ٱلْأَعْرَاف ٩٢
- ٱلَّذِينَ orang-orang yang
- كَذَّبُواْ (mereka) mendustakan
- شُعَيۡبٗا Syu'aib
- كَأَن seakan
- لَّمۡ tidak
- يَغۡنَوۡاْ mereka berdiam
- فِيهَاۚ di dalamnya
- ٱلَّذِينَ orang-orang yang
- كَذَّبُواْ (mereka) mendustakan
- شُعَيۡبٗا Syu'aib
- كَانُواْ adalah mereka
- هُمُ mereka
- ٱلۡخَٰسِرِينَ orang-orang yang merugi
Orang-orang yang mendustakan Syu'aib seakan-akan mereka belum pernah tinggal di (negeri) itu. Mereka yang mendustakan Syu'aib, itulah orang-orang yang rugi.
(Yaitu orang-orang yang mendustakan Syuaib) menjadi mubtada dan khabarnya ialah (seolah-olah) dengan ditakhfifkan sedangkan isimnya dibuang, lengkapnya ialah: Seolah-olah mereka (mereka belum pernah berdiam) artinya mereka belum pernah tinggal (di kota itu) di rumah-rumah mereka sendiri (orang-orang yang mendustakan Syuaib mereka itulah orang-orang yang merugi) pengukuhan dengan mengulangi maushul dan lainnya merupakan jawaban terhadap perkataan mereka yang terdahulu.
Tafsir Surat Al-A'raf: 90-92
Dan pemuka-pemuka Kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya), "Sesungguhnya jika kalian mengikuti Syuaib, tentu kalian menjadi orang-orang yang merugi.”
Maka gempa (dahsyat) menimpa mereka sehingga mereka menjadi (mayat-mayat yang) bergelimpangan di dalam (reruntuhan) tempat tinggal mereka.
(Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syuaib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di negeri itu, Mereka yang mendustakan Syuaib itulah orang-orang yang merugi.
Ayat 90
Allah ﷻ menceritakan perihal kekerasan kekufuran mereka, juga keangkuhan, kesombongan, kesesatan yang mereka lakukan, dan tabiat hati mereka yang suka menentang kebenaran. Mereka nyatakan hal ini melalui sumpah mereka yang disebutkan oleh firman-Nya:
"Sesungguhnya jika kalian mengikuti Syuaib, tentu kalian menjadi orang-orang yang merugi.” (Al-A'raf: 90)
Ayat 91
Maka Allah ﷻ berfirman dalam ayat selanjutnya:
“Maka gempa (dahsyat) menimpa mereka sehingga mereka menjadi (mayat-mayat yang) bergelimpangan di dalam (reruntuhan) tempat tinggal mereka.” (Al-A'rif: 91)
Dalam ayat ini Allah ﷻ memberitahukan bahwa mereka ditimpa gempa yang dahsyat, sebagaimana mereka telah membuat Syu'aib dan sahabat-sahabatnya terguncang oleh ancaman mereka yang hendak mengusirnya. Seperti yang disebutkan perihal mereka dalam surat Hud melalui firman-Nya:
“Dan ketika datang azab Kami, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu teriakan yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.” (Hud: 94)
Kaitannya dengan ayat di atas hanya Allah yang lebih mengetahui.
Ketika mereka melancarkan cemoohan kepada Syu'aib a.s. melalui perkataan mereka, seperti yang disitir oleh firman-Nya:
“Apakah shalatmu yang menyuruh kamu.” (Hud: 87), hingga akhir ayat.
Maka datanglah teriakan yang mengguntur dan mendiamkan mereka (yakni mematikan mereka).
Dalam surat Asy-Syu'ara Allah ﷻ berfirman menceritakan perihal mereka:
“Kemudian mereka mendustakan Syuaib, lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang sangat besar.” (Asy-Syu'ara: 189)
Hal tersebut terjadi karena mereka mengatakan kepada Nabi Syu'aib seperti yang disebutkan dalam konteks kisahnya melalui firman Allah ﷻ:
“Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit.” (Asy-Syu'ara: 187)
Allah memberitahukan, bahwa Dia telah menimpakan kepada mereka adzab pada hari mereka dinaungi awan, ketika mereka semuanya dalam keadaan berkumpul.
