Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
أَفَرَءَيۡتَ
adakah kamu melihat
مَنِ
orang
ٱتَّخَذَ
ia menjadikan
إِلَٰهَهُۥ
Tuhannya
هَوَىٰهُ
hawa nafsunya
وَأَضَلَّهُ
dan membiarkan sesat padanya
ٱللَّهُ
Allah
عَلَىٰ
atas
عِلۡمٖ
pengetahuan
وَخَتَمَ
dan Dia menutup
عَلَىٰ
atas
سَمۡعِهِۦ
pendengarannya
وَقَلۡبِهِۦ
dan hatinya
وَجَعَلَ
dan Dia menjadikan
عَلَىٰ
atas
بَصَرِهِۦ
penglihatannya
غِشَٰوَةٗ
tutupan
فَمَن
maka siapakah
يَهۡدِيهِ
memberi petunjuk kepadanya
مِنۢ
dari
بَعۡدِ
sesudah
ٱللَّهِۚ
Allah
أَفَلَا
apakah maka tidak
تَذَكَّرُونَ
kamu ingat/mengambil pelajaran
أَفَرَءَيۡتَ
adakah kamu melihat
مَنِ
orang
ٱتَّخَذَ
ia menjadikan
إِلَٰهَهُۥ
Tuhannya
هَوَىٰهُ
hawa nafsunya
وَأَضَلَّهُ
dan membiarkan sesat padanya
ٱللَّهُ
Allah
عَلَىٰ
atas
عِلۡمٖ
pengetahuan
وَخَتَمَ
dan Dia menutup
عَلَىٰ
atas
سَمۡعِهِۦ
pendengarannya
وَقَلۡبِهِۦ
dan hatinya
وَجَعَلَ
dan Dia menjadikan
عَلَىٰ
atas
بَصَرِهِۦ
penglihatannya
غِشَٰوَةٗ
tutupan
فَمَن
maka siapakah
يَهۡدِيهِ
memberi petunjuk kepadanya
مِنۢ
dari
بَعۡدِ
sesudah
ٱللَّهِۚ
Allah
أَفَلَا
apakah maka tidak
تَذَكَّرُونَ
kamu ingat/mengambil pelajaran
Terjemahan
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya,1 dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
Catatan kaki
1 *801) Allah membiarkan orang itu sesat karena Allah telah mengetahui bahwa dia tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya.
Tafsir
(Apakah kamu pernah melihat) maksudnya ceritakanlah kepadaku (orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya) maksudnya, yang disukai oleh hawa nafsunya, yaitu batu demi batu ia ganti dengan yang lebih baik sebagai sesembahannya (dan Allah membiarkan-Nya sesat berdasarkan ilmu-Nya) berdasarkan pengetahuan Allah ﷻ Dengan kata lain Dia telah mengetahui, bahwa orang itu termasuk orang yang disesatkan sebelum ia diciptakan (dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya) maka, karena itu ia tidak dapat mendengar petunjuk dan tidak mau memikirkannya (dan meletakkan tutupan atas penglihatannya) mengambil kegelapan hingga ia tidak dapat melihat petunjuk. Pada ayat ini diperkirakan adanya Maf'ul kedua bagi lafal Ra-ayta, yaitu lafal ayat tadi, yang artinya; apakah ia mendapat petunjuk? (Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah) membiarkannya sesat? Maksudnya, tentu saja ia tidak dapat petunjuk. (Maka mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?) atau mengapa kalian tidak mau mengambilnya sebagai pelajaran buat kalian. Lafal Tadzakkaruuna asalnya salah satu dari huruf Ta-nya diidgamkan kepada huruf Dzal.
Tafsir Surat Al-Jathiyah: 21-23
Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Allah ﷻ berfirman, bahwa tidak sama antara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir itu. Seperti yang diungkapkan oleh firman-Nya: Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orangyang beruntung. (Al-Hasyr: 20) Adapun firman Allah ﷻ: Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? (Al-Jatsiyah: 21) Yakni Kami samakan di antara sesama mereka dalam kehidupan di dunia dan akhirat? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. (Al-Jatsiyah: 21) Betapa buruknya dugaan mereka terhadap Kami, padahal mustahil Kami menyamakan di antara orang-orang yang bertakwa dengan orang-orang yang pendurhaka dalam kehidupan di negeri akhirat nanti dan juga dalam kehidupan di dunia ini.
Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mu'ammal ibnu Ihab, telah menceritakan kepada kami Bukair ibnu Usman At-Tanukhi, telah menceritakan kepada kami Al-Wadin ibnu Ata, dari Yazid ibnu Marsad Al-Baji, dari Abu Zar r.a. yang mengatakan bahwa Allah membangun agama-Nya di atas empat pilar. Maka barang siapa yang berpaling darinya dan tidak mengamalkannya, ia akan menghadap kepada Allah dalam keadaan sebagai orang yang fasik (durhaka). Ketika ditanyakan, "Apa saja yang keempat pilar itu, hai Abu Zar?" Abu Zar r.a. menjawab, "Hendaklah seseorang menerima apa yang dihalalkan oleh Allah karena Allah, dan menolak apa yang diharamkan oleh Allah karena Allah, dan menerima perintah Allah karena Allah, dan menjauhi larangan Allah karena Allah; tiada yang dipercayai olehnya terhadap keempat perkara itu selain dari Allah ﷻ Abul Qasim yakni Nabi ﷺ telah bersabda, 'Sebagaimana tidak dapat dipetik dari pohon yang berduri buah anggur, demikian pula halnya orang-orang durhaka, mereka tidak akan memperoleh kedudukan orang-orang yang bertakwa'." Hadis ini gharib bila ditinjau dari segi jalurnya.
Muhammad ibnu lshaq menyebutkan di dalam kitab Sirah-nya bahwa mereka telah menemukan sebuah prasasti yang ada di Mekah, tepatnya di pondasi Ka'bah. Disebutkan padanya, "Kamu berbuat keburukan dan kamu harapkan kebaikan, perihalnya sama dengan orang yang memetik buah anggur dari pohon yang berduri," yakni mustahil mendapatkannya karena pohon yang berduri tidak dapat membuahkan anggur. Imam Tabrani telah meriwayatkan melalui hadis Syu'bah, dari Amr ibnu Murrah, dari Abud Duha, dari Masruq, bahwa Tamim Ad-Dari salat di suatu malam hingga pagi hari seraya mengulang-ngulang bacaan ayat berikut yaitu firman-Nya: Apakah orang-orangyang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. (Al-Jatsiyah: 21) Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya: Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. (Al-Jatsiyah: 21) Adapun firman Allah ﷻ: Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar. (Al-Jatsiyah: 22) Yakni dengan adil.
dan agar dibatasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan. (Al-Jatsiyah: 22) Kemudian Allah ﷻ berfirman. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. (Al-Jatsiyah: 23) Yakni sesungguhnya dia hanya diperintahkan oleh hawa nafsunya. Maka apa saja yang dipandang baik oleh hawa nafsunya, dia kerjakan; dan apa saja yang dipandang buruk oleh hawa nafsunya, dia tinggalkan. Ayat ini dapat juga dijadikan sebagai dalil untuk membantah golongan Mu'tazilah yang menjadikan nilai buruk dan baik berdasarkan kriteria rasio mereka.
Menurut apa yang diriwayatkan dari Malik sehubungan dengan tafsir ayat ini, orang tersebut tidak sekali-kali menyukai sesuatu melainkan dia mengabdinya. Firman Allah ﷻ: dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya. (Al-Jatsiyah: 23) Makna ayat ini mengandung dua takwil. Pertama ialah Allah menyesatkan orang tersebut karena Allah mengetahui bahwa dia berhak untuk memperoleh kesesatan. Kedua ialah Allah menjadikannya sesat sesudah sampai kepadanya pengetahuan dan sesudah hujah ditegakkan terhadapnya.
Pendapat yang kedua mengharuskan adanya pendapat yang pertama, tetapi tidak kebalikannya. dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan pada penglihatannya? (Al-Jatsiyah: 23) karenanya dia tidak dapat mendengar apa yang bermanfaat bagi dirinya dan tidak memahami sesuatu yang dapat dijadikannya sebagai petunjuk, dan tidak dapat melihat bukti yang jelas yang dapat dijadikan sebagai penerang hatinya. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya: Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).
Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Al-Jatsiyah: 23) Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: Barang siapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. (Al-A'raf: 186)".
Maka pernahkah kamu, wahai Nabi Muhammad, melihat dan menyaksikan orang yang menyimpang dari fitrahnya dengan menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dengan mengikuti dan menurutinya dan Allah membiarkannya sesat dan larut dalam kesesatannya itu dengan sepengetahuan-Nya, yakni ilmu Allah Yang Mahaluas, dan Allah telah mengunci pendengaran sehingga mereka tidak dapat mendengar kebenaran dan mengunci hatinya sehingga dia enggan meyakini kebenaran serta meletakkan tutup atas penglihatannya sehingga tidak dapat melihat bukti-bukti ke-Esaan Allah di muka bumi ini' Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah berpaling dan membiarkannya sesat' Mengapa kamu, wahai kaum musyrik atau siapa pun juga, tidak meng-ambil pelajaran dari apa yang terjadi pada orang-orang yang sesat itu'24. Dan mereka, orang-orang musyrik dan yang mengingkari kebangkitan, berkata, 'Ia, yakni kehidupan ini, tidak lain hanyalah kehidupan dunia kita saja, tidak ada kehidupan akhirat, sebahagian kita mati karena sampai ajalnya dan sebahagian kita hidup, yakni lahir lagi dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa, yakni akhir dari kehidupan kita. ' Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu, yakni pengetahuan yang pasti, tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.
