Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
هُنَالِكَ
disanalah
دَعَا
berdoa
زَكَرِيَّا
Zakaria
رَبَّهُۥۖ
Tuhannya
قَالَ
dia berkata
رَبِّ
Tuhanku
هَبۡ
berilah
لِي
bagiku
مِن
dari
لَّدُنكَ
sisi Engkau
ذُرِّيَّةٗ
keturunan
طَيِّبَةًۖ
yang baik
إِنَّكَ
sesungguhnya Engkau
سَمِيعُ
Maha Mendengar
ٱلدُّعَآءِ
doa
هُنَالِكَ
disanalah
دَعَا
berdoa
زَكَرِيَّا
Zakaria
رَبَّهُۥۖ
Tuhannya
قَالَ
dia berkata
رَبِّ
Tuhanku
هَبۡ
berilah
لِي
bagiku
مِن
dari
لَّدُنكَ
sisi Engkau
ذُرِّيَّةٗ
keturunan
طَيِّبَةًۖ
yang baik
إِنَّكَ
sesungguhnya Engkau
سَمِيعُ
Maha Mendengar
ٱلدُّعَآءِ
doa
Terjemahan
Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, "Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa."
Tafsir
(Di sanalah) artinya tatkala Zakaria melihat hal itu dan mengetahui bahwa Tuhan yang berkuasa mendatangkan sesuatu bukan pada waktu yang semestinya pasti akan mampu pula mendatangkan anak keturunan dalam usia lanjut karena kaum keluarganya telah hampir musnah (maka Zakaria pun berdoa kepada Tuhannya) yakni ketika ia memasuki mihrab untuk salat di tengah malam (katanya, "Tuhanku! Berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik) maksudnya anak yang saleh (sesungguhnya Engkau Maha Mendengar) dan mengabulkan (doa.") permohonan.
Tafsir Surat Ali-'Imran: 38-41
Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, "Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa."
Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, ketika dia sedang berdiri shalat di mihrab, "Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan kalimat (firman) dari Allah, menjadi panutan, sanggup menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.
Zakaria berkata, "Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak, sedangkan aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?" Allah berfirman, "Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya."
Zakaria berkata, "Berilah aku satu tanda (bahwa istriku telah mengandung)." Allah berfirman, "Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari."
Ayat 38
Ketika Zakaria melihat bahwa Allah ﷻ telah memberi Maryam rezeki berupa buah-buahan musim dingin pada musim panas dan buah-buahan musim panas pada musim dingin, maka saat itulah ia menginginkan punya seorang anak, sekalipun usianya telah lanjut dan tulang-tulang tubuhnya telah rapuh, uban telah mewarnai semua rambut kepalanya, istrinya pun sudah berusia lanjut lagi mandul. Akan tetapi, sekalipun demikian ia tetap memohon kepada Tuhannya dan bermunajat kepadanya dengan doa-doa yang dibacanya pelan-pelan, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
"Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu.” (Ali Imran: 38) Yakni seorang anak yang saleh dari sisi-Mu. “Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Ali Imran: 38)
Ayat 39
Firman Allah ﷻ: “Kemudian malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, ketika dia sedang berdiri shalat di mihrab.” (Ali Imran: 39)
Yakni malaikat berbicara langsung kepadanya dengan pembicaraan yang dapat didengar Zakaria, sedangkan ia tengah berdiri shalat di mihrab tempat ibadahnya yang khusus buat dia sendiri di saat ia bermunajat dan melakukan shalat menyembah Tuhannya.
Kemudian Allah ﷻ menceritakan tentang berita gembira yang disampaikan oleh malaikat kepada Zakaria: "Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya.” (Ali Imran: 39)
Yaitu seorang anak laki-laki yang diciptakan buatmu dari tulang sulbimu, bernama Yahya.
Qatadah dan lain-lain mengatakan bahwa anak tersebut dinamakan Yahya tiada lain karena Allah menghidupkannya melalui iman (Zakaria).
Firman Allah ﷻ: “Yang membenarkan kalimat (firman) dari Allah.” (Ali Imran: 39)
Al-Aufi dan lain-lain meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Al-Hasan, Qatadah, Ikrimah, Mujahid, Abusy Sya'sa, As-Suddi, Ar-Rabi' ibnu Anas, Adh-Dhahhak dan lain-lain (dari kalangan tabi'in) sehubungan dengan ayat ini, yaitu firman-Nya: “Yang membenarkan kalimat (firman) dari Allah.” (Ali Imran: 39) bahwa yang dimaksud dengan kalimat Allah adalah Isa ibnu Maryam.
Ar-Rabi' ibnu Anas mengatakan bahwa Yahya adalah orang yang mula-mula beriman kepada Isa ibnu Maryam.
Qatadah mengatakan, yang dimaksud adalah berada pada sunnah dan tuntunannya.
Ibnu Juraij mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: “Yang membenarkan kalimat (firman) dari Allah.” (Ali Imran: 39). Yahya dan Isa adalah saudara sepupu. Tersebutlah bahwa ibu Yahya pernah berkata kepada Maryam, "Sesungguhnya aku merasakan anak yang ada di dalam perutku ini bersujud kepada anak yang berada di dalam perutmu." Itu merupakan pembenaran yang dilakukan oleh Yahya kepada Isa ketika Isa masih berada di dalam perut ibunya. Yahya adalah orang yang mula-mula beriman kepada Isa. Isa diciptakan melalui kalimat (perintah) Allah. Yahya lebih tua daripada Isa a.s. Hal yang sama dikatakan pula oleh As-Suddi.
Firman Allah ﷻ: “Menjadi panutan.” (Ali Imran: 39)
Menurut Abul Aliyah, Ar-Rabi'-ibnu Anas, Qatadah, Sa'id ibnu Jubair, dan lain-lain, yang dimaksud dengan sayyidan ialah halimah, yakni orang yang penyantun.
Menurut Qatadah, dia adalah seorang yang dijadikan panutan dalam hal ilmu dan ibadah.
Ibnu Abbas, Ats-Tsauri, dan Adh-Dhahhak mengatakan bahwa as-sayyid artinya orang yang penyantun lagi bertakwa.
Sa'id ibnul Musayyab mengatakan, yang dimaksud dengan sayyid ialah orang yang mengerti fiqih lagi alim.
Menurut Atiyyahy as-sayyid artinya orang yang dijadikan panutan dalam hal akhlak dan agama.
Menurut Ikrimah, as-sayyid artinya orang yang tidak terpengaruh oleh emosinya.
Sedangkan menurut Ibnu Zaid, artinya orang yang mulia.
