ٱلْكَهْف ٢٢
- سَيَقُولُونَ mereka akan mengatakan
- ثَلَٰثَةٞ bertiga/tiga orang
- رَّابِعُهُمۡ keempat mereka
- كَلۡبُهُمۡ anjing mereka
- وَيَقُولُونَ dan mereka mengatakan
- خَمۡسَةٞ berlima/lima orang
- سَادِسُهُمۡ keenam mereka
- كَلۡبُهُمۡ anjing mereka
- رَجۡمَۢا terkaan
- بِٱلۡغَيۡبِۖ dengan/terhadap yang gaib
- وَيَقُولُونَ dan mereka mengatakan
- سَبۡعَةٞ bertujuh/tujuh orang
- وَثَامِنُهُمۡ dan kedelapan mereka
- كَلۡبُهُمۡۚ anjing mereka
- قُل katakanlah
- رَّبِّيٓ Tuhanku
- أَعۡلَمُ lebih mengetahui
- بِعِدَّتِهِم dengan/tentang bilangan/jumlah mereka
- مَّا tidak ada
- يَعۡلَمُهُمۡ mengetahui mereka
- إِلَّا kecuali
- قَلِيلٞۗ sedikit
- فَلَا maka janganlah
- تُمَارِ kamu bertengkar
- فِيهِمۡ tentang mereka
- إِلَّا kecuali
- مِرَآءٗ pertengkaran
- ظَٰهِرٗا lahir
- وَلَا dan jangan
- تَسۡتَفۡتِ kamu menanyakan
- فِيهِم tentang mereka
- مِّنۡهُمۡ diantara mereka
- أَحَدٗا satu/seorang
Nanti (ada orang yang akan) mengatakan,1" (Jumlah mereka) tiga (orang), yang ke empat adalah anjingnya," dan (yang lain) mengatakan, "(Jumlah mereka) lima (orang), yang ke enam adalah anjingnya," sebagai terkaan terhadap yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan, "(Jumlah mereka) tujuh (orang), yang ke delapan adalah anjingnya." Katakanlah (Muhammad), "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit." Karena itu janganlah engkau (Muhammad) berbantah tentang hal mereka, kecuali perbantahan lahir saja dan jangan engkau menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada siapa pun.
Catatan kaki
1 *491) Ahli Kitab dan lainnya pada zaman Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
(Nanti mereka akan mengatakan) yaitu orang-orang yang berselisih pendapat di zaman Nabi ﷺ tentang bilangan para pemuda itu. Atau dengan kata lain sebagian di antara mereka mengatakan bahwa jumlah mereka ada (tiga orang yang keempat adalah anjingnya dan yang lain mengatakan) sebagian yang lain daripada mereka (lima orang dan yang keenam adalah anjingnya) kedua pendapat tersebut dikatakan oleh orang-orang Nasrani dari Najran (sebagai terkaan terhadap barang yang gaib) hanya berlandaskan kepada dugaan belaka tanpa bukti yang nyata; kedua pendapat tersebut hanyalah main terka saja. Lafal Rajman dinashabkan karena menjadi Maf'ul Lah, artinya: sebagai terkaan mereka terhadap barang yang gaib (dan yang lain lagi mengatakan) yakni orang-orang Mukmin (Jumlah mereka, tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya) Jumlah ayat ini berkedudukan menjadi Mubtada, sedangkan Khabarnya adalah Sifat daripada lafal Sab'atun, dengan ditambahi huruf Wawu sesudahnya. Menurut pendapat yang lain, berkedudukan menjadi Taukid, atau menunjukkan tentang menempelnya sifat kepada Maushufnya. Dan disifatinya kedua pendapat yang tadi dengan istilah Ar-Rajmi yakni terkaan, berbeda dengan pendapat yang ketiga sekarang ini, hal ini menunjukkan bahwa pendapat yang ketiga ini adalah pendapat yang sahih dan dibenarkan (Katakanlah, "Rabbku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui bilangan mereka kecuali sedikit") Sahabat Ibnu Abbas r.a. mengatakan, "Saya adalah salah seorang daripada orang-orang yang sedikit itu." Selanjutnya ia menuturkan bahwa jumlah mereka ada tujuh orang. (Karena itu janganlah kamu bertengkar) yakni memperdebatkan (tentang hal mereka, kecuali pertengkaran yang lahir saja) daripada sebagian apa yang diturunkan kepadamu (dan jangan kamu menanyakan tentangnya) maksudnya kamu meminta penjelasan tentang Ashkabul Kahfi itu (dari mereka) mempertanyakan kepada sebagian daripada orang-orang ahli kitab, yaitu orang-orang Yahudi (seseorang pun) pada suatu ketika penduduk Mekah menanyakan tentang kisah Ashhabul Kahfi itu. Lalu Nabi ﷺ menjawab, "Saya akan menceritakannya kepada kalian besok", tanpa memakai kata Insya Allah, maka turunlah firman-Nya:.
Tafsir Surat Al-Kahfi: 22
Nanti ada orang (yang akan) mengatakan, “(Jumlah mereka) tiga orang, yang keempatnya adalah anjingnya,” dan (yang lain) mengatakan, "(Jumlah mereka) lima orang, yang keenam adalah anjingnya," sebagai terkaan terhadap hal yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan, "(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya." Katakanlah, "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (jumlah) mereka kecuali sedikit. Karena itu, janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja; dan janganlah kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka."
Allah ﷻ berfirman menceritakan tentang perselisihan pendapat di kalangan orang-orang sehubungan dengan kisah para pemuda penghuni gua itu. Pendapat mereka ada tiga, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pendapat keempat; dan bahwa pendapat pertama dan kedua adalah lemah karena disebutkan dalam firman-Nya: “Sebagai terkaan terhadap hal yang gaib”. (Al-Kahfi: 22) Yakni pendapat yang tidak berdasarkan kepada pengetahuan. Keadaannya sama dengan seseorang yang membidikkan anak panahnya ke arah yang tidak diketahuinya, maka sesungguhnya lemparan panahnya itu tidak akan mengenai sasaran; dan jika mengenai sasaran maka itu hanya karena kebetulan.
Kemudian Allah ﷻ menyebutkan pendapat ketiga tapi tidak memberi komentar terhadapnya atau secara tidak langsung sebagai pengakuan akan kebenarannya. Untuk ini Allah ﷻ berfirman: “Yang kedelapan adalah anjingnya.” (Al-Kahfi: 22) Hal ini menunjukkan kebenaran pendapat ketiga, dan bahwa memang itulah kenyataannya.