Muqatil mengatakan bahwa ayat ini turun berhubungan dengan peristiwa percakapan Abu Jahal dengan al-Walid bin al-Mugirah. Pada suatu malam Abu Jahal tawaf di Baitullah bersama Walid. Kedua orang itu membicarakan keadaan Nabi Muhammad. Abu Jahal berkata, "Demi Allah, sebenarnya aku tahu bahwa Muhammad itu adalah orang yang benar. "Al-Walid berkata kepadanya, "Biarkan saja, apa pedulimu dan apa alasan pendapatmu itu?" Abu Jahal menjawab, "Hai Abu Abdisy Syams, kita telah menamainya orang yang benar, jujur, dan terpercaya dimasa mudanya, tetapi sesudah ia dewasa dan sempurna akalnya, kita menamakannya pendusta lagi pengkhianat. Demi Allah, sebenarnya aku tahu bahwa dia itu adalah benar." Al-Walid berkata, "Apakah gerangan yang menghalangimu untuk membenarkan dan mempercayai seruannya?" Abu Jahal menjawab, "Nanti gadis-gadis Quraisy akan menggunjingkan bahwa aku pengikut anak yatim Abu thalib, padahal aku dari suku yang paling tinggi. Demi Al-Lata da Al-Uzza, saya tidak akan menjadi pengikutnya selama-lamanya." Kemudian turunlah ayat ini.
Selanjutnya, pada ayat ini Allah menerangkan keadaan orang-orang kafir Mekah yang sedang tenggelam dalam perbuatan jahat. Semua yang mereka lakukan itu disebabkan oleh dorongan hawa nafsunya karena telah tergoda oleh tipu daya setan. Tidak ada lagi nilai-nilai kebenaran yang mendasari tingkah laku dan perbuatan mereka. Apa yang baik menurut hawa nafsu mereka itulah yang mereka perbuat. Seakan-akan mereka menganggap hawa nafsu mereka itu sebagai tuhan yang harus mereka ikuti perintahnya.
Mereka telah lupa bahwa kehadiran mereka di dunia yang fana ini ada maksud dan tujuannya. Ada misi yang harus mereka bawa yaitu sebagai khalifah Allah di muka bumi. Mereka telah menyia-nyiakan kedudukan yang diberikan Allah kepada mereka sebagai makhluk Tuhan yang paling baik bentuknya dan mempunyai kemampuan yang paling baik pula. Mereka tidak menyadari bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya kepada Allah kelak dan bahwa Allah akan membalas setiap perbuatan dengan balasan yang setimpal. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah:
Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (az-Zalzalah/99: 7-8)
Sebenarnya hawa nafsu yang ada pada manusia itu merupakan anugerah yang tidak ternilai harganya yang diberikan Allah kepada manusia. Di samping Allah memberikan akal dan agama kepada manusia agar dengan keduanya manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya. Jika seseorang mengendalikan hawa nafsunya sesuai dengan pertimbangan akal yang sehat dan tidak bertentangan dengan tuntunan agama, maka orang yang demikian itu telah berbuat sesuai dengan fitrahnya. Tetapi apabila seseorang memperturutkan hawa nafsunya tanpa pertimbangan akal yang sehat dan tidak lagi berpedoman kepada tuntutan agama, maka orang itu telah diperbudak oleh hawa nafsunya. Hal itu berarti bahwa ia telah berbuat menyimpang dari fitrahnya dan terjerumus dalam kesesatan.
Berdasarkan keterangan di atas, maka dalam mengikuti hawa nafsunya, manusia terbagi atas dua kelompok. Kelompok pertama ialah kelompok yang dapat mengendalikan hawa nafsunya; mereka itulah orang yang bertakwa. Sedangkan kelompok kedua ialah orang yang dikuasai hawa nafsunya. Mereka itulah orang-orang yang berdosa dan selalu bergelimang dalam lumpur kejahatan.
Ibnu 'Abbas berkata, "Setiap kali Allah menyebut hawa nafsu dalam Al-Qur'an, setiap kali itu pula Ia mencelanya." Allah berfirman:
Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir. (al-A'raf/7: 176)
Pada ayat lain :
Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. (shad/38: 26)
Dalam ayat ini, Allah memuji orang-orang yang dapat menguasai hawa nafsunya dan menjanjikan baginya tempat kembali yang penuh kenikmatan. Allah berfirman:
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya). (an-Nazi'at/79: 40-41)
Banyak hadis-hadis Nabi ﷺ yang mencela orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya. Diriwayatkan oleh 'Abdullah bin 'Amr bin 'As bahwa Nabi ﷺ berkata.
Tidak beriman seseorang dari antara kamu sehingga hawa nafsunya itu tunduk kepada apa yang saya bawa (petunjuk).(Riwayat al-Khathib al-Bagdadi)
Syaddad bin Aus meriwayatkan hadis dari Nabi ﷺ :
?)
