ٱلصَّافَّات ٧
- وَحِفۡظٗا dan penjagaan
- مِّن dari
- كُلِّ setiap
- شَيۡطَٰنٖ syaitan
- مَّارِدٖ durhaka
Dan (Kami) telah menjaganya dari setiap setan yang durhaka.
(Dan sebagai pemelihara) lafal Hifzhan dinashabkan oleh Fi'il yang diperkirakan keberadaannya pada sebelumnya, yakni Kami memelihara langit dengan bintang-bintang atau meteor-meteor (dari setiap) lafal ayat ini berta'alluq kepada Fi'il yang diperkirakan keberadaannya (setan yang durhaka) setan yang membangkang atau tidak mau taat.
Tafsir Surat As-Saffat: 6-10
Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan (telah memeliharanya) sebenar-benarnya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal. Tetapi barang siapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan), maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. Allah ﷻ menceritakan bahwa Dia telah menghiasi langit yang terdekat bagi orang yang memandangnya dari kalangan penduduk bumi. dengan hiasan, yaitu bintang-bintang. (Ash-Shaffat: 6) Ayat ini dapat dibaca secara idafah atau badal, semuanya bermakna sama.
Bintang-bintang yang beredar dan yang tetap sinarnya menembus ruang angkasa yang transparan, maka dapat menerangi penduduk bumi. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa yang menyala-nyala. (Al-Mulk: 5) Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandanginya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk, kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat di dengar (dari malaikat), lalu dia dikejar oleh sumber api yang terang. (Al-Hijr: 16-18) Adapun firman Allah ﷻ: dan (telah memelihara) sebenar-benarnya. (Ash-Shaffat: 7) Bentuk lengkapnya ialah 'dan Kami memeliharanya dengan sebenar-benarnya'.
dari setiap setan yang sangat durhaka. (Ash-Shaffat: 7) Yakni setan yang membangkang lagi durhaka: apabila ia hendak mencuri-curi dengar dari pembicaraan para malaikat, maka ia dikejar oleh bintang meteor yang menyala-nyala, lalu membakarnya. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya: setan-setan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat. (Ash-Shaffat: 8) Maksudnya, agar para setan-setan itu tidak sampai ke tempat para malaikat. Yang maksudnya dengan al-mala-ul a'la ialah langit dan para penghuninya.
Setan-setan itu bermaksud akan mencuri-curi dengar dari pembicaraan para malaikat yang membicarakan wahyu Allah ﷻ menyangkut hukum syariat dan ketetapan-Nya, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadis-hadis terdahulu pada pembahasan tafsir firman-Nya: sehinga apabila, telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, "Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu? Mereka menjawab "(Perkataan) yang benar, "dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar. (Saba: 23) Karena itulah maka disebutkan dalam surat ini oleh firman-Nya: dan mereka dilempari dari segala penjuru. (Ash-Shaffat: 8) Mereka dirajam dari semua penjuru langit yang dkuju oleh mereka.
Untuk mengusir mereka. (Ash-Shaffat: 9) Yakni mereka dirajam dan dilempari dengan bintang-bintang yang menyala-nyala itu agar terusir jauh dari tempat yang dituju oleh mereka. dan bagi mereka siksaan yang kekal. (Ash-Shaffat: 9) Di negeri akhirat kelak mereka akan mendapat azab yang kekal, menyakitkan, lagi terus-menerus. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Dan Kami sediakan bagi mereka siksa yang menyala-nyala. (Al-Mulk: 5) Adapun firman Allah ﷻ: tetapi barang siapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan). (Ash-Shaffat: 10) Yaitu kecuali setan-setan yang hendak mencuri-curi dengar dari pembicaraan para malaikat, kemudian setan itu menyampaikannya kepada setan lain yang ada di bawahnya, lalu disampaikan lagi kepada yang di bawahnya lagi, hingga seterusnya.
