ٱلْمَائِدَة ٧١
- وَحَسِبُوٓاْ dan mereka mengira
- أَلَّا bahwa tidak akan
- تَكُونَ terjadi
- فِتۡنَةٞ bencana
- فَعَمُواْ maka mereka menjadi buta
- وَصَمُّواْ dan mereka menjadi tuli
- ثُمَّ kemudian
- تَابَ menerima taubat
- ٱللَّهُ Allah
- عَلَيۡهِمۡ atas mereka
- ثُمَّ kemudian
- عَمُواْ mereka menjadi buta
- وَصَمُّواْ dan mereka menjadi tuli
- كَثِيرٞ kebanyakan
- مِّنۡهُمۡۚ diantara mereka
- وَٱللَّهُ dan Allah
- بَصِيرُۢ Maha Melihat
- بِمَا dengan/terhadap apa
- يَعۡمَلُونَ mereka kerjakan
Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi bencana apa pun (terhadap mereka dengan membunuh Nabi-nabi itu), karena itu mereka menjadi buta dan tuli, kemudian Allah menerima tobat mereka, lalu banyak di antara mereka buta dan tuli. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.
(Dan mereka mengira) mereka menduga (bahwa tidak akan terjadi) dengan dibaca rafa` maka an menjadi mukhaffafah/tidak beramal dan dibaca nashab maka an dapat menashabkan/beramal; artinya tidak bakalan terjadi (fitnah) siksaan yang menimpa diri mereka sebagai balasan dari perbuatan mendustakan para rasul dan berani membunuh mereka (sebagai akibatnya mereka menjadi buta) dari perkara yang hak hingga mereka tidak bisa melihatnya (dan mereka menjadi tuli) tidak bisa mendengar perkara yang hak (kemudian Allah menerima tobat mereka) tatkala mereka mau bertobat (kemudian mereka kembali menjadi buta dan tuli) untuk kedua kalinya (demikianlah kebanyakan dari kalangan mereka) lafal katsiirun sebagai dhamir/kata ganti (dan Allah Maha Melihat terhadap apa yang mereka kerjakan) untuk itu Ia membalas mereka sesuai dengan apa-apa yang telah mereka kerjakan.
Tafsir Surat Al-Ma'idah: 70-71
Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.
Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencana pun (terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan tuli, kemudian Allah menerima tobat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.
Ayat 70
Allah ﷻ menyebutkan bahwa Dia telah mengambil perjanjian dan ikatan atas kaum Bani Israil, bahwa mereka harus tunduk dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi mereka melanggar perjanjian dan ikatan tersebut, lalu mereka mengikuti pendapat dan hawa nafsunya sendiri. Mereka memprioritaskannya di atas semua syariat, maka hal-hal yang bersesuaian dengan keinginan mereka dari syariat itu mereka terima; sedangkan hal-hal yang bertentangan dengan kemauan hawa nafsu dan pendapat mereka, mereka tolak.
Karena itulah Allah ﷻ berfirman: “Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian lagi mereka bunuh.” (Al-Maidah: 70)
Ayat 71
“Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencana pun (terhadap mereka).” (Al-Maidah: 71)
Yaitu mereka mengira tidak akan ada suatu bencana pun yang menimpa mereka karena perbuatan mereka itu. Dan ternyata perbuatan mereka itu membawa akibat bencana, yaitu mereka menjadi buta, tidak dapat mengenal kebenaran; dan tuli, tidak dapat mendengar kebenaran serta tidak mendapat petunjuk untuk mengetahui kebenaran. Hanya saja Allah memberikan ampunan kepada mereka atas perbuatan mereka itu.
“Kemudian kebanyakan dari mereka menjadi buta dan tuli.” (Al-Maidah: 71)
Yakni sesudah itu.
“Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (Al-Maidah: 71)
Allah selalu melihat mereka dan mengetahui siapa yang berhak mendapat hidayah dan siapa yang berhak disesatkan dari kalangan mereka.
Allah akan selalu memperingatkan manusia yang melakukan kesalahan, tetapi kaum Yahudi mengabaikan hal ini, dan mereka mengira bahwa dengan status yang dianugerahi kelebihan, maka tidak akan terjadi bencana apa pun terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu. Oleh karena itu, anggapan tersebut telah menyebabkan mereka menjadi buta terhadap kebaikan-kebaikan yang dicontohkan para rasul dan tuli terhadap nasihat-nasihat agama yang disampaikan. Kemudian Allah Yang Maha Pengampun menerima tobat mereka ketika mereka bertobat dan memohon ampunan-Nya. Akan tetapi, ternyata kemudian kebanyakan dari mereka tetap dalam keadaan buta terhadap amal saleh yang diajarkan dan tuli karena tidak mau mendengarkan ajaran agama yang disampaikan, dan sesungguhnya Allah Maha Melihat terhadap apa saja yang mereka kerjakan. Bila pada ayat-ayat yang lalu diterangkan tentang penyimpanganpenyimpangan yang dilakukan orang Yahudi, maka pada ayat-ayat berikut dijelaskan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh umat Nasrani. Paparan tentang penyimpangan ini diawali dengan pernyataan bahwa sesungguhnya telah kafir dan menyimpang dari akidah yang benar orang-orang yang berkata, Sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putra Maryam. Padahal Isa Al-Masih sendiri berkata kepada mereka, Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah yang merupakan Tuhanku dan juga sebagai Tuhanmu. Mereka mestilah mengetahui pula bahwa sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah dengan sesuatu, maka pasti Allah akan mengharamkan surga baginya yang merupakan balasan bagi yang taat dan tidak menyimpang dari tuntunan-Nya, dan tempat yang disediakan bagi-nya ialah neraka, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu yang akan membantunya, baik ketika di dunia, maupun kelak di akhirat.
Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang Yahudi itu tidak menduga bahwa Allah akan memberikan cobaan yang maha berat disebabkan perbuatan mereka yang sangat keji dan kekejaman yang melampaui batas, karena mereka menganggap bahwa mereka adalah anak Allah dan kekasih-Nya karenanya mereka menganggap bebas dari azab Allah. Mereka seolah-olah buta akan kenyataan-kenyataan yang menunjukkan siksaan-siksaan Allah terhadap umat yang membuat kerusakan dan kezaliman. Mereka seolah-olah tuli akan ajaran-ajaran dan petunjuk-petunjuk yang penuh mengandung ancaman-ancaman Allah; yaitu siksa terhadap orang-orang yang membatalkan janji-janji yang telah diikrarkan karena mengikuti selera untuk berbuat kezaliman.
Menurut sejarah ketika bangsa Babilonia berada di bawah kekuasaan Nebukadnezar sekitar tahun 586 sebelum Masehi menaklukan bangsa Yahudi mereka menghancurkan Kuil Sulaiman di Baitulmakdis, merampas harta benda dan memperkosa wanita. Setelah orang-orang Yahudi kembali ke ajaran Taurat dan bertobat kepada Allah, barulah Allah memberikan pertolongan kepada mereka untuk melepaskan diri dari kekejaman bangsa Babilonia. Tetapi setelah penglihatan mereka buta terhadap peringatan, dan telinga mereka tuli terhadap petunjuk-petunjuk Allah, mereka kembali berbuat kezaliman membunuh rasul-rasul, maka datanglah lagi cobaan Allah yaitu mereka secara silih berganti dikuasai oleh kerajaan Romawi. Memang yang berbuat kejahatan tidaklah semua orang Yahudi dengan adanya kenyataan segolongan kecil dari mereka yang berbuat baik, tetapi sudah menjadi sunnatullah bahwa cobaan Tuhan itu menimpa secara merata kepada seluruh umat akibat perbuatan golongan yang zalim. Allah sudah memperingatkan dalam firman-Nya:
"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu." (al-Anfal/8:25).
