Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
فَقَالُواْ
maka mereka berkata
رَبَّنَا
ya Tuhan kami
بَٰعِدۡ
jauhkanlah
بَيۡنَ
antara
أَسۡفَارِنَا
perjalanan kami
وَظَلَمُوٓاْ
dan mereka menganiaya
أَنفُسَهُمۡ
diri mereka sendiri
فَجَعَلۡنَٰهُمۡ
maka Kami jadikan mereka
أَحَادِيثَ
percakapan/buah mulut
وَمَزَّقۡنَٰهُمۡ
dan Kami hancurkan mereka
كُلَّ
setiap/segala
مُمَزَّقٍۚ
sehancur-hancurnya
إِنَّ
sesungguhnya
فِي
pada
ذَٰلِكَ
demikian itu
لَأٓيَٰتٖ
benar-benar tanda-tanda
لِّكُلِّ
bagi setiap
صَبَّارٖ
orang-orang yang sabar
شَكُورٖ
orang-orang yang bersyukur
فَقَالُواْ
maka mereka berkata
رَبَّنَا
ya Tuhan kami
بَٰعِدۡ
jauhkanlah
بَيۡنَ
antara
أَسۡفَارِنَا
perjalanan kami
وَظَلَمُوٓاْ
dan mereka menganiaya
أَنفُسَهُمۡ
diri mereka sendiri
فَجَعَلۡنَٰهُمۡ
maka Kami jadikan mereka
أَحَادِيثَ
percakapan/buah mulut
وَمَزَّقۡنَٰهُمۡ
dan Kami hancurkan mereka
كُلَّ
setiap/segala
مُمَزَّقٍۚ
sehancur-hancurnya
إِنَّ
sesungguhnya
فِي
pada
ذَٰلِكَ
demikian itu
لَأٓيَٰتٖ
benar-benar tanda-tanda
لِّكُلِّ
bagi setiap
صَبَّارٖ
orang-orang yang sabar
شَكُورٖ
orang-orang yang bersyukur
Terjemahan
Maka mereka berkata, "Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami,"1 dan (berarti mereka) menzalimi diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka bahan pembicaraan dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.
Catatan kaki
1 *697) Agar kota-kota yang berdekatan itu dihapuskan, agar perjalanan menjadi panjang dan mereka dapat melakukan monopoli dalam perdagangan itu, sehingga keuntungan lebih besar.
Tafsir
(Mereka berkata, "Ya Rabb kami! Jauhkanlah) menurut suatu qiraat huruf 'Ain-nya di-tasydid-kan (jarak perjalanan kami") ke negeri Syam, maksudnya jadikanlah tempat-tempat yang dilalui itu menjadi padang sahara, supaya jarak perjalanan itu dianggap sangat jauh bagi orang-orang yang miskin, yaitu karena membutuhkan bekal-bekal yang banyak dan persediaan air yang cukup. Maka mereka mengingkari nikmat tersebut (dan mereka menganiaya diri mereka sendiri) dengan melakukan kekafiran (maka Kami jadikan mereka buah mulut) bagi orang-orang yang sesudah mereka dalam hal itu (dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya) Kami cerai-beraikan mereka dari negeri tempat tinggal mereka. (Sesungguhnya pada yang demikian itu) pada yang telah disebutkan itu (benar-benar terdapat tanda-tanda) yakni pelajaran (bagi setiap orang yang sabar) menahan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat (lagi bersyukur) atas nikmat-nikmat-Nya.
Tafsir Surat Al-Saba': 18-19
Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman. Maka mereka berkata, "Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami. dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur hancurnya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur. Allah ﷻ menceritakan apa yang diperoleh mereka berupa kenikmatan, kemewahan hidup, kesenangan, negeri yang makmur, tempat-tempat yang aman, dan kota-kota yang saling berdekatan satu sama lainnya yang dipenuhi oleh pepohonan, tanam-tanaman, dan hasil buah-buahan yang melimpah ruah. Sehingga orang yang mengadakan perjalanan di antara mereka tidak perlu membawa bekal makanan dan air minum, bahkan di mana pun ia turun istirahat pasti ia menjumpai air dan buah-buahan.
Ia dapat pula beristirahat siang hari di suatu kota, lalu menginap di kota lainnya menurut kondisi dan keadaan yang diperlukan dalam perjalanan. Karena itulah disebutkan dalam firman-Nya: Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya. (Saba: 18) Wahb ibnu Munabbih mengatakan, yang dimaksud adalah kampung-kampung yang ada di San'a; hal yang sama telah dikatakan oleh Abu Malik.
Mujahid, Al-Hasan, Sa'id ibnu Jubair, Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam, dari Qatadah, Ad-Dahhak, As-Saddi, dan Ibnu Zaid serta lain-lainnya, bahwa yang dimaksud adalah kota-kota yang ada di negeri Syam. Dengan kata lain, mereka berjalan dari Yaman menuju ke negeri Syam melalui banyak kota yang satu sama lainnya berdekatan. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa negeri-negeri yang Kami berkati adalah Baitul Maqdis.
Al-Aufi mengatakan pula bahwa makna yang dimaksud adalah kota-kota Arab yang ada di antara Madinah dan negeri Syam. beberapa negeri yang berdekatan (Saba: 18) Yakni jelas dan gamblang dikenal oleh semua musafir; mereka dapat beristirahat siang di suatu kota, lalu menginap di kota lainnya. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan: dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. (Saba: 18) Artinya, Kami menjadikan letak kota-kota tersebut sesuai dengan jarak tempuh yang diperlukan oleh orang-orang musafir, antara yang satu dengan yang lainnya.
Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman. (Saba: 18) Yakni dalam waktu kapan pun, baik siang maupun malam, perjalanan mereka akan aman. Maka mereka berkata, "Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami. dan mereka menganiaya diri mereka sendiri. (Saba: 19) Sedangkan ulama lain membaca ayat ini dengan bacaan baid baina asfarina; demikian itu karena mereka menjadi congkak karena nikmat tersebut.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Al-Hasan, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa justru mereka lebih menyukai menempuh jalan padang sahara dan daerah-daerah yang tidak berpenghuni, yang untuk menempuhnya diperlukan membawa bekal dan unta kendaraan, serta berjalan di terik matahari dan tempat-tempat yang menakutkan. Perihal mereka sama dengan apa yang diminta oleh kaum Bani Israil dari Musa a.s., yaitu hendaknya Musa memohon kepada Allah agar menumbuhkan tumbuhan bumi buat mereka yang hasilnya berupa sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.
Padahal mereka saat itu berada dalam kehidupan yang makmur berkat Manna dan Salwa yang diturunkan buat mereka. Kehidupan mereka juga mewah, baik makanan, minuman, maupun pakaiannya. Karena itulah maka Musa berkata kepada mereka, yang disitir oleh firman-Nya: Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta.
Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. (Al-Baqarah: 61) Juga semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui Firman-Nya: Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya. (Al-Qasas: 58) Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (An-Nahl: 112).
Dan firman Allah ﷻ menceritakan tentang mereka, yang kisahnya disebutkan dalam surat ini, yaitu: Maka mereka berkata, "Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri. (Saba: 19) dikarenakan kekafiran mereka. maka Kami jadikan mereka buah tutur dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. (Saba: 19) Artinya, Kami jadikan mereka sebagai buah tutur manusia yang menceritakan kisah-kisah mereka, bagaimana Allah menimpakan azabNya kepada mereka dan mencerai-beraikan persatuan mereka sesudah bersatu dalam naungan kehidupan yang makmur; mereka menyebar kemana-mana, tidak lagi tinggal di negerinya.
Karena itulah ada pepatah Arab yang berbunyi, "Bercerai-berai seperti tercerai-berainya kaum Saba, dan hancur berantakan seperti hancurnya hasil karya kaum Saba, dan menyebar sebagaimana menyebarnya kaum Saba." Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id ibnu Yahya ibnu Sa'id Al-Qattan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Habib ibnusy Syahid yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar ayahnya mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ikrimah menceritakan suatu kisah tentang penduduk Saba dengan mengutip firman-Nya: Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan sebelah kiri. (Saba: 15) sampai dengan firman-Nya: maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar. (Saba: 16).
