Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
قُلۡ
katakanlah
إِنَّ
sesungguhnya
رَبِّي
Tuhanku
يَقۡذِفُ
Dia memasukkan/mewahyukan
بِٱلۡحَقِّ
dengan kebenaran
عَلَّـٰمُ
Maha Mengetahui
ٱلۡغُيُوبِ
segala yang gaib
قُلۡ
katakanlah
إِنَّ
sesungguhnya
رَبِّي
Tuhanku
يَقۡذِفُ
Dia memasukkan/mewahyukan
بِٱلۡحَقِّ
dengan kebenaran
عَلَّـٰمُ
Maha Mengetahui
ٱلۡغُيُوبِ
segala yang gaib
Terjemahan
Katakanlah, "Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang gaib."
Tafsir
(Katakanlah! "Sesungguhnya Rabbku mewahyukan kebenaran) yakni menyampaikannya kepada nabi-nabi-Nya (Dia Maha Mengetahui segala yang gaib") semua apa yang gaib dari makhluk-Nya baik yang di langit maupun yang di bumi.
Tafsir Surat Al-Saba': 47-50
Katakanlah, "Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Katakanlah, "Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang gaib. Katakanlah, "Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi. Katakanlah, "Jika aku sesat, maka sesungguhnya aku sesat atas kemudaratan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku.
Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat" Allah ﷻ memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk mengatakan kepada orang-orang musyrik: Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. (Saba: 47) Maksudnya, aku tidak menginginkan dari kalian upah dan pemberian apapun sebagai imbalan dari penyampaian risalah Allah ﷻ ini kepada kalian, tidak (pula) untuk peringatanku kepada kalian dan perintahku kepada kalian untuk menyembah Allah. Upahku hanyalah dari Allah. (Saba: 47) Yakni sesungguhnya aku hanya memohon pahala hal tersebut dari sisi Allah dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Saba: 47) Dia mengetahui semua urusan yang sedang kulakukan dalam menjalankan tugas risalah dari-Nya untuk kusampaikan kepada kalian, dan Dia mengetahui pula apa yang sedang kalian kerjakan.
Firman Allah ﷻ: Katakanlah, Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang gaib. (Saba: 48) Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. (Al-Mu-min: 15) Allah ﷻ mengutus malaikat-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya yang ada di bumi, dan Dia Maha Mengetahui yang gaib. Maka tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Firman Allah ﷻ: Katakanlah, "Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi. (Saba: 49) Yaitu telah datang perkara hak dari Allah dan syariat yang besar.
Maka pastilah kebatilan itu akan pudar, surut dan menghilang. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil, lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. (Al-Anbiya: 18) Karena itulah ketika Rasulullah ﷺ memasuki Masjidil Haram pada hari jatuhnya kota Mekah, dan beliau melihat banyak berhala yang dipasang di sekeliling Ka'bah, lalu beliau mendorong sebagian dari berhala itu dengan busurnya seraya membaca firman-Nya: Dan katakanlah, "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.
Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (Al-Isra: 81) Katakanlah, "Kebenaran lelah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi. (Saba: 49) Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Turmuzi, dan Imam Nasai sehubungan dengan tafsir ayat ini; mereka semuanya meriwayatkannya melalui hadis As-Sauri, dari Ibnu Abu Najih, dari Mujahid, dari Abu Ma'mar alias Abdullah ibnu Sahlrah, dari Ibnu Mas'ud r.a. Makna yang dimaksud ialah kebatilan itu pasti akan lenyap, tidak akan kembali lagi, serta tidak mempunyai kepemimpinan lagi, sesudah datangnya perkara hak.
Qatadah dan As-Saddi menduga bahwa makna yang dimaksud dengan batil dalam ayat ini adalah iblis. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa iblis itu tidak dapat menciptakan satu orang pun dan tidak dapat menghidupkannya kembali, serta tidak akan mampu melakukan semuanya itu. Sekalipun artinya benar, tetapi bukan makna yang dimaksud dalam ayat ini; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Firman Allah ﷻ: Katakanlah, "Jika aku sesat, maka sesungguhnya aku sesat atas kemudaratan diriku sendiri. Dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. (Saba: 50) Yakni kebaikan itu semuanya dari sisi Allah melalui apa yang diturunkan oleh-Nya berupa wahyu dan kebenaran yang jelas yang di dalamnya terkandung petunjuk, penjelasan, dan bimbingan. Dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya kemudaratan kesesatannya itu hanya akan menimpa dirinya sendiri karena ulahnya sendiri.
