Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
فَتَوَلَّىٰ
maka dia berpaling
عَنۡهُمۡ
dari mereka
وَقَالَ
dan dia berkata
يَٰقَوۡمِ
wahai kaumku
لَقَدۡ
sesungguhnya
أَبۡلَغۡتُكُمۡ
aku telah menyampaikan kepadamu
رِسَالَةَ
risalah
رَبِّي
Tuhanku
وَنَصَحۡتُ
dan aku telah memberi nasehat
لَكُمۡ
bagi kalian
وَلَٰكِن
tetapi
لَّا
tidak
تُحِبُّونَ
kamu menyukai
ٱلنَّـٰصِحِينَ
orang-orang yang memberi nasehat
فَتَوَلَّىٰ
maka dia berpaling
عَنۡهُمۡ
dari mereka
وَقَالَ
dan dia berkata
يَٰقَوۡمِ
wahai kaumku
لَقَدۡ
sesungguhnya
أَبۡلَغۡتُكُمۡ
aku telah menyampaikan kepadamu
رِسَالَةَ
risalah
رَبِّي
Tuhanku
وَنَصَحۡتُ
dan aku telah memberi nasehat
لَكُمۡ
bagi kalian
وَلَٰكِن
tetapi
لَّا
tidak
تُحِبُّونَ
kamu menyukai
ٱلنَّـٰصِحِينَ
orang-orang yang memberi nasehat
Terjemahan
Kemudian dia (Saleh) pergi meninggalkan mereka sambil berkata, "Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat Tuhanku kepadamu dan aku telah menasihati kamu. Tetapi kamu tidak menyukai orang yang memberi nasehat."
Tafsir
(Maka Saleh berpaling) ia meninggalkan (mereka seraya berkata, "Hai kaumku! Sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasihat kepadamu tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.").
Tafsir Surat Al-A'raf: 79
Maka Saleh meninggalkan mereka seraya berkata, "Wahai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepada kalian risalah (amanat) Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepada kalian, tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.”
Ayat 79
Ungkapan ini merupakan kecaman keras yang disampaikan Nabi Saleh terhadap kaumnya setelah Allah membinasakan mereka karena mereka membangkang terhadap perintah Allah, serta kesombongan mereka tidak mau menerima kebenaran dan berpaling dari petunjuk menuju kepada kesesatan. Nabi Saleh mengatakan demikian kepada mereka setelah mereka dibinasakan sebagai kecaman dan celaan, karena mereka memang mendengarnya.
Seperti yang disebutkan di dalam kitab Shahihain, bahwa ketika Rasulullah ﷺ mendapat kemenangan dalam Perang Badar, maka beliau tinggal di Badar selama tiga hari. Kemudian beliau memerintahkan supaya mempersiapkan kendaraan untanya setelah tiga malam berlalu, yaitu pada penghujungnya. Rasulullah ﷺ menaiki unta kendaraannya dan berjalan sampai di sumur Qulaib, lalu berhenti di dekatnya dan bersabda:
“Wahai Abu Jahal ibnu Hisyam, wahai Atabah ibnu Rabi'ah, wahai Syaibah ibnu Rabi'ah, dan wahai Fulan bin Fulan, apakah kalian sekarang telah menjumpai apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kalian sebagai suatu kenyataan? Karena sesungguhnya aku pun telah menjumpai apa yang telah dijanjikan oleh Tuhanku kepadaku secara nyata.” Maka Umar bertanya kepada Nabi ﷺ, "Wahai Rasulullah, mengapa engkau berbicara kepada orang-orang yang telah menjadi bangkai?" Rasulullah ﷺ bersabda: “Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaanNya, kalian sebenarnya bukanlah orang-orang yang lebih mendengarkan perkataanku dibandingkan mereka, tetapi mereka tidak dapat menjawab.
Di dalam kitab Sirah disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada mereka (orang-orang musyrik Mekah yang terbunuh dalam Perang Badar): “Kalian adalah keluarga seorang nabi yang paling buruk terhadap nabinya. Kalian mendustakan aku, sementara orang lain mempercayai aku. Kalian mengusirku, sedangkan orang lain melindungi aku. Kalian memerangiku, sedangkan orang lain menolongku. Maka kalian adalah seburuk-buruk keluarga nabi terhadap nabinya. Demikian pula yang dikatakan oleh Nabi Saleh kepada kaumnya dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya aku telah menyampaikan kepada kalian risalah (amanat) Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepada kalian.” (Al-A'raf: 79)
Maksudnya, kalian tidak mau mengambil manfaat apa yang telah aku sampaikan kepada kalian, karena memang kalian tidak menyukai kebenaran dan tidak mau menuruti nasihat.
