Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
وَإِنَّ
dan sesungguhnya
يُونُسَ
Yunus
لَمِنَ
benar-benar termasuk
ٱلۡمُرۡسَلِينَ
para Rasul
وَإِنَّ
dan sesungguhnya
يُونُسَ
Yunus
لَمِنَ
benar-benar termasuk
ٱلۡمُرۡسَلِينَ
para Rasul
Terjemahan
Dan sungguh, Yunus benar-benar termasuk salah seorang rasul,
Tafsir
(Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul.).
Tafsir Surat As-Saffat: 139-148
Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedangkan ia dalam keadaan sakit.
Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu. Dalam surat Al-Anbiya telah disebutkan bahwa kisah Nabi Yunus a.s. Dan di dalam Kitab Sahihan disebutkan, bahwa Rasulullah ﷺ Telah bersabda: Tidaklah layak bagi seseorang bila mengatakan bahwa aku ini lebih baik daripada Yunus ibnu Mata.
Nisbatnya itu kepada ibunya dan menurut pendapat lain dinisbatkan kepada ayahnya. Firman Allah ﷻ: (ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan. (Ash-Shaffat: 140) Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa al-masyhun artinya yang sarat dan penuh dengan muatan. kemudian ia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. (Ash-Shaffat: 141) Yakni terkalahkan dalam undian tersebut. Demikian itu karena perahu yang ditumpanginya keberatan muatan hingga hampir tenggelam dan ombak laut masuk ke dalam perahu itu dari semua sisinya. Kemudian mereka mengadakan undian, dengan ketentuan bahwa barang siapa yang namanya keluar dari undian tersebut, maka ia harus dilemparkan ke laut agar beban perahu tidak terlalu berat.
Ternyata undian tersebut jatuh kepada Nabi Yunus a.s. sekalipun diulang tiga kali, karena mereka tidak suka bila beliau dilemparkan ke laut. Akhirnya Nabi Yunus terpaksa melepaskan bajunya untuk menceburkan dirinya ke laut. Sekalipun mereka mencegahnya. Kemudian Allah ﷻmemerintahkan kepada ikan besar (ikan paus) dari laut hijau untuk membelah laut dan pergi ke tempat Nabi Yunus berada, lalu menelannya, tetapi tidak boleh melukai dagingnya, dan tidak boleh pula mematahkan tulangnya.
Ikan besar itu telah berada di tempat saat Nabi Yunus menceburkan dirinya ke laut, lalu ia langsung menelannya dan membawanya pergi mengelilingi semua laut. Ketika Nabi Yunus telah berada di dalam perut ikan, ia mengira bahwa dirinya telah mati. Lalu ia gerakkan kepala dan kedua kakinya serta semua anggota tubuhnya, ternyata dirinya masih hidup. Kemudian ia berdiri dan salat di dalam perut ikan; dan di antara doa yang diucapkannya ialah ''Ya Tuhanku, aku jadikan untuk menyembahmu sebuah masjid di suatu tempat yang tidak dapat dicapai oleh seorang manusia pun." Para ulama berselisih pendapat tentang lamanya masa Nabi Yunus berada di dalam perut ikan besar itu.
Suatu pendapat mengatakan tiga hari, ini menurut Qatadah. Ada yang menyebutkan tujuh hari, ini menurut Ja'far As-Sadiq r.a. Dan menurut pendapat lainnya empat puluh hari, ini menurut Abu Malik. Mujahid telah meriwayatkan dari Asy-Sya'bi, bahwa Nabi Yunus ditelan oleh ikan besar di waktu pagi hari, dan dikeluarkan darinya pada petang hari. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui tentang lamanya dia berada di dalam perut ikan. Di dalam syair Umayyah ibnu Abus Silt disebutkan: ...
Engkau telah menyelamatkan Yunus berkat karunia dari-Mu, padahal dia telah tinggal di dalam perut ikan itu setelah beberapa malam. Firman Allah ﷻ: Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. (Ash-Shaffat:. 143-144) Menurut suatu pendapat sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa sekiranya dia tidak pernah mengerjakan amal saleh di masa sukanya.
