Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
وَإِنَّ
dan sesungguhnya
إِلۡيَاسَ
Ilyas
لَمِنَ
benar-benar termasuk
ٱلۡمُرۡسَلِينَ
para Rasul
وَإِنَّ
dan sesungguhnya
إِلۡيَاسَ
Ilyas
لَمِنَ
benar-benar termasuk
ٱلۡمُرۡسَلِينَ
para Rasul
Terjemahan
Dan sungguh, Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul.
Tafsir
(Dan sesungguhnya Ilyas) dapat dibaca Ilyaas atau Alyaas (benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul) menurut suatu pendapat bahwa Nabi Ilyas itu adalah anak saudara lelaki Nabi Harun dan Nabi Musa. Menurut pendapat yang lain bukan; ia diutus oleh Allah kepada kaum yang tinggal di kota Ba'albak dan sekitarnya.
Tafsir Surat As-Saffat: 123-132
Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada kaumnya. 'Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Bal dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, (yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu?" Maka mereka mendustakannya-, karena itu mereka akan diseret (ke neraka). kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu): "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
Qatadah dan Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa menurut suatu pendapat, Ilyas adalah Idris. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Na'im, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Ubaidah ibnu Rabi'ah, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a. yang mengatakan bahwa Ilyas adalah Idris. Hal yang sama dikatakan pula oleh Ad-Dahhak. Wahb ibnu Munabbih mengatakan bahwa dia adalah Ilyas ibnu Nissi ibnu Fanhas ibnul Aizar ibnu Harun ibnu Imran.
Allah mengutusnya kepada kaum Bani Israil sesudah Hizqil a.s. (Hezkiel), saat itu kaumnya menyembah berhala yang disebut Ba'l. Lalu Ilyas menyeru mereka untuk menyembah Allah, dan mencegah mereka dari menyembah kepada selain Allah. Pada mulanya raja mereka telah beriman, kemudian murtad dan terus berkelanjutan dalam kesesatannya bersama kaumnya, sehingga tiada seorang pun dari mereka yang beriman. Maka Nabi Ilyas berdoa kepada Allah untuk memberikan pelajaran terhadap kaumnya, maka Allah menahan hujan dari mereka selama tiga tahun.
Akhirnya mereka meminta kepada Nabi Ilyas agar melenyapkan hal tersebut dari mereka; dan mereka menjanjikan kepadanya bahwa jika berhasil, maka mereka akan beriman kepadanya, yaitu jika mereka kembali memperoleh hujan. Lalu Nabi Ilyas berdoa kepada Allah memohon hujan, maka turunlah hujan kepada mereka sebagaimana biasanya. Akan tetapi, mereka tetap dalam kesesatannya dan bergelimang dalam kekafirannya seperti semula.
Kemudian Nabi Ilyas memohon kepada Allah agar Dia mencabut nyawanya kembali kepada-Nya, dan saat itu telah dibesarkan oleh Ilyasa" ibnu Akhtub a.s. Maka Allah memerintahkan kepada Ilyas agar pergi ke suatu tempat; bilamana ada sesuatu yang datang kepadanya, janganlah ia takut, dan hendaknya ia menaikinya tanpa ragu-ragu. Maka datanglah kepadanya di tempat tersebut seekor kuda dari api, lalu ia menaikinya, dan Allah ﷻ memberi Ilyas pakaian dari cahaya dan memberinya sayap.
Sejak itu Ilyas terbang bersama para malaikat, menjadi manusia penghuni langit, adakalanya juga berada di bumi. Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Wahb ibnu Munabbih dari Ahli Kitab; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui kebenarannya. Firman Allah ﷻ: (Ingatlah) ketika ia berkata kepada kautnya,-Mengapa kamu tidak bertakwa?" (Ash-Shaffat: 124) Artinya, mengapa kalian tidak takut kepada Allah ﷻ karena kalian menyembah selain-Nya?. Patutkah kamu menyembah Ba'l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta? (As- Saffat:125) Ibnu Abas Mujahid, Ikrimah, Qatadah, dan As-Saddi mengatakan Bal adalah berhala. Qatadah dan Ikrimah berkata itu menurut dialek Yaman, dalam riwayat lain Qatadah berkata itu menurut dialek suku Sunuah.
