Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
لَّا
tidak
تَجِدُ
akan mendapati
قَوۡمٗا
suatu kaum
يُؤۡمِنُونَ
mereka beriman
بِٱللَّهِ
kepada Allah
وَٱلۡيَوۡمِ
dan hari
ٱلۡأٓخِرِ
akhir
يُوَآدُّونَ
mereka berkasih sayang
مَنۡ
siapa/orang
حَآدَّ
ia menentang
ٱللَّهَ
Allah
وَرَسُولَهُۥ
dan rasul-Nya
وَلَوۡ
walaupun
كَانُوٓاْ
adalah mereka
ءَابَآءَهُمۡ
bapak-bapak mereka
أَوۡ
atau
أَبۡنَآءَهُمۡ
anak-anak mereka
أَوۡ
atau
إِخۡوَٰنَهُمۡ
saudara-saudara mereka
أَوۡ
atau
عَشِيرَتَهُمۡۚ
keluarga mereka
أُوْلَٰٓئِكَ
mereka itu
كَتَبَ
(Allah) menetapkan
فِي
dalam
قُلُوبِهِمُ
hati mereka
ٱلۡإِيمَٰنَ
keimanan
وَأَيَّدَهُم
dan Dia menguatkan mereka
بِرُوحٖ
dengan roh pertolongan
مِّنۡهُۖ
dari pada-Nya
وَيُدۡخِلُهُمۡ
dan Dia memasukkan mereka
جَنَّـٰتٖ
surga
تَجۡرِي
mengalir
مِن
dari
تَحۡتِهَا
bawahnya
ٱلۡأَنۡهَٰرُ
sungai-sungai
خَٰلِدِينَ
mereka kekal
فِيهَاۚ
di dalamnya
رَضِيَ
meridai
ٱللَّهُ
Allah
عَنۡهُمۡ
dari mereka
وَرَضُواْ
dan mereka rida
عَنۡهُۚ
dari pada-Nya
أُوْلَٰٓئِكَ
mereka itu
حِزۡبُ
golongan
ٱللَّهِۚ
Allah
أَلَآ
ketahuilah
إِنَّ
sesungguhnya
حِزۡبَ
golongan
ٱللَّهِ
Allah
هُمُ
mereka
ٱلۡمُفۡلِحُونَ
orang-orang yang beruntung
لَّا
tidak
تَجِدُ
akan mendapati
قَوۡمٗا
suatu kaum
يُؤۡمِنُونَ
mereka beriman
بِٱللَّهِ
kepada Allah
وَٱلۡيَوۡمِ
dan hari
ٱلۡأٓخِرِ
akhir
يُوَآدُّونَ
mereka berkasih sayang
مَنۡ
siapa/orang
حَآدَّ
ia menentang
ٱللَّهَ
Allah
وَرَسُولَهُۥ
dan rasul-Nya
وَلَوۡ
walaupun
كَانُوٓاْ
adalah mereka
ءَابَآءَهُمۡ
bapak-bapak mereka
أَوۡ
atau
أَبۡنَآءَهُمۡ
anak-anak mereka
أَوۡ
atau
إِخۡوَٰنَهُمۡ
saudara-saudara mereka
أَوۡ
atau
عَشِيرَتَهُمۡۚ
keluarga mereka
أُوْلَٰٓئِكَ
mereka itu
كَتَبَ
(Allah) menetapkan
فِي
dalam
قُلُوبِهِمُ
hati mereka
ٱلۡإِيمَٰنَ
keimanan
وَأَيَّدَهُم
dan Dia menguatkan mereka
بِرُوحٖ
dengan roh pertolongan
مِّنۡهُۖ
dari pada-Nya
وَيُدۡخِلُهُمۡ
dan Dia memasukkan mereka
جَنَّـٰتٖ
surga
تَجۡرِي
mengalir
مِن
dari
تَحۡتِهَا
bawahnya
ٱلۡأَنۡهَٰرُ
sungai-sungai
خَٰلِدِينَ
mereka kekal
فِيهَاۚ
di dalamnya
رَضِيَ
meridai
ٱللَّهُ
Allah
عَنۡهُمۡ
dari mereka
وَرَضُواْ
dan mereka rida
عَنۡهُۚ
dari pada-Nya
أُوْلَٰٓئِكَ
mereka itu
حِزۡبُ
golongan
ٱللَّهِۚ
Allah
أَلَآ
ketahuilah
إِنَّ
sesungguhnya
حِزۡبَ
golongan
ٱللَّهِ
Allah
هُمُ
mereka
ٱلۡمُفۡلِحُونَ
orang-orang yang beruntung
Terjemahan
Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan, dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan1 yang datang dari Dia. Lalu Dia (Allah) memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.
