Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
وَلِسُلَيۡمَٰنَ
dan untuk Sulaiman
ٱلرِّيحَ
angin
غُدُوُّهَا
perjalanannya di waktu pagi
شَهۡرٞ
sebulan
وَرَوَاحُهَا
dan perjalanan di waktu petangnya
شَهۡرٞۖ
sebulan
وَأَسَلۡنَا
dan Kami alirkan
لَهُۥ
untuknya
عَيۡنَ
sumber/mata air
ٱلۡقِطۡرِۖ
leburan/cairan tembaga
وَمِنَ
dan dari sebagian
ٱلۡجِنِّ
jin
مَن
orang/jin
يَعۡمَلُ
ia bekerja
بَيۡنَ
diantara
يَدَيۡهِ
hadapannya
بِإِذۡنِ
dengan izin
رَبِّهِۦۖ
Tuhannya
وَمَن
dan barang siapa
يَزِغۡ
berpaling/menyimpang
مِنۡهُمۡ
diantara mereka
عَنۡ
dari
أَمۡرِنَا
perintah Kami
نُذِقۡهُ
Kami rasakannya
مِنۡ
dari
عَذَابِ
azab
ٱلسَّعِيرِ
api yang menyala-nyala
وَلِسُلَيۡمَٰنَ
dan untuk Sulaiman
ٱلرِّيحَ
angin
غُدُوُّهَا
perjalanannya di waktu pagi
شَهۡرٞ
sebulan
وَرَوَاحُهَا
dan perjalanan di waktu petangnya
شَهۡرٞۖ
sebulan
وَأَسَلۡنَا
dan Kami alirkan
لَهُۥ
untuknya
عَيۡنَ
sumber/mata air
ٱلۡقِطۡرِۖ
leburan/cairan tembaga
وَمِنَ
dan dari sebagian
ٱلۡجِنِّ
jin
مَن
orang/jin
يَعۡمَلُ
ia bekerja
بَيۡنَ
diantara
يَدَيۡهِ
hadapannya
بِإِذۡنِ
dengan izin
رَبِّهِۦۖ
Tuhannya
وَمَن
dan barang siapa
يَزِغۡ
berpaling/menyimpang
مِنۡهُمۡ
diantara mereka
عَنۡ
dari
أَمۡرِنَا
perintah Kami
نُذِقۡهُ
Kami rasakannya
مِنۡ
dari
عَذَابِ
azab
ٱلسَّعِيرِ
api yang menyala-nyala
Terjemahan
Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya pada waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula)1 dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.
Catatan kaki
1 *693) Bila Nabi Sulaiman -'alaihissalām- mengadakan perjalanan dari pagi sampai tengah hari, maka jarak yang ditempuhnya sama dengan jarak perjalanan unta yang cepat dalam sebulan. Begitu pula apabila dia mengadakan perjalanan dari tengah hari sampai sore, maka kecepatannya sama dengan perjalanan sebulan.
Tafsir
(Dan) Kami tundukkan (bagi Sulaiman angin) menurut qiraat yang lain lafal Ar Riiha dibaca Ar Riihu yaitu dengan memperkirakan keberadaan lafal Taskhiirun (yang perjalanannya di waktu pagi) perjalanannya mulai dari pagi hingga waktu tergelincir matahari (sama dengan perjalanan sebulan, dan perjalanannya di waktu sore hari) yaitu mulai dari tergelincir matahari sampai terbenam (sama dengan perjalanan sebulan) maksudnya sama dengan perjalanan selama itu (dan Kami alirkan) Kami leburkan (cairan tembaga baginya) sehingga tembaga itu menjadi lebur selama tiga hari tiga malam, sebagaimana air mengalir dan umat manusia sampai sekarang dapat mengeksploitasinya berkat ilmu yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Sulaiman. (Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di bawah kekuasaannya dengan izin) yakni berdasarkan perintah (Rabbnya. Dan siapa yang menyimpang) menyeleweng (di antara mereka dari perintah Kami) yang menyuruhnya untuk taat kepada Nabi Sulaiman (Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala) di akhirat nanti. Menurut suatu pendapat azab tersebut terjadi di dunia, yaitu malaikat memukulnya dengan cambuk api, yang setiap pukulan dapat membakar dan menghanguskannya.
Tafsir Surat Al-Saba': 12-13
Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaanya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku).
Bekerjalah, hai keluarga Daud, untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. Setelah Allah ﷻ menyebutkan nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepada Daud, lalu menyebutkan apa yang telah Dia berikan kepada putra Daud (Sulaiman a.s.), yaitu ditundukkan-Nya angin untuknya hingga angin menerbangkan hamparan permadaninya. Perjalanannya pagi harinya sama dengan jarak satu bulan, dan perjalanan petang harinya sama dengan jarak satu bulan pula. Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa Sulaiman a.s. berangkat di pagi hari dengan mengendarai permadani terbangnya dari Dimasyq, lalu turun di Astakhr dan makan siang padanya, lalu petang harinya ia pergi lagi dari Astakhr menuju Kabil dan menginap padanya.
Jarak antara Dimasyq dan Astakhr dapat ditempuh selama satu bulan bagi orang yang memacu kendaraannya, dan jarak antara Astakhr ke Kabil satu bulan pula. Firman Allah ﷻ: dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. (Saba: 12) Ibnu Abbas r.a., Mujahid, Ikrimah, Ata, Al-Khurasani, Qatadah, As-Saddi dan Malik semuanya telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa yang dimaksud dengan al-qitr adalah tembaga.
Qatadah mengatakan bahwa tembaga itu ada di negeri Yaman, dan semua peralatan yang dibuat oleh manusia berasal dari bahan baku yang dikeluarkan oleh Allah ﷻ untuk Sulaiman a.s. As-Saddi mengatakan, sesungguhnya tembaga itu dicairkan untuknya hanya selama tiga hari. Firman Allah ﷻ: Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. (Saba: 12) Yakni Kami telah menundukkan jin baginya untuk bekerja di hadapannya dengan seizin Tuhannya, untuk membangun gedung-gedung dan lain-lainnya yang disukai oleh Sulaiman a.s.
berkat kekuatan dan kekuasaan yang diberikan oleh Allah ﷻ kepada Sulaiman a.s. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami (Saba: 12) Yaitu barang siapa yang menyimpang dan memberontak di antara mereka dari ketaatan. Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. (Saba: 12) Yang dimaksud dengan sa'ir ialah yang membakar. Ibnu Abu Hatim dalam bab ini telah menyebutkan sebuah hadis yang garib sekali. ". Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Saleh, telah menceritakan kepada kami Mu'awiyyah ibnu Saleh, dari Abuz Zahra, dari Jubair ibnu Nafir, dari Abu Sa'labah Al-Khusyani r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Jin itu ada tiga jenis, satu jenis dari mereka mempunyai sayap yang dapat menerbangkan mereka di angkasa, dan satu jenis lagi berupa ular atau anjing, sedangkan jenis yang terakhir ada yang senang menetap dan ada yang senang bepergian.
Predikat marfu' hadis ini garib sekali. Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Harmalah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Bakr ibnu Mudar, dari Muhammad ibnu Bujair, dari Ibnu An'am yang mengatakan bahwa jin itu ada tiga jenis, satu jenis ada yang mendapat pahala, ada pula yang mendapat siksa; satu jenis lagi hidupnya terbang di angkasa antara bumi dan langit, dan jenis terakhir berupa ular dan anjing.
Selanjutnya Bakr mengatakan bahwa tidaklah ia tahu melainkan Anas pernah bercerita kepadanya bahwa manusia itu ada tiga macam, sebagian dari mereka ada yang mendapat naungan dari Allah di bawah naungan 'Arasy-Nya pada hari kiamat; dan sebagian yang lain seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi jalannya; dan sebagian lainnya lagi rupa mereka adalah rupa manusia, tetapi kalbu mereka adalah kalbu setan.
Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Hasyim ibnu Marzuq, telah menceritakan kepada kami Salamah (yakni Ibnul Fadl), dari Ismail, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa jin itu adalah anak iblis, dan manusia adalah anak Adam; di antara mereka (jin) ada yang beriman dan di antara mereka (manusia) ada yang beriman, maka mereka bersekutu dalam memperoleh pahala dan hukuman. Barang siapa dari kalangan jin dan manusia beriman, maka dia adalah kekasih Allah; dan barang siapa dari kalangan jin dan manusia yang kafir, maka dia adalah setan.
