Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
وَلَقَدۡ
dan sesungguhnya
أَرَيۡنَٰهُ
Kami telah memperlihatkan kepadanya
ءَايَٰتِنَا
ayat-ayat Kami
كُلَّهَا
semuanya
فَكَذَّبَ
maka dia mendustakan
وَأَبَىٰ
dan dia enggan/menolak
وَلَقَدۡ
dan sesungguhnya
أَرَيۡنَٰهُ
Kami telah memperlihatkan kepadanya
ءَايَٰتِنَا
ayat-ayat Kami
كُلَّهَا
semuanya
فَكَذَّبَ
maka dia mendustakan
وَأَبَىٰ
dan dia enggan/menolak
Terjemahan
Dan sungguh, Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda (kebesaran) Kami semuanya,1 ternyata dia mendustakan dan enggan (menerima kebenaran).
Catatan kaki
1 *517) Yang dimaksud dengan tanda-tanda di sini ialah tanda-tanda kenabian Musa -'alaihissalām-. Pada pertemuan Nabi Musa -'alaihissalām- dengan Fir'aun ini, yang diperlihatkan baru dua mukjizat, yaitu tongkat Nabi Musa -'alaihissalām- menjadi ular dan tangannya menjadi putih bercahaya.
Tafsir
(Dan sesungguhnya telah Kami perlihatkan kepadanya) kepada Firaun (ayat-ayat Kami semuanya) yang berjumlah sembilan ayat itu (maka ia mendustakan) nya dan menuduh bahwa ayat-ayat itu adalah sihir (dan ia enggan) untuk mengesakan Allah ﷻ
Tafsir Surat Taha: 53-56
Yang telah menjadikan bagi kalian bumi sebagai hamparan dan Yang menjadikan bagi kalian di bumi ini jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatang kalian. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kalian dan kepadanya Kami akan mengembalikan kalian dan darinya Kami akan mengeluarkan kalian pada saat yang lain. Dan sesungguhnya Kami telah perlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka ia mendustakan dan enggan (menerima kebenaran).
Ayat ini merupakan kelengkapan dari perkataan Musa dalam menggambarkan sifat Tuhannya saat Fir'aun menanyakan kepadanya tentang Tuhannya. Musa berkata: Yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk. (Thaha: 50). Kemudian Musa mendapat pertanyaan dari Fir'aun. Maka Musa menjawabnya lagi:
Ayat 53
“Yang telah menjadikan bagi kalian bumi sebagai hamparan.” (Thaha: 53).
Menurut qiraat sebagian ulama, disebutkan mahdan (bukan mihadan) yang artinya tempat menetap bagi kalian; kalian dapat berdiri, tidur, dan bepergian di permukaannya.
“Dan Yang telah menjadikan bagi kalian di bumi itu jalan-jalan.” (Thaha: 53).
Yakni Dia telah menjadikan bagi kalian jalan-jalan agar kalian dapat berjalan di segala penjurunya. Sama halnya dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas agar mereka mendapat petunjuk. (Al-Anbiya: 31).
Adapun firman Allah ﷻ: “Dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.” (Thaha: 53).
Yaitu berbagai macam tetumbuhan berupa tanam-tanaman dan buah-buahan, ada yang rasanya masam, ada yang manis, dan ada yang pahit, serta berbagai jenis lainnya dari hasil tanam-tanaman dan buah-buahan.
Ayat 54
“Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatang kalian.” (Thaha: 54)
Maksudnya, sebagian untuk makanan dan buah-buahan kalian dan sebagian lainnya buat ternak kalian, yakni buat makanan ternak berupa dedaunan yang hijau dan yang kering.
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda.” (Thaha: 54).
Yakni dalil-dalil, bukti-bukti, dan tanda-tanda (yang menunjukkan akan kekuasaan Allah).
“Bagi orang-orang yang berakal.” (Thaha: 54)
Artinya, bagi orang-orang yang berakal sehat dan lurus. Semuanya itu menunjukkan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan tidak ada Rabb selain Dia.
