ٱلنَّبَأ ٣٨
- يَوۡمَ hari
- يَقُومُ berdiri
- ٱلرُّوحُ ruh
- وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ dan malaikat
- صَفّٗاۖ berbaris
- لَّا tidak
- يَتَكَلَّمُونَ merekaberkata-kata
- إِلَّا kecuali
- مَنۡ siapa/orang
- أَذِنَ memberi izin
- لَهُ kepadanya
- ٱلرَّحۡمَٰنُ Yang Maha Pengasih
- وَقَالَ dan berkata
- صَوَابٗا yang benar
Pada hari, ketika rūḥ1 dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan dia hanya mengatakan yang benar.
Catatan kaki
1 *894) Para mufasir mempunyai pendapat yang berbeda tentang maksud "rūḥ" dalam ayat ini. Ada yang mengatakan "Jibril" ada yang mengatakan "tentara Allah" dan ada pula yang mengatakan "roh manusia."
(Pada hari itu) lafal Yauma merupakan Zharaf bagi lafal Laa Yamlikuuna (ketika ruh berdiri) yakni malaikat Jibril atau bala tentara Allah ﷻ (dan para malaikat dengan bershaf-shaf) lafal Shaffan menjadi Haal artinya dalam keadaan berbaris bershaf-shaf (mereka tidak berkata-kata) yakni makhluk semuanya (kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah) untuk berbicara (dan ia mengucapkan) perkataan (yang benar) mereka terdiri dari orang-orang yang beriman dan para Malaikat, seumpamanya mereka memberikan syafaat kepada orang-orang yang diridai oleh-Nya untuk mendapatkan syafaat.
Tafsir Surat An-Naba': 37-40
Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. Pada hari, ketika roh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepada kalian (wahai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.”
Ayat 37
Allah ﷻ menceritakan tentang kebesaran dan keagungan-Nya, bahwa sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta semua yang ada pada keduanya dan semua yang ada di antara keduanya. Dan bahwa sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang rahmat-Nya mencakup segala sesuatu.
Firman Allah ﷻ: “Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia.” (An-Naba: 37)
Tiada seorang pun yang mampu memulai berbicara kepada-Nya kecuali dengan seizin-Nya. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: “Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (Al-Baqarah: 255). Semakna pula dengan firman-Nya yang lain, yaitu: “Ketika datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya.” (Hud: 105).
Ayat 38
Adapun firman Allah ﷻ: “Pada hari ketika roh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata.” (An-Naba: 38)
Ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan makna yang dimaksud dengan roh dalam ayat ini; ada beberapa pendapat di kalangan mereka mengenainya.
Pertama, menurut apa yang diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan roh adalah arwah Bani Adam (anak-anak Adam).
Kedua, mereka adalah anak-anak Adam, menurut Al-Hasan dan Qatadah. Qatadah mengatakan bahwa hal ini merupakan sesuatu yang disembunyikan oleh Ibnu Abbas.
Ketiga, mengatakan bahwa mereka adalah suatu makhluk Allah yang bentuknya seperti Bani Adam, tetapi mereka bukan malaikat dan bukan pula manusia, mereka juga makan dan minum. Demikianlah menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Abu Saleh, dan Al-A'masy.
Keempat, menyebutkan bahwa dia adalah Jibril. Ini menurut apa yang dikatakan oleh Asy-Sya'bi, Sa'id ibnu Jubair, dan Adh-Dhahhak. Hal ini berdalilkan dengan firman Allah ﷻ yang menyebutkan: “Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (Asy-Syu'ara: 193 194). Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa Ar-Ruh adalah malaikat yang paling mulia dan paling dekat dengan Allah ﷻ serta penyampai wahyu.
Kelima, bahwa yang dimaksud dengan Ar-Ruh adalah Al-Qur'an. Ini menurut Ibnu Zaid, yang berarti semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur'an) dengan perintah Kami.” (Asy-Syura: 52), hingga akhir ayat.
Keenam, mengatakan bahwa Ar-Ruh adalah malaikat yang besarnya sama dengan seluruh makhluk bila digabungkan menjadi satu. Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: “Pada hari ketika Ruh berdiri.” (An-Naba: 38), bahwa makna yang dimaksud dengan Ruh adalah malaikat yang paling besar tubuhnya.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Khalaf Al-Asqalani, telah menceritakan kepada kami Rawwad ibnul Jarrah, dari Abu Hamzah, dari Asy-Sya'bi, dari Alqamah, dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa Ar-Ruh berada di langit yang keempat, dia lebih besar daripada semua langit, semua gunung, dan semua malaikat; setiap harinya ia bertasbih kepada Allah sebanyak dua belas ribu kali tasbih. Dan dari setiap tasbih yang dibacanya Allah menciptakan malaikat yang kelak di hari kiamat akan datang membentuk satu saf tersendiri. Pendapat ini gharib (asing) sekali.
