Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
إِنَّ
sesungguhnya
ٱلدِّينَ
agama
عِندَ
di sisi
ٱللَّهِ
Allah
ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ
Islam
وَمَا
dan tidak
ٱخۡتَلَفَ
berselisih
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
أُوتُواْ
(mereka) diberi
ٱلۡكِتَٰبَ
Kitab
إِلَّا
kecuali
مِنۢ
dari
بَعۡدِ
sesudah
مَا
apa
جَآءَهُمُ
datang kepada mereka
ٱلۡعِلۡمُ
ilmu/pengetahuan
بَغۡيَۢا
karena kedengkian
بَيۡنَهُمۡۗ
diantara mereka
وَمَن
dan barang siapa
يَكۡفُرۡ
kafir
بِـَٔايَٰتِ
terhadap ayat-ayat
ٱللَّهِ
Allah
فَإِنَّ
maka sesungguhnya
ٱللَّهَ
Allah
سَرِيعُ
sangat cepat
ٱلۡحِسَابِ
membuat perhitungan
إِنَّ
sesungguhnya
ٱلدِّينَ
agama
عِندَ
di sisi
ٱللَّهِ
Allah
ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ
Islam
وَمَا
dan tidak
ٱخۡتَلَفَ
berselisih
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
أُوتُواْ
(mereka) diberi
ٱلۡكِتَٰبَ
Kitab
إِلَّا
kecuali
مِنۢ
dari
بَعۡدِ
sesudah
مَا
apa
جَآءَهُمُ
datang kepada mereka
ٱلۡعِلۡمُ
ilmu/pengetahuan
بَغۡيَۢا
karena kedengkian
بَيۡنَهُمۡۗ
diantara mereka
وَمَن
dan barang siapa
يَكۡفُرۡ
kafir
بِـَٔايَٰتِ
terhadap ayat-ayat
ٱللَّهِ
Allah
فَإِنَّ
maka sesungguhnya
ٱللَّهَ
Allah
سَرِيعُ
sangat cepat
ٱلۡحِسَابِ
membuat perhitungan
Terjemahan
Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab1 kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.
Catatan kaki
1 Ialah Kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur`an.
Tafsir
(Sesungguhnya agama) yang diridai (di sisi Allah) ialah agama (Islam) yakni syariat yang dibawa oleh para rasul dan dibina atas dasar ketauhidan. Menurut satu qiraat dibaca anna sebagai badal dari inna yakni badal isytimal. (Tidaklah berselisih orang-orang yang diberi kitab) yakni orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam agama, sebagian mereka mengakui bahwa merekalah yang beragama tauhid sedangkan lainnya kafir (kecuali setelah datang kepada mereka ilmu) tentang ketauhidan disebabkan (kedengkian) dari orang-orang kafir (di antara sesama mereka, siapa yang kafir pada ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah cepat sekali perhitungan-Nya) maksudnya pembalasan-Nya.
Tafsir Surat Ali-'Imran: 18-20
Allah menyatakan (bersaksi) bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan (mempersaksikan) itu. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.
Kemudian jika mereka mendebat kamu (Muhammad, tentang kebenaran Islam), maka katakanlah, "Aku berserah diri kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku." Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, "Apakah kalian telah masuk Islam?" Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.
Ayat 18
Allah memberikan pernyataan-Nya, dan cukuplah Allah sebagai saksi. Dia adalah saksi Yang Maha Benar lagi Maha Adil, dan Maha Benar firman-Nya bahwasanya “Tidak ada Tuhan selain Dia.” (Ali Imran: 18) Artinya, hanya Dia sajalah Tuhan untuk semua makhluk, dan bahwa semua makhluk adalah hamba-hamba-Nya dan merupakan ciptaan-Nya; semua makhluk berhajat kepada-Nya, sedangkan Dia Maha Kaya terhadap semuanya. Keadaannya sama dengan yang diungkapkan oleh Allah ﷻ dalam firman lainnya, yaitu: “Tetapi Allah mempersaksikan Al-Qur'an yang diturunkan-Nya kepadamu.” (An-Nisa: 166), hingga akhir ayat. Kemudian Allah mengiringi pernyataan-Nya itu dengan kesaksian para malaikat dan orang-orang yang berilmu, yang disertakan dengan kesaksian (pernyataan)-Nya. Untuk itu Allah ﷻ berfirman: “Allah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, begitu pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu.” (Ali Imran: 18) Hal ini merupakan suatu keistimewaan yang besar bagi para ulama dalam kedudukan tersebut.
“Yang menegakkan keadilan.” (Ali Imran: 18) Lafal qa-iman di-nasab-kan sebagai hal. Dengan kata lain, Allah ﷻ senantiasa menegakkan keadilan dalam semua keadaan.
“Tidak ada Tuhan melainkan Dia.” (Ali Imran: 18) Kalimat ayat ini berkedudukan sebagai taukid atau yang mengukuhkan kalimat sebelumnya.
“Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran: 18)
Al-Aziz Yang Maha Perkasa, Yang keagungan dan kebesaran-Nya tidak dapat dibatasi, lagi Maha Bijaksana dalam semua ucapan, perbuatan, syariat, dan takdir-Nya.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Abdu Rabbih, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah ibnul Walid, telah menceritakan kepadaku Jubair ibnu Amr Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Ansari, dari Abu Yahya maula keluarga Az-Zubair ibnul Awwam, dari Az-Zubair ibnul Awwam yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Nabi ﷺ di Arafah membaca ayat berikut, yaitu firman-Nya: “Allah menyatakan (bersaksi) bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan (mempersaksikan) itu. Tak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran: 18); Sesudah itu beliau ﷺ mengucapkan: “Dan aku termasuk salah seorang yang mempersaksikan hal tersebut, ya Tuhanku.”
Ibnu Abu Hatim meriwayatkan melalui jalur lain. Ia mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Husain, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Mutawakkil Al-Asqalani, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Hafs ibnu Sabit Abu Sa'id Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik ibnu Yahya ibnu Abbad ibnu Abdullah ibnuz Zubair, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Az-Zubair yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ ketika membacakan ayat ini: “Allah menyatakan (bersaksi) bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, begitu pula para malaikat.” (Ali Imran: 18); Lalu beliau mengucapkan: “Dan aku ikut bersaksi, ya Tuhanku.”
Al-Hafidzh Abul Qasim At-Ath-Thabarani mengatakan di dalam kitab Mu'jamul Kabir: Telah menceritakan kepada kami Abdan ibnu Ahmad dan Ali ibnu Sa'id; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ammar ibnu Umar Al-Mukhtar, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepadaku Galib Al-Qattan, bahwa ia datang ke Kufah dalam salah satu misi dagangnya, lalu tinggal di dekat rumah Al-A'masy. Pada suatu malam ketika aku hendak turun, Al-A'masy melakukan shalat tahajud di malam hari, lalu bacaannya sampai pada ayat berikut, yaitu firman-Nya: “Allah menyatakan (bersaksi) bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan (mempersaksikan) itu. Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 18-19) Kemudian Al-A'masy mengatakan, ‘Dan aku pun mempersaksikan apa yang telah dinyatakan oleh Allah, dan aku titipkan kepada Allah persaksianku ini, yang mana hal ini merupakan titipan bagiku di sisi Allah.’ Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19) Kalimat dan ayat ini diucapkan berkali-kali oleh Al-A'masy.