Abdullah ibnu Mas'ud r.a. ketika ditanya tentang suatu masalah yang berkaitan dengan Mufawwidah mengatakan, "Aku akan menjawab menurut pendapatku sendiri. Jika benar, berarti dari sisi Allah. Dan jika keliru, maka dari sisiku dan dari setan, sedangkan Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari pendapatku yang keliru itu." Firman Allah ﷻ: Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat. (Saba: 50) Allah Maha mendengar semua ucapan hamba-hamba-Nya, lagi Mahadekat yang karenanya Dia memperkenankan doa orang yang memohon kepada-Nya. Sehubungan dengan hal ini Imam Nasai telah meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Musa r.a. yang terdapat di dalam kitab Sahihain pula, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda (kepada para sahabatnya yang berzikir terlalu keras): ". Sesungguhnya kalian berseru (berdoa) bukan kepada Tuhan yang tuli dan bukan pula kepada Tuhan yang gaib, sesungguhnya kalian sedang berdoa kepada Tuhan Yang Maha Mendengar, Mahadekat, lagi Maha Memperkenankan (doa).".
Katakanlah, wahai Nabi Muhammad, 'Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran untuk menghapuskan kebatilan, sehingga kebatilan pasti akan musnah. Dia Maha Mengetahui segala yang gaib; tidak ada yang tersembunyi bagi Allah. '49. Katakanlah, 'Kebenaran, yakni Islam, telah datang dan yang batil itu, yakni kekufuran yang selama ini kamu pertahankan, pasti akan sirna. Seiring kedatangan Islam, kemusyrikan tidak akan memulai, dalam arti tidak akan tampil dalam bentuk yang baru, dan tidak pula akan mengulangi kembali dalam bentuk yang lama. ' Kebenaran pasti akan menang dan kebatilan pasti akan musnah.
Selanjutnya Nabi Muhammad diminta oleh Allah menegaskan kepada kaum kafir bahwa Allah selalu melontarkan kebenaran, yaitu menanamkan wahyu-Nya, ke dalam hati para rasul-Nya. Hal itu juga sebagaimana difirmankan-Nya dalam ayat lain:
(Dialah) Yang Mahatinggi derajat-Nya, yang memiliki Arsy, yang menurunkan wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, agar memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari Kiamat). (al-Mu'min/40: 15)
Rasul-rasul itu adalah orang-orang yang dipilih Allah. Ia Maha Mengetahui siapa yang pantas untuk dipilih-Nya. Dengan demikian, manusia tidak berwenang mempersoalkannya, sebagaimana difirmankan-Nya:
Dan apabila datang suatu ayat kepada mereka, mereka berkata, "Kami tidak akan percaya (beriman) sebelum diberikan kepada kami seperti apa yang diberikan kepada rasul-rasul Allah." Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan azab yang keras karena tipu daya yang mereka lakukan. (al-An'am/6: 124)
Karena wahyu itu dari Allah dan yang menerimanya adalah orang-orang yang terpilih, maka rasul-rasul itu pasti pula benar. Begitu juga ajaran-ajaran yang disampaikannya, sehingga manusia tidak selayaknya membantahnya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
LANDASAN DAKWAH ISLAMIYAH
Dalam lima ayat ini, ayat 46 sampai 50 dimulai Allah ﷻ dengan ucapan, “Katakanlah! “ Yaitu sebagai bimbingan kepada Utusan-Nya dalam menghadapi manusia, terutama kaumnya sebagai landasan pertama dan dakwah Islam ini.
“Katakanlah! Hanya satu saja nasihat yang akan aku berikan kepadamu."
