ٱلنَّبَأ ٣٧
- رَّبِّ Tuhan/Pemelihara
- ٱلسَّمَٰوَٰتِ langit(jamak)
- وَٱلۡأَرۡضِ dan bumi
- وَمَا dan apa
- بَيۡنَهُمَا diantara keduanya
- ٱلرَّحۡمَٰنِۖ Yang Maha Pengasih
- لَا tidak
- يَمۡلِكُونَ mereka kuasa
- مِنۡهُ daripadaNya/dengan Dia
- خِطَابٗا bicara
Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya; Yang Maha Pengasih, mereka tidak mampu berbicara dengan Dia.
(Rabb langit dan bumi) dapat dibaca Rabbis Samaawaati Wal Ardhi dan Rabus Samaawaati Wal Ardhi (dan apa yang ada di antara keduanya; Yang Maha Pemurah) demikian pula lafal Ar-Rahmaan dapat dibaca Ar-Rahmaanu dan Ar-Rahmaani disesuaikan dengan lafal Rabbun tadi. (Mereka tiada memiliki) yakni makhluk semuanya (di hadapan-Nya) di hadapan Allah ﷻ (sepatah kata pun) yaitu tiada seseorang pun yang dapat berbicara kepada-Nya karena takut kepada-Nya.
Tafsir Surat An-Naba': 37-40
Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. Pada hari, ketika roh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepada kalian (wahai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.”
Ayat 37
Allah ﷻ menceritakan tentang kebesaran dan keagungan-Nya, bahwa sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta semua yang ada pada keduanya dan semua yang ada di antara keduanya. Dan bahwa sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang rahmat-Nya mencakup segala sesuatu.
Firman Allah ﷻ: “Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia.” (An-Naba: 37)
Tiada seorang pun yang mampu memulai berbicara kepada-Nya kecuali dengan seizin-Nya. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: “Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (Al-Baqarah: 255). Semakna pula dengan firman-Nya yang lain, yaitu: “Ketika datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya.” (Hud: 105).
Ayat 38
Adapun firman Allah ﷻ: “Pada hari ketika roh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata.” (An-Naba: 38)
Ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan makna yang dimaksud dengan roh dalam ayat ini; ada beberapa pendapat di kalangan mereka mengenainya.
Pertama, menurut apa yang diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan roh adalah arwah Bani Adam (anak-anak Adam).
Kedua, mereka adalah anak-anak Adam, menurut Al-Hasan dan Qatadah. Qatadah mengatakan bahwa hal ini merupakan sesuatu yang disembunyikan oleh Ibnu Abbas.
Ketiga, mengatakan bahwa mereka adalah suatu makhluk Allah yang bentuknya seperti Bani Adam, tetapi mereka bukan malaikat dan bukan pula manusia, mereka juga makan dan minum. Demikianlah menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Abu Saleh, dan Al-A'masy.
Keempat, menyebutkan bahwa dia adalah Jibril. Ini menurut apa yang dikatakan oleh Asy-Sya'bi, Sa'id ibnu Jubair, dan Adh-Dhahhak. Hal ini berdalilkan dengan firman Allah ﷻ yang menyebutkan: “Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (Asy-Syu'ara: 193 194). Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa Ar-Ruh adalah malaikat yang paling mulia dan paling dekat dengan Allah ﷻ serta penyampai wahyu.
Kelima, bahwa yang dimaksud dengan Ar-Ruh adalah Al-Qur'an. Ini menurut Ibnu Zaid, yang berarti semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur'an) dengan perintah Kami.” (Asy-Syura: 52), hingga akhir ayat.
Keenam, mengatakan bahwa Ar-Ruh adalah malaikat yang besarnya sama dengan seluruh makhluk bila digabungkan menjadi satu. Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: “Pada hari ketika Ruh berdiri.” (An-Naba: 38), bahwa makna yang dimaksud dengan Ruh adalah malaikat yang paling besar tubuhnya.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Khalaf Al-Asqalani, telah menceritakan kepada kami Rawwad ibnul Jarrah, dari Abu Hamzah, dari Asy-Sya'bi, dari Alqamah, dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa Ar-Ruh berada di langit yang keempat, dia lebih besar daripada semua langit, semua gunung, dan semua malaikat; setiap harinya ia bertasbih kepada Allah sebanyak dua belas ribu kali tasbih. Dan dari setiap tasbih yang dibacanya Allah menciptakan malaikat yang kelak di hari kiamat akan datang membentuk satu saf tersendiri. Pendapat ini gharib (asing) sekali.