Semua awan itu berkumpul dan jatuh menimpa mereka pada hari itu juga, yaitu awan yang mengandung percikan dan nyala api serta kobaran yang sangat panas. Lalu suara yang mengguntur datang menimpa mereka dari langit, sedangkan bumi mengalami gempa besar dari bawah mereka, sehingga nyawa mereka dicabut dan mati, sedangkan tubuh mereka kaku.
“Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di (reruntuhan) dalam rumah-rumah mereka.” (Al-A'raf: 91)
Ayat 92
Kemudian Allah ﷻ berfirman:
“Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di negeri itu.” (Al-Araf: 92)
Artinya, setelah tertimpa azab itu mereka seakan-akan tidak tidak pernah mendiami di tanah tempat mereka hendak mengusir Syu'aib dan sahabat-sahabatnya.
Kemudian Allah ﷻ menjawab perkataan mereka melalui firman-Nya:
“Mereka yang mendustakan Syuaib itulah orang-orang yang merugi.” (Al-A'raf: 92)
Demikianlah keadaan mereka, sehingga orang-orang yang mendustakan Nabi Syuaib dan menolak ajaran kebenaran yang disampaikannya, dengan siksa yang menimpa mereka itu seakan-akan mereka belum pernah tinggal dinegeri itu dan bersenang-senang di situ, sebab semuanya hancur binasa, tak ada yang tersisa sedikit pun. Tidak ada lagi bekasbekas peninggalan yang dapat menjadi bukti keberadaan mereka. Jika demikian itu kesudahan yang menimpa mereka, maka mereka yang mendustakan Nabi Syuaib, dan mengira bahwa orang yang mengikutinya akan merugi, mereka itulah sebenarnya orang-orang yang rugi karena kehilangan kebahagiaan di dunia dan akhiratMelihat kehancuran yang menimpa kaumnya yang ingkar, maka Nabi Syuaib dengan berat hati berpaling meninggalkan mereka seraya berkata dengan penuh sesal dan iba, Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat Tuhanku berupa pesan-pesan-Nya yang dibuktikan dengan aneka mukjizat kepadamu yang dapat membawa kepada kebaikan jika kamu lakukan, dan aku telah menasihati kamu berupa sesuatu yang dapat menyelamatkan kamu dari hukuman Allah. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap penderitaan orang-orang kafir yang telah mendarah daging dalam diri mereka kekufuran' Itu tidak akan terjadi, sebab aku sudah berusaha keras memberikan petunjuk dan berupaya menyelamatkan mereka, tetapi mereka malah memilih kehancuran.
.
Pada ayat-ayat yang terdahulu telah disebutkan bahwa pemuka-pemuka kaum Nabi Syuaib pernah mengeluarkan ancaman untuk mengusir Nabi Syuaib bersama para pengikutnya dari negeri Madyan apabila mereka tidak mau kembali kepada agama nenek moyang mereka. Maka dalam ayat ini Allah memberikan penjelasan sebagai jawabannya. Allah menegaskan bahwa akibat yang akan diderita oleh orang-orang yang telah mengancam untuk mengusir Nabi Syuaib dari Madyan, justru merekalah yang rusak binasa dan hilang lenyap, sehingga seakan-akan mereka tak pernah hidup dan mendiami negeri ini. Demikian juga orang-orang yang mendustakan Nabi Syuaib dan mengatakan bahwa siapa yang mengikuti agamanya pasti akan merugi, justru merekalah yang benar-benar merugi, sedang orang-orang yang beriman dan mengikuti agama yang dibawa oleh Nabi Syuaib mereka akan selamat dan memperoleh rida Allah.
Dari ayat ini dapat diambil pelajaran yang sangat berharga, yaitu bahwa orang yang sangat menginginkan tetap tinggal di negeri mereka dengan hidup senang dan berbuat sewenang-wenang terhadap pihak-pihak yang memegang teguh kebenaran, niscaya akan menemui akibat yang bertentangan dengan harapan mereka, yaitu kebinasaan. Demikian pula orang-orang yang ingin memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan jalan mengambil harta orang lain dengan cara yang batil seperti korupsi niscaya akan menemui nasib malang, yaitu: kehilangan harta benda dan harga diri untuk selama-lamanya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Berkata pemuka-pemuka yang menyombong dari kaumnya itu."
