ٱلْمَائِدَة ١١٩
- قَالَ berfirman
- ٱللَّهُ Allah
- هَٰذَا inilah
- يَوۡمُ suatu hari
- يَنفَعُ bermanfaat
- ٱلصَّـٰدِقِينَ orang-orang yang benar
- صِدۡقُهُمۡۚ kebenaran mereka
- لَهُمۡ bagi mereka
- جَنَّـٰتٞ surga
- تَجۡرِي mengalir
- مِن dari
- تَحۡتِهَا bawahnya
- ٱلۡأَنۡهَٰرُ sungai-sungai
- خَٰلِدِينَ mereka kekal
- فِيهَآ didalamnya
- أَبَدٗاۖ selama-lamanya
- رَّضِيَ ridha
- ٱللَّهُ Allah
- عَنۡهُمۡ terhadap mereka
- وَرَضُواْ dan ridha
- عَنۡهُۚ terhadapNya
- ذَٰلِكَ demikian
- ٱلۡفَوۡزُ keberuntungan
- ٱلۡعَظِيمُ paling besar
Allah berfirman, "Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung."
(Allah berfirman, "Ini adalah) artinya hari kiamat (suatu hari yang bermanfaat orang-orang yang benar) sewaktu di dunia seperti Nabi Isa (kebenaran mereka) sebab hari itu adalah hari pembalasan (bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya; Allah rida terhadap mereka) oleh sebab ketaatan terhadap-Nya (dan mereka pun rida terhadap-Nya) dengan pahala-Nya (Itulah keberuntungan yang besar.") dan orang-orang pendusta sewaktu hidup di dunia, tidak akan bisa bermanfaat kejujuran mereka pada hari itu seperti orang-orang kafir, yaitu tatkala mereka mulai percaya dan iman sewaktu mereka melihat azab Allah.
Tafsir Surat Al-Ma'idah: 119-120
Allah berfirman, "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah rida terhadap mereka, dan mereka pun rida terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Ayat 119
Allah ﷻ berfirman menjawab hamba dan rasul-Nya yaitu Isa putra Maryam a.s. setelah Isa mengemukakan kepada-Nya pembersihan dirinya terhadap perbuatan orang-orang Nasrani yang musyrik lagi dusta terhadap Allah dan rasul-Nya; dan setelah Nabi Isa mengembalikan urusan mereka kepada kehendak Tuhannya, saat itu juga Allah ﷻ berfirman: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (Al-Maidah: 119)
Menurut Adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas, ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang ahli tauhid ketauhidan mereka.
“Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (Al-Maidah: 119)
Yakni mereka tetap tinggal di dalamnya, tidak akan pindah dan tidak akan pergi darinya.
Allah telah rida terhadap mereka, dan mereka rida kepada-Nya, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: “Dan keridaan Allah adalah lebih besar.” (At-Taubah: 72) Berikut ini disebutkan sebuah hadits yang berkaitan dengan ayat ini.
Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan dalam tafsir ayat ini sebuah hadits melalui Anas. Untuk itu, Ibnu Abu Hatim mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Al-Muharibi, dari Al-Laits, dari Usman (yakni Ibnu Umair), telah menceritakan kepada kami Al-Yaqzan, dari Anas secara marfu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda sehubungan dengan hal ini, "Kemudian Allah ﷻ menampilkan diri kepada mereka dan berfirman, 'Mintalah kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian.' Lalu mereka meminta rida Allah, maka Allah berfirman, 'Rida-Ku ialah Kutempatkan kalian di rumah-Ku (yakni surga), dan Aku hormati kalian. Maka mintalah kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian.' Maka mereka meminta rida-Nya, lalu bersaksi di hadapan mereka bahwa Dia telah rida kepada mereka."
Firman Allah ﷻ: Itulah keberuntungan yang paling besar.” (Al-Maidah: 119)
Yakni itulah keberuntungan yang paling besar, tiada suatu keberuntungan pun yang lebih besar daripada itu, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
“Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.” (Ash-Shaffat: 61)
“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (Al-Muthaffifin: 26)
Ayat 120
Firman Allah ﷻ: “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Maidah: 120)
Yakni Dialah Yang menciptakan segala sesuatu, Yang memilikinya, Yang mengatur semua yang ada padanya, Yang berkuasa atasnya; semuanya adalah milik Allah dan di bawah perintah, kekuasaan, dan kehendak-Nya. Maka tiada yang menyaingi-Nya, tiada pembantu, tiada tandingan, tiada yang memperanakkan-Nya, tidak beranak, tidak beristri, tiada tuhan selain Dia, tiada pula Rabb selain Dia.
Ibnu Wahb mengatakan, ia pernah mendengar Huyay ibnu Abdullah menceritakan dari Abu Abdur Rahman Al-Habli, dari Abdullah ibnu Umar yang mengatakan bahwa surat Al-Maidah ini merupakan surat yang paling akhir diturunkan.