Dan menurut yang lain, artinya orang yang bersikap mulia kepada Allah ﷻ.
Firman Allah ﷻ: “Sanggup menahan diri (dari hawa nafsu).” (Ali Imran: 39)
Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Abusy Sya'sa, dan Atiyyah Al-Aufi, bahwa mereka mengatakan, "Yang dimaksud dengan hashur adalah orang yang tidak mau beristri."
Diriwayatkan dari Abul Aliyah dan Ar-Rabi' ibnu Anas bahwa yang dimaksud dengan hashur adalah orang yang tidak beranak dan tidak mempunyai air mani.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Qabus, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna al-hashur dalam ayat ini, bahwa makna yang dimaksud ialah orang yang tidak pernah mengeluarkan air mani.
Ibnu Abu Hatim sehubungan dengan masalah ini meriwayatkan sebuah hadits yang gharib (aneh) sekali. Dia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ja'far Muhammad ibnu Galib Al-Bagdadi, telah menceritakan kepadaku Sa'id ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Abbad (yakni Ibnul Awwam), dari Yahya ibnu Sa'id, dari Al-Musayyab, dari Ibnul As tetapi dia tidak mengetahui apakah yang dimaksud adalah Abdullah ibnul As ataukah Amr ibnul As, dari Nabi ﷺ sehubungan dengan firman-Nya: “Sanggup menahan diri (dari hawa nafsu).” (Ali Imran: 39) Ibnul As melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Nabi ﷺ mengambil sebuah benda dari tanah dan bersabda, "Kemaluannya (Yahya) adalah mirip dengan ini (yakni kecilnya)."
Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id Al-Qattan, dari Yahya ibnu Sa'id Al-Ansari, bahwa ia pernah mendengar dari Sa'id ibnul Musayyab sebuah atsar dari Abdullah ibnu Amr ibnul As yang mengatakan bahwa tidak ada seorang pun dari makhluk Allah yang menghadap kepada Allah tanpa membawa dosa kecuali Yahya ibnu Zakaria.
Kemudian Sa'id membacakan firman-Nya: “Menjadi panutan, sanggup menahan diri (dari hawa nafsu).” (Ali Imran: 39) Kemudian Sa'id mengambil sebuah benda dari tanah, lalu berkata, "Al-hashur adalah seorang laki-laki yang kemaluannya seperti ini." Lalu Yahya ibnu Sa'id Al-Qattan mengisyaratkan dengan jari telunjuknya. Atsar yang mauquf ini lebih shahih sanadnya daripada yang marfu'.
Ibnul Munzir di dalam kitab tafsirnya meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Daud As-Samnani, telah menceritakan kepada kami Suwaid ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Mishar, dari Yahya ibnu Sa'id, dari Sa'id ibnul Musayyab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Amr ibnul As menceritakan hadits berikut, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada seorang hamba pun yang bertemu dengan Allah melainkan pasti membawa dosa, kecuali Yahya ibnu Zakaria. Karena sesungguhnya Allah telah berfirman, “Menjadi panutan, sanggup menahan diri (dari hawa nafsu).” (Ali Imran: 39) Selanjutnya Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya kemaluan Yahya lemas seperti ujung kain.” Abdullah ibnu Amr ibnul As menceritakan hadits ini seraya memperagakannya dengan ujung jarinya (yakni kemaluan Yahya kecil sekali).
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Hammad dan Muhammad Ibnu Salimah Al-Muradi; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Sulaiman Al-Muqri, dari Al-Al-Laits ibnu Sa'd, dari Muhammad ibnu Ajlan, dari Al-Qa'qa', dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Semua anak Adam menghadap kepada Allah dengan membawa dosa yang jika Allah menghendaki, Dia pasti mengazabnya karena dosanya itu atau Allah membelaskasihaninya, kecuali Yahya ibnu Zakaria. Karena sesungguhnya dia adalah orang yang menjadi panutan, sanggup menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi di antara orang-orang saleh. Kemudian Nabi ﷺ membungkukkan tubuhnya ke arah sebuah kerikil kecil di tanah, lalu mengambilnya, kemudian bersabda: “Dan tersebutlah bahwa kemaluan dia (Yahya) kecil sekali seperti batu kerikil kecil ini.”
Al-Qadi Iyad di dalam kitab Asy-Syifa mengatakan, "Perlu diketahui bahwa pujian Allah ﷻ kepada Yahya yang mengatakan bahwa Yahya adalah seorang yang hashur tidaklah seperti yang dikatakan oleh sebagian dari mereka yang mengatakan bahwa Yahya adalah lelaki yang impoten atau tidak mempunyai zakar, melainkan hal ini dibantah oleh ahli tafsir yang jeli dan para ulama ahli kritik." Mereka mengatakan bahwa penilaian seperti itu kurang benar dan tercela, mengingat tidak pantas ditujukan kepada para nabi. Sesungguhnya makna yang dimaksud ialah bahwa Yahya terpelihara dari dosa-dosa. Dengan kata lain, dia tidak melakukannya sama sekali sehingga diumpamakan seakan-akan dia impoten.
Menurut pendapat lain, makna hashur ialah menahan diri dari pengaruh hawa nafsu.
Menurut pendapat lain lagi Yahya tidak mempunyai selera terhadap wanita. Tetapi pendapat ini jelas bagi anda, bahwa tidak mampu kawin merupakan suatu kekurangan.
Tetapi hal yang utama adalah bila nafsu syahwat itu ada, lalu tidak dituruti adakalanya dengan menahan diri, seperti yang dilakukan oleh Nabi Isa; atau dengan pemeliharaan dari Allah ﷻ, seperti yang terjadi pada diri Nabi Yahya.
Selanjutnya masalah wanita ini bagi lelaki yang mampu kawin dengannya, lalu ia menunaikan semua kewajibannya tanpa melalaikan kewajibannya terhadap Tuhannya, maka baginya derajat yang tinggi, yaitu seperti derajat yang diperoleh oleh Nabi kita Nabi Muhammad ﷺ. Sekalipun istri beliau banyak, tetapi hal tersebut tidak melalaikan dirinya dari menyembah Tuhannya, bahkan menambah pahala ibadahnya, karena memelihara kehormatan mereka, mengatur, dan menafkahi mereka serta memberi mereka petunjuk.
