Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
وَتَرَكۡنَا
dan kami tinggalkan
فِيهَآ
didalamnya
ءَايَةٗ
tanda-tanda
لِّلَّذِينَ
bagi orang-orang yang
يَخَافُونَ
mereka takut
ٱلۡعَذَابَ
azab
ٱلۡأَلِيمَ
pedih
وَتَرَكۡنَا
dan kami tinggalkan
فِيهَآ
didalamnya
ءَايَةٗ
tanda-tanda
لِّلَّذِينَ
bagi orang-orang yang
يَخَافُونَ
mereka takut
ٱلۡعَذَابَ
azab
ٱلۡأَلِيمَ
pedih
Terjemahan
Dan Kami tinggalkan padanya (negeri itu) suatu tanda1 bagi orang-orang yang takut kepada azab yang pedih.
Catatan kaki
1 *814) Batu-batu yang bertumpuk-tumpuk yang dipergunakan untuk membinasakan kaum Luṭ. Ada pula yang mengatakan suatu telaga yang airnya hitam dan busuk baunya.
Tafsir
(Dan Kami tinggalkan pada negeri itu) sesudah semua orang-orang kafir dibinasakan (suatu tanda) yakni tanda yang menunjukkan bahwa mereka telah dibinasakan (bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih) hingga hal itu dijadikan sebagai peringatan buat mereka, supaya mereka tidak melakukan perbuatan yang sama.
Tafsir Surat Adz-Dzariyat: 31-37
Ibrahim bertanya, "Apakah urusanmu, wahai para utusan?" Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah yang (keras), yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas. Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, menceritakan perihal Nabi Ibrahim a.s.: Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan suka kembali kepada Allah. Wahai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak. (Hud: 74-76) Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya: Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu, wahai para utusan? (Adz-Dzariyat: 31) Yakni apakah urusanmu dan tugas apakah yang menyebabkan kamu datang kemari? Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa. (Adz-Dzariyat: 32) Yakni Kaum Luth.
agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas. (Adz-Dzariyat: 33-34) Muﷺwamatan yang diberi tanda masing-masing orang yang dikenainya; pada setiap batu terdapat nama orang yang akan dikenainya. Di dalam surat Al-'Ankabut disebutkan melalui firman-Nya: Berkata Ibrahim, "Sesungguhnya di kota itu ada Luth. Para malaikat berkata, "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya.
Dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)." (Al-'Ankabut: 32) Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya: Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. (Adz-Dzariyat: 35) Mereka adalah Luth dan ahli baitnya (keluarganya) terkecuali istrinya. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. (Adz-Dzariyat: 36) Ayat ini dijadikan sebagai hujah oleh sebagian orang yang berpendapat senada dengan pendapat Mu'tazilah, yaitu mereka yang tidak membedakan antara orang yang menyandang iman dan orang yang menyandang Islam, dengan alasan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat ini menyebut mereka orang-orang mukmin dan juga orang-orang muslim.
Tetapi penyimpulan dalil seperti ini lemah, mengingat mereka (Luth dan keluarganya kecuali istrinya) adalah orang-orang mukmin. Dan menurut kita setiap orang mukmin itu pasti muslim, tetapi tidak sebaliknya. Adapun keterpaduan kedua nama (predikat) tersebut dalam ayat ini karena dalam kondisi yang tertentu, tetapi tidak dapat dijadikan sebagai kesimpulan bagi semua keadaan. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih. (Adz-Dzariyat: 37) Yakni Kami jadikan negeri itu sebagai pelajaran bagi yang lainnya tentang azab, pembalasan, dan batu dari tanah yang keras yang Kami timpakan kepada mereka; dan Kami jadikan bekas tempat mereka danau yang airnya berbau busuk lagi kotor.
Hal ini akan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih. (Adz-Dzariyat: 37)".
Kami turunkan azab sebagai peringatan bagi mereka yang ingkar, dan Kami telah tinggalkan pula padanya, yaitu negeri Nabi Lut, suatu tanda yang sangat jelas tentang kebesaran dan kekuasaan Kami. Kami menjadikannya pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab yang pedih. 38. Usai menceritakan azab yang Allah timpakan kepada kaum Nabi Lut yang ingkar, pada ayat-ayat berikut Allah menyebut kisah umat masa lalu yang mengingkari nabinya. Kisah-kisah itu menunjukkan betapa Allah Mahakuasa, dan pada kisah Nabi Musa juga terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah. Bukti-bukti itu antara lain terlihat ketika Kami mengutusnya kepada Fira'un, yaitu penguasa Mesir Kuno, dengan membawa tanda kekuasaan Kami, yaitu mukjizat yang nyata dan tidak terbantahkan.