Ibnu Ishaq mengabarkan dari sebagian ahli ilmu bahwa Bal adalah berhala wanita. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan dari Bapaknya, Bal adalah nama patung yang disembang orang Madinah, dinamakan dengan Balabak terletak di sebelah barat Dimasyq. Firman Allah ﷻ: Patutkah kamu menyembah Ba'l. (Ash-Shaffat: 125) Yakni mengapa kamu menyembah berhala? dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu.
Dialah yang pantas disembah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Kemudian disebutkan dalam firman selanjutnya: Maka mereka mendustakannya, karena itu mereka akan diseret (ke neraka). (Ash-Shaffat: 127) Yaitu untuk mendapat azab di hari perhitungan amal perbuatan nanti. kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa) (Ash-Shaffat: 128) Yakni di antara mereka yang mengesakan Allah, istisna atau pengecualian di sini bersifat munqati' dari musbat. Firman Allah ﷻ: Dan Kami abadikan untuk Ilyas di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (Ash-Shaffat: 129) Maksudnya, pujian yang baik dan sebutan yang harum. (yaitu),Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas. (Ash-Shaffat: 130) Ungkapan ini menurut dialek Bani Asad, misalnya Ismail dikatakan Ismain; sebagian Bani Tamim mendendangkan suatu bait syair berkenaan dengan biawak yang berhasil mereka buru: ...
Mereka mengatakan ketika kami datang, "Ini, demi Tuhan Baitullah, adalah orang-orang Bani Israil" Dikatakan Mikal, Mikail, dan Mikain, sebagaimana dikatakan Ibrahim dan Abraham, dan Israil dikatakan Israin, Tursaina dikatakan Tur Sinina. Semuanya itu diperbolehkan dan menunjukkan makna yang sama Sebagian ulama membacanya Salamun -Ala Idrasin, yang artinya 'kesejahteraan dilimpahkan kepada Idris." Ini menurut qiraat sahabat Ibnu Masud r.a. Yang lainnya ada yang membacanya Ali Yasin, dengan pengertian keluarga Muhammad ﷺ Firman Allah ﷻ: Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. (Ash-Shaffat: 131-132) Tafsir mengenainya telah di sebutkan di atas; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.".
123. Dan sebagaimana Musa dan Harun, sungguh Nabi Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul dari kalangan Bani Israil yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan risalah kepada penduduk Baalbek (sekarang wilayah Lebanon). 124-126. Ingatlah ketika dia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kamu tidak bertakwa, mengesakan, dan menaati perintah Allah' Dialah Tuhan yang telah menciptakan kamu. Patutkah kamu menyembah Ba'l, seonggok benda mati yang tidak bisa memberi manfaat dan menolak malapetaka, dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta yang ciptaannya tidak bisa ditandingi oleh siapa pun' Pencipta itu adalah Allah, Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yang terdahulu, yaitu Nabi Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, Yusuf, Musa, Harun, dan lainnya. '.
Pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa Ilyas adalah seorang rasul yang diutus Allah. Menurut ath-thabari, Ilyas adalah putra Yasin bin Finhas bin 'Iyzar bin Nabi Harun saudara Nabi Musa. Masa kenabiannya setelah kenabian Nabi Sulaiman. Ia diutus Allah kepada Bani Israil ketika kaumnya itu tidak lagi menyembah Allah, tetapi menyembah berhala. Raja-raja mereka juga mendukung agama berhala tersebut, bahkan membangun tempat-tempat khusus penyembelihan hewan untuk dipersembahkan kepada berhala tersebut.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
CERITA NABI MUSA DAN HARUN
"Dan sesungguhnya telah Kami limpahkan nikmat Kami kepada Musa dan Hanun."
(ayat 114)
Di antara ayat ini dengan ayat 112 sebelumnya, yaitu karunia nubuwwat yang di-berikan kepada Ishaq, ada pertaliannya. Demikian juga dengan ayat 113. Di dalam ayat 113 itu diterangkan bahwa dari keturunan keduanya, yaitu Isma'il dan Ishaq ada yang suka berbuat kebajikan dan ada juga yang zalim. Ayat 114 ini disambungkan dengan yang sebelumnya dengan huruf waw yang berarti dan. Lalu disebut Musa dan Harun, sedang Musa dan Harun ialah keturunan Ishaq. Ishaq beranak Ya'qub, Ya'qub beranak Yusuf. Di zaman Yusuf berkuasa di Mesir, dipanggilnya ayahnya, Ya'qub, dan kesebelas saudaranya agar pindah ke Mesir. Inilah yang dinamai Bani Israil. Dari kalangan Bani Israil yang berada di Mesir inilah lahir Musa dan Harun, dan Musa dibantu oleh Harun inilah yang ditugaskan Allah ﷻ, dilimpahkan Allah nikmat kepada keduanya, menjadi nabi dan rasul akan memimpin kaumnya, sehingga mereka terlepas dari kezaliman Fir'aun.
“Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya berdua."
(pangkal ayat 115)
Yaitu kedua belas suku Bani Israil
“Dari bencana yang besar."
(ujung ayat 115)
Adalah bencana yang besar yang menimpa Bani Israil beratus tahun lamanya tinggal menumpang di negeri Mesir itu. Sejak Yusuf meninggal dunia kekuasaan Bani Israil tidak ada lagi di Mesir. Kian lama mereka kian dipandang hina dan ditindas. Terutama setelah Fir'aun bermimpi bahwa kekuasaannya akan dihancurleburkan oleh seorang anak yang akan lahir dari kalangan Bani Israil. Lalu dia memerintahkan membunuhi segala anak laki-laki dan membiarkan tinggal hidup orang-orang perempuan. Dan perempuan-perempuan itu karena laki-laki sudah berkurang dan perempuan sudah lebih banyak, hendak dileburkan diambil gundik oleh golongan Fir'aun, sehingga jika beranak kelak, anak dari orang Qubthi golongan Fir'aun yang akan bertambah banyak, Maka dengan diutus Allah ﷻ, Musa dibantu oleh saudaranya Harun, nasib Bani Israil di Mesir itu telah dapat diperbaiki dan bencana besar itu telah dapat dielakkan
di tengah lautan, bertautlah kembali lautan itu sebagaimana sediakala dan tenggelamlah Fir'aun dan bala tentaranya.
“Dan Kami tolong mereka."
(pangkal ayat 116)
Diselamatkan dengan dibawanya Bani Israil itu oleh Musa keluar dari Mesir, menye-berangi Lautan Qulzum, dan seketika mereka telah dikejar oleh Fir'aun dengan bala ten-taranya dengan menghambat mereka itu, maka Allah menyuruh Musa membelah lautan dengan tongkatnya, maka belahlah laut itu dan menyeberanglah Bani Israil di tengah lautan yang sedang kering itu di bawah pimpinan Musa dan Harun sehingga selamat sampai di seberang.
“Maka jadilah mereka orang-orang yang menang."
(ujung ayat 116)
Karena setelah mereka sampai di seberang, lalu disusul dan dikejar oleh Fir'aun bersama bala tentaranya. Sesampai mereka
“Dan Kami berikan kepada keduanya sebuah kitab “
(pangkal ayat 117)
Itulah kitab yang bernama Taurat, yang diberikan kepada Musa seketika Musa dipanggil menghadap Allah di atas Bukit Thursina, atau Thursinina, ketika empat puluh hari beliau bertekun di sana menunggu perintah Allah ﷻ Kitab itu ialah
“Yang memberikan kejelasan."
(ujung ayat 117)
Kejelasan itu ialah tentang tuntunan hidup, baik dalam perhubungan dan ibadah kepada Allah dan menghentikan ibadah kepada yang selain Allah, ataupun tentang peraturan hidup bermasyarakat, hormat kepada ibu dan bapak, hidup rukun dengan sesama manusia, sehingga kaum Bani Israil dapat berdiri sendiri, mempunyai kepribadian, sesudah beratus tahun menjadi bangsa yang tertindas.
“Dan Kami beni petunjuk keduanya kepada jalan yang lurus."
(ayat 118)
Mereka diberi petunjuk jalan yang lurus, karena kitab bukan semata-mata mereka baca, melainkan dituruti dengan pimpinan dan bimbingan. Kitab ibarat teori, cara menjalankannya ialah praktik. Praktik itulah yang membawa kepada jalan yang lurus, karena selalu di dalam menghadapi segala persoalan dihadapi dengan mengharapkan pertolongan dari Allah. Sebab Nabi Musa memimpin kaumnya sama juga dengan Nabi Muhammad, yaitu membentuk suatu masyarakat yang berdisiplin, patuh mengikuti perintah. Cuma kaumnya Bani
Israil jualah yang kerap kali keras kepala dan mungkir akan janjinya.
“Dan Kami tinggalkan untuk keduanya (kenangan) untuk yang datang kemudian."