Dalam firman selanjutnya disebutkan:
“Tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.” (Al-A'raf: 79)
Menurut sebagian ahli tafsir, setiap nabi yang umatnya dibinasakan, nabinya pergi dari tempat kaumnya, lalu bermukim di tanah suci Mekah. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Zam'ah ibnu Saleh, dari Salamah ibnu Wahram, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ melewati Lembah Asfan dalam hajinya, beliau bertanya, "Wahai Abu Bakar, lembah apakah ini?" Abu Bakar menjawab, "Ini Lembah Asfan." Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Nabi Hud a.s. dan Nabi Saleh a.s. pernah lewat daerah ini dengan mengendarai untanya yang tali kendalinya dari tambang, kain sarungnya adalah kain abaya. dan selendangnya adalah kain nimar, mereka mengucapkan talbiyah saat berhaji ke Baitullah yang Atiq.” Hadits ini gharib bila ditinjau dari segi jalurnya, tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengetengahkannya.
Setelah melihat kebinasaan yang menimpa kaumnya akibat disambar petir dan gempa, kemudian dia, Nabi Saleh, pergi dengan berat hati, sedih dan rasa haru meninggalkan mereka yang sudah mati sambil berkata dengan penuh penyesalan dan rasa iba, Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat Tuhanku berupa pesan dan peringatan-Nya, kepadamu dan aku telah cukup menasihati kamu dengan melarangmu melakukan perbuatan yang akan membawa bencana bagimu. Tetapi kamu tidak menghiraukan seruanku, bahkan tidak menyukai orang yang memberi nasihat, siapa pun dia. Seruan Nabi Saleh ini menunjukkan cintanya yang sa-ngat besar kepada kaumnya. Setelah menuturkan kisah kaum Samud yang binasa disambar petir akibat kedurhakaan mereka, selanjutnya Allah menyebutkan kisah yang lain, yakni Nabi Lut beserta kaumnya. Dan Kami juga telah mengutus Nabi Lut. Ingatlah ketika dia berkata dengan nada keras kepada kaumnya yang ketika itu melakukan kedurhakaan besar, Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yakni perbuatan teramat buruk, yaitu homoseksual, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun di zaman apa pun sebelum kamu di dunia ini' Nabi Lut berharap dengan ucapannya, mereka sadar dan meninggalkan perbuatan itu.
Setelah kaum tsamud binasa akibat disambar petir, ayat ini menerangkan bahwa Nabi Saleh dengan rasa haru dan sedih berkata kepada mereka yang sudah mati, bahwa dia sesungguhnya telah menyampaikan amanat Tuhannya dan telah cukup memberi nasihat kepada mereka namun mereka tidak suka menerima nasihat. Seruan Nabi Saleh ini yang ditujukan kepada kaumnya yang telah mati itu menunjukkan betapa cintanya kepada kaumnya. Hal mana mengingatkan kita kepada seruan Nabi Muhammad terhadap sebagian orang-orang Quraisy yang telah mati dan sudah dikuburkan dalam Perang Badar. Rasulullah berkata:
"Wahai Abu Jahal bin Hisyam, wahai Utbah bin Rabi'ah. Wahai Syaibah bin Rabiah dan wahai Fulan anak Fulan, Adakah sekarang ini kamu menemukan apa-apa yang dijanjikan Allah itu benar? Karena aku telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhanku itu benar. Umar berkata, "Ya Rasulullah, apa guna berbicara dengan tubuh yang tidak bernyawa?" Rasulullah menjawab, "Demi Tuhan dimana diriku tergantung pada-Nya. Kamu tidaklah lebih mendengar dari mereka terhadap apa yang aku katakan. Tetapi mereka tidak dapat menjawab." (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu thalhah al-Anshari).
Ayat 79 ini tidak mengutarakan bahwa Nabi Saleh menghindar dari kaumnya sebelum datang azab Allah, demikian juga tidak mengutarakan tentang nasib sebagian kaum tsamud yang beriman kepada Nabi Saleh. Namun ayat 79 ini jelas mengutarakan bahwa Nabi Saleh diselamatkan oleh Allah. Ibnu Katsir menerangkan bahwa Allah menyelamatkan Nabi Saleh dan pengikutnya dari azab tersebut kemudian pergi dan tinggal di Haran.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
NABI SHALIH DAN KAUM TSAMUD
“Dan kepada Tsamud, saudara mereka, Shalih."
