Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
قُلِ
katakanlah
ٱللَّهُمَّ
ya Tuhan
مَٰلِكَ
yang merajai/mempunyai
ٱلۡمُلۡكِ
kerajaan
تُؤۡتِي
Engkau beri
ٱلۡمُلۡكَ
kerajaan
مَن
orang
تَشَآءُ
Engkau kehendaki
وَتَنزِعُ
dan Engkau cabut
ٱلۡمُلۡكَ
kerajaan
مِمَّن
dari orang
تَشَآءُ
Engkau kehendaki
وَتُعِزُّ
dan Engkau muliakan
مَن
orang
تَشَآءُ
Engkau kehendaki
وَتُذِلُّ
dan Engkau hinakan
مَن
orang
تَشَآءُۖ
Engkau kehendaki
بِيَدِكَ
dengan tangan Engkau
ٱلۡخَيۡرُۖ
kebaikan
إِنَّكَ
sesungguhnya Engkau
عَلَىٰ
atas
كُلِّ
segala
شَيۡءٖ
sesuatu
قَدِيرٞ
Maha Kuasa
قُلِ
katakanlah
ٱللَّهُمَّ
ya Tuhan
مَٰلِكَ
yang merajai/mempunyai
ٱلۡمُلۡكِ
kerajaan
تُؤۡتِي
Engkau beri
ٱلۡمُلۡكَ
kerajaan
مَن
orang
تَشَآءُ
Engkau kehendaki
وَتَنزِعُ
dan Engkau cabut
ٱلۡمُلۡكَ
kerajaan
مِمَّن
dari orang
تَشَآءُ
Engkau kehendaki
وَتُعِزُّ
dan Engkau muliakan
مَن
orang
تَشَآءُ
Engkau kehendaki
وَتُذِلُّ
dan Engkau hinakan
مَن
orang
تَشَآءُۖ
Engkau kehendaki
بِيَدِكَ
dengan tangan Engkau
ٱلۡخَيۡرُۖ
kebaikan
إِنَّكَ
sesungguhnya Engkau
عَلَىٰ
atas
كُلِّ
segala
شَيۡءٖ
sesuatu
قَدِيرٞ
Maha Kuasa
Terjemahan
Katakanlah (Muhammad), "Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kapada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu lah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Tafsir
(Katakanlah, "Wahai Tuhan) atau ya Allah (yang mempunyai kerajaan! Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki) di antara makhluk-makhluk-Mu (dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki) dengan memberinya kemuliaan itu (dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki) dengan mencabut darinya. (Di tangan-Mulah segala kebaikan) demikian pula segala kejahatan; artinya dalam kekuasaan-Mulah semua itu. (Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.).
Tafsir Surat Ali-'Imran: 26-27
Katakanlah (Muhammad), "Wahai Tuhan Yang mempunyai kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Engkau masukkan malam ke dalam siang, dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan."
Ayat 26
Allah ﷻ berfirman: “Katakanlah!” (Ali Imran: 26) wahai Muhammad dengan mengagungkan Tuhanmu, bersyukur kepada-Nya, berserah diri kepada-Nya, dan bertawakal kepada-Nya.
“Wahai Tuhan Yang mempunyai kekuasaan.” (Ali Imran: 26)
Yakni semua kekuasaan adalah milik-Mu.
“Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki.” (Ali Imran: 26)
Artinya, Engkaulah Yang memberi dan Engkaulah Yang mencegah. Semua apa yang Engkau kehendaki pasti terjadi, dan semua yang tidak Engkau kehendaki pasti tidak akan terjadi. Di dalam ayat ini terkandung isyarat dan bimbingan yang menganjurkan untuk mensyukuri nikmat Allah ﷻ, ditujukan kepada Rasul-Nya dan umatnya. Karena Allah ﷻ mengalihkan kenabian dari kaum Bani Israil kepada nabi dari kalangan bangsa Arab, yaitu dari keturunan kabilah Quraisy yang ummi dari Mekah sebagai penutup semua nabi, serta sebagai utusan Allah kepada segenap manusia dan jin.