Ayat 55
“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kalian dan kepadanya Kami akan mengembalikan kalian dan darinya Kami akan mengeluarkan kalian pada saat yang lain.” (Thaha: 55)
Maksudnya, dari bumi itu kejadian kalian; karena sesungguhnya kakek moyang kalian (yaitu Adam) diciptakan dari tanah.
“Dan kepadanya Kami akan mengembalikan kalian.” (Thaha: 55).
Yakni kalian akan dikembalikan ke bumi bila telah mati dan kalian menjadi hancur di dalamnya.
“Dan darinya Kami akan mengeluarkan kalian pada saat yang lain.” (Thaha: 55).
Di dalam ayat yang lain disebutkan oleh firman-Nya: “Yaitu pada hari Dia memanggil kalian, lalu kalian mematuhinya sambil memuji-Nya dan kalian mengira bahwa kalian tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali hanya sebentar saja.” (Al-Isra: 52). Makna ayat dalam surat ini sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah ﷻ di dalam firman-Nya: “Di bumi itu kalian hidup dan di bumi itu kalian mati, dan dari bumi itu pula kalian akan dibangkitkan.” (Al-A'raf: 25).
Di dalam hadis yang disebutkan di dalam kitab sunan disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ menghadiri pemakaman suatu jenazah. Setelah jenazah di kebumikan, beliau mengambil segenggam tanah, lalu melemparkannya ke dalam liang lahat seraya membaca firman-Nya, "Dari bumi Kami menciptakan kalian." Lalu mengambil lagi segenggam tanah (dan melemparkannya ke dalam liang lahad) seraya bersabda membaca firman-Nya, "Dan ke bumilah Kami mengembalikan kalian." Lalu mengambil lagi segenggam tanah dan membaca firman-Nya, "Dan dari bumi itu pula Kami membangkitkan kalian pada saat yang lain."
Ayat 56
Firman Allah ﷻ: “Dan sesungguhnya Kami telah perlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka ia mendustakan dan enggan (menerima kebenaran).” (Thaha: 56)
Yang dimaksud dengan dia adalah Fir'aun, bahwa telah ditegakkan di hadapannya hujah-hujah (argumentasi), tanda-tanda, dan dalil-dalil yang menunjukkan akan kekuasaan Allah, sehingga ia menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri. Akan tetapi, ia tetap berdusta terhadapnya dan menolaknya dengan rasa penuh keingkaran dan kelewat batas. Sama halnya dengan apa yang disebutkan oleh Allah ﷻ dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenarannya).” (An-Naml: 14), hingga akhir ayat.
Meski mendapat bukti nyata yang menguatkan dakwah Nabi Musa, Fir'aun tetap enggan beriman. Dan sungguh, Kami telah memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Kami semuanya. Namun, ternyata dia keras kepala dan terus mendustakan dan enggan menerima kebenaran. Ia pun tidak mau patuh pada risalah yang disampaikan kepadanya. 57. Kesombongan telah mendorong Fir'aun mengabaikan peringatan Nabi Musa. Dia berkata, 'Apakah engkau datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kelahiran kami sendiri, yaitu Mesir, dengan sihirmu itu, wahai Musa'.
Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah memperlihatkan dan memperkenalkan tanda-tanda kekuasaan-Nya dan bukti-bukti kebenaran kenabian Musa berupa mukjizat yang telah diberikan kepada Musa, namun Firaun dan pengikut-pengikutnya tetap ingkar dan mendustakan Musa dan tidak mau beriman kepada apa yang disampaikan kepadanya, sekalipun mereka itu pada hakekatnya telah meyakini kebenarannya, sebagaimana firman Allah:
"Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (an-Naml/27: 14).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
FIR'AUN MENGUMPULKAN TUKANG SIHIR
Di ayat yang akan datang ini diterangkan bagaimana sikap Fir'aun menyambut seruan Nabi Musa dan Harun itu.