Catatan kaki
1 *834) Kemauan dan kekuatan batin, kebersihan hati, kemenangan terhadap musuh dan lain-lain.
Tafsir
(Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang) artinya berteman (dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun orang-orang itu) yakni orang-orang yang menentang itu (bapak-bapak mereka) yakni bapak-bapak orang-orang yang beriman (atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, atau pun keluarga mereka) bahkan orang-orang yang beriman itu pasti memusuhi mereka dan memerangi mereka demi keimanannya, sebagaimana yang dialami oleh sebagian para sahabat. (Mereka itulah) orang-orang yang tidak mau berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya (yang Allah telah menanamkan) yakni meneguhkan (keimanan dalam kalbu mereka dan menguatkan mereka dengan cahaya) yakni nur (dari-Nya) dari Allah ﷻ (Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka) karena ketaatan mereka kepada-Nya (dan mereka pun merasa puas terhadap-Nya) atas pahala. (Mereka itulah golongan Allah) artinya yang mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. (Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung) yang memperoleh keberuntungan.
Tafsir Surat Al-Mujadilah: 20-22
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. Allah telah menetapkan, "Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang." Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa, Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.
Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, menceritakan perihal orang-orang kafir yang menentang lagi ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah orang-orang yang berada di suatu garis, sedangkan syariat berada di garis yang lainnya.
Yakni mereka menjauhi perkara yang hak lagi menentangnya; mereka berada di suatu lembah, sedangkan petunjuk berada di lembah yang lain, alias tidak ada titik temu di antara keduanya. mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. (Al-Mujadilah: 20) Yakni orang-orang yang celaka yang dijauhkan dari kebenaran, lagi terhina di dunia dan akhirat. Allah telah menetapkan, "Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang." (Al-Mujadilah: 21) Yaitu telah diputuskan dan ditetapkan di dalam Kitab-Nya yang terdahulu (Lauh Mahfuz) dan takdir-Nya yang tidak dapat ditentang, tidak dapat dihalang-halangi dan tidak dapat diganti, bahwa kemenangan itu hanyalah bagi-Nya, Kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang beriman, baik di dunia maupun di akhirat.
sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Hud: 49) Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman Allah subhanahu wa ta’ala: Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), (yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk. (Al-Mumin: 51-52) Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya: Allah telah menetapkan, "Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.
Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Al-Mujadilah: 21) Yakni Tuhan Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa telah menetapkan bahwa Dialah yang menang atas musuh-musuh-Nya. Dan ini merupakan takdir yang pasti dan perkara yang telah diputuskan tidak dapat diubah lagi, dan bahwa kesudahan yang baik serta kemenangan hanyalah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman di dunia dan akhirat. Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya: Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. (Al-Mujadilah: 22) Yaitu mereka tidak akan mau berteman akrab dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang tersebut adalah kaum kerabatnya sendiri.
