Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
كُلُّ
tiap-tiap
نَفۡسٖ
jiwa
ذَآئِقَةُ
akan merasakan
ٱلۡمَوۡتِۗ
mati
وَإِنَّمَا
dan sesungguhnya hanyalah
تُوَفَّوۡنَ
akan disempurnakan
أُجُورَكُمۡ
pahalamu
يَوۡمَ
pada hari
ٱلۡقِيَٰمَةِۖ
kiamat
فَمَن
maka barang siapa
زُحۡزِحَ
ia dijauhkan
عَنِ
dari
ٱلنَّارِ
neraka
وَأُدۡخِلَ
dan ia dimasukkan
ٱلۡجَنَّةَ
surga
فَقَدۡ
maka sungguh
فَازَۗ
ia beruntung
وَمَا
dan tidak
ٱلۡحَيَوٰةُ
kehidupan
ٱلدُّنۡيَآ
dunia
إِلَّا
melainkan
مَتَٰعُ
kesenangan
ٱلۡغُرُورِ
tipuan/memperdayakan
كُلُّ
tiap-tiap
نَفۡسٖ
jiwa
ذَآئِقَةُ
akan merasakan
ٱلۡمَوۡتِۗ
mati
وَإِنَّمَا
dan sesungguhnya hanyalah
تُوَفَّوۡنَ
akan disempurnakan
أُجُورَكُمۡ
pahalamu
يَوۡمَ
pada hari
ٱلۡقِيَٰمَةِۖ
kiamat
فَمَن
maka barang siapa
زُحۡزِحَ
ia dijauhkan
عَنِ
dari
ٱلنَّارِ
neraka
وَأُدۡخِلَ
dan ia dimasukkan
ٱلۡجَنَّةَ
surga
فَقَدۡ
maka sungguh
فَازَۗ
ia beruntung
وَمَا
dan tidak
ٱلۡحَيَوٰةُ
kehidupan
ٱلدُّنۡيَآ
dunia
إِلَّا
melainkan
مَتَٰعُ
kesenangan
ٱلۡغُرُورِ
tipuan/memperdayakan
Terjemahan
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.
Tafsir
(Setiap diri akan merasai kematian dan hanya pada hari kiamatlah pahalamu disempurnakan) artinya pada hari kiamatlah ganjaran amal perbuatanmu dipenuhi dengan cukup. (Barang siapa yang dijauhkan) setelah itu (dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia beruntung) karena mencapai apa yang dicita-citakannya. (Kehidupan dunia ini tidak lain) maksudnya hidup di dunia ini (hanyalah kesenangan yang memperdayakan semata) artinya yang tidak sebenarnya karena dinikmati hanya sementara lalu ia segera sirna.
Tafsir Surat Ali-'Imran: 185-186
Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya hanya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
Kalian sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta kalian dan diri kalian. Dan (juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, banyak ucapan gangguan yang yang menyakitkan hati. Jika kalian bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya itu termasuk sikap/urusan yang diutamakan.
Ayat 185
Allah ﷻ memberitahukan kepada semua makhluknya secara umum bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Perihalnya sama dengan firman Allah ﷻ yang mengatakan: “Semua yang ada di bumi itu pasti akan binasa. Yang tetap kekal adalah Zat Tuhan-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 26-27) Hanya Dia sendirilah yang Hidup Kekal dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia semuanya akan mati, begitu pula para malaikat umumnya dan para malaikat pemangku Arasy. Hanya Allah sematalah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa Yang Kekal Abadi.
Dengan demikian, berarti Allah Yang Maha Akhir, sebagaimana Dia Maha Pertama (Akhirnya Allah tidak ada kesudahannya dan Permulaan Allah tidak ada awal-nya, pent.). Ayat ini merupakan ucapan belasungkawa kepada semua manusia, karena sesungguhnya tidak ada seorang pun di muka bumi ini melainkan pasti mati. Apabila masa telah habis dan nutfah yang telah ditakdirkan oleh Allah keberadaannya dari sulbi Adam telah habis serta semua makhluk habis, maka Allah mengadakan hari kiamat dan membalas semua makhluk sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing, yang besar, yang kecil, yang banyak, yang sedikit serta yang tua dan yang muda, semuanya mendapat balasannya.
Tiada seorang pun yang dizalimi sedikit pun dalam penerimaan pembalasannya. Karena itulah maka Allah ﷻ berfirman: “Dan sesungguhnya hanya pada hari kiamat sajalah disempurnakan balasan (pahala) kalian.” (Ali Imran: 185)
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz Al-Uwaisi, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abu Ali Al-Hasyimi, dari Ja'far ibnu Muhammad Ali ibnul Husain, dari ayah-nya, dari Ali ibnu Abu Thalib yang menceritakan bahwa ketika Nabi ﷺ wafat, dan belasungkawa berdatangan, maka datanglah kepada mereka seseorang yang mereka rasakan keberadaannya, tetapi mereka tidak dapat melihat wujudnya. Orang tersebut mengatakan: “Semoga keselamatan terlimpah kepada kalian, wahai Ahlul Bait, begitu pula rahmat Allah dan berkahnya. Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya hanya pada hari kiamat sajalah disempurnakan balasan (pahala) kalian. Sesungguhnya belasungkawa dari setiap musibah itu hanyalah kepada Allah, dan hanya kepada-Nya memohon ganti dari setiap yang telah binasa, dan hanya kepada-Nya meminta disusulkan dari setiap yang terlewatkan. Karena itu, hanya kepada Allah-lah kalian percaya, dan hanya kepada-Nyalah kalian berharap, karena sesungguhnya orang yang tertimpa musibah itu ialah orang yang terhalang tidak mendapat pahala. Dan semoga keselamatan terlimpah kepada kalian, begitu pula rahmat Allah dan berkah-Nya.” Ja'far ibnu Muhammad mengatakan, telah menceritakan kepadaku ayahku, bahwa Ali Abu Thalib berkata: “Tahukah kalian, siapakah orang ini?" Ali mengatakan pula, "Dia adalah Al-Khidir a.s."