Imam Ath-Thabarani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Aus Al-Masri, telah menceritakan kepada kami Wahbullah ibnu Rauq ibnu Hubairah, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Bakr, telah menceritakan kepada kami Al-Auza'i, telah menceritakan kepadaku ‘Atha’, dari Abdullah ibnu Abbas, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai seorang malaikat seandainya diperintahkan, ‘Telanlah tujuh langit dan bumi sekali telan’!" Tentulah malaikat itu dapat melakukannya, dan bacaan tasbihnya ialah, "Maha Suci Engkau di mana pun Engkau berada.”
Tetapi hadits ini gharib sekali, mengenai predikat marfu'-nya masih perlu diteliti. Barang kali hadits ini mauquf hanya sampai pada Ibnu Abbas saja, yang berarti bersumber dari apa yang diterimanya dari berita-berita Israiliyat; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Ibnu Jarir tidak berani memutuskan dengan salah satu dari pendapat-pendapat tersebut. Tetapi menurut hemat saya, pendapat yang lebih mendekati kepada kebenaran - hanya Allah jualah Yang Maha Mengetahui - ialah yang mengatakan Ruh adalah Bani Adam alias manusia.
Firman Allah ﷻ: “Kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah.” (An-Naba: 38)
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: “Ketika datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya.” (Hud: 105). Dan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih: "Dan tiada yang berbicara di hari itu kecuali hanya para rasul.”
Adapun firman Allah ﷻ: “Dan ia mengucapkan kata yang benar.” (An-Naba: 38)
Yaitu perkataan yang hak, dan termasuk perkataan yang benar ialah kalimat "Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah." Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Abu Saleh dan Ikrimah.
Ayat 39
Firman Allah ﷻ: “Itulah hari yang pasti terjadi.” (An-Naba: 39)
Artinya, pasti terjadinya dan tidak terelakkan lagi.
“Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.” (An-Naba: 39)
Yaitu jalan untuk kembali yang menghantarkan dia kepada-Nya dan yang akan ditempuhnya untuk sampai kepada-Nya.
Ayat 40
Firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepada kalian (wahai orang kafir) siksa yang dekat.” (An-Naba: 40)
Maksudnya, pada hari kiamat nanti. Dikatakan demikian karena kepastian kejadiannya telah dekat, dan sesuatu yang pasti terjadi itu tidak dapat dielakkan lagi.
“Pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya.” (An-Naba: 40)
Yakni ditampilkan di hadapannya semua amal perbuatannya, yang baiknya dan yang buruknya, yang terdahulu dan yang terkemudian. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).”(Al-Kahfi: 49). Dan firman Allah ﷻ: “Pada hari itu diberikan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.” (Al-Qiyamah: 13).
Adapun firman Allah ﷻ: “Dan orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah’.” (An-Naba: 40)
Orang kafir di hari itu berkhayal seandainya dirinya sewaktu di dunia berupa tanah dan bukan makhluk serta tidak dikeluarkan ke alam wujud.
Itu terjadi ketika dia menyaksikan azab Allah terpampang di hadapannya dan ia melihat semua amal perbuatannya yang telah dicatat oleh para malaikat juru tulis amal perbuatan, yang semuanya mulia lagi bertakwa. Semua amal perbuatannya penuh dengan kerusakan dan dosa-dosa. Menurut pendapat lain, sesungguhnya orang kafir itu berkhayal demikian hanyalah setelah ia menyaksikan peradilan Allah ﷻ saat menghukumi antara hewan-hewan terhadap kejadian-kejadian yang telah dilakukannya ketika di dunia dengan sesamanya.
