ق ١٦
- وَلَقَدۡ dan sesungguhnya
- خَلَقۡنَا Kami telah menciptakan
- ٱلۡإِنسَٰنَ manusia
- وَنَعۡلَمُ dan Kami mengetahui
- مَا apa yang
- تُوَسۡوِسُ membisik-bisikkan
- بِهِۦ dengannya
- نَفۡسُهُۥۖ jiwanya/hatinya
- وَنَحۡنُ dan Kami
- أَقۡرَبُ lebih dekat
- إِلَيۡهِ kepadanya
- مِنۡ dari
- حَبۡلِ tali/urat
- ٱلۡوَرِيدِ urat leher
Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.
(Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia sedangkan Kami mengetahui) lafal Na'lamu ini berkedudukan menjadi Hal atau kata keterangan keadaan dan sebelumnya diperkirakan adanya lafal Nahnu (apa) huruf Maa di sini adalah Mashdariyah (yang dibisikkan) dibicarakan (oleh dia) yakni oleh manusia, huruf Ba di sini adalah Zaidah, atau untuk Ta'diyah (dalam hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya) maksudnya ilmu Kami (daripada urat lehernya) Idhafah di sini mengandung makna Bayan atau untuk menjelaskan, dan pengertian yang dimaksud dari lafal Al-Wariid adalah dua urat vital yang terdapat pada bagian belakang leher.
Tafsir Surat Qaf: 16-22
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya.
Itulah yang kamu selalu lari darinya. Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia satu malaikat penggiring dan satu malaikat penyaksi. Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan darimu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. Allah ﷻ menceritakan tentang kekuasaan-Nya atas manusia, bahwa Dialah yang menciptakannya, dan pengetahuan-Nya meliputi semua urusannya. Hingga Allah ﷻ mengetahui apa yang dibisikkan oleh hati manusia kebaikan dan keburukannya. Di dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya Allah ﷻ memaafkan terhadap umatku apa yang dibisikkan oleh hatinya selama dia tidak mengucapkannya atau mengerjakannya. Firman Allah ﷻ: dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Qaf: 16) Yakni malaikat-malaikat Allah ﷻ lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya. Dan menurut pendapat ulama yang menakwilkannya dengan pengertian ilmu Allah, sesungguhnya yang dimaksud hanyalah untuk menghapuskan pengertian dugaan adanya bertempat atau kemanunggalan, karena kedua sifat tersebut merupakan hal yang mustahil bagi Allah ﷻ menurut kesepakatan semua ulama, Mahasuci Allah dari keduanya.
Akan tetapi bila ditinjau dari segi teks, ayat tidak menunjukkan ke arah pengertian pengetahuan Allah, karena Allah ﷻ tidak mengatakan, "Aku lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." Dan yang Dia katakan hanyalah: dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Qaf: 16) Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ﷻ dalam ayat lain sehubungan dengan orang yang sedang meregang nyawanya: dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat. (Al-Waqi'ah: 85) Yaitu malaikat-malaikat-Nya. Dan sebagaimana pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr: 9) Para malaikatlah yang turun membawa wahyu Al-Qur'an dengan seizin Allah ﷻ Demikian pula para malaikatlah yang lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya berkat kekuasaan Allah ﷻ yang diberikan kepada mereka untuk hal tersebut. Maka malaikat itu mempunyai jalan masuk ke dalam manusia sebagaimana setan pun mempunyai jalan masuk ke dalam manusia melalui aliran darahnya, seperti yang telah diberitakan oleh Nabi ﷺ Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya: (yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya (Qaf: 17) Yakni dua malaikat yang ditugaskan oleh Allah ﷻ untuk mencatat amal perbuatan manusia.
yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. (Qaf: 17) Artinya, keduanya selalu mengawasi. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Qaf: 18) Yaitu tiada suatu kalimat pun yang dikatakannya, melainkan ada malaikat yang selalu mengawasinya dan mencatatnya; tiada suatu kalimat pun yang tertinggal, dan tiada suatu gerakan pun yang tidak tercatat olehnya.
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Infithar: 10-12) Para ulama berselisih pendapat mengenai masalah pekerjaan malaikat ini, apakah ia mencatat semua kalimat yang diucapkan. Al-Hasan dan Qatadah mengiakan. Atau yang dicatatnya hanyalah hal-hal yang ada kaitannya dengan pahala dan siksaan, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas; ada dua pendapat mengenai masalah ini. Tetapi makna lahiriah ayat berpihak kepada pendapat yang pertama, mengingat keumuman makna yang terkandung di dalam firman-Nya: Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Qaf: 18) . ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr ibnu Alqamah Al-Lais'i, dari ayahnya, dari kakeknya Alqamah, dari Bilal ibnul Haris Al-Muzani r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya seseorang benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang diridai oleh Allah ﷻ tanpa diduganya dapat menghantarkan kepada kedudukan yang diraihnya hingga Allah mencatatkan baginya keridaan dari-Nya untuk dia, berkat kalimat itu hingga hari ia menghadap kepada-Nya. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang membuat Allah ﷻ murka tanpa diduganya dapat menjerumuskan dirinya ke dalam kemurkaan-Nya, hingga Allah ﷻ mencatatkan kemurkaan-Nya terhadap dia disebabkan kalimat itu hingga hari ia menghadap kepada-Nya. Tersebutlah pula bahwa Alqamah pernah mengatakan berapa banyak kata-kata yang hendak diungkapkannya, tetapi ia tahan karena adanya hadis Bilal ibnul Haris tersebut. Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan hadis ini melalui Muhammad ibnu Amr dengan sanad yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih, dan mempunyai syahid dalam kitab sahih. Al-Ahnaf ibnu Qais mengatakan bahwa malaikat sebelah kanan tugasnya mencatat kebaikan, dan dia adalah kepercayaan malaikat yang sebelah kiri. Apabila hamba yang bersangkutan melakukan suatu dosa, malaikat yang di sebelah kanan berkata, "Tahan dulu," jika dia memohon ampun kepada Allah, maka malaikat sebelah kanan melarangnya mencatat.
Tetapi jika hamba yang bersangkutan tidak memohon ampun, maka malaikat sebelah kiri mencatatnya. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan ayat ini, yaitu firman-Nya: yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. (Qaf: 17) Lalu ia mengatakan, "Hai anak Adam, lembaran catatan telah dibuka untukmu dan telah ditugaskan kepadamu dua malaikat yang mulia; salah satunya berada di sebelah kananmu dan yang lain berada di sebelah kirimu.
Malaikat yang ada di sebelah kananmu bertugas mencatat semua amal baikmu, dan yang di sebelah kirimu bertugas mencatat dosa-dosamu. Maka beramallah menurut kehendakmu, sedikit atau banyak; apabila kamu telah mati, lembaran itu ditutup, lalu dibebankan di lehermu bersama sama denganmu di dalam kubur, hingga kamu keluar dari kubur dengan membawanya di hari kiamat nanti." Hal inilah yang dimaksud oleh firman-Nya: Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya.
Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka, "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu. (Al-Isra: 13-14) Kemudian Al-Hasan mengatakan, "Demi Allah, benar-benar adil, orang yang menyerahkan perhitungan kepada diri yang bersangkutan." Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan firman Allah ﷻ: Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Qaf: 18) Bahwa semua yang diucapkan oleh hamba Allah berupa kebaikan atau keburukan dicatat, hingga benar-benar dicatat ucapannya yang mengatakan, "Aku telah makan dan minum, aku telah pergi dan aku baru datang, dan aku telah melihat anu," dan lain sebagainya.
Apabila hari Kamis, maka ucapan dan amal perbuatannya itu ditampilkan di hadapannya, lalu ia mengakuinya, apakah itu yang baik ataupun yang buruk, sedangkan selain dari itu tidak dianggap. Yang demikian itulah yang dimaksud oleh firman-Nya: Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauh Manfuz). (Ar-Ra'd: 39) Telah diriwayatkan dari Imam Ahmad, bahwa ia merintih di saat sakitnya, lalu disampaikan kepadanya berita dari Tawus yang mengatakan bahwa malaikat pencatat amal perbuatan menulis segala sesuatu hingga rintihan.
Maka sejak saat itu Imam Ahmad tidak merintih lagi sampai ia meninggal dunia, rahimahullah. Firman Allah ﷻ: Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya. (Qaf: 19) Allah ﷻ berfirman, "Hai manusia, datanglah sakaratul maut dengan sebenarnya." Yakni Aku tampakkan kepadamu dengan meyakinkan apa yang selama ini kamu meragukannya. Itulah yang kamu selalu lari darinya. (Qaf: 19) Maksudnya, inilah kematian yang selama ini kamu lari darinya. Ia datang menjemputmu, maka tiada jalan lari dan tiada jalan selamat bagimu untuk menghindarinya.
Ulama tafsir berbeda pendapat mengenai lawan bicara yang dimaksud oleh ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya. (Qaf: 19) Menurut pendapat yang sahih, orang yang diajak bicara oleh ayat ini adalah manusia itu sendiri. Menurut pendapat yang lain, dia adalah orang kafir, dan pendapat yang lainnya mengatakan selain itu. Abu Bakar ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Ziad Sablan, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnu Abbad, dari Muhammad ibnu Amr ibnu Alqamah, dari ayahnya, dari kakeknya Alqamah ibnu Waqqas yang menceritakan bahwa Aisyah r.a. pernah mengatakan bahwa ia menjenguk ayahnya yang sedang menghadapi kematiannya, saat itu ia duduk di dekat kepala ayahnya.
Dan suatu ketika Abu Bakar pingsan, maka Aisyah r.a. mengucapkan suatu bait syair: Hai orang yang air matanya selalu ditahan-tahan, sesungguhnya sesekali pasti ia akan tercurahkan (tanpa bisa ditahan). Maka Abu Bakar r.a. sadar dari pingsannya dan mengangkat kepalanya seraya mengatakan, "Hai putriku, bukan demikian, melainkan ucapkanlah firman Allah ﷻ: Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.' (Qaf: 19). Telah menceritakan pula kepada kami Khalaf ibnu Hisyam, telah menceritakan kepada kami Abu Syihab Al-Khayyat, dari Ismail ibnu Abu Khalid, dari Al-Bahi yang mengatakan bahwa ketika Abu Bakar r.a. sakit keras, Aisyah r.a. datang menjenguknya, lalu mengutip bait syair berikut: Demi usiamu, tiadalah kekayaan dapat memberi manfaat kepada seseorang bila di suatu hari sakaratul maut datang menjemputnya dan membuat dadanya sesak.
Maka Abu Bakar r.a. membuka penutup wajahnya dan mengatakan, "Bukan demikian, tetapi ucapkanlah firman Allah ﷻ: Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.' (Qaf: 19). Asar ini telah diriwayatkan melalui berbagai jalur yang cukup banyak dalam sirah Abu Bakar As-Siddiq r.a. pada kisah menjelang kewafatannya. Di dalam hadis sahih dari Nabi ﷺ disebutkan bahwa ketika beliau ﷺ mengalami sakaratul maut, maka beliau mengusap keringat dari wajahnya, kemudian bersabda: ". Mahasuci Allah, sesungguhnya kematian itu benar-benar mempunyai sakarat. Firman Allah ﷻ: Itulah yang kamu selalu lari darinya. (Qaf: 19) Ada dua pendapat mengenai takwilnya. Pertama mengatakan bahwa huruf ma dalam ayat ini adalah mausulah, yang artinya ialah yang kamu selalu lari darinya dan menjauh darinya, kini telah datang menjemput dirimu. Pendapat yang kedua mengatakan bahwa huruf ma di sini adalah nafiyah, yakni inilah hal yang kamu tidak dapat melarikan diri darinya dan tidak dapat pula mengelak darinya.
Imam Tabrani mengatakan di dalam kitab Mujamui Kabir-nya, telah menceritakan kepada kami Mu'ammal ibnu Ali As-Sa'ig Al-Makki, telah menceritakan kepada kami Hafs, dari Ibnu Umar Al-Haddi, telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnu Muhammad Al-Huzali, dari Yunus ibnu Ubaid, dari Al-Hasan, dari Samurah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Perumpamaan orang yang lari dari kematian sama dengan musang yang dituntut oleh bumi untuk membayar utang, maka musang itu keluar berusaha; dan manakala telah lelah dan kecapaian, ia masuk ke dalam liangnya.
Lalu bumi berkata kepadanya, "hai musang, bayarlah piutangku!" Maka musang keluar dengan nafas yang terengah-engah, ia terus berusaha dalam keadaan demikian hingga urat lehernya terputus dan matilah ia. Adapun firman Allah ﷻ: Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. (Qaf: 20) Dalam pembahasan yang lalu telah diterangkan hadis mengenai tiupan sangkakala, kegemparan, kematian, dan berbangkit, yang semuanya itu terjadi pada hari kiamat.
Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: ". ". Bagaimana aku merasa senang, sedangkan pemegang sangkakala telah menempelkan sangkakalanya di mulutnya. Keningnya berkerut menunggu diperintahkan untuk meniupnya. Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang harus kami ucapkan?" Rasulullah ﷺ menjawab: Ucapkanlah oleh kalian, "Hasbunallahu wani'mal wakil" (Cukuplah Allah Penolong kami, Dia adalah sebaik-baik pelindung). Maka para sahabat pun mengucapkan, "Hasbunallahu wani'mal wakil. Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat, penggiring dan seorang malaikat penyaksi. (Qaf: 21) Yakni malaikat yang menggiringnya ke padang mahsyar dan malaikat yang menjadi saksi terhadap semua amal perbuatan yang telah dilakukannya.
Demikianlah makna lahiriah ayat dan dipilih oleh Ibnu Jarir. Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan melalui Ismail ibnu Abu Khalid, dari Yahya ibnu Rafi' maula Saqif yang mengatakan bahwa Usman ibnu Affan r.a. berkhotbah, lalu membaca ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat, penggiring dan seorang malaikat penyaksi. (Qaf: 21) Lalu Usman r.a. mengatakan bahwa malaikat penggiring yang menggiringnya menghadap kepada Allah dan malaikat penyaksi yang menyaksikan semua amal perbuatannya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, dan Ibnu Zaid. Mutarrif telah meriwayatkan dari Abu Ja'far maula Asyja',dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa yang menggiringnya adalah malaikat, sedangkan yang menjadi saksinya adalah amal perbuatannya.
