ٱلشُّورَىٰ ١٥
- فَلِذَٰلِكَ maka karena itu
- فَٱدۡعُۖ serulah
- وَٱسۡتَقِمۡ dan tetaplah
- كَمَآ sebagaimana
- أُمِرۡتَۖ kamu diperintah
- وَلَا dan janganlah
- تَتَّبِعۡ kamu mengikuti
- أَهۡوَآءَهُمۡۖ hawa nafsu mereka
- وَقُلۡ dan katakan
- ءَامَنتُ aku beriman
- بِمَآ dengan apa yang
- أَنزَلَ menurunkan
- ٱللَّهُ Allah
- مِن dari
- كِتَٰبٖۖ kitab
- وَأُمِرۡتُ dan aku diperintah
- لِأَعۡدِلَ untuk berbuat adil
- بَيۡنَكُمُۖ diantara kamu
- ٱللَّهُ Allah
- رَبُّنَا Tuhan kami
- وَرَبُّكُمۡۖ dan Tuhan kamu
- لَنَآ bagi kami
- أَعۡمَٰلُنَا amal-amal kami
- وَلَكُمۡ dan bagi kamu
- أَعۡمَٰلُكُمۡۖ amal-pamal kamu
- لَا tidak ada
- حُجَّةَ pertengkaran
- بَيۡنَنَا diantara kami
- وَبَيۡنَكُمُۖ dan diantara kamu
- ٱللَّهُ Allah
- يَجۡمَعُ Dia akan mengumpulkan
- بَيۡنَنَاۖ diantara kami
- وَإِلَيۡهِ dan kepada-Nya
- ٱلۡمَصِيرُ tempat kembali
Karena itu, serulah (mereka beriman) dan tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Muhammad) dan janganlah mengikuti keinginan mereka, dan katakanlah, "Aku beriman kepada Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami perbuatan kami dan bagi kamu perbuatan kamu. Tidak (perlu) ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali."
(Maka karena itu) karena ajaran tauhid itu (serulah) manusia, hai Muhammad (dan tetaplah) berpegang teguh kepada ajaran tauhid (sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka) yang membujukmu untuk meninggalkan ajaran tauhid (dan katakanlah, "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil) bersikap adil (di antara kalian) dalam masalah memutuskan hukum (Allahlah Rabb kami dan Rabb kalian. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kalian amal-amal kalian) masing-masing akan mendapatkan balasan amalnya sendiri-sendiri. (Tidak ada pertengkaran) persengketaan (antara kami dan kalian) ayat ini diturunkan sebelum nabi diperintahkan untuk berjihad melawan mereka (Allah mengumpulkan antara kita) pada hari semua manusia dikembalikan kepada-Nya untuk menjalani peradilan di hadapan-Nya (dan kepada-Nyalah kembali kita") kita akan dikembalikan.
Tafsir Surat Asy-Syura: 15
[[Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah; "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami, dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita).]] (Asy-Syura: 15)
Ayat yang mulia ini mengandung sepuluh poin yang masing-masingnya berdiri sendiri, terpisah dari yang lain dan mengandung hukum tersendiri. Para ulama mengatakan bahwa tiada yang menyaingi ayat ini selain ayat Kursi, karena sesungguhnya di dalam ayat Kursi pun terkandung sepuluh point yang terpisah-pisah sama dengan yang ada dalam ayat ini.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: [[Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu).]] (Asy-Syura: 15) Serulah manusia kepada agama yang Kami wahyukan kepadamu, sebagaimana yang telah Kami perintahkan kepada semua rasul sebelum kamu termasuk para rasul yang mempunyai syariat-syariat yang besar lagi diikuti, seperti para rasul ulul 'azmi dan lain-lainnya.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: [[… dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu.]] (Asy-Syura: 15) Yakni tetaplah kamu beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala beserta orang-orang yang mengikutimu, [[… sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah kepadamu.]]
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: [[… dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. (Asy-Syura: 15) Yakni kaum musyrik, karena mereka telah membuat-buat dalam agama dan mendustakannya, yaitu melakukan penyembahan kepada berhala-berhala.
[[… dan katakanlah, "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah.”]] (Asy-Syura: 15) Artinya, aku beriman dan membenarkan semua kitab yang diturunkan dari langit kepada para nabi, Kami tidak membeda-bedakan seseorang pun di antara mereka.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: [[… dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu.]] (Asy-Syura: 15) dalam memutuskan hukum, seperti apa yang diperintahkan Allah kepadaku.
[[Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu.]] (Asy-Syura: 15) Yakni hanya Dialah yang berhak disembah, tiada Tuhan selain Dia, dan kami mengakui hal tersebut dengan suka rela. Juga kalian, sekali pun kalian tidak melakukannya dengan suka rela. Maka hanya kepada-Nya bersujud semua yang ada di semesta alam ini, baik dengan taat maupun dengan terpaksa.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: [[Bagi kami amal-amal kami, dan bagi kamu amal-amal kamu.]] (Asy-Syura: 15) Maksudnya, kami berlepas diri dari kalian. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah, "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan, " (Yunus: 41)
Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala: [[Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu.]] (Asy-Syura-15) Mujahid mengatakan bahwa tidak ada permusuhan.