Firman Allah ﷻ: Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung. (Saba: 13) Yang dimaksud dengan maharib ialah bagian yang paling baik dan paling mewah di dalam rumah (tempat tinggal). Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan maharib ialah bangunan-bangunan, tetapi bukan berupa istana. Ad-Dahhak mengatakan maharib adalah masjid-masjid. Qatadah mengatakan bahwa maharib ialah gedung-gedung dan masjid-masjid. Menurut Ibnu Zaid adalah tempat-tempat tinggal.
Adapun yang dimaksud dengan tamasil menurut Atiyyah Al-Aufi, Ad-Dahhak, dan As-Saddi artinya patung-patung. Menurut Mujahid patung-patung yang terbuat dari tembaga, sedangkan menurut Qatadah patung-patung yang terbuat dari tanah liat dan kaca. Firman Allah ﷻ: dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungkunya). (Saba: 13) Jawab adalah bentuk jamak dari jabiyah, artinya kolam tempat penampungan air. Sebagaimana pengertian yang diucapkan oleh Maimun ibnu Qais alias Al-A'sya dalam salah satu bait syairnya: ...
Dikirimkan kepada Ali Al-Muhallaq periuk besar di petang hari, yang besarnya seperti tempat penampungan air milik Syekh Iraqi yang penuh dengan air. Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya "Al-jawab "yakni seperti kubangan. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah seperti kolam-kolam besarnya. Hal yang sama telah dikatakan pula oleh Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak dan lain-lainnya.
Yang dimaksud dengan al-qudurur rasiyat ialah periuk-periuk yang sangat besar sehingga harus tetap berada di atas tungkunya, tidak dipindah-pindahkan karena sangat berat. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ad-Dahhak, dan selain keduanya. Menurut Ikrimah termasuk ke dalam pengertian qudurur rasiyat ialah belanga. Firman Allah ﷻ: Bekerjalah, hai keluarga Daud, untuk bersyukur (kepada Allah). (Saba: 13) Yakni dan Kami katakan kepada mereka, "Bekerjalah sebagai ungkapan rasa syukur yang telah dilimpahkan Allah kepada kalian untuk kepentingan agama dan dunia kalian." Syukran adalah bentuk masdar tanpa fi'il, atau menjadi maf'ullah.
Berdasarkan kedua hipotesis ini terkandung pengertian yang menunjukkan bahwa syukur itu adakalanya dengan perbuatan, adakalanya pula dengan lisan dan niat, sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang penyair: ..... Telah kulimpahkan tiga macam nikmat dariku kepada kalian (sebagai rasa terima kasihku), yaitu melalui tanganku, lisanku, dan hatiku yang tidak kelihatan. Abu Abdur Rahman As-Sulami telah mengatakan bahwa salat adalah ungkapan rasa syukur, puasa juga ungkapan rasa syukur, serta semua amal kebaikan yang engkau kerjakan karena Allah ﷻ merupakan ungkapan rasa syukurmu (kepada-Nya).
Dan syukur yang paling utama ialah membaca Hamdalah. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan sebuah asar yang bersumber dari Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi yang mengatakan bahwa syukur ialah bertakwa kepada Allah ﷻ dan mengerjakan amal saleh. Hal ini dikatakan terhadap orang yang mengungkapkannya melalui perbuatan. Dan demikianlah keadaan yang dilakukan oleh keluarga Nabi Daud a.s. di masa silam, mereka bersyukur kepada Allah melalui perbuatan di antara lisan mereka.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Sulaiman, dari Sabit Al-Bannani yang mengatakan bahwa Daud a.s. telah membagi-bagi tugas salat kepada keluarganya, anak-anaknya, dan istri-istrinya. Dan tersebutlah bahwa tiada suatu saat pun, baik di malam hari atau siang hari, melainkan ada seseorang dari keluarga Daud a.s.
yang sedang berdiri menunaikan salat, sehingga rahmat terlimpahkan kepada mereka melalui apa yang disebutkan oleh firman-Nya: Bekerjalah, hai keluarga Daud, untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. (Saba: 13) Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: ". Sesungguhnya salat yang paling disukai oleh Allah adalah salatnya Nabi Daud; dia tidur hingga pertengahan malam, lalu berdiri (salat) sepertiganya dan tidur seperenamnya. Dan puasa yang paling disukai Allah adalah puasanya Nabi Daud; dia puasa sehari dan berbuka sehari, dan apabila berperang Daud tidak pernah lari dari medan perang.
". Abu Abdullah ibnu Majah telah meriwayatkan melalui hadis Sa'id ibnu Daud. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad ibnul Munkadir, dari ayahnya, dari Jabir r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Ibu Nabi Sulaiman ibnu Daud a.s. berkata kepada putranya Sulaiman, "Wahai anakku, janganlah kamu memperbanyak tidur di malam hari, karena sesungguhnya banyak tidur di malam hari membiarkan seseorang (pelakunya) menjadi orang fakir kelak di hari kiamat. Ibnu Abu Hatim sehubungan dengan hal ini telah meriwayatkan sebuah asar yang garib lagi panjang sekali menceritakan perihal Nabi Daud a.s.
Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Imran ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abu Zaid Qubaisah ibnu Ishaq Ar-Ruqqi yang mengatakan bahwa Fudail pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Bekerjalah, hai keluarga Daud, untuk bersyukur (kepada Allah). (Saba: 13). Bahwa Daud a.s. berkata, "Ya Tuhanku, bagaimanakah saya harus bersyukur kepada Engkau, sedangkan bersyukur itu sendiri adalah merupakan nikmat dari-Mu?" Maka Allah ﷻ menjawabnya melalui firman-Nya, "Sekarang engkau telah bersyukur kepada-Ku karena engkau telah mengetahui bahwa nikmat itu dari-Ku." Firman Allah ﷻ: Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. (Saba: 13) Hal ini merupakan berita tentang kenyataannya.".
Tidak hanya kepada Nabi Daud, kami juga melimpahkan anugerah kepada putranya, Nabi Sulaiman. Dan Kami tundukkan angin bagi Nabi Sulaiman, yang kecepatan perjalanannya pada waktu pagi sama dengan kecepatan perjalanan manusia selama sebulan, dan perjalanannya pada waktu sore sama dengan perjalanan manusia selama sebulan pula. Maksudnya, bila Nabi Sulaiman mengadakan perjalanan dari pagi sampai tengah hari maka jarak yang ditempuhnya sama dengan jarak perjalanan unta yang cepat dalam sebulan. Begitu pula, bila dia mengadakan perjalanan dari tengah sampai sore hari. Dan sebagai anugerah lain bagi Nabi Sulaiman, Kami alirkan cairan tembaga baginya seperti air yang bisa dia kendalikan dan bentuk sesuai keinginan. Dan selain itu, sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya, yakni tunduk kepada perintah dan kekuasaannya dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Nabi Sulaiman yang pada hakikatnya adalah perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. 13. Mereka, para jin, bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya, di antaranya membangun gedung-gedung yang tinggi, patung-patung sebagai hiasan, piring-piring yang besarnya seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap berada di atas tungku. Begitu besar dan berat periuk-periuk itu hingga ia tidak dapat digerakkan. Bekerjalah, wahai keluarga Daud untuk menjadi bukti rasa bersyukur kepada Allah. Dan ketahuilah bahwa sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur secara sempurna, yakni dengan hati, ucapan, dan perbuatan.
Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah menundukkan angin untuk Nabi Sulaiman sehingga dapat membawanya ke tempat-tempat yang diingininya dengan cepat sekali. Dalam waktu setengah hari saja angin dapat membawanya ke tempat yang jaraknya sebulan perjalanan, baik perjalanan itu pada waktu pagi sampai zuhur maupun pada waktu siang mulai dari zuhur sampai terbenamnya matahari.
Qatadah dalam menafsirkan ayat ini menyatakan, "Angin dapat membawa Sulaiman dari pagi sampai tergelincirnya matahari sejauh sebulan perjalanan dan dari tergelincirnya matahari sampai terbenamnya sejauh sebulan perjalanan pula. Dalam hal ini, al-hasan al-Bashri berkata, "Sulaiman pernah berangkat dengan mengendarai angin, dari Damaskus ke Isthakhr lalu dia turun di sana untuk makan siang, kemudian dia berangkat lagi ke Kabul untuk bermalam di sana. Padahal jarak antara Damaskus dan Isthakhr adalah sebulan perjalanan bagi orang yang berjalan cepat dan jarak antara Isthakhr dan Kabul adalah sebulan perjalanan pula.
