Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
وَإِن
dan jika
نَّكَثُوٓاْ
mereka merusak
أَيۡمَٰنَهُم
sumpah/janji mereka
مِّنۢ
dari
بَعۡدِ
sesudah
عَهۡدِهِمۡ
janji mereka
وَطَعَنُواْ
dan mereka mencerca
فِي
didalam
دِينِكُمۡ
agamamu
فَقَٰتِلُوٓاْ
maka perangilah
أَئِمَّةَ
pemimpin-pemimpin
ٱلۡكُفۡرِ
kafir
إِنَّهُمۡ
sesungguhnya mereka
لَآ
tidak ada
أَيۡمَٰنَ
sumpah
لَهُمۡ
bagi mereka
لَعَلَّهُمۡ
supaya mereka
يَنتَهُونَ
mereka berhenti
وَإِن
dan jika
نَّكَثُوٓاْ
mereka merusak
أَيۡمَٰنَهُم
sumpah/janji mereka
مِّنۢ
dari
بَعۡدِ
sesudah
عَهۡدِهِمۡ
janji mereka
وَطَعَنُواْ
dan mereka mencerca
فِي
didalam
دِينِكُمۡ
agamamu
فَقَٰتِلُوٓاْ
maka perangilah
أَئِمَّةَ
pemimpin-pemimpin
ٱلۡكُفۡرِ
kafir
إِنَّهُمۡ
sesungguhnya mereka
لَآ
tidak ada
أَيۡمَٰنَ
sumpah
لَهُمۡ
bagi mereka
لَعَلَّهُمۡ
supaya mereka
يَنتَهُونَ
mereka berhenti
Terjemahan
Dan jika mereka melanggar sumpah setelah ada perjanjian, dan mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin kafir itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, mudah-mudahan mereka berhenti.
Tafsir
(Jika mereka merusak) melanggar (sumpahnya) janjinya (sesudah mereka berjanji dan mereka mencerca agama kalian) yakni mencelanya (maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir) ketua-ketuanya; di dalam ayat ini isim zhahir mengganti kedudukan isim dhamir, yakni lafal aimmatal kufri mengganti kedudukan aimmatahum (sesungguhnya tiada janji) yaitu perjanjian (dari mereka) yang dapat dipegang. Menurut suatu qiraat lafal aimaan dibaca iimaan dengan memakai harakat kasrah pada awal hurufnya (agar mereka berhenti) dari kekafirannya.
Tafsir Surat At-Taubah: 12
Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agama kalian, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, supaya mereka berhenti.
Allah ﷻ berfirman tentang orang-orang musyrik yang telah mengadakan perjanjian gencatan senjata dalam masa tertentu kemudian mereka merusak perjanjiannya dan mencerca agama kalian, yaitu mereka mencela dan mengecam agama Islam. Berdasarkan ayat inilah ditetapkan hukuman mati terhadap orang yang mencaci Rasulullah ﷺ, mencerca agama Islam, mendiskreditkannya. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
“Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, supaya mereka berhenti.” (At-Taubah: 12)
Maksudnya agar mereka sadar akan kekufuran, keingkaran, dan kesesatannya, lalu menghentikannya.
Qatadah dan lain-lainnya mengatakan, yang dimaksud dengan Aimmatal kufri atau para pemimpin orang-orang kafir ialah seperti Abu Jahal, Atabah, Syaibah, Umayyah ibnu Khalaf, serta sejumlah pemuka Quraisy lainnya.
Disebutkan dari Mus'ab ibnu Sa'd ibnu Abu Waqqas, bahwa Sa'd ibnu Abu Waqqas bertemu dengan seorang lelaki dari kalangan Khawarij. Maka orang Khawarij itu berkata, orang ini termasuk aimmatul kufri." Sa'd menjawab, "Kamu dusta, bahkan aku telah memerangi aimmatul kufri." Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih.
Al-A'masy telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Wahb, dari Huzaifah yang mengatakan bahwa jenis orang yang disebutkan di dalam ayat ini, setelah itu tidak diperangi lagi. Hal yang serupa telah diriwayatkan dari Ali ibnu Abu Thalib. Tetapi pendapat yang shahih ialah yang mengatakan bahwa makna ayat ini umum, sekalipun penyebab turunnya berkaitan dengan orang-orang musyrik dari kalangan Quraisy. Untuk itu, makna ayat ini mencakup orang-orang kafir Quraisy dan lain-lainnya.