Firman Allah ﷻ: "Katakanlah, ‘Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka’." (Al-Kahfi: 22)
Suatu petunjuk yang menyatakan bahwa hal yang terbaik dalam menghadapi masalah seperti ini adalah mengembalikan pengetahuan tentangnya kepada Allah ﷻ, karena tidak perlu kita mendalami hal seperti ini tanpa pengetahuan. Tetapi jika Allah memberitahu kita suatu pengetahuan mengenainya, maka kita mengatakannya; jika tidak, kita hentikan langkah sampai di situ.
Firman Allah ﷻ: "Tidak ada yang mengetahui jumlah (bilangan) mereka kecuali sedikit." (Al-Kahfi: 22)
Maksudnya, hanya sedikit orang yang tahu bilangan mereka sebenarnya. Qatadah mengatakan, Ibnu Abbas pernah berkata bahwa dirinya termasuk golongan orang yang sedikit itu yang dikecualikan oleh Allah dalam ayat ini; jumlah mereka adalah tujuh orang. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Ata Al-Khurrasani, dari Ibnu Abbas, bahwa Ibnu Abbas pernah berkata, "Saya termasuk orang yang dikecualikan oleh Allah ﷻ." Ibnu Abbas mengatakan pula bahwa jumlah mereka ada tujuh orang.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: "Tidak ada yang mengetahui jumlah (bilangan) mereka kecuali sedikit." (Al-Kahfi: 22) Ibnu Abbas mengatakan, "Saya termasuk sedikit orang itu, jumlah mereka ada tujuh orang." Semua riwayat ini disandarkan kepada Ibnu Abbas secara shahih, bahwa jumlah mereka ada tujuh orang (yakni para pemuda penghuni gua itu).
Pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas ini sesuai dengan apa yang telah kita sebutkan di atas. Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Abu Nujaih, dari Mujahid yang mengatakan, "Sesungguhnya saya mendapat kisah bahwa di antara para pemuda penghuni gua itu terdapat orang yang masih muda sekali usianya." Ibnu Abbas mengatakan bahwa sepanjang siang dan malam mereka selalu menyembah Allah seraya menangis dan memohon pertolongan kepada Allah.
Jumlah mereka ada delapan orang. Orang yang tertua di antara mereka bernama Makslimina, dialah yang diajak bicara oleh raja. Lalu Yamlikha, Martunus, Kastunus, Bairunus, Danimus, Yatbunus, dan Qalusy. Demikianlah yang terdapat di dalam riwayat Ibnu Ishaq, dan pendapat ini mempunyai takwil bahwa ini adalah perkataan Ibnu Ishaq dan orang-orang yang ada antara dia dan Ibnu Abbas. Karena sesungguhnya pendapat yang benar dari Ibnu Abbas adalah yang mengatakan bahwa jumlah mereka ada tujuh orang. Hal inilah yang sesuai dengan makna lahiriah ayat.
Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan dari Sya'b Al-Juba-i bahwa nama anjing mereka adalah Hamran. Sehubungan dengan penyebutan nama mereka dengan nama-nama tersebut, juga nama anjing mereka, kebenarannya masih perlu dipertanyakan. Hanya Allah-lah yang mengetahui kebenarannya. Karena sesungguhnya sumber berita mengenai hal ini kebanyakan berasal dari kaum Ahli Kitab.
Sedangkan Allah ﷻ telah berfirman: "Karena itu, janganlah kamu (Muhammad) berdebat tentang keadaan mereka, kecuali perdebatan lahir saja." (Al-Kahfi: 22) Maksudnya, debatlah mereka dengan debat yang ringan dan mudah, karena sesungguhnya mengetahui hal tersebut dengan pengetahuan yang sebenarnya tidak banyak mengandung manfaat.
“Dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka.” (Al-Kahfi: 22) Karena sesungguhnya pada hakikatnya mereka tidak punya pengetahuan tentang hal tersebut kecuali karangan mereka sendiri, sebagai terkaan terhadap hal yang gaib; yakni tanpa berdasarkan kepada pendapat orang yang dipelihara dari kesalahan. Dan sungguh telah datang kepadamu Muhammad, berita yang hak yang tiada keraguan dan kebimbangan padanya. Maka itulah yang harus kamu pegang dan prioritaskan daripada pendapat yang dikatakan oleh kitab-kitab terdahulu dan pendapat orang-orangnya.
Setelah menjelaskan perbedaan pendapat penduduk negeri tentang
penghuni gua itu, ayat selanjutnya menguraikan perbedaan pendapat
orang-orang yang datang kemudian, termasuk kaum musyrik Mekah,
kaum Yahudi dan Nasrani pada masa Nabi Muhammad. Nanti ada
orang yang memperbincangkan berapa jumlah penghuni gua itu. Mereka mengatakan, Jumlah mereka itu tiga orang, yang keempat adalah
anjingnya, dan yang lain mengatakan, Jumlah mereka lima orang, yang ke
enam adalah anjingnya, Perkataan itu mereka ucapkan sebagai terkaan
terhadap sesuatu yang gaib tanpa dasar atau alasan apa pun; dan yang
lain lagi mengatakan, Jumlah mereka tujuh orang, yang ke delapan adalah
anjingnya. Katakanlah wahai Nabi Muhammad, terhadap mereka yang
mengatakan itu, Tuhanku yang memelihara dan membimbingku lebih
mengetahui dari siapa pun jumlah mereka secara pasti; tidak ada yang
mengetahui bilangan mereka kecuali yang diberitahu oleh Allah, dan mereka yang diberi tahu oleh Allah itu sedikit. Karena itu janganlah engkau wahai Nabi Muhammad dan wahai kaum muslim berbantah tentang hal
mereka, yakni Ashhabul-Kahf kecuali perbantahan lahir saja yang disertai bukti-bukti yang jelas dan jangan engkau menanyakan tentang mereka
pemuda-pemuda Ashhabul-Kahf itu kepada siapa pun, setelah datang berita yang pasti dari Tuhanmu. Beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi tentang roh, kisah
penghuni gua dan kisah Zulkarnain. Nabi Muhammad menyuruh mereka datang besok pagi dan beliau menjanjikan akan menceritakan
kepada meraka peristiwa ini. Allah memberi pelajaran dalam ayat ini,
dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, yakni menjanjikan akan memberikan jawaban terhadap pertanyaan atau melakukan
sesuatu dengan berkata Aku pasti melakukan itu besok pagi,.
