ٱلْكَهْف ٨٩
- ثُمَّ kemudian
- أَتۡبَعَ dia mengikuti/menempuh
- سَبَبًا jalan
Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain).
(Kemudian ia menempuh jalan yang lain) yaitu menuju ke arah Timur.
Tafsir Surat Al-Kahfi: 89-91
Kemudian dia menempuh suatu jalan (lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari sekelompok umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu. Demikianlah, dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala sesuatu yang ada padanya.
Ayat 89
Allah ﷻ menceritakan bahwa kemudian Zulqarnain menempuh suatu jalan lain, ia berjalan dari sebelah bumi bagian Barat menuju ke belahan bumi bagian Timur tempat terbitnya matahari. Tersebutlah bahwa setiap kali dia menjumpai suatu umat pastilah umat itu dikalahkan dan dikuasai olehnya, lalu ia menyeru mereka untuk menyembah Allah ﷻ. Jika mereka taat kepadanya, mereka dibebaskan; dan jika mereka tidak taat, maka mereka diperangi dan semua harta serta barang milik mereka dirampas.
Dia mengambil dari setiap umat yang dikalahkannya sebagian golongan yang digunakannya untuk membantu pasukannya dalam memerangi negeri tetangga yang berdekatan dengan mereka. Di dalam kisah Israiliyat disebutkan bahwa Zulqarnain hidup selama seribu enam ratus tahun, sebagian besar usianya digunakannya untuk menjelajah minangkori ke seluruh belahan bumi, hingga sampai di belahan Timur dan Baratnya. Ketika perjalanannya sampai di tempat terbitnya matahari, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
Ayat 90
"Dia mendapati matahari itu menyinari sekelompok umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang menghalanginya dari (cahaya) matahari itu." (Al-Kahfi: 90)
Maksudnya mereka tidak mempunyai rumah untuk tempat istirahatnya, dan tidak ada pepohonan yang menjadi naungan mereka dari sengatan panas matahari yang sangat panas.
Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa mereka berkulit merah lagi bertubuh pendek, tempat tinggal mereka di gua-gua, sedangkan penghidupan mereka dari berburu ikan.
Abu Daud At-Tayalisi mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Sahl ibnu Abu Silt, bahwa ia pernah mendengar Al-Hasan ditanya mengenai makna firman-Nya: "Yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu." (Al-Kahfi: 90). Maka Al-Hasan menjawab, "Tanah tempat tinggal mereka tidak dapat menyangga bangunan. Apabila matahari terbit, mereka masuk ke dalam air (menyelam): dan apabila matahari tenggelam, mereka keluar dan merumput sebagaimana hewan ternak." Al-Hasan mengatakan bahwa demikian itu menurut hadits Samurah.
Qatadah mengatakan: Telah diceritakan kepada kami bahwa mereka tinggal di suatu tempat dari belahan bumi ini yang tanahnya tidak dapat menumbuhkan sesuatu pun bagi mereka. Apabila matahari terbit, mereka masuk ke dalam liang-liangnya (lubang-lubangnya); dan apabila matahari tenggelam, mereka keluar dan mencari penghidupannya.
Salamah bin Kahil mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai tempat bersembunyi; apabila matahari terbit, maka sinar matahari langsung mengenai mereka. Seseorang dari mereka mempunyai dua telinga lebar, yang salah satunya digunakan untuk hamparannya, sedangkan yang lain digunakan untuk pakaiannya (selimutnya).
Abdur Razzaq mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: "Dia mendapati matahari itu menyinari sekelompok umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu." (Al-Kahfi: 90) Bahwa mereka adalah orang-orang Indian.
Ibnu Jarir mengatakan sehubungan dengan tafsir firman-Nya: "Dia mendapati matahari itu menyinari sekelompok umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu." (Al-Kahfi: 90) Bahwa mereka sama sekali tidak pernah membuat bangunan apa pun diatasnya, begitu juga Zulqarnain tidak membangun suatu bangunan pun diatasnya. Apabila matahari terbit, mereka masuk ke dalam liang-liang tempat tinggalnya hingga matahari berada di tengah langit, atau mereka masuk ke dalam laut. Itu karena tanah tempat tinggal mereka tidak berbukit.
