ٱلْأَعْرَاف ٦٣
- أَوَعَجِبۡتُمۡ ataukah mengherankan kamu
- أَن bahwa
- جَآءَكُمۡ telah datang kepadamu
- ذِكۡرٞ peringatan
- مِّن dari
- رَّبِّكُمۡ Tuhan kalian
- عَلَىٰ atas
- رَجُلٖ seorang laki-laki
- مِّنكُمۡ diantara kamu
- لِيُنذِرَكُمۡ untuk memberi peringatan kepadamu
- وَلِتَتَّقُواْ dan supaya kamu bertakwa
- وَلَعَلَّكُمۡ dan agar kamu
- تُرۡحَمُونَ kamu dirahmati
Dan herankah kamu bahwa ada peringatan yang datang dari Tuhanmu melalui seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri, untuk memberi peringatan kepadamu dan agar kamu bertakwa, sehingga kamu mendapat rahmat?
(Apakah) kamu tidak percaya (dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan) yakni pelajaran (dari Tuhanmu dengan perantaraan) lisan (seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu) tentang siksaan jika kamu tidak mau beriman (dan mudah-mudahan kamu bertakwa) kepada Allah (dan supaya kamu mendapat rahmat?) oleh sebab pelajaran itu.
Tafsir Surat Al-A'raf: 63-64
Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu melalui seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri, untuk memberi peringatan kepadamu dan agar kamu bertakwa, sehingga kamu mendapat rahmat?
Maka mereka mendustakan (Nuh). Kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal. Dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).
Ayat 63
Allah ﷻ berfirman menceritakan perihal Nabi Nuh a.s. Bahwa Nuh berkata kepada kaumnya:
“Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran.” (Al-A'raf: 63), hingga akhir ayat.
Maksudnya, janganlah kalian heran akan hal ini karena bukanlah hal yang mengherankan jika Allah menurunkan wahyu kepada seorang lelaki diantara kalian semata-mata sebagai belas kasihan, kelembutan dan kebaikan kepada kalian, untuk memberikan peringatan kepada kalian supaya kalian takut kepada pembalasan Allah dan supaya kalian tidak mempersekutukan-Nya.
“Sehingga kamu mendapat rahmat?” (Al-A'raf: 63)
Ayat 64
Ayat berikutnya diceritakan oleh Allah ﷻ:
“Maka mereka mendustakan Nuh.” (Al-A'raf: 64)
Yakni mereka terus-menerus mendustakan Nuh dan menentangnya, dan hanya sedikit dari kaumnya yang beriman kepadanya. Sebagaimana yang disebutkan di bagian lain dari Al-Qur'an.
Firman Allah ﷻ: “Kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal.” (Al-A'raf: 64)
At-fulk artinya kapal laut atau bahtera.
Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:
“Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu.” (Al-Ankabut: 15)
Adapun firman Allah ﷻ:
“Dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.” (Al-A'raf: 64)
Ayat ini semakna dengan ayat lain yang disebutkan melalui firman-Nya:
“Karena kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan, lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.” (Nuh: 25)
Firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).” (Al-Araf: 64)
Yakni buta terhadap perkara yang benar, mereka tidak dapat melihatnya dan tidak mendapat petunjuk ke arahnya.
Dalam kisah ini Allah menjelaskan bahwa Dia akan membela kekasih-kekasih-Nya dari musuh-musuh mereka, menyelamatkan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman, dan membinasakan musuh-musuh mereka dari kalangan orang-orang kafir. Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami.” (Al-Mumin: 51), hingga akhir ayat.
Demikianlah Sunnatullah untuk hamba-hamba-Nya di dunia dan akhirat, bahwa kesudahan yang baik, kemenangan dan keberuntungan itu adalah milik orang-orang yang bertakwa. Sebagaimana Allah telah membinasakan kaum Nabi Nuh as. dengan menenggelamkan mereka dan menyelamatkan Nabi Nuh as. dan para pengikutnya yang beriman.
Malik meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam bahwa karena banyaknya kaum Nabi Nuh, jumlah mereka memenuhi lembah-lembah dan dataran-dataran tinggi.