(pangkal ayat 73)
Artinya, kepada kaum Tsamud, Allah pun telah mengutus pula saudara mereka sendiri, Nabi Shalih. Kata ahli tarikh dan tafsir, Tsamud sebagai nama dari satu kabilah bangsa Arab pula, diambil dari nama nenek mereka Tsamud bin Atsir bin Iram bin Sam bin Nuh. Menurut riwayat dari Amir bin al-Ala' arti Tsamud ialah sedikit, karena mereka tinggal di satu daerah yang airnya amat sedikit. Dan, disebut orang juga Nasab turunan Nabi Shalih itu, yaitu Shalih bin Ubaid bin Usaif bin Musikh bin Ubaid bin Hadzir bin Tsamud. Dia sampaikan pula seruan kepada kaumnya, sebagai seruan Nuh dan Hud juga, “Dia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah olehmu akan Allah, tidak ada bagi kamu sembarang Tuhan pun selain Dia." Dimulai dengan tauhid dan dibantah segala pemujaan kepada yang lain, kemudian itu Nabi Shalih berkata, “Telah datang kepada kamu suatu keterangan daripada Tuhan kamu. Inilah dia unta Allah untuk kamu sebagai satu tanda." Kata satu penafsiran, mereka sendiri yang meminta tanda itu, lalu ditimbulkan Allah seekor unta dari dalam sebuah batu sebagai suatu mukjizat dari Nabi Shalih. Lalu, diperbuat janji bahwa akan berganti minum sehari buat mereka dan sehari buat unta."Maka biarkanlah dia makan dari bumi Allah dan janganlah kamu ganggu dia dengan suatu kejahatan pun."
Di dalam surah al-Qamar dan surah asy-Syu'araa' diterangkan bahwa air minum dibagi sehari untuk mereka dan sehari untuk unta, demikian juga di dalam surah asy-Syams dan perjanjian-perjanjian itulah yang diperingatkan di ayat ini oleh Nabi Shalih, biarkanlah unta itu makan dan minum di bumi Allah. Unta Allah yang punya, bumi pun, Allah yang punya. Nabi Shalih peringatkan jangan unta itu diganggu.
“Karena akan menimpa kepada kamu adzab yang pedih."
(ujung ayat 73)
Kalau unta itu kamu ganggu dan pembagian giliran air tidak kamu pegang setia.
“Dan, ingatlah oleh kamu ketika Dia telah menjadikan kamu khalifah-khalifah dari sesudah ‘Ad, dan Dia beri kekokohan kamu di bumi."
(pangkal ayat 74)
Sebagai Nabi Hud memberi ingat kepada kaum ‘Ad dahulu, Nabi Shalih di sini pun memberi ingat kepada kaum Tsamud bahwa setelah kaum ‘Ad musnah, mereka pulalah yang diberi giliran Allah untuk naik menjadi pengganti mereka, menjadi khalifah. Kedudukan mereka telah menjadi kukuh, artinya diberi kekuasaan dan kesuburan, bisa mengatur diri sendiri dengan baik, berkat karunia Allah, “Kamu jadikan dari tanahnya yang rata mahligal-mahligai dan kamu pahat gunung-gunung untuk rumah-rumah." Kedua kata ini menunjukkan betapa kemajuan yang telah mereka capai dalam ilmu bangunan. Di tanah rata mereka mendirikan mahligal-mahligai istana atau gedung-gedung indah dan di bukit-bukit, mereka pahat bukit itu sebagus-bagusnya, lalu mereka jadikan tempat tinggal. Kata setengah ahli tafsir, di musim dirigin mereka berpindah ke rumah-rumah yang di gunung-gunung itu, sebab di sana mereka dapat terpelihara dari embusan angin badai padang pasir. Setelah habis musim dirigin, mereka turun kembali ke kota dan meneruskan kegiatan hidup, bercocok tanam dan berusaha yang lain. Di dalam surah asy-Syu'araa' dibayangkan pula betapa suburnya tanah mereka dan baik hasilnya tiap-tiap tahun sehingga mereka menjadi penduduk yang kaya,
“Maka, ingatlah olehmu nikmat-nikmat Allah itu dan janganlah kamu bersimaharajalela di bumi berbuat kebinasaan."
(ujung ayat 74)
Pada ayat ini sudah terbayang gejala yang tampak oleh Nabi Shalih dari kaumnya, yaitu nikmat Allah dari ketinggian pertukangan dan kesuburan tanah, telah menyebabkan mereka lupa kepada Allah yang memberikan nikmat itu sendiri. Mereka telah berlomba mencari kekayaan saja dan bersimegah mahligai dan “Bu-ngalow" di gunung. Timbullah kecongkakan, kemewahan dan boros sehingga nikmat Allah itu tidak lagi dipergunakan sebaik-baiknya, melainkan bersimaharajalela berkehendak hati.
