Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
قُلۡ
katakanlah
إِنَّ
sesungguhnya
رَبِّي
Tuhanku
يَبۡسُطُ
Dia melapangkan
ٱلرِّزۡقَ
rizki
لِمَن
bagi siapa
يَشَآءُ
Dia kehendaki
مِنۡ
dari
عِبَادِهِۦ
hamba-hamba-Nya
وَيَقۡدِرُ
dan Dia menyempitkan
لَهُۥۚ
baginya
وَمَآ
dan apa
أَنفَقۡتُم
kamu belanjakan
مِّن
dari
شَيۡءٖ
sesuatu
فَهُوَ
maka Dia
يُخۡلِفُهُۥۖ
Dia menggantinya
وَهُوَ
dan Dia
خَيۡرُ
sebaik-baik
ٱلرَّـٰزِقِينَ
pemberi rizki
قُلۡ
katakanlah
إِنَّ
sesungguhnya
رَبِّي
Tuhanku
يَبۡسُطُ
Dia melapangkan
ٱلرِّزۡقَ
rizki
لِمَن
bagi siapa
يَشَآءُ
Dia kehendaki
مِنۡ
dari
عِبَادِهِۦ
hamba-hamba-Nya
وَيَقۡدِرُ
dan Dia menyempitkan
لَهُۥۚ
baginya
وَمَآ
dan apa
أَنفَقۡتُم
kamu belanjakan
مِّن
dari
شَيۡءٖ
sesuatu
فَهُوَ
maka Dia
يُخۡلِفُهُۥۖ
Dia menggantinya
وَهُوَ
dan Dia
خَيۡرُ
sebaik-baik
ٱلرَّـٰزِقِينَ
pemberi rizki
Terjemahan
Katakanlah, "Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya." Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.
Tafsir
(Katakanlah! "Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezeki) meluaskannya (bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya) sebagai ujian buatnya (dan membatasinya) menyempitkannya (baginya) sesudah Dia melapangkannya, atau Dia menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya sebagai cobaan buatnya. (Dan barang apa saja yang kalian nafkahkan) dalam hal kebaikan (maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.") dikatakan, setiap orang memberi rezeki kepada keluarganya, yakni dari rezeki Allah ﷻ
Tafsir Surat Al-Saba': 34-39
Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya. Dan mereka berkata, "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab. Katakanlah, "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikendaki-Nya), tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga). Dan orang-orang yang berusaha (menentang) ayat-ayat Kami dengan anggapan untuk dapat melepaskan diri dari azab Kami, mereka itu dimasukkan ke dalam azab.
Katakanlah, "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. Allah ﷻ menghibur Nabi-Nya seraya memerintahkan kepadanya agar mengambil pelajaran dari para rasul yang telah mendahuluinya, dan Allah memberitahukan kepadanya bahwa tidak sekali-sekali Dia mengutus seorang nabi ke suatu penduduk negeri, melainkan penduduk negeri itu mendustakannya. Pelaku pertamanya adalah orang-orang hartawan mereka, kemudian diikuti oleh kaum lemah mereka, seperti apa yang dikatakan oleh kaum Nabi Nuh a.s.: Mereka berkata, "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina? (Asy-Syu'ara: 111) Dan firman Allah ﷻ: Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja. (Hud: 27) Dan orang-orang besar dari kalangan kaum Nabi Saleh mengatakan: .
kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka, "Tahukah kamu bahwa Saleh diutus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?. Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Saleh diutus untuk menyampaikannya. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, "Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani. (Al-A'raf: 75-76) Dan firman Allah ﷻ: Dan demikianlah telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang yang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?" (Allah berfirman), "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya) " (Al-An'am: 53) Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri pembesar-pembesar yang jahat agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. (Al-An'am: 123) Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu.
Maka sudah sepantasnya berlaku terhadap mereka perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (Al-Isra: 16) Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya: Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun. (Saba: 34) Yakni seorang nabi atau seorang rasul. melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata. (Saba: 34) Mereka adalah orang-orang yang hidup senang, terpandang, hartawan, dan memegang kendali kepemimpinan. Menurut Qatadah, mereka adalah orang-orang yang bertindak sewenang-wenang di kalangan mereka, yang juga pemimpin mereka dalam kejahatan.
Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya. (Saba: 34) Yakni kami tidak akan beriman dan tidak akan mengikutinya. -: -: ". ". Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul Wahhab, dari Sufyan, dari Asim, dari Abu Rajin yang menceritakan bahwa pernah ada dua orang yang berteman, salah seorang dari keduanya keluar menuju ke pantai, sedangkan yang lain tinggal di rumahnya.
Ketika Nabi ﷺ diutus, maka teman yang ada di pantai berkirim surat kepada temannya yang ada di tempat menanyakan perihal Nabi ﷺ Lalu temannya yang ada di tempat membalas suratnya dengan mengatakan bahwa Muhammad itu tidak ada seorang pun dari kalangan Quraisy yang mengikutinya, sesungguhnya yang mengikutinya hanyalah orang-orang yang lemah dan kaum fakir miskin. Kemudian temannya yang sedang mengembara itu meninggalkan perniagaannya, lalu mendatangi temannya dan berkata kepadanya, "Tunjukkanlah aku kepada Muhammad." Ternyata si pengembara itu sering membaca kitab atau sebagian dari kitab-kitab terdahulu.
