Ayat
Terjemahan Per Kata
وَإِذۡ
dan ketika
قُلۡنَا
Kami berfirman
لَكَ
kepadamu
إِنَّ
sesungguhnya
رَبَّكَ
Tuhanmu
أَحَاطَ
meliputi
بِٱلنَّاسِۚ
dengan manusia
وَمَا
dan tidak
جَعَلۡنَا
Kami menjadikan
ٱلرُّءۡيَا
mimpi
ٱلَّتِيٓ
yang
أَرَيۡنَٰكَ
Kami perlihatkan kepadamu
إِلَّا
melainkan
فِتۡنَةٗ
ujian
لِّلنَّاسِ
bagi manusia
وَٱلشَّجَرَةَ
dan pohon
ٱلۡمَلۡعُونَةَ
terkutuk
فِي
dalam
ٱلۡقُرۡءَانِۚ
Al-Qur'an
وَنُخَوِّفُهُمۡ
dan Kami menakuti mereka
فَمَا
maka/tetapi tidak
يَزِيدُهُمۡ
menambah mereka
إِلَّا
melainkan
طُغۡيَٰنٗا
kedurhakaan
كَبِيرٗا
besar
وَإِذۡ
dan ketika
قُلۡنَا
Kami berfirman
لَكَ
kepadamu
إِنَّ
sesungguhnya
رَبَّكَ
Tuhanmu
أَحَاطَ
meliputi
بِٱلنَّاسِۚ
dengan manusia
وَمَا
dan tidak
جَعَلۡنَا
Kami menjadikan
ٱلرُّءۡيَا
mimpi
ٱلَّتِيٓ
yang
أَرَيۡنَٰكَ
Kami perlihatkan kepadamu
إِلَّا
melainkan
فِتۡنَةٗ
ujian
لِّلنَّاسِ
bagi manusia
وَٱلشَّجَرَةَ
dan pohon
ٱلۡمَلۡعُونَةَ
terkutuk
فِي
dalam
ٱلۡقُرۡءَانِۚ
Al-Qur'an
وَنُخَوِّفُهُمۡ
dan Kami menakuti mereka
فَمَا
maka/tetapi tidak
يَزِيدُهُمۡ
menambah mereka
إِلَّا
melainkan
طُغۡيَٰنٗا
kedurhakaan
كَبِيرٗا
besar
Terjemahan
(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepadamu, “Sesungguhnya Tuhanmu (dengan ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi seluruh manusia.” Kami tidak menjadikan ru’yā yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon yang terkutuk dalam Al-Qur’an. Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka.
Tafsir
(Dan) ingatlah (ketika Kami wahyukan kepadamu, "Sesungguhnya Rabbmu meliputi segala manusia.") yakni ilmu dan kekuasaan-Nya meliputi mereka, dengan demikian maka mereka berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya. Maka sampaikanlah kepada mereka jangan sekali-kali engkau merasa takut terhadap seseorang pun karena Rabbmu akan memelihara dirimu dari mereka. (Dan Kami tidak menjadikan rukyah yang telah Kami perlihatkan kepadamu) secara kenyataan pada malam isra (melainkan sebagai batu ujian bagi manusia) bagi penduduk Mekah karena mereka ternyata mendustakannya sedang sebagian yang lainnya yang telah beriman menjadi murtad sewaktu hal itu diceritakan kepadanya (dan begitu pula pohon kayu yang terkutuk di dalam Al-Qur'an) yaitu pohon zaqqum yang tumbuh di dasar neraka Jahim; Kami jadikan kisah itu sebagai batu ujian bagi keimanan mereka. Karena mereka mengatakan bahwa api itu membakar pohon apa saja, mengapa pohon zaqqum dapat tumbuh di dalamnya? (Dan Kami takuti mereka) dengan pohon zaqqum itu (tetapi yang demikian itu tidak menambah kepada mereka) untuk takut (melainkan hanyalah kedurhakaan yang besar saja.).
Dan sekali-kali tidak ada yang menghalang-halangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami) melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada Samud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti. Sunaid telah meriwayatkan dari Hammad ibnu Zaid, dari Ayyub, dari Said ibnu Jubair yang mengatakan bahwa orang-orang musyrik pernah berkata kepada Nabi ﷺ, "Hai Muhammad, sesungguhnya kamu menduga bahwa sebelum kamu terdapat nabi-nabi.
Di antara mereka ada yang angin ditundukkan baginya, ada yang dapat menghidupkan orang-orang mati. Maka jika kamu menginginkan agar kami beriman kepadamu dan membenarkanmu, maka doakanlah kepada Tuhanmu agar Dia menjadikan Bukit Safa ini emas buat kami." Maka Allah ﷻ berfirman kepada Nabi-Nya, "Sesungguhnya Aku telah mendengar apa yang dikatakan oleh mereka. Untuk itu jika kamu menghendaki agar Kami melakukannya, tentulah Kami akan memenuhi permintaan mereka. Tetapi jika sesudah itu mereka tidak beriman, maka azab Kami akan turun (menimpa mereka).
