ٱلنَّجْم ٣٩
- وَأَن dan bahwa
- لَّيۡسَ tidak
- لِلۡإِنسَٰنِ bagi manusia
- إِلَّا kecuali
- مَا apa yang
- سَعَىٰ ia usahakan
dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,
(Dan bahwasanya) bahwasanya perkara yang sesungguhnya itu ialah (seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya) yaitu memperoleh kebaikan dari usahanya yang baik, maka dia tidak akan memperoleh kebaikan sedikit pun dari apa yang diusahakan oleh orang lain.
Tafsir Surat An-Najm: 33-41
Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari Al-Qur'an)? Serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi? Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang gaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)? Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji (Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).
Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, mencela orang-orang yang berpaling dari ketaatan terhadap-Nya. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain: Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al-Qur'an) dan tidak mau mengerjakan .shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran). (Al-Qiyamah: 31-32) Dan disebutkan dalam firman selanjutnya dari surat ini: serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi? (An-Najm: 34) Yakni taat sebentar, kemudian berhenti, menurut Ibnu Abbas. Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, Ikrimah dan Qatadah serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Ikrimah dan Sa'id mengatakan bahwa perumpamaannya sama dengan suatu kaum yang menggali sebuah sumur, dan di tengah-tengah pekerjaannya mereka menjumpai batu besar yang menghambat mereka dari menyempurnakan pekerjaannya.
Lalu mereka berkata, "Kami telah lelah," kemudian mereka tinggalkan pekerjaannya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang gaib sehingga dia mengetahui? (An-Najm: 35) Yakni apakah orang yang menggenggamkan tangannya dan tidak mau berinfak serta memutuskan kebajikannya mengetahui tentang yang gaib, bahwa kelak apa yang ada di tangannya bakal habis, yang karenanya dia menggenggamkan tangannya tidak mau berbuat kebajikan, maka apakah dia melihat akibat itu dengan mata kepalanya sendiri? Yakni pada kenyataannya tidaklah demikian.
Sesungguhnya dia menggenggamkan tangannya dari sedekah berbuat kebajikan dan memberikan santunan (derma) serta silaturahmi hanyalah semata-mata karena kekikiran dirinya. Untuk itulah maka disebutkan di dalam hadits bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda memerintahkan kepada Bilal yang menjadi bendaharanya: Belanjakanlah, wahai Bilal, janganlah kamu takut kehabisan demi karena Tuhan Yang mempunyai 'Arasy. Dan disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (Saba':39) Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala: Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (An-Najm: 36-37) Said ibnu Jubair dan Ats-Tsauri mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah Nabi Ibrahim adalah orang yang selalu menyampaikan semua apa yang diperintahkan kepadanya.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi Ibrahim a.s. selalu menunaikan apa yang diperintahkan Allah kepadanya untuk disampaikan. Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa Nabi Ibrahim adalah orang yang selalu menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya. Qatadah mengatakan, Nabi Ibrahim adalah orang yang selalu menunaikan ketaatannya kepada Allah dan menyampaikan risalah-Nya kepada makhluk-Nya. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir dan pengertiannya mencakup semua yang telah disebutkan di atas.
Pengertian ini diperkuat pula dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. (Al-Baqarah: 124) Maka Ibrahim mengerjakan semua perintah itu dan meninggalkan semua larangan serta menyampaikan risalah dengan lengkap dan sempurna. Oleh karenanya maka dia berhak menjadi pemimpin bagi seluruh manusia yang patut dijadikan panutan dalam semua keadaan, perbuatan, dan ucapannya. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman pula: Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (An-Nahl: 123) Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Auf Al-Himsi, telah menceritakan kepada kami Adam ibnu Abu Iyas Al-Asqalani, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnuz Zubair, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah yangjnenceritakan bahwa Rasulullah ﷺ membaca ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (An-Najm: 37) Lalu Rasulullah ﷺ bertanya.
Tahukah kamu apakah yang dimaksud dengan menyempurnakan janji?" Aku (Abu Umamah ) menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Rasulullah ﷺ bersabda: Menunaikan pekerjaan sehari-harinya dengan mengerjakan shalat empat rakaat di permulaan siang hari. Ibnu Jarir meriwayatkan hadits ini melalui Ja'far ibnuz Zubair, sedangkan Ja'far orangnya dha’if. Imam At-Tirmidzi mengatakan di dalam kitab Jami'-nya, telah menceritakan kepada kami Ja'far As-Samnani, telah menceritakan kepada kami Abu Misar, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Iyasy, dari Yahya ibnu Sa'd, dari Khalid ibnu Ma'dan, dari Jubair ibnu Nafir, dari Abu Darda dan Abu Dzar, dari Rasulullah ﷺ, dari Allah subhanahu wa ta’ala yang telah berfirman: Wahai anak Adam, salatlah karena Aku sebanyak empat rakaat pada permulaan siang hari (mu), niscaya Aku memberikan kecukupan kepadamu di akhir siang hari (mu).