Allah menjawab apa yang disampaikan Nabi Isa dengan berfirman kepadanya, Inilah saat orang-orang yang benar tauhidnya kepada Allah, tidak mempertuhankan manusia, dan tidak beribadah kecuali kepada Allah; ibadahnya mengikuti ketentuan Allah, niatnya ikhlas dan hatinya bersih selama hidup di dunia, memperoleh manfaat dari kebenarannya di akhirat dengan memperoleh jaminan keselamatan dan terbebas dari azab jahanam. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kenikmatan yang tiada bandingannya di dunia; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, dalam keabadian tanpa batas waktu. Allah rida kepada mereka atas keyakinan mereka yang lurus, ibadah mereka yang istikamah, dan akhlak mereka yang mulia; dan mereka pun rida kepada-Nya atas segala perlakuan Allah kepada mereka. Itulah, sejatinya, kemenangan yang agung, menurut Allah. Allah kembali menegaskan tentang kekuasaan dan kepemilikanNya yang serba mencakup dan menyeluruh. Milik Allah, Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, kerajaan langit dan bumi, dengan kehendak dan kekuasaan mutlak tiada batas; dan milik Allah juga apa yang ada di dalamnya, manusia, jin, setan, dan malaikat; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, dengan kekuasaan yang adil dan bijaksana.
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa pada hari Kiamat, orang yang senantiasa berbuat tetap dalam tauhid, akan memperoleh manfaat dari kebenaran iman mereka dan dari kejujuran perbuatan dan perkataan mereka. Kemanfaatan yang mereka peroleh itu ialah: pertama kenikmatan surga, kenikmatan yang banyak memberi kepuasan jasmaniah, dan kedua kenikmatan rida Ilahi, kenikmatan yang memberikan ketenteraman dan kepuasan rohani. Segala amal perbuatan mereka diterima Allah sebagai ibadah dan Allah memberi anugerah dan keridaan kepada mereka. Mereka merasa bahagia memperoleh keridaan dari Allah. Tidak ada kenikmatan yang lebih besar dari penghargaan dari Allah. Allah rida terhadap mereka, dan mereka rida terhadap Allah. Inilah puncak kebahagiaan abadi dalam diri manusia. Kedua nikmat Allah ini ialah surga dan rida Ilahi yang diperoleh sesudah melewati perhitungan amal pada hari Kiamat.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Dan (ingatlah) tatkala berfirman Allah, Wahai Isa anak Maryam, adakah engkau pemah berkata kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai Tuban selain Allah?" Dia menjawab, ‘Mahasuci Engkau! Tidaklah patut bagiku bahwa akan mengatakan apa yang tidak hakku. Jika ada aku mengatakannya, niscaya Engkau telah mengetahuinya (sebab) Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, sedangkan aku tidaklah mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya, Engkaulah yang lebih mengetahui akan hal yang gaib-gaib."‘
(ayat 116)
“Tidak ada yang aku katakan kepada mereka, kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku, (yaitu) bahwa hendaklah kamu beribadah kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu."
(pangkal ayat 117)
Tegasnya, dalam urusan kepercayaan dan iktikad sebagai dasar dari agama, tidaklah terlebih daripada jangka itu karena itulah yang Engkau wahyukan kepadaku, yaitu menyembah hanya kepada Allah Tuhanku dan Tuhan kamu. Agar aku dan kamu sama-sama bertuhan kepada Yang Satu itu saja, tidak ada Tuhan lain, apalagi diriku dan ibuku."Dan adalah aku menjadi penyaksi atas mereka itu, selama aku ada pada mereka." Artinya, selama aku hidup di kalangan mereka, aku sendiri pun menyaksikan bahwa apa yang aku sampaikan itu mereka jalankan baik-baik dan aku pun menjaga kalau-kalau ada pelanggaran. Aku tegur kalau mereka salah.
Maka, apa yang beliau jawabkan kepada Allah ini masih dapat kita lihat sisa buktinya dalam kitab-kitab pegangan orang Kristen sendiri. Pernah beliau menegur dengan keras ketika seorang muridnya berkata bahwa beliau adalah guru yang baik! Dengan tegas beliau berkata, yang baik hanyalah Allah!
“Namun tatkala telah Engkau wafatkan aku, adalah Engkau yang menjadi penilik atas mereka. Sedang Engkau, atas tiap-tiap sesuatu adalah penyaksinya."
(ujung ayat 117)
Artinya, setelah aku meninggal, Engkaulah yang menilik dan meneliti mereka. Sebab setelah aku wafat, tugasku sebagai utusan Engkau selesailah sudah.
Tidaklah aku ketahui lagi apa yang mereka perbuat sesudahku dan ke mana mereka belokkan pengajaran yang kuberikan, pengaruh dari mana dan tersebab apa mereka jadi berubah. Engkaulah, Ya Tuhanku, Yang Mahatahu dan aku sebagai hamba-Mu tidaklah mengetahuinya lagi.