Menurut As-Suddi, ayat ini diturunkan sebelum turunnya ayat Saif (ayat yang memerintahkan untuk memerangi orang-orang kafir harbi). Dan pendapat ini cukup beralasan mengingat ayat ini Makkiyyah, sedangkan ayat Saif diturunkan sesudah hijrah.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: [[Allah mengumpulkan antara kita.]] (Asy-Syura: 15) Yakni kelak di hari kiamat. Semakna dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya: Katakanlah, "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui." (Saba: 26)
Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala: [[… dan kepada-Nyalah kembali (kita).]] (Asy-Syura: 15) Artinya, kelak kita akan dikembalikan kepada-Nya pada hari berhisab.".
Karena itu, apa pun sikap mereka terhadap kamu, termasuk keraguan mereka yang mendalam terhadap ajaran-ajaran yang kamu sampaikan, serulah mereka dengan penuh kesabaran untuk beriman kepada Tuhanmu dan tetaplah beriman dan berdakwah sebagaimana diperintahkan Tuhanmu kepadamu Muhammad dan janganlah mengikuti keinginan mereka dalam hal apa pun dan katakanlah kepada mereka yang kafir dan ragu itu dengan tegas, 'Aku beriman kepada Kitab yang diturunkan Allah dan apa yang diturunkan-Nya di dalam kitab suci-Nya dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu sekalian. Allah adalah Tuhan kami dan juga Tuhan kamu, yang menciptakan, memelihara, mendidik, dan membimbing ke jalan yang benar, dan memberi balasan atas apa yang kita kerjakan. Bagi kami perbuatan kami dan kami akan mempertanggungjawabkannya dan bagi kamu perbuatan kamu dan kamu akan mempertanggungjawabkannya di hadapan-Nya. Tidak perlu lagi ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita di hari Kiamat nanti dan memutuskan perbedaan di antara kita dan kepada-Nyalah kita semua kembali. '16. Ayat yang lalu menegaskan bahwa tidak ada lagi bantahan yang terjadi antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir. Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa orang-orang yang berbantah-bantah tentang agama Allah dan berusaha memalingkan orang-orang yang beriman dari agama-Nya setelah agama itu di terima dan di imani oleh mereka, perbantahan mereka itu menjadi sia-sia di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan Allah dengan dijauhkannya mereka dari rahmat-Nya sebagai akibat dari perbuatan mereka dan mereka mendapat azab yang sangat keras di akhirat kelak.
Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ agar menyeru kaumnya supaya jangan berpecah-belah seperti Ahli Kitab, supaya bersatu memeluk agama tauhid yang telah dirintis oleh para nabi, yaitu agama Islam yang dibawanya dan agar beliau tetap tabah menghadapi mereka. Jangan sekali-kali terpengaruh oleh keraguan mereka terhadap agama yang benar yang telah disyariatkan kepadanya. Ia harus selalu menandaskan pendiriannya bahwa dia tetap percaya kepada semua yang telah diturunkan Allah dari langit seperti Kitab Taurat, Injil dan Zabur, dan tidak didustakannya sedikit pun. Nabi Muhammad juga diperintahkan berlaku adil di antara mereka di dalam menetapkan hukum dan sebagainya, dengan tidak akan mengurangi dan menambah apa yang telah disyariatkan Allah kepadanya, serta akan menyampaikan apa yang telah diperintahkan kepadanya untuk disampaikan.
Ayat ini juga menjelaskan bahwa Allah adalah Tuhan kamu dan Tuhan kami sekalian. Dia-lah satu-satunya yang wajib disembah, yang wajib dipercaya dengan penuh pengertian. Tiada Tuhan selain Allah. Bagi kami amalan kami, baik buruknya adalah tanggung jawab kami, diberi pahala atau diazab, dan bagi kamu sekalian amalan kamu. Kami tidak akan berbahagia karena amal baikmu dan tidak akan celaka karena amalan burukmu. Masing-masing bertanggung jawab atas amal perbuatannya. Sejalan dengan ayat ini firman Allah:
Dan jika mereka (tetap) mendustakanmu (Muhammad), maka katakanlah, "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan." (Yunus/10: 41)
Dengan demikian tidak boleh lagi ada pertengkaran di antara kaum Muslimin dan orang-orang musyrikin, yang hak dan yang benar telah nyata. Barang siapa yang masih saja membangkang dan tidak mau percaya berarti dia ingkar. Pada waktunya nanti akan jelas dan tampak siapa yang benar di antara pemeluk agama karena Allah akan mengumpulkan seluruh manusia nanti di hari kemudian, dan di sanalah Dia akan menjatuhkan keputusan yang seadil-adilnya atas apa yang dipersengketakan, sebagaimana firman Allah:
Katakanlah, "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia Yang Maha Pemberi keputusan, Maha Mengetahui." (Saba'/34: 26)
Kepada-Nyalah semua manusia akan kembali sesudah mati dan mempertanggungjawabkan semua amal di dunia. Seluruh manusia akan menerima balasan sesuai dengan amal masing-masing, sebagaimana firman Allah:
Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (az-Zalzalah/99: 7-9)
Wahbah Zuhaili dalam tafsirnya al-Munir menyimpulkan sepuluh perintah Allah dan larangannya bukan hanya bagi Rasulullah tapi juga bagi seluruh umat Islam. Sepuluh perintah dan larangan tersebut adalah:
1. Perintah kepada Nabi untuk terus berdakwah menyampaikan risalahnya.
2. Istiqamah dalam penyampaiannya.
3. Larangan bagi rasul untuk tidak mengikuti keinginan orang-orang musyrikin Mekah atau Ahli Kitab, untuk mengikuti ibadah mereka.
4. Perintah untuk beriman dan menyatakan iman kepada kitab-kitab samawi yang diturunkan Allah.
5. Perintah untuk berlaku adil di antara Muhajirin dan ketika menghadapi perselisihan yang terjadi di antara mereka.
6. Perintah berikrar bahwa hanya Allah yang pantas disembah, tidak ada Tuhan selainnya.
7. Perintah untuk menyatakan kepada Ahli Kitab bahwa masing-masing bertanggung jawab terhadap amal perbuatannya dan balasan baik dan buruk dari amalan tersebut.
8. Perintah untuk menyatakan bahwa tidak ada permusuhan di antara nabi dan Ahli Kitab, karena kebenaran Allah tampak dengan jelas.
9. Perintah untuk menyatakan bahwa Allah kelak akan mengumpulkan umat Islam dan Ahli Kitab di Padang Mahsyar untuk menghadapi pengadilan Allah.
10. Hanya kepada Allah semua makhluk akan kembali.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
KESATUAN AGAMA
“Dia telah gariskan bagi kamu perihal agama, sebagai apa yang telah diwajibkan-Nya kepada Nuh."
(pangkal ayat 13)
Nabi Muhammad adalah Nabi penutup, sedang Nabi Nuh adalah Rasul yang mula-mula menerima syari'at. Jarak antara Nuh dan Muhammad kira-kira 8.000 tahun. Namun inti sari yang digariskan kepada Muhammad adalah yang diwajibkan kepada Nuh itu juga."Danyang Kami telah wajibkan kepada engkau dan apa yang telah Kami wajibkan dia kepada Ibrahim dan Musa dan Isa." Di sini bertambah jelas bahwa Musa, Isa, dan Muhammad pun hanya diberi satu macam tugas kewajiban meskipun masanya berbeda.
Apakah tugas yang sama atau satu itu? “(Yaitu): bahwa kamu tegakkan agama dan jangan kamu bercerai-beraipadanya." Agama itu hanya satu, yaitu mengakui keesaan Allah dan sesudah diakui keesaan-Nya itu lalu beribadah kepada-Nya, berbakti, taat! Untuk mengajarkan inilah sekalian rasul-rasul itu diutus. Di dalam ayat ini disebut lima rasul yang inti, yang disebut “Ulul azmi min ar-rusuli" (rasul-rasul yang mempunyai tugas istimewa). Yaitu: Nuh, Ibrahim, Musa, Isa al-Masih, dan Muhammad (shalawat dan salam Allah buat mereka semua).
Lantaran dimaksud dengan ad-din, yang kita artikan agama itu hanya satu, yaitu kebaktian kepada Allah. Dengan sendirinya maka hakikat agama di dalam dunia hanya satu. Itulah yang diperingatkan Allah bahwa kamu tegakkan agama dan jangan bercerai-berai padanya.
“Amat berat atas orang musyrikin apa yang engkau ajak mereka kepadanya" Mengapa mereka merasa amat berat? Sebab ini adalah menanam suatu cita-cita besar, yang di zaman modern disebut ideologi. Menanam kesatuan tujuan yaitu Allah dan menanam kesatuan kepercayaan dan pegangan yang amat jauh tujuan, tahan buat berabad-abad, dan kalau pendirian itu dipegang, bukan saja berhala yang mesti runtuh, bahkan kesukuan-kesukuan, mementingkan kabilah, harus dikesampingkan. Yang ada hanya ukhuwah dalam agama, ini adalah soal tauhid, menanam keyakinan satu Tuhan.
Satu agama, satu keyakinan hidup. Padahal mereka musyrik; banyak Tuhan dan banyak kabilah, banyak keyakinan, sebanyak kepala penganutnya, inilah yang membuat mereka keberatan. Tetapi Allah telah memberikan harapan.
