Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
أَمۡ
ataukah/apakah
يَقُولُونَ
mereka mengatakan
شَاعِرٞ
seorang penyair
نَّتَرَبَّصُ
kita tunggu-tunggu
بِهِۦ
dengannya
رَيۡبَ
ragu-ragu
ٱلۡمَنُونِ
zaman/masa
أَمۡ
ataukah/apakah
يَقُولُونَ
mereka mengatakan
شَاعِرٞ
seorang penyair
نَّتَرَبَّصُ
kita tunggu-tunggu
بِهِۦ
dengannya
رَيۡبَ
ragu-ragu
ٱلۡمَنُونِ
zaman/masa
Terjemahan
Bahkan mereka berkata, "Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya."
Tafsir
(Bahkan) lebih dari itu (mereka mengatakan,) "Dia (adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya") malapetaka menimpanya lalu ia binasa sebagaimana nasib yang dialami oleh para penyair lainnya.
Tafsir Surat Ath-Thur: 29-34
Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan, "Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya. Katakanlah, "Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu. Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas? Ataukah mereka mengatakan, "Dia (Muhammad) membuat-buatnya. Sebenarnya mereka tidak beriman.
Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Qur'an itu jika mereka orang-orang yang benar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menyampaikan risalah-Nya kepada semua hamba-Nya dan memberikan peringatan kepada mereka melalui apa yang diturunkan oleh Allah kepadanya. Kemudian Allah menafikan tuduhan-tuduhan yang dilancarkan terhadapnya oleh orang-orang pendusta lagi pendurhaka. Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. (Ath-Thur: 29) Yakni berkat karunia Allah, engkau bukanlah seorang tukang tenung, tidak seperti yang dikatakan oleh orang-orang bodoh dari kalangan orang-orang kafir Quraisy.
Tukang tenung ialah orang yang biasa kedatangan jin (kesurupan), lalu mengucapkan kalimat-kalimat yang dicuri-curi dengar olehnya dari langit. dan bukan pula seorang gila. (Ath-Thur: 29) Yang dimaksud dengan 'gila' di sini ialah orang yang berperi laku membabi buta karena terkena sentuhan setan atau kesurupan setan. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengingkari tuduhan yang dilancarkan oleh orang-orang Quraisy terhadap diri Rasul ﷺ: Bahkan mereka mengatakan, "Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya. (Ath-Thur: 30) Yaitu malapetaka yang membawa kepada kematiannya. Mereka mengatakan, "Kita tunggu dia dan tetap bersikap sabar terhadapnya hingga maut datang menjemputnya, maka kita akan terbebas dari ulahnya dan juga dari urusannya." Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Katakanlah, "Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu. (Ath-Thur: 31) Maksudnya, tunggulah oleh kalian dan sesungguhnya aku pun menunggu pula bersama kalian, dan kelak kalian akan mengetahui siapakah yang akan mendapat kesudahan yang baik dan pertolongan di dunia dan akhirat.
Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Abu Najih, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa sesungguhnya kaum Quraisy ketika berkumpul di Darun Nudwah merembukkan perkara Nabi ﷺ Seseorang dari mereka mengatakan, "Kita kurung dia dalam keadaan terikat, lalu kita tunggu maut merenggutnya sampai binasa sebagaimana nasib yang telah dialami oleh pendahulunya dari kalangan penyair, seperti Zuhair dan Nabigah. Sesungguhnya dia (Muhammad) adalah sama dengan mereka." Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Bahkan mereka mengatakan, "Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya. (Ath-Thur: 30) Ini menyitir kata-kata mereka. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Apakah mereka diperintahkan oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan itu. (Ath-Thur: 32) Yakni apakah akal mereka memerintahkan kepada mereka untuk mengucapkan dan melancarkan tuduhan-tuduhan yang batil itu, yang diri mereka sendiri mengetahui bahwa itu adalah dusta dan tidak benar.