(pangkal ayat 46)
Sebagai inti atau puncak dari segala se-ruan dan dakwah, “(yaitu) bahwa kamu menghadap Allah berdua-dua dan sendiri-sendiri." Dalam ayat ini terkandung anjuran kepada pribadi mereka masing-masing seketika mereka tersisih dari kelompok orang banyak.
Di hadapan orang banyak pemimpin-pemimpin Quraisy telah menyebarkan propa-ganda bahwa Al-Qur'an yang dibawa oleh Muhammad ﷺ itu adalah usahanya hendak merintangi mereka dari menyembah apa yang disembah nenek moyang, kemudian dituduh pula bahwa Al-Qur'an itu hanya dusta yang dikarang-karang saja oleh Muhammad, dan ketiga dituduh bahwa anjuran Muhammad itu hanyalah sihir yang nyata.
Di sini Nabi disuruh Allah menganjurkan orang-orang itu supaya berpikir sendiri-sendiri, direnungkan dan tinjau ke dalam hati sendiri. Sebab seluruh kaum itu tetap percaya kepada Allah Yang Esa. Mereka menyembah berhala hanyalah sebagai perantara saja. Dalam anjuran Nabi ini mereka disuruh berdua-dua atau sendiri-sendiri menghadap langsung kepada Allah. Tinggalkan pengaruh yang lain.
Dalam ayat disuruh terlebih dahulu memusatkan persembahan semata-mata kepada Allah itu ialah berdua-dua. Artinya ajaklah seorang teman yang dekat mengadakan per-tukaran pikiran dan persamaan paham. Dengan cara demikianlah akan sama terbebaslah diri dan teman dari pengaruh orang banyak yang sedang dihasut dengan propaganda yang bukan-bukan, sampai menuduh Nabi Muhammad ﷺ itu gila."Kemudian itu hendaklah kamu pikirkan/'yaitu setelah menghadap seluruh ingatan kepada Allah Yang Maha Tunggal Pencipta Alam hendaklah berpikir lagi. Pikirkan segala butir kata dan seruan, ajakan, dan dakwah yang disampaikan oleh Muhammad kepada kamu, sejak ayat-ayat pertama mulai turun sampai sekarang. Niscaya pikiranmu yang jernih dan tidak terpengaruh itu akan dapat mengambil kesimpulan, “Tidaklah ada pada teman kamu itu sakit gila." Tidaklah mungkin butir kata yang begitu mendalam akan timbul dari pikiran orang gila.
“Dianya lain tidak hanyalah menjadi Pengancam bagi kamu di hadapan adzab
yang sangat."
(ujung ayat 46)
Tidak! Kawanmu itu bukan orang gila. Dia adalah laksana seorang yang keluar tengah malam dari dalam rumahnya karena merasa sangat panas. Lalu dibukanya jendela dan melihat keluar. Tiba-tiba kelihatan olehnya api menyala-nyala meninggi pada dapur rumah tetanggannya, namun tetangga itu masih nyenyak tidur. Lalu dia bersorak-sorak, “Api! Api!" agar orang di kiri kanan, terutama yang sedang terancam bahaya supaya segera bangun me-madamkan api itu.
“Katakanlah, upah yang aku minta dari kamu maka dia adalah untuk kamu jua."
(pangkal ayat 47)
Ayat ini bukanlah berarti bahwa Rasulullah ﷺ meminta upah dari mereka dalam beliau melakukan dakwah. Ibarat kata ini ialah bantahan dan tangkisan kepada mereka yang menilai dakwah Rasul akan meminta “persen" atau balas jasa. Kepada orang seperti ini Nabi disuruh mengatakan kata sebagaimana itu, yang berarti, “Simpanlah yang kamu sangka akan aku minta itu buat keperluanmu sendiri." Upahku sendiri lain tidak adalah terserah kepada Allah." Yang mengutus aku menjadi rasul adalah Allah sendiri. Sebab itu maka hidupku dan matiku, jaminan hidupku dan keselamatanku adalah dari Allah semata-mata. Jangan kamu menyangka aku mengharapkan apa-apa dari kalian. Harapanku hanya kalian berbahagia, selamat dunia dan akhirat.
“Dan Dia atas segala sesuatu adalah menyaksikan."