(ayat 119)
Maka sebagaimana juga nabi-nabi yang telah terdahulu tadi, sejak Nabi Nuh, dan Ibrahim sebagai nabi-nabi terbesar, Musa dan Harun pun telah meninggalkan kesan dan kenangan yang baik pada manusia yang datang belakang. Memang ajaran-ajaran agamalah yang besar pengaruhnya membentuk budi pekerti manusia di dalam alam ini zaman demi zaman.
“Selamat sejahteratah atas Musa dan Harun."
(ayat 120)
Itulah ucapan penghormatan tertinggi yang telah diberikan Allah dan dipujinya ke-pada Nabi kita Muhammad ﷺ di dalam wahyu kepadanya atas kedua Nabi yang berjasa itu. Lalu disebutkan Allah ﷻ pula penghargaan-Nya terhadap tiap-tiap orang yang berjasa.
“Sesungguhnya demikianlah Kami memberi ganjaran orang-orang yang berbuat kebajikan."
(ayat 121)
Karena mereka telah berjuang mengatasi segala macam kesulitan, menghadapi seorang raja penguasa yang merasa dirinya sangat tinggi, sehingga berani mengatakan bahwa dia adalah tuhan dan tidak mau menerima seketika Musa mengatakan bahwa ada satu Tuhan yang menguasai seluruh alam ini, yang kekuasaan Fir'aun tidak ada arti apa-apa dibandingkan dengan kemahakuasaan Allah itu.
Iman mereka yang sangat teguh, keyakinan yang tidak dapat digoyangkan sedikit jua pun akan kebenaran dan kesucian perjuangan mereka, itulah pokok utama yang menyebabkan berhasilnya mereka dan kemenangan yang gilang-gemilang.
***
“Sesungguhnya mereka berdua adalah termasuk hamba-hamba Kami yang beriman."
(ayat 122)
NABI ILYAS
“Dan sesungguhnya Ilyas adalah termasuk orang-orang yang diutus jua."
(ayat 123)
Dua kali kita bertemu nama Ilyas di dalam Al-Qur'an. Pertama dalam surah al-An'aam yang diturunkan di Mekah juga, di ayat 85. Serentetan dengan nama Nabi Zakaria, Yahya dan Isa. Di belakang Isa disebut Ilyas dan dikatakan bahwa semua beliau itu adalah orang-orang yang saleh belaka.
Yang kedua ialah dalam ayat 123 surah ash-Shaaffaat yang tengah kita tafsirkan ini.
“Seketika dia berkata kepada kaumnya, “Apakah kamu tidak takut?"
(ayat 124)
Kalimat takwa sebagaimana selalu kita jelaskan, bukan berarti takut semata-mata. Artinya yang lebih ialah memelihara hubungan dengan Allah, karena harap akan ridha-Nya dan takut akan murka-Nya. Tetapi dalam ayat ini kita pakai arti takut karena kaumnya telah melanggar ketentuan Allah ﷻ, melanggar ketentuan yang telah disampaikan oleh sekalian rasul Allah, karena mereka telah memuja dan menyembah kepada yang selain Allah.
“Apakah Ba'al yang kamu seru dan kamu abaikan yang sebaik-baik pencipta?"
(ayat 125)
Ba'al adalah nama berhala yang disembah oleh bangsa Poenicie dahulu kala yang hidup di bagian pantai Arabia Utara. Mereka adalah bangsa pelayar. Sampai sekarang masih didapati sebuah bangunan yang dikenal dengan nama Heliopolis, terletak di negeri yang bernama Ba'albek atau Ba'albaka dalam wilayah negara Libanon sekarang ini, yang menurut cerita orang pada asalnya ialah tempat menyembah Ba'al.
Ba'al itu sendiri adalah bahasa Arab yang mempunyai arti dua tiga. Satu di antara artinya ialah suami. Artinya yang lain ialah tanah ketinggian, dan berarti juga Tuhan. Arti yang terakhir inilah yang mereka pakai untuk barang yang mereka puja itu, mereka rupakan dan gambarkan sebagai suatu patung. Ketiga makna tersebut tadi, yang diuraikan oleh Raghib al-Ashfahani dalam kamusnya dihadapkanlah kepada berhala tersebut. Sebab dia dianggap yang tertinggi disebutlah dia Ba'al. Sebab dia dianggap sebagai suami yang melindungi anak istrinya dianggappya dia Ba'al. Sebab dia dianggap Tuhan, disebutlah dia Ba'al.
“(Yaitu) Allah Tuhan kamu."
(pangkal ayat 126)
Allah itulah yang telah kamu ganti dengan Ba'al yang kamu buatkan patungnya itu. Tuhan kamu,
“Dan Tuhan dari nenek moyang kamu yang dulu-dulu."