Tersebutlah bahwa di kalangan mereka terdapat banyak tukang tenung, dan setan-setan mencuri-curi dengar dari berita di langit, lalu tukang-tukang tenung itu menceritakan sebagian dari berita langit (yang mereka terima dari setan-setan pencuri berita itu). Dan tersebutlah bahwa di kalangan mereka terdapat seorang lelaki tukang tenung yang terpandang lagi banyak harta, Ia memberitakan bahwa runtuhnya masa kejayaan mereka sudah dekat, dan azab akan menimpa mereka, sedangkan ia tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya karena dia adalah seorang yang banyak memiliki harta dari tanah-tanah yang dimilikinya.
Lalu ia berkata kepada salah seorang anak lelakinya yang mempunyai paman-paman yang terhormat dari pihak ibunya, "Hai anakku, apabila besok hari tiba dan aku perintahkan kepadamu untuk melakukan sesuatu, maka janganlah kamu lakukan. Dan apabila aku menghardikmu, maka balas hardiklah diriku. Dan apabila aku menempelengmu, maka balas tempelenglah aku." Anak itu berkata; "Ayah, jangan engkau lakukan hal itu.
Sesungguhnya perbuatan itu dosa besar dan berat dilakukan". Lelaki itu berkata, "Hai anakku, telah terjadi suatu perkara yang tidak dapat dielakkan lagi," dan lelaki itu terus-menerus mendesaknya. Akhirnya si anak terpaksa menyetujuinya. Pada pagi harinya ketika orang-orang telah berkumpul, lelaki itu berkata, "Hai anakku, lakukanlah anu dan anu," maka si anak tidak menurut, lalu si ayah menghardiknya dan si anak itu balas menghardiknya.
Keduanya terus-menerus bersengketa hingga pada akhirnya si ayah menempeleng anaknya, maka si anak balas menempeleng ayahnya. Lalu si ayah berkata, "Anakku berani menempelengku, kemarikanlah pisauku." Mereka bertanya, "Untuk apa kamu meminta pisau?" Ia menjawab, "Aku akan menyembelihnya". Mereka bertanya, "Apakah kamu akan menyembelih anakmu sendiri?" Tempelenglah lagi dia atau lakukanlah hal lainnya yang kamu ingini terhadapnya." Si ayah menolak dan bersikeras akan menyembelih anak lelakinya itu.
Maka mereka mengirimkan utusan untuk memanggil paman-paman anak itu dan menyampaikan kepada mereka berita tersebut. Akhirnya mereka datang dan mengatakan kepada ayah si anak, "Ambillah dari kami apa yang kamu sukai," tetapi si lelaki itu menolak dan bersikeras untuk menyembelih anaknya. Mereka berkata, "Sebelum kamu menyebelihnya, maka kamu dahulu yang akan mati." Lelaki itu berkata, "Kalau memang demikian, maka sesungguhnya aku tidak ingin lagi tinggal di negeri yang penduduknya menghalang-halangi antara aku dan anakku.
Sekarang belilah oleh kalian semua rumahku dan semua tanahku." Lelaki itu kemudian menjual rumah, lahan dan tanahnya. Setelah semua uang hasil penjualan berada di tangannya, ia berkata, "Hai kaumku, sesungguhnya azab akan menimpa kalian dan kejayaan kalian akan sirna, hal ini sudah dekat. Maka barang siapa di antara kalian yang menginginkan rumah baru, tempat perlindungan yang kuat, serta perjalanan yang jauh, hendaklah pergi ke kota Amman.
Dan barang siapa di antara kalian yang menginginkan khamr, ragi, dan perasan buah, dan lain-lainnya Ibrahim perawi lupa hendaklah pergi ke negeri Basra. Dan barang siapa yang menginginkan berlepotan dengan lumpur, mendapat makanan di negeri sendiri, dan sibuk dengan pertanian, hendaklah ia pergi ke kota Yasrib yang banyak pohon kurmanya. Maka kaumnya menaati ucapannya itu, lalu orang-orang yang ingin tinggal di Amman pergi ke Amman, dan orang-orang Gassan pergi ke Basra, sedangkan Aus dan Khazraj serta Bani Usman pergi ke negeri Yasrib yang banyak pohon kurmanya.
Disebutkan bahwa dalam perjalanannya mereka sampai di Lembah Mur, lalu Bani Usman berkata, "Inilah tempat yang kami dambakan dan kami tidak mau menggantinya dengan tempat yang lain." Lalu mereka tinggal di Lembah Mur itu. Maka tempat itu dinamakan Khuza'ah karena mereka memisahkan diri dari teman-temannya. Kabilah Aus dan Khazraj meneruskan perjalanannya sampai tiba di Madinah, lalu tinggal di Madinah.
Sedangkan orang-orang yang ingin tinggal di Amman (Yordan) meneruskan perjalanannya sampai di Amman, dan orang-orang Gassan pergi menuju ke Basrah. Asar ini garib lagi aneh. Nama tukang tenung tersebut adalah Amr ibnu Amir, salah seorang pemimpin negeri Yaman dan pembesar Saba serta ahli tenung mereka. Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar telah mengatakan di permulaan kitab Sirah-nya kisah tentang Amr ibnu Amir ini, bahwa dialah orang yang mula-mula keluar dari negeri Yaman karena ia mendapat berita yang mengatakan bahwa banjir besar akan menimpa mereka.
Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar melanjutkan, bahwa penyebab yang mendorong Amr ibnu Amir keluar dari negeri Yaman menurut kisah yang dikemukakan oleh Abu Zaid Al-Ansari kepadanya, Amr ibnu Amir bermimpi melihat tempat yang dipakai untuk menampung air di bendungan Ma'rib digali (yakni tanggulnya), lalu airnya dialirkan oleh para penggalinya keluar dari bendungan menurut apa yang mereka sukai. Maka Amr ibnu Amir mengerti bahwa bendungan Ma'rib tidak akan lama lagi usianya, lalu ia bertekad untuk pindah dari negeri Yaman.
Untuk melaksanakan niatnya ini terlebih dahulu ia membuat tipu muslihat terhadap kaumnya. Kemudian ia memerintahkan kepada anaknya yang paling muda, bahwa apabila ia ditempeleng dan dikerasi olehnya, hendaklah ia membalasnya. Lalu si anak melakukan apa yang diperintahkan oleh ayahya; ketika ayahnya memaki-maki dia dan menempelengnya, maka ia membalasnya. Akhirnya Amr ibnu Amir berkata, "Aku tidak akan tinggal lagi di negeri yang menjadi peneyebab anakku yang termuda berani menempeleng wajahku." Lalu ia menawarkan hartanya (untuk dijual).
Maka orang-orang yang terpandang dari penduduk Yaman mengatakan, "Ambillah kesempatan yang baik ini untuk membeli harta Amr," lalu mereka membelinya. Amr menjual semua harta miliknya, kemudian dia dan semua anak cucunya pindah meninggalkan negeri Yaman. Kabilah Asad berkata,"Kami tidak akan membiarkan Amr pergi sendirian," lalu mereka pun menjual semua hartanya dan ikut keluar bersama-sama rombongan Amr.
Mereka melakukan perjalanan yang cukup jauh. Akhirnya mereka turun beristirahat di negeri Ak, lalu berkeliling di sekitar negeri Ak. Tetapi orang-orang Ak memeranginya, maka terjadilah pertempuran di antara mereka. Adakalanya Amr menang, dan adakalanya orang-orang Ak beroleh kemenangan. Sehubungan dengan peristiwa ini Abbas ibnu Muradis As-Sulami r.a. telah mengatakan dalam bait syairnya mengenang peristiwa tersebut: Ak ibnu Adnan yang menyalakan api peperangan di Gassan sehingga mereka terusir sejauh-jauhnya Bait syair ini merupakan petikan dari kasidahnya.
Kemudian Amr ibnu Amir dan kawan-kawannya pergi meninggalkan tanah orang-orang Ak dan menyebar ke seluruh negeri. Keluarga Jafnah ibnu Amr ibnu Amir tinggal di negeri Syam. Aus dan khazraj tinggal di Yasrib; Khuza'ah tinggal di Mur; Azdus Surah tinggal di As-Surah, dan Azd Amman tinggal di Amman. Kemudian Allah ﷻ mengirimkan banjir besar yang melanda bendungan Ma'rib hingga bobol dan hancur. Peristiwa inilah yang disebutkan oleh Allah ﷻ melalui ayat-ayatnya di atas. As-Saddi telah menyebutkan kisah Amr ibnu Amir dengan kisah yang semisal dengan apa yang telah disebutkan oleh Muhammad ibnu Ishaq.
