Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
أُوْلَٰٓئِكَ
mereka itu
أَصۡحَٰبُ
penghuni
ٱلۡجَنَّةِ
surga
خَٰلِدِينَ
mereka kekal
فِيهَا
didalamnya
جَزَآءَۢ
balasan
بِمَا
terhadap apa
كَانُواْ
adalah mereka
يَعۡمَلُونَ
mereka kerjakan
أُوْلَٰٓئِكَ
mereka itu
أَصۡحَٰبُ
penghuni
ٱلۡجَنَّةِ
surga
خَٰلِدِينَ
mereka kekal
فِيهَا
didalamnya
جَزَآءَۢ
balasan
بِمَا
terhadap apa
كَانُواْ
adalah mereka
يَعۡمَلُونَ
mereka kerjakan
Terjemahan
Mereka itulah para penghuni surga, kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
Tafsir
(Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya) lafal Khaalidiina Fiihaa menjadi Hal atau kata keterangan keadaan (sebagai balasan) menjadi Mashdar yang dinashabkan oleh Fi'ilnya yang diperkirakan keberadaannya, yaitu lafal Yujzauna; artinya: mereka diberi pahala sebagai balasan (atas apa yang telah mereka kerjakan.).
Tafsir Surat Al-Ahqaf: 10-14
Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al-Qur'an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al-Qur'an, lalu dia beriman, sedangkan kamu menyombongkan diri Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.. Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, "Kalau sekiranya dia (Al-Qur'an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata, "Ini adalah dusta yang lama.
Dan sebelum Al-Qur'an itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Al-Qur'an) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka tetap istigamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya-sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
Allah ﷻ berfirman: Katakanlah. (Al-Ahqaf: 10) hai Muhammad, kepada orang-orang musyrik yang mengingkari Al-Qur'an. Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al-Qur'an ini datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya. (Al-Ahqaf: 10) Yakin menurut dugaan kalian apakah yang akan dilakukan Allah terhadap diri kalian jika memang Al-Kitab yang aku datangkan kepada kalian ini benar-benar telah diturunkan oleh-Nya kepadaku agar aku menyampaikannya kepada kalian, padahal kalian mengingkari dan mendustakannya. dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al-Qur'an. (Al-Ahqaf: 10) Yaitu aitu kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi sebelumku telah membenarkan dan mengakui keabsahan dari Al-Qur'an Kitab-kitab terdahulu itu telah memberitakan tentangnya, sebagaimana yang diberitakan oleh Al-Qur'an ini.
Firman Allah ﷻ: lalu dia beriman. (Al-Ahqaf: 10) Maksudnya, orang dari kalangan Bani Israil yang menyaksikan kebenaran Al-Qur'an ini karena dia mengetahui hakikat dan Al-Qur'an. sedangkan kamu menyombongkan diri. (Al-Ahqaf: 10) Yakni kamu dan para pengikutmu bersikap angkuh terhadapnya. Masruq mengatakan bahwa lalu berimanlah orang yang menjadi saksi ini kepada nabi dan kitab-Nya, sedangkan kalian kafir kepada nabi kalian dan juga kepada kitab kalian. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al-Ahqaf: 10) Kata asy-syahid ini adalah isim jinsi yang pengertiannya bersifat menyeluruh mencakup Abdullah ibnu Salam dan lain-lainnya yang beriman.
Ayat ini adalah Makkiyyah, diturunkan sebelum masuk Islamnya Abdullah ibnu Salam r.a. Dan pengertiannya sama dengan firman Allah ﷻ: Dan apabila dibacakan (Al-Qur'an itu) kepada mereka, mereka berkata "Kami beriman kepadanya; sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan (nya)." (Al-Qashash: 53) Dan firman Allah ﷻ: Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila dibacakan Al-Qur'an kepada mereka mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud dan mereka berkata, "Mahasuci Tuhan kami; sesungguhnya janji tuhan kami pasti dipenuhi. (Al-Isra: 107-108) Masruq dan Asy-Sya'bi mengatakan bahwa orang yang dimaksud bukanlah Abdullah ibnu Salam karena ayat ini Makkiyah, sedangkan masuk Islamnya Abdullah ibnu Salam r.a. adalah di Madinah.
Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkan atsar ini dari keduanya, dan Ibnu Jarir memilih pendapat ini. Malik telah meriwayatkan dari Abun Nadr, dari Amir ibnu Sa'd dari ayahnya yang mengatakan, "Aku belum pernah mendengar Rasulullah ﷺ berkata kepada seseorang yang berjalan di muka bumi bahwa sesungguhnya dia termasuk ahli surga kecuali kepada Abdullah ibnu Salam r.a. Sa'd mengatakan bahwa berkenaan dengan Abdullah ibnu Salam diturunkan ayat berikut, yaitu firman-Nya: dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al-Qur'an. (Al-Ahqaf: 10) Imam Bukhari dan Imam Muslim serta Imam Nasai telah meriwayatkannya melalui, hadis Malik dengan sanad yang sama.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abbas r.a., Mujahid, Ad-Dahhak, Qatadah Ikrimah Yusuf ibnu Abdullah ibnu Salam, Hilak ibnu Yusaf, As-Saddi As-Sauri' Malik ibnu Anas, dan Ibnu Zaid; mereka semuanya mengatakan bahwa sesungguhnya yang dimaksud dalam ayat adalah Abdullah ibnu Salam. Firman Allah ﷻ: Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, "Kalau sekiranya dia (Al-Qur'an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. (Al-Ahqaf: 11) Yakni mereka mengatakan tentang orang-orang yang beriman kepada Al-Qur'an bahwa sekiranya Al-Qur'an itu baik, tentulah mereka tidak akan mendahului kami dalam beriman kepadanya.
Yang mereka maksudkan adalah Bilal, Ammar, Suhaib, dan Khabbab serta orang-orang mukmin lainnya yang serupa dengan mereka dari kalangan orang-orang mukmin yang lemah dan masih menjadi budak. Tidaklah mereka berpendapat demikian, melainkan mereka mempunyai keyakinan bahwa diri mereka mempunyai kedudukan di mata Allah dan diperhatikan oleh-Nya. Mereka berpandangan keliru dalam hal ini dan jelas parah kekeliruannya, karena disebutkan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya: Dan demikianlah telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian lain (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?" (Al-An'am: 53) Yakni mereka merasa heran mengapa orang-orang seperti itu mendapat petunjuk, sedangkan diri mereka tidak.