Suatu ketika datanglah sejumlah pasukan ke tempat mereka, maka para penduduknya berkata kepada pasukan itu, "Janganlah kamu berada di tempat ini ketika matahari dalam keadaan terbit." Pasukan itu berkata, "Kami tidak akan meninggalkan tempat ini sampai matahari terbit, tetapi apakah tulang-tulang ini?." Para penduduk tempat itu berkata,"Ini adalah bekas bangkai suatu pasukan yang berada di tempat ini saat matahari sedang terbit, akhirnya mereka semua mati kepanasan." Ibnu Jarir melanjutkan kisahnya, bahwa akhirnya pasukan itu lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu menuju kawasan lainnya.
Ayat 91
Firman Allah ﷻ: "Demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala sesuatu yang ada padanya." (Al-Kahfi: 91).
Mujahid dan As-Saddi mengatakan, yang dimaksud dengan khubran adalah ilmu, yakni Kami melihat semua keadaan Iskandar Zulqarnain dan menyaksikan segala perbuatan yang dilakukan oleh pasukannya, tiada satu pun keadaan mereka yang tersembunyi dari pengetahuan Kami, sekalipun mereka berada di mana-mana dan sampai di penghujung dunia, karena sesungguhnya Allah ﷻ telah berfirman dalam ayat lainnya: "Tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit." (Ali Imran: 5)
Zulkarnain berhasil menaklukkan barat. Kemudian, untuk memperluas kekuasaannya, dia dengan cara yang sama menempuh suatu jalan yang mengarahkannya ke belahan dunia yang lain, ke arah timur. 90. Zulkarnain melanjutkan perjalanan hingga suatu ketika dia sampai di kawasan timur, yaitu tempat terbit matahari. Di daerah itu didapatinya matahari bersinar di atas suatu kaum yang tidak Kami buatkan suatu pelindung bagi mereka dari terik dan panasnya cahaya matahari itu.
Adapun orang yang membenarkan Allah dan Keesaan-Nya dan beramal saleh, maka baginya disediakan pahala yang terbaik sebagai balasan atas segala kebijaksanaannya yang telah diperbuatnya selama dia hidup di dunia, dan akan kamu titahkan kepadanya di dunia perintah-perintah yang mudah dikerjakannya yaitu beberapa amalan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah seperti salat, zakat, jihad dan sebagainya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
DZULQARNAIN (YANG EMPUNYA DUA TANDUK)
Setelah mereka tanyakan tempo hari tentang orang-orang yang berdiam di dalam gua atau ngalau, atau kahfi, ada lagi yang akan mereka tanyakan.
“Dan meieka akan bertanya kepada engkau dari hal Dzydgawain."
(pangkal ayat 83)
Dzulqarnain yang berarti yang empunya dua tanduk. Mereka akan bertanya apakah artinya itu? Dan siapakah orangnya? Di mana kejadiannya dan bilakah?
“Katakanlah, “Aku akan bacakan kepada kamu darihal itu, suatu ingatan “
(ujung ayat 83)
Artinya, bahwa pertanyaan kamu itu akan aku jawab dan aku akan membacakan atau mengulangkan kepada kamu suatu ingatan, atau satu kenangan atau suatu cerita yang tak dapat dilupakan.
“Sesungguhnya telah Kami teguhkan dia di bumi."
(pangkal ayat 84)
Artinya ialah bahwa Kami, yaitu Allah, telah memberikan kepada orang yang bergelar Dzulqarnain itu kekuasaan yang teguh di muka bumi, yang tidak dapat digoyangkan lagi oleh musuh-musuhnya, yang boleh juga diartikan secara modern telah mempunyai pemerintahan yang stabil.
“Dan telah Kami berikan kepadanya dari tiap-tiap sesuatu akan jalannya."
