Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
لَا
tidak
يَسۡتَوِيٓ
sama
أَصۡحَٰبُ
penghuni
ٱلنَّارِ
api/neraka
وَأَصۡحَٰبُ
dan penghuni
ٱلۡجَنَّةِۚ
surga
أَصۡحَٰبُ
penghuni
ٱلۡجَنَّةِ
surga
هُمُ
mereka
ٱلۡفَآئِزُونَ
orang-orang yang beruntung
لَا
tidak
يَسۡتَوِيٓ
sama
أَصۡحَٰبُ
penghuni
ٱلنَّارِ
api/neraka
وَأَصۡحَٰبُ
dan penghuni
ٱلۡجَنَّةِۚ
surga
أَصۡحَٰبُ
penghuni
ٱلۡجَنَّةِ
surga
هُمُ
mereka
ٱلۡفَآئِزُونَ
orang-orang yang beruntung
Terjemahan
Tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni surga; para penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.
Tafsir
(Tidak sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung).
Tafsir Surat Al-Hasyr: 18-20
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni'surga itulah orang-orang yang beruntung.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Aun ibnu Abu Juhaifah, dari Al-Munzir ibnu Jarir, dari ayahnya yang mengatakan bahwa ketika kami bersama Rasulullah ﷺ di suatu pagi hari, tiba-tiba datanglah kepada Rasulullah ﷺ suatu kaum yang tidak beralas kaki dan tidak berbaju. Mereka hanya mengenakan jubah atau kain 'abaya, masing-masing dari mereka menyandang pedang. Sebagian besar dari mereka berasal dari Mudar, bahkan seluruhnya dari Mudar. Maka berubahlah wajah Rasulullah ﷺ melihat keadaan mereka yang mengenaskan karena kefakiran mereka. Kemudian Rasulullah ﷺ masuk dan keluar, lalu memerintahkan kepada Bilal agar diserukan azan dan didirikan shalat. Lalu Rasulullah ﷺ shalat. Seusai shalat, beliau berkhotbah dan membacakan firman-Nya: Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu. (An-Nisa: 1), hingga akhir ayat. Beliau membaca pula firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al-Hasyr, yaitu: dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). (Al-Hasyr: 18) Hendaklah seseorang bersedekah dengan uang dinarnya, dengan uang dirhamnya, dengan sa' jewawutnya, dengan sa' buah kurmanya.
Hingga Nabi ﷺ bersabda, bahwa sekalipun dengan separo biji kurma. Maka datanglah seorang lelaki dari kalangan Ansar dengan membawa kantong yang telapak tangannya hampir tidak mampu menggenggamnya, bahkan memang tidak dapat menggenggamnya. Kemudian orang-orang lain mengikuti jejaknya hingga aku (perawi) melihat dua tumpukan makanan dan baju. Dan kulihat wajah Rasulullah ﷺ berseri, seakan-akan berkilauan cemerlang, lalu beliau ﷺ bersabda: ". Barang siapa yang memprakarsai perbuatan yang baik dalam Islam, maka baginya pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti jejaknya sesudahnya tanpa mengurangi sesuatu pun dari pahala mereka. Dan barang siapa yang memprakarsai perbuatan yang buruk dalam Islam, maka dia mendapat dosanya dan dosa orang-orang yang mengikuti jejaknya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka barang sedikitpun.
Imam Muslim telah mengetengahkan hadits ini secara munfarid melalui hadits Syu'bah berikut sanad yang semisal. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. (Al-Hasyr: 18) Perintah untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang pengertiannya mencakup mengerjakan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang oleh-Nya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), (Al-Hasyr: 18) Yakni hitung-hitunglah diri kalian sebelum kalian dimintai pertanggung jawaban, dan perhatikanlah apa yang kamu tabung buat diri kalian berupa amal-amal saleh untuk bekal hari kalian dikembalikan, yaitu hari dihadapkan kalian kepada Tuhan kalian.
dan bertakwalah kepada Allah. (Al-Hasyr: 18) mengukuhkan kalimat perintah takwa yang sebelumnya. sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hasyr: 18) Artinya, ketahuilah oleh kalian bahwa Allah mengetahui semua amal perbuatan dan keadaan kalian, tiada sesuatu pun dari kalian yang tersembunyi bagi-Nya dan tiada sesuatu pun baik yang besar maupun yang kecil dari urusan mereka yang luput dari pengetahuan-Nya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. (Al-Hasyr: 19) Yaitu janganlah kamu lupa dari mengingat Allah, yang akhirnya kamu akan lupa kepada amal saleh yang bermanfaat bagi diri kalian di hari kemudian, karena sesungguhnya pembalasan itu disesuaikan dengan jenis perbuatannya.