“Allah, Dia memilih buat itu siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan diberi-Nya petunjuk siapa yang kembali kepada-Nya “
(ujung ayat 13)
Allah sendiri yang akan memilih, siapa yang bersedia buat agama itu. Lantaran itu maka Islam tidak membeda nabi. Semua nabi, adalah nabi-Nya. Tidak membeda kitab, semua kitab-kitab-Nya. Yahudi dan Nasrani dalam pandangan Islam adalah hanya perbedaan cara melakukan beberapa peraturan, tetapi tidak tentang pokok. Sebab itu mereka dihormati, disebut Ahlu! Kitab, orang yang keturunan kitab. Tidak sekali-kali disamakan anggapan kepada mereka dengan kepada musyrik. Nabi-nabi yang terdahulu itu pun mengatakan bahwa sepeninggal mereka akan datang seorang Nabi besar, yang syari'atnya akan menyempurnakan pekerjaan mereka. Sebab itu maka orang Yahudi menunggu kedatangannya dan Nasrani pun demikian pula. Di dalam kitab-kitab orang Yahudi disebut Messias. Di dalam kitab Injiinya orang Nasrani disebut Paraclet. Orang Yahudi yang berdiam di Yatsrib (Madinah), bila mereka bercakap-cakap dengan orang Arab penduduk negeri itu selalu mereka mengatakan juga bahwa Nabi itu akan datang, sehingga perkataan orang Yahudi itulah salah satu pendorong yang menyebabkan Kabilah Aus dan Khazraj mau percaya atas seruan Nabi Muhammad ﷺ,. Inilah rupanya Nabi yang selalu dikatakan orang Yahudi itu.
Tetapi bagaimana kenyataannya setelah Nabi Muhammad ﷺ datang?
“Dan tidaklah mereka bercerai-berai melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan; lantaran kedengkian di antara mereka."
(pangkal ayat 14)
Apakah pengetahuan itu? Yaitu Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur'an, itulah pengetahuan itu. Sudah jelas sekarang bahwa Nabi yang ditunggu-tunggu kedatangannya itu bukan dari Bani Israil, tetapi dari Bani Isma'il. Al-Qur'an bukan lagi bahasa Ibrani, tetapi bahasa Arab. Orang Arab yang selama ini diejek dan diolok karena tidak bernabi, sekarang akan naik. Maka timbullah dengki. Lalu mereka sesama mereka jadi pecah. Hanya beberapa orang saja yang sudi mengakui kenabian Muhammad, yang lain mendustakan.
“Dan kalau bukanlah kalimat yang telah terdahulu dari Tuhan engkau, sampai suatu waktu yang telah ditentukan, niscaya telah dihukum di antara mereka. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwarisi kitab sesudah mereka itu adalah di dalam keragu-raguan daripadanya, lagi bimbang."
(ujung ayat 14)
Kalimat yang telah tersurat terlebih dahulu di dalam al-Lauh al-Mahfuzh, rupanya telah menentukan bahwa perjuangan menegakkan kalimat tauhid yang sejati itu tidak akan berhenti dengan kemenangan Nabi ﷺ saja. Akan panjang lagi ujungnya di belakang, untuk berabad-abad. Sedang hukuman bagi yang kufur akan diberikan kelak di suatu waktu yang telah ditentukan, yaitu di akhirat. Adapun di dunia ini, kemenangan cita akan ditentukan oleh perjuangan yang tidak boleh berhenti. Karena orang yang keturunan kitab sesudah mereka akan masih tetap raga-ragu dan bimbang. Sebab itu maka revolusi jiwa untuk mencapai tauhid tidak akan selesai sampai hari Kiamat. Kemudian Allah memesankan kepada rasul-Nya,
“Karena demikian maka ajaklah dan bendirilah teguh sebagaimana yang diperintahkan kepadamu dan jangan engkau ikuti hawa nafsu mereka."
(pangkal ayat 15)
Dengan ayat ini Rasulullah ﷺ sudah diberi dua perintah yang pokok. Pertama, dakwah teruskan, ajakan dan seruan tidak boleh berhenti. Kedua, pendirian teguhkan. Tegak lurus dengan keyakinan kepada Allah; istiqamah. Karena suatu dakwah tidak akan jaya, kalau yang berdakwah tidak mempunyai istiqamah dan sebagai lanjutannya jangan diikuti, jangan dipedulikan hawa nafsu mereka yang hendak membawa kepada pertengkaran yang sangat menghabiskan tenaga dan hen-daklah dijelaskan pendirian. Pendirian yang tidak digoyahkan oleh gelora hawa nafsu lawan. Pendirian itu ialah
“Dan katakanlah, ‘Aku percaya kepada apa yang ditrnunkan Allah dari al-Kitab dan aku diperintah supaya berlaku adil di antara kamu. Allah adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu Bagi kami amalan-amalan kami dan bagi kamu amalan-amalan kamu Tidak ada pertengkaran di antara kami dengan kamu. Allah akan mengumpulkan di antara kita dan kepada-Nyalah tempat kembali."
