Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
أَمۡ
atau
تَسۡـَٔلُهُمۡ
kamu meminta kepada mereka
أَجۡرٗا
upah
فَهُم
maka mereka
مِّن
dari
مَّغۡرَمٖ
hutang
مُّثۡقَلُونَ
orang-orang yang dibebani
أَمۡ
atau
تَسۡـَٔلُهُمۡ
kamu meminta kepada mereka
أَجۡرٗا
upah
فَهُم
maka mereka
مِّن
dari
مَّغۡرَمٖ
hutang
مُّثۡقَلُونَ
orang-orang yang dibebani
Terjemahan
Ataukah engkau (Muhammad) meminta imbalan kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang?
Tafsir
(Ataukah kalian meminta upah kepada mereka) atas jerih payahmu di dalam menyampaikan agama yang kamu datangkan itu (sehingga mereka oleh utang mereka) oleh tanggungan dalam hal itu (dibebani) karena itu mereka tidak dapat mengembalikannya.
Tafsir Surat Ath-Thur: 35-43
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa? Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki? Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan utang? Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang gaib, lalu mereka menuliskannya? Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya.
Ataukah mereka mempunyai tuhan selain Allah. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Semua pertanyaan yang disebutkan di atas untuk membuktikan bahwa Dialah Tuhan seru sekalian alam dan Dialah Yang Maha Esa. Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? (Ath-Thur: 35) Yakni apakah mereka ada dengan begitu saja tanpa ada yang menciptakan? Ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Yakni tidaklah demikian keadaannya, bahkan Allah-lah Yang Menciptakan dan yang mengadakan mereka dari tiada.
Imam Al-Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepadaku Az-Zuhri, dari Muhammad ibnu Jubair ibnu Mut'im, dari ayahnya yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Nabi ﷺ dalam shalat Magribnya membaca surat Ath-Thur; dan ketika sampai pada ayat ini, yaitu firman-Nya: Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa? (Ath-Thur: 35-37) Hampir saja hatiku (jantungku) copot.
Hadits ini diketengahkan di dalam kitab Shahihain melalui berbagai jalur dari Az-Zuhri dengan sanad yang sama. Dan Jubair ibnu Mut'im datang kepada Nabi ﷺ sesudah Perang Badar untuk menebus para tawanan, saat itu ia masih musyrik. Ayat-ayat inilah yang ia dengar dari Nabi ﷺ dan menjadi salah satu faktor yang mendorongnya untuk masuk Islam sesudahnya. Selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). (Ath-Thur: 36) Yakni apakah mereka yang menciptakan langit dan bumi? Ini merupakan reaksi dari keingkaran mereka yang mempersekutukan Allah subhanahu wa ta’ala, padahal mereka mengetahui bahwa hanya Dialah semata Yang Menciptakan semuanya, tiada sekutu bagi-Nya. Akan tetapi, ketidakyakinan merekalah yang mendorong mereka tetap pada kemusyrikannya.
Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa:' (Ath-Thur: 37) Yaitu apakah mereka yang mengatur kerajaan (dunia) ini dan di tangan kekuasaan mereka terletak semua kunci perbendaharaannya? atau merekakah yang berkuasa? (Ath-Thur: 37) Yakni yang menghisab semua makhluk? Sebenarnya tidaklah demikian, bahkan di tangan kekuasaan-Nyalah kerajaan ini, Dialah Yang Merajai, Yang Mengatur, lagi Yang Maha Berbuat terhadap apa yang dikehendakiNya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu. (Ath-Thur: 38) Yakni tangga naik ke alam atas, untuk mendengarkan hal-hal yang gaib? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. (Ath-Thur: 38) Maka hendaklah orang yang mendengar dari mereka mendatangkan alasan-alasannya secara jelas untuk membuktikan kebenaran perbuatan dan ucapan mereka itu.
