ٱلسَّجْدَة ٣
- أَمۡ ataukah/apakah
- يَقُولُونَ mereka mengatakan
- ٱفۡتَرَىٰهُۚ ia mengada-adakannya
- بَلۡ bahkan
- هُوَ ia/itu(Al Qur'an)
- ٱلۡحَقُّ benar
- مِن dari
- رَّبِّكَ Tuhanmu
- لِتُنذِرَ supaya kamu memberi peringatan
- قَوۡمٗا kaum
- مَّآ belum
- أَتَىٰهُم datang kepada mereka
- مِّن dari
- نَّذِيرٖ seorang pemberi peringatan
- مِّن dari
- قَبۡلِكَ sebelum kamu
- لَعَلَّهُمۡ agar mereka
- يَهۡتَدُونَ mereka mendapat petunjuk
Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan, "Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya." Tidak, Al-Qur`an itu kebenaran (yang datang) dari Tuhanmu, agar engkau memberi peringatan kepada kaum yang belum pernah didatangi orang yang memberi peringatan sebelum engkau; agar mereka mendapat petunjuk.
(Tetapi mengapa) (mereka mengatakan, "Dia mengada-adakannya") yakni Muhammad? Tidak (sebenarnya Al-Qur'an itu adalah kebenaran yang datang dari Rabbmu, agar kamu memberi peringatan) dengan Al-Qur'an itu (kepada kaum yang belum) huruf maa bermakna nafi atau negatif (datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk) dengan peringatanmu itu.
000
Tafsir Surat As-Sajdah: 1-3
Alif Lam Mim. Turunnya Al-Qur'an yang tidak ada keraguan padanya (adalah) dari Tuhan semesta alam. Tetapi mengapa mereka (orang-orang kafir) mengatakan, "Dia Muhammad mengada-adakannya." Sebenarnya Al-Qur'an itu adalah kebenaran (yang datang) dari Tuhanmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk. (As-Sajdah: 1-3)
Dalam pembahasan yang lalu telah diterangkan huruf-huruf hijaiyah (yang mengawali surat-surat Al-Qur'an) di dalam surat Al-Baqarah, yaitu dengan keterangan yang cukup memuaskan hingga tidak perlu diulangi lagi di sini.
000
Firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa: Turunnya Al-Qur'an yang tidak ada keraguan padanya. (As-Sajdah: 2) Tiada syak wasangka dan tiada kebimbangan, bahwa sesungguhnya Al-Qur'an itu diturunkan, dari Tuhan semesta alam. (As-Sajdah: 2)
000
Selanjutnya Allah subhaanahu wa ta’aalaa menceritakan perihal orang-orang musyrik melalui firman-Nya: Tetapi mengapa mereka (orang-orang kafir) mengatakan, "Dia (Muhammad) mengada-adakannya. (As-Sajdah: 3) Bahkan mereka mengatakan bahwa Muhammad telah membuat-buat Al-Qur'an itu dari dirinya sendiri, Sebenarnya Al-Qur'an itu adalah kebenaran (yang datang) dari Tuhanmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk. (As-Sajdah: 3) Yakni mau mengikuti perkara yang hak.
000
Ayat 1
Terbukti dengan nyata bahwa Al-Qur'an bukanlah ciptaan manusia, tetapi mengapa mereka, orang kafir, tanpa bukti-bukti yang kuat mengatakan, 'Dia, Muhammad, telah mengada-adakannya. Lupa-kah mereka bahwa secara logis maupun realitas sejarah mustahil Rasulullah mengarang Al-Qur'an' Karena itu Allah menjawab, 'Tidak, Al-Qur'an itu kebenaran yang datang dari Tuhanmu, agar engkau, wahai Nabi Muhammad, memberi peringatan kepada kaum yang belum pernah didatangi orang yang memberi peringatan sebelum engkau bahwa azab Allah akan menimpa siapa saja yang kafir dan mendurhakai-Nya; dan agar melalui Al-Qur'an pula mereka mendapat petunjuk. 4. Nabi Muhammad diutus untuk mendakwahkan ajaran tauhid dan dibekali dengan bukti-bukti nyata tentang hal itu. Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa contoh dan tidak pernah ada sebelumnya, dalam enam masa, meski sesungguhnya Dia mampu menciptakannya dalam waktu sekejap. Hal ini bermaksud mendidik manusia bersabar dalam menangani semua urusan. Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy yang tidak diketahui hakikatnya oleh selain Allah, namun wajib kita imani sesuai dengan kebesaran dan kesucian-Nya. Bagimu tidak ada seorang pun penolong maupun pemberi syafaat selain Dia. Tanpa izin Allah, tidak ada yang mampu menolongmu, baik itu para rasul maupun orang-orang tertentu, meringankan azab atau bebanmu di akhirat. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan dan mengambil pelajaran dari hal ini sehingga kamu beriman dan mengeesakan-Nya'.
