Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
لَّا
jangan
يَتَّخِذِ
mengambil/menjadikan
ٱلۡمُؤۡمِنُونَ
orang-orang mukmin
ٱلۡكَٰفِرِينَ
orang-orang kafir
أَوۡلِيَآءَ
pemimpin
مِن
dari
دُونِ
selain
ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ
orang-orang mukmin
وَمَن
dan barang siapa
يَفۡعَلۡ
ia berbuat
ذَٰلِكَ
demikian
فَلَيۡسَ
maka bukan/tidak ada
مِنَ
dari
ٱللَّهِ
Allah
فِي
dalam
شَيۡءٍ
sesuatu/sedikitpun
إِلَّآ
kecuali
أَن
bahwa
تَتَّقُواْ
kamu memelihara diri
مِنۡهُمۡ
dari mereka
تُقَىٰةٗۗ
suatu yang ditakuti
وَيُحَذِّرُكُمُ
dan memperingatkan kamu
ٱللَّهُ
Allah
نَفۡسَهُۥۗ
diriNya
وَإِلَى
dan kepada
ٱللَّهِ
Allah
ٱلۡمَصِيرُ
tempat kembali
لَّا
jangan
يَتَّخِذِ
mengambil/menjadikan
ٱلۡمُؤۡمِنُونَ
orang-orang mukmin
ٱلۡكَٰفِرِينَ
orang-orang kafir
أَوۡلِيَآءَ
pemimpin
مِن
dari
دُونِ
selain
ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ
orang-orang mukmin
وَمَن
dan barang siapa
يَفۡعَلۡ
ia berbuat
ذَٰلِكَ
demikian
فَلَيۡسَ
maka bukan/tidak ada
مِنَ
dari
ٱللَّهِ
Allah
فِي
dalam
شَيۡءٍ
sesuatu/sedikitpun
إِلَّآ
kecuali
أَن
bahwa
تَتَّقُواْ
kamu memelihara diri
مِنۡهُمۡ
dari mereka
تُقَىٰةٗۗ
suatu yang ditakuti
وَيُحَذِّرُكُمُ
dan memperingatkan kamu
ٱللَّهُ
Allah
نَفۡسَهُۥۗ
diriNya
وَإِلَى
dan kepada
ٱللَّهِ
Allah
ٱلۡمَصِيرُ
tempat kembali
Terjemahan
Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apa pun dari Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya dan hanya kepada Allah tempat kembali.
Tafsir
(Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin) yang akan mengendalikan mereka (dengan meninggalkan orang-orang beriman. Barang siapa melakukan demikian) artinya mengambil mereka sebagai pemimpin (maka tidaklah termasuk dalam) agama (Allah sedikit pun kecuali jika menjaga sesuatu yang kamu takuti dari mereka) maksudnya jika ada yang kamu takuti, kamu boleh berhubungan erat dengan mereka, tetapi hanya di mulut dan bukan di hati. Ini hanyalah sebelum kuatnya agama Islam dan berlaku di suatu negeri di mana mereka merupakan golongan minoritas (dan Allah memperingatkanmu terhadap diri-Nya) maksudnya kemarahan-Nya jika kamu mengambil mereka itu sebagai pemimpin (dan hanya kepada Allah tempat kamu kembali) hingga kamu akan beroleh balasan dari-Nya.
Tafsir Surat Ali-'Imran: 28
Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kalian terhadap diri (azab)-Nya. Dan hanya kepada Allah tempat kembali (kalian).
Ayat 28
Allah ﷻ melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin berpihak kepada orang-orang kafir dan menjadikan mereka teman yang setia dengan menyampaikan kepada mereka berita-berita rahasia karena kasih sayang kepada mereka dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Kemudian Allah ﷻ mengancam perbuatan tersebut melalui firman-Nya:
“Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.” (Ali Imran: 28).
Dengan kata lain, barang siapa yang melakukan hal tersebut yang dilarang oleh Allah, maka sesungguhnya ia telah melepaskan ikatan dirinya dengan Allah. Seperti yang disebutkan di dalam firman lainnya, yaitu:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian menjadi teman-teman setia yang kalian sampaikan kepada mereka kabar berita (tentang Muhammad) karena rasa kasih sayang. (Al-Mumtahanah: 1) sampai dengan firman-Nya: “Dan barang siapa di antara kalian yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (Al-Mumtahanah: 1)
Demikian pula dalam firman Allah ﷻ yang mengatakan: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah kalian mau mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian)?” (An-Nisa: 144)
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (pemimpin) kalian, sebagian dari mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (Al-Maidah: 51), hingga akhir ayat.
Dan Allah ﷻ berfirman sesudah menyebutkan masalah kasih sayang dan hubungan yang intim di antara orang-orang mukmin dari kalangan kaum Muhajirin, kaum Anshar, dan orang-orang Arab, yaitu: “Adapun orang-orang kafir, sebagian dari mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kalian (wahai kaum muslim) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (Al-Anfal: 73)
Adapun firman Allah ﷻ: “Kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (Ali Imran: 28) Dengan kata lain, kecuali bagi orang mukmin penduduk salah satu negeri atau berada di dalam waktu tertentu yang merasa khawatir akan kejahatan mereka (orang-orang kafir). Maka diperbolehkan baginya bersiasat untuk melindungi dirinya hanya dengan lahiriahnya saja, tidak dengan batin dan niat. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Darda yang mengatakan: “Sesungguhnya kami benar-benar tersenyum di hadapan banyak orang-orang musyrik (di masa lalu), sedangkan hati kami (para sahabat) melaknat mereka.”