Selanjutnya akhir ayat ini menerangkan bahwa Allah Maha Melihat tindakan atau kelakuan orang Yahudi terhadap Nabi Muhammad baik tipu daya maupun berupa pengerahan segenap kabilah-kabilah untuk bersatu menyerang Nabi Muhammad, karena dorongan nafsu jahat mereka yang telah membuat mereka buta, ketika dikemukakan bukti-bukti kebenaran oleh Nabi Muhammad selaku Nabi penutup semua nabi.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Sesungguhnya telah Kami ambil penjanjian Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul."
(pangkal ayat 70)
Di sini diulangi Allah kembali memperingatkan bahwasanya kepada Bani Israil telah diambil perjanjian, terutama tatkala Nabi Musa masih hfdup, bahwa mereka akan teguh memegang segala pelajaran yang diberikan oleh Musa, sebagaimana yang telah diuraikan pada ayat 15 di atas, dan ayat-ayat yang di surah-surah al-Baqarah, Aali ‘Imraan, dan an-Nisaa'. Mereka telah menerima perjanjian itu. Lantaran itu diutus Allah-lah rasul-rasul sesudah Musa, buat menyempurnakan janji-janji itu. Tetapi apa jadinya? “Tiap-tiap datang kepada mereka seorang rasul dengan apa yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka." Mereka tantang dan mereka bantah. Mereka tidak mau percaya, malahan, “Sebagian mereka mendustakan." Ada yang mereka tolak sama sekali dan ada yang mereka pilih-pilih mana yang sesuai dengan hawa nafsu mereka saja.
“Dan sebagian mereka membunuh."
(ujung ayat 70)
Kalau yang sebagian membantah dan mendustakan kepada rasul-rasul itu, maka yang sebagian lagi berbuat yang lebih ngeri, yaitu mereka bunuh rasul-rasul itu. Maka merekalah yang bertanggung jawab atas kematian rasul-rasul sebagaimana Yasseiya, Zakariya, dan putranya Yahya. Malahan ada lagi nabi-nabi yang lain yang mereka bunuh.
“Dan mereka kira tidak akan ada percobaan."
(pangkal ayat 71)
Dengan berbuat demikian, oleh karena hawa nafsu jahat yang mereka perturutkan, tidaklah masuk dalam perkiraan betapa besar cobaan fitnah atau bahaya yang akan menimpa lantaran itu. Padahal kalau tangan sudah lan-cang membunuh utusan-utusan Allah, pastilah mereka akan kehilangan pimpinan jiwa. Dan kalau pimpinan jiwa sudah hilang, kekacauan pasti terjadi dan akan pecah-belahlah mereka, laksana kambing-kambing kehilangan gem-bala. Siapa yang berani itulah yang di atas. Di saat sudah demikian, mudahlah bangsa yang lebih kuat menaklukkan negeri mereka; mereka pun dibunuh, sisanya ditawan dan dijadikan budak, negeri mereka dihancurkan dan yang lain ditindas. Selain dari itu, maka keberkatan pun dicabut Allah dari negeri mereka, tanah-tanah menjadi gersang sebab tidak ada yang mengerjakan lagi. “Kemudian memberi tobatlah Allah atas mereka."
Sesudah mereka membunuh Yasy'iya dan beberapa nabi lain, sesudah mereka mendustakan risalah yang mereka bawa, mereka membutakan mata dan menulikan telinga, maka di saat itu datanglah bangsa Babil menghan-curkan mereka, sampai mereka jadi tawanan di negeri Babil tujuh puluh tahun lamanya. Waktu itulah datang penyesalan mereka dan memohon ampun kepada Allah sehingga diberi ampun. Lalu bangsa Babil itu dikalahkan oleh bangsa Persia, mereka pun dibolehkan oleh Raja Persia pulang ke Palestina dan membangun kembali negeri mereka, untuk mendirikan kembali Haikal pusaka Nabi Sulaiman.
“Kemudian membuta dan memekakkan telinga kebanyakan dari mereka." Pukulan pertama yang telah menimpa nenek moyang mereka, setelah mereka kembali ke Palestina, rupanya bagi sebagian besar anak cucu tidak lagi dikenangkan, malahan mereka telah membutakan mata lagi dari memandang buruk dan baik, dan memekakkan telinga dari mendengar seruan rasul-rasul. Ketika itu, Allah mengutus Nabi Hezekiel buat memimpin mereka, tetapi tidak mereka pedulikan pula. Lantaran itu berturut-turutlah siksaan Allah datang. Setelah ditindas oleh orang Babilon, mereka ditindas pula oleh orang Persia. Dan di samping penindasan bangsa Persia, mereka pun pernah dijajah oleh Fir'aun-Fir'aun dari Mesir kembali. Kemudian setelah Raja Macedonia menjarah menjelajah ke negeri-negeri Timur, masuk pulalah Baginda ke Jerusalem dan mereka pun menjadi jajahan bangsa Romawi. Maka di waktu Jerusalem dijajah bangsa Romawi yang masih menyembah berhala itulah, Nabi Isa al-Masih diutus Allah, dan kemudian sekali, setelah bangsa Romawi menerima agama Kristen sebagai agama kerajaan, tidaklah mereka lepaskan penjajahan mereka atas negeri itu. Kaisar-kaisar Romawi itulah pula yang banyak mengusir Yahudi dari sana, sampai ada yang berserak ke Tanah Arab dan berdiam di Madinah.
“Dan Allah adalah melihat apa yang mereka kerjakan"
(ujung ayat 71)
Ujung ayat ini memperingatkan bahwasanya apa yang mereka kerjakan seterusnya, sesudah kejadian-kejadian yang dahulu itu tetaplah dalam penglihatan Allah. Terutama apa pula yang mereka kerjakan, apa pula sikap mereka kepada Nabi akhir zaman Muhammad ﷺ Allah mengetahui bagaimana sikap-sikap mereka terhadap beliau, bagaimana mereka mendustakan, bahwa pernah juga bermaksud hendak membunuh beliau, pernah mereka bersekutu dengan orang musyrik memerangi beliau, padahal sejak beliau datang ke Madinah setelah diperbuat beberapa perjanjian akan hidup rukun dan damai, dan agama mereka tidak akan dihalang-halangi. Bahkan dalam perjanjian itu pun ada tersebut, bahwa kalau Madinah diserang musuh, mereka akan turut mempertahankannya.
Demikianlah pembicaraan tentang Ahlul Kitab Yahudi. Sekarang bagaimana pula dengan orang Nasrani?
Meskipun di Madinah sendiri tidak ada tinggal orang Nasrani, namun perhubungan dengan mereka sudah ramai, terutama karena mereka banyak berdiam di sebelah selatan tanah Arab, yaitu di Najran, dan ada pula Nas-rani Arab di bawah jajahan Romawi yang beragama Nasrani juga di sebelah Utara. Maka datanglah firman Allah tentang kepercayaan mereka,
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih anak Maryam."