(pangkal ayat 88)
Di sini Allah telah memberi petunjuk kepada kita bahwasanya dari kaum Nabi Syu'aib yaitu yang merasa kuat telah merasakan sikap yang menyombong atau membesarkan diri atau menyombongkan diri. Di sini bertemu kalimat ‘istakbaru' yang berarti membesarkan diri atau menyombongkan diri. Orang yang membesarkan diri bukanlah orang besar. Manusia itu sama di hadapan Allah; tidak ada seorang pun yang lebih besar dari yang lain. Apatah lagi kalau dipandang dari segi tubuh. Tinggi manusia hampir sama, besarnya pun hampir sama. Sebab itu, di dalam surah al-Israa' ayat 27, Allah melarang berjalan menyombong di atas permukaan bumi ini, Allah telah memperingatkan bahwa sesungguhnya “engkau tidak akan dapat merobek bumi," betapa pun gagah perkasamu dan “engkau tidak akan dapat menyamai bukit walaupun bagaimana tinggimu." Sebab itu, manusia yang insaf akan hakikat kelemahan dirinya tidaklah akan membesarkan diri.
Orang yang membesarkan diri adalah orang yang lupa daratan, kadang-kadang karena dia memegang kekuasaan. Lantaran kekuasaan itu, dia pun mabuk. Dia menyangka manusia boleh diperlakukannya sekehendak hatinya saja. Lantaran membesarkan diri dan tidak mau kenal bahwa kekuasaan Allah lebih tinggi dari kekuasaannya, mereka pun berkata kepada Syu'aib, “Sesungguhnya akan kami keluarkan engkau hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman beserta engkau dari desa kami." Mereka menyombong lantaran di tangan mereka terpegang kekuasaan dalam negeri. Sebab itu, Syu'aib disuruh memilih salah satu di antara dua. Pertama, segera keluar dari dalam negeri ini bersama sekalian orang yang percaya akan ajarannya atau menjadi pengikut-nya. “Atau kamu sungguh-sungguh kembali kepada agama kami."
Artinya, kalau mereka masih tetap bertahan pada kepercayaan yang baru itu, mereka harus segera keluar dari daerah kekuasaan mereka. Dibuang atau dikucilkan.
Kaum yang sombong itu merasa bahwa iman kepada Allah yang tengah tumbuh ini, bisa dilepaskan saja. Dan, orang kembali pada kekafiran kalau mereka diancam akan dikeluarkan dari kampung halaman, tanah tumpah darah, rumah tangga dan dusun. Karena manusia memang berat akan mehinggal-kan daerah tempat diam sejak kecil. Sebab itu, mereka diancam bahwa kalau mereka tidak kembali kepada agama nenek moyang yang sekarang mereka batalkan itu, mereka tidak akan diizinkan tinggal di kampung itu lagi. Dan, kalau agama yang baru dianut itu dilepaskan, bisalah mereka tinggal tetap di kampung halaman mengerjakan upacara agama yang selama ini dijalankan oleh yang berkuasa.
Anjuran itu telah dijawab oleh Syu'aib dengan tegas,
“Dia berkata,'Bagaimana kalau kami tidak sukar."
(ujung ayat 88)
Bagaimana kalau kami tidak suka menukar agama? Apakah kami akan kamu usir juga?
Dengan bertanya demikian, Syu'aib sudah mengatakan bahwa menukar agama atau kembali kepada agama jahiliyyah, sudah terang mereka tidak suka. Karena sudah terang tidak suka, sikap apa yang akan mereka ambil terhadapnya dan kaumnya?
Dalam keterangan selanjutnya, Syu'aib sudah menjelaskan apa sebab dia tidak bisa kembali kepada agama jahiliyyah,
“Sesungguhnya kami telah mengadakan dusta kepada Allah jika kami kembali pada agama kamu, sesudah kami diselamatkan Allah darinya."
(pangkal ayat 89)
Coba pahamkan maksud ayat ini baik-baik!
Apabila Allah telah menganugerahkan jalan kebenaran bahwa yang patut disembah itu hanyalah Allah Yang Maha Esa, tidak bersekutu yang lain dengan Dia, berarti bahwa jika kita telah diberi terang. Di dalam pikiran murni, tidak ada kekacauan lagi. Sebab, yang benar menurut akal yang benar menurut manthiq (logika) dan menurut ilmu berhitung yang tertinggi (wijskunde) bahwa mustahil Maha Penguasa dan Maha Pengatur berbilang. Dia mesti Satu. Kalau manusia telah sampai kepada pengertian ini, dia akan merasa lega dalam pikirannya. Sebab, untuk mencapai rasa bahagia dalam pikiran ialah bila kita sampai kepada hakikat kebenaran.