Dan adakalanya setan yang telah berhasil mencuri dengar itu keburu dihantam oleh bintang yang menyala-nyala sebelum ia sempat menyampaikannya kepada setan yang ada di bawahnya. Adakalanya dia sempat menyampaikan apa yang telah dicuri dengarnya itu berkat takdir Allah, sebelum ia dikejar oleh bintang yang menyala dan yang membakarnya. Maka tugasnya dipegang oleh setan lain yang ada di bawahnya hingga sampailah kepada tukang tenung, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadis.
Karena itulah dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya: tetapi barang siapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan), maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. (Ash-Shaffat: 10) Makna saqib ialah terang benderang. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Waqi', dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa dahulu setan-setan mempunyai pos-pos pengintaian di langit untuk mencuri-curi dengar wahyu; dan dahulu bintang-bintang tidak beredar dan setan tidak dilempari. Apabila mereka mendengar wahyu, lalu mereka turun ke bumi dan menambah-nambahinya dengan kedustaan yang banyak.
Ketika Rasulullah ﷺ telah diutus, maka bila setan duduk di posnya di langit, maka ada bintang menyala-nyala yang mengejarnya. Bintang-bintang itu tidak pernah meleset dan mengenainya serta membakarnya. Lalu setan-setan melaporkan hal tersebut kepada pemimpin mereka, yaitu iblis la natullah. Iblis berkata, "Hal itu tidak lain terjadi karena ada suatu peristiwa yang baru terjadi." Lalu iblis mengirimkan bala tentaranya (untuk menyelidiki hal yang baru itu), maka utusan iblis menjumpai Rasulullah ﷺ sedang berdiri mengerjakan salatnya di antara dua Bukit Nakhlah. Waki' mengatakan bahwa, yang dimaksud ialah lembah Nakhlah. Utusan iblis itu kembali kepada pemimpinnya, lalu menceritakan hal itu kepadanya.
Maka iblis berkata, "Memang orang inilah yang mengubah keadaan." Dan nanti insya Allah akan diketengahkan hadis-hadis berikut asar-asar yang berkaitan dengan makna firman-Nya ini, yaitu pada tafsir firman Allah ﷻ yang menceritakan perihal jin, bahwa mereka mengatakan: Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk menembaknya). Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka mengkehendaki kebaikan bagi mereka. (Al-Jin: 8-10)".
Dan Kami telah menjadikan bintang-bintang itu sebagai pelindung langit yang menjaganya dari setiap setan yang durhaka yang hendak mencuri dengar kabar-kabar masa depan. 8. Dengan adanya penjagaan ketat terhadap setan-setan durhaka itu, mereka tidak dapat mendengar pembicaraan para malaikat yang akan menyampaikan wahyu kepada rasul-Nya. Dan mereka dilempari dengan benda langit yang menyala dari segala penjuru sehingga mereka tidak bisa menambah atau mengurangi wahyu yang akan diturunkan.
Di samping ciptaan-ciptaan-Nya yang demikian menakjubkan, Allah memelihara semua makhluk-Nya itu dari apa yang akan merusaknya. Ia memelihara manusia dari godaan setan yang senantiasa membujuk manusia untuk melakukan kemaksiatan, yang akan menjerumuskan kepada kebinasaan dan kemurkaan-Nya. Untuk itu, Allah telah memberikan petunjuk, berupa agama yang benar, yang akan menjaga manusia dari godaan setan. Hanya manusia yang ingkar yang dapat ditundukkan oleh rayuan setan yang mencelakakan itu.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
SURAH ASH-SHAAFFAAT
(YANG BERBARIS-BARIS)
SURAH KE-37
182 AYAT, DITURUNKAN DI MEKAH
***
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Pengasih.
BARISAN MALAIKAT
Sebagaimana pada beberapa surah yang lain, maka di dalam permulaan surah ini, Allah berfirman tentang tentara Allah yang bernama malaikat itu. Di ayat pertama dari surah ini Allah telah menyatakan dengan memakai wawu qasam, sebagai sumpah yang berarti bahwa Allah ﷻ menyuruh kita menjuruskan perhatian kepada soal itu,
“Demi yang berbaris-baris sebenar-benar berbaris."