Demikianlah menurut takwil yang dikemukakan oleh Ad-Dahhak ibnu Qais Abul Aliyah, Wahb ibhu Munabbih, Qatadah, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dan dipilih oleh Ibnu Jarir. Dan memang ada hadis yang menerangkan hal tersebut yang akan kami kemukakan, insya Allah, dapat dijadikan sebagai dalil jika memang predikatnya sahih. Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas disebutkan: Kenalilah Allah di masa suka.
niscaya Dia mengenalmu di masa duka(mu) Ibnu Abbas r.a., Said ibnu Jubair,Ad-Dahhak, Ata ibnus Sa'ib As-Saddi, Al-Hasan, dan Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. (Ash-Shaffat: 143) Yakni orang-orang vang salat: sebagian dari mereka menyebutkan bahwa memang Yunus sebelum itu termasuk orang yang rajin mengerjakan salat. Dan sebagian lainnya mengatakan bahwa dia memang termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah sejak masih berada di dalam perut ibunya.
Pendapat yang lain mengatakan: Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. (Ash-Shaffat: 143) Bahwa yang dimaksud adalah apa yang dijelaskan oleh firman-Nya dalam ayat lainnya, yaitu: maka ia menyeru dalam tempat yang sangat gelap, "Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan.
Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (Al-Anbiya: 87-88) Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Sa'id ibnu Jubair dan lain-lainnya -" ". Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ubaidillah (saudara lelaki Ibnu Wahb), telah menceritakan kepada kami pamanku, telah menceritakan kepada kami Abu Sakhr, bahwa Yazid Ar-Raqqasyi pernah menceritakan kepadanya bahwa ia pernah mendengar Anas ibnu Malik r.a. yang menurutnya Anas pasti me-rafa '-kan hadis ini sampai kepada Rasulullah ﷺ menceritakan hadis berikut: Bahwa Nabi Yunus ketika merasa yakin bahwa dirinya harus mengucapkan doa-doa berikut saat berada di dalam perut ikan besar, yaitu: "Ya Allah, tidak ada Tuhan melainkan Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang aniaya.
Maka doanya itu menghadap dan merintih di bawah 'Arasy. Para malaikat berkata, "Ya Tuhan kami ini adalah suara yang lemah, tetapi dikenal datang dari tempat yang jauh lagi terasing. Allah ﷻ berfirman, "Tidakkah kalian mengenalnya? Para malaikat berkata, "Ya Tuhan kami, suara siapakah ini? Allah ﷻ berfirman, "Ini suara hamba-Ku Yunus. Mereka berkata, "Hamba-Mu Yunus, yang sampai sekarang masih terus-menerus diangkat baginya amal yang diterima dan doa yang diperkenankan. Para malaikat berkata lagi, "Ya Tuhan kami, tidakkah Engkau mengasihaninya atas apa yang telah dikerjakannya di masa sukanya, maka Engkau selamatkan dia dari cobaan ini.
Allah berfirman, "Baiklah. Lalu Allah memerintahkan kepada ikan besar itu (untuk mengeluarkannya), maka ikan besar itu mencampakkannya di padang sahara. Ibnu Jarir meriwayatkan hadis ini dari Yunus, dari Ibnu Wahb dengan sanad yang sama. Ibnu Abu Hatim menambahkan bahwa Abu Sakhr alias Humaid ibnu Ziad mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnu Qasit, dan aku menceritakan hadis ini, bahwa ia mendengar Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Yunus dimuntahkan oleh ikan besar itu ke padang sahara. Dan Allah menumbuhkan buah labu di padang itu.
Ketika kami bertanya kepada Abu Hurairah tentang buah tersebut, maka Abu Hurairah menjawab bahwa yang dimaksud adalah buah pohon labu. Abu Hurairah melanjutkan kisahnya, bahwa Allah menyediakan baginya kambing betina liar yang makan dari serangga tanah, lalu kambing liar itu memberinya air minum dari air susunya setiap pagi dan petang hingga Nabi Yunus dapat berdiri dan segar kembali.
Sehubungan dengan kisah ini Umayyah ibnu Abus Silt mengatakan dalam salah satu bait syairnya: ... Maka tumbuhlah buah labu berkat rahmat Allah untuknya. Kalau sekiranya tidak ada pertolongan Allah, tentulah Yunus mati. Kisah lainnya telah disebutkan pula di dalam hadis Abu Hurairah r.a. yang disandarkan dan di-marfu'-kan (sampai kepada Nabi ﷺ), yaitu dalam tafsir surah Al-Anbiya. Firman Allah ﷻ: Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus. (Ash-Shaffat: 145) Ibnu Abbas r.a. dan lain-lainnya menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan al'ara ialah tanah tandus yang tidak ada tetumbuhan dan tidak ada pula bangunannya. Menurut suatu pendapat, tanah tersebut terletak di pinggir Sungai Tigris.