Imam Ath-Thabarani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Aus Al-Masri, telah menceritakan kepada kami Wahbullah ibnu Rauq ibnu Hubairah, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Bakr, telah menceritakan kepada kami Al-Auza'i, telah menceritakan kepadaku ‘Atha’, dari Abdullah ibnu Abbas, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai seorang malaikat seandainya diperintahkan, ‘Telanlah tujuh langit dan bumi sekali telan’!" Tentulah malaikat itu dapat melakukannya, dan bacaan tasbihnya ialah, "Maha Suci Engkau di mana pun Engkau berada.”
Tetapi hadits ini gharib sekali, mengenai predikat marfu'-nya masih perlu diteliti. Barang kali hadits ini mauquf hanya sampai pada Ibnu Abbas saja, yang berarti bersumber dari apa yang diterimanya dari berita-berita Israiliyat; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Ibnu Jarir tidak berani memutuskan dengan salah satu dari pendapat-pendapat tersebut. Tetapi menurut hemat saya, pendapat yang lebih mendekati kepada kebenaran - hanya Allah jualah Yang Maha Mengetahui - ialah yang mengatakan Ruh adalah Bani Adam alias manusia.
Firman Allah ﷻ: “Kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah.” (An-Naba: 38)
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: “Ketika datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya.” (Hud: 105). Dan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih: "Dan tiada yang berbicara di hari itu kecuali hanya para rasul.”
Adapun firman Allah ﷻ: “Dan ia mengucapkan kata yang benar.” (An-Naba: 38)
Yaitu perkataan yang hak, dan termasuk perkataan yang benar ialah kalimat "Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah." Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Abu Saleh dan Ikrimah.
Ayat 39
Firman Allah ﷻ: “Itulah hari yang pasti terjadi.” (An-Naba: 39)
Artinya, pasti terjadinya dan tidak terelakkan lagi.
“Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.” (An-Naba: 39)
Yaitu jalan untuk kembali yang menghantarkan dia kepada-Nya dan yang akan ditempuhnya untuk sampai kepada-Nya.
Ayat 40
Firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepada kalian (wahai orang kafir) siksa yang dekat.” (An-Naba: 40)
Maksudnya, pada hari kiamat nanti. Dikatakan demikian karena kepastian kejadiannya telah dekat, dan sesuatu yang pasti terjadi itu tidak dapat dielakkan lagi.
“Pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya.” (An-Naba: 40)
Yakni ditampilkan di hadapannya semua amal perbuatannya, yang baiknya dan yang buruknya, yang terdahulu dan yang terkemudian. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).”(Al-Kahfi: 49). Dan firman Allah ﷻ: “Pada hari itu diberikan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.” (Al-Qiyamah: 13).
Adapun firman Allah ﷻ: “Dan orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah’.” (An-Naba: 40)
Orang kafir di hari itu berkhayal seandainya dirinya sewaktu di dunia berupa tanah dan bukan makhluk serta tidak dikeluarkan ke alam wujud.
Itu terjadi ketika dia menyaksikan azab Allah terpampang di hadapannya dan ia melihat semua amal perbuatannya yang telah dicatat oleh para malaikat juru tulis amal perbuatan, yang semuanya mulia lagi bertakwa. Semua amal perbuatannya penuh dengan kerusakan dan dosa-dosa. Menurut pendapat lain, sesungguhnya orang kafir itu berkhayal demikian hanyalah setelah ia menyaksikan peradilan Allah ﷻ saat menghukumi antara hewan-hewan terhadap kejadian-kejadian yang telah dilakukannya ketika di dunia dengan sesamanya.
Maka Allah memutuskan perkara di antara mereka dengan hukum-Nya yang Maha Adil yang tidak zalim, sehingga kambing yang tidak bertanduk disuruh membalas terhadap kambing yang bertanduk yang dahulu sewaktu di dunia pernah menanduknya. Apabila peradilan telah dilakukan terhadap mereka, Allah ﷻ berfirman kepada mereka, "Jadilah kamu tanah!" Maka semuanya kembali menjadi tanah. Dan saat itulah orang kafir berkata, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” (An-Naba: 40) Yaitu menjadi hewan, lalu dikembalikan menjadi tanah.
Hal yang semakna telah disebutkan di dalam hadits sangkakala yang terkenal, sebagaimana telah disebutkan pula dalam atsar-atsar yang bersumber dari Abu Hurairah, dan Abdullah ibnu Amr serta selain keduanya.