(ayat 1)
Dijelaskan dalam ayat ini bahwasanya malaikat itu berbaris sebenar berbaris. Bagai-mana cara barisannya, tidaklah dapat kita memastikan. Namun berbaris sebenar berbaris adalah menunjukkan kewaspadaan.
“Demi yang mencegah sebenar-benar mencegah."
(ayat 2)
Ialah guna mencegah gangguan dari ruh-ruh jahat yang akan dapat membahayakan.
“Demi yang membacakan peringatan."
(ayat 3)
Ada malaikat yang ditugaskan oleh Allah ﷻ mengantarkan peringatan (dzikran). Peringatan ialah wahyu yang dibawa oleh Malaikat Jibril untuk disampaikan kepada rasul-rasul dan nabi, dan terutama Nabi terakhir, Muhammad ﷺ
“Sesungguhnya Tuhan kamu benar-benar Esa adanya “
(ayat 4)
Di sini jelaslah bahwa yang dimaksud dengan adz-Dzikra itu ialah Al-Qur'an. Dengan ayat ini Allah menyatakan, bahwa Dia telah menjamin memeliharanya dan menjaganya. Maka malaikat yang berbaris sebenar berbaris itu ialah yang khusus diperintahkan Allah menjaga dan mencegah jangan sampai perjalanan Jibril mengantarkan wahyu Ilahi terganggu di tengah perjalanan.
Selanjutnya isi Dzikr yang dikirimkan Allah ﷻ kepada Rasul-Nya itu, yang dibawa oleh Malaikat Jibril dikawal oleh barisan malaikat, sesudah menjelaskan bahwa Allah itu adalah Esa, tiada tuhan melainkan Allah, dijelaskan lagi,
‘Tuhan dari semua langit."
(pangkal ayat 5)
Semua langit kita ambil jadi arti dari samaawaati, banyak langit, bukan satu langit, bahkan yang diberitahukan selalu kepada kita ialah tujuh langit. "Dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, “ yaitu Allah ﷻ juga dari bumi ini. Yang kita berdiam di dalamnya dan termasuk dalam makhluk ciptaan-Nya.
“Dan Tuhan dari tempat-tempat terbitnya matahari."
(ujung ayat 5)
Karena hubungan kebudayaan yang rapat dengan Arab karena Islam, maka tempat terbit matahari pun telah kita namai menurut nama Arab, yaitu masyriq, sebagai timbalan dari bahasa kita sendiri; timur. Dan barat pun telah kita perkaya dengan maghrib. Namun di ujung ayat ini dijelaskan, bahwa Allah ﷻ adalah Allah juga dari tempat-tempat terbitnya matahari. Memberi paham kepada kita bahwa tempat terbit matahari bukanlah satu tempat saja, melainkan beberapa tempat. Masyaariq pun adalah kalimat yang menunjukkan banyak.
Itu pun dapat kita pahamkan. Karena memang tempatterbit matahari bukanlah pada satu tempat saja. Tegasnya ialah perputaran bumi mengedari matahari tidaklah di satu garis saja. Di musim dingin dia lebih miring dari utara, di musim panas dia lebih miring ke selatan. Tiap hari dia berangsur berubah-ubah, sehingga dapat dirasakan oleh orang yang suka merasakannya.
Sampai di ayat 5 inilah rangkaian dari ayat-ayat yang sebelumnya. Jibril menyampaikan dzikr kepada Rasul, Rasul menyampaikannya kepada manusia, bahwa Allah adalah Esa. Dialah Pencipta sekalian langit itu dan bumi juga. Perjalanan falak pun diatur oleh Allah ﷻ sendiri, sehingga tempat terbit matahari tidaklah tetap pada satu tempat. Dan untuk sampainya wahyu-wahyu kepada Rasul, Jibril tidaklah pergi sendirian, dia dikawal, dia memakai pengiring, dia dijaga oleh barisan-barisan malaikat.