Firman Allah ﷻ: “Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” (Ali Imran: 185)
Artinya, barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan selamat darinya serta dimasukkan ke dalam surga, berarti ia sangat beruntung.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr ibnu Alqamah, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Tempat sebuah cemeti di dalam surga lebih baik daripada dunia dan apa yang ada di dalamnya. Bacalah oleh kalian jika kalian suka, yaitu firman-Nya, ‘Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung’." (Ali Imran: 185).
Hadits ini dituliskan di dalam kitab Shahihain melalui jalur lain tanpa memakai tambahan ayat. Telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim serta Ibnu Hibban di dalam kitab Shahih-nya dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya tanpa memakai tambahan ini melalui hadits Muhammad ibnu Amr. Telah diriwayatkan pula dengan memakai tambahan ini oleh Ibnu Mardawaih melalui jalur yang lain.
Ibnu Mardawaih mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Humaid ibnu Mas'adah, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, dari Abu Hazim, dari Sahl ibnu Sad yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Sesungguhnya tempat sebuah cemeti seseorang di antara kalian di dalam surga lebih baik daripada dunia ini dan semua yang ada di dalamnya.” Sahl ibnu Sa'd melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu beliau ﷺ membacakan firman-Nya: “Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung.” (Ali Imran: 185)
Dalam pembahasan yang lalu sehubungan dengan firman-Nya: “Dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran: 102) Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Waki' ibnul Jarrah di dalam kitab tafsimya, dari Al-A'masy ibnu Zaid ibnu Wahb, dari Abdur Rahman ibnu Abdu Rabbil Ka'bah, dari Abdullah ibnu Amr ibnul As yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Barang siapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaklah ia mati sedang ia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Dan hendaklah ia memberikan kepada orang-orang apa yang ia suka bila diberikan kepada dirinya sendiri.” Imam Ahmad meriwayatkannya di dalam kitab musnadnya dari Waki' dengan lafal yang sama.
Firman Allah ﷻ: “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali Imran: 185)
Makna ayat ini mengecilkan perkara duniawi dan meremehkan urusannya. Bahwa masalah duniawi itu adalah masalah yang rendah, sedikit, pasti lenyap dan pasti rusak. Seperti yang diungkapkan oleh Allah ﷻ dalam ayat yang lain, yaitu firman-Nya:
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A'la: 16-17)
“Dan apa saja yang diberikan kepada kalian, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya, sedangkan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Al-Qashash: 60)
Dan dalam sebuah hadits disebutkan: “Demi Allah, tiadalah kehidupan di dunia ini bila dibandingkan dengan kehidupan di akhirat, melainkan sebagaimana seseorang di antara kalian mencelupkan jari telunjuknya ke dalam laut, maka hendaklah ia perhatikan apa yang didapat jari telunjuknya dari laut itu, maka itulah dunia.”
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali Imran: 185) Bahwa kehidupan duniawi itu merupakan kesenangan yang akan ditinggalkan; tidak lama kemudian, demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, pasti menyusut dan hilang dari pemiliknya. Karena itu, ambillah dari kehidupan ini sebagai sarana untuk taat kepada Allah, jika kalian mampu dan tidak ada kekuatan (untuk melakukan ketaatan) kecuali berkat pertolongan Allah ﷻ.
Ayat 186
Firman Allah ﷻ: “Kalian sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta kalian dan diri kalian.” (Ali Imran: 186)
Ayat ini sama maknanya dengan ayat yang lain, yaitu firman-Nya:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” (Al-Baqarah: 155), hingga akhir ayat berikutnya. Dengan kata lain, seorang mukmin itu harus diuji terhadap sesuatu dari hartanya atau dirinya atau anaknya atau istrinya. Seorang mukmin mendapat ujian (dari Allah) sesuai dengan tingkatan kadar agamanya; apabila agamanya kuat, maka ujiannya lebih dari yang lain.
“Dan (juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, banyak ucapan gangguan yang menyakitkan hati.” (Ali Imran: 186) Allah ﷻ berfirman kepada orang-orang mukmin ketika mereka tiba di Madinah sebelum Perang Badar untuk meringankan beban mereka dari tekanan gangguan yang menyakitkan hati yang dilakukan oleh kaum Ahli Kitab dan kaum musyrik. Sekaligus memerintahkan mereka agar bersikap pemaaf dan bersabar serta memberikan ampunan hingga Allah memberikan jalan keluar dari hal tersebut. Untuk itu Allah ﷻ berfirman: “Jika kalian bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya itu termasuk sikap/urusan yang diutamakan.” (Ali Imran: 186)
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu'aib ibnu Abu Hamzah, dari Az-Zuhri; Urwah ibnuz Zubair menceritakan kepadanya, Usamah ibnu Zaid pernah bercerita kepadanya bahwa Nabi dan para sahabatnya di masa lalu selalu bersikap pemaaf terhadap orang-orang musyrik dan Ahli Kitab, sesuai dengan perintah Allah kepada mereka, dan mereka bersabar dalam menghadapi gangguan yang menyakitkan. Perintah Allah ﷻ tersebut adalah melalui firman-Nya: “Dan (juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, banyak ucapan gangguan yang menyakitkan hati.” (Ali Imran: 186) Tersebutlah bahwa Rasulullah ﷺ bersikap pemaaf sesuai dengan pengertiannya dari apa yang diperintahkan oleh Allah kepadanya, sehingga Allah mengizinkan kepada beliau untuk bertindak memberikan respon terhadap mereka. Demikianlah menurut apa yang diketengahkannya secara ringkas.
Imam Al-Bukhari mengetengahkannya dalam bentuk yang panjang lebar di saat ia menafsirkan ayat ini. Dia mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu'aib, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Urwah ibnuz Zubair; Usamah ibnu Zaid telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ mengendarai himar (keledai) dengan memakai kain qatifah fadakiyah, seraya membonceng Usamah ibnu Zaid di belakangnya, dalam rangka hendak menjenguk Sa'd ibnu Ubadah yang ada di Banil Haris ibnul Khazraj. Hal ini terjadi sebelum Perang Badar. Ketika beliau melewati suatu majelis yang di dalamnya terdapat Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul sebelum dia Islam (lahiriahnya), ternyata di dalam majelis terdapat campuran orang-orang yang terdiri atas kaum muslim, kaum musyrik penyembah berhala, dan Ahli Kitab Yahudi. Di dalam majelis itu terdapat pula Abdullah ibnu Rawahah. Di saat majelis tersebut tertutup oleh debu kendaraan Nabi ﷺ, maka Abdullah ibnu Ubay menutupi hidungnya dengan kain selendangnya, lalu berkata, "Janganlah engkau membuat kami berdebu." Rasulullah ﷺ mengucapkan salam kepada mereka, lalu berhenti dan turun dari kendaraannya, kemudian menyeru mereka untuk menyembah Allah ﷻ dan membacakan Al-Qur'an kepada mereka.