ataukah mereka kaum yang melampaui batas? (Ath-Thur: 32) Benar mereka adalah kaum yang melampaui batas, sesat, lagi pengingkar kebenaran; inilah yang mendorong mereka melancarkan tuduhan-tuduhan itu terhadapmu. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Ataukah mereka mengatakan, "Dia (Muhammad) membuat-buatnya." (Ath-Thur: 33) Yaitu membuat-buat Al-Qur'an dari dirinya sendiri. Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, menyanggah tuduhan mereka: Sebenarnya mereka tidak beriman. (Ath-Thur: 33) Yakni kekafiran merekalah yang mendorong mereka untuk mengucapkan kalimah ini. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Qur'an itu jika mereka orang-orang yang benar. (Ath-Thur: 34) Jika mereka benar dalam tuduhan yang mereka lancarkan itu, yang mereka buat-buat, maka hendaknyalah mereka mendatangkan hal yang semisal dengan Al-Qur'an yang dibawa oleh Muhammad ﷺ Karena sesungguhnya andaikata mereka dan semua penduduk bumi dari kalangan jin dan manusia berhimpun menjadi satu untuk membuat hal yang semisal Al-Qur'an, niscaya mereka tidak dapat mendatangkan hal yang semisal.
Bahkan mereka tidak akan mampu membuat sepersepuluhnya atau satu surat darinya yang semisal dengannya.".
Tidak hanya menuduhmu tukang tenung dan orang gila, bahkan mereka yang kafir itu juga berkata, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan, seperti musibah atau kematian, menimpanya. '31. Allah tidak memerintahkan Nabi Muhammad untuk menanggapi tuduhan orang kafir yang tidak berdasar itu. Dia berfirman, 'Katakanlah kepada mereka, 'Wahai orang kafir, tunggulah ketetapan Allah atasmu! Sesungguhnya aku pun termasuk orang yang sedang menunggu bersama kamu datangnya ketetapan Allah itu. '.
Pada ayat 29 Allah ﷻ memerintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk tetap memberikan peringatan kepada kaumnya, dengan mengajarkan kepada mereka ayat-ayat Allah tanpa menghiraukan perbuatan-perbuatan mereka yang tidak mengandung kebenaran. Allah menegaskan bahwa hamba-Nya yang bernama Muhammad ﷺ bukanlah tukang tenung dan bukan orang gila. Adapun orang-orang kafir menuduh Nabi Muhammad ﷺ sebagai tukang tenung karena beliau banyak memberikan berita-berita gaib tentang masa lalu. Umat-umat yang diperjuangkan nabi-nabi sebelumnya juga memberikan berita hal-hal yang akan datang seperti hari Kiamat, hari kebangkitan dan hari pengadilan (yaumulhisab) dan tentang surga serta neraka. Berita-berita gaib ini merupakan sebuah kebenaran yang diterima dari Allah. Jadi jelaslah bahwa Nabi bukan tukang tenung yang menyampaikan hal-hal yang tidak benar. Orang kafir juga menuduh Rasulullah sebagai orang gila karena beliau menyatakan dan mengajarkan bahwa Tuhan itu hanya satu, sedangkan mereka menganggap Tuhan mereka yang berjumlah empat saja banyak persoalan dunia yang tidak selesai. Jika Tuhan hanya satu maka dunia tidak terpelihara lagi, kata mereka. Beberapa orientalis Barat menyatakan Nabi punya penyakit epilepsi (ayan) seperti ketika beliau menerima wahyu tiba-tiba diam dan tidak menghiraukan keadaan sekeliling seperti orang terjangkit penyakit ayan. Tetapi pada ayat 29 ini Allah menegaskan bahwa Muhammad ﷺ tidaklah gila sebagimana dituduhkan orang-orang kafir. Nabi Muhammad ﷺ adalah hamba Allah yang diangkat jadi rasul, memiliki akal yang sehat, cita-cita yang tinggi, akhlak dan perilaku yang mulia. Sedangkan pada ayat 30 orang-orang kafir masih menuduh Nabi sebagai penyair karena ayat-ayat Al-Qur'an sangat indah bahasanya, susunan kalimat dan pilihan katanya sangat luar biasa. Para penyair biasa memiliki kemampuan bahasa yang indah dan biasa menyusun kalimat dan memilih kata-katanya tidak seperti manusia biasa. Menurut mereka para penyair sering menemui kematian karena kecelakaan. Oleh karena itu mereka selalu menunggu-nunggu kecelakaan yang akan menimpa Muhammad ﷺ Pada ayat ini Allah ﷻ menegaskan bahwa Nabi bukanlah penyair. Bahasa yang indah, susunan kalimat dan pilihan bahasa yang luar biasa pada ayat-ayat Al-Qur'an karena ayat-ayat itu merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Allah akan selalu melindungi Nabi-Nya. Firman Allah:
Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. (al-Ma'idah/5: 67).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
MARI COBA TERANGKAN!