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat lain melalui firman-Nya: Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. (Ali Imran: 28), hingga akhir ayat. Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala: Katakanlah, "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum kerabat, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (At-Taubah:24) Sa'id ibnu Abdul Aziz dan lain-lainnya telah mengatakan bahwa ayat ini, yaitu firman-Nya: Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. (Al-Mujadilah: 22), hingga akhir ayat. diturunkan berkenaan dengan Abu Ubaidah alias Amir ibnu Abdullah ibnul Jarrah ketika membunuh ayahnya dalam Perang Badar. Karena itulah maka Umar ibnul Khattab ketika mengangkat anggota musyawarahnya yang diserahkan kepada enam orang sahabat, setelah Abu Ubaidah meninggal dunia, ia mengatakan, "Seandainya Abu Ubaidah masih hidup, tentulah aku akan mengangkatnya sebagai anggota musyawarahku." Menurut pendapat yang lain, firman-Nya: sekalipun orang-orang itu bapak-bapak mereka. (Al-Mujadilah: 22) diturunkan berkenaan dengan Abu Ubaidah yang membunuh ayahnya (yang musyrik) dalam Perang Badar.
atau (sekalipun mereka adalah) anak-anak (nya). (Al-Mujadilah: 22) diturunkan berkenaan dengan sahabat Abu Bakar As-Siddiq, yang pada hari itu (Perang Badar) hampir saja membunuh anaknya (yang saat itu masih musyrik), yaitu Abdur Rahman. atau (sekalipun mereka adalah) saudara-saudara (nya). (Al-Mujadilah: 22) diturunkan berkenaan dengan Mus'ab ibnu Umair. Dia telah membunuh saudara kandungnya yang bernama Ubaid ibnu Umair dalam perang tersebut. atau (sekalipun mereka adalah) keluarga (nya). (Al-Mujadilah: 22) diturunkan berkenaan dengan Umar yang dalam Perang Badar itu telah membunuh salah seorang kerabatnya yang musyrik, juga berkenaan dengan Hamzah, Ali, dan Ubaidah ibnul Haris; masing-masing dari mereka telah membunuh Atabah, Syaibah, dan Al-Walid ibnu Atabah dalam perang tersebut. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Menurut hemat saya, dapat dimasukkan ke dalam pengertian ini hadits berikut yang menceritakan saat Rasulullah ﷺ bermusyawarah dengan kaum muslim sehubungan dengan para tawanan Perang Badar. Maka As-Siddiq berpendapat menerima tebusan pembebasan dari mereka, yang kelak dana tersebut dapat dijadikan sebagai kekuatan bagi pihak kaum muslim. Dan pula mengingat mereka yang menjadi tawanan itu terdiri dari saudara-saudara sepupu dan handai tolan, dengan harapan mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala memberi petunjuk kepada mereka di masa mendatang. Lain halnya dengan Umar, ia mengatakan, "Wahai Rasulullah, menurut hemat saya, bolehkah engkau memberikan kekuasaan kepadaku terhadap si Fulan salah seorang kerabatku, maka aku akan membunuhnya, dan engkau berikan kekuasaan kepada Ali terhadap Aqil, dan engkau berikan kekuasaan kepada Fulan terhadap si Fulan, agar Allah mengetahui dengan nyata bahwa dalam hati kami tidak ada rasa kasih sayang kepada orang-orang musyrik," hingga akhir kisah.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. (Al-Mujadilah: 22) Yakni orang yang mempunyai sifat tidak mau berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka adalah ayahnya sendiri atau saudaranya sendiri, maka dia termasuk orang yang di dalam hatinya telah ditanamkan keimanan oleh Allah subhanahu wa ta’ala Yakni dia telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala termasuk orang yang berbahagia, dan Allah menjadikan hatinya kuat dengan kebahagiaan itu dan imannya telah menghiasi kalbu sanubarinya. As-Suddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka. (Al-Mujadilah: 22) Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka.
Ibnu Abbas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. (Al-Mujadilah: 22) Yaitu Allah menguatkan mereka. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan)-Nya (Al-Mujadilah: 22) Ayat yang bernada demikian telah sering ditafsirkan sebelumnya, sedangkan mengenai makna firman-Nya: Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan)-iVya. (Al-Mujadilah: 22) Ini mengandung rahasia yang sangat indah, mengingat mereka membenci kaum kerabat dan handai tolan demi membela agama Allah.