Seterusnya, apabila dia telah sampai pada tujuan yang demikian, tidaklah dia mau surut lagi kepada yang tidak benar. Sebab itu, orang yang telah mendapat isi pelajaran tauhid tidaklah mau lagi menyembah berhala. Sebab, menyembah berhala artinya adalah mendustai diri sendiri. Ibadah yang dilakukan berbeda dengan yang dipercayai dan diyakini dalam hati, sama artinya dengan “mengada-ada dusta atas Allah." Padahal, Allah telah menyelamatkan yang bersangkutan dari kepercayaan yang karut itu.
“Dan, tidaklah bagi kami akan kembali kepadanya kecuali jika dikehendaki Allah, Tuhan kami."
Renungkanlah arti yang sangat dalam yang terkandung dalam ayat ini; kecuali jika dikehendaki Allah, Tuhan kami. Hati yang telah mendapat tauhid, tidaklah akan mundur lagi kepada suasana musyrik. Perubahan kembali musyrik sesudah tauhid adalah mustahil pada adat. Matahari terbit dari Timur, terbenam ke Barat, Mustahil pada adat matahari berubah jalan kecuali kalau Allah menghendaki yang lain. Demikian pulalah Syu'aib mengatakan kepada kaumnya. Kalau sekali kami telah diberi petunjuk oleh Allah kepada jalan yang benar, mustahil pada adat bahwa kami akan musyrik kembali. Entah kalau Allah menghendaki lain. Sebab, kekuasaan mutlak adalah pada tangan Allah. Untuk menjelaskan dan memantapkan lagi pendirian itu, berkatalah Syu'aib selanjutnya, “Amat luaslah pengetahuan Tuhan kami atas tiap-tiap sesuatu." Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sehingga pun gerak hati kami dan gerak hati tuan-tuan tidak ada yang sembunyi bagi-Nya.
“Kepada Allah-lah kami bertawakal." Dengan kata-kata seperti ini menyerahlah Syu'aib kepada agama yang lama, dia akan diusir bersama dengan sekalian orang yang beriman kepada ajaran yang dibawanya. Dia merasa bahwa kekuatan pertahanan yang lahir tidak ada padanya. Sebagaimana kebiasaan yang selalu terdapat di permukaan alam ini, pihak yang berkuasa merasa sombong dengan kekuasaannya dan tidak mau tunduk kepada kebenaran. Kalau yang berkuasa hendak bertindak mengusir kalau langit hendak jatuh, apalah artinya kekuatan telunjuk hendak menahannya. Sebab itu, sandaran terakhir pada Syu'aib hanya satu jua, yaitu tawakal kepada Allah. Akan diusir, usirlah. Akan dibunuh, bunuhlah, tetapi pendirian yang telah dipilih dan keyakinan yang telah tertanam, tidaklah ada sata kekuatan pun yang dapat menggesernya.
Tawakalnya itu diiringinya dengan doa, memohon agar Allah sendiri “turun tangan".
“Ya Tuhan kami! Bukakanlah kebenaran di antara kami dan di antara kaum kami krnena Engkaulah yang sebaik-baik pembuka kebenaran."
(ujung ayat 89)
Doa di ujung ayat ini menunjukkan bahwa beliau telah bertemu jalan buntu. Kekuatan beliau sendiri untuk menguasai keadaan tidak ada, beliau tidak mempunyai kekuatan dan kekuasaan karena tampuk negeri terpegang di tangan pemuka-pemuka yang berniat mengusirnya itu. Sedang dia dan orang-orang yang beriman tidak hendak menerima pengusiran itu kalau bukan Allah yang memerintahkan hijrah dan tidak pula mereka hendak menerima paksaan supaya kembali kepada agama yang lama. Sekarang keputusan terakhir adalah kepada Allah sendiri.