Hal yang semisal telah dikatakan oleh Ad-Dahhak dan As-Saddi. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa yang menggiring adalah malaikat, sedangkan yang menjadi saksi adalah dirinya sendiri; ia bersaksi terhadap dirinya sendiri. Hal yang sama dikatakan oleh Ad-Dahhak ibnu Muzahim. Ibnu Jarir telah meriwayatkan tiga pendapat sehubungan dengan makna yang dimaksud oleh firman Allah ﷻ: Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan darimu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. (Qaf: 22) Siapakah lawan bicara yang dimaksud dalam ayat ini.
Salah satunya mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang kafir, ini menurut riwayat Ali ibnu Abu Talhah dari Ibnu Abbas r.a. Hal yang sama dikatakan oleh Ad- Dahhak ibnu Muzahim dan Saleh ibnu Kaisan. Pendapat yang kedua mengatakan bahwa lawan bicara yang dimaksud adalah semua orang, baik yang bertakwa maupun yang durhaka; karena sesungguhnya negeri akhirat itu bila dibandingkan dengan dunia sama dengan melek (bangun), sedangkan negeri dunia sama dengan tidur. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir, dia menukilnya dari Husain ibnu Abdullah ibnu Ubaidillah, dari Abdullah ibnu Abbas r.a. Pendapat yang ketiga menyebutkan bahwa lawan bicaranya adalah Nabi ﷺ Pendapat ini dikatakan oleh Zaid ibnu Aslam dan anaknya.
Makna ayat menurut pendapat keduanya adalah seperti berikut: Sesungguhnya sebelumnya kami dalam keadaan lalai dari Al-Qur'an ini, yaitu sebelum ia diturunkan kepadamu, lalu Kami bukakan darimu penutup yang menutupi dirimu dengan menurunkan Al-Qur'an kepadamu, maka sekarang penglihatanmu menjadi sangat tajam. Akan tetapi, makna lahiriah ayat yang tersimpulkan dari konteksnya berbeda dengan pengertian tersebut, bahkan lawan bicara yang dimaksud adalah manusia itu sendiri.
Makna yang dimaksud oleh firman-Nya: Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini. (Qaf: 22) Yakni dari hari ini alias hari kiamat. maka Kami singkapkan terhadapmu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari ini amat tajam. (Qaf: 22) Yaitu amat kuat karena tiap-tiap orang di hari kiamat mempunyai penglihatan yangtajam; sehingga orang-orang kafir ketika di dunia, maka di hari kiamat mereka berada pada jalan yang lurus, tetapi hal itu tidak dapat memberi manfaat sedikit pun bagi diri mereka (karena alam akhirat adalah bukan alam ujian, melainkan alam pembalasan).
Dalam ayat lain disebutkan oleh firman-Nya: Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami. (Maryam: 38) Dan firman Allah ﷻ: Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin. (As-Sajdah: 12)".
Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah mengetahui apa yang dibisikkan oleh manusia dan tidak ada sesuatu pun yang samar atau tersembunyi bagi-Nya. Dan sungguh, Kami, yakni Allah dengan kuasa-Nya bersama ibu bapak yang dijadikannya sebagai perantara telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, baik kebaikan maupun kejahatan, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. Yakni Allah Maha Mengetahui keadaan manusia walau yang paling tersembunyi sekali pun. 17. Ingatlah ketika dua malaikat mencatat perbuatan manusia, yang satu duduk di sebelah kanan, yaitu malaikat yang mencatat kebaikan dan yang lain di sebelah kiri, yaitu malaikat yang mencatat kejahatan.
Allah menjelaskan bahwa Dia telah menciptakan manusia dan berkuasa penuh untuk menghidupkannya kembali pada hari Kiamat dan Ia tahu pula apa yang dibisikkan oleh hatinya, baik kebaikan maupun kejahatan. Bisikan hati ini (dalam bahasa Arab) dinamakan hadisun nafsi. Bisikan hati tidak dimintai pertanggungjawaban kecuali jika dikatakan atau dilakukan. Allah ﷻ lebih dekat kepada manusia dari urat lehernya sendiri. Ibnu Mardawaih telah meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Sa'id bahwa Nabi ﷺ bersabda: Allah dekat kepada manusia (putra Adam) dalam empat keadaan; Ia lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya. Ia seolah-olah dinding antara manusia dengan hatinya. Ia memegang setiap binatang pada ubun-ubunnya, dan Ia bersama dengan manusia dimana saja ia berada. (Riwayat Ibnu Mardawaih)
(.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Dan sungguh telah Kami clptakan manusia dan Kami ketahui apa yang dibisik-desuskan oleh dininya sendini."
(pangkal ayat 16)
Ayat ini adalah memperkuat lagi ayat-ayat yang sebelumnya. Manusia pun Allah juga penciptanya. Lalu ditunjukkan pula keistimewaan manusia daripada makhluk yang lain, yaitu bahwa manusia itu ada mempunyai akal, pikiran, budi pekerti, perasaan, keinginan, cita-cita dan angan-angan. Maka segala yang terkenang di hati manusia, segala yang terpikir atau apa jua pun yang dia inginkan, yang baik atau yang buruk, Allah penciptanya telah mengetahui lebih dahulu.
Di dalam sebuah hadits yang shahih ada tercatat sabda Rasulullah ﷺ,
“Sesungguhnya Allah Ta'aala melampaui dari umatku, apa yang terasa dalam hatinya, selama tidak dikatakannya atau diamalkannya."
Misalnya seseorang berbisik-desus dalam hatinya menalak istrinya, tidaklah jatuh talak itu selama tidak dijatuhkannya dengan ucapan mulutnya. Kalau sudah terucap, jatuhlah talak itu. Maka tidaklah salah jika seorang memikirkan hendak menganiaya orang lain, selama penganiayaan itu tidak dilakukannya.
“Dan Kami adalah lebih dekat kepadanya daripada unat lehernya sendini."
(ujung ayat 16) Tegasnya, meskipun niat yang buruk itu tidak diucapkan dengan mulut dan tidak dikatakan kepada orang lain, namun Allah tahu juga, sebab Allah itu lebih dekat kepada kita dari urat leher kita. Allah ada dalam perasaan kita sendiri.
“Ketika dua orang bertemu, seorang dari sebelah kanan dan seorang dari sebelah kini, duduk."
(ayat 17)
Artinya ialah bahwa selain Allah yang berada di dekat kita, sedekat urat leher kita sendiri, ada pula di kanan dan di kiri kita yang sealu hadir dan menjaga dan memerhatikan gerak-gerik kita, bisik-desus kita, keluhan kita.
Sehingga tidak ada yang terlepas dari catatan dan pengetahuan pengawal itu. Yaitu malaikat. Dalam ayat selanjutnya disebut nama kedua malaikat pengawas dan pencatat itu.
“Tidaklah diucapkan suatu penkataan, melainkan selalu ada pengawas; Raqib yang hadir; ‘Atid.