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan, "Tidaklah Allah mengazab kaum Nabi Nuh melainkan di saat bumi penuh dengan mereka, dan tidak ada suatu daerah pun dari bumi melainkan padanya terdapat seorang raja dan pendurhaka."
Ibnu Wahb mengatakan, "Telah sampai kepadaku berita dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang-orang yang selamat bersama Nabi Nuh a.s. di dalam bahtera adalah delapan puluh laki-laki, salah seorang dari mereka adalah bangsa Jurhum yang berbicara memakai bahasa Arab." Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim. Dari jalur lain Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya pula secara muttasil sampai kepada Ibnu Abbas.
Selanjutnya Nabi Nuh berkata, Dan herankah, tidak percayakah, kamu bahwa ada peringatan yang datang dari Tuhanmu melalui perantaraan seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri, yakni dari anggota masyarakatmu yang kamu tahu keturunan dan kejujurannya, untuk memberi peringatan kepadamu dengan azab apabila kamu ingkar dan agar kamu bertakwa mengikuti perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, sehingga kamu mendapat rahmat dari Allah dan terhindar dari siksa-Nya. Tidaklah pantas kamu heran, bahkan meragukan kebenaran ajaran yang aku bawa setelah datang bukti dan keterangan yang jelas kepadamu. Kaum Nabi Nuh tetap tidak menghiraukan seruan dan nasihat Nabi Nuh. Bahkan, kebanyakan dari mereka mendustakannya dan terusmenerus menentang ajarannya. Mereka tetap berada dalam keka-firan sehingga Allah menurunkan azabnya. Lalu Kami selamatkan dia, yakni Nabi Nuh, dan orang-orang yang bersamanya dari siksa dan azab Kami di dalam kapal yang telah dia buat berdasarkan petunjuk Kami. Adapun balasan bagi kaum yang ingkar, Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami di dalam air banjir. Sesungguhnya lah kaum yang buta mata hatinya sehingga tidak memiliki pandangan yang benar, tidak bisa melihat tanda-tanda kebesaran Kami, dan tidak dapat mengambil pelajaran dari peringatan yang disampaikan kepada mereka. mereka ada.
Dalam ayat ini Allah menerangkan tentang kecaman Nabi Nuh kepada kaumnya, bahwa tidaklah patut mereka itu merasa heran atau ragu-ragu terhadap kedatangan peringatan dari Tuhan yang dibawa oleh seorang laki-laki di antara mereka sendiri. Dia memperingatkan mereka tentang azab yang akan menimpa mereka, bilamana mereka tetap dalam kekafiran. Dengan peringatan itu, mereka akan dapat memelihara diri dari perbuatan syirik dan munkar sehingga mereka memperoleh rahmat Allah.
Adapun yang menyebabkan keraguan dan keheranan kaumnya tentang kerasulannya, karena Nabi Nuh tidak mempunyai kelebihan yang istimewa. Tetapi jika mereka menggunakan pikiran yang sehat bahwa kelebihan antara manusia itu di samping diperoleh dengan usaha manusia itu sendiri, juga didapat dari karunia Allah, karena Allah Yang Mahakuasa.
Dalam kenyataan hidup manusia, nampak perbedaan di antara masing-masing manusia itu, baik perbedaan jasmaniah, maupun rohaniah. Oleh karena itu semestinya mereka menyambut seruan dari salah seorang yang memiliki kelebihan dan keistimewaan sebagai rasul untuk menyelamatkan mereka dari siksa Allah akibat kekufuran dan membawa mereka kepada kebenaran dan ketakwaan kepada Allah untuk memperoleh keridaan dan rahmat-Nya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
NUH DAN KAUMNYA
“Sesungguhnya telah Kami utus Nuh kepada kaumnya."
(pangkal ayat 59)
Sebagaimana tersebut di dalam surah asy-Syura ayat 13, dari segala nabi dan rasul Allah maka nabi yang dahulu sekali membawa syari'at ialah Nabi Nuh. Nabi Adam belum berhadapan dengan kaumnya sebab dia belum punya kaum. Barulah dia dengan istrinya dan beberapa anaknya setelah dia hidup di dunia. Setelah Nuh, barulah timbul masyarakat yang luas sehingga Nuh diutus kepada kaumnya itu,
“Maka dia pun berkata, Wahai kaumku, sembahlah olehmu akan Allah! Tidak ada bagi kamu batang mana pun Tuhan selain Dia. Sesungguhnya, aku takut akan datang atas kamu adzab hati yang besan."