Dengan kata lain, mereka pasti tidak mempunyai jalan ke arah itu karena mereka tidak berada pada jalan yang benar sama sekali, dan tiada dalil bagi mereka. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengingkari perbuatan mereka yang menisbatkan anak-anak perempuan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menganggap para malaikat adalah jenis perempuan; dan mereka memilih laki-laki buat diri mereka, sedangkan perempuan tidak. Karena apabila disampaikan berita gembira kepada seseorang dari mereka akan kelahiran anak perempuan, maka wajahnya berubah hitam dengan penuh kemarahan. Tetapi anehnya setelah mereka menganggap para malaikat sebagai anak-anak perempuan Allah, mereka menyembah para malaikat itu di samping Allah.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki? (Ath-Thur: 39) Ini mengandung ancaman yang keras dan peringatan yang pasti lagi kuat. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka. (Ath-Thur: 40) sebagai imbalan dari penyampaianmu kepada mereka akan risalah Allah subhanahu wa ta’ala Engkau sama sekali bukanlah orang yang meminta upah dari mereka atas hal tersebut barang sedikit pun. sehingga mereka dibebani dengan utang? (Ath-Thur: 40) Yakni pada kenyataannya sebaliknya hal sekecil apa pun yang dilakukan oleh Nabi ﷺ, maka mereka mengecamnya dan hal tersebut dianggap mereka memberatkan mereka. Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang gaib, lalu mereka menuliskannya? (Ath-Thur: 41) Duduk perkara yang sebenarnya tidaklah demikian, karena sesungguhnya tiada seorang pun dari penduduk langit dan penduduk bumi yang mengetahui hal-hal yang gaib selain Allah subhanahu wa ta’ala Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya. (Ath-Thur: 42) Allah subhanahu wa ta’ala berfirman bahwa ataukah mereka bermaksud dengan perkataan mereka yang ditujukan terhadap diri Rasulullah ﷺ dan agama yang dibawanya untuk memperdaya manusia, dan mendiskreditkan Rasul beserta para sahabatnya.
Maka silakan mereka melancarkan tipu dayanya, karena sesungguhnya akibat dari tipu daya mereka itu justru akan berbalik menimpa diri mereka sendiri; orang-orang kafirlah yang justru teperdaya. Ataukah mereka mempunyai tuhan selain Allah. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (Ath-Thur: 43) Ini merupakan keingkaran yang keras ditujukan kepada orang-orang musyrik karena mereka menyembah berhala dan tandingan-tandingan bersama Allah. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menyucikan diri-Nya Yang Mahamulia dari apa yang dikatakan dan dibuat-buat oleh orang-orang musyrik itu, untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (Ath-Thur: 43).
Allah lalu mengajak bicara Nabi Muhammad, 'Ataukah keengganan kaum musyrik untuk beriman adalah karena engkau meminta imbalan kepada mereka saat menyampaikan dakwah sehingga mereka dibebani de-ngan utang' Tentu tidak. Engkau tidak pernah meminta upah pada mereka atas dakwahmu. '41. Ataukah mereka menolak beriman karena di sisi mereka mempunyai pengetahuan tentang yang gaib, lalu dengan pengetahuan itu mereka ingin menguasai segala hal dan menuliskannya untuk yang lain'.
Pada ayat ini Allah ﷻ bertanya kepada mereka, perlukah Muhammad ﷺ meminta upah kepada orang-orang musyrik, sedangkan dia diutus Allah ﷻ kepada mereka untuk mengajak, mengesakan Tuhan dan taat kepada-Nya? Andaikata demikian, tidaklah upah yang diminta Muhammad ﷺ itu memberatkan beban mereka sehingga mereka tidak dapat memenuhi seruan Muhammad? Pertanyaan ini mematahkan tuduhan mereka, apalagi jika Nabi Muhammad meminta upah kepada mereka.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
MARI TERUSKAN PENERANGAN
“Ataukah bagi Dia anak perempuan dan bagi kamu anak laki-laki?"
(ayat 39)
Ada kepercayaan bagi kaum jahiliyyah itu bahwa Allah ada beranak dan anak Allah itu menurut kepercayaan mereka ialah perempuan. Berhala-berhala yang mereka sembah, yang mereka namai al-Laata, dan Ma-naata, semuanya itu perempuan dan semuanya itu anak Allah! Tetapi buat mereka sendiri sebagai manusia jahiliyyah, mereka merasa aib, merasa hina sekali kalau mereka mendapat anak perempuan. Maka datanglah ayat 39 ini bertanya! Bagaimana kamu sekalian berpikir, mengapa kalian mengatakan Allah beranak, sedang anaknya ialah perempuan, sedang kamu sendiri memandang hina rendah orang yang beranak perempuan, sehingga jika kamu dapat anak perempuan kamu merasa malu, malah ada yang membunuh anak perempuan, menguburkannya hidup-hidup. Kamu hanya senang kalau dapat anak laki-laki saja. Sebab itu jika kamu mengatakan Allah beranak perempuan, artinya ialah bahwa kamu menghinakan Allah dan kamu lebih memuliakan manusia yang beroleh anak laki-laki.
