Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
وَتَرَكۡنَا
dan Kami tinggikan
عَلَيۡهِ
atasnya
فِي
pada
ٱلۡأٓخِرِينَ
orang-orang yang kemudian
وَتَرَكۡنَا
dan Kami tinggikan
عَلَيۡهِ
atasnya
فِي
pada
ٱلۡأٓخِرِينَ
orang-orang yang kemudian
Terjemahan
Dan Kami abadikan untuk Nuh (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian;
Tafsir
(Dan Kami abadikan) Kami lestarikan (untuk Nuh itu) pujian yang baik (di kalangan orang-orang yang datang kemudian) yakni para nabi dan semua umat manusia hingga hari kiamat.
Tafsir Surat As-Saffat: 75-82
Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami, maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). Dan Kami telah menyelamatkannya dan keluarganya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, "Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman.
Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain. Setelah Allah ﷻ menyebutkan bahwa kebanyakan orang-orang terdahulu sesat dari jalan keselamatan, lalu Allah menjelaskan hal tersebut secara rinci. Untuk itu Allah ﷻ menceritakan perihal Nabi Nuh a.s. dan apa yang dijumpainya dari kaumnya yaitu mereka mendustakannya, dan bahwa tiada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali hanya sedikit, padahal masa kerasulannya cukup lama. Nabi Nuh a.s. tinggal di kalangan kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun. Dan dalam kurun waktu yang lama sekali Nabi Nuh a.s. menyeru mereka dan semakin keras pula kedustaan kaumnya terhadap dirinya.
Manakala dia menyeru mereka ke jalan Allah, makin bertambahlah keingkaran kaumnya. Lalu Nuh a.s. berdoa kepada Tuhannya, "Bahwa sesungguhnya aku dalam keadaan terkalahkan, maka tolonglah aku." Maka Allah ﷻ murka dengan marahnya Nabi Nuh a.s. terhadap kaumnya. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya: Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami, maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). (Ash-Shaffat: 75) Yakni Kamilah yang sebaik-baik memperkenankan seruannya. Dan Kami telah menyelamatkannya dan keluarganya dari bencana yang besar. (Ash-Shaffat: 76) Yaitu dari pendustaan kaumnya dan gangguan mereka yang menyakitkan. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. (Ash-Shaffat: 77) Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa tiada seorang manusia pun yang ada, melainkan dari keturunan Nabi Nuh a.s.
Sa'id ibnu Abu Arubah telah meriwayatkan dan Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. (Ash-Shaffat: 77) Bahwa manusia semuanya berasal dari keturunan Nabi Nuh a.s. Imam Turmuzi, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan melalui hadis Said ibnu Basyir: ". dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Samurah dari Nabi ﷺ Sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. (Ash-Shaffat: 77) Beliau ﷺ bersabda: Sam, Ham, dan Yafis. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, dari Sa'id, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Samurah r.a. yang telah mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda: Sam menurunkan bangsa Arab, Ham menurunkan bangsa Habsyah, dan Yafis menurunkan bangsa Romawi. Imam Turmuzi meriwayatkannya melalui Bisyr ibnu Mu'az Al-Aqdi, dari Yazid ibnu Zurai, dari Sa'id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah sanad yang sama.
Al-Hafiz Abu Umar ibnu Abdul Barr mengatakan bahwa telah diriwayatkan hal yang semisal dari Imran ibnu Husain r.a., dari Nabi ﷺ Yang dimaksud dengan Romawi dalam hadis ini ialah bangsa Romawi terdahulu, yaitu bangsa Yunani yang nasabnya sampai pada Rumi ibnu Liti ibnu Yunan ibnu Yafis ibnu Nuh a.s. Kemudian telah diriwayatkan melalui hadis Ismail ibnu Iyasy, dari Yahya ibnu Sa'id, dari Sa'id ibnul Musayyab yang mengatakan bahwa anak Nabi Nuh a.s.
itu ada tiga orang, yaitu Sam, Ham, dan Yafis. Dan masing-masing dari mereka beranak tiga orang Sam menurunkan tiga bangsa, yaitu bangsa Arab, bangsa Persia, dan bangsa Romawi. Yafis menurunkan tiga bangsa, yaitu bangsa Turki, bangsa Saqalibah (Sicilia), serta Ya'juj dan Ma'juj. Ham menurunkan bangsa Egypt, bangsa yang berkulit hitam, dan bangsa Barbar. Telah diriwayatkan pula hal yang semisal dari Wahb ibnu Munabbih.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Firman Allah ﷻ: Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (Ash-Shaffat: 78) Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sebutan yang baik. Mujahid mengatakan, makna yang dimaksud ialah sebutan yang baik di kalangan semua nabi. Qatadah dan As-Saddi mengatakan bahwa Allah mengabdikan bagi Nuh a.s. pujian yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Ad-Dahhak mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah pujian yang baik. Firman Allah ﷻ: "Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam." (Ash-Shaffat: 79) Sebagai realisasi dari keabadian sebutan baik dan pujian yang baik baginya ialah bahwa dia didoakan sejahtera oleh semua golongan dan semua umat manusia.
Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (Ash-Shaffat: 80) Yakni demikianlah Kami berikan balasan kepada hamba yang berbuat kebaikan dalam ketaatannya kepada Allah ﷻ Kami jadikan baginya sebutan dan buah tutur yang baik di kalangan orang-orang yang sesudahnya sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya: Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. (Ash-Shaffat: 81). Maksudnya, membenarkan, mengesakan, dan meyakini kebenaran. Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain. (Ash-Shaffat: 82) Yakni Kami binasakan mereka sehingga tiada seorang pun dan mereka yang tersisa, tiada pula peninggalan-peninggalan mereka. Mereka tidak lagi dikenal kecuali hanya sifat-sifat yang buruk.".
Dan Kami abadikan untuk Nabi Nuh pujian yang bagus dan buah tutur yang indah di kalangan orang-orang yang datang kemudian. 79. Kesejahteraan Kami limpahkan atas Nuh di seluruh alam.
Kemudian dijelaskan jenis doa Nabi Nuh yang dikabulkan itu, antara lain: Pertama, Allah telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang beriman, termasuk beberapa orang putranya, dari bencana yang besar yakni angin topan yang dahsyat dibarengi banjir besar. Seorang putranya ikut tenggelam. Mereka yang selamat dari banjir besar itu ialah mereka yang berada dalam kapal. Firman Allah:
Kemudian Kami menyelamatkannya Nuh dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian setelah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. (asy-Syu'ara'/26: 119-120)
Kedua, Allah menjadikan anak cucu Nabi Nuh orang yang akan melanjutkan keturunannya, dan mereka yang membangkang dan menentang seruannya dibinasakan, seperti yang dimohon Nabi Nuh dalam doanya.
Ketiga, Allah mengabadikan pujian dan nama yang harum bagi Nuh di kalangan para nabi yang datang kemudian dan umat manusia sampai akhir zaman. Beliau masyhur di kalangan kaum muslimin, termasuk salah seorang dari lima rasul yang disebut ulul 'azmi yang artinya orang-orang yang mempunyai keteguhan hati. Empat rasul lainnya ialah Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad ﷺ
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
CERITA NABI NUH
“Sesungguhnya Nuh telah menyeru kepada Kami."
(pangkal ayat 75)
Pekerjaan Nabi Nuh dan tugas yang terpikul atas pundaknya memanglah sangat berat. Sebab kaumnya sangat durhaka kepada Allah ﷻ Jarak Nabi Nuh dengan Nabi Adam, belumlah jauh benar. Manusia baru saja berkembang. Namun manusia telah mulai tersesat dari jalan yang benar, yaitu menyembah satu Tuhan, menjadi menyembah berbagai berhala dan patung pujaan. Sebab itu maka Nabi Nuh selalu menyeru Allah ﷻ, memohonkan pertolongan Allah, agar diberi kekuatan menghadapi tugas yang berat itu.
“Maka sesungguhnya Dialah yang sebaik-baik yang memperkenankan."
(ujung ayat 75)
Dengan kata yang singkat ujung ayat ini memberi peringatan kepada kita, bahwa setelah Nuh selalu memohonkan pertolongan kepada Allah ﷻ, permohonan itu dikabulkan oleh Allah. Sebagai pelaksanaan dari permohonan yang dikabulkan itu, Allah memerintahkan Nuh membuat sebuah bahtera. Bahtera diperbuat bukan di tepi laut, melainkan di tengah padang, sehingga jadi buah ejekan dari kaumnya yang kafir tidak mau percaya. Maka sebagaimana telah dikisahkan oleh Allah ﷻ dalam surah-surah yang lain, datanglah titah Allah kepada langit supaya menyiramkan hujannya dan kepada laut supaya menggenangkan air naik, sehingga terendam seluruh bumi sampai ke puncak gunung-gunung enam bulan lamanya. Lalu bahtera itu pun berlayar terkatung-katung di lautan, sampai air susut dan sampai perahu tergosong di puncak Gunung judiy. Maka beriabuhlah bahtera Nuh dan segala isinya dengan selamat, guna menurunkan manusia yang akan datang di belakang.
