Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
زُيِّنَ
dijadikan indah (pandangan)
لِلنَّاسِ
bagi manusia
حُبُّ
kecintaan
ٱلشَّهَوَٰتِ
segala yang diingini
مِنَ
dari
ٱلنِّسَآءِ
wanita-wanita
وَٱلۡبَنِينَ
dan anak-anak
وَٱلۡقَنَٰطِيرِ
dan harta
ٱلۡمُقَنطَرَةِ
yang banyak
مِنَ
dari
ٱلذَّهَبِ
emas
وَٱلۡفِضَّةِ
dan perak
وَٱلۡخَيۡلِ
dan kuda
ٱلۡمُسَوَّمَةِ
yang pilihan
وَٱلۡأَنۡعَٰمِ
dan binatang ternak
وَٱلۡحَرۡثِۗ
dan sawah ladang
ذَٰلِكَ
demikian itu
مَتَٰعُ
kesenangan
ٱلۡحَيَوٰةِ
kehidupan
ٱلدُّنۡيَاۖ
dunia
وَٱللَّهُ
dan Allah
عِندَهُۥ
di sisiNya
حُسۡنُ
yang terbaik
ٱلۡمَـَٔابِ
tempat kembali
زُيِّنَ
dijadikan indah (pandangan)
لِلنَّاسِ
bagi manusia
حُبُّ
kecintaan
ٱلشَّهَوَٰتِ
segala yang diingini
مِنَ
dari
ٱلنِّسَآءِ
wanita-wanita
وَٱلۡبَنِينَ
dan anak-anak
وَٱلۡقَنَٰطِيرِ
dan harta
ٱلۡمُقَنطَرَةِ
yang banyak
مِنَ
dari
ٱلذَّهَبِ
emas
وَٱلۡفِضَّةِ
dan perak
وَٱلۡخَيۡلِ
dan kuda
ٱلۡمُسَوَّمَةِ
yang pilihan
وَٱلۡأَنۡعَٰمِ
dan binatang ternak
وَٱلۡحَرۡثِۗ
dan sawah ladang
ذَٰلِكَ
demikian itu
مَتَٰعُ
kesenangan
ٱلۡحَيَوٰةِ
kehidupan
ٱلدُّنۡيَاۖ
dunia
وَٱللَّهُ
dan Allah
عِندَهُۥ
di sisiNya
حُسۡنُ
yang terbaik
ٱلۡمَـَٔابِ
tempat kembali
Terjemahan
Dijadikan tampak indah dalam pandangan manusia cinta terhadap nafsu, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak1 dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.
Catatan kaki
1 Hewan-hewan yang termasuk jenis unta, sapi, kambing, dan biri-biri.
Tafsir
(Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada syahwat) yakni segala yang disenangi serta diingini nafsu sebagai cobaan dari Allah atau tipu daya dari setan (yaitu wanita-wanita, anak-anak dan harta yang banyak) yang berlimpah dan telah berkumpul (berupa emas, perak, kuda-kuda yang tampan) atau baik (binatang ternak) yakni sapi dan kambing (dan ﷺah ladang) atau tanam-tanaman. (Demikian itu) yakni yang telah disebutkan tadi (merupakan kesenangan hidup dunia) di dunia manusia hidup bersenang-senang dengan hartanya, tetapi kemudian lenyap atau pergi (dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik) yakni surga, sehingga itulah yang seharusnya menjadi idaman dan bukan lainnya.
Tafsir Surat Ali-'Imran: 14-15
Dijadikan indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa-apa yang diinginkan, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta benda yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan ﷺah ladang. Itulah kesenangan hidup dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
Katakanlah, "Maukah kalian aku beri tahu tentang apa yang lebih baik dari itu?" Untuk orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (ada pula) pasangan-pasangan yang suci serta rida Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.
Ayat 14
Allah ﷻ memberitakan tentang semua yang dijadikan perhiasan bagi manusia dalam kehidupan di dunia ini, berupa berbagai kesenangan yang antara lain ialah wanita dan anak-anak. Dalam ayat ini dimulai dengan sebutan wanita, karena fitnah (ujian) yang ditimbulkan oleh mereka sangat kuat. Seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadits shahih, bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda: “Tiada satu fitnah pun sesudahku yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki selain dari wanita.”
Lain halnya jika orang yang bersangkutan bertujuan dengan wanita untuk memelihara kehormatannya dan memperbanyak keturunan, maka hal ini merupakan suatu hal yang dianjurkan dan disunatkan, seperti yang disebutkan oleh banyak hadits yang menganjurkan untuk nikah dan memperbanyak nikah. Sebaik-baik orang dari kalangan umat ini ialah yang paling banyak mempunyai istri (dalam batas yang diperbolehkan).
Sabda Nabi ﷺ yang mengatakan: “Dunia adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan adalah istri yang saleh; jika suami memandangnya, maka ia membuat gembira suaminya; jika suami menyuruhnya, maka ia menaati suaminya; dan jika suaminya pergi, tidak ada di tempat, maka ia memelihara kehormatan dirinya dan harta benda suaminya.”
Sabda Nabi ﷺ dalam hadits yang lain, yaitu: “Aku dibuat senang kepada wanita dan wewangian, dan kesejukan hatiku dijadikan di dalam salatku.” Siti Aisyah menceritakan bahwa tiada sesuatu pun yang lebih disukai oleh Rasulullah ﷺ selain wanita kecuali kuda. Menurut riwayat yang lain disebutkan 'selain kuda kecuali wanita'.
Senang kepada anak adakalanya karena dorongan membanggakan diri dan sebagai perhiasan yang juga termasuk ke dalam pengertian membanggakan diri. Adakalanya karena dorongan ingin memperbanyak keturunan dan memperbanyak umat Muhammad ﷺ yang menyembah hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Maka hal ini baik lagi terpuji, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadits, yaitu: “Nikahilah oleh kalian wanita-wanita yang keibuan lagi subur peranakannya, karena sesungguhnya aku berharap memiliki umat yang banyak karena kalian kelak di hari kiamat.”
Cinta kepada harta adakalanya karena terdorong oleh faktor menyombongkan diri dan berbangga-banggaan, takabur terhadap orang-orang lemah, dan sombong terhadap orang-orang miskin. Hal ini sangat dicela. Tetapi adakalanya karena terdorong oleh faktor membelanjakannya di jalan-jalan yang mendekatkan diri kepada Allah ﷻ dan silaturahmi, serta amal-amal kebajikan dan ketaatan; hal ini sangat terpuji menurut syariat.
Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang kadar qintar yang disebut oleh ayat ini, yang kesimpulannya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan qintar adalah harta yang banyak dan berlimpah, seperti yang dikatakan oleh Adh-Dhahhak dan lain-lain.