Karena itulah disebutkan oleh firman berikutnya: Kalau sekiranya dia (Al-Qur'an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. (Al-Ahqaf: 11) Adapun golongan ahli sunnah wal jamaah mengatakan tentang semua perbuatan dan ucapan yang tidak terbukti bersumber dari para sahabat berarti hal itu adalah bid'ah. Karena sesungguhnya seandainya hal itu baik, tentulah mereka mendahului kita beriman kepadanya, karena sesungguhnya tiada suatu perkara kebaikan pun yang mereka biarkan melainkan mereka (para sahabat) bersegera mengerjakannya Firman Allah ﷻ: Dan Karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata, 'Ini adalah dusta yang lama." (Al-Ahqaf.
11) Yakni apa yang terkandung di dalam Al-Qur'an itu adalah dusta yang lama. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa Al-Qur'an itu dikutip dan orang-orang dahulu. Mereka mendiskreditkan Al-Qur'an dan orang-orang yang beriman kepadanya. Hal inilah yang dinamakan sifat takabur yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya yang mengatakan: Menentang perkara yang hak (benar) dan meremehkan orang. kemudian disebutkan dalam firman berikutnya: Dan sebelum Al-Qur'an itu telah ada kitab Musa. (Al-Ahqaf: 12) Yakni kitab Taurat. sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Al-Qur'an) adalah kitab yang membenarkannya. (Al-Ahqaf: 12) Maksudnya, membenarkan kitab-kitab yang telah mendahuluinya.
dalam bahasa Arab. (Al-Ahqaf: 12) Yakni bahasa yang fasih, terang, dan jelas. untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al-Ahqaf: 12) Al-Qur'an itu mengandung peringatan buat orang-orang kafir dan berita gembira buat orang-orang mukmin. Firman Allah ﷻ: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami ialah Allah," kemudian mereka tetap istiqamah. (Al-Anqaf: 13) Tafsir ayat ini telah dikemukakan dalam tafsir surat Ha Mim Sajdah.
Firman Allah ﷻ: maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka. (Al-Ahqaf: 13) dalam menghadapi masa depan mereka. dan mereka tiada (pula) berduka cita. (Al-Ahqaf: 13) terhadap masa lalu mereka. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Ahqaf: 14) Yakm amal-amal perbuatan yang dahulu telah mereka kerjakan yang menyebabkan mereka memperoleh rahmat Allah yang terlimpahkan kepada mereka. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.".
13-14. Ayat sebelumnya ditutup dengan kabar gembira bagi orang-orang yang berbuat baik. Kini dijelaskan tentang keadaan dari orang-orang yang berbuat baik itu, yaitu sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami, pemelihara kami, adalah Allah,' kemudian mereka tetap istiq'mah bersungguh-sungguh meneguhkan pendirian mereka dengan melaksanakan tuntunan Allah, maka tidak ada rasa khawatir, tidak ada rasa takut pada mereka berkaitan dengan apa yang akan terjadi bagaimana pun dahsyatnya, dan tidak pula mereka bersedih hati apa pun keadaan yang dialami. Kelak di akhirat, mereka itulah para penghuni surga, kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. 15. Ayat-ayat yang lalu menjelaskan tuntunan tentang pemurnian akidah disertai perintah agar mengesakan Allah dan tidak menyekutukan kepada-Nya. Kini Allah mewasiatkan kepada umat manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan Kami telah mewasiatkan, yakni telah perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya dengan kebaikan yang sempurna. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula. Masa mengandung sampai menyapihnya yang sempurna adalah selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia, sang anak itu telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, merupakan usia yang menunjukkan kesempurnaan bagi perkembangan jasmani dan rohani manusia, maka dia berdoa, 'Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan berilah aku kemampuan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir turun temurun sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau atas segala dosa-dosaku dan sungguh, aku termasuk orang muslim, yang tunduk patuh dan berserah diri kepada Allah.
Pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah kemudian istikamah dalam keimanannya dengan melaksanakan ibadah dan perintah-perintah Allah, tetap bertawakal, dan menghindari larangan-larangan-Nya, akan memperoleh kebahagiaan abadi di akhirat, yaitu menjadi penghuni surga dan kekal di dalamnya. Bagi mereka disediakan berbagai kenikmatan di surga, sebagai balasan atas amal saleh mereka di dunia.
Sikap istikamah setelah beriman dan melaksanakan ibadah kepada Allah merupakan hal yang penting dan sangat terpuji, sebagaimana hadis Nabi ﷺ yang memerintahkan kepada kita semua:
Katakanlah, "Aku beriman kepada Allah," lalu beristikamahlah. (Riwayat Muslim dari Sufyan bin 'Abdullah ats-saqafi).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Katakanlah! Bukanlah aku ini membawa yang batu demi rasul-rasul itu."
(pangkal ayat 9)
Maksudnya ialah bahwa Nabi Muhammad, ﷺ disuruh Allah menjelaskan bahwasanya seruan atau dakwah yang beliau bawa, bukanlah perkara baru yang diada-adakan saja. Bahwasanya segala rasul yang diutus oleh Allah kepada manusia, samalah isi seruan mereka, yaitu mengajak manusia agar memercayai akan adanya satu Tuhan, yaitu Allah, yang tidak bersekutu dengan yang lain di dalam menciptakan alam ini. Seruan semuanya adalah sama, yaitu menyeru manusia supaya memegang kepercayaan tauhid. Inilah tujuan kedatangan dan perutusan dari segala utusan atau rasul yang diutus Allah ke atas dunia ini, sejak dari Nuh sampai kepada nabi-nabi yang sesudahnya, itu pun kalau hendak kita katakan bahwa Adam belum mempunyai umat, sebab manusia di kala hidup beliau belum banyak. Berbagai ragam rintangan yang diderita oleh rasul-rasul itu karena memberi ingat manusia bahwa Allah itu tiada bersekutu dengan yang lain, Esa Allah dalam kebesaran-Nya. Esa Allah dalam Penciptaan-Nya. Esa Allah dalam kekuasaan-Nya. Selanjutnya beliau bersabda dengan perintah Allah,"Dan tidaklah aku ketahui apa yang akan diperbuat dengan aku dan tidak pula dengan kami." Dengan kata-kata yang sedikit ini telah ditanamkan keinsafan kepada Nabi Muhammad ﷺ bahwasanya orang-orangyang berjuang menegakkan risalah yang ditugaskan oleh Allah ke atas pundaknya akan menemui berbagai kemungkinan suka dan duka, bahagia dan bahaya.