(pangkal ayat 72)
Diperingatkan kembali kepercayaan mereka yang pada ayat 17 di atas sudah dinyatakan salahnya. Sekarang diulang kembali peringatan kesalahan itu, untuk dibandingkan dengan perbuatan al-Masih sendiri. Pernahkah agaknya al-Masih mengatakan bahwa dirinya adalah Allah, atau Allah adalah dirinya sendiri? Tidak! Sedang orang Nasrani sendiri pun kalau ditanyai dari hati ke hati, apakah kepercayaan saudara yang seperti itu dari ajaran al-Masih sendiri? Niscaya mereka hanya akan memberikan jawab yang sulit berbelit-belit, karena memang tidak ada, “Padahal telah berkata al-Masih itu, ‘Wahai Bani Israill Sembahlah olehmu akan Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu!" Itulah pokok ajaran al-Masih yang sebenarnya, tidakada beliau mengajarkan bahwa beliau sendirilah yang Allah dan Allah itu ialah beliau sendiri. Ajaran asli al-Masih adalah semata-mata tauhid. Dan menurut beliau ajaran tauhid itulah hidup yang kekal, hidup yang sebenarnya hidup. Keluar dari tauhid berarti mati. “Inilah hidup yang kekal, yaitu supaya mereka itu mengenal Engkau, Allah Yang Esa dan Benar, dan Yesus Kristus yang telah engkau suruhkan itu." (Yahya: 17; 3) Tidaklah pernah al-Masih mengajarkan bahwa dia itu adalah Allah, dan Allah adalah dia, atau berserikat dirinya dengan Allah.
Kepercayaan bahwa Allah itu adalah Isa al-Masih sendiri timbul sebagai akibat dari kepercayaan yang telah disusun, bahwasanya Nabi Adam berdosa sebab memakan buah yang terlarang. Lantaran itu, Allah jadi binggung akan dihukumkah Adam lantaran dosanya itu, atau tidak dihukum. Allah binggung sebab dia mempunyai dua sifat yang berlawan. Pertama kasih; sebab dia kasih, maka dia tidak sampai hati akan menghukum Adam. Tetapi dia bersifat adil pula; yaitu siapa yang bersalah wajib menerima hukumannya. Beribu tahun Allah itu binggung sampai pada satu waktu (setelah beribu tahun), dia mendapat “jalan keluar" dari kebingungannya. Yaitu dia sendiri datang ke dunia menjadi Anak Allah, yaitu Yesus Kristus. Sebab itu, Yesus itu adalah Allah sendiri! (Dia Bapa, dia anak, dan dia Ruhul Qudus)
Kemudian setelah sampai waktunya, Allah itu pun dinaikkan ke atas tiang salib, lalu mati tiga hari lamanya. Kemudian dia bangkit dari kubur lalu naik ke langit; sekarang duduk di sebelah kanan “Bapaknya" di Surga!
Tadi dikatakan bahwa Yesus itu sendirilah yang Allah. Sebab itu maka Allah pernah mati tiga hari, artinya pernah alam luas ini ke-matian Allah sampai tiga hari! Tetapi Allah tadi naik pula ke langit setelah mati tiga hari, sesampai di langit dia duduk di sebelah kanan “bapaknya"
Tentu timbul pertanyaan, “Mengapa dia duduk ke sebelah kanannya, kalau Dia itu sendiri adalah Dia juga?"
Barangsiapa yang berani bertanya, maka dipandanglah dia telah sesat. Pendeknya, tidak boleh ditanyakan!
Dan sekarang dengan kekuatan uang berjuta-juta dollar, dengan membagi-bagi beras dan kain-baju kepada orang miskin, dan menipu tanah kepunyaan penduduk, mereka mendirikan gereja-gereja yang telah tertarik tidak akan boleh lagi bertanya, “Terima saja!" Orang dipaksa buat percaya hal yang tidak masuk di akalnya!
“Sesungguhnya barangsiapa ya n g mempersekutukan dengan Allah, maka sesungguhnya diharamkan Allah-lah atasnya surga." Inilah isi ajaran al-Masih. Inilah isi ajaran beliau, diulang kembali oleh Al-Qur'an, sesuai dengan apa yang ketinggalan satu, yang masih belum sempat diputar-putar kepada arti yang lain. Hidup yang kekal ialah surga. Allah Yang Esa, ialah yang tidak bersekutu yang lain dengan Dia. Dan al-Masih adalah semata-mata yang disuruh oleh Allah; dalam bahasa Indonesia yang lebih halus; telah diutus Allah untuk menjadi Rasul-Nya. Mempersekutukan yang lain dengan Allah, termasuk mempersekutukan Yesus (al-Masih) sendiri dengan Allah, adalah suatu perbuatan zalim. Asal kata zalim adalah dari zulrn, berarti jalan gelap. Zalim kepada diri sendiri dan zalim kepada al-Masih sendiri, karena membuat-buatkan apa yang tidak pernah dikatakannya, sebagaimana kelak akan dibicarakan juga di dalam surah al-Maa'idah ini (ayat 116), ketika beliau akan ditanyai Allah pernahkah beliau menyuruh menyembah diri-Nya?
“Dan tidaklah ada bagi orang-orang yang zalim itu, dari seorang pun penolong."
(ujung ayat 72)
Orang yang mempersekutukan Allah adalah zalim, dan bagi yang zalim tidaklah ada tempat dalam surga. Mempersekutukan yang lain dengan Allah, seumpama batu, berhala, kayu, beringin, keris, atau malaikat, ataupun seorang nabi. Yang lain itu dipersekutukan karena percaya bahwa yang lain itu bisa pula memberi mudharat dan manfaat, dan menyangka bahwa yang lain itu dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Jika datang kelak hari Kiamat, maka yang lain itu satu pun, atau seorang pun tidak akan ada yang dapat menolong mereka. Tidak di waktu di dunia ini dan sekali-kaii tidak pula di akhirat.
Hal ini menjadi peringatan bagi semua golongan. Kepada golongan Nasrani yang selain dari menuhankan al-Masih, mengambil juga orang-orang yang telah diputuskan oieh gereja sebagai Orang Suci dan mereka pun dimuliakan sebagaimana memuliakan Allah, meminta berkah dan syafaat kepada mereka. Bahkan peringatan juga kepada orang Islam sendiri di zaman kemunduran i'tikad mereka yang telah menganggap orang yang mereka sebut Wali atau Keramat, sebagai tempat memohon pula di samping Allah. Semuanya itu tidak ada yang akan dapat menolong mereka di hari Kiamat.
“Dan sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah itu yang ketiga dari yang tiga.'"
(pangkal ayat 73)
Mengatakan bahwa Allah itu adalah tiga. Yaitu Allah Bapa, Allah Putra, dan Ruhul Qudus, adalah memecahkan kesatuan Allah. Tegasnya, tidak percaya lagi bahwa Allah itu Esa adanya. Telah tiga kali dikatakan kesalahan kepercayaan itu. Di dalam surah an-Nisaa' ayat 170, disalahkan pula mengatakan Allah itu ialah al-Masih anak Maryam. Di sini disalahkan lagi kepercayaan bahwa Allah itu adalah yang ketiga dari yang tiga. Dan ketiga inilah yang dijadikan tiang kepercayaan oleh orang Nasrani setelah al-Masih sendiri wafat. Padahal di dalam catatan yang mereka sebutkan Injil itu masih terdapat kalimat-kalimat al-Masih sendiri yang menyatakan bahwa Allah itu satu, dan dia sendiri bukanlah Allah. Kepercayaan Trinitas ini tidak ada diajarkan al-Masih. Baru timbul kemudian, setelah dia meninggalkan dunia. Dan setelah dipelajari perbandingan agama di dunia, nyata bahwa kepercayaan Trimurti atau Trinitas ini adalah kepercayaan kemasukan dari luar. Kemasukan dari ajaran agama Brahma yang juga berdasarkan Trimurti. Menurut ajaran Brahma, Tuhan itu adalah tiga, yaitu, Brahma, Wisnu dan Syiwa. Brahma pencipta, Wisnu pemelihara, dan Syiwa penghancur. Brahma adalah Bapa, Wisnu adalah Putra, dan Syiwa adalah pengatur seluruh alam, sampai kepada menghancurkan atau mengkiamatkan.