(ujung ayat 15)
Demikianlah sikap yang diperintahkan Allah kepada Rasui-Nya ﷺ ketika di Mekah. Sebab orang-orang Yahudi dari Yatsrib atau Nasrani dari Najran, banyak juga berulang ke sana. Nabi Muhammad ﷺ menutup segala pertengkaran yang mungkin timbul, sebab bila dibanding dengan musyrik-musyrik penyembah berhala yang masih berurat berakar di tanah Arab di Mekah khususnya, maka tidaklah layak ditimbulkan pertikaian Islam dengan Ahlul Kitab. Sebab pokok agama itu hanya satu pada hakikatnya. Beramallah kamu menurut keyakinanmu, kami pun beramal menurut keyakinan kami. Tidak usah ada pertengkaran di antara kita dan saya akan tetap memperlakukan kamu dengan adil. Tentang perbedaan paham di antara kita, nanti di hadapan Allah kita minta penyelesaian-Nya. Sebab kita semua akan kembali kepada-Nya dan berkumpul di hadapan-Nya.
“Dan orang-orang yang membantah kepada Allah sesudah diperkenankan baginya, bantahan mereka tidak ada gunanya di sisi Tuhan mereka. Dan ke atas mereka kemurkaan dan bagi mereka adzab yang sangat."
(ayat 16)
Bantahan-bantahan itu nyata tidak ada harganya sama sekali. Tidak ada kebenaran melainkan satu, yaitu dari Allah. Bantahan atas kebenaran Allah, hanyalah hawa nafsu maka kemurkaan dan adzablah yang akan jadi jawabnya.
Turunnya ayat ini karena Yahudi-Yahudi disokong oleh musyrikin mengemukakan beberapa bantahan dan pertanyaan-pertanyaan yang maksudnya semata-mata membangga bahwa ajaran Yahudi lebih tua.
Tetapi tiap-tiap bantahan itu saat dipatahkan oleh Nabi ﷺ Akhirnya turunlah ayat ini buat memukul jatuh mereka.
Apa bantahan lagi, padahal: “Allah-lah yang menurunkan kitab itu."
(pangkal ayat 17)
Bukan ia semata kata-kata Muhammad. Dia hanya penyaluT wahyu, “dengan kebenaran dan neraca." Kebenaran yang tak saat dibantah oleh jiwa murni dan neraca pertimbangan yang adil, yang tidak saat berpaling lagi.
“Dan engkau tidak tahu, barangkali Sa'at itu sudah dekat."
(ujung ayat 17)
Bagaimana sambutan mereka tentang berita bahwa Sa'at, atau Kiamat itu pasti datang?
“Meminta cepat kedatangannya orang-orang yang tidak beriman kepadanya."
(pangkal ayat 18)
Karena mereka menerimanya dengan olok-olok. Sebab tiap-tiap berbicara soal agama Nabi Muhammad ﷺ selalu menyebut Kiamat mesti datang. Tetapi tidak juga datang. Sebagai juga rasa kekufuran manusia di zaman kita ini. Kata mereka: sudah 14 abad, 14 kali 100 tahun Muhammad mengatakan dunia akan Kiamat, sekarang belum juga! “Dan orang-orang yang beriman merasa takut daripadanya dan mereka tahu bahwasanya dia itu sebenarnya." Mereka merasa takut kalau-kalau Kiamat datang sedang amalan mereka masih sangat berkurang-kurang.
“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang Sa'at itu adalah di dalam kesesatan yang jauh."
(ujung ayat 18)
Ingatlah orang yang tidak percaya akan hari Kiamat itu sejauh-jauhnya karena yang dipikirkannya hanya semata-mata dunia. Dia tidak takut berbuat aniaya di bumi, sebab tidak yakin akan ada pembalasan.
“Allah amat lemah lembut kepada hamba-hamba-Nya, diberi-Nya rezeki barangsiapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dia adalah Yang Mahakuat dan Yang Mahagagah."
(ayat 19)
Apabila setiap hari ini kita memakan dan meminum rezeki yang diberikan-Nya, hidup senang, harta ada, pangkat, kebesaran dan lain-lain, terasalah betapa lemah lembut-Nya Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Kita girang, kita tertawa. Tetapi Dia Mahakuat karena apabila nikmat itu hendak dicabut-Nya, sedikit pun kita tidak dapat bertahan. Umur berjalan terus, dari muda kita terus tua, dan akhirnya mati. Badan mulanya kuat, akhirnya dengan tidak disadari, tenaga itu kian susut dan surut, dan mati. Dihitung-hitung masa yang dilalui, rupanya hanya sebentar saja. Kita rasakan kejadian dua puluh tahun yang lalu, baru rasa kemarin. Sedang yang akan ditempuh masih lama rasanya. Sebelum merasa kepuasan, air kehidupan pun habis. Kita hidup di antara sifat ilahi. Al-Lathif dengan al-Qawi dan al-Aziz. Di antara karunia lemah lembut-Nya dengan kuat gagah-Nya. Kita akan terombang-ambing dalam hidup kalau kita lupa al-Qawi dan al-Aziz karena menikmati al-Lathif. Moga-moga dapatlah kita mencamkannya dalam hati, setiap hari.