Maka Allah memberikan gantinya kepada mereka dengan rida-Nya kepada mereka, dan Allah subhanahu wa ta’ala membuat mereka puas dengan apa yang Dia berikan kepada mereka berupa nikmat yang kekal, keberuntungan yang besar, dan keutamaan yang melimpah. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. (Al-Mujadilah: 22) Yakni mereka yang bersifat demikian itu adalah golongan Allah, yaitu hamba-hamba-Nya yang dimuliakan oleh-Nya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. (Al-Mujadilah: 22) Ayat ini mengandung isyarat yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang beruntung, berbahagia, dan mendapat pertolongan Allah di dunia dan akhirat.
Dan ini merupakan kebalikan dari orang-orang lain yang dimasukkan ke dalam golongan setan. Kemudian disebutkan oleh firman-Nya: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi. (Al-Mujadilah: 19) Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Humaid Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnu Anbasah, dari seorang lelaki yang adakalanya ia sebutkan namanya. Dia mengatakan bahwa orang tersebut adalah Abdul Hamid ibnu Sulaiman yang tidak sempat tertulis di dalam kitabku, dari Az-Zayyal ibnu Abbad yang telah menceritakan bahwa Abu Hazim Al-A'raj berkirim surat kepada Az-Zuhri yang isinya mengatakan, "Ketahuilah, sesungguhnya kedudukan itu ada dua macam, yaitu ada kedudukan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui kekasih-kekasih-Nya kepada kekasih-kekasih-Nya.
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sebutannya tidak terkenal, begitu pula pribadinya. Sesungguhnya telah disebutkan sifat mereka oleh lisan Rasulullah ﷺ melalui sabdanya yang mengatakan: 'Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang tidak dikenal, bertakwa lagi bersih dirinya, yaitu orang-orang yang apabila tidak ada orang-orang lain tidak merasa kehilangan mereka; dan apabila mereka ada, tiada yang mengundang mereka. Hati mereka adalah pelita petunjuk, mereka dapat keluar dari tiap-tiap fitnah yang hitam lagi gelap.
Mereka itulah kekasih-kekasih Allah subhanahu wa ta’ala yang disebutkan oleh firman-Nya: 'Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung' (Al-Mujadilah: 22)." Na'im ibnu Hammad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Saur, dari Yunus, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Ya Allah, janganlah Engkau jadikan peran dan jasa bagi pendurhaka dan orang yang fasik di sisiku, karena sesungguhnya aku telah menjumpai di antara wahyu yang telah Engkau turunkan kepadaku, "Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya" (Al-Mujadilah: 22).
Sufyan mengatakan, para ulama berpendapat bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang yang menggauli sultan. Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Abu Ahmad Al-Askari.".
Allah lalu menyatakan, 'Engkau, Muhammad, tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau keluarganya. ' Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia berupa kemauan dan kekuatan batin, kebersihan hati, kemenangan terhadap musuh dan lain-lain. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung. 1. Apa yang ada di langit, bintang, bulan, planet, dan seluruh isi galaksi, dan apa yang ada di bumi, lautan, daratan, gunung, sungai, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan lain-lain semuanya bertasbih kepada Allah, menyatakan kemahasucian Allah menurut caranya masing-masing sesuai dengan keadaan dan kejadiannya, sedangkan manusia tidak memahami tasbih makhluk-makhluk tersebut; dan Dialah Yang Mahaperkasa, menciptakan dan menghancurkan jagat raya; Mahabijaksana, dalam penciptaan dan pengaturan alam semesta.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi hatim, ath-thabrani, Abu Nu'aim, dan al-Baihaqi dari Ibnu 'Abbas bahwa ia berkata, "Ayat ini turun berhubungan dengan Abu Ubaidah bin 'Abdillah al-Jarrah, yang mana dalam Perang Badar, selalu ditantang berperang tanding oleh ayahnya, 'Abdullah al-Jarrah. Akan tetapi, ia selalu berusaha menghindarkan diri dari perang tanding itu. Karena terus-menerus dicari dan diburu oleh ayahnya, ia terpaksa melayaninya, sehingga Abu Ubaidah membunuh ayahnya. Maka turunlah ayat ini.