Menurut pendapat lain sejumlah seribu dinar, pendapat lain mengatakan seribu dua ratus dinar, pendapat lain mengatakan sejumlah dua belas ribu dinar, pendapat lain mengatakan empat puluh ribu dinar, pendapat yang lain lagi mengatakan enam puluh ribu dinar, dan ada yang mengatakan tujuh puluh ribu dinar, ada pula yang mengatakan delapan puluh ribu dinar, dan lain sebagainya.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu ‘Ashim, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Satu qintar adalah dua belas ribu uqiyah, tiap-tiap uqiyah lebih baik daripada apa yang ada di antara langit dan bumi.”
Ibnu Majah meriwayatkan pula hadits ini dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Abdus Samad ibnu Abdul Waris, dari Hammad ibnu Salamah dengan lafal yang sama. Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Bandar, dari Ibnu Mahdi, dari Hammad ibnu Salamah, dari ‘Ashim ibnu Bahdalah, dari Zakwan Abu Saleh, dari Abu Hurairah secara mauquf (hanya sampai pada Abu Hurairah). Seperti yang terdapat pada riwayat Waki' di dalam kitab tafsirnya, disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari ‘Ashim ibnu Bahdalah, dari Zakwan Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan: “Satu qintar adalah dua belas ribu uqiyah, satu uqiyah lebih baik daripada semua yang ada di antara langit dan bumi.” Sanad riwayat ini lebih shahih.
Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Mu'az ibnu Jabal dan Ibnu Umar. Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui Abu Hurairah dan Abu Darda, bahwa mereka (para sahabat) mengatakan, "Satu qintar adalah seribu dua ratus uqiyah." Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Yahya Ad-Darir (tuna netra), telah menceritakan kepada kami Syababah, telah menceritakan kepada kami Mukhallad ibnu Abdul Wahid, dari Ali ibnu Zaid, dari ‘Atha’ dari Ibnu Abu Maimunah, dari Zurr ibnu Hubaisy, dari Ubay ibnu Ka'b yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Satu qintar adalah seribu dua ratus uqiyah.”
Hadits ini berpredikat munkar, namun yang lebih dekat kepada kebenaran ialah yang mengatakan bahwa hadits ini berpredikat mauquf hanya sampai pada Ubay ibnu Ka'b (tidak sampai kepada Nabi ﷺ), sama halnya dengan yang lainnya dari kalangan sahabat.
Ibnu Mardawaih meriwayatkan melalui jalur Musa ibnu Ubaidah Ar-Rabzi, dari Muhammad ibnu Ibrahim, dari Musa, dari Ummu Darda, dari Abu Darda yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang membaca seratus ayat, maka ia tidak dicatat sebagai orang-orang yang lalai; dan barang siapa yang membaca seratus ayat hingga seribu ayat, maka ia akan memiliki satu qintar pahala di sisi Allah. Satu qintar pahala sama banyaknya dengan sebuah bukit yang besar.” Waki' meriwayatkan hal yang semakna dari Musa ibnu Ubaidah.
Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Muhammad ibnu Ya'qub, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Isa ibnu Zaid Al-Lakhami, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr ibnu Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Zuhair ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Humaid At-Tawil dan seorang lelaki lainnya, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai makna firman-Nya: “Harta (qintar) yang berlimpah.” (Ali Imran: 14) Maka Nabi ﷺ bersabda: “Satu qintar adalah dua ribu uqiyah.” Hadits ini shahih dengan syarat Syaikhain, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya. Demikianlah menurut yang diriwayatkan oleh Imam Hakim.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dengan lafal yang lain. Ia mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdur Rahman Ar-Riqqi, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Zuhair (yakni Ibnu Muhammad), telah menceritakan kepada kami Humaid At-Tawil dan seorang lelaki yang disebutnya bernama Yazid Ar-Raqqasyi, dari Anas, dari Rasulullah ﷺ dalam sabdanya yang mengatakan: “Satu qintar adalah seribu dinar.”
Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabarani, dari Abdullah ibnu Muhammad ibnu Abu Maryam, dari Amr ibnu Abu Salamah, lalu ia menceritakan riwayat ini dengan sanad yang mirip.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri, dari Anas ibnu Malik secara mursal atau mauquf hanya sampai kepadanya yang isinya menyatakan bahwa satu qintar adalah seribu dua ratus dinar. Ini merupakan suatu riwayat yang dikemukakan oleh Al-Aufi dari Ibnu Abbas.
Adh-Dhahhak mengatakan bahwa sebagian orang Arab ada yang mengatakan satu qintar adalah seribu dua ratus dinar. Ada pula yang mengatakan dua belas ribu dinar.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Arim, dari Hammad, dari Sa'id Al-Harasi, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa'id Al-Khudri yang mengatakan bahwa satu qintar adalah sebanyak kulit banteng penuh berisikan emas. Abu Muhammad mengatakan bahwa ini diriwayatkan oleh Muhammad ibnu Musa Al-Harasi, dari Hammad ibnu Zaid secara marfu', tetapi yang mauquf lebih shahih.
Suka kuda ada tiga macam, adakalanya para pemiliknya memeliharanya untuk persiapan berjihad di jalan Allah; di saat mereka perlukan, maka mereka tinggal memakainya; mereka mendapat pahala dari usahanya itu. Adakalanya orang yang bersangkutan memelihara kuda untuk membanggakan diri dan melawan kaum muslim, maka pelakunya mendapat dosa dari perbuatannya. Adakalanya pula kuda dipelihara untuk diternakkan tanpa melupakan hak Allah yang ada padanya, maka bagi pemiliknya beroleh ampunan dari Allah ﷻ. Seperti yang akan dijelaskan nanti dalam tafsir firman-Nya: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang.” (Al-Anfal: 60), hingga akhir ayat.
Yang dimaksud dengan al-muﷺwamah menurut Ibnu Abbas ialah kuda-kuda pilihan yang dipelihara dengan baik. Hal yang sama dikatakan pula menurut riwayat yang bersumber dari Mujahid, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Abdur Rahman ibnu Abdullah ibnu Abza, As-Suddi, Ar-Rabi' ibnu Anas, Abu Sinan dan lain-lain.
Menurut Makhul, al-muﷺwamah ialah kuda yang memiliki belang putih. Menurut pendapat yang lain adalah selain itu.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id, dari Abdul Hamid ibnu Ja'far, dari Yazid ibnu Abu Habib, dari Suwaid ibnu Qais, dari Mu'awiyah ibnu Khadij, dari Abu Dzar yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Tiada seekor kuda Arab pun melainkan diperintahkan kepadanya melakukan dua buah doa pada tiap fajar, yaitu: ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menundukkan aku kepada seseorang dari Bani Adam hingga aku tunduk kepadanya, maka jadikanlah aku termasuk harta dan keluarga yang paling dicintainya, atau keluarga dan harta benda yang paling dicintainya’.”
Firman Allah ﷻ: “Dan binatang ternak.” (Ali Imran: 14)
Yang dimaksud ialah unta, sapi, dan kambing.