Melihat gaya jalan ayat, mengertilah kita bahwa dalam negeri Tsamud telah terdapat dua macam masyarakat, yaitu yang sombong sebab kaya dan tidak mau menerima pengajaran, satu lagi masyarakat sederhana, tetapi lekas menerima iman. Hal ini tampak pada ayat selanjutnya,
“Berkata pemuka-pemuka dari orang-inang yang menyombong di dalam kaumnya itu kepada orang-orang yang lemak, bagi yang beriman di antara mereka, ‘Apakah kamu mengetahui bahwa Shalih itu diutus dari Tuhannya?'"
(pangkal ayat 75)
Ayat ini menunjukkan terdapatnya dua golongan itu, golongan kaya dan mewah disertai kesombongan, dan golongan yang lemah. Maka golongan mewah dan sombong itu tidak mau menerima seruan Nabi Shalih, sedang yang biasanya terlebih dahulu menyediakan diri menjadi pengikut Rasul ialah golongan yang dipandang lemah itu. Di sini diterangkan bahwa dari golongan yang sombong itu yang dianggap pemukanya, merekalah yang bertanya kepada golongan lemah yang menjadi pengikut Shalih, “Apakah kalian tahu benar bahwa Si Shalih itu memang Rasul Allah?" Mungkin ada ujungnya lagi, apakah dia itu tidak seorang penipu atau pendusta? Memang orang yang sombong itu suka bertanya sambil mengejek, apatah lagi kalau ada suatu sikap yang mereka anggap mengganggu kesenangan mereka dan membuka rahasia hati mereka.
“Mereka menjawab, ‘Kami ini percaya kepada apa yang disuruh dia menyampaikan itu.'"
(ujung ayat 75)
Si sombong bertanya sambil mengejek, si orang yang dipandang lemah, tetapi telah beriman dan yakin dalam imannya, menjawab dengan tegas bahwa Shalih itu seorang Rasul Allah, dan kami percaya pada segala seruan dan ajaran yang dia bawa. Kami tidak sedikit pun menaruh keraguan. Memang didapati di segala zaman, orang-orang yang demikian memegang ajaran agama dengan yakin.
“Berkata orang-orang yang membesarkan diri itu, ‘Sesungguhnya kami dengan apa yang kamu percayai itu, adalah menolak.'"
(ayat 76)
Di sini dibayangkan bahwa kesombongan itu telah sampai di puncak. Dibayangkan benar dalam jawaban mereka suatu tantangan karena mereka orang kaya dan mewah. Biarlah kalian orang-orang yang lemah kehidupannya, orang-orang miskin, orang melarat, percaya kepada seruan-seruan demikian, namun bagi kami semuanya itu adalah omong kosong belaka. Kekayaan kami cukup dan kemewahan kami meliputi.
Demikianlah telah terjadi dalam negeri Tsamud, golongan yang taat mengikuti ajaran Rasul, setia memelihara janji dengan Allah berhubung dengan unta Allah itu, tetapi selalu dicemooh golongan yang sombong. Dan, satu waktu kesombongan itu sampai ke puncak.
“Maka mereka sembelihlah unta itu dan mendurhakalah mereka dari perintah Tuhan mereka, seraya mereka berkata, ‘Hai Shalih, datangkanlah kepada kami apa yang telah engkau janjikan kepada kami itu, jika benar engkau dari orang yang diutus.'"
(ayat 77)
Ayat ini telah membayangkan nian sikap hidup dan karakter mereka. Sejak mula mereka tidak mau percaya bahwa Shalih adalah Rasul Allah, sampai mereka meminta bukti, lalu di-ciptakan Allah seekor unta dari lubang batu dan dibuat janji akan memeliharanya baik-baik dan menjaga makanannya dan patuh menuruti aturan minum berganti hari.
Akan tetapi, kehidupan yang mewah yang menimbulkan sombong itu, tidaklah rupanya dapat diubah oleh bayyinah atau bukti unta itu. Mereka, sembelih unta itu. Ada riwayat mengatakan bahwa beberapa orang pemuda sakit hati sebab mereka terhalang mencampur arak dengan air pada hari minuman unta. Mereka benci kepada Nabi Shalih sebab sejak ada unta itu mereka terhambat-hambat memakai air. Itulah sebab, mereka kepung unta itu bersama-sama, mereka bantai dan dagingnya mereka makan beramal-ramai. Setelah itu, mereka tantang lagi Nabi Shalih. Mana dia adzab itu, bawa kemari, Suatu keruntuhan akhlak karena hidup sangat mewah,
“Maka menimpalah kepada mereka gempa. Lalu, jadilah mereka di dalam rumah mereka menjadi kaku."