Ibnu Abu Hatim rahimahullah mengatakan, telah menceritakan pula kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi' ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Asad ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, telah menceritakan kepada kami Zaban ibnu Fayid, dari Sahl ibnu Mu'az ibnu Anas, dari ayahnya, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Maukah aku ceritakan kepada kalian mengapa Allah menamakan Ibrahim dengan sebutan 'kekasih-Nya' yang selalu menyempurnakan janji? Sesungguhnya dia setiap pagi hari dan petang hari selalu mengucapkan, "Maka bertasbihlah kepada Allah ketika kamu berada di petang hari dan waktu subuh " (Ar-Rum: 17) Ibnu Jarir meriwayatkan hadits ini melalui Abu Kuraib, dari Rasyidin ibnu Sad, dari Zaban dengan sanad yang sama.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan apa yang telah Dia wahyukan kepada Ibrahim dan Musa yang termaktub di dalam lembaran-lembaran masing-masingnya. Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. (An-Najm: 38) Yakni tiap-tiap diri yang berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri karena melakukan kekufuran atau suatu dosa, maka sesungguhnya yang menanggung dosanya adalah dirinya sendiri, tiada seorang pun yang dapat menggantikannya sebagai penanggungnya. Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu, tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. (Fathir: 18) Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (An-Najm: 39) Yaitu sebagaimana tidak dibebankan kepadanya dosa orang lain, maka demikian pula dia tidak memperoleh pahala kecuali dari apa yang diupayakan oleh dirinya sendiri.
Berdasarkan ayat ini Imam Syafii dan para pengikutnya menyimpulkan bahwa bacaan Al-Qur'an yang dihadiahkan kepada mayat tidak dapat sampai karena bukan termasuk amal perbuatannya dan tidak pula dari hasil upayanya. Karena itulah maka Rasulullah ﷺ tidak menganjurkan umatnya untuk melakukan hal ini, tidak memerintahkan mereka untuk mengerjakannya, tidak pula memberi mereka petunjuk kepadanya, baik melalui nas hadits maupun makna yang tersirat darinya. Hal ini tidak pernah pula dinukil dari seseorang dari para sahabat yang melakukannya.
Seandainya hal ini (bacaan Al-Qur'an untuk mayat) merupakan hal yang baik, tentulah kita pun menggalakkannya dan berlomba melakukannya. Pembahasan mengenai amal taqarrub itu hanya terbatas pada apa-apa yang digariskan oleh nas-nas syariat, dan tidak boleh menetapkannya dengan berbagai macam hukum analogi dan pendapat mana pun. Akan tetapi, berkenaan dengan doa dan sedekah (yang pahalanya dihadiahkan buat mayat), maka hal ini telah disepakati oleh para ulama, bahwa pahalanya dapat sampai kepada mayat, dan juga ada nas dari syariat yang menyatakannya.
Adapun mengenai hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya, dari Abu Hurairah . yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Apabila manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu anak saleh yang mendoakannya, atau sedekah jariyah sesudah kepergiannya atau ilmu yang bermanfaat. Ketiga macam amal ini pada hakikatnya dari hasil jerih payah yang bersangkutan dan merupakan buah dari kerjanya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits: Sesungguhnya sesuatu yang paling baik yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil upayanya dan sesungguhnya anaknya merupakan hasil dari upayanya.
Sedekah jariyah, seperti wakaf dan lain sebagainya yang sejenis, juga merupakan hasil upaya amal dan wakafnya. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman: Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. (Yasin: 12) Ilmu yang dia sebarkan di kalangan manusia, lalu diikuti oleh mereka sepeninggalnya, hal ini pun termasuk dari jerih payah dan amalnya. Di dalam kitab shahih disebutkan: Barang siapa yang menyeru kepada jalan petunjuk, maka baginya pahala yang semisal dengan pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi-pahala mereka barang sedikit pun.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). (An-Najm: 40) Yakni kelak di hari kiamat, semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: Dan katakanlah, "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.(At-Taubah: 105) Yaitu kelak Dia akan memberitahukan kepada kalian amal perbuatan kalian dan membalaskannya terhadap kalian dengan pembalasan yang sempurna.
Jika baik, maka balasannya baik; dan jika buruk, balasannya buruk. Demikian pula yang disebutkan dalam surat ini melalui firman-Nya: Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. (An-Najm: 41) Maksudnya, balasan yang penuh.".
39-40. Dan diajarkan pula dalam lembaran-lembaran kitab suci itu bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan usahanya yang baik atau buruk tidak akan dihilangkan. Semua itu kelak akan diperlihatkan kepadanya sehingga ia dapat berbangga dengan kebaikannya dan malu dengan amal buruknya. 39-40. Dan diajarkan pula dalam lembaran-lembaran kitab suci itu bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan usahanya yang baik atau buruk tidak akan dihilangkan. Semua itu kelak akan diperlihatkan kepadanya sehingga ia dapat berbangga dengan kebaikannya dan malu dengan amal buruknya.
