Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
فَأَمَّا
maka adapun
ٱلۡإِنسَٰنُ
manusia
إِذَا
apabila
مَا
apa
ٱبۡتَلَىٰهُ
mengujinya
رَبُّهُۥ
Tuhannya
فَأَكۡرَمَهُۥ
lalu Dia memuliakannya
وَنَعَّمَهُۥ
dan Dia memberikan nikmat padanya
فَيَقُولُ
maka ia akan berkata
رَبِّيٓ
Tuhanku
أَكۡرَمَنِ
Dia telah memuliakanku
فَأَمَّا
maka adapun
ٱلۡإِنسَٰنُ
manusia
إِذَا
apabila
مَا
apa
ٱبۡتَلَىٰهُ
mengujinya
رَبُّهُۥ
Tuhannya
فَأَكۡرَمَهُۥ
lalu Dia memuliakannya
وَنَعَّمَهُۥ
dan Dia memberikan nikmat padanya
فَيَقُولُ
maka ia akan berkata
رَبِّيٓ
Tuhanku
أَكۡرَمَنِ
Dia telah memuliakanku
Terjemahan
Adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku."
Tafsir
(Adapun manusia) yakni orang kafir (apabila dia diuji) dikenakan ujian (oleh Rabbnya lalu dimuliakan-Nya) dengan harta benda dan lain-lainnya (dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, "Rabbku telah memuliakanku.").
Tafsir Surat Al-Fajr: 15-20
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, "Tuhanku menghinakanku. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, mengingkari sifat manusia yang apabila Allah meluaskan baginya dalam hal rezeki untuk mengujinya melalui rezeki itu, maka ia menganggap bahwa hal itu merupakan kemuliaan dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk dirinya. Padahal kenyataanya tidaklah demikian, bahkan sebenarnya hal itu merupakan ujian dan cobaan, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya: Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (Al-Muminun: 55-56) Demikian pula sebaliknya Allah menguji dan mencobanya dengan kesempitan rezeki, dia mengira bahwa hal itu merupakan penghinaan dari Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya. Maka disanggah oleh firman-Nya: Sekali-kali tidak (demikian). (Al-Fajr: 17) Yakni sebenarnya tidaklah seperti yang diduganya baik dalam keadaan mendapat kesukaan maupun dalam keadaan mendapat kedukaan;karena sesungguhnya Allah memberi harta kepada siapa yang disukai-Nya dan juga kepada orang yang tidak disukai-Nya, dan Dia menyempitkan rezeki terhadap orang yang disukai-Nya dan juga terhadap orang yang tidak disukai-Nya.
Dan sesungguhnya pokok pangkal permasalahan dalam hal ini bergantung kepada ketaatan yang bersangkutan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam dua keadaan tersebut. Apabila ia diberi kekayaan, hendaknya ia bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya itu; dan apabila mendapat kemiskinan, hendaknya ia bersabar dan tetap menjalankan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim. (Al-Fajr: 7) Di dalam ayat ini terkandung makna perintah untuk memuliakan anak yatim, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah ibnul Mubarak, dari Sa'id ibnu Ayyub, dari Yahya ibnu Sulaiman, dari Yazid ibnu Abu Gayyas., dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Sebaik-baik rumah dikalangan kaum muslim adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik, dan seburuk-buruk rumah di kalangan kaum muslim adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang di perlakukan dengan buruk.
