Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
إِنَّ
sesungguhnya
ٱللَّهَ
Allah
ٱشۡتَرَىٰ
membeli
مِنَ
dari
ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
orang-orang mukmin
أَنفُسَهُمۡ
diri mereka
وَأَمۡوَٰلَهُم
dan harta mereka
بِأَنَّ
dengan/bahwasanya
لَهُمُ
untuk mereka
ٱلۡجَنَّةَۚ
surga
يُقَٰتِلُونَ
mereka berperang
فِي
di
سَبِيلِ
jalan
ٱللَّهِ
Allah
فَيَقۡتُلُونَ
maka/lalu mereka membunuh
وَيُقۡتَلُونَۖ
dan mereka dibunuh
وَعۡدًا
janji
عَلَيۡهِ
atasnya
حَقّٗا
benar
فِي
dalam
ٱلتَّوۡرَىٰةِ
Taurat
وَٱلۡإِنجِيلِ
dan Injil
وَٱلۡقُرۡءَانِۚ
dan Al Quran
وَمَنۡ
dan siapakah
أَوۡفَىٰ
lebih menepati
بِعَهۡدِهِۦ
dengan janjinya
مِنَ
dari
ٱللَّهِۚ
Allah
فَٱسۡتَبۡشِرُواْ
maka bergembiralah kamu
بِبَيۡعِكُمُ
dengan jual belimu
ٱلَّذِي
yang
بَايَعۡتُم
telah kamu jual belikan
بِهِۦۚ
dengannya
وَذَٰلِكَ
dan demikian/itu
هُوَ
ia
ٱلۡفَوۡزُ
keuntungan
ٱلۡعَظِيمُ
besar
إِنَّ
sesungguhnya
ٱللَّهَ
Allah
ٱشۡتَرَىٰ
membeli
مِنَ
dari
ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
orang-orang mukmin
أَنفُسَهُمۡ
diri mereka
وَأَمۡوَٰلَهُم
dan harta mereka
بِأَنَّ
dengan/bahwasanya
لَهُمُ
untuk mereka
ٱلۡجَنَّةَۚ
surga
يُقَٰتِلُونَ
mereka berperang
فِي
di
سَبِيلِ
jalan
ٱللَّهِ
Allah
فَيَقۡتُلُونَ
maka/lalu mereka membunuh
وَيُقۡتَلُونَۖ
dan mereka dibunuh
وَعۡدًا
janji
عَلَيۡهِ
atasnya
حَقّٗا
benar
فِي
dalam
ٱلتَّوۡرَىٰةِ
Taurat
وَٱلۡإِنجِيلِ
dan Injil
وَٱلۡقُرۡءَانِۚ
dan Al Quran
وَمَنۡ
dan siapakah
أَوۡفَىٰ
lebih menepati
بِعَهۡدِهِۦ
dengan janjinya
مِنَ
dari
ٱللَّهِۚ
Allah
فَٱسۡتَبۡشِرُواْ
maka bergembiralah kamu
بِبَيۡعِكُمُ
dengan jual belimu
ٱلَّذِي
yang
بَايَعۡتُم
telah kamu jual belikan
بِهِۦۚ
dengannya
وَذَٰلِكَ
dan demikian/itu
هُوَ
ia
ٱلۡفَوۡزُ
keuntungan
ٱلۡعَظِيمُ
besar
Terjemahan
Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.
Tafsir
(Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka) lantaran mereka menginfakkannya di jalan ketaatan kepada-Nya, seperti untuk berjuang di jalan-Nya (dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah lalu mereka membunuh atau dibunuh) ayat ini merupakan kalimat baru yang menjadi penafsir bagi makna yang terkandung di dalam lafal fa yuqtaluuna wa yaqtuluuna, artinya sebagian dari mereka ada yang gugur dan sebagian yang lain meneruskan pertempurannya (sebagai janji yang benar) lafal wa`dan dan haqqan keduanya berbentuk mashdar yang dinashabkan fi`ilnya masing-masing yang tidak disebutkan (di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an?) artinya tiada seorang pun yang lebih menepati janjinya selain dari Allah. (Maka bergembiralah) dalam ayat ini terkandung pengertian iltifat/perpindahan pembicaraan dari gaib kepada mukhathab/dari orang ketiga kepada orang kedua (dengan jual-beli yang telah kalian lakukan itu dan yang demikian itu) yaitu jual-beli itu (adalah kemenangan yang besar) yang dapat mengantarkan kepada tujuan yang paling didambakan.
Tafsir Surat At-Taubah: 111
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kalian lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
Allah ﷻ memberitahukan bahwa Dia membeli dari hamba-hamba-Nya yang beriman, diri dan harta benda mereka yang telah mereka korbankan di jalan Allah dengan surga. Hal ini termasuk karunia dan kemurahan serta kebajikan-Nya kepada mereka. Karena sesungguhnya Allah telah menerima apa yang telah dikorbankan oleh hamba-hamba-Nya yang taat kepada-Nya, lalu menukarnya dengan pahala yang ada di sisi-Nya dari karunia-Nya.
Al-Hasan Al-Basri dan Qatadah mengatakan, "Mereka yang berjihad di jalan Allah, demi Allah, telah berjual beli dengan Allah, lalu Allah meninggikan harganya."
Syamr ibnu Atiyyah mengatakan, "Tiada seorang muslim pun melainkan pada lehernya terkalungkan baiat kepada Allah yang harus ia tunaikan atau ia mati dalam keadaan tidak menunaikannya." Kemudian Syamr ibnu Atiyyah membaca ayat ini.
Karena itulah maka dikatakan bahwa barang siapa yang berangkat di jalan Allah, berarti dia telah berbaiat kepada Allah. Dengan kata lain, Dia menerima transaksinya dan akan memenuhi balasannya.
Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi dan lain-lainnya mengatakan bahwa Abdullah ibnu Rawwahah r.a. pernah berkata kepada Rasulullah ﷺ dalam malam 'Aqabah, "Berilah persyaratan bagi Tuhanmu dan bagi dirimu sesuka hatimu." Maka Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya: “Aku memberikan syarat bagi Tuhanku, hendaklah kalian menyembah-Nya dan janganlah kalian mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun. Dan aku memberikan syarat bagi diriku, hendaklah kalian membelaku sebagaimana kalian membela diri dan harta benda kalian sendiri.”
Mereka (para sahabat) bertanya, "Apakah yang akan kami peroleh jika kami mengerjakan hal tersebut?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Surga." Mereka berkata, "Jual beli yang menguntungkan, kami tidak akan mundur dan tidak akan mengundurkan diri." Lalu turunlah firman-Nya: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri.” (At-Taubah: 111), hingga akhir ayat.
Adapun firman Allah ﷻ: “Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.” (At-Taubah: 111)
Maksudnya, baik mereka terbunuh atau membunuh, atau keduanya mereka alami, maka sudah menjadi ketetapan bagi mereka beroleh balasan surga. Karena itu dalam hadits Sahihain disebutkan: “Allah menjamin bagi orang yang berangkat berjihad di jalan-Nya, yang tidak sekali-kali ia berangkat melainkan untuk berjihad di jalan-Ku dan membenarkan rasul-rasul-Ku; bahwa jika Allah mewafatkannya, maka Dia akan memasukkannya ke dalam surga atau mengembalikannya pulang ke tempat tinggalnya dari mana ia berangkat seraya memperoleh pahala yang digondolnya atau ghanimah.”
Firman Allah ﷻ: “(Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam kitab Taurat, Injil, dan Al-Qur'an.” (At-Taubah: 111)
Hal ini merupakan pengukuhan dari janji tersebut, dan sebagai berita bahwa Allah telah mencatat janji yang telah Dia ikrarkan kepada diriNya ini, lalu Dia menurunkannya kepada rasul-rasul-Nya melalui kitab-kitab-Nya yang besar, yaitu Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa, dan Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Firman Allah ﷻ: “Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?” (At-Taubah: 111)
Karena sesungguhnya Dia tidak pernah mengingkari janji.
Ayat ini semakna dengan firman Allah ﷻ lainnya yaitu:
“Dan siapakah orang yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (An-Nisa: 87)
“Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (An-Nisa: 122)
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan: “Maka bergembiralah dengan jual beli yang lelah kalian lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 111) Maksudnya, bergembiralah orang yang menjalani transaksi ini dan menunaikan janji ini, karena dia akan mendapat keberuntungan yang besar dan nikmat yang kekal.
Setelah dijelaskan orang yang mendirikan bangunan atas landasan kedurhakaan kepada Allah, maka pembangunnya akan hancur bersama bangunannya tersebut, lalu Allah memberi perumpamaan jual beli antara Allah dengan pejuang di jalan-Nya sebagaimana tertera pada ayat berikut: Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, yakni menjanjikan secara pasti kepada mereka yang secara tulus berjuang di jalan Allah, baik berupa diri, yakni jiwa maupun harta mereka, maka dengan pasti Allah akan memberikan balasan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah dengan harta bahkan jiwa; sehingga mereka mem-bunuh atau terbunuh. Masuknya mereka ke dalam surga adalah merupakan janji yang benar dari Allah sebagaimana tertulis di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain daripada Allah' Pasti tidak ada. Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, sehingga kamu mendapatkan surga, dan demikian itulah kemenangan yang agung.
Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat baik karena melakukan dosa maupun tidak melakukan dosa, beribadah secara berkesinambungan, memuji Allah sebagai rasa syukur, mengembara untuk tujuan kebaikan, rukuk, sujud, yakni salat sebagai wujud tunduk dan patuh kepada Allah, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang mungkar dan yang memelihara, yakni melaksanakan hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman yang mempunyai sifat-sifat yang sudah disebutkan.
Ayat ini menerangkan bahwa Allah membeli jiwa raga dan harta kaum mukmin, yang dibayar-Nya dengan surga. Artinya, Allah membalas segala perjuangan dan pengorbanan yang telah diberikan kaum mukmin itu, baik berupa jiwa raga maupun harta mereka dengan balasan yang sebaik-baiknya, yaitu kenikmatan dan kebahagiaan di surga kelak. Ini merupakan ungkapan yang sangat indah untuk menimbulkan kegairahan bagi umat manusia untuk berjihad, karena menggambarkan suatu transaksi jual beli yang sangat menguntungkan manusia. Pengorbanan yang telah mereka berikan berupa harta dan jiwa raga akan ditukar dengan sesuatu yang sangat berharga, yang tidak pernah dilihat oleh mata manusia, tidak pernah didengar oleh telinga, dan nilainya jauh lebih tinggi dari pada harta benda dan apa saja yang telah dikorbankan. Di samping itu jual beli yang terjadi antara Allah dan kaum Muslimin ini tidak akan pernah dibatalkan. Tidak seperti transaksi jual beli yang terjadi antara sesama manusia, yang kadang-kadang dapat dibatalkan. Lagi pula jual beli antar sesama manusia hanya berupa pertukaran antara barang dan uang yang sama nilainya. Sedang balasan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang beriman jauh lebih tinggi nilainya dari pada pengorbanan yang telah diberikan atau perjuangan yang telah dilakukannya.