Ayat ini menerangkan bahwa sebenarnya orang munafik itu benar-benar kafir, bahkan lebih berbahaya dari orang yang terang-terangan menyatakan kekafirannya. Orang-orang munafik yang dimaksud dalam ayat ini ialah orang-orang yang selalu berusaha dan mengadakan tipu daya dalam mencapai tujuan mereka untuk menghancurkan agama Islam dan kaum Muslimin. Orang-orang kafir yang tidak memusuhi kaum Muslimin atau orang yang tidak berusaha menghancurkan agama Islam dan kaum Muslimin tidak termasuk dalam ayat ini.
Kaum Muslimin dilarang berteman dengan orang-orang kafir yang menjadi musuh Islam karena hal itu berarti ikut berusaha menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Sedangkan terhadap orang-orang kafir yang tidak memusuhi kaum Muslimin dan tidak berusaha menghancurkan agama Islam, kaum Muslimin dibolehkan berteman dan bergaul dengan mereka, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ sendiri dan para sahabat. Sesuai dengan firman Allah:
Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (al-Mumtahanah/60: 8)
Kemudian ditegaskan, seandainya ada kaum Muslimin yang berteman erat dengan orang kafir yang memusuhi Islam maka hal itu adalah sikap yang tidak wajar. Sebab, tidak mungkin ada orang-orang mukmin yang benar-benar beriman kepada Allah berteman dengan orang kafir yang ingin menghancurkan Islam.
Dengan demikian, kaum Muslimin diminta agar selalu waspada setiap terjadi permusuhan dan pertempuran dengan orang-orang kafir. Sekali-kali tidak boleh berteman erat dengan mereka, karena akan membahayakan kaum Muslimin.
Allah menerangkan bahwa orang-orang yang telah diterangkan kekuatan iman dan keikhlasan hati mereka, seperti Abu Ubaidah, adalah orang yang telah tertanam keimanan dalam hatinya. Sehingga mereka tidak tahan mendengar Allah dan Rasul-Nya dicaci-maki orang, atau agama Islam direndahkan.
Di samping mempunyai keimanan yang kuat, Allah juga telah menguatkan hati dan jiwa mereka sehingga menimbulkan ketenangan jiwa dan ketetapan hati dalam menegakkan agama Allah. Oleh karena itu, mereka tidak dapat melakukan kerja sama dengan orang-orang yang memusuhi Islam dan kaum Muslimin.
Pada akhir ayat ini diterangkan balasan yang akan mereka peroleh dari Allah, yaitu:
1. Di akhirat mereka akan ditempatkan di dalam surga yang penuh kenikmatan, dan di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya.
2. Allah rida dan menyukai perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia dan keadaan mereka di akhirat. Mereka pun rida dan senang terhadap balasan yang dianugerahkan Allah kepada mereka cepat atau lambat.
3. Mereka termasuk orang-orang yang dimuliakan Allah karena telah bersedia menjadi tentara Allah dan mengorbankan segala yang ada pada mereka untuk meninggikan kalimat-Nya.