Maka pertanyaan Allah seperti ini sebagai juga pertanyaan-pertanyaan yang terdahulu berisi keterangan menjelaskan salahnya segala perkiraan mereka. Demikian juga ayat reka mendapat berita gaib itu selengkapnya.
“Maka orang-orang yang tidak mau percaya itulah yang tertipu."
(ayat 42)
Mereka itu menuduh seruan Rasul ﷺ itu hanya tipuan belaka. Padahal mereka yang pergi membujuk-bujuk orang itulah yang menipu. Mereka menipu orang banyak agar jangan mendekat kepada Rasul ﷺ Orang-orang yang mendengar rayuan mereka itu lalu menjauh dari Rasul. Sedang orang-orang yang mendekati Rasul mendapat hidup yang berbahagia karena dapat ajaran iman. Mereka lepas dari hidup yang gelap gulita kepada terang-benderang. Dan orang-orang yang tertipu oleh mulut manis dan rayuan itu tetap dalam kegelapannya.
“Atau adakah bagi mereka Tuhan selain Allah?"
(pangkal ayat 43)
Yang dikatakan Allah ialah yang menguasai jalan hidup manusia. Yang menjadikan manusia daripada tidak ada kepada ada. Yang mendatangkan manfaat atau menghindarkan mudharat, yang menganugerahkan makan dan minum, dan menentukan hidup dan mati. Adakah selain dari Allah yang pantas, yang patut dianggap sebagai Tuhan? Apakah keris yang akan dianggap Tuhan padahal keris itu manusia sendiri yang membuatnya? Apakah sapi atau lembu yang akan dipuja sebagai Tuhan padahal kalau tidak manusia menyediakan rumput akan makanannya, sapi dan lembu itu akan mati kelaparan.
“Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan itu."
(ujung ayat 43)
Pikiran yang sehat akan menolak sekeras-kerasnya jika ada yang lain bersekutu kekuasaannya dengan kekuasaan Allah yang mutlak.
“Dan jika mereka melihat kelak sepotong adzab dari langit jatuh ke bawah."
(pangkal ayat 44)
Pangkal ayat menjelaskan bahwa adzab Allah itu akan datang dengan tiba-tiba dan tidak disangka-sangka. Di antaranya ialah berupa sepotong awan, yang kelihatan kecil saja di tengah-tengah langit yang cerah. Awan yang segumpal kecil itu bagi pelaut-pelaut yang berpengalaman sudah dapat membawa kepastian bahwa badai besar akan datang.
Dari segumpal awan kecil tidak berapa menit kemudian akan membawa topan dahsyat, sehingga perahu atau bahtera yang sedang belayar dengan enaknya bisa saja tenggelam dan hancur. Tetapi orang yang tidak percaya betapa Mahabesarnya kekuasaan Allah dan tidak insaf akan kebesaran-Nya,
“Mereka akan mengatakan, ‘Awan bergumpal!"‘
(ujung ayat 44) Yang tidak j uga percaya akan kebesaran Ilahi tidak akan mengatakan bahwa awan segumpal adalah adzab Allah. Segumpal awan saja dalam beberapa menit dapat menjadi sedahsyat gumpalan memenuhi langit sekeliling, hingga langit itu jadi gelap. Dalam beberapa menit saja akan berembus angin yang sangat keras. Sampai kekerasan angin itu menumbangkan pohon yang besar-besar. Kadang-kadang adzab sehebat dahsyat itu tidak disangka sama sekali. Kadang-kadang adzab itu hanya berlaku dalam beberapa menit saja.
Kami ketika wukuf di Arafah, bulan September tahun 1950, telah mengalami datangnya topan dahsyat itu. Mulanya angin berembus lunak, kemudian keras, dan sangat keras, sampai kemah tempat kami berlindung dibongkar oleh angin. Keras angin, sampai orang-orang yang berdiri diterbangkan oleh angin itu. Pakaian ihram bisa saja diterbangkan angin dan meninggalkan kita telanjang. Saya dan beberapa teman selamat karena segera lari berlindung ke bawah naungan sebuah mobil truk besar. Padahal sebelum saya sampai berlindung ke bawah truk itu, hujan batu telah turun. Punggung saya ditimpa oleh sekeping batu, yaitu hujan batu es, sebesar-besar empu jari kaki. Syukur saya segera sampai ke bawah truk itu. Kalau tidak segera sembunyi mungkin saya sampai ajal ditimpa batu-batu es.