“Dan ﷺah ladang.” (Ali Imran: 14)
Yakni lahan yang dijadikan untuk ditanami (seperti ladang, ﷺah, serta perkebunan).
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Rauh ibnu Ubadah, telah menceritakan kepada kami Abu Na'amah Al-Adawi, dari Muslim ibnu Badil, dari Iyas ibnu Zuhair, dari Suwaid ibnu Hubairah, dari Nabi ﷺ yang bersabda: “Sebaik-baik harta seseorang ialah ternak kuda yang berkembang biak dengan pesat, atau kebun kurma yang subur.” Al-maburah, yang banyak keturunannya. As-sikkah, pohon kurma yang berbaris (banyak). Maburan artinya yang subur.
Firman Allah ﷻ: “Itulah kesenangan hidup di dunia.” (Ali Imran: 14)
Artinya, itulah yang meramaikan kehidupan di dunia dan sebagai perhiasannya yang kelak akan fana (lenyap).
“Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali Imran: 14)
Yakni tempat kembali yang baik dan berpahala, yaitu surga.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari ‘Atha’, dari Abu Bakar ibnu Hafs ibnu Umar ibnu Sa'd yang menceritakan bahwa ketika diturunkan ayat berikut, yaitu firman-Nya: “Dijadikan indah dalam pandangan manusia cinta kepada apa-apa yang diinginkan.” (Ali Imran: 14) maka Umar ibnul Khattab berkata, "Sekaranglah, ya Tuhanku, karena Engkau telah menjadikannya sebagai perhiasan bagi kami."
Ayat 15
Maka turunlah firman-Nya: “Katakanlah, ‘Maukah kalian aku beritahu tentang apa yang lebih baik dari itu?’ Untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran: 15), hingga akhir ayat.
Karena itulah Allah ﷻ berfirman: “Katakanlah,‘Maukah kalian aku beritahu tentang apa yang lebih baik dari itu?’” (Ali Imran: 15)
Yakni katakanlah, wahai Muhammad, kepada orang-orang, "Aku akan memberitahukan kepada kalian hal yang lebih baik dari apa yang dihiaskan kepada manusia dalam kehidupan di dunia ini berupa kesenangan dan kegemerlapannya yang semuanya itu pasti akan lenyap."
Sesudah itu Allah ﷻ mengabarkan melalui firman-Nya:
“Untuk orang-orang yang bertakwa, pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (Ali Imran: 15)
Yaitu yang menembus di antara sisi-sisinya dan bagian-bagiannya sungai-sungai dari berbagai macam rasa, ada sungai madu, sungai khamr, sungai susu, dan lain sebagainya yang belum pernah dilihat oleh mata manusia, belum pernah didengar oleh telinganya, dan belum pernah terbetik di dalam hatinya.
“Mereka kekal di dalamnya.” (Ali Imran: 15)
Yakni tinggal di dalamnya untuk selama-lamanya, dan mereka tidak mau pindah darinya.
“Dan pasangan-pasangan yang suci.” (Ali Imran: 15)
Maksudnya, disucikan dari kotoran, najis, penyakit, haid, nifas, dan lain sebagainya yang biasa dialami oleh kaum wanita di dunia.
“Serta rida Allah.” (Ali Imran: 15)
Yakni mereka dinaungi oleh rida Allah, maka Allah tidak akan murka lagi terhadap mereka sesudahnya untuk selama-lamanya. Karena itulah Allah ﷻ berfirman di dalam surat At-Taubah: “Dan rida Allah adalah lebih besar.” (At-Taubah: 72) Artinya, lebih besar daripada semua nikmat kekal yang diberikan kepada mereka di dalam surga.
Kemudian Allah ﷻ berfirman:
“Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (Ali Imran: 15)
Yakni Dia pasti memberikan anugerah sesuai dengan apa yang berhak diterima oleh masing-masing hamba.
Ada beberapa hal yang dapat menghalangi seseorang mengambil pelajaran dari peristiwa di atas, yaitu dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan dan sulit untuk dibendung, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan yang bagus dan terlatih, hewan ternak, dan ﷺah ladang, atau simbol-simbol kemewahan duniawi lainnya. Itulah kesenangan hidup di dunia yang bersifat sementara dan akan hilang cepat atau lambat, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik, yaitu surga dengan segala keindahan dan kenikmatannya. Hal-hal yang disebut di atas adalah baik dan sesuai dengan naluri manusia, tetapi ada yang lebih baik dari itu semua. Maka katakanlah, wahai Nabi Muhammad, kepada orang-orang yang terlalu mencintai dunia dan kepada siapa pun juga, Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu' Bagi orang-orang yang bertakwa tersedia di sisi Tuhan yang mendidik dan memelihara mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sehingga mereka tidak perlu lagi bersusah payah mengairi-nya. Selain tempat tinggal yang nyaman itu, mereka hidup kekal di dalamnya, dan mereka juga dianugerahi pasangan-pasangan yang suci dari segala macam kekotoran jasmani dan rohani seperti haid, nifas, dan perangai buruk, serta kenikmatan rohani yang tidak ada taranya, yaitu rida Allah yang amat besar. Dan anu-gerah tersebut wajar karena Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya, mengetahui segala keadaan mereka dan memberikan balasan yang terbaik.
Sesudah dijelaskan pada ayat sebelum ini tentang kekeliruan pandangan orang kafir terhadap harta dan anak-anak serta penyimpangan mereka dari kebenaran, maka dalam ayat ini diterangkan segi kesesatan mereka yang disebabkan oleh harta dan anak yang dijadikan tumpuan harapan mereka.
Adalah keliru kalau manusia menjadikan harta dan anak sebagai tujuan hidupnya. Perempuan, anak-anak, emas dan perak, kendaraan, binatang peliharaan, dan semua kekayaan adalah menyenangkan manusia dan sangat dicintainya. Sebenarnya bukan sesuatu yang terlarang mencintai benda-benda itu, karena manusia tidak dapat terhindar dari mencintainya. Namun sedikit sekali orang yang memahami keburukan atau bahayanya, sekalipun bukti-bukti cukup jelas dan banyak yang memperlihatkan keburukan dan bahayanya itu. Kadang-kadang manusia menyukai sesuatu, padahal dia mengetahui sesuatu itu buruk, dan tidak berguna. Siapa yang menyukai sesuatu tetapi dia menganggap hal itu tidak baik untuk dirinya, dia dapat melepaskan diri dari pengaruhnya. Sesungguhnya Allah menjadikan tabiat manusia cinta kepada harta benda dan kesenangan. Oleh sebab itu, Allah menjadikan harta benda dan kesenangan sebagai sarana menguji keimanan seseorang, apakah dia akan menggunakan semua harta dan kesenangan itu untuk kehidupan duniawi saja, ataukah dia akan menggunakan harta bendanya untuk mencapai keridaan Allah.