Ayat ini menerangkan bahwa sikap orang-orang musyrik seperti yang diterangkan ayat di atas adalah sikap yang tidak layak. Tidak pantas mereka menuduh Muhammad telah melakukan kedustaan dengan mengatakan bahwa ia telah membuat-buat Al-Qur'an, padahal mereka benar-benar telah mengetahui keadaan Muhammad, sejak ia masih kecil sampai ia dewasa dan diangkat menjadi rasul. Bahkan mereka memberi gelar dengan "Al-Amin" (orang kepercayaan) karena mereka sangat percaya kepada Muhammad. Akan tetapi, tiba-tiba mereka menuduhnya sebagai pendusta.
Oleh karena itu, Allah menegaskan bahwa semua yang disampaikan Muhammad itu adalah benar. Al-Qur'an benar-benar berasal dari Allah dan diturunkan kepadanya untuk memperingatkan orang-orang musyrik pada azab akhirat yang akan ditimpakan kepada orang-orang yang mengingkari rasul yang diutus kepada mereka. Al-Qur'an berisi pelajaran dan petunjuk yang mengantar mereka menuju jalan kebahagiaan abadi.
Pada ayat yang lain dinyatakan pula sikap orang-orang musyrik itu terhadap Al-Qur'an. Allah berfirman:
Dan orang-orang kafir berkata, "(Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh dia (Muhammad), dibantu oleh orang-orang lain," Sungguh, mereka telah berbuat zalim dan dusta yang besar. (al-Furqan/25: 4)
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Surah as-Sajdah
(SUJUD)
SURAH KE-32
30 AYAT, DITURUNKAN DI MEKAH
Bismillahirrahmanirrahim
“Alif Laam Miim “
(ayat 1)
Tentang tafsir dari Alif Laam Miim sudahlah banyak kita bicarakan dalam surah-surah yang lain sebelumnya, sejak dari surah al-Baqarah sebagaimana “Alif Laam Miim" yang pertama bertemu ketika kita membalik-balik lembaran Al-Qur'an.
“Turunlah Al-kitab."
(pangkal ayat 2)
yaitu Al-Qur'an al-Karim ini “Tidak ada keraguan padanya." Tidak usah diragu-ragukan lagi, bahwa dia adalah turun
“Dari Tuhan Sanwa Sekalian Alam."
(ujung ayat 2)
Semua orang yang berpikir dengan bersih, tidak ada maksud-maksud tertentu tidak mungkin akan ragu bahwa Al-Qur'an itu memang langsung turun dari Allah Pencipta seluruh alam. Betapa tidak? Bukankah semua orang yang hidup di zaman Nabi Muhammad ﷺ itu mengetahui semuanya bahwa Nabi Muhammad bahwa beliau sebelumnya menyatakan menerima wahyu, adalah seorang biasa saja. Tidak pernah terkemuka dalam masalah bahasa dan sastra. Tiba-tiba setelah dia mengakui diutus Allah ﷻ menjadi Rasul, semua orang Arab itu sendiri, yang hidup sezaman dengan dia, termasuk orang yang tidak mau percaya akan dakwahnya, mengakui bahwa Al-Qur'an itu adalah suatu bahasa yang lain dari yang lain.
“Atau, apakah mereka katakan, “Dibuat-buatnya saja."
(pangkal ayat 3)
Namun demikian masih ada yang mengatakan bahwa Al-Qur'an itu bukan wahyu Ilahi, melainkan susunan kata yang dibuat-buat saja oleh Muhammad ﷺ Tetapi itu hanya kata-kata yang timbul bukan dari ilmu, melainkan dari rasa kebencian dan penolakan. Yaitu menolak tidak dengan alasan dan tidak dengan ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Bahkan dia adalah kebenaran dari Allah ﷻ engkau," bukan karangan yang dibuat-buat sebagaimana yang mereka tuduhkan dengan tidak semena-mena itu, “Supaya engkau memberi ingat kepada kaum yang tidak datang kepada mereka peringatan sebelum engkau." Artinya ialah bahwa belum pernah Allah ﷻ mengutus seorang rasul pun sesudah Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Lantaran sudah sangat lama tidak ada Rasul yang memberikan peringatan dan ancaman atas langkah-langkah yang salah, maka diutuslah Muhammad ﷺ menyampaikan peringatan ini.
“Mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk."
(ujung ayat 3)
Dengan sangat bijaksana Allah ﷻ memberikan harapan, mudah-mudahan terbawa-lah mereka kepada jalan yang benar, petunjuk kebenaran yang sejati, dengan diutusnya Muhammad ﷺ membawa Al-Kitab tersebut.
“Allah-lah yang menciptakan semua langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari."
(pangkal ayat 4)
Waktu pengetahuan orang tentang alam keliling ini belum seluas sekarang, ada orang yang menafsirkan bahwa enam hari itu ialah hari yang kita alami sekarang ini. Yaitu hari yang timbul karena peredaran bumi mengeliligi matahari, yang dua puluh empat jam sekali putaran, lalu timbul malam, setelah matahari kelihatan terbenam ke ufuk barat. Kemudian setelah dua belas jam muncul lagi matahari itu di ufuk timur, timbul pula siang yang baru, dan hari pun bergantilah. Sebab itu di dalam kitab-kitab tafsir lama ada yang disebutkan sebuah hadits yang dirawikan oleh an-Nasai, diterima dari Abu Hurairah dengan sanadnya, “Bahwa Allah menciptakan semua langit dan bumi dan segala apa yang ada di antara keduanya dalam masa enam hari dan di hari yang ketujuh Allah ﷻ pun bersemayam ke atas Arsy. Tanah diciptakan di hari Sabtu, gunung-gunung hari Ahad, pohon-pohon kayu hari Senin, barang-barang yang buruk-buruk hari Selasa, nur (cahaya) pada hari Arba'a, binatang-binatang pada hari Kamis, dan Adam diciptakan padh hari Jum'at sesudah waktu Ashar, dan Adam itu dijadikan dari kulit bumi, ada tanah merah, ada tanah hitam, ada tanah bagus dan ada tanah busuk. Lantaran itu maka terjadi pulalah anak-anak Adam ada yang baik dan ada yang buruk."
Tetapi hadits ini (dikritik) oleh Imam Bukhari dalam at-Tarikh al-Kabiir. Bukhari berkata, bahwa Abu Hurairah menerima berita ini dari Ka'ab al-Ahbar, yang hadits-hadits yang dia riwayatkan banyak mendapat kritik dari ahli-ahli hadits dan ahli-ahli al-Hafizh (yang hafal hadits-hadits).
Setelah pengetahuan tentang alam ini lebih berkembang, maka tafsir enam hari ini dengan sendirinya sudah berubah. Penafsir-penafsir yang datang di belakang, seperti Sayyid Rasyid Ridha dengan al-Manar-nya, al-Qasimi, dan Sayyid Quthub dalam tafsirnya azh-Zhilal tidak lagi memegang tafsir itu. Orang sudah dapat memahamkan, bahwa enam hari hanya menurut ilmu Allah Ta'aala. Sedangkan mangga sejak dari mulai ditanam sampai kepada masa mengutip buahnya, memakan tujuh tahun perhitungan perjalanan matahari, mengapa kejadian seluruh alam akan terjadi dalam hanya enam hari perjalanan matahari itu pula? Padahal keluarga bintang (galaksi) yang berpusat pada matahari kita ini, yang dikelilingi oleh berjuta-juta bintang, hanyalah satu di antara beribu-ribu keluarga bintang-bintang dengan masing-masing beribu-ribu pula. Sedangkan bintang-bintang satelit matahari hanya bumi saja yang mengelilingi matahari dalam masa dua puluh empat jam sehari semalam. Padahal bintang-bintang satelit matahari yang lain, sebagaimana Merkurius, Mars, Jupiter berbeda-beda “sehari semalamnya" mengelilingi matahari. Ada yang sehari semalamnya itu sekali dua puluh tahun, ada yang sekali empat puluh tahun.
Apakah yang sehari itu seribu tahun? Sebagaimana yang akan disebutkan pada ayat 5 sesudah ini? Ataukah sehari itu 50.000 tahun sebagaimana tersebut pada ayat 4 dari surah al-Ma'aarij? Atau lebih dari itu? Benar-benar Allah-lah yang tahu. Maka lebih baiklah kita terima bunyi ayat dengan langsung tidak memakai “kaifa" (betapa), karena masih banyak rahasia alam ini akan tetap tertutup bagi manusia.
