Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
وَلَقَدۡ
dan sesungguhnya
أَهۡلَكۡنَا
Kami telah membinasakan
مَا
apa yang
حَوۡلَكُم
di sekitarmu
مِّنَ
dari
ٱلۡقُرَىٰ
negeri-negeri
وَصَرَّفۡنَا
dan Kami mengulang-ulang
ٱلۡأٓيَٰتِ
ayat-ayat
لَعَلَّهُمۡ
supaya mereka
يَرۡجِعُونَ
mereka kembali
وَلَقَدۡ
dan sesungguhnya
أَهۡلَكۡنَا
Kami telah membinasakan
مَا
apa yang
حَوۡلَكُم
di sekitarmu
مِّنَ
dari
ٱلۡقُرَىٰ
negeri-negeri
وَصَرَّفۡنَا
dan Kami mengulang-ulang
ٱلۡأٓيَٰتِ
ayat-ayat
لَعَلَّهُمۡ
supaya mereka
يَرۡجِعُونَ
mereka kembali
Terjemahan
Dan sungguh, telah Kami binasakan negeri-negeri di sekitarmu, dan juga telah Kami jelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami), agar mereka kembali (bertobat).
Tafsir
(Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitar kalian) yakni penduduk-penduduknya, seperti kaum Tsamud, kaum Ad dan kaum Luth (dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang) maksudnya Kami telah mengulang-ulang hujah-hujah Kami yang nyata (supaya mereka kembali.).
Tafsir Surat Al-Ahqaf: 26-28
Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka itu tidak berguna sedikit pun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokannya.
Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertobat). Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai tuhan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka, bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan. Allah ﷻ berfirman, bahwa Kami telah meneguhkan umat-umat terdahulu dalam kehidupan di dunia dalam hal harta benda dan anak-anak, dan Kami telah memberikan kepada mereka sebagian dari hal itu dalam jumlah yang belum pernah Kami berikan kepadamu hal yang semisal dengannya dan tidak pula mendekatinya.
dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka itu tidak berguna bagi mereka sedikit jua pun, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokannya. (Al-Ahqaf: 26) Yakni mereka telah diliputi oleh azab dan pembalasan yang dahulunya mereka dustakan dan mereka anggap mustahil kejadiannya.
Dengan kata lain, maksud ayat ini ialah memperingatkan kepada orang-orang yang diajak bicara olehnya untuk bersikap hati-hati dan waspada, jangan meniru mereka, karena berakibat akan tertimpa azab dan pembalasan seperti apa yang telah Allah timpakan kepada mereka, yaitu azab di dunia dan akhirat. Firman Allah ﷻ: Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu. (Al-Ahqaf: 27) Yakni penduduk kota Mekah.
Allah telah membinasakan umat-umat yang telah mendustakan rasul-rasul Allah yang berada di sekitar Mekah, seperti kaum Ad. Kaum Ad tinggal di Al-Ahqaf di Hadramaut, yaitu negeri Yaman. Dan kaum Samud yang tempat tinggal mereka terletak antara Mekah dan negeri Syam. Demikian pula penduduk Saba yang terletak di negeri Yaman. Juga penduduk kota Madyan yang tempat tinggal mereka berada di tengah jalan yang biasa dilalui oleh penduduk Mekah menuju ke Gazzah (Palestina).
Juga kaum Lut yang tempat tinggal mereka telah diubah menjadi danau, mereka (penduduk Mekah) biasa melewatinya pula. Firman Allah ﷻ: dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang. (Al-Ahqaf: 27) Yakni Kami telah menerangkan dan menjelaskannya kepada mereka. supaya mereka kembali (bertobat). Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai tuhan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka. (Al-Ahqaf: 27-28) Yaitu mengapa sembahan-sembahan mereka itu tidak dapat menolong mereka di saat mereka memerlukan pertolongannya? Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? (Al-Ahqaf: 28) Maksudnya, pergi dari mereka di saat mereka memerlukan pertolongannya.
Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan. (Al-Ahqaf: 28) Yakni apa yang mereka ada-adakan dari diri mereka sendiri, yaitu menyembah tuhan-tuhan selain Allah. Sesungguhnya mereka telah merugi dan teramat kecewa karena menyembah banyak tuhan dan berpegang kepada sembahan-sembahan itu. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Azab Allah tidak hanya menimpa kaum 'Ad tetapi juga menimpa siapa pun yang durhaka kepada Tuhan. Kepada penduduk Mekah, Allah memperingatkan, Dan sungguh, wahai penduduk Mekah telah Kami binasakan penduduk negeri-negeri di sekitarmu seperti kaum 'Ad yang tinggal di Ahqaf, Kaum Samud yang tinggal di antara Mekah dan Syam, kaum Saba' di Yaman, dan kaum Madyan yang dilewati oleh penduduk Mekah dalam perjalanan mereka di musim panas dan dingin, dan juga telah Kami jelaskan berulang-ulang dan dengan bermacam-macam cara tanda-tanda kebesaran Kami, agar mereka kembali, yakni bertobat dari kedurhakaan mereka. Akan tetapi mereka tidak menghiraukan peringatan kami, maka Kami hukum mereka dengan azab yang pedih. 28. Maka mengapa berhala-berhala dan tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah untuk mendekatkan diri kepada-Nya tidak dapat menolong mereka' Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka ketika siksaan dijatuhkan kepada mereka' Itulah bukti bahwa berhala-berhala yang mereka sembah itu tidak dapat menyelamatkan mereka dari azab Allah. Dan itulah akibat kebohongan mereka yang menganggap bahwa berhala-berhala adalah sekutu bagi Allah dan merupakan buah dari apa yang dahulu mereka ada-adakan yakni pendustaan terhadap Allah dan RasulNya. Ayat ini merupakan kecaman terhadap penduduk Mekah yang menyembah berhala-berhala sebagai sekutu Allah. Sekiranya berhala-berhala yang mereka sembah itu berguna bagi mereka, niscaya berguna pula bagi umat sebelum mereka yang telah dibinasakan. Tetapi berhala-berhala itu tidak berguna sedikit pun, bahkan mereka lenyap ketika azab Tuhan dijatuhkan.
Allah mengingatkan kaum musyrik Mekah agar mereka mengambil pelajaran dari pengalaman pahit yang telah dialami oleh orang-orang dahulu, yang telah mendustakan rasul yang diutus kepada mereka. Orang-orang dahulu itu bertempat tinggal tidak jauh dari Mekah seperti kaum 'Ad di Ahqaf, dan kaum Samud yang berdiam di daerah antara Mekah dan Syam. Kepada mereka telah diterangkan pula tanda-tanda keesaan, kekuasaan, dan kebesaran Allah dan telah disampaikan pula agama-Nya. Akan tetapi, mereka tidak mengacuhkannya, bahkan mengingkari dan memperolok-olokkan para rasul. Pada waktu azab menimpa mereka, tidak ada satu pun dari sembahan-sembahan itu yang dapat menolong mereka, bahkan sembahan-sembahan berupa patung yang tak bernyawa itu ikut hancur-lebur bersama mereka.
Itulah kebohongan dan pengingkaran umat-umat dahulu dan itu pula balasan dan azab yang mereka terima. Dari ayat ini, terkandung suatu ancaman Allah kepada orang-orang musyrik Mekah bahwa mereka pasti ditimpa azab, seperti yang dialami kaum 'Ad, Samud, dan umat yang lain apabila mereka tetap tidak mengindahkan seruan Muhammad ﷺ sebagai rasul Allah yang diutus kepada mereka.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
PERINGATAN TENTANG KAUM ‘AD!
“Dan ingatlah saudara ‘Ad."
(pangkal ayat 21)
‘Ad itu adalah nama dari suatu kaum, termasuk bangsa Arab zaman purbakala di tanah Hadhramaut. Saudara mereka itu yang diutus menyampaikan petunjuk dan peringatan Allah kepada mereka ialah Nabi Hud. Dimasukkan dalam ayat ini dan juga dalam ayat-ayat yang lain bahwa Nabi Hud itu adalah saudara, adalah keluarga, bukan orang lain, daripada kaum ‘Ad itu."Ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di bukit pasir." Negeri tempat Nabi Hud itu diutus, sebagaimana yang telah kita jelaskan tadi ialah di negeri Hadhramaut Sebagaimana juga d i tanah-tanah Arab yang lain, lebih banyaklah di sana padang-padang dan bukit-bukit yang umumnya terdiri daripada pasir belaka. Pasir yang dikumpulkan oleh perkisaran angin, mes-kipun Hadhramaut itu tanah yang ada sedikit air di sana, jika dibandingkan dengan daerah lain."Dan sesungguhnya telah terdahulu peringatan-peringatan di hadapan mereka dan di belakang mereka." Artinya bahwasanya Nabi yang datang kepada kaum itu bukanlah Nabi Hud itu. Sebelum Hud dalam masa yang dekat ada juga yang memberi peringatan. Agar mereka jangan berlaku sewenang-wenang, berlaku zalim, curang, penipuan, dan mengambil harta orang lain dengan jalan tipu, dan yang pokok dan segala kesalahan dalam hidup itu ialah karena tidak ada pegangan yang teguh, yaitu tidak ada kepercayaan yang teguh bulat kepada Allah."Bahwa janganlah mereka menyembah kecuali kepada Allah." Inilah yang menjadi pokok ajaran yaitu menyembah kepada Allah yang Maha Esa.