Allah ﷻ telah menghimpun di dalam dirinya semua kebaikan yang ada sebelumnya, dan menganugerahkan kepadanya beberapa kekhususan yang belum pernah Allah berikan kepada seorang pun dari kalangan para nabi dan para rasul sebelumnya. Yang dimaksud adalah dalam hal pengetahuannya tentang Allah dan syariat yang diturunkan kepadanya, pengetahuannya tentang hal-hal yang gaib di masa lampau dan masa mendatang. Allah telah memperlihatkan kepadanya banyak hakikat akhirat, umatnya menyebar ke segenap pelosok dunia dari Timur sampai ke Barat, dan agama serta syariatnya ditampakkan di atas semua agama dan syariat yang lain. Semoga Allah melimpahkan salawat dan salam kepadanya untuk selama-lamanya sampai hari pembalasan, selama malam dan siang hari masih silih berganti.
Karena itulah Allah ﷻ mengatakan dalam firman-Nya: "Katakanlah, ‘Wahai Tuhan Yang mempunyai kekuasaan’." (Ali Imran: 26), hingga akhir ayat. Yakni Engkaulah Yang mengatur makhluk-Mu, Yang Maha Melakukan semua apa yang Engkau kehendaki. Sebagaimana Allah menyanggah orang-orang yang mengakui dirinya dapat mengatur urusan Allah, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: "Dan mereka berkata, ‘Mengapa Al-Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang pembesar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Taif) ini?’"(Az-Zukhruf: 31) Allah berfirman, menyanggah ucapan mereka itu, melalui ayat berikut: "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu?" (Az-Zukhruf: 32), hingga akhir ayat.
Dengan kata lain, Kamilah yang ber-tasarruf (tasarruf adalah setiap perilaku yang melahirkan hak dan kewajiban dengan landasan syara) dalam semua ciptaan Kami menurut apa yang Kami kehendaki, tanpa ada seorang pun yang bisa mencegah atau menolak Kami, dan bagi Kamilah hikmah yang sempurna serta hujah(alasan) yang benar dalam hal tersebut. Demikianlah Allah menganugerahkan kenabian kepada siapa yang dikehendaki-Nya, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:
“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (Al-An'am: 124)
Allah ﷻ berfirman: “Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain.” (Al-Isra: 21), hingga akhir ayat.
Al-Hafidzh ibnu Asakir meriwayatkan di dalam riwayat hidup Ishaq ibnu Ahmad bagian dari kitab tarikh tentang Khalifah Al-Mamun, bahwa ia pernah melihat pada salah satu istana di negeri Rumawi suatu tulisan memakai bahasa Himyariyah. Ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, ternyata artinya seperti berikut: "Dengan nama Allah, tidak sekali-kali malam dan siang silih berganti, dan tidak pula bintang-bintang beredar pada garis edarnya, melainkan karena berpindahnya nikmat (karunia) dari suatu kekuasaan yang telah sirna kekuasaannya ke kekuasaan yang lain. Sedangkan kekuasaan Tuhan yang memiliki Arasy tetap abadi, tidak akan hilang dan tidak ada yang menyekutuinya."
Firman Allah ﷻ: “Engkau memasukkan malam ke dalam siang, dan Engkau memasukkan siang ke dalam malam.” (Ali Imran: 27)
Yakni salah satunya mengambil kelebihan waktu dari yang lainnya. Maka yang lainnya berkurang hingga keduanya sama panjangnya, lalu yang lain mengambil dari kelebihan yang ini, hingga keduanya berbeda panjang masanya, tetapi lama-kelamaan panjang masa keduanya menjadi sama kembali. Demikianlah terjadi dalam musim-musim sepanjang tahunnya, yaitu musim semi, musim panas, musim gugur,dan musim dingin.
Firman Allah ﷻ: “Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup.” (Ali Imran: 27)
Maksudnya, Engkau mengeluarkan tumbuh-tumbuhan dari bebijian, dan mengeluarkan bebijian dari tumbuh-tumbuhan; buah kurma dari biji kurma, dan biji kurma dari buah kurma. Orang mukmin dari orang kafir, dan orang kafir dari orang mukmin. Ayam dari telur, dan telur dari ayam; dan segala sesuatu mengalami proses seperti ini.
“Dan Engkau beri rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan.” (Ali Imran: 27)
Yakni Engkau memberi orang yang Engkau kehendaki harta benda yang tidak terhitung banyaknya dan sulit untuk ditakar, sedangkan kepada orang lainnya tidak Engkau berikan hal itu. Hal ini Engkau lakukan berdasarkan kebijaksanaan, kehendak, dan kemauan-Mu semata.