Kemudian Nabi ﷺ berisyarat dengan kedua jari tangannya, lalu bersabda: Aku dan orang yang menjamin anak yatim berada di dalam surga seperti ini. Abu Dawud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnus Sabah ibnu Sufyan, telah menceritakan kepada Kami Abdul Aziz (yakni Ibnu Abu Hazim), telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Sahl (yakni Ibnu Sa'id) bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Aku dan orang yang menjamin anak yatim seperti kedua jari ini di dalam surga. Yakni berdekatan, seraya mengisyaratkan kedua jarinya, yaitu telunjuk dan jari tengahnya. dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin. (Al-Fajr:18) Yaitu tidak memerintahkan orang lain untuk memberi santunan kepada orang-orang fakir dan miskin dan sebagian dari mereka tidak menganjurkan hal ini kepada sebagian yang lainnya.
dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur-adukan (yang halal dan yang haram). (Al-Fajr: 19). Yang dimaksud dengan turas ialah harta warisan, yakni memakannya tanpa mempedulikan dari arah mana dihasilkannya, baik dari cara halal maupun cara haram. dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. (Al-Fajr: 20) Yakni kecintaan yang banyak; sebagian ulama mengartikannya kecintaan yang berlebihan.".
Ayat ini menjelaskan sifat dasar manusia kafir ketika mendapat kebahagiaan dan kesusahan, yakni bergembira berlebihan saat mendapat kenikmatan dan putus asa ketika tertimpa kesulitan. Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu dia memuliakannya dan memberinya kesenangan serta kenikmatan, baik lahir maupun batin, maka dia berkata, 'Tuhanku telah memuliakanku. ' Mereka menilai kenikmatan yang diterimanya adalah berkat kemuliaan nya di sisi Allah. Mereka lupa bahwa nikmat itu pada dasarnya salah satu bentuk ujian Allah kepada manusia. 16. Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, 'Tuhanku telah menghinakanku. ' Mereka tidak dapat memahami bahwa kefakiran dan kesusahan bukanla htolok ukur mutlak bagi kehinaan seseorang di mata Allah karena keduanya tidak lain hanyalah cobaan dari Allah.
Ayat ini menyatakan bahwa Allah menguji manusia dengan kemuliaan dan berbagai nikmat-Nya, seperti kekuasaan dan kekayaan. Orang yang kafir dan durhaka akan memandang hal itu sebagai tanda bahwa Allah menyayangi mereka.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
KALAU IMAN TAK ADA
“Maka adapun manusia itu, apabila diberi cobaan dia oleh Tuhannya, yaitu diberi-Nya dia kemuliaan dan diberi-Nya dia nikmat."
(pangkal ayat 15)
Diberi dia kekayaan atau pangkat tinggi, disegani orang dan mendapat kedudukan yang tertonjol dalam masyarakat; yang di dalam ayat itu disebutkan bahwa semuanya itu adalah cobaan.
“Maka berkatalah dia, ‘Tuhanku telah memuliaken daku.'"
(ujung ayat 15)
Mulailah dia mendabik dada, membanggakan diri, bahwa Allah telah memuliakan dia. Dia masih menyebut nama Allah, tetapi bukan dari rasa iman. Sehingga kalau kiranya datang orang minta tolong kepadanya, orang itu akan diusirnya, karena merasa bahwa dirinya telah diistimewakan Allah.
“Dan apabila Tuhannya memberikan cobaan kepadanya, yaitu dijangkakan-Nya rezekinya."
(pangkal ayat 16)
Dijangkakan, diagakkan, atau dibatasi; dapat hanya sekadar penahan jangan mati saja.
“Maka dia berkata, Tuhanku telah menghinakan daku."
(ujung ayat 16)
Di dalam ayat ini bertemu sekali lagi, bahwa kemiskinan itu pun cobaan Allah juga. Kaya cobaan, miskin pun cobaan.
Wealth and Poverty are both a Test and Honor or Disgrace for the Servant
فَأَمَّا الاْأِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَأهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ
وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَأهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
As for man, when his Lord tries him by giving him honor and bounties, then he says:
My Lord has honored me.
But when He tries him by straitening his means of life, he says:
My Lord has humiliated me!
Allah refutes man in his belief that if Allah gives Him abundant provisions to test him with it, it is out of His honor for him. But this is not the case, rather it is a trial and a test, as Allah says,
أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِن مَّالٍ وَبَنِينَ
نُسَارِعُ لَهُمْ فِى الْخَيْرَتِ بَل لاَّ يَشْعُرُونَ
Do they think that in wealth and children with which We enlarge them. We hasten unto them with good things. Nay, but they perceive not. (23:55-56)
Likewise, from another angle, if Allah tests him and tries him by curtailing his sustenance, he believes that is because Allah is humiliating him.