Karunia lainnya yang diberikan Allah kepada Sulaiman ialah melunakkan tembaga seperti lilin sehingga mudah dibentuk menurut keinginan orang yang mengolahnya. Hal ini sama dengan karunia yang diberikan kepada Nabi Daud yaitu melunakkan besi.
Di antara karunia itu pula ialah menundukkan jin untuk bekerja membuat apa saja yang diingini Sulaiman. Jin-jin itu selalu taat dan patuh mengikuti perintahnya, karena mereka diancam oleh Allah dengan azab yang pedih apabila tidak memenuhi perintah Sulaiman.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
KARUNIA ALLAH KEPADA KELUARGA DAWUD
“Dan, sesungguhnya telah Kami datangkan kepada Dawud suatu kaiunia dari Kami."
(pangkal ayat 10)
Yakni setelah Dawud menang menghadapi Jalut dalam satu peperangan dan dia dapat pula menggantikan Kerajaan Thalut, naiklah dia menjadi raja. Maka diberikanlah oleh Allah ﷻ kepadanya suatu karunia, yaitu Allah ﷻ memanggil gunung-gunung dan burung-burung, “Hai gunung-gunung, kembalilah bersama dia dan burung-burung juga!"
“Kembali" Nabi Dawud ialah kembali berserah diri kepada Allah ﷻ dengan melakukan munajat, doa-doa seruan kepada Allah ﷻ dengan beliau nyanyikan.
Beliau ada mempunyai kecapi, yang sambil memetik kecapi itu beliau nyanyikan puji-pujian kepada Allah. Suara beliau sangatlah merdunya dan lantang. Maka apabila beliau telah asyik dengan nyanyian pujian itu, yang dinamai Mazmur, fanalah beliau seakan-akan lebur ke dalam alam yang ada di keliling beliau, sampai dirasakan pertalian nyanyian beliau dengan gunung-gunung. Gunung-gunung yang tinggi itu seakan-akan turut bernyanyi. Ahli-ahli musik yang sangat halus perasaannya itu dapatlah memasukkan nyanyian alam sekeliling itu dalam paduan nyanyinya. Apabila beliau telah bertasbih memuji Allah ﷻ maka gunung dan ganang, air yang mengalir, burung yang sedang terbang turut merasakan nyanyian itu. Malahan kononnya burung yang sedang terbang itu tertegun terbang, lalu hinggap ke atas dahan-dahan kayu yang ada di keliling tempat Nabi Dawud bernyanyi, bertasbih, untuk turut mendengarkan, dan mereka pun turut bernyanyi menurut pembawaan suara masing-masing.
Oleh sebab itu dapatlah disimpulkan bahwa Nabi Dawudlah, Nabi yang mula-mula menggunakan keindahan suara, dengan memakai alatkecapi buat merasakan dan meresapi keindahan alam sekeliling, yang disebut dalam bahasa filsafat dengan estetika. Maka estetika Dawud ialah menilik ketiga keindahan Ilahi. Pertama jamaal yang berarti keindahan, kedua kamaal yang berarti kesempurnaan, dan ketiga jalaal yang berarti kemuliaan. Lalu jiwa insani terpanggil buat mengutarakan kesan pada diri lalu ditumpahkan kembali berupa seni. Di sini ialah seni suara.
Tersebutlah dalam sebuah hadits yang shahih, riwayat Bukhari dan Muslim bahwa pada suatu malam Rasulullah ﷺ mendengarkan suara Abu Musa al-Asy'ari membaca Al-Qur'an dengan suara yang sangat merdu. Lalu berkatalah Rasulullah ﷺ,
“Dia ini telah dikaruniai Tuhan suatu Miamaar semacam mazmur-mazmur yang ada pada keluarga Dawud." (HR Bukhari dan Muslim)
Sebab itu pula maka Rasulullah ﷺ menganjurkan apabila seseorang membaca Al-Qur'an bacalah dengan suara yang merdu, dengan lagu yang indah dan bersedih.
“Dan telah Kami lunakkan untuknya besi."
(ujung ayat 10)
Selain dari mukjizat keindahan suara beliau, sehingga burung terbang, air mengalir, bukit dan gunung, lurah dan lereng turut bernyanyi dalam nyanyian beliau, diberikan pula oleh Allah kepadanya suatu karunia lagi. Yaitu besi yang begitu keras dapat beliau lunakkan.
Dengan lunaknya besi dalam tangannya, dapatlah beliau membuat baju-baju besi untuk dipakai di dalam peperangan.
“Bahwa buatlah baju peperangan."
(pangkal ayat 11)
yang terjadi dari besi, karena besi itu telah lunak dalam tangannya. Sehingga bagi beliau tidak begitu susah lagi buat mendirikan hapar besi karena akan membakarnya sampai lunak. Sebab jika besi telah sampai tersentuh ke tangan beliau, dia telah lunak sekali."Dan sesuaikan pasangan “ baju itu sehingga tidak sukar bilamana dipakai berhadapan dengan musuh.
Hasan al-Bishri dan Qatadah dan al-A'masy dan beberapa ahli yang lain menjelaskan bahwa bagi Nabi Dawud melunakkan besi itu tidak usah dengan memakai hapar, tidak perlu memukulkan palu godam, cukup di picik-piciknya saja dengan tangannya.
Hal seperti ini adalah suatu kemungkinan yang biasa bagi seorang nabi. Kita banyak melihat keris atau sewa buatan kuno yang berkesan jejak tangan orang yang membuatnya pada mata keris itu. Yaitu orang-orang yang kuat makrifatnya kepada Allah ﷻ, sehingga mereka sudah sangat yakin bahwa alam tidaklah memberi bekas, api tidak membakar, air tidak membasahi dan yang tajam tidak melukai kalau tidak dengan izin Allah. Kalau pada orang-orang biasa yang telah putus makrifatnya dapat kejadian demikian, mengapa tidak akan mungkin pada seorang Nabi? Maka baju-baju besi itu telah beliau buat dengan tangan beliau sendiri.
“Dan sesuaikan pasangan," artinya hendaklah ukurkan dengan pas pada tiap-tiap badan orang yang akan memakainya. Jangan sempit bagi yang gemuk, jangan lapang bagi yang kurus.
Dan kedua karunia yang telah disebutkan ini tampaklah kebesaran Nabi Dawud sebagai nabi, sebagai rasul, sebagai raja, sebagai seniman dan sebagai seorang pandai besi. Semua dapat berkumpul pada dirinya. Dia bukan semata-mata seorang pemuja Ilahi dengan suara yang merdu sehingga burung di langit akan berhenti terbang dan hinggap ke dekat beliau mendengar nyanyiannya. Bahkan dia pun seorang pandai besi yang halus pekerjaan-nya. Menurut Qatadah, sebelum beliau, orang belum mengenal baju besi pakaian untuk di-pakai di medan perang. Sebelum itu kalau ada hanya orang memakai perisai saja, penangkis tusukan tombak dan lemparan lembing. Di samping itu beliau pun seorang raja yang memerintah.
Di zaman kita sekarang kerap kali kita mendengar raja-raja dan kepala-kepala negara dengan hobinya masing-masing, yaitu suatu kesukaannya yang khusus. Misalnya kesukaan Aurangzeeb dari Mongol India menulis Ai-Qur'an dengan tangan beliau sendiri, lalu di-jadikannya hadiah kepada orang besar-besarnya atau disuruhnya jual kepada beberapa orang hartawan, lalu kemudian setelah beliau akan wafat beliau wasiatkan agar harga penjualan Al-Qur'an itu dijadikan perbelanjaan pembeli kafan pembungkus diri beliau, jangan diambil dari perbendaharaan negara.
Al-Hafiz Ibnu Asakir menerangkan pula dalam riwayatnya bahwa Nabi Dawud membuat baju besi untuk perang, sebagai kesukaan beliau di waktu senggang. Kalau sudah selesai lalu dijualnya. Harganya itu beliau bagi tiga; sepertiga untuk makan minum beliau se-keluarga, sepertiga beliau sedekahkan kepada fakir miskin dan sepertiga lagi beliau masuk-kan ke dalam Baitul Maal.
“Dan kerjakanlah olehmu amal yang saleh. Sesungguhnya Aku atas apa yang kamu kerjakan adalah Melihat."