“Kemudian itu Dia pun bersemayam ke atasArsy." Arsy itu sudah terang artinya dalam bahasa Melayu (Indonesia) yang kita pakai. Yaitu singgasana kebesaran, takhta kerajaan, mahligai kedudukan, kursi kemuliaan yang tidak boleh diduduki oleh orang lain.
Bagaimana cara duduknya ini? Apakah kursi itu lebih besar dari Allah ﷻ yang mendudukinya itu? Ibnu Rusyd, filsuf Islam yang terkenal, meskipun beliau sendiri terhitung filsuf besar, mengatakan, bahwa soal yang demikian tidaklah perlu dibincangkan. Sama juga dengan membincangkan penciptaan alam dalam enam hari tadi. Orang yang erat hubungan batinnya dengan Allah ﷻ, tebal imannya, teguh takwanya, tidaklah mau mem-bicarakan itu. Dia tetap percaya sebagaimana yang difirman Allah ﷻ, bahwa Allah ﷻ berfirman di atas Arsy-Nya. Adapun bagaimana semayamnya, tidaklah ada kekuatan bagi akal kita buat membicarakan.
Tepat apa yang dikatakan oleh Imam Malik, “Arti duduk semayam sudah jelas, arti Arsy pun sudah jelas. Tetapi membincangkan ayat seperti itu menurut kekuatan kita yang terbatas ini adalah haram."
Beliau tegaskan haram membicarakan, sebab memang percuma! Tidak juga akan tepat dengan yang sebenarnya. Kekuatan akal kita terbatas. Sebab itu lebih baik pergunakanlah untuk yang akan membawa hasil!
“Tidaklah ada bagi kamu selain Dia seorang penolong pun dan tidak seorang pembela." Biasanya orang yang akan sanggup menolong itu ialah bila dia merasa kuat menghadapi orang yang hendak menghukum orang yang akan ditolongnya itu. Dan orang yang akan membela tentulah orang yang merasa pintar dan sanggup menghadapi yang berkuasa itu. Padahal tidak seorang jua pun yang sanggup akan berdebat dengan Allah ﷻ, membela orang yang di mata Allah ﷻ memang terang bersalah. Padahal pengetahuan si penolong dan si pembela tentang pnbadi orang yang akan ditolong atau dibelanya tidaklah sebanyak pengetahuan Allah ﷻ
“Maka apakah tidak kamu mengingatnya?"
(ujung ayat 4)
Pertanyaan ini adalah bermaksud menyuruh mengingat, bahwa tidak seorang pun yang akan sanggup bertahan dengan Allah ﷻ, baik untuk menolong atau untuk membela orang yang Allah ﷻ lebih tahu akan kesalahannya. Si penolong dan si pembela akan pulang saja dengan kemalu-maluan, kalau itu kejadian. Dan pasti bahwa itu tidak akan kejadian.
“Dia Yang Mengatur urusan dari langit kepada bumi."
(pangkal ayat 5)
Tentu hal ini pun tidak dapat kita pikirkan secara sembrono, bahwa Allah ﷻ itu bertempat di langit yang kita tengadah dengan kepala ini. Yang terang ialah langit itu pun mempunyai arti tinggi; tinggi, tinggi sekali. Dari mahligai atau singgasana yang tinggi itulah Allah ﷻ, Yang Mahasuci, Mahatinggi mengatur bumi ini, atau menekuri bumi ini, buat diatur urusannya bersama-sama dengan alam yang lain.
“Kemudian itu Dia pun naik kepadanya pada suatu hari yang ukurannya sama dengan seribu tahun dari apa yang kamu hitung."
(ujung ayat 5)
Ini pun tidaklah dapat kita tafsirkan menurut kekuatan akal kita. Dalam hal ini Allah ﷻ menceritakan kepada Nabi-Nya, dan disampaikan kepada kita tentang daerah Mahaluas dari kekuasaan dan kebesaran-Nya. Cuma satu hal yang dapat kita resapkan dalam dada kita ketika membaca ayat ini dengan saksama. Yaitu Kekuasaan Allah Mengatur seluruh makhluk yang Dia ciptakan dengan amat sempurna dan teliti. Dan di ayat ini telah tertafsir lebih jelas lagi tentang penciptaan alam dalam enam hari tadi. Karena di ayat ini kita bertemu dengan jelas, bahwa di sisi Allah ﷻ ada satu hari yang lamanya jika diukur dengan ukuran kita di dunia kita ini sama dengan seribu tahun. Sebagaimana di surah al-Ma'aarij ayat 4, yaitu bahwa ada satu hari lagi yang sama dengan 50.000 tahun perhitungan kita di muka bumi ini. Tentu ada lagi yang lain, yang Dia sendiri Mahatahu.
