ٱلْحَدِيد ٢١
- سَابِقُوٓاْ berlomba-lombalah kamu
- إِلَىٰ kepada
- مَغۡفِرَةٖ ampunan
- مِّن dari
- رَّبِّكُمۡ Tuhan kalian
- وَجَنَّةٍ dan surga
- عَرۡضُهَا luasnya
- كَعَرۡضِ seperti luas
- ٱلسَّمَآءِ langit
- وَٱلۡأَرۡضِ dan bumi
- أُعِدَّتۡ dijanjikan/disediakan
- لِلَّذِينَ bagi orang-orang
- ءَامَنُواْ beriman
- بِٱللَّهِ kepada Allah
- وَرُسُلِهِۦۚ dan rasul Nya
- ذَٰلِكَ itulah
- فَضۡلُ karunia
- ٱللَّهِ Allah
- يُؤۡتِيهِ diberikannya
- مَن siapa
- يَشَآءُۚ yang dikehendaki
- وَٱللَّهُ dan Allah
- ذُو mempunyai
- ٱلۡفَضۡلِ karunia
- ٱلۡعَظِيمِ yang besar
Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.
(Berlomba-lombalah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi) seandainya jarak di antara keduanya dapat diukur; lafal al-'ardh artinya luas (yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar).
Tafsir Surat Al-Hadid: 20-21
Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang- menipu.
Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, menceritakan hinanya kehidupan dunia dan kerendahannya. Untuk itu maka Dia berfirman: sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. (Al-Hadid: 20) Yakni sesungguhnya kesimpulan dari kehidupan dunia bagi para pemiliknya adalah hal-hal tersebut, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan ﷺah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali Imran: 14) Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkan tentang perumpamaan kehidupan dunia, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu adalah kemewahan yang fana dan nikmat yang pasti lenyap. Untuk itu Dia berfirman: seperti hujan. (Al-Hadid: 20) Yaitu hujan yang turun sesudah manusia berputus asa dari kedatangannya, seperti yang diungkapkan oleh firman-Nya: Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa. (Asy-Syura: 28) Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala: yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani. (Al-Hadid: 20) Artinya, tanam-tanaman yang ditumbuhkan berkat hujan itu mengagumkan para petaninya. Maka sebagaimana para petani merasa kagum dengan hal tersebut, begitu pula halnya orang-orang kafir mengagumi kehidupan dunia; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling menyenanginya dan tiada yang terlintas dalam benak mereka selain darinya.
kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. (Al-Hadid: 20) Yakni tanam-tanaman itu kering dan kelihatan kuning, padahal sebelumnya tampak hijau dan segar, kemudian semuanya menjadi hancur berantakan alias kering kerontang. Demikian pula kehidupan dunia, pada mulanya kelihatan muda, lalu tumbuh dewasa dan menua, akhirnya pikun dan peot. Demikian pula manusia pada permulaan usianya dan usia mudanya, ia kelihatan segar, padat, berisi, serta penampilannya hebat.
Kemudian secara berangsur-angsur mulai menua dan semua wataknya berubah dan merasa kehilangan sebagian dari kekuatannya. Lalu jadilah ia manusia yang lanjut usia dan lemah kekuatannya, sedikit geraknya dan tidak mampu mengerjakan sedikit pekerjaan pun, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya: Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. (Ar-Rum: 54) Mengingat perumpamaan ini menunjukkan akan lenyapnya dunia dan kehancurannya serta kehabisan usianya sebagai suatu kepastian, dan bahwa negeri akhirat itu ada dan pasti, maka diperingatkanlah untuk berhati-hati dalam menghadapinya, sekaligus mengandung anjuran untuk berbuat kebaikan yang akan membawa pahala kebaikan di negeri akhirat nanti.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al-Hadid: 20) Artinya, tiada di negeri akhirat yang akan datang dalam waktu yang dekat kecuali ini atau itu, yakni adakalanya azab yang keras dan adakalanya ampunan dari Allah dan rida-Nya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al-Hadid: 20) Yakni kesenangan yang fana lagi memperdayakan orang yang cenderung kepadanya, karena hanya dialah yang teperdaya olehnya dan merasa kagum dengannya, hingga ia mempunyai keyakinan bahwa tiada negeri lain selain dunia ini dan di balik ini tidak ada hari berbangkit.
Padahal kehidupan dunia ini amatlah hina/rendah bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Harb Al-Mausuli, telah menceritakan kepada kami Al-Muharibi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Tempat cambuk di dalam surga lebih baik daripada dunia dan seisinya, bacalah oleh kalian akan firman-Nya, "Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Hadits ini telah disebutkan di dalam kitab shahih, tanpa tambahan ayat; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Namir dan Waki', keduanya dari Al-A'masy, dari Syaqiq, dari Abdullah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Sesungguhnya surga itu lebih dekat kepada seseorang dari kamu daripada tali terompahnya, dan neraka pun sama seperti itu. Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini secara tunggal di dalam kitab Raqa-iq melalui hadits Ats-Tsauri, dari Al-A'masy dengan sanad yang sama. Di dalam hadits ini terkandung makna yang menunjukkan dekatnya kebaikan dan keburukan dengan manusia.