Karena sesungguhnya tidak ada tawar-menawar lagi sesudah turunnya tanda-tanda kekuasaan Kami (mukjizat). Dan jika kamu menginginkan Kami menangguhkan kaummu, tentulah Kami akan memberikan masa tangguh kepada mereka." Maka Nabi ﷺ berdoa memohon kepada Tuhannya: Ya Tuhanku, tangguhkanlah mereka. Hal yang sama telah dikemukakan pula oleh Qatadah dan Ibnu Juraij serta yang lainnya. Imam Ahmad meriwayatkan, lelah menceritakan kepada kami Usman ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Al-A'masy, dan Ja'far ibnu Iyas, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa penduduk Mekah pernah meminta kepada Nabi ﷺ agar menjadikan Bukit Safa emas buat mereka, dan gunung-gunung yang ada di sekitar mereka dilenyapkan sehingga mereka dapat melakukan cocok tanam.
Maka dikatakan kepada Nabi ﷺ, "Jika kamu menghendaki agar mereka diberi masa tangguh, maka Kami akan menangguhkan mereka. Dan jika kamu suka bila permintaan mereka di kabulkan, maka Kami akan memenuhi apa yang mereka minta. Tetapi jika mereka tetap kafir, maka mereka akan binasa sebagaimana binasanya umat-umat sebelum mereka." Nabi Saw, berkata, "Tidak, melainkan berilah masa tangguh kepada mereka." Lalu Allah ﷻ menurunkan firman-Nya: Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. (Al-Isra: 59), hingga akhir ayat.
Imam Nasai meriwayatkan melalui hadis Jarir dengan sanad yang sama. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Salamah ibnu Kahil, dari Imran ibnu Nakim, dari Ibnu Abbas yang telah mengatakan bahwa orang-orang Quraisy pernah mengatakan kepada Nabi ﷺ, "Doakanlah kepada Tuhanmu agar Dia menjadikan Bukit Safa ini emas bagi kami, maka kami akan beriman kepadamu." Nabi ﷺ bertanya, "Apakah kalian benar-benar akan melakukannya?" Mereka menjawab, "Ya." Maka Nabi ﷺ berdoa. Kemudian Jibril datang kepadanya, lalu berkata, "Sesungguhnya Tuhanmu mengirimkan salam buatmu dan berpesan bahwa jika kamu suka, maka pada keesokkan paginya Bukit Safa ini akan menjadi emas buat mereka.
Tetapi barang siapa di antara mereka yang kafir sesudah itu, maka Aku akan mengazab mereka dengan azab yang belum pernah Kutimpakan kepada seorang pun dari kalangan umat manusia. Dan jika kamu suka Aku bukakan bagi mereka semua pintu tobat dan rahmat, maka akan Aku lakukan." Nabi ﷺ berkata, "Tidak, bahkan (saya memilih) pintu tobat dan rahmat." Al-Hafiz Abu Ya'la di dalam kitab musnadnya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail ibnu Ali Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnu Tamim Al-Masisi, dari Abdul Jabbar ibnu Umar Al-Abli, dari Abdullah ibnu Ata ibnu Ibrahim, dari neneknya (yaitu Ummu Ata, pelayan Az-Zubair ibnul Awwam) yang telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Az-Zubair mengatakan bahwa ketika firman Allah ﷻ berikut ini diturunkan: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (Asy-Syu'ara: 214) Maka Rasulullah ﷺ berseru dengan suara yang keras di atas puncak Abu Qubais, "Hai keluarga Abdu Manaf, sesungguhnya aku memberikan peringatan!" Kemudian datanglah orang-orang Quraisy menemuinya, lalu Nabi ﷺ memberikan peringatan dan ancaman kepada mereka.
Maka mereka berkata, "Kamu menduga bahwa dirimu seorang nabi yang mendapat wahyu. Sesungguhnya Sulaiman telah ditundukkan baginya angin dan gunung, Musa telah ditundukkan baginya laut, dan Isa dapat menghidupkan orang-orang mati. Maka doakanlah pada Allah agar Dia menyisihkan (memindahkan) gunung-gunung ini dari kami dan mengalirkan sungai-sungai di buminya sehingga kami dapat menggarapnya dan melakukan cocok tanam padanya buat makan kami.
Dan jika engkau tidak mau, maka doakanlah kepada Allah semoga Dia menghidupkan orang-orang mati kami agar kami dapat berbicara dengan mereka dan mereka pun dapat berbicara dengan kami. Jika engkau tidak mau, maka doakanlah kepada Allah untuk kami agar Dia menjadikan bagi kami batu besar yang berada di bawahmu itu emas sehingga kami dapat memahatnya dan dapat memberikan kecukupan kepada kami tanpa harus melakukan perjalanan musim dingin dan musim panas.
Karena sesungguhnya engkau menduga bahwa dirimu sama seperti mereka (nabi-nabi itu)." Ketika kami masih berada di sekeliling Nabi ﷺ, tiba-tiba turunlah wahyu. Setelah wahyu selesai, Nabi ﷺ bersabda: Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya Dia mau memberiku apa yang kalian minta itu; seandainya aku menghendaki, niscaya terjadi. Akan tetapi, Allah memberiku pilihan. Yaitu kalian masuk ke dalam pintu rahmat, sehingga orang yang beriman di antara kalian mau beriman, atau diserahkan kepada kalian menurut apa yang kalian pilih, nanti akibatnya kalian akan kehilangan pintu rahmat, dan akhirnya tiada seorang pun dari kalian yang beriman.