(ujung ayat 11)
Ujung ayat tidak tertuju kepada Nabi Dawud lagi, melainkan kepada tiap-tiap kita yang mendengar kisah ini, agar kita pun melakukan amal yang saleh sebagaimana Nabi
Dawud itu pula, menurut kesanggupan dan kedudukan kita masing-masing. Supaya kita ambil i'tibar dari perbuatan Nabi Dawud. Bernyanyilah dengan suara yang merdu, biar gunung-gunung dan burung-burung turut beryanyi, asal nyanyian itu di dalam memuji Allah. Dengan cara demikian bernyanyi tidaklah salah. Bekerjalah membuat keris, membuat bedil, jadi buruh pada pabrik senjata, pada pabrik kapal terbang dan sebagainya, namun semuanya itu dengan tidak pernah melupakan Allah ﷻ Sebab semua pekerjaan dan usaha kita tidaklah lepas dari tilikan Allah ﷻ
“Dan bagi Sulaiman adalah angin."
(pangkal ayat 12)
Kalau kepada ayahnya Dawud, Allah meng-karuniakan keindahan suara memuja Allah ﷻ dan lunak besi dalam tangannya, maka kepada putra beliau yang menggantikannya jadi Raja Bani Israil setelah dia mangkat di-karunialah Allah ﷻ pula angin.
Kalau menurut tafsir-tafsir lama, Nabi Sulaiman itu dapat berangkat dari satu daerah ke daerah yang lain dengan mengendarai awan, atau puputan angin. Ada diceritakan bahwa baginda mempunyai sebuah tikar permadari yang bisa terbang. Kalau dikembangkan di Damaskus, dia dapat terbang menuju negeri Istakhar di Asia Tengah lalu makan tengah hari di sana. Dari sana dia terus ke Kabul sehingga sampai di sana petang hari dan bermalam di sana, padahal perjalanan kafilah dari Damaskus ke Istakhar sebulan lamanya. Mendengar cerita ini seakan-akan telah ada kapal terbang di masa itu. Maka cerita-cerita yang ganjil-ganjil itulah yang israiliyyat.
Tetapi adalah lebih baik kalau kita turuti saja sepanjang yang tertulis dalam ayat, yaitu, “Yang perjalanan paginya sebulan dan perjalanan petangnya sebulan." Yang dapat kita pahamkan secara lurus bahwa baginda Raja Sulaiman mengirimkan kafilah tiap-tiap pagi dan tiap-tiap petang. Mungkin sekali kafilah yang berangkat pagi ialah bila terjadi musim dingin, karena panas tidak begitu terik. Dan kafilah yang berjalan malam adalah di musim panas (summer). Kalau dilihat letak kerajaan baginda, dipusatkan di Jerusalem, dapat pula kita pahamkan bahwa jurusan yang dituju ialah utara dan selatan. Ke selatan menuju Tanah Arab, ke utara menuju Tanah Mesir. Kerajaan baginda terkenal kaya raya. Kalau di zaman ayahnya, Nabi Dawud a.s. dikisahkan tentang pembuatan baju besi untuk berperang, maka di zaman putra, yaitu Nabi Sulaiman ialah mengirimkan kafilah perniagaan, menghubungkan di antara utara dan selatan. Tentu saja pergantian musim dan perkisaran angin sangat diperhatikan. Sebab kafilah bukan semata-mata di darat, bahkan terdapat pula armada kapal-kapal di laut, yang melalui Laut Merah dan yang sekarang kita namai Teluk Persia. Bahkan telah disebut-sebutorang dalam penggalian sejarah bahwa mungkin sekali apa yang disebut Gudang Intan Nabi Sulaiman, yang disebut Pegunungan Ophir terletak di pulau Sumatera, yaitu Gunung Pasaman dan Talamau di Sumatera bagian barat sekarang ini. Meskipun dalam kemungkinan yang lain disebutkan bahwa letak Pegunungan Ophir itu ialah di Yaman, selatan Tanah Arab.
Tetapi kalau kita berpikir dalam iman yang mendalam kepada Allah ﷻ, tidaklah kita akan merasa mustahil jika Allah menyediakan semacam angin untuk kendaraan Nabi Sulaiman, guna mempercepat hubungannya dari satu negeri ke negeri yang lain.
Tidaklah mustahil jika Allah ﷻ memberikan kemudahan bagi Sulaiman menyedia-kan angin buat mengangkutnya dari daerah jauh ke daerah jauh.
Ringkasnya, tidaklah mustahil bahwa ada kendaraan semacam itu. Tetapi tidak ada penjelasan kepada kita dari wahyu Ilahi sendiri apakah macam kendaraan itu, apakah sema-cam buraq yang dikendarai Nabi Muhammad ﷺ atau macam yang lain. Maka tidaklah boleh kita meraba-raba demikian saja, sebab dapat saja kita terperosok ke dalam dongeng Israiliyyat yang hendaknya kita elakkan. Semua ini adalah kemungkinan. Sebab sumber yang lain kebanyakan hanya Israiliyyat.
Setelah itu disebutkan pula karunia yang lain untuk Sulaiman, “Dan Kami alirkan cairan tembaga baginya."
Ini pun suatu mukjizat. Kalau bagi ayahnya besi dilunakkan sehingga membuat baju besi cukup dengan tangan saja, maka untuk si putra disediakan Allah ﷻ cairan tembaga yang mengalir. Dari mana sumber cairan tembaga ini? Apakah beliau mendapat suatu sumber tembaga bercampur lahar dari satu gunung merapi yang tembaganya itu mengalir lalu dikeringkan? As-Suddi mengatakan tembaga mengalir itu hanya tiga hari saja. Namun sumber cerita as-Suddi ini tidak pula jelas. Yang jelas ialah ayat itu sendiri, yang mengatakan bahwa Allah ﷻ mengalirkan tembaga untuk dia. Tembaga mengalir biasanya ialah seketika dia masih panas. Atau mungkin juga didapati suatu tempat yang di sana terdapat banyak sekali tembaga. Dengan keahlian yang ada pada masa itu maka tembaga yang didapati tadi ditambang, diteroka, lalu dialirkan dan kemudian dikeringkan dan dipergunakan untuk berbagai keperluan, Karena di zaman Nabi Sulaiman banyak sekali pembangunan dan bangunan yang utama ialah Haikal Sulaiman merangkap istana tempat beribadah.
“Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya." Ini pun karunia Allah ﷻ lagi bagi Nabi Sulaiman, yaitu bahwa jin, makhluk halus yang tidak kelihatan oleh mata polos ini sebagian ada yang dengan izin Allah ﷻ menjadi pekerja di hadapan Nabi Sulaiman, atau di bawah perintah Nabi Sulaiman.
Dalam ayat ini diberikan penjelasan kepada orang-orang yang masih ragu-ragu selama ini lalu memuliakan jin, memandang bahwa jin itu makhluk halus yang sangat ditakuti dan manusia hendaklah memujanya supaya jangan dianiayanya, telah dijelaskan bahwa di antara mereka ada yang dijadikan kuli pekerja oleh Nabi Sulaiman dengan izin Allah ﷻ Dengan ini didapat pula kesan, bahwa seseorang yang telah dekat kepada Allah ﷻ, dapatlah memerintah jin bahkan dapat mengatur dan memerintah makhluk yang lain dengan izin Allah jua.
“Dan banangsiapa yang menyimpang di antata mereka, Kami deritakan kepadanya dari adzab yang bernyala-nyala."
(ujung ayat 12)
Ujung ayat ini pun lebih besar membawakan kesan bahwa jin adalah salah satu di antara makhluk-makhluk Allah yang wajib melaksanakan perintah. Kalau perintah yang disuruh Allah melaksanakannya itu tidak segera dikerjakan, atau menyimpang dari yang diperintahkan, niscaya hukum Allah ﷻ akan berlaku atas dirinya.
Orang yang lemah imannya takut kepada ruh jahat, takut kepada hantu, takut kepada jin. Orang yang belum mendalam mengetahui agama dan masih bersarang dalam dirinya sisa-sisa kemusyrikan kalau mereka mendapat demam kapialu atau karena masuk angin pulang dari perjalanan, dia mengatakan bahwa dia sakit karena ditegur atau disapa oleh jin. Padahal menurut satu keterangan dari Ibnu Abbas, jin itu sendiri yang lari jika bertemu dengan manusia yang lebih tinggi derajat imannya.