(ayat 78)
Di sini disebut bahwa kaum Tsamud yang sombong itu dimusnahkan oleh adzab berupa gempa, bergoyang bumi, hancur segala bangunan, baik di tanah datar atau di lereng gunung tadi. Di dalam surah Fushshiiat, Hamim Sajadah disebut bahwa mereka binasa oleh mendengar suara pekik atau sorak yang sangat keras sehingga lantaran bunyi itu, tidaklah tahan urat saraf mereka sehingga pecah perut, pecah empedu dan hati kejang. Penafsir zaman modern mengumpulkan keduanya, yaitu datangnya petir halilintar yang dahsyat, memecah anak telinga, mungkin sebagai bunyi letusan bom atom, di zaman kita ini. Ketika petir mengkilap, timbul letusan, terdengar bunyinya dan mengguncang bumi sehingga lantaran sangat dahsyatnya bisa putus rangkai kati, pecah empedu atau kaku di dalam rumah.
Di dalam surah Huud akan bertemu kelak bahwa Nabi Shalih memberi kesempatan kepada kaumnya. Dalam masa tiga hari itulah Nabi Shalih menyuruh segala orang yang beriman meninggalkan negeri itu. Seketika akan berangkat, berkatalah beliau,
“Maka berpalinglah dia daripada mereka dan dia berkata, ‘Wahai kaumku, sesungguhnyanya telah aku sampaikan kepada kamu rnisalah dari Tuhanku."
(pangkal ayat 79)
Tugas kewajiban yang dipikulkan kepadaku telah aku laksanakan, yaitu menyeru kamu supaya kembali ingat kepada Allah Yang Satu, tetapi kamu menyombong juga, bahkan kamu tolak segala keteranganku dengan sombong, lalu kamu sembelih unta itu.
“Dan, aku telah bernasihat kepada kamu, tetapi kamu tidak suka kepada orang-orang yang bernasihat."
(ujung ayat 79)
Aku nasihatkan supaya kesombongan itu dihilangkan, dan biarkanlah unta Allah minum sesukanya pada harinya yang ditentukan, tetapi kamu benci kepadaku, kamu tidak suka pada segala orang yang memberi nasihatmu jalan yang baik, untuk muslihat kamu sendiri, sampai lantaran sombongmu unta itu kamu bunuh. Sekarang tunggulah apa yang akan kejadian dalam tiga hari ini. Setelah memperingatkan itu, Nabi Shalih berangkat, dan cukup tiga hari setelah menyembelih unta, datanglah adzab itu dan hancurlah negeri Tsamud.
Akan tetapi dalam penafsiran yang lain, perkataan ini dikeluarkan oleh Nabi Shalih setelah negeri itu binasa. Beliau datang lagi ke sana, dan disampaikannyalah keluhan hatinya pada bangkal-bangkai yang telah bergelimpangan itu, sebagaimana telah dilakukan pula yang demikian oleh Rasulullah ﷺ setelah kaum musyrikin yang binasa di dalam Peperangan Badar 70 orang banyaknya yang tewas. Beliau panggil nama ketua-ketua kaum Quraisy itu satu demi satu, termasuk Abu Jahal. Hai si Fulan anak si Fulan, sudah senangkah hatimu karena kamu menentang Allah dan Rasul-Nya? Kami telah mendapati janji yang benar dari Allah. Apakah kamu sekarang telah mendapati pula dengan benar apa yang dijanjikan Tuhan kamu kepada kamu? Padahal, semuanya telah jadi bangkai. Lalu, bertanyalah Umar bin Khaththab, “Ya Rasul Allah, Apa yang akan dapat dikatakan lagi oleh bangkal-bangkai yang tidak bernyawa itu?" Maka menjawablah Rasululllah ﷺ, “Demi Allah, yang jiwa Muhammad ada dalam tangan-Nya, bahkan mereka lebih mendengar nyata apa yang aku katakan itu daripada kamu sekalian."
Hadits ini dirawikan oleh Bukhari dari jalan Qatadah dan Abu Thalhah al-Anshari. Malahan, Qatadah menyambung, “Di saat itu mereka dihidupkan Allah supaya mereka dengar apa yang dikatakan Rasulullah ﷺ"
Maka amat janggallah kalau kaum Tsamud yang telah mati atau kaum musyrikin yang telah tewas di Peperangan Badar mendengar suara kedua Rasulullah itu dijadikan tempat qiyas oleh orang-orang yang memuja kubur, yang berkata bahwa “Tuan Syekh" di dalam kubur itu mendengar seruan orang yang memohon kepada Allah dengan perantaraan mereka, dan mereka bersedia menyampaikan. Suatu qiyas yang amat timpang, mengambil contoh perbuatan musyrik dari orang yang telah musnah karena kemusyrikan, untuk mempertahankan perbuatan syirik pula.