“Sesungguhnya aku adalah takut akan jatuh atas kamu adzab yang besar."
(ujung ayat 21)
Yaitu selama kamu masih memperturutkan hawa nafsu kamu, kehendak selera yang tidak berbatas, lupa akan kekuasaan Allah atas alam sekalian dan terutama atas dirimu sendiri, akan hilanglah pedoman hidup dan kucar-kacirlah hidupmu, hilang pegangan dan jatuhlah kamu hancur karena siksaan batin di dunia dan neraka di akhirat.
Begitulah seruan saudara mereka yang bernama Hud itu ke atas mereka. Seruan dari saudara kandung sendiri sebagaimana Nabi Muhammad pun adalah saudara kandung dari orang Quraisy dan saudara sebangsa dan sekaum dengan Arab seluruhnya dan manusia seumumnya. Namun mereka tidak mau terima, atau mereka tidak peduli.
“Mereka berkata, ‘Apakah engkau datang kepada kami karena hendak memutar kami daripada tuhan-tuhan kami.'"
(pangkal ayat 22)
Mereka bertanya, tetapi pertanyaan berisi bantahan. Mereka menafsirkan lain! Nabi menyeru mereka agar kembali mengakui bahwa Allah itu hanya Esa, tidak bersekutu dengan yang lain. Lalu mereka salah terima dan bertanya, apakah maksudmu menyuruh kami bertuhan kepada Allah yang kamu katakan Esa atau Satu itu supaya kami tidak percaya lagi kepada tuhan-tuhan kami yang banyak itu? Mereka bertanya, tetapi pertanyaan sudah berisi sanggahan. Mereka tidak mau tuhan-tuhan mereka diputar-putar dan dibelok-belok. Lalu dengan pongahnya mereka berkata, “Maka datangkanlah kepada kami apa yang engkau ancamkan itu." Cobalah kepada kami kalau memang engkau berkuasa untuk memutar-mutar pendirian kami.
“Jika adalah engkau daripada orang yang berlari"
(ujung ayat 22)
Ini adalah suatu tantangan yang benar-benar timbul daripada kesombongan. Namun sebagai seorang Rasul yang memang benar-benar tahu akan tugasnya, Nabi Hud tidak lupa, dan tidak marah. Dia sendiri tidaklah berkuasa buat menjawab tantangan mereka itu. Dia pun insaf bahwa dia pun manusia seperti mereka. Sebab itu,
“Dia berkata, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang itu adalah di sisi Allah.
(pangkal ayat 23)
Aku sendiri tidaklah kuasa menjawab tantanganmu dan bukan itu pula tugasku. Lalu dia jelaskan tugasnya."Dan aku menyampaikan kepada kamu apa yang aku disuruh menyampaikannya." Aku menyampaikan bahwa Allah itu adalah Esa. Jangan kamu persekutukan dengan yang lain. Tidak sedikit jua pun kekuasaan pada yang lain itu buat menambah atau mengurangi kekuasaan mutlak yang datang dari Allah.
“Tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh."
(ujung ayat 23)
Mempersekutukan Allah dengan yang lain adalah suatu kebodohan. Inilah yang telah mulai dijelaskari dalam ayat ini. Kaum yang mempersekutukan Allah dengan yang lain, seumpama orang Hindu Brahma di India, yang sangat banyak yang mereka anggap suci, yang mereka anggap dewa, sehingga sampai kepada sapi, sampai kepada kera yang mereka beri nama Hanoman sampai kepada kayu-kayuan dan tempat-tempat yang mereka anggap sakti dan angker, namun dalam inti sari agama yang mendalam mengakui bahwa sumber kekuasaan itu adalah Esa jua yang mereka namai Brahma. Demikian pun orang Persia yang mempunyai dua tuhan, Ahura Mazda dan Ahriman, Tuhan dari sinar terang dan kegelapan, tuhan dari siang dan malam, tuhan dari buruk dan baik, namun pada hakikat sejati, mereka pun mengakui bahwa akhirnya yang menang ialah Tuhan sinar terang juga. Sampai kepada masa kita kini, orang yang menganut agama Hindu di Pulau Bali Indonesia yang menyembah berbagai dewa, mambang dan peri, namun mereka pun mengetahui bahwa Tuhan yang jadi sumber dari segala kekuatan ialah Sang Hyang Widhi, artinya ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka pikiran mereka menjalar, kadang-kadang berkhayat dan kadang-kadang berfilsafat sehingga sampai kepada berpuluh dan beratus tuhan-tuhan padahal mereka pun mengakui akan adanya Yang Maha Esa! Oleh sebab itu menambah dan memperbanyak Tuhan itu adalah dari sebab kebodohan saja, memperturutkan khayat pikiran yang tidak berujung, lama-lama diakui sebagai suatu kenyataan.