Maka Abdullah ibnu Ubay berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya aku tidak pandai mengucapkan apa yang kamu katakan itu, jika hal itu benar. Maka janganlah kamu ganggu kami dengannya dalam majelis kami ini. Kembalilah ke kendaraanmu, dan barang siapa yang datang kepadamu, ceritakanlah (hal itu) kepadanya!” Abdullah ibnu Rawwahah berkata, "Tidak, wahai Rasulullah, liputilah kami dengan debumu di majelis kami ini, karena sesungguhnya kami menyukai apa yang engkau sampaikan itu!" Akhirnya kaum muslim saling mencaci dengan kaum musyrik dan orang-orang Yahudi, hingga hampir saja mereka saling baku hantam, tetapi Rasulullah ﷺ terus-menerus melerai mereka hingga mereka tenang kembali.
Sesudah itu Rasulullah ﷺ mengendarai kembali keledainya, lalu meneruskan perjalanannya hingga sampai di rumah Sa'd ibnu Ubadah. Beliau masuk ke dalam rumahnya, lalu bersabda kepadanya, "Wahai Sa'd, tidakkah engkau mendengar apa yang telah dikatakan oleh Abu Hubab yang beliau maksud adalah Abdullah ibnu Ubay? Dia telah mengatakan anu dan anu." Sa'd ibnu Ubadah menjawab, "Wahai Rasulullah, maafkanlah dia dan ampunilah dia. Demi Tuhan yang telah menurunkan Al-Qur'an kepadamu, sesungguhnya Allah telah menurunkan kebenaran kepadamu, dan sesungguhnya semua penduduk kota ini telah berdamai (setuju) untuk mengangkat dia (Ibnu Ubay) menjadi pemimpin mereka dan membelanya dengan penuh kefanatikan. Akan tetapi, setelah Allah menolak hal tersebut dengan kebenaran yang telah Dia turunkan kepadamu, maka dia merasa tersisihkan, maka apa yang telah engkau lihat itu merupakan ungkapan rasa tidak puasnya." Maka Rasulullah ﷺ memaafkan tindakan Ibnu Ubay itu.
Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya bersikap pemaaf terhadap gangguan kaum musyrik dan kaum Ahli Kitab seperti yang diperintahkan oleh Allah kepada mereka, dan tetap bersabar serta menahan diri. Allah ﷻ telah berfirman: “Dan (juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, banyak ucapan gangguan yang menyakitkan hati.” (Ali Imran: 186) hingga akhir ayat. Dalam ayat yang lainnya Allah ﷻ telah berfirman: “Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya.” (Al-Baqarah: 109), hingga akhir ayat.
Nabi ﷺ bersikap pemaaf menurut pengertian yang beliau pahami dari perintah Allah ﷻ sehingga Allah memberikan izin kepada beliau untuk bertindak terhadap mereka. Ketika Rasulullah ﷺ melakukan Perang Badar, yang di dalam perang itu Allah mematikan banyak para pemimpin orang-orang kafir Quraisy, maka Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul dan orang-orang musyrik penyembah berhala yang mengikutinya mengatakan, "Ini merupakan suatu perkara yang sudah kuat, maka berbaiatlah kalian kepada Rasulullah ﷺ untuk Islam." Akhirnya mereka berbaiat dan masuk Islam. Setiap orang yang menegakkan kebenaran atau memerintahkan kepada kebajikan atau melarang terhadap perbuatan mungkar pasti mendapat ganguan dan rintangan, dan tiada jalan baginya kecuali bersabar demi membela agama Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya serta mengembalikan segala sesuatunya kepada Dia.
Pada ayat lalu dijelaskan sikap orang-orang munafik yang menduga bahwa mereka dapat menghindar dari kematian. Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa kematian dialami oleh setiap makhluk dan bisa terjadi kapan saja. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati tanpa terkecuali. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasan kamu dari amal perbuatan baik dan buruk yang kamu lakukan selama di dunia. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kebahagiaan hakiki bukanlah berupa kedudukan dan pangkat yang tinggi, harta yang melimpah, rumah dan istana yang mewah. Semua itu akan musnah. Karena itu, jangan jadikan seluruh perhatian kamu pada kehidupan kini dan sekarang, karena kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya setiap orang yang hanya mementingkan kebahagiaan sementaraKamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu dengan berbagai cobaan, ujian, dan musibah seperti kekurangan harta, malapetaka, dan lain-lain. Karena itu Allah menguji siapa pun di antara mereka yang tetap sabar dan istikamah dalam menjalankan perintah Allah, dan mereka yang tidak menerima dengan hati lapang dan sabar. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik berupa ejekan, pendustaan, penghalangan dalam beragama, perlawanan, dan pengkhianatan. Jika kamu bersabar dan bertakwa dalam menghadapi tindakan-tindakan mereka dan tetap teguh melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. Hal itu karena orang-orang yang sabar, bertakwa, dan berbesar hati menerima setiap takdir yang berlaku akan meraih kemenangan yang gemilang atas tipu daya musuh.
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati dan di hari kiamat nanti disempurnakan balasan masing-masing yang baik dibalas dengan yang baik, yaitu surga dan yang buruk akan dibalas dengan yang buruk pula yaitu neraka, sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ:
Kubur itu merupakan taman dari taman-taman surga, atau merupakan jurang dari jurang-jurang neraka. (Riwayat at-Tirmidzi dan at-thabrani).
Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, dialah yang berbahagia. Untuk mencapai kebahagiaan di atas, baiklah kita perhatikan sabda Rasulullah ﷺ sebagai berikut:
"Siapa ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaklah ia mati di dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan agar ia berbuat kepada manusia seperti yang ia sukai diperbuat orang kepadanya." (Riwayat Imam Ahmad).