Imam Ath-Thabarani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Zakaria Al-'Ala-i, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Hasan ibnu Farqad, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Umar ibnu Malik, dari Abul Jauza, dari Ibnu Abbas , dari Nabi ﷺ yang bersabda: “Asma Allah yang teragung (Ismul A'zam) bila diucapkan dalam doa, niscaya diperkenankan doanya, berada dalam ayat ini, bagian dari surat Ali Imran, yaitu firman-Nya: ‘Katakanlah, wahai Tuhan Yang mempunyai kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki.Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu'.” (Ali Imran: 26)
Setelah ayat-ayat sebelumnya menjelaskan tentang ketidakmampuan seseorang untuk menghindar dari keniscayaan hari akhir sebagai hari pembalasan, hari tersingkapnya rahasia, hari terkuaknya segala kebohongan, maka ayat berikut menjelaskan tentang kemahakuasaan Allah yang lain di dunia. Katakanlah, wahai Nabi Muhammad, Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak seorang pun mampu mengangkat derajat orang lain dan memuliakannya kecuali atas izin-Nya, dan tidak seorang pun mampu menjatuhkan kekuasaan orang lain dan menghinakannya kecuali atas izin-Nya. Ayat berikut ini juga bukti kekuasaan Allah yang lain. Engkau masukkan malam ke dalam siang sehingga siang menjadi lebih panjang daripada malam, dan Engkau masukkan siang ke dalam malam sehingga malam lebih panjang daripada siang. Dan Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati seperti ayam dari telur, tumbuh-tumbuhan dari biji-bijian, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup seperti keluarnya telur dari ayam dan biji-bijian. Inilah siklus kehidupan yang Engkau atur sedemikian rupa sesuai dengan kekuasaan-Mu. Dan dengan kekuasaanMu juga, Engkau berikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki baik yang taat maupun yang tidak taat, baik yang mukmin maupun yang kafir, tanpa perhitungan. Jika demikian, maka tidak seorang pun yang mampu mempertanyakan karunia yang diberikan kepada siapa pun, baik berupa kekuasaan, kekayaan, kemudahan mencari rezeki, dan lain-lain.
Dalam ayat ini Allah menyuruh Nabi untuk menyatakan bahwa Allah Yang Mahasuci yang mempunyai kekuasaan tertinggi dan Mahabijaksana dengan tindakan-Nya yang sempurna di dalam menyusun, mengurus, dan merampungkan segala perkara dan yang menegakkan neraca undang-undang di alam ini. Maka Allah yang memberikan urusan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Ada kalanya Allah memberikan kekuasaan itu bersamaan dengan pangkat kenabian seperti keluarga Ibrahim, dan ada kalanya hanya memberikan kekuasaan memerintah saja menurut hukum kemasyarakatan yaitu dengan mengatur kabilah-kabilah dan bangsa-bangsa. Allah juga yang mencabut kekuasaan dari orang-orang yang Dia kehendaki, disebabkan mereka berpaling dari jalan yang lurus, yaitu jalan yang dapat memelihara kekuasaan karena meninggalkan keadilan dan berlaku curang dalam pemerintahan. Demikianlah hal itu telah berlaku pula terhadap Bani Israil dan bangsa lain disebabkan kezaliman dan kerusakan budi mereka.
Allah juga memberi kekuasaan kepada orang yang Dia kehendaki, dan menghinakan orang yang Dia kehendaki. Orang yang diberi kekuasaan ialah orang yang didengar tutur katanya, banyak penolongnya, mempengaruhi jiwa manusia dengan wibawa dan ilmunya, mempunyai keluasan rezeki dan berbuat baik kepada segenap manusia.
Adapun orang yang mendapat kehinaan, ialah orang yang rendah akhlaknya, merasa lemah semangat membela kehormatan, tidak mampu mengusir musuhnya yang menyerbu dan tidak mampu mempersatukan pengikutnya. Padahal tidak ada satu kemuliaan pun dapat dicapai tanpa persatuan untuk menegakkan kebenaran dan menentang kezaliman.