Balasan yang berlipat ganda yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya adalah semata-mata karena kasih sayang-Nya dan merupakan kehormatan kepada hamba-Nya yang beriman, sebab pada hakekatnya diri manusia adalah milik-Nya, karena Dialah Penciptanya; dan harta benda mereka itupun adalah milik-Nya, karena Dialah yang menganugerahkan kepada mereka. Namun demikian, bila manusia berjihad dengan mengorbankan harta benda dan jiwa raga mereka, maka Allah tetap memberikan balasan yang berlipat ganda nilainya padahal Allah sendiri pada hakekatnya tidak memerlukan harta benda dan jiwa raga mereka.
Selanjutnya dalam ayat ini, Allah menerangkan bagaimana cara menyerahkan jiwa dan harta yang akan dibeli oleh Allah dengan surga, yaitu dengan berperang di jalan Allah untuk membela kebenaran dan keadilan. Inilah yang akan menyampaikan mereka kepada keridaan-Nya; adakalanya mereka dapat menumpas musuh-musuh Allah yang selalu menghambat jalannya dakwah Islamiyah, adakalanya mereka gugur dalam peperangan, sebagai syuhada dalam membela agama Allah. Namun tidak ada perbedaan antara keduanya dalam menerima pahala dan balasan dari Allah.
Allah menegaskan bahwa janji-Nya untuk memberikan pahala akan ditepati-Nya, bahkan telah ditetapkan-Nya sedemikian rupa dalam kitab Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Kitab suci terakhir ini tidak akan dapat dihapuskan oleh siapapun juga, karena Allah telah menjamin keselamatan Al-Qur'an dari tangan-tangan jahil.
Selanjutnya Allah menegaskan bahwa tidak ada yang melebihi Allah dalam hal menepati janji, karena Dia Maha Kuasa untuk menepati janji-Nya, dan tidak pernah lupa ataupun ragu pada hamba-Nya. Oleh sebab itu, Allah akan memberi kabar gembira yang pasti akan mereka peroleh dari jual beli harta dan jiwa mereka dengan Allah.
Pada akhir ayat ini Allah kembali memberikan penegasan bahwa keberuntungan yang akan mereka peroleh benar-benar suatu keberuntungan yang amat besar, tidak ada yang melebihinya. Sedang keberuntungan yang telah mereka peroleh sebelumnya yang berupa kemenangan terhadap musuh-musuh Islam, serta kepemimpinan, kekuasaan dan kerajaan, hanyalah keberuntungan yang merupakan jalan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman itu, jiwa mereka dan harta benda mereka, dengan (bayaran) bahwa untuk mereka adalah sunga."
(pangkal ayat 111)
Ada pertalian yang teguh di antara ayat-ayat ini dengan ayat-ayat yang sebelumnya. Orang yang beriman, oleh karena cintanya kepada kesucian dan kebersihan, zahir serta batin, maka Allah pun telah suka dan cinta pula kepada mereka. Tidak ada lagi satu ruang kecil pun yang tinggal di dalam hatinya untuk menempatkan di dalamnya selain dari Allah. Berbeda dengan munafik yang jiwanya pecah belah itu. Orang munafik bersedia membela dirinya kepada setan, hawa nafsu ataupun sesama manusia. Tetapi orang beriman tidaklah dapat ditawar oleh setan yang mana jua pun. Sebab dirinya telah terjual habis kepada Allah. Orang beriman akan tetap mengangkat mukanya menghadapi siapa saja, dengan tidak merasa gentar dan takut. Tetapi mereka akan sujud tersipu-sipu ke bumi, sampai keningnya tercecah ke tanah bila menghadap Allah. Dirinya telah terjual habis, tidak ada sisanya lagi. Pembelinya ialah Allah sendiri. Dirinya atau jiwanya dan juga harta bendanya telah diborong belaka oleh Allah, dan pembayarnya kelak ialah surga."Mereka berperang pada jalan Allah, maka mereka pun membunuh dan mereka pun terbunuh." Oleh karena diri dan harta telah terjual kepada Allah, menjadi budak dan hamba Allah, ke mana saja pun Allah mengerahkan mereka, mereka pun ridha menerima. Oleh karena iman yang telah mendalam, mereka pun tahu benar bahwa baik diri dan jiwanya, ataupun harta dan bendanya, pada hakikatnya Allah semua yang empunya. Sebenarnya kalau diri dan harta itu diserahkan dengan seikhlas-ikhlasnya kepada Allah, tidak lain dari menyerahkan sesuatu barang kepada yang empunya. Tetapi oleh karena di antara Mukmin dengan Allahnya itu telah terpaut tali kasih dan sayang Hubbu dan Ridha, maka pengembalian diri itu dihargai juga oleh Allah. Meskipun diri dan harta benda kepunyaan Allah dan dikembalikan kepada Allah, lalu bersedia berperang menegakkan jalan Allah, entah membunuh atau terbunuh, bukanlah karena benci, melainkan karena musuh yang dibunuh itu menghambat jalan Allah, Jika Mukmin itu terbunuh, mereka pun ridha menerima kematian, sebab matinya adalah bukti dari cintanya kepada Allah. Niat suci seperti inilah yang mendapat sambutan Allah dengan surga. Di dalam beberapa ayat dikatakan bahwa mereka tidak mati, melainkan tetap hidup.
Menjual diri kepada Allah inilah yang pernah disebutkan oleh Shufi yang masyhur, Maulana Jalaluddin ar-Rumi: “Diri ini telah terjual habis kepada Allah, tidak bisa ditawar lagi. Barang yang sudah terjual tidak boleh dijual dua kali."