As Allah says,
كَلَّا
But no!
meaning, the matter is not as he claims, neither in this nor in that. For indeed Allah gives wealth to those whom He loves as well as those whom He does not love. Likewise, He withholds sustenance from those whom He loves and those whom He does not love. The point is that Allah should be obeyed in either circumstance. If one is wealthy, he should thank Allah for that, and if he is poor, he should exercise patience.
From the Evil that the Servant does regarding Wealth
Allah said,
..
بَل لاَّ تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ
But you treat not the orphans with kindness and generosity!
This contains the command to honor him (the orphan).
Abu Dawud recorded from Sahl bin Sa`id that the Messenger of Allah said,
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّة
The guardian of the orphan and I will be like these two in Paradise.
And he put his two fingers together - the middle finger and the index finger.
وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ
And urge not one another on the feeding of the Miskin!
meaning, they do not command that the poor and the needy be treated with kindness, nor do they encourage each other to do so.
وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ
And you devour the Turath,
meaning, the inheritance.
أَكْلً لَّمًّا
devouring with greed.
meaning, however they can get it, whether lawful or forbidden.
وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
And you love wealth with love Jamma.
meaning, in abundance.
This increases some of them in their wickedness.
And as for man, the disbeliever, whenever his Lord tests him and honours him, with wealth and other things, and is gracious to him, he says, 'My Lord has honoured me'.
Wealth and Poverty are no Signs of One's Acceptance or Rejection
فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ۔ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (As for man, when his Lord tests him, and thus gives him honour and bounties, he says, "My Lord has honoured me. But when he tests him, and thus straitens his provision for him, he says, "My Lord has disgraced me...89:15-16). The word 'man' here primarily refers to an 'unbelieving man' who may form any thought about Allah as he feels like, but in its general sense, the word may include a Muslim as well who has the same thought as an unbeliever. When Allah gives abundant wealth and good health to such people, the devil puts into their head two false ideas. First, they succumb to their baser instincts; they become haughty and arrogant; and they think that the wealth and health is the result of their superior intellect, personal capability, efforts and achievement. Secondly, they think that they are enjoying a favourable status with Allah. If they did not enjoy the favourable position with Him, they would not have been granted such an abundance of wealth. By the same token, if Allah curtails their sustenance i.e. they suffer some degree of poverty, they regard it as a curse from Allah, and complain that He is humiliating or dishonouring them, while they deserved honour and respect. The unbelievers and idolaters do hold such thoughts and ideas, as the Qur'an has pointed out on many occasions, but it is regrettable that many Muslims nowadays fall into similar ideas. Allah refutes man's belief by the expression کَلَّا Kalla 'No/never!' The matter is not as he claims. Wealth does not indicate acceptance of a man by Allah, nor does poverty indicate rejection. [ For indeed Allah gives wealth to those whom He loves and those whom He does not love. Likewise, He withholds sustenance /wealth from those whom He loves and those whom He does not love.] Often the matter is quite the contrary. Fir'aun (the Pharaoh) claimed godhead and lordship, yet he never suffered from any headache. Some of Prophets (علیہم السلام) were sliced, by enemies, into two pieces with a ﷺ The Holy Prophet ﷺ is reported to have said that the poor refugees will enter Paradise forty years before the wealthy muhajirs (Immigrants). [ Imam Muslim رحمۃ علیہ has transmitted it from ` Abdullah Ibn Umar ؓ - Mazhari ]. In another narration, the Holy Prophet ﷺ is reported to have said that whomever Allah loves, He keeps him away from the worldly luxuries as people keep away their sickly patients from water. [ Ahmad and Tirmidhi transmitted it on the authority of Qatadah Ibn Nu` man Mazhari ].