Dalam kesaksian orang Kristen sendiri kita mendapati pengakuan bahwa memang pada zaman al-Masih masih hidup, belum ada orang berpikir ke jurusan itu. Hal ini seperti tulisan salah seorang pemuka Kristen yang telah kita salinkan terlebih dahulu. Memang, setelah beliau tak ada lagi di dunia ini barulah timbul kepercayaan bahwa beliau adalah Tuhan. Adapun persembahan, pemujaan yang mendudukkan Maryam sebagai Tuhan, dan disebut kadang-kadang Timur dan Barat, terutama golongan Ortodoks, Katolik Yunani, dan Katolik Roma, memang mereka menaikkan martabat Maryam menjadi martabat ketuhanan. Tempat mereka memohon, berdoa, memohonkan apa-apa, meminta berkah, memohon kesembuhan dari sakit. Di satu tempat bernama Fatima di Portugal, tersebar berita bahwa seorang anak perempuan gembala melihat Maryam menampakkan diri kepadanya. Kemudian, tempat itu pun dijadikan tempat keramat, tempat memuja, yang terkenal dengan “The Miracle of Our Lady of Fatim." (Nama Fatima ialah bekas nama yang ditinggalkan orang Islam, ketika Spanyol dan Portugal di dalam kekuasaan Islam, penulis). Golongan Katolik berbangga dan merasa sangat berbahagia karena Paus Pius IX telah mengeluarkan Fatima perintah bahwasanya Maryam adalah dara suci, yang mengandung dalam serba kesucian. Lantaran itu, hendaklah dia dimuliakan dan disucikan sebagai Tuhan juga. Gereja Armeniya memanggilnya “Ibu Allah Yang Tercinta". Gereja Kopti (Iskandariyah) pun menyebutkan dia “Ibu Tuhan". Dan di rumah-rumah orang Katolik yang saleh di negeri kita di Indonesia ini, sebagaimana juga dalam gereja, selalulah dihormati patung dari “Ibu Maria". Dengan demikian, selain dari satu Tuhan adalah tiga oknum (Trinitas) ada tambahan lagi, yaitu Maryam pun Tuhan pula. Namun, kaum Protestan, menolak sama sekali anggapan Tuhan kepada Maryam itu.
Isa al-Masih diputuskan jadi Tuhan sesudah dia meninggal dan ibunya sendiri “diputuskan" menjadi Tuhan lama pula sesudah itu. Dan Isa al-Masih sendiri tidak tahu apa yang telah terjadi sesudah beliau tidak ada di dunia lagi.
“Jika hendak Engkau adzab mereka itu maka sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba Engkau. Dan jika Engkau beri ampun mereka maka sesungguhnya Engkau adalah Mahagagah, lagi Bijaksana."
(ayat 118)
Dalam ayat ini diterangkan betapa halnya al-Masih menyerahkan soal itu sepenuhnya kepada Allah, yang diriama: tafwidh. Mula-mula terkandunglah dalam ucapan itu bahwa al-Masih sendiri mengakui tegas bahwa mereka itu patuh diadzab oleh Allah karena telah mempersekutukan yang lain dengan Allah, terutama mempersekutukan dirinya dan ibunya dengan Allah. Teranglah perbuatan itu musyrik, dosa yang amat besar dan tak dapat diampuni.
Apabila Allah melakukan adzab kepada mereka, sudah sepatutnya karena mereka adalah hamba-hamba Allah belaka. Dan Allah berkuasa berbuat sesuatu terhadap hamba-Nya dan mengertilah Dia akan keadaan hamba-Nya itu. Allah mengetahui masing-masing hamba-Nya, walaupun berjuta, bermiliar banyaknya. Demikian juga jika ada di antara mereka yang diampuni kesalahannya oleh Allah adalah semuanya itu sesudah pemeriksaan yang teliti sekali dan dengan segenap kebijaksanaan. Itulah sebabnya, di ujung ayat tentang memberi ampun, disebut dua nama Allah: Mahagagah dan Mahabijaksana. Pada ayat-ayat yang lain, ayat yang berdiri memberi ampun biasanya diakhiri dengan Ghafur dan Rahim, Pengampun dan Penyayang, sedangkan di ayat ini diujungi dengan Aziz dan Hakim, Mahagagah. Artinya, bukan memberi ampun karena pilih kasih dan bukan karena kelemahan, melainkan karena Kegaga-perkasaan dan Kebijaksanaan jua. Dapatlah kita memahaminjawaban al-Masih itu melihat keadaan umat Kristen sendiri.
Pada anggapan kita, seluruh orang Kristen itu sudah sama saja kepercayaaanya. Oleh karena itu, menurut pandangan lahir kita semua, mereka itu akan diadzab karena mem-persekutukan Allah. Namun, jika diselidiki dengan saksama, mereka mempunyai berbagai sekte. Konon, tidak kurang dari 200 macam sekte. Misalkan kaum Unitarian: mereka tidaklah memegang kepercayaan bahwa al-Masih itu Allah atau anak Allah. Beliau hanya seorang rasul saja, sebagaimana rasul-rasul yang lain dan mereka pun tidak percaya bahwa Maryam Tuhan, atau ibu Tuhan, atau dianggap Tuhan untuk memohonkan apa-apa. Selain itu, ada pula yang menurut pandangan orang luar mereka itu masih Kristen, padahal mereka tidak menganut lagi kepercayaan Kristen sebab tidak cocok dengan akal pikiran mereka. Namun, mereka tidak berani menyatakan diri.
Ada juga yang telah masuk Islam dengan diam-diam, tetapi karena hidup dalam kalangan keluarga Kristen dalam negeri Kristen pula, mereka menjadi Islam dengan diam-diam, mengucap syahadat, mengakui tiada Tuhan melainkan Allah dan al-Masih adalah hamba Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Tidak ada keluarganya yang tahu sehingga dia dikuburkan secara Kristen juga di pekuburan Kristen, padahal dia mati dalam Islam. Dan banyak lagi contoh-contoh yang lain, pada zaman Fithrat yaitu kekosongan rasul di antara al-Masih dengan Muhammad ﷺ Niscaya, Allah melakukan hukum dengan serba kegagahan dan wibawa-Nya serta dengan bijaksana dan teliti. Lantaran itulah, al-Masih menyerahkan hal itu sebulatnya pada kegagahperkasaan dan kebijaksanaan Allah.