Bahkan beliau ﷺ telah menjelaskan bahwa wanita bukanlah merupakan bagian dunianya, sekalipun bagi selainnya wanita merupakan bagian dari dunianya. Seperti yang dinyatakan di dalam salah satu sabdanya: “Diriku dijadikan menyukai sebagian dari urusan dunia kalian.” Makna yang dimaksud ialah bahwa Nabi ﷺ memuji Nabi Yahya sebagai orang yang hashur. Tetapi bukan berarti bahwa Nabi Yahya adalah seorang lelaki yang tidak dapat mendatangi wanita (kawin), melainkan makna yang dimaksud ialah sederhana saja, yaitu dia (Yahya a.s.) dipelihara oleh Allah dari perbuatan-perbuatan keji dan kotor. Akan tetapi, hal ini bukan berarti bahwa dia tidak mampu kawin dengan wanita secara halal dan menggauli mereka serta beranak dari mereka.
Bahkan tersirat pula pengertian yang menunjukkan bahwa Yahya mempunyai keturunan, seperti yang tersimpul dari doa Zakaria ketika ia berdoa: “Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu.” (Ali Imran: 38) Seakan-akan dia mengatakan seorang anak yang mempunyai keturunan (karena dalam ayat diungkapkan dengan memakai lafal zurriyyah yang artinya keturunan).
Firman Allah ﷻ: “Dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.” (Ali Imran: 39)
Hal ini merupakan berita gembira kedua, yaitu kenabian Yahya sesudah berita gembira kelahirannya. Berita gembira yang kedua ini lebih utama daripada yang pertama. Keadaannya sama dengan pengertian yang ada dalam ayat lain, yaitu firman Allah ﷻ kepada ibu Nabi Musa a.s.: “Karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang dari para rasul.” (Al-Qashash: 7)
Ayat 40
Setelah nyata bagi Zakaria a.s. berita gembira tersebut, ia merasa heran akan mempunyai seorang anak, padahal usianya telah lanjut. Zakaria berkata, "Ya Tuhanku, bagaimana aku dapat beranak, sedangkan aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?” (Ali Imran: 40) Maka malaikat yang menyampaikan berita gembira itu pun berkata: “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (Ali Imran: 40)
Yakni demikianlah urusan Allah itu sangat besar. Tiada sesuatu pun yang tidak mampu dilakukan-Nya, dan tiada suatu urusan pun yang berat bagi-Nya; semuanya dapat dilakukan-Nya.
Ayat 41
Zakaria berkata, "Ya Tuhanku, berilah aku satu tanda." (Ali Imran: 41). Maksudnya, satu tanda yang menunjukkan bahwa istriku telah mengandung anakku.
Allah berfirman, "Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat." (Ali Imran: 41).
Yang dimaksud dengan ramzan ialah isyarat, yakni 'kamu tidak dapat berkata-kata, sekalipun kamu adalah orang yang sehat'. Seperti pengertian yang terdapat di dalam ayat lainnya, yaitu firman-Nya: “Selama tiga malam, padahal kamu sehat.” (Maryam: 10)
Kemudian Allah memerintahkan kepada Zakaria agar banyak berzikir, bertakbir, dan membaca tasbih selama masa tersebut. Untuk itu Allah ﷻ berfirman:
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (Ali Imran: 41)
Dalam pembahasan yang lain akan diterangkan kelanjutan dari kisah ini, yaitu dalam tafsir surat Maryam.
Demi melihat keistimewaan Maryam dan nilai keberkahan mihrab tersebut, Zakaria menjadikan tempat yang diberkahi itu untuk memohon seorang anak kepada Allah. Di sanalah, di mihrab tempat Maryam beribadah itu, Zakaria berdoa kepada Tuhannya, dengan penuh kekhusyukan dan keyakinan. Dia berkata, Ya Tuhanku, melalui keberkahan mihrab ini, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, karena aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Yang aku tahu sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa setiap hamba yang memohon kepada-Mu. Allah mengabulkan doa Zakaria, dan dengan segera para malaikat, yakni Malaikat Jibril, memanggilnya ketika dia sedang berdiri melaksanakan salat di mihrab, Allah menyampaikan kabar gembira yakni memberi anak kepadamu, wahai Zakaria, dan menambah pemberian-Nya dengan memberinya nama Yahya. Bukan hanya itu, ia adalah orang yang akan membenarkan atau mengimani sebuah kalimat atau firman dari Allah yakni kedatangan seorang nabi yang diciptakan tanpa ayah yaitu Nabi Isa, juga sebagai panutan, berkemampuan menahan diri dari hawa nafsu dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.
Pada ayat yang lalu telah diceritakan perihal keluarga Imran, maka pada ayat ini dipaparkan cerita seputar keluarga Zakaria, di antara keduanya terjalin hubungan yang sangat erat, dalam rangka mengemukakan keutamaan keluarga Imran. Tatkala Zakaria melihat kemuliaan dan martabat yang begitu tinggi pada Maryam di hadapan Allah, timbullah keinginannya untuk mempunyai seorang anak serupa dengan Maryam dalam kecerdasan dan kemuliaannya di sisi Allah.
Walaupun Zakaria mengetahui bahwa istrinya adalah seorang perempuan yang mandul dan sudah tua, namun dia tetap mengharapkan anugerah dari Allah. Di dalam mihrab tempat Maryam beribadah, Zakaria memanjatkan doa kepada Allah, semoga Dia berkenan menganugerahkan kepadanya seorang keturunan yang saleh, dan taat mengabdi kepada Allah. Doa yang timbul dari lubuk hati yang tulus dan penuh kepercayaan kepada kasih sayang Allah yang Maha Mendengar dan memperkenankan segala doa, maka segera doanya dikabulkan Allah.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
PERMOHONAN ZAKARIA
“Pada waktu itu berdoalah Zakaria."
(pangkal ayat 38)
Pada waktu itu, yaitu setelah melihat pertumbuhan jasmani dan ruhani Maryam, anak yang dinadzarkan oleh ibunya itu, sampai ketika ditanya dari mana dia mendapat makanan, dia telah memberikan jawaban yang demikian penuh iman, padahal dia masih kecil, tersadarlah Zakaria akan dirinya. Mungkin kalau dia memohon pula dengan sungguh-sungguh kepada Allah, doanya pun akan dikabulkan, sebagaimana doa istri Imran telah dikabulkan maka berdoalah dia, “Katanya, “Ya, Tuhanku! berilah kepadaku dari sisi Engkau keturunan yang baik!" Telah tua aku ini, ya Tuhanku, tetapi keturunanku tidak ada juga maka inginlah aku agar Engkau karuniai aku seorang keturunan yang baik.
Melihat Maryam yang tumbuh dengan baik itu, dia pun ingin bilakah kiranya dia pun diberi keturunan yang baik serupa itu pula.
“Sesungguhnya, Engkau adalah. Pendengar permohonan."
