Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
يَعۡمَلُونَ
mereka bekerja
لَهُۥ
untuknya (Sulaiman)
مَا
apa
يَشَآءُ
yang dikehendaki
مِن
dari
مَّحَٰرِيبَ
gedung-gedung yang tinggi
وَتَمَٰثِيلَ
dan patung-patung
وَجِفَانٖ
dan pinggan-pinggan
كَٱلۡجَوَابِ
seperti kolam
وَقُدُورٖ
dan periuk-periuk
رَّاسِيَٰتٍۚ
tidak bergerak
ٱعۡمَلُوٓاْ
bekerjalah
ءَالَ
(hai) keluarga
دَاوُۥدَ
Daud
شُكۡرٗاۚ
bersyukur
وَقَلِيلٞ
dan sedikit
مِّنۡ
dari
عِبَادِيَ
hamba-hamba-Ku
ٱلشَّكُورُ
bersyukur
يَعۡمَلُونَ
mereka bekerja
لَهُۥ
untuknya (Sulaiman)
مَا
apa
يَشَآءُ
yang dikehendaki
مِن
dari
مَّحَٰرِيبَ
gedung-gedung yang tinggi
وَتَمَٰثِيلَ
dan patung-patung
وَجِفَانٖ
dan pinggan-pinggan
كَٱلۡجَوَابِ
seperti kolam
وَقُدُورٖ
dan periuk-periuk
رَّاسِيَٰتٍۚ
tidak bergerak
ٱعۡمَلُوٓاْ
bekerjalah
ءَالَ
(hai) keluarga
دَاوُۥدَ
Daud
شُكۡرٗاۚ
bersyukur
وَقَلِيلٞ
dan sedikit
مِّنۡ
dari
عِبَادِيَ
hamba-hamba-Ku
ٱلشَّكُورُ
bersyukur
Terjemahan
Mereka (para jin itu) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya, di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.
Tafsir
(Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi) bangunan-bangunan tinggi yang memakai tangga untuk orang yang mau memasukinya (dan patung-patung) lafal Tamaatsiil adalah bentuk jamak dari lafal Timtsaalun, yaitu segala sesuatu yang dibuat menurut gambaran objek yang dipahatnya. Maksudnya adalah patung-patung yang terbuat dari tembaga, ada pula yang terbuat dari kaca serta batu pualam. Perlu diketahui bahwa membuat patung atau gambar tidak diharamkan menurut syariat Nabi Sulaiman (dan piring-piring besar) lafal Jifaanin bentuk jamak dari lafal Jafnah (yang besarnya seperti kolam) lafal Jawaabii bentuk jamak dari lafal Jaabiyah artinya kolam yang besar; piring besar itu dapat dipakai untuk makan seribu orang (dan periuk yang tetap) berada di atas tungkunya serta tidak bergerak dari tempatnya karena saking besarnya. Periuk tersebut terbuat dari bukit negeri Yaman dan bagi orang yang memasak harus menaiki tangga, demikian pula bagi orang yang mau mengambil makanan daripadanya. Dan Kami berfirman, ("Bekerjalah kalian) hai (keluarga Daud) untuk taat kepada Allah (sebagai tanda syukur) kepada-Nya atas apa yang telah Dia limpahkan kepada kalian berupa nikmat-nikmat. (Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.") yang mau bekerja untuk taat kepada-Ku sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada-Ku atas nikmat-nikmat yang telah Kuberikan kepadanya.
Tafsir Surat Al-Saba': 12-13
Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaanya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku).
Bekerjalah, hai keluarga Daud, untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. Setelah Allah ﷻ menyebutkan nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepada Daud, lalu menyebutkan apa yang telah Dia berikan kepada putra Daud (Sulaiman a.s.), yaitu ditundukkan-Nya angin untuknya hingga angin menerbangkan hamparan permadaninya. Perjalanannya pagi harinya sama dengan jarak satu bulan, dan perjalanan petang harinya sama dengan jarak satu bulan pula. Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa Sulaiman a.s. berangkat di pagi hari dengan mengendarai permadani terbangnya dari Dimasyq, lalu turun di Astakhr dan makan siang padanya, lalu petang harinya ia pergi lagi dari Astakhr menuju Kabil dan menginap padanya.
Jarak antara Dimasyq dan Astakhr dapat ditempuh selama satu bulan bagi orang yang memacu kendaraannya, dan jarak antara Astakhr ke Kabil satu bulan pula. Firman Allah ﷻ: dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. (Saba: 12) Ibnu Abbas r.a., Mujahid, Ikrimah, Ata, Al-Khurasani, Qatadah, As-Saddi dan Malik semuanya telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa yang dimaksud dengan al-qitr adalah tembaga.
Qatadah mengatakan bahwa tembaga itu ada di negeri Yaman, dan semua peralatan yang dibuat oleh manusia berasal dari bahan baku yang dikeluarkan oleh Allah ﷻ untuk Sulaiman a.s. As-Saddi mengatakan, sesungguhnya tembaga itu dicairkan untuknya hanya selama tiga hari. Firman Allah ﷻ: Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. (Saba: 12) Yakni Kami telah menundukkan jin baginya untuk bekerja di hadapannya dengan seizin Tuhannya, untuk membangun gedung-gedung dan lain-lainnya yang disukai oleh Sulaiman a.s.
berkat kekuatan dan kekuasaan yang diberikan oleh Allah ﷻ kepada Sulaiman a.s. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami (Saba: 12) Yaitu barang siapa yang menyimpang dan memberontak di antara mereka dari ketaatan. Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. (Saba: 12) Yang dimaksud dengan sa'ir ialah yang membakar. Ibnu Abu Hatim dalam bab ini telah menyebutkan sebuah hadis yang garib sekali. ". Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Saleh, telah menceritakan kepada kami Mu'awiyyah ibnu Saleh, dari Abuz Zahra, dari Jubair ibnu Nafir, dari Abu Sa'labah Al-Khusyani r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Jin itu ada tiga jenis, satu jenis dari mereka mempunyai sayap yang dapat menerbangkan mereka di angkasa, dan satu jenis lagi berupa ular atau anjing, sedangkan jenis yang terakhir ada yang senang menetap dan ada yang senang bepergian.
Predikat marfu' hadis ini garib sekali. Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Harmalah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Bakr ibnu Mudar, dari Muhammad ibnu Bujair, dari Ibnu An'am yang mengatakan bahwa jin itu ada tiga jenis, satu jenis ada yang mendapat pahala, ada pula yang mendapat siksa; satu jenis lagi hidupnya terbang di angkasa antara bumi dan langit, dan jenis terakhir berupa ular dan anjing.
Selanjutnya Bakr mengatakan bahwa tidaklah ia tahu melainkan Anas pernah bercerita kepadanya bahwa manusia itu ada tiga macam, sebagian dari mereka ada yang mendapat naungan dari Allah di bawah naungan 'Arasy-Nya pada hari kiamat; dan sebagian yang lain seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi jalannya; dan sebagian lainnya lagi rupa mereka adalah rupa manusia, tetapi kalbu mereka adalah kalbu setan.
Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Hasyim ibnu Marzuq, telah menceritakan kepada kami Salamah (yakni Ibnul Fadl), dari Ismail, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa jin itu adalah anak iblis, dan manusia adalah anak Adam; di antara mereka (jin) ada yang beriman dan di antara mereka (manusia) ada yang beriman, maka mereka bersekutu dalam memperoleh pahala dan hukuman. Barang siapa dari kalangan jin dan manusia beriman, maka dia adalah kekasih Allah; dan barang siapa dari kalangan jin dan manusia yang kafir, maka dia adalah setan.
Firman Allah ﷻ: Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung. (Saba: 13) Yang dimaksud dengan maharib ialah bagian yang paling baik dan paling mewah di dalam rumah (tempat tinggal). Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan maharib ialah bangunan-bangunan, tetapi bukan berupa istana. Ad-Dahhak mengatakan maharib adalah masjid-masjid. Qatadah mengatakan bahwa maharib ialah gedung-gedung dan masjid-masjid. Menurut Ibnu Zaid adalah tempat-tempat tinggal.
Adapun yang dimaksud dengan tamasil menurut Atiyyah Al-Aufi, Ad-Dahhak, dan As-Saddi artinya patung-patung. Menurut Mujahid patung-patung yang terbuat dari tembaga, sedangkan menurut Qatadah patung-patung yang terbuat dari tanah liat dan kaca. Firman Allah ﷻ: dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungkunya). (Saba: 13) Jawab adalah bentuk jamak dari jabiyah, artinya kolam tempat penampungan air. Sebagaimana pengertian yang diucapkan oleh Maimun ibnu Qais alias Al-A'sya dalam salah satu bait syairnya: ...
Dikirimkan kepada Ali Al-Muhallaq periuk besar di petang hari, yang besarnya seperti tempat penampungan air milik Syekh Iraqi yang penuh dengan air. Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya "Al-jawab "yakni seperti kubangan. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah seperti kolam-kolam besarnya. Hal yang sama telah dikatakan pula oleh Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak dan lain-lainnya.