Maka kesusahan dan penderitaan hidup, kesulitan dan kesengsaraan yang dihadapi di dunia ini, menjadi kecil belaka, tidak ada artinya, karena hidup sudah mempunyai pe-gangan, yaitu."Aku ini hamba Allah," dan hari depan pun mempunyai pegangan, yaitu."Surga yang dijanjikan Allah." Maka harga yang dibayarkan Allah itu, kalau kita timbang-timbang dengan umur dan pengorbanan kita, apatah lagi diri dan harta benda itu pada hakikatnya Allah juga yang empunya, adalah terlalu mahal. Yang akan kita terima tidak sepadan, terlalu besar, jika dibandingkan dengan kecilnya yang kita berikan.
“Sebagai suatu perjanjian yang benar atasnya, (tersebut) di dalam Taurat dan Injil dan Al-Qur'an." Yaitu bahwa diri dan harta benda yang telah dijual habis kepada Allah itu akan dibayar oleh Allah dengan harga yang sangat tinggi, yaitu surga, sehingga lantaran itu berani berperang, berani membunuh dan berani terbunuh adalah janji pasti oleh Allah. Janji yang telah lama sekali, sejak nabi-nabi yang dahulu, sejak Musa dan Isa menjadi isi dari Taurat dan Injil, dan sekarang ditegaskan lagi oleh Al-Qur'an. Meskipun entah masih ada ucapan janji demikian di dalam Taurat naskah yang sekarang atau Injil, atau tidak tersebut lagi dengan tegas, sebab naskah asli Taurat telah hilang dan Injil yang ada sekarang adalah catatan orang-orang sesudah al-Masih wafat, namun bukti tentang adanya janji itu masih dapat kita baca dalam riwayat perjuangan umat yang menerima Taurat dan Injil itu. Mengapa Bani Israil bersedia membunuh dan terbunuh ketika dibawa Musa dan Harun dan Yusya' menduduki negeri yang dijanjikan? Bukankah Bani Israil dihukum 40 tahun berhenti di Padang Tih karena mereka tidak yakin akan janji itu? Mengapa beribu-ribu orang Nasrani bersedia dibakar, dimasukkan ke dalam kandang singa ketika kekuasaan Kaisar Nero? Lain tidak ialah karena harta benda dan jiwa telah terjual habis kepada Allah. Dan akan dibayar oleh Allah dengan surga. “Dan siapakah lagi yang memenuhi janjinya lain dari Allah?" Janji orang lain bisa saja mungkir, namun janji Allah tidak akan dimungkiri-Nya, sebab Dia kaya, Dia mampu memenuhi janji itu. “Maka bergembiralah kamu dengan baiat yang telah kamu baiatkan dengan Dia." Bergembiralah dengan baiat atau janji yang telah kamu ikat dengan Rasul itu, sebab Rasul mengikat janji dengan kamu adalah karena suruhan Allah. Tidak usah kamu ragu lagi, besarkanlah hatimu, sebab pengorbananmu tidak akan sia-sia. Kesusahanmu sekarang akan berganti dengan nikmat karunia Allah. Air matamu yang titik karena derita, akan ber-ganti dengan sejuk dan tawarnya air Salsabil dalam surga. Dan jika kamu luka dan darah-mu mengalir lalu ‘kamu mati, darah itu akan jadi saksimu, sehingga orang yang mati syahid dalam perang tidak boleh dimandikan, bahkan hendaklah dikuburkan dengan darah-darahnya. Sebagai budak hitam pengembala yang turut dalam Perang Khaibar, demikianlah keadaan kamu setelah mati. Rasulullah ﷺ melihat dua orang anak bidadari menyambut dan memangku kepalanya pada haribaan budak hitam pengembala itu. Dan jika kamu hidup, tidak mati di medan perang, sebagai kematian Khalid bin Walid, meskipun seluruh tubuhnya telah penuh dengan parut-parut bekas luka bertempur, tapi dia mati seperti biasa. Sampai dia berkata, “Seluruh medan perang telah aku jelajah dan tubuhku telah penuh dengan bekas luka bertempur, namun aku akan mati di rumah sebagai seekor keledai tua mati di kandang." Tidak usah menyesali itu, bahkan bergembiralah, sebab harga dirimu akan tetap dibayar oleh Allah dengan surga Jannatun Na'im,
“Demikian itulah dia kejayaan yang besar."
(ujung ayat 111)
Tidak ada lagi kejayaan itu kebahagiaan yang lebih atas dari itu.
Segala kepenatan hidup, segala fitnah dan percobaan dunia menjadi hilanglah apabila di hadapan kita telah terbayang pengharapan kejayaan yang besar ini. Alangkah bahagianya jika kita mempunyai kepercayaan dengan pegangan.
Tersebutlah di dalam satu riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaihi, yang diterima daripada sahabat Rasulullah ﷺ jabir bin Abdullah, bahwa-sanya ayat ini turun kepada Rasulullah ﷺ di suatu hari, ketika beliau berada di dalam masjid dikelilingi oleh banyak orang. Setelah beliau baca ayat ini, sampai pada ayat “Maka bergembiralah kamu dengan baiat," dan seterusnya itu bertakbirlah manusia yang banyak itu menunjukkan gembira. Kemudian, tampillah seorang Anshar, diangkatnya ujung bajunya lalu dia berdiri mendekati Rasulullah ﷺ dan bertanya, “Apakah ayat ini turun pada kami, ya Rasulullah ﷺ?1' Beliau menjawab, “Benar!" Mendengar jawab Rasul yang demikian, berkatalah dia, “Penjualan yang sangat beruntung, ya Rasulullah ﷺ! Kami tidak akan menawar-nawar lagi!"