Ats-Tsauri mengatakan bahwa sahabat Ibnu Abbas pernah mengatakan taqiyyah (tampak luar lain dengan dalam, sikap diplomasi) bukan dengan amal perbuatan, melainkan hanya dengan lisan saja. Hal yang sama diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, yaitu bahwa sesungguhnya taqiyyah itu hanya dilakukan dengan lisan.
Hal yang sama dikatakan oleh Abul Aliyah, Abusy Sya'sa, Adh-Dhahhak, dan Ar-Rabi' ibnu Anas. Pendapat mereka dikuatkan oleh firman Allah ﷻ yang mengatakan: “Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah); kecuali orang yang dipaksa kafir, padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (maka dia tidak berdosa).” (An-Nahl: 106), hingga akhir ayat. Imam Al-Bukhari mengatakan, Al-Hasan pernah berkata bahwa taqiyyah akan terus berlangsung sampai hari kiamat.
Kemudian Allah ﷻ berfirman: “Dan Allah memperingatkan kalian terhadap diri (azab)-Nya. (Ali Imran: 28)
Yakni Allah memperingatkan kalian terhadap pembalasan-Nya bila Dia ditentang dalam perintah-Nya, dan azab Allah akan menimpa orang yang memihak kepada musuh-Nya dan memusuhi kekasih-kekasih-Nya.
Firman Allah ﷻ: “Dan hanya kepada Allah tempat kembali (kalian).” (Ali Imran: 28)
Maksudnya, hanya kepada-Nyalah kalian dikembalikan, karena Dia akan membalas tiap-tiap diri sesuai dengan amal perbuatan yang telah dilakukannya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Suwaid ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Sa'id, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Khalid, dari Ibnu Abu Husain, dari Abdur Rahman ibnu Sabit, dari Maimun ibnu Mihran yang menceritakan, "Sahabat Mu'az pernah berdiri di antara kami, lalu ia mengatakan, 'Wahai Bani Aud, sesungguhnya aku adalah utusan Rasulullah kepada kalian. Kalian mengetahui bahwa tempat kembali hanyalah kepada Allah, yaitu ke surga atau ke neraka'.”
Setelah ayat sebelumnya menjelaskan kekuasaan Allah yang tak terbatas, yang salah satunya memberi rezeki tanpa perhitungan, maka ayat ini melarang kaum mukmin untuk menjadikan orang kafir sebagai wali. Janganlah orang-orang beriman dengan sebenar-benarnya menjadikan orang kafir, baik kafir secara akidah maupun orang yang bergelimang dalam kedurhakaan, sebagai wali, yaitu orang terdekat yang menjadi tempat menyimpan rahasia yang menyangkut kemaslahatan umum, melainkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat demikian, yaitu menjadikan orang kafir sebagai wali, niscaya dia tidak akan memperoleh perlindungan dan pertolongan apa pun dari Allah, kecuali apabila yang kamu lakukan itu karena untuk siasat menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka, terkait dengan keselamatan dirimu dan kaum muslim. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri, yakni siksa-Nya, dan hanya kepada Allah tempat kembali semua makhluk-Nya. Ayat ini mengingatkan agar tidak seorang pun bersembunyi di balik kata-kata bohongnya untuk mengambil keuntungan pribadi, sebab semua pasti akan terungkap. Katakanlah, wahai Nabi Muhammad, Jika kamu sembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu nyatakan, baik berupa ucapan maupun perbuatan, Allah pasti mengetahuinya dan akan membalasnya sesuai dengan apa yang dikatakan dan dilakukannya. Demikian, karena Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, sehingga dengan kekuasaan-Nya itu Allah mampu mengungkap rahasia hamba-Nya dan membalas segala perbuatannya dengan seadil-adilnya.
Kaum Muslimin dilarang menjadikan orang kafir sebagai kawan yang akrab, pemimpin atau penolong, karena yang demikian ini akan merugikan mereka sendiri baik dalam urusan agama maupun dalam kepentingan umat, apalagi jika dalam hal ini kepentingan orang kafir lebih didahulukan daripada kepentingan kaum Muslimin sendiri, hal itu akan membantu tersebarluasnya kekafiran. Ini sangat dilarang oleh agama.
Orang mukmin dilarang mengadakan hubungan akrab dengan orang-orang kafir, baik disebabkan oleh kekerabatan, kawan lama waktu zaman jahiliah, atau pun karena bertetangga. Larangan itu tidak lain hanyalah untuk menjaga dan memelihara kemaslahatan agama, serta agar kaum Muslimin tidak terganggu dalam usahanya untuk mencapai tujuan yang dikehendaki oleh agamanya.
Adapun bentuk-bentuk persahabatan dan persetujuan kerja sama, yang kiranya dapat menjamin kemaslahatan orang-orang Islam tidaklah terlarang. Nabi sendiri pernah mengadakan perjanjian persahabatan dengan Bani Khuza'ah sedang mereka itu masih dalam kemusyrikan.
Kemudian dinyatakan bahwa barang siapa menjadikan orang kafir sebagai penolongnya, dengan meninggalkan orang mukmin, dalam hal-hal yang memberi mudarat kepada agama, berarti dia telah melepaskan diri dari perwalian Allah, tidak taat kepada Allah dan tidak menolong agamanya. Ini berarti pula bahwa imannya kepada Allah telah terputus, dan dia telah termasuk golongan orang-orang kafir.
Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka?(al-Ma'idah/5: 51)
Orang mukmin boleh mengadakan hubungan akrab dengan orang kafir, dalam keadaan takut mendapat kemudaratan atau untuk memberikan kemanfaatan bagi Muslimin. Tidak terlarang bagi suatu pemerintahan Islam, untuk mengadakan perjanjian persahabatan dengan pemerintahan yarg bukan Islam; dengan maksud untuk menolak kemudaratan, atau untuk mendapatkan kemanfaatan. Kebolehan mengadakan persahabatan ini tidak khusus hanya dalam keadaan lemah saja tetapi boleh juga dalam sembarang waktu, sesuai dengan kaidah:
Menolak kerusakan lebih diutamakan daripada mendatangkan ke-maslahatan
Berdasarkan kaidah ini, para ulama membolehkan "taqiyah", yaitu mengatakan atau mengerjakan sesuatu yang berlawanan dengan kebenaran untuk menolak bencana dari musuh atau untuk keselamatan jiwa atau untuk memelihara kehormatan dan harta benda.
Maka barang siapa mengucapkan kata-kata kufur karena dipaksa, sedang hati (jiwanya) tetap beriman, karena untuk memelihara diri dari kebinasaan, maka dia tidak menjadi kafir. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh 'Ammar bin Yasir yang dipaksa oleh Quraisy untuk menjadi kafir, sedang hatinya tetap beriman. Allah berfirman:
Barang siapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar. (an-Nahl/16: 106)
Sebagaimana telah terjadi pada seorang sahabat yang terdesak ketika menjawab pertanyaan Musailamah, "Apakah engkau mengakui bahwa aku ini rasul Allah? Jawabnya, "Ya". Karena itu sahabat tadi dibiarkan dan tidak dibunuh. Kemudian seorang sahabat lainnya sewaktu ditanya dengan pertanyaan yang sama, ia menjawab, "Saya ini tuli" (tiga kali), maka sahabat tersebut ditangkap dan dibunuh. Setelah berita ini sampai kepada Rasulullah ﷺ beliau bersabda: "Orang yang telah dibunuh itu kembali kepada Allah dengan keyakinan dan kejujurannya, adapun yang lainnya, maka dia telah mempergunakan kelonggaran yang diberikan Allah, sebab itu tidak ada tuntutan atasnya".
Kelonggaran itu disebabkan keadaan darurat yang dihadapi, dan bukan menyangkut pokok-pokok agama yang harus selalu ditaati. Dalam hal ini diwajibkan bagi Muslim hijrah dari tempat ia tidak dapat menjalankan perintah agama dan terpaksa di tempat itu melakukan "taqiyyah". Adalah termasuk tanda kesempurnaan iman bila seseorang tidak merasa takut kepada cercaan di dalam menjalankan agama Allah. Allah berfirman:
..karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman? (Ali 'Imran/3: 175)
Allah berfirman:
.. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. ?. (al-Ma'idah/5: 44).
Termasuk dalam "taqiyah", berlaku baik, lemah lembut kepada orang kafir, orang zalim, orang fasik, dan memberi harta kepada mereka untuk menolak gangguan mereka. Hal ini bukan persahabatan akrab yang dilarang, melainkan cara itu sesuai dengan tuntunan peraturan:
"Suatu tindakan yang dapat memelihara kehormatan seorang mukmin, adalah termasuk sedekah". (Riwayat ath-thabrani).
Dalam hadis lain dari Aisyah r.a.:
Seseorang datang meminta izin menemui Rasulullah dan ketika itu aku berada di sampingnya. Lalu Rasulullah berkata, "(Dia adalah) seburuk-buruk warga kaum ini". Kemudian Rasulullah mengizinkannya untuk menghadap, lalu beliau berbicara dengan orang tersebut dengan ramah- tamah dan lemah-lembut. Rasulullah berkata, "Hai, 'Aisyah sesungguhnya di antara orang yang paling buruk adalah orang yang ditinggalkan oleh orang lain karena takut kepada kejahatannya." (Riwayat al-Bukhari)
Terhadap mereka yang melanggar larangan Allah di atas, Allah memperingatkan mereka dengan siksaan yang langsung dari sisi-Nya dan tidak ada seorang pun yang dapat menghalanginya. Akhirnya kepada Allah tempat kembali segala makhluk. Semua akan mendapatkan balasan sesuai dengan amal perbuatannya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Janganlah mengambil orang-orang yang Mukminin akan orang-orang kafir jadi pemimpin, lebih daripada orang-orang yang beriman."
(pangkal ayat 28)
Di sini terdapat perkataan aulia. Dahulu pun pernah kita uraikan arti kata wali. Dan, berarti pemimpin atau pengurus atau teman karib, ataupun sahabat ataupun pelindung.
Di surah al-Baqarah ayat 256 kita telah diberikan pegangan bahwasanya wali yang sejati, artinya pemimpin, pelindung, dan pengurus orang yang beriman hanya Allah. Di ayat itu Allah memberikan jaminannya sebagai wali bahwa orang yang beriman akan dikeluarkan dari gelap kepada terang. Dan, di dalam ayat itu juga diterangkan bahwa wali orang yang kafir adalah thaghut dan thaghut itu akan mengeluarkan mereka dari terang kepada gelap. Kemudian di dalam ayat yang lain kita telah bertemu pula dengan keterangan bahwasanya orang beriman sesama beriman yang sebagian menjadi wali dari yang lain, sokong-menyokong, bantu-membantu, sehingga arti wali di sini ialah persahabatan. Maka, di dalam ayat yang tengah kita bicarakan ini, diberikanlah peringatan kepada orang yang beriman agar mereka jangan mengambil orang kafir menjadi wali. Jangan orang yang tidak percaya kepada Allah dijadikan wali sebagai pemimpin atau wali sebagai sahabat. Karena, akibatnya kelak akan terasa, karena akan dibawanya ke dalam suasana thaghut. Kalau dia pemimpin atau pengurus, sebab dia kufur, kamu akan dibawanya menyembah thaghut. Kalau mereka kamu jadikan sahabat, kamu akan diajaknya kepada jalan sesat, menyuruh berbuat jahat, mencegah berbuat baik.