“Demikian itulah Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata."
(pangkal ayat 6)
Dia yang mengatur segala urusan itu. Yang gaib di mata kita, jelas di mata Allah ﷻ Yang nyata di mata kita bahkan lebih nyata di hadapan Allah ﷻ Kita tidak dapat bersembunyi dari intipan Allah ﷻ Ke mana saja pun kita lari, namun kekuasaan Allah ﷻ selalu mengejar kita ke sana, bahkan menunggu kita di sana. MahaperkasaTidak dapat ditantang, tidak dapat diubah apa kehendak-Nya.
“Maha Pemurah."
(ujung ayat 6)
kepada barangsiapa yang menyerah dan tunduk.
“Yang sangat elok tiap-tiap sesuatu yang Dia ciptakan."
(pangkal ayat 7)
Segala yang Dia ciptakan adalah amat elok belaka, tidak ada yang dapat dicacat dan dicela. Semua dapat dilihat dan diperhatikan dengan saksama pada segala makhluk yang diciptakan-Nya. Sampai kepada warna kembang-kembang sampai kepada warna awan dan langit yang ganti-berganti, bahkan sampai kepada warna ikan berbagai jenis dalam laut, warna burung yang terbang di-udara, warna rama-rama yang hinggap dari satu kuntum ke kuntum yang lain. Itu baru keelokan warna saja, belum berbagai bidang keelokan yang lain, yang tiap-tiapnya meminta perhatian yang khusus.
“Dan Dia mulai penciptaan manusia dari tanah."
(ujung ayat 6)
Artinya bahwa manusia pertama itu adalah dijadikan dari tanah.
Teori Darwin tentang evolution bahwa sekalian macam yang hidup berasal dari satu sel saja, melalui beberapa perkisaran dan pertingkat, sampai akhirnya ada cabang yang jadi manusia. Setelah melalui beberapa perkisaran itu secara berangsur (evolusi), dapatlah ditemui asal-usul manusia, yaitu semacam binatang yang lebih tinggi derajatnya dari monyet (kera) tetapi di bawah dan insan. Itulah kesimpulan populer dari teori Darwin.
Teori ini telah mempengaruhi jalan berpikir manusia modern sejak dia dikembangkan, sampai kepada pertengahan abad kedua puluh ini. Tetapi setelah orang lair. mengadakan penyelidikan pula secara ilmiah bertemu suatu fakta lain, yang Darwin belum mengetahui atau belum sampai ilmu orang di zaman itu ke sana. Yaitu ilmu tentang kepusakaan (inheritance). Setelah diselidiki dari segi ilmu Kepusakaan ini ternyata bahwa evolusi suatu sel dari satu jenis ke jenis lain adalah mustahil. Sebab setelah diadakan penyelidikan mendalam, ternyata bahwa tiap-tiap sel itu menerima pusaka dari sel yang mendahuluinya menurut bentuk kejadian yang tertentu, sehingga dia akan tetap dalam jenis yang dipusakainya itu untuk seterusnya. Dia tidak akan berevolusi pindah kepada jenis yang lain. Asal kucing. Kucing telah mem-pusakai kekucingan dari nenek moyangnya dan selnya yang pertama sampai seterusnya. Anjing mempusakai keanjingan. Kuda mem-pusakai kekudaan dan insan mempusakai kemanusiaan. Menurut ilmu kepusakaan ini yang mungkin terjadi hanyalah evolusi dalam batas jenisnya sendiri.
Dengan teori kepusakaan ini dapatlah diakui bahwa manusia bisa berangsur maju dari manusia yang masih biadab, zaman baru, zaman perunggu, dan zaman besi dan seterusnya sampai jadi manusia modern. Tetapi tidaklah mungkin dari satu makhluk semacam monyet turun-temurun mempusakakan keturunan berangsur jadi manusia.