(ujung ayat 84)
Artinya, bahwa Allah telah membukakan selalu baginya pintu-pintu kekayaan, terbuka saja jalan-jalannya. Ke mana saja dia melangkah kaki atau mengatur siasat penaklukan, semuanya terbuka jalan.
Ini menandakan bahwa dia pun adalah seorang raja atau penguasa yang cerdik dan mempunyai sifat-sifat kepahlawanan yang lain.
“Maka diambilnyalah suatu jalan."
(ayat 85)
Artinya, bahwa di dalam banyak jalan menuju kemenangan dan kejadian yang terbuka itu diambilnyalah satu jalan. Disusunnya satu siasat, dibuatnya satu rencana, lalu dia keluar dari dalam kota pemerintahannya dengan tentaranya yang besar.
“Sehingga bilamana telah sampai ke tempat terbenam matahari."
Tegasnya ... sebelah baiat.
(pangkal ayat 86)
“Didapatinya dia terbenam di mata air yang hitam.''
Di dalam ayat ini jelas bahwa dia sampai di ujung perjalanan di sebelah barat, dia melihat ke ufuk, tampaklah matahari itu terbenam ke dalam mata air yang hitam, atau ke dalam laut yang tidak tentu lagi di mana ujungnya, sebab tidak ada lagi tanah daratan. Yang tampak hanya lautan dan bertambah terbenam matahari itu bertambah hitamlah warna laut bercampur merah darah cahaya matahari. Besar kemungkinan bahwa laut ini ialah Lautan Atlantik, yang biasa juga disebut Bahruzh Zhulumat, Lautan Gelap."Dan didapatinya di sisinya ada suatu kaum." Di tempat perhentian sebelah barat yang tak dapat perjalanan diteruskan lagi itu, karena hanya menghadapi lautan yang hitam ada rupanya suatu kaum, atau suatu penduduk. Jadi adalah rupanya tempat itu didiami manusia. Menurut Ibnu Juraij dalam tafsirnya, penduduk negeri itu adalah kira-kira 12.000 rumah tangga."‘Kami berfirman,
“Hai Dzgufawaini Baik pun engkau siksa atau engkau adakan pada mereka kebaikan."
(ujung ayat 86)
Artinya ialah bahwa setelah Dzulqarnain masukke dalam negeri sebelah barat itu dengan balatentaranya yang besar dan penduduknya tidak mengadakan perlawanan, jatuhlah mereka ke dalam wilayah kekuasaannya. Dan kekuasaan itu telah diridhakan oleh Allah, sehingga Allah menyerahkan kepada pertimbangannya sendiri hukum apakah yang akan dilakukannya dalam negeri yang telah dikuasainya itu.
Sebagai seorang penguasa yang telah menang dan dapat menguasai, sikap apakah yang akan diambilnya terhadap kepada bangsa yang telah ditaklukkannya.
Terserah kepadanya, baik bangsa yang kalah itu akan disiksanya atau dia akan berlaku baik kepada mereka. Kalau dia seorang penakluk yang bijaksana, niscaya dia akan menaburkan kasih sayang kepada bangsa taklukkan itu. Tetapi kalau dia seorang penguasa yang mabuk oleh kemenangan sehingga lupa akan pertolongan Allah kepadanya, tentu akan diperlihatkannya kerakusan yang akan menimbulkan benci orang yang telah ditaklukkan itu.
“Dia berkata." Artinya Dzulqarnain menjawab apa yang dipersilakan Allah kepadanya itu.
“Adapun siapa yang aniaya, maka akan kami siksalah dia."
(pangkal ayat 87)
Dengan penjawaban yang begini ternyata Dzulqarnain penakluk yang akan berlaku adil kepada rakyat yang dia taklukkan. Lebih dahulu akan diadakan pemeriksaan. Maka yang bersalah akan dihukum, akan disiksa dengan siksaan yang pantas menurut hukum dunia,
“Kemudian dikembalikan dia kepada Tuhannya, lalu diadzab-nya dia dengan adzab yang sengsara."