Ketika sampai kepada Nabi ﷺ ia bertanya, "Engkau menyeru kepada apa?" Nabi ﷺ menjawabnya, bahwa beliau menyeru manusia untuk berbuat anu dan anu (kebenaran). Maka si pengembara itu langsung berkata, "Aku bersaksi bahwa Engkau adalah utusan Allah." Nabi ﷺ bertanya, "Mengapa engkau mengetahui sampai sejauh itu?" Pengembara itu menjawab, bahwa sesungguhnya tidak sekali-sekali seorang nabi diutus melainkan yang menjadi pengikutnya adalah orang-orang yang lemah dan orang-orang miskin dari kalangan kaumnya. Lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya. (Saba: 34) Lalu Nabi ﷺ mengirimkan utusan kepada si pengembara untuk menyampaikan sabdanya: sesungguhnya Allah ﷻ telah menurunkan wahyu yang membenarkan ucapanmu. Hal yang sama telah dikatakan oleh Heraklius kepada Abu Sufyan, ketika Heraklius menanyainya tentang perihal Nabi ﷺ Heraklius antara lain mengatakan, Dan aku bertanya kepadamu, "Apakah hanya orang-orang yang lemah yang menjadi pengikutnya, ataukah orang-orang terhormat mereka?" Lalu kami jawab, "Memang sebenarnya hanya orang-orang yang lemah sajalah pengikut para rasul itu." Allah ﷻ berfirman, menceritakan perihal orang-orang yang hidup mewah lagi mendustakan para rasul: Dan mereka berkata, "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab. (Saba: 35) Mereka membanggakan dirinya dengan harta mereka yang banyak dan mereka memiliki anak-anak yang banyak.
Mereka menduga bahwa hal itu menunjukkan akan kecintaan Allah ﷻ kepada mereka dan besarnya perhatian Allah kepada mereka. Tidaklah Allah memberi mereka semuanya itu di dunia ini, kemudian pada Akhirnya Allah akan mengazab mereka di akhirat, itu jauh dari kemungkinan. Maka Allah menyanggah anggapan mereka itu melalui firman-Nya: Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (Al-Mu'minun: 55-56) Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu.
Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedangkan mereka dalam keadaan kafir. (At-Taubah: 55) Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kulapangkan baginya (rezeki, dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al-Qur'an).
Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. (Al-Muddassir: 11-17) Dan Allah ﷻ telah menceritakan perihal pemilik dua buah kebun, bahwa dia adalah seorang hartawan, memiliki hasil buah-buahan yang banyak dan banyak anaknya. Kemudian semuanya itu tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun kepadanya, bahkan semuanya itu dicabut oleh Allah ﷻ semasa masih di dunia dan belum lagi menginjak akhirat. Karena itulah dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya: Katakanlah, "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikendaki-Nya). (Saba: 36) Allah memberikan harta kepada orang yang dicintai-Nya dan orang yang tidak dicintai-Nya, dan Dia mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan memberikan kekayaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan hanya bagi-Nyalah hikmah yang sempurna, hujah yang pasti dan mengalahkan semua hujah.
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Saba: 36) Firman Allah ﷻ: Dan sekali-sekali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun. (Saba: 37) Yakni semuanya itu bukan merupakan bukti yang menunjukkan kecintaan Kami kepada kalian, bukan pula menunjukkan perhatian Kami kepada kalian. ". Imam Ahmad. mengatakan, telah menceritakan kepada kami Kasir, telah menceritakan kepada kami Ja'far, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnul Asam, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa dan harta benda kalian, tetapi sesungguhnya Dia hanya memandang kepada hati dan amal perbuatan kalian.
Imam Muslim dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Kasir ibnu Hisyam, dari Ja'far ibnu Jabarqan dengan sanad yang sama. Karena itulah disebutkan dalam firman selanjutnya: tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh. (Saba: 37) Yakni sesungguhnya yang mendekatkan kalian kepada Kami hanyalah iman dan amal saleh yang kalian kerjakan. mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. (Saba: 37) Maksudnya, amal kebaikan mereka dilipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat.
dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga). (Saba: 37) Yaitu di tempat-tempat yang tertinggi di dalam surga dalam keadaan aman dari semua siksaan, aman dari rasa takut, dan aman dari gangguan semua kejahatan yang mengerikan. ". Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Farwah ibnu Abul Migra Al-Kindi, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim dan Ali ibnu Misar, dari Abdur Rahman ibnu lshaq, dari An-Nu'man ibnu Sa'd, dari Ali r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya di dalam surga benar-benar terdapat tempat-tempat yang tinggi, bagian luarnya terlihat dari bagian dalamnya dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.