Dan menurut pendapat lain adalah suatu tanah yang terletak di negeri Yaman; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. sedangkan ia dalam keadaan sakit. (Ash-Shaffat: 145) Yaitu lemah sekali tubuhnya. Ibnu Mas'ud r.a. mengatakan bahwa tubuh Nabi Yunus saat itu tak ubahnya seperti itik yang masih belum tumbuh bulunya (yaitu baru menetas). As-Saddi mengatakan bahwa keadaan Nabi Yunus saat itu mirip dengan bayi yang baru lahir. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abbas r.a. dan Ibnu Zaid. Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. (Ash-Shaffat: 146) Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Wahb ibnu Munabbih, Hilal ibnu Yusaf, Abdullah ibnu Tawus, As-Saddi, Qatadah, Ad-Dahhak, Ata Al-Khurrasani, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa pohon tersebut adalah pohon labu.
Hasyim telah meriwayatkan dari Al-Qasim ibnu Abu Ayyub, dari Sa'id ibnu Jubair, bahwa setiap pohon yang tidak memiliki batang dinamakan yaqtin (labu). Menurut riwayat lain yang bersumber darinya, setiap pohon yang dikonsumsi dalam sekali tanam dinamakan yaqtin. Sebagian di antara mereka menyebutkan beberapa keistimewaan dari buah labu ini antara lain cepat pertumbuhannya, rindang pohonnya, besar, dan lembut buahnya. Buah labu tidak pernah dihinggapi oleh lalat, buahnya terasa enak dan dapat dimakan baik dalam keadaan mentah maupun dimasak, berikut kulitnya.
Telah disebutkan pula dalam hadis bahwa Rasulullah ﷺ Menyukai buah labu dan mencari-carinya di pinggir-pinggir piring (bila sedang makan). Firman Allah ﷻ: Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. (Ash-Shaffat: 147) Syahr ibnu Hausyab telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa sesungguhnya diutusnya Nabi Yunus a.s. itu hanyalah sesudah ia dimuntahkan oleh ikan besar yang menelannya. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Haris, telah menceritakan kepada kami Abu Hilal, dari Syahr ibnu Hausyab. Ibnu AbuNajih telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa Yunus diutus kepada mereka sebelum ditelan oleh ikan besar.
Menurut hemat kami, tidaklah mustahil bila orang-orang yang dahulu Yunus a.s. diutus kepada mereka pada mulanya, memerintahkan kepadanya untuk kembali kepada mereka setelah dikeluarkan oleh ikan besar, lalu mereka semua membenarkannya dan beriman kepadanya. Al-Bagawi mengatakan dalam riwayat yang diutarakannya, bahwa Yunus diutus kepada umat lainnya sesudah dikeluarkan dari perut ikan besar; jumlah mereka seratus ribu orang atau lebih.
Firman Allah ﷻ: atau lebih. (Ash-Shaffat: 147) Ibnu Abbas dalam suatu riwayat yang bersumber darinya menyebutkan, bahkan lebih dari seratus ribu orang, jumlah mereka adalah seratus tiga puluh ribu orang. Riwayat lain yang bersumber darinya menyebutkan seratus tiga puluh ribu orang lebih beberapa ribu. Menurut riwayat lainnya lagi yang bersumberkan darinya adalah seratus empat puluh ribu lebih beberapa ribu orang; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Sa'id ibnu Jubair menyebutkan lebih dari tujuh puluh ribu orang, yakni seratus tujuh puluh ribu orang. Makhul mengatakan bahwa jumlah mereka seratus sepuluh ribu orang, menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahim Al-Barqi, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abu Salamah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Zuhair menceritakan dari seseorang yang mendengarnya dari Abul Aliyah; ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepadanya Ubay ibnu Ka'b r.a. bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang makna firman-Nya: Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. (Ash-Shaffat: 147) Maka beliau ﷺ bersabda, bahwa mereka lebih dari dua puluh ribu (dari seratus ribu itu).
Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini melalui Ali ibnu Hujr, dari Al-Walid ibnu Muslim, dari Zuhair, dari seorang lelaki, dari Abdul Aliyah, dari Ubay ibnu Ka'b dengan lafaz yang sama. Lalu Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib. Ibnu Abu Hatim meriwayatkan hadis ini melalui hadis Zuhair dengan sanad yang sama. Ibnu Jarir mengatakan bahwa sebagian ahli bahasa Arab dan kalangan penduduk Basrah mengatakan sehubungan dengan ungkapan ini bahwa yang dimaksud ialah sampai seratus ribu orang, atau jumlah me'reka lebih dari itu menurut kalian.
Karena itu, Ibnu Jarir menempuh cara yang sama saat menafsirkan firman-Nya: Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu. bahkan lebih keras lagi. (Al-Baqarah: 74) tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan rasa takutnya lebih dahsyat dari itu. (An-Nisa:77) Dan firman Allah ﷻ: maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). (An-Najm: 9) Makna yang dimaksud ialah tidak kurang dari itu, bahkan lebih. Firman Allah ﷻ: Lalu mereka beriman. (Ash-Shaffat: 148) Lalu berimanlah seluruh kaum Nabi Yunus a.s. karena itu, Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu. (Ash-Shaffat: 148) Yakni sampai dengan waktu ajal mereka, seperti pengertian yang terdapat pada ayat lain melalui firman-Nya: Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu. (Yunus: 98)".
139. Usai menceritakan perjuangan dakwah Nabi Lut yang bukan berasal dari Bani Israil, Allah kembali menuturkan dakwah nabi dari Bani Israil, Nabi Yunus. Dan sungguh, Yunus benar-benar termasuk salah seorang rasul yang Allah utus untuk menyampaikan risalah kepada penduduk Ninawa (sekarang wilayah Irak) agar menyembah Allah dan meninggalkan berhala sesembahan mereka. 140-144. Ingatlah ketika dia lari dan pergi meninggalkan kaumnya padahal Allah tidak memperkenankan kepergiannya, lalu dia naik ke kapal yang penuh dengan muatan hingga hampir tenggelam. Melihat kondisi ini kemudian para penumpang melakukan pengundian, di mana dia ikut diundi untuk menentukan penumpang yang kalah dan harus diceburkan ke laut. Ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian itu. Maka dia pun diceburkan hingga dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela karena meninggalkan kaumnya tanpa izin Allah.
Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa Nabi Yunus adalah seorang rasul Allah. Ia diutus ke negeri Niniveh (Nainawa), salah satu kota kerajaan Asyuria di pinggir sungai Tigris (daerah Mosul, Irak sekarang). Ia berusaha menyadarkan kaumnya untuk tidak mempertuhankan berhala, dan mengajak mereka untuk mempercayai dan menyembah Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Allah ﷻ, tetapi mereka menentangnya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
NABI YUNUS
“Dan sesungguhnya Yunus pun adalah seorang dari utusan-utusan itu jua."
(ayat 139)
Artinya bahwa di antara nabi-nabi dan rasul-rasul Allah yang banyak itu pula seorang rasul Allah yang bernama Yunus.
“Seketika dia lari kepada kapal yang sarat."
(ayat 140)
Maksud lari di sini ialah lari atau mengelakkan diri dari kewajiban. Seumpama seorang prajurit, ketika menghadapi musuh di medan perang besar, tiba-tiba menghilang keluar dari dalam barisan lalu bersembunyi entah ke mana. Atau sebagai seorang yang tengah menjalani hukuman kurungan, sebelum masa hukuman habis dia lari. Maka diceritakanlah bahwasanya Nabi Yunus diperintah Allah ﷻ melakukan dakwah kepada kaumnya di negeri Ninive itu. Tetapi rupanya seruan beliau tidak diacuhkan oleh kaumnya, sehingga beliau iba hati, lalu merajuk dan segera meninggalkan negeri itu. Ada rasa kecewa, ada rasa marah, sehingga timbul perasaannya, lebih baik negeri ini ditinggalkan saja. Dan mungkin juga tidak kuat menghadapi rintangan, keingkaran, dan ke-durhakaan kaumnya yang tidak mau diberiteguran itu. Dia terus meninggalkan negeri itu dan berjalan menuju tepi laut.
Sesampai di tepi laut kelihatan sebuah kapal yang telah hendak membongkar sauhnya akan mulai berlayar meninggalkan pelabuhan itu menuju negeri lain. Tetapi tidaklah terpikir olehnya, bahwa kapal itu sangat sarat, karena telah banyak penumpang lain. Apatah lagi kapal di zaman itu masih kecil-kecil. Yang dia pikirkan rupanya hanya satu hal, yaitu lekas berlayar meninggalkan negeri itu. Karena ada kapal yang segera akan berlayar ke sanalah dia segera naik dan hendak menumpang.