Tentu timbul pertanyaan, “Apakah memang sebelum itu Nabi Syu'aib memeluk agama mereka? Kalau tidak, mengapa disuruh kembali? Tentu tidak! Sebagaimana Nabi kita Muhammad ﷺ dari masa kecilnya pun tidak pernah menyembah berhala orang Quraisy meskipun beliau ketika itu belum menjadi rasul. Akan tetapi, karena beliau salah seorang penduduk Mekah dan bergabung dalam pergaulan mereka, tentu dihitungkan orang dia masih memeluk agama mereka. Demikian jugalah Nabi Syu'aib. Sejak semula telah ditanamkan Allah dalam jiwanya rasa tantangan pada perbuatan kaumnya dan tidaklah beliau berbuat sebagaimana yang mereka perbuat. Akan tetapi, timbulnya pertentangan ialah setelah beliau menyatakan pendirian dan mencela perbuatan mereka lalu dia dituduh telah meninggalkan agama nenek moyang dan dipaksa mesti kembali. Seperti itu pulalah maksudnya seketika Nabi Yusuf memberi keterangn kepada kedua kawannya dalam penjara (surah Yuusuf ayat 37), bahwa beliau telah meninggalkan agama kaum yang tidak beriman kepada Allah. Bukanlah berarti bahwa beliau dahulu menyembah berhala.
Ancaman yang keras itu rupanya tidak menggoyangkan pendirian Syu'aib. Dia menambah teguh tawakalnya kepada Allah. Dalam pada itu kaumnya tidak pula berhenti mengancam dan menggertak pengikut-pengikut beliau.
“Dan, berkata pemuka-pemuka yang taifun dari kaumnya itu, ‘Jika kamu mengikuti Syu'aib, sesungguhnya kamu itu adalah orang-orang yang rugi.'"
(ayat 90)
Jika Syu'aib tidak dapat diruntuhkan dengan ancaman, pengikutnyalah sekarang yang diancam. Mereka akan rugi kalau terus mengikuti Syu'aib. Seluruh orang terkemuka menyembah berhala, mereka akan tersisih terus-menerus kalau mereka tidak ikut. Semua orang berlomba-lomba mencari kekayaan dengan berbagai macam jalan, dengan sukatan dan timbangan dua ragam sehingga orang lekas kaya sedang mereka masih secara jujur-jujuran saja, tidak pandai menyesuaikan diri. Lantaran itu teranglah mereka akan terus rugi, jatuh miskin. Coba lihat kami, betapa senangnya hidup kami dengan harta benda banyak berlimpah-limpah.
“Maka, ditimpatah mereka oleh suatu gempa."
(pangkal ayat 91)
Maka, datanglah suatu bencana alam yang hebat menimpa negeri itu. Di dalam ayat ini disebut bahwa gempa besar datang dan di dalam ayat lain disebut pula bahwa adzab yang menimpa orang Madyan ini ialah pekik (jerit) yang sangat keras. Ketika menafsirkan adzab yang menimpa kaum Shalih di ayat 77 sudah juga kita terangkan bahwasanya kedua-duanya ini sama-sama terjadi.
Apabila misalnya suatu gunung berapi meletus dengan dahsyatnya, gempa besar pun timbul, semua bergoyang dan bunyi letusan itu sangatlah kerasnya sehingga menyeramkan,
“Lalu terbenamlah mereka di tempat tinggal mereka."
(ujung ayat 91)
Apabila suatu letusan dahsyat sudah terjadi, menderulah pekik dari bunyi letusan itu dan bergoyanglah bumi, timbullah gempa dan hati sendiri dan badan sendiri pun jadi berguncang. Tidak ada seorang pun yang dapat melepaskan diri dari bahaya, terbenam tertimbunlah mereka, habis musnah.
“Orang-orang yang mendustakan Syu'aib, seakan-akan tidak pernah ada di situ."
(pangkal ayat 92)
Artinya, setelah bencana hebat itu datang, habis punah penduduk negeri itu, tidak ada orang tinggal di sana lagi. Hanya yang tinggal bekas-bekasnya saja lagi. Si penentang-pe-nentang dahulu itu tidak bertemu lagi, bekasnya pun tidak, seakan-akan tidak pernah ada mereka di situ dahulunya. Menjadi peringatan pula kepada kaum Quraisy, tempat ayat-ayat ini diturunkan bahwa bekas negeri Madyan yang telah digulung padang belantara itu, yang kelihatan sekarang sepi tak ada manusia, dahulunya adalah suatu negeri yang ramai. Namun, mereka telah musnah.