Maka mengertilah Nabi Muhammad ﷺ bahwa melakukan risalah besar ini adalah menghadapi bahaya nyata untuk kebahagiaan cita. Itulah sebabnya beliau berkata,"Tidaklah aku ketahui apa yang akan diperbuat dengan aku dan tidak pula dengan kamu." Hari depan masih panjang namun pekerjaan ini tidak boleh berhenti dan tidak boleh mundur. Berhenti artinya mati, mundur artinya hancur. Pernah beliau mengatakan, setelah diputuskan dalam Peperangan Uhud bahwa musuh bukan ditunggu dalam kota tetapi diserbu keluar lalu beliau lekatkan pakaian-pakaian peperangan dan pedang telah beliau sisipkan di pinggang padahal ada yang kemudian ragu lalu menurut saja kepada pendapat beliau yang pertama, yaitu musuh ditunggu saja (defensif) tak usah menyerang keluar padahal sudah diputuskan mesti menyerang. Beliau berkata,"Apabila seorang Nabi telah bersiap dengan pakaian perangnya, tidaklah pakaian itu akan ditanggalkannya sebelum Allah menentukan siapa di antara keduanya yang akan menang, dia atau musuhnya!"
Di ujung ayat beliau disuruh menjelaskan lagi disiplin yang beliau pegang teguh dalam perjuangan.
“Tidak ada yang aku ikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku dan tidak lain aku ini kecuali memberikan peringatan yang tegas."
(ujung ayat 9)
“Tidak ada yang akan aku ikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku." Inilah penegasan yang penuh dengan rasa tanggung jawab dan disiplin. Bagaimanapun ribut orang hendak mengganggu hendak memasukkan usul, hendak mengeluarkan kritik, semuanya beliau tidak akan peduli, kecuali yang sesuai dengan wahyu. Dan lebih jelas lagi kekuatan disiplin yang timbul daripada kekuatan pribadi itu setelah beliau bersabda selanjutnya, ‘Dan tidak lain aku ini kecuali menyampaikan peringatan yang tegas." Di sini jelas sekali bahwa dalam me-nyampaikan prinsip atau dasar pendirian yang telah diterima dengan yakin dari Allah, Nabi Muhammad ﷺ tidak akan berganjak, tidak akan mundur walaupun selangkah. Ucapan yang diucapkan Rasul ini, dikuatkan dengan firman Ilahi dan tertulis di dalam Al-Qur'an jadi bimbingan bagi tiap-tiap orang yang berjuang dalam prinsip Al-Qur'an. Kita pun dapat melihat bagaimana Rasulullah ﷺ bermasam muka dan berpaling wajah ke tempat lain karena beliau berhadapan dengan orang buta, yaitu Ibnu Ummi Maktum,karena mengharap beberapa orang terkemuka dari kaum Quraisy akan dapat ditarik ke dalam Islam. Namun yang beliau terima dari Allah adalah kritik sangat halus,"Bermuka masam, berpaling saja karena yang datang yang buta hanya." (surah ‘Abasa, ayat 1 dan 2)
Dari hal ayat yang tersebut tadi,"Tidaklah aku ketahui apa yang akan diperbuat dengan aku dan tidak pula dengan kamu," seperti yang tersebut tadi, dijelaskanlah oleh Abu Bakar al-Hudzali suatu riwayat penafsiran yang beliau terima daripada al-Imam Hasan al-Bishri bahwa maksud ayat itu jelas sekali ialah tentang hasil perjuangan Nabi selama berjuang di permukaan bumi ini, selama masih hidup dalam dunia ini."Tidaklah aku tahu apa yang akan terjadi pada diriku dan juga apa yang akan terjadi pada diri kamu, apakah aku akan diusir dari kampung halaman, sebagaimana nabi-nabi yang dahulu telah pernah menderitanya? Atau apakah aku akan dibunuh orang sebagaimana nabi-nabi sebelumku ada pula yang dibunuh? Apakah kamu akan ditimbuni orang dengan tanah atau dilempari dengan batu? Semuanya itu adalah pahit getir perjuangan di dunia ini selama hayat masih dikandung badan. Adapun di akhirat, kalah atau menang, berhasil atau gagal, satu hal adalah sudah pasti: yaitu bahwa Muhammad sebagai utusan Allah dan orang-orang yang mengikuti dengan setia akan ajarannya pastilah masuk ke dalam surga yang mulia" Demikian tafsiran dari Hasan al-Bishri menurut riwayat yang disampaikan oleh Abu Bakar al-Hudzali.
Selanjutnya berfirman Allah,
“Katakanlah! Adakah kamu perhatikan jika memang dia itu dari sisi Allah."
(pangkal ayat 10)
Yaitu jika memang sebenarnya Al-Qur'an itu diwahyukan dari sisi Allah dan memang Muhammad itu Rasulullah ﷺ"Sedangkan kamu menyangkalnya." Kamu tidak mau percaya akan kebenaran berita itu. Kamu katakan sebagaimana tersebut dalam ayat 7 tadi. Kamu katakan sihir yang nyata."Padahal telah memberikan kesaksian Bani Israil atas yang seumpamanya." Dan Muhammad pun telah menjelaskan sebagaimana tersebut pada ayat 9 di atas tadi bahwa risalah yang dibawanya ini bukanlah baru. Dia hanyalah menyambung usaha yang telah dirintis oieh rasul-rasul yang dahulu. Maka rasul-rasul yang dahulu itu pun telah membawa ajaran ini pula dan Bani Israil telah beriman dengan dia, telah percaya kepadanya."Dan mereka telah beriman sedang kamu menyombongkan diri." Berapa banyaknya nabi-nabi dan rasul-rasul yang diutus Allah dan berapa pula banyaknya nabi-nabi dan rasul-rasul dari Bani Israil itu: sejak dari Musa dan Harun, Sulaiman dan Dawud. Zakariya dan Yahya, semuanya pada umumnya diterima oieh kaumnya Bani Israil dan banyak lagi nabi-nabi yang lain! Mengapa kamu, hai kaum Quraisy hendak bersikap sombong dan menuduh Nabi dari kaummu sendiri, Muhammad ﷺ, sebagai tukang sihir yang nyata? Akhirnya Allah memberikan ketegasan,
“Sesungguhnya Allah tidaklah akan memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim."