Orang yang cerdik ialah orang yang menguasai hawa nafsunya dan berbuat untuk kepentingan masa sesudah mati. Tetapi orang yang zalim ialah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan mengharap-harap sesuatu yang mustahil dari Allah. (Riwayat at-Tirmidhi dan Ibnu Majah)
Orang yang selalu memperturutkan hawa nafusnya biasanya kehilangan kontrol dirinya. Itulah sebabnya ia terjerumus dalam kesesatan karena ia tidak mau memperhatikan petunjuk yang diberikan kepadanya, dan akibat perbuatan jahat yang telah dilakukannya karena memperturutkan hawa nafsu.
Keadaan orang yang memperturutkan hawa nafsunya itu diibaratkan seperti orang yang terkunci mati hatinya sehingga tidak mampu lagi menilai mana yang baik mana yang buruk, dan seperti orang yang telinganya tersumbat sehingga tidak mampu lagi memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat di langit dan di bumi, dan seperti orang yang matanya tertutup tidak dapat melihat dan mengetahui kebenaran adanya Allah Yang Maha Pencipta segala sesuatu.
Selanjutnya, Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar tidak membenarkan sikap orang-orang kafir Mekah dengan mengatakan bahwa tidak ada kekuasaan yang akan memberikan petunjuk selain Allah setelah mereka tersesat dari jalan yang lurus.
Pada akhir ayat ini, Allah mengingatkan mereka mengapa mereka tidak mengambil pelajaran dari alam semesta, kejadian pada diri mereka sendiri, dan azab yang menimpa umat-umat terdahulu sebagai bukti bahwa Allah Mahakuasa lagi berhak disembah.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
BERTUHANKAN HAWA NAFSU
“Maka sudahkah engkau lihat orang yang mengambil hawa nafsunya menjadi Tuhannya? Dan disesatkan dia oleh Allah padahal dia mengetahui dan dicap-Nya atas pendenganannya dan hatinya dan dijadikan-Nya atas matanya satu penutup. Maka siapakah yang akan membelinya petunjuk selain Allah. Maka tidakkah mereka ingat?"
(ayat 23)
Asal arti hawa ialah udara. Memang dalam bahasa kita pun telah kita pindahkan kalimat itu, hawa bagi kita berarti udara juga. Manusia itu pun mempunyai hawa, sebagai gejala dari keadaan batinnya. Marah, berici, dendam, sayang, sedih, semuanya itu adalah gejala atau hawa, atau udara dari diri. Dia bisa berubah-ubah, tetapi diri kita tetap diri kita. Satu kali kita marah-marah, muka kita berubah jadi merah, sebab darah naik ke muka. Tepat ungkapan orang mengatakan, “Dia itu naik darah." Nanti marah itu mereda, darah pun turun kembali dan wajah pun berubah seperti biasa. Lantaran itu kalau orang menerjemahkan hawa ke dalam bahasa Indonesia, selalu dikatakannya hawa nafsu. Sebab hawa itu memang gejala dari nafsu. Kalau hawa itu sedang naik, jika nafsu asli kita terbawa oleh pengaruh hawa itu, pertimbangan akal tidak ada lagi atau kalah. Dan ketika gejala hawa sudah menurun, timbullah berangsur-angsur pemeriksaan atau koreksi akal kita atas sikap kita ketika hawa tadi naik. Lalu timbul penyesalan atau menertawakan diri sendiri.
Bahasa asing"sentimen" telah kita pakai pula untuk mengartikan hawa itu, meskipun agaknya maksud hawa lebih luas dari sentimen.
Maka di dalam ayat ini digambarkan bahwa ada orang yang dari sangat meluap-luap hawa nafsunya itu, sampai entah disadarinya entah tidak, hawanya-telah dipertuhannya. Sebab perintah Allah sendiri yang telah bersemi di dalam akal budinya, tidak dipedulikannya lagi, atau dengan sengaja dilanggarnya. Dalam ayat ini dengan jitu tersebut gejala-gejala orang yang mempertuhan hawa nafsu itu.
“Dan disesatkan dia oleh Allah, padahal dia mengetahui" Misalnya orang yang membunuh dirinya sendiri karena dorongan hawa nafsu (sentimen) hati iba. Dia tahu perbuatannya itu sesat, tetapi karena yang dipertuhannya waktu hawa iba hati, dia pun mati sesat.
“Dan dicap-Nya atas pendengarannya dan hatinya." Apabila hawa nafsu sudah naik, ditakdirkan Allah-lah, tidak dapat tidak bahwa pendengaran dan hatinya kena materai, kena segel sehingga kebenaran tidak dapat lagi dimasukkan ke dalam."Dan dijadikan-Nya atas matanya satu penutup," tidak mau tahu dia lagi menilai mana yang baik dan buruk yang ada di sekelilingnya. (Ungkapan Indonesianya ialah gelap mata.)