Hanya dalam riwayat As-Saddi disebutkan bahwa lalu Amr ibnu Amir memerintahkan kepada keponakannya, bukan anaknya. Akhirnya ia menjual seluruh hartanya, lalu pergi bersama keluarganya meninggalkan Saba, dan selanjutnya mereka bercerai-berai. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Salamah, dari Ibnu Ishaq yang menceritakan bahwa mereka mengira Amr ibnu Amir adalah paman dari kaumnya; dia adalah seorang tukang ramal, lalu dalam peramalannya ia melihat bahwa kaumnya kelak akan dicerai-beraikan dan perjalanan mereka akan dijauhkan.
Lalu ia berkata kepada kaumnya, "Sesungguhnya aku telah diberi tahu bahwa kelak kalian akan dicerai-beraikan. Maka barang siapa di antara kalian yang mampu melakukan perjalanan jauh, penuh dengan penderitaan yang keras dan kesabaran yang tinggi, hendaklah ia pergi ke Ka's atau Kurud." Maka yang melakukannya adalah Wada'ah ibnu Amr. Kemudian Amr ibnu Amir berkata, "Dan barang siapa di antara kalian yang menyukai daerah perkotaan dan urusan yang mudah, hendaklah ia pergi ke Syam." Yang melakukannya adalah Auf ibnu Amr, dan merekalah yang dikenal dengan nama Bariq.
Amr ibnu Amir berkata lagi, "Dan barang siapa di antara kalian yang menginginkan penghidupan yang tenang dan tanah haram yang aman, hendaklah ia pergi ke Arzin." dan yang melakukannya adalah Khuza'ah. Amr ibnu Amir berkata, "Dan barang siapa di antara kalian yang menginginkan hidup berlepotan dengan lumpur dan pertanian, hendaklah ia pergi ke Yasrib yang banyak pohon kurmanya," maka yang melakukannya adalah Aus dan Khazraj; kedua kabilah inilah yang akan menjadi orang-orang Ansar.
Amr ibnu Amir berkata, "Dan barang siapa di antara kalian yang menginginkan khamr, ragi, emas, kain sutra serta kerajaan dan kekuasaan, hendaklah ia pergi ke Kausa dan Basra." Maka yang melakukannya adalah Gassan alias Bani Jafnah yang kelak menjadi raja-raja di negeri Syam dan sebagian dari kalangan mereka yang tinggal di Irak. Ibnu Ishaq mengatakan, ia pernah mendengar salah seorang ahlul 'ilmi mengatakan bahwa sesungguhnya yang mengucapkan kata-kata tersebut adalah Tarifah istri Amr ibnu Amir, dia adalah seorang tukang ramal perempuan.
Dalam peramalannya ia melihat hal tersebut; maka hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui yang benar di antara kedua pendapat itu. Sa'id telah meriwayatkan dari Qatadah, dari Asy-Sya'bi, bahwa Gassan pergi ke negeri Amman, lalu Allah mencerai-beraikan mereka dengan separah-parahnya di negeri Syam. Dan orang-orang Ansar pergi ke negeri Yasrib, Khuza'ah pergi ke Tihamah, dan Azd pergi ke negeri Amman, lalu Allah mencerai-beraikan mereka dengan sebenar-benarnya.
Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir. Selanjutnya Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abu Ubaidah, bahwa Al-Asya alias A'syanya Bani Qais ibnu Sa'labah yang nama aslinya Maimun ibnu Qais telah mengatakan: Dalam hal tersebut terdapat suri teladan bagi orang yang merenungkannya, yaitu Ma-rib setelah terlanda oleh banjir besar.
Ma-rib adalah bendungan yang dibangunkan bagi mereka oleh Himyar, untuk menampung air yang datang kepada mereka, sehingga mereka dapat mengairi lahan-lahan dan kebun anggur mereka dengan suburnya. Kemudian mereka menjadi bercerai-berai, tidak mampu lagi untuk memberi minum anak kecil yang baru disapih. Firman Allah ﷻ: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur. (Saba: 19) Yakni sesungguhnya pada peristiwa yang telah menimpa mereka berupa pembalasan Allah dan azab-Nya, diubah-Nya nikmat, dan dilenyapkanNya kemakmuran sebagai siksaan akibat kekufuran dan dosa-dosa yang dilakukan mereka benar-benar terdapat pelajaran dan petunjuk bagi setiap orang yang bersabar dalam menghadapi musibah, lagi bersyukur atas nikmat-nikmat yang diperolehnya.
-: ". Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman dan Abdur Razzaq. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Al-Aizar ibnu Hurayyis, dari Umar ibnu Sa'd, dari ayahnya (yaitu Sa'd ibnu Abu Waqqas r.a.) yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Saya kagum dengan orang mukmin dalam menghadapi takdir Allah ﷻ Jika Allah memberikan kebaikan kepadanya, maka ia memuji Tuhannya dan bersyukur. Dan jika ia tertimpa musibah, ia tetap memuji Tuhannya dan bersabar. Orang mukmin diberi pahala dalam segala sesuatu, sehingga suapan yang ia masukkan ke dalam mulut istrinya.
Imam Nasai telah meriwayatkan di dalam kitab Al-Yaum wal Lailah melalui hadis Abu Ishaq As-Subai'i dengan sanad yang sama. Hadis ini merupakan hadis yang sanadnya jarang ada karena melalui riwayat Umar ibnu Sa'd dari ayahnya. Akan tetapi, hadis ini mempunyai saksi yang menguatkannya di dalam kitab Sahihain melalui hadis Abu Hurairah r.a. yang telah menyebutkan: ". Sungguh menakjubkan perihal orang mukmin itu, tidak sekali-kali Allah menetapkan suatu takdir baginya melainkan hal itu baik baginya.
Jika ia mendapat kesenangan, maka ia bersyukur, dan bersyukur itu baik baginya. Dan jika tertimpa musibah, maka ia bersabar, dan bersabar itu baik baginya. Sikap seperti ini tidak terdapat pada seorang pun kecuali pada diri orang mukmin. Abdu mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, dari Sufyan, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur. (Saba: 19) Mutarrif mengatakan bahwa sebaik-baik hamba adalah orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur, yaitu apabila diberi bersyukur dan apabila diuji bersabar.".
Maka sebagai bukti keingkaran mereka atas nikmat-nimat Allah itu, mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami, yakni jarak antarwilayah dan antarnegara, agar perjalanan menjadi panjang sehingga tidak banyak orang yang masuk ke negara kami dan orang-orang miskin tidak mampu menempuh jarak tersebut karena keterbatasan kendaraan mereka. Dengan begitu kami dapat memonopoli hasil negeri kami dan perdagangan, sehingga keuntungan kami lebih besar. "Dan tanpa mereka sadari, permintaan tersebut justru menjadikan mereka menzalimi diri mereka sendiri karena mengakibatkan tertutupnya akses perdagangan antarnegara. Maka akibat kedurhakaan itu Kami jadikan mereka bahan pembicaraan bagi generasi sesudah mereka dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya sehingga mereka bertebaran ke berbagai daerah. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur. 20. Kedurhakaan Kaum Saba' membuktikan betapa Iblis mampu me-realisasikan sumpahnya di hadapan Allah ketika dia terkutuk akibat membangkang perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam. 'Dan sungguh, Iblis telah dapat meyakinkan dengan berbagai tipu daya terhadap mereka, anak-cucu Nabi Adam, tentang kebenaran sangkaannya bahwa dia mampu menjerumuskan manusia ke jalan kesesatan, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin yang kuat keimanannya (Lihat juga: ''d/38: 82'83).
Oleh karena itu, mereka meminta kepada Allah supaya di sepanjang perjalanan antara suatu negeri dengan negeri lain tidak ada tempat singgah untuk beristirahat, sehingga perjalanan harus dilanjutkan walaupun akan menderita berbagai macam kesulitan. Beginilah watak mereka dan watak orang-orang sombong, sudah mendapat kemudahan, justru mereka menginginkan kesulitan dan penderitaan. Tidak ubahnya seperti Bani Israil yang telah diberi Allah makanan yang baik yaitu Manna dan Salwa, lalu mereka meminta makanan biasa, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, "Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja, maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti: sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah." Dia (Musa) menjawab, "Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta." Kemudian mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. (al-Baqarah/2: 61)
Sebenarnya dengan permintaan itu, kaum Saba' telah menganiaya diri sendiri dan tidak puas dengan karunia yang dianugerahkan Allah kepada mereka. Mereka telah lupa bahwa Allah menghancurkan negeri mereka yang subur dan makmur tiada lain karena mereka tidak mau beriman dan bersyukur atas karunia Allah. Oleh sebab itu, Allah memenuhi permintaan mereka dengan meniadakan tempat singgah dalam perjalanan mereka, sehingga mereka kesulitan melakukan perdagangan, dan kehidupan mereka menjadi susah.