(ujung ayat 47)
Perjuanganku menegakkan dakwah kepada kamu, sanggahan kamu terhadap seruan-ku, ataupun penerimaan kamu dengan baik, semuanya di bawah kesaksian Allah sematamata.
“Katakanlah, “Sesungguhnya Tuhankulah yang melempankan dengan kebenanan."
(pangkal ayat 48)
Dan lemparan Allah ﷻ itu adalah jitu selalu, apatah yang Allah lemparkan itu kebenaran pula. Maksud pelemparan di sini ialah untuk menghancurkan pertahanan dari perkara yang batil, pendirian yang salah. Dia dilempar oleh Allah ﷻ dengan kebenaran, sehingga pertahanan yang batil itu runtuh tidak dapat bangun lagi. Di ujung ayat disebut sifat Allah ﷻ, yaitu “'Allamul Ghuyuub “. Allah Yang Maha Mengetahui akan segala yang gaib, sehingga kemungkaran dan kebatilan itu tidak dapat dilindung-lindungi dan disembunyikan.
“Katakanlah, “Yang benar sudah datang “
(pangkal ayat 49)
Diumpamakan orang sedang ribut-ribut, kacau-balau pada sebuah negeri karena pemimpin sejati tidak ada, hanya pengadu-pengadu untung yang berebut-rebut hendak jadi pemimpin, maka tiba-tiba datanglah berita bahwa Sang Kebenaran telah datang. Meskipun dia belum muncul, masih di tengah perjalanan, maka si batil dan si pengacau pengadu untung itu dengan sendirinya kehilangan tenaga buat melawan. Mereka hilang satu demi satu, dan tidak kelihatan mata hidungnya lagi, “Dan tidaklah yang batil akan bermulai, “ tidaklah akan berhasil kalau masih ada percobaan hendak menyusun kebatilan yang baru, buat menandingi atau mengalahkan kebenaran yang telah datang itu.
“Dan tidaklah dia akan kembali."
(ujung ayat 49)
Bilamana Islam sebagai kebenaran yang mutlak telah datang, maka daulah kebatilan berhala dengan sendirinya telah hancur dan pasti kalah. Akan menegakkan keberhalaan yang baru sebagai ganti yang lama, tidaklah akan berhasil. Demikian pun buat mengulangi kembali keberhalaan yang runtuh sampai sebagaimana dahulu tidaklah akan tercapai lagi.
“Katakanlah, “Jika aku tersesat, maka tidak lain kesesatanku itu hanyalah untuk diriku."
(pangkal ayat 50)
Timbul bimbingan Allah ﷻ memberikan tangkisan seperti ini kepada Rasul-Nya ialah karena pasti ada pula di antara musyrikin itu yang mengatakan bahwa Nabi telah tersesat jalan, karena dia telah meninggalkan agama dan tradisi yang telah diterima dari nenek moyang. Dia telah menantang kebiasaan orang banyak. Nabi disuruh menjawab, bahwa kalau langkahku itu kamu namai tersesat, yang demikian adalah tanggung jawabku. “Dan jika aku mendapat petunjuk," sehingga jalan yang aku tempuh itu berhasil dengan baik, “Maka itu adalah dengan sebab apa yang diwahyukan kepadaku oleh Tuhanku." Sama sekali ini adalah berkah dan bimbingan Allah ﷻ, pimpinan-Nya dan petunjuk yang Dia berikan. “Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengarmaka didengar-Nyalah segala keluhan dan permohonanku. Didengar-Nya pula jika aku terkhilaf mengucapkan kata, lalu ditegurnya,
“Mahadekat."
(ujung ayat 50)
Sehingga jika aku memohonkan pertolongan di saat itu juga permohonanku Dia ka-bulkan. Dia dekat, Dia menjaga, memelihara, memberikan perlindungan. Dia dekat, sehingga segala bahaya yang akan menimpa kepada Rasul-Nya dan kepada segala umat yang berjuang dengan ikhlas, akan mendapat per-lindungan-Nya. Dan karena Allah itu dekat adanya, baik Rasul atau orang-orang yang mengikuti jejaknya, selalu berhati-hati dalam hidup, jangan sampai melanggar larangan-Nya dan melalaikan apa yang Dia perintahkan.