(ujung ayat 87)
Dail jawaban yang ini pun ternyata bahwa Dzulqarnain ini ternyata seorang yang ber-agama. Tentu saja agamanya itu agama kesatuan turun-temurun yang telah dibawa oleh para rasul dan nabi, yaitu percaya bahwa di samping hukum dunia yang fana ini ada lagi hukum yang akan.diterima dan sisi Allah sendiri di akhirat. Dan penaksiran ini pun dikuatkan oleh jawabannya selanjutnya,
“Dan adapun barangsiapa yang beriman dan benamat saleh, maka untuknya adalah ganjalan yang baik."
(pangkal ayat 88)
Dengan ini Dzulqarnain menjanjikan bahwa akan menghargai kejujuran dan jasa-jasa yang baik pada rakyatnya itu dan dia tidak akan berlaku aniaya,
“Dan akan Kami kolakan kepadanya, dan apa yang akan Kami penintahkan dengan kata-kata yang mudah."
(ujung ayat 88)
Ini pun menunjukkan satu siasat yang tinggi. Bahwa kalau rakyatnya itu jujur, tunduk kepada perintah, penguasa pun mesti berlaku adil dan kasih kepada mereka. Yang berjasa hendaklah dihargai. Orang-orang yang beriman, hendaklah digalakkan dalam imannya, dan hendaklah penguasa menunjukkan sukacitanya jika rakyatnya berbuat amal yang saleh, atau karya yang berfaedah, baik untuk dirinya ataupun untuk masyarakatnya. Di samping itu jika menjatuhkan suatu perintah hendaklah dengan perkataan yang mudah dipahamkan oleh rakyat, jangan perintah yang membingungkan, apatah lagi perintah yang tidak akan dapat dipikul terlalu memberati.
“Kemudian diambilnya (pula) satu jalan (lain)."
(ayat 89)
Artinya, setelah selesai Dzulqarnain menaklukkan negeri yang sebelah barat, tempat matahari terbenam ke dalam lautan yang kelam itu, baginda pun kembali ke pusat ke-rajaannya, lalu mengatur rencana baru pula, atau menempuh jalan yang baru pula. Berangkat lagi diiringkan oleh tentaranya yang gagah perkasa, menuju ke jurusan lain.
“Sehingga apabila telah sampai ke tempat terbil matahari"
(pangkal ayat 90)
Di pangkal ayat ini jelaslah bahwa perjalanan yang baginda tuju sekarang ialah ke sebelah timur, sesudah dahulu ke sebelah barat."Didapatinya dia terbit pada suatu kaum." Melihat apa yang diuraikan dalam ayat ini terang sekali bahwa ujung perjalanan ke timur itu tertunduk ke satu negeri. Nyatalah bahwa negeri itu bukan lagi terletak di pinggir lautan, sebagai yang baginda dapati di barat dahulu. Mungkin negeri sebelah timur itu berlatar belakang padang pasir yang amat luas dan kering yang sudah sukar buat ditempuh manusia. Baginda terhenti hingga di situ; lalu ditaklukkannya pula negeri itu. Disebutkan di ujung ayat iklim negeri itu.
“Yang tidak Kami adakan untuk mereka satu perlindungan pun dari dia."
(ujung ayat 90)
Tidak ada satu perlindungan pun dari matahari. Sebab itu jelaslah bahwa hawa udara negeri itu amat panas dan latar belakang negeri itu padang pasir. Sebab ketika matahari naik tak ada suatu yang melindungi mereka. Seumpama gunung, mungkin tempat ini di sebelah timur Afrika. Mungkin juga penduduk di sana belum mengenal pakaian sehingga tidak terlindung badan mereka dari cahaya matahari.
Negeri itu pun ditaklukkan pula, dijalankan hukum yang adil, yang bersalah melanggar perintah raja atau mengacaukan keamanan masyarakat, atau tidak tunduk kepada yang berkuasa akan dihukum dengan berat. Yang berjasa dan beriman, beramal saleh berbuat baik mendapat pula penghargaan yang setimpal, sebagaimana yang baginda jalankan peraturannya di negeri sebelah barat tempat matahari terbenam ke laut yang kelam itu.