Lalu datanglah lanjutan ayat menerangkan lagi sifat-sifat hamba Allah yang telah menjual habis diri dan harta bendanya kepada Allah itu:
• “Orang-orang yang bertobat"
(pangkal ayat 112)
Inilah bawaan yang pertama dari orang yang telah menyediakan diri untuk jadi hamba Allah itu, yaitu tobat. Arti asal dari tobat ialah kembali. Kembali kepada Allah dan selalu kembali. Karena memang, sadar ataupun tidak sadar, kita mesti kembali kepada-Nya. Kalau dahulu kufur, tidak percaya kepada Allah, maka tobatlah dan kembalilah kepada Allah dengan mengakui bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia. Kalau telah telanjur selama ini menjadi munafik, lain di mulut lain di hati, maka tobatlah, kembalilah kepada kejujuran, sama yang di mulut dengan yang di hati. Dan kalau telah terlalai dari jalan yang benar, lekaslah insaf, Lalu hentikan dan kejarlah kelalaian itu dengan amal saleh. Bahkan kalaupun telah cukup rasanya terkerjakan segala perintah, dihentikan segala larangan, telah terkerjakan shalat lima waktu, telah diiringi dengan nawafil sekalipun, namun sehabis shalat itu tobat jugalah, karena pada hakikatnya, walaupun telah sangat banyak kebaikan yang kita kerjakan, belum jugalah sepadan dengan ganjaran yang akan kita terima. Terlalu sangat besar harga yang akan dibayarkan Allah terhadap amal yang sejemput kecil pada umur terbatas ini.
Janganlah menyangka bahwa diri telah suci bersih, tidak pernah bersalah dan tidak pernah berdosa. Di dalam surah an-Najm ayat 32, Allah memberi ingat, janganlah kamu membersihkan diri, artinya mengatakan suci dari bersalah, sebab Allah sendiri lebih tahu keadaan kamu dari tanah bumi kamu ditimbulkan, lalu digeligakan di dalam perut ibu. Sebab itu selalulah bertobat dan selalulah kembali sedang Allah adalah amat, luas ampunan yang dibuka-Nya buat hamba-Nya. Perhatikanlah lagi surah al-Baqarah ayat 187, seketika Allah menyesali orang yang pada malam bulan puasa masih saja hendak berpuasa dari mencampuni istri. Padahal perintah Allah puasa hanya siang hari, ditambahnya pula dengan puasa menjauhi istri pada malam hari. Itu pun satu kesalahan, karena memberati diri berlebih dari mesti; dan kesalahan pula, karena menghambat nafkah batin buat istri, dan membendung hubungan suami istri yang telah dihalalkan Allah. Di dalam ayat itu Allah tegur kesalahan itu dan Allah berfirman bahwa Allah memberi tobat atas kesalahan itu.
Lantaran itu dapatlah kita pahamkan apa arti yang sangat mendalam dari kata-kata tobat itu. Dalam berbuat baik pun kita bertobat. Sehabis shalat lima waktu pun Rasulullah ﷺ menyuruh kita bertobat:
“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung. Yang tidak ada Allah melainkan Dia, yang Hidup dan yang terus tegak, dan aku pun memohon tobat kepada-Nya, “
Sunnah kita baca tiga kali sehabis shalat rawatib.
Sesudah berwuquf di Arafah dan berhenti di Masy'aril Haram (Muzdalifah), dalam per-jalanan berbondong kembali ke Mekah buat mengerjakan Thawaf Ifadhah, pun kita disu-ruh memohonkan ampun kepada Allah, yang berpahala bila dikerjakan dan berdosa bila dikecewakan, namun begitu kita masih dianjurkan memohon ampun dan tobat.
Maka hamba Allah yang telah menjual diri kepada Allah itu, adalah orang yang selalu bertobat kepada-Nya (ilaihi). Dan Allah pun berjanji memberi tobat ke atasnya sehingga dengan jalan tobat itu selalu bertali di antara makhluk dengan Khaliqnya, di antara ‘abid dengan ma'bud-Nya, ditalikan dan dihubungkan oleh ilaa dan ‘ala.
• “Orang-orangyang beribadah"
Setelah tobat mengikutlah ibadah, menghambakan diri dengan ikhlas dalam segala gerak-gerik, baik ibadah dalam waktu tertentu sebagai shalat, atau menyerahkan seluruh ke-baktian dalam hidup kepada Allah, dan tidak dicampuri dengan yang lain. Tidak memakai perantaraan dan tidak menuhankan yang lain.
- “Orang-orangyang memuji"
Memuji Allah selalu, baik pujian “alham-dulillah" yang menjadi isi dari segala shalat, baik yang wajib ataupun yang sunnah. Bagaimana Dia tidak akan dipuji, padahal di waktu kita dalam susah pun nikmat-Nya masih tetap ada. Bahkan apabila kita hitung-hitung perjalanan hidup kita, jumlah dari suatu kesusahan yang pernah menimpa diri, setelah dilalui, ternyata adalah nikmat juga.
Oleh sebab itu, hamba Allah menjadi tetap memuji Allah, baik di waktu senang maupun di waktu susah.
• “Orang-orang yang mengembara"
Berjalan di atas bumi Allah, musafir meninggalkan rumah tangga atau kampung halaman. Sebab hidup itu mesti berusaha, mesti membuka mata untuk mencari ilmu ataupun rejeki. Berjalan musafir pergi naik haji. Berjalan mengembara ke luar negeri menambah ilmu pengetahuan. Berjalan mengembara menambah pengalaman: “Lama hidup banyak dirasai, jauh merantau banyak dilihat."
Karena dengan banyak pengembaraan banyaklah pengalaman dan luaslah paham, tidak lagi sebagai katak di bawah tempurung.