Galib Al-Qattan melanjutkan kisahnya, bahwa lalu aku berkata kepada diriku sendiri, "Sesungguhnya dia (Al-A'masy) telah mendengar suatu hadits mengenai masalah ini." Maka aku pada pagi harinya menemuinya untuk berpamitan, kemudian aku berkata, "Wahai Abu Muhammad, sesungguhnya aku telah mendengarmu mengulang-ulang bacaan ayat ini." Al-A'masy berkata, "Tidakkah telah sampai kepadamu suatu hadits tentang itu?" Aku menjawab, "Aku berada di dekatmu selama satu bulan, tetapi engkau belum menceritakannya kepadaku." Al-A'masy mengatakan, "Demi Allah, aku tidak akan menceritakannya kepadamu sebelum satu tahun." Maka aku pun tinggal selama satu tahun di depan pintu rumahnya.
Setelah lewat masa satu tahun, aku berkata, "Wahai Abu Muhammad, sekarang telah berlalu masa satu tahun." Al-A'masy menjawab bahwa telah menceritakan kepadaku Abu Wail, dari Abdullah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Kelak di hari kiamat pelakunya (yang bersaksi) akan didatangkan, lalu Allah ﷻ berfirman, "Hamba-Ku telah berjanji kepada-Ku, dan Aku adalah Tuhan Maha memenuhi janji-Nya, maka masukkanlah oleh kalian (para malaikat) hamba-Ku ini ke dalam surga."
Ayat 19
Firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)
Sebagai berita dari Allah ﷻ yang menyatakan bahwa tidak ada agama yang diterima dari seseorang di sisi-Nya selain Islam, yaitu mengikuti para rasul yang diutus oleh Allah ﷻ di setiap masa, hingga diakhiri dengan Nabi Muhammad ﷺ yang membawa agama yang menutup semua jalan lain kecuali hanya jalan yang telah ditempuhnya. Karena itu, barang siapa yang menghadap kepada Allah sesudah Nabi Muhammad ﷺ diutus dengan membawa agama yang bukan syariatnya, maka hal itu tidak diterima oleh Allah. Seperti yang disebutkan di dalam firman lainnya, yaitu: “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya.” (Ali Imran: 85), hingga akhir ayat. Dalam ayat ini Allah memberitakan terbatasnya agama yang diterima oleh Allah hanya pada agama Islam, yaitu: “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)
Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas membaca firman-Nya: “Allah menyatakan (bersaksi) bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan (mempersaksikan) itu. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 18-19) Dengan innahu yang di-kasrah-kan dan anna yang di-fathah-kan, artinya 'Allah telah menyatakan (bersaksi) begitu pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu bahwa agama yang diridai di sisi Allah adalah Islam'.
Sedangkan menurut jumhur ulama, mereka membacanya kasrah 'innad dina' sebagai kalimat berita. Bacaan tersebut kedua-duanya benar, tetapi bacaan jumhur ulama lebih kuat.
Kemudian Allah ﷻ memberitakan bahwa orang-orang yang telah diberikan Al-Kitab kepada mereka di masa-masa yang lalu, mereka berselisih pendapat hanya setelah hujah (argumentasi) dikemukakan kepada mereka, yakni sesudah para rasul diutus kepada mereka dan kitab-kitab samawi diturunkan buat mereka. Untuk itu Allah ﷻ berfirman: “Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka.” (Ali Imran: 19) Yakni karena sebagian dari mereka merasa dengki terhadap sebagian yang lainnya, lalu mereka berselisih pendapat tentang kebenaran. Hal tersebut terjadi karena terdorong oleh rasa dengki, benci, dan saling menjatuhkan, hingga sebagian dari mereka berusaha menjatuhkan sebagian yang lain dengan menentangnya dalam semua ucapan dan perbuatannya, meskipun benar.
Kemudian Allah ﷻ berfirman: “Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah.” (Ali Imran: 19) Yakni barang siapa yang ingkar kepada apa yang diturunkan oleh Allah di dalam kitab-Nya. “Maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (Ali Imran: 19) Artinya, sesungguhnya Allah akan membalas perbuatannya dan melakukan perhitungan terhadapnya atas kedustaannya itu, dan akan menghukurnnya akibat ia menentang Kitab-Nya.
Kemudian Allah ﷻ berfirman: "Kemudian jika mereka mendebatmu (Muhammad).” (Ali Imran: 20) Yaitu mendebatmu tentang masalah tauhid, maka katakanlah, ‘Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku’." (Ali Imran: 20) Yakni katakanlah bahwa aku memurnikan ibadahku hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada tandingan bagi-Nya, tidak beranak, dan tidak pula beristri. Yang dimaksud dengan 'orang-orang yang mengikutiku' ialah orang-orang yang berada dalam agamaku akan mengatakan hal yang sama dengan ucapanku ini. Seperti yang disebutkan di dalam ayat lainnya, yaitu firman-Nya: "Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Allah dengan hujah (argumen) yang jelas’." (Yusuf: 108), hingga akhir ayat.
Kemudian Allah ﷻ memerintahkan kepada hamba dan rasul-Nya (yaitu Nabi Muhammad ﷺ) untuk menyeru orang-orang Ahli Kitab dari kalangan dua agama (Yahudi dan Nasrani) serta orang-orang ummi (buta huruf) dari kalangan kaum musyrik, agar mereka mengikuti jalannya, memasuki agamanya, serta mengamalkan syariatnya dan apa yang diturunkan oleh Allah kepadanya. Untuk itu Allah ﷻ berfirman: "Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, ‘Apakah kalian telah masuk Islam?’ Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah)." (Ali Imran: 20) Yakni Allah-lah yang menghisab (membikin perhitungan dengan) mereka karena hanya kepada-Nyalah mereka kembali. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya, dan hanya milik-Nyalah hikmah yang tepat dan hujah yang benar.
Karena itu, dalam akhir ayat ini Allah ﷻ berfirman: “Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (Ali Imran: 20) Yaitu Allah Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapat hidayah dan siapa yang berhak mendapat kesesatan. Dia berhak untuk melakukan itu, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, tetapi merekalah yang akan ditanyai.” (Al-Anbiya: 23) Hal tersebut tiada lain karena hikmah dan rahmat-Nya. Ayat ini dan yang mirip dengannya merupakan dalil yang paling jelas yang menunjukkan keumuman risalah Nabi Muhammad ﷺ kepada semua makhluk, seperti yang telah dimaklumi dari pokok-pokok agamanya, dan seperti apa yang telah ditunjukkan oleh dalil Al-Qur'an dan sunnah dalam banyak ayat dan hadits. Antara lain adalah firman-Nya:
Katakanlah, "Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua." (Al-A'raf: 158)
Firman Allah ﷻ: “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Al-Furqan: 1)
Di dalam hadits Shahihain dan lain-lainnya disebutkan melalui hadits yang mutawatir dalam berbagai peristiwa, bahwa Nabi ﷺ mengirimkan surat-suratnya kepada semua raja dan pemimpin kabilah, baik yang Arab maupun yang 'ajam (non-Arab), baik mereka yang mengerti baca dan tulis maupun yang ummi, sebagai pengamalan dari perintah Allah ﷻ. Beliau ﷺ dalam surat-suratnya itu mengajak mereka untuk menyembah kepada Allah ﷻ.
Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma'mar, dari Hammam, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang bersabda: “Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tiada seorang pun yang telah mendengarku dari kalangan umat ini, baik yang Yahudi ataupun yang Nasrani, lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, melainkan ia termasuk penghuni neraka.” (Riwayat Imam Muslim)
Nabi ﷺ bersabda: “Aku diutus untuk kulit merah dan kulit hitam.”
Dan Nabi ﷺ bersabda: “Dahulu seorang nabi diutus khusus untuk umatnya, sedangkan aku diutus untuk umat manusia seluruhnya.”
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muammal, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas yang mengatakan bahwa ada seorang anak Yahudi yang biasa menyuguhkan air wudu buat Nabi ﷺ dan mempersiapkan sepasang terompahnya. Lalu anak itu sakit keras, dan Nabi ﷺ datang kepadanya, lalu masuk menemuinya, sedangkan kedua orang tua si anak berada di dekat kepalanya. Maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya: "Wahai Fulan, katakanlah, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah!’" Lalu anak itu memandang kepada ayahnya, dan si ayah diam. Lalu Nabi ﷺ mengulangi perintahnya itu, dan si anak kembali memandang kepada ayahnya. Akhirnya si ayah berkata, "Turutilah kemauan Abul Qasim!" Maka si anak berkata: "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah." Maka Nabi ﷺ pun keluar seraya bersabda: "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka melalui aku."
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari di dalam kitab sahihnya. Masih banyak ayat serta hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ diutus untuk segenap umat manusia.
Setelah ayat sebelumnya menjelaskan tentang keesaan Allah, maka ayat ini menegaskan tentang kebenaran Islam yang inti ajarannya adalah tauhid. Sesungguhnya agama yang benar dan diridai di sisi Allah ialah Islam, yang inti ajarannya adalah tauhid. Tidaklah berselisih orangorang yang telah diberi Kitab, yakni para penganut Yahudi dan Nasrani, terhadap kebenaran Islam, kecuali atau justru setelah mereka memperoleh pengetahuan tentang hal itu, bukan karena ketidaktahuan. Demikian ini, karena adanya rasa kedengkian di antara mereka terhadap karunia yang diberikan kepada Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir. Padahal, barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, baik yang tertulis maupun yang tak tertulis, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya terhadap amal-amal hamba-Nya. Lalu jika mereka membantahmu, wahai Nabi Muhammad, tentang kebenaran Islam, maka jelaskan dengan diperkuat dalil-dalil. Namun, jika mereka tetap menolak, maka katakanlah, Aku berserah diri kepada Allah dan tidak bertanggung jawab atas pengingkaran kalian; demikian pula orang-orang yang mengikutiku. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Kitab, Yahudi dan Nasrani dan kepada orang-orang buta huruf, yaitu orang-orang musyrik Arab yang tidak memiliki kitab suci, Sudahkah kamu masuk Islam' Jika mereka masuk Islam dengan sebenarbenarnya, berarti mereka telah mendapat petunjuk jalan yang benar, yang menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat, tetapi jika mereka berpaling dari Islam, maka kewajibanmu, wahai Nabi Muhammad, hanyalah menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat seluruh amal perbuatan hambahamba-Nya, siapa yang taat dan siapa yang membangkang.
.
Agama yang diakui Allah hanyalah agama Islam, agama tauhid, agama yang mengesakan Allah. Dia menerangkan bahwasanya agama yang sah di sisi Allah hanyalah Islam. Semua agama dan syariat yang dibawa nabi-nabi terdahulu intinya satu, ialah "Islam", yaitu berserah diri kepada Allah Yang Maha Esa, menjunjung tinggi perintah-perintah-Nya dan berendah diri kepada-Nya, walaupun syariat-syariat itu berbeda di dalam beberapa kewajiban ibadah dan lain-lain.
Muslim yang benar ialah orang yang ikhlas dalam melaksanakan segala amalnya, serta kuat imannya dan bersih dari syirik.
Allah mensyariatkan agama untuk dua macam tujuan:
1. Membersihkan jiwa manusia dan akalnya dari kepercayaan yang tidak benar.
2. Memperbaiki jiwa manusia dengan amal perbuatan yang baik dan memurnikan keikhlasan kepada Allah.
Kemudian Allah menggambarkan perselisihan para Ahli Kitab tentang agama yang sebenarnya. Sebenarnya mereka tidaklah keluar dari agama Islam, agama tauhid yang dibawa oleh para nabi, seandainya pemimpin-pemimpin mereka tidak berbuat aniaya dan melampaui batas sehingga mereka berpecah belah menjadi sekian sekte serta membunuh nabi-nabi. Perpecahan dan peperangan di antara mereka tidak patut terjadi karena mereka adalah satu agama. Tetapi karena kedengkian di antara pemimpin-pemimpin mereka, dan dukungan mereka terhadap satu mazhab untuk mengalahkan mazhab yang lain, timbullah perpecahan itu. Perpecahan itu bertambah sengit setelah pemimpin-pemimpin itu menyesatkan lawannya dengan jalan menafsirkan nas-nas agama menurut hawa nafsu mereka.
Di akhir ayat ini, dikemukakan peringatan kepada orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dengan menandaskan hukuman yang akan ditimpakan kepada mereka.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
HAKIKAT ISLAM
“Allah telah menjelaskan bahwa tiada Tuhan selain Dia."
(pangkal ayat 18)
Syahida kita artikan menjelaskan. Dengan segala amal ciptaan-Nya ini, pada langit dan bumi, pada lautan dan daratan, pada tumbuh-tumbuhan dan binatang, dan segala semat-semesta, Allah telah menjelaskan bahwa hanya Dia yang Tuhan, hanya Dia yang mengatur. Maka, segala yang ada ini adalah penjelasan atau kesaksian dari Allah, menunjukkan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah."Demikianpun malaikat!' dalam keadaan mereka yang gaib itu; semuanya telah menyaksikan, telah memberikan syahadah bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Oleh sebab itu, di dalam tangan kita sendiri kita telah mendapat salah satu bekas syahadah dari malaikat.
"Dan orang-orang yang berilmu" pun telah menyampaikan sya-hadahnya pula bahwa tidak ada Tuhan me-lainkan Allah. Bertambah mendalam ilmu, bertambah menjadi kesaksianlah dia bahwa alam ini ada ber-Tuhan dan Tuhan itu hanya satu, yaitu Allah, dan tidak ada Tuhan yang lain sebab yang lain adalah makhluk-Nya belaka."Bahwa Dia berdiri dengan keadilan", yakni setelah Allah menyaksikan dengan qudrat-iradat-Nya, dan malaikat menyaksikan dengan ketaatannya, dan manusia yang berilmu menyaksikan dengan penyelidikan akalnya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah maka timbul pulalah kesaksian bahwa Allah itu berdiri dengan keadilan. Bahwa Tuhan mencipta alam dengan perseimbangan dan Allah menurunkan perintah-Nya dengan adil serta seimbang.