Kalau hawa itu hanya bergejala seberitar, misalnya marah lalu membanting-banting barang-barang hingga rusak, lalu menyesal, belumlah termasuk payah. Tetapi bagaimana kalau mempertuhan hawa telah menjadi sikap jiwa? Pada orang yang tidak mau lagi menerima kebenaran karena kebenaran itu keluar dari mulut orang yang dibericinya. Ada orang berkata tidak mau mengakui kesalahannya karena malu akan dikatakan orang telah turun gengsinya. Padahal, akal budinya yang murni mengakui memang dia salah dan teguran orang itu benar.
Maka kafir-kafir Quraisy tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ kebanyakan ialah karena mempertuhan hawa pantang merendah. Dan Bani Israil atau Yahudi tidak mau memercayai Muhammad ﷺ karena hawa kedengkian. Maka pengaruh hawa yang sudah sangat mendalam ini,"Siapakah yang akan memberinya petunjuk selain Allah?" Memang manusia sendiri tidak akan dapat menginsafkan orang yang demikian kalau tidak Allah yang menolong. Sebab itu diberi peringatanlah manusia akan bahayanya sebagai tersebut di ujung ayat,"Maka tidakkah mereka ingat?"
Di dalam ayat yang lain Allah berfirman,
“Dan mencegah diri daripada hawa, maka sesungguhnya surgalah dia tempat kediamannya." (an-Naazi'aat: 40-41)
Sebab itu, ahli-ahli taﷺuf seumpama Ibnul Qayyim di dalam kitabnya, Zadul Ma'ad, membagi jihad manusia itu kepada melawan empat tingkat musuh. Pertama jihad melawan hawa, kedua melawan nafsu, ketiga melawan setan, dan keempat melawan rayuan dunia. Musuh yang paling besar ialah hawa dan nafsu karena keduanya adalah di dalam diri kita sendiri. Dalam kita menghadapi musuh yang dari luar itu keduanya ini selalu ditentang lebih dahulu. Dan ada dua musuh besar lagi yang tampak kata beliau, yaitu kaum munafik dan kafir yang hendak merusak Islam. Itu pun dapat dihadapi asal kita tetap waspada dari musuh empat yang bermula.
“Dan mereka berikata, Tidak ada hidup melainkan kehidupan dunia kita ini. Mulanya kita tak ada sesudah itu kita hidup dan tidak ada yang membirasakan kita melainkan masa.' Dan tidaklah ada bagi mereka dalam hal yang demikian satu pengetahuan pun. Tidak lain, mereka hanyalah menyangka-nyangka."
(ayat 24)
Mereka tidak percaya bahwa di belakang hidup yang sekarang akan ada hidup lagi. Kata mereka: mulanya kita laksana mati, sebab belum ada, setelah itu mati. Apa sebab mati? Sebab masanya sudah datang buat mati. Masanya sudah datang bahwa darah kita yang dalam tubuh kita tidak mengalir lagi menjalani tubuh, habis gerak badan, sebab itu matilah kita, habis
perkara. Yang ada adalah masa. Tidak ada Tuhan. Pengetahuan adalah berida yang nyata ini saja, terhadap ada apa-apa yang di balik berida, tidak ada pengakuan mereka sedikit pun, atau mereka tidak mau tahu. Lantaran itu dalam soal-soal hakikat hidup dan hakikat mati, mereka hanya menyangka-nyangka. Sangka-sangka itulah yang mereka katakan pengetahuan.
“Dan apabila dibacakan kepada mereka itu ayat-ayat Kami yang jelas nyata, tidaklah ada hujjah (alasan) mereka melainkan bahwa mereka katakan, ‘Bawakanlah bapak-bapak kami jika kamu orang-orang yang beriman.
(ayat 25)
Untuk menolak keterangan Al-Qur'an bahwa nanti manusia akan dihidupkan kembali, mereka berkata: cobalah hidupkan kembali sekarang juga bapak-bapak kami yang telah mati. Maka kalau sekarang kamu tidak bisa menghidupkan mereka, apatah lagi nanti. Nantinya itu kapan?
Tadi Allah katakan mereka hanya menyangka-nyangka. Artinya, di dalam pendirian yang demikian mereka pun masih ragu-ragu dalam hati kecil mereka kepada pendirian sendiri. Karena, kalau benar-benar hidup itu hanya dibawa masa, mengapa tidak serupa saja manusia dengan binatang? Mengapa manusia mempunyai akal, pikiran, kehendak, cita-cita, ingatan? Mengapa manusia ada keinginan kepada yang lebih baik? Mengapa jika seseorang telah berhenti napasnya turun dan naik, masih ada saja jasa baik jejak hidupnya yang dikenangkan oleh yang tinggal. Tidakkah itu menunjukkan bahwa ada lagi sesuatu selain napas itu? Hal yang demikian susah mereka untuk menjawabnya. Sebab itu mereka keluarkan saja hujjah yang kata mereka sudah kuat,"Coba hidupkan kembali bapak-bapak kami sekarang juga." Padahal di dalam hati kecilnya, mereka tidak dapat menyelesaikan soal-soal yang ditimbulkan oleh diri mereka sendiri.