Yang dimaksud dengan al-qudurur rasiyat ialah periuk-periuk yang sangat besar sehingga harus tetap berada di atas tungkunya, tidak dipindah-pindahkan karena sangat berat. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ad-Dahhak, dan selain keduanya. Menurut Ikrimah termasuk ke dalam pengertian qudurur rasiyat ialah belanga. Firman Allah ﷻ: Bekerjalah, hai keluarga Daud, untuk bersyukur (kepada Allah). (Saba: 13) Yakni dan Kami katakan kepada mereka, "Bekerjalah sebagai ungkapan rasa syukur yang telah dilimpahkan Allah kepada kalian untuk kepentingan agama dan dunia kalian." Syukran adalah bentuk masdar tanpa fi'il, atau menjadi maf'ullah.
Berdasarkan kedua hipotesis ini terkandung pengertian yang menunjukkan bahwa syukur itu adakalanya dengan perbuatan, adakalanya pula dengan lisan dan niat, sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang penyair: ..... Telah kulimpahkan tiga macam nikmat dariku kepada kalian (sebagai rasa terima kasihku), yaitu melalui tanganku, lisanku, dan hatiku yang tidak kelihatan. Abu Abdur Rahman As-Sulami telah mengatakan bahwa salat adalah ungkapan rasa syukur, puasa juga ungkapan rasa syukur, serta semua amal kebaikan yang engkau kerjakan karena Allah ﷻ merupakan ungkapan rasa syukurmu (kepada-Nya).
Dan syukur yang paling utama ialah membaca Hamdalah. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan sebuah asar yang bersumber dari Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi yang mengatakan bahwa syukur ialah bertakwa kepada Allah ﷻ dan mengerjakan amal saleh. Hal ini dikatakan terhadap orang yang mengungkapkannya melalui perbuatan. Dan demikianlah keadaan yang dilakukan oleh keluarga Nabi Daud a.s. di masa silam, mereka bersyukur kepada Allah melalui perbuatan di antara lisan mereka.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Sulaiman, dari Sabit Al-Bannani yang mengatakan bahwa Daud a.s. telah membagi-bagi tugas salat kepada keluarganya, anak-anaknya, dan istri-istrinya. Dan tersebutlah bahwa tiada suatu saat pun, baik di malam hari atau siang hari, melainkan ada seseorang dari keluarga Daud a.s.
yang sedang berdiri menunaikan salat, sehingga rahmat terlimpahkan kepada mereka melalui apa yang disebutkan oleh firman-Nya: Bekerjalah, hai keluarga Daud, untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. (Saba: 13) Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: ". Sesungguhnya salat yang paling disukai oleh Allah adalah salatnya Nabi Daud; dia tidur hingga pertengahan malam, lalu berdiri (salat) sepertiganya dan tidur seperenamnya. Dan puasa yang paling disukai Allah adalah puasanya Nabi Daud; dia puasa sehari dan berbuka sehari, dan apabila berperang Daud tidak pernah lari dari medan perang.
". Abu Abdullah ibnu Majah telah meriwayatkan melalui hadis Sa'id ibnu Daud. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad ibnul Munkadir, dari ayahnya, dari Jabir r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Ibu Nabi Sulaiman ibnu Daud a.s. berkata kepada putranya Sulaiman, "Wahai anakku, janganlah kamu memperbanyak tidur di malam hari, karena sesungguhnya banyak tidur di malam hari membiarkan seseorang (pelakunya) menjadi orang fakir kelak di hari kiamat. Ibnu Abu Hatim sehubungan dengan hal ini telah meriwayatkan sebuah asar yang garib lagi panjang sekali menceritakan perihal Nabi Daud a.s.
Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Imran ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abu Zaid Qubaisah ibnu Ishaq Ar-Ruqqi yang mengatakan bahwa Fudail pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Bekerjalah, hai keluarga Daud, untuk bersyukur (kepada Allah). (Saba: 13). Bahwa Daud a.s. berkata, "Ya Tuhanku, bagaimanakah saya harus bersyukur kepada Engkau, sedangkan bersyukur itu sendiri adalah merupakan nikmat dari-Mu?" Maka Allah ﷻ menjawabnya melalui firman-Nya, "Sekarang engkau telah bersyukur kepada-Ku karena engkau telah mengetahui bahwa nikmat itu dari-Ku." Firman Allah ﷻ: Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. (Saba: 13) Hal ini merupakan berita tentang kenyataannya.".
Mereka, para jin, bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya, di antaranya membangun gedung-gedung yang tinggi, patung-patung sebagai hiasan, piring-piring yang besarnya seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap berada di atas tungku. Begitu besar dan berat periuk-periuk itu hingga ia tidak dapat digerakkan. Bekerjalah, wahai keluarga Daud untuk menjadi bukti rasa bersyukur kepada Allah. Dan ketahuilah bahwa sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur secara sempurna, yakni dengan hati, ucapan, dan perbuatan. 14. Betapa pun besarnya kekuasaan Nabi Sulaiman hingga bisa mem-pekerjakan jin sesuai keinginannya, namun begitu ajalnya tiba maka tidak akan ada yang dapat menundanya. Maka ketika Kami telah menetapkan kematian atasnya, Nabi Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya yang dijadikan sandaran ketika dia wafat. Maka ketika dia, yakni je-nazah Nabi Sulaiman, telah jatuh tersungkur, tahulah jin itu bahwa dia telah wafat. Inilah bukti bahwa jin tidak mengetahui hal gaib. Sekiranya mereka mengetahui yang gaib, yakni wafat Nabi Sulaiman, tentu mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan karena mengerjakan pekerjaan berat untuk Nabi Sulaiman yang mereka kira masih hidup dan mengawasi mereka.
Oleh sebab itu, mereka dengan giat sekali melaksanakan apa yang diperintahkan Sulaiman, seperti membangun tempat-tempat beribadah, arca-arca yang indah yang terbuat dari kayu, tembaga, kaca, dan batu pualam, serta belanga-belanga besar untuk memasak makanan yang cukup untuk berpuluh-puluh orang. Karena besar dan luasnya, bejana-bejana itu kelihatan seperti kolam-kolam air. Mereka juga membuatkan untuk Sulaiman periuk yang besar pula yang karena besarnya tidak dapat diangkat dan dipindahkan. Karena jin mempunyai kekuatan yang dahsyat, dengan mudah mereka membuat semua yang dikehendaki Sulaiman seperti membangun istana yang megah dan mewah, serta menggali selokan-selokan untuk irigasi sehingga kerajaan Sulaiman menjadi masyhur sebagai suatu kerajaan besar dan paling makmur, tidak ada suatu kerajaan pun di waktu itu yang dapat menandinginya. Hal ini ialah sebagai realisasi dari doanya yang dikabulkan Tuhan seperti tersebut dalam firman-Nya.
Dia berkata, "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi." Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam. (shad/38: 35-37)
Kemudian Allah memerintahkan kepada Sulaiman sebagai keluarga Daud supaya bersyukur atas nikmat yang dilimpahkan Allah kepadanya. Mensyukuri nikmat Allah itu bukanlah sekadar mengucapkan, tetapi harus diiringi dengan amal saleh dan mempergunakan nikmat itu untuk hal-hal yang diridai-Nya.
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi bahwa Nabi Muhammad naik ke atas mimbar lalu membaca ayat ini. Lalu beliau bersabda, "Ada tiga sifat bila dipunyai oleh seseorang berarti dia telah diberi karunia seperti karunia yang diberikan kepada keluarga Daud." Kami bertanya kepada beliau, "Sifat-sifat apakah itu?" Rasulullah menjawab, "Pertama: Berlaku adil, baik dalam keadaan marah maupun dalam keadaan senang. Kedua: Selalu hidup sederhana baik di waktu miskin maupun kaya. Ketiga: Selalu takut kepada Allah baik di waktu sendirian maupun di hadapan orang banyak.
Allah mengiringi perintah-Nya supaya Sulaiman bersyukur atas nikmat yang diterimanya dengan menjelaskan bahwa sedikit sekali di antara hamba-hamba-Nya yang benar-benar bersyukur kepada-Nya. Bagaimana seorang hamba bersyukur kepada Tuhannya dapat dilihat dari cara bersyukur Nabi ﷺ kepada Allah.
Dari 'aisyah bahwa Rasulullah salat di malam hari sampai kedua telapak kakinya bengkak, maka aku ('Aisyah), berkata kepadanya, "Mengapa engkau berbuat seperti ini padahal Allah telah mengampuni dosamu yang sekarang dan dosamu yang akan datang?" Rasulullah menjawab, "Bukankah aku ini seorang hamba yang bersyukur?" (Riwayat Muslim)
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
KARUNIA ALLAH KEPADA KELUARGA DAWUD
“Dan, sesungguhnya telah Kami datangkan kepada Dawud suatu kaiunia dari Kami."
(pangkal ayat 10)
Yakni setelah Dawud menang menghadapi Jalut dalam satu peperangan dan dia dapat pula menggantikan Kerajaan Thalut, naiklah dia menjadi raja. Maka diberikanlah oleh Allah ﷻ kepadanya suatu karunia, yaitu Allah ﷻ memanggil gunung-gunung dan burung-burung, “Hai gunung-gunung, kembalilah bersama dia dan burung-burung juga!"