(ujung ayat 38)
Demikianlah selalu doanya sedang dia mengasuh Maryam, sampai pun menjadi doa dalam sembahyangnya. Dan, memang doa itu ialah sembahyang dan sembahyang itu ialah doa, yakni menuruti aturan sembahyang pada waktu itu,
“Maka menyerulah kepadanya Malaikat, sedang dia shalat di mihrab."
(pangkal ayat 39)
Artinya sedang dia sembahyang dengan khusyunya di mihrab itu, tiba-tiba datanglah Malaikat. Menjadi alamat baik doanya terkabul. Berkatalah Malaikat itu, “Sesungguhnya, Allah menggembirakan engkau dengan Yahya!' Artinya, Tuhan telah mengabulkan permohonan engkau sebab engkau akan diberi seorang putra, namanya Yahya.
Yahya adalah kata yang di-Arab-kan dari bahasa Ibrani Yohana, arti keduanya sama, yaitu ‘hidup' Di dalam surah Maryam kelak disebutkan bahwa sebelum anak itu, belum ada orang yang bernama Yahya atau Yohana. Anak itu akan bernama si Hidup sebab hidupnya akan sangat berarti dan hidupnya akan sangat baik serta bahagia. Malaikat itu lalu menerangkan keutamaan anak itu, yaitu, “Yang akan membenarkan kalimat dari Allah."
Kalimat dari Allah itu ialah Nabi Isa al-Masih. Yahya itu kelak akan memberikan pengakuan dan kesaksian bahwa memang Isa al-Masih itu lahir semata-mata karena kalimat Allah kun, artinya ‘jadilah' maka dia pun jadi-lah."Dan akan menjadi pemimpin," yaitu menjadi pemimpin yang disegani dalam kaumnya, Bani Israil."Dan akan terpelihara," dan terbentang terutama dari pengaruh rayuan perempuan. Sebab, masih muda Yahya itu telah men-jadi rasul, sedangkan rupanya amat elok, tetapi tidaklah dapat diperdayakan oleh rayuan perempuan.
“Dan seorang nabi dari kaum yang saleh."
(ujung ayat 39)
Di sini kita sebutkan salah satu penafsiran makna kaiimah, yaitu bahwa kelahiran Nabi Isa tidak dengan perantaraan bapak, melainkan semata-mata dari kehendak Allah. Akan diakui kebenarannya oleh Yahya. Ini sesuai dengan sebagian kepercayaan orang Kristen bahwa kedatangan Yahya mendahului Isa untuk melapangkan jalan bagi kedatangan Isa al-Masih. Tetapi, hanya sampai di situ pengakuan Yahya. Tidaklah Yahya memberikan pengakuan pula bahwa Nabi Isa adalah Tuhan.
Abu Ubaidah, ahli tafsir yang terkenal, menafsirkan kaiimah yang diakui oleh Yahya itu ialah kitab dan wahyu.
Terkabulnya permohonannya itu sangatlah menimbulkan kagum dalam hati Zakaria. Memang dalam hatinya dia yakin bahwa doa yang sungguh-sungguh itu tidaklah mustahil akan dikabulkan oleh Allah. Sekarang, setelah Malaikat datang memberi tahu bahwa permohonannya telah terkabul, di dalam ke-terharuannya dia jadi tercengang,
“Dia berkata, ‘Ya, Tuhanku! Bagaimana jalannya aku akan beroleh seorang anak, padahal tua telah mencapaiku dan istriku pun mandul.'“
(pangkal ayat 40)
Dia percaya apabila Tuhan telah menjanjikan, itu pasti terjadi. Akan tetapi, bagaimana jalannya, sebab hamba ini telah tua dan istri hamba mandul. Keduanya menurut jalan yang biasa tidak mungkin mendapat anak lagi. Kalau laki-laki telah tua (usianya ketika itu menurut riwayat, telah lebih dari 90 tahun, sedangkan lain riwayat 120 tahun). Dalam usia yang begitu, menurut yang biasa, mani seorang laki-laki tidak lagi mempunyai bibit yang akan jadi anak. Apatah lagi telah tua pula. Kata setengah riwayat lebih dari 80 tahun. Istri mandul, lakinya tua, sama sekali tak mungkin akan dapat anak. Inilah yang dicengangkan oleh Zakaria."Dia berkata (yaitu firman Tuhan disampaikan dengan perantaraan Malaikat itu),
“Demikianlah Allah berbuat apa yang Dia kehendaki."
(ujung ayat 40)
Artinya, memang menurut kebiasaan orang tua yang berumur lebih dari seratus tahun dengan istri yang mandul dan telah tua pula, tidaklah mungkin beroleh anak. Akan tetapi, siapa yang membuat kebiasaan itu? Ialah Allah sendiri. Maka, kalau sekali-sekali Allah berbuat lain, apa yang mesti engkau herankan?
Zakaria yang gembira, terharu, dengan heran langsung tunduk kepada keputusan Allah itu. Ilmul yaqin-nya telah naik menjadi haqqul yaqin dan kelak apabila Yahya telah ada, niscaya menjadi ainul yaqin.
“Dia berkata, ‘Ya, Tuhanku! Adakanlah untukku suatu tanda.
(pangkal ayat 41)
Akan beroleh putra dalam usia setua itu, dengan istri yang tua dan mandul, sungguhlah suatu hal yang luar biasa dan ajaib bagi Zakaria. Sekarang, dia bermohon kepada Allah supaya dia diberi suatu ayat atau tanda penyambutan yang setimpal dengan anugerah besar itu."Dia (Tuhan) berfirman (dengan perantaraan Malaikat tadi),
“Tanda engkau ialah bahwa engkau tidak akan bercakap-cakap dengan manusia tiga hari kecuali dengan isyarat, dan ingatlah Tuhan engkau sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah petang dan pagi."
(ujung ayat 41)
Dengan demikian, dapatlah kita mengambil paham bahwasanya sebagai sambutan yang penuh khusyu atas anugerah yang mulia itu, Allah memerintahkan Nabi Zakaria berpuasa lamanya tiga hari. Selain dari puasa makan dan minum, puasa pula dari bercakap dengan manusia. Sehingga, kalau hendak bertegur sapa dengan manusia, cukup dengan isyarat saja. Akan tetapi, selama tiga hari itu pula hendaklah dipenuhinya dengan mengingat Allah (dzikir) sebanyak-banyaknya dan bertasbih atau sembahyang petang dan pagi. Bercakap dengan manusia hentikan dan ganti dengan menyebut nama Allah.