Ketika ada seorang Badui bertanya, "Untuk siapakah tempat-tempat itu?" Rasulullah ﷺ menjawab: Bagi orang yang bertutur kata baik, memberi makan (orang-orang fakir miskin), rajin berpuasa, dan gemar salat di malam hari ketika manusia sedang tidur. Firman Allah ﷻ: Dan orang-orang yang berusaha (menentang) ayat-ayat Kami dengan anggapan untuk dapat melepaskan diri dari azab Kami. (Saba: 38) Yakni berusaha menghalang-halangi jalan Allah dan tidak mau mengikuti rasul-rasul-Nya dan tidak percaya kepada ayat-ayat-Nya. mereka itu dimasukkan ke dalam azab. (Saba: 38) Mereka semuanya akan mendapat balasan yang sesuai dengan amal perbuatan mereka masing-masing.
Firman Allah ﷻ: Katakanlah, "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya). (Saba: 39) Yaitu berdasarkan hikmah-Nya Dia melapangkan rezeki kepada seseorang dan memberinya harta yang banyak, dan menyempitkan rezeki yang lainnya hingga hidupnya sangat miskin, karena ada hikmah yang terkandung di baliknya dan hanya Dia sendirilah yang mengetahuinya. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain).
Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya (Al-Isra': 21) Yakni sebagaimana mereka berbeda-beda taraf kehidupannya semasa di dunia, yang ini fakir lagi miskin, dan yang itu kaya lagi lapang rezekinya. Maka demikian pula keadaan mereka di akhirat, yang ini berada di dalam kedudukan yang tertinggi di surga, dan yang itu berada di dalam siksaan di dasar neraka yang terbawah.
Dan sebaik-baik orang di dunia adalah orang yang diungkapkan oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya: ". Sungguh telah beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki secukupnya, dan menerima apa yang diberikan oleh Allah kepadanya. Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Ibnu Umar r.a.: Firman Allah ﷻ: Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya. (Saba: 39) Artinya, berapa pun kamu belanjakan hartamu kepada apa yang diperintahkan oleh Allah kepada kalian dan Allah menghalalkannya, Dia pasti akan menggantinya kepada kalian di dunia di samping pahala di akhirat yang akan kamu terima sebagai penggantinya.
Di dalam sebuah hadis disebutkan: Allah ﷻ berfirman, "Berinfaklah kamu, maka Aku akan menggantinya kepadamu. Di dalam hadis lain disebutkan: bahwa setiap pagi hari ada dua malaikat yang salah satunya berdoa, "Ya Allah, berikanlah kerusakan kepada orang yang kikir," sedangkan yang lain mengatakan dalam doanya, "Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak." Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Infakkanlah terus, hai Bilal, janganlah kamu takut kebangkrutan karena Tuhan yang mempunyai Arasy. ". Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Yazid ibnu Abdul Aziz Al-Fallas, telah menceritakan kepada kami Hasyim, dari Al-Kausar ibnu Hakim, dari Mak-hul yang mengatakan, bahwa telah sampai kepadaku suatu berita dari Huzaifah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Ingatlah, sesungguhnya sesudah zaman kalian ini akan datang suatu zaman di mana orang kaya menggenggam erta-erat harta yang ada di tangannya karena takut berinfak.
Kemudian Rasulullah ﷺ membacakan firman-Nya: Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (Saba: 39) Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli mengatakah, telah menceritakan kepada kami Rauh ibnu Hatim, telah menceritakan kepada kami Hasyim, dari Al-Kausar ibnu Hakim, dari Mak-hul yang mengatakan bahwa telah sampai suatu berita kepadaku dari Huzaifah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Ingatlah, sesudah zaman kalian ini akan datang suatu zaman di mana orang kaya menggenggam erat-erat harta yang ada di tangannya karena takut berinfak. Yakni menyembunyikan kekayaannya karena takut diminta untuk berinfak, Allah ﷻ telah berfirman: Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (Saba: 39) Di dalam sebuah hadis disebutkan: Seburuk-buruk manusia adalah mereka yang melakukan transaksi jual beli dengan setiap orang yang terdesak.
Ingatlah, sesungguhnya jual beli dengan orang-orang yang terpaksa itu haram. Ingatlah, sesungguhnya jual beli dengan orang-orang yang terpaksa itu haram. Orang muslim adalah saudara orang muslim lainnya; ia tidak boleh menganiayanya dan tidak boleh pula menghinanya. Jika kamu memiliki kebaikan, maka gunakanlah itu untuk menolong saudaramu. Dan jika kamu tidak mempunyainya, maka janganlah kamu menambahkan kepadanya kehancuran di atas kehancuran.
Bila ditinjau dari segi jalurnya, hadis ini berpredikat garib karena di dalam sanadnya terdapat kelemahan. Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Abu Yunus alias Al-Hasan ibnu Yazid yang mengatakan bahwa Mujahid telah mengatakan, "Janganlah sekali-kali seseorang di antara kalian menakwilkan ayat berikut, yaitu firman-Nya: 'Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya.' (Saba: 39) dengan pengertian bahwa apabila seseorang di antara kalian memiliki apa yang menjadi kecukupannya, hendaklah ia bersikap irit (ekonomis) karena sesungguhnya rezeki itu telah dibagi-bagi.".