“Maka peringatkanlah,Maka tidaklah engkau dengan nikmat Tuhan engkau, seonang tukang tenung.'"
(pangkal ayat 29)
Peringatkanlah kepada mereka itu, yaitu orang-orang Quraisy yang tidak mau percaya itu, bahwa berkatnikmat Allah, tidaklah engkau, hai Muhammad, seorang tukang tenung! Anggapan umum pada masa itu, tukang tenung atau tukang ramal nasib, tidaklah kedudukan mereka di dalam masyarakat dianggap mulia. Sejak dari zaman jahiliyyah sudah dikatakan orang juga,
“Berbohonglah tukang-tukang tenung itu walaupun benar apa yang dikatakannya itu."
Artinya, dia bohong karena dia sendiri tidak yakin akan kebenaran kata-katanya, meskipun kemudian ada yang benar-benar kejadian yang dikatakannya itu.
Oleh sebab itu maka tuduhan mereka bahwa Nabi Muhammad ﷺ seorang tukang tenung, demikian juga tuduhan bahwa beliau ﷺ adalah orang gila, kedua tuduhan itu adalah penghinaan belaka. Maka dengan ayat ini Allah telah membela Rasul-Nya. Beliau bukan tukang tenung dan bukan orang gila.
“Dan tidaklah engkau orang gila."
(ujung ayat 29)
“Atau apakah mereka katakan dia seorang penyayang kami tunggu-tunggu agar dia dapat celaka?"
(ayat 30)
Ini pun tuduhan guna menghina saja! Sebab seorang penyair pada dasarnya bukanlah seorang yang patut disebut pemimpin. Penyair bukanlah seorang yang mempunyai pendirian yang akan jadi ikutan dari orang banyak. Sebab itu maka ayat 69 dari surah Yaasiin, Allah telah berfirman,
“Dan tidaklah Kami mengajar syi'ir kepadanya dan tidaklah itu patut baginya. Lain tidak dianya adalah peringatan dan Qur'an yang nyata" (Yaasiin: 69)
Lanjutan ayat mengatakan bahwa orang Arab tidaklah menaruhkan hormat yang layak bagi seorang yang disebut ahli syair. Pada ayat 224 dari surah asy-Syu'araa' dijelaskan lagi,
“Dan penyair-penyair itu, mereka diikuti oleh orang-orang yang jahat. Bukankah engkau lihat bahwa mereka di tiap-tiap lembah mereka bertualang? Dan bahwasanya mereka mengatakan barang yang tidak mereka kerjakan?" (asy-Syu'araa': 224-226)
Beginilah pandangan masyarakat waktu itu terhadap penyair, sama juga dengan pandangan terhadap seniman-seniman atau artis di zaman kita sekarang ini. Ingatlah kita kepada sejarah hidup para penyair itu. Ingatlah kita kepada riwayat petualang Imru'ul Qais, yang di dalam mabuknya keluar syairnya yang indah. Tetapi matinya sangat menyedihkan karena memakai pakaian yang dibasuh dengan racun, lalu mati, hancur badannya demi memakai pakaian itu. Ingatlah kita kepada kehidupan Abu Nawas, penyair di zaman daulah Bani Abbas, yang Imam Syafi'i mengatakan kalau bukanlah karena hidupnya yang bertualang, dapatlah dihargai ilmunya.
Syukurlah karena masih ada “tetapi"nya. Sebab ayat 226 itu masih ada ujungnya.