Tentu ada pula orang yang merasa musykil lalu mengatakan, “Bagaimana jin yang berasa! dari api, akan diadzab dengan dibakar?" Kalau soal-soal seperti ini hanya dipikirkan dengan kekuatan berpikir manusia yang terbatas, niscaya tidak akan terjawab. Tetapi kalau diinsafi bahwa Allah mempunyai kekuatan Yang Mahaluas dan alat untuk mengadzab yang sangat lengkap, tentu pertanyaan itu akan terjawab sendiri oleh manusia dengan kepercayaan bahwa bagi Allah tidaklah mustahil menghukum yang berasal dari api dengan membakarnya pula.
Isma'il bin Hasan berkata, “Jin anak dari iblis, manusia anak dari Adam, dari kalangan keduanya ada yang beriman, beramal saleh sama dapat pahala, berbuat jahat sama berdosa, yang Mukmin sama jadi wali Allah, yang kafir sama-sama setan."
“Mereka kerjakan untuknya apa yang dia kehendaki."
(pangkal ayat 13)
Tegasnya bahwa jin-jin itu telah menjadi pekerja mengerjakan, membangun dan membuat apa yang diinginkan oleh Nabi Sulaiman. Mungkin karena tenaga manusia saja tidak mencukupi."Dari mihrab-mihrab." Menurut kitab-kitab tafsir arti mihrab yang jamaknya maharib bukan saja mihrab tempat orang shalat menghadap kiblat sebagaimana yang telah terpakai dalam bahasa Indonesia atau Melayu sendiri.
Menurut Mujahid, maharib atau mihrab ialah bangunan besar yang menengah, di atas dari rumah biasa, di bawah dari gedung besar.
Adh-Dhahhak mengatakan bahwa maha-rib (mihrab) berarti masajid (masjid).
Qatadah mengatakan, Maharib boleh diartikan gedung-gedung dan boleh diartikan masjid-masjid.
Maka tugas utama dari jin-jin itu ialah mendirikan rumah-rumah tempat beribadah dan gedung-gedung yang indah, sebab Kerajaan Bani Israil telah besar dan Jerusalem telah menjadi pusat pemerintahan.
“Dan patung-patung." Dan hal patung-patung ini tentu saja mendatangkan musykil di dalam hati orang, mengapa Nabi Sulaiman memerintahkan membuat patung. Padahal agama tauhid yang dibawa oleh seluruh Nabi-nabi mengharamkan penyembahan berhala? Nabi Sulaiman anak Dawud dan Dawud dari keturunan Bani Israil, yang dibawa oleh Nabi Musa dan Harun mengarung lautan dan dibelahkan laut untuk tempat lalu mereka karena menghindarkan diri dari penyembah berhala. Israil yang bernama juga Ya'qub anak dari Ishaq dan Ishaq anak dari Ibrahim, yang terkenal menghancurkan berhala seraya meninggalkan berhala yang paling besar saja, dan ketika ditanya siapa yang menghancurkan berhala-berhala itu, Ibrahim menjawab bahwa yang menghancurkannya ialah berhala yang paling besar itu. Sampai Ibrahim dibakar, tetapi tidak diizinkan oleh Allah api itu membakar dia. Dan Ibrahim pun keturunan dari Nuh. Di dalam Al-Qur'an surah Nuuh sampai di-terangkan nama-nama berhala yang dipuja orang di zaman Nuh, yaitu Wadd, Suwaa', Yaghuuts, Ya'uuq dan Nasran, yang membawa manusia jadi sesat. (Lihat surah tersebut ayat 23 dan 24),
Mengapa Sulaiman menyuruh membuat patung-patung?
Teranglah bahwa pada masa itu sudah ada seni lukisan, patung-patung binatang, patung orang, patung burung-burung dan pohon-pohon. namun semuanya itu bukan buat di-sembah, melainkan buat perhiasan. Gedung-gedung indah dihiasi dengan lukisan (patung).
Abui Aliyah mengatakan bahwa di zaman itu patung-patung untuk perhiasan itu tidak terlarang dalam syari'at mereka.
Kemajuan seni lukis demikian rupa, sehingga halaman istana dibuat dari kaca, se-hingga dilihat dari jauh disangka air, padahal kaca. Sampai Ratu Balqis terkecoh melihatnya, sehingga ketika akan masuk ke dalam pekarangan istana disingsingkannya roknya sampai tersimbah pahanya keduanya. Lalu ditegur oleh Nabi Sulaiman dengan senyum, “Itu cuma lantai istana yang licin saja, terbuat dari kaca “ (Lihat surah an-Naml, ayat 44).
Dan sampai sekarang di bekas-bekas istana Babylon di Iraq masih kita dapati per-hiasan dinding istana terbuat dari porselin indah merupakan binatang, warna-warni yang amat halus buatannya.
“Dan kancah-kancah besar laksana kolam dan tungku-tungku tertegak." Jin-jin itu pun disuruh membuat kancah-kancah. Dalam bahasa Arab yang tertera dalam ayat disebutnya jifaanin yang artinya tempat makanan yang dapat menyediakan untuk seribu orang, lalu kita artikannya kancah atau kalau banyak menjadi kancah-kancah. Tempat memasak makanan untuk orang banyak itu ada yang dapat memasakkan sekadar untuk seratus orang, bernama kuali. Dan kalau sudah untuk beratus-ratus orang, misalnya seribu orang dengan memasak makanan seekor kerbau, ada kancah yang dapat memasak untuk jamuan seribu orang. Diumpamakan kancah itu aljawaabii kata jamak dari jabiyah, yaitu kolam untuk persediaan air. Maka besar kancah-kancah itu diumpamakan sebagai kolam-kolam persediaan air, karena besarnya. Di samping persediaan alat pemasak makanan untuk orang banyak itu disediakan pula dan dibikinkan pula tungku-tungku besar yang sesuai dengan kancah-kancah itu. Yaitu tungku yang telah ditanamkan dengan teguh, sehingga tidak bergoyang jika kancah-kancah tadi dijerangkan di atasnya. Tampaklah dari kedua keterangan ini bahwa jin-jin itu diperintahkan juga membuatkan kancah-kancah tempat memasak makanan orang banyak bersama tungkunya yang kuat yang tidak dapat dibongkar begitu saja. Ialah jadi bukti bahwa Nabi Sulaiman menyediakan alat-alat memasak makanan buat beribu orang. Dan ini dapat kita pahamkan karena Nabi Sulaiman seperti ayahnya juga mempunyai tentara yang besar, untuk menjaga keamanan negara yang begitu luas. Menjaga keamanan dari serangan musuh yang dapat menyerbu dari luar atau pemberontakan yang timbul dari dalam negeri.
“Bekerjalah keluarga Dawud dalam keadaan bersyukur." Artinya ialah bahwa setelah Allah menguraikan berapa banyak karunia-Nya kepada kedua hamba-Nya dua beranak itu, Dawud dan Sulaiman; nikmat Kerasulan, nikmat kenabian, nikmat kerajaan, nikmat keahlian, nikmat kesenian, nikmat dapat menaklukkan burung yang sedang terbang hanya dengan kemerduan suara bagi Dawud dari nikmat dapat memerintah jin dengan izin Allah ﷻ untuk Sulaiman, sehingga luaslah kerajaan mereka dan besarlah pengaruh mereka, dan mendapat pula kelimpahan karunia itu keluarga yang lain-lain, datanglah perintah Allah ﷻ kepada seluruh keluarga Dawud, baik diri Dawud atau anak cucunya atau kaum keluarganya dekat dan jauh agar menerima seluruh karunia Allah itu dengan syukur yang setinggi-tingginya dan bukti syukur itu hendaklah dengan bekerja. Bersyukur tidaklah ada artinya kalau hanya mengucapkan syukur dengan mulut, tidak dibuktikan dengan perbuatan.
Ayat ini memberi ingat seluruh orang yang beriman, bahwa bekerja, beramal yang saleh itu adalah hakikat kesyukuran sejati. Kalau misalnya Allah memberi kita nikmat dan karunia harta benda itu dengan jalan yang baik. Kalau mendapat rezeki hendaklah syukuri dengan membelanjakannya untuk perbuatan yang halal. Kalau Allah memberi kita karunia ilmu pengetahuan, hendaklah syukuri ilmu pengetahuan itu dengan mengajarkannya pula kepada orang lain, agar diambil akan faedahnya. Kalau mempunyai setumpuh tanah, hendaklah tanami dengan baik dan keluarkan hasilnya.