“Dan sesungguhnya telah Kami perlihatkan kepadanya ayat-ayat Kami semuanya."
(pangkal ayat 56)
Artinya bahwa Musa telah menjelaskan dakwah itu kepada Fir'aun menurut yang dititahkan oleh Allah. Dia telah membawakan sikap yang lemah lembut dengan harapan dia akan sadar, dia akan ingat dan timbul takutnya akan kebesaran Allah. Musa telah menjelaskan dan menyadarkan tentang Kemahakuasaan Ilahi pencipta langit dan bumi, penurunkan hujan dari langit, menyuburkan bumi. Allah telah memberi bentuk bagi masing-masing insan dengan kudrat iradatnya. Dan itu pun dikuatkan dengan mukjizat; tongkat dapat menjelma jadi ular, dan cahaya bisa memancar dari telapak tangan Musa. Tetapi Fir'aun tidak juga mau menerima.
“Namun dia masih mendustakan dan enggan."
(ujung ayat 56)
Dia tidak mau percaya, dia tidak mau menerima. Dia masih saja yakin akan kebesaran diri dan kekuasaannya. Segala seruan yang
mencoba mengusik pendiriannya itu dipandangnya adalah memusuhi dirinya. Oleh sebab itu maka mukjizat yang dipertunjukkan Nabi Musa di hadapannya itu dipandangnya sihir belaka.
“Dia berkata, Apakah engkau datang kepada kami karena hendak mengeluarkan kami dari tanah kami dengan sihir engkau, hai Musa."
(ayat 57)
Kalau kita pandangi secara modern penolakan Fir'aun ini ialah bahwa dia meng-anggap bahwa anjuran yang dibawa Nabi Musa itu terang hendak “mengeluarkan kami dari tanah kami", atau “hendak menurunkan kami dari singgasana kami", atau “hendak mencopot kami dari kekuasaan kami". Sebab kerajaan ini didirikan ialah dengan dasar menuhankan kepala negara, bahwa raja itu adalah tuhan yang mahakuasa, apa perintahnya tidak boleh ditolak, apa titahnya mesti dilaksanakan. Kalau wibawa raja yang seperti itu diganggu gugat, alamat akan runtuhlah kerajaan. Kalau diakui bahwa ada lagi kekuasaan yang lebih tinggi dari kekuasaan Fir'aun, walaupun yang disebut kekuasaan tertinggi dari Yang Mahakuasa atas Alam, artinya ialah meletakkan Fir'aun sendiri di bawah kuasa itu. Dan ini tidak bisa diterima sama sekali. Barangsiapa yang menganjur-anjurkan pelajaran seperti ini berarti antipemerintah Fir'aun. Berarti musuh.
Karena Fir'aun merasa bahwa dirinya masih di puncak kekuasaan dan dia ingat bahwa Musa itu pernah hidup dalam istananya, di bawah naungan kuasanya, atau anak semang yang dia besarkan, itulah sebabnya dia bertanya berterus terang seperti itu, “Apakah maksudmu hendak mengusirku dari negeriku ini?"
“Maka kami pun pasti akan mendatangkan pula kepada engkau dengan sihir semacam itu."
(pangkal ayat 58)
Di pangkal ayat ini Fir'aun menunjukkan tidak mau mengertinya akan ayat-ayat atau mukjizat tanda kebesaran Allah yang diperlihatkan Musa. Dia menyangka bahwa itu hanyalah sihir saja. Maka dia pun merasa bahwa kekuasaannya yang begitu besar akan sanggup mengalahkan sihir Musa itu. Itu sebabnya dia berkata bahwa dia pun sanggup memperlihatkan pula sihir semacam itu, bahkan dapat mengalahkan sihir Musa itu:
“Kanena itu perbuatlah di antara kami dan di antara engkau suatu perjanjian yang tidak akan kita mungkiri, tidak kami dan tidak engkau, di sesuatu tempat yang di tengah."