Tidak ada yang mampu berbicara langsung dengan Allah pada hari ketika ruh, yaitu Jibril, dan para malaikat lain yang berdiri bersaf-saf secara teratur dengan penuh tunduk dan khusyuk. Mereka, baik Jibril atau lainnya, tidak berani berkata-kata karena khidmatnya situasi saat itu, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pengasih untuk berkata kepada-Nya, dan dia hanya mengatakan sesuatu yang benar dan diridai Allah. 39. Itulah hari yang pasti terjadi sesuai janji Allah. Allah pasti menepati janji-Nya. Maka, barang siapa menghendaki agar mendapat keridaan
Allah di akhirat nanti, niscaya dia harus senantiasa menempuh jalan kembali kepada Tuhannya dengan selalu berbuat baik.
Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa pada hari Kiamat itu Malaikat Jibril dan para malaikat lainnya berdiri bersaf-saf menunggu perintah Allah. Mereka tidak berkata apa pun kecuali setelah diberi izin oleh Allah Yang Maha Pemurah. Kata-kata yang mereka ucapkan pun ketika itu hanya kata-kata yang benar.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Lalu diuraikanlah di dekat penutup surah betapa keadaan Alam Malakut atau Kerajaan Allah dan kehebatan Kekuasaan Ilahi di saat itu kelak.
Ayat 38
“Di hari yang akan berdiri ruh dan Malaikat berbaris-baris."
Yang dikatakan ruh dalam ayat ini ialah Malaikat Jibril sendirinya, yang disebutkan juga Ruhul Qudus atau Ruhul Amin. Disebut dia terlebih dahulu lalu diikuti dengan menyebut malaikat yang banyak; semuanya berbaris-baris menyatakan tunduk kepada Allah,
“Tidak ada yang bercakap-cakap, kecuali siapa yang diizinkan kepadanya oleh Yang Maha Pemurah."
Demikian hebatnya, orang yang bertakwa tak berani bercakap, Ruh atau Jibril dan Malaikat yang banyak pun diam semua. Kebesaran Ilahi menyebabkan mulut terkunci, padahal nama Allah yang disebut waktu itu ialah ar-Rahman (Yang Maha Pemurah), Yang Maha Penyayang.
“Sedang dia adalah berkata yang benar." (ujung ayat 38)
Ayat 39
Untuk menghilangkan keraguan dalam hati orang yang imannya baru saja akan tumbuh, datanglah ayat yang selanjutnya,
“Yang demikian itulah hari yang benar."
Al-Yaumul Haqq, Hari Kebenaran! Hari yang tidak usah diragukan lagi, sebagaimana hidup itu sendiri adalah benar dan kenyataan, dan maut pun adalah benar dan kenyataan, dan janji-janji Allah semuanya adalah benar dan kenyataan. Semua tak usah diragukan lagi.
“Maka barangsiapa yang mau, dipilihnyalah kepada Tuhannya jalan kembali" (ujung ayat 39)
Dengan ayat ini kita disadarkan dengan halus oleh Allah, “Barangsiapa yang mau, marilah kembali ke jalan Allah! Allah masih menerima kedatangan kembali hamba-Nya yang lengah dan alpa itu."
Ayat 40
“Sesungguhnya telah Kami ancam kamu sekalian dengan adzab yang telah dekat."
Artinya, sebelum menghadapi Hari Perhitungan atau Hari Kiamat itu, ada hari yang lebih dekat lagi, pasti kamu temui dalam masa yang tidak lama lagi. Hari itu ialah hari bercerai dengan dunia fana ini, hari ketika Malaikat-Maut mengambil nyawamu,
“Di hari yang seseorang akan memandang apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya."
Maka mulailah kelihatan jelas hari-hari dan masa lampau yang telah dilalui. Segala perbuatan yang pernah diamalkan di sini, buruknya dan baiknya, bekas perbuatan tangan sendiri, semuanya kelihatan
“Dan akan berkata orang yang kafir."
Yaitu orang yang di kala hidupnya hanya menolak mentah-mentah seruan Rasul, dia melihat daftar dosa yang dia kerjakan.
“Alangkah baiknya kalau dahulu aku hanya tanah saja." (ujung ayat 40)
Timbullah sesal dan keluhan, pada saat sesal dan keluh tidak ada gunanya lagi, “Kalau aku dahulunya hanya tanah saja, kalau aku dahulunya tidak sampai jadi manusia, tidak tercatat dalam daftar kehidupan, tidaklah akan begini tekanan yang aku rasakan di alam barzakh, tidaklah akan begini tekanan yang aku rasakan di Padang Mahsyar." Sesal yang tak ada gunanya.
No one will dare to speak before Allah -- not even the Angels - without first receiving Permission
رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرحْمَنِ
The Lord of the heavens and the earth, and whatsoever is in between them, the Most Gracious,
Allah informs of His magnificence and His majesty, and that He is the Lord of the heavens and the earth, and whatever is in them and between them. He explains that He is the Most Gracious, Whose mercy covers all things.
Then He says,
لَاا يَمْلِكُونَ مِنْهُ خِطَابًا
With Whom they cannot dare to speak.
meaning, no one is able to begin addressing Him except by His permission.