“Barangsiapa yang menginginkan kebun akhirat, akan Kami tambah untuknya perkebunannya. Dan barangsiapa yang menginginkan kebun dunia, akan Kami berikan kepadanya sebagian daripadanya; tetapi tidaklah ada baginya di akhirat pembagian apa-apa."
(ayat 20)
Sebab itu maka ayat ini menganjurkan kita membuka kebun akhirat sedang dalam dunia mi. Sebab hidup Muslim adalah satu jua, yaitu hidup yang berpangkal di dunia dan berujung di akhirat. Untuk mencapai akhirat tidak ada jalan lain melainkan melalui, ataupun melintasi dunia. Apabila hidup itu hendak kita potong, yaitu tidak mengingat akhirat, yang kita capai hanya dunia sajalah. Itu pun dapatnya hanya laksana mimpi belaka. Sedang mencoba-coba dia sudah habis atau laksana memakan limau kesumba (jeruk), ketika memakannya terasa manisnya. Setelah jeruk habis maka bekas pahitnya tinggallah di kerongkongan dan di lidah. Dan setelah mati maka yang akan d-dapati di akhirat tidak ada apa-apa. Setelah mati tertutup yang penghabisan dan cerita kehidupan sudah tamat, barulah terbuka hal yang sebenarnya, bahwa kehidupan yang sudah kita lalui itu tidaklah apa-apa.
Allah is the Protector, Ruler and Creator
Allah says,
أَمِ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء
فَاللَّهُ هُوَ الْوَلِيُّ وَهُوَ يُحْيِي المَوْتَى
وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Or have they taken protecting friends besides Him? But Allah --- He Alone is the protector. And He Who gives life to the dead, and He is Able to do all things.
Here Allah denounces the idolators for taking other gods instead of Allah, and declares that He is the True God, and it is not right to worship anyone except Him Alone. He is the One Who is able to bring the dead back to life and He is Able to do all things.
Then He says
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ
And in whatsoever you differ, the decision thereof is with Allah.
means, in whatever issue you differ. This is general in meaning and applies to all things.
فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ
the decision thereof is with Allah.
means, He is the Judge of that, according to His Book and the Sunnah of His Prophet.
This is like the Ayah:
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
(And) if you differ in anything amongst yourselves, refer it to Allah and His Messenger. (4:59)
ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي
Such is Allah, my Lord,
means, (He is) the Judge of all things.
عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
in Whom I put my trust, and to Him I turn in repentance.
means, `I refer all matters to Him.
فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالاْاَرْضِ
The Creator of the heavens and the earth.
means, the Maker of them both and everything in between.
جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا
He has made for you mates from yourselves,
means, of your own kind. As a blessing and a favor from Him, He has made your kind male and female.
وَمِنَ الاَْنْعَامِ أَزْوَاجًا
and for the cattle (also) mates.
means, and He has created for you eight pairs of cattle.
يَذْرَوُكُمْ فِيهِ
By this means He creates you.
means, in this manner He creates you, male and female, generation after generation of men and cattle.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
There is nothing like Him,
means, there is nothing like the Creator of these pairs, for He is the Unique, the Self-Sufficient Master, Who has no peer or equal.
وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
He is the All-Hearer, the All-Seer.
لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضِ
To Him belong the keys of the heavens and the earth.
We have already discussed the interpretation of this phrase in Surah Az-Zumar (39:63), the conclusion of which is that He is the One Who is controlling and governing them.
يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاء وَيَقْدِرُ
He expands provision for whom He wills, and straitens.
means, He gives plentiful provision to whomsoever He wills and He reduces it for whomsoever He wills, and He is perfectly Wise and Just.
إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Verily, He is the All-Knower of everything.
The Religion of the Messengers is One
Allah says to this Ummah:
شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ
He (Allah) has ordained for you the same religion which He ordained for Nuh, and that which We have revealed to you,
Allah mentions the first Messenger who was sent after Adam, that is, Nuh, peace be upon them, and the last of them is Muhammad.
وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى
and that which We ordained for Ibrahim, Musa and Isa,
Then He mentions those who came in between them who were the Messengers of strong will, namely Ibrahim, Musa and Isa bin Maryam. This Ayah mentions all five, just as they are also mentioned in the Ayah in Surah Al-Ahzab, where Allah says:
وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّيْنَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِن نُّوحٍ وَإِبْرَهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ
And (remember) when We took from the Prophets their covenant, and from you, and from Nuh, Ibrahim, Musa, and Isa son of Maryam. (33:7)
The Message which all the Messengers brought was to worship Allah Alone, with no partner or associate, as Allah says:
وَمَأ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِى إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ أَنَاْ فَاعْبُدُونِ
And We did not send any Messenger before you but We revealed to him (saying):None has the right to be worshipped but I, so worship Me. (21:25).