The Story of Prophet Salih and Thamud
Allah said,
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا
And to Thamud (people, We sent) their brother Salih.
meaning, to the tribe of Thamud, We sent their brother Salih,
قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ
He said:O my people! Worship Allah! You have no other god but Him.
All Allah's Messengers called to the worship of Allah alone without partners.
Allah said in other Ayat,
وَمَأ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِى إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ أَنَاْ فَاعْبُدُونِ
And We did not send any Messenger before you but We revealed to him (saying):None has the right to be worshipped but I, so worship Me. (21:25)
and,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللَّهَ وَاجْتَنِبُواْ الْطَّـغُوتَ
And verily, We have sent among every Ummah a Messenger (proclaiming):Worship Allah (Alone), and avoid Taghut (all false deities). (16:36)
Thamud asked that a Camel appear from a Stone, and it did
Prophet Salih said,
قَدْ جَاءتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ هَـذِهِ نَاقَةُ اللّهِ لَكُمْ ايَةً
Indeed there has come to you a clear sign from your Lord. This she-camel of Allah is a sign unto you;
meaning, a miracle has come to you from Allah testifying to the truth of what I came to you with.
Salih's people asked him to produce a miracle and suggested a certain solid rock that they chose, which stood lonely in the area of Hijr, and which was called Al-Katibah. They asked him to bring a pregnant camel out of that stone.
Salih took their covenant and promises that if Allah answers their challenge, they would believe and follow him. When they gave him their oaths and promises to that, Salih started praying and invoked Allah (to produce that miracle). All of a sudden, the stone moved and broke apart, producing a she-camel with thick wool. It was pregnant and its fetus was visibly moving in its belly, exactly as Salih's people asked. This is when their chief, Jundu bin `Amr, and several who followed him believed.
The rest of the noblemen of Thamud wanted to believe as well, but Dhu'ab bin `Amr bin Labid, Al-Habbab, who tended their idols, and Rabbab bin Sum`ar bin Jilhis stopped them.
One of the cousins of Jundu bin `Amr, whose name was Shihab bin Khalifah bin Mikhlat bin Labid bin Jawwas, was one of the leaders of Thamud, and he also wanted to accept the message. However, the chiefs whom we mentioned prevented him, and he conceded to their promptings.
The camel remained in Thamud, as well as, its offspring after she delivered it before them. The camel used to drink from its well on one day and leave the well for Thamud the next day. They also used to drink its milk, for on the days she drank water, they used to milk her and fill their containers from its milk.
Allah said in other Ayat,
وَنَبِّيْهُمْ أَنَّ الْمَأءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْ كُلُّ شِرْبٍ مُّحْتَضَرٌ
And inform them that the water is to be shared between (her and) them, each one's right to drink being established (by turns). (54:28)
and,
هَـذِهِ نَاقَةٌ لَّهَا شِرْبٌ وَلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَّعْلُومٍ
Here is a she-camel:it has a right to drink (water), and you have a right to drink (water) (each) on a day, known. (26:155)
The camel used to graze in some of their valleys, going through a pass and coming out through another pass. She did that so as to be able to move easily, because she used to drink a lot of water. She was a tremendous animal that had a strikingly beautiful appearance. When she used to pass by their cattle, the cattle would be afraid of her.
When this matter continued for a long time and Thamud's rejection of Salih became intense, they intended to kill her so that they could take the water for themselves every day. It was said that all of them (the disbelievers of Thamud) conspired to kill the camel.
Qatadah said that he was told that,
The designated killer of the camel approached them all, including women in their rooms and children, and found out that all of them agreed to kill her. This fact is apparent from the wording of the Ayat,
فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنبِهِمْ فَسَوَّاهَا
Then they denied him and they killed it. So their Lord destroyed them because of their sin, and made them equal in destruction! (91:14)
and,
وَءَاتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُواْ بِهَا
And We sent the she-camel to Thamud as a clear sign, but they did her wrong. (17:59)
فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوَءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
so you leave her to graze in Allah's earth, and touch her not with harm, lest a painful torment should seize you.
وَاذْكُرُواْ إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاء مِن بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الَارْضِ تَتَّخِذُونَ مِن سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا فَاذْكُرُواْ الاء اللّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الَارْضِ مُفْسِدِينَ
And remember when He made you successors (generations) after `Ad and gave you habitations in the land, you build for yourselves palaces in plains, and carve out homes in the mountains. So remember the graces (bestowed upon you) from Allah, and do not go about making mischief on the earth.
قَالَ الْمَلُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُواْ مِن قَوْمِهِ لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُواْ لِمَنْ امَنَ مِنْهُمْ أَتَعْلَمُونَ أَنَّ صَالِحًا مُّرْسَلٌ مِّن رَّبِّهِ قَالُواْ إِنَّا بِمَا أُرْسِلَ بِهِ مُوْمِنُونَ
The leaders of those who were arrogant among his people said to those who were counted weak -- to such of them as believed:Know you that Salih is one sent from his Lord.