“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan ingat mereka itu kepada Allah, banyak-banyak dan mendapat kemenangan sesudah mereka teraniaya. Maka akan tahulah orang-orang yang aniaya itu, ke tempat manakah mereka akan kembali."(asy-Syu'araa': 227)
Tegasnya bahwa Nabi sendiri bukanlah seorang penyair. Pandangan umum kepada seniman yang disebut penyair itu sejak dahulu sampai kini telah tetap kurang populer. Meskipun Nabi ﷺ sendiri pernah mengatakan,
“Setengah dari ucapan ada juga yang mengandung sihir dan setengah dari syair itu ada juga yang mengandung hikmah."
Nabi Muhammad ﷺ bukanlah penyair. Beliau telah menerangkan cacat hidup seorang penyair, sebagai disebut di ujung surah asy-Syu'araa' itu. Beliau mengakui bahwa syair itu ada juga yang baik dan ada juga yang berisi hikmah. Dalam akhir surah asy-Syu'araa' ditegaskan bahwa penyair yang beriman dan beramal saleh, tidaklah akan menjadi penyair tualang, yang hidup tidak mempunyai tujuan.
Sebab itu maka beliau pimpinlah penyair-penyair yang ada bakat syairnya agar mempergunakan untuk dakwah Islam. Terkenallah beberapa penyair di zaman Nabi ﷺ dan beberapa penyair pendakwah Islam. Yang terkemuka sekali ialah Hassan bin Tsabit. Demikian juga Abdullah bin Rawahah.
Hassan bin Tsabit disediakan Nabi buat menyambut kalau ada utusan-utusan Arab datang menemui Rasulullah ﷺ Bila mereka datang mengucapkan syairnya yang indah-indah dengan susunan kata berirama, Hassan bin Tsabit disuruh Nabi menjawab dalam bait syair yang sama tetapi bahasanya lebih indah, dan susunannya lebih memesona. Pernah Nabi ﷺ mendoakan Hassan,
“Ya Allah, sokonglah dia dengan Ruhul-Qudus."
Sampai ada utusan Arab itu yang berkata, “Penyairnya lebih pandai daripada penyair kita, ahli pidatonya lebih tangkas dari ahli pidato kita."
Teranglah bahwa Nabi ﷺ bukan seorang penyair, meskipun beliau mengaku juga bahwa tidak semua syair buruk; ada juga syair yang mengandung hikmah.
Jadi teranglah bahwa Nabi Muhammad ﷺ bukanlah seorang penyair, tetapi mengisi jiwa beberapa orang penyair dengan iman kepada Allah yang teguh dan beramal saleh, sehingga syair-syair mereka tidak lagi jadi petualang hidup yang tidak tentu arah dan tujuan, atau berani mengatakan sesuatu tetapi tidak berani bertindak.
“Katakanlah, Tunggulah! Saya pun bersama kamu dari onang yang menunggu pula.
(ayat 31)
Artinya, marilah sama-sama kita tunggu, manakah yang benar di antara pendirian kita. Kamu menuduh Nabi ﷺ tukang tenung, orang gila, tukang sihir dan sebagainya. Sedang pihak yang setia memegang ajaran Nabi itu, yakin dan percaya bahwa ini bukanlah tenung, melainkan wahyu. Nabi bukan orang gila, tetapi Rasul yang mendapat sokongan dari Allah. Nabi bukan tukang sihir tetapi mendapat mukjizat dari Allah. Kalau Nabi itu tukang tenung, orang gila, atau tukang sihir, tidaklah akan lama pengaruh ajarannya itu. Beberapa waktu saja pasti dia akan tumbang! Kepalsuannya akan terbuka, topengnya akan robek dari mukanya, sehingga kelihatan wajahnya yang sebenarnya.
Marilah sama-sama kita tunggu!
Setelah sama-sama menunggu ternyatalah bahwa semua yang mengatakan tuduhan-tuduhan yang hina itu, merekalah yang binasa, sedang Nabi ﷺ masih hidup. Agama yang beliau ajarkan kian tersebar, dan penghalangnya itu gagal di medan mana saja pun.
Sampai kepada zaman kita sekarang ini, abad keempat belas Hijriyah dan masuk ke abad kelima belas, musuh-musuh Islam yang tidak rela melihat kenyataan Islam, selalu berusaha hendak menahan kemajuan Islam dengan berbagai kekerasan dan kekejaman, namun usaha menghambat perjalanannya adalah sia-sia belaka.