Kalau dikaji-kaji secara mendalam, tampaknya Rasul Allah yang pertama datang membawa ajaran agama Brahma itu, mengajarkan bahwa Allah Yang Maha Esa itu mempunyai tiga sifat, yaitu sifat mencipta, memelihara, dan kelak mengkiamatkan. Tetapi lama-kelamaan penganut agama itu telah menukar sifat menjadi pembagian tiga oknum dan tiga zat. Lalu dirumuskan pula bahwa Allah itu memang satu, tetapi tiga dalam yang satu, dan tiap-tiap yang satu itu ialah hakikat dan yang tiga. Dan Trimurti ini dikumpulkan dalam ucapan “AUM1'.
Dalam agama Budha ada pula kepercayaan bahwa Budha itu adalah satu Tuhan dalam tiga oknum. Dan dalam agama Tao (agama Tiongkok) terdapat juga suatu ajaran bahwa Tao itu adalah tiga tingkat. Mulanya ialah Akal Pertama yang dahulu, tidak ada permulaan. Dari akal pertama itu, timbullah Akal Kedua; dari yang kedua timbul pula Akal Ketiga. Dan Akal Ketiga inilah timbul dan keluar segala sesuatu.
Trimurti ini pun terdapat dalam kepercayaan Mesir Kuno. Raja Mesir yang bernama Tulishu bertanya kepada kepala Kahin (pendeta) yang bernama Tabisyuki, “Adakah sebelumnya yang lebih besar daripadanya?" Kahin itu menjawab, “Ada! Yang dahulu ialah Ruhul Qudus!" Maka perkataan Kalimah atau Kalam yang dimaksud oleh orang Kristen ialah al-Masih, rupanya telah terdapat lebih dahulu dalam kepercayaan Mesir Kuno. (Lihatlah Injil Yahya atau Yohannes Pasal 1 ayat 1)
Menurut penyelidikan-penyelidikan perbandingan-perbandingan agama-agama itu, kepercayaan ini telah ada juga pada bangsa Kaldan, bangsa Asyur, dan bangsa Kristen, menurut penyelidikan ahli-ahli menganut juga paham Trimurti itu, demikian juga bangsa Romasu. Maka tidaklah heran jika Kaisar Konstantin Romawi mengakui dengan resmi agama Nasrani menjadi agama kerajaan, karena dasar kepercayaan Trimurti telah ada memang pada bangsa Romawi.
Segala keterangan ini dapat dilihat di dalam kitab-kitab perbandingan agama-agama, hasil penyelidikan orang Barat sendiri, seperti yang ditulis oleh Huegin dalam bukunya Artglosaxon.
Atau Maurits dalam bukunya Bekas-Bekas Hindu Kuno jilid VI, dan yang lain-lain yang disalinkan juga keterangan-keterangan mereka oleh Sayyid Rasyid Ridha, di dalam tafsir beliau, Tafsir al-Manar.
Maka pokok ajaran al-Masih, sebagaimana tadi telah terdapat sisanya dalam Injil Yahya 17:13, tersebut lagi dalam Injil Markus, yaitu jawaban al-Masih ketika seorang ahli Taurat bertanya, “Hukum manakah yang pertama sekali?" Beliau telah menjawab, “Dengarlah olehmu, hai Israil, adapun Allah Tuhan kita, ialah Tuhan Yang Esa." (Markus 12-29)
Setelah mendapat jawab itu, puaslah yang bertanya, lalu kata ahli Taurat itu pula kepadanya, “Ya Guru* amat benarlah segala kata guru, bahwa Allah itu Esa adanya, dan tiada yang lain melainkan Allah," (Markus 12:32) Inilah keterangan al-Masih sendiri, sesuai dengan Taurat, sesuai dengan Al-Qur'an. “Dan tiada yang lain melainkan Allah." (Laa ilaha illallah) “Padahal tidaklah ada Allah, melainkan Allah yang Esa." Inilah pokok persatuan ketiga pemeluk agama yang pertama dinamai orang Yahudi, yang kedua Nasrani, dan yang ketiga tetap memakai nama lama yaitu menyerahkan diri (Islam) kepada Yang Maha Esa itu. Alangkah baiknya jika kita semuanya sama-sama kembali ke sana,"Dan jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu." Mengatakan Allah itu bertiga, atau yang ketiga dari yang tiga ataupun yang pertama dari yang bertiga,
“Niscayatah akan mengenai kepada mereka –mereka yang kafir itu, adzab yang pedih."
(ujung ayat 73)
Sesuai dengan sabda al-Masih yang masih tetap tinggal, yang tidak berubah karena perubahan perkembangan kepercayaan mereka sesudah beliau tak ada lagi, sebagaimana yang tertulis pada Injil Yahya 17:3 atau Injil Markus 12:29 sampai 32 tadi. Bukan Al-Qur'an yang menuduh mereka kafir dan tidak akan masuk surga atas kehendak Nabi Muhammad ﷺ saja, melainkan firman Allah yang dapat disesuaikan dengan ucapan asli al-Masih sendiri. Bahwa memungkiri keesaan Allah adalah satu kepercayaan yang akan menjauhkan manusia daripada hidup yang kekal.
“Maka apakah tidak jugalah mereka akan bentobat kepada Allah, dan memohon ampun kepada-Nya. Padahal Allah adalah Pengampun lagi Penyayang."
(ayat 74)
Artinya, bilakah masanya lagi mereka akan kembali kepada jalan yang benar, kepercayaan yang waras, yang benar-benar ajaran asli al-Masih mengakui Allah Yang Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan? Tidak satu dalam tiga dan tiga dalam satu. Tidak dia bapa dan dia juga tidak putra, atau si bapa menjelma jadi putra untuk menebus dosa, sedang si putra itu, dia sendirilah yang Allah.
Ayat ini adalah seruan hati ke hati kepada pemeluk Nasrani di zaman Rasul, sebagai sambungan penegasan dari ayat 66 dan ayat 68 di atas, yaitu supaya mereka kembali menegakkan Taurat dan Injil yang sebenar-benarnya, jangan mengikuti tambahan yang telah ditambahkan di belakang, atau pengaruh agama-agama kuno dari orang Hindu, Yunani, Romawi, dan Iran purbakala itu. Kalau mereka kembali kepada ajaran nabi-nabi yang asli, segeralah Allah akan memberi ampun, dan Allah itu kasih kepadanya. Hamba-Nya yang telah kembali ke jalan yang benar akan disambutnya dengan baik. “Anak yang hilang telah kembali" menurut ungkapan orang Kristen. Dan menurut hadits Qudsi,
“Sesungguhnya rahmatrKu. mengalahkan murka-Ku."
Tetapi oleh karena kepercayaan ini sudah turun-temurun, niscaya berat juga melepaskannya, meskipun tidak masuk akal, meskipun memang telah bertemu dalam kitab-kitab yang mereka pegang sendiri bahwa Allah itu Esa adanya, dan yang percaya kepada keesaan Allah-lah hanya yang berhak mendapat hidup yang kekal. Tentu masih ada pertanyaan, “Kalau al-Masih yang begitu mengherankan, yang lahir ke dunia di luar kebiasaan manusia, yang dapat menyembuhkan orang sakit balak, menyalangkan orang buta, menghidupkan orang mati, dikatakan bukan Allah atau anak Allah, siapakah dia sebenarnya?"
Maka datanglah ayat selanjutnya,
“Tidaklah al-Masih anak Maryam itu, melainkan seorang Rasul, yang telah terdahulu daripadanya rasul-rasul."