Inilah yang disimpulkan dalam sedikit ujung firman Allah ﷻ, bahwa Dia adalah yang sebaik-baik tempat memohon dan yang sebaik-baik yang mengabulkan permohonan.
“Dan telah Kami selamatkan dia dan keluarganya dari bencana yang besar."
(ayat 76)
Banjir atau topan yang telah menyelubungi seluruh permukaan bumi, sehingga puncak gunung-gunung pun hilang tidak kelihatan lagi, adalah benar-benar bencana atau bahaya yang paling besar.
Permohonan itu terkabul. Anak-anak beliau laki-laki dan perempuan, kecuali seorang termasuklah dalam golongan orang yang beriman. Dan sebelum itu, pada ayat 26 tegas beliau memohon agar orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran itu disapu bersih saja. Karena kalau mereka dibiarkan tinggal hidup juga, mereka akan tetap membuat sesat hamba Allah dan menurunkan putra-putra yang kafir jua.
“Dan Kami jadikanlah keturunannya, mereka itulah yang tinggal kekal."
(ayat 77)
Keturunan-keturunan Nuh-lah yang berkekalan tinggal di muka bumi ini. Yaitu kekal yang pantas bagi manusia. Orang seorang datang, hidup dan kemudian meninggal. Tetapi jenis manusia kekal sampai hari Kiamat karena mereka meninggalkan keturunan.
Menurut riwayat Ali bin Abu Thalhah, yang diterimanya dari Ibnu Abbas, “Tidaklah ada yang kekal kecuali keturunan Nuh." Qatadah menjelaskan pula, bahwasanya seluruh manusia penghuni dunia ini adalah keturunan Nuh.
Yang terkenal dalam catatan riwayat, bahwa anak Nuh yang berkembang itu ialah tiga orang, yaitu Saam, Haam, dan Yafits. Adapun Saam, yang disebut orang Eropa Sem dan keturunannya disebut Semiet, itulah yang menurunkan bangsa Semiet. Itulah bangsa Arab, Bani Israil dan bangsa Kaldan yang menurunkan Ibrahim. Haam yang menurunkan bangsa Habsyi atau yang dijemur jadi hitam oleh udara Afrika, dan Yafits yang menurunkan bangsa-bangsa Rum. Yang dimaksud dengan Rum di sini ialah bangsa Rum yang lebih tua, yaitu bangsa Yunani.
Ini adalah menurut catatan-catatan lama. Adapun buah penyelidikan terakhir bangsa Persia dan Hindu yang tertinggi satu keturunannya dengan bangsa German di Eropa yang disebut bangsa Arya.
“Dan telah Kami tinggalkan atasnya (kesan) pada yang datang kemudian."
(ayat 78)
Artinya bahwa kami tinggalkan pujian yang baik terhadap Nuh itu pada tiap-tiap umat di muka bumi. Maksudnya bahwa kisah bahtera Nuh itu menjadi pegangan pada tiap-tiap bangsa di muka bumi. Disebutkan juga pada setengah tafsir ialah permulaan syari'at yang teratur kepada seluruh manusia di muka bumi ialah dari zaman Nuh.
“Selamat sejahteralah atas Nuh pada seluruh alam."
(ayat 79)
Ayat ini adalah ucapan selamat dan penghargaan sangat tinggi kepada Nuh a.s., yaitu seorang di antara pemberi-pemberi ingat yang dikatakan Allah ﷻ pada ayat 72 di atas tadi. Yang telah dengan gigih, tabah, keras hati dan usia panjang telah menyampaikan peringatan Allah ﷻ kepada manusia. Dan selalu pula dia menyeru Allah ﷻ, memohon-kan pertolongan, karena insaf beliau bahwa manusia tidak akan berhasil dalam usaha besar ataupun kecil kalau tidak ada taufik dan hidayah dari Allah.
Kemudian itu, setelah penghargaan dan ucapan selamat kita kepada Nuh, Allah ﷻ pun memuji dia pula, bahwa kejayaan usaha-muanya selamat mendarat untuk menurunkan nya adalah karena kebaikannya juga. manusia yang sekarang.
“Sesungguhnya Kami, demikianlah Kami membelikan ganjaran bagi orang-orang yang berbuat baik."
(ayat 80)
“Sesungguhnya Kami, demikianlah Kami membelikan ganjaran bagi orang-orang yang berbuat baik."
(ayat 80)
“Sesungguhnya dia itu adalah termasuk hamba-hamba Kami yang beriman."