Adil ciptaan-Nya atas seluruh alam sehingga manusia berjalan dengan teratur, tidak lain adalah karena adil pertimbangannya. Adil pula perintah dan syari'at yang ditutunkan-Nya, sehingga seimbang dunia dengan akhirat, ruhani dengan jasmani. Kata qisthi mengandung akan maksud adil, seimbang, setimbang; semuanya bisa kita dapati di mana-mana dengan teropong ilmu pengetahuan.
“Tidaklah ada Tuhan selain dari Dia. Mahagagah lagi Bijaksana."
(ujung ayat 18)
Hendaklah menarik perhatian kita tentang kedudukan mulia yang diberikan Allah kepada ulil ‘ilmi, yaitu orang-orang yang mempunyai ilmu di dalam ayat ini. Setelah Tuhan menyatakan kesaksian-Nya yang tertinggi sekali bahwa tiada Tuhan selain Allah dan kesaksian itu datang dari Allah sendiri maka Allah pun menyatakan pula bahwa kesaksian tertinggi itu pun diberikan oleh Malaikat. Setelah itu, kesaksian itu pun diberikan pula oleh orang-orang yang berilmu. Artinya, tiap-tiap orang yang berilmu, yaitu orang-orang yang menyediakan akal dan pikirannya buat menyelidiki keadaan alam ini, baik di bumi maupun di langit, di laut dan di darat, di binatang dan di tumbuh-tumbuhan, niscaya manusia itu akhirnya akan sampai juga, tidak dapat tidak, kepada kesaksian yang murni, bahwa memang tidak ada Tuhan melainkan Allah.
“Sesungguhnya, yang agama di sisi Allah ialah Islam."
(pangkal ayat 19)
Kata ad-din biasa kita artikan ke dalam bahasa kita dengan agama. Ada yang menyebut agama dan ada juga menyebut agama. Adapun arti ad-din itu menurut asli Arabnya ialah tha'at ‘tunduk' dan juga ‘balasan'. Sebab itu, Yaumid-Din berarti Hari Pembalasan. Maka, di dalam ta'rif syari'at, segala perintah yang dipikulkan oleh syara' kepada hamba yang telah baligh, tetapi berakal (mukallaf), itulah dia agama. Kata Islam adalah mashdar, asal kata. Kalau telah menjadi fi'il madhi (perbuatan), dia menjadi aslama. Artinya dalam bahasa kita ialah menyerah diri. Pokok asal sekali ialah hubungan tiga huruf s-I-m yang artinya selamat sejahtera. Menjadi juga menyerah, damai, dan bersih dari segala sesuatu. Kalau disebut dalam bahasa Arab salaman li rajulin, artinya ialah sesuatu kepunyaan seorang laki-laki yang tidak berserikat dengan yang lain. Maka, setelah memahami arti dari kata ad-din dan al-lslam sebagaimana yang diutarakan di atas, dapatlah dipahamkan maksud ayat ini, “Sesungguhnya, yang agama di sisi Allah ialah Islam" Atau lebih dapat ditegaskan bahwa yang benar-benar agama pada sisi Allah hanyalah semata menyerahkan diri kepada-Nya saja. Kalau bukan begitu, bukanlah agama.
Oleh karena itu, sekalian agama yang diajarkan nabi-nabi yang dahulu, sejak Adam lalu kepada Muhammad, termasuk Musa dan Isa, tidak lain daripada Islam. Beliau-beliau mengajak manusia supaya Islam, menyerah diri dengan tulus ikhlas kepada Allah, percaya kepada-Nya, kepada-Nya saja. Itulah Islam. Sekalian manusia yang telah sampai menyerah diri kepada Allah yang Tunggal, tidak bersekutu yang lain dengan Dia, walaupun dia memeluk agama apa, dengan sendirinya dia telah mencapai Islam. Syari'at nabi-nabi bisa berubah ka-rena perubahan zaman dan tempat, tetapi hakikat agama yang mereka bawa hanya satu: Islam.
“Akan tetapi, tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab itu melainkan sesudah didatangkan kepada mereka ilmu, lantaran pelanggaran batas di antara mereka"
Dengan sambungan ayat ini, kita dapat memahamkan bahwasanya masing-masing manusia dengan akal murni dan ilmunya sendiri bisa mencapai dasar percaya kepada keesaan Allah, bisa sampai kepada suasana pe-nyerahan diri kepada Allah Yang Mahakuasa dengan sendirinya. Sehingga, kelak apabila dicocokkannya hasil penyerahan diri (Islam) dengan wahyu, tidak akan berapa selisihnya lagi. Akan tetapi, timbul kesulitan bukan pada mereka, melainkan pada orang-orang yang keturunan Kitab, yang Yahudi dan Nasrani, sesudah mereka mendapat ilmu, ialah karena agama sudah diikat dengan ketentuan-ketentuan pendeta. Sehingga, bukan lagi agama Allah, melainkan agama pendeta. Misalnya, pikiran murni manusia telah mencapai kesimpulan bahwa Allah itu memang pasti Esa, tetapi pendeta memutuskan bahwa itu tidak benar! Yang benar ialah mesti diakui bahwa Allah itu beranak atau bahwa Nabi Isa bukan saja anak Allah, tetapi dia pun Allah atau satu dari tiga oknum.
“Dan barangsiapa yang kufur terhadap ayat-ayat Allah," yaitu tidak menerima ketentuan-ketentuan dari Allah bahwasanya hakikat agama hanyalah satu, yaitu menyerahkan diri kepada Allah Yang Maha Esa, persatuan manusia di dalam pokok kepercayaan, dan memandang bahwa tujuan segala rasul Allah hanyalah satu, yaitu membawa manusia dari gelap gulita syirik kepada sinar tauhid,
“Maka sesungguhnya Allah adalah amat cepat perhitungan-Nya."
(ujung ayat 19)
Pada tafsir dari ayat 212 surah al-Baqarah telah diterangkan apa artinya “Allah cepat sekali mengambil tindakan", yaitu apabila langkah telah salah dari permulaan, akibatnya akan segera terasa.
“Maka jika mereka membantah engkau, katakanlah, ‘Aku telah menyeiah diri kepada Allah, demikian juga orang-orang yang mengikutiku.'"
(pangkal ayat 20)
Artinya, kalau orang-orang Ahlul Kitab itu, baik mereka Yahudi yang tinggal di Madinah maupun tetamu yang datang dari Najran itu, kalau mereka masih saja berbantah dengan engkau, katakanlah dengan terus terang bahwasanya engkau dan orang-orang yang menjadi pengikutmu telah mempunyai suatu pendirian yang bulat, yaitu menyerah diri kepada Allah, tegasnya: ISLAM. Pendirian kami telah jelas. Orang-orang yang mempergunakan akalnya pasti sampai kepada penyerahan diri kepada Allah.