(pangkal ayat 75)
Memang al-Masih bukanlah sembarang manusia. Dia adalah Rasul Allah, Utusan Allah, yang disuruh oleh Allah menyampaikan ajaran Allah kepada Bani Israil, beliau telah diberi mukizat; sehingga dengan izin Allah jua, beliau dapat menghidupkan orang yang baru mati, menyembuhkan orang sakit balak, menyalangkan mata orang buta, mengusir tujuh setan dari tubuh Maryam Magdalena, dan lain-lain. Semuanya itu berlaku bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi dengan izin Allah belaka. Tidak bisa terjadi kalau Allah tidak mengizinkan. Dan dahulu daripadanya pun telah diutus pula rasul-rasul. Mereka pun diberi beberapa mukjizat yang ajaib-ajaib juga dengan izin Allah. Ibrahim tidak hangus dibakar orang dengan api nyala. Musa dapat membelah taut dengan tongkat, dapat menjadikan air Sungai Nil jadi darah, dapat memukul bukit batu dengan tongkat sehingga memancarkan 12 mata air. Dan di dalam Zabur Nabi Dariel tersebut pejuang-pejuang, nabi-nabi yang dibakar oleh penguasa Babil, namun mereka tidak pula hangus. Semua mereka itu, termasuk al-Masih, bukanlah Allah, tetapi utusan-utusan Allah yang telah dipilih dan disokong dengan mukjizat. Maka kita hormatilah sekalian rasul Allah itu dengan jalan memegang teguh ajaran mereka, bukan dengan memandang mereka sebagai Allah. Ibunya Dara Suci Maryam; bagaimana? “Dan ibunya adalah seorang perempuan yang sangat patuh." Kepatuhan Maryam dan ketaatannya kepada Allah, jaranglah tolok bandingannya di dunia ini, saleh sejak dari kecilnya, jadi niat nazar dari ibunya sejak dia masih dikandung, akan dijadikan pemelihara Rumah Allah, diasuh dididik oleh seorang Nabi yang mulia, yaitu Zakariya.
Dipuji di dalam Al-Qur'an dalam surah Aali ‘Imraan, bahkan menjadi nama surah; dipuji dalam surah Maryam, dan dipuji dalam surah at-Tahriim ayat 12), seorang perempuan suci. Amat hinalah orang yang menuding perempuan suci itu berbuatzina. Tetapi dia pun bukan Allah, melainkan seorang perempuan yang paling patuh kepada Allah. Dia adalah manusia, sebagai juga anaknya al-Masih itu pun manusia, “Adalah mereka keduanya makan makanan." Karena mereka keduanya manusia, tentu mereka makan dan minum, tidur dan bangun, bergerak dan berdiam sebagaimana manusia, dan juga masuk jamban.
Kalau mereka keduanya Tuhan, tentu mereka keduanya tidak pernah lapar, sebab lapar adalah sifat kekurangan, “Lihatlah betapa Kami menerangkan kepada mereka akan tanda-tanda." Tanda-tanda atau bukti-bukti yang masuk akal, yang tidak dapat ditolak oleh pikiran yang berpikir waras.
“Kemudian pandanglah bagaimana mereka dipalingkan"
(ujung ayat 75)
Artinya, cobalah pikirkan, sudah seterang itu duduknya perkara, dan begitu yang waras menurut akal, dan tidak bertemu bukti bahwa al-Masih sendiri mengakui dirinya Ruhan, namun mereka masih saja berpaling apabila sudah sampai kepada kesimpulan itu. Cobalah perhatikan bagaimana mereka pada mulanya berjalan menurut akal, seumpama di dalam susunan Ilmu Mantiq, telah diadu mukadimah pertama (premis I) dengan mukadimah kedua (premis II), namun setelah hampir sampai kepada natijah (konklusi) mereka berpaling dan tidak mau melanjutkan sampai ke sana.
Dan lagi tidak pernah, baik Isa al-Masih sendiri maupun ibunya, mengatakan bahwa mereka adalah Allah atau Tuhan. Tidak pernah berjumpa dalam catatan Injil-Injil yang diakui sah itu sendiri (Matius, Markus, Lukas, dan Yohannes atau Yahya) Keputusan menuhankan mereka terjadi lama setelah mereka wafat,
karena keputusan musyawarah, dan dihukum serta ditindas barangsiapa yang tidak tunduk kepada keputusan itu.
Akhir-akhir ini berjumpalah gulungan-gulungan dokumen Laut Mati yang usianya telah seumur dengan agama Nasrani sendiri. Di sana tidak pula terdapat agak satu kalimat pun yang menguatkan bahwa al-Masih mengakui dirinya Tuhan, melainkan diakui oleh murid-muridnya bahwa dia hanyalah semata-mata Guru Kebaikan. Meskipun demikian, dunia Kristen tetap bertahan pada kepercayaan yang telah diputuskan itu, sehingga ada usaha untuk mendiamkan naskah-naskah Laut Mati itu. Mungkin kelak akan keluar keputusan gereja (consili) melarang menyelidiki naskah-naskah tersebut.
"The Jews Say That Allah's Hand is Tied up!
Allah says;
وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللّهِ مَغْلُولَةٌ
The Jews say:”Allah's Hand is tied up.”
Allah states that the Jews, may Allah's continuous curses descend on them until the Day of Resurrection, describe Him as a miser. Allah is far holier than what they attribute to Him.
The Jews also claim that Allah is poor, while they are rich.
Ali bin Abi Talhah reported that Ibn Abbas commented on Allah's statement,
وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللّهِ مَغْلُولَةٌ
(The Jews say, “Allah's Hand is tied up”).
“They do not mean that Allah's Hand is literally tied up. Rather, they mean that He is a miser and does not spend from what He has. Allah is far holier than what they attribute to Him.” Similar was reported from Mujahid, Ikrimah, Qatadah, As-Suddi and Ad-Dahhak.
Allah said in another Ayah,
وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ
فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا
And let not your hand be tied (like a miser) to your neck, nor stretch it forth to its utmost reach (like a spendthrift), so that you become blameworthy and in severe poverty. (17:29)
In this Ayah, Allah prohibits stinginess and extravagance, which includes unnecessary and improper expenditures.
Allah describes stinginess by saying,
وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ
(And let not your hand be tied (like a miser) to your neck).
Therefore, this is the meaning that the Jews meant, may Allah's curses be on them.
Ikrimah said that;
this Ayah was revealed about Finhas, one of the Jews, may Allah curse him.
We mentioned before that Finhas said,
إِنَّ اللّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاء
“(Truly, Allah is poor and we are rich!)” (3:181), and that Abu Bakr smacked him. Allah has refuted what the Jews attribute to Him and cursed them in retaliation for their lies and fabrications about Him.
Allah said,
غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُواْ بِمَا قَالُواْ
Be their hands tied up and be they accursed for what they uttered.
What Allah said occurred, for the Jews are indeed miserly, envious, cowards and tremendously humiliated.
Allah said in other Ayat,
أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِّنَ الْمُلْكِ فَإِذاً لاَّ يُوْتُونَ النَّاسَ نَقِيراً
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَأ ءَاتَـهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ فَقَدْ ءَاتَيْنَأ ءَالَ إِبْرَهِيمَ الْكِتَـبَ وَالْحِكْمَةَ وَءَاتَيْنَـهُمْ مُّلْكاً عَظِيماً
Or have they a share in the dominion! Then in that case they would not give mankind even a Naqir. Or do they envy men for what Allah has given them of His bounty! Then, We had already given the family of Ibrahim the Book and the Hikmah, and conferred upon them a great kingdom. (4:53-54)
and,
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ
Indignity is put over them. (3:112)
Allah's Hands are Widely Outstretched
Allah said next,
بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيْفَ يَشَاء
Nay, both His Hands are widely outstretched. He spends (of His bounty) as He wills.