“Kembali" Nabi Dawud ialah kembali berserah diri kepada Allah ﷻ dengan melakukan munajat, doa-doa seruan kepada Allah ﷻ dengan beliau nyanyikan.
Beliau ada mempunyai kecapi, yang sambil memetik kecapi itu beliau nyanyikan puji-pujian kepada Allah. Suara beliau sangatlah merdunya dan lantang. Maka apabila beliau telah asyik dengan nyanyian pujian itu, yang dinamai Mazmur, fanalah beliau seakan-akan lebur ke dalam alam yang ada di keliling beliau, sampai dirasakan pertalian nyanyian beliau dengan gunung-gunung. Gunung-gunung yang tinggi itu seakan-akan turut bernyanyi. Ahli-ahli musik yang sangat halus perasaannya itu dapatlah memasukkan nyanyian alam sekeliling itu dalam paduan nyanyinya. Apabila beliau telah bertasbih memuji Allah ﷻ maka gunung dan ganang, air yang mengalir, burung yang sedang terbang turut merasakan nyanyian itu. Malahan kononnya burung yang sedang terbang itu tertegun terbang, lalu hinggap ke atas dahan-dahan kayu yang ada di keliling tempat Nabi Dawud bernyanyi, bertasbih, untuk turut mendengarkan, dan mereka pun turut bernyanyi menurut pembawaan suara masing-masing.
Oleh sebab itu dapatlah disimpulkan bahwa Nabi Dawudlah, Nabi yang mula-mula menggunakan keindahan suara, dengan memakai alatkecapi buat merasakan dan meresapi keindahan alam sekeliling, yang disebut dalam bahasa filsafat dengan estetika. Maka estetika Dawud ialah menilik ketiga keindahan Ilahi. Pertama jamaal yang berarti keindahan, kedua kamaal yang berarti kesempurnaan, dan ketiga jalaal yang berarti kemuliaan. Lalu jiwa insani terpanggil buat mengutarakan kesan pada diri lalu ditumpahkan kembali berupa seni. Di sini ialah seni suara.
Tersebutlah dalam sebuah hadits yang shahih, riwayat Bukhari dan Muslim bahwa pada suatu malam Rasulullah ﷺ mendengarkan suara Abu Musa al-Asy'ari membaca Al-Qur'an dengan suara yang sangat merdu. Lalu berkatalah Rasulullah ﷺ,
“Dia ini telah dikaruniai Tuhan suatu Miamaar semacam mazmur-mazmur yang ada pada keluarga Dawud." (HR Bukhari dan Muslim)
Sebab itu pula maka Rasulullah ﷺ menganjurkan apabila seseorang membaca Al-Qur'an bacalah dengan suara yang merdu, dengan lagu yang indah dan bersedih.
“Dan telah Kami lunakkan untuknya besi."
(ujung ayat 10)
Selain dari mukjizat keindahan suara beliau, sehingga burung terbang, air mengalir, bukit dan gunung, lurah dan lereng turut bernyanyi dalam nyanyian beliau, diberikan pula oleh Allah kepadanya suatu karunia lagi. Yaitu besi yang begitu keras dapat beliau lunakkan.
Dengan lunaknya besi dalam tangannya, dapatlah beliau membuat baju-baju besi untuk dipakai di dalam peperangan.
“Bahwa buatlah baju peperangan."
(pangkal ayat 11)
yang terjadi dari besi, karena besi itu telah lunak dalam tangannya. Sehingga bagi beliau tidak begitu susah lagi buat mendirikan hapar besi karena akan membakarnya sampai lunak. Sebab jika besi telah sampai tersentuh ke tangan beliau, dia telah lunak sekali."Dan sesuaikan pasangan “ baju itu sehingga tidak sukar bilamana dipakai berhadapan dengan musuh.
Hasan al-Bishri dan Qatadah dan al-A'masy dan beberapa ahli yang lain menjelaskan bahwa bagi Nabi Dawud melunakkan besi itu tidak usah dengan memakai hapar, tidak perlu memukulkan palu godam, cukup di picik-piciknya saja dengan tangannya.
Hal seperti ini adalah suatu kemungkinan yang biasa bagi seorang nabi. Kita banyak melihat keris atau sewa buatan kuno yang berkesan jejak tangan orang yang membuatnya pada mata keris itu. Yaitu orang-orang yang kuat makrifatnya kepada Allah ﷻ, sehingga mereka sudah sangat yakin bahwa alam tidaklah memberi bekas, api tidak membakar, air tidak membasahi dan yang tajam tidak melukai kalau tidak dengan izin Allah. Kalau pada orang-orang biasa yang telah putus makrifatnya dapat kejadian demikian, mengapa tidak akan mungkin pada seorang Nabi? Maka baju-baju besi itu telah beliau buat dengan tangan beliau sendiri.
“Dan sesuaikan pasangan," artinya hendaklah ukurkan dengan pas pada tiap-tiap badan orang yang akan memakainya. Jangan sempit bagi yang gemuk, jangan lapang bagi yang kurus.
Dan kedua karunia yang telah disebutkan ini tampaklah kebesaran Nabi Dawud sebagai nabi, sebagai rasul, sebagai raja, sebagai seniman dan sebagai seorang pandai besi. Semua dapat berkumpul pada dirinya. Dia bukan semata-mata seorang pemuja Ilahi dengan suara yang merdu sehingga burung di langit akan berhenti terbang dan hinggap ke dekat beliau mendengar nyanyiannya. Bahkan dia pun seorang pandai besi yang halus pekerjaan-nya. Menurut Qatadah, sebelum beliau, orang belum mengenal baju besi pakaian untuk di-pakai di medan perang. Sebelum itu kalau ada hanya orang memakai perisai saja, penangkis tusukan tombak dan lemparan lembing. Di samping itu beliau pun seorang raja yang memerintah.
Di zaman kita sekarang kerap kali kita mendengar raja-raja dan kepala-kepala negara dengan hobinya masing-masing, yaitu suatu kesukaannya yang khusus. Misalnya kesukaan Aurangzeeb dari Mongol India menulis Ai-Qur'an dengan tangan beliau sendiri, lalu di-jadikannya hadiah kepada orang besar-besarnya atau disuruhnya jual kepada beberapa orang hartawan, lalu kemudian setelah beliau akan wafat beliau wasiatkan agar harga penjualan Al-Qur'an itu dijadikan perbelanjaan pembeli kafan pembungkus diri beliau, jangan diambil dari perbendaharaan negara.
Al-Hafiz Ibnu Asakir menerangkan pula dalam riwayatnya bahwa Nabi Dawud membuat baju besi untuk perang, sebagai kesukaan beliau di waktu senggang. Kalau sudah selesai lalu dijualnya. Harganya itu beliau bagi tiga; sepertiga untuk makan minum beliau se-keluarga, sepertiga beliau sedekahkan kepada fakir miskin dan sepertiga lagi beliau masuk-kan ke dalam Baitul Maal.
“Dan kerjakanlah olehmu amal yang saleh. Sesungguhnya Aku atas apa yang kamu kerjakan adalah Melihat."
(ujung ayat 11)
Ujung ayat tidak tertuju kepada Nabi Dawud lagi, melainkan kepada tiap-tiap kita yang mendengar kisah ini, agar kita pun melakukan amal yang saleh sebagaimana Nabi
Dawud itu pula, menurut kesanggupan dan kedudukan kita masing-masing. Supaya kita ambil i'tibar dari perbuatan Nabi Dawud. Bernyanyilah dengan suara yang merdu, biar gunung-gunung dan burung-burung turut beryanyi, asal nyanyian itu di dalam memuji Allah. Dengan cara demikian bernyanyi tidaklah salah. Bekerjalah membuat keris, membuat bedil, jadi buruh pada pabrik senjata, pada pabrik kapal terbang dan sebagainya, namun semuanya itu dengan tidak pernah melupakan Allah ﷻ Sebab semua pekerjaan dan usaha kita tidaklah lepas dari tilikan Allah ﷻ
“Dan bagi Sulaiman adalah angin."
(pangkal ayat 12)
Kalau kepada ayahnya Dawud, Allah meng-karuniakan keindahan suara memuja Allah ﷻ dan lunak besi dalam tangannya, maka kepada putra beliau yang menggantikannya jadi Raja Bani Israil setelah dia mangkat di-karunialah Allah ﷻ pula angin.
Kalau menurut tafsir-tafsir lama, Nabi Sulaiman itu dapat berangkat dari satu daerah ke daerah yang lain dengan mengendarai awan, atau puputan angin. Ada diceritakan bahwa baginda mempunyai sebuah tikar permadari yang bisa terbang. Kalau dikembangkan di Damaskus, dia dapat terbang menuju negeri Istakhar di Asia Tengah lalu makan tengah hari di sana. Dari sana dia terus ke Kabul sehingga sampai di sana petang hari dan bermalam di sana, padahal perjalanan kafilah dari Damaskus ke Istakhar sebulan lamanya. Mendengar cerita ini seakan-akan telah ada kapal terbang di masa itu. Maka cerita-cerita yang ganjil-ganjil itulah yang israiliyyat.