Apabila masyarakat telah bersatu dan berjalan menurut sunatullah, berarti mereka telah menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi segala kemungkinan. Banyak sedikitnya bilangan suatu umat tidaklah menjamin untuk dapat mewujudkan kekuasaan dan menghimpun kekuatan. Orang musyrik Mekah, orang Yahudi dan orang munafik Arab telah tertipu oleh banyaknya pengikut dibanding dengan pengikut Rasulullah ﷺ, padahal yang demikian itu tidak mendatangkan faedah bagi mereka sedikit pun. Sebagaimana firman Allah:
Mereka berkata, "Sungguh, jika kita kembali ke Madinah (kembali dari perang Bani Mustalik), pastilah orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana." Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui. (al-Munafiqun/63: 8)
Fakta-fakta sejarah menjadi bukti bahwa jumlah yang banyak saja tidaklah menunjukkan kekuatan. Lihatlah bangsa-bangsa Timur, mereka berjumlah banyak tetapi dapat dikuasai oleh bangsa-bangsa Barat yang berjumlah lebih sedikit, disebabkan merajalelanya kebodohan dan permusuhan, atau perpecahan yang terjadi di antara sesama mereka.
Dalam ayat ini diterangkan pula bahwa segala kebajikan terletak di tangan-Nya baik kenabian, kekuasaan atau pun kekayaan. Ini menunjukkan bahwa Allah sendirilah yang memberikannya menurut kemauan-Nya. Tidak ada seorang pun yang memiliki kebajikan selain Allah. Dalam ayat ini hanya disebutkan kebajikan saja. Sebenarnya segala yang buruk dan jahat juga ada di bawah kekuasaan Allah. Hal ini dipahami dari pernyataan Allah bahwa Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Dalam ayat ini disebutkan kebajikan saja karena disesuaikan dengan keadaan. Keadaan yang mendorong orang-orang kafir menentang dan meremehkan dakwah Nabi Muhammad ﷺ ialah kemiskinan beliau, kelemahan pengikut-pengikutnya serta kecilnya bilangan mereka. Oleh sebab itu Allah menyuruh Nabi untuk berlindung kepada yang memiliki segala kerajaan. Yang ditangan-Nya segala kekuasaan dan kemuliaan. Allah mengingatkan Rasulullah bahwa seluruh kebaikan dan kekayaan ada ditangan-Nya. Maka tidak ada yang dapat menghalangi-Nya apabila Allah memberikan kemiskinan dan kekayaan kepada Nabi-Nya atau kepada orang-orang mukmin yang dikehendaki-Nya, sebagaimana diterangkan oleh Allah dalam firman-Nya:
Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). (al-Qasas/28: 5).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Katakanlah, ‘Ya, Tuhan yang memiliki segala kekuasaan."
(pangkal ayat 26)
Seluruh kekuasaan di langit dan di bumi, atau segala makhluk yang hidup atau yang beku, atas laut dan darat, gunung dan lembah, atas alam semesta."Engkau berikan kekuasaan kepada barangsiapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari barangsiapa yang Engkau kehendaki." Walaupun bagaimana besar kekuasaan seorang raja diberi oleh Allah, mudah saja bagi-Nya mencabut. Berapa kita lihat raja-raja, sultan-sultan, yang dahulu nenek moyangnya berkuasa besar, sampai pada anak atau cucu, habis kekuasaan tinggallah gelar, habis tanah tinggallah istana. Berapa pula kita lihat orang yang tadinya bukan asal raja, naik memimpin bangsanya, mencapai puncak kekuasaan tertinggi, padahal mungkin dianya hanya bekas budak saja dari raja yang berkuasa tadi. Sebab, seluruh manusia itu hanyalah dari satu keturunan, sama darahnya dan sama dagingnya, sama asal dari tanah kemudian menjadi mani kemudian terbentuk jadi orang, kemudian kembali jadi tanah lagi. Tidak ada darah bangﷺan di dunia ini yang keturunannya bukan dari Adam atau bukan dari asal-usul manusia. Timbulnya kekuasaan hanyalah pinjaman sementara dari Allah."Dan Engkau muliakan barangsiapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan barangsiapa yang Engkau kehendaki" Kemudian bisa dianugerahkan Allah walaupun kepada orang yang tidak berpangkat tinggi dan kehinaan bisa pula dijatuhkan Allah walaupun kepada orang yang disebut berpangkat. Sebab, pangkat dan kemuliaan yang diberikan Allah lain coraknya dari yang diperbuat manusia, izzah berarti kemuliaan dan dzillah berarti kehinaan. Izzah bisa juga diartikan gengsi, prestise, atau wibawa. Sinarnya tidak akan dapat ditutup walaupun oleh kemiskinan! Dzillah bisa juga diartikan jiwa rendah, yang tidak dapat disembunyikan walaupun disalut dengan emas."Di tangan Engkau segala kebaikan" yaitu Engkaulah sumber telaga dari segala yang baik di alam ini, dipancarkan-Nya kepada sekalian makhluk-Nya, sehingga semuanya mendapat menurut kadar bagian masing-masing.
