ٱلْبَيِّنَة ٥
- وَمَآ dan tidak
- أُمِرُوٓاْ diperintahkan
- إِلَّا kecuali
- لِيَعۡبُدُواْ supaya mereka menyembah
- ٱللَّهَ Allah
- مُخۡلِصِينَ mengikhlaskan/memurnikan
- لَهُ bagiNya
- ٱلدِّينَ agama
- حُنَفَآءَ ikhlas/lurus
- وَيُقِيمُواْ dan mereka mendirikan
- ٱلصَّلَوٰةَ sholat
- وَيُؤۡتُواْ dan mereka menunaikan
- ٱلزَّكَوٰةَۚ zakat
- وَذَٰلِكَ dan demikian itu
- دِينُ agama
- ٱلۡقَيِّمَةِ betul/lurus
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).1
Catatan kaki
1 *921) Lurus, berarti jauh dari syirik dan jauh dari kesesatan.
(Padahal mereka tidak disuruh) di dalam kitab-kitab mereka yaitu Taurat dan Injil (kecuali menyembah Allah) kecuali supaya menyembah Allah, pada asalnya adalah An Ya'budullaaha, lalu huruf An dibuang dan ditambahkan huruf Lam sehingga jadilah Liya'budullaaha (dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam beragama) artinya membersihkannya dari kemusyrikan (dengan lurus) maksudnya berpegang teguh pada agama Nabi Ibrahim dan agama Nabi Muhammad bila telah datang nanti. Maka mengapa sewaktu ia datang mereka menjadi jadi ingkar kepadanya (dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama) atau tuntunan (yang mustaqim) yang lurus.
Tafsir Surat Al-Bayyinah: 1-5
Orang-orang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al-Qur'an), di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus. Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. Adapun yang dimaksud dengan Ahli Kitab adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, sedangkan orang-orang musyrik adalah para penyembah berhala dan api.
baik dari kalangan bangsa Arab maupun bangsa Ajam (non-Arab). Mujahid mengatakan bahwa mereka tidak mau berhenti alias tidak mau meninggalkan agama mereka sebelum jelas bagi mereka perkara yang hak. Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah dalam firman-Nya: sebelum datang kepadamereka bukti yang nyata. (Al-Bayyinah: 1) Yaitu Al-Qur'an ini. Untuk itu disebutkan oleh firman-Nya: Orang-orang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka,) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata. (Al-Bayyinah: 1) Kemudian bukti yang nyata ini ditafsirkan oleh firman selanjutnya: (yaitu) seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan. (Al-Bayyinah: 2) Yakni Nabi Muhammad dan kitab yang dibacanya, yaitu Al-Qur'an yang mulia, yang telah tercatat di kalangan Mala'ul A'la di dalam lembaran-lembaran yang disucikan.
Seperti yang dikatakan di dalam ayat lain melalui firman-Nya: di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti. ('Abasa: 13-16) Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala: di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus. (Al-Bayyinah: 3) Ibnu Jarir mengatakan bahwa di dalam lembaran-lembaran yang disucikan itu terdapat kitab-kitab dari Allah yang berharga. adil, lagi lurus; tiada suatu kesalahan pun di dalamnya karena ia dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: (yaitu) seorang rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan. (Al-Bayyinah: 2) Al-Qur'an dalam ayat ini disebutkan dengan sebutan yang terbaik dan dipuji dengan pujian yang terbaik.
Ibnu Zaid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang Iurus. (Al-Bayyinah: 3) Yakni yang Iurus lagi pertengahan. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. (Al-Bayyinah: 4) Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (Ali Imran: 105) Yang dimaksud oleh ayat ialah menceritakan keadaan Ahli Kitab dari kalangan umat terdahulu.
Sesudah Allah menegakkan hujah dan bukti terhadap mereka, maka mereka bercerai-berai dan berselisih mengenai takwil yang dimaksud oleh Allah di dalam kitab-kitab mereka. Dan hal ini berakibat mereka bercerai-berai dan menjadi golongan yang banyak, sebagaimana yang disebutkan di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan melalui berbagai jalur, yaitu: ". Sesungguhnya orang-orang Yahudi berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, dan orang-orang Nasrani berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan.