Kalau menurut Injil Lukas, lidahnya di-kelukan beberapa hari lamanya sehingga tidak dapat bertutur apa-apa, sebagai hukuman sebab dia masih saja tidak percaya akan janji Tuhan itu. Akan tetapi, dari wahyu yang di-turunkan kepada Muhammad ﷺ kita telah mendapat kabar pasti bahwa ini bukanlah hukuman Allah kepada Zakaria, tetapi anjuran berpuasa, termasuk berpuasa bercakap tiga hari, sebab mengelu-elukan nikmat Allah yang akan beliau terima itu.
Permohonan Zakaria telah terkabul dan Maryam pun telah mulai besar dalam asuhan beliau. Sekarang, Allah mengisahkan lagi kepada Rasul-Nya Muhammad ﷺ tentang kelanjutan wahyu kepada Maryam.
“Dan (ingatlah) tatkala benkata Malaikat, “Wahai, Manyam! Sesungguhnya, Allah telah memilih engkau dan membenihkan engkau dan telah memuliakan engkau atas sekalian perempuan di alam."
(ayat 42)
Ayat ini ialah melanjutkan cerita tentang pertumbuhan diri Maryam yang di kala kecilnya itu dalam asuhan Zakaria. Dia telah mulai besar dan akan dewasa. Maka, diingatkan Allah-lah kepadanya bahwa dia telah menjadi pilihan Allah, termasuk orang-orang yang terpilih sebagaimana Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan rasul serta nabi-nabi yang lain tadi, dan Nabi kita Muhammad ﷺ Datangnya jadi bukti bahwa Maryam itu pun musthafiyah di sisi Allah. Sebab itu, beberapa ulama Islam, di antaranya Ibnu Hazmin al-Andalusi berpendapat bahwa Maryam itu nabiyah. Menurut dia, perempuan-perempuan yang jadi nabiyah ialah Hawa, Sarah istri Ibrahim, Hajar istri Ibrahim, ibu Nabi Musa, dan Asiah istri Fir'aun, semuanya itulah saja perempuan-perempuan yang jadi nabiyah. Abui Hasan al-Asy'ari berkata, “Di kalangan perempuan ada beberapa nabiyah" Ibnu Abdil Barr berkata, “Banyak fuqaha berpendapat bahwa di kalangan perempuan ada nabiyah." As-Suhaili pun berkata demikian.
Tentang Maryam ini, al-Qurthubi berkata, “Yang shahih ialah bahwa Maryam itu adalah seorang nabiyah karena Malaikat menyampaikan wahyu kepadanya, mengandung perintah Allah dan perkabaran dan kabar selamat. Sebab itu, dia adalah nabiyah." Cuma sekadar nabiyah, bukan rasul sebab sudah ditegaskan bahwa yang menjadi rasul menyampaikan syari'at (balagh, tabligh) hanya rasul yang laki-laki, sebagaimana dijelaskan dalam surah an-Nahl: 43.
“Dan Dia membersihkan engkau," tetap dalam keadaannya yang suci sehingga dia melahirkan Isa kelak dalam kesucian itu, tidak disentuh laki-laki.
‘Dan telah memuliakan engkau atas sekalian perempuan di alam."
(ujung ayat 42)
Inia dalah satu kemuliaan baginya sebab dia sebagai nadzar ibunya menjadi pengkhidmat rumah suci. Adalah suatu kemuliaan baginya karena guru pengasuhnya adalah seorang nabi dan rasul yang besar. Adalah suatu kemuliaan baginya bahwa dia adalah satu-satunya perempuan yang dipilih Allah buat melahirkan Isa, satu-satunya rasul Allah yang lahir ke dunia tidak dengan perantaraan bapak. Dan, ada lagi riwayat menyatakan bahwa kesucian yang diberikan Allah kepada Maryam itu ialah benar-benar karena dia tidak pernah dikotori dengan haid, tidak pernah membawa kain kotor. Sebab itu, dia disebut juga Maryam az-Zahra, sebagaimana juga Fathimah putri Rasulullah ﷺ yang menurut beberapa riwayat tidak pula diberi haid oleh Allah, yang tidak menghalangi beliau beroleh putra Hasan dan Husain. Dan, dia pun disebut Fathimah az-Zahra,
Menurut sebuah hadits dari Nabi kita ﷺ adalah tiga perempuan yang amat mulia, pertama Maryam binti Imran, kedua Khadijah binti Khuailid (istri Rasulullah ﷺ yang pertama), ketiga Fathimah binti Muhammad. Ridha Allah terlimpah bagi mereka semuanya. Amin.
Akan tetapi, ada juga ahli tafsir menjelaskan bahwasanya kemuliaan Maryam di atas segala perempuan di alam, bukanlah buat seluruh zaman, melainkan di zamannya saja. Tidak ada tolak perbandingannya yang lain. Dan, ada pula perempuan yang amat mulia dari perempuan lain di zamannya pula.
Setelah disanjung Allah kesuciannya, Maryam pun selalu diperintah Tuhan memupuk anugerah Ilahi itu dengan firman-Nya,
“Wahai, Manyam tunduklah kepada Tuhan engkau"
(pangkal ayat 43)
Artinya, patuhilah segala perintah Tuhan.
"Dan sujudlah dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'."
(ujung ayat 43)
Selalulah engkau beribadah kepada Allah, sehingga sari kemuliaan dan pilihan atas diri engkau yang diberikan Allah tu bertambah cemerlang. Sebagai adatnya tiap-tiap nabi, yang menerima pilihan Allah atas diri mereka, dengan memperbanyak ibadah kepada Allah, bahkan kadang-kadang memohon ampun bertobat dan menyesali kealpaan diri. Sebagaimana Imam Ghazali pernah mengisahkan bahwasanya Nabi Isa sendiri kadang-kadang membawa bunga karang untuk menghapus air matanya yang mengalir karena ingat akan Allah dan burung yang sedang terbang pun tertegun mendengarkan bunyi kecapi Nabi Dawud a.s. menyanyikan nama Tuhan. Dan, Nabi Muhammad ﷺ yang sampai semutan kakinya karena lamanya shalat malam. Bertambah mulia kedudukan mereka di sisi Allah, bertambah mereka qunut, tunduk merendah diri kepada Allah.
“Demikianlah dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada engkau."
(pangkal ayat 44)
Wahai utusan-Ku Muhammad,
“Dan tidaklah engkau bersama mereka ketika mereka membuang undi tentang siapa di antara meneka yang akan mengasuh Manyam, dan tidak ada engkau di dekat mereka ketika mereka berbantah."