“Beriman Allah, Inilah hari yang akan memberi manfaat kepada orang-orang yang benar kebenaran mereka."
(pangkal ayat 119)
Sekaligus dengan menyatakan firman Allah ini, tahulah kita bahwa Allah mengakui dan menghargai kebenaran yang diterangkan oleh rasul-Nya yang benar, yaitu Isa al-Masih.
Selama hidupnya, dia telah melakukan tugas dengan benar dan jujur. Dan tidak mengubah-ubah wahyu yang diturunkan Allah kepadanya. Dia sekali-kali tidak pernah menganjurkan manusia supaya menganggap dirinya atau ibunya sebagai Tuhan. Semuanya yang sudah berlaku itu hanyalah kejadian sesudah beliau tak ada lagi di dunia. Beliau tidaklah bertanggung jawab atas kesalahan anggapan orang terhadap beliau setelah meninggalkan dunia. Sebagaimana juga orang-orang besar yang lain, sebagaimana orang-orang saleh yang dipuja orang kuburan mereka setelah mereka mati, disembah dan dipandang sebagai berhala, menyerupai pandangan orang Kristen terhadap Maryam itu. Seumpama yang kita lihat orang-orang Islam yang tidak mengerti pokok ajaran agamanya, memuja kuburan Sayyid Abdulkadir Jailani di Baghdad, orang Syi'ah memuja kuburan Husain bin Ali di Karbala, orang awam Mesir memuja kuburan Imam Syafi'i, orang awam Jakarta memuja kuburan Alaidrus di Luar Batang. Mereka itu semua kala hidupnya tidak ada yang menyuruh orang mempersekutukan diri mereka dengan Allah. Mereka pun akan ditanya.
Sedang Isa al-Masih lagi ditanya, konon-lah yang lain itu. Karena semasa hidupnya, semua adalah orang yang benar, di akhirat ber-manfaatlah kebenaran mereka."Untuk mereka adalah surga-surga yang mengalir dari bawahnya sungal-sungai, hal keadaan kekal mereka di dalamnya selama-lamanya." Dan demikian pulalah halnya tiap-tiap manusia yang di kala hidup berlaku jujur dan benar, mereka pun akan ditempatkan dengan anbiya' (nabi-nabi) seperti al-Masih itu, yaitu shiddiqin (orang-orang yang benar) seperti Maryam ibu Isa dan Abu Bakar ash-Shiddiq, dan syuhada (orang-orang yang mati setelah memberikan kesaksian kebenaran Allah dengan nyawanya sendiri), dan shalihin (orang-orang yang saleh, banyak berbuat kebaikan), yang dahulu kita dapati pula dalam surah an-Nisaa' ayat 68. Semuanya diberi tempat dalam surga yang indah permai, dalam keadaan kekal selama-lamanya. Di dalam surga itu mereka pun mendapat nikmat yang lebih tinggi lagi, yaitu:
“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Yang demikian itulah kemenangan yang besar."
(ujung ayat 119)
Ridha inilah inti nikmat surga. Inilah nikmat ruhani paling dalam dan paling puncak. Untuk merasakan betapa tingginya nikmat ridha, cobalah tilik di dunia ini bagaimana rasa bahagianya orang yang mendapat ridha dari raja atau dari kepala negara. Ada seorang menteri yang bertahun-tahun tidak dapat melupakan tatkala rajanya atau kepala negaranya pernah mengajaknya tersenyum. Pada zaman kolonial dulu. Pangeran Ahmad Jayadiriingrat pernah menceritakan di dalam buku Kenang-kenangannya, betapa bahagia perasaannya saat dia diperbolehkan meng-hadap Ratu Wilhelmina. Ratu Belanda itu mengulurkan tangan kepadanya dan mengajaknya berjabat tangan dengan wajah yang berseri. Ketika itu, kata Pangeran Ahmad, berkatalah aku dalam diriku bahwa apa pun yang akan diperintahkan kepadaku akan aku junjung tinggi."Menitahlah Tuanku, segala titah patik junjung." Dan ada pula kisah lain, seorang menteri sehabis menghadap ke istana, langsung membunuh dirinya, karena yang sekali ini dalam satu pertemuan, raja tidak pernah memperlihatkan wajahnya kepadanya, tidak menoleh kepadanya. Dan dalam pergaulan pembesar-pembesar tingkat tinggi, menteri-menteri, ridha kepala negara itu menjadi perhitungan. Meskipun telah diberi pangkat tinggi, diberi bintang-bintang gemerlap penghias dada, masih berdebar hatinya dan berharap, adakah beliau atau baginda ridha kepadanya.