Selanjutnya Allah ﷻ berfirman,
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia dengan perhiasan."
(pangkal ayat 6)
Ayat ini menarik perhatian manusia kepada adanya keindahan dalam alam ini. Di ayat ini perhatian ditujukan kepada langit, bahwa langit ada diberi perhiasan oleh Allah ﷻ,
“Yaitu bintang-bintang."
(ujung ayat 6)
Cara merenungkan alam di keliling kita, di muka dan di belakang, di atas dan di bawah adalah dengan mempergunakan dua macam peralatan diri yang sama pentingnya. Pertama dengan akal, kedua dengan perasaan. Dengan akal membawa kita kepada berpikir, dari mana ini, di mana ini dan ke mana akhirnya. Dengan perasaan melihat keindahan. Orang yang melihat bintang di langit dengan akal, sampai kepada ilmu pengetahuan astronomi, ilmu tentang bintang-bintang. Bahkan sampai kepada pengetahuan yang lebih meluas lagi, sampai mengetahui bahwa adalah di antara bintang-bintang itu yang beratus kali besarnya dari bumi kita ini. Sampai di sana mereka merasa takjub dengan Kebesaran Maha Penciptanya. Adapun dengan memakai perasaan manusia akan terharu melihat keindahan itu. Bagaimana kelap-kelipnya bintang-bintang di langit di tengah malam yang hening-sepi dapat menggetarkan hati, membuat hati terharu dan akhirnya sampai juga manusia kepada pengakuan atas adanya Jamaal (Yang Mahaindah), Kamaal (Yang Mahasempurna), dan Jalaal (Yang Mahamulia). Untuk akhirnya bertemu semua dalam iman. Sehingga kata-kata yang mulia, yaitu keindahan, kebenaran, dan keadilan adalah berbagai pernyataan saja (manifestasi) dari Yang Mutlak, yaitu Allah.
“Dan pemelihara dari tiap-tiap setan yang amat durhaka."
(ayat 7)
Maka dijelaskanlah dalam ayat ini, bahwa selain untuk menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang itu ada lagi kegunaannya yang lain oleh Allah ﷻ, yaitu untuk memelihara dan menjaga dari gangguan setan-setan yang durhaka. Karena di antara bumi dengan langit ini terbentanglah ruang angkasa yang luas. Yang kelihatan hanyalah awan berarak, kabut berbuhul, asap mendulang. Namun di balik yang kelihatan itu ada lagi makhluk-makhluk yang tidak kelihatan. Di antaranya ialah setan-setan atau ruh-ruh jahat, ruh-ruh yang tidak diterima di langit lalu berbegar-begar dalam ruang angkasa dunia ini. Mereka pun dapat 4saja mengganggu.
“Supaya tidak dapat dia dengar – dengarkan golongan tertinggi."
(pangkal ayat 8)
Golongan tertinggi ialah malaikat. Mereka terdiri dari nur, atau cahaya. Mereka diberi Allah berbagai tugas. Di antaranya ada yang bertugas mengatur penyampaian takdir yang telah ditentukan oleh Allah ﷻ buat seluruh isi bumi ini. Sampai kepada letusan gunung, aliran banjir, pasang naik dan turun, pertumbuhan tanam-tanaman, demikian juga pembagian ketentuan hari depan tiap-tiap manusia. Rahasia itu dipegang teguh. Dalam istilah ahli-ahli taﷺuf, alam mereka disebut ‘Alam Malakuut.
Adapun setan atau jin adalah termasuk golongan rendah, atau suflaa. Namun oleh karena mereka sejak semula adalah ruh jahat, terjadi dari gejala api, maksud jahat itu tidaklah terlepas. Mereka mau tahu saja apa yang tengah diatur di langit. Mereka pergi mengintip-intip, mendengar-dengarkan kalau ada berita. Maksudnya ialah hendak mereka sampaikan kepada manusia-manusia yang telah mereka pengaruhi, sehingga kadang-kadang terdengarlah pangkal kata, tetapi tidak mereka ketahui ujungnya. Atau dapat ujungnya saja, tidak mereka ketahui pangkal. Dalam mengintip-intip itu.