Maka aku memilih pintu rahmat, sehingga berimanlah orang-orang yang mau beriman dari kalian. Dan Allah memberitahukan kepadaku bahwa jika Dia memberi apa yang kalian minta itu, lalu kalian tetap kafir, maka sesungguhnya Dia akan mengazab kalian dengan azab yang belum pernah Dia timpakan kepada seorang pun dari umat manusia. Lalu turunlah firman-Nya: Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. (Al-Isra: 59) Dan Nabi ﷺ membaca tiga ayat, lalu turun pula firman-Nya: Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat diguncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang telah mati dapat berbicara. (Ar-Ra'd: 31), hingga akhir ayat.
Karena itulah Allah ﷻ berfirman: Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami). (Al-Isra: 59) Maksudnya, mendatangkan dan mengirimkan tanda-tanda kebesaran sesuai dengan apa yang diminta oleh kaummu itu adalah hal yang mudah bagi Kami. Hanya saja tanda-tanda kekuasaan Kami itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu sesudah mereka memintanya, maka diberlakukanlah sunnah Kami atas mereka, juga terhadap orang-orang yang seperti mereka. Yaitu bila mereka mendustakannya sesudah dikirimkan, maka .tiada masa tangguh lagi bagi mereka, dan azab langsung turun menimpa mereka.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah ﷻ di dalam surat Al-Maidah, melalui firman-Nya: Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepada kalian, barang siapa yang kafir di antara kalian sesudah itu, maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia. (Al-Maidah: 115) Allah ﷻ berfirman menceritakan kaum Samud ketika mereka meminta suatu tanda kekuasaan Allah, yaitu seekor unta betina yang keluar dari batu besar yang ditentukan oleh mereka. Maka Nabi mereka (yaitu Saleh a.s.) berdoa kepada Tuhannya memohon suatu mukjizat, lalu Allah mengeluarkan seekor unta betina buat mereka dari batu besar itu sesuai dengan apa yang mereka minta.
Tetapi setelah mereka berbuat aniaya terhadap unta itu, yakni ingkar kepada Tuhan yang menciptakannya dan mendustakan Rasul-Nya serta menyembelih unta betina itu, maka Allah berfirman: Bersukarialah kamu sekalian di rumah kalian selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan. (Hud: 65) Karena itulah dalam ayat surat ini disebutkan oleh firman-Nya: Dan telah Kami berikan kepada Samud unta betina itu . (Al-Isra: 59) Yakni Mukjizat yang berupa unta betina itu menunjukkan akan keesaan Tuhan yang menciptakannya dan membenarkan rasul-Nya yang doanya diperkenankan.
tetapi mereka menganiaya unta betina itu. (Al-Isra: 59) Mereka berbuat aniaya terhadap unta betina itu, melarang hari minumny a, dan membunuhnya. Maka Allah membinasakan mereka sehabis-habisnya sebagai pembalasan dari-Nya terhadap mereka. Allah mengazab mereka dengan azab Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa. Firman A'llah ﷻ: Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti. (Al-Isra: 59) Qatadah mengatakan bahwa Allah ﷻ mempertakuti manusia dengan tanda kekuasaan yang dikehendaki-Nya, agar manusia dapat mengambil pelajaran dan peringatan darinya, lalu mereka kembali kepada-Nya. Telah diriwayatkan kepada kami bahwa kota Kufah pernah mengalami gempa di masa Ibnu Mas'ud r.a., lalu Ibnu Mas'ud r.a. berkata, "Hai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian sedang memperingatkan kalian, maka kembalilah kalian kepada-Nya!" Hal yang sama pernah terjadi pula atas kota Madinah di masa pemerintahan Khalifah Umar ibnul Khattab r.a. selama berkali-kali, maka Khalifah Umar berkata, "Kalian telah membuat bid'ah.
Demi Allah, seandainya terjadi lagi gempa, sungguh saya akan melakukan anu, sungguh aku akan melakukan anu (maksudnya memberantas perkara bid'ah)." Dalam hadis yang muttafaq 'alaih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: ". Sesungguhnya matahari dan bulan, keduanya adalah tanda kekuasaan Allah, dan sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena matinya seseorang dan tidak (pula) karena hidup (lahir)nya seseorang, tetapi Allah ﷻ mempertakuti hamba-hamba-Nya melalui keduanya. Untuk itu apabila kalian melihat gerhana, bergegaslah kalian untuk mengingat Allah, berdoa dan memohon ampun kepada-Nya. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: Hai umat Muhammad, demi Allah, tiada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah, bila ada hamba laki-lakinya berbuat zina atau ada hamba perempuannya berbuat zina. Hai umat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang saya ketahui, tentulah kalian sedikit tertawa dan banyak menangis."