Dan umat ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di dalam neraka kecuali satu golongan. Para sahabat bertanya, "Siapakah mereka yang satu golongan yang selamat itu, wahai Rasulullah?" Rasulullah ﷺ bersabda: Yaitu golongan yang mengikuti apa yang dikerjakan olehku dan para sahabatku. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (Al-Bayyinah: 5) Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku. (Al-Anbiya: 25) Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya: Dengan lurus. (Al-Bayyinah: 5) Yakni menyimpang dari kemusyrikan dan menuju kepada tauhid, sepetti yang disebutkan di dalam firman-Nya: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah tagut. (An-Nahl: 36) Dalam pembahasan yang lalu di tafsir surat Al-An'am telah diterangkan makna hanif ini dengan keterangan yang lengkap, hingga tidak perlu diulangi lagi dalam bab ini.
dan supaya mereka mendirikan shalat. (Al-Bayyinah: 5) Salat adalah ibadah badaniyah yang paling mulia. dan menunaikan zakat. (Al-Bayyinah: 5) Yaitu memberikan santunan dan kebaikan kepada orang-orang fakir dan orang-orang yang memerlukan pertolongan. dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al-Bayyinah: 5) Yakni agama yang tegak lagi adil, atau maknanya umat yang lurus lagi pertengahan. Banyak dari kalangan para imam seperti Az-Zuhri dan Asy-Syafii yang menyimpulkan dalil dari ayat ini, bahwa amal perbuatan itu termasuk ke dalam iman.
Oleh karenanya disebutkan di dalam firman-Nya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al-Bayyinah: 5)".
Mereka terpecah belah seperti itu padahal mereka dalam kitab-kitab mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama, dan juga diperintah agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah aga-ma yang lurus dan benar agama Islam. Keikhlasan dalam beribadah dengan memurnikan niat demi mencari rida Allah dan menjauhkan diri dari kemusyrikan adalah salah satu syarat diterimanya ibadah. 6. Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik akan masuk ke neraka Jahanam dengan bermacam siksa pedih di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Tidak ada kesempatan bagi mereka untuk keluar, bahkan untuk sekadar sejenak lepas dari siksa. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk. Allah telah mem-beri mereka peringatan, tetapi mereka enggan mengindahkannya. Dia tidak akan menyiksa seseorang kecuali setelah memberinya peringatan.
Karena adanya perpecahan di kalangan mereka, maka pada ayat ini dengan nada mencerca Allah menegaskan bahwa mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah-Nya. Perintah yang ditujukan kepada mereka adalah untuk kebaikan dunia dan agama mereka, dan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Mereka juga diperintahkan untuk mengikhlaskan diri lahir dan batin dalam beribadah kepada Allah dan membersihkan amal perbuatan dari syirik sebagaimana agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim yang menjauhkan dirinya dari kekufuran kaumnya kepada agama tauhid dengan mengikhlaskan ibadah kepada Allah. Ikhlas adalah salah satu dari dua syarat diterimanya amal, dan itu merupakan pekerjaan hati. Sedang yang kedua adalah mengikuti sunah Rasulullah. Allah berfirman:
Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), "Ikutilah agama Ibrahim yang lurus." (an-Nahl/16: 123)
Firman-Nya yang lain:
Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus dan muslim. (Ali 'Imran/3: 67)
Mendirikan salat dalam ayat ini maksudnya adalah mengerjakannya terus-menerus setiap waktu dengan memusatkan jiwa kepada kebesaran Allah, untuk membiasakan diri tunduk kepada-Nya. Sedangkan yang dimaksud dengan mengeluarkan zakat yaitu membagi-bagikannya kepada yang berhak menerimanya sebagaimana yang telah ditentukan oleh Al-Qur'anul Karim.
Keterangan ayat di atas tentang keikhlasan beribadah, menjauhkan diri dari syirik, mendirikan salat, dan mengeluarkan zakat, adalah maksud dari agama yang lurus yang tersebut dalam kitab-kitab suci lainnya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Ayat 4
“Dan tidaklah berpecah-belah orang-orang yang diberi Kitab itu, melainkan sesudah datang kepada mereka pembuktian itu." (ayat 4)
Seyogianya bila keterangan dan pembuktian telah datang, tunduklah mereka kepada kebenaran. Tetapi setelah pembuktian dan penerangan itu datang, bukanlah mereka segera tunduk, melainkan mereka menjadi berpecah-belah, bermusuh-musuhan, yang satu menyalahkan yang lain. Dan tidak satu jua pun yang sudi menerima kebenaran. Terutama terhadap seruan Nabi Muhammad ﷺ Di dalam kitab-kitab suci yang telah terdahulu telah ada isyarat akan kedatangannya. Musa telah menjanjikan, Isa pun telah menyebutkan, dan mereka sendiri pun percaya akan ada lagi Nabi akhir zaman yang akan menggenapkan seruan Rasul yang telah terdahulu.
Tetapi setelah Rasul itu datang dengan nyata dan tak dapat dibantah lagi kebenarannya, mereka pun berpecah.