Di ujung ayat Allah ﷻ berfirman,
‘Tetapi sedikitlah dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur “
(ujung ayat 13)
Sedikit hamba Allah yang bersyukur; dilimpahi Allah dia rezeki, tidak diingatnya orang yang patut ditolong. Dilimpahi Allah dia kebun yang luas, ﷺah berjenjang sebagai pusaka dari nenek moyangnya, tidak diusahakannya dengan baik. Dilimpahi Allah dia umur yang panjang, tidak disyukurinya dengan beribadah kepada Allah. Sebab itu Allah ﷻ ber-firman bahwa yang sebenar-benar bersyukur menerima nikmat Allah itu hanya sedikit.
“Maka tatkala telah Kami tetapkan atas dirinya almaut."
(pangkal ayat 14)
Artinya setelah datang ajal beliau, Nabi Sulaiman a.s. bercerailah nyawanya dengan badannya. “Tidaklah ada bagi mereka tanda-tanda kematiannya," tidaklah seorang jua pun dari jin yang bekerja keras membangun rumah ibadah, gedung-gedung dan lain-lain itu yang tahu bahwa beliau telah meninggal karena tanda-tanda bahwa beliau telah meninggal tidak kelihatan. Beliau ketika itu sedang menjaga jin-jin itu sedang bekerja keras siang malam. Beliau memanduri. Namun karena hebat dan besar pengaruh Nabi Sulaiman itu tidak seorang jua pun jin yang menengadah melihat wajah beliau. Selama beliau masih hidup dan sehat, beliau perhatikan sendiri mereka bekerja. Kalau ada keperluan yang lain beliau tinggalkan mereka, namun mereka terus bekerja karena tidak menyangka bahwa Nabi Sulaiman sedang tidak berada di tempat itu. Demikianlah, mereka selalu bekerja dan bekerja dengan tidak menoleh-noleh karena takutakan kebesaran Nabi Sulaiman. Karena itu tidaklah mereka ketahui bahwa Nabi Sulaiman telah meninggal sedang menghadapi mereka bekerja. Karena tanda-tanda kematian tidak mereka lihat atau tidak mereka perhatikan, “Kecuali setelah rayap bumi memakan tongkatnya." Yaitu sebangsa semut anai-anai yang disebut juga rayap, yang suka memakan kayu. Rupanya Nabi Sulaiman meninggal dunia sedang beliau bertelakan kepada tongkatnya. Maka tetaplah beliau tertegak ditahan oleh tongkat itu, walaupun beliau telah mati. Lama-lama rayap-rayap itu pun menjalari tongkat dan memakannya dari dalam sehingga tidak dapat bertahan lagi dan hancurlah tongkat itu,
“Setelah dia tensungkun jatuh jelaslah kepada jin, yang kalau mereka mengetahui akan yang gaib tidaklah mereka akan begitu lama dalam adzab yang hina."
(ujung ayat 14)
Artinya ialah kalau jin-jin itu benar tahu akan yang gaib, sudah patut tahulah mereka bahwa Nabi Sulaiman sudah meninggal dunia, lama sebelum tongkat beliau patah dimakan rayap. Ini pun menunjukkan bahwa di hadapan manusia yang tinggi martabat imannya jin-jin itu akan kucur ketakutan karena tidak tertantang oleh cahaya iman yang bersinar dari pribadi yang besar dan dekat kepada Allah itu.
Tidaklah dijelaskan di dalam Al-Qur'an berapa lama mayat Nabi Sulaiman tegak ter-diri ditahan tongkat. Ada yang mengatakan satu tahun. Tetapi keterangan ini tidak ada hadits Rasulullah yang menguatkannya. Dan mayat yang berdiri itu tidaklah rusak sampai tersungkur sebab tongkatnya telah remuk. Barangkali tidak rusaknya tubuh Nabi Sulaiman sekian lama ditahan tongkatnya, tidak membusuk dan tidak mengalir darah dan mala yang hanyir ialah sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ,
“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepada bumi memakan daging nabi-nabi." (HR Abu Dawud dan lain-lain)
Di zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab ada bertemu di negeri Irak satu tubuh manusia yang tergali dari suatu kuburan. Padahal kuburan itu sudah sangat tua. Penduduk mengatakan bahwa kuburan itu ialah kuburan Nabi Daniel, Nabi Bani Israil yang tersebut namanya dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Maka keraslah persangkaan, orang banyak bahwa tubuh itu adalah tubuh Nabi Dariel tersebut, yang telah beratus tahun meninggal dunia, lalu dipuja-puja orang laksana berhala. Maka diperintahkanlah oleh Sayyidina Umar menggali beberapa buah kuburan, beliau suruh kuburkan tubuh tersebut di salah satu kuburan yang telah digali itu pada tengah malam, lalu ditimbun semuanya sehingga kesannya tidak ada lagi dan tidak ada seorang pun yang tahu di kuburan yang mana tubuh itu telah dimakamkan.
Di Museum Thop Kapu di Istanbul disimpan beberapa barang bersejarah, sebagai-mana tongkat Nabi ﷺ, burdah beliau pedang Sayyidina Ali, dan lain-lain sebagainya. Satu di antara barang bersejarah ialah lengan manusia yang telah dibalut dengan emas dan perak. Lalu diberi keterangan bahwa lengan itu ialah lengan Nabi Yahya, yang sebagaimana kita kaum Muslimin tahu, beliau mati dibunuh oleh Raja Herodotus atas permintaan anak tirinya Salome, karena Nabi Yahya sangat mencela perhubungan yang tidak sah di antara raja itu dengan anak tirinya tersebut. Leher Nabi Yahya dipotong dan kepalanya dihidangkan di dalam talam emas ke hadapan raja sedang dia bersenda gurau dengan anak tirinya tersebut.
Benar atau tidaknya lengan itu adalah lengan Nabi Yahya, tidak kita tahu benar. Kalau itu benar, jelaslah sudah dua ribu tahun lengan itu tidak dimakan tanah, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi kita Muhammad ﷺr. tersebut itu.
Sabda Nabi bahwa tanah diharamkan Allah memakan daging nabi-nabi ini ialah se-ketika beliau memberi peringatan tentang dirinya sendiri, supaya kuburannya jangan diambil jadi masjid, sehingga setelah masjid beliau di Madinah diperlebar dan diperlebar lagi, sampai berpuluh kali dari masjid yang asli, orang takut memindahkan ke tempat lain, karena takut akan kelihatan tubuh beliau yang amat sangat dihormati tetapi bukan dipuja. Di zaman Perang Salib beberapa spion kaum Kristen dari Palestina telah dikirim ke Madinah menyamar, hendak mencuri batang tubuh beliau, dan memang pernah orang melihat ketika terjadi satu kerusakan pada kubur, terbuka paha beliau. Adapun usaha kaum Kristen yang sangat jahat itu dapat diketahui dan spion-spion itu dapat ditangkap dan dibunuh setelah terlebih dahulu dia memberikan pengakuan tentang maksudnya dan siapa yang mengutusnya.
Maka tidaklah mustahil jika demikian keadaan tubuh nabi-nabi. Sedangkan dengan obat-obat, semacam balsem, orang Mesir dan orang Indian dapat membuat tahan tubuh manusia beribu-ribu tahun, apatah lagi cinta kasih Allah kepada makhluk-makhluk yang Dia pilih jadi utusan-Nya.
The Favors which Allah bestowed upon Dawud
Allah says:
وَلَقَدْ اتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلً يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ
And indeed We bestowed grace on Dawud from Us (saying):
O you mountains! Glorify with him! And you birds (also)! And We made the iron soft for him.
Here Allah tells us how He blessed His servant and Messenger Dawud (David), peace be upon him, and what He gave him of His great bounty, giving him both Prophethood and kingship, and huge numbers of troops. And He blessed him with a mighty voice. Such that when he glorified Allah, the firm, solid, high mountains joined him in glorifying Allah, and the free-roaming birds, who go out in the morning and come back in the evening, stopped for him, and he was able to speak all languages.
In the Sahih it is recorded that the Messenger of Allah heard the voice of Abu Musa Al-Ash`ari, may Allah be pleased with him, reciting at night, and he stopped and listened to his recitation, then he said:
لَقَدْ أُوتِيَ هذَا مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ الِ دَاوُد
This man has been given one of the sweet melodious voices of the Prophet Dawud.