(ayat 81)
Maka oleh karena imannya yang teguh itulah maka dia dapat menyeberangkan kaumnya yang beriman, memimpin mereka dan jadi nakhoda dan bahtera besar pertama dalam sejarah yang selain membawa manusia, pun membawa juga binatang jinak dan liar sepasang-sepasang untuk meneruskan keturunan dari binatang yang bersama punah ditenggelamkan topan di masa itu.
“Kemudian itu Kami tenggelamkanlah yang lain-lain."
(ayat 82)
Termasuk di dalam yang turut tenggelam itu seorang di antara putra beliau sendiri, oleh karena tidak percaya akan dakwah yang dibawa ayahnya dan memandang enteng bahaya yang telah diancamkan, sebagaimana tersebut dalam surah Huud, ayat 45 dan 46.
Nuh and His People
When Allah tells us about how most of the early people went astray from the path of salvation, He starts the detailed explanation of that with the story of Nuh and the rejection of his people.
Only a few of Nuh's people believed in him, despite the long period of time he spent among them. He stayed among them for one thousand years less fifty, and after he stayed among them for so long and their disbelief became too much for him to bear -- for every time he called them, they turned away from him even more -- he prayed to his Lord saying,
I have been overcome, so help (me)!
So Allah became angry because Nuh was angry with them.
He says:
وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ
And indeed Nuh invoked Us, and We are the best of those who answer.
وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ
And We rescued him and his family from the great distress.
means, their disbelief and their insults.
وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمْ الْبَاقِينَ
And, his progeny, them We made the survivors.
Ali bin Abi Talhah reported that Ibn Abbas, may Allah be pleased with him,
There was no one left apart from the offspring of Nuh, peace be upon him.
Sa`id bin Abi `Arubah said, narrating from Qatadah concerning the Ayah,
وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمْ الْبَاقِينَ
(And, his progeny, them We made the survivors).
All people descended from the offspring of Nuh, peace be upon him.
At-Tirmidhi, Ibn Jarir and Ibn Abi Hatim narrated from Samurah, may Allah be pleased with him, that the Prophet said, concerning the Ayah,
وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمْ الْبَاقِينَ
(And, his progeny, them We made the survivors):
سَامُ وَحَامُ وَيَافِث
Sam, Ham and Yafith.
Imam Ahmad recorded from Samurah, may Allah be pleased with him, that the Messenger of Allah said:
سَامُ أَبُو الْعَرَبِ وَحَامُ أَبُو الْحَبَشِ وَيَافِثُ أَبُو الرُّوم
Sam was the father of the Arabs, Ham was the father of the Ethiopians and Yafith was the father of the Romans.
This was also recorded by At-Tirmidhi.
What is meant here by Romans is the original Romans, i.e., the Greeks who claimed descent from Ruma (Roma) the son of Liti, the son of Yunan, the son of Yafith, the son of Nuh, peace be upon him.
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الاْخِرِينَ
And left for him among the later generations.
Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, said,
He is remembered in a good way.
Mujahid said this means
An honorable mention by all the Prophets.
Qatadah and As-Suddi said,
Allah caused him to be praised constantly by others.
Ad-Dahhak said it means;
Salam and praise.
سَلَمٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ
Salam (peace!) be upon Nuh among the all creatures!
This explains for us the extent of the honorable mention and praise, for he is greeted with peace by all groups and nations.
إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
Verily, thus We reward the good doers.
means, `This is how We reward those of Our servants who do deeds of obedience to Allah. We gave him an honorable mention so that after he died he is still remembered in a manner that befits his status.'
Then Allah says:
إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُوْمِنِينَ
Verily, he (Nuh) was one of Our believing servants.
meaning, one of the sincere believers in the Oneness of Allah, one of those who had certain faith.
ثُمَّ أَغْرَقْنَا الاْخَرِينَ
Then We drowned the others.
means, `We destroyed them, and there was no trace whatsoever left of them, and they are only known by this unfavorable description.
And We left, We preserved, for him, fair praise, among posterity: [among] the prophets and communities [after him] until the Day of Resurrection [which is]:
In verses 78 and 79, it was said: وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ سَلَامٌ عَلَىٰ نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ (And We left for him (a word of praise) among the later people, (that is): Salam be on Nuh (علیہ السلام) among [ the people on all the worlds.). It means that, in the sight of those who were born after Sayyidna Nuh (علیہ السلام) he was made so revered that they would continue praying for his peace and well-being right through the last day of the Qiyamah. As such, this is how it actually happened. All religions with attribution to Divine Scriptures subscribe to the mission of Sayyidna Nuh (علیہ السلام) as a prophet and hold him in great reverence. In addition to Muslims, even Jews and Christians regard him as being their spiritual leader.