And according to a Hadith (the Prophet said):
نَحْنُ مَعْشَرَ الاَْنْبِيَاءِ أَوْلَادُ عَلَّتٍ دِينُنَا وَاحِد
We Prophets are brothers and our religion is one.
In other words, the common bond between them is that Allah Alone is to be worshipped, with no partner or associate, even though their laws and ways may differ, as Allah says.
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَـجاً
To each among you, We have prescribed a law and a clear way. (5:48)
Allah says here:
أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ
saying you should establish religion and make no divisions in it.
meaning, Allah enjoined all the Prophets (peace and blessings of Allah be upon them all) to be as one and He forbade them to differ and be divided.
كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ
Intolerable for the idolators is that to which you call them.
means, `it is too much for them to bear, and they hate that to which you call them, O Muhammad, i.e., Tawhid.'
اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاء وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ
Allah chooses for Himself whom He wills, and guides unto Himself who turns to Him in repentance.
means, He is the One Who decrees guidance for those who deserve it, and decrees misguidance for those who prefer it to the right path.
Allah says here
وَمَا تَفَرَّقُوا إِلاَّ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْعِلْمُ
And they divided not till after knowledge had come to them,
means, their opposition to the truth arose after it had come to them and proof had been established against them. Nothing made them resist in this manner except their transgression and stubbornness.
بَغْيًا بَيْنَهُمْ
وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِن رَّبِّكَ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى
And had it not been for a Word that went forth before from your Lord for an appointed term,
means, were it not for the fact that Allah had already decreed that He would delay the reckoning of His servants until the Day of Resurrection, the punishment would have been hastened for them in this world.
لَّقُضِيَ بَيْنَهُمْ
the matter would have been settled between them.
وَإِنَّ الَّذِينَ أُورِثُوا الْكِتَابَ مِن بَعْدِهِمْ
And verily, those who were made to inherit the Scripture after them,
means, the later generation which came after the earlier generation which had rejected the truth.
لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ مُرِيبٍ
are in grave doubt concerning it.
means, they do not have any firm conviction in matters of religion; they merely imitate their forefathers, without any evidence or proof. So they are very confused and doubtful
This Ayah includes ten separate and independent ideas, each of which is a ruling on its own.
They (the scholars) said that there is nothing else like it in the Qur'an, apart from Ayat Al-Kursi (2:255), which also includes ten ideas.
فَلِذَلِكَ فَادْعُ
So unto this then invite (people),
means, `so call people to this which We have revealed to you and which We enjoined upon all the Prophets before you,' the Prophets of major ways (of Shariah) that were followed, such as the Messengers of strong will, and others.
وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ
and stand firm as you are commanded,
means, `adhere firmly, you and those who follow you, to the worship of Allah as He has commanded you.'
وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ
and follow not their desires,
means, the desires of the idolators, in the falsehoods that they have invented and fabricated by worshipping idols.
وَقُلْ امَنتُ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِن كِتَابٍ
but say:I believe in whatsoever Allah has sent down of the Book...
means, `I believe in all the Books that have been revealed from heaven to the Prophets; we do not differentiate between any of them.'
وَأُمِرْتُ لاِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ
and I am commanded to do justice among you.
means, when judging according to the commands of Allah.
اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ
Allah is our Lord and your Lord.
means, `He is the One Who is to be worshipped, and there is no true God but He. We affirm this willingly, and even though you do not do so willingly, everyone in the universe prostrates to Him obediently and willingly.'
لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ
For us our deeds and for you your deeds.
means, `we have nothing to do with you.'
This is like the Ayah:
وَإِن كَذَّبُوكَ فَقُل لِّى عَمَلِى وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ أَنتُمْ بَرِييُونَ مِمَّأ أَعْمَلُ وَأَنَاْ بَرِىءٌ مِّمَّا تَعْمَلُونَ
And if they demy you, say:For me are my deeds and for you are your deeds! You are innocent of what I do, and I am innocent of what you do! (10:41)
لَاا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ
There is no dispute between us and you.
Mujahid said, This means, no argument.
As-Suddi said,
This was before Ayah of the sword was revealed.
This fits the context, because this Ayah was revealed in Makkah, and Ayah of the sword (22:39-40) was revealed after the Hijrah.
اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا
Allah will assemble us (all), (means, on the Day of Resurrection).
This is like the Ayah:
قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ
Say:Our Lord will assemble us all together, then He will judge between us with truth. And He is the Just Judge, the All-Knower of the true state of affairs. (34:26).
وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
and to Him is the final return.
means, the final return on the Day of Reckoning.