Seluruh kejadian itu tidak terlebih dari setengah jam. Kira-kira sepuluh menit sembunyi di bawah mobil truk itu, hujan sudah teduh dan angin sudah berhenti, tetapi merah-merah dan luka belum hilang dari permukaan punggung saya. Kemah-kemah tidak perlu kami bongkar lagi karena semuanya telah terbongkar dari kejadian sebentar tadi dan hari sudah petang sehingga sehabis shalat Maghrib para jamaah semua sudah berbondong lagi menuju Muzdalifah dan Mina.
Sampai di Mekah kemudian, saya mendengar berita bahwa ada juga orang yang mati ditimpa celaka karena angin pancaroba hebat itu. Tentu orang yang tidak beriman akan membantah jika ada orang mengatakan bahaya akan datang, sebab dia hanya melihat awan segumpal kecil saja di tengah birunya langit dan teriknya panas. Dan segala kejadian sejak semula sampai alam cerah kembali, tidak memakan waktu sampai satu jam.
Sebab itu maka orang-orang yang beriman akan tetap percaya bahwa dari awan segumpal mudah saja Allah Ta'aala menjatuhkan adzab siksa-Nya kepada suatu negeri. Adapun terhadap yang tidak juga mau percaya, berfirmanlah Allah selanjutnya,
“Biarkanlah mereka, sampai mereka benjumpa hari yang waktu itu mereka akan lensungkun."
(ayat 45)
Maka orang-orang yang tidak mau percaya betapa besarnya kekuasaan Allah itu, yang dari secercah kecil awan dapat menurunkan adzab siksa yang besar, kalau tidak juga mau percaya, biarkan sajalah mereka, sampai mereka alami sendiri kelak adzab itu, hingga mereka tersungkur jatuh, tidak bisa bangun lagi. Itulah akibat yang akan mereka derita dari sebab hati mereka lebih keras dari batu itu. Kita pun tidak akan menyesal lagi. Karena kita telah melakukan kewajiban, memberinya peringatan.
Maka adzab yang menimpa dirinya itu adalah karena lalai lengahnya sendiri.
“(Yaitu) hari yang tidak akan mencukupi segala tipu daya mereka."
(pangkal ayat 46)
Maka apabila adzab itu telah datang kelak, janganlah sampai terpikir dalam hati manusia yang tidak mau percaya itu bahwa dia masih akan sanggup mengelakkan diri dengan usaha dan berbagai tipu daya. Segala tipu daya, segala usaha untuk mengelakkan diri tidaklah akan mencukupi di waktu itu. Kecerdikan manusia tidak ada upaya untuk mengelak pada masa itu. Dalam hal ini kita teringat kisah Nabi Nuh a.s. ketika topan besar itu akan terjadi. Beliau telah memberi peringatan seorang di antara putranya yang selama ini belum yakin akan seruan ayahnya. Dia ajak anak itu agar segera masuk ke dalam bahtera yang telah disediakan,
“Wahai anakku, naiklah ke dalam bahtera bersama kami dan janganlah engkau berada bersama orang-orang yang tidak mau percaya." (Huud: 42)
Tetapi si anak yang tidak juga mau percaya bahwa bahtera yang disediakan ayahnya itu akan dapat menyelamatkannya daripada tenggelam telah menolak tawaran ayahnya dengan berkata,
“Si anak menjawab, “Saya akan berlindung kepada bukit yang akan memeliharaku dari air." (Huud: 43)
Namun si ayah masih mengingatkan,
“Berkata dia, ‘Tidak ada perlindungan hari ini dari apa yang telah ditentukan Allah kecuali untuk orang yang telah dirahmati-Nya."‘ (Huud: 43)
Akhirnya apa yang terjadi? Kembali ayat menjelaskan,
“Dan dipisahkanlah di antara keduanya oleh gelombang maka jadilah anak itu termasuk orang yang tenggelam." (Huud: 43)
Ya, tenggelamlah si anak dan tentu saja sebagai seorang ayah, Nabi Nuh bersedih. Tetapi apalah yang hendak dikata, ayah telah menyampaikan kewajibannya dengan baik.