Maka Allah memutuskan perkara di antara mereka dengan hukum-Nya yang Maha Adil yang tidak zalim, sehingga kambing yang tidak bertanduk disuruh membalas terhadap kambing yang bertanduk yang dahulu sewaktu di dunia pernah menanduknya. Apabila peradilan telah dilakukan terhadap mereka, Allah ﷻ berfirman kepada mereka, "Jadilah kamu tanah!" Maka semuanya kembali menjadi tanah. Dan saat itulah orang kafir berkata, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” (An-Naba: 40) Yaitu menjadi hewan, lalu dikembalikan menjadi tanah.
Hal yang semakna telah disebutkan di dalam hadits sangkakala yang terkenal, sebagaimana telah disebutkan pula dalam atsar-atsar yang bersumber dari Abu Hurairah, dan Abdullah ibnu Amr serta selain keduanya.
Tuhan yang menganugerahkan semua itu adalah Tuhan Pemelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dialah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Mahakaya. Dia mempunyai rahmat yang sangat banyak. Mereka tidak mampu berbicara dengan Dia. Semua unduk dan patuh kepada-Nya, tidak ada yang mampu berbicara dengan-Nya kecuali atas seizin-Nya. 38. Tidak ada yang mampu berbicara langsung dengan Allah pada hari ketika ruh, yaitu Jibril, dan para malaikat lain yang berdiri bersaf-saf secara teratur dengan penuh tunduk dan khusyuk. Mereka, baik Jibril atau lainnya, tidak berani berkata-kata karena khidmatnya situasi saat itu, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pengasih untuk berkata kepada-Nya, dan dia hanya mengatakan sesuatu yang benar dan diridai Allah.
Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa Dialah Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan segala yang berada di antaranya dengan sifat-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Pemurah. Keagungan Allah pada hari Kiamat itu tampak sekali, tidak seorang pun yang akan berbicara dengan Allah, melainkan dengan izin-Nya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
NIKMAT SURGA BAGI YANG BERTAKWA
Selalu Al-Qur'an mengadakan timbalan di antara ancaman dan bujukan, atau siksaan dengan karunia.
Ayat 31
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa ada tempat kemenangan." (ayat 31)
Ketakwaan, menyebabkan selamat perjalanan hidup itu sampai kepada akhir umur. Di akhirat kelak telah disediakan baginya Mafaza, tempat berdiam bagi orang- orang yang telah menang dalam menegakkan kebenaran.
Ayat 32
Tempat kemenangan itu ialah “Taman-taman dan anggun-anggun." (ayat 32)
Kebun-kebun yang subur, penuh dengan tumbuh-tumbuhan, kembang-kembang berbagai warna disertai buah-buahan yang lezat cita rasanya adalah tempat nikmat itu. Dan di antara buah-buahan yang banyak berbagai ragam, ada satu yang istimewa, yaitu anggur-anggur. Karena anggur itu kecil mungil dan bijinya tidak mengganggu.
Ayat 33
“Dan penawar-penawar muda yang sebaya." (ayat 33)
Taman-taman yang indah berwarna-warni, disertai buah-buahan yang lezat, lebih berarti sebagai tempat orang yang menang dalam perjuangan menantang hawa nafsu dalam hidup di dunia ini. Di dalamnya terdapat pula gadis-gadis perawan muda, yang di dalam bahasa Arab disebut Kawa'ib sebagai jamak dari Ka'ib, yang berarti gadis remaja yang susunya masih kencang. Dan mereka banyak, sebanyak diperlukan, dan usia mereka boleh dikatakan seumuran belaka.
Ayat 34
Ditambah lagi, “Dan piala-piala yang melimpah-limpah." (ayat 34)
Ayat 35
“Tidak akan mereka dengan padanya kata-kata yang sia-sia dan tidak pula kata-kata dusta." (ayat 35)
Jika di dunia ini taman-taman cinta birahi yang kaya dengan segala buah-buahan dan anggur, minuman berbagai rupa, perempuan cantik yang menggiurkan dan menimbulkan nafsu, barulah meriah bila orang telah mabuk-mabuk. Orang meminum tuak dan segala minuman keras ialah untuk menghilangkan rasa malu di dalam berbuat segala macam kecabulan. Keluarlah di sana segala perkataan kotor dan jijik. Maka suasana dalam surga bukanlah demikian. Bila disebutkan gadis-gadis remaja dan perawan-perawan sebaya itu, rasa seni dan keindahanlah yang tergetar, bukan hawa nafsu kelamin. Karena surga bukanlah semata menghidangkan pemuas kelamin. Yang ada dalam surga adalah kedamaian pikiran, ketenangan dan tenteram, tidak mendengar kata-kata sia-sia, seperti banyak terdengar di dunia ini dan tidak pula mendengar kata-kata bohong.