Mereka menantang Nabi Hud minta diturunkan adzab itu sekarang juga, kalau memang adzab itu ada. Nabi Hud dengan segala kerendahan hati mengakui bahwa kekuasaan untuk itu hanya ada di tangan Allah, dia sendiri tidak kuasa berbuat kuasa sebesar itu. Inilah keyakinan dan kesabaran dari seorang Nabi yang harus menjadi perbandingan bagi tiap-tiap pejuang menegakkan kebenaran.
“Maka tatkala telah mereka lihat akan dia terbentang di langit di hadapan lembah-lembah mereka, mereka pun berkata, inilah awan akan menghujani kita!'"
(pangkal ayat 24)
Nabi Hud dengan kerendahan hati telah mengatakan bahwa beliau tidaklah ada kuasa apa-apa akan menurunkan adzab sebagaimana yang mereka minta dan mereka menentang kepada seruan Allah. Mendengar jawaban Nabi Hud yang demikian, tentu saja mereka bertambah sombong dan mempertahankan pendirian mereka memperbuat tuhan-tuhan, atau dewa-dewa dengan tangan sendiri itu. Tiba-tiba kelihatan awan mendung di langit amat tebal sekali. Mereka telah bergembira karena menyangka bila awan telah kelihatan tebal dan mendung telah menghitam, mereka sangka itulah tanda hari akan hujan. Melihat mendung telah menebal, mereka gembira sekati tanda hari akan hujan, tanda tanah akan subur, lalu mereka berkata,"Inilah awan akan menghujani kita!" Mereka sangat gembira. Sudah lama hujan tidak turun.
Tetapi apa yang kelihatan itu? Hujan memang hujan! Tetapi bukan hujan rahmat menyuburkan bumi, melainkan hujan laknat menghancurkan bumi. Inilah dia permintaan mereka telah terkabul, sebagai yang tersebut dalam ayat 22 di atas tadi,"Datangkan kepada kami apa yang engkau ancamkan itu!" Sekarang adzab itu telah datang. Tersebut pada lanjutan ayat, “Tetapi inilah dia apa yang kamu minta percepat akan dia." Hujan lebat disertai taufan halilintar, kilat sambung-menyambung, guntur dan guruh yang dahsyat lagi menakutkan.
“Angin yang padanya ada adzab yang amat pedih."
(ujung ayat 24)
Badai pun tiba, angin menderu, hujan tidak berhenti-henti. Lamanya tujuh malam dan delapan hari, berturut-turut tidak berhenti-henti. Sedangkan hujan satu hari saja lagi membawa bericana besar, apatah lagi kalau sampai tujuh malam delapan hari.
“Yang merusak-binasakan tiap-tiap sesuatu dengan perintah Tuhannya maka dengan cepat sekati tidak ada yang dilihat melainkan bekas-bekas rumah kediaman mereka."
(pangkal ayat 25)
Sehingga habislah punah kaum ‘Ad itu mati tenggelam, mati hanyut, mati dilanda air, mati terhimpit batu runtuh, dan mati karena bericana yang begitu dahsyatnya selama tujuh hari sebagai tersebut dalam surah al-Haqqah ayat 6 dan 7.
Tidak ada lagi yang dilihat melainkan bekas rumah-rumah mereka yang telah runtuh. Orangnya yang masih hidup tidak ada lagi, semua sudah berserak jadi bangkai.
Di akhir ayat berfirman Allah,
“Demikianlah Kami memberikan ganjaran kepada kaum yang durhaka."
(ujung ayat 25)
Maka kebesaran, kesombongan karena kekayaan yang diberikan Allah selama ini sampai juga mereka disebut kaum Iram, yaitu iram dzatil ‘immad. Iram yang mempunyai tonggak yang tinggi-tinggi, tonggak kemegahan baik karena rumah-rumah dan gedung-gedung yang mereka dirikan menjulang langit kata orang sekarang dan kata setengah ahli riwayat, orang ‘Ad itu sendiri orangnya tinggi semampai, gagah perkasa. Apalah artinya tinggi semampai, gagah perkasa jika berhadapan dengan Allah. Tidak beribu orang yang tinggi semampai, gagah perkasa yang sanggup menghentikan hujan tujuh malam delapan hari tidak berhenti-henti siang dan malam.