Abu Uthman An-Nahdi said,
I never heard any cymbal, stringed instrument or chord that was more beautiful than the voice of Abu Musa Al-Ash`ari, may Allah be pleased with him.
أَوِّبِي
(Glorify) means, glorify Allah.
This was the view of Ibn Abbas, Mujahid and others.
The root of this word (Ta'wib) means to repeat or respond, so the mountains and birds were commanded to repeat after him.
وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ
And We made the iron soft for him.
Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, Al-A mash and others said,
He did not need to heat it in the fire or beat it with a hammer؛ he could simply twist it in his hands, like a thread.
Allah said
أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ
Saying:Make you perfect coats of mail...,
which means chain mail.
Qatadah said,
He was the first person ever to make chain mail; before that, they used to wear plated armor.
وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ
and balance well the rings of chain armor (Sard),
This is how Allah taught His Prophet Dawud, peace be upon him, to make coats of mail.
Mujahid said concerning the Ayah:
وَقَدِّرْ فِي السَّرْد
(and balance well the rings of chain armor (Sard)),
Do not make the rivets too loose that the rings (of chain mail) will shake, or make them too tight that they will not be able to move at all, but make it just right.
Ali bin Abi Talhah reported that Ibn Abbas said,
Sard refers to a ring of iron.
Some of them said,
Chain mail is called Masrud; if it is held together with rivets.
وَاعْمَلُوا صَالِحًا
and work you (men) righteousness.
means, with regard to what Allah has given you of blessings.
إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Truly, I am All-Seer of what you do.
means, watching you and seeing all that you do and say؛ nothing of that is hidden at all
The Favors which Allah bestowed upon Suleiman
Allah says:
وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ
And to Suleiman (We subjected) the wind, its morning was a month's (journey), and its afternoon was a month's (journey).
Having mentioned the blessings with which He favored Dawud, Allah follows this by mentioning what He gave to Dawud's son Suleiman (Solomon), may peace be upon them both. He subjugated the wind to him, so that it would carry his carpet one way for a month, then back again the next month.
Al-Hasan Al-Basri said,
He set out from Damascus in the morning, landed in Istakhar where he ate a meal, then flew on from Istakhar and spent the night in Kabil.
Between Damascus and Istakhar is an entire month's travel for a swift rider, and between Istakhar and Kabul is an entire month's travel for a swift rider.
وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ
.
And We caused a fount Qitr to flow for him,
Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, Mujahid, Ikrimah, Ata' Al-Khurasani, Qatadah, As-Suddi, Malik from Zayd bin Aslam, Abdur-Rahman bin Zayd bin Aslam and others said,
Qitr means copper.
Qatadah said, It was in Yemen.
Allah brought forth all the things that people make for Suleiman, peace be upon him.
..
وَمِنَ الْجِنِّ مَن يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ
and there were Jinn that worked in front of him, by the leave of his Lord.
means, `We subjugated the Jinn to work in front of him,' by the permission of his Lord, i.e., by Allah's decree and subjugation, they built whatever constructions he wanted, and did other work as well.
وَمَن يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا
And whosoever of them turned aside from Our command,
means, whoever among them tried to rebel and disobey,
نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ
We shall cause him to taste of the torment of the blazing Fire.
which means, burning
يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاء مِن مَّحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ
They worked for him as he desired on Maharib, Tamathil,
Maharib refers to beautiful structures, the best and innermost part of a dwelling.
Ibn Zayd said,
This means dwellings.
With regard to Tamathil, Atiyah Al-Awfi, Ad-Dahhak and As-Suddi said that;
Tamathil means pictures.
وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَّاسِيَاتٍ
large basins like Jawab and Qudur Rasiyat.
Jawab, the plural form of Jabiyah, refers to cisterns or tanks in which water is held, and Qudur Rasiyat are cauldrons that stay in one place and are not moved around because of their great size.
This was the view of Mujahid, Ad-Dahhak and others.
اعْمَلُوا الَ دَاوُودَ شُكْرًا
Work you, O family of Dawud, with thanks!
means, `We said to them:Work with thanks for the blessings that We have bestowed upon you in this world and the Hereafter.'
This indicates that thanks may be expressed by actions as much as by words and intentions.
Abu Abdur-Rahman Al-Hubuli said,
Prayer is thanks, fasting is thanks, every good deed that you do for the sake of Allah is thanks, and the best of thanks is praise.
This was recorded by Ibn Jarir. In the Two Sahihs, it is reported that the Messenger of Allah said:
إِنَّ أَحَبَّ الصَّلَةِ إِلَى اللهِ تَعَالَى صَلَةُ دَاوُدَ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ
وَأَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ تَعَالَى صِيَامُ دَاوُدَ كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا وَلَاأ يَفِرُّ إِذَا لَاأقَى
The most beloved of prayer to Allah is the prayer of Dawud. He used to sleep for half the night, stand in prayer for a third of it and sleep for a sixth of it.
The most beloved of fasting to Allah is the fasting of Dawud. He used to fast for a day then not fast for a day, and he never fled the battlefield.
Ibn Abi Hatim narrated that Fudayl said concerning the Ayah:
اعْمَلُوا الَ دَاوُودَ شُكْرًا
(Work you, O family of Dawud, with thanks!)
Dawud said, O Lord! How can I thank you when thanks itself is a blessing from You!
He said:Now you have truly given thanks to Me, for you have realized that it is a blessing from Me.
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
But few of My servants are grateful.
This is a reflection of reality
The Death of Suleiman
Allah tells:
فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ
Then when We decreed death for him,
Allah tells us how Suleiman, peace be upon him, died and how Allah concealed his death from the Jinn who were subjugated to him to do hard labor. He remained leaning on his stick, which was his staff, as Ibn Abbas may Allah be pleased with him, Mujahid, Al-Hasan, Qatadah and others said.
He stayed like that for a long time, nearly a year. When a creature of the earth, which was a kind of worm, ate through the stick, it became weak and fell to the ground. Then it became apparent that he had died a long time before.
It also became clear to Jinn and men alike that the Jinn do not know the Unseen as they (the Jinn) used to imagine and tried to deceive people.
This is what Allah says:
مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلاَّ دَابَّةُ الاْاَرْضِ تَأْكُلُ مِنسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَن لَّوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ
nothing informed them (Jinn) of his death except a little worm of the earth which kept (slowly) gnawing away at his stick. So when he fell down, the Jinn ﷺ clearly that if they had known the Unseen, they would not have stayed in the humiliating torment.
meaning, it became clear to the people that they (the Jinn) were lying.
And, We disposed, for Solomon the wind (the nominative reading of al-reehu would be based on an implicit [missing verb] sakhkharnaa, 'We disposed') its morning course, meaning its journey from the morning to the noon, was a month's journey and its evening course, that is, its journey from the noon to sunset, was a month's journey. And We caused a fount of [molten] copper to flow for him, in other words, We caused the copper to melt for him, and so the fount flowed for three days and nights like water, and to this day people have been using of that [copper] which was given to Solomon [at that time]. And of the jinn [there] were those who worked before him by the leave, by the command, of his Lord. And such of them as deviated from Our command, to him to obey him [Solomon], We would make them taste the chastisement of the Blaze, the Hellfire in the Hereafter - but it is also said, [that their chastisement was] in this world, in which case an angel would smite one of them with a lash thereof that would scorch him.