Kehidupan di dunia ini tiada lain kecuali kesenangan yang memperdayakan. Kesenangan yang dirasakan di dunia ini berupa makanan, minuman, pangkat, kedudukan dan sebagainya, pada umumnya memperdayakan manusia. Disangkanya itulah kebahagiaan, maka tenggelamlah ia dan asyik dengan kenikmatan dunia. Padahal kalau manusia kurang pandai mempergunakannya, maka kesenangan itu akan menjadi bencana yang menyebabkan kerugian di dunia dan di akhirat kelak mendapat azab yang pedih.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
‘Tiap-tiap yang bernyawa merasakan mati."
(pangkal ayat 185)
Di dalam ayat disebut nafs, maka di sini kita artikan nyawa. Sebab, kalau tidak arti itu yang kita pakai, bisa jadi salah paham. Sebab, nafs itu pun mempunyai arti yang lain, yaitu diri, kalau kita artikan diri, niscaya masuklah Allah sendiri, sebab Allah pun adalah satu kedirian atau berdiri sendiri. Di dalam surah al-Maa'idah, ayat 116, tersebut Nabi Isa al-Masih,
“Engkau mengetahui yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui yang ada pada diriMu." (al-Maa'idah: 116)
Teranglah, bahwa kata nafs pada ayat yang tengah kita bicarakan ini bukanlah berarti diri, melainkan nyawa. Maka, tiap-tiap yang bernapas, atau yang bernyawa mesti merasakan mati. Baik manusia atau binatang atau apa saja, asal bernyawa. Kalau lebih kita perdalam lagi, belum jugalah kena kalau kita katakan bahwa segala yang bernyawa mesti merasakan mati. Lebih tepat lagi menurut bunyi ayat kalau kita katakan bahwa tiap-tiap nyawa mesti merasakan mati. Sebab, yang bernyawa atau yang dihinggapi oleh nyawa ialah tubuh kasar jasmani ini. Apakah tubuh yang kasar ini merasakan mati? Tidak! Sebab apabila mati telah datang, tubuh kasar tidak ada mempunyai perasaan lagi! Sebagaimana cerita Socrates yang masyhur itu, setelah mati itu menjalar dari kakinya, maka mana yang telah dijalaninya tidaklah merasa apa-apa lagi. Tatkala muridnya, Criton, memukul-mukul lututnya, dia mengatakan tidak terasa lagi.
Maka bolehlah kita katakan bahwa nyawa itulah yang merasakan mati. Dan tidak perlu kita perdalam lagi apa mati itu, sebab kita semuanya sudah tahu dan selalu melihat orang mati. Akan tetapi, selama masih hidup, kita sendiri belumlah merasakannya. Dan setelah kita merasakannya kelak, tidak pula kita dapat menceritakan kepada orang lain bagaimana yang kita rasai pada waktu itu.
Ayat ini adalah lanjutan bujuk penawar bagi Nabi kita ﷺ, sebagai bujuk penawar yang telah lalu tadi. Sebab, lanjutan ayat ialah, “Sesungguhnya kelak akan disempurnakan balasan kamu pada hari Kiamat" Lantaran itu segala yang bernyawa, termasuk manusia di dalam perjuangan hidupnya ini, ujung perjalanan hidup ialah mati. Kita hanya sekali datang ke dunia ini dan diberi akal untuk menimbang buruk dan baik jalan yang akan kita tempuh. Semua orang yang berakal menginginkan yang berfaedah dan tidak menyukai yang mudharat. Akan tetapi, ada orang yang tertempuh jalan benar dan ada pula yang tertempuh jalan salah. Berapakah jalan kebaikan yang terisi oleh kita dan berapa yang kosong? Bagaimana orang yang baik dan bagaimana orang yang jahat? Di dunia ini belumlah dapat dijelaskan hitungan teperinci urusan itu. Di akhiratlah kelak, di seberang maut itu akan disempurnakan balasan kita.
“Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, telah ber..." Sentosa,karenatidakadakesulitan lagi. Perhitungan sudah selesai. Sebab, di akhirat itulah hidup yang sebenarnya, hidup yang kekal abadi.
“Kehidupan dunia ini tak lain dari benda tipuan."
(ujung ayat 185)
Di pangkal ayat diperingatkan bahwa nyawa pasti akan merasakan mati. Di ujung ayat dikatakan bahwa hidup di dunia hanyalah benda tipuan. Kata dunia yang serumpun dengan kata adnan artinya ialah hidup yang dekat. Yaitu hidup yang kita hadapi sekarang ini. Kehidupan ini selalu menipu dan merayu kita, sehingga kerap kali kita lupa bahwa hidup yang sebenarnya adalah di seberang sana. Yang di seberang itu hanya satu antara dua, yaitu neraka atau surga. Kalau sudah terjauh dari neraka dan masuk ke surga, itulah hidup yang sentosa. Tipuan hidup ini kerap kali menipu orang sehingga hatinya terpaut dan terikat di sini. Bertambah manusia lupa akan hal itu, bertambah beratlah hatinya akan meninggalkan dunia fana ini, sehingga ngerilah dia menghadapi maut dan gelaplah baginya zaman depan. Inilah yang menyebabkan orang jadi kufur. Dan apabila diingat kehidupan yang sejati itu, hidup yang kekal, yaitu jauh hendaknya dari neraka dan masuk hendaknya ke surga, supaya sentosa, maka dari hidup yang sekarang inilah kita tentukan tujuan ke sana. Barulah hidup kita yang sekarang ini, yang dunia atau yang dekat ini ada artinya.
Seperti yang kita katakan tadi, menurut ahli-ahli tafsir, terutama ditegaskan oleh Ibnu Jarir di dalam tafsirnya, bahwasanya ayat ini— yang menyatakan bahwa tiap-tiap nyawa pasti merasakan mati—adalah lanjutan tasliyah; obat penawar hati Nabi dalam kesibukan perjuangan yang kadang-kadang menghadapi pasang-naik dan kadang-kadang pasang surut. Dan dia pun menjadi obat penawar bagi sekalian orang yang menegakkan iman.