Kemudian itu Allah memberi ingat kepada umat yang didatangi Nabi Muhammad,
“Sesungguhnya telah Kami teguhkan kedudukan mereka pada barang yang tidak Kami teguhkan kamu padanya."
(pangkal ayat 26)
Di pangkal ayat ini Rasulullah ﷺ disuruh menjelaskan lagi kepada kaum Quraisy untuk membandingkan hal mereka dan perlawanan mereka dengan kaum ‘Ad yang telah kena adzab Allah itu. Dikatakan bahwasanya kaum ‘Ad tersebut masih jauh tinggi kedudukan mereka, peradaban dan kebudayaan mereka dari kaum Quraisy."Kedudukan mereka diteguhkan," baik karena bagusnya edaran ekonomi atau karena tingginya mutu pembangunan, sehingga terkenallah mereka dengan berbagai keahlian membangun rumah-rumah yang indah sebagai tempat tinggal, yang orang Quraisy belum mencapai peradaban setinggi itu."Dan telah Kami jadikan bagi mereka itu pendengaran dan penglihatan dan hati."
Ayat ini menjelaskan bahwasanya kaum ‘Ad itu telah mencapai kecerdasan yang tinggi sekali. Karena kecerdasan manusia itu terbayang pada ketinggian tingkat pendengaran, penglihatan, dan hati. Karena dari keduanya itulah, pendengaran dan penglihatan, sebagai penyambung di hati manusia dengan alam yang di kelilingnya. Penglihatan melihat keindahan dalam alam, campuran warna pada langit, pada gunung yang menghijau, pada langit yang membiru, pada bunga yang berkembang. Dengan pendengaran kita mendengarkan bunyi yang indah, yang merdu. Kedua pancaindra inilah yang mengangkut dan mengangkat segala keindahan warna dan bunyi itu ke dalam hati dan oleh hati supaya dirasakan, diresapkan sehingga manusia pun berusaha menyesuaikan penglihatan dan pendengarannya dengan perasaan yang tumbuh, kesan yang tinggal dalam hati. Tetapi sayang sekali kaum ‘Ad itu. Mereka telah mempunyai kecerdasan pikiran karena tajamnya penglihatan dan halusnya pendengaran dan dibawa ke hati."Maka tidaklah mencukupi bagi mereka itu pendengaran mereka dan tidak penglihatan mereka dan tidak pula hati mereka sesuatu pun."
Itulah malang yang sebesar-besarnya! Mengapa? Dengan cerdasnya pendengaran dan penglihatan, terasalah oleh hati keindahan alam di keliling kita. Keindahan atau estetika itu akhirnya akan menimbulkan seni, yaitu usaha manusia menyatakan kesan dalam hatinya itu melihat dan mendengar alam. Maka seni itulah yang dinamai oleh orang Inggris reflection atau kesanmu melihat dan mendengar yang indah? Kesan utama ialah bahwa sesuatu yang indah adalah ciptaan dari Yang Mahaindah. Ada tiga unsur yang berbeda sebutan bersatu hakikat, yaitu keindahan, keadiian, dan kebenaran. Orang yang kesannya telah sampai akan merasakan bahwa indah, adil, dan benar adalah sifat belaka daripada satu Zat, yaitu Yang Mahakuasa: itulah Allah!
Ini tidak dipahami oleh kaum ‘Ad. Memang mereka merasakan ada kekuasaan Mahatinggi, Mahakuasa mutlak, tetapi sayangnya mereka beranggapan bahwa dia itu adalah banyak, menjadi tuhan-tuhan. Sedang nabi-nabi dan di sini Nabi Hud membawa ajaran bahwasanya Yang Mahaindah, Mahaadil, dan Mahabenar hanya satu jua: Allah! Maka oleh karena mereka tidak sampai kepada kesimpulan begini tersesatlah mereka dan timbullah kesombongan karena merasa diri telah pintar. Kesombongan adalah cacat utama dan ilmu pengetahuan dan kesenian sejati! Sebab itu maka ditegaskan bahwa penglihatan dan pendengaran dan hati mereka tidak memberi faedah sesuatu jua pun dan dijelaskan apa sebabnya, yaitu"Tatkala mereka menyangkal terhadap ayat-ayat Allah." Lantaran itu berlakulah pada kehidupan mereka pepatah yang terkenal;"Karena tali telah kusut sejak dari pangkal, niscaya sampai ke ujung pun akan kusut terus dan susah menyelesaikannya." Maka yang kusut di sini ialah pikiran mereka sendiri!
“Dan menimpalah kepada mereka apa yang telah mereka permain-main lain itu."