Dalam ayat ini Allah kembali mempertegas bahwa banyak dan sedikitnya rezeki seseorang tidak menentukan kedudukannya di sisi Allah, kecuali bila dibarengi dengan iman dan amal saleh. Katakanlah, wahai Nabi Muhammad, 'Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. ' Dan rezeki apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya di dunia dan akhirat dengan penggantian yang lebih baik, dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik. 40. Sebagian kaum musyrik menyembah malaikat karena menduga bahwa malaikat adalah sumber rezeki yang mereka peroleh. Kelak di akhirat orang-orang musyrik akan dipertemukan dengan sembahan mereka tersebut. Dan ingatlah pada hari ketika Allah mengumpulkan mereka semuanya untuk dihisab, kemudian Dia berfirman kepada para malaikat, 'Apakah kepadamu mereka ini dahulu menyembah'' Setujukah kamu dengan penyembahan itu atau bahkan memintanya'.
Dalam ayat ini ditegaskan sekali lagi bahwa Allah-lah yang melapangkan rezeki atau membatasinya. Berbeda dengan ayat 36, dalam ayat ini ditegaskan bahwa yang dilapangkan rezekinya atau dibatasi-Nya adalah rezeki hamba-hamba-Nya. Berarti bahwa seorang hamba Allah akan menerima ketentuan rezekinya apakah dilapangkan atau dibatasi oleh Allah. Dengan demikian ayat ini membantah sekali lagi bahwa kelapangan rezeki itu adalah tanda Allah sayang dan keterbatasannya menandakan Allah benci. Seorang hamba Allah akan sabar bila rezekinya terbatas. Seorang hamba Allah, bila rezekinya lebih akan memperhatikan orang lain yang kekurangan. Ia tidak akan termasuk pendusta agama atau hari kemudian, sebagaimana dinyatakan ayat berikut:
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. (al-Ma'un/107: 1-3)
Membantu orang lain, berdasarkan ayat ini, justru akan mengekalkan kekayaan itu, bukan menghabiskannya. Membantu orang lain tidak akan membuat kita miskin, bahkan sebaliknya karena bantuan itu berarti memberdayakan orang banyak. Keberdayaan orang banyak akan membuahkan kemakmuran, sebaliknya eksploitasi masyarakat akan membuat masyarakat itu melarat. Rasulullah menginformasikan bahwa orang yang membantu orang lain didoakan oleh malaikat pertambahan rezekinya, dan orang yang kikir didoakan oleh malaikat kehilangan harta bendanya:
Pada setiap pagi ada dua malaikat yang turun kepada hamba Allah, yang satu berdoa, "Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak." Dan yang satu lagi berdoa pula, "Ya Allah, musnahkanlah harta orang yang tidak mau berinfak." (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
PEMBANGKANGAN ORANG-ORANG MEWAH
“Dan tidaklah Kami utus pada suatu negeri seorang pemberi ingat pun."
(pangkal ayat 34)
Seorang pemberi ingat ialah seorang Rasul. Kedatangan seorang Rasul membawa petunjuk kepada manusia ialah pembawa berita yang menggembirakan bagi yang beriman dan peringatan yang berisi ancaman bagi yang tidak mau percaya. Maka dalam ayat ini tugas Rasul sebagai pemberi ancaman kepada yang tidak mau percaya itulah yang berlaku.
“Melainkan berkata orang-orang yang mewah di negeri itu, ‘Sesungguhnya kami terhadap apa yang kamu disuruh menyampaikannya itu tidaklah mau percaya."
(ujung ayat 34)
Qatadah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang mewah itu ialah orang-orang kayanya, pemimpin-pemimpin-nya, penguasa-penguasanya dan penganjur segala kejahatan di negeri itu.
Karena merasa bahwa kedudukan mereka kuat, beranilah mereka mengatakan, “Kami tidak percaya kepada segala yang kamu serukan itu. Pembicaraanmu itu hanya omong kosong."
Sebaliknya maka adalah pengikut-pengikut pertama dan utama dari nabi-nabi adalah orang-orang yang lemah, orang tidak terkenal, orang-orang yang kurang mampu, budak-budak hamba sahaya.
“Dan mereka berkata, “Kami lebih banyak mempunyai harta benda dan anak-anak."
(pangkal ayat 35)
Inilah yang dibanggakan oleh orang-orang yang mewah itu. Itulah kemegahan zaman jahiliyyah. Kalau harta benda banyak melimpah-limpah dan kalau anak keturunan pun berkembang biak, niscaya awak disegani orang. Dalam hal yang demikian apa perlunya agama? Apa perlunya mengaji berdalam-dalam? Apatah lagi setelah mereka lihat bahwa yang tekun beragama itu hanya orang-orang miskin.
Oleh karena mereka memandang segala urusan jadi mudah asal harta benda cukup, ancaman-ancaman yang dikemukakan Nabi itu hanyalah mempertakut-takuti saja. Mereka berkata,
“Dan tidaklah kami akan diadzab."
(ujung ayat 35)
Kami mewah, harta kami banyak lebih dari cukup dan anak keturunan kami berkembang biak. Itu semuanya adalah tanda bahwa Allah mengasihani kami. Kalau Allah tidak kasih kepada kami tentu kami tidak akan diberi rezeki sebanyak itu.