Segeralah kapal berlayar beberapa lama, ternyata datanglah ombak dan gelombang yang kian lama kian besar. Saratnya kapal dengan muatan amat membahayakan kapal itu. Jika datang alun dan gelombang yang besar, kapal itu bisa saja tenggelam. Maka berkatalah nakhoda kapal tersebut, bahwa agar selamat hendaklah isi kapal dikurangi. Mesti ada orang yang dikeluarkan dari dalam kapal itu. Dan untuk menentukan siapa yang mesti dikeluarkan akan diadakan undian.
“Maka dia pun berundi."
(pangkal ayat 141)
Yaitu bahwa Nabi Yunus pun turut dalam undian itu.
“Lalu dia terhitung orang kalah."
(ujung ayat 141)
Seisi kapal tahu bahwa dia seorang yang saleh. Dan dia pun tidak pula ragu-ragu buat menjalankan keputusan. Tidak ditunggunya lama, melompatkan dia ke dalam laut. Seekor ikan Nun, atau ikan yang sangat besar telah menunggu dengan mengangakan mulutnya, sehingga setelah Nabi Yunus jatuh ke laut, ikan besar itu telah menyambutnya dengan mengangakan mulut, lalu ditelannya dengan tidak memakan atau mengunyah badannya sedikit jua pun, sehingga sebulat badan jatuh ke dalam perut ikan itu.
“Maka ditelanlah dia oleh ikan."
(pangkal ayat 142)
Apakah ikan ini ikan paus, atau ikan lain yang sama besarnya dengan ikan paus atau lebih besar, tidaklah diterangkan dalam Al-Qur'an. Yang terang disebut namanya ialah ikan Nun. Sebab itu Nabi Yunus itu disebut juga Dzin Nuun. Artinya yang empunya Nun.
“Sedang dia adalah orang yang disesali."
(ujung ayat 142)
Artinya bahwa keadaan dia lari meninggalkan kewajiban karena jengkel melihat perangai bangsanya itu adalah perbuatan yang sangat disesali, baik oleh Allah ﷻ ataupun oleh masyarakat, ataupun oleh dirinya sendiri.
“Maka kalau bukanlah dia sesungguhnya seorang di antara orang yang bertasbih."
(ayat 143)
Tafsir ayat ini ialah Yunus itu adalah seorang yang selama ini selalu bertasbih kepada Allah ﷻ, bahkan di dalam perut ikan itu pun dia selalu bertasbih kepada Allah.
“Tidak ada Tuhan selain Engkau, amat sucilah Engkau, sesungguhnya aku inilah yang berada dalam keadaan zalim." (al-Anbiyaa': 87)
Doanya itu didengar oleh Allah ﷻ, maka dia pun dibebaskan. Kalau tidak,
“Niscaya akan beitaiut-lanul dia dalam penut ikan itu sampai hati manusia akan dibangkitkan."
(ayat 144)
Itulah kata-kata yang halus sebagai ganti kata mati. Sebab ikan itu sendiri pun tentu tidak akan hidup sampai hari Kiamat. Lantaran itu maka badannya akan cair dalam perut ikan itu.
Setelah terpenjara dalam perut ikan itu beberapa lamanya, tidak ditegaskan dalam Al-Qur'an berapa lama di perut ikan itu dan
tidak pula ada hadits yang shahih dari Nabi. Akhirnya beliau dikeluarkan.
“Maka Kami tempatkanlah dia ke daerah yang tandus."
(pangkal ayat 145)
Tandus, karena di tepi lautan jaranglah terdapat tempat yang subur ditumbuhi kayu-kayuan, karena di sana hanyalah pasir semata-mata yang banyak.
“Sedang dia adalah dalam keadaan sakit-sakit “
(ujung ayat 145)
Tentu saja sudah suatu pertolongan istimewa dari Allah jika beliau masih hidup keluar dari dalam perut ikan itu. Kita dapat memerhatikan kapal-kapal selam yang dibuat manusia, meniru susunan kejadian ikan. Dalam kapal selam itu sangat panas, karena udara sangat terbatas. Zat asam sangat berkurang, dan kalau zat asam itu sudah habis diisap, manusia akan mati lemas. Maka sebelum zat asam (zuurstoj) itu habis, dia telah dilemparkan oleh ikan ke tepi pantai. Sudah pasti bahwa dia sangat payah, tidak dapat makan dan minum dalam perut ikan.