Mereka harus hijrah ke negeri lain meninggalkan negeri mereka dan berpencar-pencar ke sana kemari. Kabilah Jafnah bin Amr terpaksa tinggal di negeri Syam, Aus dan Khazraj di Medinah, dan Azad (Uman) tinggal di Oman. Demikian pula kabilah-kabilah yang lain. Hilanglah wujud mereka sebagai suatu umat yang dahulunya sangat masyhur sebagai suatu umat yang mulia yang mempunyai peradaban dan kebudayaan yang tinggi. Yang tinggal hanya cerita-cerita yang diriwayatkan dari mulut ke mulut dan kemasyhuran mereka hanya menjadi bahan penghibur, dibicarakan pada waktu mereka berjaga di malam hari.
Sesungguhnya yang dialami kaum Saba' ini patut menjadi pelajaran bagi setiap orang yang sabar dan tahu bersyukur atas setiap nikmat yang diterimanya dari Allah. Setiap hamba harus bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya dan bersabar menerima cobaan-Nya. Bahkan ia harus bersyukur kepada Allah walaupun mendapat cobaan dari-Nya.
Diriwayatkan oleh Sa'ad bin Abi Waqqash bahwa Rasulullah bersabda:
Aku mengagumi ketetapan Allah untuk seorang mukmin. Bila ia mendapat kebaikan ia memuji dan bersyukur kepada-Nya. Bila ia ditimpa musibah ia memuji dan bersyukur kepada-Nya. Orang mukmin mendapat pahala dalam segala hal walaupun hanya sesuap makanan yang ia berikan untuk istrinya. (Riwayat Ahmad).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
NEGERI SABA'
Saba' adalah nama sebuah negeri di Yaman, di selatan Tanah Arab. Pernah ditanya-kan orang kepada Rasulullah, apakah Saba' itu nama negeri, atau nama laki-laki atau nama perempuan. Rasulullah menjawab bahwa Saba' pada awalnya ialah nama laki-laki. Dia mempunyai anak sepuluh orang, yang tinggal di Yaman enam orang dan yang tinggal di Syam empat orang. Yang tinggal di Yaman ialah Mudzhaj, Kindah, Azad, Asy'ariy, Anmaar, dan Himyar. Yang tinggal di Syam ialah Lukham, Jazzaam, Ghassaan, dan Amilah.
Disebutkan pula bahwa nama Saba' itu, sebagai nenek moyang dari bangsa Arab Selatan, atau Arab al-Aribah yang disebut juga Arab keturunan Qahthaan. Tempat asal kediaman nenek mereka yang bernama Saba' itu telah dijadikan nama negeri, kemudian menjadi nama kerajaan juga. Disebutkan juga bahwa raja-raja Tubba', yang kata jamaknya Tababi'ah adalah raja-raja Saba' itu juga, termasuk Ratu Balqis yang tersebut di dalam surah an-Naml yang tunduk takluk kepada Nabi Sulaiman adalah satu dari negeri Saba' itu juga. Di dalam ayat-ayat yang tengah kita tafsirkan itu diterangkanlah bagaimana suburnya negeri mereka di zaman dahulu.
“Sesungguhnya adalah bagi negeri Saba' itu pada tempat kediaman mereka, suatu pertanda,"
(pangkal ayat 15)
Yaitu bahwa negeri Saba' bersama dengan tempat kediaman mereka, tanah leluhur mereka yang permai itu dapatlah dijadikan ayat atau pertanda dari Maha Kekuasaan Allah dan perihal peraturan Allah (Sunnatullah) yang tidak dapat diubah oleh tangan manusia didalam alam ini, “Dua buah kebun sebelah kanan dan sebelah kiri," yaitu bahwa kota tempat mereka berdiam itu terletak pada sebuah lembah yang subur permai yang diapit oleh dua buah-gunung di kiri kanannya. Oleh nenek moyang dan raja-raja yang terdahulu dapat dibuat suatu bendungan atau waduk besar untuk menampung air hujan jangan mengalir percuma saja menuju lautan dengan tidak dapat diambil faedahnya. Bilamana musim hujan telah datang, air hujan itu dapat mereka tampung sebaik-baiknya dan dapat juga untuk persediaan hidup, baik untuk makanan dan minuman ataupun untuk mengaliri kebun-kebun mereka sehingga sangguplah mereka membuat kebun-kebun yang luas di lereng-lereng gunung itu. Rupanya tanahnya sangat subur dan mengeluarkan hasil buah-buahan dan makanan yang lezat.
“Makanlah olehmu dari rezeki Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya." Rezeki diberikan oleh Allah ﷻ tersebab dari kesuburan tanah, kelebatan buah dan manis rasanya dan jaminan hidup. Semuanya itu hendaklah disyukuri. Adapun tanda mensyukurinya su-dahlah dijelaskan sebagaimana yang tersebut dalam ayat 13 di atas tadi, tuntunan Allah ke-pada keluarga Dawud; bersyukur ialah dengan beramal. Bersyukur janganlah hanya sekadar di mulut saja.
“Negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun."
(ujung ayat 15)
Di sini kita melihat pertanda yang disebutkan di pangkal ayat. Selama nikmat Allah masih disyukuri dengan beramal dan berusaha, dengan bekerja, selama itu pula negeri akan tetap baik. Apabila negeri telah aman dan baik, “menguning padi di ﷺah, menghijau padi di ladang, mentimun mengarang bunga, terung ayun-ayunan, tebu menyentak ruas, lada mem-bintang timur", maka dan penghasilan bumi timbullah kemakmuran, kemakmuran moga-moga menambah dekat diri kepada Allah ﷻ, maka segala dosa akan diampuni Allah ﷻ Asal saja dalam segala gerak-gerik hidup itu Allah ﷻ tidak dilupakan.
“Maka mereka pun berpaling."
(pangkal ayat 16)
Mereka berpaling karena mereka tidak lagi memegang petaruh sebagaimana yang dipesankan kepada keluarga Dawud, yaitu bersyukur dengan bekerja, l'maluu aala Daawuda syukran. Bekerjalah hai keluarga Dawud dengan bersyukur. Mereka telah ber-paling, karena bersyukur hanya tinggal pada mulut, tidak dalam bekerja. Mula-mula sekali datanglah tikus-tikus menggerek melubangi tembok bangunan yang dibina nenek moyang itu buat pembendung air. Telah ada bocor kecil-kecilan, tidak ada yang memerhatikan. Meskipun ada yang telah menampak bahaya itu, namun dia berdiam diri saja, tidak peduli. “Lalu Kami datangkan kepada mereka banjir yang menyapu segalanya." Artinya tibalah hujan lebat luar biasa. Oleh karena sangat lebatnya hujan dan keras alirannya, timbullah banjir. Tiba-tiba bangunan pusaka nenek moyang itu, tanggul atau bendungan terkenal di negeri Saba' itu runtuhlah dirompak oleh air. Apatah lagi karena telah terdapat beberapa lubang kecil ditembus tikus. Dan lubang kecil itulah air simpanan membocor ditekan oleh air yang menggelora dari atas menghimpitnya, sehingga runtuhlah bendungan itu dan hancur. Maka setelah hujan teduh, banjir telah habis kelihatanlah bahwa kebun di kanan dan kebun di kiri kota itu telah hancur, menjadi tumpukan dari batu-batu. “Dan Kami ganti kedua kebun mereka itu dengan hasil buah yang pahit." Dua hal yang menyebabkan tanah jadi berubah keadaannya dari subur menjadi kering gersang. Kedua bunga tanah yang lama telah hanyut jauh dibawa banjir dan ganti yang tiba kemudian ialah hanyutan pasir dan batu-batu dari gunung-gunung. Sehingga walaupun tanah kebun yang dahulu masih di sana juga, namun keadaan sudah berbeda. Meskipun masih ada sisa-sisa pohon yang lama, namun hasil buahnya tidak manis seperti dahulu lagi, melainkan telah pahit.
“Dan semacam pohon cemara dan sedikit pohon bidara."