Pada ayat yang pertama disebut Ahlul Kitab dan musyrikin. Pada ayat 4 ini ditonjolkan Ahlul Kitab saja. Dapatlah kita mengambil perbandingan, sedangkan Ahlul Kitab yang telah pernah kedatangan Rasul saja membantah dan berpecah-belah menerima bukti-bukti Rasul; apatah lagi kaum musyrikin.
Apakah sebab timbul perpecahan itu? Ditilik dari ilmu kemasyarakatan dapat diambil kesimpulan bahwa mereka berpecah karena soal ini telah dipersangkutkan dengan kepentingan pribadi dan kedudukan. “Bayyinah" atau pembuktian yang dibawakan Nabi Muhammad ﷺ di dalam Al-Qur'an itu tidaklah berbeda-dengan isi kitab mereka, dan mereka pun telah diberitahu dalam kitab-kitab itu bahwa Nabi itu akan datang. Tetapi setelah beliau betul-betul datang, mereka tidak mau lagi, mereka berpecah. Ada yang menerima dalam hati, tetapi takut kepada masyarakatnya sendiri akan dibenci oleh mereka. Dan ada juga yang didorong menolaknya oleh rasa benci dan dengki.
Ayat 5
“Padahal tidaklah mereka itu diperintah, melainkan supaya mereka menyembah kepada Allah." (pangkal ayat 5)
Kepada Allah saja, tidak dipersekutukan yang lain dengan Allah. “Dengan mengikhlaskan agama karena-Nya." Segala amal dan ibadah, pendeknya segala apa jua pun perbuatan yang bersangkutan dengan agama, yang dikerjakan dengan kesadaran, hendaklah ikhlas karena Allah belaka, bersih daripada pengaruh yang lain. “Dengan menjauhkan diri dari kesesatan." Itulah yang dinamai agama Hanif jamaknya Hunafa'u. Yaitu condong kepada kebenaran, laksana jarum kompas, ke mana pun ia diputarkan, namun jarumnya selalu condong ke utara. Demikianlah hendaknya hidup manusia, condong kepada yang benar, tidak dapat dipalingkan kepada yang salah. “Dan supaya mendirikan shalat," yaitu dengan gerak-gerik tubuh tertentu, dengan berdiri dan ruku' dan sujud mengingat Allah, membuktikan ketundukan kepada Allah. “Dan mengeluarkan zakat," yaitu mengeluarkan sebagian dan harta buat membantu hidup fakir miskin, atau untuk menegakkan jalan Allah di dalam masyarakat yang luas; sehingga dengan shalat terbuktilah hubungan yang kukuh dengan Allah, dan dengan zakat terbuktilah hubungan yang kukuh dengan sesama manusia.
“Dan yang demikian itulah agama yang lurus (ujung ayat 5)
Syekh Muhammad Abduh di dalam Tafsir Juz ‘Amma memberi peringatan, bahwa meskipun ayat ini turun mengisahkan sikap Ahlul Kitab, namun penyakit semacam ini telah banyak ditemui dalam kehidupan kaum Muslimin. Meskipun firman Ilahi dan sabda Rasulullah ﷺ, telah terang benderang dan jelas isinya, masih pula terdapat perpecahan di kalangan kaum Muslimin, ta'asshub mempertahankan golongan masing-masing, sehingga di antara sesama Muslimin pun terjadi perpecahan. Beliau berkata,
“Bagaimana pendapatmu tentang keadaan kita (kaum Muslimin)? Bukankah hal ini telah diingatkan oleh kitab suci kita sendiri, yang telah membuktikan buruknya amal-amal kita, sehingga kita pecah-berpecah dalam hal agama, sampai bergolong-golongan, sampai amalan kita penuh dengan perbuatan baru yang diada-adakan dan perbuatan bid'ah?"
Tafsir of Surah Al-Bayyinah
Mentioning the Situation of the Disbelievers among the People of the Scripture and the Idolators
لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ
Those who disbelieve from among the People of the Scripture and idolators, were not going to leave until there came to them the Bayyinah.
As for the People of the Scripture, they are the Jews and the Christians, and the idolators are the worshippers of idols and fire among the Arabs and the non-Arabs.
Mujahid said, they are not going
مُنفَكِّينَ
(to leave)
Meaning, they will not be finished until the truth becomes clear to them.
Qatadah also said the same thing.
حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ
until there came to them the Bayyinah. meaning, this Qur'an.
This is why Allah says,
لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ
Those who disbelieve from among the People of the Scripture and idolators, were not going to leave until there came to them the Bayyinah.