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami uji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.(al-Kahf/18: 7)
Benda-benda kesenangan manusia secara terperinci adalah sebagai berikut:
Pertama: Perempuan (istri), istri adalah tumpuan cinta dan kasih sayang. Jiwa manusia selalu cenderung tertuju kepada istri, sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Qur'an:
Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. ?. (ar-Rum/30: 21)
Sebagian besar hasil usaha kaum lelaki yang diperoleh dengan susah payah diperuntukkan bagi anak dan istri. Para lelaki adalah pembimbing yang bertanggung jawab atas kaum perempuan, karena lelaki itu memiliki kekuatan dan kemampuan melindungi mereka. Tetapi mencintai perempuan secara berlebihan mempunyai efek yang kurang baik terhadap keluarga, masyarakat, dan bangsa, dan dapat pula mempengaruhi keseimbangan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan.
Dalam ayat ini, mencintai istri disebutkan lebih dahulu daripada mencintai anak-anak, walaupun cinta kepada istri itu dapat luntur, sedang cinta pada anak tidak; karena cinta pada anak jarang sekali berlebih-lebihan seperti halnya mencintai perempuan.
Pada umumnya mencintai anak tidak menimbulkan problema. Dalam masyarakat banyak terjadi seorang laki-laki mengutamakan cinta kepada perempuan dengan mengabaikan cinta kepada anak. Seperti laki-laki yang kawin lebih dari satu, dia curahkan cintanya pada istri yang lain, diberinya nafkah yang banyak, sedang istrinya yang tua diabaikan. Dengan demikian anak-anaknya jadi terlantar, karena pendidikannya tidak lagi diperhatikan. Banyak pula anak-anak penguasa dan orang kaya yang rusak akhlaknya karena bapaknya mencintai perempuan lain.
Kedua: Anak, laki-laki atau perempuan. Cinta kepada anak adalah fitrah manusia. Sama halnya dengan cinta kepada istri karena tujuannya untuk melanjutkan keturunan.
Anak sebenarnya adalah hiasan rumah tangga, penerus keturunan dari generasi ke generasi. Tetapi dia dapat berubah menjadi cobaan:
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), ? (at-Tagabun/64: 15)
Ketiga: Harta kekayaan yang melimpah ruah. Ar-Razi mengatakan dalam tafsirnya, "Emas dan perak amat disenangi, karena keduanya adalah alat penilai harga sesuatu. Orang yang memilikinya sama dengan orang yang memiliki segala sesuatu. Memiliki berarti menguasai. Berkuasa adalah salah satu kesempurnaan, dan kesempurnaan itu diinginkan oleh semua manusia. Karena emas dan perak adalah alat yang paling tepat untuk memperoleh kesempurnaan, maka ia diinginkan dan dicintai. Apabila sesuatu yang dicintai tidak dapat diperoleh kecuali dengan sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain itu pun dicintai pula. Maka karena itulah emas dan perak dicintai".
Harta yang melimpah ruah akan menggoda hati manusia serta menyibukkan mereka sepanjang hari untuk mengurusnya. Hal ini sudah barang tentu akan dapat melupakan orang kepada Tuhan dan kehidupan di akhirat.
Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiah) akan berkata kepadamu, "Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami? (al-Fath/48: 11)
Cinta kepada harta telah menjadi tabiat buruk manusia, karena harta adalah alat untuk memenuhi keinginan. Keinginan manusia tidak ada batasnya. Maka mereka mengejar harta tidak henti-hentinya. Rasulullah ﷺ bersabda:
Sekiranya manusia itu mempunyai satu lembah harta, niscaya ia ingin yang kedua (satu lembah lagi). Kalau ia mempunyai dua lembah, niscaya ia ingin yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut Bani Adam kecuali tanah. Dan Allah mengampuni orang-orang yang bertobat kepada-Nya. (Riwayat al-Bukhari dari Ibnu 'Abbas).
Keempat: Kuda yang dipelihara di padang rumput, terutama kuda yang berwarna putih di bagian dahi dan kakinya, sehingga tampak sebagai tanda. Bagi masyarakat Arab, kuda yang demikian ini adalah kuda yang paling baik dan paling indah. Mereka berlomba-lomba untuk dapat memilikinya. Mereka merasa bangga dengan kuda semacam itu dan kadang-kadang bersaing membelinya dengan harga yang amat tinggi.
Kelima: Binatang ternak lainnya, seperti sapi, unta, kambing. Binatang-binatang ini termasuk harta kekayaan Arab Badui. Kebutuhan hidup mereka seperti pakaian, makanan alat-alat rumah tangga dan sebagainya, sebagian besar terpenuhi dari hasil beternak binatang-binatang itu. Allah berfirman menerangkan nikmat-Nya ini:
Dan hewan ternak telah diciptakan-Nya untuk kamu, padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh keindahan padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya (ke tempat penggembalaan).Dan ia mengangkut beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah. Sungguh, Tuhanmu Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.(an-Nahl/16: 5-8).
Keenam: ﷺah ladang adalah sumber kehidupan manusia dan hewan. Kebutuhan manusia kepada ﷺah ladang melebihi kebutuhan mereka kepada harta lainnya yang disenangi, karena ﷺah ladang adalah sumber pemenuhan kebutuhan seseorang.
Demikianlah keenam macam harta yang disenangi manusia di dunia ini, dan merupakan alat kelengkapan bagi hidup mereka, yang memenuhi segala kebutuhan dan keinginan mereka. Setan menggoda manusia sehingga ia memandang baik mencintai harta benda tersebut. Tetapi hendaknya manusia menyadari bahwa semua harta benda itu hanya untuk kehidupan duniawi yang tidak kekal. Tidak benar, apabila harta benda dijadikan manusia sebagai cita-cita dan tujuan akhir dari kehidupan di dunia yang fana ini, sehingga dia terhalang untuk mempersiapkan diri bagi kehidupan yang sebenarnya, yaitu kehidupan akhirat yang abadi. Bukankah di sisi Allah ada tempat kembali yang baik (surga)? Alangkah bahagianya manusia, sekiranya dia mempergunakan harta benda itu dalam batas-batas petunjuk Allah.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Diperhiaskan bagi manusia kesukaan kepada barang yang diingini."
(pangkal ayat 14)
Zuyyina, artinya diperhiaskan. Maksudnya, segala barang yang diingini itu ada baiknya dan ada buruknya, tetapi apabila keinginan telah timbul, yang kelihatan hanya eloknya saja dan lupa akan buruk atau susahnya. Hubb, artinya kesukaan atau cinta. Syahwat, yaitu keinginan-keinginan yang menimbulkan selera yang menarik nafsu buat mempunyainya. Maka, disebutlah di sini enam macam hal yang manusia sangat menyukainya karena ingin mempunyai dan menguasainya, sehingga yang tampak oleh manusia hanyalah keuntungannya saja, sehingga manusia tidak memedulikan kepayahan buat mencintainya.