Menurut riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim bahwa Ibnu Abbas berkata, “Al-Hajjaj bin Amr mengikat janji setia kawan dengan Ka'ab bin al-Asyraf (pemuka Yahudi yang terkenal penafsir), Ibnu Abi Haqiq, dan Qais bin Zaid. Ketiga orang ini telah bermaksud jahat hendak mengganggu kaum Anshar itu lalu ditegur oleh Rifa'ah bin al-Mundzir, Abdullah bin jubair, dan Sa'ad bin Khatamah supaya mereka menjauhi orang-orang Yahudi yang tersebut itu. Hendaklah mereka berawas diri dalam perhubungan dengan mereka, supaya agama mereka jangan difitnah oleh orang-orang Yahudi itu. Akan tetapi, orang-orang yang diberi peringatan itu tidak memedulikannya." Inilah kata Ibnu Abbas yang menjadi sebab turunnya ayat ini.
Ada lagi suatu riwayat lain yang dikeluarkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim dari beberapa jalan riwayat bahwasanya tafsir ayat ini ialah bahwa Allah melarang orang-orang yang beriman bersikap lemah lembut terhadap orang kafir dan mengambil mereka jadi teman akrab melebihi sesama orang beriman kecuali kalau orang-orang kafir itu lebih kuat daripada mereka. Kalau demikian, tidaklah mengapa memperlihatkan sikap lunak, tetapi hendaklah tetap diperlihatkan perbedaan di antara agama orang yang beriman dan agama mereka.
“Dan barangsiapa yang berbuat demikian itu maka tidaklah ada dari Aiiah sesuatu jua pun." Tegasnya, dengan sebab mengambil wali kepada kafir, baik pimpinan atau persahabatan, niscaya lepaslah dari perwalian Allah, putus dari pimpinan Allah maka celakalah yang akan mengancam."Kecuali bahwa kamu berawas diri dari mereka itu sebenar awas,"
Beratus-ratus tahun lamanya negeri-negeri Islam banyak yang dijajah oleh pemerintahan yang bukan Islam karena terpaksa, karena tergagah, karena senjata untuk melawan dan kekuatan untuk bertahan tidak ada lagi. Maka, tetaplah larangan pertama, yaitu tidak menukar wali dari Allah kepada mereka. Kalau ini tidak dapat dinyatakan keluar, hendaklah disimpan terus di dalam hati dan hendaklah selalu awas sebenar-benar awas, supaya dengan segala daya upaya bahaya mereka itu untuk membelokkan dari Allah kepada thaghut dapat ditangkis. Pendeknya, sampai kepada saat terakhir wajib melawan walaupun dalam hati.
“Dan Allah memperingatkan kamu benar-benar akan diri-Nya" Di sambungan ayat ini Allah Ta'aala memberi peringatan dengan keras bahwa di dalam urusan ini, khusus dalam taqiyah, janganlah dipandang enteng. Jangan sampai sikap taqiyah itu dijadikan tempat lari untuk melepaskan diri dari tanggung jawab menghadapi lawan. Hendaklah awas dan jangan sekali-kali lupa bahwa diri Allah Ta'aala senantiasa ada, senantiasa mengawasi, dan menilik sepak terjang yang kamu lakukan. Karena, kalau taqiyah itu akan membawa agama Allah jadi lemah, bukanlah dia taqiyah lagi, melainkan beralih menjadi sikap pengecut. Itu sebabnya, ujung ayat lebih menjelaskan pula bahwa baik di waktu kamu sedang kuat lalu menolak kerja sama dengan musuh yang akan melemahkan agamamu atau sedang lemah sehingga terpaksa kamu mengambil sikap taqiyah, tetapi ingatlah,
“Dan kepada Allah-lah tujuan kamu."
(ujung ayat 28)
Akhir ayat ini mengingatkan kita akan perumpamaan hidup kita yang tengah berlayar di tengah lautan besar, menaiki sebuah bahtera. Tujuan bahtera hidup beragama ialah Allah.
“Katakanlah, ‘Jika kamu sembunyikan apa yang ada dalam dada kamu ataupun kamu tampakkannya, tetapi Allah mengetahuinya juga. Dan Dia pun mengetahui apa yang ada di semua langit dan apa yang di bumi."
(pangkal ayat 29)
Ayat ini adalah pengikat jiwa yang halus sekali bagi orang-orang yang beriman. Dia adalah sebagai sambungan dari Allah yang memperingatkan tentang diri-Nya tadi. Mereka pada pokoknya dilarang keras lebih mementingkan pimpinan orang kafir dan mengangkat mereka jadi wali sehingga melebihkan pandangan kepada mereka daripada memandang sesama Mukmin. Cuma di saat yang terpaksa dan menilai keadaan, baru boleh me-lakukan taqiyah.
“Dan Allah atas tiap-tiap sesuatu Mahakuasa."
(ujung ayat 29)
Hanya orang Mukmin yang dapat merasai hal yang seperti ini. Betapa kekuasaan Allah atas isi dada manusia serta betapa kekuasaan Allah atas seluruh langit dan bumi. Kadang-kadang kita bertemu dengan kemenangan, padahal menurut perhitungan kita belum tampak pintunya. Kadang-kadang kita merasa bahwa rencana kita akan berjalan menurut yang kita gariskan. Tiba-tiba datang saja kejadian lain yang tidak pula kita sangka-sangka sehingga rencana Allah jualah yang berjalan. Oleh sebab itu, baik di waktu susah maupun di waktu senang, sekali-kali janganlah lupa memperhitungkan Mahakuasanya Allah.