Anggapan mereka yang demikian itu disuruh oleh Allah kepada Nabi-Nya agar dibantah.
“Katakanlah, “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi barangsiapa yang Dia kehendaki dan membatasinya."
(pangkal ayat 36)
Artinya bahwa dalam keadaan hidup di dunia ini tidaklah bersamaan rezeki orang; ada orang yang diberi rezeki lapang, dapat kekayaan banyak, berlimpah-limpah dan ada pula yang rezeki sangat terbatas, dapat sekira akan dimakan atau asal dapat menyambung hidup saja. Karena selama manusia masih hidup, rezeki itu pasti ada. Namun rezeki lapang atau rezeki sempit bukanlah jadi ukuran Allah ﷻ kasih atau Allah benci. Ada rezeki banyak tetapi sebagian besar dari yang tidak halal dan ada rezeki sangat terbatas, tetapi orangnya ringan langkah buat mendekati Allah ﷻ Banyak orang kaya yang durhaka dan ada juga yang karena rezeki lapang digunakan hartanya itu buat menyembah Allah ﷻ, dan ada pula yang karena telah miskin dia menyesali Allah ﷻ
“Tetapi kebanyakan dari manusia tidak mengetahui."
(ujung ayat 36)
Mereka tidak mengetahui karena mereka hanya melihat yang pada lahir saja.
Banyak manusia yang tidak mengetahui bahwa orang yang lapang rezekinya itu banyak yang ditimpa berbagai kesusahan, darah tinggi, penyakit gula, kacau berpikir, atau tersesat. Banyak orang yang tidak mengetahui bahwa pernah kejadian seseorang yang tadinya hidup sederhana saja aman sentosa dalam rumah tangganya bersama anak istrinya. Tetapi setelah dia mulai kaya, bertimpalah kegelisahan dalam rumah itu karena hawa nafsu yang tidak terkendali.
“Dan tidaklah harta benda kamu itu dan tidak pula anak-anak kamu yang akan mendekatkan kamu ke sisi Kami sebagai pengantara."
(pangkal ayat 37)
Janganlah kamu salah sangka bahwa harta bendamu yang berlimpah-ruah itu atau dengan anak keturunanmu itu dapat kamu pergunakan sebagai alat guna memperdekatkan kamu kepada Allah. “Melainkan barangsiapa yang beriman dan beramal yang saleh." Pokok utama ialah bahwa kamu terlebih dahulu beriman kepada Allah. Iman itu kamu buktikan dengan amalan yang saleh. Harta benda itu kamu pergunakan untuk menegakkan iman dan untuk membuktikan amal. Anak-anak kamu itu kamu didik sehingga timbul kesadaran beragama, percaya kepada Allah ﷻ “Mereka itulah, bagi mereka ganjaran berlipat ganda dari sebab apa yang mereka amalkan." Dengan begitu barulah berarti rezeki yang dilapangkan Allah ﷻ itu dan anak keturunan yang dikembangbiakkan Allah itu. Sebab kelapangan rezeki itu tidaklah kamu akan dapati kalau bukan karunia anugerah dari Allah. Maka bersyukurlah kepada Allah ﷻ, sebagaimana yang telah diterangkan nikmat yang diterima oleh keluarga Dawud dan kecelakaan yang menimpa penduduk Saba', karena lupa akan nikmat. Tolonglah yang miskin, bantulah yang fakir dan gunakanlah harta untuk pelurusan jalan Allah.
“Dan mereka di dalam tempat-tempat yang telah diistimewakan akan merasakan kesentosaan."
(ujung ayat 37)
Yaitu rumah-rumah kediaman yang indah dan sentosa, aman dan bahagia di dalam surga Jannatun Na'im.
Dalam pada itu diperingatkan pula yang sebaliknya.
“Dan orang-orang yang betusaha menghadapi ayat-ayat Kami, hendak melepaskan diri."
(pangkal ayat 38)
Berusaha menghadapi atau menantang, tidak mau percaya, masa bodoh, atau mengakui tetapi tidak mau menjalankan. Mengatakan diri beriman tetapi tidak mau beramal. Mau menerima rezeki dari Allah sebanyak-banyaknya, tetapi bakhil tidak mau berbuat baik, yang merasa bahwa mereka dapat melepaskan diri dari pandangan Allah ﷻ, berlindung ke tempat yang gelap.
“Mereka itu akan dihadirkan ke dalam adzab siksaan."
(ujung ayat 38)
“Katakanlah, “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki kepada barangsiapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan membatasi baginya."
(pangkal ayat 39)
Maksudnya ialah menyuruh Rasui-Nya memberi peringatan kepada orang-orang yang terpedaya dengan banyak harta benda dan dengan berkembangbiaknya anak dan keturunan. Karena belum tentu harta kekayaan yang banyak akan membawa selamat badan diri dan belum tentu pula keturunan yang berkembang biak akan jadi kemegahan. Ada orang yang kaya raya dan ada yang rezeki sangat terbatas, namun demikian yang sangat penting mendidik diri ialah menafkahkan harta itu pada jalan kebaikan. “Dan yang mana saja pun yang kamu nafkahkan dari barang sesuatu, maka Dia akan menggantinya." Inilah salah satu jaminan dari Allah ﷻ, yaitu harta atau rezeki yang telah dikaruniakan Allah itu hendaklah segera belanjakan pula kepada jalan yang baik. Sangatlah banyak pintu kebaikan yang meminta dinafkahi. Allah ﷻ berjanji akan mengganti.