(ujung ayat 58) Di sini Fir'aun melanjutkan tantangannya. Bahwa dia, dengan ahli-ahli sihirnya sanggup menghadapi dan mengatasi sihir Musa itu. Oleh sebab itu dia bersedia jika diadakan satu pertemuan umum, yang di sana kedua sihir itu diadu, dikonfrontasikan. Hendaklah ditentukan waktunya dan dipilih tempat yang di tengah, sama jauh dari istana Fir'aun dengan tempat Musa dan pengikut-pengikutnya. Tidak boleh seorang pun di antara kedua pihak me-mungkiri janji pertemuan di hari dan di tempat yang ditentukan itu.
“(Musa) menjawab, “Perjanjian dengan kamu ialah di hari raya."
(pangkal ayat 59)
Dengan jawaban demikian artinya Musa menyanggupi. Bahkan dialah yang menentukan harinyayaumoz-z/mj/j.yangarti harfiahnya ialah hari perhiasan, hari seluruh kota dihiasi dan orang dengan sendirinya akan berduyun-duyun keluar dari rumah masing-masing menyambut hari itu. Kita artikan hari raya!
“Dan bahwa dikumpulkan manusia di sepenggalah malahan naik."
(ujung ayat 59)
Artinya Musalah sendiri yang menentukan harinya, yaitu di waktu orang ramai berhari raya. Dia pula yang menentukan saat atau waktunya, yaitu di waktu Dhuha, sepanggalah matahari naik di antara pukul delapan dan pukul sembilan pagi. Yaitu ketika manusia-manusia yang datang meramaikan Hari Raya berkerumun-kerumun itu sedang segar dan hari belum panas benar. Niscaya dengan demikian orang akan bertambah tertarik melihat pertandingan sihir itu.
“Maka Fir'aun pun meninggalkan tempat itu."
(pangkal ayat 60)
Kalau Fir'aun waktu itu sedang duduk di atas singgasana dan mahligai keemasannya, dan Musa sedang berdiri berhadapan dengan dia, maka Fir'aun meninggalkan tempat itu ialah dengan segeranya dia berdiri dari kursi keemasannya itu dan undur ke ruang dalam istana. Sudah menjadi adat raja-raja sejak zaman purbakala, bahwa apabila seorang raja telah undur ke ruang dalam istana artinya majelis pun bersurai, atau bubar dan masing-masing hadirin pun sudah boleh meninggalkan ruang balairungsari tempat menjunjung duli itu."Lalu dikumpulkan tipu dayanya." Atau diaturnya siasatnya, dikumpulnya ahli-ahli bicara, orang-orang besar istana untuk mem-perkatakan bagaimana caranya siasat yang harus diatur agar sihir Musa ini dapat dikalahkan. Maka dikirimlah utusan ke segala pelosok negeri guna menjemput dan mengumpulkan ahli-ahli sihir yang ternama, yang semuanya akan dikerahkan untuk menghancurkan sihir Musa itu, sampai Musa jatuh air mukanya di hadapan majelis orang banyak dan hilanglah kepercayaan orang kepadanya,
Berbagilah riwayat ahli tafsir tentang banyaknya ahli sihir yang disuruh berkumpul ke istana untuk kelaknya dengan sekali pukul menghancurkan sihir Musa itu.
“Kemudian dia pun datang!"
(ujung ayat 60)
Artinya tidak berapa lama kemudian hari yang telah ditentukan yaitu hari raya pun datanglah dan rakyat pun telah datang pula berduyun-duyun dan tukang-tukang sihir pun telah pula berkumpul ke tempat itu saat yang ditentukan di sepenggalah matahari naik. Musa pun telah hadir dengan penuh kepercayaan kepada diri sendiri, karena percaya akan bantuan dan perlindungan Allah.
Setelah berhadap-hadapan antara Musa dan tukang-tukang sihir itu, di hadapan Fir'aun yang duduk di atas singgasananya:
“Berkata Musa kepada mereka, “Celaka kamu! Janganlah kamu mengada-adakan atas Allah suatu kedustaan niscaya kamu dicelakakan-Nya dengan adzab."
