ٱلْأَعْرَاف ١٧٢
- وَإِذۡ dan ketika
- أَخَذَ mengeluarkan
- رَبُّكَ Tuhanmu
- مِنۢ dari
- بَنِيٓ anak-anak
- ءَادَمَ Adam
- مِن dari
- ظُهُورِهِمۡ punggung mereka
- ذُرِّيَّتَهُمۡ keturunan mereka
- وَأَشۡهَدَهُمۡ dan (Allah) mengambil saksi pada mereka
- عَلَىٰٓ atas
- أَنفُسِهِمۡ jiwa mereka
- أَلَسۡتُ bukankah Aku ini
- بِرَبِّكُمۡۖ dengan Tuhanmu
- قَالُواْ mereka berkata
- بَلَىٰ ya betul
- شَهِدۡنَآۚ kami menjadi saksi
- أَن supaya
- تَقُولُواْ kamu mengatakan
- يَوۡمَ pada hari
- ٱلۡقِيَٰمَةِ kiamat
- إِنَّا sesungguhnya kami
- كُنَّا adalah kami
- عَنۡ dari/tentang
- هَٰذَا ini
- غَٰفِلِينَ orang-orang yang lalai
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), "Bukanlah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini,"
(Dan) ingatlah (ketika) sewaktu (Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka) menjadi badal isytimal dari lafal sebelumnya dengan mengulangi huruf jar (yaitu anak cucu mereka) maksudnya Dia mengeluarkan sebagian mereka dari tulang sulbi sebagian lainnya yang berasal dari sulbi Nabi Adam secara turun-temurun, sebagaimana sekarang mereka beranak-pinak mirip dengan jagung di daerah Nu`man sewaktu hari Arafah/musim jagung. Allah menetapkan kepada mereka bukti-bukti yang menunjukkan ketuhanan-Nya serta Dia memberinya akal (dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka) seraya berfirman, ("Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul.) Engkau adalah Tuhan kami (kami menjadi saksi.") yang demikian itu. Kesaksian itu supaya (tidak) jangan (kamu mengatakan) dengan memakai ya dan ta pada dua tempat, yakni orang-orang kafir (di hari kiamat kelak, "Sesungguhnya kami terhadap hal-hal ini) yakni keesaan Tuhan (adalah orang-orang yang lalai.") kami tidak mengetahuinya.
Tafsir Surat Al-A'raf: 172-174
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhan kalian? Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (kekuasaan Tuhan), atau agar kalian tidak mengatakan, 'Sesungguhnya orang tua-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedangkan kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu'? Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran).
Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan bahwa Dia telah mengeluarkan keturunan Bani Adam dari sulbi mereka untuk mengadakan persaksian atas diri mereka bahwa Allah adalah Tuhan dan Pemilik mereka, dan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan hal tersebut di dalam fitrah dan pembawaan mereka, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Ar-Rum: 30) Di dalam kitab Shahihain disebutkan melalui Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Riwayat lain menyebutkan: dalam keadaan memeluk agama ini (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi atau seorang Nasrani atau searang Majusi, seperti halnya dilahirkan hewan ternak yang utuh, apakah kalian merasakan (melihat) adanya cacat padanya? Di dalam kitab Shahih Muslim disebutkan melalui Iyad ibnu Himar bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman, "Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (cenderung kepada agama yang hak), kemudian datanglah setan, lalu setan menyesatkan mereka dari agamanya dan mengharamkan kepada mereka apa-apa yang telah Aku halalkan kepada mereka.
Imam Abu Ja'far ibnu Jarir rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku As-Sirri ibnu Yahya, bahwa At-Hasan ibnu Abul Hasan pernah menceritakan hadits berikut kepada mereka, dari Al-Aswad ibnu Sari, dari kalangan Bani Sa'd yang menceritakan bahwa ia ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ sebanyak empat kali. Ia melanjutkan kisahnya, "Lalu kaum (pasukan kaum muslim) membunuh anak-anak sesudah mereka membunuh pasukannya. Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, maka hal itu terasa berat olehnya, kemudian beliau bersabda, 'Apakah gerangan yang telah terjadi pada kaum sehingga mereka tega membunuh anak-anak?' Maka ada seorang lelaki (dari pasukan kaum muslim) bertanya, 'Bukankah mereka adalah anak-anak orang-orang musyrik, wahai Rasulullah ﷺ?' Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya: Sesungguhnya orang-orang yang terpilih dari kalian pun adalah anak-anak orang-orang musyrik.
Ingatlah, sesungguhnya tidak ada seorang anak pun yang dilahirkan melainkan ia dilahirkan dalam keadaan suci. Ia masih tetap dalam keadaan suci hingga lisannya dapat berbicara, lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai orang Yahudi atau orang Nasrani'. Al-Hasan mengatakan, "Demi Allah, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman di dalam Kitab-Nya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka. (Al-A'raf: 172) hingga akhir ayat" Imam Ahmad telah meriwayatkannya melalui Ismail ibnu Ulayyah, dari Yunus ibnu Ubaid, dari Al-Hasan Al-Basri dengan lafal yang sama.
Imam An-Nasai pun telah mengetengahkannya di dalam kitab Sunnah-nya melalui hadits Hasyim ibnu Yunus ibnu'Ubaid, dari Al-Hasan. Al-Hasan mengatakan bahwa hadits ini diceritakan kepadanya oleh Al-Aswad ibnu Sari', lalu Imam An-Nasai menuturkannya, tetapi ia tidak menyebutkan perkataan Al-Hasan Al-Basri dan pengetengahan ayatnya. Hadits yang menceritakan pengeluaran keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka ini, kemudian pemisahan antara ashabul yamin (ahli surga) dan ashabusy syimal (ahli neraka) dari kalangan mereka memang banyak.
Pada sebagian dari hadits-hadits itu disebutkan adanya pengambilan kesaksian dari mereka terhadap diri mereka, bahwa Allah adalah Tuhan mereka. Imam Ahmad mengatakan; telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Abu Imran Al-Juni, dari Anas ibnu Malik , dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Dikatakan kepada seseorang dari kalangan ahli neraka pada hari kiamat nanti, "Bagaimanakah pendapatmu. seandainya engkau memiliki segala sesuatu yang ada di bumi, apakah engkau akan menjadikannya sebagai tebusan dirimu (dari neraka)?" Ia menjawab, "Ya." Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Sesungguhnya Aku menghendaki dirimu hal yang lebih mudah daripada itu.
Sesungguhnya Aku telah mengambil janji darimu ketika kamu masih berada di dalam sulbi Adam, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun, tetapi ternyata kamu menolak selain mempersekutukan Aku." Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab Shahih-nya masing-masing melalui hadits Syu'bah dengan sanad yang sama. Hadits yang lain diketengahkan oleh Imam Ahmad, disebutkan bahwa: .
telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Jarir (yakni Ibnu Hazim), dari Kalsum ibnu Jubair, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengambil janji dari sulbi Adam a.s. di Nu'man tepat pada hari Arafah. Maka Allah mengeluarkan dari sulbinya semua keturunan yang kelak akan dilahirkannya, lalu Allah menyebarkannya di hadapan Adam, kemudian Allah berbicara kepada mereka secara berhadapan, "Bukankah Aku ini Tuhan kalian?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi)." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap (keesaan Tuhan), atau agar kalian tidak mengatakan, sampai dengan firman-Nya, 'orang-orang yang sesat dahulu." (Al-A'raf: 172-173) Imam An-Nasai telah meriwayatkan hadits ini di dalam kitab Tafsirbagian dari kitab Sunnah-nya melalui Muhammad ibnu Abdur Rahim Sa'iqah, dari Husain ibnu Muhammad Al-Marwazi dengan lafal yang sama.
Ibnu Jarir telah meriwayatkannya begitu pula Ibnu Abu Hatim melalui hadits Husain ibnu Muhammad dengan sanad yang sama, hanya Ibnu Hatim mempredikatkannya mauquf. Imam Hakim mengetengahkannya di dalam kitab Mustadrak melalui hadits Husain ibnu Muhammad dan lain-lainnya, dari Jarir ibnu Hazim, dari Kalsum ibnu Jubair dengan lafal yang sama, lalu ia mengatakan bahwa hadits ini shahih, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.
Imam Muslim berpegang kepada hadits ini karena ada Kalsum ibnu Jubair, dan ia mengatakan bahwa hadits ini telah diriwayatkan oleh Abdul Waris, dari Kalsum ibnu Jubair, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, lalu ia menilainya mauquf (yakni hanya sampai kepada Ibnu Abbas). Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ismail ibnu Ulayyah dan Waki', dari Rabi'ah ibnu Kalsum, dari Jubair, dari ayahnya dengan sanad yang sama.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh ‘Atha’ ibnus Saib dan Habib ibnu Abu Sabit serta Ali ibnu Bazimah, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Aufi dan Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas. Riwayat ini lebih banyak yang mengetengahkannya dan lebih kuat. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki', telah menceritakan kepada kami ayahku (yaitu Hilal), dari Abu Hamzah Ad-Daba'i, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Allah mengeluarkan keturunan anak Adam dari sulbinya seperti semut kecil dalam bentuk air mani.
Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sahi, telah menceritakan kepada kami Damrah ibnu Rabi'ah, telah menceritakan kepada kami Abu Mas'ud, dari Jarir yang menceritakan, "Anak lelaki Dahhak ibnu Muzahim meninggal dunia dalam usia enam hari. Dahhak berkata, 'Wahai Jabir, apabila engkau letakkan anakku di dalam liang lahadnya, maka bukalah wajahnya dan lepaskanlah tali bundelannya, karena sesungguhnya anakku ini nanti akan didudukkan dan ditanyai.' Maka saya melakukan apa yang dipesankannya itu, Setelah saya selesai mengebumikannya, saya bertanya, 'Semoga Allah merahmatimu, mengapa anakmu ditanyai dan siapakah yang akan menanyainya.' Dahhak menjawab, 'Dia akan ditanyai mengenai perjanjian yang telah diikrarkannya semasa ia masih berada di dalam sulbi Adam.' Saya bertanya, 'Wahai Abul Qasim, apakah isi perjanjian yang telah diikrarkannya semasa ia masih berada di dalam sulbi Adam?' Dahhak menjawab, bahwa telah menceritakan kepadanya Ibnu Abbas, bahwa sesungguhnya Allah mengusap sulbi Adam, lalu mengeluarkan darinya semua manusia yang kelak akan diciptakan-Nya sampai hari kiamat.
Kemudian Allah mengambil janji dari mereka, yaitu hendaknyalah mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan pula bahwa Dialah yang akan menjamin rezeki mereka. Setelah itu Allah mengembalikan mereka ke dalam sulbinya. Maka hari kiamat masih belum akan terjadi sebelum dilahirkan orang (terakhir) yang telah melakukan perjanjian pada hari itu. Maka barang siapa dari mereka yang menjumpai perjanjian yang lain (yakni di dunia), lalu ia menunaikannya, niscaya perjanjian yang pertama bermanfaat baginya. Dan barang siapa yang menjumpai perjanjian yang lain, lalu ia tidak mengikrarkannya, maka perjanjiannya yang pertama tidak bermanfaat baginya.
Dan barang siapa yang meninggal dunia ketika masih kanak-kanak sebelum menjumpai perjanjian yang lain, maka ia mati dalam keadaan berpegang kepada perjanjian pertama dan dalam keadaan fitrah (suci dari dosa)." Semua jalur periwayatan ini termasuk bukti yang menguatkan ke-mauquf-annya-hanya sampai kepada Ibnu Abbas. Hadits yang lain diketengahkan oleh Ibnu Jarir, disebutkan bahwa: telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abu Taibah, dari Sufyan ibnu Sa'id, dari Al-Ajlah, dari Adh-Dhahhak, dari Mansur, dari Mujahid, dari Abdullah ibnu Amr yang telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ membacakan firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka. (Al-A'raf: 172) Lalu beliau ﷺ bersabda bahwa Allah mengambil mereka dari sulbinya sebagaimana ketombe diambil dari rambut kepala dengan sisir.
Kemudian Allah berfirman kepada mereka: "Bukankah aku ini Tuhan kalian?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami)." (Al-A'raf: 172) Maka para malaikat berkata: Kami ikut bersaksi agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan.Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini. (Al-A'raf: 172) Ahmad ibnu Taibah ini nama julukannya adalah Abu Muhammad Al-Jurjani kadi Qaumis, dia adalah salah seorang ahlu zuhud; Imam An-Nasai mengetengahkan hadisnya di dalam kitab Sunnah-nya. Imam Abu Hatim Ar-Razi mengatakan bahwa hadisnya dapat dicatat.
Ibnu Addi mengatakan Abu Muhammad Al-Jurjani banyak mengetengahkan hadits-hadits yang gharib. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abdur Rahman ibnu Hamzah ibnu Mahdi, dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Mansur, dari Mujahid, dari Abdullah ibnu Amr. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Jarir, dari Mansur dengan sanad yang sama; dan riwayat ini lebih shahih kedudukannya. Hadits yang lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad, disebutkan bahwa: .
telah menceritakan kepada kami Rauh (yaitu Ibnu Ubadah), telah menceritakan kepada kami Malik, telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada kami Malik, dari Zaid ibnu Abu Anisah, bahwa Abdul Hamid ibnu Abdur Rahman ibnu Zaid ibnul Khattab pernah menceritakan kepadanya, dari Muslim ibnu Yasar Al-Juhanni, bahwa Umar ibnul Khattab pernah ditanya mengenai makna firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhan kalian Mereka menjawab, 'Betul (Engkau Tuhan kami)." (Al-A'raf: 172), hingga akhir ayat.
Maka Umar ibnul Khattab mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ ditanya mengenai makna ayat ini, beliau ﷺ menjawab melalui sabdanya: Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan Adam a.s., kemudian mengusap punggungnya dengan tangan kanan-Nya, dan mengeluarkan darinya sejumlah keturunannya, Allah berfirman, "Aku telah menciptakan mereka untuk dimasukkan ke dalam surga. dan mereka hanya mengamalkan amalan ahli surga. Kemudian Allah mengusap punggungnya lagi, lalu mengeluarkan darinya sejumlah keturunannya, dan Allah berfirman, "Aku telah menciptakan mereka untuk neraka dan hanya amalan ahli nerakalah yang mereka kerjakan." Kemudian ada seorang lelaki yang bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang terjadi dengan amal itu? Rasulullah ﷺ, menjawab: Apabila Allah menciptakan seorang hamba untuk surga, maka Allah menjadikannya beramal dengan amalan ahli surga, hingga ia mati dalam keadaan mengamalkan amalan ahli surga, lalu Allah memasukkannya ke dalam surga berkat amal itu.
Dan apabila Allah menciptakan seorang hamba untuk neraka, maka Dia menjadikannya beramal dengan amalan ahli neraka, hingga ia mati dalam keadaan mengamalkan amalan ahli neraka, lalu Allah memasukkannya ke neraka. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, dari Al-Qa'nabi; sedangkan Imam An-Nasai meriwayatkannya dalam kitab Tafsirnya, dari Qutaibah; dan Imam At-Tirmidzi di dalam kitab Tafsir-nya.
meriwayatkannya dari Ishaq ibnu Musa, dari Ma'an. Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dari Yunus ibnu Abdul A'la dari Ibnu Wahb. Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Rauh ibnu Ubadah dan Sa'id ibnu Abdul Hamid ibnu Ja'far. Ibnu Hibban mengetengahkannya di dalam kitab Shahih-nya. melalui riwayat Abu Mus'ab Az-Zubairi. Semuanya dari Imam Malik ibnu Anas dengan sanad yang sama.
Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan, tetapi Muslim ibnu Yasar belum pernah mendengar dari Umar; hal yang sama telah dikatakan pula oleh Abu Hatim dan Abu Zarah. Abu Hatim menambahkan, di antara keduanya yakni antara Muslim ibnu Yasar dan Umarterdapat Na'im ibnu Rabi'ah. Perkataan Abu Hatim ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud di dalam kitab Sunnah-nya, dari Muhammad ibnu Musaffa, dari Baqiyyah dari Umar ibnu Ju'sum Al-Qurasyi, dari Zaid ibnu-Abu Anisah, dari Abdul Hamid ibnu Abdur Rahman ibnu Zaid ibnul Khattab, dari Muslim ibnu Yasar Al-Juhami, dari Na'im ibnu Rabi'ah.
Na'im ibnu Rabi'ah mengatakan bahwa ketika ia berada di hadapan Umar ibnul Khattab yang saat itu telah ditanya mengenai makna firmanNya ini: Dan (ingadah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka. (Al-A'raf: 172) Lalu ia mengetengahkan atsar ini. An-Hafidzh Ad-Daruqutni telah mengatakan bahwa Umar ibnu Ju'sum ibnu Zaid ibnu Sinan telah mengikut kepada Abu Farwah Ar-Rahawi, Riwayat keduanya (Abu Hatim dan Ad-Daruqutni) lebih berhak untuk dibenarkan daripada riwayat Imam Malik.
Menurut hemat kami, Imam Malik secara lahiriahnya sengaja menggugurkan nama Na'im ibnu Rabi'ah dari rentetan perawi hanyalah semata-mata karena keadaan Na'im tidak diketahui dan dia tidak mengenalnya, mengingat Na'im tidaklah dikenal kecuali melalui hadits ini. Karena itulah Imam Malik sering menggugurkan penyebutan sejumlah perawi yang tidak dikenalnya. Oleh sebab itu pulalah maka ia banyak me-mursal-kan hadits-hadits yang marfu dan me-maqtu-kan banyak hadits yang mausul.
Hadits yang lain diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam tafsir ayat ini, bahwa: telah menceritakan kepada kami Abdu ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Abu Na'im, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Sa'd, dari Zaid ibnu Aslam, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Ketika Allah menciptakan Adam, maka Allah mengusap punggung Adam, lalu berguguranlah dari punggungnya semua manusia yang Dia ciptakan dari anak keturunannya sampai hari kiamat.
Dan Allqh menjadikan di antara kedua mata setiap manusia dari sebagian mereka secercah nur (cahaya), kemudian Allah menampilkannya dihadapan Adam. Maka Adam berkata, "Wahai Tuhanku, siapakah mereka ini?" Allah berfirman, "Mereka adalah anak cucumu. Adam melihat seorang lelaki dari mereka yang nur di antara kedua matanya mengagumkan Adam. Adam bertanya, "Wahai Tuhanku, siapakah orang ini? Allah berfirman, "Dia adalah seorang lelaki dari kalangan umat yang akhir nanti dari kalangan keturunanmu, ia dikenal dengan nama Daud.