Selanjutnya Allah mengingatkan kepada Nabi Muhammad agar
tidak ragu-ragu menyampaikan risalah-Nya, dan tidak bersedih hati
karena penolakan orang-orang kafir terhadap ayat-ayat Allah. Dan
ingatlah ketika Kami wahyukan kepadamu, wahai Nabi Muhammad,
Sungguh, ilmu dan kekuasaan Tuhanmu meliputi seluruh manusia. Sampaikanlah ini kepada semua manusia dan janganlah bersedih hati karena penolakan mereka terhadap ayat-ayat Kami. Dan ketahuilah Kami
tidak menjadikan mimpi, atau penglihatan dalam keadaan sadar, yang
telah Kami perlihatkan kepadamu, pada malam Isra Mikraj melainkan sebagai ujian bagi manusia agar menjadi jelas siapa di antara mereka yang
percaya dan siapa yang tidak percaya dan begitu pula apa yang Kami
wahyukan kepadamu tentang pohon yang terkutuk dalam Al-Qur'an agar
menjadi ujian bagi manusia siapa di antara mereka yang percaya dan
siapa yang tidak percaya. Dan dengan kedua macam tanda itu Kami
menakut-nakuti mereka, supaya mereka beriman tetapi yang demikian itu
hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. Penolakan orang-orang kafir kepada para rasul itu bukanlah sesuatu
yang baru. Para rasul sebelum Nabi Muhammad juga mendapatkan
perlakuan yang sama dari kaumnya. Permusuhan kepada para nabi
bahkan telah dimulai semenjak permusuhan Iblis kepada Nabi Adam.
Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu
semua kepada Adam, yakni sujud dengan tujuan penghormatan bukan
menyembah, lalu mereka semuanya sujud, kecuali Iblis yang enggan bersujud karena keangkuhan dan kedurhakaannya. Ia (Iblis) berkata, Apakah aku harus bersujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah yang
rendah derajatanya daripadaku yang Engkau ciptakan dari api'.
Abu Ya'la dari Ummi Hani meriwayatkan bahwa pagi hari setelah Isra', sebagian orang-orang Quraisy memperolok-olokkan Rasulullah dan meminta buktinya. Lalu beliau menggambarkan keadaan Baitul Maqdis serta menceritakan kepada mereka tentang kisah isra'. Kemudian Walid bin Mugirah berkata, Orang ini adalah penyihir." Maka turunlah ayat ini.
Allah ﷻ memberi dukungan kepada Rasulullah dalam melaksanakan tugas-tugas kerasulannya dan akan melindunginya dari tipu daya orang-orang yang mengingkari risalahnya dengan mengingatkan Rasul dan mewahyukan kepadanya bahwa ilmu Tuhan meliputi segala hal ihwal manusia. Maksudnya ialah Allah Mahakuasa terhadap seluruh hamba-Nya. Mereka berada di bawah genggaman-Nya sehingga tidak dapat bergerak kecuali menurut ketentuan-Nya. Allah berkuasa melindungi Rasul-Nya dari orang-orang yang memusuhinya, sehingga mereka tidak mungkin secara semena-mena menyakiti hatinya.
Allah ﷻ berfirman:
Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. (al-Ma'idah/5: 67)
Menurut keterangan al-Hasan, Allah ﷻ akan menghalangi setiap usaha mereka untuk membunuh Nabi. Allah ﷻ berfirman:
Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya. (al-Anfal/8: 30)
Allah menjelaskan juga pengingkaran orang-orang Quraisy terhadap apa yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad pada malam Isra' dan Mi'raj, seperti pohon zaqqum yang tumbuh di neraka. Hal ini sebagai ujian, siapakah di antara umatnya yang benar-benar beriman dan siapa yang ingkar. Mereka yang benar-benar beriman bertambah kuat imannya, akan tetapi mereka yang imannya hanya di mulut saja, bertambah ingkar. Pohon zaqqum yang disebutkan dalam Al-Qur'an juga menjadi ujian kepada mereka, pada saat mereka mendengar kaum Muslimin membacakan ayat:
Sungguh pohon zaqqum itu, makanan bagi orang yang banyak dosa. (ad-Dukhan/44: 43-44)
Mereka memperselisihkannya; orang yang imannya kuat, bertambah kuat imannya, tetapi orang yang mengingkari kerasulan Muhammad ﷺ bertambah kekafirannya. Abu Jahal, misalnya, termasuk orang yang mengingkarinya. Ketika itu ia berkata, "Sebenarnya anak Abu Kabsyah (Muhammad saw) mengancam kamu dengan ancaman neraka, yang bahan bakarnya batu, kemudian ia mengira di neraka itu tumbuh pohon, padahal kamu tahu bahwa api itu membakar pohon." 'Abdullah bin az-Zibara ber-kata, "Sebenarnya Muhammad menakut-nakuti kami dengan pohon zaqqum itu tiada lain kecuali kurma dan keju, maka telanlah." Mereka lalu makan kurma dan keju itu.
Orang-orang musyrik Quraisy tidak mempercayai bahwa di neraka ada tumbuh-tumbuhan yang disebut pohon zaqqum, karena mereka beranggapan bahwa api memusnahkan segalanya. Mereka tidak mengetahui bahwa di dunia ini juga terdapat keajaiban-keajaiban yang mencengangkan, terlebih-lebih lagi di akhirat. Misalnya di dunia ada semacam serat yang tak terbakar oleh api (asbes). Bahan ini sering dipergunakan untuk bahan baju yang tahan api. Bumi ini mengandung api (yaitu magma) di dalam perut bumi yang akan terlihat pada saat gunung api meletus, tetapi di atasnya tumbuh pohon-pohon yang menghijau. Kayu atau batu pun dapat mengeluarkan api pada saat digosok-gosokkan. Di dalam air pun terdapat unsur oksigen yang menyebabkan api menyala. Singkatnya, hati orang-orang kafir Quraisy tidak mau menerima kebenaran Al-Qur'an. Keingkaran mereka kepada ar-ru'ya (mimpi atau yang dilihat Nabi ﷺ pada waktu isra') dan pohon zaqqum merupakan bukti yang jelas akan keingkaran mereka.