(ujung ayat 44)
Dengan keterangan seperti ini, Tuhan Allah menjelaskan bahwasanya berita-berita ini, baik berita nadzar istri Imran, pengasuhan Zakaria atas Maryam, maupun doa Zakaria agar diberi anak, semuanya ini adalah berita gaib, tidak diterima dari orang lain, tetapi diwahyukan langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ
"The Chosen Ones Among the People of the Earth
Allah says;
إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى ادَمَ وَنُوحًا وَالَ إِبْرَاهِيمَ وَالَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ
ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِن بَعْضٍ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Allah chose Adam, Nuh (Noah), the family of Ibrahim and the family of Imran above the nations. Offspring, one of the other, and Allah is All-Hearer, All-Knower.
Allah states that He has chosen these households over the people of the earth.
For instance, Allah chose Adam, created him with His Hand and blew life into him. Allah commanded the angels to prostrate before Adam, taught him the names of everything and allowed him to dwell in Paradise, but then sent him down from it out of His wisdom.
Allah chose Nuh and made him the first Messenger to the people of the earth, when the people worshipped idols and associated others with Allah in worship. Allah avenged the way Nuh was treated, for he kept calling his people day and night, in public and in secret, for a very long time. However, his calling them only made them shun him more, and this is when Nuh supplicated against them. So Allah caused them to drown, and none among them was saved, except those who followed the religion that Allah sent to Nuh.
Allah also chose the household of Ibrahim, including the master of all mankind, and the Final Prophet, Muhammad, peace be upon him.
Allah also chose the household of Imran, the father of Maryam bint Imran, the mother of `Isa, peace be upon them. So `Isa is from the offspring of Ibrahim, as we will mention in the Tafsir of Surah Al-An`am, Allah willing, and our trust is in Him.
The Story of Maryam's Birth
Allah tells;
إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ
(Remember) when the wife of Imran said:
The wife of Imran mentioned here is the mother of Maryam, and her name is Hannah bint Faqudh.
Muhammad bin Ishaq mentioned that Hannah could not have children and that one day, she ﷺ a bird feeding its chick. She wished she could have children and supplicated to Allah to grant her offspring. Allah accepted her supplication, and when her husband slept with her, she became pregnant. She vowed to make her child concentrate on worship and serving Bayt Al-Maqdis (the Masjid in Jerusalem), when she became aware that she was pregnant.
She said,
رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
O my Lord! I have vowed to You what is in my womb to be dedicated for Your services, so accept this from me. Verily, You are the All-Hearer, the All-Knowing.
meaning, You hear my supplication and You know my intention. She did not know then what she would give birth to, a male or a female.
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنثَى وَاللّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ
Then when she gave birth to her, she said:""O my Lord! I have given birth to a female child, ـ and Allah knew better what she bore.
وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالاُنثَى
And the male is not like the female,
in strength and the commitment to worship Allah and serve the Masjid in Jerusalem.
وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ
And I have named her Maryam,
thus, testifying to the fact that it is allowed to give a name to the newly born the day it is born, as is apparent from the Ayah, which is also a part of the law of those who were before us.
Further, the Sunnah of the Messenger of Allah mentioned that the Prophet said,
وُلِدَ لِيَ اللَّيْلَةَ وَلَدٌ سَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيم
This night, a son was born for me and I called him by my father's name, Ibrahim.
Al-Bukhari and Muslim collected this Hadith.
They also recorded that;
Anas bin Malik brought his newborn brother to the Messenger of Allah who chewed a piece of date and put it in the child's mouth and called him Abdullah.
Other new born infants were also given names on the day they were born.
Qatadah narrated that Al-Hasan Al-Basri said, that Samurah bin Jundub said that the Messenger of Allah said,
كُلُّ غُلَمٍ رَهِينٌ بِعَقِيقَتِهِ يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُسَمَّى وَيُحْلَقُ رَأَسُه
Every new born boy held in security by his Aqiqah, until his seventh day, a sacrifice is offered on his behalf, he is given a name, and the hair on his head is shaved.
This Hadith was collected by Ahmad and the collectors of the Sunan, and was graded Sahih by At-Tirmidhi.
We should mention that another narration for this Hadith contained the wording, ""and blood is offered on his behalf,"" which is more famous and established than the former narration, and Allah knows best.
Allah's statement that Maryam's mother said,
وِإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
""...And I seek refuge with You for her and for her offspring from Shaytan, the outcast.""
means, that she sought refuge with Allah from the evil of Shaytan, for her and her offspring, i.e., `Isa, peace be upon him.
Allah accepted her supplication, for Abdur-Razzaq recorded that Abu Hurayrah said that the Messenger of Allah said,
مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلاَّ مَسَّهُ الشَّيْطَانُ حِينَ يُولَدُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّهِ إِيَّاهُ إِلاَّ مَرْيَمَ وَابْنَهَا
Every newly born baby is touched by Shaytan when it is born, and the baby starts crying because of this touch, except Maryam and her son.
Abu Hurayrah then said,
""Read if you will,
وِإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
(And I seek refuge with You for her and for her offspring from Shaytan, the outcast).""
The Two Sahihs recorded this Hadith
Maryam Grows Up; Her Honor is with Allah
Allah tells;
فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ
So her Lord (Allah) accepted her with goodly acceptance.
Allah states that He has accepted Maryam as a result of her mother's vow and that,
وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا
He made her grow in a good manner,
meaning, made her conduct becoming, her mannerism delightful and He made her well liked among people. He also made her accompany the righteous people, so that she learned righteousness, knowledge and religion.
وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا
And put her under the care of Zakariyya,
meaning, Allah made Zakariyya her sponsor.
Allah made Zakariyya Maryam's guardian for her benefit, so that she would learn from his tremendous knowledge and righteous conduct. He was the husband of her maternal aunt, as Ibn Ishaq and Ibn Jarir stated, or her brother-in-law, as mentioned in the Sahih,
فَإِذَا بِيَحْيَى وَعِيسى وَهُمَا ابْنَا الْخَالَة
I ﷺ John and `Isa, who are maternal cousins.
We should state that in general terms, what Ibn Ishaq said is plausible, and in this case, Maryam was under the care of her maternal aunt.
The Two Sahihs recorded that;
the Messenger of Allah decided that Amarah, the daughter of Hamzah, be raised by her maternal aunt, the wife of Jafar bin Abi Talib, saying,
الْخَالَةُ بِمَنْزِلَةِ الاُْم
The maternal aunt is just like the mother.
Allah then emphasizes Maryam's honor and virtue at the place of worship she attended,
كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقاً
Every time he entered the Mihrab to (visit) her, he found her supplied with sustenance.