Adam berkata, "Wahai Tuhanku, berapakah usianya yang telah Engkau tetapkan untuknya Allah menjawab Enam Puluh Tahun. Adam Berkata, "Wahai Tuhanku, saya rela memberikan kepadanya sebagian dari usiaku sebanyak empat puluh tahun. Ketika usia Adam telah habis, ia kedatangan malaikat maut, maka Adam berkata, "Bukankah usiaku masih empat puluh tahun lagi? Malaikat maut menjawab.Bukankah engkau telah berikan kepada anakmu Daud? Ketika malaikat maut menjawabnya, maka Adam mengingkarinya, sehingga keturunannya pun ingkar pula.
Adam lupa, maka keturunannya pun lupa pula. Adam berbuat kekeliruan, maka keturunannya pun berbuat kekeliruan pula. Kemudian Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Imam At-Tirmidzi telah meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ Imam Hakim telah meriwayatkannya di dalam kitab Mustadrak-nya. melalui hadits Abu Na'im Al-Fadl ibnu Dakin dengan sanad yang sama. Ia mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan syarat Imam Muslim, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya. Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya di dalam kitab Tafsir-nya melalui hadits Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, dari ayahnya, bahwa ia menceritakan hadits ini dari ‘Atha’ ibnu Yasar, dari Abu Hurairah .a., dari Rasulullah ﷺ Lalu ia menuturkan hadits ini semisal dengan hadits di atas sampai ia menyebutkan: .
Kemudian Allah memperlihatkan mereka kepada Adam. dan Allah berfirman Wahai Adam Mereka adalah keturunanmu Ternyata di antara mereka terdapat orang yang berpenyakit lepra, supak, buta, dan berpenyakit lainnya. Maka Adam berkata, "Wahai Tuhanku, mengapa Engkau lakukan ini terhadap keturunanku? Allah berfirman, "Agar mereka mensyukuri nikmat-Ku. Adam bertanya, "Wahai Tuhanku, siapakah mereka yang saya lihat memiliki nur (cahaya) yang paling menonjol di kalangan mereka? Allah berfirman, "Mereka adalah para nabi dari keturunanmu, wahai Adam." Hadits yang lain diriwayatkan oleh Abdur Rahman ibnu Qatadah An-Nadri, dari ayahnya, dari Hisyam ibnu Hakim , bahwa pernah ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi ﷺ, "Wahai Rasulullah, apakah amal perbuatan itu baru muncul kemudian, ataukah telah ditetapkan oleh takdir sebelumnya?" Rasulullah ﷺ bersabda:
Sesungguhnya Allah telah mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka. Kemudian Allah meraup mereka dalam kedua telapak tangan-Nya, lalu berfirman, "Mereka ini adalah ahli surga, dan mereka ini adalah ahli neraka." Maka ahli surga dipermudahkan untuk mengamalkan amalan ahli surga, dan ahli neraka dimudahkan untuk mengamalkan amalan ahli neraka.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Murdawaih melalui berbagai jalur dari Abdur Rahman ibnu Qatadah An-Nadri. Hadits yang lain diriwayatkan oleh Ja'far ibnuz Zubair yang orangnya dha’if, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: ]. Setelah Allah menciptakan makhluk-Nya dan menetapkan takdirNya, maka Dia mengambil golongan kanan dengan tangan kanan-Nya dan golongan kiri dengan tangan kiri-Nya.
Allah berfirman, "Wahai golongan kanan! Mereka menjawab, "Kami penuhi panggilan-Mu dengan penuh kebahagiaan," Allah berfirman, "Bukankah Aku adalah Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Benar, ya Tuhan kami" Allah berfirman, "Wahai golongan kiri!" Mereka menjawab, "Kami penuhi panggilan-Mu dengan penuh kebahagiaan. Allah berfirman, "Bukankah Aku Tuhanmu? Mereka menjawab, "Benar, ya Tuhan kami. Kemudian Allah mencampurkan mereka menjadi satu di antara sesama mereka.
Maka ada yang bertanya kepada-Nya, "Wahai Tuhanku, mengapa Engkau campur adukkan di antara sesama mereka? Allah berfirman, "Amal perbuatan mereka datang sesudah itu, dan mereka masing-masing akan mengamalkan amalannya agar mereka nanti kelak di hari kiamat tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini'. Kemudian Allah mengembalikan mereka ke dalam sulbi Adam. Hadits riwayat Ibnu Murdawaih.
Asar yang lain diriwayatkan oleh Abu Ja'far Ar-Razi, dari Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Abul Aliyah, dari Ubay ibnu Ka'b sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka. (Al-Araf: 172) Pada hari itu Allah mengumpulkan seluruh manusia yang akan ada sampai hari kiamat nanti, lalu Allah menjadikan mereka dalam rupanya masing-masing dan membuat mereka dapat berbicara hingga mereka dapat berbicara, kemudian Allah mengambil janji dan ikrar dari mereka: dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhan kalian?Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami)." (Al-A'raf: 172), hingga akhir ayat.
Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku mempersaksikan terhadap kalian tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, dan Aku telah mempersaksikan Adam kakek moyang kalian terhadap kalian, agar kalian kelak di hari kiamat tidak mengatakan, 'Kami tidak mengetahui." Ketahuilah oleh kalian bahwa tidak ada Tuhan selain Aku dan tidak ada Rabb selain Aku, maka janganlah Engkau mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun.
Dan sesungguhnya Aku akan mengutus kepada kalian rasul-rasul untuk memberikan peringatan kepada kalian akan janji dan ikrar-Ku ini, dan Aku akan menurunkan kepada kalian kitab-kitab-Ku." Mereka menjawab, "Kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami dan Rabb kami, tidak ada Rabb dan tidak ada Tuhan selain Engkau." Pada hari itu mereka mengakui bersedia untuk taat, lalu Allah mengangkat kakek moyang mereka, Adam; dan Adam memandang mereka, maka ia melihat bahwa di antara mereka ada yang kaya, ada yang miskin, dan ada yang rupanya baik, ada pula yang tidak.
Maka Adam berkata, "Wahai Tuhanku, mengapa tidak Engkau samakan hamba-hamba-Mu itu?" Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku suka bila dipanjatkan rasa syukur kepada Ku. Nabi Adam melihat adanya para nabi di antara mereka yang bagaikan pelita karena memancarkan nur (cahaya), lalu mereka secara khusus diikat dengan janji lain, yaitu berupa risalah dan kenabian. Hal inilah yang diungkapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi (Al-Ahzab: 7), hingga akhir ayat. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah. (Ar-Rum: 30) Ini adalah seorang pemberi peringatan di antarapemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. (An-Najm: 56) Termasuk pula ke dalam pengertian ini firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan: Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. (Al-A'raf: 102) Semuanya itu diriwayatkan oleh Abdullah ibnu Imam Ahmad di dalam kitab Musnad ayahnya.
Ibnu Abu Hatim, Ibnu Jarir, dan Ibnu Murdawaih di dalam kitab tafsir masing-masing melalui riwayat Ibnu Ja'far Ar-Razi dengan sanad yang sama. Mujahid, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Al-Hasan, Qatadah, As-Suddi, dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf telah meriwayatkan atsar-atsar yang teks-teksnya bersesuaian dengan hadits-hadits ini. Kami cukupkan dengan apa yang telah kami sebutkan agar pembahasannya tidak bertele-tele, dan hanya kepada Allah-lah Kami memohon pertologan.
Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengeluarkan keturunan Bani Adam dari sulbinya, lalu Dia memisahkan antara ahli surga dan ahli neraka di antara mereka. Adapun mengenai pengambilan kesaksian yang mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan mereka, maka tiada lain hanya terdapat di dalam hadits Kalsum ibnu Jubair, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, juga dalam hadits Abdullah ibnu Amr. Kami telah menjelaskan bahwa keduanya mauquf, bukan marfu' seperti yang telah disebutkan di atas.
Karena itulah ada sebagian ulama Salaf dan ulama Khataf yang mengatakan bahwa persaksian ini tiada lain adalah fitrah mereka yang mengakui keesaan Tuhan, seperti yang disebutkan di dalam hadits Abu Hurairah dan Iyad ibnu Himar Al-Mujasyi'i. Juga seperti yang disebutkan melalui riwayat Al-Hasan Al-Basri, dari Al-Aswad ibnu Sari'; dan Al-Hasan menafsirkan ayat ini dengan pengertian tersebut.
Mereka mengatakan bahwa karena itulah disebutkan di dalam firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam. (Al-A'raf: 172) tidak disebutkan dari Adam. Dari sulbi mereka. (Al-A'raf: 172) tidak disebutkan dari sulbinya (Adam). anak cucu mereka. (Al-A'raf: 172) Yakni Allah menjadikan keturunan mereka generasi demi generasi, satu kurun demi satu kurun, sama halnya dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat-ayat lain, yaitu: Dia-lah yang menjadikan kalian khalifah-khalifah di muka bumi. (Fathir: 39) dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi. (An-Naml: 62) sebagaimana Dia menjadikan kalian dari keturunan orang-orang lain. (Al-An'am: 133) Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) "Bukankah Aku ini Tuhan kalian? Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami)." (Al-A'raf: 172) Maksudnya, Allah menjadikan mereka menyaksikan hal tersebut secara keadaan dan ucapan.