Refutation of Their Accusation that the Prophet was Insane
Allah says:
قُلْ
Say:
Allah says:`Say, O Muhammad, to these disbelievers who claim that you are crazy,'
إِنَّمَا أَعِظُكُم بِوَاحِدَةٍ
I exhort you to one (thing) only,
meaning, I am only telling you to one thing, and that is:
أَن تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُم مِّن جِنَّةٍ
that you stand up for Allah's sake in pairs and singly, and reflect, there is no madness in your companion.
meaning, `stand sincerely before Allah, without being influenced by your own desires or tribal feelings, and ask one another, is Muhammad crazy Advise one another,'
ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا
and reflect means,
let each person look within himself concerning the matter of Muhammad, and ask other people about him if he is still confused, then let him think about the matter.
Allah says:
أَن تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُم مِّن جِنَّةٍ
(that you stand up for Allah's sake in pairs and singly, and reflect, there is no madness in your companion).
This meaning was stated by Mujahid, Muhammad bin Ka`b, As-Suddi, Qatadah and others.
This is what is meant by the Ayah.
إِنْ هُوَ إِلاَّ نَذِيرٌ لَّكُم بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ
He is only a warner to you in face of a severe torment.
Al-Bukhari recorded that Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, commented on this Ayah:
One day, the Prophet climbed up As-Safa' and shouted,
يَا صَبَاحَاه
O people!
The Quraysh gathered around him, and said, `What is the matter with you?'
He said,
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ الْعَدُوَّ يُصَبِّحُكُمْ أَوْ يُمَسِّيكُمْ أَمَا كُنْتُمْ تُصَدِّقُونِّي
What do you think If I told you that the enemy were approaching and will reach us in the morning or in the evening, would you believe me?
They said, `Of course.'
He said:
فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيد
I am a warner to you in the face of a severe punishment.
Abu Lahab said, `May you perish! You have called us together only to tell us this.'
Then Allah revealed:
تَبَّتْ يَدَا أَبِى لَهَبٍ وَتَبَّ
Perish the two hands of Abu Lahab and perish he! (111:1)
We have already discussed this in our Tafsir of the Ayah:
وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الاٌّقْرَبِينَ
And warn your tribe of near kindred. (26:214)
I do not ask for any Reward for conveying the Message
Allah commands His Messenger to:
قُلْ
Say,
Allah commands His Messenger to say to the idolators:
مَا سَأَلْتُكُم مِّنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ
Whatever wage I might have asked of you is yours.
meaning, `I do not want anything for conveying the Message of Allah to you, advising you and telling you to worship Allah.'
إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى اللَّهِ
My wage is from Allah only,
means, rather I will seek the reward for that with Allah.
وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
and He is a Witness over all things.
means, He knows all things, and He knows everything about me and the manner in which I am conveying the Message to you, and He knows all about you.
قُلْ إِنَّ رَبِّي يَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَّمُ الْغُيُوبِ
Say:Verily, my Lord sends down the truth, the All-Knower of the Unseen.
This is like the Ayah:
يُلْقِى الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَن يَشَأءُ مِنْ عِبَادِهِ
He sends the Revelation by His command to any of His servants He wills. (40:15)
meaning, He sends the angel to whomsoever He wills of His servants among the people on earth, and He is the All-Knower of the Unseen; nothing whatsoever is hidden from Him in the heavens or on earth.
قُلْ جَاء الْحَقُّ وَمَا يُبْدِيُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ
Say:The truth has come, and the falsehood can neither create anything nor resurrect.
means, truth and the great Law have come from Allah, and falsehood has gone and has perished and vanished.