(ayat 18)
Itulah yang terkenal di dalam kita menghafal ilmu sifat dua puluh, yaitu adanya malaikat Raqib dan ‘Atid; Raqib yang mencatat amalan yang baik dan ‘Atid yang mencatat amal yang jahat. Tidak ada yang lepas dari catatan mereka berdua. Yang baik dicatat Raqib, yang buruk dicatat ‘Atid. Niscaya berusahalah kita biarlah kiranya Raqib yang bekerja keras selalu mencatat kebajikan itu dan biarlah ‘Atid bekerja sedikit saja. Dan hadits-hadits Rasulullah pun ada menerangkan bahwa
“Seorang laki-laki mempercakapkan suatu percakapan yang diridhai oleh Allah Ta'aala yang dia sangka tidak akan sampai, niscaya akan dituliskan oleh Allah sampai kepada harinya bertemu dengan Dia. Dan seorang laki-laki lagi mempercakapkan percakapan yang bisa menimbulkan murka Allah yang disangkanya tidak akan apa-apa, tetaplah akan tertulis sebagaimana adanya sampai hari Kiamat." (HR Tirmidzi dan an-Nasa'i)
Al-Ahnaf bin Qais berkata, “Malaikat yang sebelah kanan menuliskan yang baik-baik dan dia pun dipercayai oleh yang sebelah kiri. Kalau seorang hamba Allah bermaksud hendak mengerjakan yang salah, malaikat sebelah kanan berkata, “Tunggu dahulu!" dan kalau dia meminta ampun kepada Allah dan tidak jadi mengerjakan pekerjaan yang salah itu. Tetapi kalau terus juga dia kerjakan yang salah itu, barulah dituliskannya."
Hasan al-Bishri berkata pula berkenaan dengan ayat ini, “Hai anak Adam, untuk engkau telah dihamparkan surat dan dua orang malaikat sudah disediakan untuk mengurusnya. Seorang sebelah kanan, seorang lagi sebelah kiri. Yang sebelah kanan menulis dan memelihara kebajikan yang engkau perbuat, adapun yang sebelah kiri kerjaannya ialah mencatat amalanmu yang buruk. Sebab itu bekerjalah dan beramallah dan terserahlah kepada engkau, mana yang akan banyak engkau kerjakan dan mana yang sedikit sampai engkau mati, namun surat yang terhampar itu akan tetap tergantung pada kuduk engkau di dalam kubur engkau." Ibnu Abu Thalhah menjelaskan pula, “Apa pun yang engkau bicarakan yang baik atau yang buruk, semuanya dituliskan yang baik atau yang buruk, sampai pun kata-kata engkau: aku makan, aku minum, aku pergi, aku datang, aku lihat dan lain-lain; semuanya tertulis. Maka sangatlah terharu kita mendengarkan berita orang besar-besar islam hahwasanya ulama terkenal Tahus mengatakan bahwa keluh dan rintihan kesakitan pun akan dituliskan juga oleh malaikat itu. Demi mendengar keterangan Tahus ini maka Imam Ahmad bin Hambal yang sedang sakit payah tidaklah pernah mengeluh merintih lagi sampai beliau meninggal."
“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenarnya."
(pangkal ayat 19)
Semua orang yang hidup pernahlah akan melalui saat sakratil maut, penderitaan ketika akan mati. Naza', yaitu embusan napas yang terakhir.
“Itulah yang kamu daripadanya selalu mengelakkan diri “
(ujung ayat 19)
Semuanya orang melihat apabila keluarganya akan mati. Semua orang menyaksikan orang lain meregang badan menderitakan ketika nyawa akan bercerai dengan badan. Melihat itu orang merasa ngeri, orang takut, orang mengelak atau lari. Tetapi ke mana pun orang lari dari mati, namun dia tidak juga insaf bahwa dia lari dari mati ialah untuk mati. Satu tanda yang tidak pernah berubah dalam alam gaib, yaitu Allah. Dan satu tanda pula yang tidak pernah berubah dalam kehidupan, yaitu maut! Padahal ke mana kamu akan lari! Di perhentianmu yang terakhir itu, di situlah maut menunggu.
‘Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenarnya; itulah yang kamu daripadanya selalu mengelakkan diri."‘ (Qaaf: 19)
Rasulullah ﷺ sendiri pun setelah dekat masanya mengembuskan napas yang penghabisan mengakui juga terus terang, “Amat sucilah Allah, sesungguhnya maut itu mempunyai sakaraat."
“Dan ditiuptah sangkakala."
(pangkal ayat 20)
Yaitu setelah mati segala makhluk yang ada di muka bumi ini, tidak ada lagi yang hidup sehingga di seluruh dunia ini tidakterdapatlagi kehidupan, barulah seluruh makhluk itu kelak akan dibangunkan oleh Allah daripada tidur mautnya yang sangat nyenyak entah berapa ribu tahun, entah berapa juta tahun. Apabila seminal sangkakala itu telah berbunyi, artinya ialah bahwa segala makhluk yang telah mati itu dihidupkan kembali. Itulah suatu wahyu sami'iyaat, yaitu yang kita dengar dan kita percayai, tidak dapat kita mendustakannya karena firman ini datang dari Allah sendiri dan tidak dapat pula kita menolaknya karena akal kita bisa menerimanya. Setiap hari kita dapat melihat perbandingan pergantian hidup; seekor anjing mati terhampar di tepi jalan. Berapa waktu kemudian terbau busuk yang bersangatan karena bangkai anjing itu. Nanti setelah kita datang ketemu yang berbau busuk itu kita dapati bangkai anjing yang telah mati, namun di atas bangkai yang telah mati itu kita mendapati ulat-ulat yang banyak sekali dan semuanya hidup. Maka tahulah kita bahwasanya daripada bangkai yang telah mati dapat timbul berbagai ragam hidup. Kita tidak mengatakannya mustahil karena dia selalu kita lihat. Sekarang kita pun dapat mempercayai bahwasanya bangkai yang telah mati itu pun dapat hidup kembali bila Yang Mahakuasa mengatur sesuatu menghendakinya. Cuma oleh karena hal ini belum pernah kejadian dan belum pernah kita lihat, kita sukar memikirkannya. Padahal yang telah biasa kita lihat itu pun, seumpama bangkai anjing yang mati, di atas bangkai itu timbul beratus-ratus ulat yang hidup, kita percaya karena kita selalu melihatnya. Padahal takjub dan keheranan atas kejadian itu tidak juga akan kurang daripada memikirkan barang yang belum pernah kita lihat itu.
“Itulah hari ancaman."
(ujung ayat 20)
Yaitu bahwasanya panggilan agar bangun kembali dengan serunai sangkakala itu artinya ialah panggilan untuk memberikan tanggung jawab atas perbuatan dan amal kita pada masa hidup kita yang telah lalu. Apabila terompet serunai itu telah berbunyi, yang teringat ialah akibatnya. Guna apa manusia dihidupkan kembali kalau bukan untuk bertanggung jawab? Apakah kehidupan di dunia yang sekarang ini akan langsung begitu saja, sehingga orang dapat bersuka hati berbuat yang baik atau berbuat yang jahat? Apakah ada keadilan kalau sekiranya hidup habis begitu saja, dengan tidak ada lagi sambungan? Mana keadilan dalam dunia ini? Meskipun orang setiap hari menyebut keadilan?
“Dan datanglah tiap-tiap diri."
(pangkal ayat 21)
Artinya ialah bahwa setelah terompet atau serunai sangkakala itu berbunyi, orang semua pun pada datang. Karena semua telah mendengar akan bunyi itu. Bunyi yang telah dijanjikan sejak semula di waktu mereka masih hidup di dunia. Mereka bangun dan siap berkumpul ke tempat yang telah ditentukan, itulah yang biasa disebutkan bernama Padang Mahsyar.