“(ingatlah) akan mati yang tiap-tiap orang akan menerima ganjaran amal baik yang telah tersedia."
(pangkal ayat 30)
Di sini diberikan ketegasan dan jaminan bagi setiap orang yang beramal baik bahwa ganjarannya akan diterimanya kontan, telah tersedia di hadapan matanya. Akan mengobati hatinya yang sudah gundah dan akan menghilangkan segala kepenatan serta akan menghabiskan segala kecewa."Dan amalan-amalan yang buruk pun!' Artinya, amalan yang buruk pun akan menerima ganjaran yang telah tersedia pula, sebagai akibat dari perbuatannya sendiri, sehingga, “Inginlah dia (kiranya) di antara balasan amal buruknya itu dengan dirinya di antarai oleh masa yang jauh!'
Tegasnya, baik dan buruk (amalan) akan menerima ganjaran Allah dengan kontan serta tersedia nyata di hadapan mata (muh-dharan). Orang yang berbuat baik tentu akan merasai gembira yang sangat tinggi dan rasa bahagia yang tiada taranya ketika berhadapan langsung dengan balasan amalnya. Akan tetapi, bagaimana orang yang beramal buruk? Dia pun akan menerima ganjaran kontan pula, hadir pula di hadapan matanya. Niscaya perasaan di waktu itu akan lain. Niscaya kalau hal itu dapat dielakkan, akan dia elakkan atau dia minta supaya diperlambat, diundur-undur. Dia takut menghadapi kenyataan sehingga dia mengharap supaya di antara dia dan ganjaran amalnya itu diadakan jarak yang jauh. Dia pasti kalah dan dia tahu itu. Akan tetapi, dia minta supaya kekalahan itu diundurkan. Akan tetapi, benarlah apa yang dikatakan oleh seorang pujangga, “Hidup ialah menunda kekalahan."
Sebab itu, Allah memperingatkan lagi sebagaimana telah diperingatkan-Nya di ayat yang di atas tadi, “Dan Allah memperingatkan kamu benar-benar akan diri-Nya!' Sebab itu, janganlah kamu abaikan tugas hidupmu. Pilih-lah sendiri jalan yang benar dan jauhilah yang salah, jujurlah terhadap Allah sebab Dia ada dan Dia mengawasi kamu. Ingatlah itu benar-benar dan awaslah.
“Dan Allah amatlah sayang kepada hamba-hamba-Nya."
(ujung ayat 30)
Dengan peringatan hati-hati dan awas yang agak keras di atas semuanya tadi, terasalah bahwa masing-masing kita yang mengakui dirinya hamba Allah, tidak pernah lepas dari tilikan Allah. Maka, kita pun berhati-hatilah, baik dalam isi dada yang dirahasiakan maupun dalam sikap hidup yang ditampakkan. Akan tetapi, di dalam kehati-hatian itu kita pun insaf bahwa kita ini manusia, ada saja kelemahan kita masing-masing. Lautan ini amat luas, di mana akan berlabuh belum tahu. Sedang berjalan menuju tujuan yang dituju itu, entah putus nyawa di tengah jalan, entah mati jauh karena kehausan. Kadang-kadang terasa betapa banyak halangan yang wajib dilalui, banyak duri dan onak.
Semuanya itu diketahui oleh Allah. Oleh sebab itu, di samping kerasnya peringatan yang Dia berikan, Dia pun tetap sayang dan belas kasihan akan semua hamba-Nya yang memang membina tujuan hidupnya mencapai ridha Allah. Oleh sebab itu, jika dalam perjalanan sulit itu, sekali-sekali bertemu dengan luluk dan lumpur yang mengotori baju, lekaslah bersihkan. Dan, membersihkan batin dari daki-daki kedosaan ialah dengan bertobat dan beristighfar.
"Encouraging Gratitude
Allah said,
قُلِ
Say,
O Muhammad, while praising your Lord, thanking Him, relying in all matters upon Him and trusting in Him.
اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ
O Allah! Possessor of the power,
meaning, all sovereignty is Yours.
تُوْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء
You give power to whom You will, and You take power from whom You will, and You endue with honor whom You will, and You humiliate whom You will.
meaning, You are the Giver, You are the Taker, it is Your will that occurs and whatever You do not will, does not occur.
This Ayah encourages thanking Allah for the favors He granted His Messenger and his Ummah. Allah transferred the Prophethood from the Children of Israel to the Arab, Qurashi, Makkan, unlettered Prophet, the Final and Last of all Prophets and the Messenger of Allah to all mankind and Jinn.
Allah endowed the Prophet with the best of qualities from the prophets before him. Allah also granted him extra qualities that no other Prophet or Messenger before him was endowed with, such as granting him (more) knowledge of Allah and His Law, knowledge of more of the matters of the past and the future, such as what will occur in the Hereafter.
Allah allowed Muhammad's Ummah to reach the eastern and western parts of the world and gave dominance to his religion and Law over all other religions and laws. May Allah's peace and blessings be on the Prophet until the Day of Judgment, and as long as the day and night succeed each other.
This is why Allah said,
قُلِ
اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ
(Say:""O Allah! Possessor of the power""),
meaning, You decide what You will concerning Your creation and You do what you will.
Allah refutes those who thought that they could decide for Allah,
وَقَالُواْ لَوْلَا نُزِّلَ هَـذَا الْقُرْءَانُ عَلَى رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ
And they say:""Why is not this Qur'an sent down to some great man of the two towns (Makkah and Ta'if)!"" (43:31)
Allah refuted them by saying,
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ
Is it they who would portion out the Mercy of your Lord! (43:32),
meaning, ""We decide for Our creation what We will, without resistance or hindrance by anyone. We have the perfect wisdom and the unequivocal proof in all of this, and We give the Prophethood to whom We will.""