Ayat 36
Semuanya ini adalah “Ganjaran dari Tuhan engkau." Disebutkan ini agar kita dapat memperbedakannya dengan kepelisiran di dunia, yang sebagian besar bukan karena ganjaran Allah, melainkan ganjaran setan, yang akhirnya bukan nikmat, melainkan niqmat', alangkah jauh bedanya di antara nikmat dengan niqmat; “Pemberian yang cukup tersedia." (ujung ayat 36)
Allah menyatakan siapa diri-Nya dan bagaimana luas sifat Rububiyah-Nya. “Tuhan dari sekalian langit." As-Samawati adalah kata jamak dari as-Sama'. As-Sama' artinya satu langit. As- Samawati artinya beberapa langit. Karena telah tersebut di dalam Al-Qur'an sendiri bahwa langit itu sampai tujuh lapisan, lalu penafsir mengartikan dengan sekalian langit atau beberapa langit. Begitulah penerjemahan bahasa yang dapat dipakai oleh penafsir ini. Karena pemakaian kata jamak dari baitun yang berarti satu rumah, jamaknya ialah buyutun yang berarti banyak rumah. Dalam pemakaian kata sehari-hari bahasa Indonesia dan bahasa Melayu, banyak rumah disebut rumah-rumah. Kitabun untuk satu buku. Kutubun untuk banyak buku, dalam bahasa kita disebut banyak buku-buku. Tetapi untuk langit kalau banyak tidak dapat disebut artinya menjadi langit-langit. Karena langit-langit artinya bu-kanlah langit yang banyak, melainkan di dalam mulut kita yang sebelah atas! Itu sebabnya maka Samawati selalu saya artikan sekalian langit. Supaya ahli-ahli terjemah lama maklum adanya.
Ayat 37
“Dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya." Artinya, bahwa Allah ﷻ adalah Tuhan dari semuanya; Dia yang mengatur. Dia yang mentadbirkan perjalanannya. Dan lagi, “Yang Maha Pemurah." Atau diartikan juga Maha Penyayang, yaitu arti yang kita ambil untuk nama ar-Rahman.
“Tidaklah mereka berkuasa berkata-kata kepada-Nya." (ujung ayat 37)
Artinya, akan dirasakanlah betapa hebat kebesaran dan keagungan Allah Tuhan Sarwa Sekalian Alam pada hari itu. Meskipun hari itu hari nikmat, hari orang yang bertakwa akan menerima ganjaran dan karunia Ilahi, meskipun bagaimana rasa gembira, namun kebesaran Ilahi itu menyebabkan tiada seorang jua pun yang sanggup bercakap. Mulut tertutup semuanya, ditambah lagi oleh rasa terharu setelah menerima nikmat karunia-Nya.
No one will dare to speak before Allah -- not even the Angels - without first receiving Permission
رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرحْمَنِ
The Lord of the heavens and the earth, and whatsoever is in between them, the Most Gracious,
Allah informs of His magnificence and His majesty, and that He is the Lord of the heavens and the earth, and whatever is in them and between them. He explains that He is the Most Gracious, Whose mercy covers all things.
Then He says,
لَاا يَمْلِكُونَ مِنْهُ خِطَابًا
With Whom they cannot dare to speak.
meaning, no one is able to begin addressing Him except by His permission.
This is as Allah says,
مَن ذَا الَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
Who is he that can intercede with Him except with His permission, (2:255)
It is also similar to His statement,
يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
On the Day when it comes, no person shall speak except by His leave. (11:105)
يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَيِكَةُ صَفًّا لاَّ يَتَكَلَّمُونَ
The Day that Ar-Ruh and the angels will stand forth in rows, they will not speak. (78:38)
The word Ruh here is referring to the angel Jibril. This has been said by Ash-Sha`bi, Sa`id bin Jubayr and Ad-Dahhak.