Tetapi adalah lebih baik kalau kita turuti saja sepanjang yang tertulis dalam ayat, yaitu, “Yang perjalanan paginya sebulan dan perjalanan petangnya sebulan." Yang dapat kita pahamkan secara lurus bahwa baginda Raja Sulaiman mengirimkan kafilah tiap-tiap pagi dan tiap-tiap petang. Mungkin sekali kafilah yang berangkat pagi ialah bila terjadi musim dingin, karena panas tidak begitu terik. Dan kafilah yang berjalan malam adalah di musim panas (summer). Kalau dilihat letak kerajaan baginda, dipusatkan di Jerusalem, dapat pula kita pahamkan bahwa jurusan yang dituju ialah utara dan selatan. Ke selatan menuju Tanah Arab, ke utara menuju Tanah Mesir. Kerajaan baginda terkenal kaya raya. Kalau di zaman ayahnya, Nabi Dawud a.s. dikisahkan tentang pembuatan baju besi untuk berperang, maka di zaman putra, yaitu Nabi Sulaiman ialah mengirimkan kafilah perniagaan, menghubungkan di antara utara dan selatan. Tentu saja pergantian musim dan perkisaran angin sangat diperhatikan. Sebab kafilah bukan semata-mata di darat, bahkan terdapat pula armada kapal-kapal di laut, yang melalui Laut Merah dan yang sekarang kita namai Teluk Persia. Bahkan telah disebut-sebutorang dalam penggalian sejarah bahwa mungkin sekali apa yang disebut Gudang Intan Nabi Sulaiman, yang disebut Pegunungan Ophir terletak di pulau Sumatera, yaitu Gunung Pasaman dan Talamau di Sumatera bagian barat sekarang ini. Meskipun dalam kemungkinan yang lain disebutkan bahwa letak Pegunungan Ophir itu ialah di Yaman, selatan Tanah Arab.
Tetapi kalau kita berpikir dalam iman yang mendalam kepada Allah ﷻ, tidaklah kita akan merasa mustahil jika Allah menyediakan semacam angin untuk kendaraan Nabi Sulaiman, guna mempercepat hubungannya dari satu negeri ke negeri yang lain.
Tidaklah mustahil jika Allah ﷻ memberikan kemudahan bagi Sulaiman menyedia-kan angin buat mengangkutnya dari daerah jauh ke daerah jauh.
Ringkasnya, tidaklah mustahil bahwa ada kendaraan semacam itu. Tetapi tidak ada penjelasan kepada kita dari wahyu Ilahi sendiri apakah macam kendaraan itu, apakah sema-cam buraq yang dikendarai Nabi Muhammad ﷺ atau macam yang lain. Maka tidaklah boleh kita meraba-raba demikian saja, sebab dapat saja kita terperosok ke dalam dongeng Israiliyyat yang hendaknya kita elakkan. Semua ini adalah kemungkinan. Sebab sumber yang lain kebanyakan hanya Israiliyyat.
Setelah itu disebutkan pula karunia yang lain untuk Sulaiman, “Dan Kami alirkan cairan tembaga baginya."
Ini pun suatu mukjizat. Kalau bagi ayahnya besi dilunakkan sehingga membuat baju besi cukup dengan tangan saja, maka untuk si putra disediakan Allah ﷻ cairan tembaga yang mengalir. Dari mana sumber cairan tembaga ini? Apakah beliau mendapat suatu sumber tembaga bercampur lahar dari satu gunung merapi yang tembaganya itu mengalir lalu dikeringkan? As-Suddi mengatakan tembaga mengalir itu hanya tiga hari saja. Namun sumber cerita as-Suddi ini tidak pula jelas. Yang jelas ialah ayat itu sendiri, yang mengatakan bahwa Allah ﷻ mengalirkan tembaga untuk dia. Tembaga mengalir biasanya ialah seketika dia masih panas. Atau mungkin juga didapati suatu tempat yang di sana terdapat banyak sekali tembaga. Dengan keahlian yang ada pada masa itu maka tembaga yang didapati tadi ditambang, diteroka, lalu dialirkan dan kemudian dikeringkan dan dipergunakan untuk berbagai keperluan, Karena di zaman Nabi Sulaiman banyak sekali pembangunan dan bangunan yang utama ialah Haikal Sulaiman merangkap istana tempat beribadah.
“Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya." Ini pun karunia Allah ﷻ lagi bagi Nabi Sulaiman, yaitu bahwa jin, makhluk halus yang tidak kelihatan oleh mata polos ini sebagian ada yang dengan izin Allah ﷻ menjadi pekerja di hadapan Nabi Sulaiman, atau di bawah perintah Nabi Sulaiman.
Dalam ayat ini diberikan penjelasan kepada orang-orang yang masih ragu-ragu selama ini lalu memuliakan jin, memandang bahwa jin itu makhluk halus yang sangat ditakuti dan manusia hendaklah memujanya supaya jangan dianiayanya, telah dijelaskan bahwa di antara mereka ada yang dijadikan kuli pekerja oleh Nabi Sulaiman dengan izin Allah ﷻ Dengan ini didapat pula kesan, bahwa seseorang yang telah dekat kepada Allah ﷻ, dapatlah memerintah jin bahkan dapat mengatur dan memerintah makhluk yang lain dengan izin Allah jua.
“Dan banangsiapa yang menyimpang di antata mereka, Kami deritakan kepadanya dari adzab yang bernyala-nyala."
(ujung ayat 12)
Ujung ayat ini pun lebih besar membawakan kesan bahwa jin adalah salah satu di antara makhluk-makhluk Allah yang wajib melaksanakan perintah. Kalau perintah yang disuruh Allah melaksanakannya itu tidak segera dikerjakan, atau menyimpang dari yang diperintahkan, niscaya hukum Allah ﷻ akan berlaku atas dirinya.
Orang yang lemah imannya takut kepada ruh jahat, takut kepada hantu, takut kepada jin. Orang yang belum mendalam mengetahui agama dan masih bersarang dalam dirinya sisa-sisa kemusyrikan kalau mereka mendapat demam kapialu atau karena masuk angin pulang dari perjalanan, dia mengatakan bahwa dia sakit karena ditegur atau disapa oleh jin. Padahal menurut satu keterangan dari Ibnu Abbas, jin itu sendiri yang lari jika bertemu dengan manusia yang lebih tinggi derajat imannya.
Tentu ada pula orang yang merasa musykil lalu mengatakan, “Bagaimana jin yang berasa! dari api, akan diadzab dengan dibakar?" Kalau soal-soal seperti ini hanya dipikirkan dengan kekuatan berpikir manusia yang terbatas, niscaya tidak akan terjawab. Tetapi kalau diinsafi bahwa Allah mempunyai kekuatan Yang Mahaluas dan alat untuk mengadzab yang sangat lengkap, tentu pertanyaan itu akan terjawab sendiri oleh manusia dengan kepercayaan bahwa bagi Allah tidaklah mustahil menghukum yang berasal dari api dengan membakarnya pula.
Isma'il bin Hasan berkata, “Jin anak dari iblis, manusia anak dari Adam, dari kalangan keduanya ada yang beriman, beramal saleh sama dapat pahala, berbuat jahat sama berdosa, yang Mukmin sama jadi wali Allah, yang kafir sama-sama setan."
“Mereka kerjakan untuknya apa yang dia kehendaki."
(pangkal ayat 13)
Tegasnya bahwa jin-jin itu telah menjadi pekerja mengerjakan, membangun dan membuat apa yang diinginkan oleh Nabi Sulaiman. Mungkin karena tenaga manusia saja tidak mencukupi."Dari mihrab-mihrab." Menurut kitab-kitab tafsir arti mihrab yang jamaknya maharib bukan saja mihrab tempat orang shalat menghadap kiblat sebagaimana yang telah terpakai dalam bahasa Indonesia atau Melayu sendiri.
Menurut Mujahid, maharib atau mihrab ialah bangunan besar yang menengah, di atas dari rumah biasa, di bawah dari gedung besar.
Adh-Dhahhak mengatakan bahwa maha-rib (mihrab) berarti masajid (masjid).
Qatadah mengatakan, Maharib boleh diartikan gedung-gedung dan boleh diartikan masjid-masjid.
Maka tugas utama dari jin-jin itu ialah mendirikan rumah-rumah tempat beribadah dan gedung-gedung yang indah, sebab Kerajaan Bani Israil telah besar dan Jerusalem telah menjadi pusat pemerintahan.
“Dan patung-patung." Dan hal patung-patung ini tentu saja mendatangkan musykil di dalam hati orang, mengapa Nabi Sulaiman memerintahkan membuat patung. Padahal agama tauhid yang dibawa oleh seluruh Nabi-nabi mengharamkan penyembahan berhala? Nabi Sulaiman anak Dawud dan Dawud dari keturunan Bani Israil, yang dibawa oleh Nabi Musa dan Harun mengarung lautan dan dibelahkan laut untuk tempat lalu mereka karena menghindarkan diri dari penyembah berhala. Israil yang bernama juga Ya'qub anak dari Ishaq dan Ishaq anak dari Ibrahim, yang terkenal menghancurkan berhala seraya meninggalkan berhala yang paling besar saja, dan ketika ditanya siapa yang menghancurkan berhala-berhala itu, Ibrahim menjawab bahwa yang menghancurkannya ialah berhala yang paling besar itu. Sampai Ibrahim dibakar, tetapi tidak diizinkan oleh Allah api itu membakar dia. Dan Ibrahim pun keturunan dari Nuh. Di dalam Al-Qur'an surah Nuuh sampai di-terangkan nama-nama berhala yang dipuja orang di zaman Nuh, yaitu Wadd, Suwaa', Yaghuuts, Ya'uuq dan Nasran, yang membawa manusia jadi sesat. (Lihat surah tersebut ayat 23 dan 24),
Mengapa Sulaiman menyuruh membuat patung-patung?