Allah ﷻ berfirman:
Sungguh, Kami menjadikannya (pohon zaqqum itu) sebagai azab bagi orang-orang zalim. Sungguh, itu adalah pohon yang keluar dari dasar neraka Jahim, mayangnya seperti kepala-kepala setan. (ash-shaffat/37: 63-65)
Di akhir ayat ditegaskan bahwa Allah hendak mengingatkan mereka akan siksaan-Nya, tetapi yang demikian itu hanya akan menambah mereka bergelimang dalam kedurhakaan dan kesesatan.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
SATU NEGERI DIBINASAKAN
Ayat 58
“Dan tidak ada satu pun negeri, melainkan Kami akan membinasakannya sebelum hari Kiamat."
Oleh karena ayat ini adalah lanjutan dari ayat yang sebelumnya, yaitu tempelak Allah kepada manusia yang mempersekutukan yang lain dengan Allah, yang menyembah berhala atau mendewakan sesama manusia, maka dapatlah kita pahami negeri mana yang dituju Allah dengan ancaman di dalam ayat ini.
“Atau Kami akan mengadzabkan dengan suatu adzabyang perih." Atau seluruh negerinya jadi binasa. Dan kalau Allah menghendaki yang demikian itu, sebentar saja dapat terjadi. Atau didatangkan adzab sehingga penduduknya jadi musnah, dimusnahkan oleh wabah atau penyakit menular. Ancaman Allah ini wajar. Kerusakan suatu negeri, atau dalam sebutan kita di zaman sekarang suatu negara, ialah apabila nilai-nilai kebenaran tidak lagi diperhatikan, dan keadilan tidak lagi dijunjung tinggi, dan yang berkuasa sudah berbuat sekehendak hati, lupa akan kekuasaan yang paling tinggi, yaitu kekuasaan Allah. Bahkan, penguasanya telah mengangkat dirinya ke tempat Allah! Soal-soal nilai budi dan ruhari dicampakkan dan yang penting ialah benda dan kekayaan. Apatah lagi kalau hubungan laki-laki dengan perempuan sudah leluasa saja sehingga tidak tentu lagi ke mana si anu akan dibangsakan karena lahirnya di luar pernikahan. Negeri itu pasti binasa!
“Adalah yang demikian itu di dalam kitab telah tertulis."
Jatuhnya bahaya itu tidaklah dapat dielakkan karena itu telah tertulis di dalam kitab. Baik kitab dalam susunan sejarah atau di dalam kitab-kitab wahyu yang diturunkan kepada nabi-nabi ataupun di dalam kitab ilmu pengetahuan yang teratur, yang sekarang dapat dinamai filsafat sejarah ataupun sosiologi, ilmu kemasyarakatan.
Terjadinya PerangDuniayangbesar sampai dua kali di dalam hanya satu kurun masa, dalam zaman modern ini, adalah pembukaan satu lembaran dari beratus-ratus bahkan beribu halaman dari kitab yang telah tertulis itu. Kemajuan ilmu pengetahuan manusia dan kemudahan hidup rupanya tidak menjamin bagi kekalnya satu kekuasaan manusia kalau tuntunan Allah telah ditinggalkan.
MUKJIZAT
Ayat 59
“Dan tidak ada yang menghalangi Kami akan mengutus dengan tanda-tanda melainkan karena telah didustakan dianya oleh orang yang dahulu-dahulu."
Perbedaan perutusan Nabi Muhammad ﷺ membawa dakwah kepada manusia dengan nabi-nabi yang dahulu darinya ialah bahwa dalam dakwah Nabi Muhammad mukjizat atau keganjilan-keganjilan yang keluar dari kebiasaan tidak dijadikan sendi yang penting dari dakwah itu. Nabi Muhammad tidak disuruh membelah laut seperti Nabi Musa, dan Nabi Muhammad tidak disuruh membawa tongkat agar sewaktu-waktu dapat menjelma jadi ular untuk menundukkan kesombongan Fir'aun. Dan Nabi Muhammad tidak disuruh melompati api berkobar seperti Ibrahim yang tidak hangus dalam api itu. Dan beliau tidak diberi mukjizat menghidupkan orang mati atau mengobati orang sakit kusta seperti Nabi Isa.
Mengapa tidak? Karena menunjukkan mukjizat itu tidaklah sekaligus akan membawa orang beriman. Yang kafir tetap kafir juga; Fir'aun tetap menentang sampai dia tenggelam di laut. Demikian pula yang lain."Dan telah Kami datangkan kepada Tsamud seekor unta sebagai suatu penerangan. Tetapi mereka telah berlaku zalim kepadanya." Yang beriman juga yang iman, yang lain berlaku zalim, mereka bunuh unta itu,
“Dan tidaklah Kami mengadakan tanda-tanda, yaitu mukjizat, melainkan buat menakutkan."