Maka uraian ayat 46 dari surah ath-Thuur telah terjadi pada anak kandung dari seorang Nabi kekasih Allah sendiri. (Kisah lengkap tentangNabi Nuh a.s. dan putranya dapat dibaca pada Tafsir al-Azhar Juz 12). Dia salah sangka, dia menyangka jika dia naik ke bukit, dia akan terpelihara dari air. Padahal puncak gunung yang tinggi pun akan direndam air. Demikianlah sebagaimana bunyi ujung ayat ini,
“Dan tidaklah mereka akan tentolong."
(ujung ayat 46)
“Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang aniaya akan ada lagi adzab selain dari itu."
(pangkal ayat 47)
Artinya, bahwasanya bagi orang yang tidak mau percaya kepada seruan yang dibawakan oleh Nabi itu, yang diterimanya pertama itu, barulah permulaan adzab. Adapun yang akan diterimanya kelak lebih besar dan lebih dahsyat lagi dari itu.
“Untuk mereka di dunia ini adalah kehinaan dan untuk mereka di akhirat adalah adzab yang besar." (al-Baqarah: 114, al-Maa'idah: 41)
Lain halnya dengan orang yang teguh mempertahankan iman dan keyakinannya di dunia. Jika mereka di dunia mendapat penderitaan hidup karena teguhnya mempertahankan iman
itu, kebahagiaan jualah yang akan ditemuinya di akhirat.
‘Tetapi kebanyakan di antaia meieka tidaklah mengetahui."
(ujung ayat 47)
Kebanyakan di antara mereka itu, hidupnya tidak mempunyai pelajaran, Rasul ﷺ tidak mereka acuhkan, sehingga pengertian mereka tentang nilai hidup itu sendiri tidak ada. Derajat manusia seperti itu tidak naik. Dia tidak mempunyai cita-cita untuk kebahagiaan hidup. Mereka tidak percaya bahwa di belakang hidup yang sekarang ada lagi hidup. Itulah hidup yang sejati yang untuk mencapainya orang harus menilainya dari masa yang sekarang.
“Dan bersabarlah tenhadap keputusan Tuhan engkau."
(pangkal ayat 48)
Inilah peringatan Allah kepada Rasul-Nya. Menyuruh beliau bersabar menghadapi semua sikap menolak, sikap ragu-ragu atau sikap-sikap menentang yang sangat kasar, sebagaimana yang telah diuraikan pada ayat-ayat yang dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan memakai ataukah itu. Disuruhlah Nabi ﷺ bersabar, berlapang dada menghadapi itu semuanya. Sesudah Allah menyuruhnya bersabar, Allah pun memberikan jaminan dengan firman-Nya, “Karena sesungguhnya engkau adalah dalam pandangan mata Kami." Apa pun yang akan terjadi atas diri Nabi Muhammad ﷺ tidaklah beliau terlepas dari pandangan Allah dan selalu akan dipelihara Allah. Dan untuk memperkuat perasaan bahwa Allah selalu menilik keadaanmu itu,
“Dan ucapkanlah tasbih dengan memuji Tuhan engkau ketika engkau tegak berdiri."
(ujung ayat 48)
Yang dimaksud dengan ketika tegak berdiri ialah berdiri shalat. Untuk menguatkan jiwa menghadapi berbagai cobaan dalam hidup ini, tidak yang lebih kuat pengaruhnya melainkan rnelalui shalat. Sebab itu maka salah satu doa iftitah (pembuka shalat) yang pendek tetapi sesuai dengan ayat ini ialah
“Amat suci Engkau, ya Tuhan! Disertai dengan memuji kepada Engkau dan amat berkahlah nama Engkau, dan Mahatinggi keagungan Engkau dan tidak ada Tuhan selain Engkau."
“Pan di malam hari pun bertasbihlah kepada-Nya."
(pangkal ayat 49)
Yaitu shalat malam. Baik shalat yang wajib dilakukan malam, yaitu waktu Isya, atau shalat tahajud, shalat yang sebelum datang perintah lima waktu, shalat malam inilah yang wajib, sebagai dijelaskan panjang lebar pada surah al-Muzammil. Maka di samping Isya yang wajib itu perkuat pulalah shalat tahajud itu untuk mencapai tempat yang lebih terpuji.
“Dan di kala mulai tenggelam bintang-bintang."
