ٱلتَّوْبَة : ١١٠

  • لَا tidak
  • يَزَالُ senantiasa
  • بُنۡيَٰنُهُمُ bangunan-bangunan mereka
  • ٱلَّذِي yang
  • بَنَوۡاْ mereka bangun
  • رِيبَةٗ keraguan
  • فِي dalam
  • قُلُوبِهِمۡ hati mereka
  • إِلَّآ kecuali
  • أَن telah
  • تَقَطَّعَ putus/hancur
  • قُلُوبُهُمۡۗ hati mereka
  • وَٱللَّهُ dan Allah
  • عَلِيمٌ Maha Mengetahui
  • حَكِيمٌ Maha Bijaksana
Bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi penyebab keraguan dalam hati mereka, sampai hati mereka hancur.1 Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.
Catatan kaki
1 *379) Sampai mereka mati. Ada yang yang menafsirkan, apabila mereka tidak dapat bertobat lagi.
(Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan) yakni keragu-raguan (dalam hati mereka kecuali bila telah hancur) tercabik-cabik (hati mereka itu) lantaran mereka mati. (Dan Allah Maha Mengetahui) tentang makhluk-Nya (lagi Maha Bijaksana) dalam perlakuan-Nya terhadap makhluk-Nya.