Kerap kali tampak bahwa orang yang memusuhi kebenaran itu masih saja hidup dengan kemewahan dan keangkuhannya; tidak juga jatuh-jatuh. Sedang orang yang berjuang menegakkan kebenaran selalu saja tertumbuk jalan. Maka, datanglah ayat ini sebagai penawar hati. Bahwasanya bagaimana pun tampak kemegahan musuh, tetapi ujung perjalanan hidupnya ialah mati. Kita pun demikian. Kita wajib bekerja terus, kebenaran mesti menang. Dan kadang-kadang kebenaran itu belum akan tampak kejayaannya selama hidup kita. Sebab, kita pun akan mati! Tetapi anak-anak keturunan kita akan melanjutkan perjuangan itu.
Mengapa si sombong angkuh masih saja kelihatan menang, padahal dia berdiri di pihak yang salah? Mengapa yang berdiri atas kebenaran kalah saja, padahal dia telah berjuang dengan tulus ikhlas?
Lanjutan ayat telah memberikan ketegasan bahwasanya ganjaran akan dibayar penuh bukanlah di sini. Pada hari Kiamatlah kelak segala janji itu akan dipenuhi. Yang jahat akan mendapat balasan jahat dan yang baik akan dapat balasan baik. Yang mahapenting ialah tujuan yang jelas, jangan yang kabur. Jangan silau mata melihat kesombongan lawan, jangan berkecil hati karena perjuangan belum berhasil. Karena penentuan haluan hidup, ialah pada ketegasan jiwa, ketegasan nafs. Barangsiapa yang tersingkir dari api neraka sejak dari dunia ini dan ditentukan tempatnya di dalam surga, itulah orang yang menang, Penentuan terjauh dari neraka dan masuk ke surga itu hendaklah digariskan dari sekarang. Untuk memahami ayat ini lebih dalam, bacalah surah al-Maa'idah ayat 100,
“Katakanlah olehmu, ‘Tidaklah sama antara yang buruk-keji dengan yang indah-baik, meskipun engkau terpesona oleh banyaknya yang buruk-keji itu. Dan takwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang mempunyai pikiran cerdas, supaya kamu beroleh kemenangan." (al-Maa'idah: 100)
Berpegang teguhlah kamu pada pendirianmu, yang buruk tetap buruk, dan yang baik akan bertambah bersinar kebaikannya di dalam jiwamu, walaupun dari kiri kanan dia telah dikepung oleh yang buruk, “Walaupun tujuh tahun terbenam di dalam danau, tetapi intan akan tetap bercahaya juga."
Kemudian, ingatlah bahwasanya hidup dunia ini tidak lain dari benda tipuan. Hidup di dunia ialah makan dan minum, rumah dan kediaman, pangkat dan kebesaran, singgasana dan mahligai, ataupun hanya dapat sesuap pagi sesuap petang. Karena ditipu oleh hal-hal yang demikian, timbullah rasa tidak puas dengan yang telah ada. Kita ditipunya terus untuk menambah lagi dan naik lagi, supaya sampai kepada sesuatu. Padahal karena tipuan itu kerap kali lupalah kita akan tujuan hidup yang sebenarnya. Bahwa kehidupan dunia ini mesti berakhir dengan maut.
Benarlah bahwa Allah di dalam beberapa ayatnya dengan tegas membuka kesempatan bagi kita supaya selama hidup ini kita berjalan di atas bumi dan mencari rezeki. Benar bahwa Allah telah menyediakan segala sesuatu untuk manusia. Benar bahwa matahari dan bulan, sungai yang mengalir, lautan yang terbentang, kapal di lautan dan lain-lain sudah disediakan untuk kita. Akan tetapi, jangan lupa, bahwasanya semua itu disediakan ialah untuk melapangkan jalan ke dalam kebahagiaan akhirat. Bukan disediakan hanya untuk kemegahan di dalam hidup dunia yang sempit ini dan temponya terbatas.
Cobalah kita resapkan ke dalam jiwa inti sari ayat ini. Sekali-kali tidaklah dia menimbulkan muram atau pesimis menghadapi hidup dunia. Bukan berarti karena ayat ini orang yang beriman tidak boleh kaya, tidak boleh mempunyai rumah yang bagus atau perhiasan hidup. Bukanlah itu yang dilarang
Allah. Cuma janganlah lupa, supaya jangan sampai dia mengikat hati. Isi ayat hanyalah mengingatkan bahwa dalam suasana yang mana pun kita di dunia ini, jangan kita lupa bahwa ini adalah dunia. Jangan sampai kita ditipunya, tetapi jadikanlah dia laksana jembatan belaka, tempat lalu sementara, dalam menuju maksud yang sebenarnya, hidup di akhirat yang berbahagia. Sebab, kalau lupa hal itu, kita akan sengasara dibuatnya. Alangkah sedih bercerai ketika kasih sedang tertumpah kepadanya, padahal kita tidak akan datang lagi kedua kali. Sedangkan orang mati syahid, sebagaimana hadits Jabir bin Abdullah yang kita salinkan dahulu, memohon hidup sekali lagi, supaya mati lagi dalam syahid, tidak dapat dikabulkan, apalagi keinginan datang lagi ke dunia untuk berfoya-foya.
Dan kalau kita renungkan lagi hakikat hidup dunia ini, berapalah lamanya kita merasakan enaknya. Dan bilakah? Menanyakan bila terasa enak hidup di dunia, sama saja dengan menanyakan kepada seseorang, bila dia merasakan nyenyak tidur. Apakah kita merasa enak hidup waktu kita masih kecil dalam tanggungan orang tua, atau setelah kita bebas berusaha sendiri, atau setelah tua renta tidak bertenaga lagi?
Alangkah kosongnya hidup ini, kalau tidak ingat akan tujuan terakhir tadi.
Kemudian, datanglah peringatan Allah kepada orang yang beriman,
“Sesungguhnya kamu akan dikenakan percobaan pada harta bendamu dan dirimu."
(pangkal ayat 186)
Maka di dalam menuju ridha Allah, agar terjauh dari neraka dan sentosa hendaknya dalam surga. Mukmin tidak menempuh jalan yang mudah. Satu hadits shahih berkata,
“Surga ditempuh dengan serba kesulitan dan neraka ditempuh dengan serba syahwat."