4. Mereka termasuk orang-orang yang beruntung, karena dirinya telah berhasil melaksanakan tugas hidupnya sebagai hamba Allah di dunia dan di akhirat.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
DISIPLIN
“Tidaklah akan engkau dapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir berkasih-kasihan dengan orang yang menantang Allah dan Rasul-Nya." Mengapa mereka tidak mau berkasih-kasihan dengan penantang-penantang Allah dan Rasul atau golongan setan itu? Sebabnya ialah karena cinta tidak bisa dibagi. Sekali cinta telah lekat kepada cita, yaitu Allah dan Rasul, maka siapa saja yang menantang Allah dan Rasul itu dengan sendirinya, telah dianggap sebagai musuhnya. “Walaupun mereka itu ayah-ayah mereka sendiri, atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, atau kaum keluarga mereka." Ayah tinggal ayah, saudara tinggal saudara, kaum keluarga tinggal kaum keluarga, namun pendirian dan aqidah tidaklah dapat diubah lantaran itu.
“Orang-orang itu telah menuliskan iman dalam hati mereka." Barang yang sekali telah dituliskan, tidaklah akan dihapus dipupus lagi sampai nyawa bercerai dengan badan. “Dan mereka telah disokong oleh ruh dari-Nya." Ruh itu mungkin Malaikat yang telah dijanjikan Allah akan diturunkan kepada orang-orang yang telah mengaku bertuhan kepada Allah, lalu memegang teguh pendirian itu selama-lamanya, untuk menguatkan hatinya sehingga dia tidak merasa takut sedikit jua pun menghadapi segala kemungkinan dalam hidup ini dan tidak pula merasa duka cita kalau ada sesuatu yang menimpa diri.
“Dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." Bukan hanya satu surga, melainkan banyak surga yang dapat dipakai berganti-ganti dan dapat berpindah-pindah ke mana senang. “Akan kekal mereka di dalamnya," untuk selama-lamanya. “Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun telah ridha kepada-Nya." Ridha inilah puncak dari segala nikmat. “Mereka adalah golongan Allah!" Sebagai timbalan daripada mereka yang jadi golongan setan tadi di ayat 19. “Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah, mereka itulah yang menang." (ujung ayat 22)
The Believers do not closely befriend the Disbelievers
Allah the Exalted said
لَاا تَجِدُ قَوْمًا يُوْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الاْاخِرِ يُوَادُّونَ
مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا ابَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
You will not find any people who believe in Allah and the Last Day, making friendship with those who oppose Allah and His Messenger, even though they were their fathers or their sons or their brothers or their kindred.
Meaning, do not befriend the deniers, even if they are among the closest relatives.
Allah said,
لااَّ يَتَّخِذِ الْمُوْمِنُونَ الْكَـفِرِينَ أَوْلِيَأءَ مِن دُونِ الْمُوْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَىْءٍ إِلَا أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَـةً وَيُحَذِّرْكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ
Let not the believers take the disbelievers as friends instead of the believers, and whoever does that will never be helped by Allah in any way, except if you indeed fear a danger from them. And Allah warns you against Himself. (3:28),
and,
قُلْ إِن كَانَ ءَابَاوُكُمْ وَأَبْنَأوُكُمْ وَإِخْوَنُكُمْ وَأَزْوَجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَلٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَـرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَـكِنُ تَرْضَوْنَهَأ أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِىَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفَـسِقِينَ
Say:If your fathers, your sons, your brothers, your wives, your kindred, the wealth that you have gained, the commerce in which you fear a decline, and the dwellings in which you delight are dearer to you than Allah and His Messenger, and striving hard and fighting in His cause, then wait until Allah brings about His decision (torment).
And Allah guides not the people who are the rebellious. (9:24)
Sa`id bin `Abdul-`Aziz and others said that this Ayah,
لَاا تَجِدُ قَوْمًا يُوْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الاْاخِرِ
You will not find any people who believe in Allah and the Last Day...
was revealed in the case of Abu Ubaydah Amir bin Abdullah bin Al-Jarrah when he killed his disbelieving father, during the battle of Badr. This is why when Umar bin Al-Khattab placed the matter of Khilafah in the consultation of six men after him, he said; If Abu Ubaydah were alive, I would have appointed him the Khalifah.