Sekarang, Rasulullah pula disuruh menanyakan kepada mereka, “Dan tanyakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Kitab itu!" Baik mereka Yahudi yang telah menerima dan mengerti kitab Taurat maupun dia orang Nasrani yang mengakui telah menerima kitab Injil. Teranglah sudah bahwa inti sejati dari kitab-kitab itu ialah mengajak manusia agar berserah diri kepada Allah."Dan kepada orang-orang yang ummi" yaitu orang-orang Arab sendiri yang tidak memeluk Yahudi atau Nasrani, tidak menerima Taurat ataupun Injil, tetapi mengakui bahwa mereka menerima ajaran Nabi Ibrahim, sedangkan Nabi Ibrahim pun mengakui penganut agama “Menyerah Diri"; tanyakanlah kepada mereka semuanya, “Sudahkah kamu menyerah diri? Sudahkah mereka Islam? Sudahkah mereka kembali kepada ajaran agama dan kitab mereka yang asli, tidak dihambat-hambat oleh penafsiran yang berbeda-beda, keputusan pendeta atau pihak kekuasaan?" “Maka jika mereka telah menyerah diri maka sesungguhnya telah mendapat petunjuklah mereka." Artinya, tidaklah ada lagi beda antara kami dan kamu."Dan jika mereka berpaling maka tidak lain kewajiban engkau hanyalah menyampaikan" jangan berhenti-henti menyampaikan seruan itu agar mereka kembali kepada pokok asli agama, menyerah diri kepada Allah. Dan, tegas, kewajiban Rasul ini pula yang terpikul ke atas pundak kita pengikutnya yang datang di belakang, yaitu tidak berhenti-henti menyampaikan, menyerukan, dakwah dan tablig.
“Dan Allah adalah amat memandang kepada hamba-Nya"
(ujung ayat 20)
***
“Sesungguhnya, orang-orang yang kufur kepada perintah-perintah Allah" tidak mau menerima kebenaran, ditutupnya telinga dan hatinya, “dan membunuh nabi-nabi dengan tidak benar," sebagaimana yang kerap kali telah dilakukan oleh orang Yahudi kepada nabi-nabi mereka sendiri. Berpuluh nabi-nabi yang tidak mereka senangi mereka bunuh. Dan, telah mereka bunuh pula Nabi Zakaria dan putranya Nabi Yahya, bahkan mereka coba pula hendak menarik tangan pihak penguasa supaya Nabi Isa al-Masih pun dibunuh, tetapi Isa al-Masih dipelihara oleh Allah, Meskipun orang Yahudi yang hidup di zaman Rasulullah penyerahan diri itu tidak lain ialah kepatuhan dan taat; mengerjakan yang diperintahkan dan menghentikan yang dilarang. Penyerahan itu menjadi bulat kepada yang satu, itulah tauhid, itulah dia islam yang sejati. Siapa yang tidak insaf, mereka pun menyerah diri kepada thaghut dan setan.
(ayat 21)
“Maka beri ancamanlah mereka dengan siksa yang pedih."
Ancaman siksa yang pedih pada orang-orang yang berjiwa demikian rendah, yang karena tidak sanggup menolak seruan yang benar dengan kebenaran pula, lalu dengan secara hina membenarkan pendirian yang salah, sampai membunuh segala, dijelaskan pada ayat selanjutnya,
“Itulah orang-orang yang telah percuma amal-amal mereka."
(pangkal ayat 22)
Sehingga “arang habis, besi binasa" sebab amal yang berhasil adalah yang timbul dari hati yang tulus, bukan dari hati yang penuh kebencian."Di dunia dan di akhirat." Dalam dunia, segala amal mereka percuma, gagal dan gugur, bekasnya tidak akan ada. Kalau di dunia sudah tidak ada, niscaya di akhirat pun kosong, malahan adzab siksalah yang akan mereka derita.
“Dan tidak ada bagi mereka orang-orang yang akan menolong."
(ujung ayat 22)
Siapa orang yang akan dapat menolong kalau siksaan Allah telah datang? Siapa yang akan dapat menolong kalau satu bangunan telah diruntuh sendiri oleh Allah? Siapa yang akan dapat membela orang yang jatuh lantaran salahnya sendiri?
Seorang sopir mobil mengantuk. Di suatu tikungan jalan ada tertulis “awas kalau hujan licin", tetapi tidak dipedulikannya tulisan peringatan itu, mobil dijalankannya juga dengan acuh tak acuh, tiba-tiba di tempat yang menurun dia slip sehingga jatuh londong-pondong masuk lurah yang dalam. Siapa yang akan dapat menolong pada waktu itu sehingga dia tidak jadi jatuh?
“Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang telah diberi sebagian dari Kitab."
(pangkal ayat 23)
Maksud diberi “sebagian dari Kitab" ialah bahwa mereka telah memahamkan “sebagian" dari isi Kitab, kadang-kadang mereka hafal di luar kepala sebagian besar ayatnya atau keseluruhannya, tetapi “sebagian" itu sajalah yang dia dapat dari Kitab itu. Adapun maksud yang lebih terkandung dalam Kitab itu mereka tidak mengerti. Yang dimaksud ini ialah orang-orang Yahudi, yang mengetahui sebagian dari kitab Taurat.
“(Ketika) diajak mereka kepada Kitab Allah supaya memutuskan di antara mereka, kemudian berpaling sebagian dari mereka, padahal mereka membelakang."
(ujung ayat 23)
Menurut riwayat dari Ibnu Ishaq dan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, pada suatu ketika Rasulullah ﷺ masuk ke rumah tempat orang Yahudi mempelajari agama mereka, mengajak mereka kepada jalan Allah. Maka, bertanyalah kepada beliau dua orang pemuka Yahudi yang ada di sana di waktu itu, yaitu an-Nu'man bin ‘Amr dan al-Haris bin Zaid, “Engkau datang membawa agama apa, ya Muhammad?" Nabi ﷺ, lalu menjawab, “Aku datang dengan agama Ibrahim dan peraturannya" Maka kedua penanya itu bertanya pula, “Tetapi Ibrahim adalah Yahudi." Dengan tegas, Nabi ﷺ menyambut ucapan mereka itu, “Mari kita ambil Taurat Dia kita jadikan alat pemutus di antara kita dalam soal ini. Apa betulkah Yahudi agama Ibrahim atau Islami" Tetapi kedua orang itu tidak mau. Demikian salah satu riwayat tentang sebab-sebab turun ayat ini.
“Yang demikian ialah karena mereka berkata, 'Sekali-kali kami tidak akan disentuh oleh api neraka melainkan beberapa hari saja.'"
(pangkal ayat 24)
Ayat ini adalah lanjutan dari ayat yang sebelumnya tadi, dua orang pemuka Yahudi berani mengatakan Nabi Ibrahim adalah orang Yahudi, tetapi ketika diajak kembali mengambil keputusan dan mencari keterangan itu dalam Taurat sendiri, mereka tidak mau. Mereka bahkan berpaling, membelakang. Membuktikan bahwa mereka telah berdusta besar. Mengapa mereka berani berdusta sebesar itu? Ialah karena ada kepercayaan pada mereka: kita orang Yahudi ini meskipun berdusta sedikit untuk mempertahankan diri, tidaklah mengapa, sebab kalau kita masuk neraka, asal kita terang orang Yahudi, hanya sebentar saja kita di dalam, kita pun segera dikeluarkan. Ini karena orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang utama di sisi Allah, bukan sebagai bangsa-bangsa dan suku-suku yang lain sebab mereka hina di bawah kita, sedangkan kita adalah “kaum pilihan Allah".