Oleh karena itulah maka Allah menganjurkan kepada manusia untuk bersegera mengerjakan kebaikan yaitu berupa amal-amal ketaatan, dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan. Karena dengan mengerjakan amal-amal ketaatan terhapuslah dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan orang yang bersangkutan, sekaligus menghasilkan baginya pahala dan derajat. Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. (Al-Hadid:21) Makna yang dimaksud ialah jenis langit dan bumi. Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Dan bergegaslah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Ali-Imran: 133) Dan dalam surat ini disebutkan: yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya.
Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Hadid: 21) Yakni apa yang telah disediakan oleh Allah bagi mereka merupakan karunia dan kebaikan dari-Nya kepada mereka. Sebagaimana yang telah kami kemukakan dalam hadits shahih yang menyebutkan: bahwa orang-orang fakir dari kalangan muhajirin berkata, "Wahai Rasulullah, orang-orang yang hartawan telah memborong semua pahala dan derajat yang tinggi serta kenikmatan yang abadi." Rasulullah ﷺ bertanya, "Mengapa demikian?" Mereka menjawab, "Mereka shalat seperti kami shalat, dan mereka puasa seperti kami puasa.
Mereka berzakat, sedangkan kami tidak dapat berzakat. Mereka memerdekakan budak, sedangkan kami tidak dapat memerdekakan budak." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Maukah kalian kutunjukkan kepada sesuatu hal yang apabila kalian mengerjakannya dapat mendahului orang-orang yang sesudah kalian, dan tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada kalian kecuali orang yang melakukan hal yang sama dengan kalian. Yaitu hendaknya kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setiap selesai dari shalat kalian sebanyak tiga puluh tiga kali.
Tetapi tidak berapa lama mereka kembali lagi kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, "Saudara-saudara kami yang hartawan telah mendengar apa yang kami kerjakan, lalu mereka mengerjakan hal yang semisal dengan kami." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Itu merupakan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.".
Setelah kamu semua wahai orang beriman mengetahui hakikat kehidupan dunia, maka segera berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dengan istigfar dan berlombalah untuk men-dapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi dengan selalu melakukan kebaikan, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia tertinggi Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia dikehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar bagi mereka yang beriman dan berbuat kebajikan. 22. Usai menjelaskan karunia-Nya kepada orang memohon ampunan, Allah menerangkan bahwa semua yang terjadi di alam ini merupakan ketetapan Allah yang tertulis di Lauh Mahfuz. Setiap bencana yang menimpa di bumi, seperti gempa, banjir, erupsi, dan lainnya, dan demikian pula bencana yang menimpa dirimu sendiri, seperti sakit, kecelakaan, dan lainnya, semuanya telah tertulis dalam Kitab yang disebut Lauh Mahfuz sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu, yaitu semua yang terjadi, sangat mudah bagi Allah.
Pada ayat ini Allah memerintahkan supaya manusia itu bersegera dan berlomba-lomba mengerjakan amal saleh untuk dapat memperoleh ampunan dari Allah dan mendapat surga di akhirat kelak, yang luasnya seluas langit dan bumi, yang dipersiapkan bagi orang-orang yang beriman, kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, mengakui keesaan Allah membenarkan rasul-rasul-Nya. Semua yang dipersiapkan Allah bagi mereka, adalah karunia, rahmat dan anugerah daripada-Nya. Di dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu shalih dari Abu Hurairah dijelaskan sebagai berikut: Fakir miskin dari kalangan Muhajirin mengeluh, "Wahai Rasulullah! Orang-orang kaya telah membawa pergi pahala, derajat yang tinggi dan nikmat yang tiada hingga." Rasulullah bertanya, "Apa itu?" Fakir miskin Muhajirin menjawab, "Mereka (orang-orang kaya) salat sebagaimana kami salat, puasa sebagaimana kami puasa, tetapi mereka bersedekah sedangkan kami tidak, mereka memerdekakan budak sedangkan kami tidak (karena tidak mampu.)" Nabi menjawab, "Maukah kalian aku tunjukkan amalan yang apabila diamalkan niscaya kalian mendahului orang-orang sesudahmu serta tidak ada seorang pun yang lebih mulia darimu kecuali seseorang yang mengerjakan amalan seperti amalan kalian, yakni membaca tasbih, takbir, tahmid, tiga puluh tiga kali setiap selesai salat. Abu shalih (perawi) berkata, "Kemudian fakir miskin Muhajirin itu kembali kepada Nabi seraya berkata, 'Saudara-saudara kita yang kaya itu telah mendengar amalan yang kita kerjakan lalu mereka mengamalkan apa yang kita amalkan. Lalu Nabi bersabda, 'Itu merupakan keutamaan Allah yang diberikan kepada orang yang ia kehendaki." (Riwayat Muslim dari Abu shalih dari Abu Hurairah)
Ayat ini ditutup dengan ketegasan bahwa Allah itu amat luas pemberian-Nya dan besar karunia-Nya. Dia memberikan orang yang dikehendaki-Nya apa saja menurut kehendak-Nya; dilapangkan rezekinya di dunia, dianugerahi bermacam-macam nikmat, diberitahu di mana ia harus bersyukur, kemudian dibalas di akhirat dengan balasan yang menyenangkan yaitu surga Jannatun Na'im.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
This Life of this World is Fleeting Enjoyment
Allah the Exalted degrades the significance of this life and belittles it by saying,
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ
وَتَكَاثُرٌ فِي الاَْمْوَالِ وَالاَْوْلَادِ
Know that the life of this world is only play and amusement, pomp and mutual boasting among you, and rivalry in respect of wealth and children.
