Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
إِۦلَٰفِهِمۡ
kebiasaan mereka
رِحۡلَةَ
perjalanan/bepergian
ٱلشِّتَآءِ
dimusim dingin
وَٱلصَّيۡفِ
dan musim panas
إِۦلَٰفِهِمۡ
kebiasaan mereka
رِحۡلَةَ
perjalanan/bepergian
ٱلشِّتَآءِ
dimusim dingin
وَٱلصَّيۡفِ
dan musim panas
Terjemahan
(yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.1
Catatan kaki
1 *926) Orang Quraisy biasa mengadakan perjalanan terutama untuk berdagang ke negeri Syam pada musim panas dan ke negeri Yaman pada musim dingin. Dalam perjalanan itu mereka mendapat jaminan keamanan dari penguasa negeri-negeri yang dilaluinya. Ini adalah suatu nikmat yang sangat besar dari Allah kepada mereka. Oleh karena itu sewajarnyalah mereka menyembah Allah yang telah memberikan nikmat itu kepada mereka.
Tafsir
(Yaitu kebiasaan mereka) lafal ini mengukuhkan makna lafal sebelumnya (bepergian pada musim dingin) ke negeri Yaman (dan musim panas) ke negeri Syam dalam setiap tahunnya; mereka bepergian dengan tujuan untuk berniaga yang keuntungannya mereka gunakan untuk keperluan hidup mereka di Mekah dan untuk berkhidmat kepada Baitullah yang merupakan kebanggaan mereka; mereka yang melakukan demikian adalah anak-anak An-Nadhr bin Kinanah.
Tafsir Surat Al-Quraisy: 1-4
Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah), Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan rasa lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. Surat ini menurut Mushaf Induk terpisah dari surat yang sebelumnya, mereka menuliskan di antara keduanya baris pemisah, yaitu Bismillahir Rahmanir Rahim, sekalipun bila dipandang dari segi maknanya dengan surat yang sebelumnya mempunyai kaitan yang erat.
Hal ini dijelaskan oleh Muhammad ibnu Ishaq dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam. Dengan alasan karena makna yang dimaksud ialah Kami menahan pasukan bergajah dari Mekah dan Kami binasakan pula para pemiliknya, demi kebiasaan orang-orang Quraisy. Yakni untuk memelihara kelestarian kebiasaan dan terhimpunnya mereka di negerinya dalam keadaan aman. Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud dengan Ilaf ialah tradisi mereka dalam melakukan perjalanan di musim dingin ke negeri Yaman dan di musim panas ke negeri Syam untuk tujuan berniaga dan lain-lainnya.
Kemudian mereka kembali ke negerinya dalam keadaan aman tanpa ada gangguan di perjalanan mereka. Demikian itu karena mereka dihormati dan disegani oleh orang lain, mengingat mereka adalah penduduk kota suci Allah. Maka siapa yang mengenal mereka, pasti menghormati mereka. Bahkan barang siapa yang dipilih oleh mereka untuk menjadi teman perjalanan mereka, maka ia ikut aman berkat keberadaan mereka.
Demikianlah keadaan mereka dalam perjalanan dan misi mereka di musim dingin dan musim panas. Adapun mengenai keadaan mereka bila menetap di kota mereka, maka disebutkan oleh firman-Nya: Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedangkan manusia sekitarnya rampok-merampok. (Al-'Ankabut: 67) Untuk itulah maka disebutkan oleh firman-Nya: Karena kebiasaan orang-orang Quraisy. (Quraisy: 1-2) Ilaf yang kedua menjadi badal dan tafsir dari yang pertama, untuk itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya: (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. (Quraisy: 2) Ibnu Jarir mengatakan bahwa yang benar ialah bahwa lam dalam permulaan ayat surat ini menunjukkan makna ta'ajjub, seakan-akan disebutkan bahwa kagumlah kamu kepada kebiasaan orang-orang Quraisy dan nikmat-Ku yang telah Kulimpahkan kepada mereka dalam hal tersebut.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa menurut kesepakatan kaum muslim, kedua surat ini merupakan surat yang masing-masing berdiri sendiri dan terpisah dari yang lainnya. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memberi mereka petunjuk untuk bersyukur atas semua hikmat yang besar ini, melalui firman-Nya: Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah). (Quraisy: 3) Yakni hendaklah mereka mengesakan-Nya dalam menyembah-Nya, sebagaimana Dia telah menjadikan bagi mereka kota yang suci lagi aman dan Ka'bah yang disucikan. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu: Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nyalah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (An-Naml: 91) Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan rasa lapar. (Quraisy: 4) Yaitu Dia adalah Tuhan Pemilik Ka'bah ini, Dialah yang memberi mereka makan agar tidak lapar.