Then He explains what the Bayyinah is by His saying,
رَسُولٌ مِّنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُّطَهَّرَةً
A Messenger from Allah, reciting purified pages.
meaning, Muhammad and the Magnificent Qur'an he recites, which is written down among the most high gathering in purified pages.
This is similar to Allah's statement,
فَى صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ
مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ
بِأَيْدِى سَفَرَةٍ
كِرَامٍ بَرَرَةٍ
In Records held in honor. Exalted, purified, in the hands of scribes (angels). Honorable and obedient. (80:13-16)
Then Allah says,
فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ
Wherein are upright Books.
Ibn Jarir said,
Meaning in the purified pages are Books from Allah that are upright, just and straight. They have no mistakes in them because they are from Allah, the Mighty and Majestic.
The Differing only occurred after the Knowledge came
Allah says,
وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلاَّ مِن بَعْدِ مَا جَاءتْهُمُ الْبَيِّنَةُ
And the People of the Scripture differed not until after there came to them the Bayyinah.
This is similar to Allah's statement,
وَلَا تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَأءَهُمُ الْبَيِّنَـتُ وَأُوْلَـيِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
And be not as those who divided and differed among themselves after the Bayyinat came to them. It is they for whom there is an awful torment. (3:105)
This refers to the people of those divinely revealed Scriptures that were sent down to the nations that were before us. After Allah established the proofs and evidences against them, they divided and differed concerning that which Allah had intended in their Scriptures, and they had many differences.
This is like what has been reported in a Hadith that has many routes of transmission,
إِنَّ الْيَهُودَ اخْتَلَفُوا عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً
وَإِنَّ النَّصَارَى اخْتَلَفُوا عَلى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَسَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الاْإُمَّةُ عَلَى ثَلَإثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَة
- Verily, the Jews differed until they became seventy-one sects.
- And verily, the Christians differed until they became seventy-two sects.
- And this Ummah will divide into seventy-three sects, and all of them will be in the Fire except one.
They said, Who are they, O Messenger of Allah
He replied,
مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
(Those who are upon), what I and my Companions are upon.
The Command of Allah was merely that They make their Religion solely for Him
Allah says,
وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
.
And they were commanded not, but that they should worship Allah, making religion purely for Him alone,
This is similar to Allah's statement,
وَمَأ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِى إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ أَنَاْ فَاعْبُدُونِ
And We did not send any Messenger before you but We revealed to him:La ilaha illa Ana. (21:25)
Thus, Allah says,
حُنَفَاء
Hunafa'
meaning, avoiding Shirk and being truly devout to Tawhid.
This is like Allah's statement,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللَّهَ وَاجْتَنِبُواْ الْطَّـغُوتَ
And Verily, We have sent among every Ummah a Messenger (proclaiming):Worship Allah, and avoid the Taghut (false deities). (16:36)
A discussion of the word Hanif has already been mentioned previously and in Surah Al-An`am, so there is no need to repeat it here
وَيُقِيمُوا الصَّلَةَ
and perform Salah,
And this is the best of the physical forms of worship.
وَيُوْتُوا الزَّكَاةَ
and give Zakah,
This is doing good to the poor and the needy.
.
وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
and that is the right religion.
meaning, the upright and just religion, or the nation that is straight and balanced.
And they were only commanded, in their Scripture, the Torah and the Bible, to worship God (illaa li-ya'budoo means illaa an ya'budoo, an having been omitted and the laam added) devoting religion purely to Him, [free] of any idolatry, as haneefs, upright in [following] the religion of Abraham and the religion of Muhammad may peace and salutation be upon him, when he would come - so how is it that they disbelieved in him?, and to establish prayer and pay the alms. That is the upright religion, the upright creed.
Verse [ 5] وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (And that is the way of the straight religion.) The word qayyimah [ the straight ] is apparently the qualifier of the noun kutub [ Books ] which occurred earlier. Some treat the adjective as qualifying the noun millah [ religion ]. The verse purports to say that Allah commanded the People of the former Scriptures that they should render full and sincere obedience to Divine commandments, that is, to worship Allah alone. They should also establish the regular prayers and pay the obligatory alms. Then the Qur'an reminds them that this is not their distinctive feature exclusively. All former religions that are upright and received Books from Allah have the same features. This is the true religion of all the Prophets (علیہم السلام) that they preached to their respective people. It would appear that the phrase hutubun qayyimah [(right and) straight writings ], contextually, refers to the Qur'anic ordinances and injunctions. From this point of view, the verse would signify that the ordinances and injunctions of the Shari` ah of the Holy Prophet Muhammad ﷺ are exactly the same as those that were given to them in their revealed Scriptures. They were not divergent so that they could find a pretext to oppose.