(ujung ayat 26)
Ini adalah suatu kewajaran. Kusut di ujung tali ini terjadi karena telah kusut sejak dari pangkal. Mereka sangka ayat Allah main-main, mereka tantang kekuasaan Allah, akhirnya mereka sendiri rasakan akibat yang pahit sekal i. Mereka jadi kurban untuk jadi pengajaran bagi yang lain, terutama bagi anak cucu yang datang kemudian hari.
“Dan sesungguhnya telah Kami birasakan apa yang ada di sekeliling kamu dari negeri-negeri."
(pangkal ayat 27)
Di ayat ini Allah mengulangi peringatan-Nya bahwasanya di sekeliling negeri tempat mereka tinggal, yaitu tempat berdiam orang Quraisy, tegasnya negeri Mekah, telah banyak negeri yang telah dibirasakan Allah selain dari kaum ‘Ad itu telah dibirasakan juga kaum al-Ahqaaf di Hadhramaut Yaman Selatan, kaum Tsamud yang bertempat tinggal di antara negeri Hejaz dengan Syam dan pernah dilalui Nabi bersama sahabat-sahabat beliau ketika pergi ke suatu peperangan dan beliau larang sahabat-sahabat itu minum dari air yang terdapat di sana meskipun mereka sangat haus dan meskipun telah lama jarak masa kaum itu dengan zaman Nabi, demikian juga kaum Saba' di Shan'aa Yaman dan di negeri Madyan yang terletak dekat tempat jalan mereka menuju negeri Ghizzah, demikian juga sebuah danau kecil yang kemudiannya telah terkenal dengan danau kecil Luth, sebab di sana kaum Luth itu dihancurkan oleh Allah.
“Dan telah Kami bertikan penjelasan tentang ayat-ayat supaya mereka kembali."
(ujung ayat 27)
Artinya bahwasanya adzab itu tidaklah langsung saja datang, melainkan terlebih dahulu telah diberikan penjelasan, keterangan, bukti-bukti dan hujjah dan alasan sehingga tidak ada lagi yang dapat mereka pertahankan. Terang bahwa mereka yang telah berkeras kepala menolak kebenaran itu, malahan sebagaimana tersebut tadi, ada mereka yang berani menentang Allah dan meminta kalau adzab itu memang ada, datangkan sekarang juga. Namun Nabi Hud memberikan penjelasan agar mereka kembali kepada jalan yang benar, jangan sombong, dan jangan mencoba main-main dan memandang enteng kepada Allah.
“Mengapa tidak menolong kepada mereka apa yang hteneka ambit selain dari Allah itu menjadi tuhan-tuhan untuk mendekatkan mereka?"
(pangkal ayat 28)
Siang malam mereka tunggang-tungging memuja, membakar kemenyan, bersimpuh-simpuh meletakkan segala kepercayaannya dan pengharapannya kepada yang selain Allah itu. Sekarang mereka telah kena murka dari Allah Ta'aala sendiri, telah dihancurkan, dihanyutkan, dibirasakan dengan badai dan berbagai adzab siksaan. Mana dia yang kamu sembah selain Allah itu? Mana dia? Mengapa dia tidak datang menolong dan membela? Mereka membisu?"Bahkan mereka telah menyesatkan mereka!" Berhala-berhala dan segala macamyang mereka sembah selain Allah itu telah diam dalam seribu bahasa karena mereka tidak mempunyai kuasa apa-apa, bahkan yang menyembah dan memuja mereka itulah yang lebih berkuasa, yang lebih bisa bergerak.
“Begitulah kebohongan mereka dan apa yang mereka karang-karangkan itu."
(ujung ayat 28)
Begitulah dalam ayat-ayat ini dijelaskan sebab-sebab datangnya adzab dan siksa sehingga sampai hancur, hanya tinggal bekasnya, hanya tinggal rumah-rumah yang telah kosong dan orangnya habis disapu siksaan. Sebab utama dan semuanya ini ialah karena lupanya manusia akan kondisi dirinya, akan kelemahannya, akan masanya yang sangat terbatas di dunia. Yang tidak benar, yang khayat itulah yang mereka percayai. Takhayul dan khurafat, pikiran kacau mereka berebut memegang, tetapi kebenaran sejati mereka singkirkan. Maka datanglah kebinasaan dan bila kebinasaan datang, tidaklah dapat diperbaiki lagi. Cuma orang yang datang di belakanglah yang mestinya tidak menempuh jalan yang salah itu lagi.
The Story of `Ad
Allah says, consoling His Prophet in regard to the rejection of those who opposed him among his people,
وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ
And remember the brother of `Ad,
This refers to Hud, peace be upon in him.