Atas perbuatan yang baik, manusia hanya memperoleh ganjaran dari usahanya sendiri maka dia tidak berhak atas pahala suatu perbuatan yang tidak dilakukannya. Dari ayat tersebut, Imam Malik dan Imam Syafi'i memahami bahwa tidak sah menghadiahkan pahala amalan orang hidup berupa bacaan Al-Qur'an kepada orang mati, karena bukan perbuatan mereka dan usaha mereka. Begitu pula seluruh ibadah badaniah, seperti salat, haji dan tilawah, karena Nabi ﷺ tidak pernah mengutarakan yang demikian kepada umat, tidak pernah menyuruhnya secara sindiran dan tidak pula dengan perantaraan nas dan tidak pula para sahabat menyampaikan kepada kita. Sekiranya tindakan itu baik, tentu mereka telah terlebih dahulu mengerjakannya. Ada pun mengenai sedekah, maka pahalanya sampai kepada orang mati, sebagaimana oleh Muslim dan al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda: Apabila seorang anak Adam meninggal dunia putuslah semua amal perbuatan (yang menyampaikan pahala kepadanya) kecuali tiga perkara, anak yang saleh yang berdoa kepadanya, sedekah jariah (wakaf) sesudahnya dan ilmu yang dapat diambil manfaatnya. (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)
Sebenarnya ini semua termasuk usaha seseorang, jerih payahnya, sebagaimana tersebut dalam hadist :
Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan oleh seseorang adalah hasil usahanya sendiri dan anaknya termasuk usahanya juga.(Riwayat anNasa'i dan Ibnu hibban) Sedekah jariah seperti wakaf adalah bekas usahanya, Allah berfirman:
Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekasbekas yang mereka (tinggalkan). (Yasin/36: 12)
Ilmu yang disebarkan lalu orang-orang mengikutinya dan mengamalkannya termasuk juga usahanya. Dan telah diriwayatkan di antaranya hadis sahih: ?Orang yang mengajak kepada suatu petunjuk maka baginya pahala yang serupa dengan pahala orang yang mengikuti petunjuk itu, tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya sedikit pun. (Riwayat Muslim)
Imam Ahmad bin hanbal dan sebagian besar pengikut Syafi'i berpendapat bahwa pahala bacaan sampai kepada orang mati, bila bacaan itu tidak dibayar dengan upah. Tetapi bila bacaan itu dengan upah, sebagaimana biasa terjadi sekarang, maka pahalanya tidak sampai kepada orang mati, karena haram mengambil upah untuk membaca Al-Qur'an, meskipun boleh mengambil upah mengajarinya.Termasuk ibadah yang pahalanya sampai kepada orang lain adalah doa dan sedekah. (.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
ORANG YANG MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI
Setelah itu sekarang Allah menyuruh memerhatikan haluan hidup dari orang yang mementingkan diri sendiri atau yang di dalam bahasa asing disebut orang egoistis.
“Apakah engkau lihat onang yang benpaling?"
(ayat 33)
Berpaling, sebab dia tidak memerhatikan panggilan kepada jalan yang benar kepada hidup bermasyarakat.
“Dan membelikan hanya sedikit dan enggan menambah?"
(ayat 34)
Mereka berpaling daripada seruan agar hidup bermasyarakat, hidup tolong-menolong dengan orang lain, terutama yang miskin agar dibantu, yang lemah agar dikuatkan dengan tangan kita sendiri. Orang yang berpaling tidaklah mau memberikan pertolongan kalau tidak diajak, kalau tidak diseru. Kalau dia hendak memberi, dia merasa memberi itu karena terpaksa saja, karena segan menyegan. Maka karena didesak orang juga, maulah dia membagi, tetapi hanya sedikit, tidak sepadan dengan kekayaannya. Kalau kiranya dipandang bahwa pemberiannya itu amat sedikit dibandingkan dengan kekayaan yang ada padanya, laludiminta supaya dia menambah maka dengan rasa enggan dan dengan mengomel dia menyatakan enggan memberikan tambahan itu. Orang yang begini adalah orang bakhil, jiwanya telah dikuasai oleh hartanya. Bukan dia lagi yang menguasai harta. Maka bakhil ini dipandang satu penyakit yang sangat buruk, yang menghambat kemajuan dari satu masyarakat. Dalam masyarakat orang bakhil ini, kemajuan pembangunan tidak akan ada. Karena orang berlomba menyembunyikan hartanya, takut akan diminta untuk berbuat kebajikan.
“Atau adakah di sisinya ilmu tentang yang gaib dan dia pun melihat?"
(ayat 35)
Adakah orang yang bakhil, yang enggan mengeluarkan hartanya akan berbuat baik itu mengetahui yang gaib, sehingga diketahuinya bahwa dia akan lama menyimpan harta itu? Bahwa dia tidak akan mati? Bahwa dia akan senang selalu? Adakah dia melihat bahwa hidupnya di zaman yang akan datang akan senang dan umurnya akan lanjut? Adakah dia telah melihat itu semuanya?
“Atau tidakkah diberitakan kepadanya apa yang tentulis di dalam sunat-sunat Musa?"
(ayat 36)
Surat-surat yang diterima Nabi Musa, yang disebut juga shuhuf, ialah berbagai wahyu yang beliau terima dan beliau tuliskan. Selain daripada menerima kitab Tauratyang terkenal diturunkan kepada Nabi Musa, beliau pun menerima juga surat-surat yang lain, atau shuhuf yang lain, yang berisi undang-undang dan pengajaran.