(ujung ayat 49)
Mulai tenggelam bintang-bintang ialah bila fajar sudah mulai menyingsing, hari akan mulai siang, waktu Shubuh pun masuk. Bila waktu Shubuh telah masuk, mulailah adzan memberitahu Shubuh telah datang. Setelah adzan selesai, mulai sunnat Shubuh dua rakaat, waktu itu cahaya bintang satu demi satu jadi pudar. Selesai shalat sunnat fajar itu, mulailah shalat Shubuh.
Ibnu Abu Nujaih merawikan dari Mujahid, bahwa yang dimaksud dengan anjuran bertasbih dengan memuji Allah ketika tegak berdiri, yaitu apabila seorang telah selesai dan duduk bercakap bersama-sama hendaklah ucapkan,
“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji kepada Engkau. Tidak ada Tuhan melainkan Engkau. Aku memohon ampun kepada Engkau dan aku pun bertobat kepada Engkau."
Menurut hadits yang dirawikan oleh Tir-midzi dari Abu Hurairah bahwa barangsiapa membaca bacaan itu, niscaya akan diampuni Allah akan dosanya.
Absolving the Prophet of the False Accusations the Idolators made against Him
Allah the Exalted commands His Messenger to convey His Message to His servants and remind them of His revelation that has been sent down to him. Next, Allah refutes the false accusations that the liars and sinners accused the Prophet of,
فَذَكِّرْ فَمَا أَنتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ
Therefore, remind. By the grace of Allah, you are neither a Kahin nor a madman.
Allah says, `by the grace of Allah, you, O Muhammad, are not a Kahin, as the ignorant Quraysh idolators claim.'
A Kahin is the soothsayer who receives information from the Jinns that the Jinns are able to eavesdrop on news from heaven,
وَلَا مَجْنُونٍ
(nor a madman) whom Shaytan has possessed with insanity.
Allah the Exalted said, while chastising the pagans for uttering false statements about the Prophet,
أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَّتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ
Or do they say:A poet! We await for him some calamity by time!
They said, `We await a disaster to strike him, for example, death. We will be patient with him until death comes to him and we, thus, get rid of his bother and from his Message.'
Allah the Exalted said,
قُلْ تَرَبَّصُوا فَإِنِّي مَعَكُم مِّنَ الْمُتَرَبِّصِينَ
Say:Wait! I am with you among those who wait!
`wait and I too will wait with you, and you will come to know to whom the good end and triumph shall be granted in this life and the Hereafter.'
Muhammad bin Ishaq reported that Abdullah bin Abi Najih said that Mujahid said that Ibn Abbas said,
When the Quraysh gathered in the Dar An-Nadwah (their meeting place) to discuss the matter of the Prophet, one of them said,
`Jail him in chains. Then we will wait and in time, a calamity will strike him; he will die just as the poets before him died, such as Zuhayr and An-Nabighah, for he is a poet just like them.'
Allah the Exalted said in response to their statement,
أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَّتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ
(Or do they say:A poet! We await for him some calamity by time!)
Allah the Exalted said
أَمْ تَأْمُرُهُمْ أَحْلَمُهُم بِهَذَا
Or do their minds command them this,
`do their minds command them to tell these lies against you (O Muhammad), even though they know in their hearts that they are untrue and false,'
أَمْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ
or are they people transgressing all bounds?
`surely, they are misguided, stubborn and unjust people, and this is why they say what they say about you (O Muhammad). '
Allah the Exalted said
أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ
Or do they say:He has forged it?
They said, `he has forged this Qur'an and brought it from his own.'
Allah the Exalted responded to them,
بَل لاَّ يُوْمِنُونَ
Nay! They believe not!,
meaning, their disbelief drives them to utter these statements,
فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِّثْلِهِ إِن كَانُوا صَادِقِينَ
Let them then produce a recitation like unto it if they are truthful.
meaning, if they are truthful in their statement that Muhammad has forged this Qur'an and brought it of his own, then let them produce something similar to what he has brought forth, as in this Qur'an! And even if they combine their strength to that of the people of the earth, Jinns and mankind alike, they will never produce something like the Qur'an, or ten Surahs like it, or even one Surah.
Affirming Tawhid and annulling the Plots of the Idolators. This is the position where Tawhid of Allah's Lordship and Divinity are affirmed.
Allah the Exalted said,
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
Or were they created by nothing? Or were they themselves the creators?