(ujung ayat 10)
Teranglah bahwa ayat ini suatu penyesalan pula dari Allah kepada kaum Quraisy yang berkeras kepala menolak nubuwwah Nabi Muhammad. Tetapi ada setengah ahli tafsir mengatakan dan menjelaskan orang yang dimaksud dengan Bani Israil itu. Kata mereka orang yang dimaksud itu ialah Abdullah bin Salam. Tetapi Masruq dan asy-Sya'bi menolak pendapat itu. Kata mereka,"Bagaimana akan dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Bani lsrail ialah Abdullah bin Salam padahal beliau memeluk Islam setelah Rasulullah ﷺ sampai di Madinah dalam hijrah beliau. Ketika beliau mulai datang dan beliau berpidato tentang hidup berdamai dan beribadah, Abdullah bin Salam turut mendengarkan. Dan setelah didengarnya, dia berkata dalam hatinya, ‘Orang semacam itu mustahil berdusta! Tidak macam ini orang yang akan berdusta. Lalu beliau mendekati Rasulullah di masa itu juga dan menyatakan dirinya percaya kepada Nabi ﷺ dan langsung menyatakan Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat." Kata Masruq dan asy-Sya'bi tidak mungkin orang itu Abdullah bin Salam, sebab ayat ini turun di Mekah tidak di Madinah. Surah al-Ahqaaf diturunkan di Mekah.
Tetapi yang mengatakan yang dimaksud ialah Abdullah bin Salam adalah orang-orang penting dan tidak boleh diabaikan pula. Di antaranya ialah Bukhari, Muslim, dan an-Nasa'i sendiri. Demikian juga yang dahulu dari itu, yaitu Ibnu Abbas (sahabat Nabi ﷺ), Mujahid, adh-Dhahhak, Qatadah, Ikrimah dan Yusuf anak dari Abdullah bin Salam sendiri, as-Suddi dan Imam Malik bin Anas. Tentu saja dapat kita pahamkan meskipun hal Abdullah bin Salam itu masuk Islam ialah sejenak setelah Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, tidaklah hal yang ganjil kalau hal itu diketahui terlebih dahulu oleh Rasulullah ﷺ bahwasanya akan ada orang Bani lsrail yang masuk Islam dengan penuh kepercayaan dan keinsafan, sehingga menurut riwayat. Abdullah bin Salam itu termasuk orang yang disebut namanya oleh Nabi ﷺ akan masuk ke dalam surga.
“Dan berkatalah orang-orang yang kafir itu kepada orang-orang yang telah beriman, ‘Kalau dia itu memang baik, tidaklah kamu akan mendahului kami kepadanya.'"
(pangkal ayat 11)
Ini pun suatu kesombongan lagi dari orang-orang terkemuka Quraisy pada masa itu. Mereka merasa bahwa mereka orang-orang terkemuka, orang penting, orang yang lebih mengerti dalam segala hal. Maka kalau ada ajaran Muhammad itu yang baik, bukan orang-orang bodoh, orang kecil yang terlebih dahulu harus menerimanya, melainkan kami orang-orang yang terkemuka, orang yang pembicaraannya didengar orang dan pertimbangannya diterima. Mereka menganggap diri sangat penting karena jasa-jasa zaman lampau karena dalam susunan masyarakat lama, merekalah yang dianggap menonjol. Mereka tidak mau mengerti bahwa zaman sudah berubah. Semangat baru sudah datang dan revolusi pikiran sedang tumbuh.
“Dan oleh karena mereka tidak mendapat petunjuk dengan dia maka akan berkatalah mereka, ‘Ini adalah kepalsuan yang telah usang.'"
(ujung ayat 11)
Dengan sombong mereka mengatakan bahwa wahyu yang disampaikan oleh Muhammad ﷺ dan Muhammad menerimanya dari malaikat diterima dari Allah ﷻ, adalah kepalsuan, karangan, dongeng yang telah usang, telah bobrok. Mungkin sekali dengan berkata telah usang, bukan saja Muhammad yang mereka dustakan, bahkan seluruh wahyu yang disampaikan oleh nabi-nabi,
“Dan daripada sebelumnya adalah kitab Musa, menjadi imam dan rahmat."
(pangkal ayat 12)
Disebut dalam ayat 12 ini kitab yang dahulu daripada Al-Qur'an, yaitu kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa, berisi iman dan rahmat. Kepercayaan yang mantap kepada Allah dan rahmat untuk pergaulan hidup di dunia, cara mengatur yang memimpin kepada yang dipimpin. Namun oleh karena mereka telah mengatakan bahwa isi Al-Qur'an yang dibawa oleh Muhammad adalah kepalsuan yang telah usang, jelaslah bahwa seluruh kitab tidak mereka percayai, semuanya kepalsuan yang telah usang.".Dan yang ini," yaitu Al-Qur'an,"adalah kitab yang membenarkan," artinya bahwasanya pokok asli dari kitab Taurat yang diturunkan kepada Musa penuh ajaran iman dan berisi rahmat bahagia itu ialah membenarkan, tidak bersalahan, tidak berselisih dengan kitab yang penuh iman dan rahmat itu."Dalam lidah ‘Arabi," sebagai timbalan daripada kitab yang terdahulu dalam lidah Ibrani, keduanya adalah sama-sama rumpun bahasanya, yaitu bahasa keturunan Semit (Saam), keturunan Nuh. Isinya ialah “Untuk memberikan peringatan kepada orang-orang yang aniaya," yaitu peringatan yang keras, ancaman, sebab mereka tidak sudi berbuat baik dalam kehidupan yang menghendaki baik.