“Dialah yang mengutus akan Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, supaya dialah yang lebih nyata di atas dari agama sekaliannya; walaupun benci orang-orang yang musyrik." (ash Shaff: 9)
Maka sampai zaman sekarang ini, pihak lawan menunggu, selalu menu nggu keruntuhan Islam. Bukan saja mereka menunggu bahkan berusaha agar cepat runtuhnya. Dan kita pun, kaum Muslimin, menunggu pula sebagaimana mereka menunggu. Dan berusaha pula, sebagaimana mereka berusaha. Dan kita pun penuh percaya bahwa Allah akan menolong kita.
“Atau, apakah mereka disuruh oleh mimpi-mimpi mereka sendiri untuk melontarkan tuduhan ini."
(pangkal ayat 32)
Di dalam bahasa Arab, mimpi-mimpi itu terbagi dua. Pertama disebut ar-ru'yaa ash-shaadiqah berarti mimpi yang benar. Al-ah-laam, yaitu mimpi yang kacau, yang tidak tentu ujung pangkal. Dalam bahasa Melayu keduanya disebut saja mimpi. Mimpi baik dan mimpi buruk. Tetapi di dalam bahasa daerah Minangkabau dibagi dua pula: kalau mimpi yang dapat ditabirkan, disebut mimpi. Tetapi mimpi buruk dan kacau, yang tidak berujung pangkal disebut rasian. Menurut pemakaian bahasa di Minangkabau, rasian samalah dengan al-ahlaam, dan ru'yah sama dengan mimpi. Rasian kacau balau tidak ada tabirnya, sedang ru'yah samalah dengan mimpi. Inilah yang dicari tabirnya. Dalam surah Yusuf banyak bertemu mimpi demikian dan masing-masing ada tabirnya. Dalam pepatah Minangkabau disebut:
“Rasian permainan tidur, kecimpung permainan mandi."
Artinya bahwa dalam tidur sudah biasa, sudah jadi permainan saja jika ada rasian yang buruk, yang seram; dia habis sendiri bila orang telah sadar dari tidurnya. Sebab itu jika hanya rasian janganlah terlalu diambil berat.
Maka dikatakanlah di dalam ayat ini, sebagai suatu pertanyaan apakah mimpi-mimpi atau apakah rasian yang tidak berujung pangkal itu yang menyuruh mereka melontarkan tuduhan bahwa risalah disampaikan oleh Rasul itu adalah palsu belaka?
“Ataukah mereka suatu kaum yang telah melampaui batas?"
(ujung ayat 32)
Percakapan dan penolakan atas kebenaran yang timbul dari suatu hal yang tidak dipikirkan dengan matang, samalah halnya dengan mengucapkan rasian. Yaitu orang yang bercakap-cakap sedang tidur, dia tidak tahu apa yang telah dikatakannya. Sama juga dengan bertutur, bercakap tetapi telah melampaui batas, yang patut dirasakan oleh orang yang berbudi luhur.
“Ataukah mereka mengatakan, ‘Cuma dibuat-buatnya saja."
(pangkal ayat 33)
Mereka menolak, tidak mau percaya bahwa Al-Qur'an itu adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ Kata mereka bahwa apa yang disebut oleh Nabi Muhammad ﷺ wahyu itu hanya buatan Muhammad saja.
“Bahkan mereka tidaklah percaya."
(ujung ayat 33)
Ini pun berlaku sampai sekarang. Seumpama mendiang Prof. Snouck Hourgronye, seorang Orientalis Belanda, yang sangat kenamaan. Untuk mengetahui sampai sedalam-dalamnya, beliau masuk Islam dan beliau berhasil berdiam di Mekah sampai tiga tahun, dengan memakai nama Islam: Syekh Ibrahim Snouck al-Holandi. Tetapi kemudian setelah mengarang tentang Islam, tentang perayaan Haji di Mekah, dapatlah diambil kesimpulan bahwa tidak percaya kepada Islam, tidak percaya bahwa Al-Qur'an itu adalah wahyu. Dan keluarlah nasihat-nasihat beliau kepada pemerintah Belanda, agar berusaha menghilangkan pengaruh Pan Islamisme dari Hindia Belanda. Yang meskipun orang Islam masih mengamalkan Islam, namun hubungan mereka dengan Arab hendaklah diputuskan.