Kesaksian itu adakalanya dilakukan dengan ucapan, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala: Mereka berkata, "Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.(Al-An'am: 130) Adakalanya pula dilakukan dengan keadaan (yakni dengan sikap dan perbuatan), seperti pengertian yang terdapat di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala: Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. (At-Taubah: 17) Artinya, sedangkan keadaan mereka atau sikap dan perbuatan mereka menunjukkan kekafiran mereka, sekalipun mereka tidak mengatakannya.
Demikianlah pengertian yang terkandung di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya. (Al-'Adiyat: 7) Demikian pula permintaan, adakalanya dengan ucapan, adakalanya dengan keadaan (sikap dan perbuatan), seperti pengertian yang terkandung di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan Dia telah memberikan kepada kalian (keperluan kalian) dari segala apa yang kalian mohonkan kepada-Nya (Ibrahim: 34) Mereka mengatakan bahwa di antara dalil yang menunjukkan bahwa makna yang dimaksud dengan 'persaksian ini' adalah fitrah, yakni bila hanya persaksian saja yang dijadikan hujah terhadap kemusyrikan mereka, seandainya memang keadaannya demikian, maka niscaya yang terkena hujah hanyalah orang-orang yang telah mengucapkannya saja.
Dan jika dikatakan bahwa penyampaian Rasulullah ﷺ akan ketauhidan Allah sudah cukup untuk dijadikan bukti bagi keberadaan kesaksian ini, maka sebagai jawabannya dapat dikatakan bahwa orang-orang yang mendustakan-Nya dari kalangan kaum musyrik, mendustakan pula semua apa yang telah disampaikan oleh para rasul lainnya, baik yang menyangkut hal ini (keesaan Tuhan) ataupun masalah lainnya. Maka hal ini menjadikannya sebagai hujah tersendiri terhadap diri mereka. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa makna yang dimaksud dari 'persaksian ini' adalah fitrah yang telah ditanamkan di dalam jiwa mereka menyangkut masalah ketauhidan Allah.
Karena itulah disebutkan didalam firman Nya: agar kalian tidak mengatakan. (Al-A'raf: 172) Maksudnya, agar di hari kiamat kelak, kalian tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (bani Adam) terhadap ini. (Al-A'raf: 172) Yakni terhadap masalah tauhid atau keesaan Allah ini. adalah orang-orang yang lengah, atau agar kalian tidak mengatakan, "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan. (Al-A'raf: 172-173), hingga akhir ayat.".
Ayat-ayat yang lalu berbicara tentang kisah Nabi Musa dan Bani Israil dengan mengingatkan mereka tentang perjanjian yang bersifat khusus, di sini Allah menjelaskan perjanjian yang bersifat umum, untuk Bani Israil dan manusia secara keseluruhan, yaitu dalam bentuk penghambaan. Allah berfirman, Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi, yakni tulang belakang anak cucu Adam, keturunan mereka yang melahirkan generasi-generasi selanjutnya. Dan kemudian Dia memberi mereka bukti-bukti ketuhanan melalui alam raya ciptaanNya, sehingga'dengan adanya bukti-bukti itu'secara fitrah akal dan hati nurani mereka mengetahui dan mengakui kemahaesaan Tuhan. Karena begitu banyak dan jelasnya bukti-bukti keesaan Tuhan di alam raya ini, seakan-akan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka seraya berfirman, Bukankah Aku ini Tuhan Pemelihara-mu dan sudah berbuat baik kepadamu' Mereka menjawab, Betul Engkau Tuhan kami, kami bersaksi bahwa Engkau Maha Esa. Dengan demikian, pengetahuan mereka akan bukti-bukti tersebut menjadi suatu bentuk penegasan dan, dalam waktu yang sama, pengakuan akan kemahaesaan Tuhan. Kami lakukan yang demikian itu agar di hari Kiamat kamu tidak lagi beralasan dengan mengatakan, Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini, tidak tahu apa-apa mengenai keesaan Tuhan. Atau agar kamu tidak beralasan dengan mengatakan seandainya tidak ada rasul yang Kami utus atau tidak ada bukti-bukti itu, Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami tidak mempunyai pembimbing selain mereka, sehingga kami mengikuti mereka saja, karena kami adalah keturunan yang datang setelah mereka dan hanya mengikuti jejak mereka. Maka apakah wajar wahai Tuhan, Engkau akan menyiksa dan membinasakan kami karena perbuatan syirik yang diwariskan kepada kami oleh orang-orang dahulu yang sesat' Agar orang-orang musyrik itu jangan mengatakan bahwa nenek moyang mereka dahulu telah mempersekutukan Tuhan, sedang mereka tidak tahu menahu bahwa mempersekutukan Tuhan itu salah, tidak ada jalan lagi bagi mereka, hanya meniru nenek moyang mereka yang mempersekutukan Tuhan. Karena itu mereka menganggap mereka tidak patut disiksa karena kesalahan nenek moyang mereka.
Dalam ayat ini Allah menerangkan tentang janji yang dibuat pada waktu manusia dilahirkan dari rahim orang tua (ibu) mereka, secara turun temurun, yakni Allah menciptakan manusia atas dasar fitrah. Allah menyuruh roh mereka untuk menyaksikan susunan kejadian diri mereka yang membuktikan keesaan-Nya, keajaiban proses penciptaan dari setetes air mani hingga menjadi manusia bertubuh sempurna, dan mempunyai daya tanggap indra, dengan urat nadi dan sistem urat syaraf yang mengagumkan, dan sebagainya. Berkata Allah kepada roh manusia "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Maka menjawablah roh manusia, "Benar (Engkaulah Tuhan kami), kami telah menyaksikan." Jawaban ini merupakan pengakuan roh pribadi manusia sejak awal kejadiannya akan adanya Allah Yang Maha Esa, yang tiada Tuhan lain yang patut disembah kecuali Dia.
Dengan ayat ini Allah bermaksud untuk menjelaskan kepada manusia, bahwa hakikat kejadian manusia itu didasari atas kepercayaan kepada Allah Yang Maha Esa. Sejak manusia itu dilahirkan dari rahim orang tua mereka, ia sudah menyaksikan tanda-tanda keesaan Allah pada kejadian mereka sendiri, Allah berfirman pada ayat lain:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (ar-Rum/30: 30)
Fitrah Allah maksudnya ialah tauhid. Rasulullah bersabda:
"Tak seorang pun yang dilahirkan kecuali menurut fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana halnya hewan melahirkan anaknya yang sempurna telinganya, adakah kamu ketahui ada cacat pada anak hewan itu?" (Riwayat al-Bukhari Muslim, dari Abu Hurairah)
Rasulullah dalam hadis Qudsi:
Berfirman Allah Taala, "Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-Ku cenderung (ke agama tauhid). Kemudian datang kepada mereka setan-setan dan memalingkan mereka dari agama (tauhid) mereka, maka haramlah atas mereka segala sesuatu yang telah Kuhalalkan bagi mereka." (Riwayat al-Bukhari dari Iyadh bin Himar)
Penolakan terhadap ajaran Tauhid yang dibawa Nabi itu sebenarnya perbuatan yang berlawanan dengan fitrah manusia dan dengan suara hati nurani mereka. Karena itu tidaklah benar manusia pada hari Kiamat nanti mengajukan alasan bahwa mereka alpa, tak pernah diingatkan untuk mengesakan Allah. Fitrah mereka sendiri dan ajaran Nabi-nabi senantiasa mengingatkan mereka untuk mengesakan Allah dan menaati seruan Rasul serta menjauhkan diri dari syirik.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
NYAWA BERJANJI DENGAN ALLAH
“Dan, (ingatlah) tatkala Tuhan engkau mengambil dari anak cucu Adam dari tulang-tulang punggung mereka dan Dia jadikan mereka saksi atas diri mereka sendiri."
(pangkal ayat 172)
Artinya, di dalam tulang punggung tiap-tiap kita anak cucu Adam ini tersimpanlah lembaga dari tiap-tiap diri manusia yang akan melanjutkan hidup. Dahulunya kita yang hidup ini tersimpan lembaganya di dalam tulang punggung ayah kita dan ayah kita tersimpan lembaganya di dalam tulang punggung nenek kita, demikian seterusnya sampai kepada nenek moyang pertama Nabi Adam a.s.. Maka, di dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa tiap-tiap kita yang masih dalam tulang punggung itu diambil oleh Allah, dengan qudrat iradah-Nya dikeluarkan dari dalamnya lalu dipanggil dan dijadikan saksi atas diri sendiri karena Allah akan bertanya. “Bukankah Aku Tuhan kamu?" Kita dikeluarkan dari tulang punggung bapak kita lalu ditanyai dengan pertanyaan demikian, yaitu bukankah Aku inilah Tuhan kamu? Bukankah tidak ada Tuhan lain selain daripada Aku? Semua menjawab, “Memang kami menyaksikan!" Artinya, memanglah hanya Engkau dan kami semuanya menyaksikan dengan diri sendiri bahwa yang Tuhan hanyalah Engkau.