“Dan mereka ditempati dari tiap-tiap penjuru."
(ujung ayat 8)
“Untuk mengusir."
(pangkal ayat 9)
Sehingga dalam berita yang selalu tidak sempurna mereka lari tunggang balik dan banyak juga yang terbakar,
“Dan bagi meteka adalah adzab siksaan yang berkepanjangan."
(ujung ayat 9)
Kejahatan yang diperbuat adalah begitu besar. Memperdayakan manusia sudah jadi perbuatan setiap hari. Ini ditambah dengan kesalahan yang lebih besar, yaitu ngin menge-tahui rahasia rencana Allah ﷻ Maka siksaannya pun beratlah bagi setan itu, yaitu adzab yang kekal dalam neraka kelak. Padahal sebelumnya, ketika belum ada Kiamat, pikiran yang selalu jahat itu pun sudah adzab siksaan yang berketerusan, tidak pernah berniat baik.
“Kecuali mereka yang mencari sepotong-sepotong."
(pangkal ayat 10)
Artinya bahwa kadang-kadang dapat juga mereka mendengarkan rencana di langit itu, tetapi hanya sepotong-potong. Dapat pangkal, tidak dapat ujung. Dapat ujung, tidak dapat pangkal,
“Maka mereka akan diburu oleh meteor yang berkilat."
(ujung ayal 10)
Banyaklah tersebut hadits-hadits Nabi ﷺ menerangkan dari hal perburuan setan-setan mengintip itu dikejar oleh meteor, atau cirit bintang yang mengkilat cepat, sehingga usaha setan hendak mengetahui rahasia itu tidaklah berhasil. Bagaimana pun kekuatan mereka, namun kekuatan penjagaan malaikat lebih hebat lagi. Malaikatlah yang memanahkan meteor itu, yang kadang- kadang pecahannya jatuh pula ke bumi dan dapat kita lihat. Kadang-kadang berlubanglah bumi tempat jatuhnya itu agak dalam, karena sangat cepat kejatuhan itu. Maka berita-berita yang terpotong-potong itulah yang dikirimkan ke bumi, dibisikkan oleh setan tadi kepada anak buahnya, sebagaimana dukun-dukun kebatinan, yang dalam bahasa Jawa mereka namai wangsit, lalu mereka namai wahyu.
Berita-berita yang disampaikan setan itu adalah berita terpotong-potong, tidak ada pangkalnya atau tidak ada ujungnya. Oleh si dukun kebatinan, berita itu dipercayai, bahkan kadang-kadang mereka tambah-tambah dengan dusta yang lain. Maka bukan sedikit orang yang tertipu oleh wangsit-wangsit penemuan setan itu, sehingga seorang yang bernama ﷺito pada bulan September 1976 hampir saja mengacaukan negara Republik Indonesia, karena dia mengatakan telah lama mendapat wangsit bahwa dia telah ditentukan untuk menjadi Presiden Republik Indonesia, sehingga di mana-mana, lama sebelumnya, dia telah memperkenalkan dirinya sebagai capres yang berarti calon presiden. Akhirnya dia ditangkap setelah ternyata mengadakan penipuan tanda tangan dari orang-orang terkemuka yang tidak menyadari bahwa tanda tangan mereka dipergunakannya untuk menyokong maksudnya menggulingkan presiden yang sah.
Demikianlah orang-orang yang kurang teguh hubungannya dengan Allah. Mereka itu telah lebih didekati oleh setan dan Iblis, sehingga selalu diperdayakan. Namun orang kuat imannya dan ibadahnya, mencoba sedikit saja mendekati orang yang beriman, setan itu akan diusirnya jauh.