(ujung ayat 16)
Kita maklum bahwa pohon cemara hanya dikenal lurus tumbuhnya ke atas, daunnya halus-halus dan timbul bunyinya jika ditiup angin. Enaknya hanya buat dilihat, namun tidak akan memberikan hasil rezeki untuk hidup. Bidara pun demikian pula. Batangnya rimbun, buahnya yang diharapkan tidak ada.
“Demikianlah Kami batasi atas mereka dari sebab apa yang mereka kafir itu."
(pangkal ayat 17)
Tadi di ayat 15 telah diterangkan bahwa keadaan negeri Saba' itu ialah suatu pertanda Allah ﷻ telah memberi ingat dalam tiga ayat berturut-turut ini pertanda yang patut menjadi perhatian manusia di segala zaman. Asal saja nikmat Allah disyukuri dengan bekerja dan berusaha, rezeki akan diberikan Allah, negeri akan subur danr dosa akan diampuni. Tetapi bilamana manusia tidak mensyukuri nikmat lagi, bahkan berganti dengan kufur kepada nikmat, artinya tidak berterima kasih kepada Allah ﷻ, pastilah bala bencana akan menimpa. Maka segala bala bencana itu tidaklah datang begitu saja, melainkan mesti dari sebab kesalahan manusia sendiri. Sebab itu dilanjutkan ayat ditegaskan,
“Dan adakah Kami akan membatasi kalau bukan untuk orang yang kafir?"
(ujung ayat 17)
Pertanyaan di ujung ayat ini bernama istifham inkari, pertanyaan yang berisi ban-tahan. Artinya dan tegasnya ialah bahwa Allah tidaklah menjatuhkan hukuman saja kepada orang yang tidak bersalah. Bencana yang menimpa diri manusia adalah karena kekufuran manusia sendiri.
Kemudian diperingatkanlah kembali kepada mereka itu nikmat Allah ﷻ yang telah hilang karena kesalahan mereka sendiri.
“Dan telah Kami jadikan di antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkah kepadanya bebenapa negeri yang nyata."
(pangkal ayat 18)
Negeri tempat asal mereka, yaitu negeri Saba' itu terletak di sebelah selatan Arabi.
Dalam ayat ini diterangkan Allah ﷻ bahwa di antara negeri mereka itu, yaitu Saba', dengan negeri yang diberi berkah oleh Allah, dibangunkan Allah pula negeri-negeri yang berdekat-dekatan.
Dijelaskan dalam ayat ini bahwa di antara negeri mereka, yaitu Saba' dengan negeri yang diberi berkah, yaitu Syam atau Baitul Maqdis terdapat negeri-negeri yang nyata. Artinya tidaklah mereka perlu berjalan berhari-hari, berpekan-pekan baru mereka akan sampai ke satu tempat perhentian, misalnya suatu wadi, atau lembah di tengah padang pasir, yang di sana didapat satu telaga sumber air, lalu ada orang yang hidup di sana beberapa keluarga menggembalakan ternaknya, yang dalam bahasa orang Barat disebut oase. Bukan begitulah! Bahkan bilamana mereka berjalan musafir meninggalkan kampung halamannya hendak menuju ke negeri yang diberkahi Allah itu, sudah nyata dalam pikiran mereka dan dalam jangkauan kekuatan mereka bahwa nanti malam akan berhenti di kampung anu, besoknya lagi di kampung anu pula berhenti. Artinya sudah ada kepastian yang nyata. Sebab negeri-negeri itu tidak berjauhan letaknya, tidak sampai berhari-hari perjalanan baru sampai ke sebuah kampung atau sebuah negeri.
"Dan Kami tetapkan jarak perjalanan antara negeri-negeri itu." Artinya telah kami tentukan sekian-sekian mil jarak antara satu negeri dengan negeri yang berikutnya, sehingga mudahlah bagi musafir memilih sendiri bila mereka berangkat dan bila mereka akan sampai di perhentian pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.
“Berjalanlah kamu padanya bermalam-malam atau bersiang-siang dalam keadaan aman."
(ujung ayat 18)
Para musafir boleh memilih sendiri, terserah kepada kesukaannya sendiri, apakah dia akan berjalan pada malam hari atau berjalan pada siang hari. Sebab waktu mana pun yang mereka tentukan, mereka tidaklah akan khawatir ada bahaya dalam perjalanan, sebab di seluruh jalan yang dilalui itu terdapat keamanan.
Perjalanan yang dilakukan bermalam-malam hari ialah jika pada musim panas. Karena orang tidak akan tahan teriknya matahari di siang hari. Misalnya dimulai perjalanan itu pada pukul lima petang, bolehlah berhentinya pada besoknya di tempat perhentian, di negeri anu di kampung fulan pada pukul tujuh pagi. Karena lebih dan itu panas sudah sangat terik menyengat kepala. Boleh berhenti selama siang musim panas itu di perhentian tersebut, dan tidak akan ada orang yang mengganggu atau mencuri karena keadaan aman.
Jika terjadi pula musim dingin, lebih baik dilakukan perjalanan bersiang-siang. Karena meskipun bagaimana panasnya hari, namun panas matahari tidaklah akan menyengat kepala, bahkan badan terasa segar berjalan siang itu. Di malam hari kelak berhenti di tempat perhentian sambil menyalakan api unggun buat menahan embusan angin musim dingin yang kadang-kadang menembus sampai ke tulang. Maka jaranglah orang pada musim dingin yang melakukan perjalanan di malam hari, karena tidak tahan kedinginan. Bahkan binatang kendaraan, unta dan kuda pun tidak tahan dingin.
Namun nikmat itu tidak juga mereka syukuri dengan sewajarnya, malahan mereka menjadi bosan sebagaimana bosannya Bani Israil dengan makanan Manna dan Salwa di tengah Padang Tih. Yang meskipun makanan yang dua itu enak, senang didapati, sedia selalu, mereka jadi bosan karena itu ke itu juga.
“Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, Perjauhlah di antara jarak perjalanan kami."
(pangkal ayat 19)
Mereka jadi bosan karena rasanya perjalanan itu tidak jauh, tidak sukar dan tidak banyak menempuh kesulitan. Mereka memohon kepada Allah ﷻ agar daerah yang mereka lalui bertambah jauh jaraknya, tidak lagi sebagaimana selama ini. “Dan mereka telah menganiaya diri mereka sendiri." Di dalam Al-Qur'an tidak diterangkan secara terperinci bagaimana mereka menganiaya diri itu. Apakah mereka perjauh sendiri perjalanan itu sehingga melampau dari batas kemampuan mendekati kampung halaman? Lama-lama kian jauh dari kampung. Lama-lama kian sukar buat pulang kembali, sehingga pokok hidup di kampung halaman itu tidak terpelihara lagi, karena keenakan merantau. Sebagaimana yang di zaman sekarang kita sebut urbanisasi. Yaitu berduyun-duyun meninggalkan tanah kelahiran, berlari pindah ke kota yang lebih ramai karena hendak mencari hidup yang disangka lebih baik. Sehingga akhirnya datanglah banjir atau air bah besar yang menyapu segala yang ada itu sehingga rata dengan bumi dan tidak dapat dibangunkan lagi?
Pendeknya di dalam ayat sudah dijelaskan, bahwa kehancuran yang menimpa diri mereka ialah karena kesalahan mereka sendiri. Mereka tidak menerima syukur nikmat Allah, mereka hanya memusnahkan yang ada tidak dapat menanam yang baru atau memperbaiki yang rusak, bahkan hanya menambah rusak.
“Dan telah Kami jadikan mereka buah mulut," Yaitu buah mulut bagi orang yang datang di kemudian hari, karena nasib malang yang menimpa mereka. Yang oleh karena negeri mereka telah berubah dari tanah subur jadi tanah tandus, kebun telah berganti jadi padang tekukur, pohon berbuah lebat untuk dimakan telah berganti hanya dengan pohon cemara dan bidara, yang bagus dipandang tetapi tidak memberi hasil, mereka pun terpaksa meninggalkan negeri itu. Yang tinggal hanyalah bekas-bekas saja.