Maksud ayat ialah menerangkan bahwasanya jiwa murni tiap-tiap manusia itu adalah dalam keadaan fitrah, masih bersih, belum ada pengaruh apa-apa. Pada jiwa yang masih murni itu sejak semula telah terdapat pengakuan bahwasanya pastilah ada pencipta dari seluruh alam ini. Tidaklah alam terjadi sendirinya dan tidak pula ada pencipta yang lain. Pencipta itu hanya Satu, Esa, Tunggal. Pada ayat ini dikatakan bahwa lembaga insan dikeluarkan dari tulang punggung tempat dia disimpan, lalu ditanyai langsung oleh Allah, bukankah Aku Tuhanmu? Mereka semua menjawab, “Memang!" Atau, “Benarlah bahwa Engkau Tuhan kami dan kami menyaksikan."
Apakah benar-benar kita keluar dari tulang punggung dan ditanya? Bilakah terjadinya hal itu? Setengah ahli tafsir menafsirkan bahwasanya kejadian itu ialah semasa ruh insan masih di dalam lembaga Adam. Ruh telah terjadi lebih dahulu daripada badan, waktu itulah pertanyaan datang. Tiap-tiap kita tidak ingat lagi, tetapi dia telah mendasar pada jiwa kita. Sebab itu, apabila manusia telah hidup di dunia ini, jiwa murninya telah menyaksikan bahwa Allah itulah Tuhan kita. Akan tetapi, ahli-ahli bahasa Arab mengatakan bahwa ayat Allah ini adalah sebagai suatu tamsil yang tinggi menurut balaghah. Allah bercakap-cakap dengan tiap-tiap jiwa itu bukanlah mesti berhadap-hadapan, tetapi iradah dan takwin Ilahi, atau kehendak Allah atau kekuasaan Pencipta, bertanya kepada lembaga akal yang murni yang tidak perlu dipikirkan bahwa itu adalah soal jawab dengan mulut. Di dalam ayat yang lain terdapat pula yang serupa ini, yaitu di dalam surah 41, Ha-Mim, Sajdah atau Fushilat ayat 11, bahwa Allah berfirman kepada langit dan bumi supaya datang dengan taat atau dengan paksa, lalu langit dan bumi menjawab bahwa kami akan datang dengan taat. Yang menjawab itu bukan lidahnya, melainkan keadaannya. Maka, manusia itu pun demikian pula, yang menjawab itu bukan lidahnya, melainkan keadaan dan kenyataan.
Berkata Ibnu Katsir di dalam tafsirnya, “Dengan ayat ini Allah mengabarkan bahwa dia telah mengeluarkan anak cucu Adam dari sulbi mereka untuk menyaksikan atas diri mereka sendiri bahwa Allah-lah Tuhan mereka dan yang menguasai mereka dan tidak ada Tuhan melainkan Dia, sebagai juga Allah telah membuat fitrah mereka demikian, sebagaimana telah difirmankan oleh Allah:
“Dan tegakkanlah wajah engkau kepada agama yang hanif, ialah fitrah Allah yang telah difitrahkan-Nya manusia atasnya, tidaklah ada gantian dari apa yang telah diciptakan Allah." (ar-Ruum: 30)
Dan, pada dua Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a. bersabda Rasulullah ﷺ:
“Tiap-tiap anak yang dilahirkan adalah di lahirku n di dalam fitrah." (HR Bukhari dan Muslim)
Dan, di dalam riwayat lain:
“Dalam agama ini, maka ibu bapaknyalah menjadikannya Yahudi, Nasrani atau menjadi dari tulang punggung bapak kita lalu ditanyai dengan pertanyaan demikian, yaitu bukankah Aku inilah Tuhan kamu? Bukankah tidak ada Tuhan lain selain daripada Aku? Semua menjawab, “Memang kami menyaksikan!" Artinya, memanglah hanya Engkau dan kami semuanya menyaksikan dengan diri sendiri bahwa yang Tuhan hanyalah Engkau.
Maksud ayat ialah menerangkan bahwasanya jiwa murni tiap-tiap manusia itu adalah dalam keadaan fitrah, masih bersih, belum ada pengaruh apa-apa. Pada jiwa yang masih murni itu sejak semula telah terdapat pengakuan bahwasanya pastilah ada pencipta dari seluruh alam ini. Tidaklah alam terjadi sendirinya dan tidak pula ada pencipta yang lain. Pencipta itu hanya Satu, Esa, Tunggal. Pada ayat ini dikatakan bahwa lembaga insan dikeluarkan dari tulang punggung tempat dia disimpan, lalu ditanyai langsung oleh Allah, bukankah Aku Tuhanmu? Mereka semua menjawab, “Memang!" Atau, “Benarlah bahwa Engkau Tuhan kami dan kami menyaksikan."
Apakah benar-benar kita keluar dari tulang punggung dan ditanya? Bilakah terjadinya hal itu? Setengah ahli tafsir menafsirkan bahwasanya kejadian itu ialah semasa ruh insan masih di dalam lembaga Adam. Ruh telah terjadi lebih dahulu daripada badan, waktu itulah pertanyaan datang. Tiap-tiap kita tidak ingat lagi, tetapi dia telah mendasar pada jiwa kita. Sebab itu, apabila manusia telah hidup di dunia ini, jiwa murninya telah menyaksikan bahwa Allah itulah Tuhan kita. Akan tetapi, ahli-ahli bahasa Arab mengatakan bahwa ayat Allah ini adalah sebagai suatu tamsil yang tinggi menurut balaghah. Allah bercakap-cakap dengan tiap-tiap jiwa itu bukanlah mesti berhadap-hadapan, tetapi iradah dan takwin Ilahi, atau kehendak Allah atau kekuasaan Pencipta, bertanya kepada lembaga akal yang murni yang tidak perlu dipikirkan bahwa itu adalah soal jawab dengan mulut. Di dalam ayat yang lain terdapat pula yang serupa ini, yaitu di dalam surah 41, H a-Mi m, Sajdah atau Fushilat ayat 11, bahwa Allah berfirman kepada langit dan bumi supaya datang dengan taat atau dengan paksa, lalu langit dan bumi menjawab bahwa kami akan datang dengan taat. Yang menjawab itu bukan lidahnya, melainkan keadaannya. Maka, manusia itu pun demikian pula, yang menjawab itu bukan lidahnya, melainkan keadaan dan kenyataan.
Berkata Ibnu Katsir di dalam tafsirnya, “Dengan ayat ini Allah mengabarkan bahwa dia telah mengeluarkan anak cucu Adam dari sulbi mereka untuk menyaksikan atas diri mereka sendiri bahwa Allah-lah Tuhan mereka dan yang menguasai mereka dan tidak ada Tuhan melainkan Dia, sebagai juga Allah telah membuat fitrah mereka demikian, sebagaimana telah difirmankan oleh Allah:
“Dan tegakkanlah wajah engkau kepada agama yang hanif, ialah fitrah Allah yang telah difitrahkan-Nya manusia atasnya, tidaklah ada gantian dari apa yang telah diciptakan Allah." (ar-Ruum: 30)
Dan, pada dua Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a. bersabda Rasulullah ﷺ:
“Tiap-tiap anak yang dilahirkan adalah di lahirku n di dalam fitrah." (HR Bukhari dan Muslim)
Dan, di dalam riwayat lain:
“Dalam agama ini, maka ibu bapaknyalah menjadikannya Yahudi, Nasrani atau menjadi■
“Atau supaya tidak kamu katakan, yang musynik itu hanyalah bapak-bapak kami yang dahulu sedang kami ini hanyalah ketuiunan sesudah mereka.
(pangkal ayat 173)
Artinya, jangan sampai kamu katakan pula bahwa apa yang kami kerjakan sekarang ini tidak lain daripada contoh teladan yang ditinggalkan bapak-bapak kami. Kalau perbuatan ini termasuk syirik maka yang bersalah bukan kami. Kami hanya menerima pusaka saja.
“Maka, apakah Engkau akan membinasakan kami lantanan apa yang dikenjakan oleh orang-orang yang berbuat salah?"
(ujung ayat 173)
Mengapa kami mesti memikul pula kesalahan mereka yang dahulu itu, yang memelopori syirik, sedang kami ini hanyalah keturunan mereka saja? Allah menerangkan pada ayat ini sekali lagi, bahwa maksud Allah menyebutkan di ayat yang terdahulu bahwa tiap jiwa telah dikeluarkan dari tulang punggung ayahnya dan ditanyai “bukankah Aku ini Tuhanmu?" Dia menjawab, “Memang!" Ialah supaya jangan terjadi jawab lain oleh anak cucu karena kesalahan ayah dan nenek moyang. Sebab, anak cucu itu sendiri berfitrah dan berakal pula. Diberi sendiri-sendiri oleh Allah sehingga sangatlah tidak beralasan kalau si anak dan si cucu bahwa dia tidak bersalah kalau dia memperserikatkan Allah karena begitu yang dia pusakai, sebab dia sendiri ada akal, sebab itu dia sendirilah langsung berjanji dan naik saksi di hadapan Allah.
“Dan, demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat itu supaya mereka kembali."
(ayat 174)
Artinya, Allah mengemukakan ayat-ayat ini yang di sini berarti keterangan dari dalil, maksudnya ialah supaya orang-orang yang telah tersesat atau salah berpaham itu kembali kepada jalan yang benar. Jangan dikatakan bahwa agama itu tidak ada, sebab di dalam sanubari sendiri sejak lahir ke dunia perasaan tentang adanya Allah itu telah ada. Cuma kadang-kadang tertimbun oleh perdayaan setan; atau pertentangan yang hebat di antara hawa nafsu dengan jiwa murni. Dan, jangan pula beragama hanya taklid saja kepada yang dipusakai dari nenek moyang, sebab jiwa murni itu sendiri akan tetap membantah perbuatan yang salah sebab ada mempunyai akal!