Teranglah bahwa pada masa itu sudah ada seni lukisan, patung-patung binatang, patung orang, patung burung-burung dan pohon-pohon. namun semuanya itu bukan buat di-sembah, melainkan buat perhiasan. Gedung-gedung indah dihiasi dengan lukisan (patung).
Abui Aliyah mengatakan bahwa di zaman itu patung-patung untuk perhiasan itu tidak terlarang dalam syari'at mereka.
Kemajuan seni lukis demikian rupa, sehingga halaman istana dibuat dari kaca, se-hingga dilihat dari jauh disangka air, padahal kaca. Sampai Ratu Balqis terkecoh melihatnya, sehingga ketika akan masuk ke dalam pekarangan istana disingsingkannya roknya sampai tersimbah pahanya keduanya. Lalu ditegur oleh Nabi Sulaiman dengan senyum, “Itu cuma lantai istana yang licin saja, terbuat dari kaca “ (Lihat surah an-Naml, ayat 44).
Dan sampai sekarang di bekas-bekas istana Babylon di Iraq masih kita dapati per-hiasan dinding istana terbuat dari porselin indah merupakan binatang, warna-warni yang amat halus buatannya.
“Dan kancah-kancah besar laksana kolam dan tungku-tungku tertegak." Jin-jin itu pun disuruh membuat kancah-kancah. Dalam bahasa Arab yang tertera dalam ayat disebutnya jifaanin yang artinya tempat makanan yang dapat menyediakan untuk seribu orang, lalu kita artikannya kancah atau kalau banyak menjadi kancah-kancah. Tempat memasak makanan untuk orang banyak itu ada yang dapat memasakkan sekadar untuk seratus orang, bernama kuali. Dan kalau sudah untuk beratus-ratus orang, misalnya seribu orang dengan memasak makanan seekor kerbau, ada kancah yang dapat memasak untuk jamuan seribu orang. Diumpamakan kancah itu aljawaabii kata jamak dari jabiyah, yaitu kolam untuk persediaan air. Maka besar kancah-kancah itu diumpamakan sebagai kolam-kolam persediaan air, karena besarnya. Di samping persediaan alat pemasak makanan untuk orang banyak itu disediakan pula dan dibikinkan pula tungku-tungku besar yang sesuai dengan kancah-kancah itu. Yaitu tungku yang telah ditanamkan dengan teguh, sehingga tidak bergoyang jika kancah-kancah tadi dijerangkan di atasnya. Tampaklah dari kedua keterangan ini bahwa jin-jin itu diperintahkan juga membuatkan kancah-kancah tempat memasak makanan orang banyak bersama tungkunya yang kuat yang tidak dapat dibongkar begitu saja. Ialah jadi bukti bahwa Nabi Sulaiman menyediakan alat-alat memasak makanan buat beribu orang. Dan ini dapat kita pahamkan karena Nabi Sulaiman seperti ayahnya juga mempunyai tentara yang besar, untuk menjaga keamanan negara yang begitu luas. Menjaga keamanan dari serangan musuh yang dapat menyerbu dari luar atau pemberontakan yang timbul dari dalam negeri.
“Bekerjalah keluarga Dawud dalam keadaan bersyukur." Artinya ialah bahwa setelah Allah menguraikan berapa banyak karunia-Nya kepada kedua hamba-Nya dua beranak itu, Dawud dan Sulaiman; nikmat Kerasulan, nikmat kenabian, nikmat kerajaan, nikmat keahlian, nikmat kesenian, nikmat dapat menaklukkan burung yang sedang terbang hanya dengan kemerduan suara bagi Dawud dari nikmat dapat memerintah jin dengan izin Allah ﷻ untuk Sulaiman, sehingga luaslah kerajaan mereka dan besarlah pengaruh mereka, dan mendapat pula kelimpahan karunia itu keluarga yang lain-lain, datanglah perintah Allah ﷻ kepada seluruh keluarga Dawud, baik diri Dawud atau anak cucunya atau kaum keluarganya dekat dan jauh agar menerima seluruh karunia Allah itu dengan syukur yang setinggi-tingginya dan bukti syukur itu hendaklah dengan bekerja. Bersyukur tidaklah ada artinya kalau hanya mengucapkan syukur dengan mulut, tidak dibuktikan dengan perbuatan.
Ayat ini memberi ingat seluruh orang yang beriman, bahwa bekerja, beramal yang saleh itu adalah hakikat kesyukuran sejati. Kalau misalnya Allah memberi kita nikmat dan karunia harta benda itu dengan jalan yang baik. Kalau mendapat rezeki hendaklah syukuri dengan membelanjakannya untuk perbuatan yang halal. Kalau Allah memberi kita karunia ilmu pengetahuan, hendaklah syukuri ilmu pengetahuan itu dengan mengajarkannya pula kepada orang lain, agar diambil akan faedahnya. Kalau mempunyai setumpuh tanah, hendaklah tanami dengan baik dan keluarkan hasilnya.
Di ujung ayat Allah ﷻ berfirman,
‘Tetapi sedikitlah dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur “
(ujung ayat 13)
Sedikit hamba Allah yang bersyukur; dilimpahi Allah dia rezeki, tidak diingatnya orang yang patut ditolong. Dilimpahi Allah dia kebun yang luas, ﷺah berjenjang sebagai pusaka dari nenek moyangnya, tidak diusahakannya dengan baik. Dilimpahi Allah dia umur yang panjang, tidak disyukurinya dengan beribadah kepada Allah. Sebab itu Allah ﷻ ber-firman bahwa yang sebenar-benar bersyukur menerima nikmat Allah itu hanya sedikit.
“Maka tatkala telah Kami tetapkan atas dirinya almaut."
(pangkal ayat 14)
Artinya setelah datang ajal beliau, Nabi Sulaiman a.s. bercerailah nyawanya dengan badannya. “Tidaklah ada bagi mereka tanda-tanda kematiannya," tidaklah seorang jua pun dari jin yang bekerja keras membangun rumah ibadah, gedung-gedung dan lain-lain itu yang tahu bahwa beliau telah meninggal karena tanda-tanda bahwa beliau telah meninggal tidak kelihatan. Beliau ketika itu sedang menjaga jin-jin itu sedang bekerja keras siang malam. Beliau memanduri. Namun karena hebat dan besar pengaruh Nabi Sulaiman itu tidak seorang jua pun jin yang menengadah melihat wajah beliau. Selama beliau masih hidup dan sehat, beliau perhatikan sendiri mereka bekerja. Kalau ada keperluan yang lain beliau tinggalkan mereka, namun mereka terus bekerja karena tidak menyangka bahwa Nabi Sulaiman sedang tidak berada di tempat itu. Demikianlah, mereka selalu bekerja dan bekerja dengan tidak menoleh-noleh karena takutakan kebesaran Nabi Sulaiman. Karena itu tidaklah mereka ketahui bahwa Nabi Sulaiman telah meninggal sedang menghadapi mereka bekerja. Karena tanda-tanda kematian tidak mereka lihat atau tidak mereka perhatikan, “Kecuali setelah rayap bumi memakan tongkatnya." Yaitu sebangsa semut anai-anai yang disebut juga rayap, yang suka memakan kayu. Rupanya Nabi Sulaiman meninggal dunia sedang beliau bertelakan kepada tongkatnya. Maka tetaplah beliau tertegak ditahan oleh tongkat itu, walaupun beliau telah mati. Lama-lama rayap-rayap itu pun menjalari tongkat dan memakannya dari dalam sehingga tidak dapat bertahan lagi dan hancurlah tongkat itu,
“Setelah dia tensungkun jatuh jelaslah kepada jin, yang kalau mereka mengetahui akan yang gaib tidaklah mereka akan begitu lama dalam adzab yang hina."
(ujung ayat 14)
Artinya ialah kalau jin-jin itu benar tahu akan yang gaib, sudah patut tahulah mereka bahwa Nabi Sulaiman sudah meninggal dunia, lama sebelum tongkat beliau patah dimakan rayap. Ini pun menunjukkan bahwa di hadapan manusia yang tinggi martabat imannya jin-jin itu akan kucur ketakutan karena tidak tertantang oleh cahaya iman yang bersinar dari pribadi yang besar dan dekat kepada Allah itu.