Berkata Syahid Islam yang agung, Sayyid Quthub dalam tafsirnya, “Teori tentang kepusakaan ini telah membatalkan teori Darwin yang oleh orang-orang yang hanya jadi burung beo dengan nama “ilmiah" disangka kebenaran. Sekarang telah nyata pada kesekian kalinya bahwa teori suatu yang disangka telah mutlak bisa buyar oleh hasil penyelidikan yang baru."
“Kemudian itu Dia jadikan keturunannya dari sari air yang lemah."
(ayat 8)
Yang dimaksud dengan kalimat sari air yang lemah ialah mani, atau kama. Disebutkan sifat mani itu, bahwa dia adalah sebagian dari air juga. Sebab dia dapat mengalir. Tetapi dia adalah mahiin, yang berarti lemah. Ada orang yang salah memberinya arti dalam bahasa Melayu (Indonesia), diartikannya mahiin itu dengan hina. Karena tidaklah kena kalau dipandang hina air yang darinya manusia akan diciptakan, padahal manusia itu sendiri dijadikan mulia oleh Allah ﷻ Tetapi kalau diartikan lemah, adalah lebih tepat. Anak-anak sendiri pun di waktu kecilnya masih lemah, tetapi lama-lama dia menjadi kuat. Tetapi anak-anak tidaklah hina. Banyak di antara Ulama berpendapat bahwa mani tidaklah najis sebagaimana wadi dan madzi dan kencing.
“Kemudian itu Dia sempurnakan dia."
(pangkal ayat 9)
Yaitu sebagaimana telah tersebut di dalam surah-surah yang lain, dari mani dua belah pihak, seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu digabungkan jadi satu disimpan di dalam rahim (peranakan), diangsur melalui peringkat dan perkisaran tertentu, dari mani jadi nuthfah, dari nuthfah jadi ‘alaqah, dari ‘alaqah jadi mudhghah, dan dari mudhghah jadi tulang, tulang diselimuti dengan daging, disempurnakan lagi dan disempurnakan lagi, lalu, “Dan Dia tiupkan padanya dari ruh-Nya." Maka dalam suku ayat ini jelas sekali, bahwa ruh sekalian manusia itu adalah ruh Allah ﷻ, artinya Allah ﷻ yang empunya.
Maka jelaslah di sini bahwa ruh atau nyawa sekalian manusia itu Allah ﷻ sendirilah yang empunya, harta Allah ﷻ, dalam kekuasaan mutlak dari Allah. Bukan berarti kalau dikatakan bahwa ruh kita ruh Allah ﷻ, bahwa kita ini adalah sebagian dari Allah ﷻ Misalnya kalau saya katakan bahwa buku ini saya yang empunya, bukanlah berarti bahwa buku ini adalah sebagian dari diri saya. Kalau kita pahamkan bahwa ruh kita, sebab dia ruh Allah ﷻ, niscaya Allah ﷻ itu menjadi sebanyak manusia, baik yang telah mati atau yang masih hidup atau yang akan lahir. Bukan! Diperingatkan dalam ayat ini, bahwa Allah ﷻ meniupkan ruh-Nya ke dalam diri kita, ialah supaya jelas bagi kita bahwa walaupun ruh kita itu ada dalam diri kita, namun dia bukanlah kepunyaan kita. Sebab itu tidaklah ada kekuasaan kita buat bertahan kalau yang empunya datang menjemputnya. Dan kalau kita telah bosan hidup tidaklah boleh kita campakkan ruh kepunyaan Allah ﷻ itu dari diri kita dengan jalan membunuh diri dan tidaklah boleh kita membunuh orang lain. Sebab dengan demikian kita telah mengganggu kepunyaan Allah ﷻ
"Dan Dia jadikan untuk kamu pendengaran dan penglihatan dan hati." Pendengaran dan penglihatan adalah untuk menghubungkan diri kita dengan alam yang sekeliling kita dan membawa hasil penglihatan dan pendengaran kita itu ke dalam hati kita, untuk dipertimbangkan dan direnungkan dan untuk menginsafi kebenaran Allah ﷻ guna disembah dan pertalian hidup dengan sesama manusia untuk dikasihi.
“Namun demikian sedikit sekali kamu yang bersyukur."
(ujung ayat 9)
Tafsir of Surah As-Sajdah
The Qur'an is the Book of Allah in which there is no Doubt
Allah says;
الم
Alif Lam Mim.