“Maka Kami tumbuhkanlah untuk dia sebatang pohon kundut."
(ayat 146)
Kundur ialah semacam labu. Ada labu yang berupa urat akar yang tidak berbatang tegak. Tetapi ada lagi labu yang berbatang, dinamai juga kundur.
Khasiat buah kundur atau labu batang itu amat baik, dia membawa khasiat dingin. Mungkin dia telah ditumbuhkan Allah ﷻ terlebih dahulu sebelum Yunus dilemparkan ke sana, meskipun tanah itu tandus. Karena hal demikian bagi Allah ﷻ mudah saja, jika buah kundur telah masak dengan baik, isinya dapat dimakan seumpama memakan bubur. Maka badan Nabi Yunus yang tadinya lemah, akan berangsur kuat lantaran memakannya.
“Dan Kami utuslah dia kepada seratus ribu atau lebih."
(ayat 147)
Artinya, bahwa setelah badannya sehat dan kuat kembali, dia diperintah Allah ﷻ melaksanakan perintah yang dipikulkan kepadanya, yaitu mendatangi dan melakukan dakwah kepada kaumnya di negeri Ninive itu, yang jumlahnya 100.000 orang atau lebih. Artinya lebih dari seratus ribu, kurang tidak. Tugas itu pun dilaksanakannya dengan baik karena kesalahan yang telah diperbuatnya dahulu itu, lari meninggalkan tugas karena murka atau iba hati kepada kaumnya, telah menginsafinya dan berjanji akan mengubahnya.
“Maka berimanlah mereka."
(pangkal ayat 148)
Yaitu kaum Nabi Yunus yang lebih dari seratus ribu itu, semua mereka pun telah beriman. Kedua pihak, baik Yunus sebagai nabi atau kaumnya yang lebih seratus ribu itu sudah sama-sama insaf akan kesalahan masing-masing. Nabi Yunus pun tidak suka marah-marah lagi. Sebab itu berhasillah usaha Nabi Yunus karena pengalaman yang pahit itu telah dilaluinya.
“Lalu Kami berilah mereka nikmat sampai kepada suatu waktu tertentu."
(ujung ayat 148)
Waktu tertentu ialah seketika ajal mereka masing-masing telah sampai, maka waktu itulah baru habis nikmat di dunia dan akan disambut lagi dengan nikmat di akhirat kelak.
Apabila kita renungkan ayat-ayat yang menceritakan Nabi Yunus ini, ada dua hal yang ditonjolkan tentang kelebihannya. Pertama ialah karena dia selalu bertasbih kepada Allah ﷻ Lantaran itu dia selamat. Kedua setelah dia sembuh dari sakitnya dia diutus kepada seratus ribu lebih kaumnya, dan mereka pun beriman. Jelas di sini bahwa kedudukan beliau tidak sama dengan nabi-nabi yang dahulu diceritakan darinya sejak Nuh, Ibrahim, Musa dan Harun, Luth dan Ilyas, yang kepada mereka sampai diucapkan “Selamat sejahtera “. Barangkali sebabnya ialah karena beliau meninggalkan tugas, atau dalam bahasa yang agak kasar boleh dikatakan mengelak dari tanggung jawab pada permulaan langkah. Martabat beliau sebagai seorang rasul Allah dapat beliau perbaiki setelah dia sembuh dan berhasil menanamkan iman kepada seratus ribu lebih kaumnya itu dan telah memperbaiki kedudukannya, namun cacat yang bermula itu dengan secara adil disebutkan juga oleh Allah ﷻ, untuk jadi peringatan bagi tiap-tiap pejuang yang menyambung tugas rasul-rasul dan nabi-nabi Allah.
The Story of Yunus
Allah tells,
وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ
And verily, Yunus was one of the Messengers.
We have already discussed the story of Yunus, peace be upon him, in Surah Al-Anbiya' (21:87-88)
In the Two Sahihs it is reported that the Messenger of Allah said:
مَا يَنْبَغِي لِعَبْدٍ أَنْ يَقُولَ أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى
It is not right for any person to say I am better than Yunus bin Matta.
إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ
When he ran to the laden ship.
Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, said,
It was filled with cargo
فَسَاهَمَ
Then he (agreed to) cast lots,
means, to draw lots.