Sekarang datang keterangan ayat, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Ridha yang saling sambut dan saling balas, bukan laksana ladirig yang tajam sebelah dan bukan laksana bertepuk sebelah tangan. Inilah yang selamanya tak ada dalam dunia fana ini selama-lamanya. Terkadang, ketika seorang pembesar tinggi atau menteri telah merasa benar-benar ridha kepada raja atau kepala negaranya, tetapi karena fitnah orang lain yang merasa dengki, beliau belum juga membalas ridha itu. Oleh sebab itu, sela-lulah orang besar itu berhati murung dan tidak juga tercapai ridha-meridhai. Dan terkadang pula raja atau kepala negara itu dengan keri-dhaannya telah mengurbankan segenap tenaga, siang dan malam untuk kebahagiaan rakyat yang dicintainya, tetapi yang tidak membalas ridha itu pun masih banyak. Berapa banyak raja dan kepala negara yang benar-benar mengurbankan segenap tenaganya, demi kepentingan rakyatnya, tetapi masih dibenci. Tiga orang khalifah Rasulullah ﷺ„ yaitu Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thaiib mati dibunuh orang. Siapa yang tidak mengakui bahwa ketiganya adalah Khulafaur Rasyidiri? Mengapa mereka dibunuh? Ya, karena masih ada yang tidak ridha dan masih ada yang tidak membalas keridhaan mereka.
Setelah memikirkan kejadian dunia yang seperti ini, marilah kembali resapkan di dalam jiwa kita bunyi ayat ini, “AHah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada AHah." Di sini, dapatlah kita memahami apa yang dimaksud oleh shafiyah yang besar, Rabi'atul
Adawiyah, ketika orang bertanya kepadanya, “Ya Rabi'ah, mana engkau yang senang, masuk surga, padahal tidak ada keridhaan Allah atau masuk neraka padahal engkau diridhai Allah?" Meskipun pertanyaan ini satu pertanyaan yang kacau, bertanya asal bertanya saja, Rabi'ah memberi juga jawab dengan tegas, “Biar masuk neraka asal Allah Ta'aala ridha kepadaku!"
Akhirnya ditutuplah surah al-Maa'idah ini dengan kunci tauhid uluhiyah dan rububiyah yang sejati, pegangan segenap orang beriman.
“Bagi Allahlah kerajaan semua langit dan bumi dan apa jua pun yang ada pada semuanya. Dan Dia atas segala sesuatu adalah Mahakuasa."
(ayat 120)
The Messengers Will be Asked About Their Nations
Allah says;
يَوْمَ يَجْمَعُ اللّهُ الرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَا أُجِبْتُمْ
قَالُواْ لَا عِلْمَ لَنَا إِنَّكَ أَنتَ عَلَّمُ الْغُيُوبِ
On the Day when Allah will gather the Messengers together and say to them:What was the response you received (from men to your teaching)! They will say:We have no knowledge, verily, only You are the Knower of all that is hidden.
Allah states that on the Day of Resurrection, He will ask the Messengers about how their nations, to whom He sent them, answered and responded to their teachings.
Allah said in other Ayat,
فَلَنَسْـَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْـَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ
Then surely, We shall question those (people) to whom it (the Book) was sent and verily, We shall question the Messengers. (7:6)
and,
فَوَرَبِّكَ لَنَسْـَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينََمَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
So, by your Lord, We shall certainly call all of them to account. For all that they used to do. (15:92-93)
According to Mujahid, Al-Hasan Al-Basri and As-Suddi, The statement of the Messengers here,
لَا عِلْمَ لَنَا
(We have no knowledge),
is the result of the horror of that Day.
Abdur-Razzaq narrated that Ath-Thawri said that Al-A`mash said that Mujahid said about the Ayah,
يَوْمَ يَجْمَعُ اللّهُ الرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَا أُجِبْتُمْ
(On the Day when Allah will gather the Messengers together and say to them:What was the response you received)!
They will become afraid and reply,
لَا عِلْمَ لَنَا
(We have no knowledge),
Ibn Jarir and Ibn Abi Hatim also recorded this explanation.
Ali bin Abi Talhah said that Ibn Abbas commented on the Ayah,
They will say to the Lord, Most Honored, `We have no knowledge beyond what we know, and even that, You have more knowledge of them than us.
This response is out of respect before the Lord, Most Honored, and it means, we have no knowledge compared to Your encompassing knowledge. Therefore, our knowledge only grasped the visible behavior of these people, not the secrets of their hearts. You are the Knower of everything, Who has encompassing knowledge of all things, and our knowledge compared to Your knowledge is similar to not having any knowledge at all, for
أَنتَ عَلَّمُ الْغُيُوبِ
(only You are the Knower of all that is hidden).
Reminding `Isa of the Favors that Allah Granted him
Allah
إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسى ابْنَ مَرْيَمَ
(Remember) when Allah will say (on the Day of Resurrection):O `Isa, son of Maryam!
Allah mentions how He blessed His servant and Messenger, `Isa, son of Maryam, and the miracles and extraordinary acts He granted him.
Allah said,
اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ
Remember My favor to you,
when I created you from your mother, without male intervention, and made you a sign and clear proof of My perfect power over all things.
وَعَلَى وَالِدَتِكَ
And to your mother,
when I made you testify to her chastity and you thus absolved her from the sin that the unjust, ignorant liars accused her of.
إِذْ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ
when I supported you with Ruh-il-Qudus,
the angel Jibril, and made you a Prophet, calling to Allah in the cradle and manhood. I made you speak in the cradle, and you testified that your mother was free from any immoral behavior, and you proclaimed that you worship Me. You also conveyed the news of My Message and invited them to worship Me.
تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلً
so that you spoke to the people in the cradle and in maturity;
Meaning you called the people to Allah in childhood and in maturity.
And the word Tukallim means invited, because his speaking to people while a child is nothing strange by itself.