Similarly, Allah said,
اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ
Allah knows best with whom to place His Message.
and,
انظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ
See how We prefer one above another (in this world). (17:21)
بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
In Your Hand is the good. Verily, You are able to do all things.
Allah said
تُولِجُ اللَّيْلَ فِي الْنَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ
You make the night enter into the day, and You make the day enter into the night,
meaning, You take from the length of one of them and add it to the shortness of the other, so that they become equal, and take from the length of one of them and add it to the other so that they are not equal. This occurs throughout the seasons of the year:spring, summer, fall and winter.
Allah's statement,
وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الَمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ
You bring the living out of the dead, and You bring the dead out of the living.
means, You bring out the seed from the plant and the plant from the seed; the date from its seed and the date's seed from the date; the faithful from the disbeliever and the disbeliever from the faithful; the chicken from the egg and the egg from the chicken, etc.
وَتَرْزُقُ مَن تَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ
And You give wealth and sustenance to whom You will, without limit.
meaning, You give whomever You will innumerable amounts of wealth while depriving others from it, out of wisdom, and justice.
The Prohibition of Supporting the Disbelievers
Allah says;
لااَّ يَتَّخِذِ الْمُوْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُوْنِ الْمُوْمِنِينَ
Let not the believers take the disbelievers as friends instead of the believers,
Allah prohibited His believing servants from becoming supporters of the disbelievers, or to take them as comrades with whom they develop friendships, rather than the believers.
Allah warned against such behavior when He said,
وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ
And whoever does that, will never be helped by Allah in any way,
meaning, whoever commits this act that Allah has prohibited, then Allah will discard him.
Similarly, Allah said,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ امَنُوا لَاا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء
تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ
O you who believe! Take not My enemies and your enemies as friends, showing affection towards them, until,
وَمَن يَفْعَلْهُ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاء السَّبِيلِ
And whosoever of you does that, then indeed he has gone astray from the straight path. (60:1)
Allah said,
يَـأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ الْكَـفِرِينَ أَوْلِيَأءَ مِن دُونِ الْمُوْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُواْ للَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً مُّبِيناً
O you who believe! Take not for friends disbelievers instead of believers. Do you wish to offer Allah a manifest proof against yourselves! (4:144)
and,
يَـأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَـرَى أَوْلِيَأءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَأءُ بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ
O you who believe! Take not the Jews and the Christians as friends, they are but friends of each other. And whoever befriends them, then surely, he is one of them. (5:51)
Allah said, after mentioning the fact that the faithful believers gave their support to the faithful believers among the Muhajirin, Ansar and Bedouins,
وَالَّذينَ كَفَرُواْ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَأءُ بَعْضٍ إِلاَّ تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الاٌّرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
And those who disbelieve are allies of one another, (and) if you do not behave the same, there will be Fitnah and oppression on the earth, and a great mischief and corruption. (8:73)
Allah said next,
إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً
unless you indeed fear a danger from them,
meaning, except those believers who in some areas or times fear for their safety from the disbelievers.
In this case, such believers are allowed to show friendship to the disbelievers outwardly, but never inwardly.
For instance, Al-Bukhari recorded that Abu Ad-Darda' said,
""We smile in the face of some people although our hearts curse them.""
Al-Bukhari said that Al-Hasan said,
""The Tuqyah is allowed until the Day of Resurrection.""
Allah said,
وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ
And Allah warns you against Himself.
meaning, He warns you against His anger and the severe torment He prepared for those who give their support to His enemies, and those who have enmity with His friends.
وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ
And to Allah is the final return.
meaning, the return is to Him and He will reward or punish each person according to their deeds.
Allah Knows What the Hearts Conceal
Allah says;
قُلْ إِن تُخْفُواْ مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الارْضِ
Say:""Whether you hide what is in your breasts or reveal it, Allah knows it, and He knows what is in the heavens and what is in the earth.
Allah tells His servants that He knows the secrets and apparent matters and that nothing concerning them escapes His observation. Rather, His knowledge encompasses them in all conditions, time frames, days and instances. His knowledge encompasses all that is in heaven and earth, and nothing not even the weight of an atom, or what is smaller than that in the earth, seas and mountains, escapes His observation.
Indeed,
وَاللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
And Allah is able to do all things.
and His ability encompasses everything.
This Ayah alerts Allah's servants that they should fear Him enough to not commit what He prohibits and dislikes, for He has perfect knowledge in all they do and is able to punish them promptly. And He gives respite to some of them, then He punishes them, and He is Swift and Mighty in taking account.
This is why Allah said afterwardsيَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا
On the Day when every person will be confronted with all the good he has done,
meaning, on the Day of Resurrection, Allah brings the good and evil deeds before the servant, just as He said,
يُنَبَّأُ الاِنسَـنُ يَوْمَيِذِ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ
On that Day man will be informed of what he sent forward, and what he left behind. (75:13)
When the servant sees his good deeds, he becomes happy and delighted. When he sees the evil deeds he committed, he becomes sad and angry. Then he will wish that he could disown his evil work and that a long distance separated it from him. He will also say to the devil who used to accompany him in this life, and who used to encourage him to do evil;
يلَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِيْسَ الْقَرِينُ
""Would that between me and you were the distance of the two easts ـ a horrible companion (indeed)! (43:38)
وَمَا عَمِلَتْ مِن سُوَءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا
and all the evil he has done, he will wish that there were a great distance between him and his evil.
