ مِنْ نَصِيب
Give the glad tidings to this Ummah of sublimity, high status, victory and power in the land. But whoever among them does the deeds of the Hereafter for the sake of worldly gain, will have no portion of the Hereafter.
Making Legislation for the Creatures is Shirk Allah says:
Allah says
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ
Or have they partners with Allah who have instituted for them a religion which Allah has not ordained?
means, they do not follow what Allah has ordained for you of upright religion; on the contrary, they follow what their devils (Shayatin), of men and Jinn, have prescribed for them. They instituted taboos, such as the Bahirah, Sa'ibah, Wasilah or Ham. They also permitted eating flesh and blood of animals not slaughtered for consumption, gambling and other kinds of misguidance, ignorance and falsehood. These are things that they invented during Jahiliyyah, when they came up with all kinds of false rulings on what was permitted and what was forbidden, and false rites of worship and other corrupt ideas.
It was recorded in the Sahih that the Messenger of Allah said:
رَأَيْتُ عَمْرَو بْنَ لُحَيِّ بْنِ قَمَعَةَ يَجُرُّ قُصْبَهُ فِي النَّار
I ﷺ `Amr bin Luhayy bin Qama`ah dragging his intestines in Hell -- (because he had been the first one to introduce the idea of the Sa'ibah).
This man was one of the kings of the Khuza`ah tribe, and he was the first one to do these things. He was the one who had made the Quraysh worship idols, may the curse of Allah be upon him.
Allah said:
وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ
And had it not been for a decisive Word, the matter would have been judged between them.
means, the punishment would have been hastened for them, were it not for the fact that it had already been decreed that it would be delayed until the Day of Resurrection.
وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
And verily, for the wrongdoers there is a painful torment.
i.e., an agonizing torment in Hell, what a terrible destination.
The Terror of the Idolators in the Place of Gathering
Allah says;
تَرَى الظَّالِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا كَسَبُوا
You will see the wrongdoers fearful of that which they have earned,
means, in the arena of Resurrection.
وَهُوَ وَاقِعٌ بِهِمْ
and it will surely befall them.
means, the thing that they fear will undoubtedly happen to them. This is how they will be on the Day of Resurrection; they will be in a state of utter fear and terror.
وَالَّذِينَ امَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فِي رَوْضَاتِ الْجَنَّاتِ
لَهُم مَّا يَشَاوُونَ عِندَ رَبِّهِمْ
But those who believe and do righteous deeds (will be) in the flowering meadows of the Gardens. They shall have whatsoever they desire with their Lord.
What comparison can there be between the former and the latter How can the one who will be in the arena of resurrection in a state of humiliation and fear, deserving it for his wrongdoing, be compared with the one who will be in the gardens of Paradise, enjoying whatever he wants of food, drink, clothing, dwellings, scenery, spouses and other delights such as no eye has seen, no ear has heard, and has never crossed the minds of men.
Allah says:
ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الكَبِيرُ
That is the supreme grace.
means, the ultimate victory and complete blessing.
God it is Who has revealed the Book, Al-Qur'an, with the truth (bi'l-haqqi is semantically connected to anzala, 'revealed') as well as the Balance, Justice. And what do you know - perhaps the Hour, that is, its arrival, is near! (la'alla, 'perhaps', comments on the verb describing the action, with what follows it functioning as two direct objects).
This fact is stated in the next sentence, أَنزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَالْمِيزَانَ "has sent down the Book with truth and the Balance as well - 17." Here ` the Book' means the Qur'an, and all the previous revealed Books, and ` truth' means the divine religion mentioned above, and ` the Balance' literally means a weighing balance. Since it is an instrument of weighing one's due and establishing justice, Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ has taken it to mean ` equity' and ` justice'. Mujahid (رح) leading exegete, has said that here the ` Balance' means full payment of everyone's rights and doing justice. As such the word ` truth' points towards Allah's rights over His servants, and the word مِیزَان mizan (Balance) points towards the rights of human beings over one another.
The statement that those who believe are fearful of the Doomsday means the fear generated due to cognizance of the awesome horrifying happenings which will take place on the Doomsday, and also due to cognizance of one's own short comings and wrong-doings. However, sometimes a believer's eagerness to meet his Lord Allah Almighty overcomes that fear, which does not contradict this statement; some dead ones are proved to have said in their graves that they wish Doomsday would come soon because the glad tidings given by angels that they would be forgiven and treated kindly, had overcome the fear of Doomsday.