Al-Walid ibnu Muslim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Safwan ibnu Amr, dari Abdur Rahman ibnu Jubair ibnu Nafir bahwa di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar, dia mengirimkan pasukannya ke negeri Syam dan berpesan kepada pasukannya, "Sesungguhnya kalian akan menjumpai suatu kaum yang kepalanya berlubang. Maka pukullah dengan pedang tempat bercokolnya setan pada mereka. Demi Allah, sesungguhnya membunuh seseorang dari mereka lebih aku sukai daripada membunuh tujuh puluh orang dari kalangan selain mereka. Demikian itu karena Allah ﷻ berfirman: ‘maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir’.” (At-Taubah: 12) Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.
Jika pilihan bertobat ternyata tidak mereka hiraukan dan mereka tetap menunjukkan sikap permusuhan kepada umat Islam, maka ayat ini memberikan pilihan lain, yaitu berperang. Dan jika mereka melanggar sumpah setelah ada perjanjian dengan kamu, dan mencerca agamamu, baik melalui sikap maupun ucapan, maka perangilah pemimpin-pemimpin kafir itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, sehingga menjadi sangat wajar jika perjanjian dengan mereka tidak dilanjutkan. Kalaulah mereka terus mengganggu, maka perangilah mudah-mudahan mereka berhenti mengganggu dan menganiaya siapa pun.
Ayat sebelumnya memerintahkan kaum muslim untuk memerangi kaum musyrik yang merusak perjanjian, maka ayat-ayat berikut ini menjelaskan alasan memerangi mereka. Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang melanggar sumpah janjinya, untuk tidak saling mengganggu selama sepuluh tahun, juga perjanjian-perjanjian lainnya yang sering mereka langgar, dan telah merencanakan untuk mengusir Rasul, dari kediaman beliau bahkan mereka sangat bernafsu untuk membunuh beliau dan mereka yang pertama kali memerangi kamu seperti dalam Perang Badar' Apakah kamu takut kepada mereka, hanya karena mereka didukung oleh kekuatan senjata dan pasukan yang banyak, padahal Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti, karena Dialah Yang Mahaperkasa yang tidak mungkin dikalahkan oleh siapa pun jika memang kamu benar-benar orang-orang beriman dengan mantap.
Kaum musyrikin, apabila melanggar perjanjian yang sudah mereka buat dengan orang mukmin dan mereka mencerca agama Islam, maka Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk memerangi pemimpin-pemimpin mereka, karena tidak menepati janjinya untuk menghentikan permusuhan dengan kaum Muslimin dan tidak mau bertobat. Para mufasir menerangkan bahwa yang dimaksud dengan mencerca agama Islam ialah mencerca Nabi, Al-Qur'an, dan lain-lain, sedang yang dimaksud membunuh atau memerangi pemimpin-pemimpin kafir di sini termasuk juga para pengikutnya. Memerangi kaum musyrikin itu diperkenankan bila mereka melanggar perjanjian damai dan menyerang Islam dan kaum Muslimin.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Kemudian diteruskanlah perintah kepada Nabi ﷺ dan kaum Muslimin bahwa di dalam sikap lembut mesti ada pula kerasnya. Di dalam membujuk, supaya ada pula ancamannya. Lemah lembut kepada yang insaf akan kebenaran dan tegang keras kepada yang me-nentang kebenaran.
“Dan jika mereka mungkiri sumpah-sumpah mereka, sesudah janji mereka, dan mereka tikam pada agama kamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin kekafiran itu."
(pangkal ayat 12)
Ayat ini sekali lagi menegaskan bahwa terhadap yang memungkiri janji yang telah diikat, sumpah setia yang telah diperbuat kedua belah pihak, janganlah bersikap lemah lembut. Mereka wajib diperangi. Pukul habis pemimpin-pemimpin mereka, yang sekarangnya hendaklah dicari siapa biang keladi dari
pemungkiran janji itu."Karena sesungguhnya mereka tidaklah ada sumpah bagi mereka." Sumpah mereka pandang ringan dan enteng, sebagai kata orang sekarang: “Mereka pandang sebagai dongeng di atas kertas saja." Mereka wajib diperangi sebagai suatu ajaran keras kepada mereka.