Artinya, kalau mukjizat itu telah didatangkan, kalau mereka tidak juga percaya, siksaan dan kesengsaraan pasti diturunkan Allah.
Ayat ini bukan berarti meniadakan mukjizat sama sekali pada Nabi Muhammad. Yang dimaksud ialah, “Bukan mukjizat yang jadi dasar dakwah!"
Menurut riwayat al-Baihaqi di dalam ad-Dalail, diterimanya dari ar-Rabi bin Yunus, Imam Ahmad, an-Nasa'i, al-Bazzar, Ibnu fuzair, Ibnul Munzir, ath-Thabrani, al-Hakim dan di-shahihkannya, dan Ibnu Mardawaihi, semuanya menerima sanadnya dari Ibnu Abbas, kata riwayat ahli-ahli hadits itu, asal mula turun ayat 59 surah al-Israa' ini ialah pada suatu waktu penduduk Mekah pernah meminta kepada Nabi ﷺ supaya dia memperlihatkan mukjizatnya seperti nabi-nabi yang dahulu telah memperlihatkannya. Mereka minta supaya Bukit ash-Shafa dijadikan emas, dan supaya gunung-gunung di keliling Mekah yang terdiri atas batu-batu granit itu disuburkan sehingga bisa ditanami. Tetapi, Nabi ﷺ menyatakan kepada mereka, “Kalau saya mau, saya bisa memintakan itu kepada Allah, lalu dikabulkan Allah permintaan itu. Tetapi, kalau kamu durhaka kepada Allah sesudah permintaan kamu itu diperkenankan, kamu akan binasa semua."
Mendengar itu, mereka mundur. Jadi minta-minta mukjizat itu adalah berbahaya. Di dalam ayat, Allah ambil contoh yang dekat, yaitu akibat kezaliman kaum Tsamud. Hancur mereka kena adzab setelah membunuh unta itu. Dan bekas runtuhan negeri mereka dapat dilihat oleh orang-orang Mekah yang berkafilah ke Syam. Sebab tempatnya di pinggir jalan kafilah.
Pada ayat selanjutnya dikuatkan lagi,
Ayat 60
“Dan (ingatlah) tatkala Kami wahyukan kepada engkau bahwa sesungguhnya Tuhan engkau telah mengepung manusia."
Artinya, kalau Allah hendak inengadzab-kan manusia, tidaklah mereka dapat menge-lakkan atau melepaskan diri. Dari kiri dari kanan. Dari muka dari belakang. Dari atas dari bawah, adzab Allah itu mengepung mereka. Ini adalah sambungan dari ayat 59 yang menyatakan bahwa mukjizat-mukjizat seperti yang dinyatakan nabi-nabi dahulu itu tidak menjadi pokok dakwah Muhammad ﷺ. Mungkin mereka tetap durhaka juga, mereka pun binasa. Atau sesat seperti umat Nasrani pula, mereka katakan pula Nabi Muhammad Tuhan! Selanjutnya, Allah kemukakan contoh, “Dan tidaklah Kami jadikan penglihatan yang telah Kami unjukkan kepada engkau itu, melainkan sebagai percobaan
Sekalipun mukjizat bukan pokok dakwah, bukan berarti Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah ada mukjizat. Isra' dan Mi'raj adalah mukjizat. Diperlihatkan kepada beliau ketika Isra' dan Mi'raj itu hal-hal yang ganjil-ganjil, sejak berbelah dada, sampai mengendarai Buraq, sampai ke Baitul Maqdis, ke langit, ke Sidratul Muntaha, bertemu Jibril dalam rupanya yang asli, bertemu nabi-nabi pada tiap-tiap tingkat langit. Tetapi, setelah hal ini beliau ceritakan kepada mereka setelah pulang, bukankah yang kafir bertambah kafir, dan yang iman jua yang bertambah iman? Bukankah Abu Jahal mencemooh dan Abu Bakar mengakui? Jadi, kalau sekiranya Isra' dan Mi'raj jadi pokok dakwah, selesailah urusan hingga itu dan hancurlah Quraisy waktu itu juga karena pada waktu itu masih banyak yang belum percaya.
Tetapi, mukjizat Isra' dan Mi'raj itu bukan tujuannya semata-mata untuk menunjukkan keganjilan Isra' dan Mi'raj itu sendiri, melainkan untuk menerima perintah mengerjakan shalat lima waktu yang akan menjadi pegangan umat Muhammad sampai hari Kiamat.
Dengan keterangan bahwa mukjizat bukanlah pokok utama di dalam melakukan dakwah Muhammad ﷺ, bukanlah berarti bahwa beliau tidak diberi Allah pula mukjizat yang lain. Di dalam sejarah hidup beliau, baik yang disusun oleh Ibnu Ishaq atau yang diceritakan oleh al-Qadhi Iyadh di dalam kitabnya asy-Syifa atau Imam Ghazali di dalam al-ihya atau di dalam kitab-kitab riwayat yang lain banyaklah diuraikan tentang mukjizat Nabi Muhammad ﷺ itu. Di antaranya ialah:
(1) Ketika penduduk Mekah menuntut mukjizat, bulan telah kelihatan terbelah dua, disaksikan oleh mata banyak orang dan haditsnya dirawikan Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, dan Anas bin Malik.