Dan Allah berjanji akan menggantinya,
“Dan Dia adalah yang sebaik-baik Pemberi rezeki."
(ujung ayat 39)
How Those Who lived a Life of Luxury disbelieved in the Messengers and were misled by Their pursuit of Wealth and Children
Allah is consoling His Prophet and commanding him to follow the example of the Messengers that came before him. He tells him that no Prophet was ever sent to a township but those among its people who lived a life of luxury disbelieved in him, and the weaker people of the town followed him.
The people of Nuh, peace be upon him, said to him:
أَنُوْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الاٌّرْذَلُونَ
Shall we believe in you, when the weakest (of the people) follow you. (26:110)
وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلاَّ الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِىَ الرَّأْى
nor do we see any follow you but the meanest among us and they (too) followed you without thinking. (11:27)
The leaders among the people of Salih said:
قَالَ الْمَل الَّذِينَ اسْتَكْبَرُواْ مِن قَوْمِهِ لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُواْ لِمَنْ ءَامَنَ مِنْهُمْ أَتَعْلَمُونَ أَنَّ صَـلِحاً مُّرْسَلٌ مِّن رَّبِّهِ قَالُواْ إِنَّا بِمَأ أُرْسِلَ بِهِ مُوْمِنُونَ
قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُواْ إِنَّا بِالَّذِى ءَامَنتُمْ بِهِ كَـفِرُونَ
The leaders of those who were arrogant among his people said to those who were counted weak -- to such of them as believed:Know you that Salih is one sent from his Lord.
They said:We indeed believe in that with which he has been sent.
Those who were arrogant said:Verily, we disbelieve in that which you believe in. (7:75-76).
And Allah said:
وَكَذلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِّيَقُولواْ أَهَـوُلاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّن بَيْنِنَأ أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّـكِرِينَ
Thus We have tried some of them with others, that they might say:Is it these (poor believers) that Allah has favored from among us!
Does not Allah know best those who are grateful! (6:53)
وَكَذلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَـبِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُواْ فِيهَا
And thus We have set up in every town great ones of its wicked people to plot therein. (6:123)
and,
وَإِذَا أَرَدْنَأ أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
And when We decide to destroy a town (population), We (first) send a definite order to those among them who lead a life of luxury. Then, they transgress therein, and thus the Word (of torment) is justified against it (them). Then We destroy it with complete destruction. (17:16)
And Allah says here:
وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ
And We did not send a warner to a township,
meaning a Prophet or a Messenger,
إِلاَّ قَالَ مُتْرَفُوهَا
but those who were given the worldly wealth and luxuries among them,
means, those who enjoyed a life of riches and luxury, and positions of leadership.
Qatadah said,
They are their tyrants, chiefs and leaders in evil.
إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُم بِهِ كَافِرُونَ
We believe not in the (Message) with which you have been sent.
means, `we do not believe in it and we will not follow it.'
Allah tells us that those who enjoyed a life of luxury and who disbelieved the Messengers said:
وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالاً وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ
And they say:We are more in wealth and in children, and we are not going to be punished.
meaning, they were proud of their great wealth and great numbers of children, and they believed that this was a sign that Allah loved them and cared for them, and that if He gave them this in this world, He would not punish them in the Hereafter. This was too far-fetched.
Allah says:
أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِن مَّالٍ وَبَنِينَ
نُسَارِعُ لَهُمْ فِى الْخَيْرَتِ بَل لاَّ يَشْعُرُونَ
Do they think that in wealth and children with which We enlarge them We hasten unto them with good things.
Nay, but they perceive not. (23:55-56)
فَلَ تُعْجِبْكَ أَمْوَلُهُمْ وَلَا أَوْلَـدُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَوةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنفُسُهُمْ وَهُمْ كَـفِرُونَ
So, let not their wealth nor their children amaze you; in reality Allah's plan is to punish them with these things in the life of this world, and that their souls shall depart while they are disbelievers. (9:55)
and,
ذَرْنِى وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيداً
وَجَعَلْتُ لَهُ مَالاً مَّمْدُوداً
وَبَنِينَ شُهُوداً
وَمَهَّدتُّ لَهُ تَمْهِيداً
ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ
كَلَّ إِنَّهُ كان لاٌّيَـتِنَا عَنِيداً
سَأُرْهِقُهُ صَعُوداً
Leave Me Alone (to deal) with whom I created lonely. And then granted him resources in abundance. And children to be by his side. And made life smooth and comfortable for him. After all that he desires that I should give more.
Nay! Verily, he has been opposing Our Ayat. I shall oblige him to face a severe torment! (74:11-17)
And Allah has told us about the story of the owner of those two gardens, that he had wealth and crops and children, but that could not help him at all when all of that was taken from him in this world, before he reached the Hereafter.