"Maka kamu datangkanlah ucapan yang seumpamanya jika adalah kamu orang-orang yang benar."
(ayat 34)
Kalau kamu masih tetap mengatakan bahwa At-Qur'an adalah buatan Muhammad, padahal sejak semula kamu sendiri mengetahui bahwa Muhammad itu adalah seorang yang tidak pandai menulis dan membaca, atau ummi, tidak terkenal sebelumnya sebagai ahli pengarang, bisa saja dia mengarang dan menyusun kata demikian, niscaya kamu sekalian pun bisa menyusun kata seperti itu. Maka untuk membuktikan bahwa Al-Qur'an bukan wahyu Ilahi, cobalah karang pula kata-kata seperti demikian. Tentu kalian bisa, sebab kalian jauh lebih pintar dari Muhammad.
Selama jadi Rasul, tiga belas tahun di Mekah dan sepuluh tahun di Madinah berkali-kali mereka ditantang untuk mengeluarkan kata sekuat wahyu Al-Qur'an, namun satu orang pun tidak sanggup.
“Ataukah mereka diciptakan dari tidak ada apa-apa atau mereka sendirikah mencipta dirinya?"
(ayat 35)
Artinya, mereka diciptakan dari tidak apa-apa, yaitu terjadi saja sendiri dengan tidak ada yang menciptakan? Atau manusia ada di dunia ini karena manusia itu sendiri yang menciptakan diri dengan tidak ada pencipta, tegasnya tidak ada Tuhan?
“Ataukah mereka yang telah menciptakan semua langit dan bumi?"
(pangkal ayat 36)
Artinya, kalau tidak percaya bahwa Allah pencipta alam ini seluruhnya, beranikah kamu menyatakan bahwa langit dan bumi itu kamu sendiri penciptanya? Dan ujung ayat pun menegaskan,
“Bahkan mereka pun tidak yakin."
(ujung ayat 36)
Tidak ada pula di antara mereka yang berani berkata demikian, kecuali orang gila. Dan kalau ada yang berkata begitu, semua orang akan menolaknya walaupun mereka menolak Islam. Makhluk yang sehat tidaklah akan berani berkata selancang itu.
“Ataukah di sisi mereka ada perbendahanaan Tuhan engkau."
(pangkal ayat 37)
Perbendaharaan ialah simpanan tempat menyimpan kekayaan Allah; apakah Allah yang telah menyerahkan perbendaharaan-Nya sendiri kepada mereka itu sehingga mereka jadi sombong?
“Atau merekakah yang benkuasa?"
(ujung ayat 37)
Sehingga karena mereka yang berkuasa, Allah tidak berkuasa lagi?
“Atau pada mereka ada tangga untuk mendengar mereka padanya?"
(pangkal ayat 38)
Dari tangga atau jenjang itu mereka bisa naik memanjat ke atas yang dari sana mereka dapat memasang telinga untuk mengetahui apa yang menjadi pembicaraan antara Allah dengan
malaikat-malaikat-Nya.
Kalau memang demikian perkiraan mereka, “Maka hendaklah mendatangkan pen-dengar-pendengaritu apa yang mereka dengar." jelaskan dan jangan disembunyikan.
“Dengan memberikan keterangan yang nyata."