We can now turn to verse 12: وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ (And for Sulayman: (We subjugated) the wind; its journey in the morning was (equal to the journey of) one month, and its journey in the afternoon was (equal to the journey) of another month). After having mentioned the blessings bestowed upon Sayyidna Dawud (علیہ السلام) ، the text refers to Sayyidna Sulayman (علیہ السلام) . It was said that the way Allah Ta’ ala had subjugated mountains and birds for Sayyidna Dawud (علیہ السلام) ، similarly, the Wind was subjugated for Sayyidna Sulayman (علیہ السلام) . It would take the throne of Sayyidna Sulayman (علیہ السلام) on which he was seated with a large number of his courtiers to wherever he wished always under his command. Early exegete, Hasan al-Basri (رح) has said that the miracle of the subjugation of the Wind was bestowed upon Sayyidna Sulayman (علیہ السلام) in return for what he had done once while inspecting his stable of horses. So engrossed he became in this activity that he missed the Salah of al-'asr. Since the horses became the cause of this negligence, Sayyidna Sulayman (علیہ السلام) decided to eliminate the very cause of negligence. He sacrificed these horses by slaughtering them (since the sacrifice of horses was also permissible in the law of Sayyidna Sulayman (علیہ السلام) very much like the cows and oxen) and since these horses were owned by Sayyidna Sulayman (علیہ السلام) the question of bringing loss to the Baytul-Mal simply does not arise, and the doubt of wasting personal property because of the sacrifice also does not hold good. Full relevant details about it will appear in the commentary on Surah Sad (38:30-40, appearing later in this very Volume VII). In short, because Sayyidna Sulayman (علیہ السلام) sacrificed the horses he rode, Allah Ta’ ala blessed him with a better ride. (Qurtubi)
In the other part of the verse taken up immediately earlier: غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ (34:12), the word: غُدُوُّ (ghuduww) means moving in the morning and the word: رَوَاحُ (rawah) means moving in the evening. Thus, the sense of the verse comes to be that this throne of Sulayman (علیہ السلام) perched on the wings of the wind from the morning to the afternoon would cover the travel distance of one month, and then, from early evening to late night, that of another one month. In this way, it used to cover the travel distance of two months in one full day.
According to Hasan al-Basri (رح) ، Sayyidna Sulayman (علیہ السلام) would leave Baytul-Maqdis in the morning, reach Istakhr by afternoon and had his lunch there. Then he would leave after Zuhr and by the time he got to Kabul, it would be night. The travel distance between Baytul-Maqdis and Istakhr is something a swift rider could cover in a month. Similarly, the travel distance from Istakhr to Kabul is also what a swift rider could cover in a month. (Ibn Kathir)
To explain the next sentence of verse 12: وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ(And We caused a stream of copper to flow for him), it can be said that Allah Ta’ ala made a metal as hard as the copper turn into a liquid flowing like water, even gushing forth like a stream of water, and was not hot either – so that, utensils and other things of need could be easily shaped from of it.
Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ said that this stream started flowing as far as it would take a travel of three days and three nights to cover that distance. And this was located in the land of Yemen. Then, in the narration of Mujahid, it appears that this stream started from San'a' in Yemen and continued to flow like a stream of water up to a travel distance of three days and three nights. Famous grammarian, Khalil Nahwi said that the word: قِطر (qitr) mentioned in this verse means molten copper. (Qurtubi)
The next sentence: وَمِنَ الْجِنِّ مَن يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ (And there were some Jinns who worked before him by the leave of his Lord - 34:12) is also connected with the ellipsis (مَحذوف : mahdhuf) of سَخَّرنَا (sakhkharna: We subjugated). The sense is that 'We subjugated for Sulayman (علیہ السلام) such people from among the Jinns who would do the chores he assigned to them before him - as commanded by their Lord. The addition of the expression: بَيْنَ يَدَيْهِ (baiyna yadaiyhi: before him) may, perhaps, be there to make it clear that the subjugation of Jinns was not of the kind mentioned in the Qur'an where the text talks about harnessing the Moon and the Sun into the service of human beings. Instead, this subjugation was in the nature of mastery over the Jinns who worked before him like vassals busy doing chores assigned to them.
The matter of the subjugation of Jinns
As for the subjugation of Jinns (for Sulayman علیہ السلام) mentioned at this place, it was by the command of Allah Ta’ ala and there can be no doubt about its possibility. Similarly, what has appeared in some narrations about some noble Sahabah that they had Jinns made subservient to them, it was the same kind of subjugation by the leave of Allah with which they were blessed as a Karamah. It was not based on any act or recitation (Wazifah) on their part - as mentioned by 'Allamah Sharbini in Tafsir As-sirajul-Munir under his commentary on this verse. He has cited several events relating to Sayyidna Abu Hurairah, 'Ubaiyy Ibn Ka'b, Mu` aclh Ibn Jabal, ` Umar Ibn al-Khattab, Abu Ayyub al-Ansari, Zayd Ibn Thabit and others ؓ which prove that the Jinns used to be at their service. But, it was nothing but the grace and mercy of Allah Ta’ ala that, like Sayyidna Sulayman علیہ السلام ، He made some Jinns subservient to these blessed souls.
But, the particular 'subjugation' through incantations and correlated sets of self-invented actions popular among عَامِل 'amils or practitioners of this line of activity is something one should take with a pinch of salt and first find out the Islamic rule of guidance in this matter. Qadi Badruddin Shibli al-Hanafi who is one of the scholars of the eighth century has written a book, 'Akam- ul-Marjan fi Ahkam- il-Jann' on this subject. According to him, it is Sayyidna Sulayman علیہ السلام who has been the first one to have the Jinn into his service with the leave of Allah and as a miracle. And the people of Persia attribute this to Jamshaid Ibn Onjahan as being served by the Jinns. Similarly, there are events on record about 'Asif Ibn Barkhiya and others who were connected with Sayyidna Sulayman (علیہ السلام) which indicate that they too had Jinns subservient to them. Then, the most famous among Muslims are Abu Nasr Ahmad Ibn Hilal al-Bukail and Hilal Ibn Wasif attributed to whom there are many unusual events of the subservience of the Jinns to them. Hilal Ibn Wasif has written a full book in which he has put together what the Jinns said to Sayyidna Sulayman (علیہ السلام) and the pledges Sayyidna Sulayman (علیہ السلام) took from them.
Qadi Badruddin has written in this very book that generally the 'amils who do their thing to subjugate the Jinns use shaitanic words of infidelity (Kufr) and sorcery (Sehr) liked by infidel Jinns and shaitans. The secret of why they would accept to become their vassals is nothing but that they stand placated by their deeds soaked in kufr and shirk and go on to do a few jobs for them by way of bribe. This is the reason why in doing things of this nature, they would write the Holy Qur'an with blood and other impurities. Hence, the disbelieving Jinns and shaitans, pleased with their evil offering, would do what they want them to do. However, about a person named Ibn al-Imam, he has written that he lived during the period of Khalifah Mu'tadid bil-lah and he had subjugated the Jinns through the effective use of Divine Names. As such, there was nothing in his recitations that would go counter to the Shari` ah. ('Akam-ul-Marjan, p. 100)
In short, if the Jinns get subjugated for someone, without his own intention or motivated action, solely being something from Allah, as it stands proved in the case of Sayyidna Sulayman (علیہ السلام) and some noble Sahabah of the Holy Prophet ﷺ ، then, that is included under Mu'jizah (miracle shown at the hands of a prophet of Allah) or karamah (working of wonder in the nature of a miracle shown at the hands of men of Allah). And such subservience when achieved through bland pragmatism of formula incantations (` amaliyat) would be judged on the basis of its active content. If it contains words of Kufr, or deeds of kufr, it will be nothing but kufr (disbelief, infidelity) - and if it is composed of disobedience or sin only, then, it is a major sin. Then, there are strange words used in such formula invocations and actions. Their meanings are not known. These too have been classed by Muslim jurists as impermissible on the basis that the possibility of such words being loaded with words that contain kufr, shirk and sinfulness cannot be ruled out. In 'Akam-ul-Marjan, Qadi Badruddin has written that the use of words the meanings of which are not known is also impermissible.
And if this act of subjugation be through Divine Names or Qur'anic Verses and there also be no such sin like the use of impurities in it, then, it is permissible with the condition that the aim thereby should be to remain personally safe against harm caused by the Jinns, or save other Muslims from it. In other words, the aim should be to remove harm, and not to secure benefits, because if it is adopted as a profession to earn money, it amounts to the enslavement of someone created free and to exacting forced labour without remuneration, hence prohibited (haram). Allah knows best.
The last sentence of verse 12 is: وَمَن يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ (And whoever of them would deviate from Our command, We would make him taste the punishment of the blazing fire.) Most commentators have taken this to mean the punishment of Jahannam (Hell) in the hereafter. Some others have said that, in this world as well, Allah Ta’ ala had set an angel upon them who, in case they fell short in obeying Sayyidna Sulayman (علیہ السلام) ، would beat them with burning lashes and force them to work. (Qurtubi) The doubt that the Jinns are made of fire after all and the fire would hardly affect them is not worth entertaining here. The reason is that the Jinns are made of fire in the same sense as man is made of dust. It means that the preponderant element of man is dust. Still if man were to be hit by a clod of clay, or stone, it would hurt him. Similarly, the preponderant element of the Jinns is fire. But, pure and potent fire would burn them too.