Dalam ayat ini, Allah ﷻ menjelaskan perselisihan pendapat yang terjadi pada masa Rasulullah ﷺ mengenai kisah ini. Orang Nasrani dari aliran Malkaniyah berkata, "Mereka itu berjumlah tiga orang, yang keempat adalah anjingnya." Orang Nasrani dari aliran Ya'qubiyah berpendapat, "Mereka itu berjumlah lima orang dan yang keenam adalah anjingnya." Sedangkan golongan Nasthuriyah mengatakan, "Mereka itu tujuh orang dan yang kedelapan adalah anjingnya." Dalam hal ini Allah berfirman bahwa mereka mengatakan tiga atau lima orang itu hanyalah perkiraan semata, dan tidak disertai dengan pengetahuan, seperti melemparkan batu di malam hari ke suatu sasaran yang tidak tampak oleh mata. Tetapi Allah tidak menyatakan terhadap orang yang mengatakan tujuh orang sebagai perkiraan yang tidak menentu. Oleh karena itu, menurut Ibnu 'Abbas, pendapat yang mengatakan bahwa jumlah mereka itu tujuh orang dan yang kedelapan adalah anjingnya inilah yang benar. Sebab Allah ﷻ menyatakan kedua pendapat sebelumnya sebagai perkiraan yang tidak menentu, namun tidak mengatakan hal yang sama untuk pendapat yang ketiga. Hal ini menunjuk-kan bahwa perkataan yang ketiga itulah yang benar dan menunjukkan pula bahwa ucapan itu berdasarkan pengetahuan, keyakinan, dan kemantapan batin.
Mengenai nama-nama mereka yang tujuh itu, yang bermacam-macam pengucapannya, menurut al-hafidh Ibnu hajar dalam Kitab Tarikh karya Bukhari, tidak ada yang dapat dijadikan rujukan, karena bukan nama Arab. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan nama-nama mereka sebagai berikut: Maksalmina (yang tertua), Tamlikha (yang kedua), Marthunus, Birunus, Dominus, Yathbunus, Falyastathyunus, dan nama anjingnya Hamran atau Qitmir. Nama-nama ini diambil dari Ahli Kitab, sehingga kebenarannya masih diragukan. Hanya Allah yang lebih mengetahui.
Kemudian Allah ﷻ memerintahkan Rasul-Nya untuk mengemukakan kepada mereka yang berselisih tentang berapa jumlah pemuda penghuni gua itu bahwa Allah ﷻ lebih mengetahui jumlah mereka. Tidak perlu mem-bicarakan hal seperti itu tanpa pengetahuan, lebih baik menyerahkannya kepada Allah. Seandainya Allah memberitahu Rasul-Nya tentang hal itu, tentu beliau akan menyampaikannya kepada umatnya jika bermanfaat untuk kehidupan mereka di dunia dan akhirat. Jika hal itu tidak disebutkan, seharusnya tidak perlu membuang-buang tenaga untuk memikirkannya.
Tetapi kemudian, Allah menegaskan "tidak ada orang yang mengetahui jumlah mereka kecuali sedikit". Di sini Allah mengisyaratkan adanya segelintir manusia yang diberi Allah ilmu untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya tentang penghuni-penghuni gua itu. Siapakah yang sedikit itu? Ibnu 'Abbas, seorang sahabat yang masih muda pada zamannya dan dipandang sebagai tokoh ilmiah di segala bidang, mengatakan bahwa dia termasuk di antara yang sedikit itu. Ahli-ahli sejarah, ahli-ahli ilmu purbakala, mungkin dimasukkan ke dalam golongan yang kecil itu bilamana mereka dengan kegiatan penelitiannya memperoleh fakta-fakta sejarah tentang umat masa lampau. Akan tetapi, yang terpenting untuk umat Islam dari ayat ini bukanlah mencari keterangan tentang jumlah pemuda-pemuda itu, melainkan bagaimana mengambil iktibar dan pelajaran dari peristiwa ini, yang bermanfaat untuk membina iman dan takwa kepada Allah ﷻ
Setelah Allah menyebutkan kisah ini, Allah melarang Nabi dua hal: Pertama tidak boleh memperdebatkan tentang Ashhabul Kahf kepada Ahli Kitab. Nabi dilarang berdebat tentang hal itu kecuali dengan cara yang lembut, tanpa menentukan bilangan jumlah Ashhabul Kahf, dan tidak membodoh-bodohkan mereka karena hal itu tidak bermanfaat. Tujuan utama kisah ini adalah mengimani bahwa hari kebangkitan pasti terjadi.
Di lain surah dengan maksud yang sama Allah berfirman:
Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka. (al-'Ankabut/29: 46)
Larangan kedua, Allah ﷻ memerintahkan kepada Nabi ﷺ agar tidak meminta keterangan tentang pemuda-pemuda itu kepada orang-orang Nasrani karena mereka juga tidak punya dasar pengetahuan tentang itu. Mereka hanya memperkirakan saja dan tanpa dalil yang kuat.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Mereka akan berkata, “Mereka itu tiga orang, yang keempat ialah anjing mereka."