It was also said that the Ayah,
وَلَوْ كَانُوا ابَاءهُمْ
(even though they were their fathers), was revealed in the case of Abu Ubaydah, when he killed his father during the battle of Badr,
while the Ayah,
أَوْ أَبْنَاءهُمْ
(or their sons) was revealed in the case of Abu Bakr As-Siddiq when he intended to kill his (disbelieving) son, Abdur-Rahman, (during Badr),
while the Ayah,
أَوْ إِخْوَانَهُمْ
(or their brothers) was revealed about the case of Mus`ab bin `Umayr, who killed his brother, Ubayd bin Umayr, during Badr,
and that the Ayah,
أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
(or their kindred) was revealed about the case of Umar, who killed one of his relatives during Badr, and also that this Ayah was revealed in the case of Hamzah, Ali and Ubaydah bin Al-Harith. They killed their close relatives Utbah, Shaybah and Al-Walid bin Utbah that day.
Allah knows best.
A similar matter is when Allah's Messenger consulted with his Companions about what should be done with the captives of Badr.
Abu Bakr As-Siddiq thought that they should accept ransom for them so the Muslims could use the money to strengthen themselves. He mentioned the fact that the captured were the cousins and the kindred, and that they might embrace Islam later on, by Allah's help.
Umar said,
But I have a different opinion, O Allah's Messenger! Let me kill so-and-so, my relative, and let Ali kill Aqil (Ali's brother), and so-and-so kill so-and-so. Let us make it known to Allah that we have no mercy in our hearts for the idolators.
Allah said,
أُوْلَيِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الاِْيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ
For such He has written faith in their hearts, and strengthened them with Ruh from Himself.
means, those who have the quality of not befriending those who oppose Allah and His Messenger, even if they are their fathers or brothers, are those whom Allah has decreed faith, meaning, happiness, in their hearts and made faith dear to their hearts and happiness reside therein.
As-Suddi said that the Ayah,
كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الاِْيمَانَ
(He has written faith in their hearts), means,
He has placed faith in their hearts.
Ibn Abbas said that,
وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ
(and strengthened them with Ruh from Himself), means,
He gave them strengths.
Allah's statement,
وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الاَْنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
And He will admit them to Gardens under which rivers flow, to dwell therein. Allah is well pleased with them, and they are well pleased with Him.
was explained several times before.
Allah's statement,
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
Allah is well pleased with them, and they are well pleased with Him.
contains a beautiful secret. When the believers became enraged against their relatives and kindred in Allah's cause, He compensated them by being pleased with them and making them pleased with Him from what He has granted them of eternal delight, ultimate victory and encompassing favor.
Allah's statement,
أُوْلَيِكَ حِزْبُ اللَّهِ
أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
They are the party of Allah. Verily, the party of Allah will be the successful.
indicates that they are the party of Allah, meaning, His servants who are worthy of earning His honor.
Allah's statement,
أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
(Verily, the party of Allah will be the successful), asserts their success, happiness and triumph in this life and the Hereafter, in contrast to those, who are the party of the devil,
أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ
(Verily, the party of Shaytan will be the losers!)
This is the end of the Tafsir of Surah Al-Mujadilah. All praise and thanks are due to Allah.
You will not find a people who believe in God and the Last Day loving, befriending, those who oppose God and His Messenger, even though they, the opposers, were their fathers, that is to say, the believers' [fathers], or their sons or their brothers or their clan, rather [you will find that] they intend to do them harm and they fight them over [the question of] faith, as occurred on one occasion with some Companions, may God be pleased with them. [For] those, the ones who are not loving of them, He has inscribed, He has established, faith upon their hearts and reinforced them with a spirit, a light, from Him, exalted be He, and He will admit them into the Paradises underneath which rivers flow, wherein they will abide, God being pleased with them, for their obedience of Him, and they being pleased with Him, because of His reward. Those [they] are God's confederates, following His command and refraining from what He has forbidden. Assuredly it is God's confederates who are the successful, the winners.