(ujung ayat 59)
Jangan kita lupa bahwa wahyu yang dibawa Nabi ini mula turunnya ialah kepada bangsa Arab, terutama Arab Mekah, yang sebagian besar masih laksana “tanah tandus" tidak mau menerima kesuburan iman. Sebagai bangsa peniaga, orang-orang Quraisy itu pergi ke Syam atau singgah di Yatsrib (sebelum bernama Madiriah) ketika pergi dan ketika pulang dari Syam. Mereka telah banyak juga menerima cerita dari orang-orang Yahudi di Madiriah atau Nasrani di Syam tentang Nuh dengan bahteranya, tetapi karena mereka itu ummi, kaum yang tidak bisa menulis dan membaca, kisah yang diterima itu disambut saja sebagai cerita orang-orang tua, tetapi tidak diketahui sebab musababnya. Sekarang Al-Qur'an datang memberi keterangan apa yang jadi sebab-musababnya mereka kaum Nuh menjadi tenggelam oleh topan besar itu, untuk menjadi perbandirigan bagi mereka sendiri.
Menurut Imam Bukhari dalam ShahiTi-nya, yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, kaum Nabi Nuh itu sangat merasa berutang budi kepada orang-orang tua mereka yang saleh lagi me-ninggalkan jasa bagi kemaslahatan hidup mereka.
Karena jasa mereka, dibuatlah patung-patung dan berhala-berhala sebagai kenang-kenangan. Dan, bila patung itu dilihat, timbullah meneladan perbuatan mereka dan melanjutkan usaha mereka. Namun, lama-lama tanpa sadar, patung-patung dan berhala itu telah mereka puja dan mereka sembah (surah al-An'aam juz ketujuh, sudah juga kita terangkan), kesalahan itulah yang ditegur oleh Nabi Nuh. Bahwasanya orang-orang tua itu bukanlah Allah. Berhala dan patung mereka bukanlah yang pantas dipuja, Tuhan hanya Allah, tidak ada suatu pun Tuhan yang lain. Segala ibadah dan sembahan, pujaan dan kemuliaan, kumpulkanlah kembali kepada Yang Maha Esa, Allah. Kalau kamu masih tetap berbuat begini, adzab Allah niscaya akan datang, suatu hari yang besar dan pengertian akan datang kepadamu karena kamu telah melengahkan tujuan hidup yang sebenarnya.
Namun, seruan Nabi Nuh itu telah mereka sanggah. Yang terutama menyanggah dan menentangnya ialah orang-orang yang terkemuka dari kaumnya itu.
“Benkatatah pemuka-pemuka dari kaumnya itu, ‘Sesungguhnya kami pandang engkau ini adalah di dalam kesesatan yang nyata.'"
(ayat 60)
Nabi Nuh membawa ajakan agar kembali menyembah Allah Yang Tunggal itu karena tidak ada Tuhan yang lain, bagaimana pun bentuknya selain Allah, mereka pandang sebagai suatu ajakan yang sesat. Sebab, seluruh kaum itu merasa bahwa mereka adalah di pihak yang benar, memperingati jasa nenek moyang dan memuja serta menyembah mereka. Di dalam surah yang bernama Nuuh ayat 23, disebutlah nama nenek moyang yang diberhalakan dan mereka pertahankan itu, yaitu Wadda, Suwa'an, Yaghuts, Yeuq, dan Nasra. Rupanya ajaran pokok yang diterima sejak nenek moyang yang dahulu kala, yaitu Nabi Adam, barangsiapa yang menuruti pe-tunjuk Allah sebagai pesan Allah kepada Adam ketika akan turun ke dunia, yang tersebut di surah al-Baqarah ayat 38, disambung oleh Nabi Idris dan diteruskan sebagai pesan dan pegangan hidup oleh nenek moyang yang tersebut namanya itu. Akan tetapi, anak cucu salah paham karena nenek moyang berjasa, nenek moyang itu yang mereka sembah, bukan petunjuk Allah lagi yang mereka pegang, apalagi pada zaman itu syari'at belum ada, Sekarang Nuh datang membawa syari'at, melanjutkan dan menyempurnakan ajaran Adam dan Idris, mereka pandang Nuh telah sesat, sebab membawa ajaran yang berubah dari pegangan mereka selama ini, yang hanya berdasar menerima pusaka turun-temurun, dengan tidak memakai selidik pikiran. Bukan mereka pada anggapan mereka yang telah sesat, melainkan Nuhlah yang sesat, sebab membawa ajaran baru, yang mengubah pegangan lama turun-temurun.