Menegakkan kalimat Ilahi, menempuh jalan Allah, akan membawa berbagai percobaan. Harta benda akan diminta pengorbanan supaya dikeluarkan. Bakhil adalah batu penarung menuju cita. Dan bukan itu saja, bahkan nyawa pun diminta korbannya.
Perhatikanlah dengan saksama. Pada ayat 180 tadi diterangkan bahaya bakhil. Yaitu harta yang telah dibakhilkan itu akan disandangkan di leher kelak dan dijadikan tontonan pada hari Kiamat. Kemudian, di ayat 185 diterangkan bahwa tiap-tiap nyawa pasti merasakan mati. Dan dikatakan bahwa dunia ini hanya tipuan. Sekarang datanglah ayat ini, 186, bahwasanya pastilah kamu akan diberi percobaan, ke manakah hatimu condong, ke' pada dunia penipu itukah atau hendak menegakkan jalan Allah? Kalau kepada dunia penipu itu, tetapi hartamu akan pisah juga dari dirimu dan mati pasti datang. Di ayat ini Allah menyatakan pasti, latublawunna sungguh-sungguh kamu akan diberi percobaan. Sesudah Perang Badar yang menggembirakan telah datang Uhud yang mengecewakan. Kemudian, akan mengikut lagi yang lain, sampai harta itu meninggalkan kamu atau kamu meninggalkan harta dan sampai nyawa itu bercerai dari badan, baik secara pahlawan syahid atau mati sesudah cita-cita tercapai, atau mati sebagai pengecut.
Bukan percobaan atas harta benda dan nyawa saja, “Serta akan kamu dengar celaan yang banyak sekali dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu," yaitu orang Yahudi dan Nasrani. “Dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah," yaitu kaum musyrikin di seluruh tanah Arab yang berpusat di Mekah waktu itu.
Artinya, perjuangan ini tidak akan berhenti, sebab dia adalah pertempuran antara yang hak dan yang batil. Di samping pengorbanan harta dan nyawa, sebelum cita-cita tercapai, tetapi telinga akan selalu diganggu oleh ejekan, penghinaan, gangguan, dan celaan.
Malah satu antara gangguan itu ialah menyalahartikan maksud Al-Qur'anr sampai mengatakan Allah fakir dan mereka kaya. Dan banyak lagi yang lain. Semuanya ini percobaan. Lemahkah kamu?
“Tetapi jika kamu bersabar dan bertakwa, sesungguhnya yang demikian termasuk perkara yang paling penting."
(ujung ayat 186)
Bila telah masuk ke medan perjuangan hidup, percobaan pasti datang. Segala kesulitan pasti akan dapat diatasi. Orang bersenjata kita pun bersenjata, orang menyerang kita menangkis, dan sesekali kita pun menyerang. Akan tetapi, pertahanan batin tidak lain ialah sabar dan takwa. Sabar ialah pertahanan batin yang pertama; teguh, tabah. Jangan lekas kecewa tatkala terdesak dan jangan lekas lupa tatkala telah menang. Sabar itu harus dipupuk pula dengan takwa. Yaitu selalu memelihara hubungan dengan Allah dan selalu pula waspada menghadapi segala kemungkinan. Apabila sabar dan takwa telah berpilin jadi satu, itulah alat yang paling penting menghadapi segala kesulitan.
Inilah peringatan Allah kepada umat yang beriman pada zaman Rasulullah, sehingga mereka berhasil. Dan peringatan ini pulalah yang menjadi pegangan teguh bagi seluruh umat yang menerima waris Nabi sampai hari Kiamat Sehingga Islam itu terus hidup dan terus jaya. Sebab, selamanya harta dan nyawa selalu diminta dan gangguan dari luar Islam tidaklah pernah berhenti dan tidak akan berhenti. Hanya dengan sabar dan takwa serta berjalan terus! Hanya dengan itu semuanya dapat diatasi!
"Allah Warns the Idolators
Allah says;
لَّقَدْ سَمِعَ اللّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاء
Indeed, Allah has heard the statement of those (Jews) who say:""Truly, Allah is poor and we are rich!""
Sa`id bin Jubayr said that Ibn Abbas said,
""When Allah's statement,
مَّن ذَا الَّذِى يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً
Who is he that will lend to Allah a goodly loan so that He may multiply it to him many times (2:245) was revealed, the Jews said, `O Muhammad! Has your Lord become poor so that He asks His servants to give Him a loan?'
Allah sent down,
لَّقَدْ سَمِعَ اللّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاء
(Indeed, Allah has heard the statement of those (Jews) who say:""Truly, Allah is poor and we are rich!"")"" (3:181)
This Hadith was collected by Ibn Marduwyah and Ibn Abi Hatim.
Allah's statement,
سَنَكْتُبُ مَا قَالُواْ
We shall record what they have said,
contains a threat and a warning that Allah followed with His statement.
وَقَتْلَهُمُ الَانبِيَاء بِغَيْرِ حَقٍّ
and their killing of the Prophets unjustly,
This is what they say about Allah and this is how they treat His Messengers. Allah will punish them for these deeds in the worst manner.
وَنَقُولُ ذُوقُواْ عَذَابَ الْحَرِيقِ
ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللّهَ لَيْسَ بِظَلَّمٍ لِّلْعَبِيدِ
and We shall say:""Taste you the torment of the burning (Fire)."" This is because of that which your hands have sent before you. And certainly, Allah is never unjust to (His) servants.
They will be addressed like this as a way of chastising, criticism, disgrace and humiliation.
Allah said
الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ عَهِدَ إِلَيْنَا أَلاَّ نُوْمِنَ لِرَسُولٍ حَتَّىَ يَأْتِيَنَا بِقُرْبَانٍ تَأْكُلُهُ النَّارُ
Those (Jews) who said:""Verily, Allah has taken our promise not to believe in any Messenger unless he brings to us an offering which the fire (from heaven) shall devour.""
Ibn Abbas and Al-Hasan stated,
Allah refuted their claim that in their Books, Allah took a covenant from them to only believe in the Messenger whose miracles include fire coming down from the sky that consumes the charity offered by a member of the Messenger's nation.