This is as Allah says,
نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الاٌّمِينُ
عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ
Which the trustworthy Ruh has brought down. Upon your heart that you may be of the warners. (26:193-194)
Muqatil bin Hayyan said,
The Ruh is the noblest of the angels, the closest of them to the Lord, and the one who delivers the revelation.
Allah said;
إِلاَّ مَنْ أَذِنَ لَهُ الرحْمَنُ
except him whom Ar-Rahman allows,
This is similar to Allah's statement,
يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
On the Day when it comes, no person shall speak except by His leave. (11:105)
This is similar to what has been confirmed in the Sahih, that the Prophet said,
وَلَا يَتَكَلَّمُ يَوْمَيِذٍ إِلاَّ الرُّسُل
And none will speak on that Day except the Messengers.
Allah said,
وَقَالَ صَوَابًا
and he will speak what is right.
meaning, the truth. And from the truth is the fact that there is no god worthy of worship except Allah.
This is as Abu Salih and Ikrimah both said.
In reference to Allah's statement
ذَلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّ
That is the True Day.
meaning, it will come to pass and there is no avoiding it.
فَمَن شَاء اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ مَأبًا
So, whosoever wills, let him seek a place with His Lord!
meaning, a place of return, a path that leads to Him, and a way that he may pass by to get to Him.
The Day of Judgement is Near
Allah said
إِنَّا أَنذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا
Verily, We have warned you of a near torment,
meaning, the Day of Judgment.
It is mentioned here to emphasize the fact that its occurrence has become close, because everything that is coming will certainly come to pass.
يَوْمَ يَنظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ
the Day when man will see that which his hands have sent forth,
meaning, all of his deeds will be presented to him -- the good and bad, and the old and new.
This is similar to Allah's statement,
وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرًا
And they will find all that they did, placed before them. (18:49)
It is also similar to His statement,
يُنَبَّأُ الاِنسَـنُ يَوْمَيِذِ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ
On that Day man will be informed of what he sent forward, and what he left behind. (75:13)
Then Allah says,
..
وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنتُ تُرَابًا
and the disbeliever will say:Woe to me! Would that I were dust!
meaning, the disbeliever on that Day will wish that he had only been dust in the worldly life.
He will wish that he had not been created and that he had never come into existence. This will be when he sees the torment of Allah and he looks at his wicked deeds that will be written down against him by the noble righteous scribes among angels.
It has been said that he will only wish for that when Allah passes judgement between all of the animals that were in the worldly life. He will rectify matters between them with His just wisdom that does not wrong anyone. Even the hornless sheep will be allowed to avenge itself against the sheep with horns. Then, when the judgement between them is finished, He (Allah) will say to them (the animals),
Be dust.
So they will all become dust.
Upon witnessing this the disbeliever will say,
يَـلَيْتَنِى كُنتُ تُرَباً
(Would that I were dust!)
meaning, `I wish I was an animal so that I would be returned to dust.'
Something of similar meaning to this has been reported in the well-known Hadith about the Sur.
There are also narrations recorded from Abu Hurayrah, Abdullah bin Amr, and others concerning this.
This is the end of the Tafsir of Surah An-Naba'. And all praise and thanks are due to Allah. He is the Giver of success and protection from error.
[from] the Lord of the skies and the earth (read rabbi, '[from] the Lord of', or rabbu, '[He is] the Lord of') and all that is between them, the Compassionate One (likewise [read rahmaani or rahmaanu], or read rahmaanu with rabbi [for the preceding]), Whom, exalted be He, they, that is, creatures, will not be able to address, that is to say, not one of them will be able to address Him for fear of Him,
لَا يَمْلِكُونَ مِنْهُ خِطَابًا (...No one will have power to address Him,...78:37)
This sentence is probably connected to the preceding verse: جَزَاءً مِّن رَّبِّكَ عَطَاءً حِسَابًا (this being a reward from their Lord, a sufficing grant...78:36) In this case, it would mean that when Allah grants a certain grade of reward, no one dare speak about the grade as to why someone got more and others got less. But if this sentence is treated as an isolated one, it will mean that no one in the Plane of Gathering will have the power to speak to Him without His permission. This permission will be granted in some of the positions of Gathering, and not in others.