Tidak kita abaikan di dalam penafsiran itu beberapa hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan dengan berbagal-bagai thuruq (jalan) mengenai ayat ini.
“Sesungguhnya Allah telah menciptakan Adam kemudian menyapu punggungnya lalu Dia keluarkan daripadanya anak cucunya."
Pada lahirnya saja seakan-akan bertentangan bunyi hadits ini dengan bunyi ayat, padahal hadits ini ialah memperlengkap keterangan yang ada di dalam ayat. Di dalam ayat yang tersebut hanyalah bahwa Allah mengeluarkan anak cucu keturunan Adam dari dalam tulang punggungnya dan tidak termasuk Adam sendiri. Pikiran kita tentu sampai kepada kesimpulan bahwa kalau dari tiap-tiap anak cucu Adam dikeluarkan keturunannya dari tulang punggungnya, tentu Adam sendiri tidak ketinggalan dikeluarkan pula anak cucunya dari tulang punggungnya. Maka, datanglah hadits ini menerangkan bahwa memang demikian adanya. Adam sendiri pun dibegitukan oleh Allah, yaitu disapu Allah punggungnya, dikeluarkan pula anak cucunya dari dalam, lalu ditanyai sebagai pertanyaan yang tadi juga. “Bukankah aku Tuhan kamu?" Mereka menjawab, “Memang! Kami menyaksikan!" Dengan demikian tidaklah ada manusia yang terlepas dari tanya jawab yang demikian, sejak Adam sampai kepada anak cucu keturunannya, selama manusia masih ada dalam alam ini.
Dan, dapatlah disimpulkan bahwa agama itu telah sedia ada di dalam jiwa tiap-tiap manusia. Kewajiban Rasul dan kewajiban menyambut waris Rasul ialah membangkitkan kesadaran bertuhan itu dari dalam jiwa manusia.
Untuk menambah bahan pemikiran, bolehlah kita persambungkan renungan tentang soal ini kepada filsafat, yaitu di mana kedudukan manusia di tengah-tengah alam. Tentang empat soal yang selalu menjadi perbincangan manusia sejak mereka pandai berpikir, yaitu soal arti alam (cosmos), arti manusia di tengah alam, arti hidup dan arti siapa pencipta. Dan, boleh juga dilengkapi dengan yang dikenal dengan sebutan “Idealisms Plato", yang mengatakan bahwa di samping hidup yang nyata ini (realisme), manusia mempunyai lagi hidup yang lain, dalam alam cita (idealisme). Sebab, manusia itu selalu menciptakan hidup yang lebih baik, hidup yang lebih sempurna, yang kadang-kadang dinamainya juga “Hidup Ketuhanan". Plato mengakui pasti adanya hidup yang demikian, memang dari sanalah kita datang dahulunya dan ke sana pula kita ingin pulang. Sebab itu, Socrates, guru Plato sekali-kali tidak gentar menghadapi maut, sebab dia yakin bahwa dia akan pulang kepada hidup yang sejati itu.
"Raising Mount Tur over the Jews, because of Their Rebellion
Allah tells;
وَإِذ نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَأَنَّهُ ظُلَّةٌ وَظَنُّواْ أَنَّهُ وَاقِعٌ بِهِمْa
خُذُواْ مَا اتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُواْ مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
And (remember) when We Nataqna the mountain over them as if it had been a canopy, and they thought that it was going to fall on them. (We said):""Hold firmly to what We have given you (the Tawrah), and remember that which is therein (act on its commandments), so that you may fear Allah and obey Him.""
Ali bin Abi Talhah reported that Ibn Abbas commented on the Ayah,
وَإِذ نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ
(And (remember) when We Nataqna the mountain over them),
""We raised the mountain, as Allah's other statement testifies,
وَرَفَعْنَا فَوْقَهُمُ الطُّورَ بِمِيثَاقِهِمْ
(And for their covenant, We raised over them the mountain) (4:154).""
Also, Sufyan Ath-Thawri narrated that Al-A`mash said that, Sa`id bin Jubayr said that Ibn Abbas said,
""The angels raised the Mount over their heads, as reiterated by Allah's statement,
وَرَفَعْنَا فَوْقَهُمُ الطُّورَ
(We raised over them the mountain) (4:154).""
Al-Qasim bin Abi Ayyub narrated that Sa`id bin Jubayr said that Ibn Abbas said,
""Musa later on proceeded with them to the Sacred Land. He took along the Tablets, after his anger subsided, and commanded them to adhere to the orders that Allah ordained to be delivered to them. But these orders became heavy on them and they did not want to implement them until Allah raised the mountain over them,
كَأَنَّهُ ظُلَّةٌ
(as if it had been a canopy), that is, when the angels raised the mountain over their heads.""
An-Nasa'i collected it
The Covenant taken from the Descendants of Adam
Allah tells;
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي ادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
And (remember) when your Lord brought forth from the Children of Adam, from their loins, their seed,
Allah stated that He brought the descendants of Adam out of their fathers' loins, and they testified against themselves that Allah is their Lord and King and that there is no deity worthy of worship except Him. Allah created them on this Fitrah, or way, just as He said,
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفاً فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ
So set you (O Muhammad) your face truly towards the religion, Hanifan. Allah's Fitrah with which He has created mankind. No change let there be in Khalqillah. (30:30)
And it is recorded in the Two Sahihs from Abu Hurayrah who said that the Messenger of Allah said,
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُولَدُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاء
Every child is born upon the Fitrah, it is only his parents who turn him into a Jew, a Christian or a Zoroastrian. Just as animals are born having full bodies, do you see any of them having a cutoff nose (when they are born).
Muslim recorded that Iyad bin Himar said that the Messenger of Allah said;
يَقُولُ اللهُ إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ فَجَاءَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُم
Allah said, `I created My servants Hunafa (monotheists), but the devils came to them and deviated them from their religion, prohibiting what I allowed.
There are Hadiths that mention that Allah took Adam's offspring from his loins and divided them into those on the right and those on the left.
Imam Ahmad recorded that Anas bin Malik said that the Prophet said,
يُقَالُ لِلرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ لَكَ مَا عَلَى الاَْرْضِ مِنْ شَيْءٍ أَكُنْتَ مُفْتَدِيًا بِهِ
فَيَقُولُ نَعَمْ
فَيَقُولُ قَدْ أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنَ مِنْ ذَلِكَ قَدْ أَخَذْتُ عَلَيْكَ فِي ظَهْرِ ادَمَ أَنْ لَا تُشْرِكَ بِي شَيْيًا فَأَبَيْتَ إِلاَّ أَنْ تُشْرِكَ بِي
It will be said to a man from the people of the Fire on the Day of Resurrection, `If you owned all that is on the earth, would you pay it as ransom!'
He will reply, `Yes.'
Allah will say, `I ordered you with what is less than that, when you were still in Adam's loins, that is, associate none with Me (in worship). You insisted that you associate with Me (in worship).'
This was recorded in the Two Sahihs Commenting on this Ayah (7:172).
At-Tirmidhi recorded that Abu Hurayrah said that the Messenger of Allah said,
لَمَّا خَلَقَ اللهُ ادَمَ مَسَحَ ظَهْرَهُ فَسَقَطَ مِنْ ظَهْرِهِ كُلُّ نَسَمَةٍ هُوَ خَالِقُهَا مِنْ ذُرِّيَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَجَعَلَ بَيْنَ عَيْنَي كَلِّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ وَبِيصًا مِنْ نُورٍ ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى ادَمَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ مَنْ هوُلَاءِ
When Allah created Adam, He wiped Adam's back and every person that He will create from him until the Day of Resurrection fell out from his back. Allah placed a glimmering light between the eyes of each one of them. Allah showed them to Adam and Adam asked, `O Lord! Who are they!'
قَالَ هوُلَااءِ ذُرِّيَّتُكَ
Allah said, `These are your offspring.'
فَرَأَىَ رَجُلً مِنْهُمْ فَأَعْجَبَهُ وَبِيصُ مَا بَيْنَ عَيْنَيْهِ قَالَ أَيْ رَبِّ مَنْ هَذَا
Adam ﷺ a man from among them whose light he liked. He asked, `O Lord! Who is this man!'
قَالَ هَذَا رَجُلٌ مِنْ اخِرِ الاْاُمَمِ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ يُقَالُ لَهُ دَاوُدُ
Allah said, `This is a man from the latter generations of your offspring. His name is Dawud.'
قَالَ رَبِّ وَكَمْ جَعَلْتَ عُمْرَهُ
Adam said, `O Lord! How many years would he live!'
قَالَ سِتِّينَ سَنَةً
Allah said, `Sixty years.'
قَالَ أَيْ رَبِّ وَقَدْ وَهَبْتُ لَهُ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعِينَ سَنَةً
Adam said, `O Lord! I have forfeited forty years from my life for him.'
فَلَمَّا انْقَضَى عُمْرُ ادَمَ جَاءَهُ مَلَكُ الْمَوْتِ قَالَ أَوَ لَمْ يَبْقَ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعُونَ سَنَةً
When Adam's life came to an end, the angel of death came to him (to take his soul). Adam said, `I still have forty years from my life term, don't I!'
قَالَ أَوَ لَمْ تُعْطِهَا ابْنَكَ دَاوُدَ
He said, `Have you not given it to your son Dawud!'