“Dan telah Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya." Tidak dapat dibangunkan dan dikumpulkan lagi, berpindah terpencar-pencar dibawa untung nasib malang, karena kekurangan air untuk hidup, kekurangan tanah subur untuk bercocok tanam, untuk membangun kembali perlu persediaan perbekalan. Dari mana akan mencari perbekalan? Sedangkan makanan untuk satu hari saja tidak ada? Maka adalah yang pindah ke Amman, Ghassan pindah ke Bushra, sedang Aus dan Khazraj pindah berkampung di Yatsrib yang kemudian setelah Rasulullah ﷺ memilihnya menjadi tempat hijrah ditukar namanya menjadi Madinah. Sebuah cabang kabilah bernama Abu Utsman berhenti di setumpak tanah dan tidak meneruskan perjal anan ke Yatsrib. Merekalah yang kemudian dikenal dengan nama kabilah Khuza'ah, Bani Azad turun dan berkampung di Suraat. Dari Ghassan turunlah Bani Jufnah; mereka pernah dapat mendirikan Kerajaan Arab di bawah perlindungan Romawi di Syam. Aus dan Khazraj yang di Madinah berbahagia menjadi pembela Islam mendapat gelar al-Anshar.
Di penutup ayat Allah ﷻ berfirman,
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi tiap-tiap orang yang bersabar dan bersyukur."
(ujung ayat 19)
Artinya bahwa dari keseluruhan kisah negeri Saba' ini, sejak masa jaya mereka karena bendungan pusaka nenek moyang, sampai kepada kesuburan bumi dan ampunan Allah ﷻ, kesuburan yang akhirnya merata dari selatan sampai ke utara Tanah Arab, dari Saba' di Yaman sampai ke Baitul Maqdis di Syam sehingga perjalanan musafir menjadi sangat mudah dan keamanan terjamin, sampai kepada kejatuhan mereka karena tidak bersyukur menerima nikmat, semuanya itu adalah tanda-tanda yang patut jadi perhatian bagi tiap orang yang bersabar dan bersyukur.
“Dan sesungguhnya telah tepatlah bagi Iblis persangkaannya atas mereka."
(pangkal ayat 20)
Artinya bahwa persangkaan Iblis selama ini ialah bahwa dalam kalangan anak Adam itu pasti akan ada orang yang mudah untuk diperdayakannya.
Persangkaan Iblis tentang kelemahan mereka sudah tepat, “Maka mereka telah mengikutinya, “ sehingga mereka telah sangsai terperosok keluar dari jalan yang digariskan Allah ﷻ,
“Kecuali sebagian demi orang-orang yang beriman."
(ujung ayat 20)
Itulah yang tidak mempan buat mereka perdayakan. Dan sejak semula Iblis pun telah mengaku hamba-hamba Allah yang dibebas-merdekakan oleh Allah ﷻ dari segala pengaruh yang buruk, yang mukhlish, karena teguh imannya kepada Allah ﷻ, tidaklah akan dapat dipengaruhinya.
“Dan tidaklah ada kekuasaannya atas mereka."
(pangkal ayat 21)
Sebagaimana sambungan dan penyempurnaan dari ujung ayat yang sebelumnya. Yaitu bahwa orang yang benar-benar beriman tidaklah terjangkau oleh Iblis dan tidaklah dapat dikuasainya. Karena tiap-tiap Iblis mencoba mendekati, disambarnya dengan sinar tauhid yang berurat berakar dalam dirinya, sehingga si Iblis lari puntang-panting. “Melainkan sekadar akan Kami buktikan siapakah yang beriman dengan Hari Akhirat, dari orang-orang yang dalam keadaan ragu-ragu." Tegasnya ialah bahwa tiap-tiap pengakuan beriman kepada Allah dan kepada Hari Akhirat, pasti adalah ujian. Supaya orang jangan menyangka bahwa dengan mengaku beriman saja dengan lidah sudah cukuplah itu. Pengakuan iman pasti tahan menghadapi ujian. Ujian ditakdirkan oleh Allah untuk membuktikan siapa yang beriman sungguh-sungguh, dan siapa yang mulut mengakui beriman, padahal hati merasa ragu dan syak.
“Dan Tuhan engkau atas segala sesuatu adalah Maha Pemelihana."
(ujung ayat 21)
Artinya bahwa pada seluruh alam ini Allah ﷻ itu tetap memeliharanya. Manusia sendiri pun tetap dipelihara Allah ﷻ Salah satu bukti pemeliharaan Allah ﷻ itu ialah bahwa manusia mula-mula diberinya akal, sesudah dewasa diberinya tuntunan agama dengan mengutus rasul-rasul. Dengan demikian maka jelaslah bagaimana pemeliharaan Allah ﷻ atas hamba-Nya. Tetapi amanah Allah itu disia-siakan oleh setengah manusia dengan kelalaian mereka lalu menuruti perdayaan dari setan. Namun itu Allah ﷻ pun selalu pula memperingatkan bahaya Iblis dan setan itu.
The Disbelief of Saba' (Sheba) and Their Punishment
Saba' refers to the kings and people of the Yemen.
At-Tababa`ah (Tubba`) (surname of the ancient kings of Yemen) were part of them, and Bilqis, the queen who met Suleiman, peace be upon him, was also one of them.
They lived a life of enviable luxury in their land with plentiful provision, crops and fruits. Allah sent them messengers telling them to eat of His provision and give thanks to Him by worshipping Him alone, and they followed that for as long as Allah willed, then they turned away from that which they had been commanded to do. So they were punished with a flood which scattered them throughout the lands around Saba' in all directions, as we will see in detail below, if Allah wills. In Him we put our trust.
Ibn Jarir recorded that Farwah bin Musayk Al-Ghutayfi, may Allah be pleased with him, said,
A man said, `O Messenger of Allah! Tell me about Saba' -- what was it, a land or a woman?'
He said:
لَيْسَ بِأَرْضٍ وَلَا امْرَأَةٍ وَلَكِنَّهُ رَجُلٌ وُلِدَ لَهُ عَشَرَةٌ مِنَ الْوَلَدِ فَتَيَامَنَ سِتَّةٌ وَتَشَاءَمَ أَرْبَعَةٌ فَأَمَّا الَّذِينَ تَشَاءَمُوا فَلَخْمٌ وَجُذَامٌ وَعَامِلَةُ وَغَسَّانُ وَأَمَّا الَّذِينَ تَيَامَنُوا فَكِنْدَةُ وَالاَْشْعَرِيُّونَ وَالاَْزْدُ وَمَذْحِجٌ وَحِمْيَرُ وَأَنْمَار
It was neither a land nor a woman. It was a man who had ten children, six of whom went Yemen and four of whom went Ash-Sham.
Those who went Ash-Sham were Lakhm, Judham, `Amilah and Ghassan.
Those who went south were Kindah, Al-Ash`ariyyun, Al-Azd, Madhhij, Himyar and Anmar.
A man asked, `Who are Anmar?'
He said:
الَّذِينَ مِنْهُمْ خَثْعَمُ وَبَجِيلَة
Those among whom are Khath`am and Bajilah.
This was recorded by At-Tirmidhi in his Jami` (Sunan) in more detail than this; then he said, This is a Hasan Gharib Hadith.
The genealogists -- including Muhammad bin Ishaq -- said,
The name of Saba' was `Abd Shams bin Yashjub bin Ya`rub bin Qahtan; he was called Saba' because he was the first Arab tribe to disperse.
He was also known as Ar-Ra'ish, because he was the first one to take booty in war and give it to his people, so he was called Ar-Ra'ish; because the Arabs call wealth Rish or Riyash.
They differ over Qahtan, about whom there were three views.
- The first, he descended from the line of Iram bin Sam bin Nuh, then there were three different views over how he descended from him.
- The second was that he was descended from `Abir, another name for Hud, peace be upon him, then there were also three different views over exactly how he descended from him.
- The third was that he was descended from Isma`il bin Ibrahim Al-Khalil, peace be upon him, then there were also three different views over exactly how he descended from him.
This was discussed in full detail by Imam Al-Hafiz Abu Umar bin Abdul-Barr An-Namari, may Allah have mercy on him, in his book Al-Musamma Al-Inbah `Ala Dhikr Usul Al-Qaba'il Ar-Ruwat.
The meaning of the Prophet's words,
كَانَ رَجُلًا مِنَ الْعَرَب
(He was a man among the Arabs), means that he was one of the original Arabs, who were before Ibrahim, peace be upon him, and were descendants of Sam bin Nuh (Shem, the son of Noah).
According to the third view mentioned above, he descended from Ibrahim, peace be upon him, but this was not a well-known view among them. And Allah knows best.