إِذْ أَنذَرَ قَوْمَهُ بِالاَْحْقَافِ
when he warned his people in Al-Ahqaf.
Allah sent him to the first people of `Ad who inhabited Al-Ahqaf.
Ahqaf is plural of Haqf. According to Ibn Zayd, it means a sand dune; and according to Ikrimah, it means a mountain or a cave.
Qatadah said:
We were informed that `Ad was a tribe in Yemen. They dwelt among sand (hills), and overlooked the sea in a land called Ash-Shihr.
Under the chapter, He Who supplicates should first mention Himself, Ibn Majah recorded that Ibn Abbas narrated that the Prophet said:
يَرْحَمُنَا اللهُ وَأَخَا عَاد
May Allah have mercy on us and the Brother of `Ad.
Allah then says,
وَقَدْ خَلَتْ النُّذُرُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ
And surely, warners had already passed on before him and after him.
meaning, Allah had sent Messengers and warners to the towns surrounding the land of `Ad.
This is similar to Allah's saying,
فَجَعَلْنَـهَا نَكَـلً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا
And We made it a deterrent punishment for those who were present and those who succeeded them. (2:66)
And it is also similar to Allah's saying,
فَإِنْ أَعْرَضُواْ فَقُلْ أَنذَرْتُكُمْ صَـعِقَةً مِّثْلَ صَـعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ إِذْ جَأءَتْهُمُ الرُّسُلُ مِن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ اللَّهَ
But if they turn away, then say:I have warned you of a thunderbolt like the thunderbolt that struck `Ad and Thamud. (That occurred) when the Messengers had come to them from before them and after them (saying):Worship none but Allah. (41:13-14)
أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ اللَّهَ
Worship none but Allah;
Allah then says,
إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
truly, I fear for you the torment of a mighty Day.
meaning, Hud said this to them (his people), and they responded to him saying
قَالُوا أَجِيْتَنَا لِتَأْفِكَنَا عَنْ الِهَتِنَا
Have you come to delude us from our gods,
meaning, to prevent us
عَنْ الِهَتِنَا
(from our gods),
فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ
Then bring us that with which you threaten us, if you are one of the truthful!
They sought to hasten Allah's torment and punishment, believing that it will not happen.
This is similar to Allah's saying,
يَسْتَعْجِلُ بِهَا الَّذِينَ لَا يُوْمِنُونَ بِهَا
Those who do not believe in it (the Last Hour) seek to hasten it, (42:18).
Hud's response was,
قَالَ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِندَ اللَّهِ
He said:The knowledge (of that) is only with Allah.
which means, `Allah knows best about you. If you deserve the punishment to be hastened, He will do that to you.
وَأُبَلِّغُكُم مَّا أُرْسِلْتُ بِهِ
And I convey to you that wherewith I have been sent,
i.e. As for me, my duty is to deliver my message to you.'
وَلَكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ
But I see that you are a people given to ignorance!
which means, `you have no comprehension or understanding.'
Allah then says
فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ
Then, when they ﷺ it as a dense cloud approaching their valleys,
meaning, when they ﷺ the punishment coming towards them, they thought it to be clouds full of rain. That made them happy and joyful, because they had a drought and needed rain.
قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا
they said:This is a cloud bringing us rain!
Allah then said,
بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُم بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ
Nay, but it is that which you were asking to be hastened -- a wind wherein is a painful torment!
meaning, this is the torment that you called for saying, Bring to us what you promise us if you should be of the truthful.
تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ
Destroying every thing,
meaning, destroying every part of their land that could normally be destroyed.
بِأَمْرِ رَبِّهَا
by the command of its Lord!
meaning, it had Allah's permission to do that.
This is similar to Allah's saying,
مَا تَذَرُ مِن شَىْءٍ أَتَتْ عَلَيْهِ إِلاَّ جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيمِ
It spared nothing that it reached, but blew it into broken spreads of rotten ruins. (51:42)
meaning, like something dilapidated (or decrepit). Because of this,
Allah says,
فَأَصْبَحُوا لَاأ يُرَى إِلاَّ مَسَاكِنُهُمْ
So they became such that nothing could be seen except their dwellings!
means, all of them were destroyed, and none of them were spared.
Allah then says:
كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ
Thus do We recompense the criminal people!
which means that this is Our judgement regarding those who reject Our Messengers and disobey Our commands.
Imam Ahmad recorded from A'ishah, may Allah be pleased with her, that she said,
I never ﷺ Allah's Messenger fully laughing so that I would see his uvula. He would only smile.