Pada ayat ini Allah ﷻ menerangkan, bahwa peristiwa penghancuran kaum Lut hendaknya dijadikan peringatan bagi orangorang yang takut kepada Allah, dan bekas-bekas peristiwa itu dapat dilihat tanda-tandanya yaitu tumpukan batu-batu tempat diturunkan azab yang telah amblas (masuk ke dalam bumi) dan berbentuk sebuah danau yaitu danau Tabariyah (laut mati). Ayat ini mengandung isyarat, bahwa jika pada sebuah kota terdapat unsur kekafiran dan kefasikan yang sudah merajalela, maka jumlah orang Mukmin yang sedikit tidak dapat menghalang-halangi datangnya azab, dan bila mayoritas penduduknya terdiri dari umat yang saleh, maka mereka dapat terpelihara dari azab, walaupun terdapat di dalamnya beberapa orang yang durhaka kepada Tuhan.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Rupanya malaikat bertiga itu hanya singgah di tempat Ibrahim buat menyampaikan kabar gembira kepadanya, suami-istri bahwa mereka akan dianugerahi putra. Sesudah selesai menyampaikan berita gembira itu, bertanyalah Ibrahim ke mana lagi maksud perjalanan mereka.
“Berkata dia (yaitu ibnahim),'Apakah kesulitanmu wahai orang-orang yang diutus?"
(ayat 31)
Yang kita ambil pengajaran dari cara pertanyaan Nabi Ibrahim ini ialah apabila tetamu telah disambut dengan baik dan telah dimuliakan, kemudiannya barulah boleh ditanyakan oleh yang empunya rumah, apakah kesulitan yang tengah dia hadapi, hendak ke mana dia meneruskan perjalanan. Dalam agama Islam tentang menghormati tetamu itu, ditentukan tiga hari lamanya. Setelah tiga hari, barulah yang empunya rumah menanyakan ke mana maksud si tetamu itu selanjutnya, apa kesulitannya, supaya dapat ditolong.
“Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang bendosa."
(ayat 32)
Kaum ini adalah kaum Nabi Luth. Di dalam sejarah disebutkan bahwa Nabi Luth itu adalah anak dari saudara perempuan Nabi Ibrahim. Penduduk negeri yang didatanginya sudah membuat dosa yang sangat keji, yaitu laki-laki
lebih suka bersetubuh dengan sesama laki-laki, tidak tertarik lagi kepada perempuan. Di zaman modern disebut homoseks.
“Agar kami timpakan kepada mereka batu dari tanah."
(ayat 33)
Artinya ialah bahwa malaikat-malaikat itu diperintahkan oleh Allah buat mendatangkan adzab Allah kepada mereka. Di sini telah dijelaskan apa macam adzab itu. Malaikat itu membawa batu dari tanah. Yaitu, batu yang telah dimasak sehingga dia sudah sangat panas. Menjadi terbakar kelak barangsiapa yang terkena oleh batu itu.
Di dalam surah Huud ayat 82, dijelaskan bahwa adzab yang menimpa negeri itu ialah ditunggangbalikkan oleh Allah, yang di atas dibalikkan ke bawah, lalu ditimpakan kepada mereka tanah yang dibakar sehingga mana yang kena jadi hangus.
“Yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk mereka yang melampaui batas."
(ayat 34)
Disebutkan di dalam beberapa kitab tafsir bahwasanya batu itu berasal dari tanah, lalu dibakar, laksana batu tembok merah yang asalnya memang dari tanah. Lalu ditentukan dengan masing-masing batu itu orang yang akan diadzab. Ar-Razi mengatakan dalam tafsirnya bahwa pada tiap-tiap batu itu telah dituliskan nama orang yang akan diadzab."Maka kami ketuankan daripadanya barangsiapa yang ada padanya dari orang-orang yang beniman."
(ayat 35)
Maksudnya ialah orang-orang yang telah mengaku beriman kepada Allah diselamatkan lebih dahulu sebab nama-nama mereka tidak ada tertulis di dalam batu-batu yang dijadikan tembikar yang dibakar itu.
“Maka tidaklah kami dapati padanya, selain sebuah numah dari orang-orang yang Islam."