But in Sahih Al-Bukhari, it is reported that the Messenger of Allah passed by a group of people from (the tribe of) Aslam who were practicing archery, and he said,
ارْمُوا بَنِي إِسْمَاعِيلَ فَإِنَّ أَبَاكُمْ كَانَ رَامِيًا
(Shoot, O sons of Isma`il, for your father was an archer).
Aslam was a tribe of the Ansar, and the Ansar -- both Aws and Khazraj -- were from Ghassan, from the Arabs of Yemen from Saba', who settled in Yathrib when Saba' was scattered throughout the land when Allah sent against them the flood released from the dam.
A group of them also settled in Syria, and they were called Ghassan for the name of the water beside which they camped -- it was said that it was in the Yemen, or that it was near Al-Mushallal, as Hassan bin Thabit, may Allah be pleased with him, said in one of his poems. The meaning of his words:
If you ask, then we are the community of the noble descendants, our lineage is Al-Azd and our water is Ghassan.
وُلِدَ لَهُ عَشْرَةٌ مِنَ الْعَرَب
He had ten sons among the Arabs.
means that these ten were of his lineage, and that the origins of the Arab tribes of the Yemen go back to him, not that they were his sons born of his loins. There may have been two or three generations between him and some of them, or more or less, as is explained in detail in the books of genealogy.
The meaning of the words,
فَتَيَامَنَ مِنْهُمْ سِتَّةٌ وَتَشَاءَمَ مِنْهُمْ أَرْبَعَة
Six of whom went south and four of whom went north.
is that after Allah sent against them the flood released from the dam, some of them stayed in their homeland, whilst others left to go elsewhere.
The Dam of Ma'arib and the Flood
The story of the dam is about the water which used to come to them from between two mountains, combined with the floods from rainfall and their valleys. Their ancient kings built a huge, strong dam and the water reached a high level between these two mountains. Then they planted trees and got the best fruits that could ever be harvested, plentiful and beautiful.
A number of the Salaf, including Qatadah, mentioned that a woman could walk beneath the trees, carrying a basket or vessel -- such as is used for gathering fruit -- on her head. And that the fruit would fall from the trees and fill the basket without any need for her to make the effort to pick the fruit, because it was so plentiful and ripe.
This was the dam of Ma'arib, a land between which and San`a' was a journey of three days.
Others said that in their land there were no flies, mosquitoes or fleas, or any kind of vermin. This was because the weather was good and the people were healthy, and Allah took care of them so that they would single out and worship Him alone, as He says:
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ايَةٌ
Indeed there was for Saba` (Sheba) a sign in their dwelling place,
Then He explains this by saying:
جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ
two gardens on the right and on the left;
meaning, the two sides where the mountains were, and their land was in between them.
كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
(and it was said to them:) Eat of the provision of your Lord, and be grateful to Him.
A fair land and an Oft-Forgiving Lord!
means, `He would forgive you if you continue to worship Him alone.
فَأَعْرَضُوا
But they turned away,
means, from worshipping Allah alone and from giving thanks to Him for the blessings that He had bestowed upon them, and they started to worship the sun instead of Allah, as the hoopoe told Suleiman, peace be upon him:
فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِيْتُكَ مِن سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ
إِنِّى وَجَدتُّ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِن كُلِّ شَىْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ
وَجَدتُّهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِن دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَـنُ أَعْمَـلَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ
I have come to you from Saba' (Sheba) with true news. I found a woman ruling over them, she has been given all things, and she has a great throne. I found her and her people worshipping the sun instead of Allah, and Shaytan has made their deeds fair seeming to them, and has barred them from the way, so they have no guidance. (27:22-24)
فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ
so We sent against them flood released from the dam,
Some, including Ibn Abbas, Wahb bin Munabbih, Qatadah and Ad-Dahhak said that;
when Allah wanted to punish them by sending the flood upon them, he sent beasts from the earth to the dam, large rats, which made a hole in it.
Wahb bin Munabbih said,
They found it written in their Scriptures that the dam would be destroyed because of these large rats. So they brought cats for a while, but when the decree came to pass, the rats overran the cats and went into the dam, making a hole in it, and it collapsed.
Qatadah and others said,
The large rat is the desert rat. They gnawed at the bottom of the dam until it became weak, then the time of the floods came and the waters hit the structure and it collapsed. The waters rushed through the bottom of the valley and destroyed everything in their path -- buildings, trees, etc.
As the water drained from the trees that were on the mountains, to the right and the left, those trees dried up and were destroyed. Those beautiful, fruit-bearing trees were replaced with something altogether different, as Allah says:
وَبَدَّلْنَاهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَى أُكُلٍ خَمْطٍ
and We converted their two gardens into gardens producing bitter bad fruit (ukul khamt),
Ibn Abbas, Mujahid, Ikrimah, Ata' Al-Khurasani, Qatadah and As-Suddi said,
It refers to Arak (Zingiber officinale) and bitter bad fruit.
وَأَثْلٍ
and Athl,
Al- Awfi and Ibn Abbas said that this means tamarisk.
Others said that it means a tree that resembles a tamarisk, and it was said that it was the gum acacia or mimosa. And Allah knows best.
وَشَيْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ
and some few lote trees.
Because the lote trees were the best of the trees with which the garden was replaced, there were only a few of them.
This is what happened to those two gardens after they had been so fruitful and productive, offering beautiful scenes, deep shade and flowing rivers:they were replaced with thorny trees, tamarisks and lote trees with huge thorns and little fruit. This was because of their disbelief and their sin of associating others with Allah, and because they denied the truth and turned towards falsehood.
Allah said:
ذَلِكَ جَزَيْنَاهُم بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلاَّ الْكَفُورَ
Like this We requited them because they were ungrateful disbelievers. And never do We requite in such a way except those who are ungrateful.
meaning, `We punished them for their disbelief.'
Mujahid said,
He does not punish anyone except the disbelievers.
Al-Hasan Al-Basri said,
Allah the Almighty has spoken the truth:no one will be punished in a manner that befits the sin except the ungrateful disbelievers.
The Trade of Saba' and Their Destruction
Allah tells us about the blessings which the people of Saba' enjoyed, and the luxuries and plentiful provision which was theirs in their land, with its secure dwellings and towns which were joined to one another, with many trees, crops and fruits. When they traveled, they had no need to carry provisions or water with them; wherever they stopped, they would find water and fruits, so they could take their noontime rest in one town, and stay overnight in another, according to their needs on their journey.
Allah says:
وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا
And We placed, between them and the towns which We had blessed,
Mujahid, Al-Hasan, Sa`id bin Jubayr and Malik, who narrated it from Zayd bin Aslam, and Qatadah, Ad-Dahhak, As-Suddi, Ibn Zayd and others -- all said that;
this means the towns of Syria.
It means they used to travel from Yemen to Syria via towns easy to be seen and connected to one another.
Al-Awfi reported that Ibn Abbas said,
`The towns which We had blessed by putting Jerusalem among them.
قُرًى ظَاهِرَةً
towns easy to be seen,
meaning, clear and visible, known to travelers, so they could take their noontime rest in one town and stay overnight in another.
Allah says:
وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ
and We made the stages (of journey) between them easy.
meaning, `We made it in a way that met the needs of the travelers.'
سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا امِنِينَ
Travel in them safely both by night and day.
means, those who travel in them will be safe both by night and by day
فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ
But they said:Our Lord! Make the stages between our journey longer, and they wronged themselves;
They failed to appreciate this blessing, as Ibn Abbas, Mujahid, Al-Hasan and others said:
They wanted to travel long distances through empty wilderness where they would need to carry provisions with them and would have to travel through intense heat in a state of fear.
فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ
so We made them as tales (in the land), and We dispersed them all totally.
means, `We made them something for people to talk about when they converse in the evening, how Allah plotted against them and dispersed them after they had been together living a life of luxury, and they were scattered here and there throughout the land.'
So, the Arabs say of a people when they are dispersed,
They have been scattered like Saba', in all directions.
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَايَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
Verily, in this are indeed signs for every steadfast, grateful.
In the punishment which these people suffered, the way in which their blessings and good health were turned into vengeance for their disbelief and sins, is a lesson and an indication for every person who is steadfast in the face of adversity and grateful for blessings.