"Sesungguhnya, Engkau atas tiap-tiap sesuatu adalah Mahakuasa."
(ujung ayat 26)
Maka, di dalam rangka kekuasaan Allah, dicabutlah nikmat kekuasaan itu dari Bani Israil. Mahakuasalah Allah menimbulkan suatu kekuasaan baru yang menimbulkan Dunia Baru, yang membuat air bah revolusi dalam alam pikiran manusia, yaitu kedatangan Nabi Muhammad ﷺ yang mulia timbul dari suatu daerah tandus dan gersang di padang pasir, di lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan.
“Engkau masukkan malam kepada siang dan Engkau masukkan siang kepada malam."
(pangkal ayat 27)
Artinya, Engkau gilirkan peredaran musim, sehari semalam 24 jam, 12 jam mestinya untuk siang dan 12 jam untuk malam, tetapi bilangan siang ataupun sebaliknya, sehingga termasuklah atau tersarunglah sebagian dan hitungan waktu bilangan malam telah termasuk ke siang hari, atau jam bilangan siang termasuk ke dalam malam hari. Kita renungkan edaran siang dan malam ini, yang di dalam edaran itu terjadilah segala peristiwa, sehingga kita dapat mengambil kesan bahwa turun-naiknya suatu bangsa, naik atau turunnya bintang seseorang manusia tali-temali dengan edaran zaman ini, sehingga dari sebabnya kita dapat menghitung perjalanan sejarah. Sejarah bangsa naik dan bangsa jatuh. Sejarah kekuasaan manusia yang bergilir, dahulu budak jajahan sekarang umat mereka. Dahulu dipertuan, sekarang menjadi yang terusir. Kita saja yang kadang-kadang payah menghitung sebelum tahu, tetapi kemudian kita mengakui kebenarannya setelah melihat kenyataan."Dan Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup!' Dilihat ke segala yang kecil, tampaklah dari telur yang belum bernyawa timbul seekor anak ayam dan hidup, dan dari ayam yang hidup keluar telur yang belum bernyawa. Dari yang kecil dapat kita lihat bangkai anjing di pinggir jalan, beberapa hari tergeletak lalu timbul ulat yang kecil-kecil beribu-ribu banyaknya, kemudian menjadi langau dan lalat.
“Dan Engkau memberi rezeki siapa yang Engkau kehendaki dengan tidak berkira."
(ujung ayat 27)
"Encouraging Gratitude
Allah said,
قُلِ
Say,
O Muhammad, while praising your Lord, thanking Him, relying in all matters upon Him and trusting in Him.
اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ
O Allah! Possessor of the power,
meaning, all sovereignty is Yours.
تُوْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء
You give power to whom You will, and You take power from whom You will, and You endue with honor whom You will, and You humiliate whom You will.
meaning, You are the Giver, You are the Taker, it is Your will that occurs and whatever You do not will, does not occur.
This Ayah encourages thanking Allah for the favors He granted His Messenger and his Ummah. Allah transferred the Prophethood from the Children of Israel to the Arab, Qurashi, Makkan, unlettered Prophet, the Final and Last of all Prophets and the Messenger of Allah to all mankind and Jinn.
Allah endowed the Prophet with the best of qualities from the prophets before him. Allah also granted him extra qualities that no other Prophet or Messenger before him was endowed with, such as granting him (more) knowledge of Allah and His Law, knowledge of more of the matters of the past and the future, such as what will occur in the Hereafter.
Allah allowed Muhammad's Ummah to reach the eastern and western parts of the world and gave dominance to his religion and Law over all other religions and laws. May Allah's peace and blessings be on the Prophet until the Day of Judgment, and as long as the day and night succeed each other.