(ayat 36)
Hanya sedikit bertemu orang-orang yang benar-benar telah mengakui beriman kepada Allah. Siapa orang-orang yang sedikit itu? Yaitu, orang-orang yang telah mengaku dirinya berserah diri kepada Allah, yaitu orang Islam. Karena arti Islam itu ialah orang-orang yang telah menyerahkan diri kepada Allah. Itu pun cuma sedikit pula, hanya isi dan sebuah rumah saja. Mungkin rumah Nabi Luth sendiri. Tidak pula seluruh isi rumah, sebab istri Nabi Luth sendiri termasuk orang yang durhaka itu. Maka, hancurlah seluruh kaum itu dalam adzab siksaan Allah. Dan, keadaan atau situasi di sana sudah diketahui oleh malaikat-malaikat itu sebelum mereka datang ke tempat, ketika Nabi Ibrahim bertanya.
“Dan, kami tinggalkan padanya suatu tanda untuk orang-orang yang takut akan adzab yang pedih."
(ayat 37)
Ayat ini menjelaskan bahwa sampai kepada zaman Nabi kita ﷺ masih didapati tanda dan bekas dari negeri umat Nabi Luth itu, di dekat Laut Mati. Bahkan ahli-ahli purbakala zaman kita ini pun telah menyelidiki pula ke sana. Semuanya akan menjadi peringatan kesalahan dan kecabulan yang menjijikkan itu jangan terulang kembali.
Tetapi, jika dilihat bagaimana dahsyatnya keruntuhan akhlak manusia zaman sekarang, termenunglah kita memikirkannya. Di negeri-negeri Barat penyakit homoseks, yaitu laki-laki bersetubuh dengan laki-laki, dan penyakit lesbian, yaitu perempuan bermain laki-bini dengan sesama perempuan, semuanya sudah sangat memuncak. Di beberapa negeri mereka meminta supaya pemerintah mengakui orang laki-laki “hidup bersama dengan sesama laki-laki". Seorang laki-laki yang lebih tua dengan tidak malu-malu memperkenalkan teman laki-lakinya yang lebih muda. Mereka meminta agar hak demokrasi juga meliputi jurusan itu.
Adapun dalam pemerintahan Islam, kalau seorang laki-laki telah ditimpa penyakit
homoseks itu, hukumnya ialah dibakar sampai mati.
The Guests of the Prophet Ibrahim
We mentioned this story before in Surah Hud and Al-Hijr.
Allah said,
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ
Has the story reached you, of the honored guests of Ibrahim?
whom Ibrahim honored
إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَمًا
قَالَ سَلَامٌ
When they came in to him and said:Salaman!
He answered:Salamun.
وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَأ أَوْ رُدُّوهَأ
When you are greeted with a greeting, greet in return with what is better than it, or return it equally. (4:86)
So the Friend of Allah chose a better reply in return for their greeting, implementing Allah's command:Reciprocating the greeting with the term Salamun is stronger than the greeting using the term Salaman.
The three angels; Jibril, Mika'il and Israfil came to Ibrahim in the image of handsome young wonderfully graceful men. This is why Ibrahim said,
قَوْمٌ مُّنكَرُونَ
You are a people unknown to me.
Allah the Exalted said
فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ
Then he turned to his household,
(Ibrahim discretely went inside in haste),
فَجَاء بِعِجْلٍ سَمِينٍ
and brought out a roasted calf. (from the best of his menu),
And in another Ayah
فَمَا لَبِثَ أَن جَأءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ
And he hastened to entertain them with a roasted calf. (11:69)
means roasted on hot coal
فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ
And placed it before them, (brought it close to them),
قَالَ أَلَاا تَأْكُلُونَ
Saying, Will you not eat?
Ibrahim said this polite and kind statement to his guests, and surely, this Ayah indicates proper manners for honoring guests. For he brought the food to his guests quickly, while they were unaware that it was being prepared for them. He did not first mention this favor to them by saying, We will make food for you. Rather, he discretely had it prepared and placed before them. He prepared the best kind of food he had, a young, fat roasted calf. He did not place the food far from them and invite them to come close to it to eat. Rather, he placed it close to them and refrained from ordering them to eat. Instead he invited them using a kind and subtle invitation,
أَلَا تَأْكُلُونَ
(Will you not eat?)
This statement is similar to one of us saying to a guest,
Would you be kind and generous to do such and such
Allah the Exalted said
فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً
Then he conceived fear of them.
this Ayah is explained by Allah's statement,
فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُواْ لَا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوطٍ
وَامْرَأَتُهُ قَأيِمَةٌ فَضَحِكَتْ
..
But when he ﷺ their hands went not towards it, he mistrusted them, and felt a sense of fear of them. They said:Fear not, we have been sent against the people of Lut.