فَكَانَ مِنْ الْمُدْحَضِينَ
and he was among the losers.
means among those who have been overcome.
This was because the ship was being pounded by the waves on all sides, and they were at risk of drowning, so they drew lots, and whoever lost would be thrown overboard so as to lighten the load. The Prophet of Allah Yunus, peace be upon him, lost the draw three times, but they did not want to throw him overboard. He took off his garment so that he could throw himself into the sea, and they tried to stop him.
فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ
Then a (big) fish swallowed him as he had done an act worthy of blame.
Then Allah commanded a large fish from the Green Sea (i.e., Mediterranean Sea) to cleave the oceans and come and swallow Yunus, peace be upon him, without cutting his flesh or breaking his bones. The fish came and Yunus, peace be upon him, threw himself overboard, and the fish swallowed him and took him away, traveling through all the seas with him. When Yunus had stayed for some time in the fish's belly, he thought that he had died; then he moved his head and legs and arms, and ﷺ that he was alive. He prayed in the belly of the fish, and one of the things he said in his main prayer was:
O Lord, I have taken as a place of worship to You a place which no other person has reached.
They differed as to how long he spent in the belly of the fish.
Some said three days; this was the view of Qatadah.
Some said seven days; this was the view of Ja`far As-Sadiq, may Allah be pleased with him.
Some said forty days; this was the view of Abu Malik.
Mujahid said, narrating from Ash-Sha`bi, It swallowed him in the morning and cast him forth in the evening.
And Allah knows best how long exactly was.
Allah says,
فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنْ الْمُسَبِّحِينَ
لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
Had he not been of them who glorify Allah, He would have indeed remained inside its belly (the fish) till the Day of Resurrection.
It was said that, if he had not already done righteous deeds during his time of ease.
This was the view of Ad-Dahhak bin Qays, Abu Al-`Aliyah, Wahb bin Munabbih, Qatadah and others, and it was the view favored by Ibn Jarir.
This is what is indicated in the authentic Hadith which we quote below, if Allah wills. In a Hadith narrated from Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, he said:
تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّة
Remember Allah during times of ease and He will remember you during times of difficulty.
And it was said that what was meant by the Ayah:
فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنْ الْمُسَبِّحِينَ
(Had he not been of them who glorify Allah), was the meaning of the following Ayat:
فَنَادَى فِى الظُّلُمَـتِ أَن لاَّ إِلَـهَ إِلاَّ أَنتَ سُبْحَـنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ الظَّـلِمِينَ
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَـهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذلِكَ نُنجِـى الْمُوْمِنِينَ
But he cried through the darkness (saying):
La ilaha illa Anta, You are glorified! Truly, I have been of the wrongdoers.
So We answered his call, and delivered him from the distress. And thus We do deliver the believers. (21:87-88)
This was the view of Sa`id bin Jubayr and others.
Ibn Abi Hatim recorded that Anas bin Malik, may Allah be pleased with him -- and I do not know of anything narrated from Anas that he did not attribute to the Messenger of Allah:
إِنَّ يُونُسَ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَةُ وَالسَّلَمُ حِينَ بَدَا لَهُ أَنْ يَدْعُوَ بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ فَقَالَ اللْهُمَّ لَا إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
فَأَقْبَلَتِ الدَّعْوَةُ تَحُفُّ بِالْعَرْشِ قَالَتِ الْمَلَأيِكَةُ يَا رَبِّ هَذَا صَوْتٌ ضَعِيفٌ مَعْرُوفٌ مِنْ بِلَأدٍ بَعِيدَةٍ غَرِيبَةٍ
فَقَالَ اللهُ تَعَالَى أَمَا تَعْرِفُونَ ذَلِكَ
قَالُوا يَا رَبِّ وَمَنْ هُوَ
قَالَ عَزَّ وَجَلَّ عَبْدِي يُونُسُ
قَالُوا عَبْدُكَ يُونُسُ الَّذِي لَمْ يَزَلْ يُرْفَعُ لَهُ عَمَلٌ مُتَقَبَّلٌ وَدَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ
قَالُوا يَا رَبِّ أَوَلَاا تَرْحَمُ مَا كَانَ يَصْنَعُ فِي الرَّخَاءِ فَتُنْجِيَهُ فِي الْبَلَاءِ
قَالَ بَلَى
فَأَمَرَ الْحُوتَ فَطَرَحَهُ بِالْعَرَاء
When it occurred to the Prophet Yunus, upon him be peace, to call upon Allah in these words when he was in the belly of the great fish, he said,
La ilaha illa Anta, You are glorified! Truly, I have been of the wrongdoers.