(2) Memberi makan lebih dari 800 orang di rumah Jabir, semuanya kenyang, sedang yang ditanak hanya 4 gantang gandum, riwayat Bukhari dan Abu Na'im dan al-Baihaqi.
(3) Dimasukkan jarinya ke dalam timba, lalu melimbak-limbak air keluar sehingga da-patlah minum 1.400 tentara Islam di Hu-daibiyah dan dapat pula berwudhu.
(4) Perintahnya kepada Umar bin Khaththab memberi makan 400 orang dengan hanya sekepal kurma.
(5) Terdengar oleh sahabat-sahabat beliau pelepah kurma yang diambil jadi tiang mimbarnya menangis karena mimbar Rasulullah ﷺ telah ditukar dengan mimbar baru dan dia tidak akan dipakai lagi,
(6) Sehabis shalat Shubuh pagi-pagi beliau memberitahu kepada sahabat-sahabatnya bahwa tadi malam Najasyi (Negus) Raja Habsyi yang telah Islam itu telah meninggal dunia, lalu beliau ajak sahabat-sahabat itu melakukan shalat jenazah gaib bagi raja tersebut. Dan beberapa waktu kemudian memang datanglah berita dari Habsyi menyatakan bahwa raja itu memang telah meninggal pada malam tersebut.
(7) Dikejar dia dari belakang oleh Suraqah ketika beliau hijrah dari Mekah ke Madinah karena hendak membunuh dia. Tetapi setelah dekat terbenamlah kaki kuda Suraqah ke dalam pasir sehingga tak dapat maju. Dan kejadian ini sampai tiga kali sehingga Suraqah mundur dengan sendirinya.
(8) Disebarkannya pasir ketika Peperangan Hunain kepada musuh yang banyak itu sehingga mata semuanya kena pasir dan tak dapat maju.
(9) Berita kematian nabi palsu yang bernama Aswad al-Insiy beliau terima hari itu juga sebagai kematian Najasyi itu juga.
(10) Terkaannya bahwa cucunya yang masih kecil sedang merangkak, yaitu Hasan bin Ali, kelak akan mendamaikan dua golongan orang Islam yang berselisih.
(11) Terkaannya bahwa Amar bin Yasir akan mati dibunuh oleh golongan yang durhaka.
Semuanya itu kejadian. Tetapi, ajaran Nabi Muhammad ﷺ sendiri tidak lah meng-gembar-gemborkan soal mukjizat ini. Al-Qur'an hanya mengajak orang berpikir dan merenung bahwa Allah itu adalah Esa, tidak bersekutu yang lain dengan Dia. Dan dipesankan pula bahwa barangsiapa yang mendekatkan dirinya senantiasa kepada Allah, dia akan diberi berbagai kemuliaan dan keistimewaan oleh Allah! Siapa saja!
“Dan pohon yang dilaknat di dalam Al-Qur'an pun begitu" Kemudian, itu dilanjut-kanlah di dalam ayat tentang pohon kayu yang dikutuk di dalam Al-Qur'an, yaitu pohon kayu yang bernama zaqqum.
Pohon zaqqum ini tersebut di dalam surah al-Waaqi'ah ayat 52. Tersebut pula dalam surah ash-Shaaffaat, ayat 62. Dan tersebut pula dalam surah ad-Dukhkhan, ayat 43-44. Dan ketiga surah ini turun di Mekah belaka. Diterangkan bahwa zaqqum itu ialah pohon kayu berduri yang akan jadi makanan orang yang sangat berdosa. Disebutkan pula bahwa tiap-tiap rantingnya menjulur adalah serupa kepala setan.
Saat ayat-ayat yang menceritakan zaqqum ini dibacakan oleh Nabi Muhammad, datanglah Abu Jahal mencemoohkan. Dia berkata kepada orang yang telah beriman kepada Nabi Muhammad, “Kawan kalian itu mengatakan bahwa dari sangat panasnya api neraka, batu yang keras pun akan dibakarnya. Dan kawan kalian itu mengatakan bahwa dalam neraka itu ada kayu ajaib namanya zaqqum, pohon berduri memecah perut." Maka dengan senyum yang penuh cemooh disuruh nya budaknya perempuan mengambil sepiring berisi kurma dicampurnya dengan keju, lalu dihidangkannya kepada orang yang hadir dan katanya, “Inilah dia zaqqum, mari kita makan zaqqum ramai-ramai."
Maka datanglah ujung ayat,
“Dan kami hendak mempertakuti mereka, tetapi tidaklah menambah kepada mereka itu melainkan kesesalan yang besar jua."
Dengan ini nyatalah bahwa orang yang sengaja hendak menolak dan kufur akan mencari berbagai dalih atau sikap, walaupun telah diancam dan dipertakuti, masih melakukan cemooh yang sangat kasar. Dan akhir akibat dari Abu Jahal yang bersikap demikian sudah sama kita ketahui, yaitu kehancurannya sendiri dalam Peperangan Badar.
Tambahan penjelasan.
Sepotong ayat 60 ini, yang berbunyi,
Telah kita artikan, “Dan tidaklah kami jadikan penglihatan yang kami perlihatkan kepada engkau."