قَالَ فَجَحَدَ ادَمُ فَجَحَدَتْ ذُرِّيَّتُهُ وَنَسِيَ ادَمُ فَنِسَيتْ ذُرِّيَّتُهُ وَخَطِىءَ ادَمُ فَخَطِيَتْ ذُرِّيَّتُه
So Adam denied that and his offspring followed suit (denying Allah's covenant), Adam forgot and his offspring forgot, Adam made a mistake and his offspring made mistakes.
At-Tirmidhi said, ""This Hadith is Hasan Sahih, and it was reported from various chains of narration through Abu Hurayrah from the Prophet.""
Al-Hakim also recorded it in his Mustadrak, and said; ""Sahih according to the criteria of Muslim, and they did not record it.""
These and similar Hadiths testify that Allah, the Exalted and Most Honored, brought forth Adam's offspring from his loins and separated between the inhabitants of Paradise and those of the Fire.
Allah then said,
وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى
شَهِدْنَا
and made them testify as to themselves (saying):""Am I not your Lord!"" They said:""Yes! We testify,""
Therefore, Allah made them testify with themselves by circumstance and words. Testimony is sometimes given in words, such as,
قَالُواْ شَهِدْنَا عَلَى أَنفُسِنَا
(They will say:""We bear witness against ourselves""). (6:130)
At other times, testimony is given by the people themselves, such as Allah's statement,
مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَن يَعْمُرُواْ مَسَاجِدَ الله شَاهِدِينَ عَلَى أَنفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ
(It is not for the Mushrikin, (polytheists) to maintain the mosques of Allah, while they testify against their own selves of disbelief). (9:17)
This Ayah means that their disbelief testifies against them, not that they actually testify against themselves here.
Another Ayah of this type is Allah's statement,
وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ
(And to that he bears witness (by his deeds). (100:7)
The same is the case with asking, sometimes takes the form of words and sometimes a situation or circumstance. For instance, Allah said,
وَاتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ
(And He gave you of all that you asked for). (14:34)
Allah said here,
أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
lest you should say on the Day of Resurrection:
إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا
we were of this (of Tawhid),
غَافِلِينَ
أَوْ تَقُولُواْ إِنَّمَا أَشْرَكَ ابَاوُنَا
مِن قَبْلُ
unaware. Or lest you should say:""It was only our fathers aforetime who took others as partners in worship along with Allah,""
وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِّن بَعْدِهِمْ
أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ
and we were (merely their) descendants after them; will You then destroy us because of the deeds of men who practiced falsehood.""
وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الايَاتِ وَلَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Thus do We explain the Ayat in detail, so that they may turn (unto the truth)."
And, remember, when your Lord took from the Children of Adam, from their loins (min zuhoorihim, is an inclusive substitution for the preceding [clause: min banee aadama, 'from the Children of Adam'], with the same preposition [min, 'from']) their seed, by bringing forth one from the loins of the other, [all] from the loins of Adam, offspring after offspring, in the way that they multiply, [looking] like small ants at [the valley of] Na'maan on the Day of 'Arafa [because of their multitude]. God set up proofs of His Lordship for them and endowed them with [the faculty of] reason, and made them testify against themselves, saying, 'Am I not your Lord?' They said, 'Yea, indeed, You are our Lord, we testify', to this, and this [taking of] testimony is, lest they should say (in both instances, read third person [yaqooloo, 'they say'] or second person [taqooloo, 'you say']) on the Day of Resurrection, 'Truly, of this, Oneness of God, we were unaware', not knowing it!
The covenant of Alust: عہد الست
These two verses describe the event of the great heavenly covenant which the Creator, Allah, made with all His created being even before they took the form of their existence. This covenant is known as the covenant of Alust (أَلَسْتُ ).
Allah is the creator of all the worlds, the heavens, the earth and whatever exists between them. His infinite wisdom and all-encompassing knowledge has designed and manufactured this universe with as much perfection as leaves no room for any doubt or question. He has created everything with a wise set of rules and regulations. Following these laws ensures people of eternal success and everlasting peace and comfort while deviation from these principles makes one liable to punishments prescribed by Allah.
We may also note that His all-encompassing knowledge and infinite wisdom was enough to decide the fate of all the created beings without assigning His angels to watch over and keep the record of the deeds of His servants, and without weighing their deeds in the Balance on the Day of Judgment. It is because He is All-Aware of the deeds, even of the hidden thoughts and intentions of His servants without the remotest possibility of making wrong judgment.
His Grace and perfect Justice, however, chose that none should be punished without providing him with documentary evidences of his sinful acts, in a way, that sinner himself finds no choice but to readily acknowledge his sinful deeds.
He appointed some of His angels to record each and every act done by an individual. The Holy Qur'an said:
مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ ﴿18﴾
"He utters not a word but there is by him a vigilant watcher1." (50:18)
1. According to Sayyidna Ibn ` Abbas , LI everything good or bad about a mortal is recorded by his guardian angels" (A study of al-Qur'an al-Karim vol. 4 p. 969, by La'l Muhammad Chawla) )Translator)
In another verse the Holy Qur'an said: وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُّسْتَطَرٌ ﴿53﴾ And everything small and great is written down." (54:53) Then, on the Day of Judgment the Balance shall be set to weigh the good and bad deeds of all people. Those whose good deeds weigh heavy shall be rewarded with salvation while those whose bad deeds weigh heavier shall be punished.
Moreover, when Allah, the Best of All Judges shall hold His court on the Day of Judgment, He shall call for witnesses on the deeds of every individual. Certain wrongful people shall falsify certain witnesses. Allah shall ask his physical organs to bear witness to his deeds. They shall be given power to speak and bear witness against him. The places where the deeds were done shall also come to witness against him until he shall find no way to belie the witnesses and finally will make confession of his evil deeds. The Holy Qur'an referred to it in these words:
فَاعْتَرَفُوا بِذَنبِهِمْ فَسُحْقًا لِّأَصْحَابِ السَّعِيرِ ﴿11﴾
"So, they will confess their sins, but far removed (from Allah's Mercy) are the companions of the blazing fire." (67:11)
We also note that Allah, who is the most kind and loving did not leave His servants at the mercy of law and regulations only. He, out of His kindness, provided His servants with complete guidance through His prophets and the Books, in order to save them from eternal punishment.
Like the kind parents who make it essential for their children to go to school every morning also make sure that their children get all their requirements ready before time to facilitate their following the law of school-going with all possible ease. Allah, who is free from all similarities is more loving and kind to His servants than are the parents to their children. He did not only formulate the laws but made them a source of real guidance. Along with the commandments He also taught how people can carry out His commandments with ease and readiness.
Apart from sending His messengers and divine books to His servants He appointed a large number of His angels to help and guide people to the right path. Besides, He created .clear signs of His Power and wisdom all around so that people may use their own observation and understanding to distinguish right from wrong, and to remember their Creator. He repeatedly invited people to make use of their observation and understanding when seeing His signs scattered all around them. He said, in the Holy Qur'an :
وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ ﴿20﴾ وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ ﴿21﴾
"And on the earth are signs for those who have firm faith, and also in your own selves. Do you not see then?" 1 (51:20-21)
1. This verse has referred to two kinds of signs; external and internal. The external signs are profusely available all around us; the heavens the earth, the oceans, mountains, plants and trees, fruits of different colour and taste; they provide us with unmistakable guidance to our Lord. The internal signs include the process of our reproduction, our physique, our thoughts, intentions emotions and sentiments of happiness and sorrow. A little reflection on these signs positively leads us to the Creator and makes us to express our gratefulness to Him. (Translator)
Another arrangement made by Allah to make people act righteously was to make them enter into covenants with Him through His Prophets (علیہم السلام) . The Holy Qur'an has references to a number of such covenants made with various people in varied circumstances. The Prophets (علیہم السلام) were made to promise that they shall essentially convey Allah's message to their people without any regard to difficulties and reproach from them. This pious group of prophets (علیہم السلام) did convey Allah's message as faithfully as was possible and sacrificed all that they had in this way.
Similarly the people of every prophet were made to promise to obey their prophet, and in some special cases, to spend all their energy in carrying out particular commands. Some people fulfilled their promise while some others did not.
Among such covenants the most significant one is the covenant which all the prophets were made to enter regarding the Holy Prophet ﷺ that all the prophets shall follow the last of all prophets and assist him when they find some opportunity to do so. The Holy Qur'an has mentioned this covenant in the following verse:
وَإِذْ أَخَذَ اللَّـهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ
"And when Allah made the prophets take pledge: (saying) If I give you a book and wisdom, then comes to you a messenger verifying what is with you, you shall have to believe in him and you shall have to support him1." (3:81)
1. By implication this pledge taken by all the prophets makes it binding on the followers of all the prophets to believe in the Holy Prophet ﷺ and to follow him and support him in achieving his objectives. It makes binding upon them to follow the law given by the last of all Prophets. (Translator)
The Significance of Bay'ah بَیعَت Swearing Allegiance)
The traditional way of taking pledge (bay'ah: discipleship) from the devoted followers, is in fact, in pursuance of this practice of Allah. The Prophets (علیہم السلام) ، their companions and spiritual leaders have been taking the pledge of allegiance from their followers. The incident of اَلرِضوَان بَیعَت 'Bay'ah al-Rizwan' has been mentioned in the Holy Qur'an. It said:
لَّقَدْ رَضِيَ اللَّـهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
"Allah was certainly well pleased with the believers when they swore fidelity to you (0 Prophet) under the tree." (48:18)
The Holy Prophet ﷺ took such pledge of allegiance from his companions on many occasions. 'Bay'ah al-'Aqabah' is a famous pre-migration covenant made with the Ansars of Madinah. The customary way of Sufis to take pledge from their followers, is a covenant taken for practising the commandments of Allah regularly and strengthening their belief in Allah by frequent remembrance of their Lord. The way of swearing fealty to someone has many advantages and draws 'Barakah' from Allah.