(pangkal ayat 22)
Artinya ada satu golongan yang akan mengemukakan taksiran mereka, atau kabarnya konon yang mereka terima bahwa penduduk gua itu tiga orang, berempat dengan anjingnya."Dan berkata pula mereka (yang lain); Lima orang, yang keenam anjing mereka." Mereka ini pun mempertahankan bahwa orang itu berlima, berenam dengan anjing. Kedua bilangan yang mereka kemukakan ini adalah rajman bilghaibi saja, artinya menebak-nebak tentang hal yang gaib. Sebab tidak ada di antara mereka yang datang sendiri ke gua itu buat menyelidiki. Mereka hanya menerima kabar dari orang ke orang saja. Apatah lagi waktunya telah lama berlalu, dan letak gua itu pun tidak ada di antara mereka yang mengetahuinya pasti,
“Dan berkata lagi mereka (yang lain); “Bertujuh, dan yang kedelapan ialah anjing mereka." Perkataan yang ketiga ini pun dikeluarkan oleh yang mengata-kannya berdasar kepada pendengaran dari orang ke orang juga. Cuma ahli tafsir, seperti Ibnu Abbas, membesarkan kemungkinan bahwa kata yang ketiga inilah yang lebih dekat kepada kebenaran, yang diterangkan dengan wahyu. Sebab sesudah diuraikan kata pertama (bertiga, berempat dengan anjing) dan kata kedua (berlima, berenam dengan anjing) dikatakan bahwa perkataan itu hanya menebak-nebak hal yang gaib. Sesudah itu baru diberikutkan kata ketiga, “bertujuh, danyang kedelapan ialah anjingnya." Tetapi penaksiran ahli tafsir itu belum jugalah dapat dijadikan kepastian. Sebab lanjutan ayat ialah “Katakanlah (Hai Rasul!) Tuhankulah yang lebih tahu dengan bilangan mereka, tidak ada yang mengetahui berapa mereka kecuali sedikit." Yang sedikit itu tentulah orang yang hidup pada masa itu, yang turut ziarah ke dalam gua itu, termasuk raja negeri itu, dan mereka sekarang sudah tak ada lagi. Atau yang sedikit itu ialah Rasulullah sendiri. Tetapi beliau dilarang Allah turut mempertengkarkan bilangan mereka sebab yang demikian itu hanyalah akan menghabiskan waktu belaka, sebab ilmunya tidak berdasar kepada penyelidikan (riset) yang tertentu. Sehingga kalau dipertengkarkan juga, tidaklah akan ada kesu-dahannya."Oleh karena itu janganlah engkau (turut) bertengkar tentang mereka." Inilah satu tuntunan bagi Rasul dan bagi umat yang beriman, jangan membuang-buang waktu mempertengkarkan hal yang tidak ada alasan dan pertahanan dan bukti-bukti."Melainkan pertengkaran yang jelas." Artinya bertengkar atau bertukar pikirari tidaklah dilarang, asal soalnya dapat diselesaikan dengan baik untuk mendudukkan kebenaran. Yang terang hanyalah memang ada penghuni gua itu. Itu boleh diperkatakan! Adapun berapa bilangan isinya, pertama diperdebatkan.
“Dan tak asahlah engkau beritanya tentang mereka itu, kepada seorang jua pun."
(ujung ayat 22)
Tegasnya, Nabi ﷺ pun tak perlu bertanya kepada siapa-siapa tentang berapa jumlah orang-orang yang tidur dalam gua itu. Karena tidak akan ada jawaban yang pasti. Kalau mereka jawab juga, hanya akan membuka pintu bagi mereka membuat dongeng dan khayat saja.
Berdasar kepada ayat-ayat ini sendiri maka kalau ada di dalam kitab-kitab pedukunan nama-nama penghuni gua itu, pandang sajalah nama-nama itu sebagai khayat yang tak ada dasarnya. Ada setengah tafsir menuliskan juga nama-nama mereka. Untuk memperlengkap Tafsir al-Azhar kita ini, tetapi tidak untuk memercayainya, kita salinkan nama-nama itu.
1. Yamlikha (yang diutus membeli makanan ke kota).
2. Marthunus.
3. Kastunus.
4. Berirunus.
5. Darimus.
6. Yathubunus.
7. Kalus.
Dan ada pula yang menambahkan satu nama lagi, yaitu Maxalamina. Dan nama anjingnya Hamran. Ibnu Katsir berkata, “Nama-nama ini dan nama anjingnya tidaklah dijamin shahih atau tidak! Sebab semuanya itu diterima dari ahlul-kitab saja." Dari keterangan Rasulullah ﷺ sendiri tak ada.
Biasa dukun-dukun menuliskan nama-nama itu pada kain putih diletakkan di tempat yang tersembunyi untuk menjaga rumah, sehingga maling takut memasuki pekarangan rumah itu. Entah ia, entah tidak!
Teranglah di sini bahwa yang penting kita tilik dari cerita ini bukanlah bilangan orang bertiga, atau berlima, atau bertujuh, diertai anjingnya. Yang penting kita ingati di sini ialah keteguhan iman, persamaan keyakinan, persaudaraan yang padu karena sama pendirian. Kalau benar bahwa mereka itu adalah anak raja-raja, anak orang besar, dapatlah kita mengambil i'tibar bagaimana kukuhnya keyakinan mereka, sehingga mau mereka meninggalkan hidup mewah, karena tempat yang aman memelihara iman yang telah tumbuh dalam jiwa.
Kemudian itu sambil lalu Allah memberi peringatan kepada Rasul-Nya,
“Dan sekali-kali janganlah engkau berkata tentang sesuatu hal bahwa aku akan berbuat sedemikian besok."
(ayat 23)
Artinya jika engkau menghadapi suatu urusan atau mengikat suatu janji, janganlah engkau memberikan kata pasti, bahwa urusan atau janji itu akan engkau penuhi beresok. Karena apa yang akan kejadian beresok itu, bukanlah di dalam tanganmu. Di atas sesuatu yang engkau rencanakan ada lagi rencana yang lebih besar dan lebih kuat kuasa, yaitu rencana Allah.
“Kecuali bahwa dikehendaki oteh Allah."
(pangkal ayat 24)
sebagai sambungan dari ayat 23. Yaitu alaslah segala janjimu itu dengan in syaa Allah, jangan engkau pastikan saja. Karena engkau tidaklah mempunyai daya upaya buat menolak sesuatu yang telah ditentukan Allah terlebih dahulu.
Menurut keterangan dari ahli-ahli tafsir, sebagai yang telah kita uraikan pada permulaan sebab turunnya ayat ini, orang Quraisy atau Yahudi meminta keterangan kepada beliau apakah yang dikatakan ruh itu, dan bagaimana kisahnya penghuni gua dan siapakah yang mengembara ke barat dan ke timur itu. Maka Rasulullah berjanji akan menjawabnya beresok, karena mengharap nanti malam Jibril akan datang membawa wahyu. Rupanya Jibril tidak datang-datang sampai lima belaa hari lamanya. Kekesalan menunggu lima belas hari itu dapatlah dipahami, untuk jadi pengajaran lain kali supaya jangan mengikat janji pasti, tetapi hendaklah beri ikatan dengan kalimat in syaa Allah. Sebab kekuasaan tertinggi adalah di tangan Allah."Dan ingatlah (kembali) Tuhanmu jika engkau lupa."
Dengan peringatan yang sedikit ini, Allah menyuruh Rasul-Nya mengingatnya kembali apabila dia lupa, dapatlah memaklumi kelemahan kita sebagai manusia. Seumpama kita dalam shalat diwajibkan khusyu. Namun kadang-kadang kita dalam shalat itu lupa juga kepada Allah dan teringat juga kepada yang lain. Lalu kita disuruh kembali kepada haluan yang kita tuju."Dan katakanlah,
“Mudah-mudahan kiranya memberi petunjuk Tuhanku kepadaku, kepada sesuatu yang lebih dekat dari ini kebenarannya."