Dari mana timbulnya pendirian yang salah ini? Lanjutan ayat telah memberikan jawabannya,
“Karena mereka telah ditipu dalam hal agama mereka, oleh kenangan-kenangan (pemimpin-pemimpin) mereka."
(ujung ayat 24)
Kembali lagi kepada apa yang telah disebutkan di atas, yaitu pemuka-pemuka agama lagi memberikan tafsiran yang salah kepada pengikut-pengikut mereka, sehingga agama telah dipermurah-murah demikian rupa. Kalau inti sari agama tidak lagi menjadi perhatian dan kalau kegunaan agama untuk memperbaiki pribadi tidak dipedulikan lagi, timbullah tafsir-tafsir yang bukan-bukan terhadap agama. Agama yang tadi untuk keselamatan seluruh manusia yang mematuhinya, telah dijadikan hak monopoli oleh suatu golongan; dia pun telah berubah menjadi semacam “kebangsaan". Pemelukagama kami adalah umat yang paling mulia walaupun perintahnya tidak pernah dikerjakan. Demikianlah nasib orang Yahudi atau orang Islam sendiri kalau agama hanya tinggal serosong. Ada orang Islam berkata, “Kalau kita orang Islam masuk neraka, kita hanya sebentar saja di dalam, lantas segera dipindahkan ke surga. Sebab, kita umat Muhammad ini adalah umat yang istimewa di sisi Allah. Lain dengan pemeluk agama lain. Orang Yahudi atau Nasrani, walaupun bagaimana baik mereka itu, pasti masuk neraka dan kekal dalam neraka. Kita orang Islam tidak! Bagaimana pun jahatnya, walaupun tidak pernah shalat, tidak pernah puasa, kerjanya hanya mencuri dan berbuat jahat, sebab dia Islam, dia akan masuk surga juga!"
Kalau hanya hingga begini pendirian kita sebagai Muslim, apakah ubah kita dengan Yahudi yang disebut di ayat itu? Dan apa sebab Yahudi-berpendapat demikian? Sebab mereka hanya menurutkan apa yang diajarkan guru dan tidak hendak menyelidiki lagi. Padahal apabila derajat iman orang yang sudah tinggi dan zuhud serta tunduknya kepada Ilahi telah sampai tempatnya yang layak, tidaklah berani mereka berkata demikian
Kemudian datanglah ayat yang mengajak mereka kembali berpikir sungguh-sungguh tentang keadaan yang sebenarnya akan dihadapi,
“Bagaimanakah hal mereka (kelak) apabila Kami kumpulkan mereka pada hari yang tidak diragu-ragukan lagi padanya."
(pangkal ayat 25)
Sedang hari itu pasti datang. Lebih lama hidup, artinya lebih memastikan bahwa pintu gerbang maut untuk menemui hari itu sudah bertambah dekat. Kelamaan hidup hanyalah menunda kekalahan."Dan disempurnakan bagi tiap-tiap seorang apa yang mereka usahakan." Yang akan disempurnakan itu ialah ganjaran, setimpal dengan amal yang diusahakan. Baik diganjari dengan baik, jahat diganjari dengan jahat, atau ditimbang dengan sangat halus mana yang lebih berat, yang baikkah atau yang jahat?
“Padahal mereka tidak akan dianiaya."
(ujung ayat 25)
"The True Value of This Earthly Life
Allah says;
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالَانْعَامِ وَالْحَرْثِ
Beautified for men is the love of things they covet; women, children, Qanatir Al-Muqantarah of gold and silver, branded beautiful horses (Muﷺwamah), cattle and fertile land.
Allah mentions the delights that He put in this life for people, such as women and children, and He started with women, because the test with them is more tempting.
For instance, the Sahih recorded that the Messenger said,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاء
I did not leave behind me a test more tempting to men than women.
When one enjoys women for the purpose of having children and preserving his chastity, then he is encouraged to do so.
There are many Hadiths that encourage getting married, such as,
وَإِنَّ خَيْرَ هذِهِ الاْإُمَّةِ مَنْ كَانَ أَكْثَرَهَا نِسَاء
Verily, the best members of this Ummah are those who have the most wives.
He also said,
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَة
This life is a delight, and the best of its delight is a righteous wife.
The Prophet said in another Hadith,
حُبِّبَ إِلَيَّ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَة
I was made to like women and perfume, and the comfort of my eye is the prayer.
Aishah, may Allah be pleased with her, said,
""Nothing was more beloved to the Messenger of Allah than women, except horses,""
and in another narration,
""...than horses except women.""
The desire to have children is sometimes for the purpose of pride and boasting, and as such, is a temptation. When the purpose for having children is to reproduce and increase the Ummah of Muhammad with those who worship Allah alone without partners, then it is encouraged and praised.
A Hadith states,
تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الاُْمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَة
Marry the Wadud (kind) and Walud (fertile) woman, for I will compare your numbers to the rest of the nations on the Day of Resurrection.
The desire of wealth sometimes results out of arrogance, and the desire to dominate the weak and control the poor, and this conduct is prohibited. Sometimes, the want for more money is for the purpose of spending it on acts of worship, being kind to the family, the relatives, and spending on various acts of righteousness and obedience; this behavior is praised and encouraged in the religion.
Scholars of Tafsir have conflicting opinions about the amount of the Qintar, all of which indicate that;
the Qintar is a large amount of money, as Ad-Dahhak and other scholars said.
Abu Hurayrah said
""The Qintar is twelve thousand Uwqiyah, each Uwqiyah is better than what is between the heavens and earth.""
This was recorded by Ibn Jarir.
The desire to have horses can be one of three types.
Sometimes, owners of horses collect them to be used in the cause of Allah, and when warranted, they use their horses in battle. This type of owner shall be rewarded for this good action.
Another type collects horses to boast, and out of enmity to the people of Islam, and this type earns a burden for his behavior.
Another type collects horses to fulfill their needs and to collect their offspring, and they do not forget Allah's right due on their horses.
This is why in this case, these horses provide a shield of sufficiency for their owner, as evident by a Hadith that we will mention, Allah willing, when we explain Allah's statement,
وَأَعِدُّواْ لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُم مّن قُوَّةٍ وَمِن رّبَاطِ الْخَيْلِ
And make ready against them all you can of power, including steeds of war. (8:60)
As for the Muﷺwamah horses, Ibn Abbas said that;
they are the branded, beautiful horses.
This is the same explanation of Mujahid, Ikrimah, Sa`id bin Jubayr, Abdur-Rahman bin Abdullah bin Abza, As-Suddi, Ar-Rabi bin Anas and Abu Sinan and others.
Makhul said,
the Muﷺwamah refers to the horse with a white spotted faced, and the horse with white feet.