“Supaya mereka berhenti."
(ujung ayat 12)
Agar perangai-perangai yang demikian jangan mereka ulang lagi. Ada orang yang seruan kebenaran dan rayuan tidak akan berbekas kepada mereka; mereka baru mengerti setelah dipukul dengan senjata. Kekuasaan yang tegak atas kecurangan, wajib dihancurkan, supaya pergaulan hidup jadi tenteram. Dan, pada ayat ini kita diberi peringatan bahwa pelanggaran janji itu timbul dari pemimpin-pemimpin. Di sini disebut pemimpin-pemimpin kekufuran. Orang banyak hanya pengikut saja dari kehendak pemimpin-pemimpin. Para pemimpin inilah yang wajib ditangkap dan dihukum yang setimpal, seperti yang pada zaman sekarang disebut penjahat perang. Dikikis habis sampai mereka berhenti atau sampai kejadian itu tidak terulang lagi.
“Apakah tidak akan kamu perangi kaum yang telah memungkiri sumpah-sumpah mereka dan mereka telah pernah bermaksud mengusir Rasul, padahal mereka yang memulai terhadap kamu pertama kali?"
(pangkal ayat 13)
Ayat ketiga belas ini dan ayat kedua belas sebelumnya, menurut ahli tafsir, diturunkan sebelum Perang Tabuk dan sesudah Futuh (Penaklukan Mekah). Waktu itu, Abu Sufyan telah masuk Islam, Tetapi kemudian dijelaskan sebagai penetapan hukum sesudah empat bulan dari saat Pemakluman (Proklamasi), saat mengerjakan Haji Akbar pada hari kesepuluh (Hari Nahar) di Mina oleh Ali bin Abi Thalib itu. Bunyi ayat dua belas menegaskan bahwa si pemungkir janji wajib diperangi dan digasak.
jangan ragu-ragu untuk menggasak mereka karena keraguan akan melemahkan pihak kita. Untuk menimbulkan semangat orang menghadapi mereka itu, diingatkan lagi bahwa kaum itu telah pernah berkali-kali membuat onar dan pengkhianatan. Mereka pernah me-mungkiri janji yang telah mereka kuatkan dengan sumpah, yaitu janji di Hudaibiyah. Dalam janji Hudaibiyah dikatakan, takkan berperang sepuluh tahun lamanya; dan dalam janji itu pula dinyatakan kebebasan masing-masing memeluk agama mereka. Dan tidak akan dihalangi orang mengerjakan haji. Dan, tidak pula akan memberikan bantuan kepada pihak kabilah-kabilah yang berperang sesama kabilah, apabila kabilah yang satu kawan dari orang Quraisy dan kabilah yang diperangi kawan dari kaum Muslimin. Tetapi Perjanjian Hudaibiyah yang diperbuat tahun keenam itu, telah mereka mungkiri dengan hina sekali. Berperang kawan sekutu Quraisy yang bernama kabilah Bani Bakr dengan sekutu Nabi ﷺ yang bernama kabilah Bani Khuza'ah, di sebuah tempat bernama Hujair dekat Mekah. Maka kaum Quraisy dengan secara terang-terangan telah memberikan bantuannya kepada Bani Bakr sehingga Bani Khuza'ah mendapat kekalahan dari kecurangan itu. Segera Bani Khuza'ah mengirim utusannya menghadap Rasulullah ﷺ di Madinah memberitakan nasib mereka karena kekhianatan Quraisy itu. Mereka datang meminta bantu dan memohon keadilan. Mendengar perkataan utusan Bani Khuza'ah itu, yang bernama Amar bin Salim al-Khuzal, kelihatan wajah murka Nabi ﷺ Lalu beliau berkata, “Tidak ada artinya segala kemenanganku, kalau tidak aku bela kalian dari pengkhianatan ini" Kekhianatan janji Quraisy itulah yang menjadi sebab Mekah beliau taklukkan. Dan sebelum Mekah diserang, Abu Sufyan yang merasa menyesal atas kecurangan kaumnya yang dia sendiri bertanggung jawab, telah datang ke Madinah dengan maksud hendak