(ujung ayat 24)
Kerapkali memang kita terlupa dan ter-lalai. Lupa bukanlah hal yang disengaja. Apabila biduk kita berlayar mengarungi danau atau sungai yang luas, kita sudah memastikan tujuan yang kita tempuh. Tetapi di tengah jalan kita akan bertemu dengan halangan yang sudah pasti akan membelokkan haluan biduk kita dari yang dituju; adakalanya karena biduk melawan angin, adakalanya karena arus terlalu deras. Tetapi selalu kita berpirau, selalu kita berusaha memegang kemudi dengan teguh untuk membawa haluan biduk itu kepada yang dituju. Demikianlah misalnya kita menempuh hidup ini menuju tujuan yang ditentukan Allah. Lantaran itulah maka selalu kita hendaknya memohonkan kekuatan yang langsung diberikan oleh Allah sendiri, diberinya kita petunjuk, sehingga kita sampai kepada sesuatu garis yang ditentukan Allah, yang lebih dekat kepada kebenaran.
Dengan ayat ini dan beberapa ayat yang lain kita mendapat pelajaran bahwa kekhilafan atau kealpaan yang tidak disengaja terjadi juga pada diri nabi-nabi dan rasul-rasul. Sebab itu maka ulama-ulama ahli sunnah se-pendapat bahwa kealpaan yang berkecil itu tiada mustahil bagi seorang nabi. Yang mustahil ialah jika seorang nabi atau rasul berbuat dosa besar! Namun demikian kealpaan yang kecil itu pun ditegur dengan halus oleh Allah. Kealpaan mengucapkan Insya Allah saja buat peneguh janji sudah ditegur. Namun, bagi rasul-rasul dan nabi kealpaan kecil itu amat besar artinya.
Demikianlah tersebut dalam sebuah ha-dits yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim yang dirawikan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi kita ﷺ bercerita, “Bahwa pada suatu malam Nabi Sulaiman bin Dawud berazam hendak menyetubuhi istrinya yang 70 (ada riwayat mengatakan 90 dan ada yang mengatakan 100 orang), dengan rencana satu istri melahirkan seorang anak laki laki dan setelah anak itu dewasa kelak dia akan menjadi prajurit yang berjuang pada Sabilillah. Maka lupalah beliau mengucapkan kalimat Insya Allah! Maka disetubuhinyalah istri-istrinya itu bergiliran. Tetapi yang kejadian adalah di luar rencana beliau. Tidak ada istri itu yang bunting di masa itu, kecuali seorang. Dan setelah istri itu melahirkan anak, ternyata anak itu hanya separuh sifatnya sebagai manusia." (Mungkin bodoh atau pandir). Maka bersabdalah Nabi kita ﷺ, “Demi Tuhan yang aku ini adalah di dalam tangan kekuasaan-Nya, sekiranya Sulaiman di waktu merencanakan itu menyebut in syaa Allah, niscaya akan tercapailah apa yang dia cita-citakan."
“Dan tinggallah mereka itu di dalam gua mereka tiga ratus tahun."
(pangkal ayat 25)
Yaitu menurut perhitungan tahun Syam-siyah, hisab perhitungan edaran matahari yang berjumlah setahun 365 hari.
“Dan mereka tambah sembilan (lagi)."
(ujung ayat 25)
Artinya 300 tahun menurut hitungan perjalanan matahari yang setahun 365 hari, men-jadilah ditambah sembilan tahun lagi, menjadi 309 tahun bila dihitung dengan hisab perjalanan bulan yang setahun 354 hari.
Disebut dalam ayat ini kedua bilangan ini, Syamsiyah (Matahari) dan Qamariyah (bulan), karena pada masa Nabi ﷺ bilangan hisab itu terpakai di dalam memperkatakan penghuni Kahfi itu. Orang-orang Yahudi dan Nasrani memakai takwim syamsiyah karena pengaruh kekuasaan Romawi Timur yang ada di sebelah utara Tanah Arab, yaitu Tanah Syam, Mosopotami, dan Palestina. Sedang orang Arab sejak dahulu memakai perhitungan hisab qamariyah.
Kemudian datanglah sambungan ayat,
“Katakanlah, “Allah-lahyang lebih tahu berapa lama mereka tinggal (di sana)"
(pangkal ayat 26)
Pada ayat 25 di atas itu Allah telah memberitahukan berapa lamanya penghuni-penghuni Kahfi itu tidur di sana, yaitu 300 tahun Syamsiyah, tambah 9 tahun kalau dihitung menurut Qamariyah. Itulah hitungan yang betul. Maka jika ada lagi orang yang mengemukakan hitungan yang lain, lebih dari 300 atau 309 tahun, atau kurang dari itu, tidak juga dapat diterima lagi. Sebab mereka tidak dapat mengemukakan bukti-bukti atau data dan fakta yang terperinci. Keterangan dari Allah yang berupa wahyu inilah yang benar."Bagi-Nyalah kegaiban yang di sekalian langit dan bumi." Sedang pengetahuan kita manusia tidaklah dapat menyeruak kepada masa yang telah berlalu dan tidak pula mempunyai upaya mengetahui apa yang akan terjadi beresok. jangankan untuk mengetahui langit yang berlapis-lapis itu, sedangkan bumi yang kita diami ini pun tidaklah sanggup kita mengetahuinya semua, “Alangkah terang Dia Melihat, dan alangkah jelas Dia Mendengar." Bagi-Nya sama yang terdahulu dengan yang terkemu-dian, karena Dia adalah pula bersifat Muhith, artinya meliputi akan segala ruang dan segala waktu."Tidak ada bagi mereka selain Dia, akan Pelindung."
Qatadah mengatakan, “Tidak ada yang lebih melihat dan tidak ada yang lebih men-dengar, melebihi Allah. Oleh sebab itu insaflah hendaknya orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lain. Bahwa tidak ada yang lain dari Allah mempunyai penglihatan menembus segala yang gaib, atau pendengaran menyeruak tempat yang jauh. Dia Yang Men-ciptakan, Dia Yang Mengatur, Dia Yang Memerintah. jangan lagi berlindung kepada yang lain. Ambillah perbandingan dengan penghuni gua Kahfi itu. Siapa pelindung mereka, kalau bukan Allah"
“Dan Dia tidak bersekutu di dalam hukum-Nya dengan seorang jua pun."