Tuduhan bahwa dia yang sesat itu, dijawab oleh Nuh,
“Benkata dia, Wahai kaumku, tidaklah padaku ini kesesalan, akan tetapi aku ini adalah Rasul daripada Tuhan sarwa sekalian alam.'"
(ayat 61)
Suatu jawab yang sangat halus dan sopan, mengandung cinta Nabi kepada umat. Meskipun dia telah dituduh sesat oleh kaumnya, mereka masih dibahasakannya kaumku. Orang hendak menyingkirkan dia, dengan menuduhnya sesat itu, tetapi dia masih hendak merangkul mereka. Bukan! Aku ini bukan orang sesat, wahai kaumku. Aku ini adalah Rasul Allah, utusan-Nya kepadamu. Allah yang men-ciptakan dan menguasai seluruh alam ini. Dan, kehendak Dialah aku datang kepadamu memberi ingat akan kesesatanmu itu dan memberi ingat bahaya hari yang besar yang mesti akan menimpamu, kalau kamu masih terus-menerus menyembah yang lain ini,
“Akan aku sampaikan kepada kamu risalah dari Tuhanku."
(pangkal ayat 62)
Bukan aku orang sesat, tetapi rasul. Rasul yang akan menyampaikan suatu risalah, yaitu satu tugas suci dari Allah, yang pokoknya ialah agar kamu kembali kepada ajaran Allah yang benar. Aku wajib menyampaikan itu."Dan, aku akan memberi nasihat kepada kamu." Agar kamu menempuh jalan yang benar supaya selamat. Kalau kamu masih terus menyembah yang selain Allah, bodohlah kamu dan zalimlah kamu atas diri sendiri. Sebab, yang selain Allah itu tidaklah memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat bagi kamu, segala perbuatan itu adalah sia-sia.
“Dan aku mengetahui dari karunia Allah, hal-ihwal yang tidak kamu ketahui."
(ujung ayat 62)
Artinya, adalah beberapa hal penting dan hebat yang kamu tidak menampaknya. Cuma akulah yang mengetahuinya sebab Allah telah mengajarkan kepadaku. Yaitu, bahwa mem-persekutukan yang lain dengan Allah sebab kita ini hidup adalah atas kehendak Allah. Kalau perbuatan ini kamu teruskan juga, di dunia kamu akan celaka karena kamu belakangi Tuhan yang sebenar Allah dan di akhirat pun kamu akan masuk neraka karena kamu ingkar akan peringatan Allah.
“Apakah kamu tercengang bahwa datang kepada kamu suatu peningalan dari Tuhan kamu dengan perantaraan seorang laki-laki dari antara kamu untuk mengancam kamu supaya kamu bertakwa dan supaya kamu diberi rahmat?"