“Orang-orang yang telah mendustakan Syu'aib adalah mereka orang-orang yang rugi."
(ujung ayat 92)
Ujung ayat ini adalah membalikkan kenyataan. Karena sebagai tersebut jelas pada ayat 90 di atas tadi, mereka yang telah dibinasakan oleh adzab Allah itu pernah mengatakan bahwa barangsiapa yang mengikuti Syu'aib akan rugi besar sebab tidak menyesuaikan diri dengan keadaan. Sekarang ternyata bukanlah yang mengikut Syu'aib yang rugi, melainkan yang mendustakan ajarannyalah yang rugi karena harta benda yang tidak halal yang dikumpulkan dengan segala macam tipu daya itu, membuat kusut sesudah bumi Allah selesai. Tidak sepeser pun dapat menebus diri dari siksaan Allah yang datang menimpa.
“Lalu berpalingtah dia dari mereka dan berkata, ‘Wahai kaumku! Sesungguhnya telah aku sampaikan kepada kamu segala risalah dari Tuhanku dan telah aku nasihati kamu. Maka, betapalah aku akan bersedih atas kaum yang kafir."
(ayat 93)
Sebagaimana ketika menafsirkan ayat-ayat yang mengenai perjuangan Nabi Shalih di akhir juz lalu demikian jugalah pandangan kita tentang seruan terakhir Nabi Syu'aib ini. Yaitu, mungkin beliau katakan sebelum beliau bersama-sama orang-orang yang beriman berangkat meninggalkan negeri itu karena telah datang Isyarat Allah bahwa adzab akan segera datang lalu beliau bertinggal kata. Dan, boleh jadi juga beliau datang kembali ke sana melihat bekas bencana itu, melihat bangkai telah bergelimpangan, untuk jadi ingatan bagi yang hidup. Dan, peringatan kepada yang telah mati itu sendiri sebab ruh mereka mendengar. Seakan-akan beliau berkata, apalah lagi yang akan disesalkan kepadaku jika begini dahsyatnya bencana yang menimpa kamu; bukankah segala risalah perintah Allah telah aku sampaikan, nasihat telah aku berikan asal ada saja kesempatan.
"
Story of Shu`ayb, upon him be Peace, and the Land of Madyan
Allah says;
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا
And to (the people of) Madyan, (We sent) their brother Shu`ayb.
Muhammad bin Ishaq said,
They (the people of Madyan) are the descendents of Madyan, son of Midyan, son of Ibrahim. Shu`ayb was the son of Mikil bin Yashjur. And in the Syrian language, his name was Yathrun (Jethro).
I (Ibn Kathir) say,
Madyan was the name of the tribe and also a city that is close to Ma`an on route to the Hijaz (from Ash-Sham).
Allah said in another Ayah,
وَلَمَّا وَرَدَ مَأءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُونَ
And when he arrived at the water (a well) of Madyan he found there a group of men watering (their flocks). (28:23)
They are also the people of Al-Aykah (the Woods), as we will mention later on, Allah willing, and our trust is in Him.
قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ
He said:O my people! Worship Allah! You have no other God but Him,
and this is the call of all Messengers,
قَدْ جَاءتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ
Verily, a clear proof (sign) from your Lord has come unto you;
meaning,
`Allah has presented the proof and evidences of the truth of what I brought you.'
He then advised and commanded them,
فَأَوْفُواْ الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُواْ النَّاسَ أَشْيَاءهُمْ
so give full measure and full weight and wrong not men in their things,
meaning, to refrain from cheating people in buying and selling.
They used to treacherously avoid giving full weight and measure.
Allah said in other Ayat,
وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ
(Woe to Al-Mutaffifin (those who give less in measure and weight)... (83:1) until He said,
لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
(before the Lord of all that exists). (83:6)
وَلَا تُفْسِدُواْ فِي الَارْضِ بَعْدَ إِصْلَحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّوْمِنِينَ
and do not do mischief on the earth after it has been set in order, that will be better for you, if you are believers.
These Ayat contain a stern warning and sure promise that we ask Allah to save us from.