(ujung ayat 26)
Dengan ayat 26 inilah dikunci kisah penghuni Kahfi, yang karena keimanan mereka bahwa tidak ada sekutu bagi Allah Yang Maha-tunggal Maha Esa! Itulah pendirian dan Aqidah yang telah mereka pilihi, dan mereka bersedia lebur untuk itu. Dan ini pula kembali yang diperjuangkan oleh Muhammad ﷺ sebagai penutup dari sekalian rasul. Dan menjadi pengajaran pula bagi angkatan muda yang datang di belakang. Bersedia mengurbankan kemewahan dan kepentingan diri sendiri, untuk mempertahankan keyakinan hidup itu.
"How the People of the City came to know about Them; building a Memorial over the Cave
Allah tells:
وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ
And thus We made their case known,
means, `We caused the people to find them.'
لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا
that they might know that the promise of Allah is true, and that there can be no doubt about the Hour.
Several scholars of the Salaf mentioned that the people of that time were skeptical about the Resurrection.
Ikrimah said:
""There was a group of them who said that the souls would be resurrected but not the bodies, so Allah resurrected the people of the Cave as a sign and proof of resurrection.""
They mentioned that when they wanted to send one of their members out to the city to buy them something to eat, he disguised himself and set out walking by a different route, until he reached the city, which they said was called Daqsus.
He thought that it was not long since he left it, but in fact century after century, generation after generation, nation after nation had passed, and the country and its people had changed. He ﷺ no local landmarks that he recognized, and he did not recognize any of the people, elite or commoners. He began to feel confused and said to himself,
""Maybe I am crazy or deluded, maybe I am dreaming.""
Then he said, ""By Allah, I am nothing of the sort, what I know I ﷺ last night was different from this.""
Then he said, ""I had better get out of here.""
Then he went to one of the men selling food, gave him the money he had and asked him to sell him some food. When the man ﷺ the money he did not recognize it or its imprint, so he passed it to his neighbor and they all began to pass it around, saying, ""Maybe this man found some treasure.""
They asked him who he was and where he got this money. Had he found a treasure! Who was he!
He said, ""I am from this land, I was living here yesterday and Decianus was the ruler.""
They accused him of being crazy and took him to the governor who questioned him about his circumstances, and he told him. He was confused about his situation. When he told them about it, they -- the king and the people of the city -- went with him to the cave, where he told them, ""Let me go in first and let my companions know.""
It was said that the people did not know how he entered it, and that the people did not know about their story.
It was also said that they did enter the cave and see them, and the king greeted them and embraced them. Apparently he was a Muslim, and his name was Tedosis.
They rejoiced at meeting him and spoke with him, then they bid farewell to him and went back to sleep, then Allah caused them to die. And Allah knows best.
وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ
And thus We made their case known,
meaning, `just as We caused them to sleep then woke them up physically intact, We made their story known to the people of that time.'
لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ
that they might know that the promise of Allah is true, and that there can be no doubt about the Hour. (Remember) when they (the people) disputed among themselves about their case,
meaning, about Resurrection.
Some believed in it and some denied it, so Allah made their discovery of the people of the cave evidence either in their favor or against them.
فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِم بُنْيَانًا رَّبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ
they said:""Construct a building over them; their Lord knows best about them,""
meaning, seal the door of their cave over them, and leave them as they are.
قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِم مَّسْجِدًا
those who won their point said:""We verily, shall build a place of worship over them.""
Those who said this were the people of power and influence, but were they good people or not; there is some debate on this point, because the Prophet said:
لَعَنَ اللهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَايِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِد
Allah has cursed the Jews and the Christians who took the graves of their Prophets and righteous people as places of worship.
Warning against what they did.
We have reported about the Commander of the faithful Umar bin Al-Khattab that;
when he found the grave of Danyal (Daniel) in Iraq during his period of rule, he gave orders that news of this grave should be withheld from the people, and that the inscription containing mention of battles etc., that they found there should be buried
Their Number
Allah tells:
سَيَقُولُونَ ثَلَثَةٌ رَّابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُم
They say they were three, the dog being the fourth among them; and they say they were five, the dog being the sixth, guessing at the unseen; and they say they were seven, and the dog being the eighth.
Allah tells us that people disputed over the number of the people of the Cave. The Ayah mentions three views, proving that there was no fourth suggestion. Allah indicates that the first two opinions are invalid, by saying,
رَجْمًا بِالْغَيْبِ
(guessing at the unseen), meaning that they spoke without knowledge, like a person who aims at an unknown target -- he is hardly likely to hit it, and if he does, it was not on purpose.
Then Allah mentions the third opinion, and does not comment on it, or He affirms it by saying,
وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ
(and the dog being the eighth), indicating that this is correct and this is what happened.
سَيَقُولُونَ ثَلَثَةٌ رَّابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ
قُل رَّبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِم
Say:""My Lord knows best their number...""
indicating that the best thing to do in matters like this is to refer knowledge to Allah, because there is no need to indulge in discussing such matters without knowledge. If we are given knowledge of a matter, then we may talk about it, otherwise we should refrain.
مَّا يَعْلَمُهُمْ إِلاَّا قَلِيلٌ
none knows them but a few.
of mankind.
Qatadah said that Ibn Abbas said:
""I am one of the few mentioned in this Ayah; they were seven.""
Ibn Jurayj also narrated that Ata' Al-Khurasani narrated from him,
""I am one of those referred to in this Ayah,""
and he would say:""Their number was seven.""
Ibn Jarir recorded that Ibn Abbas said:
مَّا يَعْلَمُهُمْ إِلاَّا قَلِيلٌ
(none knows them but a few),
""I am one of the few, and they were seven.""
The chains of these reports narrated from Ibn Abbas, which say that they were seven, are Sahih, and this is in accordance with what we have stated above.
فَلَ تُمَارِ فِيهِمْ إِلاَّ مِرَاء ظَاهِرًا
So debate not except with the clear proof.
meaning, gently and politely, for there is not a great deal to be gained from knowing about that.
وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِم مِّنْهُمْ أَحَدًا
And consult not any of them (about the people of the Cave).
meaning, `They do not have any knowledge about it except what they make up, guessing at the unseen; they have no evidence from an infallible source. But Allah has sent you, O Muhammad, with the truth in which there is no doubt or confusion, which is to be given priority over all previous books and sayings.