dan mengamankan mereka dari ketakutan. (Quraisy: 4) Allah telah memberikan karunia keamanan dan banyak kemurahan kepada mereka, maka hendaklah mereka menyembah-Nya dengan mengesakan-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan janganlah mereka menyembah-Nya dengan yang lain-Nya, baik berhala maupun patung atau lain-lainnya yang mereka persekutukan dengan-Nya. Karena itulah barang siapa yang memenuhi perintah ini, maka Allah menghimpunkan baginya keamanan di dunia dan keamanan di akhirat nanti; dan barang siapa yang durhaka kepada-Nya, maka Allah subhanahu wa ta’ala mencabut keduanya dari dia.
Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya dengan melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (An-Nahl: 112-113) Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Amr Al-Gaziy, telah menceritakan kepada kami Qubaisah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Lais, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Asma binti Yazid yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Kecelakaan yang besarlah bagi kalian, wahai Quraisy, karena adanya surat Quraisy ini.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Mu-ammal ibnul Fadl Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Yunus, dari Abdullah ibnu Abu Ziyad, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Usamah ibnu Zaid yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musimpanas. Celakalah kalian, wahai golongan orang-orang Quraisy, sembahlah oleh kalian Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah) yang telah memberi kalian makan dari kelaparan dan memberi kalian keamanan dari rasa takut.
Demikianlah yang telah kusaksikan hadits dari Usamah ibnu Zaid. sebenarnya dari Asma binti Yazid ibnus Sakan Ummu Salamah Al-Ansariyyah Barangkali terjadi salah penyalinan dari asal riwayatnya; hanya Allahlah Yang Maha Mengetahui.
Yaitu kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin ke Yaman dan musim panas ke Syam untuk berniaga guna memenuhi kebutuhan hidup mereka di Mekah untuk berkhidmat merawat Kakbah dan melayani para peziarah, suatu hal yang menjadi kebanggan mereka atas kabilah-kabilah lain. 3. Mereka pergi berniaga tiap tahun dengan aman dan sentosa. Oleh karena itu maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini, yaitu Kakbah, dengan pengabdian yang hakiki dan tidak mempersekutukan-Nya, sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah mereka terima.
. Syarat pertama ini diambil dari kalimat li ilaf yang artinya karena kebiasaan.
2. Memelihara nama baik, yang diambil dari kalimat Quraisy sebab suku atau kabilah Quraisy itu termasuk kabilah yang paling mulia yang nantinya melahirkan Nabi Muhammad. Maka seorang pedagang pun harus selalu memelihara nama baiknya sehingga dapat kepercayaan yang penuh dari sekalian langganannya, karena tidak pernah dusta atau menipu, tidak pernah menyalahi janji atau menimbun barang-barang yang dibutuhkan oleh rakyat dan lain-lain.
3. Mengadakan misi perniagaan ke luar daerahnya, bahkan ke luar negeri untuk melebarluaskan daerah lingkungan perniagaannya dan syarat ini diambil dari kalimat rihlah yang artinya bepergian. Seorang pedagang tidak akan maju jika tidak mengadakan misi perniagaan ke luar daerahnya.
4. Memperhatikan situasi keadaan yang menguntungkan. Ia harus memperhatikan iklim, situasi, dan kondisi tempat di sekitarnya. Syarat ini diambil dari kalimat asy-syita'i wa as-saif yang artinya: pada musim dingin dan musim panas. Orang-orang Quraisy pun mengatur arah perniagaannya yaitu di musim dingin mereka pergi ke sebelah selatan yaitu negeri Yaman, dan di musim panas ke utara yaitu negeri Syam.
Jika keempat syarat ini diperhatikan dengan seksama niscaya akan mendatangkan kemakmuran yang merata dan kemakmuran itu jangan sekali-kali hanya untuk memuaskan hawa nafsu. Akan tetapi, harus dijadikan bekal untuk beribadah kepada Allah yang mempunyai Baitullah dan digunakan untuk menyukuri segala nikmat pemberian-Nya, agar menghasilkan kesejahteraan, cukup sandang-pangan dan keamanan dari ketakutan seperti diisyaratkan dalam kalimat: "Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan."