memperbaiki keadaan. Tetapi setelah dia hubungi segala sahabat Rasulullah ﷺ sejak Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, supaya mereka dapat menjadi orang perantara untuk memperbaiki hubungan dengan Rasulullah ﷺ, tidak seorang pun yang mau menerimanya. Bahkan ketika dia mencoba menziarahi anak kandungnya, Ummi Habibah, istri Rasuluilah ﷺ, hamparan tempat dia duduk telah ditarik oleh Ummi Habibah, dengan berkata, “Ayah tidak boleh duduk di atas hamparan ini, ini adalah tempat duduk Nabi ﷺ, ayah kafir!" Dengan sebab kekhianatan itulah Mekah ditaklukkan. Itulah yang disebut bahwa mereka telah melanggar dan memungkiri sumpah-sumpah mereka. Dan, sebelum itu pun mereka telah pernah bermaksud mengusir Rasul. Sampai beliau terpaksa hijrah ke Madinah, sebab semalam akan hijrah itu telah dikerahkan beberapa pemuda hendak membunuhnya. Dan yang memulai terlebih dahulu segala permusuhan itu ialah mereka sendiri, bukan kaum Muslimin. Maka datanglah peringatan dalam ayat ini, apakah orang-orang semacam itu akan kamu biarkan saja? Tidak akan kamu perangi?
“Apakah kamu takut kepada mereka, padahal Allah-lah yang lebih berhak kamu takuti, jika memang kamu orang-orang yang beriman?"
(ujung ayat 13)
Dalam memerangi dan menghukum pengkhianatan Musyrikin itu, janganlah kamu takut kepada mereka. Mentang-mentang bilangan mereka banyak atau senjata mereka lengkap, sekali-kali jangan kamu takut. Tempat takut kamu hanya Allah. Allah murka kepada orang pengecut. Dan, kamu berperang itu adalah melaksanakan perintah Allah; takutlah kepada-Nya kalau kamu tidak melaksanakan apa yang Dia perintahkan. Di sini kita mendapat gemblengan jiwa Mukmin. Naluri rasa takut ada pada tiap-tiap manusia; takut mati, takut binasa, dan macam-macam ketakutan yang lain. Ajaran Allah tidaklah membunuh rasa takut, sebab rasa takut adalah bagian dari jiwa. Tetapi iman dan tauhid menjuruskan rasa takut itu kepada Yang Maha Esa! Sehingga kepada yang lain tidak takut lagi. Tidak takut lagi akan mati, sebab kalau mati kita akan bertemu dengan Allah, dan amalan kita akan diterima oleh Allah, diakui sebagai hamba-Nya yang patuh. Sebab itu maka orang yang beriman, tempat takutnya hanya Allah.
“Perangilah mereka; Allah akan menyiksa mereka dengan tangan kamu."
(pangkal ayat 14)
Pangkal ayat ini menaikkan tingkat orang beriman itu kepada martabat yang lebih tinggi, Bahwasanya mereka memerangi orang musyrik pemungkir janji itu adalah laksana sambungan tangan Allah buat menghukum si musyrik. Itulah satu tugas yang suci; apa yang ditakutkan lagi. Mereka telah menjadi junud Allah, tentara Allah; “Dan Dia akan menghinakan mereka dan akan menolong kamu melawan mereka." Janji Allah yang begini pasti menumbuhkan keyakinan dalam hati orang-orang yang beriman bahwa kita pasti menang, sebab kita adalah di pihak benar. Kita pasti menang, sebab kita tentara Allah, penyambung tangan Allah. Kita pasti menang dan musuh itu pasti kalah, sebab Allah beserta kita.
“Dan Dia akan menyembuhkan dada orang-orang yang beriman."
(ujung ayat 14)
Artinya, rasa kecewa selama ini, rasa tertekan karena jengkel melihat betapa mudahnya musyrikin itu memungkiri janji, sekarang akan terobati, sebab kemenangan pasti di pihak kita. Mereka pasti akan hancur dan Islam akan jaya.