Shu`ayb was called `Speaker of the Prophets', because of his eloquent words and eloquent advice, and Allah stated that Shu`ayb said
Prophet Shu`ayb forbade his people from setting up blockades on the roads, saying,
وَلَا تَقْعُدُواْ بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ
And sit not on every road, threatening,
According to As-Suddi,
threatening people with death if they do not give up their money, as they were bandits,
Ibn Abbas, Mujahid and several others commented:
the believers who come to Shu`ayb to follow him.
The first meaning is better, because Prophet Shu`ayb first said to them,
بِكُلِّ صِرَاطٍ
(on every road...). He then mentioned the second meaning,
وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللّهِ مَنْ امَنَ بِهِ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا
and hindering from the path of Allah those who believe in Him, and seeking to make it crooked.
meaning, you seek to make the path of Allah crooked and deviated.
وَاذْكُرُواْ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلً فَكَثَّرَكُمْ
And remember when you were but few, and He multiplied you.
meaning, you were weak because you were few. But you later on became mighty because of your large numbers. Therefore, remember Allah's favor.
وَانظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
And see what was the end of the mischief-makers.
from the previous nations and earlier generations. See the torment and punishment they suffered, because they disobeyed Allah and rejected His Messengers.
Shu`ayb continued
وَإِن كَانَ طَأيِفَةٌ مِّنكُمْ امَنُواْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ وَطَأيِفَةٌ لَّمْ يْوْمِنُواْ
And if there is a party of you who believes in that with which I have been sent and a party who does not believe,
that is, if you divided concerning me,
فَاصْبِرُواْ
so be patient,
that is, then wait and see,
حَتَّى يَحْكُمَ اللّهُ بَيْنَنَا
until Allah judges between us, (and you),
وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِين
and He is the best of judges.
Surely, Allah will award the best end to those who fear and obey Him and He will destroy the disbelievers
Allah describes the way the disbelievers answered His Prophet Shu`ayb and those who believed in him, by threatening them with expulsion from their village, or with forceful reversion to the disbeliever's religion.
Allah tells,
قَالَ الْمَلُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُواْ مِن قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ امَنُواْ مَعَكَ مِن قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا
The chiefs of those who were arrogant among his people said:""We shall certainly drive you out, O Shu`ayb and those who have believed with you from our town, or else you (all) shall return to our religion.""
The chiefs spoke the words mentioned here to the Messenger Shu`ayb, but intended it for those who followed his religion too.
The statement,
قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ
He said:""Even though we hate it!""
means, would you force us to do that, even though we hate what you are calling us to
قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللّهِ كَذِبًا إِنْ عُدْنَا فِي مِلَّتِكُم بَعْدَ إِذْ نَجَّانَا اللّهُ مِنْهَا
""We should have invented a lie against Allah if we returned to your religion, after Allah has rescued us from it.
Certainly if we revert to your religion and accept your ways, we will have uttered a tremendous lie against Allah by calling partners as rivals to Him,
وَمَا يَكُونُ لَنَا أَن نَّعُودَ فِيهَا إِلاَّ أَن يَشَاء اللّهُ رَبُّنَا
And it is not for us to return to it unless Allah, our Lord, should will.
This part of the Ayah refers all matters to Allah's will, and certainly, He has perfect knowledge of all matters and His observation encompasses all things,
وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا
Our Lord comprehends all things in His knowledge.
عَلَى اللّهِ تَوَكَّلْنَا
In Allah (Alone) we put our trust.
concerning all our affairs, what we practice of them and what we ignore,
رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ
Our Lord! Judge between us and our people in truth,
judge between us and our people and give us victory over them,
وَأَنتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ
for You are the best of those who give judgment.
and You are the Most Just Who never wrongs any in His judgment
Allah tells,
وَقَالَ الْمَلُ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوْمِهِ
The chiefs of those who disbelieved among his people said (to their people):
Allah describes the enormity of disbelief, rebellion, transgression and misguidance (of Shu`ayb's people) and the defiance of truth encrypted in their hearts. They vowed, saying,
لَيِنِ اتَّبَعْتُمْ شُعَيْباً إِنَّكُمْ إِذاً لَّخَاسِرُونَ
""If you follow Shu`ayb, be sure then you will be the losers!""
Allah answered them,
فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُواْ فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ
So the earthquake seized them and they lay (dead), prostrate in their homes.
Allah said that the earthquake shook them, as punishment for threatening to expel Shu`ayb and his followers.