Allah's statement,
وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
(And when I taught you the Book and the Hikmah,) the power of writing and understanding,
وَالتَّوْرَاةَ وَالاِنجِيلَ
(and the Tawrah,) which was revealed to Musa, son of `Imran, who spoke to Allah directly.
Allah's statement,
وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْيَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي
and when you made out of the clay, as it were, the figure of a bird, by My permission,
means:`you shaped it in the figure of a bird by My permission, and it became a bird with My permission,
فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي
and you breathed into it, and it became a bird by My permission,
after you blew into it'. Then, it became a flying bird with a soul by Allah's permission.
Allah said;
وَتُبْرِىءُ الَاكْمَهَ وَالَابْرَصَ بِإِذْنِي
and you healed those born blind, and the lepers by My permission,
This was explained before in Surah Al Imran and we do not need to repeat it here.
Allah's statement,
وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوتَى بِإِذْنِي
And when you brought forth the dead by My permission,
meaning, you called them and they rose from their graves by Allah's leave, power, intent and will. Allah said next,
وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَايِيلَ عَنكَ إِذْ جِيْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْهُمْ إِنْ هَـذَا إِلاَّ سِحْرٌ مُّبِينٌ
and when I restrained the Children of Israel from you since you came unto them with clear proofs, and the disbelievers among them said:This is nothing but evident magic.
Meaning:`remember My favor, when I stopped the Children of Israel from harming you, when you brought them the clear proofs and evidence, testifying to your Prophethood and Message from Me to them. They rejected you and accused you of being a magician and tried to kill you by crucifixion, but I saved you, raised you to Me, purified you from their vulgarity and protected you from their harm.' The wording of this Ayah indicates that `Isa will be reminded of these favors on the Day of Resurrection.
Allah used the past tense in these Ayat indicating that it is a forgone matter that will certainly occur.
This Ayah also contains some of the secrets of the Unseen that Allah revealed to His Messenger Muhammad.
Allah said
وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ امِنُواْ بِي وَبِرَسُولِي
And when I (Allah) Awhaytu Al-Hawariyyin to believe in Me and My Messenger.
This is also a reminder of Allah's favor on `Isa, by making disciples and companions for him.
It is also said that Awhaytu in the Ayah means, `inspired', just as in another Ayah, Allah said;
وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ
And We inspired the mother of Musa (saying):Suckle him... (28:7)
Allah said in other Ayat,
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِى مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ الثَّمَرَتِ فَاسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلً
And your Lord Awha (inspired) the bee, saying:Take habitations in the mountains and in the trees and in what they erect. Then, eat of all fruits, and follow the ways of your Lord made easy (for you). (16:68-69)
Al-Hasan Al-Basri commented about the Hawariyyun,
Allah inspired them,
As-Suddi said,
`He put in their hearts,
and the Hawariyyun said,
قَالُوَاْ امَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ
they said:`We believe. And bear witness that we are Muslims.
Sending Down the Ma'idah
This is the story of the Ma'idah, the name of which this Surah bears, Surah Al-Ma'idah.
This is also among the favors that Allah granted His servant and Messenger, `Isa, accepting his request to send the Ma'idah down, and doing so as clear proof and unequivocal evidence.
Allah said,
إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ
(Remember) when Al-Hawaryun said...
the disciples of `Isa said,
يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَأيِدَةً مِّنَ السَّمَاء
O `Isa, son of Maryam! Can your Lord send down to us a Ma'idah from heaven!
The Ma'idah is the table that has food on it.
Some scholars said that;
the disciples requested this table because they were poor and deprived. So they asked `Isa to supplicate to Allah to send a table of food down to them that they could eat from every day and thus be more able to perform the acts of worship.
قَالَ اتَّقُواْ اللّهَ إِن كُنتُم مُّوْمِنِينَ
`Isa said:Have Taqwa of Allah, if you are indeed believers.
`Isa answered them by saying, `Have Taqwa of Allah! And do not ask for this, for it may become a trial for you, but trust in Allah for your provisions, if you are truly believers.
قَالُواْ نُرِيدُ أَن نَّأْكُلَ مِنْهَا
They said:We wish to eat thereof.
we need to eat from it,
وَتَطْمَيِنَّ قُلُوبُنَا
and to be stronger in faith,
when we witness it descending from heaven as sustenance for us.
وَنَعْلَمَ أَن قَدْ صَدَقْتَنَا
and to know that you have indeed told us the truth,
of your Message and our faith in you increases and also our knowledge.
وَنَكُونَ عَلَيْهَا مِنَ الشَّاهِدِينَ
and that we ourselves be its witnesses.
testifying that it is a sign from Allah, as proof and evidence that you are a Prophet, and attesting to the truth of what you brought us
قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنزِلْ عَلَيْنَا مَأيِدَةً مِّنَ السَّمَاء تَكُونُ لَنَا عِيداً لاَِّوَّلِنَا وَاخِرِنَا
`Isa, son of Maryam, said:O Allah, our Lord! Send us from heaven a table spread (with food) that there may be for us -- for the first and the last of us -- a festival...
As-Suddi commented that the Ayah means,
We will take that day on which the table was sent down as a day of celebration, that we and those who come after us would consider sacred.
Sufyan Ath-Thawri said that it means,
A day of prayer.
وَايَةً مِّنكَ
and a sign from You.
proving that You are able to do all things and to accept my supplication, so that they accept what I convey to them from You.