“Dan memberikan kabar gembira bagi yang sudi berbuat baik."
(ujung ayat 12)
Selalulah isi kitab yang diturunkan oleh Allah itu berisi tarhib dan targhiib, perintah keras yang berisi ancaman dan berita suka cita yang memberikan harapan. Yang pertama menimbulkan takut, yang kedua menimbulkan harapan. Ketakutan menimbulkan keadaan hendak menjauhi perbuatan yang terlarang sedang kabar gembira menumbuhkan harapan. Bagaimana senang tampaknya berbuat suatu perbuatan yang salah, namun kesan ketakutan akan tumbuh dalam hati dan selalu menjadi suatu batin buat membantahnya, sehingga walaupun seseorang sudah terlanjur berbuat suatu perbuatan yang terlarang, yang tercela, dia selalu berusaha menyembunyikan dari mata orang banyak, jangan sampai ada orang yang tahu. Walaupun hukuman belum datang, namun dia terlebih dahulu telah menerima hukuman dengan rasa takut, cemburu dan merasa bersalah yang menyebabkan hidup jadi gersang. Sehingga kerap kali kejadian dengan tidak disangka-sangka seseorang yang telah banyak berbuat dosa dalam keadaan gembira tiba-tiba dia membunuh diri. Padahal, dengan membunuh diri penyelesaian belum terdapat, melainkan bertambah rumit dan sukar. Sebaliknya orang yang kehidupan sudah cenderung kepada berbuat baik, meskipun mengerjakan kebajikan itu pun menghadapi berbagai kesukaran pula, namun hatinya tidak pernah bimbang, sebab dia selalu dipenuhi oleh harapan. Kalau tidak dapat ganjaran yang baik di dunia ini, di akhirat pasti akan dapat ganjaran yang setimpal, bahkan lebih dan berlipat ganda.
Ada ayat yang jelas dari firman Allah,
“Bahkan manusia memandang apa yang ada pada dirinya." (al-Qiyaamah: 14)
Maka orang-orang yang hidupnya lebih banyak berbuat yang baik dan selalu berusaha menjauhi yang dilarang oleh .Allah, kuranglah rasa kecemasan dan ketakutannya. Ditimang-timangnya dirinya, dosa yang besar jaranglah dia mengerjakan, kelalaian tentu ada juga tetapi persangkaannya selalu baik terhadap Allah (husnuzh zhanni billahi). Orang yang demikian tidak ada rasa takut akan menemui keadaan. Bertambah dekat waktunya, bertambah mantap dia menghadapi kenyataan, itulah yang bernama an-nafsui muthmainnah. Orang yang begitulah yang dipenuhi oleh harapan atau raja'. Maka sebelum datang maut, sebelum datang alam kubur dan yaumal mahsyar, bahkan semasa lagi di atas dunia ini, haruslah dia melatih dirinya menebaikan rasa raja' itu dengan berbuat kebajikan banyak-banyak dengan tidak melupakan bahwa diri sendiri adalah manusia yang tidak khali daripada lalai, alfa, dan khilaf.
Maka bilamana kita renungkan segala ayat basyiran dan nadziiran, targhiib dan tarhiib tadi dapatlah kita ibaratkan kepada keadaan kita di dunia ini. Bilamana hakim menuntut ke pengadilan yang merasa ketakutan ialah orang yang merasa bersalah. Adapun orang yang merasa dirinya tidak bersalah, dia tetap mengharap bahwa tidak akan terhukum dengan teraniaya. Sedang terhadap hakim dunia yang di zaman kekacauan berpikir manusia ini sudah dapat dipermainkan, harapan orang yang tidak bersalah masih ada, dan masih sanggup naik banding, apatah lagi terhadap keadilan Allah, yang hukum-Nya tidak dapat dibanding lagi kebenarannya.
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, Tuhan kami adalah Allah," kemudian itu mereka pun teguh pada pendiriannya maka tidaklah ada ketakutan atasnya dan tidaklah mereka akan beriduka cita."
(ayat 13)
Mereka berkata,"Tuhan kami Allah!" Yang berkata itu adalah mulutnya, hatinya, seluruh gerak-geriknya, sepak terjangnya, walaupun lidahnya tidak terbuka, namun sikap hidupnya telah mengatakan.
“Tuhan kami Allah!" Terbukti dalam ibadahnya, dalam tujuan hidupnya, dalam pandangan hidupnya, dalam tempat dia mena-ruhkan harapan, dalam tempat dia merasakan takut, dalam dia menjelaskan tujuan hidup.
“Tuhan kami Allah!" Tidak ada tempat tunduk yang lain dan tidak ada rasa takut menghadapi yang lain.
“Tuhan kami Allah!" Maka segala kegiatan, segala aktivitas, segala jalan pikiran, segala pertimbangan, tertuju kepada Allah dan memandangnya dari segi keridhaan Allah.
“Tuhan kami Allah!" Maka yang berlaku ialah hukum-Nya, Yang Mahakuasa sejati."Hanya Allah," tidak ada undang-undang yang tahan uji, melainkan undang-undang syari'at-Nya dan tidak ada pimpinan melainkan pimpinan-Nya, tidak ada petunjuk selain petunjuk-Nya!
“Tuhan kami Allah!" Maka segala yang ada dan segala apa jua pun yang berhubung bersangkut paut dengan yang ada semuanya bergantung kepada-Nya.
“Tuhan kami Allah!" Terbukti dapat dilihat, dapat dirasakan dalam segala gerak walaupun mulut tidak bercakap walaupun kaki dan tangan terbelenggu.