Tidaklah dijelaskan di dalam Al-Qur'an berapa lama mayat Nabi Sulaiman tegak ter-diri ditahan tongkat. Ada yang mengatakan satu tahun. Tetapi keterangan ini tidak ada hadits Rasulullah yang menguatkannya. Dan mayat yang berdiri itu tidaklah rusak sampai tersungkur sebab tongkatnya telah remuk. Barangkali tidak rusaknya tubuh Nabi Sulaiman sekian lama ditahan tongkatnya, tidak membusuk dan tidak mengalir darah dan mala yang hanyir ialah sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ,
“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepada bumi memakan daging nabi-nabi." (HR Abu Dawud dan lain-lain)
Di zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab ada bertemu di negeri Irak satu tubuh manusia yang tergali dari suatu kuburan. Padahal kuburan itu sudah sangat tua. Penduduk mengatakan bahwa kuburan itu ialah kuburan Nabi Daniel, Nabi Bani Israil yang tersebut namanya dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Maka keraslah persangkaan, orang banyak bahwa tubuh itu adalah tubuh Nabi Dariel tersebut, yang telah beratus tahun meninggal dunia, lalu dipuja-puja orang laksana berhala. Maka diperintahkanlah oleh Sayyidina Umar menggali beberapa buah kuburan, beliau suruh kuburkan tubuh tersebut di salah satu kuburan yang telah digali itu pada tengah malam, lalu ditimbun semuanya sehingga kesannya tidak ada lagi dan tidak ada seorang pun yang tahu di kuburan yang mana tubuh itu telah dimakamkan.
Di Museum Thop Kapu di Istanbul disimpan beberapa barang bersejarah, sebagai-mana tongkat Nabi ﷺ, burdah beliau pedang Sayyidina Ali, dan lain-lain sebagainya. Satu di antara barang bersejarah ialah lengan manusia yang telah dibalut dengan emas dan perak. Lalu diberi keterangan bahwa lengan itu ialah lengan Nabi Yahya, yang sebagaimana kita kaum Muslimin tahu, beliau mati dibunuh oleh Raja Herodotus atas permintaan anak tirinya Salome, karena Nabi Yahya sangat mencela perhubungan yang tidak sah di antara raja itu dengan anak tirinya tersebut. Leher Nabi Yahya dipotong dan kepalanya dihidangkan di dalam talam emas ke hadapan raja sedang dia bersenda gurau dengan anak tirinya tersebut.
Benar atau tidaknya lengan itu adalah lengan Nabi Yahya, tidak kita tahu benar. Kalau itu benar, jelaslah sudah dua ribu tahun lengan itu tidak dimakan tanah, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi kita Muhammad ﷺr. tersebut itu.
Sabda Nabi bahwa tanah diharamkan Allah memakan daging nabi-nabi ini ialah se-ketika beliau memberi peringatan tentang dirinya sendiri, supaya kuburannya jangan diambil jadi masjid, sehingga setelah masjid beliau di Madinah diperlebar dan diperlebar lagi, sampai berpuluh kali dari masjid yang asli, orang takut memindahkan ke tempat lain, karena takut akan kelihatan tubuh beliau yang amat sangat dihormati tetapi bukan dipuja. Di zaman Perang Salib beberapa spion kaum Kristen dari Palestina telah dikirim ke Madinah menyamar, hendak mencuri batang tubuh beliau, dan memang pernah orang melihat ketika terjadi satu kerusakan pada kubur, terbuka paha beliau. Adapun usaha kaum Kristen yang sangat jahat itu dapat diketahui dan spion-spion itu dapat ditangkap dan dibunuh setelah terlebih dahulu dia memberikan pengakuan tentang maksudnya dan siapa yang mengutusnya.
Maka tidaklah mustahil jika demikian keadaan tubuh nabi-nabi. Sedangkan dengan obat-obat, semacam balsem, orang Mesir dan orang Indian dapat membuat tahan tubuh manusia beribu-ribu tahun, apatah lagi cinta kasih Allah kepada makhluk-makhluk yang Dia pilih jadi utusan-Nya.
The Favors which Allah bestowed upon Dawud
Allah says:
وَلَقَدْ اتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلً يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ
And indeed We bestowed grace on Dawud from Us (saying):
O you mountains! Glorify with him! And you birds (also)! And We made the iron soft for him.
Here Allah tells us how He blessed His servant and Messenger Dawud (David), peace be upon him, and what He gave him of His great bounty, giving him both Prophethood and kingship, and huge numbers of troops. And He blessed him with a mighty voice. Such that when he glorified Allah, the firm, solid, high mountains joined him in glorifying Allah, and the free-roaming birds, who go out in the morning and come back in the evening, stopped for him, and he was able to speak all languages.
In the Sahih it is recorded that the Messenger of Allah heard the voice of Abu Musa Al-Ash`ari, may Allah be pleased with him, reciting at night, and he stopped and listened to his recitation, then he said:
لَقَدْ أُوتِيَ هذَا مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ الِ دَاوُد
This man has been given one of the sweet melodious voices of the Prophet Dawud.
Abu Uthman An-Nahdi said,
I never heard any cymbal, stringed instrument or chord that was more beautiful than the voice of Abu Musa Al-Ash`ari, may Allah be pleased with him.
أَوِّبِي
(Glorify) means, glorify Allah.
This was the view of Ibn Abbas, Mujahid and others.
The root of this word (Ta'wib) means to repeat or respond, so the mountains and birds were commanded to repeat after him.
وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ
And We made the iron soft for him.
Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, Al-A mash and others said,
He did not need to heat it in the fire or beat it with a hammer؛ he could simply twist it in his hands, like a thread.
Allah said
أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ
Saying:Make you perfect coats of mail...,
which means chain mail.
Qatadah said,
He was the first person ever to make chain mail; before that, they used to wear plated armor.
وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ
and balance well the rings of chain armor (Sard),
This is how Allah taught His Prophet Dawud, peace be upon him, to make coats of mail.
Mujahid said concerning the Ayah:
وَقَدِّرْ فِي السَّرْد
(and balance well the rings of chain armor (Sard)),
Do not make the rivets too loose that the rings (of chain mail) will shake, or make them too tight that they will not be able to move at all, but make it just right.
Ali bin Abi Talhah reported that Ibn Abbas said,
Sard refers to a ring of iron.
Some of them said,
Chain mail is called Masrud; if it is held together with rivets.
وَاعْمَلُوا صَالِحًا
and work you (men) righteousness.
means, with regard to what Allah has given you of blessings.
إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Truly, I am All-Seer of what you do.
means, watching you and seeing all that you do and say؛ nothing of that is hidden at all
The Favors which Allah bestowed upon Suleiman
Allah says:
وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ
And to Suleiman (We subjected) the wind, its morning was a month's (journey), and its afternoon was a month's (journey).
Having mentioned the blessings with which He favored Dawud, Allah follows this by mentioning what He gave to Dawud's son Suleiman (Solomon), may peace be upon them both. He subjugated the wind to him, so that it would carry his carpet one way for a month, then back again the next month.
Al-Hasan Al-Basri said,
He set out from Damascus in the morning, landed in Istakhar where he ate a meal, then flew on from Istakhar and spent the night in Kabil.
Between Damascus and Istakhar is an entire month's travel for a swift rider, and between Istakhar and Kabul is an entire month's travel for a swift rider.
وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ
.
And We caused a fount Qitr to flow for him,
Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, Mujahid, Ikrimah, Ata' Al-Khurasani, Qatadah, As-Suddi, Malik from Zayd bin Aslam, Abdur-Rahman bin Zayd bin Aslam and others said,
Qitr means copper.
Qatadah said, It was in Yemen.
Allah brought forth all the things that people make for Suleiman, peace be upon him.
..
وَمِنَ الْجِنِّ مَن يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ
and there were Jinn that worked in front of him, by the leave of his Lord.
means, `We subjugated the Jinn to work in front of him,' by the permission of his Lord, i.e., by Allah's decree and subjugation, they built whatever constructions he wanted, and did other work as well.
وَمَن يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا
And whosoever of them turned aside from Our command,
means, whoever among them tried to rebel and disobey,
نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ
We shall cause him to taste of the torment of the blazing Fire.
which means, burning
يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاء مِن مَّحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ
They worked for him as he desired on Maharib, Tamathil,
Maharib refers to beautiful structures, the best and innermost part of a dwelling.
Ibn Zayd said,
This means dwellings.
With regard to Tamathil, Atiyah Al-Awfi, Ad-Dahhak and As-Suddi said that;
Tamathil means pictures.
وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَّاسِيَاتٍ
large basins like Jawab and Qudur Rasiyat.
Jawab, the plural form of Jabiyah, refers to cisterns or tanks in which water is held, and Qudur Rasiyat are cauldrons that stay in one place and are not moved around because of their great size.
This was the view of Mujahid, Ad-Dahhak and others.
اعْمَلُوا الَ دَاوُودَ شُكْرًا
Work you, O family of Dawud, with thanks!
means, `We said to them:Work with thanks for the blessings that We have bestowed upon you in this world and the Hereafter.'
This indicates that thanks may be expressed by actions as much as by words and intentions.
Abu Abdur-Rahman Al-Hubuli said,
Prayer is thanks, fasting is thanks, every good deed that you do for the sake of Allah is thanks, and the best of thanks is praise.