Jadi yang harus disembah dan disyukuri itu ialah Allah Pemilik Ka'bah sebab di dekat Ka'bah itu ada satu macam ibadah yang tidak terdapat di luar kota Mekah yaitu tawaf di Baitullah.
Jika diperhatikan cara tawaf itu memang aneh sekali, sebab menurut hukum alam setiap benda yang mengelilingi benda lain, lama-lama akan bertambah jauh dari markasnya atau titik putarnya sesuai dengan daya sentrivical atau daya lompatan ke luar. Jika sebuah batu diikat dengan tali lalu diputarkan maka bila batu itu terlepas mesti terlempar jauh ke luar. Demikian pula dalam bidang kerohanian, seorang pedagang yang tadinya rajin salat berjamaah dan menghadiri pengajian pada ulama di kampungnya setelah sering bepergian ke luar daerah maka ia bertambah jauh dari masjid dan ulamanya.
Jika ia bepergian ke luar negeri tentu akan bertambah jauh lagi dari sumber agamanya. Tidak demikian keadaan orang yang sedang tawaf di Baitullah. Walaupun ia berkeliling sampai tujuh kali, tetapi ia tetap berada di samping Baitullah. Demikian pula hendaknya setiap pedagang yang telah menjadi hartawan atau jutawan tetap saja tekun melaksanakan ibadahnya kepada Allah secara terus-menerus (istikamah).
(1-2) Dalam ayat-ayat berikut ini, Allah menerangkan profesi suku Quraisy sebagai kaum pedagang di negara yang tandus dan mempunyai dua jurusan perdagangan. Pada musim dingin ke arah Yaman untuk membeli rempah-rempah yang datang dari Timur Jauh melalui Teluk Persia dan yang kedua ke arah Syam pada musim panas untuk membeli hasil pertanian yang akan dibawa pulang ke negeri mereka yang tandus lagi kering itu.
Orang-orang penghuni padang pasir (Badui) menghormati suku Quraisy karena mereka dipandang sebagai jiran (tetangga) Baitullah, penduduk tanah suci dan berkhidmat untuk memelihara Ka'bah, dan penjaga-penjaga Ka'bah. Oleh karena itu, suku Quraisy berada dalam aman dan sentosa, baik ketika mereka pergi maupun ketika mereka pulang walaupun banyak terjadi perampokan dalam perjalanan.
Karena rasa hormat kepada Baitullah itu merupakan suatu kekuatan jiwa dan berwibawa untuk memelihara keselamatan mereka dalam misi-misi perdagangannya ke utara atau ke selatan; sehingga timbullah suatu kebiasaan dan kegemaran untuk berniaga yang menghasilkan banyak rezeki. Rasa hormat terhadap Baitullah yang memenuhi jiwa orang Arab itu adalah kehendak Allah semata, lebih-lebih lagi ketika mereka melihat bagaimana Allah menghancurkan tentara gajah yang ingin meruntuhkan Ka'bah, sebelum mereka sampai mendekatinya.
Sekiranya penghormatan terhadap Baitullah kurang mempengaruhi jiwa orang-orang Arab atau tidak ada sama sekali pengaruhnya niscaya orang-orang Quraisy tentu tidak mau mengadakan perjalanan-perjalanan perdagangan tersebut. Maka dengan demikian akan berkuranglah sumber-sumber rezeki mereka sebab negeri mereka bukanlah tanah yang subur.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
SURAH QURAISY
(KAUM QURAISY)
SURAH KE-106, 4 AYAT, DITURUNKAN DI MEKAH
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Pengasih.
Ayat 1
“Lantaran untuk melindungi kaum Quraisy." (ayat 1)
Ayat 2
Yaitu “Untuk melindungi mereka di dalam perjalanan musim dingin dan musim panas." (ayat 2)
Kaum Quraisy pada umumnya adalah saudagar perantara, yang negerinya (Mekkah) terletak di tengah, di antara utara (Syam) dan selatan (Yaman). Sejak lama sebelum Islam, mereka telah menghubungkan kedua negeri itu. Syam di utara adalah pintu perniagaan yang akan melanjut sampai ke Laut Tengah dan ke negeri-negeri sebelah barat. Yaman yang ibukotanya sejak dahulu adalah Shan'aa di selatan membuka pula jalan ke timur sampai ke India, bahkan lebih jauh lagi sampai ke Tiongkok. Di musim panas mereka pergi ke Syam, dan di musim dingin mereka pergi ke Yaman, keduanya untuk berniaga. Sejak zaman purbakala telah terentang jalan kafilah di antara: Mekah, Madinah dan Damaskus atau Mekah, Hunain, Badar, Ma'an (Syarqil Urduri). Itu adalah jalan kafilah utara. Sedang jalan kafilah ke selatan: Mekah, Thaif, ‘Asir, Yaman (Shan'aa).