Allah replied,
قُلْ قَدْ جَاءكُمْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِي بِالْبَيِّنَاتِ
Say:""Verily, there came to you Messengers before me, with Al-Bayinat...""
with proofs and evidence,
وَبِالَّذِي قُلْتُمْ
and even with what you speak of,
a fire that consumes the accepted charity, as you asked,
فَلِمَ قَتَلْتُمُوهُمْ
why then did you kill them!
Why did you meet these Prophets with denial, defiance, stubbornness and even murder!
إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
if you are truthful.
if you follow the truth and obey the Messengers.
Allah then comforts His Prophet Muhammad,
فَإِن كَذَّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ جَأوُوا بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَالْكِتَابِ الْمُنِيرِ
Then if they reject you, so were Messengers rejected before you, who came with Al-Baiyyinat and the Scripture, and the Book of Enlightenment.
meaning, do not be sad because they deny you, for you have an example in the Messengers who came before you. These Messengers were rejected although they brought clear proofs, plain evidence and unequivocal signs.
وَالزُّبُرِ
(and the Zubur), the divinely revealed Books that were sent down to the Messengers,
وَالْكِتَابِ الْمُنِيرِ
(and the Book of Enlightenment) meaning the clarification and best explanation.
Every Soul Shall Taste Death
Allah says;
كُلُّ نَفْسٍ ذَايِقَةُ الْمَوْتِ
Everyone shall taste death.
Allah issues a general and encompassing statement that every living soul shall taste death.
In another statement, Allah said,
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلْـلِ وَالاِكْرَامِ
Whatsoever is on it (the earth) will perish. And the Face of your Lord full of majesty and honor will remain forever. (55:26-27)
Therefore, Allah Alone is the Ever-Living Who never dies, while the Jinn, mankind and angels, including those who carry Allah's Throne, shall die. The Irresistible One and Only, will alone remain for ever and ever, remaining Last, as He was the First.
This Ayah comforts all creation, since every soul that exists on the earth shall die. When the term of this life comes to an end and the sons of Adam no longer have any new generations, and thus this world ends, Allah will command that the Day of Resurrection commence. Allah will then recompense the creation for their deeds, whether minor or major, many or few, big or small. Surely, Allah will not deal unjustly with anyone, even the weight of an atom, and this is why He said,
وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
And only on the Day of Resurrection shall you be paid your wages in full.
Who Shall Gain Ultimate Victory
Allah said,
فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
And whoever is moved away from the Fire and admitted to Paradise, he indeed is successful.
meaning, whoever is kept away from the Fire, saved from it and entered into Paradise, will have achieved the ultimate success.
Ibn Abi Hatim recorded that Abu Hurayrah said that the Messenger of Allah said,
مَوْضِعُ سَوْطٍ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا اقْرَأُوا إِنْ شِيْتُمْ
A place in Paradise as small as that which is occupied by a whip is better than the world and whatever is on its surface.
Read if you will,
فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
(And whoever is removed away from the Fire and admitted to Paradise, he indeed is successful).
This was collected in the Two Sahihs, but using another chain of narration and without the addition of Ayah.
Abu Hatim Ibn Hibban recorded it in his Sahih without the addition as did Al-Hakim in his Mustadrak.
Allah said,
وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
The life of this world is only the enjoyment of deception.
belittling the value of this life and degrading its importance. This life is short, little and finite, just as Allah said,
بَلْ تُوْثِرُونَ الْحَيَوةَ الدُّنْيَا
وَالاٌّخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
(Nay, you prefer the life of this world. Although the Hereafter is better and more lasting. (87:16-17)
and,
وَمَأ أُوتِيتُم مِّن شَىْءٍ فَمَتَـعُ الْحَيَوةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى
And whatever you have been given is an enjoyment of the life of (this) world and its adornment, and that (Hereafter) which is with Allah is better and will remain forever. (28:60)
A Hadith states,
وَاللهِ مَا الدُّنْيَا فِي الاْاخِرَةِ إِلاَّ كَمَا يَغْمِسُ أَحَدُكُمْ أُصْبُعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ إِلَيْه
By Allah! This life, compared to the Hereafter, is just as insignificant as when one of you dips his finger in the sea; let him contemplate what his finger will come back with.
Qatadah commented on Allah's statement,
وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
(The life of this world is only the enjoyment of deception).
""Life is a delight. By Allah, other than Whom there is no deity, it will soon fade away from its people. Therefore, take obedience to Allah from this delight, if you can. Verily, there is no power except from Allah.""
The Believer is Tested and Hears Grieving Statements from the Enemy
Allah said
لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ
You shall certainly be tried and tested in your wealth and properties and in yourselves,
just as He said in another Ayah,
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الاٌّمَوَالِ وَالاٌّنفُسِ وَالثَّمَرَتِ
And certainly, We shall test you with something of fear, hunger, loss of wealth, lives and fruits. (2:155)
Therefore, the believer shall be tested, in his wealth, himself, his offspring and family. The believer shall be tested according to the degree of his faith, and when his faith is stronger, the test is larger.
وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُواْ أَذًى كَثِيرًا
and you shall certainly hear much that will grieve you from those who received the Scripture before you (Jews and Christians) and from those who ascribe partners to Allah.
Allah said to the believers upon their arrival at Al-Madinah, before Badr, while comforting them against the harm they suffered from the People of the Scriptures and the polytheists;
وَإِن تَصْبِرُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الاُمُورِ
but if you persevere patiently, and have Taqwa, then verily, that will be a determining factor in all affairs.
Therefore, Allah commanded the believers to be forgiving, patient and forbearing until He brought His awaited aid.
Al-Bukhari recorded that Usamah bin Zayd said that;
Allah's Messenger rode a donkey with a saddle covered by a velvet sheet and let Usamah ride behind him (on the donkey). The Prophet wanted to visit Sa`d bin Ubadah in Bani Al-Harith bin Al-Khazraj, and this occurred before the battle of Badr.
The Prophet passed by a gathering in which Abdullah bin Ubayy bin Salul was sitting, before Abdullah bin Ubayy became Muslim. That gathering was made up of various Muslims as well as Mushriks, who worshipped the idols, and some Jews. Abdullah bin Rawahah was sitting in that gathering.