Imam Ahmad recorded that Sa`d bin Abi Waqqas, may Allah be pleased with him, said,
The Messenger of Allah said:
عَجِبْتُ مِنْ قَضَاءِ اللهِ تَعَالَى لِلْمُوْمِنِ إِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ حَمِدَ رَبَّهُ وَشَكَرَ وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ حَمِدَ رَبَّهُ وَصَبَرَ يُوْجَرُ الْمُوْمِنُ فِي كُلِّ شَيْءٍ حَتْى فِي اللُّقْمَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى فِي امْرَأَتِه
I am amazed at what Allah has decreed for the believer; if something good befalls him, He praises his Lord and gives thanks, and if something bad befalls him, he praises his Lord and has patience. The believer will be rewarded for everything, even the morsel of food which he lifts to his wife's mouth.
This was also recorded by An-Nasa'i in Al-Yawm wal-Laylah.
There is a corroborating report in the Two Sahihs, where a Hadith narrated by Abu Hurayrah, may Allah be pleased with him, says:
عَجَبًا لِلْمُوْمِنِ لَا يَقْضِي اللهُ تَعَالَى لَهُ قَضَاءً إِلاَّ كَانَ خَيْرًا لَهُ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَلَيْسَ ذَلِكَ لاَِحَدٍ إِلاَّ لِلْمُوْمِن
How amazing is the affair of the believer! Allah does not decree anything for him but it is good for him. If something good happens to him, he gives thanks, and that is good for him; if something bad happens to him, he bears it with patience, and that is good for him. This is not for anyone except the believer.
It was reported that Qatadah said:
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَايَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
(Verily, in this are indeed signs for every steadfast, grateful). It was Mutarrif who used to say:
How blessed is the grateful, patient servant. If he is given something, he gives thanks, and if he is tested, he bears it with patience.
How Iblis' thought about the Disbeliever proved True
Having mentioned Saba' and how they followed their desires, and the Shaytan, Allah tells us about their counterparts among those who follow Iblis and their own desires, and who go against wisdom and true guidance.
Allah says:
وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ
And indeed Iblis did prove true his thought about them,
Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, and others said that this Ayah is like the Ayah where Allah tells us about how Iblis refused to prostrate to Adam, peace be upon him, then said:
أَرَءَيْتَكَ هَـذَا الَّذِى كَرَّمْتَ عَلَىَّ لَيِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَـمَةِ لَاحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إَلاَّ قَلِيلً
See this one whom You have honored above me, if You give me respite to the Day of Resurrection, I will surely seize and mislead his offspring all but a few! (17:62)
ثُمَّ لاتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَـنِهِمْ وَعَن شَمَأيِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَـكِرِينَ
Then I will come to them from before them and behind them, from their right and from their left, and You will not find most of them as thankful ones. (7:17)
And there are many Ayat which refer to this matter.
فَاتَّبَعُوهُ إِلاَّ فَرِيقًا مِّنَ الْمُوْمِنِينَ
and they followed him, all except a group of true believers
وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِم مِّن سُلْطَانٍ
And he (Iblis) had no authority over them,
Ibn Abbas, may Allah be pleased with him said,
This means, he had no proof.
إِلاَّ لِنَعْلَمَ مَن يُوْمِنُ بِالاْخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ
except that We might test him who believes in the Hereafter, from him who is in doubt about it.
means, `We gave him power over them only to show who believes in the Hereafter and that it will come to pass.'
The people will be brought to account and rewarded or punished accordingly, so that he will worship his Lord properly in this world -- and to distinguish these believers from those who are in doubt about the Hereafter.
وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ
And your Lord is a Watchful over everything.
means, despite His watching, those who follow Iblis go astray, but by His watching and care, the believers who follow the Messengers are saved.
But they said, 'Our Lord, make far apart (ba''id: a variant reading has baa'id) the stages of our travel', to Syria: make these [stages through] deserts, so that they could glory before the poor in riding their camels and bearing their supplies and water, and so they behaved wantonly with the graces [bestowed on them by God], and they wronged their souls, through disbelief, and so We made them bywords, [of wrongdoing] in this respect, for those who came after them, and We caused them to disintegrate totally, We scattered them all over the lands. Surely in that, which is mentioned, there are signs, lessons, for every [servant who is] steadfast, [in refraining] from acts of disobedience, grateful, for [God's] graces.
Verse 19 opens with the statement: فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ (Then they said," Our Lord, make (the phases of) our journeys more distant." And they wronged themselves, therefore We turned them into stories and tore them into pieces - 34:19). It means that so unjust were these people that they would go to the extent of dismissing the very blessing of Allah placed there to eliminate the hardships of travel, rather went deeper into their lack of recognition and straight ungratefulness by coming forward to pray that their Lord makes the distances they cover in travel longer - hoping that the habitations do not appear at such close distances, and wishing to see some hard areas of a forest or wilderness which ask for some rough traversing as well. Their case was similar to that of the Bani Isra'il. They used to get the excellent sustenance of mann and salwa, all free of cost. Bored with it, they asked Allah to replace it with vegetables and greens. In return for their ungratefulness and lack of recognition for blessings, Allah Ta’ ala released the punishment on them that has been called the flood of the dam earlier. The ultimate consequence of this very punishment has been stated in this verse in strong words, that is, they were virtually expunged from this world leaving nothing but idle tales of their wealth and luxury.
The word: مَزَّقْنَاهُمْ (mazzaqnahum) is a derivation from: تَمزِیق (tamziq) which means to tear and scatter (a people) or to destroy (a kingdom). The sense is that some of the inhabitants of this city of Ma'arib were destroyed on the spot and some others were scattered in a manner that small groups of them spread out to various countries. This destruction and scattering away of the people of Saba' became proverbial in Arabia. On such occasions, there is an Arab idiom: تَفَرَّقُوا اَیَادِیَ that is, these people got scattered away as were the luxury-laden people of the Saba'.
Ibn Kathir and other commentators have reported a long narrative about a soothsayer who had come to know about the coming of the punishment of the flood a little before it actually did. He made a swift and unique plan. First of all, he sold his entire property. When he had the money in his hands, he told his people about the coming flood and exhorted them to get out of the area immediately. He also told them that those who intend to shift to a safe far-away place should go to 'Amman, and those who have a taste for liquor, pita bread and fruits should move to Busra in the country of Syria, and those who would settle for rides that go through mud, come handy during the time of famine and prove efficient when dashing on a journey, should go to Yathrib (Madinah) which abounds in dates. His people followed his advice. The tribe of Azd went towards ` Amman, the Ghassn to Busra in the country of Syria and the Aws and Khazraj and Banu ` Uthman started off in the direction of Yathrib, the home of date palms. After reaching Batn Murr, Banu ` Uthman liked the place and settled right there. Because of this divergence, Banu ` Uthman were given the title of Khuza'ah. Batn Murr is closer to Makkah al-Mukarramah where they had chosen to settle down. As for Aws and Khazraj, they reached Yathrib and stayed there. After the long narrative in Ibn Kathir, the same detail about people scattering to different places has been reported on the authority of Said from Qatadah from al-Sha'bi. Thus, says Ibn Kathir, these people of Saba' were shredded into pieces, people who have been mentioned in: مَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ (We torn them into pieces).
The concluding statement in verse 19: إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ (Surely in this, there are signs for everyone who is ever- patient, fully grateful - 34:19) means that there is a great sign and lesson in the rise and fall and in the radical change that hit the life cycle of the people of Saba' for a person who is enduring and grateful at its best, that is, when faced with some distress or pain, one observes patience over it, and when blessed with things of comfort, one is readily grateful for it. This is a life style in which one always comes out a winner. No matter what the state of his life is, he ends up in nothing but pluses, profits and gains. So says a Hadith of Sayyidna Abu Hurairah ؓ appearing in the Sahih of al-Bukhari and Muslim where the Holy Prophet ﷺ has been reported to have said:
'Certainly unique is the state of life a true believer is always in. No matter what Allah decrees for him, it turns for him into nothing but good and profitable. If he is blessed in one way or the other or has the desire of his heart fulfilled, he thanks Allah for it and it becomes good and beneficial for him in the Hereafter. And if he suffers from some pain or distress, he bears it with considered patience for which he is rewarded in a big way and thus, this suffering too, becomes good and beneficial for him' - from Ibn Kathir.
Some commentators have taken the word: صَبَّارٍ (Sabbar: very patient) in the general sense of sabr or patience - which includes remaining firm in all acts requiring obedience as well as abstaining from sins. In the light of this tafsir or explanation, a true believer remains comprehensively attuned to Sabr (patience) and shukr (gratitude) under all conditions and then, for that matter, every sabr is shukr and every shukr is sabr. Allah knows best.