Believers cannot entertain intimacy with non-Believers
لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ (You shall not find those who believe in Allah and in the Hereafter having friendship with those who oppose Allah and His Messenger, even though they were their fathers....58:22). The preceding verses showed that those [ hypocrites ] who are in intimate friendship with unbelievers and pagans shall incur Allah's wrath, indignation and severe torment. This verse describes the condition of sincere believers who would not take an enemy of Faith, the opponents of Allah, for intimacy and friendship, even though such people are their own fathers, children, brothers or any other blood relatives. The bond of belief transcends all other bonds, even the close ties of blood. This description fits all noble Companions ؓ . Commentators on this occasion have cited a number of incidents of the blessed Companions which describe how, when they heard their fathers, sons and brothers or other blood relations utter blasphemy against Islam or the Messenger of Allah ﷺ ، they left all ties aside and punished them or even killed them.
` Abdullah, the son of ` Abdullah Ibn 'Ubayy, the leader of the hypocrites in Madinah, heard his father make some blasphemous remarks against the Holy Prophet ﷺ . The son came up to the Holy Prophet ﷺ and sought his permission to kill his father. The Messenger of Allah ﷺ stopped him. Sayyidna Abu Bakr ؓ heard his father, Abu Quhafah, uttering some insulting words against the Holy Prophet ﷺ . The most compassionate Siddiq ؓ became indignant and unexpectedly gave him such a hard slap that he fell down. When the Messenger of Allah ﷺ heard about it, he advised Abu Bakr Siddiq ؓ not do it again. In the battle of Uhud, Sayyidna Abu ` Ubaidah's father, Jarrah, was fighting on the side of the unbelievers against the Muslims. In the battlefield, while the battle was on, he purposely came time and again face to face with Sayyidna Abu ` Ubaidah ؓ and pursued him. Every time his father came in front of him, Sayyidna Abu ` Ubaidah ؓ would, as a mark of respect, move out. But when he persisted, Sayyidna Abu ` Ubaidah ؓ had no choice but to kill him. The biography of the blessed Companions is replete with similar incidents. The present set of verses was revealed to laud them. [ Qurtubi ]
Ruling
Many jurists have ruled that this rule applies equally to all Muslims who transgress or violate the sacred laws of Shari’ ah or in their practical life turn away from them, in that the sincere Muslims should not maintain an intimate friendship or relationship with such transgressors. As explained earlier, Muwalah [ intimate friendship ] with a fasiq [ transgressors ] is not possible because intimacy with them is possible if and only if the germs of fisq [ transgression ] are lurking in the people befriending them. Muwasah [ sympathy ] and Mu'amalat [ dealings ] or Mudarah [ cordiality ] are, however, a different matter to the degree of necessity. This is the reason why the Messenger of Allah ﷺ used to pray: اَللَّھُمَّ لَا تَجعَلَ لِفَاجِرِ عَلَیَّ یَداً "0 Allah, do not give any transgressor the upper hand over me." The Messenger of Allah prayed thus because if anyone has the upper hand in a situation, he is most likely to get his own way. He will, for instance, show kindness to people and thus gain the upper hand; and the noble persons, on account of the kindness, will feel obliged or duty-bound to return his kindness with love. Thus the Messenger of Allah sought refuge with Allah from this situation. [ Qurtubi ]
وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ (...and has helped them with a Spirit from Him....58:22) The word ruh, according to some authorities on Tafsir, stands for 'light', which radiates or emanates from Allah and enters the heart of a believer which urges him to perform righteous deeds, and is the source of peace and contentment of the heart. This tranquility and satisfaction is the source of great strength and power. Other authorities say that this word stands for the Holy Qur'an and the arguments of the Holy Qur'an. This is the real strength and power of a believer. [ Qurtubi ] Allah, the Pure and Exalted, knows best!
Alhamdulillah
The Commentary on
Surah A1-Mujadalah
Ends here.