When the Prophet reached Abdullah bin Ubayy, the donkey caused some sand to fall on the group. Then, Abdullah bin Ubayy covered his nose with his robe and said, `Do not fill us with sand.'
The Messenger of Allah greeted the gathering with Salam, called them to Allah and recited some of the Qur'an to them.
Abdullah bin Ubayy said, `O fellow! No other speech is better than what you said, if it was true! However, do not bother us in our gatherings. Go back to your place and whoever came to you, narrate your stories to him.'
Abdullah bin Rawahah said, `Rather, O Messenger of Allah! Attend our gatherings for we like that.'
The Muslims, Mushriks and Jews then cursed each other, and they almost fought with each other. The Prophet tried to calm them down, until they finally settled.
The Prophet rode his donkey and went to Sa`d bin Ubadah, saying, `O Sa`d! Have you heard what Abu Hubbab said (meaning Abdullah bin Ubayy)? He said such and such things.'
Sa`d said, `O Messenger of Allah! Forgive and pardon him. By Allah, Who sent down the Book to you, Allah brought us the truth that you came with at a time when the people of this city almost appointed him king. When Allah changed all that with the truth that He gave you, he choked on it, and this is the reason behind the behavior you ﷺ from him.'
The Messenger of Allah forgave him. Indeed, the Messenger of Allah and his Companions used to forgive the Mushriks and the People of the Scriptures, just as Allah commanded them, and they used to tolerate the harm that they suffered.
Allah said,
وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُواْ أَذًى كَثِيرًا
and you shall certainly hear much that will grieve you from those who received the Scripture before you (Jews and Christians) and from those who ascribe partners to Allah;
and,
وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَـبِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِن بَعْدِ إِيمَـنِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُواْ وَاصْفَحُواْ حَتَّى يَأْتِىَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ
Many of the People of the Scripture (Jews and Christians) wish that they could turn you away as disbelievers after you have believed, out of envy from their own selves, even after the truth has become manifest unto them. But forgive and overlook, till Allah brings His command. (2:109)
The Prophet used to implement the pardon that Allah commanded him until He gave His command (to fight the disbelievers).
When the Messenger fought at Badr, and Allah killed, by his hand, the leaders of the disbelievers from Quraysh, Abdullah bin Ubayy bin Salul and the Mushriks and idol worshippers who were with him said, `This matter has prevailed,' and they gave their pledge to the Prophet and became Muslims.""
Therefore, every person who stands for truth, enjoins righteousness and forbids evil, will be harmed in some manner. In such cases, there is no cure better than being patient in Allah's cause, trusting in Him and returning to Him."
Every soul shall taste of death; you shall surely be paid in full your wages, the requital of your deeds, on the Day of Resurrection. Whoever is moved away, distanced, from the Hellfire and admitted to the Paradise, will have triumphed, he will have attained his ultimate wish. Living in, the life of this world is but the comfort of delusion; of inanity, enjoyed for a little while, then perishing.
Thoughts of the Hereafter heal all sorrows and remove all doubts
The sixth verse (185) puts a sharp focus on the ultimate reality of things in a situation when sometime somewhere disbelievers come to enjoy ascendency one way or the other and they have all the luxury they can think of in this world. Contrary to this, Muslims have to face some hardships, some difficulties and a certain paucity of worldly means. There is nothing surprising about it and certainly no occasion to be grieved, for no follower of a faith or philosophy can ignore the reality of life that sorrow and happiness in this world are both short-lived. No living creature can escape death. As for the comfort and discomfort experienced in this world, they vanish, more than often, right there with relevant changes in circumstances - or, just in case, no change takes place during the life of this world, it is certain that everything will end with the knock of death. Therefore, worrying about this short-lived cycle of comfort and discomfort should not become the chronic concern of a wise person. One should, rather, have concern for what would happen after death.
So, the verse (185) tells us that every living being shall taste death and once in the Hereafter, there shall come the reward and punishment of deeds which will be severe and long drawn as well. This is what a wise person should worry about and prepare for. Given this rule of conduct, one who stays away from Hell and finds entry into the Paradise is really the successful one. May be this happens at the very beginning as would be the case with the most righteous servants of Allah. Or, it may come to pass after having faced some punishment as would be the case with sinning Muslims. But, Muslims - all of them - will finally have their deliverance from Hell and the blessings of Paradise will become theirs for ever. This will be contrary to what happens to disbelievers - Hell will their eternal resting place. If they wax proud over their short-lived worldly gains, they are terribly deceived. That is why it was said at the end of the verse: 'And the worldly life is nothing but an asset, full of illusion.' Strange is the anatomy of this deception, for reckless material enjoyments here become the source of great hardships in the Hereafter and conversely, most of the hardships faced here become the treasure of the Hereafter.
People of Falsehood hurting people of Truth is a natural phenomena: Patience (Sabr) and piety (Taqwa) cure everything
The seventh verse (186) was revealed in the background of a particular event which has been briefly referred to a little earlier in verse (181). According to relevant details, when verse 245 of Surah al-Baqarah: مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّـهَ قَرْضًا حَسَنًا (who is the one who would give Allah a good loan) was revealed, it eloquently equated the giving of charities to the giving of loan to Allah thereby indicating that all givings in charity in the life of this world will be recompensed with a certainty like that of someone returning a loan taken. An ignorant or hostile Jew reacted by commenting in the following words: إِنَّ اللَّـهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ (Allah is poor and we are rich). Sayyidna Abu Bakr ؓ was angry at his effrontery and slapped him. The Jew complained to the Holy Prophet ﷺ . Thereupon, the verse لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ (Of course, you shall be tested in your wealth and yourselves) was revealed. This verse instructs Muslims that they should not show weakness when called to stake their wealth and life in the defence of their Faith or when they are hurt by the vituperations of the disbelievers, the polytheists and the people of the Book. All this is nothing but a trial for them. The best course for them is to observe restraint, be patient and keep to their real objective in life which is the achievement of the perfect state of Taqwa, (a state in which one fears Allah and remains answerable to Him all the time). In such a state Muslims should not worry about replying to the effrontery by antogonists.