Inilah yang oleh Al-Qur'an dinamai Kaum Dahri. Kaum yang hanya percaya kepada masa.
Dinamai juga Kaum Maddi (materialis) hanya percaya kepada berida. Atau Kaum Thabi'i (naturalis), hanya percaya kepada alam ini saja. Bahwa alam ini adalah terjadi sendirinya. Dia qadim dan dia kekal selama-lamanya. Allah tidak ada. Manusia hidup ke dunia atas kehendak alam, sampai masanya dia pun mati. Sesudah mati habis perkara. Mereka tidak mau membicarakan bahwa sesuatu yang terjadi demikian tersusun rapi di dalam alam, adakah pusat pengaturnya? Mereka tidak mau membicarakan bahwa banyak manusia berbuat baik di dunia ini, namun dia masih dianiaya oleh yang kuat! Sebelum ada pembelaan dia pun mati. Karena cerdiknya, kejahatannya dimaafkan orang saja. Kalau hidup itu hanya hingga ini saja apalah artinya akal yang selalu bercita-cita mencapai yang benar dan yang adil? Kalau sekiranya adalah alat buat menopang hati nurani orang yang mengingkari hari akhirat itu, adakah agaknya kepuasannya di dalam hidupnya sebagai manusia? Tidakkah dia merasa berbahagia kalau dia misalnya jadi korban saja? Tak usah berpikir?
Memanglah suatu ayat atau tanda dari kekuasaan Allah bahwa manusia yang tidak percaya kepada yang di balik alam nyata (metafisika) itu selalu saja ada. Tetapi seorang filsuf bernama Olswald Spengler berpendapat pasti seperti yang dikatakan Af-Qur'an itu, yaitu penganut paham yang demikian dalam hati nuraninya pun tidak juga sempurna yakin akan pendiriannya. Kadang-kadang hal yang demikian adalah sebagai dirumuskan oleh penyair filsuf Iqbal. Ketika beliau membicarakan krisis jiwa filsuf Jerman Nietzsche (baca: Nitsyeh), “Beriman hatinya, kafir otaknya."
Negeri-negeri penjajah Barat yang menjajah negeri-negeri Islam, ketika melihat negeri-negeri itu masih kuat saja Islamnya, yang berarti akhirnya mesti memberontak juga kepada penjajahnya untuk merusak kekuatan Islam itu, memakai juga salah satu cara, yaitu menyebarkan'paham materialisme (serba benda), naturalisme (serba alam) atau ateisme (tidak ada Tuhan) ke negeri-negeri yang dijajahnya, sehingga kadang-kadang menjadi satu kebanggaan dan lagak bagi pemuda-pemuda anak orang Islam yang telah dirusakkan moralnya itu.
Inilah yang diberantas oleh Sayyid Jama-luddin al-Afghari dengan bukunya, Ar-Raddu Wad Dahriyin (Pembantah Paham-Paham Serba Masa), ketika dia datang ke India yang kedua kali pada penggal abad ke-19 (abad ke-13 Hijriyah). Sebab, Inggris pernah menyebarkan pula racun itu ke negeri itu, untuk merusak semangat Islam pada angkatan mudanya.
Untuk menghilangkan pengaruh racun Dahri itu, Allah menyuruhkan kepada Rasul-Nya Muhammad ﷺ,
“Katakanlah, ‘Allah yang menghidupkan kamu dan mematikan kamu> kemudian akan mengumpulkan kamu pada hari Kiamat, tidak ada keraguan padanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
(ayat 26)
Memang, kalau ditanyakan kepada manusia, lebih banyaklah yang tidak mengetahui soal itu. Memang, sebab manusia tidak ada yang pergi ke sana, menyelidiki dan kembali. Filsuf-filsuf yang besar pun tidak akan sama jawabannya. Sebab itu hal itu jangan ditanyakan kepada manusia. Tanyakan saja kepada Allah. Allah telah menjawab: Kiamat pasti datang. Keraguanmu hilang, hatimu pun tenteram.
The Life and the Death of the Believers and the Disbelievers are not Equal
Allah the Exalted states here that the believers and the disbelievers are never equal. Allah said in another Ayah,
لَا يَسْتَوِى أَصْحَـبُ النَّارِ وَأَصْحَـبُ الْجَنَّةِ أَصْحَـبُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَأيِزُونَ
Not equal are the dwellers of the Fire and the dwellers of the Paradise. It is the dwellers of Paradise that will be successful. (59:20)
Allah said here,
أًمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّيَاتِ
Or do those who earn evil deeds think,
those who commit and practice evil,
أّن نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ امَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
سَوَاء مَّحْيَاهُم وَمَمَاتُهُمْ
that We shall hold them equal with those who believe and do righteous good deeds, in their life and their death,
i.e. treat them equally in the present life of the world and in the Hereafter
سَاء مَا يَحْكُمُونَ
Worst is the judgement that they make.