This is why Allah said,
قُلِ
اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ
(Say:""O Allah! Possessor of the power""),
meaning, You decide what You will concerning Your creation and You do what you will.
Allah refutes those who thought that they could decide for Allah,
وَقَالُواْ لَوْلَا نُزِّلَ هَـذَا الْقُرْءَانُ عَلَى رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ
And they say:""Why is not this Qur'an sent down to some great man of the two towns (Makkah and Ta'if)!"" (43:31)
Allah refuted them by saying,
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ
Is it they who would portion out the Mercy of your Lord! (43:32),
meaning, ""We decide for Our creation what We will, without resistance or hindrance by anyone. We have the perfect wisdom and the unequivocal proof in all of this, and We give the Prophethood to whom We will.""
Similarly, Allah said,
اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ
Allah knows best with whom to place His Message.
and,
انظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ
See how We prefer one above another (in this world). (17:21)
بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
In Your Hand is the good. Verily, You are able to do all things.
Allah said
تُولِجُ اللَّيْلَ فِي الْنَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ
You make the night enter into the day, and You make the day enter into the night,
meaning, You take from the length of one of them and add it to the shortness of the other, so that they become equal, and take from the length of one of them and add it to the other so that they are not equal. This occurs throughout the seasons of the year:spring, summer, fall and winter.
Allah's statement,
وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الَمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ
You bring the living out of the dead, and You bring the dead out of the living.
means, You bring out the seed from the plant and the plant from the seed; the date from its seed and the date's seed from the date; the faithful from the disbeliever and the disbeliever from the faithful; the chicken from the egg and the egg from the chicken, etc.
وَتَرْزُقُ مَن تَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ
And You give wealth and sustenance to whom You will, without limit.
meaning, You give whomever You will innumerable amounts of wealth while depriving others from it, out of wisdom, and justice.
The Prohibition of Supporting the Disbelievers
Allah says;
لااَّ يَتَّخِذِ الْمُوْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُوْنِ الْمُوْمِنِينَ
Let not the believers take the disbelievers as friends instead of the believers,
Allah prohibited His believing servants from becoming supporters of the disbelievers, or to take them as comrades with whom they develop friendships, rather than the believers.
Allah warned against such behavior when He said,
وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ
And whoever does that, will never be helped by Allah in any way,
meaning, whoever commits this act that Allah has prohibited, then Allah will discard him.
Similarly, Allah said,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ امَنُوا لَاا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء
تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ
O you who believe! Take not My enemies and your enemies as friends, showing affection towards them, until,
وَمَن يَفْعَلْهُ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاء السَّبِيلِ
And whosoever of you does that, then indeed he has gone astray from the straight path. (60:1)
Allah said,
يَـأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ الْكَـفِرِينَ أَوْلِيَأءَ مِن دُونِ الْمُوْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُواْ للَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً مُّبِيناً
O you who believe! Take not for friends disbelievers instead of believers. Do you wish to offer Allah a manifest proof against yourselves! (4:144)
and,
يَـأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَـرَى أَوْلِيَأءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَأءُ بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ
O you who believe! Take not the Jews and the Christians as friends, they are but friends of each other. And whoever befriends them, then surely, he is one of them. (5:51)
Allah said, after mentioning the fact that the faithful believers gave their support to the faithful believers among the Muhajirin, Ansar and Bedouins,
وَالَّذينَ كَفَرُواْ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَأءُ بَعْضٍ إِلاَّ تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الاٌّرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
And those who disbelieve are allies of one another, (and) if you do not behave the same, there will be Fitnah and oppression on the earth, and a great mischief and corruption. (8:73)
Allah said next,
إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً
unless you indeed fear a danger from them,
meaning, except those believers who in some areas or times fear for their safety from the disbelievers.
In this case, such believers are allowed to show friendship to the disbelievers outwardly, but never inwardly.
For instance, Al-Bukhari recorded that Abu Ad-Darda' said,
""We smile in the face of some people although our hearts curse them.""
Al-Bukhari said that Al-Hasan said,
""The Tuqyah is allowed until the Day of Resurrection.""
Allah said,
وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ
And Allah warns you against Himself.
meaning, He warns you against His anger and the severe torment He prepared for those who give their support to His enemies, and those who have enmity with His friends.
وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ
And to Allah is the final return.
meaning, the return is to Him and He will reward or punish each person according to their deeds.
Allah Knows What the Hearts Conceal
Allah says;
قُلْ إِن تُخْفُواْ مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الارْضِ
Say:""Whether you hide what is in your breasts or reveal it, Allah knows it, and He knows what is in the heavens and what is in the earth.
Allah tells His servants that He knows the secrets and apparent matters and that nothing concerning them escapes His observation. Rather, His knowledge encompasses them in all conditions, time frames, days and instances. His knowledge encompasses all that is in heaven and earth, and nothing not even the weight of an atom, or what is smaller than that in the earth, seas and mountains, escapes His observation.
Indeed,
وَاللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
And Allah is able to do all things.
and His ability encompasses everything.
This Ayah alerts Allah's servants that they should fear Him enough to not commit what He prohibits and dislikes, for He has perfect knowledge in all they do and is able to punish them promptly. And He gives respite to some of them, then He punishes them, and He is Swift and Mighty in taking account.
This is why Allah said afterwardsيَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا
On the Day when every person will be confronted with all the good he has done,
meaning, on the Day of Resurrection, Allah brings the good and evil deeds before the servant, just as He said,
يُنَبَّأُ الاِنسَـنُ يَوْمَيِذِ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ
On that Day man will be informed of what he sent forward, and what he left behind. (75:13)
When the servant sees his good deeds, he becomes happy and delighted. When he sees the evil deeds he committed, he becomes sad and angry. Then he will wish that he could disown his evil work and that a long distance separated it from him. He will also say to the devil who used to accompany him in this life, and who used to encourage him to do evil;
يلَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِيْسَ الْقَرِينُ
""Would that between me and you were the distance of the two easts ـ a horrible companion (indeed)! (43:38)
وَمَا عَمِلَتْ مِن سُوَءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا
and all the evil he has done, he will wish that there were a great distance between him and his evil.
Allah then said, while threatening and warning,
وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ
And Allah warns you against Himself,
meaning, He warns you against His punishment.
Allah then said, while bringing hope to His servants, so that they do not despair from His mercy or feel hopeless of His kindness,
وَاللّهُ رَوُوفُ بِالْعِبَادِ
And Allah is full of kindness with the servants.
Al-Hasan Al-Basri said,
""Allah is so kind with them that He warns them against Himself."" Others commented, ""He is merciful with His creation and likes for them to remain on His straight path and chosen religion, and to follow His honorable Messenger."
When the Prophet may peace and salutation be upon him promised his community sovereignty over the lands of Persia and Byzantium, the hypocrites said, 'How preposterous!', and so the following was revealed, Say: 'O God, Master of the Kingdom, you give the Kingdom to whom You will, from among your creatures, and seize the Kingdom from whom You will; You exalt whom You will, by giving it [the kingdom] to him, and You abase whom You will, by seizing it from him; in Your hand, in Your power, is good, that is, as well as evil. You are Able to do all things.
In these verses, Muslims have been taught and prompted to make a particular prayer which, in a subtle way, gives an indication that they are going to overpower disbelievers. This has its proof in the background in which these verses were revealed. When the Holy Prophet ﷺ promised that Byzantine and Persia will be taken, the hypocrites and the Jews laughed at the idea. Thereupon, this verse was revealedI.
1. Ruh al-Ma' ani from al-Wahidi, from Ibn ` Abbas and Anas ؓ
Commentary
The background of Revelation:
An episode from the Battle of Khandaq
The recurring defeat of the disbelievers of Makkah at Badr and Uhud and their general failure to register any gains in their hostility against Muslims coupled with the growing strength of Muslims and the rise of Islam had made them very nervous, almost reckless. The whole thing ended up in a conspiracy. The disbelievers of Arabia, the Jews and the Christians all joined in a united front against Muslims and resolved to attack Madinah and fight a conclusive battle. This they did, determined to eradicate Islam and Muslims from the face of the earth. The battle is called 'al-Ahzab' in the Qur'an, and 'Khandaq خندق in history, because the Holy Prophet ﷺ had decided in consultation with his Companions ؓ that a khandaq خندق or trench be dug around parts of Madinah to block the unhindered attack of the enemy during this battle.