Allah mentioned their end again in Surah Hud,
وَلَمَّا جَأءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِّنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُواْ الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُواْ فِى دِيَـرِهِمْ جَـثِمِينَ
And when Our commandment came, We saved Shu`ayb and those who believed with him by a mercy from Us. And the Sayhah (loud cry) seized the wrongdoers, and they lay (dead) prostrate in their homes. (11:94)
This Ayah mentions the Sayhah (cry) that struck them after they mocked Shu`ayb, saying,
أَصَلَتُكَ تَأْمُرُكَ
. (Does your Salah (prayer) command you...11:87), so it was befitting to mention here the cry that made them silence.
In Surah Ash-Shu`ara, Allah said,
فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمْ عَذَابُ يَوْمِ الظُّلَّةِ إِنَّهُ كَانَ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
But they belied him, so the torment of the Day of Shadow (a gloomy cloud) seized them. Indeed that was the torment of a Great Day. (26:189) because they challenged Shu`ayb,
فَأَسْقِطْ عَلَيْنَا كِسَفًا مِّنَ السَّمَاء
(""So cause a piece of the heaven to fall on us, if you are of the truthful!)"" (26:187).
Therefore, Allah stated that each of these forms of punishment struck them on the Day of the Shadow.
First,
فَأَخَذَهُمْ عَذَابُ يَوْمِ الظُّلَّةِ
So the torment of the Day of Shadow (a gloomy cloud) seized them (26:189), when a gloomy cloud came over them (containing) fire, flames and a tremendous light.
Next, a cry from the sky descended on them and a tremor shook them from beneath. Consequently, their souls were captured, their lives were taken and their bodies became idle,
فَأَصْبَحُواْ فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ
(and they lay (dead), prostrate in their homes).
Allah said next
الَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيْبًا كَأَن لَّمْ يَغْنَوْاْ فِيهَا
Those who belied Shu`ayb, became as if they had never dwelt there (in their homes).
meaning, after the torment seized them, it looked as if they never dwelled in the land from which they wanted to expel their Messenger Shu`ayb and his followers.
Here, Allah refuted their earlier statement,
الَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيْبًا كَانُواْ هُمُ الْخَاسِرِينَ
Those who belied Shu`ayb, they were the losers.
Allah tells;
فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ
Then he (Shu`ayb) turned from them and said:
Prophet Shu`ayb, peace be upon him, turned away from his people after the torment, punishment and destruction struck them, admonishing and censuring them by saying to them,
يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ
""O my people! I have indeed conveyed my Lord's Messages unto you and I have given you good advice.""
Shu`ayb said, I have conveyed to you what I was sent with, so I will not feel any sorrow for you since you disbelieved in what I brought you,
فَكَيْفَ اسَى عَلَى قَوْمٍ كَافِرِينَ
""Then how can I grieve over people who are disbelievers!"""
Those who denied Shu'ayb (alladheena kadhdhaboo Shu'ayban, this constitutes the subject [of the sentence], the predicate of which is [introduced by the following ka-an, 'as if']), it is as if (ka-an, has been softened, its subject omitted, in other words [understand it as] ka-annahum) they had never dwelt, [never] had residence, there, in those dwelling-places of theirs; those who denied Shu'ayb, they were the losers (the emphasis effected by the repetition of the relative clause [alladheena kadhdhaboo Shu'ayban, 'those who denied Shu'ayb'] and what follows it is intended as a refutation of what they had said previously [sc. 'if you follow Shu'ayb, you shall indeed be losers']).
In verse 92, the fate of the people of Sayyidna Shu'aib (علیہ السلام) has been cited as a lesson - which is the real purpose behind the description of this event. It was said: الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَأَن لَّمْ يَغْنَوْا فِيهَا (Those who belied Shu'aib are as if they never dwelt there). One of the meanings of the word: غِنیٰ (ghina) is to live at some place in peace and comfort. At this place, this is the meaning intended. The sense of the sentence is that the homes where they lived in peace and comfort, turned so deserted after this punishment as if peace and comfort had never existed there. Then, it was said: الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَانُوا هُمُ الْخَاسِرِينَ (Those who belied Shu'aib were themselves the losers). The hint given is that these were the people threatening to throw Sayyidna Shu'aib (علیہ السلام) and his believing companions out from their city, but, in the end, the loss hit none but them.