“(Yaitu) dari hal perempuan dan anak laki-laki, dan berpikul-pikul emas dan perak, dan kuda kendaraan yang diasuh, dan binatang-binatang ternak, dan ﷺah ladang." Itulah enam macam yang sangat disukai, diinginkan, dan dengan berbagai macam usaha manusia ingin mempunyainya.
Pertama: Perempuan
Sudah ditakdirkan oleh Allah bahwa tiap-tiap orang laki-laki apabila bertambah kedewasaannya bertambah pulalah keinginannya hendak mempunyai teman hidup orang perempuan. Apabila syahwat kepada perempuan itu sedang tumbuh dan mekar maka seluruh tubuh orang perempuan itu laksana besi berani buat menumbuhkan syahwat si laki-laki hendak mempunyainya.
Kedua: Anak Laki-Laki
Di ayat ini disebut banin ditonjolkan kesukaan karena ingin mempunyai anak, terutama anak laki-laki, termasuk hal yang dihiaskan pula bagi manusia. Dia menjadi yang kedua sesudah kesukaan syahwat perempuan, Anak adalah hasil utama dan pertama dari hubungan dengan perempuan tadi. Kalau syahwat kepada perempuan pada kulitnya karena syahwat faraj atau setubuh, pada batinnya ialah karena kerinduan mendapat keturunan. Sekali lagi kita katakan, “Allah Adil!" Pada yang pertama disebutkan bahwa laki-laki menginginkan perempuan, tetapi pada yang kedua diterangkan bahwa laki-laki menginginkan anak laki-laki. Jika di sini tidak disebut menginginkan anak perempuan, karena yang akan menginginkannya bukan lagi ayahnya, melainkan ibunya.
Ketiga: Dan Berpikul-Pikul Emas dan Perak
Yaitu, kekayaan. Manusia semuanya mempunyai keinginan memiliki kekayaan emas dan perak. Di dalam ayat disebut emas dan perak karena memang ukuran (standar) kekayaan yang sebenarnya ialah emas-perak. Walaupun satu waktu kita hidup dengan uang kertas, tetapi uang kertas itu mesti mempunyai sandaran (dekking) emas di dalam bank. Tidak akan tercapai banyak maksud kalau tidak ada uang. Kita mempunyai keinginan banyak hendaknya uang itu, malahan di dalam ayat disebut berpikul-pikul karena sangat banyaknya. Keinginan mempunyai kekayaan itu tidaklah ada batasnya. Dari kecil sampai besar, dari muda sampai tua, dari hidup sampai mati, tidak ada manusia menginginkan kekayaan dengan terbatas. Manusia ingin harta satu juta. Tapi setelah satu juta, kalau bertambah lagi menjadi 100 juta, manusia masih ingin 1.000 juta.
Keempat: Dan Kuda Kendaraan yang Diasuh
Di zaman dahulu, di kala ayat ini diturunkan, yang diasuh dan diberi pelana serta sanggurdi, ialah kuda. Disikati bulunya dan diistimewakan makannya, sehingga sampai kepada zaman kita sekarang ini amat masyhurlah kuda tunggang Arab di seluruh dunia. Mempunyai kuda tangkas itu pun menjadi satu keinginan, dihiaskan Tuhan kesukaan mempunyainya. Dia alat penghubung dari satu tempat ke tempat lain. Dia kendaraan istimewa di dalam perang dan di dalam damai. Di zaman kita sekarang, mundurlah kuda kendaraan yang dipingit dan naiklah kepen-tingan kendaraan bermotor. Dia menjadi alat perlengkapan hidup di zaman modern sehingga mobil tidak lagi barang mewah, tetapi barang penting, Jalan-jalan raya di seluruh dunia telah diubah pembuatannya dari seratus tahun yang lalu, di zaman memakai gerobak dan pedati. Maka, dihiaskanlah dalam hail manusia keinginan memakai kendaraan.
Kelima: Dan Binatang-Binatang Ternak
Kalau kendaraan bermotor alat penting dalam kehidupan kota maka binatang ternak amat penting pada kehidupan di padang-padang yang luas, sebab pengikut Nabi Muhammad ﷺ bukan orang kota saja. Pada kehidupan suku-suku Badwi, hitungan kekayaan ialah pada binatang ternak. Berapa puluh ekor unta, kerbau, dan lembunya, berapa ratus ekor kambing dan domba serta biri-birinya. Di negeri kita sendiri kekayaan kaum Muslimin di Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok ditentukan oleh beberapa puluh atau beberapa ekor memelihara lembu dan berapa pengirimnya ke Jawa atau ke Singapura dalam setahun.
Keenam: Dan ﷺah Ladang
Kekayaan dari perkebunan dan pertanian Teringatlah kita akan luas-luasnya ﷺah di Sindenreng dan Wajo di Sulawesi. Teringat kita perkebunan karet di Kalimantan. Akan tetapi, sebelum mengukurnya kepada negeri kita, teringatlah kita betapa luas-luasnya kebun di sekeliling Kota Madinah di zaman dahulu. Teringat kita bagaimana setelah kaum Muslimin menyeberang ke Andalusia (Spanyol) mereka memperbaiki pengairan (irigasi) yang sampai sekarang sudah lima ratus tahun mereka meninggalkan negeri itu, bekas tangan mereka masih ada. Terkenang kita bagaimana jasa kaum Muslimin memajukan pertanian di India ketika mereka berkuasa (Kerajaan Mongol).
Kadang-kadang mereka tidak mengiri-menganan lagi, menumpahkan seluruh tujuan hidup untuk itu, untuk keenamnya atau untuk salah satu dari keenamnya, atau sebagian dari keenamnya. Sehingga, kadang-kadang mereka asyik dengan itu, manusia pun lupa akan yang lebih penting. Oleh sebab itu,. Allah berfirman memberi peringatan dengan lanjutan ayat, “Yang demikian itulah perhiasan hidup di dunia" Tegasnya, bahwasanya semuanya itu hanyalah perhiasan hidup di dunia, niscaya usianya akan habis untuk itu, sedangkan perhiasan untuk di akhirat kelak dia tidak sedia. Padahal di belakang hidup yang sekarang ini ada lagi hidup yang akan dihadapi. Sesudah dunia adalah akhirat. Allah lebih tegaskan lagi,
“Namun, di sisi Allah ada (lagi) sebaik-baik tempat kembali."
(ujung ayat 14)
Di ujung ayat diterangkan bahwa ada lagi yang lebih penting, entah berapa ribu kali lebih penting dari perhiasan dunia itu, ialah sebaik-baik tempat kembali yang disediakan oleh Allah. Sebab, selama-lama hidup di dunia kita pasti kembali juga kepada Allah. Allah menyediakan bagi kita sebaik-baik tempat kembali itu. Apakah sebaik-baik tempat kembali itu?
Katakanlah, ‘Sukakah kamu Aku ceritakan kepada kamu apa yang lebih baik dari yang demikian?'"