According to narrations in al-Baihaqi, Abu Nu'aim and Ibn Khuzaimah, when the task of digging the trench was entrusted to the Islamic army, the plan was to allot the digging of a forty hand-span long trench to a group of ten men each. This trench was several miles long and fairly deep and wide, so that the enemy would find it impossible to cross over. Then, the digging had to be completed in the shortest possible time which made the noble Companions ؓ put in whatever time and energy they had in this effort, so much so that they found it difficult to leave the job and take time for even the most pressing of their needs. They were working non-stop on hungry stomachs. Surely, a modern army engineering service with its latest equipment would have not found this kind of job any easier to handle. Here, it was the power of faith which made the completion of this difficult assignment possible.
The Holy Prophet ﷺ was taking part in this digging operation as an individual like everybody else. By chance, the diggers came upon a huge rock in a certain part of the trench. Those who were assigned to dig that part of the trench tried their best to break it apart but they became helpless and gave up. They asked Sayyidna Salman al-Farisi to go to the Holy Prophet ﷺ ، tell him about the problem and seek his instructions in this connection. The Holy Prophet ﷺ immediately came at the spot, took the pick-axe in his blessed hands and struck at the rock. The rock was shat-tered into pieces and from it rose a streak of light which illuminated the area far and wide. The Holy Prophet ﷺ said: In this light, I see the palaces and buildings of Hirah in the country of Persia. He struck again and a second beam of light rose. He said: 'In this light, I was shown the red palaces and buildings of the Byzantinians.' When he struck the third time and the flame beamed its light around, he said: 'In this I was shown the great palaces of San'a in Yemen.' Then, he said: 'I share the good news given by Jibra'il. (علیہ السلام) with you that my community of Muslims will prevail over all these countries.'
When the hypocrites of Madinah heard about it, they found an occasion to ridicule Muslims - 'just look at these people, here they are all scared of the enemy, digging trenches without eating and resting, not knowing for sure if their own lives will be safe, yet they are dreaming of running over Persia, Byzantine and Yemen!' It was in answer to a people so unfair and unjust that Allah Almighty revealed the verse:
قُلِ اللَّـهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿26﴾
Say: "0 Allah, 0 Lord of the Kingdom, You give kingdom to whom You will, and take kingdom away from whom You will; and You bestow honour on whom You will, and bring disgrace to whom You will. In Your hand lies the good. You are surely powerful over everything." (3 : 26)
Appearing in the form of a prayer, this verse so eloquently brings into focus the most perfect power of Allah as it manifests itself in the rise and fall of nations and in the revolutions that rock countries. At the same time it gives a hint that the prophecy made by the Holy Prophet ﷺ will come to pass and Persia and Byzantine will .fall to Muslims. Here, enemies of Islam have been warned that they have not learnt their lesson from the rise and fall of past wielders of power for they judge events and personalities from the material angle while the truth is that all powers and governments of the world are in the hands of the most pristine power of Allah, the One in whose hands lies all honour and disgrace. There is no doubt that He is capable of making the poor and the meek sit on thrones and wrest power from kings and monarchs. Why then, should it be difficult for him to choose these ragged believers digging trenches to rule over Persia, Syria, Iraq and Yemen?
Things usually considered bad, may ultimately prove not to be that bad:
Towards the end of the verse, the expression بِيَدِكَ الْخَيْرُ translated as ` in Your hand lies the good' needs some explanation. It will be noticed that in the earlier part of the verse both giving and taking of power and bestowing of honour and bringing of disgrace were mentioned side by side. It would have seemed in keeping with the occasion if the word, شر ‘sharr’ (evil) would have been coupled with 'khair' (good). But, the text elects to use the word, 'khair' (good) alone and thereby points out to something real and significant in human affairs. The point worth noting is that a person or a people may regard something as unwelcome, and it may even be so for that particular person or people, but looked at from the wider angle of the whole community of nations, it may not be really evil. The Arab poet, Mutanabbi has put it very succinctly when he said:
مصایب قوم عند قوم فواید
The calamities of one group are the gains of another.
In short, the evil of things we regard as evil is partial. Looked at from its relationship to the Creator of the Universe and the Lord of all there is, and viewed in the perspective of the totality of the world of our experience, nothing is really evil or bad as such. So given the wis-dom, the power and the consideration of the created universe as a whole, everything is good, 'khair' as the verse sees sufficient to say.