This was recorded by Ibn Jarir. In the Two Sahihs, it is reported that the Messenger of Allah said:
إِنَّ أَحَبَّ الصَّلَةِ إِلَى اللهِ تَعَالَى صَلَةُ دَاوُدَ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ
وَأَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ تَعَالَى صِيَامُ دَاوُدَ كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا وَلَاأ يَفِرُّ إِذَا لَاأقَى
The most beloved of prayer to Allah is the prayer of Dawud. He used to sleep for half the night, stand in prayer for a third of it and sleep for a sixth of it.
The most beloved of fasting to Allah is the fasting of Dawud. He used to fast for a day then not fast for a day, and he never fled the battlefield.
Ibn Abi Hatim narrated that Fudayl said concerning the Ayah:
اعْمَلُوا الَ دَاوُودَ شُكْرًا
(Work you, O family of Dawud, with thanks!)
Dawud said, O Lord! How can I thank you when thanks itself is a blessing from You!
He said:Now you have truly given thanks to Me, for you have realized that it is a blessing from Me.
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
But few of My servants are grateful.
This is a reflection of reality
The Death of Suleiman
Allah tells:
فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ
Then when We decreed death for him,
Allah tells us how Suleiman, peace be upon him, died and how Allah concealed his death from the Jinn who were subjugated to him to do hard labor. He remained leaning on his stick, which was his staff, as Ibn Abbas may Allah be pleased with him, Mujahid, Al-Hasan, Qatadah and others said.
He stayed like that for a long time, nearly a year. When a creature of the earth, which was a kind of worm, ate through the stick, it became weak and fell to the ground. Then it became apparent that he had died a long time before.
It also became clear to Jinn and men alike that the Jinn do not know the Unseen as they (the Jinn) used to imagine and tried to deceive people.
This is what Allah says:
مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلاَّ دَابَّةُ الاْاَرْضِ تَأْكُلُ مِنسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَن لَّوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ
nothing informed them (Jinn) of his death except a little worm of the earth which kept (slowly) gnawing away at his stick. So when he fell down, the Jinn ﷺ clearly that if they had known the Unseen, they would not have stayed in the humiliating torment.
meaning, it became clear to the people that they (the Jinn) were lying.
They fashioned for him whatever he wished: lofty shrines (mahaareeb are high edifices which are ascended by stairs) and statues (tamaatheel is the plural of timthaal, which is any thing which you fashion as a likeness [of another]), in other words, brass, crystal or marble figures - the use of figures was not prohibited according to his Law; and basins (jifaan is the plural of jafna) like cisterns (jawaabin is the plural of jaabiya, which is a large basin) - around each 'basin' a thousand men would gather to eat - and cauldrons built into the ground, fixed with foundations, and cannot be moved from their places: these were made from the [rocks of the] mountains of Yemen, and to which one ascended by climbing up a ladder. And We said: 'Work, O, House of David, in obedience to God, in thankfulness, to Him for what He has given you. And few indeed of My servants are thankful', labouring in obedience to Me in thanks for My favours.
In verse 13: يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِن مَّحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَّاسِيَاتٍ (They used to make for him whatever he wished of castles, images, basins as (large as) tanks and big cook-wares fixed in their places), there is a somewhat detailed description of the jobs Sayyidna Sulayman (علیہ السلام) assigned to the Jinns. The word: مَحَاریب (maharib, translated above as 'castles' ) is the plural form of: مِحرَاب (mihrab) and is used to identify the noblest part of the house. When kings and men of authority make a state operation chamber, sort of power niche for themselves, it is also known as mihrab. Then the word: is a derivation from: حَرب (harb) meaning war. One makes a seat of power for himself, keeps it safe against being approached by others, and should anyone resort to any high-handedness, he would fight against the aggressor. Given this congruity, the special section of a mansion is called mihrab. Then the masajid or mosques as such are, on occasions, referred to as maharib. When reference is made to the maharib of sahabah from among the maharib of Ban' Isra'il and Islam, it means their Masajid or mosques.
The injunction of having a separate place for making a Mihrab in Masajid
As far as the blessed period of the Holy Prophet ﷺ and the rightly-guided Khulafa' is concerned, the custom of making the place where the Imam stands as a separate special unit just did not exist. After the early centuries of Islam, the kings promoted this custom for their security and, among common Muslims, it found currency due to the expedient consideration that the whole row where the Imam stands remains empty. It is in view of the large number of people praying in the congregation of masajid already short on space that only a place for the Imam to stand is made by going in depth toward the wall facing the Qiblah so that full rows could be formed behind him. Since this method did not prevail during the early centuries of Islam, some ` Ulama' have dubbed it as bid'ah (innovation in the established religious practice of Islam). Shaykh Jalaluddin as-Suyuti' has written a regular treatise entitled: I` lam-ul-'Aranib fi Bid` atil-Maharib on this issue. However, the correct position in this matter is that, should mihrabs of this nature be made for the convenience of the people praying, and in the best interests of the masjid - without taking it to be the desired Sunnah - then, there is no reason to call it a bid'ah (innovation in established religion). Yes, if this is made to be the desired Sunnah, and whoever does anything against it gets to be censured, then, this excess (ghuluww) can make such an action fall under the purview of bid'ah.
Ruling
If mihrab is made in the form of a regular place for the Imam to stand and lead the prayers, it is incumbent on the Imam that he stands slightly outside the mihrab in a manner that his feet remain out of the mihrab, so that the place in which the Imam and the muqtadis (those praying behind the Imam) can be counted as one. Otherwise, reprehensible and impermissible is the situation in which the Imam stands alone in a separate place and the rest of the muqtadis, in another. Some masajid would make a mihrab so spacious that it would be good enough to hold a small row of muqtadis within it. In a mihrab such as this, should a row of muqtadis also stand in the mihrab and the Imam stands ahead of them, being fully inside the mihrab, then, because of the Imam and the muqtadis being on common grounds, the element of harahah (reprehensibility) will no more be there.
The next word: تَمَاثِیل (tamathil, translated above as 'images' ) is the plural form of: J (timthal). It appears in the Arabic Lexicon, al-Qamus, that: تِمثَال (timthal) with a fathah on the letter: sUi (ta' is a verbal noun, and the word: تِمثَال (timthal) with a kasrah on the letter: اَلتَاء (ta) denotes a picture. In Ahkam-ul-Qur'an, Ibn-ul-` Arabi has said that timthal, that is, a picture is of two kinds: (1) The picture of animate and living things, (2) that of inanimate and lifeless things. After that, inanimate things are further divided in two kinds: (1) Jamad or inorganic in which there is no increase and growth, such as, rock or soil, (2) nami or organic in which increase and growth go on, such as, trees and crops. The Jinns used to make pictures of all kinds of these things for Sayyidna Sulayman (علیہ السلام) . To begin with, the very generality of the Qur'anic word: تَمَاثِیل (tamathil: images) lends support to the view that these pictures were not those of some particular kind, instead, were common to all kinds. Then there are the historical narratives in which the presence of the pictures of birds on the throne of Sayyidna Sulayman (علیہ السلام) has also been mentioned.
The prohibition of making and using pictures of the living in Shari’ ah
The cited verse (12) tells us that making and using pictures of the living was not haram (forbidden) in the Shari` ah of Sayyidna Sulayman (علیہ السلام) . But, experience bore out that pictures of people were made among past communities to pay homage to them, then they were put in their houses of worship to serve as reminders of their devotion in the hope that it might enable them too to devote likewise. This did not happen. Gradually, what really happened was that these people made these very pictures the objects of their worship and thus began the worship of idols and icons.
In short, the pictures of the living creatures made in past communities became the conduit of idol-worship. Since it is divinely destined that the Shari` ah of Islam must stay and survive right through the Day of Judgment, therefore, particular attention has been paid there to block the intrusion of the undesirable. Hence, the way sins and initially haram things have been made unlawful, similarly, their conduits and close causes have also been made unlawful by appending these to main sins and haram things. Of crimes, the real one, and the most serious, happens to be shirk and idol-worship. When this was forbidden, the law of Islam did not leave the ways and means that could smuggle idol-worship in it unchecked. It was boldly and wisely checked when the conduits and close causes of idol-worship were also prohibited. Making and using pictures of the living was made prohibited on this very basis. That it is unlawful stands proved on the authority of the ahadith of the Holy Prophet ﷺ ، ahadith that are sound, authentic, and have been transmitted in an uninterrupted succession.
Similarly, when liquor was made haram, also made haram were its buying and selling, wages to deliver or carry it, and its making, everything about it, being the conduits of drinking. When theft was made haram, the very entry in someone's house without permission, in fact, even peeping in from outside the house was prohibited. When zina (fornication, adultery) was made haram, even casting a look intentionally at a non-mahram was also made haram. Comparable examples of it abound in the Shari` ah of Islam.
The prohibition of pictures: A common doubt and its answer
It can be said that the use of pictures during the blessed time of the Holy Prophet ﷺ could have become a source of idol-worship. But, in our time, pictures serve many purposes, such as establishing identity of criminals, advertising trademarks, meeting friends and relatives, investigating events and circumstances and so many other things. For this reason, it has been included in one of the necessities of life. In this, the apprehension of any idol-worship is far too remote to conceive. As such, this prohibition that was made to offset the danger of idol-worship should now be lifted.