Maka berfirmanlah Allah tentang kebijaksanaan pemerintahan Dzulqarnain itu pada ayat selanjutnya, “Demikianlah!" Yaitu demikianlah yang telah dilakukan oleh Dzulqarnain di dalam ia menaklukkan negeri, baik ke jurusan barat atau ke jurusan timur.
“Demikianlah, sesungguhnya pengetahuan Kami telah meliputi segala yang ada padanya itu"
(ayat 91)
Ayat 91 ini memberikan isyarat bahwa kebijaksanaan Dzulqarnain dalam menaklukkan suatu negeri itu adalah dalam pengetahuan Allah, atau mendapat restu dari Allah.
"
The Story of Dhul-Qarnayn
Allah says to His Prophet,
وَيَسْأَلُونَكَ
And they ask you, (O Muhammad),
عَن ذِي الْقَرْنَيْنِ
about Dhul-Qarnayn.
i.e., about his story.
We have already mentioned how the disbelievers of Makkah sent word to the People of the Book and asked them for some information with which they could test the Prophet. They (the People of the Book) said, `Ask him about a man who traveled extensively throughout the earth, and about some young men who nobody knows what they did, and about the Ruh (the soul),' then Surah Al-Kahf was revealed.
قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُم مِّنْهُ ذِكْرًا
Say:""I shall recite to you something of his story.""
Dhul-Qarnayn had great Power
Allah tells,
إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الاَْرْضِ
Verily, We established him in the earth,
means, `We have given him great power, so that he had all that kings could have of might, armies, war equipment and siege machinery.' So he had dominion over the east and the west, all countries and their kings submitted to him, and all the nations, Arab and non-Arab, served him.
Some of them said he was called Dhul-Qarnayn (the one with two horns) because he reached the two ""Horns"" of the sun, east and west, where it rises and where it sets.
وَاتَيْنَاهُ مِن كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا
and We gave him the means of everything.
Ibn Abbas, Mujahid, Sa`id bin Jubayr, Ikrimah, As-Suddi, Qatadah, Ad-Dahhak and others said,
""This means knowledge.""
Qatadah also said,
وَاتَيْنَاهُ مِن كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا
(and We gave him the means of everything).
""The different parts and features of the earth.""
Concerning Bilqis, Allah said,
وَأُوتِيَتْ مِن كُلِّ شَىْءٍ
she has been given all things. (27:23),
meaning all things that monarchs like her are given.
Thus too was Dhul-Qarnayn:
Allah gave him the means of all things, meaning the means and power to conquer all areas, regions and countries, to defeat enemies, suppress the kings of the earth and humiliate the people of Shirk. He was given all that a man like him would need.
And Allah knows best
His traveling and reaching the Place where the Sun sets (the West)
Allah tells,
فَأَتْبَعَ سَبَبًا
So he followed a way.
Ibn Abbas said that;
he followed different routes to achieve what he wanted.
Mujahid said that;
he followed different routes, east and west.
According to one report narrated from Mujahid, he said:
سَبَبًا
(a way),
means, ""A route through the land.""
Qatadah said,
""It means he followed the routes and landmarks of the earth. حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ
Until, when he reached the setting place of the sun,
means, he followed a route until he reached the furthest point that could be reached in the direction of the sun's setting, which is the west of the earth.
As for the idea of his reaching the place in the sky where the sun sets, this is something impossible, and the tales told by storytellers that he traveled so far to the west that the sun set behind him are not true at all. Most of these stories come from the myths of the People of the Book and the fabrications and lies of their heretics.
وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِيَةٍ
he found it setting in a spring of Hami'ah,
meaning, he ﷺ the sun as if it were setting in the ocean. This is something which everyone who goes to the coast can see:it looks as if the sun is setting into the sea but in fact it never leaves its path in which it is fixed.