(ayat 63)
Datang pertanyaan seperti ini karena kaumnya rupanya tercengang atau tidak masuk dalam pikiran mereka bahwa seorang manusia dari kalangan mereka sendiri, saudara mereka sendiri diangkat menjadi rasul. Ini menjadi tanda bahwa di dalam dasar jiwa, mereka itu masih tetap percaya kepada Allah, tetapi tidak bisa berhubungan dengan Allah itu kalau tidak dengan perantaraan ruh nenek moyang yang telah mati, dan ruh nenek moyang itu harus dilambangkan dengan berhala. Oleh sebab itu, mereka tidak mau percaya kalau ada manusia mengatakan mendapat wahyu Ilahi, menyampaikan ancaman neraka bagi yang musyrik, dan tidak juga mau percaya kalau manusia itu menyeru mereka supaya takwa kepada Allah, atau mengatakan bahwa Allah akan melimpahkan rahmat kepada ba-rangsiapa yang bertakwa itu. Oleh sebab itu, walaupun ini seruan Nuh itu benar atau suci dan baik isinya, mereka tidak mau percaya, kalau ada manusia mendakwakan diri menjadi Rasul Allah, biarpun rasul itu berdiri di hadapan mereka dan benar tutur kata mereka. Mereka lebih percaya kalau ada manusia yang telah mati, dikhayatkan dan dibuat patungnya lalu disembah, dan berhala itulah yang akan menyampaikan segala permohonan kepada Allah. Sehubungan dengan itu, mereka pun tentu percaya kalau tiap-tiap manusia bisa berhubungan langsung dan berdoa kepada Allah. Pendeknya, mereka amat tercengang kalau diajak kepada tauhid dan mereka masih senang dengan syirik. Maka, kalau kita hubungkan kembali dengan ibarat tanah tandus di ayat 58 tadi, yang ditafsirkan oleh Ibnu Abbas dengan jiwa yang kering karena tidak mau menerima seruan iman maka kaum Nabi Nuh inilah orangnya yang tanah tandus itu.
“Tetapi, mereka dustakan dia."
(pangkal ayat 64)
Meskipun berbagai keterangan dan seruan telah disampaikan oleh Nuh, ancaman bahaya yang ngeri di hari yang besar dan dahsyat, kecelakaan dunia dan adzab akhirat, mereka tidak mau terima. Seruan supaya takwa kepada Allah Yang Esa, mereka tidak peduli. Seruan suci dan berita gembira agar mereka beroleh rahmat dari Allah, mereka tidak mau percaya. Sebabnya ialah bahwa pada hemat mereka, tidak bisa jadi seorang manusia dari kaum mereka sendiri akan diangkat Allah menjadi rasul. Mungkin juga karena dengki. Nuh itu hanya orang biasa saja, sedang mereka adalah orang-orang yang terkemuka dalam kaumnya.
Karena pendustaan dan penolakan ini sudah keterlaluan, datanglah ketentuan Allah. Datanglah hari yang diancamkan oleh Nuh itu."Maka Kami selamatkanlah dia dan orang-orang yang besertanya dalam sebuah bahtera dan Kami tenggelamkan orang-orang yang telah mendustakan ayat-ayat Kami itu." Surah-surah yang lain menyempurnakan keterangan yang di dalam surah ini. Di dalam surah Huud ayat 37 diuraikan bahwa Allah menyuruh Nuh membuat bahtera, sedang membuat bahtera itu selalu diejek oleh kaumnya (ayat 38), tetapi beliau tetap sabar meneruskan usahanya sampai selesai. Di dalam surah al-'Ankabuut ayat 14 diterangkan pula bahwa usia beliau sampai 950 tahun, satu manusia yang sangat panjang umur. Di dalam ayat yang tengah kita tafsirkan ini diterangkan saja dengan ringkas bahwa Nuh dan orang yang percaya kepada ajaran beliau, diselamatkan dengan bahtera itu, dan seluruh kaum beliau yang tidak mau percaya itu ditenggelamkan semua dalam gulungan lautan topan hari yang besar dan dahsyat itu. Sebab, mereka telah mendustakan ayat-ayat Allah, tidak percaya akan Rasul Allah, dan tidak mau menerima kebenaran. Akhirnya diterangkan sebab kecelakaan besar itu.
“Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta"
(ujung ayat 64)
The Story of Nuh and His People
After Allah mentioned the story of Adam in the beginning of this Surah, He started mentioning the stories of the Prophets, the first then the latter of them.
Allah mentioned the story of Nuh, because he was the first Messenger Allah sent to the people of the earth after Adam. His name was Nuh bin Lamak bin Matushalakh bin Khanukh.
And Khanukh was, as they claim, the Prophet Idris. And Idris was the first person to write letters using pen, and he was the son of Barad bin Mahlil, bin Qanin bin Yanish bin Shith bin Adam, upon them all be peace.