وَارْزُقْنَا
and provide us sustenance,
a delicious food from You that does not require any effort or hardship.
وَأَنتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
for You are the Best of sustainers.
قَالَ اللّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ فَمَن يَكْفُرْ بَعْدُ مِنكُمْ
Allah said:I am going to send it down unto you, but if any of you after that disbelieves...
by denying this sign and defying its implication, O `Isa,
فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لاَّ أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِّنَ الْعَالَمِينَ
then I will punish him with a torment such as I have not inflicted on anyone among the Alamin.
among the people of your time.
Allah said in similar Ayat,
وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُواْ ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
And on the Day when the Hour will be established (it will be said to the angels):Cause Fir`awn's people to enter the severest torment! (40:46)
and,
إِنَّ الْمُنَـفِقِينَ فِى الدَّرْكِ الاٌّسْفَلِ مِنَ النَّارِ
Verily, the hypocrites will be in the lowest depths of the Fire. (4:145)
Ibn Jarir said that Abdullah bin `Amr said,
Those who will receive the severest torment on the Day of Resurrection are three:
The hypocrites,
those from the people of Al-Ma'idah who disbelieved in it, and
the people of Fir`awn.
Ibn Abi Hatim recorded that Ibn Abbas said,
They said to `Isa, son of Maryam, `Supplicate to Allah to send down to us from heaven, a table spread with food.'
He also said, `So the angels brought the table down containing seven fish and seven pieces of bread and placed it before them. So the last group of people ate as the first group did.
Ibn Jarir recorded that Ishaq bin Abdullah said that;
the table was sent down to `Isa son of Maryam having seven pieces of bread and seven fish, and they ate from it as much as they wished. But when some of them stole food from it, saying, It might not come down tomorrow, the table ascended.
These statements testify that the table was sent down to the Children of Israel during the time of `Isa, son of Maryam, as a result of Allah's accepting his supplication to Him. The apparent wording of this Ayah also states so,
قَالَ اللّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ
(Allah said:I am going to send it down unto you...)
`Isa Rejects Shirk and Affirms Tawhid
Allah says;
وَإِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ
And (remember) when Allah will say (on the Day of Resurrection):
Allah will also speak to His servant and Messenger, `Isa son of Maryam, peace be upon him, saying to him on the Day of Resurrection in the presence of those who worshipped `Isa and his mother as gods besides Allah,
يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ
O `Isa, son of Maryam! Did you say unto men:`Worship me and my mother as two gods besides Allah!'
This is a threat and a warning to Christians, chastising them in public, as Qatadah and others said, and Qatadah mentioned this Ayah as evidence,
هَذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ
This is a Day on which the truthful will profit from their truth. (5:119)
Allah's statement,
قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ
He will say:Glory be to You! It was not for me to say what I had no right (to say)...
contains Allah's direction for `Isa to utter the perfect answer.
Ibn Abi Hatim recorded that Abu Hurayrah said,
`Isa will be taught his argument in reply to what Allah will ask him,
وَإِذْ قَالَ اللّهُ
يَاعِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ
(And (remember) when Allah will say (on the Day of Resurrection):O `Isa, son of Maryam! Did you say unto men:`Worship me and my mother as two gods besides Allah!').
Abu Hurayrah then narrated that the Prophet said that Allah taught `Isa to say,
سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ
Glory be to You! It was not for me to say what I had no right (to say)...
Ath-Thawri narrated this Hadith from Ma`mar from Ibn Tawus from Tawus.
`Isa's statement,
إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ
Had I said such a thing, You would surely have known it.
means, had I said it, You, my Lord, would have known it, for nothing escapes Your knowledge. Rather, I have not said these words nor did the thought even cross my mind, this why he said,
تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّمُ الْغُيُوبِ
مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلاَّ مَا أَمَرْتَنِي بِهِ
You know what is in my inner self though I do not know what is in Yours, truly, You, only You, are the Knower of all that is hidden and unseen. Never did I say to them ought except what You (Allah) did command me to say... (and convey).
أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ
Worship Allah, my Lord and your Lord.
I only called them to what You sent me with and commanded me to convey to them,
أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ
(Worship Allah, my Lord and your Lord) and this is what I conveyed to them,
.
وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ
And I was a witness over them while I dwelled amongst them,
I was a witness over what they did when I was amongst them.
فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
but when You took me (up), You were the Watcher over them, and You are a Witness to all things.
Abu Dawud At-Tayalisi recorded that Ibn Abbas said,
The Messenger of Allah stood up once and gave us a speech in which he said,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلا
O people! You will be gathered to Allah while barefooted, naked and uncircumcised;
كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ
As We began the first creation, We shall repeat it. (21:104)
وَإِنَّ أَوَّلَ الْخَلَإيِقِ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ أَلَاإ وَإِنَّهُ يُجَاءُ بِرِجَالٍ مِنْ أُمَّتِي فَيُوْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِّمَالِ فَأَقُولُ أَصْحَابِي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَاإ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِح
The first among the creation who will be covered with clothes will be Ibrahim. Some men from my Ummah will be brought and taken to the left (to the Fire) and I will yell, `They are my followers!' It will be said, `You do not know what they innovated after you (in religion).' So I will say just as the righteous servant (`Isa) said,
مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلاَّ مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
And I was a witness over them while I dwelled amongst them, but when You took me (up), You were the Watcher over them, and You are a Witness to all things. If You punish them, they are Your servants, and if You forgive them, verily You, only You are the Almighty, the All-Wise.