Dalam sejarah Islam, terkenallah seorang pengembara yang besar dari Andalusia, bernama Ibnu Jubair, lalu menuliskan hasil pe-ngembarannya itu dalam abad-abad keenam Hijriah, dari tanah kelahirannya Andalusia ke negeri-negeri islam sebelah Timur. Kemudian itu terkenal pula pengembaraan Ibnu Bathuthah, yang sampai-sampai ke India dan Tiongkok dan singgah dalam penjalanannya pulang pergi ke Pasai Pulau Sumatera. Bila kita baca buah tangannya, kita dapat membaca keluasan hatinya di negeri-negeri yang disinggahinya. Ibnu Bathuthah adalah orang Tunisia. Tetapi dia diminta jadi qadhi atau mufti pada beberapa negeri yang dia singgahi.
Ada juga suatu riwayat penafsiran dari Abdullah bin Mas'ud bahwa yang dimaksud dengan mengembara di sini ialah mengerjakan puasa.
Dan sudah tentu bahwa petugas-petugas negara yang diperintah keluar negeri untuk kepentingan negara termasuk juga dalam ini, asal dia memasangkan niatnya disesuaikan dengan ayat ini. Atau mahasiswa yang dikirim belajar berbagai ilmu untuk kepentingan agama ataupun bangsa dan umat, termasuk juga di dalam lingkungan ini. Ahli-ahli hadits sebagai Imam Bukhari dan lain-lain, kadang-kadang mengembara dari Bukhara ke Mesir, dari Mesir ke Hejaz, kadang-kadang ke Samarkand dan Adzerbijan, ke Afrika. Sedangkan orang Islam Andalusia, pergi ke Timur. Pada zaman perhubungan belum selancar sekarang, mengikuti kafilah unta berhari-hari, hanya karena mendengar berita bahwa di negeri yang akan didatangi itu ada seorang ulama menyimpan sebuah hadits dalam kepalanya. Selesai mendapat sebuah hadits itu, dia pun meneruskan pengembaraan lagi atau kembali pulang.
• “Orang-orangyang ruku' dan orang-orang yang sujud"
Kedua-duanya itu adalah perbuatan-perbuatan di dalam shalat. Artinya bahwasanya tobatnya dan ibadahnya yang lain, ditambah dengan pengembaraannya ke mana-mana se-lalu mesti diberinya patri dengan shalat lima waktu dan tambahan nawafil yang lain.
• “Orang-orang yang menyuruh berbuat yang makruf, dan orang-orang yang mencegah dari yang mungkar"
Yang keenam ini adalah bawaan hidup dari orang yang beriman itu. Ketaatan kepada Allah, ditambahi dengan hidup yang senantiasa berkecimpung dalam masyarakat, menyebabkan dia mengingini yang baik dan makruf dan membenci yang buruk dan mung-kar. Dengan pokok keenam ini dapatlah kita memahamkan bahwa orang yang beriman itu bukan hanya semata-mata mementingkan kebaikan diri sendiri dan membiarkan yang di luar dirinya dengan sikap masa bodoh. Dengan ini pula bisa dipahamkan bahwa tidak boleh mencampuri urusan orang lain, yang timbul dari ajaran individualisme dari Barat, di dalam islam ada batasnya. Orang seorang memang dibiarkan sesuka hati, tetapi kalau perbuatannya telah mulai salah, akan membawa kerusakan bagi dirinya, wajib bagi Mukmin yang lain menegurnya. Dengan adanya amar ma'ruf, seorang beriman disuruh mempunyai inisiatif, mempunyai anjuran-anjuran buat memajukan kesehatan pendapat umum. Inilah yang disebut makruf. Sebab arti makruf ialah yang dikenal. Dan dengan adanya nahi mungkar, seorang beriman disuruh menanamkan rasa kebebasan menyatakan pikiran buat menegur yang salah dan tidak disenangi oleh umum. Sebab arti munkar ialah yang dibenci. Dan ini hanya akan ada kalau tauhid orang sudah matang dan tempatnya takut hanya Allah, yang selalu diperdalamnya dalam dirinya sendiri dengan memperkuat ibadah, shalat, ruku', dan sujud.
• “Dan orang-orang yang menjaga batas-batas Allah"
Yang keenam, niscaya dilengkapkan dengan yang ketujuh ini. Barulah orang tahu mana yang makruf dan mana yang mungkar kalau dia mengetahui mana-mana batas-batas yang ditentukan oleh Allah. Mana larangan, mana suruhan, mana yang boleh, dan mana yang tidak boleh. Sehingga tidaklah dia secara serampangan saja menganjurkan yang dirasa makruf dan mencegah yang mungkar. Oleh sebab itu pula menjadi jelaslah bahwasanya orang yang beriman itu tidak dalam urusan ilmu, terutama ilmu agama. Melainkan menambah terus pengetahuannya dan memperbaiki mutu imannya. Datanglah penutup ayat,
“Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman."
(ujung ayat 112)
Rasulullah ﷺ diperintahkan oleh Allah menyuruh menyampaikan berita gembira ke-pada orang yang beriman. Bahwasanya apabila pada diri mereka telah ada isi ketujuh perkara itu, tidaklah akan sia-sia hidup mereka, bahkan menjadilah mereka insan yang berguna dan berfaedah dan tidaklah umur terbuang percuma. Gembirakanlah mereka, sebab dengan terisinya ketujuh pokok itu dapatlah dia mencapai derajat Mukmin yang kamilul iman. Bermanfaat bagi dirinya dan memberi manfaat bagi orang lain. Dan gembirakanlah mereka, sebab tempat yang mulia sudah tersedia bagi mereka di dalam surga. Dan gembirakanlah mereka, sebab hidup mereka berbeda laksana perbedaan siang dan malam, dengan kehidupan orang yang munafik.
Maka hendaklah tiap-tiap kita berusaha mengisi hidup dengan ketujuh pokok itu, supaya tercapai tujuan yang sebenarnya bagi selamat dunia dan akhirat.