They said:We indeed believe in that with which he has been sent.
قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُواْ إِنَّا بِالَّذِيَ امَنتُمْ بِهِ كَافِرُونَ
Those who were arrogant said:Verily, we disbelieve in that which you believe in.
Allah said here
فَعَقَرُواْ النَّاقَةَ
So they killed the she-camel,
Therefore, these Ayat stated that the entire tribe shared in agreeing to this crime, and Allah knows best.
وَعَتَوْاْ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُواْ يَا صَالِحُ ايْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِن كُنتَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
and insolently defied the commandment of their Lord, and said:O Salih! Bring about your threats if you are indeed one of the Messengers (of Allah).
فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُواْ فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ
So the earthquake seized them, and they lay (dead), prostrate in their homes.
Thamud kills the She-Camel
Imam Abu Jafar Ibn Jarir and other scholars of Tafsir said that;
the reason behind killing the camel was that a disbelieving old woman among them named Umm Ghanm Unayzah, the daughter of Ghanm bin Mijlaz, had the severest enmity among Thamud towards Salih, peace be upon him. She had beautiful daughters and she was wealthy, and Dhu'ab bin `Amr, one of the leaders of Thamud, was her husband.
There was another noblewoman whose name was Saduf bint Al-Muhayya bin Dahr bin Al-Muhayya, who was of noble family, wealthy and beautiful. She was married to a Muslim man from Thamud, but she left him.
These two women offered a prize for those who swore to them that they would kill the camel.
Once, Saduf summoned a man called Al-Habbab and offered herself to him if he would kill the camel, but he refused. So she called a cousin of hers whose name was Musaddi bin Mihraj bin Al-Muhayya, and he agreed.
As for Unayzah bint Ghanm, she called Qudar bin Salif bin Jundu, a short person with red-blue skin, a bastard, according to them. Qudar was not the son of his claimed father, Salif, but the son of another man called, Suhyad. However, he was born on Salif's bed (and thus named after him).
Unayzah said to Qudar, I will give you any of my daughters you wish, if you kill the camel.
Qudar bin Salif and Musaddi bin Mihraj went along and recruited several mischievous persons from Thamud to kill the camel. Seven more from Thamud agreed, and the group became nine, as Allah described, when He said,
وَكَانَ فِى الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِى الاٌّرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ
And there were in the city nine men, who made mischief in the land, and would not reform. (27:48)
These nine men were chiefs of their people, and they lured the entire tribe into agreeing to kill the camel. So they waited until the camel left the water well, where Qudar waited beside a rock on its path, while Musaddi waited at another rock.
When the camel passed by Musaddi he shot an arrow at her and the arrow pierced her leg. At that time, Unayzah came out and ordered her daughter, who was among the most beautiful women, to uncover her face for Qudar, encouraging Qudar to swing his sword, hitting the camel on her knee. So she fell to the ground and screamed once to warn her offspring. Qudar stabbed her in her neck and slaughtered her. Her offspring went up a high rock and screamed.
Abdur-Razzaq recorded from Ma`mar that someone reported from Al-Hasan Al-Basari that the offspring said,
O my Lord! Where is my mother?
It was said that her offspring screamed thrice and entered a rock and vanished in it, or, they followed it and killed it together with its mother. Allah knows best.
When they finished the camel off and the news reached Prophet Salih, he came to them while they were gathered. When he ﷺ the camel, he cried and proclaimed,
تَمَتَّعُواْ فِي دَارِكُمْ ثَلَثَةَ أَيَّامٍ
(Enjoy yourselves in your homes for three days. (11:65)
The Wicked Ones Plot to Kill Prophet Salih, But the Torment descended on Them
The nine wicked persons killed the camel on a Wednesday, and that night, they conspired to kill Salih. They said,
If he is truthful, we should finish him before we are finished. If he is a liar, we will make him follow his camel.
قَالُواْ تَقَاسَمُواْ بِاللَّهِ لَنُبَيِّتَنَّهُ وَأَهْلَهُ ثُمَّ لَنَقُولَنَّ لِوَلِيِّهِ مَا شَهِدْنَا مَهْلِكَ أَهْلِهِ وَإِنَّا لَصَـدِقُونَ
وَمَكَرُواْ مَكْراً وَمَكَرْنَا مَكْراً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
They said:Swear one to another by Allah that we shall make a secret night attack on him and his household, and thereafter we will surely say to his near relatives:`We witnessed not the destruction of his household, and verily, we are telling the truth.'