Tafsir of Surah As-Saffat
The angels witness to the Oneness of Allah
It was reported that Abdullah bin Mas`ud, may Allah be pleased with him, said:
وَالصَّافَّاتِ صَفًّا
By those ranged in ranks. --
they are the angels;
فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا
By those who drive the clouds in a good way.
they are the angels;
فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا
By those who bring the Dhikr.
they are the angels;
This was also the view of Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, Masruq, Sa`id bin Jubayr, Ikrimah, Mujahid, As-Suddi, Qatadah and Ar-Rabi` bin Anas.
Qatadah said,
The angels form ranks in the heavens.
Muslim recorded that Hudhayfah, may Allah be pleased with him, said,
The Messenger of Allah said:
فُضِّلْنَا عَلَى النَّاسِ بِثَلَثٍ جُعِلَتْ صُفُوفُنَا كَصُفُوفِ الْمَلَيِكَةِ وَجُعِلَتْ لَنَا الاَْرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدًا وَجُعِلَ لَنَا تُرَابُهَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاء
We have been favored over the rest of mankind in three ways:
our ranks have been made like the ranks of the angels;
the entire earth has been made a Masjid for us;
and its soil has been made a means of purification for us if we cannot find water.
Muslim, Abu Dawud, An-Nasa'i and Ibn Majah recorded that Jabir bin Samurah, may Allah be pleased with him, said,
The Messenger of Allah said:
أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَيِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ
Will you not form ranks as the angels form ranks in the presence of their Lord?
We said, `How do the angels form ranks in the presence of their Lord?'
He said:
يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْمُتَقَدِّمَةَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّف
They complete the rows nearer the front and they consolidate the rows.
As-Suddi and others said that the Ayah,
فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا
(By those who drive the clouds in a good way).
means that they drive the clouds.
فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا
(By those who bring the Dhikr). As-Suddi said,
The angels bring the Scriptures and the Qur'an from Allah to mankind.
The One True God is Allah
Allah says,
إِنَّ إِلَهَكُمْ لَوَاحِدٌ
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضِ
Verily, your God is indeed One, Lord of the heavens and the earth,
This is the One by Whom the oath is sworn, stating that there is no God worthy of worship but He, Lord of the heavens and the earth,
وَمَا بَيْنَهُمَا
and all that is between them,
means, of created beings.
وَرَبُّ الْمَشَارِقِ
and Lord of every point of the sun's risings.
means, He is the Sovereign Who is controlling His creation by subjugating it and all that is in it of stars, planets and heavenly bodies which appear from the east and set in the west.
Mentioning the east is sufficient and there is no need for the west to be mentioned too, because it is implied in what is said.
This has also been stated clearly elsewhere, in the Ayat:
فَلَ أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَـرِقِ وَالْمَغَـرِبِ إِنَّا لَقَـدِرُونَ
So I swear by the Lord of all the points of sunrise and sunset in the east and the west that surely We are able. (70:40)
رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ
(He is) the Lord of the two easts and the Lord of the two wests. (55:17)
which refers to the rising and setting points of the sun and the moon in both winter and summer
The Adornment and Protection of the Heaven comes from Allah
Allah says,
إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ
Verily, We have adorned the near heaven with the stars.
Allah tells us that He has adorned the lowest heaven with the heavenly bodies for those among the people of the earth who look at it. The stars and planets in the sky give light to the people of earth, as Allah says:
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَأءَ الدُّنْيَا بِمَصَـبِيحَ وَجَعَلْنَـهَا رُجُوماً لِّلشَّيَـطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ
And indeed We have adorned the nearest heaven with lamps, and We have made such lamps (as) missiles to drive away the Shayatin, and have prepared for them the torment of the blazing Fire. (67:5)
وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِى السَّمَاءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّـهَا لِلنَّـظِرِينَ
وَحَفِظْنَـهَا مِن كُلِّ شَيْطَـنٍ رَّجِيمٍ
إِلاَّ مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ مُّبِينٌ
And indeed, We have put the big stars in the heaven and We beautified it for the beholders. And We have guarded it from every outcast Shaytan. Except him who steals the hearing then he is pursued by a clear flaming fire. (15:16-18)
And Allah says here
وَحِفْظًا
And to guard,
meaning, to protect as it should be protected,
مِّن كُلِّ شَيْطَانٍ مَّارِدٍ
against every rebellious Shaytan.
means, every insolent and impudent devil, when he wants to eavesdrop (on news in the heavens), a piercing fire comes and burns him.