Allah's favors are ample, His bounty unlimited, as He owns the treasures of everything. Any good that reaches His servants is from Him alone, without partners. He has created everything that we need by night or by day, while traveling or at home and in all situations and conditions.
Allah said,
وَاتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الانْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
And He gave you of all that you asked for, and if you count the blessings of Allah, never will you be able to count them. Verily, man is indeed an extreme wrongdoer, an extreme ingrate. (13:34)
There are many other Ayat on this subject.
Imam Ahmad bin Hanbal said that Abdur-Razzaq narrated to him that Ma`mar said that Hammam bin Munabbih said,
“This is what Abu Hurayrah narrated to us that the Messenger of Allah said,
إِنَّ يَمِينَ اللهِ مَلَْى لَا يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّموَات وَالاَْرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَمِينِهِ قال وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَفِي يَدِهِ الاَْخُرى الْقَبْضُ يَرْفَعُ وَيَخْفِض
Allah's Right Hand is perfectly full, and no amount of spending can decrease what He has, even though He spends by night and by day. Do you see how much Allah has spent since He created the heavens and earth Yet surely it has not decreased what He has in His Right Hand. His Throne is over the water and in His Other Hand is the hold by which He raises and lowers.
He also said that Allah said,
أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْك
`Spend and I will spend on you.”'
This Hadith was recorded in the Two Sahihs.
The Revelation to the Muslims only Adds to the Transgression and Disbelief of the Jews
Allah said,
وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم مَّا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا
Verily, the revelation that has come to you from your Lord makes many of them increase in rebellion and disbelief.
meaning, the bounty that comes to you, O Muhammad, is a calamity for your enemies, the Jews and their kind. The more the revelation increases the believers in faith, good works, and beneficial knowledge, the more the disbelievers increase in envy for you and your Ummah, the more they increase in Tughyan -- which is to exceed the ordained limits for things -- and in disbelief -- meaning denial of you.
Allah said in other Ayat,
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدًى وَشِفَأءٌ وَالَّذِينَ لَا يُوْمِنُونَ فِى ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُوْلَـيِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍ بَعِيدٍ
Say:”It is for those who believe, a guide and a healing. And as for those who disbelieve, there is heaviness (deafness) in their ears, and it is blindness for them. They are those who are called from a place far away.” (41:44)
and,
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَأءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُوْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّـلِمِينَ إَلاَّ خَسَارًا
And We send down of the Qur'an that which is a healing and a mercy to those who believe, and it increases wrongdoers in nothing but loss. (17:82)
Allah said next,
وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاء إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
We have put enmity and hatred among them till the Day of Resurrection.
Therefore, their hearts are never united. Rather, their various groups and sects will always have enmity and hatred for each other, because they do not agree on the truth, and because they opposed you and denied you.
Allah's statement,
كُلَّمَا أَوْقَدُواْ نَارًا لِّلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللّهُ
Every time they kindled the fire of war, Allah extinguished it;
means, every time they try to plot against you and kindled the fire of war, Allah extinguishes it and makes their plots turn against them. Therefore, their evil plots will return to harm them.
وَيَسْعَوْنَ فِي الَارْضِ فَسَادًا وَاللّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
and they (ever) strive to make mischief on earth. And Allah does not like the mischief-makers.
It is their habit to always strive to cause mischief on the earth, and Allah does not like those with such behavior.
Had the People of the Book Adhered to their Book, they Would Have Acquired the Good of this Life and the Hereafter
Allah said next""
""وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ امَنُواْ وَاتَّقَوْاْ
And if only the People of the Scripture had believed and had Taqwa...,
Consequently, had the People of the Book believed in Allah and His Messenger and avoided the sins and prohibitions that they committed;
لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّيَاتِهِمْ وَلادْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ
We would indeed have expiated for them their sins and admitted them to Gardens of pleasure (in Paradise).
meaning We would have removed the dangers from them and granted them their objectives""
""وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُواْ التَّوْرَاةَ وَالاِنجِيلَ وَمَا أُنزِلَ إِلَيهِم مِّن رَّبِّهِمْ
And if only they had acted according to the Tawrah, the Injil, and what has (now) been sent down to them from their Lord,
meaning, the Qur'an, as Ibn Abbas and others said.
لاأكَلُواْ مِن فَوْقِهِمْ وَمِن تَحْتِ أَرْجُلِهِم
they would surely have gotten provision from above them and from underneath their feet.
Had they adhered to the Books that they have with them which they inherited from the Prophets, without altering or changing these Books, these would have directed them to follow the truth and implement the revelation that Allah sent Muhammad with. These Books testify to the Prophet's truth and command that he must be followed.
Allah's statement,
لاأكَلُواْ مِن فَوْقِهِمْ وَمِن تَحْتِ أَرْجُلِهِم
(they would surely have gotten provision from above them and from underneath their feet),
refers to the tremendous provision that would have descended to them from the sky and grown for them on the earth. Allah said in another Ayah,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُواْ وَاتَّقَوْاْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـتٍ مِّنَ السَّمَأءِ وَالاٌّرْضِ
And if the people of the towns had believed and had Taqwa, certainly, We should have opened for them blessings from the heaven and the earth. (7:96)
Allah's statement,
مِّنْهُمْ أُمَّةٌ مُّقْتَصِدَةٌ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ سَاء مَا يَعْمَلُونَ
And among them is a Muqtasid Ummah, but for most of them; evil is their work.
is similar to Allah's statement,
وَمِن قَوْمِ مُوسَى أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ
And of the people of Musa there is a community who lead (the men) with truth and establish justice therewith. (7:159)
and His statement about the followers of `Isa, peace be upon him,
فَـَاتَيْنَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنْهُمْ أَجْرَهُمْ
So We gave those among them who believed, their (due) reward. (57:67)
Therefore, Allah gave them the highest grade of Iqtisad, which is the middle course, given to this Ummah. Above them there is the grade of Sabiqun, as Allah described in His statement;
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَـبَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَـلِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَتِ بِإِذُنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
جَنَّـتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُوْلُواً وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ
Then We gave the Book as inheritance to such of Our servants whom We chose. Then of them are some who wrong themselves, and of them are some who follow a middle course, and of them are some who, by Allah's permission, are Sabiq (foremost) in good deeds. That itself is indeed a great grace. `Adn (Eden) Paradise (everlasting Gardens) will they enter, therein will they be adorned with bracelets of gold and pearls, and their garments there will be of silk. (35:32-33).
""Commanding the Prophet to Convey the Message; Promising Him Immunity and Protection
Allah says;
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ
O Messenger! Convey what has been sent down to you from your Lord.
Allah addresses His servant and Messenger Muhammad by the title `Messenger' and commands him to convey all that He has sent him, a command that the Prophet has fulfilled in the best manner.
Al-Bukhari recorded that Aishah said,
""Whoever says to you that Muhammad hid any part of what Allah revealed to him, then he is uttering a lie. Allah said,
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ
(O Messenger! Convey what has been sent down to you from your Lord).""
Al-Bukhari collected the short form of this story here, but mentioned the full narration in another part of his book.
Muslim in the Book of Iman, At-Tirmidhi, and An-Nasa'i in the Book of Tafsir of their Sunans also collected this Hadith.