Allah then said, while threatening and warning,
وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ
And Allah warns you against Himself,
meaning, He warns you against His punishment.
Allah then said, while bringing hope to His servants, so that they do not despair from His mercy or feel hopeless of His kindness,
وَاللّهُ رَوُوفُ بِالْعِبَادِ
And Allah is full of kindness with the servants.
Al-Hasan Al-Basri said,
""Allah is so kind with them that He warns them against Himself."" Others commented, ""He is merciful with His creation and likes for them to remain on His straight path and chosen religion, and to follow His honorable Messenger."
Let not the believers take the disbelievers as patrons, rather than, that is, instead of, the believers - for whoever does that, that is, [whoever] takes them as patrons, does not belong to, the religion of, God in anyway - unless you protect yourselves against them, as a safeguard (tuqaatan, 'as a safeguard', is the verbal noun from taqiyyatan), that is to say, [unless] you fear something, in which case you may show patronage to them through words, but not in your hearts: this was before the hegemony of Islam and [the dispensation] applies to any individual residing in a land with no say in it. God warns you, He instills fear in you, of His Self, [warning] that He may be wrathful with you if you take them as patrons; and to God is the journey's end, the return, and He will requite you.
Commentary
In these verses, Muslims have been instructed not to take disbelievers as their friends. Those who act against this instruction have been sternly warned: Those who take them as friends will find that their bond of love and friendship with Allah has been cut off. Any emotionally involved friendship that comes from the heart is absolutely forbidden (Haram). However, a formal friendship at the level of mutual dealings is, no doubt, permissible; but, that too is not favoured if unnecessary.
Verses dealing with this subject have appeared at many places in the Holy Qur'an with varying shades of meaning. It was said in Surah al-Mumtahinah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ
0. those who believe, do not take My enemy and your enemy as friends having love for them. (60:1)
Then, towards the end it was said:
وَمَن يَفْعَلْهُ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ
And whoever from among you does this he has gone astray from the right path. (60:1)
Elsewhere it was said:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ﴿المائدة : 51﴾
0 those who believe, do not take Jews or Christians as friends (for) they are friends among themselves. And whoever has friendship with them, he is one of them. (5:51)
And it appears in Surah al-Mujadalah:
لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
You shall not find those who believe in Allah and in the Here-after having friendship with those who have enmity with Allah and His messenger, even though they may be their fathers or sons or brothers or members of their tribe. (58:22)
Relations with disbelievers
In verses cited above and in many other verses of the Holy Qur'an, Muslims have been strongly prevented from 'Muamlat' with non-Muslims, that is, from indulging in relations based on love and friendship. Looking at these clear instructions, non-Muslims who are not aware of the true intention and application of this rule start thinking that the religion of Muslims does not seem to have any place for toleration or bilateral relations or even common courtesy.
On the other hand, there are a large number of verses from the Holy Qur'an, the words and acts of the noble Prophet ﷺ ، the practice of the rightly -guided Khulafa' and other revered Companions, which bring to light injunctions and actual modes of dealing with non-Muslims by way of favour, compassion, generosity, sympathy and concern, which has little or no parallel in world history. A superficial look on these different attitudes may sense a sort of contradiction therein. But, this feeling is a result of only a cursory study of the true teachings of the Qur'an. If we collect all verses of the Qur'an, relating to this subject which appear at several different places and study them all together, we shall find nothing which could bother non-Muslims nor shall there remain any doubt of contradiction in the text of the Qur'an and Hadith. With this need in view, given below is a full explanation of this point which will, hopefully, bring forth the distinction between various shades of friendship and the reality behind each of them. In addition to this, we shall also get to know what levels of friendship are permissible or impermissible and also the reasons why a certain level has been disallowed.
The truth of the matter is that there are different degrees or steps or levels in relations between two persons or groups. The first degree of such relations comes from the heart, that of affection and love involving intense emotional commitment. This is called Muwalat or close friendship. This sort of friendship is restricted to true Muslims. A Muslim is not permitted to have this kind of relationship with a non-Muslim.
The second degree is that of Muwasat, which means relationship based on sympathy, kindness and concern. It includes charitable help and support, condolence and consolation and any well-meaning attitude of wishing well. Barring disbelievers who are at war with Muslims, this kind of relationship is permissible with all other non-Muslims. A detailed explanation of this approach has appeared in Surah al-Mumtahinnah (60:8)
لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّـهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ
Allah does not forbid you from treating those who do not fight you on your faith, nor have they driven you out of your homes, with benevolence and equity.
The third degree is that of Mudarat which means relations based on customary cordiality, adequacy in courtesy, pleasant and friendly behaviour, and mannerly politeness. This too is permissible with all non-Muslims, especially so, when the objective is to present them with some beneficial aspect of the Faith, or when they are guests, or the purpose is to stay safe from any possible harm coming through them. The words, إِلَّا أَن تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً ( (unless you guard yourselves against an apprehension from them) appearing in this verse mean this degree of Mudarat which, in other words, means that Muwalat or friendship with disbelievers is not permissible except when you are in a situation where you want to defend yourself against them. Since Mudarat or sympathetic relations somewhat resemble Muwalat or friendship, it was exempted from the category of Muwalat. (Bayan al-Qur'n)
The fourth degree is that of Mu` amalat or dealings. It means dealings and transactions in business or employment or wages or industry or technology. These too are permissible with non-Muslims, except when such dealings harm the general body of Muslims. The continued practice of the Holy Prophet ﷺ the rightly-guided Khulafa' and other Companions prove it so. It is on this basis that Muslim jurists have prohibited the sale of arms to disbelievers who are at war with Muslims. However, trade and activities allied to it have been permitted. Also allowed is having them as employees or being employed in their plants and institutions.