This lineage is mentioned by Muhammad bin Ishaq and other Imams who document lineage.
Abdullah bin Abbas and several other scholars of Tafsir said that;
the first idol worship began when some righteous people died and their people built places of worship over their graves. They made images of them so that they could remember their righteousness and devotion, and thus, imitate them. When time passed, they made statues of them and later on worshipped these idols, naming them after the righteous people:Wadd, Suwa, Yaghuth, Ya`uq and Nasr.
After this practice became popular, Allah sent Nuh as a Messenger, all thanks are due to Him.
Allah tells;
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ
Indeed, We sent Nuh to his people and he said:
Nuh commanded his people to worship Allah alone without partners, saying,
يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ إِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
O my people! Worship Allah! You have no other god but Him. Certainly, I fear for you the torment of a Great Day!
the torment of the Day of Resurrection, if you meet Allah while associating others with Him
قَالَ الْمَلُ مِن قَوْمِهِ
The leaders of his people said;
meaning, the general public, chiefs, commanders and great ones of his people said,
إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلَلٍ مُّبِينٍ
Verily, we see you in plain error.
because of your calling us to abandon the worship of these idols that we found our forefathers worshipping.
This, indeed, is the attitude of evil people, for they consider the righteous people to be following misguidance. Allah said in other Ayat,
وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُواْ إِنَّ هَـوُلَاءِ لَضَألُّونَ
And when they ﷺ them, they said:Verily, these have indeed gone astray! (83:32)
and,
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُواْ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَوْ كَانَ خَيْراً مَّا سَبَقُونَأ إِلَيْهِ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُواْ بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَـذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ
And those who disbelieve say of those who believe:Had it been a good thing, they (the weak and poor) would not have preceded us thereto! And when they have not let themselves be guided by it (this Qur'an), they say:This is an ancient lie! (46:11)
There are several other Ayat on this subject.
قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلَلَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ
(Nuh) said:O my people! There is no error in me, but I am a Messenger from the Lord of all that exists!
meaning, there is nothing wrong with me, but I am a Messenger from the Lord of all that exists, Lord and King of all things,
أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
I convey unto you the Messages of my Lord and give sincere advice to you. And I know from Allah what you know not.
This is the attribute of a Messenger, that he conveys using plain, yet eloquent words, offers sincere advice and is knowledgeable about Allah; indeed, no other people can compete with the Prophets in this regard.
In his Sahih, Muslim recorded that the Messenger of Allah said to his Companions on the Day of Arafah, when their gathering was as large as it ever was,
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ مَسْوُولُونَ عَنِّي فَمَا أَنْتُمْ قَايِلُونَ
O people! You will be asked about me, so what will you say?
They said, We testify that you have conveyed and delivered (the Message) and offered sincere advice.
So he kept raising his finger to the sky and lowering it towards them, saying,
اللَّهُمَّ اشْهَدْ اللَّهُمَّ اشْهَد
O Allah! Bear witness, O Allah! Bear witness
Allah said that Nuh proclaimed to his people,
أَوَعَجِبْتُمْ
Do you wonder...,
do not wonder because of this.
أَن جَاءكُمْ ذِكْرٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَلَى رَجُلٍ مِّنكُمْ لِيُنذِرَكُمْ وَلِتَتَّقُواْ
that there has come to you a Reminder from your Lord through a man from among you, that he may warn you, so that you may fear Allah,
Surely, it is not strange that Allah sends down revelation to a man among you as mercy, kindness and compassion for you, so that he warns you that you may avoid Allah's torment by associating none with Him,
وَلَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
and that you may receive (His) mercy.
Allah said
فَكَذَّبُوهُ
But they belied him,
but they insisted on rejecting and opposing him, and only a few of them believed in him, as Allah stated in another Ayah.
Allah said next,
فَأَنجَيْنَاهُ وَالَّذِينَ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ
So We saved him and those along with him in the Fulk, (the ark),
وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِأيَاتِنَا
And We drowned those who belied Our Ayat.