`worst is the thought that they have about Us and about Our justice, thinking that We will ever make the pious and the wicked equal in the Hereafter or this life.'
At-Tabarani recorded that Shubah said that Amr bin Murrah narrated that Abu Ad-Duha said that Masruq said that;
Tamim Ad-Dari once stood in voluntary prayer through the night until the morning only reciting this Ayah,
أًمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّيَاتِ
أّن نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ امَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
Or do those who earn evil deeds think that We shall hold them equal with those who believe and do righteous good deeds...
Allah said in reply:
سَاء مَا يَحْكُمُونَ
(Worst is the judgement that they make.)
Allah said
وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضَ بِالْحَقِّ
And Allah has created the heavens and the earth with truth,
meaning, in justice,
وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ
وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
in order that each person may be recompensed what he has earned, and they will not be wronged.
Allah the Exalted said
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ
Have you seen him who takes his own lust as his god,
who abides by his lust, and whatever his lust portrays as good he implements it, and whatever his lust portrays as evil, he abandons it!
Allah's statement,
وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ
And Allah left him astray with knowledge,
has two meanings.
- One of them is that Allah knew that this person deserves to be misguided, so He left him astray.
- The second meaning is that Allah led this person astray after knowledge reached him and the proof was established before him.
The second meaning includes the first meaning, but not the opposite.
Allah said,
وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ
غِشَاوَةً
and sealed his hearing and his heart, and put a cover on his sight.
so he does not hear what benefits him, understands not what would lead him to the guidance and sees not the evidence with which he can be enlightened.
This is why Allah said,
فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَ تَذَكَّرُونَ
Who then will guide him after Allah? Will you not then remember?
Allah said in a similar Ayah,
مَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَ هَادِيَ لَهُ وَيَذَرُهُمْ فِى طُغْيَـنِهِمْ يَعْمَهُونَ
Whomsoever Allah sends astray, none can guide him; and He lets them wander blindly in their transgressions. (7:186)
The Conviction of the Disbelievers, Their Argument and the Refutation of it
Allah mentions here the creed of Ad-Dahriyyah and the Arab idolators who embraced their creed, denying Resurrection,
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلاَّ حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا
And they say:There is nothing but our life of this world, we die and we live....
They say that there is only this life, some people die while others are born to life, without Resurrection or Judgement.
This was the creed of Arab idolators who used to deny Resurrection, in addition to, the creed of the atheist philosophers among them who denied the creation and Resurrection.
This was also the statement of atheist philosophers who deny the Creator and think that the world will return to its original form once every thirty--six thousand years, when everything will restart its life--cycle again! They claim that this cycle was repeated for infinity, thus contradicting the sound reason and the divine revelation.
They said,
وَمَا يُهْلِكُنَا إِلاَّ الدَّهْرُ
and nothing destroys us except Ad-Dahr (time).
Allah the Exalted said in reply,
وَمَا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلاَّ يَظُنُّونَ
And they have no knowledge of it, they only presume.
they speculate and guess!
As for the Hadith recorded by the two collectors of the Sahih, and Abu Dawud and An-Nasa'i, from Abu Hurayrah that the Messenger of Allah said,
يَقُولُ تَعَالَى
يُوْذِينِي ابْنُ ادَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ بِيَدِيَ الاَْمْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَه
Allah the Exalted says,
The Son of `Adam annoys Me when he curses Ad-Dahr (time), while I am Ad-Dahr. In My Hand are all matters; I cause the alternation of his days and nights.
In another narration;
لَاا تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى هُوَ الدَّهْر
Do not curse Ad-Dahr (time), for Allah is Ad-Dahr.
Ash-Shafi`i, Abu Ubaydah and several other Imams of Tafsir explained the meaning of the Prophet's statement,
لَاا تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى هُوَ الدَّهْر
(Do not abuse Ad-Dahr (time), for Allah is Ad-Dahr.) They said,
During the time of Jahiliyyah, when an affliction, a calamity or a disaster struck them, the Arabs used to say,
`Woe to Ad-Dahr (time)!'
So they used to blame such incidents on Ad-Dahr, cursing Ad-Dahr in the process. Surely, it is Allah the Exalted and Most Honored Who causes these (and all) things to happen. This is why when they cursed Ad-Dahr, it was as if they were cursing Allah Himself, since truthfully, He causes all incidents to happen. Therefore, abusing Ad-Dahr was prohibited due to this consideration, for it was Allah Whom they meant by abusing Ad-Dahr, which -- as we said-- they accused of causing (distressful) incidents.
This is the best explanation for this subject, and it is the desired meaning. Allah knows best.
We should mention that Ibn Hazm and those of the Zahiriyyah like him made an error when they used this Hadith to include Ad-Dahr among Allah's most beautiful Names.