“Dan ibrahim yang telah memenuhi (kewajibannya) ?"
(ayat 37)
Nabi Ibrahim pun menerima pula surat-surat atau shuhuf itu daripada Allah, agar disampaikan kepada umat yang beliau datangi."(Bahwasanya) seonang pemikul beban tidaklah akan memikul beban onang lain."
(ayat 38)
Inilah isi dan kandungan daripada surat-surat atau shuhuf yang diturunkan Allah kepada Musa atau kepada Ibrahim, isi semuanya itu sama. Yaitu bahwasanya sesuatu beban yang dipikulkan kepada seseorang, adalah tanggungan dari orang itu sendiri. Kalau si Ahmad misalnya yang diperintah, tidaklah sah kalau si Hamid yng disuruh bertanggung jawab. Masing-masing manusia memikul tanggung jawab sendiri-sendiri, tidak boleh disuruh orang lain memikulnya. Kalau Ahmad yang bersalah, tidaklah si Mahmud yang mesti menanggung kesalahan itu.
“Dan bahwa manusia tidaklah akan mempenoleh, melainkan sekadan usahanya"
(ayat 39)
Ayat ini adalah pengakuan dari Allah sendiri, bahwasanya memang Ibrahim telah diberi berbagai cobaan dari Allah dan cobaan itu telah disempurnakannya dengan baik. Setelah Ibrahim memenuhi ujian itu dan memenuhi apa yang diperintahkan dengan baik, dengan setia dan tidak ada yang kecewa, sampai mau dibakar, sampai disuruh menyembelih anak, dan semuanya itu dipatuhinya, barulah datang titah Allah bahwa dia akan diangkat Allah menjadi imam bagi manusia. Tegasnya barulah di waktu itu diakui Allah bahwa dia berhak jadi Imam. Lalu Ibrahim memohonkan, kalau boleh anak-cucu keturunan beliau pun dapat pula jadi imam itu. Tetapi Allah pun menjawab, bahwa janji Allah buat jadi imam itu tidak akan dapat memasukkan ke dalamnya orang-orang zalim.
Maka ayat yang kita salinkan ini menguatkan lagi bagi tafsir ayat yang tengah kita uraikan, yaitu, “Bahwa manusia tidaklah akan memperoleh melainkan sekadar usahanya" Mentang-mentang ayah seorang besar, seorang berjasa, belumlah langsung anak akan mendapat untung baik saja dari sebab usaha ayahnya. Kita pun jangan lupa bahwa ayah kandung Nabi Ibrahim sendiri adalah seorang tukang membuat berhala yang sangat ditentang oleh Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim karena sangat halus perasaannya dan sangat iba kasihan kepada ayahnya yang tidak Islam itu, telah memohon kepada Allah agar ayahnya diberi ampun. Namun Allah tidak me-ngabulkan permohonan itu.
“Dan bahwasanya segala usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya
(ayat 40)
Itulah keadilan Ilahi, yang tersebut jugs di dalam surah al-Zilzaal ayat 7 dan 8.
“Dan barangsiapa yang beramal walaupun sebesar atom kebajikan atau keburukan akan dilihatnya jua." (al-Zilzaal: 7-8)
Daripada segala ayat ini dapatlah kita mengambil kesimpulan bahwasanya yang akan dapat kita peroleh ialah dari usaha kita sendiri. Dosa yang saya perbuat tidaklah akan menjadi tanggungan orang lain dan jasa yang saya kerjakan, saya pulalah yang akan mengambil hasilnya. Tidaklah seorang dapat mem
banggakan bahwa neneknya si Anu, bapaknya si Fulan, orang-orang yang ternama dan orang-orang yang berjasa. Kalau seseorang tidak berusaha sendiri berbuat amal yang baik bagi dirinya, janganlah membangga dan berharap dari jasa dan usaha nenek moyangnya.
Ada orang mengemukakan alasan bahwasanya usaha orang tua terhadap anaknya itu akan sampai juga walaupun si ayah sudah mati. Mereka mengemukakan alasan hadits Muslim yang shahih, yaitu
“Apabila meninggal seorang anak Adam, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara:
(2) Dari anak yang shalih mendoakannya. (2) Shadaqah jariyah yang dia tinggalkan. (3) Ilmu yang diambil orang manfaat daripadanya." (HR Muslim)
Ibnu Katsir pengarang tafsir yang terkenal mengatakan bahwa yang tiga itu, bukanlah usaha daripada anak yang ditinggalkan, melainkan usaha si ayah yang telah mati itu sendiri yang dia masih berhak menerima hasilnya. Ketiga-tiganya itu pada hakikatnya adalah usaha dari ayah itu sendiri, jerih payah dan amalannya. Sebagaimana tersebut di dalam hadits,
“SesMngguhrvya sebaik-baik makanan seorang laki-laki ialah dari bekas usahanya sendiri dan anaknya termasuk bekas usahanya sendiri."