Allah, may He be glorified, says
لَاا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَاِ الاْاَعْلَى
They cannot listen to the higher group,
meaning, they cannot reach the higher group -- which refers to the heavens and the angels in them -- when they speak of what has been revealed by Allah of His Laws and decrees.
We have already mentioned this when explaining the Hadiths quoted when we discussed the Ayah,
حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
(when fear is banished from their hearts, they say:What is it that your Lord has said They say:The truth. And He is the Most High, the Most Great. (34:23)
Allah says:
وَيُقْذَفُونَ
for they are pelted,
meaning, they are hit,
مِن كُلِّ جَانِبٍ
from every side.
means, from all directions from which they try to reach the heaven
دُحُورًا
Outcast,
means, they are rejected, and are repelled and prevented from reaching it, and they are pelted.
وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ
and theirs is a constant torment.
means, in the Hereafter, they will have an ongoing, everlasting and painful torment, as Allah says:
وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ
and (We) have prepared for them the torment of the blazing Fire. (67:5
إِلاَّ مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ
Except such as snatch away something by stealing,
means, except for the one among the Shayatin who manages to get something, which is a word he has heard from the heaven. Then he throws it down to the one who is beneath him, who in turn throws it down to the one who is beneath him. Perhaps the flaming fire will strike him before he is able to throw it down, or perhaps he will throw it -- by the decree of Allah -- before the flaming fire strikes him and burns him. So the other devil takes it to the soothsayer, as we have seen previously in the Hadith.
Allah says:
إِلاَّ مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ
Except such as snatch away something by stealing, and they are pursued by a flaming fire of piercing brightness.
meaning, shining brightly.
Ibn Jarir recorded that Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, said,
The Shayatin had places where they sat in the heavens listening to what was being revealed by Allah. The stars did not move and the Shayatin were not struck. When they heard the revelation, they would come down to earth and to every word they would add nine of their own. When the Messenger of Allah was sent, if a Shaytan wanted to take his seat in the heavens, the flaming fire would come and would not miss him; it would burn him every time. They complained about this to Iblis, may Allah curse him, and he said, `Something must have happened.' He sent his troops out and they found the Messenger of Allah standing in prayer between the two mountains of Nakhlah. -- Waki` said, This means in the valley of Nakhlah. -- They went back to Iblis and told him about that, and he said, `This is what has happened.
and to guard (wa-hifzan is in the accusative because of an implied verb) that is to say, 'We have guarded it with meteors', from every (min kulli is semantically connected to the implied verb) any rebellious devil, who is a transgressor, in rebellion against obedience.