"Allah has purchased the Souls and Wealth of the Mujahidin in Return for Paradise
Allah says,
إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُوْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ
Verily, Allah has purchased of the believers their lives and their properties for (the price) that theirs shall be the Paradise.
Allah states that He has compensated His believing servants for their lives and wealth -- if they give them up in His cause -- with Paradise. This demonstrates Allah's favor, generosity and bounty, for He has accepted the good that He already owns and bestowed, as a price from His faithful servants.
Al-Hasan Al-Basri and Qatadah commented,
""By Allah! Allah has purchased them and raised their worth.""
Shimr bin Atiyyah said,
""There is not a Muslim but has on his neck a sale that he must conduct with Allah; he either fulfills its terms or dies without doing that.""
He then recited this Ayah.
This is why those who fight in the cause of Allah are said to have conducted the sale with Allah, meaning, accepted and fulfilled his covenant.
Allah's statement,
يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ
They fight in Allah's cause, so they kill and are killed.
indicates that whether they were killed or they kill the enemy, or both, then Paradise will be theirs.
The Two Sahihs recorded the Hadith,
وَتَكَفَّلَ اللهُ لِمَنْ خَرَجَ فِي سَبِيلِهِ لَا يُخْرِجُهُ إِلاَّ جِهَادٌ فِي سَبِيلِي وَتَصْدِيقٌ بِرُسُلِي بِأَنْ تَوَفَّاهُ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ يَرْجِعَهُ إِلَى مَنْزِلِهِ الَّذِي خَرَجَ مِنْهُ نَايِلً مَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَة
Allah has made a promise to the person who goes out (to fight) in His cause; `And nothing compels him to do so except Jihad in My Cause and belief in My Messengers.'
He will either be admitted to Paradise if he dies, or compensated by Allah, either with a reward or booty if He returns him to the home which he departed from.
Allah's statement,
.
وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالاِنجِيلِ وَالْقُرْانِ
It is a promise in truth which is binding on Him in the Tawrah and the Injil and the Qur'an.
affirms this promise and informs us that Allah has decreed this for His Most Honorable Self, and revealed it to His Messengers in His Glorious Books, the Tawrah that He sent down to Musa, the Injil that He sent down to Isa, and the Qur'an that was sent down to Muhammad, may Allah's peace and blessings be on them all.
Allah said next,
وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللّهِ
And who is truer to his covenant than Allah,
affirming that He never breaks a promise.
Allah said in similar statements,
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثاً
And who is truer in statement than Allah, (4:87)
and,
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلً
And whose words can be truer than those of Allah. (4:122)
Allah said next,
فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Then rejoice in the bargain which you have concluded. That is the supreme success.
meaning, let those who fulfill the terms of this contract and uphold this covenant receive the good news of great success and everlasting delight
This is the description of the believers from whom Allah has purchased their souls and wealth, who have these beautiful and honorable qualities,
التَّايِبُونَ
who repent,
from all sins and shun all evils,
الْعَابِدُونَ
who worship,
their Lord and preserve the acts of worship that include statements and actions. Praising Allah is among the best statements.
This is why Allah said next,
الْحَامِدُونَ
who praise (Him),
Fasting is among the best actions, involving abstaining from the delights of food, drink and sexual intercourse, this is the meaning hereby,
السَّايِحُونَ
As-Sa'ihun (who fast),
Allah also described the Prophet's wives that they are,
سَـيِحَـتٍ
(Sa'ihat) (66:5),
meaning, they fast.
As for prostrating and bowing down, they are acts of the prayer,
الرَّاكِعُونَ السَّاجِدونَ
who bow down, who prostrate themselves,
الامِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللّهِ
who enjoin good and forbid evil, and who observe the limits set by Allah.
These believers also benefit Allah's creation and direct them to His obedience by ordaining righteousness and forbidding evil. They have knowledge about what should be performed and what should be shunned.
This includes abiding by Allah's limits in knowledge and action, meaning, what He allowed and what He prohibited. Therefore, they worship the True Lord and advise creation.
This is why Allah said next,
وَبَشِّرِ الْمُوْمِنِينَ
And give glad tidings to the believers.
since faith includes all of this, and the supreme success is for those who have faith."
Indeed God has purchased from the believers their lives and their possessions, that they expend it in obedience of Him - for example by striving in His way - so that theirs will be [the reward of] the Paradise: they shall fight in the way of God and they shall kill and be killed (this sentence is independent and constitutes an explication of the [above-mentioned] 'purchase'; a variant reading has the passive verb come first [sc. fa-yuqtaloona wa-yaqtuloon, 'they shall be killed and shall kill'], meaning that some of them are killed while those who remain, fight on); that is a promise which is binding (both [wa'dan, 'promise', and haqqan, 'binding'] are verbal nouns, and are in the accusative on account of their omitted [implicit] verbs) upon Him in the Torah and the Bible and Al-Qur'an; and who fulfils his covenant better than God?, that is, no one is better in fulfilling it. Rejoice then (there is a shift from the third [to second] person here) in this bargain of yours which you have made, for that, bargain, is the supreme triumph, the one that secures the ultimate goal.
Commentary
Sequence
Previous verses carried a condemnation of those staying behind without a valid excuse and missing the Jihad. The present verses take up the merit of mujahidin.
The background of revelation
As explained by the majority of commentators, these verses were revealed about the participants of Bai'atul-'Aqabah (the pledge of allegiance to the Holy Prophet ﷺ at al-'Aqabah) which was taken from the Ansar of Madinah before Hijrah in 'Makkah al-Mukarramah. Therefore, despite that the entire Surah is Madani, these verses have been termed as Makki.