So they plotted a plot, and We planned a plan, while they perceived not. (27:49-50)
When they conspired to kill Salih and gathered at night to carry out their plot, Allah, to Whom belongs all might and Who protects His Messengers, rained down stones that smashed the heads of these nine people before the rest of the tribe.
On Thursday, the first of the three days of respite, the people woke up and their faces were pale (yellow), just as Prophet Salih had promised them.
On the second day of respite, Friday, they woke up and found their faces had turned red.
On the third day of the respite, Saturday, they woke up with their faces black.
On Sunday, they wore the fragrance of Hanut (the perfume for enshrouding the dead before burial) and awaited Allah's torment and revenge, we seek refuge with Allah from it.
They did not know what will be done to them or how and from where the torment would come. When the sun rose, the Sayhah (loud cry) came from the sky and a severe tremor overtook them from below; the souls were captured and the bodies became lifeless, all in an hour.
فَأَصْبَحُواْ فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ
(And they lay (dead), prostrate in their homes).
They became dead and lifeless and none among them, whether young, old, male or female, escaped the torment.
The scholars of Tafsir said that none from the offspring of Thamud remained, except Prophet Salih and those who believed in him.
A disbelieving man called Abu Righal was in the Sacred Area at the time and the torment that befell his people did not touch him. When he went out of the Sacred Area one day, a stone fell from the sky and killed him.
Abdur-Razzaq narrated that Ma`mar said that Isma`il bin Umayyah said that; the Prophet passed by the gravesite of Abu Righal and asked the Companions if they knew whose grave it was.
They said, Allah and His Messenger know better.
He said,
هَذَا قَبْرُ أَبِي رِغَالٍ رَجُلٍ مِنْ ثَمُودَ كَانَ فِي حَرَمِ اللهِ فَمَنَعَهُ حَرَمُ اللهِ عَذَابَ اللهِ فَلَمَّا خَرَجَ أَصَابَهُ مَا أَصَابَ قَومهُ فَدُفِنَ هَاهُنَا وَدُفِنَ مَعَهُ غُصْنٌ مِنْ ذَهَبٍ فَنَزَلَ الْقَوْمُ فَابْتَدَرُوهُ بِأَسْيَافِهِمْ فَبَحَثُوا عَنْهُ فَاسْتَخْرَجُوا الْغُصْن
This is the grave of Abu Righal, a man from Thamud. He was in the Sacred Area of Allah and this fact saved him from receiving Allah's torment. When he went out of the Sacred Area, what befell his people also befell him. He was buried here along with a branch made from gold.
So the people used their swords and looked for the golden branch and found it.
Abdur-Razzaq narrated that Ma`mar said that Az-Zuhri said that;
Abu Righal is the father of the tribe of Thaqif
Allah tells;
فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ
Then he (Salih) turned from them, and said:O my people! I have indeed conveyed to you the Message of my Lord, and have given you good advice,
These are the words of admonishment that Salih conveyed to his people after Allah destroyed them for defying Him, rebelling against Him, refusing to accept the truth, avoiding guidance, and preferring misguidance instead. Salih said these words of admonishment and criticism to them after they perished, and they heard him (as a miracle for Prophet Salih from Allah).
Similarly, it is recorded in the Two Sahihs that;
after the Messenger of Allah defeated the disbelievers in the battle of Badr, he remained in that area for three days, and then rode his camel, which was prepared for him during the latter part of the night. He went on until he stood by the well of Badr (where the corpses of the disbelievers were thrown) and said,
يَا أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ يَا عُتْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ يَا شَيْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ وَيَا فُلَانَ بْنَ فُلَانٍ هَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا فَإِنِّي وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِي رَبِّي حَقًّا
O Abu Jahl bin Hisham! O Utbah bin Rabiah! O Shaybah bin Rabiah! Did you find what your Lord has promised you (of torment) to be true, for I found what my Lord promised me (of victory) to be true.
Umar said to him, O Allah's Messenger! Why do you speak to a people who have rotted?
He said,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أَنْتُمْ بِأَسْمَعَ لِمَا أَقُولُ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لَاا يُجِيبُون
By He in Whose Hand is my soul! You do not hear what I am saying better than they, but they cannot reply.
Similarly, Prophet Salih, peace be upon him, said to his people,
لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ
I have indeed conveyed to you the Message of my Lord, and have given you good advice,
but you did not benefit from it because you do not like the Truth and do not follow those who give you sincere advice,
وَلَكِن لاَّ تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ
but you like not good advisers.
So he turned his back on them, Saalih left [them], and said, 'O my people, I have conveyed to you the Message of my Lord and gave you sincere advice, but you do not love sincere advisers'.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.