(ujung ayat 38)
Ayat ini memberi bimbingan yang jelas dalam menegakkan suatu keterangan, hendaklah keterangan itu yang masuk di akal dan yang bisa dipertanggungjawabkan. Sebab kalau seseorang mengaku dirinya, misalnya mendengar sesuatu bisikan dari langit, langsung orang yang menerima keterangan itu percaya saja, tidak dengan mempergunakan pertimbangan, niscaya masyarakat menjadi bertambah gelap dan mudah saja kena tipu. Maka sebagai orang yang mempunyai iman kepada Allah, kita percaya bahwasanya keganjilan-keganjilan yang diada-adakan oleh manusia, tidaklah akan dapat mengubah hukum yang telah tetap dari Allah. Pernah dikatakan oleh Junaid orang Baghdad yang diberi gelar julukan Syekh Thaifah atau guru besar ilmu taﷺuf. Kata beliau, “Jangan engkau terpesona kepada seseorang yang mengaku keramat. Walaupun dia kelihatan bisa terbang di udara ataupun berjalan di atas air. Yang penting diperhatikan adakah dia mengerjakan perintah Allah atau menghentikan larangan dengan betul. Karena keganjilan-keganjilan yang dia perbuat bukanlah berarti boleh mengubah hukum yang tetap.
Absolving the Prophet of the False Accusations the Idolators made against Him
Allah the Exalted commands His Messenger to convey His Message to His servants and remind them of His revelation that has been sent down to him. Next, Allah refutes the false accusations that the liars and sinners accused the Prophet of,
فَذَكِّرْ فَمَا أَنتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ
Therefore, remind. By the grace of Allah, you are neither a Kahin nor a madman.
Allah says, `by the grace of Allah, you, O Muhammad, are not a Kahin, as the ignorant Quraysh idolators claim.'
A Kahin is the soothsayer who receives information from the Jinns that the Jinns are able to eavesdrop on news from heaven,
وَلَا مَجْنُونٍ
(nor a madman) whom Shaytan has possessed with insanity.
Allah the Exalted said, while chastising the pagans for uttering false statements about the Prophet,
أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَّتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ
Or do they say:A poet! We await for him some calamity by time!
They said, `We await a disaster to strike him, for example, death. We will be patient with him until death comes to him and we, thus, get rid of his bother and from his Message.'
Allah the Exalted said,
قُلْ تَرَبَّصُوا فَإِنِّي مَعَكُم مِّنَ الْمُتَرَبِّصِينَ
Say:Wait! I am with you among those who wait!
`wait and I too will wait with you, and you will come to know to whom the good end and triumph shall be granted in this life and the Hereafter.'
Muhammad bin Ishaq reported that Abdullah bin Abi Najih said that Mujahid said that Ibn Abbas said,
When the Quraysh gathered in the Dar An-Nadwah (their meeting place) to discuss the matter of the Prophet, one of them said,
`Jail him in chains. Then we will wait and in time, a calamity will strike him; he will die just as the poets before him died, such as Zuhayr and An-Nabighah, for he is a poet just like them.'
Allah the Exalted said in response to their statement,
أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَّتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ
(Or do they say:A poet! We await for him some calamity by time!)
Allah the Exalted said
أَمْ تَأْمُرُهُمْ أَحْلَمُهُم بِهَذَا
Or do their minds command them this,
`do their minds command them to tell these lies against you (O Muhammad), even though they know in their hearts that they are untrue and false,'
أَمْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ
or are they people transgressing all bounds?
`surely, they are misguided, stubborn and unjust people, and this is why they say what they say about you (O Muhammad). '
Allah the Exalted said
أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ
Or do they say:He has forged it?
They said, `he has forged this Qur'an and brought it from his own.'
Allah the Exalted responded to them,
بَل لاَّ يُوْمِنُونَ
Nay! They believe not!,
meaning, their disbelief drives them to utter these statements,
فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِّثْلِهِ إِن كَانُوا صَادِقِينَ
Let them then produce a recitation like unto it if they are truthful.
meaning, if they are truthful in their statement that Muhammad has forged this Qur'an and brought it of his own, then let them produce something similar to what he has brought forth, as in this Qur'an! And even if they combine their strength to that of the people of the earth, Jinns and mankind alike, they will never produce something like the Qur'an, or ten Surahs like it, or even one Surah.
Affirming Tawhid and annulling the Plots of the Idolators. This is the position where Tawhid of Allah's Lordship and Divinity are affirmed.
Allah the Exalted said,
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
Or were they created by nothing? Or were they themselves the creators?
Allah asks them, were they created without a maker or did they create themselves? Neither is true. Allah is the One Who created them and brought them into existence after they were nothing.