This is like the Ayah:
بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَـطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ
Nay, We fling the truth against the falsehood, so it destroys it, and behold, it is vanished. (21:18)
When the Messenger of Allah entered Al-Masjid Al-Haram on the day of the conquest of Makkah, and found those idols standing around the Ka`bah, he started to hit the idols with his bow, reciting,
وَقُلْ جَأءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَـطِلُ إِنَّ الْبَـطِلَ كَانَ زَهُوقًا
And say:The truth has come and the falsehood has vanished. Surely, the falsehood is ever bound to vanish. (17:81)
and:
قُلْ جَأءَ الْحَقُّ وَمَا يُبْدِىءُ الْبَـطِلُ وَمَا يُعِيدُ
Say:The truth has come, and the falsehood can neither create anything nor resurrect.
This was recorded by Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidhi and An-Nasa'i
قُلْ إِن ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي
Say:If (even) I go astray, I shall stray only to my own loss. But if I remain guided, it is because of the Revelation of my Lord to me...
means, all good comes from Allah, and in what Allah sends down of revelation and clear truth there is guidance and wisdom. So whoever goes astray, does so by himself, as Abdullah bin Mas`ud, may Allah be pleased with him, said when he was asked about some issue. He said,
I will say what I think, and if it is correct, then it is from Allah, and if it is wrong, then it is from me and from the Shaytan, and Allah and His Messenger have nothing to do with it.
إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ
Truly, He is All-Hearer, Ever Near.
means, He hears all the words of His servants, and He is always near to respond to them when they call on Him.
An-Nasa'i recorded the Hadith of Abu Musa Al-Ash`ari, which also appears in the Two Sahihs:
إِنَّكُمْ لَاتَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَايِبًا إِنَّمَا تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا مُجِيبًا
You are not calling upon one who is deaf or absent; you are calling upon One Who is All-Hearer, Ever Near and Responsive.
Allah says;
وَلَوْ تَرَى إِذْ فَزِعُوا فَلَ فَوْتَ
And if you could but see, when they will be terrified with no escape,
Here Allah says:`if only you could see, O Muhammad, when these deniers are terrified on the Day of Resurrection, and they have no way of escape and nowhere to run to and no refuge.'
وَأُخِذُوا مِن مَّكَانٍ قَرِيبٍ
and they will be seized from a near place.
means, they will not even be given the slightest chance of escape, but they will be seized from the first instant.
Al-Hasan Al-Basri said:
When they come forth from their graves.
وَقَالُوا امَنَّا بِهِ
And they will say:We do believe (now);
means, on the Day of Resurrection, they will say, `we believe in Allah and His angels, Books and Messengers.'
This is like the Ayah:
وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُواْ رُءُوسِهِمْ عِندَ رَبِّهِمْ رَبَّنَأ أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَـلِحاً إِنَّا مُوقِنُونَ
And if you only could see when the criminals shall hang their heads before their Lord (saying):Our Lord! We have now seen and heard, so send us back that we will do righteous good deeds. Verily, we now believe with certainty. (32:12)
Allah says:
وَأَنَّى لَهُمُ التَّنَاوُشُ مِن مَكَانٍ بَعِيدٍ
but how could they receive from a place so far off!
meaning, how could they attain faith now that they are so far removed from the place where it could be accepted from them, and they have entered the realm of the Hereafter which is the realm of reward and punishment, not the realm of trial and testing. If they had believed in this world, that would have been good for them, but now they have entered the Hereafter, there is no way that their faith can be accepted, just as there is no way a person can get a thing if he is far away from it.
Mujahid said:
وَأَنَّى لَهُمُ التَّنَاوُشُ
but how could they At-Tana'wush means,
How could they attain that?
Az-Zuhri said,
They will wish to attain faith when they have reached the Hereafter and are cut off from this world.
Al-Hasan Al-Basri said,
They will seek something when they have no way of attaining it, they will seek faith from a distant place
وَقَدْ كَفَرُوا بِهِ مِن قَبْلُ
Indeed they did disbelieve before,
means, how can they attain faith in the Hereafter when in this world they disbelieved in the truth and denied the Messengers?
وَيَقْذِفُونَ بِالْغَيْبِ مِن مَّكَانٍ بَعِيدٍ
and they (used to) conjecture about the Unseen from a far place.