And his wife was standing (there), and she laughed (11:70-71),
meaning, she was glad that the people of Lut would be destroyed on account of their rebellion and transgression against Allah, the Exalted. This is when the angels delivered the good news to her of a son, Ishaq, and Ya`qub after Ishaq,
قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَاْ عَجُوزٌ وَهَـذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَـذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ
قَالُواْ أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللّهِ رَحْمَتُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَّجِيدٌ
She said:Woe unto me! Shall I bear a child while I am an old woman, and here is my husband an old man Verily, this is a strange thing!
They said, Do you wonder at the decree of Allah The mercy of Allah and His blessings be on you, O family of the house. Surely, He (Allah) is All-Praiseworthy, All-Glorious. (11:72-73)
قَالُوا لَاا تَخَفْ
They said:Fear not.
وَبَشَّرُوهُ بِغُلَمٍ عَلِيمٍ
And they gave him glad tidings of a son having knowledge.
This news was as good to Ibrahim as it was to his wife, for this son would be theirs, and therefore, they both were getting some good news.
Allah the Exalted said
فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ
Then his wife came forward with a loud voice,
She screamed loudly, according to Ibn Abbas, Mujahid, Ikrimah, Abu Salih, Ad-Dahhak, Zayd bin Aslam, Ath-Thawri and As-Suddi. She said when she shouted,
يوَيْلَتَا
Ah! Woe to me! (25:28), then,
فَصَكَّتْ وَجْهَهَا
she smote her face,
meaning, she struck herself upon her forehead, according to Mujahid and Ibn Sabit.
Ibn Abbas said,
she smacked her face just as women do when confronted with an amazing thing,
وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ
and said:A barren old woman!
meaning, How can I give birth while I am an old woman And even when I was young I was barren and could not have children,
قَالُوا كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكِ
إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ
They said:Even so says your Lord. Verily, He is the All-Wise, the All-Knower,
`He is the All-Knower of the honor that you are worthy of and He is the most Wise in His statements and decisions.’
The Angels were sent to destroy the People of the Prophet Lut
Allah the Exalted said about Ibrahim, peace be upon him,
فَلَمَّا ذَهَبَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ الرَّوْعُ وَجَاءتْهُ الْبُشْرَى يُجَادِلُنَا فِي قَوْمِ لُوطٍ
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُّنِيبٌ
يَا إِبْرَاهِيمُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا إِنَّهُ قَدْ جَاء أَمْرُ رَبِّكَ
وَإِنَّهُمْ اتِيهِمْ عَذَابٌ غَيْرُ مَرْدُودٍ
Then when the fear had gone away from (Ibrahim), and the glad tidings had reached him, he began to plead with Us for the people of Lut. Verily, Ibrahim was, without doubt forbearing, used to invoke Allah with humility, and was repentant. O Ibrahim! Forsake this. Indeed, the commandment of your Lord has gone forth. Verily, there will come a torment for them which cannot be turned back. (11:74-76)
Allah said here,
قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ أَيُّهَا الْمُرْسَلُونَ
(Ibrahim) said:Then for what purpose you have come, O messengers!
meaning, `what is the mission that you were sent with,'
قَالُوا إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمٍ مُّجْرِمِينَ
They said:We have been sent to a people who are criminals.
in reference to the people of Lut,
لِنُرْسِلَ عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّن طِينٍ
مُسَوَّمَةً
To send down upon them stones of baked clay, marked, (or written),
عِندَ رَبِّكَ لِلْمُسْرِفِينَ
by your Lord for transgressors.
recorded with Allah to their names; each stone has the name of its companion. Allah said in Surah Al-`Ankabut,
قَالَ إِنَّ فِيهَا لُوطاً قَالُواْ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَن فِيهَا لَنُنَجِّيَنَّهُ وَأَهْلَهُ إِلاَّ امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَـبِرِينَ
(Ibrahim) said:But there is Lut in it.
They said:We know better who is there. We will verily save him and his family except his wife:she will be of those who remain behind. (29:32),
and said here,
فَأَخْرَجْنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُوْمِنِينَ
So We brought out from therein the believers.
they are:Lut and his family, except his wife,
فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِّنَ الْمُسْلِمِينَ
But We found not there any household of the Muslims except one.