Dan shadaqah jariyah seumpama wakaf dan yang seumpamanya, itu pun adalah dari si mati itu sendiri, dan amalnya dan sedekahnya. Inilah yang tersebut di dalam Al-Qur'an,
“Sesungguhnya Kami akan menghidupkan orang yang telah mati dan Kami tuliskan apa yang telah mereka amalkan lebih dahulu dan bekas yang mereka tinggalkan(Yaasiin: 12)
Dan ilmu yang dia sebarkan di antara manusia lalu diamalkan ilmu itu oleh manusia tadi, itu pun bekas usaha dan amal orang yang telah mati itu juga. Sebab sudah tersebut di dalam hadits yang shahih, sabda Nabi ﷺ
“Barangsiapa yang menyeru manusia …suatu petunjuk, akan adalah baginya pahala seumpama pahala yang diterima oleh orang yang mengikutinya, dengan tidak dikurangi ganjarannya itu sedikit jua pun."
“Dan bahwasanya segala usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya." Segala usahanya itu, yang baik ataupun yang buruk, semuanya akan diperlihatkan kepadanya di hari Kiamat. Jika dia berusaha yang baik, gembiralah dia menerima ganjaran yang baik pula. Jika yang buruk pula yang banyak dikerjakan, itu pun akan diperlihatkan juga dengan tidak ada yang tersembunyi. Oleh sebab itu hendaklah kita berusaha membuat yang baik banyak-banyak dan berusaha pula memperkecil berbuat yang jahat dan tidak diridhai oleh Allah.
“Kemudian itu," yaitu setelah semuanya diperlihatkan,
“Akan diberikan kepadanya ganjaran yang cukup."
(ayat 41)
Akhirnya datanglah ayat selanjutnya,
“Dan sesungguhnya kepada Tuhan engkaulah segala kesudahan."
(ayat 42)
Chastising Those Who disobey Allah and stop giving Charity
Allah the Exalted says,
أَفَرَأَيْتَ الَّذِي تَوَلَّى
Did you observe him who turned away (from Islam).
Allah the Exalted chastises those who turn away from His obedience,
فَلَ صَدَّقَ وَلَا صَلَّى
وَلَـكِن كَذَّبَ وَتَوَلَّى
So he (the disbeliever) neither believed nor prayed! But on the contrary, he belied and turned away! (75:31-32)
وَأَعْطَى قَلِيلًأ وَأَكْدَى
And gave a little, then stopped,
Ibn Abbas said, Gave a little, then stopped giving.
Similar was said by Mujahid, Sa`id bin Jubayr, Ikrimah, Qatadah and several others.
Ikrimah and Sa`id said:
Like the case of a people who dig a well, during the course of which they find a rock preventing them from completing their work. So they say, `We are finished' and they abandon the work.
Allah's statement,
أَعِندَهُ عِلْمُ الْغَيْبِ فَهُوَ يَرَى
Is with him the knowledge of the Unseen so that he sees?
means, does this person, who stopped giving for fear of poverty and ended his acts of charity have knowledge of the Unseen and thus knows that if he does not stop giving, his wealth will go away?
No. Such a person has stopped giving in charity for righteous causes and did not keep relations with kith and kin because of his miserliness, being stingy and out of fear of poverty.
The Prophet said in a Hadith,
أَنْفِقْ بِلَلُ وَلَا تَخْشَ مِنْ ذِي الْعَرْشِ إِقْلَلاً
O Bilal, spend and fear not less provisions from the Owner of the Throne.
Allah the Exalted and Most honored said,
وَمَأ أَنفَقْتُمْ مِّن شَىْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
And whatsoever you spend of anything (in Allah's cause), He will replace it. And He is the Best of providers. (34:39)
The Meaning of `fulfilled
Allah the Exalted said,
أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَى
وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى
Or is he not informed with what is in the Suhuf of Musa. And of Ibrahim who fulfilled,
Sa`id bin Jubayr and Ath-Thawri said it means:
Conveyed all that he was ordered to convey.
Ibn `Abbas said about:
وَفَّى
(fulfilled) ,
He delivered all that Allah ordered him to deliver.
Sa`id bin Jubayr said about:
وَفَّى
(fulfilled), What he was ordered.
Qatadah said about:
وَفَّى
(fulfilled),
He obeyed Allah and delivered His Message to His creatures.
This is the view preferred by Ibn Jarir because it includes the statement before it and supports it.
Allah said,
وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَـتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّى جَـعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا
And (remember) when the Lord of Ibrahim tried him with (certain) commands, which he fulfilled. He said:Verily, I am going to make you an Imam (a leader) for mankind. (2:124)
Therefore, Ibrahim fulfilled all the commands of his Lord, stayed away from all the prohibitions, and conveyed Allah's Message in its entirety. Therefore, he is worthy of being made a leader for mankind in all of his affairs, statements and actions.
Allah the Exalted said,
ثُمَّ أَوْحَيْنَأ إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Then, We have sent the revelation to you (saying):Follow the religion of Ibrahim, a Hanif, and he was not of the idolators. (16:123)
None shall carry the Burden of Any Other on the Day of Resurrection
Allah the Exalted explained what He has revealed in the Scripture of Ibrahim and Musa,
أَلاَّ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى
That no burdened person shall bear the burden of another.