Allah's statement
وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ ايَاتُنَا بَيِّنَاتٍ
And when Our Clear Ayat are recited to them,
means, when the truth is made plain to them and used as evidence against them, asserting that Allah is able to resurrect the bodies after they have perished and disintegrated,
مَّا كَانَ حُجَّتَهُمْ إِلاَّا أَن قَالُوا
ايْتُوا بِأبَايِنَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
their argument is no other than that they say:Bring back our fathers, if you are truthful!
`bring them back to life, if what you say is true.'
Allah the Exalted said
قُلِ اللَّهُ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ
Say (to them):
Allah gives you life and then causes you to die...
`for you are witnesses that He brings you (or new life) to existence after non--existence,'
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَتًا فَأَحْيَـكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ
How can you disbelieve in Allah? Seeing that you were dead and He gave you life. Then He will give you death, then again will bring you to life. (2:28)
Therefore, He Who is able to initiate creation, is able to restart it, as well and more obviously,
وَهُوَ الَّذِى يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ
And He it is Who originates the creation, then He will repeat it; and this is easier for Him. (30:27)
Allah said next,
ثُمَّ يَجْمَعُكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيبَ فِيهِ
then He will assemble you on the Day of Resurrection about which there is no doubt.
`when He resurrects you, it will be on and for the Day of Resurrection, not in this life. Therefore, your statement is groundless,'
ايْتُوا بِأبَايِنَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
(Bring back our (dead) fathers, if you are truthful!) Allah said,
يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ
The Day when He will gather you (all) on the Day of Gathering. (64:9),
لاأَيِّ يَوْمٍ أُجِّلَتْ
لِيَوْمِ الْفَصْلِ
For what Day are these signs postponed? For the Day of sorting out. (77:12-13),
and,
وَمَا نُوَخِّرُهُ إِلاَّ لاًّجَلٍ مَّعْدُودٍ
And We delay it only for a term (already) fixed. (11:104)
Allah said here,
ثُمَّ يَجْمَعُكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيبَ فِيهِ
(then He will assemble you on the Day of Resurrection about which there is no doubt.) there is no doubt that it will come,
وَلَكِنَّ أَكَثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
But most of mankind know not.
and this is why they deny Resurrection and discount the fact that the bodies will be brought back to life.
Allah the Exalted said,
إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيداً
وَنَرَاهُ قَرِيباً
Verily, they see it afar off. But We see it (quite) near. (70:6),
they discount the possibility that Resurrection will ever come, while the believers believe that its occurrence is easy and imminent.
Have you then seen, inform Me [about], him who has taken as his god his [own] desire, [that is] whatever [new] stone he may desire after [having desired] some other stone, considering this [new one] to be better, and whom God has led astray knowingly, on His part, exalted be He, that is to say, knowing him to be of those who follow misguidance before he was created, and set a seal upon his hearing and his heart, so that he cannot hear guidance or understand it, and laid a covering, a darkness, over his sight?, so that he cannot perceive guidance (here one should understand as implied the second direct object of [the verb] a-ra'ayta, 'have you seen', namely: a-yahtadee, 'can he find guidance?). So who will guide him after God?, that is to say, after His leading him astray? In other words, he will not find guidance. Will you not then remember?, [will you not then] be admonished? (tadhakkaroona: one of the two taa' letters [of the original form tatadhakkaroona] has been assimilated with the dhaal).
Commentary
مَنِ اتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ هَوَاهُ ("Have you seen him who has taken his desires as his god...45:23) In other words, he who has made his selfish desires his object of worship. Obviously, no unbeliever claims that his desires are his object of worship. Keeping this in view, this verse of the Qur'an indicates that ` worship' actually means ` obedience'. Thus anyone who undertakes to obey someone against the obedience of Allah makes him the object of his worship instead of Allah. There are people who ignore what Allah has declared lawful and unlawful or what He has permitted and what has forbidden. People who do not care what Allah has forbidden and follow their whims and fancies, their desires are their god, in this sense, although they may not have uttered it by word of mouth. The same theme has been versified by an ` Arif:
سودہ گشت از سجدہ راہ بُتَاں پیشانیم چند برخود تھمت دین مسلمانی نھم
"My forehead has swollen by prostrating before the statues of beauty, although I claim to profess the religion of Islam."
In this couplet, the poet has portrayed selfish desires as statues. He who takes his desires as his leader and follows them is as good as their worshipper, that is why they have been described as their deities. Sayyidna Abu ` Umamah narrates that the Messenger of Allah ﷺ said: "Of all the deities worshipped under the firmament of the earth, the most detestable one in the sight of Allah is hawa, that is, selfish desires. Sayyidna Shaddad Ibn ` Aws ؓ narrates that the Messenger of Allah ﷺٍ said: "A wise person is he who keeps his desires under control and works for life after death; and sinful is he who runs after his desires and yet expects the best in the Hereafter." Sayyidna Sahl Ibn ` Abdullah Tustari ؓ said: "Your ailment is your selfish desires. And if you oppose them, it will turn into your cure." (All these narratives have been adapted from Qurtubi).