She added that when Allah's Messenger ﷺ clouds or wind, that would reflect on his face (as discomfort). She asked him:
O Allah's Messenger! When the people see clouds, they become happy, hoping that they bring them rain. But I notice that when you see them, displeasure appears on your face.
Allah's Messenger replied,
يَا عَايِشَةُ مَا يُوْمِنُنِي أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ قَدْ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيحِ وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ الْعَذَابَ وَقَالُوا هذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا
O `A'ishah! What would guarantee to me that they do not bring punishment Some nations had been punished with wind. On seeing the punishment approaching them, a nation once said:This is a cloud bringing us rain.
This is also recorded by Al-Bukhari and Muslim.
Imam Ahmad recorded that A'ishah, may Allah be pleased with her, said that when Allah's Messenger ﷺ clouds on any of the horizons, he would leave whatever he was doing -- even if he was in prayer -- and say:
اللْهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيه
O Allah! I seek refuge with you from any harm that it (the cloud) contains.
If Allah removed those clouds, the Prophet would praise Allah, and if rain fell, he would say:
اللْهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
O Allah! Make it pouring and beneficent.
Muslim also recorded in his Sahih from A'ishah, may Allah be pleased with her, that when the wind blew, Allah's Messenger would say,
اللْهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِه
O Allah! I ask You of its good, the good that it contains, and the good with which it has been sent. And I seek refuge in You from its evil, the evil that it contains, and the evil with which it has been sent.
She added that if the sky became cloudy, his color would change; he would exit, enter, come, and go.
When it rained, his anxiety would be relieved.
When A'ishah, may Allah be pleased with her, noticed that, she asked him about it and he said:
لَعَلَّهُ يَا عَايِشَةُ كَمَا قَالَ قَوْمُ عَادٍ
فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا
O `A'ishah! It could be like what the people of `Ad said,
(Then, when they ﷺ it as a dense cloud approaching their valleys, they said:This is a cloud bringing us rain!)
We have previously mentioned the story of the destruction of the people of `Ad in both Surah Al-A`raf and Surah Hud. Thus, there is no need to repeat it here; and verily Allah is worthy of all praise and gratitude
Allah says,
وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِن مَّكَّنَّاكُمْ فِيهِ
And indeed We had firmly established them with that wherewith We have not established you!
means, `We have granted the earlier nations wealth and offspring in the worldly life. That which We granted them, we did not give you anything similar or close to it.'
Furthermore,
وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْيِدَةً
فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْيِدَتُهُم مِّن شَيْءٍ
إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِأيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِوُون
We also gave them hearing, vision, and hearts. But their hearing, vision, and hearts availed them nothing when they used to deny Allah's signs, and they were completely encircled by that which they used to ridicule!
meaning, they were encircled by the torment and exemplary punishment that they denied and whose occurrence they doubted.
This means, you listeners must beware of being like them lest a punishment similar to theirs strikes you in this life and the Hereafter.
Allah then says
وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا مَا حَوْلَكُم مِّنَ الْقُرَى
And indeed We have destroyed towns round about you,
This is addressed to the people of Makkah.
Allah destroyed the nations who disbelieved in the Messengers who lived around Makkah, such as
`Ad who were at Al-Ahqaf in Hadramawt near Yemen,
Thamud whose dwellings were between Makkah and Ash-Sham (Greater Syria),
Saba' who were in Yemen,
the people of Madyan who were on the route and passage to Ghazzah (Western Palestine), and
the people of Lut who dwelt by the lake (the Dead Sea) which they used to pass by (on the way to Jordan) as well.
Allah then says,
وَصَرَّفْنَا الاْيَاتِ
and We have shown (them) the signs in various ways,
meaning, `We explained and clarified them.'
لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
فَلَوْلَا نَصَرَهُمُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ قُرْبَانًا الِهَةً
so that perhaps they might return.
As for those whom they had taken for gods besides Allah, as the means of approach to Him, why then did they not aid them?
meaning, did they help them when they were in the greatest need for them?
بَلْ ضَلُّوا عَنْهُمْ
but they vanished completely from them.
Rather, they completely left them alone when they needed them the most.
وَذَلِكَ إِفْكُهُمْ
And that was their falsehood, (meaning, their lie).
وَمَا كَانُوا يَفْتَرُونَ
and what they were fabricating.
which means that they fabricated lies by taking them as gods, and they lost and failed in their worship of them and their reliance upon them -- and Allah knows best.
And We certainly destroyed the towns [that were] around you, that is, [We destroyed] their inhabitants, the likes of Thamood, 'aad and the people of Lot, and We dispensed the signs, We repeated the clear proofs, so that perhaps they might return.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.