Maka disebutkanlah dalam firman berikutnya: Mereka itulah orang-orang yang fasik. (Al-Hasyr: 19) Yakni orang-orang yang keluar dari jalan ketaatan kepada Allah, yang akan binasa di hari kiamat lagi merugi di hari mereka dikembalikan. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Munafiqun: 9) Al-Hafidzh Abul Qasim At-Ath-Thabarani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdul Wahhab Ibnu Najdah Al-Huti, telah menceritakan kepada kami Al-Mugirah, telah menceritakan kepada kami Jarir ibnu Usman, dari Na'im ibnu Namihah yang mengatakan bahwa di antara isi khotbah yang diucapkan oleh Abu Bakar As-Siddiq adalah seperti berikut, bahwa tidakkah kalian ketahui bahwa kalian berpagi hari dan bersore hari sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan? Maka barang siapa yang mampu menghabiskan waktunya untuk beramal karena Allah subhanahu wa ta’ala, hendaklah ia mengerjakannya.
Dan kalian tidak akan dapat meraih hal itu kecuali dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala Sesungguhnya ada suatu kaum yang menghabiskan waktu (usia) mereka untuk selain diri mereka. Maka Allah melarang kalian menjadi orang seperti mereka. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. (Al-Hasyr: 19) Manakah teman-teman kalian yang kalian kenal? Mereka telah menunaikan amal perbuatan mereka di masa lalu. Akhirnya mereka menerima balasannya, ada yang berbahagia dan ada yang celaka.
Di manakah orang-orang yang sewenang-wenang yang terdahulu yang telah menghuni kota-kota besar yang mereka bentengi dengan tembok-tembok yang tinggi, kini mereka telah berada di bawah batu dan sumur. Dan ini adalah Kitabullah yang keajaibannya tidak pernah lenyap, maka ambillah penerangan darinya untuk menghadapi hari yang gelap. Dan ambillah penerangan dari sinar dan keterangannya. Sesungguhnya Allah telah memuji Zakaria dan ahli baitnya melalui firman-Nya: Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas.
Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami. (Al-Anbiya: 90) Tiada kebaikan pada ucapan yang tidak dimaksudkan untuk mendapat rida Allah, dan tiada kebaikan pada harta yang tidak dibelanjakan kepada jalan Allah. Dan tiada kebaikan pada orang yang sifat jahilnya mengalahkan sifat penyantunnya. Dan tiada kebaikan pada orang yang takut kepada celaan orang yang mencela dalam membela agama Allah. Sanad atsar ini jayyid dan semua perawinya siqah.
dan gurunya Jarir ibnu Usman adalah Na'im ibnu Namihah, sepanjang pengetahuan saya tiada yang mempertentangkannya dan tiada pula yang mengukuhkannya, hanya saja Abu Dawud As-Sijistani telah memutuskan bahwa semua guru Jarir adalah orang-orang yang berpredikat siqah. Dan Khotbah ini telah diriwayatkan melalui jalur-jalur lain yang menguatkannya; hanya Allah-Iah Yang Maha Mengetahui. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga. (Al-Hasyr: 20) Yakni antara mereka dan mereka tidaklah sama menurut hukum Allah subhanahu wa ta’ala kelak di hari kiamat, semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. (Al-Jatsiyah: 21) Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka.
Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran. (Al-Mumin: 58) Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala: Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? (Shad: 28) Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah memuliakan orang-orang yang berbakti dan menghina orang-orang yang durhaka. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya: penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung. (Al-Hasyr: 20) Yaitu orang-orang yang selamat dan terbebas dari azab Allah subhanahu wa ta’ala".
Manusia yang lupa kepada Allah hingga lupa terhadap diri sendiri adalah manusia yang bergelimang dosa dan akan menjadi penghuni neraka. Tidak sama para penghuni neraka, pola pikir, sikap dan perilakunya dengan para penghuni surga. Para penghuni surga itu adalah orang-orang beriman yang berusaha menyucikan jiwanya, mendekatkan diri kepada Allah, menjalani hidup dengan berbagi dan peduli. Mereka lah orang-orang yang memperoleh kemenangan mendapatkan surga karena keberhasilannya mengendalikan hawa nafsu dan tipu daya iblis dalam hidup dan kehidupan. 21. Allah menjelaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan bagi manusia yang menggunakan nalar dan mengikuti hati nurani. Sekiranya Kami turun-kan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung yang diberi akal, pikiran, dan perasaan seperti manusia; pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah, karena gunung-gunung itu akan menggunakan nalar, rasa, dan nuraninya dalam memahami Al-Qur'an dan mengamalkannya. Dan perumpamaan-perumpamaan itu, yakni manusia yang kecil dan lemah dibandingkan dengan gunung yang begitu besar, tinggi dan keras; Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir bahwa gunung bisa menggunakan nalar, rasa dan nurani untuk memahami dan menerapkan Al-Qur'an hingga tunduk dan pecah karena takut kepada Allah. Mengapa manusia yang benar-benar memiliki nalar, rasa dan nurani tidak menggunakannya secara optimal dalam memahami dan menerapkan Al-Qur'an dalam kehidupan ini'.