Answer to this doubt is that First of all, it is not correct to say that, in our time, pictures are no more a source of idol-worship. Even today, there are so many sects and groups who worship their peers. Then, it is not necessary either that the wisdom behind an operative divine order should be found in every individual case. In addition to that, the sole reason for the prohibition of pictures is not that it is a conduit of idol-worship. In fact, there are Sahih (sound and authentic) ahadith in which other reasons for this prohibition have also been given. For example, picture making is a duplication of the special attribute of Allah Ta’ ala. The name: مُصَوَّر (muﷺwir: the giver of form, shape, color and real presence) is one of the most beautiful names of Allah Subhanahu wa Ta’ ala, and making of pictures (and the giving of form, shape and presence) is, in reality, befitting for Him and it lies within His power to create among His creations thousands in terms of genus, race, class, category and kinds with millions and billions of living units in each kind, each different in shape. Take the example of human beings. The form and shape of men is different. So is the form and shape of women. There have been billions of individual men and women. None of them were absolutely like anyone else. The distinct features of every person are so manifest that an onlooker would easily recognize him without much hesitation. Who can claim to give the creatures such marvelous shapes other than Allah Almighty? A human being who makes a picture, or painting, or statue of someone living is claiming, for all practical purposes, that he or she too can make (the same) 'images.' Therefore, it appears in the Sahih of al-Bukhari and in other ahadith that, on the Day of Judgment, those who make pictures will be told: When you have tried to imitate Us, make the imitation perfect too - if you have the power to do so. We did not simply make an image. We have invested it with a spirit too. If you claim to have 'created' it, then, you better put a spirit inside the thing you have 'made’. Another reason why a picture is prohibited appears in Sahih ahadith where it is said that the angels of Allah hate pictures and dogs. Angels do not enter the house that has these, because of which, the bliss and radiance of the house is gone, and the ability of the inmates to worship and remain obedient to Allah is reduced. Then, along with it, not so wrong is the well-known saying: خانہ خالی را دیو می گیرد (A vacant house is occupied by demons). So, when some house remains unvisited by angels of mercy, who else but the devils and demons will be all over it staying there to sow scruples of sins first and then give the intention and the courage to fall into them.
Yet another reason appearing in some ahadith is that pictures are unnecessary embellishment of this world. Of course, in our time, pictures yield many benefits but thousands of crimes, including those that range between immodesty and pornography, also breed and flourish from these very pictures. In short, it is not simply one reason alone that was made basis for its prohibition, rather, there is a host of reasons why the Shari'ah of Islam has declared it prohibited to make and use pictures of the living. Now, if we were to suppose that there is some particular person in whom those causes are not found, then, from this stray incidence, the rule of the Shari'ah cannot change.
According to a narration from Sayyidna ` Abdullah Ibn Masud ؓ appearing in the .Sahih of al-Bukhari and Muslim, the Holy Prophet ﷺ has been reported to have said:
اَشَدُّ النَّاسِ عَذَاباً یَّومَ القِامۃ المُصَوِّرُونَ
Of people the most affected by punishment on the Day of Judgment shall be the makers of pictures.
And in some other narrations of Hadith, the Holy Prophet ﷺ t has been reported to havb cursed the makers of pictures. Then, a narration from Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ appearing in the two Sahihs of al-Bukhari and Muslim reports that the Holy Prophet ﷺ t said:
کُلُّ مُصَوِّرِ فِی النَّارِ
Every maker of pictures will be in the Jahannam.
This humble writer has put together detailed evidences concerning this issue from the narrations of Hadith and the practice of the early forbears of Islam in his treatise entitled, At-taswir li-ahkam-it-taswir.
Also included in it, there are answers to doubts entertained by people. If needed, please consult.
A photograph is also a picture
Some people argue that a photo is outside the definition of taswir or picture, because it is a shadow, or reflection, as it would appear in mirror or water. So, they would argue, the way it is permissible to look at yourself in a mirror, in the same way, a photo picture is also permissible. But this argument is absolutely wrong, because a reflection or shadow is a reflection until it has not been made to last through some device. Take the example of mirror or water. Your reflection in it will be gone once you move away from it. If the reflection of this figure were to be made lasting through the use of some chemical process or device, this very thing will become a picture, the forbiddance and prohibition of which stands proved from ahadith appearing in an uninterrupted succession. A detailed discussion relating to the issue of photographs has also been included in my treatise on pictures referred to earlier.
The next word: جِفَان (jifan, translated in the text as 'basins' ) is the plural of: جَفنَۃ (jafnah) which means a large dish-like pan or tub to hold ample supply of water, and the word: اَلجَوِاب (aljawab, translated above as 'tanks' ) in: کَالجَوَابِ (kaljawab) is the plural of: جاَبِیَۃ (jabiyah). A small water tank is called: جابیہ (jabiyah). The sense is that they would make water-storing utensils so large as would hold water equal to that of a small tank. The first of the next two words: قُدُور (qudur, translated above as 'cook-wares' ) is the plural of: قِدر (qidr) which is spelt with the Kasrah of the letter: القَاف (qaf). It means a pot (to boil or cook. The last of the two words: رَاسِیَات (rasiyat, translated as 'fixed at their place' ) refers to their state as being set where they were. The sense is that they used to make these cauldrons so huge and heavy that they were virtually immovable - and it is also possible that they would have made these cauldrons fixed on the ovens of solid rock, and therefore they were immovable in that respect. Early Tafsir authority, Dahhak has given this very explanation of these words.
In verse 13: اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ (Do good, 0 family of Dawud, in thankfulness. And few from My slaves are thankful." [ 34:13]), after having stated that Sayyidna Dawud and Sulayman (علیہما السلام) were particularly blessed by Allah Ta’ ala, they and their family and children have been ordered to remain grateful.
The reality of Shukr (gratitude) and its injunctions
According to Al-Qurtubi, the reality of shukr (gratitude) is that one admits that this blessing has been bestowed by such and such giver and then goes on to use it in consonance with the spirit of his pleasure and in obedience to him. Therefore, using the blessing bestowed by someone counter to his pleasure is ungratefulness and a virtual denial of that blessing. This tells us that the way gratefulness can be in words, it can also be expressed by acts. When expressed by acts, it would mean the use of that blessing in accordance with the pleasure of the giver and in obedience to him. Abu 'Abdur-Rahman As-Sulami has said that Salah is gratitude, fasting is gratitude, and every good deed is gratitude. And Muhammad Ibn Ka'b al-Qurazi says that gratitude is the name of piety and righteous conduct. (Ibn Kathir)
In the verse under study, the noble Qur'an could have used the comparatively brief expression اَشکُرُونِی (ushkuruni: thank Me), but the words used are اعْمَلُوا شُكْرًا Perhaps this expression is adopted to release the hint that the gratitude expected from the House of Dawud was gratitude in practice. (The translation in the text has taken care of this hint by saying, 'Do good....' )
This injunction was carried out so faithfully by Sayyidna Dawud and Sulayman (علیہما السلام) and their families and children, both in word and deed, that no time passed in their homes when they did not have an individual member of the family standing exclusively devoted to worship. In fact, specific time was allotted to all family members for this purpose. As a result, the prayer mat of Sayyidna Dawud (علیہ السلام) would not remain unoccupied at any time by one or the other maker of prayer. (Ibn Kathir)
According to Hadith in al-Bukhari and Muslim, the Holy Prophet ﷺ said that the dearest prayer to Allah is that of Dawud (علیہ السلام) . He would sleep half of the night, stand in worship for one third of it, and then, sleep -during the last one sixth. And the dearest fasts to Allah are the fasts of Dawud علیہ السلام ، for he would fast on alternate days. (Ibn Kathir)
It has been reported from Fudayl (رح) that following the revelation of this command of gratitude to Sayyidna Dawud (علیہ السلام) ، he submitted before Allah Ta’ ala: '0 my Lord, how could I show my gratitude to You fully and sufficiently while my gratitude too, be it oral or practical, is nothing but a blessing bestowed by You? On this too, a separate gratitude becomes due.' Allah Ta’ ala said, اَلاٰنَ شَکَرتنِی یَا داؤدُ (Now, 0 Dawud, you did thank Me). The reason was that he had realized his inability to thank Him as was His due, and had made a confession to that effect.
Tirmidhi and Abu Bakr al-Jassas (رح) report from Sayyidna ` Ata' Ibn Yasar ؓ that when this verse: اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا (Do good, 0 family of Dawud, in thankfulness) was revealed, the Holy Prophet ﷺ came to the pulpit, recited this verse and then said, "There are three acts whoever accomplishes them would achieve the same excellence as was bestowed on the House of Dawud." The noble Sahabah asked: "Ya RasulAllah, what are those three acts?" He said, "Staying firm on justice in states of pleasure and displeasure both; and taking the path of moderation in states of prosperity and adversity both; and fearing Allah both in private and in public." (Qurtubi, Ahkam ul-Al-Qur'an, al-Jassas)
In the last sentence of verse وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ soon after having given the command for gratitude with special emphasis, the reality on ground was also pointed to by saying that 'And few from My slaves are thankful.' which is an admonition for a believer, and an incitement to observe gratitude.