Hami'ah is, according to one of the two views, derived from the word Hama'ah, which means mud.
This is like the Ayah:
إِنِّى خَـلِقٌ بَشَرًا مِّن صَلْصَـلٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ
""I am going to create a man (Adam) from dried clay of altered Hama'h (mud). (15:28),
which means smooth mud, as we have discussed above.
وَوَجَدَ عِندَهَا قَوْمًا
And he found near it a people.
meaning a nation.
They mentioned that they were a great nation from among the sons of Adam.
قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَن تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَن تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا
We (Allah) said (by inspiration):""O Dhul-Qarnayn! Either you punish them or treat them with kindness.""
means, Allah gave him power over them and gave him the choice:if he wanted to, he could kill the men and take the women and children captive, or if he wanted to, he could set them free, with or without a ransom. His justice and faith became apparent in the ruling he pronounced
قَالَ أَمَّا مَن ظَلَمَ
He said:""As for him who does wrong,
meaning who persists in his Kufr and in associating others in worship with his Lord,
فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ
we shall punish him,
Qatadah said, i.e., by killing him.
ثُمَّ يُرَدُّ إِلَى رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُّكْرًا
and then he will be brought back unto his Lord, Who will punish him with a terrible torment.
meaning a severe, far-reaching and painful punishment.
This implies a confirmation of the Hereafter and the reward and punishment
وَأَمَّا مَنْ امَنَ
But as for him who believes,
meaning `who follows us in our call to worship Allah Alone with no partner or associate,'
وَعَمِلَ صَالِحًا
and works righteousness,
فَلَهُ جَزَاء الْحُسْنَى
he shall have the best reward,
meaning in the Hereafter, with Allah.
وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا
and we (Dhul-Qarnayn) shall speak unto him mild words.
Mujahid said,
`(words of) kindness.
His Journey East
Allah tells;
ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا
حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ
Then he followed (another) way, Until, when he came to the rising place of the sun,
Allah tells us that Dhul-Qarnayn then traveled from the west of the earth towards the east. Every time he passed a nation, he subjugated the people and called them to Allah. If they obeyed him, all well and good, otherwise he would humiliate them and take their wealth and possessions. From every nation he took what his armies needed to fight the next nation. When he reached the place where the sun rises, as Allah says,
وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَى قَوْمٍ
he found it rising on a people,
meaning a nation,
لَّمْ نَجْعَل لَّهُم مِّن دُونِهَا سِتْرًا
for whom We (Allah) had provided no shelter against the sun.
meaning, they had no buildings or trees to cover them and shade them from the heat of the sun.
Qatadah said,
""It was mentioned to us that they were in a land where nothing grew, so when the sun rose they would go into tunnels until it had passed its zenith, then they would come out to go about their daily lives and earn themselves a living.""
كَذَلِكَ وَقَدْ أَحَطْنَا بِمَا لَدَيْهِ خُبْرًا
So (it was)!
And We knew all about him.
Mujahid and As-Suddi said,
""This means that Allah knew everything about him and his army, and nothing was hidden from Him, even though they came from so many different nations and lands. For,
لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَىْءٌ فِي الااٌّرْضِ وَلَا فِى السَّمَأءِ
Truly, nothing is hidden from Allah, in the earth or in the heaven. (3:5)
His Journey to the Land of Ya'juj and Ma'juj, and building the Barrier
Allah says of Dhul-Qarnayn:
ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا
حَتَّى إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ
Then he followed (another) way. Until, when he reached between two mountains,
meaning, he traveled from the east of the earth until he reached a place between the two mountains which were next to one another with a valley in between, from which Ya'juj and Ma'juj (Gog and Magog) will emerge into the land of the Turks and spread mischief there, destroying crops and people.