Allah the Exalted said,
وَتَرَكْنَا فِيهَا ايَةً لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ الْعَذَابَ الاَْلِيمَ
And We have left there a sign for those who fear the painful torment.
meaning, `We left a proof of the punishment, torment and stones made of Sijjil (baked clay) that We sent on them; We made their dwelling place a putrid, evil, dead sea. This should provide a lesson for the believers,'
لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ الْعَذَابَ الاَْلِيمَ
(for those who fear the painful torment).
Lessons from the Destruction of Fir`awn, `Ad, Thamud, and the People of Nuh
Allah the Exalted said,
وَفِي مُوسَى إِذْ أَرْسَلْنَاهُ إِلَى فِرْعَوْنَ بِسُلْطَانٍ مُّبِينٍ
And in Musa, when We sent him to Fir`awn with a manifest authority.
meaning, with clear proof and plain evidence
فَتَوَلَّى بِرُكْنِهِ
But he turned away along with his hosts,
meaning, in rebellion and arrogance, Fir`awn turned away from the plain truth that Musa was sent with,
ثَانِىَ عِطْفِهِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
Bending his neck in pride, and leading (others) too (far) astray from the path of Allah. (22:9 ),
meaning turning away from truth in arrogance,
وَقَالَ سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ
and said:A sorcerer, or a madman.
meaning Fir`awn said to Musa, With regards to the message that you brought me, you are either a magician or a madman.
Allah the Exalted replied
فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ
So We took him and his armies, and dumped them,
meaning `We threw them,'
فِي الْيَمِّ
into the Yamm, (into the sea),
وَهُوَ مُلِيمٌ
for he was blameworthy.
meaning, Fir`awn was a denying sinner and a stubborn disbeliever worthy of blame.
Allah the Exalted and Most Honored said,
وَفِي عَادٍ إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيحَ الْعَقِيمَ
And in `Ad when We sent against them the barren wind!
that destroys everything and produces nothing.
This was said by Ad-Dahhak, Qatadah and others.
Allah's statement
مَا تَذَرُ مِن شَيْءٍ أَتَتْ عَلَيْهِ
It spared nothing that it reached,
meaning, everything that the wind could destroy,
إِلاَّ جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيمِ
but blew it into broken spreads of rotten ruins.
meaning, made it just like a rotten and destroyed.
Sa`id bin Al-Musayyib and others commented on:
إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيحَ الْعَقِيمَ
(when We sent against them the barren wind),
Southerly winds.
However, there is a Hadith in the Sahih from Shu`bah bin Al-Hakam, from Mujahid, from Ibn Abbas, who said that the Messenger of Allah said,
نُصِرْتُ بِالصَّبَا وَأُهْلِكَتْ عَادٌ بِالدَّبُور
I have been made victorious with the Saba (easterly wind), and the people of `Ad were destroyed with the Dabur (westerly wind).
Allah saying,
وَفِي ثَمُودَ إِذْ قِيلَ لَهُمْ تَمَتَّعُوا حَتَّى حِينٍ
And in Thamud, when they were told:Enjoy yourselves for a while!
is just as He said in another Ayah,
وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَـهُمْ فَاسْتَحَبُّواْ الْعَمَى عَلَى الْهُدَى فَأَخَذَتْهُمْ صَـعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ
And as for Thamud, We guided them to the path of truth, but they preferred blindness to guidance; so the Sa`iqah of disgracing torment seized them. (41:17)
Allah said here,
وَفِي ثَمُودَ إِذْ قِيلَ لَهُمْ تَمَتَّعُوا حَتَّى حِينٍ
فَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ وَهُمْ يَنظُرُونَ
And in Thamud, when they were told:Enjoy yourselves for a while! But they insolently defied the command of their Lord, so the Sa`iqah overtook them while they were looking.
Thamud were given a respite for three days, during which they await the torment. In the early morning of the fourth day, the torment overtook them
فَمَا اسْتَطَاعُوا مِن قِيَامٍ
Then they were unable to rise up,
they were unable to escape and run away from it,
وَمَا كَانُوا مُنتَصِرِينَ
nor could they help themselves.
nor could they save themselves from the torment that befell them.
Allah the Exalted and Most Honored said
وَقَوْمَ نُوحٍ مِّن قَبْلُ
(So were) the people of Nuh before them.
meaning, `We destroyed the people of Nuh before these people (Fir`awn, `Ad and Thamud).'
إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ
Verily, they were a people who were rebellious.
We mentioned these stories in details before in the Tafsir of several other Surahs.
And We left therein, after destroying the disbelievers, a sign, an indication of their destruction, for those who fear the painful chastisement, so that they may not do what these [sinners] did.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.