“Bensamanya seorang (malaikat) penyeret dan penyaksi."
(ujung ayat 21)
Sama sekali manusia itu bangun karena panggilan serunai sangkakala itu dan semuanya pergi bersiap ke tempat berkumpul. Mereka selalu dikawal oleh dua orang malaikat. Seorang malaikat yang sedia mengawal sehingga tidak ada jalan sama sekali buat mengelakkan diri, bahkan sia-sialah barangsiapa yang terlintas dalam pikirannya hendak mengelakkan diri dan panggilan. Sebab setiap langkahnya diperhatikan oleh malaikat pengawal itu. Dan seorang lagi ialah malaikat penyaksi. Yaitu yang akan tegak menjadi saksi kelak apabila perkaranya dibuka.
“Sesungguhnya engkau adalah dalam kelalaian dari ini (semua)."
(pangkal ayat 22)
Artinya bahwasanya selama kamu hidup di dalam dunia yang sangat singkat itu, hal seperti ini tidak menjadi perhatian kamu. Nasihat kebenaran tidak kamu acuhkan. Peringatan jalan kepada kebenaran tidak kamu acuhkan.
“Maka Kami bukakanlah bagi kamu apa yang menutup kamu itu; maka penglihatanmu hati ini jadilah sangat tajam."
(ujung ayat 22)
Artinya, kalau selama hal ini tidak diacuhkan, tidak dipedulikan maka ketika telah menghadapi pernyataan itu di akhirat kelak, penglihatan menjadi tajam, jelas tampak adzab siksaan itu berlaku, sampai kepada yang sekecil-kecilnya. Selama hidup di atas dunia banyak sekali hal-ihwal duniawi yang menyelubungi mata, sehingga kebenaran tidak terbuka dengan nyata. Misalnya seorang yang berjabatan tinggi, baik dia presiden, sultan atau perdana menteri. Sebelum jabatan tertinggi itu dijabatnya, beliau dikenal orang seseorang yang baik, yang jujur, yang dekat dengan rakyat. Tetapi setelah jabatan tinggi itu dipangkunya, kian lama dia kian jauh dari orang banyak. Dia tidak leluasa lagi melakukan kebaikan yang dicita-citakannya. Karena dia mempunyai bithaaah, yaitu orang-orang kiri kanan tempat dia bermusyawarah. Orang-orang kiri kanan inilah yang kerap kali menjadi dinding antara dia dengan orang banyak, sehingga kebaikannya terkubur atau terhambat oleh pertimbangan-pertimbangan orang yang berdiri di kiri kanan itu. Kadang-kadang maksudnya yang baik terhalang. Kepadanya jarang disampaikan keadaan yang sebenarnya. Dia hanya mendengar laporan oleh beliau-beliau di kiri kanan itu. Laporan yang baik-baik saja, yang manis-manis saja. Maka setelah terjadi perubahan politik yang besar misalnya rakyat tidak puas lagi melihat kemunafikan telah sangat merajalela, komunikasi timbal balik antara rakyat terperintah dengan kepala negara yang memerintah terdinding sedemikian rupa, timbullah kemelut besar pada akhirnya. Maka beliau yang diangkat tinggi tadi jatuh dari pangkatnya. Waktu itulah dia baru tahu kembali keadaan yang sebenarnya, matanya jadi sangat tajam melihat. Tetapi, apalah daya kekuasaan tidak ada lagi.
Maka demikianlah keadaan apabila manusia yang bersalah dan tidak insaf akan kesalahannya menerima adzab dan siksanya, dimasukkan ke dalam neraka. Di sanalah baru matanya terbuka dan penglihatannya jadi ta-jam. Namun meskipun penglihatan sudah sangat tajam, dia hanya dapat digunakan untuk menyesal, bukan untuk memperbaiki keadaan.
“Danyang menyertai dia itu beikata."
(pangkal ayat 23)
Yang menyertai dia ialah dua malaikat yang telah disebutkan pada ayat 21 tadi, pengawal dan penyaksi. Maka setelah orang bersalah yang malang itu menerima ketentuan hukumnya dan matanya melihat nasib buruk yang akan dia terima dengan pasti, malaikat itu berkata,
“Inilah persediaan yang ada padaku."
(ujung ayat 23)
Artinya bahwa adzab ini memang telah sedia sejak dahulu bahkan sejak kamu masih hidup di zaman lampau di atas dunia fana, telah diperingatkan jua kepadamu tentang adzab ini. Sejak waktu itu juga telah diterangkan kepadamu bahwa adzab siksaan pedih ini bisa dielakkan kalau kamu beramal yang baik. Sekarang tidak ada gunanya sesal dan keluhan lagi. Sebab
“Allah telah berfirman, ‘Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam Jakannam tiap-tiap orang yang tidak mau percaya dan keias kepala.'"
(ayat 24)
Yang diseru Allah dengan “kamu berdua" itu ialah malaikat pengawal dan penyaksi tadi. Karena keduanya pun telah menyaksikan sendiri ketika mereka diperiksa, memang sudah sewajarnyalah jika mereka dilemparkan ke dalamnya. Karena sejak dari masa hidupnya dahulu sudah jelas keras kepala orang ini, tidak ada pengajaran yang masuk ke dalam hati mereka. Mereka tolak mentah-mentah segala seruan kebenaran. Sebab itu pantaslah jika mereka dipersilakan ke neraka.
Di sini dapatlah dipahamkan bahwasanya makhluk pun mempunyai usaha sendiri. Kalau tidak ada kebebasan sendiri memilih mana usaha yang akan dikerjakan, entah baik entah buruk, niscaya tidaklah akan ada tuntunan dan tidaklah akan diutus rasul-rasul dan tidaklah akan dimasukkan ke dalam neraka orang yang bersalah dan dimasukkan ke dalam surga orang yang berbuat kebajikan.
Selanjutnya Allah menjelaskan pula tanda-tanda dari orang yang keras kepala dan tidak mau menerima kebenaran itu. Firman Allah,
“Yang menghalangi segala kebajikan."
(pangkal ayat 25)
Bukan saja kebenaran itu ditolaknya, bahkan dihalang-halanginya jangan sampai didengar orang. Dia mempunyai rencana yang lengkap untuk menghalangi bagaimana su
paya kebenaran itu jangan sampai terdengar. Kala mereka memegang kekuasaan, mereka akan berusaha menyusun undang-undang membatasi penyebaran agama. Agama hanya boleh diterangkan mana yang akan memberikan keuntungan bagi penguasa. Tetapi jangan sampai menyebut kebenaran yang pahit! Dia telah menanamkan terlebih dahulu hati sendiri rasa kebencian terhadap kebajikan yang akan dibawa oleh Islam. Di beberapa negeri dibolehkan orang membaca Al-Qur'an, dilagukan, dinyanyikan dan diperlombakan siapa yang lebih indah bacaannya. Tetapi hanya hingga itu saja. Segala usaha dan rencana dipergunakan untuk menghalangi jangan sampai Al-Qur'an dikaji dan jangan sampai ada yang bercita-cita hendak menjalankan ajaran Al-Qur'an itu dalam negerinya. Bukan saja begitu, bahkan disebutkan selanjutnya.