We discussed the individual letters at the beginning of Surah Al-Baqarah, and there is no need to repeat it here
تَنزِيلُ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ
The revelation of the Book in which there is no doubt,
means, there is no doubt whatsoever that it has been revealed.
مِن رَّبِّ الْعَالَمِينَ
from the Lord of all that exists.
Then Allah tells us about the idolators
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ
Or say they:He has fabricated it:
they say, he has fabricated it, i.e., he has made it up by himself.
بَلْ هُوَ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّا أَتَاهُم مِّن نَّذِيرٍ مِّن قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ
Nay, it is the truth from your Lord, so that you may warn a people to whom no warner has come before you, in order that they may be guided.
means, in order that they may follow the truth
Allah is the Creator and Controller of the Universe
Allah says;
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
Allah it is He Who has created the heavens and the earth, and all that is between them in six Days. Then He Istawa over the Throne.
Allah tells us that He is the Creator of all things. He created the heavens and earth and all that is between them in six days, then He rose over the Throne -- we have already discussed this matter elsewhere.
مَا لَكُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَاا شَفِيعٍ
You have none, besides Him, as a protector or an intercessor,
means, only He is the Sovereign Who is in control of all affairs, the Creator of all things, the Controller of all things, the One Who is able to do all things. There is no Creator besides Him, no intercessor except the one to whom He gives permission.
أَفَلَ تَتَذَكَّرُونَ
Will you not then remember! --
this is addressed to those who worship others apart from Him and put their trust in others besides Him -- exalted and sanctified and glorified be He above having any equal, partner, supporter, rival or peer, there is no God or Lord except Him
يُدَبِّرُ الاَْمْرَ مِنَ السَّمَاء إِلَى الاَْرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ
He directs the command from the heavens to the earth; then it will go up to Him,)
means, His command comes down from above the heavens to the furthest boundary of the seventh earth.
This is like the Ayah,
اللَّهُ الَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَـوَتٍ وَمِنَ الاٌّرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الاٌّمْرُ بَيْنَهُنَّ
It is Allah Who has created seven heavens and of the earth the like thereof. The command descends between them,(65:12)
Deeds are raised up to the place of recording above the lowest heaven. The distance between heaven and earth is the distance of five hundred years traveling, and the thickness of the heaven is the distance of five hundred years.
Mujahid, Qatadah and Ad-Dahhak said,
The distance covered by the angel when he descends or ascends is the distance of five hundred years, but he covers it in the blink of an eye.
Allah says:
فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ
ذَلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
in one Day, the measurement of which is a thousand years of your reckoning. That is He, the All-Knower of the unseen and the seen,
meaning, He is controlling all these affairs. He sees all that His servants do, and all their deeds, major and minor, significant and insignificant, ascend to Him. He is the Almighty Who has subjugated all things to His control, and to Whom everybody submits, and He is Most Merciful to His believing servants. He is Almighty in His mercy and Most Merciful in His might. This is perfection:might combined with mercy and mercy combined with might, for He is Merciful without any hint of weakness.
الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ
the All-Mighty, the Most Merciful
The Creation of Man in Stages
Allah tells us that He has created everything well and formed everything in a goodly fashion.
Malik said, narrating from Zayd bin Aslam:
الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ
Who made everything He has created good,
means, He created everything well and in a goodly fashion.
When Allah mentions the creation of the heavens and the earth, He follows that by mentioning the creation of man.
Allah says:
وَبَدَأَ خَلْقَ الاِْنسَانِ مِن طِينٍ
and He began the creation of man from clay.
meaning, He created the father of mankind, Adam, from clay.
ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِن سُلَلَةٍ مِّن مَّاء مَّهِينٍ
Then He made his offspring from semen of despised water.
means, they reproduce in this fashion, from a Nutfah which comes from the loins of men and from between the ribs of women
ثُمَّ سَوَّاهُ
Then He fashioned him in due proportion,
means, when He created Adam from clay, He created him and gave him shape and made him upright.
وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالاَْبْصَارَ وَالاَْفْيِدَةَ
and breathed into him the soul; and He gave you hearing, sight and the sense of deduction.
means, reason.
قَلِيلً مَّا تَشْكُرُونَ
Little is the thanks you give!
means, for these strengths with which Allah has provided you; the one who is truly blessed is the one who uses them to worship and obey his Lord, may He be exalted and glorified.
Or do they say, 'He, Muhammad may peace and salutation be upon him, has invented it'? Nay, but it is the truth from your Lord, that you may warn, thereby, a people to whom no warner came before you (maa is for negation) that perhaps they may find [right] guidance, by your warning.