meaning, this is the significance of this life to its people, just as He said in another Ayah,
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَتِ مِنَ النِّسَأءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَـطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالَانْعَـمِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَـعُ الْحَيَوةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَأَبِ
Beautified for men is the love of things they covet; women, children, much of gold and silver (wealth), branded beautiful horses, cattle and well-tilled land. This is the pleasure of the present world's life; but Allah has the excellent return with Him. (3:14)
Allah the Exalted also sets a parable for this life, declaring that its joys are fading and its delights are perishable, saying that life is,
كَمَثَلِ غَيْثٍ
Like a rain (Ghayth),
which is the rain that comes down to mankind, after they had felt despair.
Allah the Exalted said in another Ayah,
وَهُوَ الَّذِى يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُواْ
And He it is Who sends down the Ghayth (rain) after they have despaired. (42:28)
Allah's statement,
أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ
thereof the growth is pleasing to the tiller;
meaning that farmers admire the vegetation that grows in the aftermath of rain. And just as farmers admire vegetation, the disbelievers admire this life; they are the most eager to acquire the traits of life, and life is most dear to them,
ثُمَّ يَهِيجُ
فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا
afterwards it dries up and you see it turning yellow; then it becomes straw.
meaning, that vegetation soon turns yellow in color, after being fresh and green. After that, the green fades away and becomes scattered pieces of dust.
This is the parable of this worldly life, it starts young, then matures and then turns old and feeble.
This is also the parable of mankind in this life; they are young and strong in the beginning. In this stage of life, they look youthful and handsome. Slowly, they begin growing older, their mannerism changes and their strength weakens. They then grow old and feeble; moving becomes difficult for them, while doing easy things becomes beyond their ability.
Allah the Exalted said,
اللَّهُ الَّذِى خَلَقَكُمْ مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَأءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ
Allah is He Who created you in (a state of) weakness, then gave you strength after weakness, then after strength gave (you) weakness and grey hair. He creates what He wills. And He is the All-Knowing, the All-Powerful. (30:54)
This parable indicates the near demise of this life and the imminent end of it, while in contrast, the Hereafter is surely coming. Those who hear this parable should, therefore, be aware of the significance of the Hereafter and feel eagerness in the goodness that it contains,
وَفِي الاْخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُور
But in the Hereafter (there is) a severe torment, and (there is) forgiveness from Allah and (His) pleasure. And the life of this world is only a deceiving enjoyment.
meaning, surely, the Hereafter that will certainly come contains two things either severe punishment or forgiveness from Allah and His good pleasure.
Allah the Exalted said,
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُور
(And the life of this world is only a deceiving enjoyment). meaning,
this life is only a form of enjoyment that deceives those who incline to it. Surely, those who recline to this life will admire it and feel that it is dear to them, so much so, that they might think that this is the only life, no life or dwelling after it. Yet, in reality, this life is insignificant as compared to the Hereafter.
Imam Ahmad recorded that Abdullah said that the Messenger of Allah said,
لَلْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ وَالنَّارُ مِثْلُ ذلِك
Paradise is nearer to any of you than the strap on his shoe, and so is the (Hell) Fire.
Al-Bukhari collected this Hadith through the narration of Ath-Thawri.
This Hadith indicates the close proximity of both good and evil in relation to mankind. If this is the case, then this is the reason Allah the Exalted encouraged mankind to rush to perform acts of righteousness and obedience and to avoid the prohibitions. By doing so, their sins and errors will be forgiven and they will acquire rewards and an exalted status.