“Kemudian mereka pun teguh pada pendiriannya atau istiqamah!" Teguh, tidak berganjak, pantang bergeser, tidak ragu, tidak waswas, tidak maju mundur oleh karena tarikan dari kiri dan kanan, dari muka belakang. Dia bukan menurut, melainkan diturutkan. Dia bukan menunggu tetapi memulai. Dia mengeluarkan sinar, bukan padam, bagaimanapun sukar rimba yang ditembus, padang pasir yang kering gersang, namun “Tuhan kami Allah" dan kami tetap dalam pendirian itu. Hujan pasti turun, tetapi hujan tidak akan terus. Panas mesti terik, tetapi awan lembab akan melindungi. Keadaan bisa berputar, berbalik, namun"Tuhan kami Allah" tidak akan berbalik. Maka “Tuhan kami Allah" menentukan corak hidup, menjadi sistem hidup. Bertambah didalami pahamnya, bertambah teguh uratnya."Maka tidaklah ada ketakutan atasnya dan tidaklah mereka akan berduka cita."
Bebas dari ketakutan adalah pedoman hidup paling tinggi. Dunia modern sehabis Perang Dunia II telah merumuskan tambahan dari ajaran demokrasi, sebuah lagi amat penting yaitu bebas dari rasa takut! Maka menurut ajaran dalam ayat ini, jaminan bagi kikis sirnanya rasa takut adalah iman kepada Allah karena takut hanya terhimpun kepadanya saja!
Ketika Jepang menduduki tanah Indonesia, terpaksalah orang-orang rukuk menyembah ke istana Kaisar Jepang di Tokyo, Orang takut tidak akan menyembah secara rukuk itu jika ada pertemuan resmi yang besar. Takut akan disiksa kejam oleh kempeitei Jepang, yaitu polisi perangnya yang kejam. Tetapi guru dan ayahku, Syekh Abdulkarim Amrullah tidak mau rukuk bahkan berdiri pun dia tidak!
Ketika saya sendiri menemui beliau dan bertanya kepada beliau,"Apakah Ayah tidak merasa takut akan disiksa oleh Jepang dengan kempetei-nya."
Beliau menjawab,"Yang aku takuti bukanlah disiksa dan dibunuh Jepang. Yang aku takuti ialah yang sesudah diriku mati dibunuh!"
Yang beliau takuti ialah jika datang pertanyaan daripada Malaikat Munkar dan Nakir, mengapa engkau menyembah kepada yang selain Allah, apa akan jawab Ayah?
Lalu saya tanya lagi,"Bukankah di dalam buku karangan ayahanda yang berjudul Iqazhun Niyaam (1914), Ayah telah menyatakan pendapat bahwa merundukkan kepala seperti tahiyat saja kepada seseorang yang patut dihormati, tidaklah haram menurut agama?" Beliau jawab,"Ini lain, anakku! Jika Ayah merundukkan kepala sedikit saja, orang banyak akan menyembah dan menjongkok dan dikatakan orang sedangkan Doktor Abdulkarim lagi berbuat, apatah lagi kita." Sekali lagi beliau berkata."Aku takut kepada Allah, wahai anak."
Maka seluruh rasa takut dan rasa duka cita beliau terhadap segala yang bernama takut tidak ada lagi, sama sekali. Takut dan duka cita beliau seluruhnya telah tertumpu kepada Allah yang telah disebutkan tadi,"Tuhan kami Allah!"
“Itulah orang-orang yang akan mempunyai tempat di dalam sunga, kekal mereka di dalamnya."
(pangkal ayat 14)
Dijelaskan pada ujung ayat,
“Sebagai ganjaran dari apa yang telah mereka kerjakan."
(ujung ayat 14)
Tegasnya mereka masuk surga karena apa yang mereka katakan telah mereka amalkan. Di sini tampak berapa tingkat yang tidak terpisah. Pertama mengatakan"Tuhan kami adalah Allah". Kedua, istaqaamu atau istiqamah yang berarti pendirian yang tetap dan teguh. Ketiga, pembuktian dari pendirian yang tidak pernah dapat diubah, tidak pernah dapat digeser. Keempat, menghasilkan tidak ada rasa takut dan tidak merasa sedih. Tidak takut akan ditimpa oleh bahaya, tidak duka cita kalau bahaya itu datang juga. Tidak takut akan apa yang akan
terjadi, tidak duka cita kalau bahaya itu datang juga. Dengan keempatnya ini baru datang jaminan Allah akan dimasukkan ke dalam surga yang mulia karena semua yang dikatakan itu dikerjakan, diamalkan.
Maka dapatlah disimpulkan bahwasanya pengakuan dengan mulut saja belumlah jadi jaminan akan melepaskan diri dengan selamat dari berbagai ancaman. Teratasi ancaman itu barulah dapat jaminan. Maka kalau kita lihat berjuta kaum Muslimin boleh dikatakan bahwa semuanya mengaku bertuhan kepada Allah, tetapi mereka tidak istiqamah. Semuanya mengaku bertuhan kepada Allah, tetapi mereka tidak bebas daripada rasa takut dan rasa duka cita karena pengakuan bertuhan kepada Allah itu hanya semata-mata ajaran permainan mulut,"menanam tebu di bibir", ragu-ragu, yang semuanya itu menghasilkan tidak hilang rasa takut dan tidak lepas daripada rasa duka cita, sedih hati, mengeluh, dan sebagainva. Mereka tidak mengamalkan apa yang mereka akui itu. Sebab itu mereka tidak masuk surga.
Refuting Claims of the Idolators about the Qur'an and the Messenger
Allah says,
وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ ايَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءهُمْ
And when Our Clear Ayat are recited to them, the disbelievers say of the truth when it reaches them:
Concerning the disbelief and rebellion of the idolators, Allah says that when the clear Ayat of Allah are recited to them they say;
هَذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ
This is plain magic!
meaning, simple magic.
In this statement of theirs, they have lied, invented a falsehood, went astray and disbelieved
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ
Or they say:He has fabricated it.
They are referring to Muhammad.
Allah responds saying,
قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَلَ تَمْلِكُونَ لِي مِنَ اللَّهِ شَيْيًا
هُوَ أَعْلَمُ بِمَا تُفِيضُونَ فِيهِ كَفَى بِهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ
وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Say:If I have fabricated it, you have no power to support me against Allah...
which means, `if I lie against Allah and falsely claim that He sent me when He actually had not, then He would punish me with a severe punishment. No one on the earth -- you or anyone else -- would then be able to protect me from Him.'