(ujung ayat 126)
Disebutkan juga bahwa Allah pun Tuhan dari nenek moyang kamu yang dulu-dulu, ialah untuk menyumbat mulut mereka yang selalu mengemukakan alasan bahwa mereka menyembah sesuatu selain Allah karena mereka dapati nenek moyang mereka telah berbuat demikian. Selalu alasan yang dikemuka-kan oleh orang-orang yang mempersekutukan Allah itu untuk mempertahankan pendiriannya, bahwa begitu mereka dapati nenek moyang. Mereka tidak mau mempergunakan pikiran sendiri.
“Maka mereka dustakan Dia."
(pangkal ayat 127)
Yaitu mereka anggap dusta saja seruan yang disampaikan oleh Nabi Ilyas itu dan mereka masih terus mempertahankan berhala Ba'al itu.
“Maka sesungguhnya mereka akan dihadirkan."
(ujung ayat 127)
Mereka akan dihadirkan kelak di hari akhirat untuk menerima ganjaran adzab yang setimpal atas dosa mempersekutukan Allah ﷻ atau mendustakan Allah dan mengganti-nya dengan patung dan berhala.
“Kecuali hamba-hamba Allah yang sudah disucikan."
(ayat 128)
Yaitu bahwa yang akan dihadirkan di hadapan Mahkamah Rabbi di hari akhirat esok ialah segala orang yang telah mempersekutukan Allah dengan yang lain, atau telah meng-abaikan Allah, sebab mereka tukar dengan berhala. Adapun orang yang telah disucikan, yang imannya teguh kepada Allah, yang tidak terpesona atau terseret ke dalam kesesatan dan mendustakan rasul, tak usah cemas. Karena mereka tidaklah akan dihadirkan dalam majelis itu. Mereka akan mendapat tempat yang mulia di sisi Allah bersama nabi-nabi dan rasul-rasul. Mereka orang suci.
“Dan Kami tinggalkan atasnya (sebutan) pada yang datang kemudian."
(ayat 129)
Artinya sebagaimana yang tersebut pada nabi-nabi yang terdahulu tadi begitu pulalah yang terjadi pada Ilyas, bahwa dia telah meninggalkan jejak sebutan yang baik atas perjuangannya memberi ingat kaumnya yang menyembah berhala Ba'al itu.
“Selamat sejahtera atas Yaasin."
(ayat 130)
Ucapan selamat sejahtera dari Allah sendiri terhadap seorang di antara rasul-Nya itu, yang di tempat lain disebutkan satu di antara namanya yaitu Ilyas, dan di sini disebut namanya yang satu lagi, yaitu II-Yaasin. Sebagaimana Rasui-Nya yang terakhir bernama Muhammad, dan pernah juga disebut namanya yang lain Ahmad. Negeri Mekah pernah juga disebut namanya yang lain Thurisinina, Nabi Isa anak Maryam juga disebut namanya yang lain al-Masih.
“Sesungguhnya Kami, demikianlah Kami memberikan ganjaran atas orang-orang yang berbuat kebajikan, “
(ayat 131)
Demikianlah pujian terpuji lagi dari Allah ﷻ kepada rasul-Nya, Ilyas. Dia diakui sebagai seorang yang sangat besar jasanya. Oleh sebab itu, patutlah dia mendapat ganjaran dan penghargaan dari Allah. Karena Allah memang tidak mau melupakan jasa orang yang berjasa.
Akhirnya diberikan pujian yang lebih tinggi lagi.
“Sesungguhnya dia adalah termasuk hamba-hamba Kami yang beriman."
(ayat 132)
Ilyas
Allah says,
وَإِنَّ إِلْيَاسَ لَمِنْ الْمُرْسَلِينَ
And verily, Ilyas was one of the Messengers.
Qatadah and Muhammad bin Ishaq said,
Ilyas is another name for Idris.
Ibn Abi Hatim recorded that Abdullah bin Mas`ud, may Allah be pleased with him, said,
Ilyas is Idris.
This was also the view of Ad-Dahhak.
Wahb bin Munabbih said,
He is Ilyas bin Yasin bin Finhas bin Al-Izar bin Harun bin Imran. Allah sent him to the Children of Israel after Hizqil (Ezekiel), may peace be upon them both.