Allah asks them, were they created without a maker or did they create themselves? Neither is true. Allah is the One Who created them and brought them into existence after they were nothing.
Al-Bukhari recorded that Jubayr bin Mut`im said,
I heard the Prophet recite Surah At-Tur in Al-Maghrib prayer and when he reached this Ayah,
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضَ بَل لاَّ يُوقِنُونَ
أَمْ عِندَهُمْ خَزَايِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُون
Or were they created by nothing? Or were they themselves the creators? Or did they create the heavens and the earth? Nay, but they have no firm belief. Or are with them the treasures of your Lord? Or are they the tyrants with the authority to do as they like?
I felt my heart would fly away.
This Hadith is collected in the Two Sahihs using various chains of narration.
Jubayr bin Mut`im went to the Messenger of Allah after the battle of Badr to ransom the captured idolators. At that time, he was still an idolator. Hearing the Prophet recite this Ayah was one of the reasons that he later embraced Islam.
Allah the Exalted said,
أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضَ بَل لاَّ يُوقِنُونَ
Or did they create the heavens and the earth? Nay, but they have no firm belief.
meaning, Allah is censuring the idolators for their idolatry, while asking them if they created the heavens and earth. They knew that Allah Alone is the Creator without partners with Him. However, they fell into idolatry because they had no firm belief
أَمْ عِندَهُمْ خَزَايِنُ رَبِّكَ
Or are with them the treasures of your Lord?
meanings, do they have the authority to do whatever they will in His kingdom. Do they hold the keys to His treasures in their hands?
أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ
or are they the tyrants with the authority to do as they like?
meanings, are they the tyrants who would hold the creation to account Never, Allah the Exalted and Most Honored is the Only King and Owner of the existence and He does what He wills.
Allah the Exalted said
أَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَسْتَمِعُونَ فِيهِ
Or have they a stairway, by means of which they listen.
meaning, do they have a stairway to heaven (to the place where the angels are),
فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُم بِسُلْطَانٍ مُّبِينٍ
Then let their listener produce some manifest proof.
meaning, let their listener produce evidence to the truth of their actions and statements. They will never be able to do so and therefore, they have nothing and have no evidence for their stance.
Allah admonishes them regarding their claim that He has daughters and that the angels are females! The pagans chose for themselves male offspring and preferred them instead of females, and when one of them would be brought the good news of a daughter being born, his face would turn dark on account of his suppressed anger! Yet, they made the angels Allah's daughters and worshipped them besides Allah,
أَمْ لَهُ الْبَنَاتُ وَلَكُمُ الْبَنُونَ
Or has He only daughters and you have sons?
Allah sends a strong warning and stern admonition to them in this Ayah and a sure promise.
Allah said,
أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا
Or is it that you ask a wage from them?
meaning, `as a remuneration for your preaching Allah's Message to them!
Nay, you, do not ask them for a wage,'
فَهُم مِّن مَّغْرَمٍ مُّثْقَلُونَ
so that they are burdened with a load of debt,
meaning, for in this situation, one will complain of the least bothersome thing and feel it difficult and burdensome for him,
أَمْ عِندَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ
Or that the Unseen is with them, and they write it down?
means, they do not have knowledge of the Unseen, for none in the heavens or earth knows the Unseen except Allah,
أَمْ يُرِيدُونَ كَيْدًا
فَالَّذِينَ كَفَرُوا هُمُ الْمَكِيدُونَ
Or do they intend a plot But those who disbelieve are themselves plotted against!
Allah the Exalted is asking, `Do these people who utter such statements about the Messenger and his religion seek to deceive the people and plot against the Messenger and his Companions If they do, then let them know that their plots will only harm them. Therefore, they are being plotted against rather than being the plotters!'
أَمْ لَهُمْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ
سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Or have they a god other than Allah? Glorified be Allah from all that they ascribe as partners (to Him).
This Ayah contains harsh refutation directed at the idolators for worshipping the idols and calling upon rivals along with Allah.
Allah next glorifies His Most Honorable Self from what they ascribe to Him, their lies and idolatry,
سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Glorified be Allah from all that they ascribe as partners (to Him).
Or are you asking them for a fee, a wage in return for what you have brought them in the way of religion, so that they are weighed down with debt?, [with] the liability for this, so that they are unable to submit [to God].
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.