Allah said in another Ayah,
مِّمَّا خَطِييَـتِهِمْ أُغْرِقُواْ فَأُدْخِلُواْ نَاراً فَلَمْ يَجِدُواْ لَهُمْ مِّن دُونِ اللَّهِ أَنصَاراً
Because of their sins they were drowned, then they were admitted into the Fire. And they found none to help them instead of Allah. (71:25)
Allah said,
إِنَّهُمْ كَانُواْ قَوْماً عَمِينَ
They were indeed a blind people.
meaning, blind from the Truth, unable to recognize it or find their way to it.
Here, Allah said that He has taken revenge from His enemies and saved His Messenger and those who believed in him, while destroying their disbelieving enemies. Allah said in a another Ayah,
إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا
Verily, We will indeed make victorious Our Messengers. (40:51)
This is Allah's Sunnah (way) with His servants, in this life and the Hereafter, that the good end, victory and triumph is for those who fear Him. For example, Allah destroyed the people of Nuh, and saved Nuh and his believing followers.
Ibn Wahb said that he was told that Ibn Abbas said that;
eighty men were saved with Nuh in the ship, one of them was Jurhum, who spoke Arabic.
Ibn Abi Hatim collected this statement, which was also narrated with a continuous chain of narration from Ibn Abbas.
Do you then, deny, marvel that a reminder, an admonition, from your Lord should come to you through, the tongue of, a man from among you, that he may warn you, of chastisement if you do not believe, and that you may fear, God, and that you might be shown mercy', by it?
Here, the answer given was: أَوَعَجِبْتُمْ أَن جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَلَىٰ رَجُلٍ مِّنكُمْ لِيُنذِرَكُمْ وَلِتَتَّقُوا وَلَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴿63﴾ (Do you wonder that an advice from your Lord has come to you through a man from among you, so that he may warn you and that you may fear Allah, and that you may be blessed with mercy?) [ that is, his warning may lead you to stop opposing him as a result of which you may be blessed with mercy ]
The substance of the argument is that the making of a human being a messenger of Allah is not a matter of surprise. First of all, Allah Ta` ala is the Absolute Master. Bestowing on someone the status of a prophet or messenger is His exclusive domain. It is He who does it at His will. No one is in a position to dare have it otherwise. In addition to that, a little deliberation will make it clear that the purpose of sending a prophet or messenger to guide human beings can only be achieved through a human being. This is a mission angels cannot perform.
The reason is that the purpose of prophethood is to bring people round to believe in and obey Allah Ta` ala and save them from harsh consequences of their opposition to His injunctions - and this can only be possible when a person from their own kind presents before them a model of the desired conduct and shows before them that it is quite possible to worship Allah and obey His injunctions even with the fulfillment of inherent human needs and desires. If this call was brought forth by angels and they were to put their model before people, it is obvious that people would have found it fairly convenient to say that an-gels are free of human desires, they are never hungry or thirsty, they never sleep, or get tired. How could they ever become like them? But, when one of their own kind, despite having common human characteristics and desires, walks amongst them as a perfect model of obedience to Divine injunctions, they would be left with no excuse.
It was to point out in this direction that it was said: لِيُنذِرَكُمْ وَلِتَتَّقُوا (so that he may warn you and that you may fear Allah). In other words, it means that a person whose warning can make people have fear could only be the one who is of their kind and is an epitome of human traits like them. This is not an unusual doubt for the disbelievers of many communities who have questioned the propriety of having a human being as prophet or messenger. This is the answer given by the Qur'an to all such doubts. It is certainly regrettable that, despite so many clarifications of the Qur'an, there are people who would dare going to the limit of denying the ` humanness' of the Holy Prophet ﷺ . But, the problem with the ignorant among human beings is that they would not understand this reality and would simply refuse to accept the superiority of anyone from their own kind. This is why they would nurse hatred for their contemporary Awliya' (men of Allah) and ` Ulama' (highly trained and trustworthy religious scholars who practice what they teach) and look down upon them because of their contemporaneousness. This has always been the trademark of the ignorant.
When this paternal and well-wishing approach of Sayyidna Nuh (علیہ السلام) in reply to the heart-rending words said by his addressees made no effect on these unfeeling people who turned blind to truth and kept belying it, then, Allah Ta` ala sent down upon them the punishment of Flood