“Dan Dia akan menghilangkan kekecewaan mereka (yang beriman itu), dan akan diberi tobat oleh Allah barangsiapa yang Dia kehendaki."
(pangkal ayat 15)
Rasa kecewa kaum yang beriman akan hilang, sebab Islam pasti menang dan musuh-musuh itu akan tunduk. Setelah mereka tunduk, akan ada di antara mereka yang insaf dan menyesal, lalu tobat. Kalau pihak musuh telah tunduk dan tobat, tidak melawan lagi, malahan telah mengakui menjadi Islam, niscaya rasa marah dan kecewa kaum Muslimin yang selama ini akan hilang dengan sendirinya. Musuh telah habis, perang telah berhenti, dan damai telah meliputi seluruh negeri karena menang perjuangan Islam.
“Dan Allah adalah Maha Mengetahui, lagi Bijaksana."
(ujung ayat 15)
Allah Maha Mengetahui bagaimana kesalnya hati kamu selama ini. Kamu tidak mengetahui selengkapnya betapa kekuatan musuh. Sehingga selama ini ada di antara kamu yang menyangka bahwa musuh itu sangat kuat, padahal mereka lemah. Karena meskipun mereka kuat, dalam bilangan dan senjata, mereka lemah dari pendirian iman atau yang disebut ideologi pada zaman sekarang. Dan Allah pun dengan sangat bijaksana menuntun kamu pada kemenangan dan kejayaan, yang dengan petunjuk-Nya jua kamu akan mendapat kemenangan.
“Apakah kamu sangka bahwa kamu akan dibiarkan begitu saja, padahal belum dibuktikan oleh Allah siapa-siapa yang berjihad di antara kamu dan siapa orang-orang yang tidak mengambil selain dari Allah dan tidak Rasul-Nya dan tidak orang-orang yang beriman, sebagai sahabat karib."
(pangkal ayat 16)
Ayat ini menunjukkan bahwa pengakuan beriman saja belumlah cukup. Mukmin pasti menempuh ujian, supaya Allah membuktikan keteguhan hati Mukmin karena berjihad dan berperang itu. Pengerahan tenaga menghadapi musyrikin yang menimbulkan jihad terhadap mereka ialah guna membuktikan apakah kalangan Mukmin itu benar-benar percaya dan tawakal kepada Allah.
Peperangan yang berturut-turut dengan musuh kaum musyrikin itu, sekaligus untuk menyaring, mana yang benar-benar berjihad karena Allah dan mana yang masih ragu-ragu, yang masih tersangkut hatinya hendak membuat hubungan baik dengan pihak yang menyekutukan Allah. Mukmin sejati hanya mempunyai satu kepercayaan, yaitu Allah dan hanya mempunyai satu pimpinan, yaitu Rasul ﷺ Dan mempunyai teman sahabat karib yang sejati, yaitu sesama orang beriman. Biar sedikit jumlah Mukmin, tetapi mereka teguh, bersatu, dan kompak. Peperangan-peperangan dan jihad itu adalah sebagai penyaring atau penapis, guna menentukan siapa lawan dan siapa kawan. Yang ragu-ragu, lemah iman, mu-nafik, dan pucuk aru akan terlempar dengan sendirinya keluar.
Kadang-kadang karena halus siasat kaum musyrikin, ada dalam kalangan Mukmin sendiri yang ragu-ragu. Bahkan sebagaimana telah kita isyaratkan, menurut riwayat yang shahih, Hathib bin Abi Balta'ah sendiri nyaris terperosok mengirim surat rahasia ke Mekah, meminta perlindungan kepada orang musyrikin, jika penyerangan atas Mekah gagal dan kaum Muslimin kalah. Kalau bukanlah Hathib seorang yang telah berjasa dan turut dalam Peperangan Badar, telah dicaplah dia sebagai seorang munafik, dan nyarislah Umar bin Khaththab hendak membunuhnya. Syukurlah ditahan oleh Rasulullah ﷺ Dan ketika ditanyai mengapa dia berbuat perbuatan yang salah itu, dia telah mengakui terus terang, hendak mencari perlindungan di Mekah kalau-kalau penyerangan atas Mekah itu gagal. Dalam surah al-Mumtahanah ayat 1, perbuatan Hathib itu telah dicela keras.