Tidaklah sama penghuni neraka seperti orang-orang munafik dan Bani Nadhir, dengan penghuni surga, seperti kaum Muhajirin dan Ansar. Allah berfirman:
Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mere-ka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu. (al-Jatsiyah/45: 21)
Dan firman-Nya:
Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat? (sad/38: 28)
Allah menjelaskan bahwa mereka tidak sama, karena orang-orang yang dimasukkan ke dalam surga itu adalah mereka yang beruntung, mencapai apa yang diinginkannya. Amal saleh yang mereka kerjakan melebihi perbuatan buruk yang terlanjur mereka kerjakan, sehingga pahala yang mereka terima dapat menutupi dosa-dosa yang telah mereka lakukan.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
PERSEDIAAN UNTUK HARI ESOK
Setelah demikian banyak diceritakan tentang jalan salah yang ditempuh oleh kaum munafik dan pengkhianatan hendak membunuh Nabi sampai mereka diusir, yang dilakukan oleh Yahudi Bani Nadhir, maka sudahlah patut hal itu semua jadi cermin perbandingan bagi orang yang beriman. “Wahai orang-orang yang beriman, takwalah kepada Allah." Semata-mata iman atau percaya saja, belumlah cukup, sebelum dilengkapi dengan mempercepat hubungan dengan Allah. Keikhlasan batin kepada Ilahi tawakal berserah diri, ridha menerima ketentuan-Nya, syukur menerima nikmat-Nya, sabar menerima cobaan-Nya, semuanya itu didapat karena adanya takwa. Memperteguh ibadah kepada Allah seperti shalat, puasa, zakat dan sebagainya, semuanya itu menyuburkan takwa.
“Dan hendaklah merenungkan setiap diri;" artinya bawa berpikir, bawa merenung, bawa tafakur dan tadzakur (memikirkan dan mengingat). “Apakah yang telah diperbuatnya untuk hari esok." Hari esok ialah Hari Akhirat. Percaya kepada Hari Akhirat menyebabkan rezeki yang diberikan Allah, sebagian besarnya dikirimkan terlebih dahulu untuk persediaan hari esok, itulah arti qaddamat, yaitu mengirim lebih dahulu.
Hitunglah terlebih dahulu laba rugi hidup sendiri sebelum dihitung kelak. Renungkanlah perbekalan yang telah ada dan mana lagi yang kurang. Karena perjalanan akan terus maju dari dunia ini ke pintu kubur, ke alam barzakh dan ke Hari Akhirat. “Dan takwalah kepada Allah!" Ini diperingatkan sekali lagi, supaya lebih mantap dalam hati. “Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui apa pun jua yang kamu kerjakan." (ujung ayat 18)
“Dan janganlah keadaan kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah; lalu Allah pun membuatnya lupa kepada dirinya sendiri." Artinya janganlah kamu lupa mengingat kepada Allah, atau dzikir. Karena bila kamu telah lupa mengingat Allah, Allah pun akan membuat lupa apa-apa yang patut dikerjakan untuk kepentingan dirimu sendiri, yang akan membawa manfaat bagimu di akhir kelak kemudian hari. Ibnul Qayyim menulis, “Oleh sebab itu maka mengenal Allah adalah pokok pangkal segala ilmu, pokok pangkal kebahagiaan dan kesempurnaan seorang hamba Allah, dunianya dan akhiratnya. Dan kalau jahil, tidak mengetahui hubungan diri dengan Allah, pastilah dia pun tidak akan tahu siapa dirinya yang sebenarnya dan apa yang harus dilakukannya supaya dia mencapai kemenangan. Sebab itu maka mengenal Allah adalah pangkal bahagia, dan jahil akan Dia pangkal celaka." “Itulah orang-orang yang fasik." (ujung ayat.19)
“Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni sunga." Janganlah sampai terpesona melihat orang fasik, jalan hidup tidak menurut aturan itu. Bagaimana jua pun hendaklah orang beriman selalu ingat kepada Allah, dzikir kepada Allah, beribadah kepada-Nya. Orang yang selalu ingat akan Allah niscaya akan selalu dibimbing oleh-Nya ke jalan yang benar. Bagaimana pun susahnya berjuang menegakkan kebenaran itu, namun jiwanya senang, hatinya tentaram, karena merasa dekat dengan Allah. Di dunia selamat, di akhirat masuk surga. “Penghuni-penghuni surga, itulah orang-orang yang beruntung." (ujung ayat 20) Memang, tentang neraka dan surga adalah tentang hari esok, wajib kita percaya akan hari esok itu. Namun yang terang dalam hidup di dunia ini pun sudah jelas, bahwa hidup orang yang melupakan Allah dengan hidup orang yang mengikuti tuntunan Allah tetap berbeda. Bahkan sampai kepada pandangan terhadap ekonomi, sosial, atau politik sekalipun; tidaklah mungkin disamakan. Bagaimana akan menyatukan antara minyak dengan air?