They had started to worship an idol called Ba`l, and he called them to Allah, may He be exalted, and forbade them to worship anyone besides Him. Their king believed in him, then he apostatized, and they persisted in their misguided ways, and not one person among them believed in him. So he prayed to Allah against them, and Allah withheld the rain from them for three years.
Then they asked him to relieve them from that, and promised that they would believe in him if rain came to them. So he prayed to Allah for them, and the rains came, but they persisted in their evil ways of disbelief. So he asked Allah to take him to Him.
Al-Yasa` bin Akhtub had grown up under his care, may peace be upon them both.
So Ilyas was commanded to go to such and such a place, and whatever mount came to him, he was to ride on it and not to give it away. A horse of fire was brought to him, so he rode it, and Allah clothed him with light and covered him with feathers, and he used to fly with the angels as a human angel, heavenly yet also earthly.
This is what was narrated by Wahb bin Munabbih from the People of the Book;
Allah knows best how true it is.
إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَلَا تَتَّقُونَ
When he said to his people:Will you not have Taqwa!
means, `do you not fear Allah when you worship others instead of Him!'
أَتَدْعُونَ بَعْلً وَتَذَرُونَ أَحْسَنَ الْخَالِقِينَ
Will you call upon Ba`l and forsake the Best of creators,
Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, Mujahid, Ikrimah, Qatadah and As-Suddi said that;
the word Ba`l means lord.
Ikrimah and Qatadah said, This is the language of the people of Yemen.
According to another report from Qatadah, it is the language of Azd Shanu'ah.
Abdur-Rahman bin Zayd bin Aslam narrated from his father that;
it is the name of an idol which was worshipped by the people of a city called Ba`labak (Baalbek) which is to the west of Damascus.
Ad-Dahhak said,
It is an idol which they used to worship.
أَتَدْعُونَ بَعْلً
(Will you call upon Ba`l).
means, `will you worship an idol,'
وَتَذَرُونَ أَحْسَنَ الْخَالِقِينَ
وَاللَّهَ رَبَّكُمْ وَرَبَّ ابَايِكُمُ الاْاَوَّلِينَ
and forsake the Best of creators, Allah, your Lord and the Lord of your forefathers,
means, `He is the One Who is deserving of your worship alone, with no partners or associates.'
فَكَذَّبُوهُ فَإِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ
But they denied him, so they will certainly be brought forth,
means, for the punishment on the Day of Reckoning.
إِلاَّ عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ
Save the chosen servants of Allah.
means, those who believe in Him alone.
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الاْخِرِينَ
And We left for him among the later generations.
means, he is praised and spoken of highly.
سَلَمٌ عَلَى إِلْ يَاسِينَ
Salam (peace!) be upon Ilyasin!
Similarly, one might say for Ismail, Ismain. This is the language (dialect) of Bani Asad;
they say Mikal, Mika'il, and Mika'in.
They say Ibrahim and Ibraham; Isra'il, Isra'in; Tur Sina', Tur Sinin.
All of that is fine.
إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُوْمِنِينَ
Verily, thus do We reward the doers of good. Verily, he was one of Our believing servants.
We have already discussed the meaning of this above.
And Allah knows best.
And truly Elias (read [wa-inna Ilyaas] with the initial hamza or without [wa-inna'l-yaasa) was [also] one of the messengers. Some think that this [Elias] was the son of Aaron's brother - [Aaron] the brother of Moses; but some say that this [Elias] was some other [person], who was sent to the people living in and around Baalbak.
Commentary
Sayyidna Ilyas (علیہ السلام)
Described in the verses cited above is the fourth event relating to Sayyidna Ilyas علیہ السلام . Before we take up the explanation of these verses, a few bits of information about Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) are being given below.
Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) has been mentioned in the noble Qur'an only at two places: Firstly, in Surah Al-An` am (6:85) and secondly, in these very verses of Surah As-Saffat (37:123) and (37:130). As for the reference in Surah AI-An'am, his good name appears there only as part of a list of righteous prophets, and no event finds mention there. However, at this place in the present Surah, an event relating to his mission and call has been described very briefly.
Since details about the personal antecedents of Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) do not find mention in the noble Qur'an, nor do these appear in authentic ahadith, different sayings and variant narrations about him are found in books of Tafsir, most of which have been taken from Isra'ili narratives.