(pangkal ayat 15)
Yang lebih dari perempuan, anak-anak, emas-perak, kuda kendaraan, binatang ternak, dan ﷺah-ladang itu? “Ialah surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan istri-istri yang suci." Semuanya ini beribu kali lebih baik daripada yang dihiaskan kepada kamu dari yang enam perkara itu. Dibandingkan dengan yang akan kamu terima kelak itu, belum ada arti sepeser pun apa yang kamu jadikan perhiasan dunia itu.
Maka, sebagai kunci atau inti sari dari surga, atau martabat yang di atas sekali di dalam surga itu, diterangkan lagi oleh Allah,"Dan keridhaan dari Allah." Keridhaan dari Allah, inilah yang sebenar puncak nikmat surga.
"Dan Allah adalah melihat akan hamba-hamba-Nya."
(ujung ayat 15)
Dengan adanya ujung ayat begini, teranglah bahwa tidak ditutup mati sama sekali segala keinginan perhiasan dunia itu. Boleh terus, tetapi ingatlah bahwa Allah telah melihat gerak-gerikmu. Bekerjalah, carilah, tetapi jangan kamu lupakan bahwa kamu tidak lepas dari penglihatan Allah. Orang-orang yang begini ialah orang-orang yang sadar akan hidupnya di dunia dan sadar pula akan hidupnya di akhirat kelak. Sebab itu, datanglah sambungan ayat,
“(Yaitu) orang-orang yang berkata, ‘Ya, Tuhan kami! Sesungguhnya, kami telah beriman. Oleh karena itu, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan peliharakanlah kami dari siksaan neraka."
(ayat 16)
Dengan pengakuan telah beriman, cara hidupmu diubah. Tidak lagi semata-mata mengejar “perhiasan dunia", tetapi mengingat lagi akan perjuangan kelak di kemudian hari dengan Allah. Lantaran telah beriman, meng-akuilah bahwa di zaman yang sudah-sudah memang hidup itu hanya ingat dunia saja, sebab itu memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang telah lalu itu dan memohonkan lagi kepada Allah peliharakanlah kiranya dari siksaan neraka itu. Sebab, dengan adanya iman di dalam hati kami, kami telah mendapat suluh dan telah jelas oleh kami jalan yang akan ditempuh. Cuma kadang-kadang mendapat gangguanlah kami dari hawa nafsu kami dan perdayaan setan.
“(Yaitu) orang-orang yang sabar dan orang-orang yang jujur dan orang-orang yang sungguh-sungguh taat dan orang-orang yang membelanjakan harta dan orang-orang yang memohon ampun di ujung malam."
(ayat 17)
Di ayat ini Tuhan menunjukkan lima syarat yang harus dipenuhi supaya iman itu menjadi sempurna.
Pertama: Sabar, karena gangguan di dalam menegakkan iman itu akan banyak dan permohonan itu kadang-kadang belum segera dikabulkan Allah, bahkan kadang-kadang kesetiaan iman itu mendapat ujian yang khas dari Allah sendiri. Kalau tidak sabar, perjuangan iman akan patah di tengah jalan.
Kedua: Jujur atau dalam bahasa Arabnya shadiq, artinya benar dan membenarkan. Benar ke luar dan ke dalam, tidak berubah yang di mulut dengan yang di hati, membenarkan segala apa pun yang dituntunkan Nabi ﷺ, yang diwahyukan Allah dengan kata dan perbuatan. Dan, mereka buktikan dengan perbuatan apa yang dibenarkan oleh hati.
Ketiga: Qanit, yaitu sungguh taat mengerjakan apa yang diperintahkan dan menghentikan yang dilarang. Meletakkan di muka serta mendahulukan kehendak Allah dan Rasul daripada kehendak sendiri.
Keempat: Membelanjakan harta, yaitu dermawan, sudi bersedekah, suka berzakat, tidak bakhil, memberikan bantuan kepada fakir dan miskin, dan amal-amal kebaikan yang lain.
Kelima: Memohon ampun di ujung malam, yaitu melatih diri sehingga menjadi kebiasaan bangun di ujung malam, yaitu di waktu sahur untuk shalat tahajjud, yang sudah nyata bahwa dalam shalat itu kita akan selalu memohonkan ampun kepada Allah di waktu berdiri, duduk, dan di antara duduk sujud. Dua pada waktu sahur atau ujung malam, atau parak-siang itu, sehabis shalat dapat pula makan sahur, bersedia untuk mengerjakan puasa tathawwu besoknya.
"The True Value of This Earthly Life
Allah says;
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالَانْعَامِ وَالْحَرْثِ
Beautified for men is the love of things they covet; women, children, Qanatir Al-Muqantarah of gold and silver, branded beautiful horses (Muﷺwamah), cattle and fertile land.
Allah mentions the delights that He put in this life for people, such as women and children, and He started with women, because the test with them is more tempting.
For instance, the Sahih recorded that the Messenger said,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاء
I did not leave behind me a test more tempting to men than women.
When one enjoys women for the purpose of having children and preserving his chastity, then he is encouraged to do so.
There are many Hadiths that encourage getting married, such as,
وَإِنَّ خَيْرَ هذِهِ الاْإُمَّةِ مَنْ كَانَ أَكْثَرَهَا نِسَاء
Verily, the best members of this Ummah are those who have the most wives.
He also said,
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَة
This life is a delight, and the best of its delight is a righteous wife.
The Prophet said in another Hadith,
حُبِّبَ إِلَيَّ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَة
I was made to like women and perfume, and the comfort of my eye is the prayer.
Aishah, may Allah be pleased with her, said,
""Nothing was more beloved to the Messenger of Allah than women, except horses,""
and in another narration,
""...than horses except women.""
The desire to have children is sometimes for the purpose of pride and boasting, and as such, is a temptation. When the purpose for having children is to reproduce and increase the Ummah of Muhammad with those who worship Allah alone without partners, then it is encouraged and praised.
A Hadith states,
تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الاُْمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَة
Marry the Wadud (kind) and Walud (fertile) woman, for I will compare your numbers to the rest of the nations on the Day of Resurrection.
The desire of wealth sometimes results out of arrogance, and the desire to dominate the weak and control the poor, and this conduct is prohibited. Sometimes, the want for more money is for the purpose of spending it on acts of worship, being kind to the family, the relatives, and spending on various acts of righteousness and obedience; this behavior is praised and encouraged in the religion.
Scholars of Tafsir have conflicting opinions about the amount of the Qintar, all of which indicate that;
the Qintar is a large amount of money, as Ad-Dahhak and other scholars said.
Abu Hurayrah said
""The Qintar is twelve thousand Uwqiyah, each Uwqiyah is better than what is between the heavens and earth.""
This was recorded by Ibn Jarir.
The desire to have horses can be one of three types.
Sometimes, owners of horses collect them to be used in the cause of Allah, and when warranted, they use their horses in battle. This type of owner shall be rewarded for this good action.
Another type collects horses to boast, and out of enmity to the people of Islam, and this type earns a burden for his behavior.