Ayat 3
“Maka hendaklah mereka menyembah kepada Tuhan Rumah ini." (ayat 3)
Sebab banyaklah anugerah dan karunia Allah kepada mereka lantaran adanya rumah itu.
Ayat 4
Yaitu Allah “Yang telah memberi makan mereka dari kelaparan dan mengamankan mereka dari ketakutan." (ayat 4)
Dengan berkat adanya Rumah Allah di tengah Kota Mekah itu, tidaklah putus-putusnya tiap tahun orang datang ke sana, di samping mereka sendiri mengadakan kafilah perniagaan ke utara dan ke selatan. Tidaklah pernah negeri mereka jadi daerah tertutup, sehingga selalulah makanan mereka terjamin, dan tidak ditimpa kelaparan. Disertai aman pula, sebab tanah Mekah itu dijadikan Daerah Terlarang sejak zaman Nabi Ibrahim, tidak boleh orang berperang di sana, tidak boleh binatang buruannya diburu, tidak boleh tumbuh-tumbuhannya dirusakkan. Aturan ini dihormati oleh seluruh kabilah Arab secara turun-temurun.
Sebab itu maka tidaklah layak orang Quraisy yang telah mendapat rahmat yang begitu banyak dari Allah, kalau mereka tidak mensyukuri Allah. Tidaklah layak kalau mereka menolak risalat yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ Dan di dalam surah ini pun telah diperingatkan, bukanlah Rumah itu, bukanlah Ka'bah itu yang mesti disembah; melainkan Allah yang empunya rumah itulah yang harus disembah. Syukurilah Allah yang telah memperlindungi, membuat peraturan sehingga Tanah Mekah dapat aman dan sentosa, tidak disentuh dan diusik orang.
Maka menjadi lemahlah tafsir yang mengatakan bahwa kaum bergajah dibinasakan karena Allah hendak memelihara orang Quraisy, melainkan orang Quraisy itu sendirilah dalam surah ini yang diberi peringatan, agar mereka jangan menyembah juga kepada berhala, bahkan jangan menyembah kepada Ka'bah itu sendiri; tetapi sembahlah Allah Yang Empunya Ka'bah itu. Maka tidaklah patut mereka menjadi orang musyrikin, menyembah berhala, mengumpulkan berhala pada rumah itu sampai 360 buah banyaknya.
Tafsir of Surah Quraish
This Surah has been separated from the one that preceded it in the primary Mushaf (the original copy of `Uthman) .
They (the Companions) wrote In the Name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful on the line (i.e., the space) between these two Surahs. They did this even though this Surah is directly related to the one which precedes it, as Muhammad bin Ishaq and `Abdur-Rahman bin Zayd bin Aslam have both clarified. This is because the meaning of both of them is,
We have prevented the Elephant from entering Makkah and We have destroyed its people in order to gather (Ilaf) the Quraysh, which means to unite them and bring them together safely in their city.
It has also been said that the meaning of this (Ilaf) is what they would gather during their journey in the winter to Yemen and in the summer to Ash-Sham through trade and other than that. Then they would return to their city in safety during their journeys due to the respect that the people had for them because they were the residents of Allah's sanctuary. Therefore, whoever knew them would honor them. Even those who came to them and traveled with them, would be safe because of them. This was their situation during their journeys and travels during their winter and summer. In reference to their living in the city, then it is as Allah said,
أَوَلَمْ يَرَوْاْ أَنَّا جَعَلْنَا حَرَماً ءامِناً وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ
Have they not seen that We have made it a secure sanctuary, while men are being snatched away from all around them. (29:67).
Thus, Allah says,
لاِإِيلَإفِ قُرَيْشٍ
إِيلَـفِهِمْ
For the Ilaf of the Quraysh. Their Ilaf,
This is a subject that has been transferred from the first sentence in order to give it more explanation.
Thus, Allah says,
إِيلَفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاء وَالصَّيْفِ
Their Ilaf caravans, in winter and in summer.