A small group of commentators holds that 'Ilyas' is simply another name of Sayyidna Idris (علیہ السلام) (Enoch), and there is no difference between these two persons. Some others have also said that there is no difference between Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) and Sayyidna Khadir (علیہ السلام) (ad-Durr-ul-Manthur, pp. 285, 286, v. 5). But, researchers have refuted these sayings. The Qur'an too has mentioned Sayyidna Idris (علیہ السلام) and Sayyidna Khadir (علیہ السلام) separately in a manner that it leaves no room for declaring these two as being the same. Therefore, what Hafiz Ibn Kathir has adjudged as correct is but that both of them are two separate messengers (al-bidayah wa-n-nihayah, p.339, v.1).
When and where did he appear?
The Qur'an and Hadith also do not tell us as to when and where he appeared. But, historical and Isra'ilite narratives almost concur that he was sent to the Bani Isra'il after Hizqil (علیہ السلام) (Ezekiel), and before Al-Yasa' (علیہ السلام) . This was a time when the kingdom of Bani Isra'il had split into two states. One part was called Yahudiyah (Judah) with its capital at Baytul-Maqdis (Jerusalem) while the other part was known as Isra'il, and its capital was Samaria (present Nablus). Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) was born at Jal` ad in Jordan. The name of the king who ruled the Isra'il has been given as Ahab in the Bible and Ajib or Akhib in Arab historical and exegetic writings. His wife Isabelle worshiped an idol called Ba'l, and it was she who had put the entire Bani Isra'il on the path of idolatry by raising a huge altar dedicated to Ba` I in the country of Isra'il. Allah Ta’ ala commanded Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) to go in that area, preach pure monotheism and dissuade Israelites from indulging in idol worship (please see Tafsir Ibn Jarir, p.53, v.23; Ibn Kathir, p.19, v.4; Tafsir Mazhari, p.134, v.8 and the Bible: Kings I: 16:29-33 and 17:1).
Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) : The struggle with his people
Very much like other noble prophets (علیہم السلام) ، Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) too had to engage in a severe struggle with his people. Since the noble Qur'an is no book of history, therefore, rather than describe details of this struggle, it restricts itself to saying only that which was necessary for taking a lesson. In other words, his people belied him, and no one except a few chosen servants of Allah listened to Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) ، therefore, they will have to face their terrible fate in afterlife.
At this stage, some commentators have described this struggle in details. Out of the customary books of Tafsir, the most exhaustive mention of Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) appears in Tafsir Mazhari with reference to ` Allamah al-Baghawi. The events mentioned there have almost all been taken from the Bible. Some parts of these events in other books of Tafsir as well have been described with reference to Wahb Ibn Munnabih and Ka'b al-Ahbar being those who report Isra'ili narratives mostly.
In sum, the common factor that emerges from all these narratives is that Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) by asking Ahab, the king of Isra'il, and his people to shun idolatry, invited them towards pure monotheism. But, except for a few votaries of truth, no one listened to him, in fact, tried to harass him in all sorts of ways, so much so that Ahab and his wife, Isabelle planned to kill him. He took refuge in a far out cave where he stayed for a considerably long period of time. After that he prayed that the people of Isra'il be seized with famine, so that he may show them some miracles at his hand for removing the famine, may be, they would, then, come to believe. So, they were struck with a famine.
After that, following a command of Allah Ta’ ala, Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) met Ahab and told him that the famine was there because of disobedience to Allah, and if he were to abstain from it even that late, that punishment could stand removed. Then this was, he told him, the best opportunity for him to test his veracity. He said, 'you say your god Ba'l has four hundred and fifty apostles in this part of Isra'il. Gather them together before me on a day of your choice. Let them offer their sacrifice in the name of Ba'l, and I shall offer my sacrifice in the name of Allah. The one whose offering the heavenly fire would come and burn to ashes will be the one whose faith will be true'. Everyone readily agreed to this proposal.
So, they gathered at Mount Carmel, the appointed place. The false apostles of Ba'l offered there sacrifice and remained busy with their entreaties before Ba'l from morning till afternoon. But, no answer came. After that, Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) offered his sacrifice whereupon came the fire from the heavens and burnt the sacrifice offered by Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) reducing it to ashes. Seeing this, many people fell prostrated in sajdah - the truth laid manifested before them. But, the false apostles of Ba'l still remained adamant. Therefore, Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) had them killed in the valley of Kishon.