In the last four verses, (37:7-10): وَحِفْظًا مِّن كُلِّ شَيْطَانٍ مَّارِدٍ ﴿7﴾ لَّا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَإِ الْأَعْلَىٰ وَيُقْذَفُونَ مِن كُلِّ جَانِبٍ ﴿8﴾ دُحُورًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ ﴿9﴾ إِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ ﴿10﴾ and [ have made them ] a security against every rebellious shaitan [ shaitan ]. They cannot listen to the Upper Realm and are hit from every side, to be driven off, and for them there is a lasting punishment, (however, if one snatches a little bit, he is pursued by a bright flame - 37:10). It has been said that stars have yet another benefit besides being a decoration of the sky. Through these, wicked shaitan are restrained from approaching the higher levels to eavesdrop. They do that to gather whatever news of the unseen they can gather by reaching the fringes of the sky. But, they are denied the opportunity to listen to what angels say to each other. If some Shaitan picks up even a part of their conversation, and tries to decamp with it, he is hit by a blazing flame, so that he remains unable to pass on this information to his devotees among soothsayers in the world. It is this blazing flame that has been called: شِهَابٌ ثَاقِبٌ (shihab thaqib: meteor). Some details about meteors have appeared in Surah al-Hijr (Ma’ ariful-Qur’ an, volume V. 15:17, 18, pages 303-305). At this place, it should be borne in mind that early Greek scientists believed in meteors being terrestrial substance that rose up with vapors and would burn up when it reached the fire zone. But, the words of the Qur'an, as they appear here, seem to suggest that a meteor is not some terrestrial substance, rather, is something generated only in the upper atmosphere. At this stage, earlier commentators have been saying all along that the Greek assumption about meteors - that it was some terrestrial substance - was no more than a conjecture. Therefore, this cannot be used to raise an objection against the Qur'an. As for the other possibility - that some terrestrial substance rises up and ignites itself in the upper atmosphere - that too offers no contradiction with the Qur'an.
But, once we are in the age of modern scientific discoveries, the question has been put to rest. Astronomers tell us that meteors شِهَابٌ ثَاقِبٌ (shihab thaqib) are small pieces from countless stars, generally of the size of large bricks. They stay in space. One of their groups is known as 'asadiyyah', (Leo, or Lion, out of the signs of Zodiac). It keeps revolving around the sun on its path through the imaginary belt in the heavens. One orbit by it is completed in thirty-three years. Light is emitted in these pieces because of their speed and abrasion against heavenly bodies. These pieces fall mostly during the nights of August 10 and November 27. Then, during the nights of April 20, October 18 and November 28, and on the nights of December 6, 9 and 13, their fallings tapers off. (Tafsir al-Jawahir by Tantawi, page 15, volume 8).
This investigative approach of modern science corresponds to the Qur'anic description. Yes, as for people who take the phenomena of shaitans being hit by meteors beyond conception, the late Tantawi has offered a good advice for them in his Tafsir al-Jawahir. He has said:
"Our forebears and scholars also took it with a heavy heart that the noble Qur'an would say something counter to contemporary astronomy of their time. But, the commentators of the Qur'an did not compromise their position. They did not agree to accept their thinking and surrender the position of the Qur'an. Instead of doing something like that, they bypassed their philosophical assumptions and continued to stay with the Qur'an. After the passage of some time, it became automatically established that the early Greeks were wrong in their assumptions. Now, if we were to acknowledge that these stars hit, hurt and burn shaitans, what is there to stop us from doing so? Thus, here we are in our time embracing this statement of the Qur'an as true. And we are faithfully waiting for the future (when science will also confirm it)." - al-Jawahir, page 14, volume 8.
The Real Objective
At this place, by mentioning the skies, the stars and the meteors, two objectives have been achieved. The first real objective is to assert the Oneness of Allah who has, all by Himself, created and managed a universal system so magnificent and, therefore, He alone is worthy of being worshipped as well. Then, there is the second objective whereby the false notion of those who take shaitans as their objects of worship has been refuted by telling them that they are the most accursed of the creation, and have nothing to do with the supreme station of godhead.
In addition to that, also refuted here is the objection of those who used to degrade the Divine revelation (wahy) sent to the Holy Prophet ﷺ as the predictions of the soothsayers. These verses clearly indicate that the noble Qur'an rejects the soothsayers for the sum-total of their information is what they receive through the shaitans. And the Qur'an says that the shaitans do not have access to the higher echelons. They cannot bring back the true information out of what remains in the realm of the Unseen (alghayb). When the Qur'an states this as its creed relating to soothsaying, how can it become soothsaying as such? Thus, these verses carry clear hints to the subject of Allah's Oneness and the veracity of the mission of the prophet. Later on, through the example of these very cosmic creations, the belief in the Hereafter has been proved.