Ibn Jarir said,
The correct opinion is that the letter Lam is a prefix that shows amazement. It is as though He (Allah) is saying,
`You should be amazed at the uniting (or taming) of the Quraysh and My favor upon them in that.'
He went on to say,
This is due to the consensus of the Muslims that they are two separate and independent Surahs.
Then Allah directs them to be grateful for this magnificent favor in His saying,
فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ
So, let them worship the Lord of this House.
meaning, then let them single Him out for worship, just as He has given them a safe sanctuary and a Sacred House.
This is as Allah says,
إِنَّمَأ أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبِّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِى حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَىءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
I have been commanded only to worship the Lord of this city, Who has sanctified it and to Whom belongs everything. And I am commanded to be from among the Muslims. (27:91)
Then Allah says
الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ
Who has fed them against hunger,
meaning, He is the Lord of the House and He is the One Who feeds them against hunger.
وَامَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ
And has made them safe from fear.
meaning, He favors them with safety and gentleness, so they should single Him out for worship alone, without any partner. They should not worship any idol, rival or statue besides Him. Therefore, whoever accepts this command, Allah will give him safety in both this life and the Hereafter. However, whoever disobeys Him, He will remove both of them from him.
This is as Allah says,
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلً قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُّطْمَيِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُواْ يَصْنَعُونَ
وَلَقَدْ جَأءَهُمْ رَسُولٌ مِّنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَـلِمُونَ
And Allah puts forward the example of a township, that dwelt secure and well-content:its provision coming to it in abundance from every place, but it denied the favors of Allah. So, Allah made it taste extreme of hunger and fear, because of that which they used to do.
And verily, there had come unto them a Messenger from among themselves, but they denied him, so the torment overtook them while they were wrongdoers. (16:112-113)
This is the end of the Tafsir of Surah Quraysh, and all praise and thanks are due to Allah.
their security (eelaafihim: repeated for emphasis; it is a verbal noun from [the verb] aalafa) for the journey of winter, to Yemen, and, the journey, of summer, to Syria, every year: they made use of these two journeys to provide for their trade at the station [of Abraham] in Mecca, in order to attend to the House [of God], which was their source of pride; they [Quraysh] were the descendants of al-Nadr ibn Kinaana;
Verse [ 106:2] رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (...their familiarity with the trips of winter and summer.) It is a known fact that Makkah is situated in an utterly bleak and arid valley where no agricultural produce grows, nor are there any orchards where the people of Makkah could reap any kind of fruits. Therefore, the founder of the House of Allah, Sayyidna Ibrahim Khalil ullah (علیہ السلام) prayed to Allah at the time of founding the city, thus: [ 2:126] رَبِّ اجْعَلْ هَـٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ (My Lord, make this a city of peace, and provide its people with fruits) and this fact is mentioned in [ 28:57], thus: يُجْبَىٰ إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ (to which the fruits of everything are drawn) ". The Quraish thus needed to make these commercial trips out of Makkah into the neighboring territories to bring the necessities of life to their city. Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ reports that the people of Makkah were in a state of abject poverty and Hashim, the great grandfather of the Prophet ﷺ ، exhorted the Quraish to undertake the trading caravans to the neighboring territories. As Syria was a cold region, they went there in summer; and Yemen had a warm climate, so they went there in winter to carry out their commercial activities. They, after their commercial ventures that brought to them great profits and gains, would return to their city safely due to the respect that the people had for them, because they were the keepers and custodians of Allah's sanctuary. Therefore, whoever knew them would honor them. Even those who came to them and traveled with them, would be safe because of them. Hashim was the leader of the Quraish and maintained the economic principle to distribute among the rich and the poor members of the Quraish the gains and the profits made in their business. As a result, even the poor people lived like the wealthy people. Furthermore, an additional Divine favor was granted to them: Allah spared them the trouble of making these annual trips, in that the areas adjacent to Makkah such as Yemen, Tabalah and Harsh were made fertile, fecund and productive where corns, food grains and other agricultural produce grew abundantly - even more than their need. As a result, they had to carry these agricultural produce to Jeddah where they sold them. Thus most of the necessities were available in Jeddah. The people of Makkah, instead of undertaking the two long journeys, went to Jeddah, merely two stations away, to bring their necessities of life. In the current verse, Allah mentions His favor upon them.