Ya'juj and Ma'juj are among the progeny of Adam, peace be upon him, as was recorded in the Two Sahihs;
إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ يَا ادَمُ
فَيَقُولُ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ
فَيَقُولُ ابْعَثْ بَعْثَ النَّارِ
فَيَقُولُ وَمَا بَعْثُ النَّارِ
فَيَقُولُ مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعُمِايَةٍ وَتِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ إِلَى النَّارِ وَوَاحِدٌ إِلَى الْجَنَّةِ
فَحِينَيِذٍ يَشِيبُ الصَّغِيرُ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا فَقَالَ إِنَّ فِيكُمْ أُمَّتيْنِ مَا كَانَتَا فِي شَيْءٍ إِلاَّ كَثَّرَتَاهُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوج
""Allah said:""O Adam.""
Adam said, ""Here I am at Your service.""
Allah said, ""Send forth the group of Hellfire.""
Adam said, ""What is the group of Hellfire?""
Allah said:""Out of every thousand, nine hundred and ninety-nine will go to Hell and one will go to Paradise.""
At that time young men will turn grey and every pregnant female will drop her load. Among you are two nations who never come to anything but they overwhelm it with their huge numbers. (They are) Ya'juj and Ma'juj.""
وَجَدَ مِن دُونِهِمَا قَوْمًا لاَّ يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلاً
he found before them a people who scarcely understood a word.
he could not understand their speech, because they were so isolated from other people
قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الاْاَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا
They said:""O Dhul-Qarnayn! Verily, Ya'juj and Ma'juj are doing great mischief in the land. Shall we then pay you a tribute""
Ibn Jurayj reported from Ata' from Ibn Abbas that;
this meant a great reward, i.e., they wanted to collect money among themselves to give to him so that he would create a barrier between them and Ya'juj and Ma'juj.
عَلَى أَن تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا
in order that you might erect a barrier between us and them""
Dhul-Qarnayn said with kindness, righteousness and good intentions
قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ
He said:""That in which my Lord had established me is better (than your tribute).
meaning, the power and authority that Allah has given me is better for me than what you have collected.
This is like when Suleiman (Solomon), peace be upon him, said:
أَتُمِدُّونَنِ بِمَالٍ فَمَأ ءَاتَـنِى اللَّهُ خَيْرٌ مِّمَّأ ءَاتَـكُمْ
Will you help me in wealth What Allah has given me is better than that which He has given you! (27:36)
Similarly, Dhul-Qarnayn said:
`What I have is better than what you want to give me, but help me with strength,� i.e., with your labor and construction equipment,
فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ
So help me with strength,
أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا
اتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ
I will erect between you and them a barrier. Give me Zubar of iron,
Zubar is the plural of Zubrah, which means pieces or chunks of something.
This was the view of Ibn Abbas, Mujahid and Qatadah.
These pieces were like bricks or blocks, and it was said that each block weighed one Damascene Qintar or more.
حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ
then, when he had filled up the gap between the two mountain-cliffs,
means, he put the blocks on top of one another, starting at the bottom, until he reached the tops of the mountains, filling the width and height of the gap.
The scholars differed about the precise width and height.
قَالَ انفُخُوا
he said:�Blow;��
means, he lit a fire until the whole thing was burning hot.
حَتَّى إِذَا جَعَلَهُ نَارًا
then when he had made them (red as) fire,
قَالَ اتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا
he said:�Bring me Qitran to pour over them.��
Ibn Abbas, Mujahid, `krimah, Ad-Dahhak, Qatadah and As-Suddi said:
it was copper.
Some of them added that it was molten.
This is similar to the Ayah:
وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ
And We caused a fount of Qitran to flow for him. (34:12)
So it resembled a striped cloak.
The Barrier restrains Them, but It will be breached when the Hour draws nigh
Allah tells us that Ya'juj and Ma'juj could not climb over the barrier or penetrate its lower portion. Varying forms of the verb are used here in the Arabic text to reflect the difficulty of the action referred to.
فَمَا اسْطَاعُوا أَن يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا
So they (Ya'juj and Ma'juj) could not scale it or dig through it.
This indicates that they could not penetrate it or dig through it.
Imam Ahmad recorded that Zaynab bint Jahsh, the wife of the Prophet said,
""The Prophet woke from sleep, and he was red in the face.