Ru'yaa (...) kita artikan penglihatan. Arainaka (...) kita artikan telah kami perlihatkan kepada engkau.
Kita artikan demikian karena kita cenderung kepada madzhab Sayyidina Abu Bakar Shiddiq bahwa Nabi kita ﷺ telah diisra' dan diMi'rajkan oleh Allah dengan tidak masuk membicarakan apakah dengan tubuh dan nyawa atau nyawa saja. Sebab golongan yang berpendirian bahwa Isra' dan Mi'raj berlaku nyawabeliausajamengartikanri/yoa itu mimpi.
Karena pendirian mereka yang demikian, mereka mengartikan ayat ini demikian, “Dan tidaklah Kami jadikan mimpi yang Kami perlihatkan kepada engkau."
Maka arti yang telah kita pilih itu ialah yang telah dipilih terlebih dahulu oleh Ibnu Abbas.
Berkata Imam asy-Syaukani di dalam tafsirnya, “Menurut keterangan Abdurrazzaq dan Said bin Manshur, dan Imam Ahmad, dan Bukhari, dan Tirmidzi, dan an-Nasa'i, dan Ibnu Jarir, dan Ibnul Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim, dan ath-Thabrani, dan al-Hakim, dan Ibnu Mardawaihi, dan al-Baihaqi dalam kitab haditsnya, Dalailun Nubuwwah, yang mereka terima dari Ibnu Abbas bahwa Ibnu Abbas menafsirkan.
Artinya: Warna ja'almr ru'yaa sebagai tersebut di ayat itu, maa ialah penglihatan mata, yang diperlihatkan kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau di-Israa'kan ke Baitul Maqdis. Bukan mimpi ketika tidur." (Tafsir Fathul-Qadir, juz UI, him. 231)
Ada pula beberapa tafsir menerangkan bahwa yang dimaksud dengan ru'yaa di sini memang mimpi, tetapi bukan Isra' dan Mi'raj sebagai mimpi. Melainkan mimpi Rasulullah bahwa beliau mengerjakan umrah ke Mekah dengan selamat tiada kurang suatu apa, sampai bercukur dan bergunting. (Lihat surah al-Fath ayat 27). Kata ahli tafsir itu, beliau bermimpi sebagai tersebut dalam ayat 27 itu, mengerjakan umrah ke Mekah dengan selamat. Lalu, beliau lakukan menurut mimpi itu, berangkat pergi umrah bersama 1.400 kaum Muslimin pada tahun keenam Hijriyah. Tetapi, sampai di Hudaibiyah telah dihalangi oleh orang Quraisy sehingga tidak jadi umrah di tahun itu, barulah terjadi pada tahun depannya, yang dinamai Umratul-Qadhaa tahun ketujuh (lihat tafsirnya dan uraian cerita Perdamaian Hudaibiyah pada Juz 26).
Maka kata penafsir yang menguatkan pendapat itu, mimpi beliau itu adalah ujian juga pada umat, yang dinamai juga fitnah, guna menguji keteguhan iman. Ada di antara yang tergoncang imannya karena mimpi itu tidak bersua seperti tersebut dalam mimpi di tahun keenam, padahal di tahun ketujuh telah berlaku sebagaimana dimimpikan oleh Rasulullah ﷺ.
Tetapi, penafsiran ini tidak juga diterima seluruhnya dan kurang juga dapat diterima. Sebab ayat ini dan surah ini turun di Mekah, sebelum pindah ke Madinah. Padahal mimpi mengerjakan umrah itu ialah di tahun keenam sesudah hijrah ke Madinah.
Kesimpulannya ialah bahwa penglihatan Rasulullah ﷺ yang diperlihatkan kepada beliau ketika Isra' dan Mi'raj, ditambah lagi dengan cerita tentang pohon kayu yang dilaknat di dalam Al-Qur'an itu, keduanya adalah fitnah. Artinya pencobai iman mereka di waktu itu. Dan juga untuk menimbulkan kesadaran dan takut kepada Allah. Tetapi yang dekat juga yang bertambah dekat, yang kafir tetap menjauhkan diri.
Tersebutlah di dalam riwayat bahwa pagi-pagi besoknya, setelah Nabi ﷺ kembali dari Isra' dan Mi'raj itu Sayyidina Abu Bakar ditemui oleh seseorang dan orang itu berkata kepadanya, “Kawan kamu mengatakan bahwa dia tadi malam kembali dari Baitul Maqdis." Abu Bakar menjawab, “Kalau dia berkata begitu, benarlah katanya itu." Orang itu bertanya, “Apakah langsung engkau benarkan padahal belum engkau dengar sendiri dari dia?"
Abu Bakar menjawab, “Di mana akalmu? Sedangkan dia mengatakan menerima wahyu dari langit lagi saya akui kebenarannya, bagaimana tidak akan saya benarkan kalau dia mengatakan dia kembali dari Baitul Maqdis tadi malam? Padahal langit lebih jauh dari Baitul Maqdis?"
Dan kemudian seketika didengarnya sendiri Rasulullah ﷺ menceritakan Isra' dan Mi'raj itu kepadanya langsung, dia berkata, “Shaddaqta!" (Benar engkau!). Sejak itu, Nabi memberinya gelar “Shiddiq"."Yang selalu membenarkan!" Gelar yang mulia sekali.