So to that then, [to that] affirmation of [God's] Oneness, summon, O Muhammad may peace and salutation be upon him, people, and be upright, in [summoning them to] this, just as you have been commanded, and do not follow them in their desires, to abandon it. And say: 'I believe in whatever Book God has revealed. And I have been commanded to be just between you, in passing judgement. God is our Lord and your Lord. Our deeds concern us and your deeds concern you, and so each [one of us] will be requited according to his [own] deeds. There is no argument, [no] dispute, between us and you - this was [revealed] before the command to struggle [against them]. God will bring us together, at the [time of the] Return to decide [definitively] between us, and to Him is the [final] destination', the [ultimate] return.
فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ ۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ ۖ وَقُلْ آمَنتُ بِمَا أَنزَلَ اللَّـهُ مِن كِتَابٍ ۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ ۖ اللَّـهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۖ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ ۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۖ اللَّـهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
"So, (0 prophet,) towards that (faith) invite (people), and be steadfast as you are commanded, and do not follow their desires, and say, "I believe in whatever book Allah has sent down. And I have been ordered to do justice among you. Allah is our Lord and your Lord. For us are our deeds, and for you, your deeds. There is no argumentation between us and you. Allah will bring us together, and to Him is the final return." (42:15)
Hafiz Ibn Kathir has stated that this verse comprises ten sentences, and each sentence carries a specific order. As such, ten types of precepts are stated in this one verse. No other verse in the entire Qur'an has this peculiarity, except 'Ayat-ul-kursiyy which comprises ten types of precepts as well.
The first order فَلِذٰلِکَ فَادعُ (So, 0 Prophet, towards that faith invite people) means: ` Although your call towards ` tauhid' (Oneness of Allah) sits very heavy on the polytheists, it is no cause for you to give up your invitational call, and you should continue with it.
The second order وَاستَقِم کَمَآ اُمِرتَ (and be steadfast as you are commanded) says, ` You yourself ought to stand firm in the religion towards which you are inviting other people. This firmness has to be in accordance with the command of Allah, that is, to be on the moderate side in your beliefs, deeds, morals, habits and social behavior - there should not be even the slightest inclination towards the extremes of ifrat (overdoing something) or tafrit (falling short in something). Obviously such a firmness is not easy. That is why when some noble companions pointed out to the Holy Prophet ﷺ that some of hairs have turned grey, he said, "Surah Hud has turned me old." This very order (of standing firm as commanded) has been given in Surah Hud also in the same very words. (The meaning of standing firm, the difficulties in observing it and its importance are discussed in detail in the commentary on Surah Hud on page 673 of volume 4 of Ma'ariful Qur'an).
The third command وَلَا تَتَّبِع اَھوَآَء ھُم (do not follow their desires - ) directs the Holy Prophet ﷺ not to be concerned about the opposition of any opponent in his duty of propagation.
The fourth command قُل اٰمَنتُ بِمَآ اَنزَلَ اللہُ مَن کِتابً (and say "I believe in whatever book Allah has sent down" ) is to announce that the Holy Prophet ﷺ believes not only in the Book that has been revealed to him, but he believes in all the former divine books.
The fifth command اُمِرتُ لِاَعدِلَ بَینَکُم (I have been ordered to do justice among you) apparently relates to doing justice in the matters of dispute brought to him. But some exegetes have taken the meaning of adl' to be ` equality' and thus have taken the sentence to mean that he should treat all the commands of religion equally by believing in all the prophets (علیہم السلام) ، in all the Books and by obeying all the Divine laws without any exception.
The sixth sentence اَللہُ رَبُّنَا is ` Allah is our Lord and you Lord.' which means that all of us are nourished by Allah.
The seventh sentence لَنَآ اعمالُنَا وَ لَکُم اَعمَالُکُم (For us are our deeds and for you, your deeds) states that our deeds would be for us only and you would neither gain nor lose due to our deeds, and your deeds would be for you only and we would neither gain nor lose due to your deeds. Some exegetes have stated that this verse was revealed in Makkah before the command for jihad with non-Muslims was revealed; the verses conveying the command for jihad have cancelled this command, because the essence of jihad is to subjugate those people by fighting who do not accept the advice and exhortation - not to let them remain in the state of kufr. And some exegetes have stated that this command has not been cancelled; what it means is that since the truth has been proved through logical arguments, its non-acceptance can only be due to enmity and obstinacy, and as such, everybody is responsible for his own deeds. (Qurtubi)
The eighth command لَا حُجَّۃ بَینَنَا و بینَکُم (there is no argumentations between us and you -) is that since the disbelievers do not accept the truth, despite its having been proved, which demonstrates their enmity, therefore, further discussion is useless and now there would be no more arguments between the Holy Prophet ﷺ and the disbelievers.
The ninth sentence اَللہُ یَجمَع بیننَا (Allah will bring us together -) states that on the Day of Judgment, Allah Almighty would gather all of us together and would requite every deed.
The tenth declaration وَاِلَیہِ المَصِیر (and to Him is the final return -) is that all of us would return to Him.