Another type collects horses to fulfill their needs and to collect their offspring, and they do not forget Allah's right due on their horses.
This is why in this case, these horses provide a shield of sufficiency for their owner, as evident by a Hadith that we will mention, Allah willing, when we explain Allah's statement,
وَأَعِدُّواْ لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُم مّن قُوَّةٍ وَمِن رّبَاطِ الْخَيْلِ
And make ready against them all you can of power, including steeds of war. (8:60)
As for the Muﷺwamah horses, Ibn Abbas said that;
they are the branded, beautiful horses.
This is the same explanation of Mujahid, Ikrimah, Sa`id bin Jubayr, Abdur-Rahman bin Abdullah bin Abza, As-Suddi, Ar-Rabi bin Anas and Abu Sinan and others.
Makhul said,
the Muﷺwamah refers to the horse with a white spotted faced, and the horse with white feet.
Imam Ahmad recorded that Abu Dharr said that the Messenger of Allah said,
لَيْسَ مِنْ فَرَسٍ عَرَبِيَ إِلاَّ يُوْذَنُ لَهُ مَعَ كُلِّ فَجْرٍ يَدْعُو بِدَعْوَتَيْنِ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنَّكَ خَوَّلْتَنِي مِنْ بَنِي ادَمَ فَاجْعَلْنِي مِنْ أَحَبِّ مَالِهِ وَأَهْلِهِ إِلَيْهِ أَوْ أَحَبَّ أَهْلِهِ وَمَالِهِ إِلَيْه
Every Arabian horse is allowed to have two supplications every dawn, and the horse supplicates, `O Allah! You made me subservient to the son of Adam. Therefore, make me among the dearest of his wealth and household to him, or,make me the dearest of his household and wealth to him.
Allah's statement,
وَالَانْعَامِ
Cattle,
means, camels, cows and sheep.
.
وَالْحَرْثِ
And fertile land,
meaning, the land that is used to farm and grow plants.
Allah then said,
ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
This is the pleasure of the present world's life,
meaning, these are the delights of this life and its short lived joys.
وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَأبِ
But Allah has the excellent return with Him.
meaning, the best destination and reward.
The Reward of the Those Who Have Taqwa is Better Than All Joys of This World
This is why Allah said
قُلْ أَوُنَبِّيُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَلِكُمْ
Say:""Shall I inform you of things far better than those!""
This Ayah means, ""Say, O Muhammad, to the people, `Should I tell you about what is better than the delights and joys of this life that will soon perish!""'
Allah informed them of what is better when He said,
لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الَانْهَارُ
For those who have Taqwa there are Gardens (Paradise) with their Lord, underneath which rivers flow,
meaning, rivers run throughout it.
These rivers carry various types of drinks:honey, milk, wine and water such that no eye has ever seen, no ear has ever heard, and no heart has ever imagined.
خَالِدِينَ فِيهَا
Therein (is their) eternal (home),
meaning, they shall remain in it forever and ever and will not want to be removed from it.
وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ
And Azwajun Mutahharatun (purified mates or wives),
meaning, from filth, dirt, harm, menstruation, post birth bleeding, and other things that affect women in this world.
وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ
And Allah will be pleased with them.
meaning, Allah's pleasure will descend on them and He shall never be angry with them after that. This is why Allah said in in Surah Bara`ah,
وَرِضْوَنٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ
But the pleasure of Allah is greater. (9:72)
meaning, greater than the eternal delight that He has granted them.
Allah then said,
وَاللّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
And Allah is All-Seer of the (His) servants.
and, He gives each provisions according to what they deserve.
قُلْ أَوُنَبِّيُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَلِكُمْ
Say:""Shall I inform you of things far better than those!""
This Ayah means, ""Say, O Muhammad, to the people, `Should I tell you about what is better than the delights and joys of this life that will soon perish!""'
Allah informed them of what is better when He said,
لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الَانْهَارُ
For those who have Taqwa there are Gardens (Paradise) with their Lord, underneath which rivers flow,
meaning, rivers run throughout it.
These rivers carry various types of drinks:honey, milk, wine and water such that no eye has ever seen, no ear has ever heard, and no heart has ever imagined.
خَالِدِينَ فِيهَا
Therein (is their) eternal (home),
meaning, they shall remain in it forever and ever and will not want to be removed from it.
وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ
And Azwajun Mutahharatun (purified mates or wives),
meaning, from filth, dirt, harm, menstruation, post birth bleeding, and other things that affect women in this world.
وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ
And Allah will be pleased with them.
meaning, Allah's pleasure will descend on them and He shall never be angry with them after that. This is why Allah said in in Surah Bara`ah,
وَرِضْوَنٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ
But the pleasure of Allah is greater. (9:72)
meaning, greater than the eternal delight that He has granted them.
Allah then said,
وَاللّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
And Allah is All-Seer of the (His) servants.
and, He gives each provisions according to what they deserve.
The Supplication and Description of Al-Muttaqin
Allah describes the Muttaqin, His pious servants, whom He promised tremendous rewards,
الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا امَنَّا
Those who say:""Our Lord! We have indeed believed,""
in You, Your Book and Your Messenger.
فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا
so forgive us our sins,
because of our faith in You and in what You legislated for us. Therefore, forgive us our errors and shortcomings, with Your bounty and mercy,
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
and save us from the punishment of the Fire.
Allah then said
الصَّابِرِينَ
(They are) those who are patient,
while performing acts of obedience and abandoning the prohibitions.
وَالصَّادِقِينَ
those who are true,
concerning their proclamation of faith, by performing the difficult deeds.
وَالْقَانِتِينَ
and obedient,
meaning, they submit and obey Allah,
وَالْمُنفِقِينَ
those who spend,
from their wealth on all the acts of obedience they were commanded, being kind to kith and kin, helping the needy, and comforting the destitute.
وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالَاسْحَارِ
and those who pray and beg Allah's pardon in the last hours of the night.
and this testifies to the virtue of seeking Allah's forgiveness in the latter part of the night.
It was reported that when Yaqub said to his children,
سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّيَ
(I will ask my Lord for forgiveness for you) (12:98) he waited until the latter part of the night to say his supplication.
Furthermore, the Two Sahihs, the Musnad and Sunan collections recorded through several Companions that the Messenger of Allah said,
يَنْزِلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالى فِي كُلِّ لَيْلَةٍ إِلى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الاْخِرُ فَيَقُولُ
هَلْ مِنْ سَايِلٍ فَأُعْطِيَهُ
هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأَسْتَجِيبَ لَهُ
هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ
Every night, when the last third of it remains, our Lord, the Blessed, the Superior, descends to the lowest heaven saying,
""Is there anyone to ask Me, so that I may grant him his request?
Is there anyone to invoke Me, so that I may respond to his invocation?
Is there anyone seeking My forgiveness, so that I may forgive him?""