It is similar to Allah's saying,
قُلْ إِنِّى لَن يُجِيرَنِى مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِن دُونِهِ مُلْتَحَداً إِلاَّ بَلَغاً مِّنَ اللَّهِ وَرِسَـلَـتِهِ
Say:None can protect me from Allah, nor would I find a refuge except in Him. (My duty) is only to convey from Allah and (deliver) His Messages. (72:22-23)
Allah says,
وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الاٌّقَاوِيلِ
لاأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ
ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ
فَمَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَـجِزِينَ
And if he made up a false saying concerning Us, We surely would have seized him by the right hand. Then we would have cut off his life artery. And none of you could withhold Us from (punishing) him. (69:44-47)
Thus, Allah says here,
قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَلَ تَمْلِكُونَ لِي مِنَ اللَّهِ شَيْيًا
هُوَ أَعْلَمُ بِمَا تُفِيضُونَ فِيهِ كَفَى بِهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ
Say:If I have fabricated it, still you have no power to support me against Allah. He knows best of what you say among yourselves concerning it (i.e. this Qur'an)! Sufficient is He as a witness between me and you!...
This is a severe threat, intimidation and warning for them.
Allah then says,
وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
And He is the Oft-Forgiving, the Most Merciful.
This is an encouragement for them to repent and turn to Allah. It means, `despite all of this, if you turn back and repent, Allah will accept your repentance, pardon you, forgive you, and have mercy upon on.'
This is similar to Allah's saying in Surah Al-Furqan,
وَقَالُواْ أَسَـطِيرُ الاٌّوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِىَ تُمْلَى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلً
قُلْ أَنزَلَهُ الَّذِى يَعْلَمُ السِّرَّ فِى السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ إِنَّهُ كَانَ غَفُوراً رَّحِيماً
And they say:(This Book is) legends of the ancients that he has written down, and they are dictated to him morning and afternoon.
Say:It has been sent down by the One Who knows every secret within the heavens and the earth. Truly, He is ever Forgiving and Merciful. (25:5-6)
Allah then says
قُلْ مَا كُنتُ بِدْعًا مِّنْ الرُّسُلِ
Say:I am not a new thing among the Messengers...
which means, `I am not the first Messenger who ever came to the world. Rather, Messengers came before me. Therefore, I am not an unprecedented incident that should cause you all to reject me and doubt my being sent to you. Indeed, Allah has sent before me all of the Prophets to various nations.'
Allah then says,
وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ
nor do I know what will be done with me or with you.
Ali bin Abi Talhah reported from Ibn Abbas that he said,
It (this Ayah) was followed in revelation by,
لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ
(That Allah may forgive for you your sins of the past and future). (48:2)
Similarly, Ikrimah, Al-Hasan, and Qatadah all said that
this Ayah was abrogated by the Ayah;
لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ
(That Allah may forgive for you your sins of the past and future). (48:2)
They said that when the latter Ayah was revealed, one of the Muslims said to Allah's Messenger, Allah has declared what He will do for you. But what will He do for us?' Then Allah revealed;
لِيُدْخِلَ الْمُوْمِنِينَ وَالْمُوْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الاَْنْهَارُ
(That He may admit the believing men and the believing women to Gardens under which rivers flow). (48:5) This is what they said. That which has been confirmed in the Sahih is that the believers said, May you enjoy that, O Allah's Messenger! But what do we get So Allah revealed this Ayah.
Imam Ahmad recorded that Kharijah bin Zayd bin Thabit, reported that Umm Al-`Ala' -- a woman from the Ansar who had given her pledge of loyalty to Allah's Messenger -- said,
When the Ansar drew lots regarding taking in the Muhajirun to dwell with them, our lot was to have `Uthman bin Maz`un. Later, `Uthman fell sick in our house, so we nursed him until he died, and we wrapped him in his garments (for burial). Allah's Messenger then came in, and I said, `O Abu As-Sa'ib! May Allah have mercy on you. I bear witness that Allah has indeed honored you.'
Allah's Messenger asked,
وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى أَكْرَمَه
How do you know that Allah has honored him?
I said, `I do not know -- may my father and mother both be ransoms for you!'
Allah's Messenger then said,
أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ مِنْ رَبِّهِ وَإِنِّي لَاَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ وَاللهِ مَا أَدْرِي وَأَنَا رَسُولُ اللهِ مَا يُفْعَلُ بِي
As for him, certainty (death) has reached him from his Lord, and I surely wish well for him. But by Allah, even though I am Allah's Messenger, I do not know what will happen to me (after death).
I then said,
`Never will I claim a person to be pious after this.'
This incident caused me some distress, and I went to sleep thereafter. I ﷺ in my dream that `Uthman owned a running water spring. I went to Allah's Messenger and told him about that. Allah's Messenger said,
ذَاكِ عَمَلُه
That was his (good) deeds.
Al-Bukhari recorded this Hadith but Muslim did not.
In one of the narrations, Allah's Messenger said,
مَا أَدْرِي وَأَنَا رَسُولُ اللهِ مَا يُفْعَلُ بِه
Even though I am Allah's Messenger, I do not know what will happen to him.
This and similar texts indicate that it is not allowed to declare that a specific person will enter Jannah except for those who were distinctly indicated by Allah or his Messenger. Examples of those are the Ten,
Ibn Sallam,
Al-Ghumaysa',
Bilal,
Suraqah,
Abdullah bin `Amr bin Haram (Jabir's father),
the Seventy Recitors (of Qur'an) who were assassinated near the Well of Ma`unah,
Zayd bin Harithah,
Ja`far,
Ibn Rawahah,
and other similar individuals,
may Allah be pleased with them.
Allah then says,
إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوحَى إِلَيَّ
I only follow that which is revealed to me,
which means, `I only follow what Allah has revealed to me of the revelation.'
وَمَا أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ مُّبِينٌ
and I am but a plain warner.
meaning, `my warnings are obvious to every person with sound intellect and reason.' And Allah knows best.
The Qur'an is Allah's True Speech and the Position of the Disbelievers and the Muslims towards it
Allah says,
قُلْ
Say,
meaning, `O Muhammad to these idolators who disbelieve in the Qur'an.'