“Memusuhi dan bersikap ragu-ragu."
(ujung ayat 25)
Rasa permusuhan yang dengan sendirinya menimbulkan kebencian terdapat di mana-mana saja terhadap kepada perkembangan ajaran Islam, terutama daripada pihak pe-meluk-pemeluk agama lain. Sehingga walaupun penjajahan agama lain atas negeri-negeri orang Islam itu telah habis, namun rasa permusuhan itu masih saja diteruskan, bahkan lebih hebat dan dahsyat daripada dahulu. Sehingga di negeri Indonesia sendiri, walaupun penduduk yang memeluk agama Islam lebih besar jumlahnya, bahkan mencapai 90% dari seluruh penduduk, namun sifat memusuhi itu masih dirasakan oleh umat Islam sendiri. Dalam sikap menghadapi kaum Muslimin yang besar jumlahnya itu, boleh dikatakan seluruh yang memusuhinya itu walaupun tidak pula satu, namun terhadap Islam mereka bersatu.
“Apabila di dalam menghadapi Islam mereka itu bersatu."
Maka jasa-jasa yang diberikan oleh kaum Muslimin untuk mencapai kemerdekaan bangsa seakan-akan diusahakan buat melupakannya. Gerak dan gerik dari kaum Muslimin selalu mendapat intipan dan kecemburuan. Kalaupun misalnya karena baik budi kaum Muslimin rasa permusuhan itu sudah berkurang, namun kesan yang lain segera pula timbul, yaitu ragu-ragu atau kurang yakin akan kejujuran umat Muslimin. Padahal kalau bahaya besar datang menimpa, dengan tidak merasa malu-malu mereka mengharapkan kesekian lagi pengorbanan dan jihad dari kaum Muslimin.
“Yang menjadikan beserta Allah tuhan yang …"
(pangkal ayat 26)
Maka selain dari sikap menghalangi dan menghambat segala usaha kebajikan, menghambat karena ada rasa cemburu, ditambah lagi dengan rasa permusuhan yang mendalam, atau rasa ragu-ragu akan kejujuran cita kaum yang beriman, dalam keadaan kebimbangan jiwa yang demikian itu, dengan tidak disadari mereka tidak percaya lagi kepada kekuasaan yang mutlak dari Allah, bahkan mereka telah mulai mempersekutukan Allah dengan yang lain. Banyak di antara mereka yang mengaku percaya kepada Allah Yang Maha Esa, tetapi Allah Yang Maha Esa itu telah mereka persekutukan dengan yang lain, sehingga Esa hanya tinggal dalam sebutan mulut dan dalam hakikatnya mereka telah menyembah banyak Allah. Mereka menyembah kepada orang yang berpangkat karena pangkatnya. Mereka menjilat mengambil muka dan menggadaikan pendirian sendiri karena mengharapkan pujian dari sesamanya manusia lalu lupa akan tanggung jawabnya dengan Allah. Rasa takut kepada Allah berganti dengan rasa takut akan kemarahan sesama manusia. Lalu orangnya kehilangan pendirian sendiri, hilang kebebasan, bertukar dengan penjajahan. Bukan penjajahan musuh dari luar, dari Belanda ataupun jepang, melainkan musuh dari penjajahan hawa dan nafsu, dunia dan setan.
Orang-orang yang seperti demikian itu bukanlah orang bodoh. Pengetahuannya cukup
luas, tetapi tidak mempunyai pribadi lagi. Mereka takut akan terganggu hidupnya karena lupa bahwa hidup yang bernilai bukanlah karena panjangnya.
“Sehari hidup singa di rimba, seribu tahun umurnya domba."
Tidaklah berarti umur panjang kalau kehidupan itu dipenuhi oleh sikap pengecut, hidup yang hanya memikirkan sesuap pagi dan sesuap petang. Hidup yang hanya memikirkan kenaikan gaji dan bintang penghias dada, padahal pendirian tidak ada. Hidup orang yang pengecut, sebagai hidupnya kambing samalah dengan seribu tahun lamanya, padahal bagi singa hanya hidup sehari!
Orang yang seperti ini tidaklah ada imannya kepada hidup yang lebih panjang sesudah dia meninggal kelak. Orang yang bercita-cita luhur, orang-orang yang membina misinya tatkala hidupnya, walaupun usianya tidak panjang, namun sesudah matinya dia akan hidup kembali, lebih panjang umurnya daripada usia yang dilaluinya.
“Maka tempatkanlah akan dia oleh kamu berdua ke datum adzab yang sangat sakit."
(ujung ayat 26)
Karena itulah yang setimpal dan itulah hukuman yang adil yang harus diterimanya. Karena di samping Allah Ta'aala bersifat kasih dan sayang, sebagai Allah Yang Mahakuasa, Dia pun mempunyai siksaan yang kejam dan ngeri kepada barangsiapa yang tidak mau memedulikan perintah-Nya.
“Berkatalah yang menyertainya itu."
(pangkal ayat 27)
Yang menyertainya itu ialah setan yang selalu memperdayakannya. Berlepas dirilah setan itu di hadapan Allah dengan katanya,
“Ya Tuhan kami! Tidaklah pernah aku menyesalkannya tetapi adalah dia yang ada dalam kesesalan yang jauh."
(ujung ayat 27)
Dalam ayat ini dijelaskanlah bahwasanya di waktu itu kelak setan sendiri pun berlepas diri, bahwasanya yang menyebabkan orang ini tersesat, bukanlah dia, si setan, melainkan orang itu sendirilah yang telah ingin hendak sesat dengan kehendak dirinya sendiri. Mungkin pada langkah yang pertama setan merayunya supaya menempuh jalan yang sesat. Namun setelah jalan sesat itu ditempuh, terasalah enaknya bagi diri dan tidaklah sanggup lagi membebaskan diri itu daripada pengaruhnya. Itu sebabnya maka setan hanya termasuk empat perkara yang selalu memperdayakan dan mendorong manusia jadi sesat; bukan satu-satunya. Ada disebutkan bahwa manusia tersesat karena hawa, nafsu, dunia, dan setan. Yang pertama sekali ialah hawa dan yang kedua ialah nafsu. Setan jadi penggerak pertama dari hawa dan nafsu tadi. Setelah tergerak, walaupun setan tadi misalnya, membujuk supaya dia kembali kepada jalan yang benar, dia tidak akan mau lagi. Dia berani menanggung segala risikonya. Di waktu yang demikian dikehendaki kekuatan hati, namun hati telah lemah. Seumpama seorang pemuda yang nafsu bersetubuhnya sudah sangat memuncak dan zakarnya telah tegak, maka sangat beratlah baginya buat menahan gejolak nafsu tadi, sebelum dia bersetubuh dengan perempuan yang dia rindukan itu. Nafsunya sudah sangat menaik tidak dapat ditahan lagi. Mungkin setelah nafsunya terlepas dan maninya keluar, sehingga alat kelaminnya tidak hidup lagi, dia merasa menyesal, namun penyesalan itu sudah percuma.
“Allah benfvwian, ‘Janganlah kamu bentengkat di hadapan-Ku dan sesungguhnya telah Aku berikan kepadamu ancaman.