GUNUNG PUN BISA RUNTUH
“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini ke atas sebuah gunung, niscaya akan engkau lihatlah gunung itu tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah." Hendaklah khusyu tunduk hati itu menerima Al-Qur'an dan laksana pecah ketika mendengarnya. Sebab di sanalah terdapat janji-janji Allah yang benar dan ancaman bagi siapa yang durhaka yang tegas. Kalau kiranya gunung yang begitu besar dan kasar mempunyai pikiran seperti manusia, niscaya ia akan khusyu tunduk merendahkan diri karena takutnya kepada Allah. Maka adakah patut bagimu, hai insan, tidak akan melunak hatimu karena takut kepada Allah? Padahal kamu telah dapat memahamkan apa isinya, mengerti apa yang diperintahkan. Begitulah tafsiran dari Ibnu Katsir. “Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami perbuat untuk manusia supaya mereka berpikir." (ujung ayat 21)
The Command to have Taqwa and to prepare for the Day of Resurrection
Imam Ahmad recorded that Al-Mundhir bin Jarir narrated that his father said,
While we were in the company of the Messenger of Allah in the early hours of the morning, some people came there who were barefooted, naked, wearing striped woolen clothes, or cloaks, with their swords hung (around their necks). Most of them, nay, all of them, belonged to the tribe of Mudar. The color of the face of the Messenger of Allah underwent a change when he ﷺ them in poverty. He then entered (his house) and came out and commanded Bilal to pronounce Adhan. Bilal pronounced Adhan and Iqamah, and the Prophet led the prayer. He then addressed them, first reciting,
يَـأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِى خَلَقَكُمْ مِّن نَّفْسٍ وَحِدَةٍ
O mankind! Have Taqwa of your Lord, Who created you from a single person... (4:1), until the end of the Ayah.
Then he recited the Ayah that is in Surah Al-Hashr:
وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَد
and let every person look to what he has sent forth for tomorrow,
He then said,
A man donated his Dinar, his Dirham, from his clothes, from his Sa` of wheat, from his Sa` of dates -- until he said -- even if it was half a date.
Then a person among the Ansar came there with a moneybag, which his hands could scarcely lift; in fact, his hands could not lift it. Then the people followed continuously, until I ﷺ two heaps of eatables and clothes. I ﷺ the face of the Messenger radiate with pleasure, like gold. The Messenger of Allah said,
مَنْ سَنَّ فِي الاِْسْلَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ
وَمَنْ سَنَّ فِي الاِْسْلَمِ سُنَّةً سَيِّيَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء
He who sets a good example in Islam, there is a reward for him for this (act of goodness) and reward of that also who acted according to it subsequently, without any deduction from their rewards.
Whoever sets in Islam an evil example, there is upon him the burden of that evil and the burden of him also who acted upon it subsequently, without any deduction from their burden.
Muslim recorded this Hadith via the chain of Shu`bah.
Therefore, Allah's statement,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ امَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
O you who believe! Have Taqwa of Allah,
ordains the Taqwa of Allah which pertains to obeying what He ordered and staying away from what He forbade.
Allah said,
وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
and let every person look to what he has sent forth for tomorrow,
meaning, hold yourselves accountable before you are recompensed, and contemplate what you have kept for yourselves of good deeds for the Day of your return and being paraded before your Lord,
وَاتَّقُوا اللَّهَ
Have Taqwa of Allah,
again ordering Taqwa,
إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Verily, Allah is All-Aware of what you do.
Allah asserts that surely, He knows all of your deeds -- O mankind -- and actions. Nothing that pertains to you ever escapes His observation, nor any matter of yours, whether major or minor, is ever beyond His knowledge
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ
And be not like those who forgot Allah, and He caused them to forget themselves.
meaning, do not forget the remembrance of Allah, the Exalted, otherwise, He will make you forget to perform the good deeds that benefit you in your return, because the recompense is equated with the action.