The Two Sahihs recorded that Aishah said,
""The Messenger of Allah performed Witr during the first part, the middle and latter parts of the night. Then, later (in his life), he would perform it (only) during the latter part.""
Abdullah bin Umar used to pray during the night and would ask,
""O Nafi! Is it the latter part of the night yet?""
and if Nafi said, ""Yes,"" Ibn Umar would start supplicating to Allah and seeking His forgiveness until dawn.
This Hadith was collected by Ibn Abi Hatim."
Beautified for mankind is love of lusts, that which the self lusts after and calls for, beautified by Satan, or by God as a test - of women, children, stored-up heaps of gold and silver, horses of mark, fine [horses], cattle, namely, camels, cows and sheep, and tillage, the cultivation of land. That, which is mentioned, is the comfort of the life of this world, enjoyed while it lasts, but then perishes; but God - with Him is the more excellent abode, place of return, which is the Paradise, and for this reason one should desire none other than this [abode].
Sequence
That the hostility of disbelievers should be countered with Jihad against them was the theme in several previous verses. Now, in these verses the text explains the reason why the disbelievers indulge in hostility against Islam and Muslims. The reason for this and for all evil deeds is, in fact, the love of the worldly life. There are all sorts of people who line up against the truth - some driven by greed for wealth or power, some goaded by lust and some in defence of false ancestral customs: All this is just to grab a share in the temporal enjoyments of the present life which has been described in these verses.
Commentary
The limits of one's love for worldly enjoyments
The Holy Prophet ﷺ has said: حُبُّ الدئنیا راس کُلِّ خَطِیٔۃ It means that the love of دنیا dunya (worldly life or worldly enjoyments) is the main source of all errors. The first verse here names some of the most de-sired things and says that they have been made to look attractive and therefore, people go after them enticed by their glamour brushing aside any concerns for the life to come, if there be any.
It will be noted that things named here are the center of attraction for human beings, out of which, women come first and then the children. For whatever man goes about procuring is because of the needs of his family - wife and children - to share it with him. Then come other forms of wealth and possessions - gold, silver, cattle and tillage - which attract people secondarily.
Why has man been made in a way that he is temperamentally attracted to these things? The answer is that Allah has done so in His ultimate wisdom. Let us consider:
1. If man was not naturally inclined to and even enamoured with these things, all worldly business would have gone topsy-turvy. Why would someone sweat on farms and fields? Why would a wage-earner or an entrepreneur burn themselves out in an industry, or a business-man would put his capital and labour in buying and selling things? The secret was that the people of the world were made to grow and survive through this instinctive love for such things whereby they would go about collecting and preserving these. The worker goes out to earn some money. The well-to-do goes out to hire a worker for his job. The trader brings forth his best merchandise for display waiting for a customer to earn something from. A customer goes to the shopping mall to buy things he needs to live or be happy with. If we think about it, we shall realize that it was the love for what is desirable in this mortal world which brought them out of their homes, and in this silent process, gave the world a strong and ongoing social system.
There is yet another element of wisdom behind it. If man had no liking for the blessings he finds in the mortal world, he would obviously have no taste or desire for blessings promised in the world to come. That being the case, why would he ever take the trouble of doing what is good and thus become deserving of Paradise, and not doing what is evil and thus become safe from Hell?
There is still another element of wisdom which is more significant for consideration here. Is it not that man, with love for these things in his heart, has been put to a test as to who becomes engrossed in the enjoyments of the present life and forgets the life to come, and who comes to realize the real and temporal nature of these things, shows concern for them only in proportion to his needs, and then channels all his efforts into deeds that would make his next life good and safe? The wisdom behind the adornment of such things has been pointed out elsewhere in the Holy Qur'an:
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
We made whatever there is on the earth its adornment so that We can test as to who among them acts best. (18:7)
The verse cited above clearly shows that the glamourizing of sue} desirable things is an act of God based on many wise considerations. However, as for verses where such glamorization of things has been attributed to شیطان Satan - for example, زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ (the شیطان Satan has made their deeds look attractive to them - 8:48; 16:63; 27:24; 29:38.) - there the reference is to things that are evil, religiously and rationally; or, the reference is to a false sense of adornment which is evil because it transgresses the limits set by Allah: Otherwise, it is not absolutely bad to adorn the lawful things. In fact, there may be a few benefits in doing so. Therefore, this act of placing attraction in things in some verses has been attributed to Allah, as stated above.
Let us summarize our discussion so far and see how it works for us in our practical life. We now know that Allah created, in His grace and wisdom, all good things of life in this world, made them look attractive and - worthy of man's effort to acquire them so that man can be tested. This is one of Allah's many acts of wisdom to see whether the man gets swayed by the glamour of the fleeting enjoyment of things, or remembers the Creator of these things, or the man forgets the very Creator of his own being as well. Aided by this realization, does man make these things a medium through which to know and love Allah; or, is it that he would elect to get totally lost in the love for these known transitory things, and forget all about the real Master and Creator before Whom he must appear on the Last Day and account for whatever he did.
On the one hand is a person who has the best of both worlds. He enjoys the blessings of the present life and uses its means for success in the life to come. For him, the enjoyments of the mortal world did not become a road-block; rather, they proved to be the milestones which led him safely into a prosperous Hereafter. But, for the other person these very things became the causes that led him to squander his chance of having a good life in the Hereafter, and also became the very cause of perennial punishment. Frankly, if we were to look a little deeper, we would realize that these things become a sort of punishment for him right here in this world as well. For such people, the Holy Qur'an says:
فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّـهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
So, their wealth and children should not attract you. Allah wants to punish them with these in this lowly life - 9:55.
Thus, the lesson is that we can seek good things of life with moderation and even store them in accordance with our genuine needs. In this lies the ultimate good of this life and the life to come. Using them in prohibited ways, or indulging in them so excessively that one forgets the post-death reality of آخرۃ Akhirah is nothing but self-destruction. The poet-sage, Maulana Rumi has illustrated this very eloquently when he said;
آب اندر زیر کشتی پشتی است
آب در کشتی ھلاک کشتی است
He says that things of this world with which we surround ourselves are like water, and the heart of man is like a boat in it. As long as the water remains beneath and around the boat, it is good and helpful, and certainly guarantees the very purpose of its being there. But, if water gets into the boat, it makes the boat capsize and destroys all that was in it. Similarly, man's wealth and possessions are means of convenience for his role in this world and in the life to come - provided that they do not enter into his heart, sit there, and kill it in the process.
Therefore, the verse under discussion, immediately after mentioning some especially desirable things of the world, presents the essential guideline for human beings by saying:
ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّـهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
That is an enjoyment of the worldly life. And with Allah lies the beauty of the final resort. (3:14)
In other words, it means that all these things are there simply to serve a purpose in man's mortal life in the present world and certainly not to have him fall in love with things for their own sake, for the real beauty of the experience lies in one's ultimate resort with Allah in blissful eternity enjoying what would never perish, diminish or weaken.