Meaning, every soul shall carry its own injustices, whether disbelief or sin, and none else shall carry its burden of sin, as Allah states
وَإِن تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَىْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى
And if one heavily laden calls another to (bear) his load, nothing of it will be lifted even though he be near of kin. (35:18)
Allah said,
وَأَن لَّيْسَ لِلْأِنسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى
And that man can have nothing but what he does.
So just as no soul shall carry the burden of any other, the soul shall only benefit from the good that one earns for himself.
As for the Hadith recorded by Muslim in the Sahih, that Abu Hurayrah said that the Messenger of Allah said,
إِذَا مَاتَ الاِْنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَثٍ مِنْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ أَوْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ مِنْ بَعْدِهِ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِه
When a person dies, his deeds will cease except in three cases:-
- from a righteous son who invokes Allah for him, or
- an ongoing charity after his death, or
- knowledge that people benefit from.
These three things are, in reality, a result of one's own deeds, efforts and actions.
For example, a Hadith states,
إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَإِنَّ وَلَدَهُ مِنْ كَسْبِه
Verily, the best type of provision that one consumes is from what he himself has earned, and one's offspring are among what he has earned.
The ongoing charity that one leaves behind, like an endowment, for example, are among the traces of his own actions and deeds.
Allah the Exalted said,
إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَاَ قَدَّمُواْ وَءَاثَارَهُمْ
Verily, We give life to the dead, and We record that which they send before (them) and their traces. (36:12)
The knowledge that one spreads among people which they are guided by is among his actions and deeds.
A Hadith collected in the Sahih states,
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الاَْجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنِ اتَّبَعَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْيًا
Whoever invites to guidance, he will earn as much reward as those who follow him, without decreasing anything out of their own rewards.
Allah said,
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى
And that his deeds will be seen.
meaning, on the Day of Resurrection,
وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُوْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَـلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَـدَةِ فَيُنَبِّيُكُمْ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
And say:Do deeds! Allah will see your deeds, and (so will) His Messenger and the believers. And you will be brought back to the All-Knower of the unseen and the seen. Then He will inform you of what you used to do. (9:105),
Then Allah will remind you of your actions and recompense you for them in the best manner, good for good and evil for evil.
Allah's statement here,
ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاء الاَْوْفَى
Then he will be recompensed with a full and the best recompense.
Some Attributes of the Lord, that He returns Man as He originated Him, and some of what He does with His Servants
Allah the Exalted said,
وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنتَهَى
And that to your Lord is the End.
meaning, the return of everything on the Day of Resurrection.
Ibn Abi Hatim recorded that `Amr bin Maymun Al-Awdi said,
Once, Mu`adh bin Jabal stood up among us and said, `O Children of Awd! I am the emissary of Allah's Messenger to you; know that the Return is to Allah, either to Paradise or the Fire.'
Allah's statement,
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
And that it is He Who makes you laugh, and makes you weep.
means that He created in His creatures the ability to laugh or weep and the causes for each of these opposites,
وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا
And that it is He Who causes death and gives life.
In a similar statement, Allah said,
الَّذِى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَوةَ
Who has created death and life. (67:2)
Allah said,
وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالاْأُنثَى
مِن نُّطْفَةٍ إِذَا تُمْنَى
And that He creates the pairs, male and female. From Nutfah when it is emitted.
as He said:
أَيَحْسَبُ الاِنسَـنُ أَن يُتْرَكَ سُدًى
أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِىٍّ يُمْنَى
ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّى
فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالاٍّنثَى
أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَـدِرٍ عَلَى أَن يُحْيِىَ الْمَوْتَى
Does man think that he will be left neglected? Was he not a Nutfah? Then he became an `Alaqah (something that clings); then (Allah) shaped and fashioned (him) in due proportion. And made of him two sexes, male and female. Is not He (Allah) able to give life to the dead? (75:36-40)
Allah the Exalted said,
وَأَنَّ عَلَيْهِ النَّشْأَةَ الاْأُخْرَى
And that upon Him is another bringing forth.
meaning, just as He first originated creation, He is able to bring it back to life, resurrecting it for the Day of Judgement,
وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَى وَأَقْنَى
And that it is He Who Aghna (gives much) and Aqna (a little).
It is Allah Who gives wealth to His servants and this wealth remains with them. This means they are able to use it to their benefit, is this out of the completeness of His favor.
Most of the statements of the scholars of Tafsir revolve around this meaning, such as those from Abu Salih, Ibn Jarir and others.
Mujahid said that,
أَغْنَى
(Aghna) meaning:He gives wealth.
وَأَقْنَى
(Aqna) meaning:He gives servants.
Similar was said by Qatadah.
Ibn Abbas and Mujahid said;
أَغْنَى
(Aghna) means:He granted;
while,
وَأَقْنَى
(Aqna) means:He gave contentment.
وَأَنَّهُ هُوَ رَبُّ الشِّعْرَى
And that He is the Lord of Ash-Shi`ra.
Ibn Abbas, Mujahid, Qatadah and Ibn Zayd said about Ash-Shi`ra that
it is the bright star, named Mirzam Al-Jawza' (Sirius), which a group of Arabs used to worship.