فَيُقَالُ إِنَّ هوُلَاءِ لَمْ يَزَالُوا مُرْتَدِّينَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُم
It will further be said, `These people kept reverting back on their heels after you left them.'
Al-Bukhari also recorded this Hadith in the explanation of this Ayah.
Allah said;
إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
If You punish them, they are Your servants, and if You forgive them, verily You, only You are the Almighty, the All-Wise.
All matters refer back to Allah, for He does what He Wills and none can question Him about what He does, while He will question them.
This Ayah also shows the crime of the Christians who invented a lie against Allah and His Messenger, thus making a rival, wife and son for Allah. Allah is glorified in that He is far above what they attribute to Him. So this Ayah has tremendous value and delivers unique news.
Only Truth will be of Benefit on the Day of Resurrection
Allah says;
قَالَ اللّهُ
Allah will say:
Allah answers His servant and Messenger `Isa, son of Maryam, after he disowns the disbelieving Christians who lied about Allah and His Messenger, and when `Isa refers their end to the will of his Lord.
هَذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ
This is a Day on which the truthful will profit from their truth.
Ad-Dahhak said that Ibn Abbas commented,
This is the Day when Tawhid will benefit those who believed in it.
لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الَانْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
Theirs are Gardens under which rivers flow (in Paradise) -- they shall abide therein forever.
and they will never be removed from it.
رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ
Allah is pleased with them and they with Him.
وَرِضْوَنٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ
But the greatest bliss is the good pleasure of Allah. (9:72)
We will mention the Hadiths about this Ayah (9:72) later on.
Allah's statement,
ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
That is the great success.
means, this is the great success, other than which there is no greater success.
Allah said in another Ayat,
لِمِثْلِ هَـذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَـمِلُونَ
For the like of this let the workers work. (37:61)
and,
وَفِى ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَـفِسُونَ
And for this let (all) those strive who want to strive. (83:26)
Allah's statement,
لِلّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالَارْضِ وَمَا فِيهِنَّ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
To Allah belongs the dominion of the heavens and the earth and all that is therein, and He is able to do all things.
means, He created everything, owns everything, controls the affairs of everything and is able to do all things. Therefore, everything and everyone are in His domain and under His power and will. There is none like Him, nor is there rival, ancestor, son, or wife for Him, nor a lord or god besides Him.
Ibn Wahb said that he heard Huyay bin Abdullah saying that Abu Abdur-Rahman Al-Habli said that Abdullah bin `Amr said,
The last revealed Surah was Surah Al-Ma'idah.
This is the end of the Tafsir of Surah Al-Ma'idah. To Allah be praise and blessings.
God says, 'This, namely, the Day of Resurrection, is the day those who were truthful, in the world, like Jesus, shall profit by their truthfulness, because this is the Day of Requital. Theirs will be Gardens underneath which rivers flow, wherein they shall abide forever. God is well-pleased with them, because of their obedience to Him, and they are well-pleased with Him, with His reward - that is the great triumph'. The sincerity of those who were liars in this world shall not avail them on that Day, just as [it shall not avail] the disbelievers when they believe upon seeing the chastisement.
The Linkage of Verses
The first two sections (Ruku`) appearing earlier describe some of the happenings on the day of Qiyamah such as the reckoning, the questions and their answers. Mentioned now is the outcome of the probe and reckoning of that fateful day.
Commentary
Notes
1. Verse 119 opens with the words: قَالَ اللَّـهُ هَـٰذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ (Allah said, "This is a day the truth of the truthful shall bring benefit to them). Generally, what is according to what has happened is called truth while that which is not according to what has happened is referred to as false or a lie. But, according to the -Qur'an and Sunnah, sidq (truth) and kidhb کِذب (lie) are general, that is, they refer to both words and deeds. As such, given here is a Hadith in which counter-factual deed has been called kidhb مَن تَحَلَّی بِمَا لَم یُعطَ کَانَ کَلَابِسِ ثَوبَی زُورِ [ that is, whoever adorns himself (or herself) with what has not been given to him (or her) (that is, claims a quality or deed not in him or her) then, it is as if he has put on two garbs of a lie – [ Mishkat ].
There is another Hadith in which one who makes Salah with care and concern, whether in public or in private, has been called a true servant of Allah:
اِن ال (علیہ السلام) عبدَ اِذا صَلَّی فِی السِّرِّ فَاَحسَنَ قَالَ اللہ تَعَالٰی ھٰزَا عَبدی
A person who performs Salah openly, then, does it well; and when performs it in private, then, does it well, then, Allah Ta'ala says: ` This is My servant - in truth. - Mishkat.
2. About the statement: رضِيَ اللَّـهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ (Allah is pleased with them, and they are pleased with Him - 119), it appears in Hadith that, after having blessed true believers with Jannah (Paradise), Allah Ta` ala will say: The real blessing is that I am pleased with you and now I shall never be displeased with you.
3. The words appearing after that are: ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (That is the great achievement). Indeed, so it is. When Allah Jalla Sha'nuhu, the Master, the Creator is pleased with you, what else could it be?
فَلِلَّہِ الحَمدُ اَوَّلَہ وَ اٰخِرَہ
All praises are for Allah from the beginning to the end.