Mujahid, Ikrimah, Sa`id bin Jubayr, Abu Ash-Sha`tha, Ibrahim An-Nakhai, Ad-Dahhak, Qatadah, Ar-Rabi bin Anas, Atiyah Al-Awfi and As-Suddi said,
""He would find with her the fruits of the summer during winter, and the fruits of the winter during summer.""
When Zakariyya would see this;
قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَـذَا
He said:""O Maryam! From where have you gotten this!""
meaning, where did you get these fruits from!
قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ
She said, ""This is from Allah.""
إنَّ اللّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ
Verily, Allah provides sustenance to whom He wills, without limit.
The Supplication of Zakariyya, and the Good News of Yahya's Birth
Allah tells;
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ
At that time Zakariyya invoked his Lord, saying:
When Zakariyya ﷺ that Allah provided sustenance for Maryam by giving her the fruits of winter in summer and the fruits of summer in winter, he was eager to have a child of his own.
By then, Zakariyya had become an old man, his bones feeble and his head full of gray hair. His wife was an old women who was barren. Yet, he still supplicated to Allah and called Him in secret,
رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ
O my Lord! Grant me from Ladunka, (from You),
ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً
A good offspring,
meaning, a righteous offspring,
إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء
You are indeed the All-Hearer of invocation.
Allah said
فَنَادَتْهُ الْمَليِكَةُ وَهُوَ قَايِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ
Then the angels called him, while he was standing in prayer in the Mihrab,
meaning, the angels spoke to him directly while he was secluded, standing in prayer at his place of worship.
Allah told us about the good news that the angels delivered to Zakariyya,
أَنَّ اللّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَـى
Allah gives you glad tidings of Yahya,
of a child from your offspring, his name is Yahya.
Qatadah and other scholars said that;
he was called Yahya (literally, `he lives') because Allah filled his life with faith.
Allah said next,
مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّهِ
believing in the Word from Allah.
Al-Awfi reported that Ibn Abbas said, and also Al-Hasan, Qatadah, Ikrimah, Mujahid, Abu Ash-Sha`tha, As-Suddi, Ar-Rabi bin Anas, Ad-Dahhak, and several others said that the Ayah,
مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّهِ
(believing in the Word from Allah) means,
""Believing in `Isa, son of Maryam.""
وَسَيِّدًا
And Sayyidan,
Abu Al-Aliyah, Ar-Rabi bin Anas, Qatadah and Sa`id bin Jubayr said that;
Sayyidan, means, a wise man.
Ibn Abbas, Ath-Thawri and Ad-Dahhak said that;
Sayyidan means, ""The noble, wise and pious man.""
Sa`id bin Al-Musayyib said that Sayyid is the scholar and Faqih. `Atiyah said that Sayyid is the man noble in behavior and piety. `Ikrimah said that it refers to a person who is not overcome by anger, while Ibn Zayd said that it refers to the noble man. Mujahid said that Sayyidan means, honored by Allah.
Allah's statement,
وَحَصُورًا
And Hasuran, (chaste),
does not mean he refrains from sexual relations with women, but that he is immune from illegal sexual relations.
This does not mean that he does not marry women and have legal sexual relations with them, for Zakariyya said in his supplication for the benefit of Yahya,
هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً
(Grant me from You, a good offspring), meaning, grant me a son who will have offspring, and Allah knows best.
Allah's statement,
وَنَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ
A Prophet, from among the righteous.
delivers more good news of sending Yahya as Prophet after the good news that he will be born. This good news was even better than the news of Yahya's birth.
In a similar statement, Allah said to the mother of Musa,
إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَـعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
Verily, We shall bring him back to you, and shall make him one of the Messengers. (28:7)
When Zakariyya heard the good news, he started contemplating about having children at his age.
Allah said
قَالَ رَبِّ أَنَّىَ يَكُونُ لِي غُلَمٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ
""O my Lord! How can I have a son when I am very old, and my wife is barren!""
قَالَ
(He) said...,
meaning the angel said,
كَذَلِكَ اللّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاء
""Thus Allah does what He wills.""
meaning, this is Allah's matter, He is so Mighty that nothing escapes His power, nor is anything beyond His ability.
قَالَ رَبِّ اجْعَل لِّيَ ايَةً
He said:""O my Lord! Make a sign for me.""
meaning make a sign that alerts me that the child will come.
قَالَ ايَتُكَ أَلاَّ تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَثَةَ أَيَّامٍ إِلاَّ رَمْزًا
(Allah) said:""Your sign is that you shall not speak to the people for three days except by signals.""
meaning, you will not be able to speak except with signals, although you are not mute.
In another Ayah, Allah said,
ثَلَـثَ لَيَالٍ سَوِيّاً
For three nights, though having no bodily defect. (19:10)
Allah then commanded Zakariyya to supplicate, thank and praise Him often in that condition,
وَاذْكُر رَّبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالاِبْكَارِ
And remember your Lord much and glorify (Him) in the afternoon and in the morning.
We will elaborate more on this subject in the beginning of Surah Maryam, Allah willing.
The Virtue of Maryam Over the Women of Her Time
Allah tells;
وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَيِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاء الْعَالَمِينَ
And (remember) when the angels said:""O Maryam! Verily, Allah has chosen you, purified you, and chosen you above the women of the nations.""
Allah states that the angels spoke to Maryam by His command and told her that He chose her because of her service to Him, because of her modesty, honor, innocence, and conviction.
Allah also chose her because of her virtue over the women of the world.
At-Tirmidhi recorded that Ali bin Abi Talib said,
""I heard the Messenger of Allah say,
خَيْرُ نِسَايِهَا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَخَيْرُ نِسَايِهَا خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِد
The best woman (in her time) was Maryam, daughter of Imran, and the best woman (of the Prophet's time) is Khadijah (his wife), daughter of Khuwaylid.""
The Two Sahihs recorded this Hadith.
Ibn Jarir recorded that Abu Musa Al-Ashari said that the Messenger of Allah said,
كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَ اسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْن
Many men achieved perfection, but among women, only Maryam the daughter of Imran and Asiah, the wife of Fir`awn, achieved perfection.
The Six -- with the exception of Abu Dawud - recorded it.
Al-Bukhari's wording for it reads,
كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ اسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ وَمَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ
وَإِنَّ فَضْلَ عَايِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلى سَايِرِ الطَّعَام
Many men reached the level of perfection, but no woman reached such a level except Asiah, the wife of Fir`awn, and Maryam, the daughter of Imran.