In is recorded in the Two Sahihs that Aishah said,
""If Muhammad hid anything from the Qur'an, he would have hidden this Ayah,
وَتُخْفِى فِى نِفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَـهُ
But you did hide in yourself that which Allah will make manifest, you did fear the people while Allah had a better right that you should fear Him."" (33:37)
Al-Bukhari recorded that Az-Zuhri said,
""From Allah comes the Message, for the Messenger is its deliverance and for us is submission to it.""
The Ummah of Muhammad has testified that he has delivered the Message and fulfilled the trust, when he asked them during the biggest gathering in his speech during the Farewell Hajj. At that time, there were over forty thousand of his Companions.
Muslim recorded that Jabir bin Abdullah said that the Messenger of Allah said in his speech on that day,
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ مَسْوُولُونَ عَنِّي فَمَا أَنْتُمْ قَايِلُونَ
O people! You shall be asked about me, so what are you going to reply?
They said, ""We bear witness that you have conveyed (the Message), fulfilled (the trust) and offered sincere advice.""
The Prophet kept raising his finger towards the sky and then pointing at them, saying,
اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ
اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ
O Allah! Did I convey?
O Allah! Did I convey?
Allah's statement,
وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ
And if you do not, then you have not conveyed His Message.
meaning:If you do not convey to the people what I sent to you, then you have not conveyed My Message. Meaning, the Prophet knows the consequences of this failure.
Ali bin Abi Talhah reported that Ibn Abbas commented on the Ayah,
""It means, if you hide only one Ayah that was revealed to you from your Lord, then you have not conveyed His Message.""
Allah's statement,
وَاللّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ
Allah will protect you from mankind.
means, you convey My Message and I will protect, aid and support you over your enemies and will grant you victory over them. Therefore, do not have any fear or sadness, for none of them will be able to touch you with harm.
Before this Ayah was revealed, the Prophet was being guarded, as Imam Ahmad recorded that;
Aishah said that the Prophet was vigilant one night when she was next to him; she asked him, ""What is the matter, O Allah's Messenger?""
He said,
لَيْتَ رَجُلً صَالِحًا مِنْ أَصْحَابِي يَحْرُسُنِي اللَّيْلَة
Would that a pious man from my companions guard me tonight!
She said, ""Suddenly we heard the clatter of arms. The Prophet said,
مَنْ هَذَا
Who is that?""
He (the new comer) replied, ""I am Sa`d bin Malik (Sa`d bin Abi Waqqas).""
The Prophet asked,
مَا جَاءَ بِكَ
What brought you here?
He said, ""I have come to guard you, Allah's O Messenger.""
Aishah said, ""So, the Prophet slept (that night) and I heard the noise of sleep coming from him.""
This Hadith is recorded in Two Sahihs.
Another narration for this Hadith reads,
""The Messenger of Allah was vigilant one night, after he came to Al-Madinah..."",
meaning, after the Hijrah and after the Prophet consummated his marriage to Aishah in the second year of Hijrah.
Ibn Abi Hatim recorded that Aishah said,
""The Prophet was being guarded until this Ayah,
وَاللّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ
(Allah will protect you from mankind) was revealed.""
She added; ""The Prophet raised his head from the room and said;
يَا أَيُّهَا النَّاسُ انْصَرِفُوا فَقَدْ عَصَمَنِي اللهُ عَزَّ وَجَل
O people! Go away, for Allah will protect me.""'
At-Tirmidhi recorded it and said, ""This Hadith is Gharib.""
It was also recorded by Ibn Jarir, and Al-Hakim in his Mustadrak, where he said, ""Its chain is Sahih, but they did not record it.""
Allah's statement,
إِنَّ اللّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Verily, Allah guides not those who disbelieve.
means, O Muhammad, you convey, and Allah guides whom He wills, and misguides whom He wills.
In other Ayat, Allah said,
لَّيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَـكِنَّ اللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَأءُ
Not upon you is their guidance, but Allah guides whom He wills. (2:272)
and,
فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَـغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ
Your duty is only to convey and on Us is the reckoning. (13:40)
""There is no Salvation Except through Faith in the Qur'an
Allah says:
قُلْ
say:
Allah says:O Muhammad, say,
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَسْتُمْ عَلَى شَيْءٍ
O People of the Scripture! You have nothing...,
meaning no real religion,
حَتَّىَ تُقِيمُواْ التَّوْرَاةَ وَالاِنجِيلَ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ
till you act according to the Tawrah, the Injil, and what has (now) been sent down to you from your Lord (the Qur'an).”
until you adhere to and implement the Tawrah and the Injil. That is, until you believe in all the Books that you have that Allah revealed to the Prophets. These Books command following Muhammad and believing in his prophecy, all the while adhering to his Law.
Allah's statement,
وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم مَّا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا
Verily, the revelation that has come to you from your Lord makes many of them increase in rebellion and disbelief.
فَلَ تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
So do not grieve for the people who disbelieve,
Do not be sad or taken aback by their disbelief.
Allah said next""
""إِنَّ الَّذِينَ امَنُواْ
Surely, those who believe,
referring to Muslims,
وَالَّذِينَ هَادُواْ
those who are the Jews,
who were entrusted with the Tawrah,
وَالصَّابِوُونَ
and the Sabians...
a sect from the Christians and Magians who did not follow any particular religion, as Mujahid stated.
وَالنَّصَارَى
and the Christians,
As for the Christians, they are known and were entrusted with the Injil.
مَنْ امَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الاخِرِ وعَمِلَ صَالِحًا فَلَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
whosoever believed in Allah and the Last Day, and worked righteousness, on them shall be no fear, nor shall they grieve.
The meaning here is that if each of these groups believed in Allah and the Hereafter, which is the Day of Judgment and Reckoning, and performed good actions, which to be so, must conform to Muhammad's Law, after Muhammad was sent to all mankind and the Jinns. If any of these groups held these beliefs, then they shall have no fear of what will come or sadness regarding what they lost, nor will grief ever affect them.
We discussed a similar Ayah before in Surah Al-Baqarah (2:62)""
""Allah says;
لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَايِيلَ وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلً
Verily, We took the covenant of the Children of Israel and sent Messengers to them.
Allah reminds that He took the covenant and pledges from the Children of Israel to hear and obey Him and His Messenger. They broke these pledges and covenants and followed their lusts and desires instead of the law, and whichever part of the law they agreed with, they took it. Otherwise, they abandoned it, if it did not conform to their desires.
This is why Allah said,
كُلَّمَا جَاءهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُواْ وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ""
""وَحَسِبُواْ أَلاَّ تَكُونَ فِتْنَةٌ فَعَمُواْ وَصَمُّواْ
Whenever there came to them a Messenger with what they themselves desired not - a group of them they called liars, and others among them they killed. They thought there will be no Fitnah (trial or punishment) so they became blind and deaf.
thinking that they would suffer no repercussions for of the evil that they committed. Consequently, they were blinded from the truth and became deaf, incapable of hearing the truth. For these reasons they were unable to be guided by it.
..
ثُمَّ تَابَ اللّهُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ عَمُواْ وَصَمُّواْ
after that Allah turned to them (with forgiveness); yet again many of them became blind and deaf.
Allah forgave that, then,
ثُمَّ عَمُواْ وَصَمُّواْ
(yet they became blind and deaf) again,
كَثِيرٌ مِّنْهُمْ وَاللّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ
many of them, and Allah is the All-Seer of what they do.
He has perfect knowledge of what they do and whomever among them deserves the guidance and whomever deserves misguidance.
""The Disbelief of the Christians; `Isa Only called to Tawhid
Allah says;
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ
Surely, they have disbelieved who say:”Allah is the Messiah (`Isa), son of Maryam.”