أَرَأَيْتُمْ إِن كَانَ
Tell me! If it was, (meaning, this Qur'an).
مِنْ عِندِ اللَّهِ وَكَفَرْتُم بِهِ
from Allah, and you disbelieved in it,
meaning, `what do you think that Allah will do to you if this Book that I have come to you with is actually revealed to me from Him in order that I convey it to you, and yet you disbelieve in it and deny it
وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّن بَنِي إِسْرَايِيلَ
عَلَى مِثْلِهِ
(at the same time), a witness from among the Children of Israel has testified to something similar,
meaning, `the previous Scriptures that were revealed to the Prophets before me all testify to its truthfulness and authenticity. They have prophecied, well in advance, about things similar to that which this Qur'an informs of.'
Concerning Allah's statement,
فَأمَنَ
and believed,
`this person who testified to its truthfulness from the Children of Israel, due to his realization that it was the truth.'
وَاسْتَكْبَرْتُمْ
while you rejected (the truth)!
`whereas you have arrogantly refused to follow it.'
Masruq said:
That witness believed in his Prophet and Book, while you disbelieved in your Prophet and Book.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Verily, Allah does not guide the wrongdoing people.
The witness here refers to any witness in general. It includes Abdullah bin Salam and other from them as well. For indeed, this Ayah was revealed in Makkah before Abdullah bin Salam had accepted Islam.
This is similar to the statement of Allah,
وَإِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ قَالُواْ ءَامَنَّا بِهِ إِنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّنَأ إنَّا كُنَّا مِن قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ
And when it is recited to them, they say:We believe in it. Verily, it is the truth from our Lord. Indeed, even before it we have been Muslims. (28:53)
It is also similar to Allah's saying,
قُلْ ءَامِنُواْ بِهِ أَوْ لَا تُوْمِنُواْ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُواْ الْعِلْمَ مِن قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلٌّذْقَانِ سُجَّدًا
وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَأ إِن كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولاً
Verily! Those who were given knowledge before it -- when it is recited to them, they fall upon their faces in prostration,
and they say:Exalted is our Lord! Truly, the promise of our Lord has been fulfilled. (17:107-108)
It has been narrated from Sa`d, may Allah be pleased with him, that he said,
I have not heard Allah's Messenger say about anyone walking on the surface of the earth that he is of the people of Jannah -- except for Abdullah bin Salam. Concerning him the following Ayah was revealed,
وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّن بَنِي إِسْرَايِيلَ
عَلَى مِثْلِهِ
((at the same time), a witness from among the Children of Israel has testified to something similar)
This has been recorded in the Two Sahihs and An-Nasa'i.
Similarly, Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, Mujahid, Ad-Dahhak, Qatadah, Ikrimah, Yusuf bin Abdullah bin Salam, Hilal bin Yasaf, As-Suddi, Ath-Thawri, Malik bin Anas and Ibn Zayd all said that this refers to Abdullah bin Salam.
Allah then says
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ امَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَّا سَبَقُونَا إِلَيْهِ
And those who disbelieve say of those who believe:Had it been good, they (the weak and poor) would not have preceded us to it!
which means that those who disbelieve say of those who believe in the Qur'an:Had it (the Qur'an) been any good, they (the weak and poor) would not have preceded us to it!
By that, they meant Bilal, `Ammar, Suhayb, Khabbab, may Allah be pleased with them, and others like them of the weak, the male servants, and female servants.
The pagans said this only because they thought that they held a high status with Allah, and that He took special care of them. By that, they made a great and obvious error, as Allah says:
وَكَذلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِّيَقُولواْ أَهَـوُلاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّن بَيْنِنَأ
Thus have We tried some of them with others, that they might say:Is it these whom Allah has favored from among us? (6:53)
meaning, they wonder how could those weaklings be the ones who were guided from among them.
Thus, Allah says,
لَوْ كَانَ خَيْرًا مَّا سَبَقُونَا إِلَيْهِ
(Had it been good, they (the weak and poor) would not have preceded us to it!)
Contrary to this is the position of Ahl us-Sunnah wal-Jama`ah:They say about any act or saying that has not been reported from the Companions:
It is an innovation. If there was any good in it, they would have preceded us in doing it, because they have not left off any of the good characteristics except that they hurried to perform them.
Allah continues,
وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ
And when they have not been guided by it, (meaning, the Qur'an).
فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ
they say:This is an ancient falsehood!
meaning, an old lie. They mean by this that the Qur'an has been quoted and taken from the ancient people, thereby belittling the Qur'an and its followers. This is clear arrogance, as Allah's Messenger said:
بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاس
(Arrogance is) rejecting the truth and belittling the people.
Allah then says
وَمِن قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى
And before this was the Scripture of Musa, (and it was the Tawrah).
إِمَامًا وَرَحْمَةً
وَهَذَا كِتَابٌ
as a guide and mercy. And this is a Book, (meaning, the Qur'an).
مُّصَدِّقٌ
confirming,
meaning, that which came before it of the previous Books.
لِّسَانًا عَرَبِيًّا
in the Arabic tongue,
means that it is eloquent and clear.
لِّيُنذِرَ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَبُشْرَى لِلْمُحْسِنِينَ
to warn those who do wrong, and as glad tidings for the doers of good.
meaning, it contains a warning to the disbelievers and glad tidings for the believers.
Allah then says
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
Verily, those who say:Our Lord is (only) Allah, and thereafter stand firm,
The explanation of this has been discussed earlier in Surah As-Sajdah. (41:30)
Allah then says,
فَلَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ
on them shall be no fear,
meaning, concerning their future.
وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
nor shall they grieve.
meaning, over what they have left behind.
Allah continues,
أُوْلَيِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Such shall be the dwellers of Paradise, abiding therein (forever) -- a reward for what they used to do.
meaning, the deeds are a cause for their attaining the mercy and their being engulfed by it -- and Allah knows best.
Those will be the inhabitants of the Paradise, abiding therein (khaalideena feehaa is a circumstantial qualifier) as a reward (jazaa'an is in the accusative as a verbal noun, because of the implied verbal action, that is to say, yujzawna, 'they will be rewarded') for what they used to do.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.