'Al-'Aqabah' is part of a mountain. Here, it refers to the 'Aqabah that forms a part of the mountain along the Jamratu al-'Aqabah (the stone pillar of 'Aqabah) in Mina. (In our time, due to the increased number of Hujjaj [ Hajj pilgrims ], this part of the mountain has been leveled to form a smooth surface with the only exception of Jamarah [ the stone pillar ] which still stands there). It is on this 'Aqabah that a pledge of allegiance بیعۃ (bai'ah) was taken from the people of Madinah thrice. The first pledge came in the eleventh year of the Prophet's advent. Six persons embraced Islam, gave the pledge and returned to Madinah. When they arrived there, Islam and the Prophet of Islam became the talk of the town. Next year, it was during the Hajj season that twelve people assembled at the same place. Out of these, five had taken part in the first pledge while the other seven were new. All of them took the pledge. By that time, the number of Muslims in Madinah had increased to more than forty. They requested that someone should be sent to teach Qur'an to them. The Holy Prophet ﷺ sent Sayyidna Mus` ab ibn ` Umair ؓ . He taught Qur'an to Muslims present there as well as conveyed the message of Islam around, as a result of which major groups of people in Madinah entered the fold of Islam.
After that, in the thirteenth year of the Prophet's advent, seventy men and women assembled at the same place. This is the third Bai'atu al-'Aqabah - and the last. Generally, when reference is made to Bai'atu al-'Aqabah, it means this very Bai'ah (pledge of allegiance). This pledge made it binding on participants that they would uphold the basic beliefs (` aqa'id عقَایٔد ) and deeds (a` mal اَعمَال ) of Islam, and would particularly be ready to take part in Jihad against the disbelievers, and protect and support the Holy Prophet ﷺ when he migrates and reaches Madinah. In this connection, Sayyidna ` Abdullah ibn Rawahah ؓ submitted, ` ya rasulallah, a compact is being made at this time. If there are any conditions regarding your Lord or regarding yourself, let these be mentioned there clearly.' He said, ` As for Allah Ta` ala, I lay down the condition that all of you shall worship Him - and worship none but Him. As for myself, the condition is that you shall protect me as you protect your own lives, wealth, property and children.' They asked, ` if we fulfill these two conditions, what shall we get in return?' He said, ` you will get Jannah جَنَّت .' All in delight, they said, ` we are pleased with this deal, so pleased that we shall never request on our own that it be cancelled nor shall we like it to be cancelled.
At this place, since the pledge took the apparent form of a transaction of give and take, this verse (111) was revealed in the terminology of a business deal: إِنَّ اللَّـهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ. (Surely, Allah has bought their lives and their wealth from the believers, against which Paradise shall be for them). After hearing this verse, Sayyidna Bara' ibn Ma` rur, Abu al-Haitham and As'ad ؓ عنہم were the first ones who placed their hands on the blessed hand of the Holy Prophet ﷺ . They were promising in effect that they were readily agreeable to this deal and they would protect the Holy Prophet ﷺ as they protected their family and would stand by him to face any challenge, even if it came from the combined forces of the blacks and whites on this Earth.
This is the very first verse of Jihad
Injunctions of Jihad did not exist during the early Makkah period. This is first verse about fighting and killing which was revealed in Makkah al-Mukarramah itself, though its implementation began after Hijrah. After that, came another verse: (Permission [ to fight ] has been given to those who are being fought against - al-Hajj 22:39). When this Bai'atu al-'Aqabah (pledge of 'Aqabah) was concluded in secret from the disbelievers of Makkah, the Holy Prophet ﷺ ordered his noble Companions to migrate from Makkah to Madi-nah. Groups of them started migrating gradually. The Holy Prophet ﷺ remained behind waiting for the permission from Allah Ta` ala. When Sayyidna Abu Bakr ؓ decided to migrate, he held him back so that he could accompany him. (This whole event has been described in Tafsir Mazharl with relevant references)
We can now move to the second sentence of the verse (111): يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّـهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ (They fight in the way of Allah, and kill and are killed ... a promise on His part which is true (as made) in the Torah and the Injil and the Qur'an). This verse tells us that fighting in the way of Allah was a commandment also revealed for past communities in their Scriptures. As for the popular assumption that there is no injunction of Jihad in the Injil, it is possible that, as part of the changes made by people who came later, the injunctions of Jihad were expunged. Allah knows best.
At the end of the verse (111), it was said: فَاسْتَبْشِرُوا ِبَيْعِكُمُ (So, rejoice in the deal you have made). The agreement arrived at with the Holy Prophet ﷺ in this event of the Bai'atu al-'Aqabah had, on the surface, turned into a sort of buying and selling deal. Therefore, it was expressed through the word: شراء (Allah has bought) at the beginning of the verse. In the present sentence, Muslims were told that they had struck a good deal which will bring blessings for them. The reason was that they had tendered their life and wealth that were mortal while that which they received in return was eternal. If we come to think about it, we would realize that wealth was the only thing they spent out. As for life, that is, the essential spirit, that will remain even after death, and remain forever. And if we were to look deeper into the reality of wealth, that too happens to be nothing but the gift of Allah Almighty. When born, human beings visit the world empty-handed. It was He who made them own everything around them and it was He who made His own gift the price of eternal blessings and gave them Paradise. Therefore, Sayyidna ` Umar ؓ said, ` this is a strange deal where the commodity and the price have both been given to you!'
The sage, Hasan al-Basri (رح) said, ` Behold, what a profitable business is this that Allah has thrown open to every believer!' And he also said, ‘It is Allah who has blessed you with wealth and property. Spend a little out of it and buy Paradise.' (Mazhari)