Saying ""If Allah wills"" when determining to do Something in the Future
Allah says:
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا
إِلاَّ أَن يَشَاء اللَّهُ
And never say of anything, ""I shall do such and such thing tomorrow."" Except (with the saying), ""If Allah wills!""
Here Allah, may He be glorified, shows His Messenger the correct etiquette when determining to do something in the future; this should always be referred to the will of Allah, the Knower of the Unseen, Who knows what was and what is yet to be and what is not to be, and how it will be if it is to be.
It was recorded in the Two Sahihs that Abu Hurayrah said that the Messenger of Allah said:
قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ لَااَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى سَبْعِينَ امْرَأَةً وَفِي رِوَايَةٍ تِسْعِينَ امْرَأَةً وَفِي رِوَايَةٍ مِايَةِ امْرَأَةٍ تَلِدُ كُلُّ امْرَأَةٍ مِنْهُنَّ غُلَامًا يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللهِ
فَقِيلَ لَهُ وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ لَهُ الْمَلَكُ قُلْ إِنْ شَاءَ اللهُ فَلَمْ يَقُلْ
فَطَافَ بِهِنَّ فَلَمْ تَلِدْ مِنْهُنَّ إِلاَّ امْرَأَةٌ وَاحِدَةٌ نِصْفَ إِنْسَانٍ
فَقَالَ رَسُولُ الله
صلى الله عليه وسلّم
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ قَالَ إِنْ شَاءَ اللهُ لَمْ يَحْنَثْ وَكَانَ دَرَكًا لِحَاجَتِه
وَفِي رِوَايَةٍ
وَلَقَاتَلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ فُرْسَانًا أَجْمَعُون
Suleiman bin Dawud (peace be upon them both) said:""Tonight I will go around to seventy women (according to some reports, it was ninety or one hundred women) so that each one of them will give birth to a son who will fight for the sake of Allah.""
It was said to him, (according to one report, the angel said to him) ""Say:`If Allah wills'"", but he did not say it.
He went around to the women but none of them gave birth except for one who gave birth to a half-formed child.
The Messenger of Allah said,
By the One in Whose hand is my soul, had he said, ""If Allah wills,"" he would not have broken his oath, and that would have helped him to attain what he wanted.
According to another report,
They would all have fought as horsemen in the cause of Allah.
At the beginning of this Surah we discussed the reason why this Ayah was revealed:when the Prophet was asked about the story of the people of the Cave, he said, ""I will tell you tomorrow."" Then the revelation was delayed for fifteen days. Since we discussed this at length at the beginning of the Surah, there is no need to repeat it here.
وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ
And remember your Lord when you forget,
It was said that this means, if you forget to say ""If Allah wills"", then say it when you remember.
This was the view of Abu Al-`Aliyah and Al-Hasan Al-Basri.
Hushaym reported from Al-A`mash from Mujahid that concerning a man who swears an oath, Ibn Abbas said
""He may say `If Allah wills' even if it is a year later.""
Ibn Abbas used to interpret this Ayah:
وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ
(And remember your Lord when you forget) in this way.
Al-A`mash was asked, ""Did you hear this from Mujahid?""
He said, ""Layth bin Abi Salim told it to me.""
The meaning of Ibn Abbas' view, that a person may say ""If Allah wills"", even if it is a year later, is;
that if he forgets to say it when he makes the oath or when he speaks, and he remembers it later, even a year later, the Sunnah is that he should say it, so that he will still be following the Sunnah of saying ""If Allah wills"", even if that is after breaking his oath.
This was also the view of Ibn Jarir, but he stated that this does not make up for breaking the oath or mean that one is no longer obliged to offer expiation.
What Ibn Jarir said is correct, and it is more appropriate to understand the words of Ibn Abbas in this way.
And Allah knows best.
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا
إِلاَّ أَن يَشَاء اللَّهُ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ
And never say of anything, ""I shall do such and such thing tomorrow."" Except (with the saying), ""If Allah wills!"" And remember your Lord when you forget,
At-Tabarani recorded that Ibn Abbas said that this meant saying,
""If Allah wills.""
وَقُلْ عَسَى أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لاَِقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا
and say:""It may be that my Lord guides me to a nearer way of truth than this.""
meaning, `if you (O Prophet) are asked about something you know nothing about, ask Allah about it, and turn to Him so that He may guide you to what is right.'
And Allah knows best
The Length of their Stay in the Cave
Allah says:
وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَثَ مِايَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا
And they stayed in their cave three hundred years, adding nine.
Here Allah tells His Messenger the length of time the people of the Cave spent in their cave, from the time when He caused them to sleep until the time when He resurrected them and caused the people of that era to find them. The length of time was three hundred plus nine years in lunar years, which is three hundred years in solar years. The difference between one hundred lunar years and one hundred solar years is three years, which is why after mentioning three hundred, Allah says, `adding nine.'
قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا
لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضِ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ مَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا
Say:""Allah knows best how long they stayed...""
`If you are asked about how long they stayed, and you have no knowledge of that and no revelation from Allah about it, then do not say anything. Rather say something like this:
اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا
لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضِ
""Allah knows best how long they stayed. With Him is (the knowledge of) the Unseen of the heavens and the earth.""
meaning, no one knows about that except Him, and whoever among His creatures He chooses to tell.
What we have said here is the view of more than one of the scholars of Tafsir, such as Mujahid and others among the earlier and later generations.
وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَثَ مِايَةٍ سِنِينَ
And they stayed in their cave three hundred years,
Qatadah said, this was the view of the People of the Book, and Allah refuted it by saying:
قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا
Say:""Allah knows best how long they stayed...""
meaning, that Allah knows better than what the people say.
This was also the view of Mutarraf bin `Abdullah.
However, this view is open to debate, because when the People of the Book said that they stayed in the cave for three hundred years, without the extra nine, they were referring to solar years, and if Allah was merely narrating what they had said, He would not have said,
وَازْدَادُوا تِسْعًا
(adding nine).
The apparent meaning of the Ayah is that Allah is stating the facts, not narrating what was said.
This is the view of Ibn Jarir (may Allah have mercy on him). And Allah knows best.
أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ
How clearly He sees, and hears (everything)!
He sees them and hears them.
Ibn Jarir said,
""The language used is an eloquent expression of praise.""