Allah the Exalted said
سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاء وَالاْاَرْضِ
Race with one another in hastening towards forgiveness from your Lord, and Paradise the width whereof is as the width of the heaven and the earth,
Allah the Exalted said in another Ayah,
وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَـوَتُ وَالاٌّرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
And march forth in the way (to) forgiveness from your Lord, and for Paradise as wide as the heavens and the earth, prepared for those who have Taqwa. (3:133)
Allah said here,
أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ امَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ
ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُوْتِيهِ مَن يَشَاء وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
prepared for those who believe in Allah and His Messengers. That is the grace of Allah which He bestows on whom He is pleased with. And Allah is the Owner of great bounty.
meaning, This, that Allah has qualified them for, is all a part of His favor, bounty and compassion.
We mentioned a Hadith collected in the Sahih in which the poor emigrants said to the Messenger,
O Allah's Messenger! The wealthy people will get higher grades and permanent enjoyment.
He asked, Why is that?
They said, They pray like us and fast as we do. However, they give in charity, whereas we cannot do that, and that free servants, whereas we cannot afford it.
The Prophet said,
أَفَلَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ سَبَقْتُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلاَّ مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ
تُسَبِّحُونَ
وَتُكَبِّرُونَ
وَتُحَمِّدُونَ
دُبُرَ كُلِّ صَلَةٍ ثَلَثًا وَثَلَثِين
Shall I tell you of a good deed that, if you acted upon, you would catch up with those who have surpassed you, none would overtake you and be better than you, except those who might do the same. Say,
Glorious is Allah,
Allah is Most Great, and
Praise be to Allah,
thirty three times each after every prayer.
They later came back and said, Our wealthy brethren heard what we did and they started doing the same.
Allah's Messenger said,
ذلِكَ فَضْلُ اللهِ يُوْتِيهِ مَنْ يَشَاء
This is the favor of Allah that He gives to whom He wills.
Vie with one another for forgiveness from your Lord and a the Paradise the breadth of which is as the breadth of the sky and the earth, if one were placed at the end of the other, prepared for those who believe in God and His messengers. That is the bounty of God, which He gives to whomever He will, and God is [dispenser] of tremendous bounty.
سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ (Compete each other in proceeding towards forgiveness from your Lord and to Paradise, the width of which is like the width of the sky and the earth ...57:21) The competition or race referred to in this verse may have either of the two meanings: [ 1] No one has a guarantee for the continuance of his life, health and strength. One should not procrastinate, delay, defer, or put off performing righteous deeds for future, because the time might not come on account of illness, any inability or even death. One should race against inability, weakness and death, so that one may accumulate the treasure of good deeds that may lead one to Paradise before such inabilities may arrive and stop one from the good deeds. [ 2] Another meaning may be to compete with one another in good deeds, as Sayyidna ` Ali ؓ advises: "Be among the first ones to go to the mosque and the last ones to come out." Sayyidna ` Abdullah Ibn Masud ؓ advises: "Go forward to be in the first line of jihad." Sayyidna Anas ؓ states: "Try to be present for the first takbir of the congregational prayer." [ Ruh ]
The verse under comment defines that Paradise will be as wide as the heaven and the earth. A similar verse occurs in Surah Al-` Imran [ 3:133] where the word 'skies' is plural, whereas here the word sama' (sky) is singular, from which we gather that both the words, the singular as well as the plural, refer to all the seven heavens, meaning if the vastness of the seven heavens and the earth are put together, that will be the width of Paradise. Obviously, the length of anything is greater than its breadth. This shows that the length of Paradise is greater than the length of the seven heavens and earth. Sometimes the word width or breadth is used in the general sense of 'vastness' irrespective of its length. In both cases, the purport of the verse is to describe that Paradise is very vast, so vast that it can accommodate the entire heavens and the earth in its vastness.
ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّـهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللَّـهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (That is the bounty of Allah that He gives to whomever He wills, and Allah is the Lord of the great bounty...57:21) The foregoing verse enjoined upon us to march forth and compete each other in marching to Paradise and its bounties. This could give rise to the thought that Paradise and its eternal pleasures and delights are the direct result of our actions. This verse clarifies the point that good actions are not necessarily the sufficient cause for the attainment of Paradise. Man's life-long actions cannot be an adequate price even for the bounties he has received in this world, let alone the everlasting bounties of Paradise and its eternal blessings. Anyone who enters Paradise will do so out of Allah's grace and mercy, as is mentioned in a Prophetic Hadith, recorded in Sahilhain on the authority of Sayyidna Abu Hurairah ؓ who reports that the Messenger of Allah ﷺ has said: "No one will attain salvation by means of his actions only." The Companions enquired: "Not even you, 0 Messenger of Allah?" He replied: "No, not even I will attain Paradise because of my actions, unless Allah bestows His grace and compassion on me." [ Mazhari ]