Allah states that the Christians such sects as Monarchite, Jacobite and Nestorite are disbelievers, those among them who say that `Isa is Allah. Allah is far holier than what they attribute to Him. They made this claim in spite of the fact that `Isa made it known that he was the servant of Allah and His Messenger.
The first words that `Isa uttered when he was still a baby in the cradle were, “I am Abdullah (the servant of Allah).” He did not say, “I am Allah,” or, “I am the son of Allah.” Rather, he said,
إِنِّى عَبْدُ اللَّهِ ءَاتَانِىَ الْكِتَـبَ وَجَعَلَنِى نَبِيّاً
Verily, I am a servant of Allah, He has given me the Scripture and made me a Prophet. (19:30) until he said,
وَإِنَّ اللَّهَ رَبِّى وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَـذَا صِرَطٌ مُّسْتَقِيمٌ
“And verily Allah is my Lord and your Lord. So worship Him (Alone). That is the straight path.” (19:36)
He also proclaimed to them when he was a man, after he was sent as a Prophet, commanding them to worship his Lord and their Lord, alone without partners,
وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَايِيلَ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ
But the Messiah said, “O Children of Israel! worship Allah, my Lord and your Lord.” Verily, whosoever sets up partners with Allah...,
in worship;
فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ
then Allah has forbidden Paradise for him, and the Fire will be his abode.
as He will send him to the Fire and forbid Paradise for him.
Allah also said;
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَأءُ
Verily, Allah forgives not that partners should be set up with Him (in worship), but He forgives except that (anything else) to whom He wills. (4:48)
and,
وَنَادَى أَصْحَـبُ النَّارِ أَصْحَـبَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُواْ عَلَيْنَا مِنَ الْمَأءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالُواْ إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَـفِرِينَ
And the dwellers of the Fire will call to the dwellers of Paradise; “Pour on us some water or anything that Allah has provide you with.” They will say:”Allah has forbidden both to the disbelievers.” (7:50)
It is recorded in the Sahih that the Prophet had someone proclaim to the people,
إِنَّ الْجَنَّةَ لَا يَدْخُلُهَا إِلاَّ نَفْسٌ مُسْلِمَة
Only a Muslim soul shall enter Paradise.
In another narration,
مُوْمِنَة
Only a believing soul...
This is why Allah said that `Isa said to the Children of Israel,
إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ
فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
Verily, whosoever sets up partners with Allah, then Allah has forbidden Paradise for him, and the Fire will be his abode. And there are no helpers for the wrongdoers.
There is no help from Allah, nor anyone who will support or protect them from the state they will be in.
Allah's statement""
""لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ ثَالِثُ ثَلَثَةٍ
Surely, they have disbelieved who say:”Allah is the third of three.”
Mujahid and several others said that;
this Ayah was revealed about the Christians in particular.
As-Suddi and others said that;
this Ayah was revealed about taking `Isa and his mother as gods besides Allah, thus making Allah the third in a trinity.
As-Suddi said, “This is similar to Allah's statement towards the end of the Surah,
وَإِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ
And (remember) when Allah will say:”O `Isa, son of Maryam! Did you say unto men:`Worship me and my mother as two gods besides Allah' He will say, “Glory be to You!” (5:116)
Allah replied,
وَمَا مِنْ إِلَـهٍ إِلاَّ إِلَـهٌ وَاحِدٌ
But there is no god but One God.
meaning there are not many worthy of worship but there is only One God without partners, and He is the Lord of all creation and all that exists.
Allah said next, while threatening and admonishing them,
وَإِن لَّمْ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ
And if they cease not from what they say,
their lies and false claims,
لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
verily, a painful torment will befall the disbelievers among them.
in the Hereafter, shackled and tormented.
Allah said next,
أَفَلَ يَتُوبُونَ إِلَى اللّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ""
""Will they not repent to Allah and ask His Forgiveness For Allah is Oft-Forgiving, Most Merciful.
This demonstrates Allah's generosity, kindness and mercy for His creatures, even though they committed this grave sin and invented such a lie and false allegation. Despite all of this, Allah calls them to repent so that He will forgive them, for Allah forgives those who sincerely repent to Him.
`Isa is Allah's Servant and His Mother is a Truthful Believer
Allah said""
""مَّا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ
The Messiah, son of Maryam, was no more than a Messenger; many were the Messengers that passed away before him.
`Isa is just like the previous Prophets, and he is one of the servants of Allah and one of His honorable Messengers. Allah said in another Ayah,
إِنْ هُوَ إِلاَّ عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَـهُ مَثَلً لِّبَنِى إِسْرَءِيلَ
He (`Isa) was not more than a servant. We granted Our favor to him, and We made him an example for the Children of Israel. (43:59)
Allah said next,
وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ
His mother was a Siddiqah,
for she believed in Allah with complete trust in Him.
This is the highest rank she was given, which proves that she was not a Prophet.
Allah said next,
كَانَا يَأْكُلَنِ الطَّعَامَ
They both used to eat food,
needing nourishment and to relieve the call of nature. Therefore, they are just servants like other servants, not gods as ignorant Christian sects claim, may Allah's continued curses cover them until the Day of Resurrection.
Allah said next,
انظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الايَاتِ
Look how We make the Ayat clear to them.
making them unequivocal and plain,
ثُمَّ انظُرْ أَنَّى يُوْفَكُونَ
yet look how they are deluded away (from the truth).
look at the opinions, misguided ideas, and claims they cling to, even after Our clarification and plain, unequivocal explanation.
""The Prohibition of Shirk (Polytheism) and Exaggeration in the Religion
Allah admonishes those who take up rivals with Him and worship the idols, monuments and false deities. Allah states that such false deities do not deserve any degree of Divinity.
Allah said,
قُلْ
Say,
O Muhammad, to those from among the Children of Adam, such as the Christians, who worship other than Allah,
أَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا
How do you worship besides Allah something which has no power either to harm or to benefit you!
meaning, which cannot prevent harm for you nor bring about your benefit.
وَاللّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
But it is Allah Who is the All-Hearer, All-Knower.
He hears what His servants say and has knowledge of all things. Therefore, how did you worship inanimate objects that do not hear, see or know anything - having no power to bring harm or benefit to themselves let alone others - instead of worshipping Allah.
Allah then said""
""قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ
Say:”O People of the Scripture! Exceed not the limits in your religion beyond the truth,
Meaning:Do not exceed the limits concerning the truth and exaggeration in praising whom you were commanded to honor. You exaggerated in his case and elevated him from the rank of Prophet to the rank of a god. You did this with `Isa, who was a Prophet, yet you claimed that he is god besides Allah.
وَلَا تَتَّبِعُواْ أَهْوَاء قَوْمٍ قَدْ ضَلُّواْ مِن قَبْلُ
and do not follow the vain desires of people who went astray before...
This error occurred because you followed your teachers, the advocates of misguidance who came before your time and who,
وَأَضَلُّواْ كَثِيرًا وَضَلُّواْ عَن سَوَاء السَّبِيلِ
and who misled many, and strayed (themselves) from the right path.
deviated from the straight path, to the path of misguidance and deviation."
And they thought, they presumed that, there would be no (read as an laa takoonu, where an has been softened; or read an laa takoona, where it [an] requires a [following] subjunctive, that is to say, 'that there would [not] befall [them]') trial, a punishment against them, for their denial of the messengers and their slaying of them; and so they were wilfully blind, to the truth and could not see it, and deaf, [unable] to hear it. Then God relented to them, when they repented, then they were wilfully blind and deaf, a second time, many of them (katheerun minhum substitutes for the [third] person ['they']); and God sees what they do, and will requite them for it.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.