Allah says here
قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاء وَيَقْدِرُ
Say:Verily, my Lord expands the provision to whom He wills and restricts...
meaning, He gives wealth to those whom He loves and those whom He does not love, and He makes poor whom He wills and makes rich whom He wills. He has complete wisdom and clear proof,
وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
but most men know not.
Then Allah says
وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُم بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِندَنَا زُلْفَى
And it is not your wealth, nor your children that bring you nearer to Us,
meaning, `these things are not a sign that We love you or care for you.'
Imam Ahmad, may Allah have mercy on him, recorded that Abu Hurayrah, may Allah be pleased with him, said that the Messenger of Allah said:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ إِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُم
Allah does not look at your outward appearance or your wealth, rather He looks at your hearts and your deeds.
Muslim and Ibn Majah also recorded this.
Allah says:
إِلاَّ مَنْ امَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا
but only he who believes, and does righteous deeds;
meaning, `only faith and righteous deeds will bring you closer to Us.'
فَأُوْلَيِكَ لَهُمْ جَزَاء الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا
as for such, there will be multiple rewards for what they did,
means, the reward will be multiplied for them between ten and seven hundred times.
وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ امِنُونَ
and they will reside in the high dwellings in peace and security.
means, in the lofty dwellings of Paradise, safe from all misery, fear and harm, and from any evil they could fear.
Ibn Abi Hatim recorded that Ali, may Allah be pleased with him, said that the Messenger of Allah said:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَغُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا
In Paradise there are lofty rooms whose outside can be seen from the inside and whose inside can be seen from the outside.
A Bedouin asked, Who are they for?
He said:
لِمَنْ طَيَّبَ الْكَلَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَام
For those who speak well, feed the hungry, persist in fasting and pray at night while people are asleep
وَالَّذِينَ يَسْعَوْنَ فِي ايَاتِنَا مُعَاجِزِينَ
And those who strive against Our Ayat, to frustrate them,
means, those who try to block people from the path of Allah and from following His Messengers and believing in His signs,
أُوْلَيِكَ فِي الْعَذَابِ مُحْضَرُونَ
they will be brought to the torment.
means, they will all be punished for their deeds, each one accordingly
قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ
Say:Truly, my Lord expands the provision for whom He wills of His servants, and (also) restricts (it) for him...
means, according to His wisdom, He gives a lot of provision to one, and gives very little to another. He has great wisdom in doing so, which cannot be comprehended by anyone but Him.
This is like the Ayah:
انظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَلَلٌّخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَـتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلً
See how We favor one above another, and verily, the Hereafter will be greater in degrees and greater in favor. (17:21)
This means that just as there are differences between them in this world -- where one may be poor and in straitened circumstances while another is rich and enjoys a life of plenty -- so they will be in the Hereafter. There one will reside in apartments in the highest levels of Paradise, whilst another will be in the lowest levels of Hell.
As the Prophet said, describing the best of people in this world:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا اتَاه
He truly succeeds who becomes Muslim and is given just enough provision and Allah makes him content with what He has given.
It was recorded by Muslim.
وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ
.
and whatsoever you spend of anything, He will replace it.
means, `whatever you spend in the ways that He has commanded you and permitted you, He will compensate you for it in this world by giving you something else instead, and in the Hereafter by giving you reward.'
It was reported that the Prophet said:
يَقُولُ اللهُ تَعَالَى أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْك
Allah says:Spend, I will spend on you.
In another Hadith it is reported that;
every morning, two angels come, and one says, O Allah, bring destruction upon the one who withholds (does not spend). The other one says, O Allah, give compensation to the one who spends.
And the Messenger of Allah said:
أَنْفِقْ بِلَلُ وَلَا تَخْشَ مِنْ ذِي الْعَرْشِ إِقْلَلاً
Spend, O Bilal, and do not fear that the One Who is on the Throne will withhold from you.
..
وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
for He is the Best of those Who grant Sustenance.
Say: 'My Lord extends provision, He makes it abundant, for whomever He will of His servants, as a test, and restricts [it] for him, after having extended it - or [He restricts it] for him whom He will to try, and whatever thing you may expend, for [the cause of] good, He will replace it. And He is the best of providers'. It is said that every man 'provides for' his dependants (yarzuqu 'aa'ilatahu), meaning that [he does so] from the provision given [to him] by God.
Commentary
This verse has appeared a little earlier (36) almost in the same words. As obvious, the same thing has been mentioned here, however, it has a difference. At this place, there is an addition of: مِنْ عِبَادِهِ (out of His servants) after: مَن يَشَاءُ whomsoever He wills) and: لَہ، (lahu: for him or whomever) after: یَقدِر (yaqdir: straitens). From the statement: مِنْ عِبَادِهِ (min 'ibadihi: from His servants), it is gathered that this rule of guidance has been put forth for His particular servants, that is, for the believers, and the purpose is to alert people of faith that they should not start loving wealth and comfort to the extent that their hearts choke when it comes to spending at occasions and on rights enjoined by Allah Ta’ ala. As for the earlier verse (36) that carries the same text, it was addressed to disbelievers and polytheists who prided on the worldly assets of wealth and children and declared these to be the proof of their success in the Hereafter. Thus, any discordance between the addressee and the purpose of address stands eliminated. Maulana Ashraf ` Ali Thanavi (رح) ، in his khulasah of Tafsir Bayn ul-Qur'an, has taken the same approach by first adding 'the believers' in parenthesis while explaining this verse.