Sedangkan orang seperti Hathib lagi dapat terledor, kononlah yang lain yang imannya lebih lemah. Datanglah ayat ini menjelaskan bahwa barisan Mukmin itu berjihad adalah karena Allah, beriman kepada Muhammad ﷺ dan bersahabat karib, perhubungan mesra hanya dengan sesama Mukmin. Kecuali kalau sudah berhenti berperang, sudah terang kekalahan musuh, dan mereka sudah tunduk. Pada saat itu baru boleh ada hubungan yang baik dengan mereka.
“Dan Allah Amat Tahu apa yang kamu kerjakan,"
(ujung ayat 16)
Allah tahu rahasia tersembunyi daripada apa yang kamu kerjakan, sampai kepada yang sehalus-halusnya sekalipun. Yang keji dan yang buruk, bagaimanapun menyimpannya, akhir kelaknya akan dibukakan juga rahasianya oleh Allah. Manusia yang munafik, yang ragu-ragu, tidaklah lama dapat menyembunyikan rahasia dirinya itu. Sebab badan jasmani tidaklah lama dapat bertahan untuk menyatakan siapa dirinya yang sebenarnya. Ketika dia sadar, dia dapat berdusta. Tetapi satu kali bila dia telah lengah, keadaan jiwanya yang sebenarnya akan kelihatan juga. Apatah lagi di dalam perjalanan ke medan perang. Pada waktu demikian, tidaklah manusia sanggup menyembunyikan kepribadian yang sebenarnya.
Ayat ini pun dapat memberikan sari ilmu pengetahuan kita tentang keadaan masyarakat dan jiwa seseorang pada musim perang. Ketika terjadi banjir besar, senantiasa yang bangsa sarap-sarap membuntang atau timbul ke atas dan yang batu terbenam ke bawah. Tetapi, apabila banjir telah surut dan langit telah jernih, sarap dan sampah tadi tersadai tersangkut di mana-mana dan yang batu kelihatan kembali. Oleh sebab itu, meskipun sesuatu peperangan membawa malapetaka, tetapi dia pun membawa saringan yang akan menjelaskan mana jiwa yang kuat dan mana yang lemah, sehingga sesudah saringan itu akan timbullah golongan umat yang telah digembleng dan diterpa dan yang kuat untuk jalan terus.
"The Oaths of the Leaders of Disbelief mean nothing to Them
Allah says,
وَإِن نَّكَثُواْ أَيْمَانَهُم مِّن بَعْدِ عَهْدِهِمْ
But if they violate their oaths after their covenant,
Allah says, if the idolators with whom you conducted peace treaties for an appointed term break
أَيْمَانَهُم
(their oaths),
meaning, terms of their treaties, and covenants.
وَطَعَنُواْ فِي دِينِكُمْ
and attack your religion...
with disapproval and criticism, it is because of this that one who curses the Messenger, peace be upon him, or attacks the religion of Islam by way of criticism and disapproval, they are to be fought.
This is why Allah said afterwards,
فَقَاتِلُواْ أَيِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنتَهُونَ
then fight (you) against the leaders of disbelief -- for surely, their oaths are nothing to them -- so that they may stop.
so that they may refrain from the disbelief, rebellion and the transgression they indulge in.
Qatadah and others said that;
the leaders of disbelief were Abu Jahl, Utbah and Shaybah, Umayyah bin Khalaf, and he went on to mention several others.
Al-A`mash narrated from Zayd bin Wahb from Hudhayfah;
""The people of this Ayah were never fought again.""
A similar statement was reported from Ali bin Abi Talib, may Allah be pleased with him.
However, this Ayah is general, even though the specific reason behind revealing it was the idolators of Quraysh. So this Ayah generally applies to them and others as well, Allah knows best.
Al-Walid bin Muslim said that Safwan bin `Amr narrated that Abdur-Rahman bin Jubayr bin Nufayr said that when Abu Bakr sent an army to Ash-Sham, he advised them,
""You will find some people with shaved heads. Therefore, strike the swords upon the parts that contain the devil, for by Allah, it is better to me to kill one of these people than to kill seventy other men. This is because Allah said,
فَقَاتِلُواْ أَيِمَّةَ الْكُفْر
(then fight (you) against the leaders of disbelief).""