He said,
لَاا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرَ قَدِ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذَا
La ilaha illallah! Woe to the Arabs from the evil that has approached (them). Today a hole has been opened in the barrier of Ya'juj and Ma'juj like this.
and he made a circle with his index finger and thumb. I (Zaynab) said, `O Messenger of Allah, will we be destroyed even though there will be righteous people among us?'
He said:
نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَث
Yes, if evil increases.""
This is a Sahih Hadith, both Al-Bukhari and Muslim recorded it
قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّي
(Dhul-Qarnayn) said:""This is a mercy from my Lord...""
meaning, after it was built by Dhul-Qarnayn.
قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّي
He said:This is a mercy from my Lord,
for the people, when he placed a barrier between them and Ya'juj and Ma'juj, to stop them from spreading evil and corruption on earth.
فَإِذَا جَاء وَعْدُ رَبِّي
but when the promise of my Lord comes,
means, when the true promise comes.
جَعَلَهُ دَكَّاء
He shall Dakka' it down to the ground.
means, will make it flat.
The Arabs use Dakka' to describe a female camel whose back is flat and has no hump.
And Allah says:
فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا
So when his Lord appeared to the mountain, He made it Dakkan. (7:143)
meaning, level to the ground.
وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا
And the promise of my Lord is ever true.
means, it will come to pass without a doubt
وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ
We shall leave some of them,
meaning mankind, on that day, the day when the barrier will be breached and these people (Ya'juj and Ma'juj) will come out surging over mankind to destroy their wealth and property.
وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَيِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ
We shall leave some of them to surge like waves on one another;
As-Suddi said:
""That is when they emerge upon the people.""
All of this will happen before the Day of Resurrection and after the Dajjal, as we will explain when discussing the Ayat:
حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ
وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ
Until, when Ya'juj and Ma'juj are let loose, and they swoop down from every Hadab. And the true promise shall draw near... (21:96-97)
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ
and As-Sur will be blown.
As-Sur, as explained in the Hadith, is a horn that is blown into. The one who will blow into it is (the angel) Israfil, peace be upon him, as has been explained in the Hadith quoted at length above, and there are many Hadiths on this topic.
According to a Hadith narrated from Atiyah from Ibn Abbas and Abu Sa`id, and attributed to the Prophet,
كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ وَحَنَى جَبْهَتَهُ وَاسْتَمَعَ مَتَى يُوْمَرُ
How can I relax when the one with the Horn has put the Horn in his mouth and has knelt down, listening out for the command to be given to him?
They said, ""What should we say?""
He said:
قُولُوا
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ عَلَى اللهِ تَوَكَّلْنَا
Say:
""Allah is Sufficient for us and the best Disposer of affairs, in Allah have we put our trust.""
فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا
and We shall collect them (the creatures) all together.
means, `We shall bring them all together for Reckoning.'
قُلْ إِنَّ الاٌّوَّلِينَ وَالاٌّخِرِينَ
لَمَجْمُوعُونَ إِلَى مِيقَـتِ يَوْمٍ مَّعْلُومٍ
Say:""(Yes) verily, those of old, and those of later times. All will surely be gathered together for appointed meeting of a known Day. (56:49-50)
وَحَشَرْنَـهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَداً
and we shall gather them all together so as to leave not one of them behind. (18:47)"
Then he followed a way, towards the east,
Commentary
The Holy Qur'an does describe this state of the people Dhul-Qarnain found living towards the East meaning thereby that they were not accustomed to the use of ways and means like houses, tents and dresses to seek protection against the Sun. But, it does not mention anything about their faith and deeds, nor does it say what Dhul-Qarnain did to them.
However, it is obvious that these people too were infidels and Dhul-Qarnain handled them the way he had handled the people he had found in the West as mentioned earlier. But, describing it again at this place was not considered necessary since finding it out is also possible on the analogy of the previous event. (As in al-Bahr al-Muhit from Ibn Atiyyah)