Another difference between these two verses pointed to by some commentators is that mentioned in the first verse was the distribution of sustenance between different human beings, that is, Allah Ta’ ala gives more of wealth and property to some, and less to some others - all in His wisdom and in the light of universal considerations. And in this verse, only one person and his different states have been mentioned, that is, this one person has, at times, more with him, then, comes another time and the same person has much less as well. The word: لَہ (lahu: for him) which appears in this verse after: یَقدِر (yaqdiru: straitens) releases an indication in this direction. This approach too leaves no discordance behind. Rather, the first verse turns out as relating to different individuals and the present verse, to different states of one single person.
The sentence: وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ (And whatever thing you spend, He replaces it. And He is the best of the sustainers.) in verse 39 literally means: 'For anything that you spend, Allah Ta’ ala gives you a return from His unseen treasures - at times, within this world and at times, in the Hereafter and at times, in both.' In things happening around us, we see that water comes down from above, animals and humans use it freely, needs of farms and forests are satiated, and no sooner does that supply of water gets used up, than another supply descends to replenish it. Similar is the case of wells dug for water that, no matter how much water is spent out of these, it stands replenished by nature from other sources of water beneath the bed. Man eats up his food leaving the impression that he has finished it, but Allah Ta’ ala provides him with other food in its absence. Physical exercise burns out calories of food and other workings of nature turn it into energy. In short, whatever man spends out in this world, it is the customary practice of Allah Ta’ ala that He would replace it with something else similar to it. Something happening contrary to this, as an exceptional case, - either to punish one, or for the sake of some other creational consideration - will not be deemed as contrary to this customary Divine practice.
According to a Hadith of Sayyidna Abu Hurairah ؓ in Sahih of Muslim, the Holy Prophet ﷺ said, "Everyday when people rise to see another morning, two angels descend from the heavens and pray: اللَّھُم اَعطِ منفقاً خَلفاً واعط ممسکاً تلفق (0 Allah, bless the one who spends [ out of what You gave him or her ] with its return, and let the one who withholds [ what You gave him or her ] find it wasted." And according to another Hadith, the Holy Prophet ﷺ said, "Allah Ta’ ala has told me: You spend on people, I shall spend on you."
There is no promise of a return for spending that is not in accordance with the Shari'ah
Says a Hadith of Sayyidna Jabir ؓ see that the Holy Prophet ﷺ said, "Good deed is sadaqah (an act of charity in the way of Allah). When someone spends on himself or his children and family, that spending too falls under sadaqah. It brings thawab (reward from Allah). And one who spends to protect his integrity and honor, this too is sadaqah. And whoever spends whatever he does in obedience to the command of Allah, He has taken it upon Himself that He will give him its return - except that which is spent in (wasteful, extra to need) building or sinful activity, for there is no promise of a return for it."
After hearing this Hadith from Sayyidna Jabir ؓ ، his disciple, Ibn al-Munkadir asked him: 'What is the meaning of spending to protect one's honor?' He said, 'There may be a person about whom one apprehends that, should he not give him something, he would go about maligning him in all sorts of ways. In this case, giving to such a person is in order to save one's honor.' (Reported by ad-Darqutni, Qurtubi)
With the decrease in the use of something, its production also decreases
The hint embedded in this verse also tells us that as long as the things of use provided by Allah Ta’ ala for consumption of human beings and animals keep being consumed, these keep being replaced by Him constantly. The rule seems to be that the more the consumption of something, the more its production. The multiple uses made of domestic animals like goats, sheep and cows put them high on the list of consumption. They are slaughtered. Their meat is eaten. Then, they are also slaughtered under Islamic legal requirements, such as, the Qurbani قُربَانِی or sacrifice, and in Kaffarat (plural of kaffarah or expiation) and jinayat (faults, offences against religious prohibitions). The more they are consumed, the more increased becomes their frequency of production from Allah Ta’ ala. This is common experience everywhere. The number of these animals, despite being under the knife all the time, remains the highest in the world. The number of dogs and cats is not that high, although the reproduction of dogs and cats should obviously be much more as they produce four or five puppies and kittens in a single pregnancy. A cow or goat delivers two calves or kids at the most. Cows and goats keep being slaughtered all the time. Dogs and cats are (generally) not touched by anyone. But, as far as common observations goes, it cannot be denied that the number of cows, sheep and goats comparatively exceeds the number of dogs and cats. Since the time restrictions have been placed on the slaughter of cows in India, the production of cows has gone down there in that very ratio. Otherwise, every village and every home would have been full of cows that stayed spared from being slaughtered.
Once the Arabs tapered down their use of camels for riding and transport purposes, the usual increase in the populations of their camels has also gone down. Incidentally, what has been said here also helps remove that atheistic doubt usually dished out with reference to the Islamic injunctions of sacrifice saying that it is likely to affect the economy of Muslims adversely.