(pangkal ayat 61)
Mulai saja berhadapan Musa telah menunjukkan kelebihan dan ketinggian jiwanya karena kedatangannya adalah atas perintah dan utusan dari Allah. Kalian ini akan celaka semua, katanya. Karena sihir apa pun yang akan kalian keluarkan, semuanya itu adalah kebohongan dan kepalsuan belaka. Kalau ini akan kalian teruskan, pastilah adzab siksaan Allah akan menimpa diri kalian semuanya. Seakan-akan dia berkata, bahwa kalian akan sia-sia menantang dan melawan saya. Saya ini bersikap adalah atas kehendak Allah, padahal kalian hanyalah hamba sahaya, budak-budak dan orang-orang suruhan dari Fir'aun.
“Dan sesungguhnya sangat rugilah orang yang suka mengada-ada."
(ujung ayat 61)
Akan rugi harta, rugi tenaga, karena pasti tidak berhasil dan pasti kalah berhadapan dengan kudrat iradat Allah ﷻ
“Maka benbantah-bantahanlah mereka di antara mereka tentang unusan mereka itu."
(pangkal ayat 62)
Artinya, bahwa setelah mendengar perkataan Nabi Musa yang lantang, terus terang, dan penuh keyakinan itu, timbullah perbantahan di antara tukang-tukang sihir itu sendiri. Menjadi bukti bahwa tidaklah semua mereka yakin benar akan sekas sihirnya. Mungkin telah ada di antara mereka yang sebanyak itu yang telah mendengar berita bahwa tongkat Musa dapat menjelma menjadi ular dan menjalar di tanah dengan menggeleng-geleng yang menimbulkan takut. Dan mungkin pula ada di antara mereka yang telah mendengar bahwa jika telapak tangan kanan Musa dimasukkannya ke dalam ketiak kirinya dan dikeluarkannya kembali dia akan memancarkan sinar cahaya yang ajaib. Sebab itu maka timbul perbantahan di antara mereka, akan diteruskan jugakah melawan Musa ini.
“Dan mereka merahasiakan pencakupan."
(ujung ayat 62)
Seakan-akan dapatlah kita lihat dalam mata khayat kita apa yang diungkapkan dalam ayat ini. Setelah mendengar teguran Musa yang begitu jelas dan yakin, mereka timbul ragu. Mereka pecah pikiran sesama sendiri, sehingga timbul perbantahan. Tetapi karena Musa hadir Fir'aun pun menyaksikan, perbantahan terpaksa tidak keras-keras, malahan sambil berbisik-bisik, setengah rahasia. Dan dapat kita khayatkan juga bahwa orang banyak yang telah berduyun berkumpul pun hening melihat peristiwa itu.
Akhirnya dapatlah mereka dipersatukan kembali dengan peringatan beberapa orang di antara mereka, yaitu orang-orang yang terdekat kepada Fir'aun atau orang-orang yang ditugaskan oleh Fir'aun buat membujuk mereka. Di dalam surat al-A'raaf ayat 114 dan surat asy-Syu'araa' ayat 42 ada dijelaskan janji bujukan untuk mereka asal mau melawan sihir Musa itu, bahwa mereka akan dijadikan “al-Muqarrabin" yaitu orang-orang yang terdekat ke istana.
“Mereka berkata, Tidak lain kedua orang ini hanyalah dua tukang sihir yang hendak mengusir kamu dari tanah kamu dengan sihir keduanya"
(pangkal ayat 63)
Inilah salah satu siasat yang dipakai oleh Fir'aun dan kaki tangan kekuasaannya buat melumpuhkan lawannya. Dibuatnya fitnah dan ditafsirkan dengan cara yang lain. Tidak dibuka-buka dan tidak hendak dipedulikan apa maksud yang sejati dari kedatangan utusan Allah yang bernama Musa dan Harun itu. Disebarkan saja berita bahwa keduanya adalah tukang sihir dengan maksud tertentu. Yaitu hendak mengusir kamu dari tanah kamu, atau dari tanah air kamu.