This is why Allah the Exalted said,
أُوْلَيِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Those are the rebellious.
referring to those who rebel against obedience to Allah, who will earn destruction on the Day of Resurrection and failure upon their return,
يأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ لاأَ تُلْهِكُمْ أَمْوَلُكُمْ وَلاأَ أَوْلَـدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَـيِكَ هُمُ الْخَـسِرُونَ
O you who believe! Let not your properties or your children divert you from the remembrance of Allah. And whosoever does that, then they are the losers. (63:9)
The Residents of Paradise and the Residents of Hell are never Equal
Allah said
لَاا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ
Not equal are the dwellers of the Fire and the dwellers of the Paradise.
meaning, these two categories of people are never the same with regards to the judgement of Allah, the Exalted, on the Day of Resurrection.
Allah said in other Ayat,
أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُواْ السَّيِّيَـتِ أَن نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَـتِ سَوَاءً مَّحْيَـهُمْ وَمَمَـتُهُمْ سَأءَ مَا يَحْكُمُونَ
Or do those who earn evil deeds think that We shall hold them equal with those who believe and do righteous good deeds, in their present life and after their death Worst is the judgement that they make. (45:21),
and,
وَمَا يَسْتَوِى الاٌّعْـمَى وَالْبَصِيرُ وَالَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَـتِ وَلَا الْمُسِىءُ قَلِيـلً مَّا تَتَذَكَّرُونَ
And not equal are the blind and those who see; nor are those who believe and do righteous good deeds and those who do evil. Little do you remember! (40:58),
and,
أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَـتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِى الاٌّرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ
Shall We treat those who believe and do righteous good deeds as corrupters on earth Or shall We treat those who have Taqwa as the wicked? (38:28)
Therefore, Allah asserts that He will honor the righteous and humiliate the sinners, and this is why He said here,
أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَايِزُونَ
It is the dwellers of Paradise that will be successful.
that is, they are those who will earn safety and deliverance from the torment of Allah the Exalted and Most Honored.
Asserting the Greatness of the Qur'an
Allah the Exalted emphasizes the greatness of the Qur'an, its high status and of being worthy of making hearts humble and rent asunder upon hearing it, because of the true promises and sure threats that it contains,
لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا الْقُرْانَ عَلَى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ
Had We sent down this Qur'an on a mountain, you would surely have seen it humbling itself and rent asunder by the fear of Allah.
If this is the case with a mountain which is hard and huge, that if it was made able to comprehend and understand this Qur'an, will feel humble and crumble from fear of Allah the Exalted, then what about you -- O mankind Why do your hearts not feel softness and humbleness from the fear of Allah, even though you understand Allah's command and comprehend His Book
This is why Allah said,
وَتِلْكَ الاَْمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Such are the parables which We put forward to mankind that they may reflect.
There is a Hadith of the Mutawatir grade that states,
The Messenger of Allah had someone make him a Minbar. Before that, he used to stand next to a tree trunk in the Masjid to deliver speeches. So, when the Minbar was made and placed in the Masjid, the Prophet came to deliver a speech and passed the tree trunk, headed towards the Minbar, the tree trunk started weeping, just like an infant. The tree trunk missed hearing the remembrance of Allah and the revelation that were being recited next to it.
In one of the narrations for this Hadith, Al-Hasan Al-Basri said after narrating the Hadith,
You - mankind -- are more worthy to miss the Messenger of Allah than the tree trunk!
Likewise, this honorable Ayah asks that if the solid mountains feel humble and are rent asunder from the fear of Allah, if it heard Allah's Speech and comprehended it, what about you -- O mankind -- who heard the Qur'an and understood it Allah the Exalted said in another Ayah,
وَلَوْ أَنَّ قُرْانًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الاٌّرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى
And if there had been a Qur'an with which mountains could be moved, or the earth could be cloven asunder, or the dead could be made to speak. (13:31)
We mentioned the meaning of this Ayah as stating that, if there were a Qur'an that has these qualities, it would be this Qur'an.
Allah the Exalted said in another Ayah,
وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الَانْهَـرُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَأءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ
And indeed, there are stones out of which rivers gush forth, and indeed, there are of them (stones) which split asunder so that water flows from them, and indeed, there are of them which fall down for fear of Allah. (2:74)
Not equal are the inhabitants of the Hellfire and the inhabitants of the Paradise. It is the inhabitants of the Paradise who are the winners.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.