Imam Ahmad recorded that Abu Dharr said that the Messenger of Allah said,
لَيْسَ مِنْ فَرَسٍ عَرَبِيَ إِلاَّ يُوْذَنُ لَهُ مَعَ كُلِّ فَجْرٍ يَدْعُو بِدَعْوَتَيْنِ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنَّكَ خَوَّلْتَنِي مِنْ بَنِي ادَمَ فَاجْعَلْنِي مِنْ أَحَبِّ مَالِهِ وَأَهْلِهِ إِلَيْهِ أَوْ أَحَبَّ أَهْلِهِ وَمَالِهِ إِلَيْه
Every Arabian horse is allowed to have two supplications every dawn, and the horse supplicates, `O Allah! You made me subservient to the son of Adam. Therefore, make me among the dearest of his wealth and household to him, or,make me the dearest of his household and wealth to him.
Allah's statement,
وَالَانْعَامِ
Cattle,
means, camels, cows and sheep.
.
وَالْحَرْثِ
And fertile land,
meaning, the land that is used to farm and grow plants.
Allah then said,
ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
This is the pleasure of the present world's life,
meaning, these are the delights of this life and its short lived joys.
وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَأبِ
But Allah has the excellent return with Him.
meaning, the best destination and reward.
The Reward of the Those Who Have Taqwa is Better Than All Joys of This World
This is why Allah said
قُلْ أَوُنَبِّيُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَلِكُمْ
Say:""Shall I inform you of things far better than those!""
This Ayah means, ""Say, O Muhammad, to the people, `Should I tell you about what is better than the delights and joys of this life that will soon perish!""'
Allah informed them of what is better when He said,
لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الَانْهَارُ
For those who have Taqwa there are Gardens (Paradise) with their Lord, underneath which rivers flow,
meaning, rivers run throughout it.
These rivers carry various types of drinks:honey, milk, wine and water such that no eye has ever seen, no ear has ever heard, and no heart has ever imagined.
خَالِدِينَ فِيهَا
Therein (is their) eternal (home),
meaning, they shall remain in it forever and ever and will not want to be removed from it.
وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ
And Azwajun Mutahharatun (purified mates or wives),
meaning, from filth, dirt, harm, menstruation, post birth bleeding, and other things that affect women in this world.
وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ
And Allah will be pleased with them.
meaning, Allah's pleasure will descend on them and He shall never be angry with them after that. This is why Allah said in in Surah Bara`ah,
وَرِضْوَنٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ
But the pleasure of Allah is greater. (9:72)
meaning, greater than the eternal delight that He has granted them.
Allah then said,
وَاللّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
And Allah is All-Seer of the (His) servants.
and, He gives each provisions according to what they deserve.
قُلْ أَوُنَبِّيُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَلِكُمْ
Say:""Shall I inform you of things far better than those!""
This Ayah means, ""Say, O Muhammad, to the people, `Should I tell you about what is better than the delights and joys of this life that will soon perish!""'
Allah informed them of what is better when He said,
لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الَانْهَارُ
For those who have Taqwa there are Gardens (Paradise) with their Lord, underneath which rivers flow,
meaning, rivers run throughout it.
These rivers carry various types of drinks:honey, milk, wine and water such that no eye has ever seen, no ear has ever heard, and no heart has ever imagined.
خَالِدِينَ فِيهَا
Therein (is their) eternal (home),
meaning, they shall remain in it forever and ever and will not want to be removed from it.
وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ
And Azwajun Mutahharatun (purified mates or wives),
meaning, from filth, dirt, harm, menstruation, post birth bleeding, and other things that affect women in this world.
وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ
And Allah will be pleased with them.
meaning, Allah's pleasure will descend on them and He shall never be angry with them after that. This is why Allah said in in Surah Bara`ah,
وَرِضْوَنٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ
But the pleasure of Allah is greater. (9:72)
meaning, greater than the eternal delight that He has granted them.
Allah then said,
وَاللّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
And Allah is All-Seer of the (His) servants.
and, He gives each provisions according to what they deserve.
The Supplication and Description of Al-Muttaqin
Allah describes the Muttaqin, His pious servants, whom He promised tremendous rewards,
الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا امَنَّا
Those who say:""Our Lord! We have indeed believed,""
in You, Your Book and Your Messenger.
فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا
so forgive us our sins,
because of our faith in You and in what You legislated for us. Therefore, forgive us our errors and shortcomings, with Your bounty and mercy,
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
and save us from the punishment of the Fire.
Allah then said
الصَّابِرِينَ
(They are) those who are patient,
while performing acts of obedience and abandoning the prohibitions.
وَالصَّادِقِينَ
those who are true,
concerning their proclamation of faith, by performing the difficult deeds.
وَالْقَانِتِينَ
and obedient,
meaning, they submit and obey Allah,
وَالْمُنفِقِينَ
those who spend,
from their wealth on all the acts of obedience they were commanded, being kind to kith and kin, helping the needy, and comforting the destitute.
وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالَاسْحَارِ
and those who pray and beg Allah's pardon in the last hours of the night.
and this testifies to the virtue of seeking Allah's forgiveness in the latter part of the night.
It was reported that when Yaqub said to his children,
سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّيَ
(I will ask my Lord for forgiveness for you) (12:98) he waited until the latter part of the night to say his supplication.
Furthermore, the Two Sahihs, the Musnad and Sunan collections recorded through several Companions that the Messenger of Allah said,
يَنْزِلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالى فِي كُلِّ لَيْلَةٍ إِلى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الاْخِرُ فَيَقُولُ
هَلْ مِنْ سَايِلٍ فَأُعْطِيَهُ
هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأَسْتَجِيبَ لَهُ
هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ
Every night, when the last third of it remains, our Lord, the Blessed, the Superior, descends to the lowest heaven saying,
""Is there anyone to ask Me, so that I may grant him his request?
Is there anyone to invoke Me, so that I may respond to his invocation?
Is there anyone seeking My forgiveness, so that I may forgive him?""
The Two Sahihs recorded that Aishah said,
""The Messenger of Allah performed Witr during the first part, the middle and latter parts of the night. Then, later (in his life), he would perform it (only) during the latter part.""
Abdullah bin Umar used to pray during the night and would ask,
""O Nafi! Is it the latter part of the night yet?""
and if Nafi said, ""Yes,"" Ibn Umar would start supplicating to Allah and seeking His forgiveness until dawn.
This Hadith was collected by Ibn Abi Hatim."
Lo!, the religion with God, pleasing [to Him], is submission [to the One God], (al-islaam), that is to say, the Divine Law with which the messengers were sent, founded upon the affirmation of God's Oneness (a variant reading [for inna, 'lo!'] has anna, 'that', as an inclusive substitution for annahu to the end [of that verse, sc. shahida Llaahu . anna l-deena 'inda Llaahi l-islaam, 'God bears witness that religion with God is Islaam]). Those who were given the Scripture, the Jews and the Christians, differed, in religion, some affirming God's Oneness, others rejecting it, only after the knowledge, of Oneness, came to them through transgression, on the part of the disbelievers, among themselves. And whoever disbelieves in God's signs, God is swift at reckoning, that is, at requiting him.
Din دین and Islam اسلام : An Explanation of the Two words:
The word, Din (دین) has more than one meaning in the Arabic language, one of them being 'the way'. In the terminology of the Qur'an, the word, Din دین is used to stand for principles and injunctions which are common to all prophets (علیہم السلام) from Sayyidna Adam (علیہ السلام) to the last of the prophets, Sayyidna Muhammad al-Mustafa ﷺ . The words, 'shari'ah (شریعہ) or 'al-minhaj' (المنھاج) or the word, 'madhhab' (مذھب) from among the later-day terms, are used to cover subsidiary injunctions, which have been different during different ages and different communities. The Holy Qur'an says:
شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا
Allah made you follow the same religion with which He bound Nuh (and other prophets) - 42:13.