“Dan keduanya hendak melenyapkan cara hidup kamu yang utama."
(ujung ayat 63)
Ditanamkanlah rasa kebencian kepada kedua utusan Allah itu. Hendak mengusir kamu dari tanah kamu, artinya hendak merebut kekuasaan dari tangan kamu. Padahal yang di-“kamu"-kan itu belumlah pernah selamanya menikmati hidup mewah di atas tanahnya. Yang mewah hanya Fir'aun dengan para pembantunya. Dikatakan pula bahwa kedua tukang sihir itu hendak melenyapkan cara hidup kamu yang utama. Yaitu bahwa kalau Fir'aun yang berkuasa, kalian boleh berkehendak hati, tidak ada yang akan terlarang, asal kalian taat setia kepada Fir'aun. Tetapi kalau sihir kedua orang ini yang menang, sudah banyak yang akan dilarang. Bermegah-megah tidak boleh lagi. Berharta banyak tidak boleh lagi.
“Sebab itu kumpulkanlah segala tipu daya kamu."
(pangkal ayat 64)
Kumpulkan segala kepandaian segala sihir, segala mantra-mantra, segala kepandaian dan kelicikan, kumpulkan semuanya jadi satu."Dan datanglah dengan berbaris." Artinya hendaklah serentak mengambil sikap, jangan berpecah dan bertindak sendiri-sendiri, dan sekali-kali jangan ada yang ragu menghadapi kedua tukang sihir ini. Maju serentak
“Dan sesungguhnya akan berbahagialah pada hari ini barangsiapa yang menang."
(ujung ayat 64)
Perkataan ini pun telah menunjukkan bahwa pihak istana telah mengerti juga bahwa hari ini memanglah hari yang menentukan. Barangsiapa yang menang dalam pertandingan sihir ini, di hari ini, menanglah dia buat seterusnya, dan kalau kalah, hancurlah buat seterusnya. Tetapi Fir'aun dan orang-orang besarnya yakin benar bahwa merekalah yang akan menang!
Manakah boleh tujuh puluh dua tukang sihir (menurut riwayat dari Ibnu Abbas, yaitu jumlah yang paling sedikit dari beberapa riwayat. Sedang Ibnu al-Munkadir 80.000 banyaknya). Mana boleh dua orang akan menang menghadapi tujuh puluh dua orang pilihan yang didatangkan dari seluruh negeri? Sebab itu Fir'aun memperhitungkan bahwa kemenangan di hari ini adalah kebahagiaan yang selanjutnya. Pertama Kerajaan Fir'aun tidak dapat ditumbangkan oleh sihir dua orang dari Bani Israil yang terhina. Dan kemenangan bagi tukang-tukang sihir itu sendiri pribadi, ialah bahwa mereka akan diberikan kedudukan yang mulia, menjadi orang-orang yang terdekat ke istana!
“Mereka berkata, “Hai Musa! Atau engkau yang akan melemparkan, atau kami yang terlebih dahulu."
(ayat 65)
Yaitu setelah mereka bulat kata kembali, sehabis diperingatkan bahwa pada kemenangan yang sekali ini ditentukan nasib mereka di belakang hari, akan menjadi orang-orang yang terdekat kepada sang raja jika menang, atau menjadi orang yang hina kalau
Di dalam berbagai tafsir disebutkan pula bahwa tali-tali dan tongkat-tongkat itu mereka cat dengan air cat berupa air emas atau air perak sehingga kalau kena cahaya matahari semuanya seakan-akan menjalar. Kita pun kerapkali melihat ular-ularan permainan kanak-kanak buatan Jepang yang sepintas lalu dapat menimbulkan cemas orang, karena menyangka bahwa ular betul-betul.