(ayat 28)
Artinya ialah bahwa di waktu perhitungan itu telah datang, pertimbangan berat ringannya dosa dan pahala, kejahatan dan kebaikan yang kamu lakukan selama di dunia dahulu itu telah selesai, sesal menyesali tidak perlu lagi. Sebab hukuman yang diberikan oleh Allah Ta'aala
itu tidaklah akan dilakukan dengan zalim dan aniaya. Sebab itu dengan tegas Allah berfirman lagi,
“Tidaklah akan dapat diganti-ganti kata keputusan-Ku."
(pangkal ayat 29)
Sebab semua pertimbangan telah dilakukan dengan sangat saksama,
“Dan sekali-kali tidaklah Aku beriaku zalim kepada hamba-hamba-Ku."
(ujung ayat 29)
Mustahil Allah akan melakukan aniaya kepada hamba-hamba-Nya. Sebab bagi Allah seluruh hamba itu adalah dicintai dan dikasihi, tidak berbeda di antara satu sama lain dan mana yang bersalah akan dihukum, dengan tidak berpilih kasih. Lantaran itulah maka nabi-nabi sendiri, sejak daripada Nabi Adam sampai kepada Nabi Muhammad ﷺ selalu juga berdoa memohonkan ampun kepada Allah kalau merasa dirinya ada bersalah. Dan mereka memenuhi hidup mereka dengan ibadah kepada Allah karena mengharapkan karunia-Nya.
Reminding the Quraysh of the Destruction of earlier Disbelieving Nations
Allah the Exalted warns,
كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَأَصْحَابُ الرَّسِّ
Denied before them the people of Nuh, and the Dwellers of Rass,
Allah the Exalted warns the disbelievers of Quraysh and reminds them of the punishment and painful torment that He sent in this life on their likes, who disbelieved before them. For instance, Allah the Exalted punished the people of Nuh by drowning them in the encompassing flood that touched all the people of earth. There is also the end that struck the people of Ar-Rass, and we mentioned their story before in Surah Al-Furqan,
وَثَمُودُ
وَعَادٌ وَفِرْعَوْنُ وَإِخْوَانُ لُوطٍ
and Thamud, and `Ad, and Fir`awn, and the brethren of Lut,
the people of Sadum (Sodom) and the surrounding areas, to whom Lut was sent. Allah the Exalted shook the earth beneath them and turned their area into a reeking lake, as stinking as the disbelief, tyranny and defiance of the Truth that they had
وَأَصْحَابُ الاْأَيْكَةِ
And the Dwellers of Al-Aykah,
they are the nation of Shu`ayb, peace be upon him,
وَقَوْمُ تُبَّعٍ
and the people of Tubba`,
King of Yemen; we explained his story in the Tafsir of Surah Ad-Dukhan, and therefore, we do not need to repeat it here. All praise is due to Allah.
كُلٌّ كَذَّبَ الرُّسُلَ
Everyone of them denied (their) Messengers,
means, all of these nations and their generations belied their respective Messenger, and whoever denies even one Messenger, is as if he has denied all Messengers.
Allah the Exalted and Most Honored said,
كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ
The people of Nuh denied the Messengers. (26:105)
even though only one Messenger was sent to them, and indeed, if all the Messengers were sent to them, they would have disbelieved in them as well.
Allah said,
فَحَقَّ وَعِيدِ
so My threat took effect.
meaning, the promise of torment and punishment that Allah delivered to them on account of their denial took effect. Therefore, all those who fear suffering the same end should be warned, especially since the latter have denied their Messenger, just as the former denied their Messenger.
Repeating the Creation is Easier than originating It
Allah the Exalted said
أَفَعَيِينَا بِالْخَلْقِ الاَْوَّلِ
Were We then tired with the first creation?
meaning, `did starting the creation bring fatigue to Us, so as to cause doubt in them that repeating the creation was not possible?'
بَلْ هُمْ فِي لَبْسٍ مِّنْ خَلْقٍ جَدِيدٍ
Nay, they are in confused doubt about a new creation.
meaning, `starting the creation did not tire Us, and repeating it is even easier.'
Allah the Exalted and Most Honored said,
وَهُوَ الَّذِى يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ
And He it is Who originates the creation, then He will repeat it; and this is easier for Him. (30:27),
and,
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلً وَنَسِىَ خَلْقَهُ قَالَ مَن يُحىِ الْعِظَـمَ وَهِىَ رَمِيمٌ
قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِى أَنشَأَهَأ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلّ خَلْقٍ عَلِيمٌ
And he puts forth for Us a parable, and forgets his own creation. He says:Who will give life to these bones after they are rotten and have become dust
Say:He will give life to them Who created them for the first time! And He is the All-Knower of every creation! (36:78-79)
We mentioned earlier a Hadith collected in the Sahih,
يَقُولُ اللهُ تَعَالَى يُوْذِينِي ابْنُ ادَمَ يَقُولُ لَنْ يُعِيدَنِي كَمَا بَدَأَنِي وَلَيْسَ أَوَّلُ الْخَلْقِ بِأَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْ إِعَادَتِه
Allah the Exalted said,
Son of `Adam insults Me when he says, `He will not resurrect me as He created me before!'
But surely, originating creation is not easier for Me than reproducing it again.
Allah encompasses and watches all of Man's Activity
Allah the Exalted says,
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الاِْنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ
And indeed We have created man, and We know what his self whispers to him.
Allah the Exalted affirms His absolute dominance over mankind, being their Creator and the Knower of everything about them. Allah the Exalted has complete knowledge of all thoughts that cross the mind of man, be they good or evil.
In the Sahih, the Messenger of Allah said,
إِنَّ اللهَ تَعَالَى تَجَاوَزَ لاُِمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَمْ تَقُلْ أَوْ تَعْمَل
Verily, Allah the Exalted has forgiven my Ummah (Muslims) for what they talk (think) to themselves about, as long as they do not utter or implement it.
The statement of Allah the Exalted,
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
And We are nearer to him than his jugular vein.
means, His angels are nearer to man than his jugular vein.
Those who explained `We' in the Ayah to mean `Our knowledge,' have done so to avoid falling into the idea of incarnation or indwelling; but these two creeds are false according to the consensus of Muslims. Allah is praised and glorified, He is far hallowed beyond what they ascribe to Him. The words of this Ayah do not need this explanation (that `We' refers to `Allah's knowledge'), for Allah did not say, `and I am closer to him than his jugular vein.' Rather, He said,
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
(And We are nearer to him than his jugular vein). just as He said in the case of dying persons,
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَكِن لاَّ تُبْصِرُونَ
(But We are nearer to him than you, but you see not). (56:85), in reference to His angels (who take the souls).
Allah the Exalted the Blessed said,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَـفِظُونَ
Verily, We, it is We Who have sent down the Dhikr and surely, We will guard it. (15:9) Therefore, the angels brought down the revelation, the Qur'an, by the leave of Allah, the Exalted, the Most Honored. Thus, the angels are closer to man than his own jugular vein, by the power and leave of Allah. Consequently, the angel touches mankind, just as the devil touches them, for the devil is as close to them as the blood that runs in their veins; just as Allah's Prophet, who is truthful and was told the truth, told us.
Allah's statement here
إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ
(Remember) that the two receivers receive,
in reference to the two angels who receive and record the deeds of mankind.
عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ
one sitting on the right and one on the left.
means ready to note
مَا يَلْفِظُ
whatever he utters,
(in reference to the human),
مِن قَوْلٍ
of a word,
means any word that he or she speaks,
إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
but there is a watcher by him ready.
means, but there is a scribe whose job is to record it, leaving no word or movement unrecorded.
Allah the Exalted said,
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَـفِظِينَ
كِرَاماً كَـتِبِينَ
يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
But verily, over you (are appointed angels) to watch you, Kiraman (honorable) Katibin writing down (your deeds), they know all that you do. (82:10-12)
Therefore, the scribe records every word that is spoken, according to the explanation of Al-Hasan and Qatadah.
This is also the apparent meaning of this Ayah.
Imam Ahmad recorded that Bilal bin Al-Harith Al-Muzani said,
The Messenger of Allah said,
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ تَعَالَى مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ يَكْتُبُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ
وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ تَعَالَى مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ يَكْتُبُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ بِهَا سَخَطَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاه
Verily, a man might utter a word that pleases Allah the Exalted, unaware of how highly it will be regarded, and on its account Allah the Exalted and Most Honored decrees His pleasure of him until the Day he meets Him.
A man might indeed utter a word that angers Allah the Exalted, unaware of how dreadful it will be and on its account Allah the Exalted decrees for him His anger until the Day he meets Him.
Alqamah used to say,
How many words did I not utter because of the Hadith that Bilal bin Al-Harith narrated.
At-Tirmidhi, An-Nasa'i and Ibn Majah collected this Hadith. At-Tirmidhi said, Hasan Sahih.
There is a Hadith similar to this in the Sahih.
And verily We created man and We know (wa-na'lamu is a circumstantial qualifier with an implicit [preceding] nahnu) what (maa relates to the verbal action) his soul whispers to him, [what] it speaks [to him] (the bi- [of bihi, 'him'] is extra, or it is [required] for the intransitive verb to become transitive [and take a direct object]; the [suffixed] personal pronoun [in bihi, 'him'] refers to man); and We are nearer to him, in knowing [him], than his jugular vein (habli'l-wareedi: the genitive annexation is explicative; al-wareedaan are two [principal] veins on either side of the neck).
Linkage
The preceding verses purported to quell the doubt of those who denied the possibility of Resurrection and who thought that raising the dead was inconceivable. As a result, the unbelievers drew a false analogy between their finite knowledge and power and the infinite knowledge and power of Allah. Therefore, the perplexity arose in their mind: 'after we die, disintegrate, with our organs torn apart, our bodies reduced to particles of dust and scattered or spread all over the world, how is it possible to gather them together and recompose them back into our original shape and bodies?
The preceding verses responded that the Divine knowledge is all-encompassing and He knows every single particle of the universe, and therefore it is not difficult for Him to recollect these particles. The same subject has been further elaborated in the present verses by declaring that Allah not only has the complete knowledge of man's scattered particles, but He also has the full knowledge of all thoughts that cross the mind of man. The verse explains the reason for that: Allah is nearer to him than his jugular vein, on which is dependent his very life. Therefore, He knows man's conditions and circumstances more than man himself.
Allah is Nearer to Man than his Jugular Vein: An Analysis
The concluding part of verse [ 16] says: نَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (We are closer to him than [ his ] jugular vein). The 'closeness' in the verse, by consensus of scholars, refers to "nearness in terms of all-encompassing knowledge" not in terms of physical closeness. In this manner, the verse means that Allah's power and knowledge has so encompassed man from within and without that His power and knowledge is nearer to him than his own jugular vein.
The term warid [ pl. awridah ] in the Arabic language are animal veins which supply blood to the entire body. Medically, there are two types of veins: [ 1] the veins that emerge from the liver and supply pure blood to the entire human body. Medically, only these veins are referred to as warid [ awridah ]; and [ 2] the veins that emerge from animal heart and supply the subtle vapor of blood to the entire human body which in medical terminology is referred to as ruh [ soul ]. These veins are called in Arabic shiryan [ which actually refers to an artery ]. The first type of veins is thick-walled and the second type is thin-walled.
The word warid in the above verse does not necessarily apply to the vein that comes from the liver in the medical sense. In fact it could well apply, in the literal sense, to the vein that comes from the heart because in that too a type of blood circulates. As the purport of this verse is to show that Allah possesses full knowledge of all thoughts that cross the mind of man, the literal sense of the term seems more appropriate. Nevertheless, whether the word warid is taken medically in the sense of a vein coming from the liver or in the sense of an artery coming from the heart is immaterial. In both cases the living creatures' life depends on it.
If the veins or arteries are cut, they lose their soul and die. In short, Allah encompasses complete and full knowledge about everything of man, because He is closer to him than his neck-vein.
According to the Honourable Sufis, here the term qurb (closeness) goes beyond the concept of nearness in terms of knowledge. It is a special type of ittisal [ contact or bond or relationship between Allah and His creation, including man who is placed at the centre of the wonderful universe ], the reality and nature of which is not known to anyone, but it does necessarily exist bila kaif "without how" or indescribably. Various Qur'anic verses and authentic Prophetic Traditions bear ample testimony to this fact. For example, the Qur'an commands: وَاسْجُدْ وَاقْتَرِب ۩ ﴿19﴾ (and bow down in sajdah, and come closer....A1-Alaq: 18) This is just like what the Holy Prophet ﷺ is reported to have said: "The closest that a servant can be to his Lord is when he is in prostration. Therefore, make abundant supplications (i.e. while prostrating)." Another Tradition reports that the Holy Prophet ﷺ said: "When My servant performs supererogatory prayers, he attains proximity to Me." On the occasion of migration to Madinah, the Holy Prophet ﷺ said to Sayyidna Abu Bakr ؓ إِنَّ اللَّـهَ مَعَنَا "Allah is with us. (9:40) " Holy Prophet Musa (علیہ السلام) said to the children of Israel: "إِنَّ مَعِيَ رَبِّي "My Lord is with me." (26:62)
This qurb [ nearness or proximity to Allah ], which man attains through nearness of obligatory and supererogatory works and through his efforts, is reserved exclusively for a believer. Such believers are called awliya'ullah [ the friends of Allah: they are those whom Allah has chosen as His friends ]. This special bond with Allah is different from the general relationship between Allah and man, whether believer or non-believer. In brief, the above verses and narrations bear testimony to the fact that man has a special type of proximity to his Creator and Master though its reality and nature cannot be perceived. Maulana Rumi (رح) has versified this concept thus:
اتصالے بےمثال و بےقیاس ہست ربّ النَّاس را با جانِ ناس
The Lord of the people has a special contact with the people which is beyond one's perception and has no other example.
This nearness and proximity cannot be perceived by the ordinary sensation of physical sight, but it is attained through farasah of 'iman [ perspicacity through faith ]. Tafsir Mazhari interprets qurb and ittisal in this verse in the same sense. We have learnt earlier the interpretation of the majority of the commentators that it is not physical proximity, but rather the all-encompassing, full and complete knowledge of Allah. Apart from these two interpretations, Ibn-Kathir interprets it in a third way. He says that the pronoun "We" does not refer to the "Being" of Allah, but to His angels who are all the time with man. They know man's soul so closely that man himself is not so well aware of it. Allah knows best!