Al-Bukhari recorded that Jubayr bin Mut`im said,
I heard the Prophet recite Surah At-Tur in Al-Maghrib prayer and when he reached this Ayah,
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضَ بَل لاَّ يُوقِنُونَ
أَمْ عِندَهُمْ خَزَايِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُون
Or were they created by nothing? Or were they themselves the creators? Or did they create the heavens and the earth? Nay, but they have no firm belief. Or are with them the treasures of your Lord? Or are they the tyrants with the authority to do as they like?
I felt my heart would fly away.
This Hadith is collected in the Two Sahihs using various chains of narration.
Jubayr bin Mut`im went to the Messenger of Allah after the battle of Badr to ransom the captured idolators. At that time, he was still an idolator. Hearing the Prophet recite this Ayah was one of the reasons that he later embraced Islam.
Allah the Exalted said,
أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضَ بَل لاَّ يُوقِنُونَ
Or did they create the heavens and the earth? Nay, but they have no firm belief.
meaning, Allah is censuring the idolators for their idolatry, while asking them if they created the heavens and earth. They knew that Allah Alone is the Creator without partners with Him. However, they fell into idolatry because they had no firm belief
أَمْ عِندَهُمْ خَزَايِنُ رَبِّكَ
Or are with them the treasures of your Lord?
meanings, do they have the authority to do whatever they will in His kingdom. Do they hold the keys to His treasures in their hands?
أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ
or are they the tyrants with the authority to do as they like?
meanings, are they the tyrants who would hold the creation to account Never, Allah the Exalted and Most Honored is the Only King and Owner of the existence and He does what He wills.
Allah the Exalted said
أَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَسْتَمِعُونَ فِيهِ
Or have they a stairway, by means of which they listen.
meaning, do they have a stairway to heaven (to the place where the angels are),
فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُم بِسُلْطَانٍ مُّبِينٍ
Then let their listener produce some manifest proof.
meaning, let their listener produce evidence to the truth of their actions and statements. They will never be able to do so and therefore, they have nothing and have no evidence for their stance.
Allah admonishes them regarding their claim that He has daughters and that the angels are females! The pagans chose for themselves male offspring and preferred them instead of females, and when one of them would be brought the good news of a daughter being born, his face would turn dark on account of his suppressed anger! Yet, they made the angels Allah's daughters and worshipped them besides Allah,
أَمْ لَهُ الْبَنَاتُ وَلَكُمُ الْبَنُونَ
Or has He only daughters and you have sons?
Allah sends a strong warning and stern admonition to them in this Ayah and a sure promise.
Allah said,
أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا
Or is it that you ask a wage from them?
meaning, `as a remuneration for your preaching Allah's Message to them!
Nay, you, do not ask them for a wage,'
فَهُم مِّن مَّغْرَمٍ مُّثْقَلُونَ
so that they are burdened with a load of debt,
meaning, for in this situation, one will complain of the least bothersome thing and feel it difficult and burdensome for him,
أَمْ عِندَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ
Or that the Unseen is with them, and they write it down?
means, they do not have knowledge of the Unseen, for none in the heavens or earth knows the Unseen except Allah,
أَمْ يُرِيدُونَ كَيْدًا
فَالَّذِينَ كَفَرُوا هُمُ الْمَكِيدُونَ
Or do they intend a plot But those who disbelieve are themselves plotted against!
Allah the Exalted is asking, `Do these people who utter such statements about the Messenger and his religion seek to deceive the people and plot against the Messenger and his Companions If they do, then let them know that their plots will only harm them. Therefore, they are being plotted against rather than being the plotters!'
أَمْ لَهُمْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ
سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Or have they a god other than Allah? Glorified be Allah from all that they ascribe as partners (to Him).
This Ayah contains harsh refutation directed at the idolators for worshipping the idols and calling upon rivals along with Allah.
Allah next glorifies His Most Honorable Self from what they ascribe to Him, their lies and idolatry,
سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Glorified be Allah from all that they ascribe as partners (to Him).
Or (am means bal) do they say, that he is: 'A poet, for whom we may await the accidents of fate?', the vicissitudes of time, so that he will just die like other poets.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.