Ibn Abi Hatim collected it"
But if they break, [if] they violate, their oaths, their covenants, after [making] their pact and assail your religion, slander it, then fight the leaders of unbelief, its heads (here an overt noun ['the leaders of unbelief'] has replaced the [third person] pronominalisation) - verily they have no [binding] oaths, [no] pacts (a variant reading [for aymaan, 'oaths'] has the kasra inflection [for the alif, sc. eemaan, '[no] faith']) - so that they might desist, from unbelief.
Commentary
It will be recalled that a cease-fire agreement with the Quraysh of Makkah was concluded at Hudaibiyah in the Hijrah year 6. That the Quraysh will not stick to the agreement was foretold in verse 7 of Su-rah At-Taubah: كَيْفَ يَكُونُ لِلْمُشْرِكِينَ عَهْدٌ (how can the Mushriks have a treaty...). Then, came verses 8, 9 and 10 with the causes of their pledge breaking. And in the 11th verse it was announced that, despite having broken their solemn covenant, if these Mushriks become Muslims and start expressing their faith in Islam through prayers and fasting, then, Muslims are duty-bound to keep their present dealings with them free of any effects from the past. In fact, they should take them to be their brothers in faith and treat them as such. In verse 12 cited above, Muslims have been told about the course of action they should take in the event these people do break their pledge, as prophesied earlier.
The actual words of the text read: وَإِن نَّكَثُوا أَيْمَانَهُم مِّن بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ (And if they break their oaths after they have made a covenant and speak evil of your Faith, then fight the leaders of infidelity - 12). It is worth noting that the present situation in the text demanded the use of فَقَاتِلُوھُم (faqatiluhum: then fight them). The Holy Qur'an has said: فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ (then fight the leaders of infidelity) which bypasses the use of a shorter pronoun at this place. The word: أَئِمَّةَ (a'immah: leaders) is the plural of Imam. The sense is that these people by breaking their word of honor turned into leaders of infidelity and thus became deserving of a war against them. This statement also carries the wisdom and justification of the command to fight. Some commentators say that ` leaders of infidelity' at this place refers to the chiefs of the tribe of Quraysh in Makkah who kept on instigating people against Muslims and remained busy making war preparations. Fighting against them was particularly mentioned because these people were the real source of power the Makkans were credited with. In addition to that, since they were the ones with whom Muslims had bonds of close kinship, there was the possible apprehension that some concession could be granted in their case.
Honest critical study of Islam by Protected Non-Muslim Citizens of Dar al-Islam is possible - vilification is not
Some commentators have interpreted the words: (speak evil of your faith) to mean that speaking evil of the Faith of Muslims is included under contravention of pledge. A person who speaks evil of Is-lam and the Shari’ ah of Islam cannot continue to be a party to the treaty with Muslims. But, according to a consensus of Muslim jurists, it means vilification that is done to insult and belittle Islam and Muslims, openly and publicly. Honest intellectual criticism while conducting research into problems and rulings remains exempt from its purview - then, it is not supposed to be vilification in its lexical sense.
Therefore, for non-Muslim citizens of Dar al-Islam, any honest intellectual criticism can be allowed, but what cannot be allowed is vilification, contempt, insult or outrage against Islam.
In the same verse (12), it was said: إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ ,(in fact, they have no oaths). The sense is that these are the kind of people none of whose oaths are trustworthy - because, they are addicted to breaking their oaths and committing breaches of trust. Then, the use of the plural form of oaths here could also mean: ` when they broke their oath, they also absolved Muslims of any responsibility for their oath and pledge.'
At the end of verse 12, it was said: لَعَلَّهُمْ يَنتَهُونَ (so that they may stop). This last sentence tells us that the objective of Jihad carried out by Muslims should never be the conquest of countries like common kings or to hurt the enemy and to take vengeance as belligerent people around the world would love to do. Instead of doing anything like that, when it comes to fighting that they must, the driving objective should be compassion for the enemy, the empathy and the desire that they would stop doing what was not right.