Commentary
At this place, the word: نَّذِيرٍ (nadhir: warner) in: مَّا أَتَاهُم مِّن نَّذِيرٍ (to whom no warner has come.. -3)means a rasul or messenger.The sense is that no messenger had appeared amidst the Quraish of Makkah before the Holy Prophet t. This does not mean that the call of the messengers had just not reached them until that time, because it was clearly said in another verse of the Qur'an: وَإِن مِّنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ (And there was no community without a warner having passed among them - 35:24). In this verse, (i.e. the verse 35:24) the word: نَّذِيرٍ (warner) appears in its general lexical sense, that is, one who calls people towards Allah, whether a messenger or prophet or one of their deputies, khali'fah or the ` alim of din. So, from this verse, it seems that the call of pure monotheism (tauhid) had reached all communities and groups. That is correct in its place and certainly the dictate of universal Divine mercy. Commentator Abu Hayyan says that the call to tauhid and 'iman has never ceased in any time or place or people. And wherever a long time passed after the appearance of a prophet, it resulted in the dearth of those having the knowledge of the legacy of prophethood. Thereupon, some new prophet or messenger was sent. This requires that the call to tauhid should have reached the Arab peoples definitely, and much earlier. But, for this it is not necessary that the call should have been brought in by some prophet or messenger in person. It is possible that it may have reached through the learned serving as deputies to the prophetic mission. Therefore, the verses of this Surah, Surah Ya Sin and others which prove that no nadhir (warner) had appeared amidst the Quraish of Arabia before the Holy Prophet ﷺ must be approached with the necessary consideration that the word: نَّذِيرٍ (nadhir) used there should mean a prophet and messenger in the technical sense denoting that no prophet and messenger had come amidst those people before the Holy Prophet ﷺ - even though, the call to tauhid and 'iman may have reached there too through other means.
Before the period of فَترَۃ fatrah, that is, before the appearance of the Holy Prophet ﷺ ، it stands proved about some blessed souls who firmly adhered to the faith of Sayyidna Ibrahim and Ismail (علیہما السلام) . They believed in the Oneness of Allah and were averse to the worship of and sacrifices for idols.
Ruh-ul-Ma’ ani reports from the Maghazi of Musa Ibn 'Uqbah about one such person whose name was Zayd Ibn ` Amr Ibn Nufayl. He had also met the Holy Prophet ﷺ ، before he was ordained as a prophet. But, it was still before his prophethood that he died in the year the Quraish had built the edifice of the Baytullah - and this happened five years prior to his prophethood. About him, Musa Ibn 'Uqbah says, ` He used to stop the Quraish from indulging in the worship of idols. He opposed the offering of sacrifices in the name of idols as an evil practice and would not eat the meat from animals slaughtered by the Mushriks.'
Abu Dawud Tayalisi has reported from Sayyidna Said Ibn Zayd Ibn Amr ؓ ، the son of Zayd Ibn ` Amr Ibn Nufayl, one of the celebrated ten (عَشرۃ مُبَشّرّۃ) among the noble Sahabah, that he had submitted before the Holy Prophet ﷺ saying: "You already know about my father that he adhered to pure monotheism and rejected idolatry. Can I, then, pray for his forgiveness?" The Holy Prophet ﷺ said, "Yes, for him the prayer of forgiveness is permissible. He will, on the day of Qiyamah, rise as a community of his own." (Ruh-ul-Ma’ ani)
Similarly, Warqah Ibn Nawfal ؓ who was present during the initial period of the prophethood and the revelation of the Qur'an was an adherent of pure monotheism (tauhid). He had expressed his resolve to help the Holy Prophet ﷺ but he died soon after. These examples prove that the people of Arabia were though not totally deprived of the Divine call to faith and monotheism, but that no prophet had appeared amidst them as such. Allah knows best.
All three verses cited above carry an affirmation of the veracity of the Qur'an and the Prophet of Islam.
- Keutamaan kalam Allah
- Para nabi menyampaikan kabar gembira dan peringatan
- Mendustai Allah
- Hikmah penurunan kitab-kitab samawi
- Sikap manusia terhadap kitab samawi
- Pendustaan Quraisy terhadap Nabi saw.
- Orang-orang musyrik mendustai Al-Qur'an
- Nabi saw. sebagai saksi, pembawa kabar gembira dan peringatan