The phrase may be understood to mean, how much Allah sees of everything that exists and how much He hears of everything that is to be heard, for nothing is hidden from Him!
It was narrated that Qatadah commented on this Ayah:
أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ
(How clearly He sees, and hears (everything)!),
""No one hears or sees more than Allah.""
مَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَاا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا
They have no protector other than Him, and He makes none to share in His decision and His rule.
meaning, He, may He be glorified, is the One Who has the power to create and to command, the One Whose ruling cannot be overturned; He has no adviser, supporter or partner, may He be exalted and hallowed."
They will say, that is, [some of] those disputing the number of the youths [of the cave] at the time of the Prophet may peace and salutation be upon him, in other words, some of these will say that they [the youths] were: 'Three; their dog the fourth of them'; and they, some [others] among them, will say, 'Five; their dog the sixth of them' - both of these sayings were those of the Christians of Najraan - guessing at random, in other words, out of supposition, not having been present with them [at the time], and this [statement 'guessing at random'] refers back to both sayings, and is in the accusative because it is an object denoting reason, in other words, [they said this] for the reason that they were [merely] supposing it. And they, that is, the believers, will say, 'Seven; and their dog the eighth of them' (the sentence is [part of] the subject clause, the predicate of which is the adjectival qualification of sab'a, 'seven' [namely, thaaminuhum, 'the eighth of them'] with the additional waaw [wathaaminuhum], which is said to be for emphasis, or an indication that the adjective is [semantically] attached to that which it is qualifying). The qualification of the first two sayings as being 'random', but not the third, is proof that [the latter] is the satisfactory and correct [number]. Say: 'My Lord knows best their number, and none knows them except a few': Ibn 'Abbaas said, 'I am [one] of these "few" [described]', and he mentioned that they were seven. So do not contend concerning them except with an outward manner [of contention], [except] with that which has been revealed to you, and do not question concerning them, do not ask for opinions [from], any of them, [from] the People of the Scripture, the Jews. The people of Mecca asked him [the Prophet] about the story of the People of the Cave, and so he said to them, 'I will tell you about it tomorrow', but without adding [the words], 'If God wills' (inshaa'a' Llaahu) and so the following was revealed:
Commentary
The verse opens with the word: سَيَقُولُونَ (sayaqulun: Some will say).Who are these people who will say? There are two probabilities therein. (1) They could be the people who had differed among themselves during the time of the People of Kahf about their name and lineage, already mentioned in the previous verse. Out of these very people, some had made the first statement, some others, the second and still others, the third. (Mentioned in al-Bahr al-Muhit from al-Mawardi)
(2) The second probability is that the pronoun in 'sayaqulun' could be reverting back to the Christians of Najran who had argued with the Holy Prophet ﷺ about the number of the People of Kahf. They had three sects among them. One sect was called Malkaniyah. They made the first statement about the number, that is, gave the number as three. The second sect was Ya` qubiyah. They went by the second statement, that is, they were five. The third sect was Nasturiyah. They made the third statement, saying that they were seven. However, some said that this third statement was that of Muslims. What finally happened was that the third statement turned out to be true as it appears from the hint given by the Qur'an, and the word of the Holy Prophet ﷺ . (Al-Bahr al-Muhit)
. The hint is that the former two views about their number have been termed by the Qur'an as 'conjectures' while the third view has appeared without such a comment. (Mul} ammad Taqi Usmani)
The use of the conjunction waw:(and) in: وَثَامِنُهُمْ (wa thaminuhum: and the eighth of them) is worth noticing here. At this place, three statements have been reported about the number of the People of Kahf - three, five and seven - and after each, their dog has been counted. But, no conjunction 'waw' has been introduced in between their number and the count of the dog in the first two statements. The sentence: ثَلَاثَةٌ رَّابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ (Three, the fourth of them being their dog) and the sentence: خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ. (Five, the sixth of them being their dog) appear without that conjunction 'waw.' But, the arrangement is different in the third statement. Here, the word: سَبْعَةٌ (Seven) is followed by a connective 'waw' attached to the text of: وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ (and the eighth of them is their dog).
Giving its reason, commentators say that early Arabs used to count up to seven digits, after which the number that followed was counted as separate, similar to its present counterpart, the number 9 where units end and the tens begin. Therefore, while counting from three to seven, they would not use the connective To give a number after seven, they would state it separately with the help of a connective 'waw' - and for this reason, this 'waw' (and) was called the 'waw° (and) of 'thaman' (eight). (Mazhari and others)
The names of the People of Kahf
The fact of the matter is that the names of the People of Kahf do not stand proved authentically from any Sahih Hadith. Names given in exegetical and historical reports differ. The closest out of these is the report given on the authority of Sayyidna ` Abdullah ibn ` Abbas ؓ by al-Tabarani in al-Mu'jim al-Ausat with sound chains of narrators. The names given there are:
Muksalmina مُکسلمِینا
Tamlikha تَملِیخَا
Martunis مَرطُونس
Sanunis سنونس
Sarinunisy سَارینونس
Dhu Niwas ذونواس
Ka'astitiunis کِعسططیونس
Basic rule in debatable matters: Avoid long-drawn argumentation
Referring to the animated efforts to determine the number of the People of Kahf, and other matters, the text says: فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِم مِّنْهُمْ أَحَدًا (So do not argue about them except [ with ] an apparent argumentation. And do not ask anyone of these about them). The rule of conduct, a golden legacy of the Qur'an, taught in these two sentences to the Holy Prophet ﷺ are, in fact, significant guiding principles for the learned among the Muslim community. The thing to do when difference arises on any issue is to state what is necessary clearly. If people, even after that, elect to pursue a course of unnecessary debate, one should offer cursory comments in the light of the earlier presentation and conclude the debate. Any effort to dig deeper to affirm one's claim or to make the extra effort to refute the assertion of debaters should be avoided - for nothing good would really come out of it. Moreover, any further prolongation of the debate and altercation would result in uncalled for waste of time as well as pose the danger of mutual bickering.
The second line of guidance given in the other sentence is that the optimum information given to him through Divine revelation about the People of Kahf should be taken as perfectly sufficient and satisfactory for all practical purposes. Let him not worry about finding more and asking oth-ers. As for asking others, it could have another aspect too. May be, the question asked is to expose their ignorance or to disgrace them. This too would be contrary to the high morals prophets have. Therefore, restraint was placed on asking both kinds of questions, either for additional investigation, or to prove the addressee ignorant and disgrace him.