This call went and hovered around the (mighty) Throne, and the angels said, O Lord, this is the voice of one who is weak but known, in a faraway strange land.
Allah, may He be exalted, said, How do you know this?
They said, O Lord, who is he?
Allah, may He be exalted, said, My servant Yunus.
They said, Your servant Yunus, from whom there kept coming acceptable deeds and supplications which were answered!
They said, O Lord, will You not have mercy on him for what he did during his time of ease, and save him from this trial and tribulation?
He said, Of course.
So, He commanded the great fish, and it cast him forth on the naked shore.
Allah says
فَنَبَذْنَاهُ
But We cast him forth,
meaning, `We threw him out,'
بِالْعَرَاء
on the naked shore,
Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, and others said that this refers to land in which there is no vegetation and no buildings.
وَهُوَ سَقِيمٌ
while he was sick,
means, when he was weak of body.
وَأَنبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِّن يَقْطِينٍ
And We caused a plant of gourd to grow over him.
Ibn Mas`ud and Ibn Abbas, may Allah be pleased with them both, Mujahid, Ikrimah, Sa`id bin Jubayr, Wahb bin Munabbih, Hilal bin Yasaf, Abdullah bin Tawus, As-Suddi, Qatadah, Ad-Dahhak, Ata' Al-Khurasani and several others, all said that;
gourd means squash.
Some of them mentioned that the squash has a number of benefits:it grows quickly, its leaves offer shade because of their large size and smooth texture, flies do not come near it, and its fruits provide good nourishment; they may be eaten raw or cooked, and both the pulp and the peel may be eaten.
It was reported that the Messenger of Allah used to like squash and would look for it wherever it was on the serving dish.
وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَى مِيَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ
And We sent him to a hundred thousand (people) or even more.
It is as if he was commanded, after he came forth from the fish, to go back to those to whom he had been sent in the first place, and they all believed in him.
أَوْ يَزِيدُونَ
or even more.
Makhul said,
They numbered one hundred and ten thousand.
This was reported by Ibn Abi Hatim.
Ibn Jarir said,
Some of the scholars of Arabic, the people of Basrah, said that this means up to one hundred thousand or more.
Ibn Jarir interpreted this Ayah as he interpreted the Ayat:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِّن بَعْدِ ذلِكَ فَهِىَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً
Then, after that, your hearts were hardened and became as stones or even worse in hardness. (2:74),
إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً
Behold! a section of them fear men as they fear Allah or even more. (4:77)
and,
فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى
And was at a distance of two bows' length or (even) nearer. (53:9)
The meaning is,
not less than that, but rather more.
فَأمَنُوا
And they believed;
means, these people to whom Yunus, peace be upon him, had been sent all believed.
فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ
so We gave them enjoyment for a while.
means, until the time of their appointed end.
This is like the Ayah,
فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ ءَامَنَتْ فَنَفَعَهَأ إِيمَانُهَا إِلاَّ قَوْمَ يُونُسَ لَمَّأ ءَامَنُواْ كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الخِزْىِ فِى الْحَيَوةَ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ
Was there any town (community) that believed, and its faith (at that moment) saved it -- except the people of Yunus; when they believed, We removed from them the torment of disgrace in the life of the (present) world, and permitted them to enjoy for a while. (10:98)
And indeed Jonah was one of the messengers;
Commentary
The last event described in this Sarah is that of Sayyidna Yunus (علیہ السلام) . This event, along with its details, has appeared towards the later part of Surah Yunus (please see Ma’ ariful-Qur’ an, English, Volume IV, pages 573-588). However, a few necessary comments about these particular verses are being given below.
In the opening verse (139), it was said: وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ (And surely, Yunus (علیہ السلام) is from among the messengers). Was Sayyidna Yunus (علیہ السلام) ordained as a messenger much earlier than his encounter with the fish, or did it come to pass after that? This issue has been a subject of debate among some commentators and historians. Some of them think that he was made a messenger after this event. But, in view of the apparent order and style of the noble Qur'an, and from most Hadith narrations, it is more likely that he was invested with the mission of prophethood earlier. The event of the fish came later.