This is as Allah says,
مَن ذَا الَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
Who is he that can intercede with Him except with His permission, (2:255)
It is also similar to His statement,
يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
On the Day when it comes, no person shall speak except by His leave. (11:105)
يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَيِكَةُ صَفًّا لاَّ يَتَكَلَّمُونَ
The Day that Ar-Ruh and the angels will stand forth in rows, they will not speak. (78:38)
The word Ruh here is referring to the angel Jibril. This has been said by Ash-Sha`bi, Sa`id bin Jubayr and Ad-Dahhak.
This is as Allah says,
نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الاٌّمِينُ
عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ
Which the trustworthy Ruh has brought down. Upon your heart that you may be of the warners. (26:193-194)
Muqatil bin Hayyan said,
The Ruh is the noblest of the angels, the closest of them to the Lord, and the one who delivers the revelation.
Allah said;
إِلاَّ مَنْ أَذِنَ لَهُ الرحْمَنُ
except him whom Ar-Rahman allows,
This is similar to Allah's statement,
يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
On the Day when it comes, no person shall speak except by His leave. (11:105)
This is similar to what has been confirmed in the Sahih, that the Prophet said,
وَلَا يَتَكَلَّمُ يَوْمَيِذٍ إِلاَّ الرُّسُل
And none will speak on that Day except the Messengers.
Allah said,
وَقَالَ صَوَابًا
and he will speak what is right.
meaning, the truth. And from the truth is the fact that there is no god worthy of worship except Allah.
This is as Abu Salih and Ikrimah both said.
In reference to Allah's statement
ذَلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّ
That is the True Day.
meaning, it will come to pass and there is no avoiding it.
فَمَن شَاء اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ مَأبًا
So, whosoever wills, let him seek a place with His Lord!
meaning, a place of return, a path that leads to Him, and a way that he may pass by to get to Him.
The Day of Judgement is Near
Allah said
إِنَّا أَنذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا
Verily, We have warned you of a near torment,
meaning, the Day of Judgment.
It is mentioned here to emphasize the fact that its occurrence has become close, because everything that is coming will certainly come to pass.
يَوْمَ يَنظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ
the Day when man will see that which his hands have sent forth,
meaning, all of his deeds will be presented to him -- the good and bad, and the old and new.
This is similar to Allah's statement,
وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرًا
And they will find all that they did, placed before them. (18:49)
It is also similar to His statement,
يُنَبَّأُ الاِنسَـنُ يَوْمَيِذِ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ
On that Day man will be informed of what he sent forward, and what he left behind. (75:13)
Then Allah says,
..
وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنتُ تُرَابًا
and the disbeliever will say:Woe to me! Would that I were dust!
meaning, the disbeliever on that Day will wish that he had only been dust in the worldly life.
He will wish that he had not been created and that he had never come into existence. This will be when he sees the torment of Allah and he looks at his wicked deeds that will be written down against him by the noble righteous scribes among angels.
It has been said that he will only wish for that when Allah passes judgement between all of the animals that were in the worldly life. He will rectify matters between them with His just wisdom that does not wrong anyone. Even the hornless sheep will be allowed to avenge itself against the sheep with horns. Then, when the judgement between them is finished, He (Allah) will say to them (the animals),
Be dust.
So they will all become dust.
Upon witnessing this the disbeliever will say,
يَـلَيْتَنِى كُنتُ تُرَباً
(Would that I were dust!)
meaning, `I wish I was an animal so that I would be returned to dust.'
Something of similar meaning to this has been reported in the well-known Hadith about the Sur.
There are also narrations recorded from Abu Hurayrah, Abdullah bin Amr, and others concerning this.
This is the end of the Tafsir of Surah An-Naba'. And all praise and thanks are due to Allah. He is the Giver of success and protection from error.
on the day (yawma is the adverbial qualifier for laa yamlikoona, 'they will not be able to') when the Spirit, Gabriel, or God's hosts, and the angels stand arrayed (saffan is a circumstantial qualifier, in other words, mustaffeena). They, creatures, will not speak, except him whom the Compassionate One permits, to speak, and who says what is right, from among the believers and the angels: as if [meaning] that they will intercede for he whom He approves of.
یوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا ۖ لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَـٰنُ وَقَالَ صَوَابًا (on the Day when the Spirit and the angels will stand in rows. They will not speak, except the one who is permitted by the Rahman [ the All-Merciful ] and speaks aright -78:38). Ruh (Spirit), according to some of the commentators, refers to the angel Jibra'il He has been mentioned before the other angels in general in order to show the greatness of his status. According to certain Prophetic traditions, Ruh is not an angel but a huge army of Allah. They have heads, hands and legs. In this interpretation, there will be two rows. One row will be that of Ruh and the other will be that of the angels.