وَأَنَّهُ أَهْلَكَ عَادًا الاْأُولَى
And that it is He Who destroyed the former `Ad,
the people of Hud. They are the descendants of `Ad, son of Iram, son of Sam, son of Nuh.
As Allah the Exalted said,
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ
إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ
الَّتِى لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى الْبِلَـدِ
ﷺ you not how your Lord dealt with `Ad. Of Iram, with the lofty pillars, the like of which were not created in the land, (89:6-8)
The people of `Ad were among the strongest, fiercest people and the most rebellious against Allah the Exalted and His Messenger. Allah destroyed them,
بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍسَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَـنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُوماً
By a furious violent wind! Which Allah imposed in them for seven nights and eight days in succession. (69:6-7)
Allah's statement,
وَثَمُودَ فَمَا أَبْقَى
And Thamud. He spared none,
declares that He destroyed them all and spared none of them
وَقَوْمَ نُوحٍ مِّن قَبْلُ
And the people of Nuh aforetime.
before `Ad and Thamud,
إِنَّهُمْ كَانُوا هُمْ أَظْلَمَ وَأَطْغَى
Verily, they were more unjust and more rebellious and transgressing.
more unjust in disobeying Allah than those who came after them,
وَالْمُوْتَفِكَةَ أَهْوَى
And He destroyed the overthrown cities.
meaning, the cities (of Sodom and Gomorrah) to which Prophet Lut was sent. Allah turned their cities upside down over them and sent on them stones of Sijjil.
Allah's statement that whatever has covered it, has covered it, is like the case with the stones of Sijjil that He sent on them,
وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِم مَّطَراً فَسَأءَ مَطَرُ الْمُنذَرِينَ
And We rained on them a rain (of torment). And how evil was the rain of those who had been warned! (26:173)
فَغَشَّاهَا مَا غَشَّى
So, there covered them that which did cover.
Allah said,
فَبِأَيِّ الَاء رَبِّكَ تَتَمَارَى
Then which of the graces of your Lord will you doubt1
meaning, `which of Allah's favors for you, O man, do you doubt,' according to Qatadah.
Ibn Jurayj said that the Ayah,
فَبِأَيِّ الَاء رَبِّكَ تَتَمَارَى
(Then which of the graces of your Lord will you doubt!),
is directed towards the Prophet saying:
O Muhammad!
However, the first explanation is better, and it is the meaning that Ibn Jarir preferred.
A Warning and Exhortation, the Order to prostrate and to be humble
Allah said,
هَذَا نَذِيرٌ
This is a warner, (in reference to Muhammad),
مِّنَ النُّذُرِ الاُْولَى
from the warners of old.
means, just like the warners of old, he was sent as a Messenger as they were sent as Messengers.
Allah the Exalted said,
قُلْ مَا كُنتُ بِدْعاً مِّنَ الرُّسُلِ
Say:
I am not a new thing among the Messengers. (46:9)
Allah said;
أَزِفَتْ الاْزِفَةُ
The Azifah draws near.
that which is near, the Day of Resurrection, has drawn nearer,
لَيْسَ لَهَا مِن دُونِ اللَّهِ كَاشِفَةٌ
None besides Allah can avert it.
no one besides Allah can prevent it from coming, nor does anyone know when it will come, except Him. The warner is eager to convey his knowledge of the imminence of a calamity, so that it does not befall those to whom he is a warner.
As He said;
إِنِّينَذِيرٌ لَّكُمْ بَيْنَ يَدَىْ عَذَابٍ شَدِيدٍ
He is only a warner to you in face of a severe torment. (34:46)
And in the Hadith:
أَنَا النَّذِيرُ الْعُرْيَان
I am the naked warner,
meaning, I was in such a hurry to warn against the evil I ﷺ coming, that I did not wear anything. In this case, one rushes to warn his people in such haste that he will be naked.
This meaning befits the meaning of the Ayah,
أَزِفَتْ الاْزِفَةُ
(the Azifah draws near), in reference to the nearing Day of Resurrection. Allah said in the beginning of the Surah Al-Qamar:
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ
The Hour has drawn near. (54:1)
Imam Ahmad recorded that Sahl bin Sa`d said that the Messenger of Allah said,
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ
فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا بِبَطْنِ وَادٍ فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ حَتْى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُوْخَذُ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكُه
Beware of small sins!
The example of the effect of small sin is that of people who settled near the bottom of a valley. One of them brought a piece of wood, and another brought another piece of wood, until they cooked their bread!
Verily, small sins will destroy its companion, if one is held accountable for them.
Allah the Exalted admonishes the idolators because they hear the Qur'an, yet they turn away from it in heedless play,
Allah said;
أَفَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ
Do you then wonder at this recitation,
تَعْجَبُونَ
(wonder) doubting that it is true.
وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ
And you laugh at it and weep not,
وَتَضْحَكُونَ
(And you laugh) in jest and mock at it,
وَلَا تَبْكُونَ
(and weep not), just as those who believe in it weep,
وَيَخِرُّونَ لِلٌّذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا
And they fall down on their faces weeping and it increases their humility. (17:109)
Allah said;
وَأَنتُمْ سَامِدُونَ
While you are Samidun.