After swearing fealty to some Sheikh (Spiritual Master), a follower feels himself more willing and inclined to practise the religious obligations, and is more conscious in seeking the pleasure of Allah.
The above description of Bay'ah also clears away a misconception common among the men of little knowledge that by putting one's hand in the hands of some Sheikh or spiritual leader is enough for one's salvation in the Hereafter. This is absolutely an erroneous notion as swearing allegiance is a pledge taken for following practical guidance according to the instructions given by the Sheikh. Therefore, only placing one's hands into the hands of a Sheikh is simply of no use. Rather, it is a deviation from the pledge and may incur the wrath of Allah.
The verse (172) speaking of the covenant of Eternity عہداَلَست in the preceding pages has used the word ذُرِّیِّۃ for the children of Adam. According to Imam Raghib al-Isfahani the word ذُرِّیِّۃ has been derived from the Arabic root ذرء which signifies to create. The Holy Qur'an has used this word to signify the same meanings in a number of verses. The word 'Dhurriyyah' (. ذُرِّیِّۃ) therefore signifies all those created. This implies that the covenant of Eternity included all the human beings as they are the progeny of Adam (علیہ السلام) .
We find some more information about this covenant in the literature of Hadith. Imam Malik, Abu Dawud, Tirmidhi and Imam Ahmad have reported on the authority of Muslim bin Yasar that some people asked the Caliph 'Sayyidna ` Umar al-Faruq ؓ of the connotation of this verse. He said that the same question was put to the Holy Prophet ﷺ and the answer of the Holy Prophet ﷺ as he heard it was as follows:
"Allah Almighty first created Adam then He placed His hand upon his back, and drew forth all the righteous descendants of Adam who were to come into being and said, "I have created them for the Paradise, and they shall act righteously as to deserve Paradise. Then He placed His hand on the back of Adam and all the wicked descendants that were to come into being appeared. He said, "I have created them for the Hell, and they shall act wickedly as to lead them to Hell."
Someone from among the companions of the Holy Prophet ﷺ asked him, "When Allah has already decided the fate of the mankind why the people are asked to do good deeds, while they are of no effect. The Holy Prophet ﷺ said, "Whoever is created for Paradise, he starts doing good deeds making him worthy of paradise and he dies in this state, while the one created for the Hell involves himself in wicked acts making him liable of the fires of Hell until he dies doing such deeds as leads him to the Hell."
That is to say, when one is not aware of the category he belongs to, he must invest all his effort and energy in doing such deeds as are the characteristics of the people of Paradise and should be hopeful of his being one among them.
The Tradition reported by Imam Ahmad on the authority of the Companion Abu al-Darda' ؓ has added that the people who appeared the first time were of fair colour while those appearing the second time were black.
The same description reported by Tirmidhi on the authority of the Companion Abu Hurairah ؓ has additionally reported that all the children of Adam (علیہ السلام) who were to come in the world upto the end of time had a kind of brilliance on their foreheads.
Here we are faced with two descriptions apparently differing from one another. The descriptions given by the above traditions have described the children of Adam coming out of the back of the Prophet Adam (علیہ السلام) while the Qur'anic verse under discussion has related them as coming forth from the backs of the progeny of Adam (علیہ السلام) . In fact, there is no conflict between the two descriptions as the direct descendants of Adam are described as coming forth from the back of Adam (علیہ السلام) while the people coming after them have been described as coming forth from the backs of his descendants.
The aim of this pledge taken from the whole mankind was to make them acknowledge that Allah Almighty is the Nourisher, The Sustainer or the Lord of all the created beings. This implies that the children of Adam (علیہ السلام) coming forth from the back of the Prophet Adam (علیہ السلام) were not in the form of spirit alone but also had a certain kind of physique made of some fine elements. It is because the function of nourishing is directly related to body which is made to progress from one state to another. The spirits do not require this kind of nourishment as they remain in one state from the moment of their creation. This is also supported from the above traditions speaking of the fair and black colour or the brilliance on their forehead because both, the colour and brilliance, require some material form to show their existence. The spirits obviously have no colour.
One may wonder how all the human beings to be created up to the Last Day could have gathered in one place. This also has been explained by the Tradition narrated by the Companion Abu al-Darda' ؓ which said that they did not appear with their usual size rather they appeared in the size of a small ant. In this age of scientific knowledge it should be of no surprise how a man of human size can be reduced to the size of an ant. The science has established the fact that a perfect system similar to our solar system is functioning in and around the nucleus of an atom. The books of hundreds of pages can be reduced to a dot of small size through a process of micro filming. It should not, therefore, be a matter of surprise that Allah, the All-Powerful, might have reduced them to the size of an ant at this occasion.
The above discussion with regard to the covenant of eternity gives rise to a couple of questions:
1. Which was the time and place of the covenant?
2. This pledge was taken prior to the creation of all human beings, excluding Adam (علیہ السلام) . How did the children of Adam have knowledge and reason to acknowledge Allah almighty as being the Nourisher or their Lord which requires the experience of their being nourished which was not possible prior to coming as human being on the earth.
The first question has been answered by the Companion ` Abdullah ibn ` Abbas ؓ as reported through authentic sources by Imam Ahmad and Nasa'i that the covenant was taken at the time when Adam (علیہ السلام) was sent down from heavens to the earth. The place was the valley of Nauman known as the plain of ` Arafat (Near Makkah).
As to the second question with regard to inability of their acknowledging Allah as their Lord prior to their creation, the answer is quite simple. Allah Almighty who has all the powers to do anything He wills, and who was able to make all the human beings appear in a size of an ant could more easily imbue knowledge and reason enough to make them capable of recognizing their Lord, the Nourisher. Allah made them appear with body and soul in a small size with all the physical functions needed by a perfect human being. Reason and understanding being the most significant functions must have been included.
Another question which remains unsettled is as to what value can be attached to a covenant occurring prior to the actual creation of human beings, and which is not remembered by them after they take their actual existence on the earth? Before proceeding to answer this question we may add that, in some cases, there have been individuals who remembered the occasion of this covenant. For example, the great spiritual leader Dhul Nun al-Misri has said, "I remember the occurrence of this covenant as clearly as I am hearing it this very moment." Some of the elders have reported to have remembered even the people who were present near them. True, that such cases are rare and do not make an answer to the above question.
The answer to this question, therefore, is that there are many things or acts which are effective in their very nature without any regard to their being remembered or understood by others. They imprint the effect on others quite naturally.
For example, the common practice, among Muslims, of saying Adhan1 in the right ear of a new born and reciting iqamah in his left ear is an obvious example of such acts. The baby neither understands the meaning of this call nor does he remember it after becoming an adult. The wisdom behind this religious practice is nothing but to revive the pledge he has taken with Allah, and sow the seed of Faith in his heart by repeating the message of the covenant in his ears. The influence of this act is so obvious that can be seen in every Muslim individual even if he is not practically a good Muslim. He takes pride in calling himself a Muslim and utterly dislikes being deprived of this categorical entity.
1. Adhan is a call for salah the ritual prayer which in fact is a bold declaration that Allah is one, has no partners, and is the greatest of all etc. while iqamah is the same declaration with added enunciation that the salah has been set ready to be joined by people. (Translator)
Similarly the commandment of reciting the Qur'an even to those who do not know Arabic is perhaps for the same reason that their hearts are enlightened with the impact of the Qur'anic words, and their Faith in Allah is renovated therewith.
The wisdom behind this covenant is similarly to sow the seed of Faith in the heart of every human being. This seed is taking its nourishment in the soil of human heart , no matter whether people are conscious of it or not. The fruit of this seed manifests itself in the form of love and respect for god (Allah) which is a part of human nature. The expression of this love and respect, may take unjust forms like worshipping false gods - idols or created beings. The worships, just or unjust, is in itself, an expression of love and respect for the creator. The billions of people have this respect and love for Allah which is expressed by them through their worship according to their ideas of worship guided by their knowledge or ignorance. There is no need to speak of those few who, under the influence of mundane pursuits have deteriorated their natural understanding and forgot the pledge they made with Allah.
The Holy Prophet ﷺ has said: کُلُّ مَولُودِ یُولَدُ عَلَی الفِطرَۃِ every baby is born on Fitrah (nature, that is, Islam) then he is converted by his parents to their religion. The Holy Prophet ﷺ has said in a Tradition that Allah Almighty has said, 'I have created my servants as Hanif, that is, having faith in Allah, the One, then they were led astray by Satanic influences."
The next sentence of the verse has said:
أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَافِلِينَ
"Lest you should say on the Day of Doom, "We were ignorant of this."
That is to say, the pledge taken by Allah has lit the candle of Faith in their hearts. Now with little reflection they can easily recognize Him as their Lord. Therefore, their excuse of ignorance shall not be of any avail to them on the Day of Judgment.