The superiority of Aishah (his wife) to other women, is like the superiority of Tharid (meat and bread dish) to other meals.
We mentioned the various chains of narration and wordings for this Hadith in the story of `Isa, son of Maryam, in our book, Al-Bidayah wan-Nihayah, all the thanks are due to Allah.
Allah states that the angels commanded Maryam to increase acts of worship, humbleness, submission, prostration, bowing, and so forth, so that she would acquire what Allah had decreed for her, as a test for her. Yet, this test also earned her a higher grade in this life and the Hereafter, for Allah demonstrated His might by creating a son inside her without male intervention.
Allah said,
يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ
""O Maryam! Submit yourself with obedience (Aqnuti) and prostrate yourself, and bow down along with Ar-Raki`in.""
As for Qunut (Aqnuti in the Ayah),
it means to submit with humbleness.
In another Ayah, Allah said,
بَل لَّهُ مَا فِي السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ كُلٌّ لَّهُ قَـنِتُونَ
Nay, to Him belongs all that is in the heavens and on earth, and all surrender with obedience (Qanitun) to Him. (2:116)
Allah next said to His Messenger after He mentioned Maryam's story.
ذَلِكَ مِنْ أَنبَاء الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيكَ
This is a part of the news of the Ghayb which We reveal.
""and narrate to you (O Muhammad),""
وَمَا كُنتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُون أَقْلَمَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ
You were not with them, when they cast lots with their pens as to which of them should be charged with the care of Maryam; nor were you with them when they disputed.
meaning, ""You were not present, O Muhammad, when this occurred, so you cannot narrate what happened to the people as an eye witness. Rather, Allah disclosed these facts to you as if you were a witness, when they conducted a lottery to choose the custodian of Maryam, seeking the reward of this good deed.""
Ibn Jarir recorded that Ikrimah said,
""Maryam's mother left with Maryam, carrying her in her infant cloth, and took her to the rabbis from the offspring of Aaron, the brother of Musa. They were responsible for taking care of Bayt Al-Maqdis (the Masjid) at that time, just as there were those who took care of the Ka`bah.
Maryam's mother said to them, `Take this child whom I vowed (to serve the Masjid), I have set her free, since she is my daughter, for no menstruating woman should enter the Masjid, and I shall not take her back home.'
They said, `She is the daughter of our Imam,' as Imran used to lead them in prayer, `who took care of our sacrificial rituals.'
Zakariyya said, `Give her to me, for her maternal aunt is my wife.'
They said, `Our hearts cannot bear that you take her, for she is the daughter of our Imam.' So they conducted a lottery with the pens with which they wrote the Tawrah, and Zakariyya won the lottery and took Maryam into his care.""'
Ikrimah, As-Suddi, Qatadah, Ar-Rabi bin Anas, and several others said that;
the rabbis went into the Jordan river and conducted a lottery there, deciding to throw their pens into the river. The pen that remained afloat and idle would indicate that its owner would take care of Maryam.
When they threw their pens into the river, the water took all the pens under, except Zakariyya's pen, which remained afloat in its place.
Zakariyya was also their master, chief, scholar, Imam and Prophet, may Allah's peace and blessings be on him and the rest of the Prophets."
Then, when Zachariah had seen this and realised that the One with power to bring something about in other than its [natural] time, is able to bring about a child in old age, and with those of his family line all deceased, Zachariah prayed to his Lord, when he entered the sanctuary to pray in the middle of the night, saying, 'Lord, bestow upon me from You a goodly offspring, a righteous son, verily, You are the Hearer of, [You are] the One Who answers, supplication'.
Commentary
1. While looking at the first sentence of this verse هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ (Thereupon, Zakariyya (علیہ السلام) prayed to his Lord) - we should bear in mind that Sayyidna Zakariyya (علیہ السلام) had no offspring upto that time. He had grown old and one usually does not have children in that age, although he firmly believed that Allah, in His ultimate power, could change the usual phenomenon and bless him with an offspring even at his advanced age. But he had not personally witnessed the unusual divine acts - such as he did when he ﷺ unusual and out-of-season eatables provided for Sayyidah Maryam and that was why he did not have the courage to extend his hand of prayer for an offspring. Now when he ﷺ the miracle with his own eyes, he was persuaded for such prayer under the belief that Allah, who can provide a servant with out-of season fruits, would also bless him with an offspring, even in this late age, and so he prayed.
2. The second sentence of the verse - 'He said: قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً "O my Lord, grant me from Your own (power) a goodly progeny."' - tells us that making prayers to have children is a blessed practice of the prophets and the righteous.
In another verse Allah Almighty has said: وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ "And We sent messengers before you and provided them with wives and children"- (13:38).It means that children are among the blessings of Allah which were bestowed on the Holy Prophet as well as on other prophets.
Now, should someone try to stop the birth of children, by any means, he will not only rebel against nature but will also deprive him-self of having acted in harmony with the common and agreed practice of prophets (علیہم السلام) The Holy Prophet of Islam ﷺ has given great importance to the question of marriage and children, so much so that he did not allow anyone to avoid married life and children inspite of his capability, and refused to take such a person as a member of his community of followers. He said:
(1) النکاح من سُنتی
(2) فمن رغب عن سنتی فلیس مِنِی
(3) تَزوَجوا الودودَ الولودَ فاِنِی مکاثر بکم الامم
(1) Marriage is my sunnah (way).
(2) So, whoever turns away from my sunnah, he is not from me.
(3) Therefore, marry a woman who is loving and fertile, for I shall compete with other communities on the basis of your numbers.
In another verse, Allah Almighty praises those who pray before Him to have a wife in marriage, have children and have them grow good and righteous. He says:
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ
And those who say: '0 our Lord, bless us with such among our wives and our children as be the delight of our eyes. (25:74)
Hasan al-Basri, (رح) says that the Qur'anic expression - قُرَّةَ أَعْيُنٍ 'qurrata a` yun' (literally: coolness or luster of the eyes; meaning someone dearly loved and cherished) - here means that the maker of prayer sees his children and wife devoted in obedience to Allah.
It appears in a hadith that Umm Sulaym ؓ requested the Holy Prophet ﷺ to pray for his attendant, Sayyidna Anas ؓ . He made the following prayer for him:
الھم اَکثِر مالہ و ولدہ وبارک لہ فیما اعطیتہ
0 Allah, increase his wealth and his children and make him prosper in what You have bestowed on him.
It was the outcome of this very prayer that Sayyidna Anas ؓ had about a hundred children and was also blessed with an ample measure of wealth.