Malik narrated from Zayd bin Aslam that he said:
وَيَقْذِفُونَ بِالْغَيْبِ
(and they (used to) conjecture about the Unseen),
means, By guessing. as Allah says,
رَجْماً بِالْغَيْبِ
guessing at the Unseen. (18:22)
Sometimes they said he was a poet, sometimes they said he was a soothsayer, or a sorcerer, or a mad man, or other baseless comments. They denied the idea of resurrection and said:
إِن نَّظُنُّ إِلاَّ ظَنّاً وَمَا نَحْنُ بِمُسْتَيْقِنِينَ
we do not think it but as a conjecture, and we have no firm convincing belief. (45:32)
Qatadah and Mujahid said,
Their belief that there would be no resurrection, no Paradise and no Hell was based on mere conjecture.
وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ
And a barrier will be set between them and that which they desire,
Al-Hasan Al-Basri, Ad-Dahhak and others said,
This means faith.
As-Suddi said:
It means Repentance.
This was also the view of Ibn Jarir, may Allah have mercy on him.
Mujahid said:
وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ
(And a barrier will be set between them and that which they desire) means,
This world and its wealth, luxuries and people.
Something similar was narrated from Ibn Umar, Ibn Abbas and Ar-Rabi` bin Anas, may Allah be pleased with him.
It is also the opinion of Al-Bukhari and the Group.
The correct view is that there is no contradiction between the two views, for a barrier will be set between them and what they desire in this world, and what they seek in the Hereafter will be denied from them.
كَمَا فُعِلَ بِأَشْيَاعِهِم مِّن قَبْلُ
as was done in the past with the people of their kind.
means, as happened to the nations of the past who disbelieved in the Messengers; when the punishment of Allah came upon them, they wished that they had believed, but this was not accepted from them.
فَلَمَّا رَأَوْاْ بَأْسَنَا قَالُواْ ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَكَـفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِينَ
فَلَمْ يَكُ يَنفَعُهُمْ إِيمَـنُهُمْ لَمَّا رَأَوْاْ بَأْسَنَا سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِى قَدْ خَلَتْ فِى عِبَادِهِ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْكَـفِرُونَ
So, when they ﷺ Our punishment, they said:We believe in Allah Alone and reject (all) that we used to associate with Him as (His) partners.
Then their faith could not avail them when they ﷺ Our punishment. (Like) this has been the way of Allah in dealing with His servants. And there the disbelievers lost utterly. (40:84-85)
إِنَّهُمْ كَانُوا فِي شَكٍّ مُّرِيبٍ
Verily, they have been in grave doubt.
means, in this world they had doubts, so their faith will not be accepted from them when they behold the punishment with their own eyes.
Qatadah said,
Beware of doubt. For whoever dies doubting, will be raised doubting and whoever dies believing, with certainty will be raised believing with certainty.
This is the end of the Tafsir of Surah Saba'. Allah, may He be glorified and exalted, is the Guide to the right way.
Say: 'Indeed my Lord hurls the truth, He casts it onto His prophets - [He is] the Knower of the Unseen', [of] all that is hidden from His creatures throughout the skies and the earth.
Verse 48: إِنَّ رَبِّي يَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (Say," My Lord sends forth the Truth. He is the Best-Knower of the Unseen." - 34:48) Say, "Truth has come, and falsehood (has vanished so as it) has no power to produce or reproduce (anything) ". It means that my Lord who is the Knower of the Unseen strikes out the false with a throw of the truth (as a result of which the false is destroyed, as it was said: فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ 'and there it is all gone'. Al-Anbiya', 21:18). Literally, the word: قَذَف (qadhf) means to hit by throwing. Here, the purpose is to highlight the truth as set against the false. Perhaps, there may be a wise consideration behind expressing this phenomenon through the word: یَقذِف (yaqdhifu: He throws), may be the purpose is to point out to the after effect of the truth prevailing over the false. It appears here in the form of a simile as the throwing of something heavy over something feeble that shatters into pieces. So it happens in the confrontation between truth and falsehood when the later lies shattered. Therefore, it was said next: وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ (and falsehood has vanished so as it has no power to produce or reproduce anything) that is, falsehood becomes so incapacitated in the face of truth that it can neither originate anything nor can it bring it back.