After this event came heavy rains. The whole region turned verdant. But Isabelle, the wife of Ahab, was still not ready to learn her lesson. Rather than believe in the message of Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) ، she actually turned more hostile against him by preparing to have him killed. When Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) came to know about it, he left Samaria, and went into hiding once again. After the passage of some time, he started preaching in Judah, the other country of the Bani Isra'il - because, the epidemic of idolatry had gradually reached there as well. Jehuram, the king out there also did not listen to him until he was destroyed following a prophecy of Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) . A few years later, he returned to Isra'il once again, and tried to reform Ahab and his son, Ahaziah. But they continued to stick to their misdeeds until came the time when they were hit by foreign intrusions and fatal diseases. Thereafter, Allah Ta’ ala recalled His prophet back unto Him.
Is Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) alive?
Also debated among historians and commentators there is the issue whether Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) is alive, or has he died? In the lengthy narrative reported in Tafsir Mazhari with reference to 'Allamah al-Baghawi, it has also been mentioned that Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) was lifted towards the heavens mounted on a horse of fire, and that he is alive there like Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) (Mazhari, p.141, v.8). ` Allamah as-Suyati has also reported several narratives from Ibn ` Asakir, Hakim and others which indicate that he is alive. It has been reported from Kalb al-Ahbar that four prophets are still alive: two on the earth - Sayyidna Khadir and Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) ; and two in the heavens - Sayyidna 'Isa and Sayyidna Idris (علیہما السلام) (ad-durr-ul-manthur, p.285, 286, v.5). Indeed, some have gone to the extent of saying that Sayyidna Khidr and Sayyidna Ilyas (علیہما السلام) get together in Baytul-Maqdis during the month of Ramadan and keep fasts. (Tafsir Qurtubi, p.116, v.15)
But, authentic scholars like Hafiz Ibn Kathir have not declared these narratives to be sound. About narratives of this nature, he writes:
وَ ھو من الاسرایٔلیات التی لا تصعّق ولا تکذب بل الظاھر أن صحّتھا بعیدۃ (البدایۃ والنھایۃ ، ص 338 ج 1)
This is one of those Isra'ili (Judaic) narratives that are neither confirmed nor falsified. Instead, what is obvious is that (the proposition of) its soundness is remote.
In addition to that, he says:
"Ibn 'Asir has reported several narratives of people who have met Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) . But, none of these is satisfactory - either for the reason that the chain of authority cited therein is weak, or for the reason that people to whom these events have been attributed are unknown" - al-bidayah wa-n-nihayah, p.339, v.1)
It is fairly evident that this idea of Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) having been lifted towards the heavens has been taken invariably from the Isra'ili narratives. The Bible says:
"And as they still went on and talked, behold, a chariot of fire and horses of fire separated the two of them. And Elijah (Ilyas) went up by a whirlwind into heaven." (2 Kings 2:11)
For this reason, came the belief among Jews that Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) will return to the earth once once again. Hence when Sayyidna Yahya (علیہ السلام) was sent as a prophet, they doubted if he was Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) . It appears in the Bible:
"And they asked him, 'What then? Are you Elijah?' He said, 'I am not." (Gospel of John 1:21)
It seems that scholars like Ka'b al-Ahbar and Wahb Ibn Munabbih who were well versed in the religious background of the People of the Book would have described these very narratives before Muslims as a result of which this idea of Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) being alive found currency among some Muslims. Otherwise, there is nothing in the Qur'an, or the Hadith, that provides any proof of his being alive or having been raised up unto the heavens. What we have here is only one narrative found in the Mustadrak of al-Hakim where it has been said that, on his way to Tabuk, the Holy Prophet ﷺ met Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) . But, this report is, as held by Hadith experts, 'mawdu' or fabricated or technically apocryphal. Hafiz adh-Dhahabi says:
بَل ھو موضوع قبّح اللہ من وضعہ وما کنت احسب ولا اُجوّز انّ الجھل یبلغ بالحکام الیٰ ان یصحّح ھٰذا (در منثور ص 286 ج 5)
"In fact, this is fabricated. Cursed be whoever fabricated it. I had never imagined that the inadvertence of al-Hakim could overtake him to the extent that he would admit this thing as sound - ad-Durr-ul-Manthur, p.286, v.5.
In short, it is not proved from any authentic Islamic report that Sayyidna Ilyas (علیہ السلام) is alive. Hence, in this matter, the safest (and the sanest) course is to observe silence. Particularly, in the case of Isra'ili (Judaic) narratives, one should follow the teaching of the Holy Prophet ﷺ : 'neither confirm, nor falsify these.' The reason is that the Qur'an has a purpose - that is, it should be understood, provide lessons and give good counsel. This purpose can be achieved fully even without having to do something like this. And Allah is Pure and High - He knows best. Now, we can turn to an explanation of the verses.