To sum up, as for the four degrees of relations with non-Muslims, we now know that friendship which binds a Muslim in very close ties with non-Muslims is not permissible under any condition. Relations based on benevolence, humane interest and concern are permitted with all but the belligerent ones. Similarly, politeness and friendly treatment is also permissible when the purpose is to entertain a guest, convey Islamic teachings to non-Muslims or to stay safe against being hurt or harmed by them.
Now, let us look at what our noble Prophet ﷺ ، who graced this world as the universal mercy, did for non-Muslims. He demonstrated such compassion, generosity and politeness while dealing with them that it would be difficult to find its example in the world history. When Makkah was in the grip of famine, he personally went out to help his enemies who had made him leave his home town. Then, came the conquest of Makkah. All these enemies fell under his power and control. He set all of them free saying: لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ which means - Not only that you are being given amnesty this day, we are not censuring you at all for your past tyranny against us either.' When non-Muslim prisoners of war were presented before him, he treated them with such tenderness which many cannot claim to have done even in respect of their children. The disbelievers inflicted on him all sorts of injuries and pain but he never raised his hand in revenge. ` He did not even wish ill of them. A delegation from the tribe of Bano Thaqif who had not embraced Islam upto that time came to visit him. They were given the honour of staying in the Mosque of the Prophet ﷺ ، a place regarded by Muslims as most honourable.
Sayyidna ` Umar ؓ gave stipends and allowances to needy non-Muslim dhimmis ذِمِّی ، an elegant conduct the examples of which are spread all over in the accounts of dealings credited to the rightly -guided Khulafa' and the noble Companions. Let us bear in mind that all these were in one or the other form of Mu` wasat (concern) or Mudarat (cordiality) or Mu'amalat (dealings). It had nothing to do with Muwalat or close and intimate friendship which had been forbidden.
The aforesaid explanations clarify two things: firstly, Islam teaches its adherents all possible tolerance, decency and benevolence while dealing with non-Muslims; secondly, the superficial contradiction sensed with regard to the verse forbidding friendship with non-Muslims stands removed.
However, there is a possible question which still remains unanswered. The question is: °Why has the Qur'an chosen to so strongly block close friendship with disbelievers, so much so that it has not al-lowed it in favour of any disbeliever under any condition? at is the wisdom behind it? One of the reasons, a particular one, is that Islam does not see man existing in this world like common animals or jungle trees and blades of grass which sprout, grow, flourish and die and that is the end of it. Instead of that, man’ s life in this world is a purposeful life. All stages and phases of his life, that is, his eating, drinking, standing, sitting, sleeping, waking, even his living and dying, all revolve around a central purpose. As long as what he does conforms to this purpose, all he does is correct and sound. If these are against that purpose, then, they are all wrong. The poet-sage Rumi said it so well:
زندگی از بہر ذکر و بندگی است
بے عبادت زندگی شرمندگی است
The purpose of life is to remember the Creator and serve Him well Life without that devotion is nothing but shame
In his view and in the view of all right-minded people, when man abandons this purpose, he does not remain the human being he was created to be:
آنچہ می بینی خلافِ آدم اند
نیستند آدم غلافِ آدم اند
What you see is a crowd of anti-men
They are not men, they are just the shell of men
The Holy Qur'an has made human beings declare this purpose as their solemn creed in the following words:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّـهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿162﴾
(My prayer and my sacrifice and my life and my death are all for Allah, the Lord of the Worlds." (6:162)
Now, when it stands established that the purpose of man's life is to obey and worship Allah, the Lord of the worlds, everything else including all affairs of life in this world -- business, government, politics, personal and social relations -- must invariably follow this purpose. It follows, therefore, that those who are against this purpose are the worst enemies of man. Since Satan is the foremost in this enmity, the Holy Qur'an says: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا (Surely, Satan is your enemy, so take him as enemy. 35:6).
Thus, those who follow the alluring dictates of the Satan and op-pose the injunctions of Allah brought by the blessed prophets ﷺ can hardly be the kind of people to deserve deep love and friendship based on close ties and any degree of intimacy. It is just not possible for a person who has a definite purpose in life, and who has all his friendships and enmities, agreements and disagreements subservient to this central purpose, to do something like this. The same subject has been stated in a hadith from al-Bukhari and Muslim in which the Holy Prophet ﷺ has been reported to have said: من احَبَّ للہ وابغضَ للہ فقدِ استکملَ (Whoever loves for the sake of Allah-and hates for the sake of Allah alone, has perfected his faith) (Bukhari and Muslim). From here we know that ایمان ‘Iman or faith remains incomplete unless man subordinates his love and friendship and his hatred and enmity to Allah Almighty. Therefore, any deep emotional commitment by a true Muslim in the known forms of love and friendship has to be exclusively for one who is with him all the way in the pursuit of this noble purpose and certainly obedient to what his Lord has commanded him to do. This is why the Holy Qur'an has, in verses cited at the beginning of the commentary, said that the one who maintains relations based on deep love and friendship with disbelievers is one of them.
The last verse (30) says that 'Allah warns you of Himself lest you should indulge in friendship with disbelievers for the sake of fleeting interests and objectives and thus invite the anger of Allah. And since close friendship (Muwalat) relates to the heart and the affairs of the heart are known to none but Allah, it is possible that a person may actually be intensely in love for and friendship with disbelievers, but may deny it verbally. Therefore, the earlier verse (29) has already covered it by saying: "whether you conceal what is in your hearts, or disclose it, Allah shall know it." No denial or false claim is tenable before Him.