Sufyan Ath-Thawri reported that his father narrated that Ibn Abbas said about Samidun,
Singing; in Yemenite dialect `Ismidfor us' means `Sing for us.'
Ikrimah said something similar.
In another narration from Ibn Abbas, he said that,
سَامِدُونَ
(Samidun) means, Turning away.
Similar was reported from Mujahid and Ikrimah.
Allah the Exalted ordered His servants to prostrate to Him, worship Him according to the way of His Messenger, and to fulfill the requirement of Tawhid and sincerity,
فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا
So fall you down in prostration to Allah and worship Him.
meaning, with submission, sincerity, and Tawhid.
Al-Bukhari recorded that Abu Ma`mar said that Abdul-Warith said that Ayyub said that Ikrimah said that, Ibn Abbas said,
The Prophet prostrated upon reciting An-Najam and the Muslims, idolators, Jinns and mankind who were present prostrated along with him.
Only Muslim collected this Hadith.
Imam Ahmad recorded that Al-Muttalib bin Abi Wada`ah said,
While in Makkah, the Messenger of Allah once recited Surah An-Najam, then prostrated along with all those who were with him at the time. I raised my head, however, and I refused to prostrate.
Al-Muttalib had not embraced Islam yet, but ever since he became Muslim, he would never hear anyone recite this Surah until the end, without prostrating with whomever was prostrating after reciting it.
An-Nasa'i also collected this Hadith in the Book of Al-Bukhari, excluding prayer in his Sunan.
This is the end of the Tafsir of Surah An-Najm. All praise and thanks are due to Allah.
and that (wa-an, to be understood as wa-annahu) man shall have only what he [himself] strives for, of good [deeds], and so he shall not have anything of [the reward for] good [deeds] striven for by another;
The second injunction is contained in verse [ 39[وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
(and that a man does not deserve but [ the reward of ] his own effort,....53:39) The summary of this verse is that just as no person shall carry the burden of sin of any other, so shall he benefit only from the good that he himself has done. It is not the case that a person performs a righteous act instead of someone else, and the latter is absolved of his responsibility. For example, if a person performs the obligatory prayers and fasts on behalf of somebody else, the latter will not be absolved of his religious duties and obligations. He is still liable for them. Likewise, if a person embraces faith on behalf of somebody else, the latter cannot be regarded as a believer.
Thus interpreted, no juristic problems arise in connection with this verse. However, some superficial questions do arise regarding Hajj and Zakah. In times of necessity Shari` ah permits to perform Hajj on behalf of somebody else, or pay Zakah on his behalf with his permission. How is this possible? A careful analysis of the two situations does not pose any problem: In the case of Hajj-e-Badal, the sender of a person to perform this type of pilgrimage bears the expenses himself, 2 and thus it is his [ the sender's ] own act for which he will be rewarded. In the case of Zakah, appointing someone to pay is also the act of the person who made the appointment, and not that of the appointee. Therefore, the two cases are not in conflict with verse [ 39].
(2). It should be kept in mind that this is allowed only when one is unable to perform Hajj due to a physical constraint, and therefore his obligation becomes limited to sending someone else with his own expense. (Muhammad Taqi Usmani)
Offering Reward of Good Deeds to others
In the foregoing section we have explained that verse [ 39] means that no person can perform an obligatory act, such as faith, prayers and fasts, on behalf of some other person to free him of his religious duties. He will be able to benefit only from the good he himself has done. This, however, does not imply that a person cannot perform supererogatory acts and proffer their reward to someone else. There is ample textual evidence of Shari'ah that a person can supplicate or give charity or do any other good deed and proffer its reward to others. Further, there is an overwhelming consensus of the Ummah on this issue. (Ibn Kathir)
However, only Imam Shafi` i (رح) differs on this issue. He says that the reward of recitation of the Qur'an cannot be proffered to anyone else. He takes the above verse in a general sense and argues that the rewards of the purely bodily acts of worship, such as the prayer, fasting and recitation of the Qur'an and so on, cannot be passed on to any other person. According to Imam Abu Hanifah (رح) and majority of the leading jurists, it is permissible. They are that just as it is possible to pray for and proffer the reward of charity to another person, so likewise it is possible to recite the Qur'an and perform other voluntary prayers to pass the reward to another person who will receive it. Qurtubi says, in his Tafsir, a large number of Traditions bear testimony to the fact that a believer will receive the reward of the righteous acts of another person. Tafsir Mazhari has, on this occasion, collected all the relevant Traditions which prove that another person does receive the benefit of اِیصِالِ ثَوَاب Isal-e-Thawab (proffering the reward of good acts).
The foregoing verses have elaborated on two issues with reference to the scriptures of Prophets Musa and Ibrahim (علیہما السلام) [ 1] No one will bear the burden of another's sin and punishment; and [ 2] No one shall be freed of his Shar’ i obligations, unless he himself performs them. These two rules of law were available in the Shari’ ah of all the Prophets. However, they are especially mentioned in relation to Musa and Ibrahim (علیہما السلام) probably because in their days an evil custom had taken deep root that the son used to be killed instead of the father; and father, brother, sister or some other member of the family used to be killed instead of the son. The Shari’ ah of these prophets abolished all the evil customs of the Dark Age.