This tells us that the دین din of all our blessed prophets (علیہم السلام) was one and the same, that is, belief in the most perfect Being and Attributes of Allah, in His being free of all shortcomings and- that He alone is worthy of worship, believing in this from the depth of one's heart and confirming it verbally; belief in the Day of Judgment, in the final reckoning of deeds, the reward and the punishment and in Paradise and Hell and in every prophet and messenger sent by Him and in all command-ments and injunctions brought by them, believing all this in one's heart and confirming such belief verbally as well.
Now the real meaning of the word, اسلام Islam is to submit oneself to Allah and be obedient to His commands. Given this meaning, those who believed in the prophets and messengers of their time and were obedient to the commands of Allah they brought to them, were all entitled to be called Muslims, and their religion was Islam. It was in this sense of the word that Sayyidna Nuh (علیہ السلام) said: وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِين I have been commanded that I be from among the Muslims 10:72) and therefore, Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) described himself and his community as Muslims when he said: رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ (Our Lord, make us Muslims, the submitting ones to Thee, and from our progeny a community of Muslims submitting to Thee - 2:128). And it was in this very sense of the word that the disciples of Sayyidna 'Isa (علیہ السلام) said: وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (And bear witness that we are Muslims - 3:52)
Sometimes this word is applied particularly to the din دین and Shari` ah, the religion and the law brought finally by the last among the prophets, Sayyidna Muhammad al-Mustafa ﷺ This law abrogated all previous ways in religion and this shall sustain right through the Day of Judgment. Given this meaning of the word Islam, it becomes particular to the religion brought by the prophet of Islam and to the large community of his followers. In a well-known hadith of Jibra'il (علیہ السلام) ، the Holy Prophet ﷺ has explained Islam in this very manner.
The word, الاسلام 'Al-Islam' as it appears in the verse here carries the likelihood of both meanings. If the first meaning is taken, it would mean that the only religion -acceptable with Allah is Islam, that is, becoming obedient in complete submission to the commands of Allah, believing in all prophets of all times and in whatever commandments they brought, by acting accordingly. Although, the religion brought by Hadhrat Muhammad ﷺ has not been specially identified here, yet, in pursuance of the general rule, once the last among the line of prophets had been sent, the belief and practice of all injunctions he brought becomes binding, and inclusive under this rule. As such, the outcome will be that the religion acceptable during the period of Sayyidna Nuh (علیہ السلام) was what he brought; during the period of Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) ، what he brought. Similarly, the Islam of the period of Sayyidna Musa was what came in the form of the tablets of Torah and the teachings of Moses and the Islam of the period of Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) was what came as Injil and the teachings of Jesus (علیہ السلام) ، At the end of this chain of prophets, the Islam of the period of Sayyidna Muhammad ﷺ the last among the prophets (علیہم السلام) ، shall be what took shape on the pattern given by the Qur'an and Sunnah.
Now if we take the second meaning of Islam, that is, the Sharl'ah the way and law brought by the last of the prophets the verse would come to mean that in this period of time only that religion of Islam which is true to the teachings of the noble Prophet ﷺ is the one acceptable. No doubt, previous religions too, during their age of currency, were known as Islam, but they are now abrogated. So, the end-result is the same both ways, that is, during the age of every prophet, the religion acceptable in the sight of Allah is that particular Islam which conforms to the revelation and teachings credited to that prophet. No religion, other than this, even if it be a previously abrogated one, is acceptable and certainly not deserving of being called "Islam" at a later stage. The Shari` ah of Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) was the Islam of his times. When the time of Sayyidna Musa (علیہ السلام) came, the abrogated laws of that code did not remain the Islam of his time. Similarly, any laws of Moses (علیہ السلام) abrogated during the time of Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) were not to be labeled as Islam any more. It is exactly like this when laws and injunctions of previous religious codes were abrogated during the time of the Last of the prophets ﷺ ، they no more remained valid as Islam. Therefore, whatever meaning of Islam is taken, general or particular, in relation to the community being addressed by the Holy Qur'an, the outcome of both is nothing but that, following the appearance of the noble Prophet ﷺ ، the only religion which shall be deserving of the Surah 'Al-` Imran 3.18-19 name, Islam, will be the one that conforms to the قُرآن and the teachings of the blessed recipient of revelations and that alone shall be acceptable in the sight of Allah. Since no other religion is acceptable to Allah, it cannot become a source of salvation either. This subject has appeared in the Holy Qur'an in many verses separately. The exact words used in one such verse are: وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ That is, whoever seeks a religion other than Islam, it will not be accepted from him (and what is done under its dictates shall be wasted).
Salvation in our times depends on Islam:
Even good deeds and morals from a non-Muslim are not acceptable.
These verses have very clearly hit at the root of the atheistic approach which endeavours to bracket Islam and disbelief (kufr) on the same footing in the name of tolerance preached by Islam, thereby claiming that every faith of the world Judaism, Christianity, even paganism can each become the source of salvation, on condition that its followers perform good deeds and observe good morals. This is a veiled attempt to demolish a principle of Islam and to prove that reality Islam is nothing of substance. It is something limpid and imaginary which could be moulded to fit into whatever religion one chooses, even if it is kufr or disbelief The verses of the Holy Qur'an, those appearing here and a large number of others, have very explicitly stressed that the light and darkness cannot be the same. Similarly, it is grossly absurd and impossible that Allah would like disobedience to and rebellion against Him just as He likes obedience and submission. Whoever denies even one basic principle of Islam, he is, without any shadow of doubt, a rebel to Allah and the enemy of how impressing he may appear in his other deeds and formal morality. Salvation in the Hereafter depends, first of all, on obedience to Allah and His Messenger. Whoever remains deprived of it, not one of his deeds is credible. The Holy Qur'an says for such people:
فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
We shall not assign weight to their deeds on the Day of Judgment - 18:105.
In verse 19: وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ after declaring that 'the religion in the sight of Allah is Islam', the text moves on to explain why the people of the Book went about disputing the prophethood of Sayyidna Muhammad ﷺ ، and challenging Islam as false. They did this, not because they had any doubts in this connection for they knew the truth of the matter through their own scriptures, but because they were scared of losing their ground against 'Muslims. So, it was their malice towards Muslims, their love for power and influence and their arrogant self-image as traditional leaders which drove them to these altercations.
Finally, it was said: وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّـهِ فَإِنَّ اللَّـهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ that is, 'whoever denies the verses of Allah (as the people of the Book did), then, Allah is swift at reckoning'. The swiftness of this reckoning can be well imagined as it starts initially soon after death when man passes into the state known as 'barzakh برزخ '. But the detailed accounting for one's deeds shall take place on the Day of Judgment when he will have to account for his doings in the minutest detail. Then, the penchant for disputing truth will be exposed. The people who denied the truth will discover their worth and the punishment it calls for shall become known to them.








